Lampiran 1 Daftar Istilah
DAFTAR ISTILAH
Air permukaan
: wadah air yang terdapat di permukaan bumi. Bentuk air permukaan
meliputi sungai, danau, rawa.
Air tanah
: semua air yang terdapat pada lapisan pengandung air (akifer) di bawah
permukaan tanah, mengisi ruang pori batuan dan berada di bawah
permukaan tanah.
Akifer
: suatu formasi geologi yang jenuh air yang mempunyai kemampuan untuk
menyimpan dan meluluskan air dalam jumlah cukup dan ekonomis, serta
yang mana bentuk dan kedalamannya terbentuk ketika terbentuknya
cekungan air tanah.
Air tanah dangkal/air freatis
: air tanah yang terletak di atas lapisan kedap air tidak jauh dari permukaan
tanah. Air freatis sangat dipengaruhi oleh resapan air di sekelilingnya.
Pada musim kemarau jumlah air freatis berkurang. Sebaliknya pada
musim hujan jumlah air freatis akan bertambah. Air freatis dapat diambil
melalui sumur atau mata air.
Air tanah dalam/air artesis
: air tanah yang terletak jauh di dalam tanah, di antara dua lapisan kedap
air (akifer). Jika lapisan kedap air retak, secara alami air akan keluar ke
permukaan. Air yang memancar ke permukaan disebut mata air artesis.
Air artesis dapat diperoleh melalui pengeboran. Sumur pengeborannya
disebut sumur artesis.
Aliran air bawah permukaan (subsurface flow)
: bagian dari curah hujan yang terinfiltrasi ke dalam tanah kemudian
mengalir dan bergabung dengan aliran debit. Aliran air bawah
permukaan merupakan penyumbang debit yang cukup besar di daerah
berhutan.
Aliran dasar (baseflow)
: (aliran air lambat) adalah debit aliran yang mengalir sepanjang MK
ketika tidak ada curah hujan.
Aliran lingkungan (Environmental flow)
: volume air yang sengaja dibiarkan atau dilepas kesungai, danau atau
waduk, untuk memelihara atau memulihkan nilai-nilai ekologis tertentu.
Alokasi air (water allocation)
: memungkinkan sumber daya yang terbatas untuk dibagi. Dalam kasus
air, alokasi saat ini dibuat berdasarkan sumber daya apakah sedang
diakses saat ini di simpanan permukaan (air permukaan) atau simpanan
bawah permukaan (airbumi). Alokasi air ini didasarkan pada perkiraan
hasil yang berkelanjutan dari sumber daya yang ditetapkan, berasal dari
pemahaman tentang kapasitas penyimpanan, tingkat pengisian dan
dampak ekstraksi.
Berbagi Air (water sharing)
: konsep yang menyatakan bahwa semua stakeholder pengguna air dapat
terpenuhi kebutuhan airnya untuk jangka waktu yang panjang tetapi tidak
berdampak negatif terhadap lingkungan.
Cekungan air tanah
: suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua
kejadian hidrogeologis seperti proses pengisian (recharge), pengaliran,
dan pelepasan (discharge) air tanah berlangsung.
Cubic Spline Interpolation (CSI)
: metode pengukuran debit sungai yang bisa digunakan untuk
menggambarkan profil sungai secara kontinyu yang terbentuk atas hasil
pengukuran jarak dan kedalaman sungai. Dengan metode baru ini, luas
dan perimeter sungai lebih mudah, cepat dan tepat dihitung. Demikian
pula, fungsi kebalikannnya (inverse function) tersedia menggunakan
metode Newton-Raphson sehingga memudahkan dalam perhitungan luas
dan perimeter bila tinggi air sungai diketahui. Metode ini dapat langsung
menghitung debit sungai menggunakan formula Manning, dan
menghasilkan kurva lengkung debit (rating curve).
Daerah Aliran Sungai (DAS)
: suatu wilayah yang dibatasi oleh batas-batas topografi secara alami
sedemikian rupa sehingga setiap air hujan yang jatuh dalam DAS
tersebut akan mengalir melalui titik tertentu (titik pengukuran di sungai)
dalam DAS tersebut. Dalam Bahasa Inggris pengertian DAS sering
diidentikan dengan watershed, catchment area atau river basin.
Debit sungai
: volume air yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan
waktu.
Debit andalan (dependable discharge)
: debit minimum sungai untuk kemungkinan terpenuhi yang sudah
ditentukan. Metode yang digunakan untuk menentukan debit andalan
adalah metode stastistik rangking menggunakan rumus Weibull.
Efisiensi irigasi:
: angka perbandingan dari jumlah air irigasi nyata yang terpakai untuk
kebutuhan pertumbuhan tanaman dengan jumlah air yang keluar dari
pintu pengambilan (intake).
Hidrograf
: grafik yang menggambarkan hubungan antara unsur-unsur aliran (tinggi
muka air dan debit) dengan waktu. Hidrograf merupakan respon dari
hujan yang terjadi, yang memberikan gambaran mengenai berbagai
kondisi yang ada di suatu daerah pada waktu yang bersamaan. Apabila
karakteristik daerah itu berubah-ubah, maka bentuk hidrograf juga akan
berubah.
Hujan efektif/netto (effective rainfall)
: merupakan bagian hujan bruto yang sampai di permukaan tanah setelah
mengalami proses intersepsi dan infiltrasi.
Infiltrasi
: proses aliran air (pada umumnya dari curah hujan) masuk ke dalam tanah
selama hujan berlangsung. Prosesnya adalah aliran air masuk ke dalam
tanah sebagai akibat gaya kapiler dan gravitasi, setelah lapisan tanah
bagian atas jenuh, kelebihan air tersebut mengalir ke tanah yang lebih
dalam sebagai akibat gaya gravitasi bumi (perkolasi).
Irigasi intermittent
: mengalirkan air ke areal (blok) irigasi selama waktu tertentu kemudian
menghentikan
dan
mengalirkannya
kembali
sesuai
jadwal
Inti konsep pengairan intermittent dalam SRI (System of Rice
Intensification) adalah hanya memberikan air irigasi sesuai dengan
jumlah dan waktu yang dibutuhkan oleh tanaman. Pada saat genangan air
di sawah telah habis, tidak langsung diairi kembali melainkan dibiarkan
sampai tanah sawah dalam “kondisi retak” atau pada kondisi mendekati
titik stress tanaman, baru diairi kembali.
Kawasan resapan air
: daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan
sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna
sebagai sumber air.
Koefisien runoff (aliran permukaan)
: bilangan yang menunjukkan perbandingan antara limpasan permukaan
dengan besarnya curah hujan
Lahan sawah
: lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang
(galengan), saluran untuk menahan/menyalurkan air, yang biasanya
ditanami padi sawah tanpa memandang dari mana diperolehnya atau
status tanah tersebut. Termasuk di sini lahan yang terdaftar di Pajak Hasil
Bumi, Iuran Pembangunan Daerah, lahan bengkok, lahan serobotan,
lahan rawa yang ditanami padi dan lahan-lahan bukaan baru
(transmigrasi dan sebagainya).
Limpasan permukaan (surface runoff)
: bagian dari curah hujan yang mengalir di atas permukaan tanah menuju
ke sungai, danau dan lautan.
Linear programming
: salah satu teknik operation research yang digunakan paling luas,
merupakan metode matematik dalam mengalokasikan sumber daya yang
langka untuk mencapai suatu tujuan seperti memaksimumkan
keuntungan dan meminimumkan biaya. Ada 3 tahapan: (1) Menentukan
variabel keputusan dan menyatakan dalam simbol matematik, (2)
Membentuk fungsi tujuan dengan suatu hubungan linier (bukan
perkalian) dari variabel keputusan, dan (3) Menentukan semua kendala
masalah dan mengekspresikan dalam persamaan atau pertidaksamaan yg
merupakan hubungan linier dari variabel keputusan yang mencerminkan
keterbatasan sumber daya.
Mata Air
: akifer yang memotong permukaan tanah. Sumber utama mata air adalah
airbumi yang dapat ditemui pada lapisan akifer (Linsley et al., 1996).
Model
: rencana, representasi, atau deskripsi yang menjelaskan suatu objek,
sistem, atau konsep, yang seringkali berupa penyederhanaan atau
idealisasi. Bentuknya dapat berupa model fisik (maket, bentuk prototipe),
model citra.
Model tangki
: model ini menunjukkan suatu bagan yang menggambarkan
komponen-komponen aliran air dalam suatu rejim aliran air, seperti DAS, sub DAS,
atau suatu plot lahan padi sawah, yang mana berdasarkan persamaan
diwakili oleh suatu model tangki yang merupakan hidrologi model yang
terdiri dari empat kompartemen (tangki) yang tersusun seri secara
vertikal.
Pasokan air (Water supply)
: proses atau kegiatan oleh air yang disediakan untuk beberapa
penggunaan, misalnya, ke sebuah rumah, pabrik, atau bisnis. Istilah ini
juga berarti pasokan air yang disediakan dengan cara tertentu. Sumber
dasar air adalah curah hujan, yang mengumpul di sungai dan danau, di
bawah tanah, dan di waduk buatan. Air dari bawah tanah disebut airbumi
dan tersedia sebagai sumur.
Penggunaan air (water use)
: dapat dibedakan dalam tiga jenis yang berbeda, yaitu:(1) Withdrawals
(penarikan atau abstraksi) dari air yang diambil dari permukaan atau
airbumi, dan kemudian setelah digunakan dikembalikan ke badan air
alami, misalnya air yang digunakan untuk pendinginan dalam proses
industri yang akan dikembalikan ke sungai. Aliran baliknya sangat
penting untuk pengguna di hilir yang menggunakan air dari sungai, (2)
Consumptive water use atau water consumption (penggunaan air
konsumtif atau konsumsi air) adalah dimulai dengan penarikan atau
pemindahan, tetapi tanpa aliran kembali. Konsumsi air adalah air yang
tidak lagi tersedia untuk digunakan karena telah menguap, transpirasi,
bergabung ke dalam produk dan tanaman, dikonsumsi oleh manusia atau
ternak atau dihilangkan dari sumber-sumber air tawar. Kehilangan air
selama pengangkutan air antara titik-titik dari abstraksi dan titik
penggunaan (misalnya akibat kebocoran dari pipa distribusi) tidak
termasuk dalam penggunaan air konsumtif. Contoh penggunaan air
konsumtif termasuk uap yang lari ke atmosfer dan air yang terkandung
dalam produk akhir yaitu air yang tidak lagi tersedia langsung untuk
penggunaan selanjutnya; dan (3) Non-consumptive water use
(penggunaan air non-konsumtif) yaitu penggunaan in situ tubuh air untuk
navigasi, aliran instream untuk ikan, rekreasi, pembuangan limbah cair
dan pembangkit listrik tenaga air (Wallingford, 2003).
Permeabilitas tanah
: menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air
Periode ulang atau frekuensi
: kemungkinan atau probabilitas sebuah kejadian yang mempunyai
intensitas dan durasi tertentu. Satu Intensitas hujan dapat diprediksi
kapan dan berapa lama akan terjadi lagi berdasarkan pada data sejarah
hujan untuk satu lokasi tertentu.
Perkolasi
: masuknya air dari daerah tak jenuh ke daerah jenuh air, pada proses ini
air tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Laju perkolasi sangat
tergantung pada sifat tanah daerah kajian yang dipengaruhi oleh
karakteristik geomorfologis dan pola pemanfaatan lahannya.
Peta rupabumi:
: merupakan dokumen Negara yang menggambarkan sumberdaya berisi
informasi kenampakan permukaan bumi secara detil, bersifat baku
(hanya isinya) tidak untuk desain dan tata letak, dibuat berdasarkan
interpretasi data penginderaan jauh
Peta geologi
: bentuk ungkapan data dan informasi geologi suatu daerah/wilayah/
kawasan dengan tingkat kualitas yang tergantung pada skala peta yang
digunakan dan menggambarkan informasi sebaran, jenis dan sifat batuan,
umur, stratigrafi, struktur, tektonika, fisiografi dan potensi sumber daya
mineral serta energi yang disajikan dalam bentuk gambar dengan warna,
simbol dan corak atau gabungan ketiganya.
Peta hidrogeologi
: peta yang menggambarkan pelamparan akifer, bersama-sama dengan
kondisi geologi, hidrogeologi, meteorologi dan tampilan air permukaan
yang perlu untuk memahami suatu rejim air tanah (International Legend
for Hydrogeological Maps, Unesco, 1983).
Permintaan air (water demand)
: volume air yang diminta oleh pengguna untuk memenuhi kebutuhan
mereka. Istilah sederhana ini sering dianggap sama dengan konsumsi air,
meskipun secara konseptual kedua istilah tidak memiliki arti yang sama.
Permintaan air mencakup: kepemilikan air, penggunaan air, penggunaan
air primer, keadilan, efisiensi, dan hak dan kewajiban yang tepat yang
dibuat melalui perijinan air.
Siklus hidrologi
: suatu proses peredaran atau daur ulang air secara berurutan dan
terus-menerus. Pemanasan sinar matahari menjadi pengaruh pada siklus
hidrologi. Air di seluruh permukaan bumi akan menguap bila terkena
sinar matahari. Pada ketinggian tertentu ketika temperatur semakin turun
uap air akan mengalami kondensasi dan berubah menjadi titik-titik air
dan jatuh sebagai hujan.
Sungai
: air hujan atau mata air yang mengalir secara alami melalui suatu lembah
atau diantara dua tepian dengan batas jelas, menuju tempat lebih rendah
(laut, danau atau sungai lain).
Tata air (water governance)
: mengacu pada mekanisme politik, sosial dan administratif yang berbeda
yang harus ditempatkan dalam suatu wadah untuk mengembangkan dan
mengelola sumber daya air dan penyediaan pelayanan air di tingkat
masyarakat yang berbeda
Lampiran 2 Profil litologi hasil identifikasi potensi airbumi untuk setiap titik
pengukuran di DAS Cicatih
Desa Pasirdoton Kec. Cidahu
Desa Ciheulang Tonggoh Kec. Nagrak
Desa Tenjolaya Kec. Cicurug
Desa Cikembang Kec. Cisaat
Lampiran 2 (lanjutan)
Desa Ciambar Kec. Parungkuda
Desa Kadununggal Kec. Kalapanunggal
Desa Langensari Kec. Parungkuda
Desa Gunung Endut Kec. Kalapanunggal
Lampiran 3 Tampilan program OptiWaSh
1. Keragaman Iklim
2. Total Ketersedian Air
Lampiran 3 (lanjutan)
4. Kebutuhan Air untuk Domestik
5. Kebutuhan Air untuk Industri
Lampiran 3 (lanjutan)
7. Perhitungan Kebutuhan Air pada Business as Usual
8. Skenario Optimasi Kebutuhan Air
Lampiran 4 Satuan Lahan di DAS Cicatih
NoLU
Unit Fisiografi Formasi Bahan Induk Bentuk wilayah Posisi lereng Lereng (%) Elevasi (m dpl) Tipologi Lahan Sub grup Tanah
Tekstur Reaksi tanah
ALUVIAL
1 Jalur aliran sungai kecil
Qal Aluvium Datar 0-3 % < 700 lahan kering dan basah
Typic . Aquic Dystrudeps
sedang Masam- agak masam 2 Jalur aliran sungai
kecil
Qal Aluvium Melandai 3-8 % > 700 lahan kering dan basah
Typic Dystrudepts
sedang Masam- agak masam 3 Jalur aliran sungai
besar
Qal Aluvium Datar 0-3 % < 700 lahan kering dan basah
Fluvaquentic/ Typic Endoaquepts
Halus Masam- agak masam
TEKTONIK
4 Bukit kecil tektonik Tmjt Batupasir dasitan Berbukit kecil Curam 15-30 % < 700 lahan kering Typic Dystrudepts
Kasar -agak kasar
Masam 5 Bukit kecil tektonik Tmjt Batupasir dasitan Berbukit kecil Terjal >30 % < 700 lahan kering Oxiaquic
Epiaquepts
Kasar -agak kasar
Masam 6 Perbukitan tektonik Tmn Batupasir
gampingan
Berbukit Punggung 3-8 % < 700 lahan kering Typic Endoaquepts
Halus Agak masam-netral 7 Perbukitan tektonik Tmn Batupasir
gampingan
Berbukit Sisi lereng 3-8 % < 700 lahan basah Typic Endoaquepts
Halus Agak masam-netral 8 Perbukitan tektonik Tmn Batupasir
gampingan
Berbukit Sisi lereng 15-30 % < 700 lahan kering Typic. Lithic Eutrudepts.
Halus. berbatu
Agak masam-netral 9 Perbukitan tektonik Tmn Batupasir
gampingan
Berbukit Sisi lereng > 30 % < 700 lahan kering Typic. Lithic Eutrudepts.
Halus. berbatu
Agak masam-netral 10 Perbukitan tektonik Tow Batupasir kuarsa Berbukit Punggung 8-15 % < 700 lahan kering Typic
Dystrudepts
Kasar-agak kasar
Masam 11 Perbukitan tektonik Tow Batupasir kuarsa Berbukit Sisi lereng 15-30 % < 700 lahan kering Typic
Dystrudepts
Kasar-agak kasar
Masam 12 Perbukitan tektonik Tow Batupasir kuarsa Berbukit Sisi lereng >30 % < 700 lahan kering Typic . Lithic
Dystrudepts
Kasar-agak kasar
Masam 13 Perbukitan tektonik Tmor Napal tufaan.
marl
Berbukit Punggung 8-15 % < 700 lahan kering Typic Eutrudepts
Halus Agak masam-netral 14 Perbukitan tektonik Tmor Napal tufaan.
marl
Berbukit Sisi lereng 3-8% < 700 lahan basah Typic Eutrudepts
Halus Agak masam-netral 15 Perbukitan tektonik Tmor Napal tufaan.
marl
Berbukit Sisi lereng 15-30 % < 700 lahan kering Typic Eutrudepts
Halus Agak masam-netral
Lampiran 4 (lanjutan)
No LU
Unit Fisiografi Formasi Bahan Induk Bentuk wilayah
Posisi lereng Lereng (%) Elevasi (m dpl) Tipologi Lahan Sub grup Tanah Tekstur Reaksi tanah 16 Perbukitan tektonik
Tmor Napal tufaan. marl
Berbukit Sisi lereng 15-30 % < 701 lahan basah Typic Eutrudepts
Halus Agak masam-netral 17 Perbukitan
tektonik
Tmor Napal tufaan. marl
Berbukit Sisi lereng > 30 % < 700 lahan kering Typic Eutrudepts
Halus Agak masam-netral 18 Perbukitan
tektonik
Toba Batulempung napalan
Berbukit Punggung 3-8 % < 701 lahan kering Typic Eutrudepts
Halus Agak masam-netral 19 Perbukitan
tektonik
Toba Batulempung napalan
Berbukit Punggung 8-15 % < 700 lahan kering Typic Eutrudepts
Halus Agak masam-netral 20 Perbukitan
tektonik
Toba Batulempung napalan
Berbukit Sisi lereng 15-30 % < 700 lahan kering Typic Eutrudepts
Halus Agak masam-netral 21 Perbukitan
tektonik
Toba Batulempung napalan
Berbukit Sisi lereng >30 % < 700 lahan kering Typic Eutrudepts
Halus Agak masam-netral 22 Perbukitan Karst Tmol Batugamping
koral
Berbukit Lembah 3-8 % < 700 lahan kering Typic/Lithic Eutrudepts
Halus . berbatu
Agak masam-netral 23 Perbukitan Karst Tmol Batugamping
koral
Berbukit Sisi lereng 15-30 % < 700 lahan kering Typic/Lithic Eutrudepts
Halus . berbatu
Agak masam-netral 24 Perbukitan Karst Tmol Batugamping
koral
Berbukit Puntuk >30 % < 700 lahan kering Typic/Lithic Eutrudepts Halus . berbatu Agak masam-netral 25 Kerucut volkan . puncak
Qvep Lava andesit hornblenda
Bergunung Puncak 8-15% > 1000 lahan kering Typic Haplorthents
Agak kasar Masam 26 Kerucut volkan .
lereng atas
Qvep Lava andesit hornblenda
Bergunung Lereng atas >45% > 1000 lahan kering Typic Haplorthents
Agak kasar Masam 27 Kerucut volkan .
lereng tengah
Qvep Lava andesit hornblenda
Bergunung Lereng tengah
3-8 % > 1000 lahan kering Typic Hapludands Agak kasar-sedang Masam 28 Kerucut volkan . lereng tengah
Qvep Lava andesit hornblenda
Bergunung Lereng tengah
15-30 % > 1000 lahan kering Typic Hapludands Agak kasar-sedang Masam 29 Kerucut volkan . lereng tengah
Qvep Lava andesit hornblenda
Bergunung Lereng tengah
30-45 % > 1000 lahan kering Typic Hapludands Agak kasar-sedang Masam 30 Kerucut volkan . puncak
Qvep Lava andesit hornblenda
Bergunung Lereng tengah
>45 % > 1000 lahan kering Typic Hapludands Agak kasar-sedang Masam 31 Kerucut volkan . puncak
Qvep Lava andesit hornblenda
Bergunung Lereng bawah
15-30 % > 1000 lahan kering Typic Hapludands Agak kasar-sedang Masam 32 Kerucut volkan . puncak
Qvep Lava andesit hornblenda
Bergunung Lereng bawah
30-45 % > 1000 lahan kering Typic Hapludands
Agak kasar-sedang
Lampiran 4 (lanjutan)
No LU
Unit Fisiografi Formasi Bahan Induk Bentuk wilayah Posisi lereng Lereng (%) Elevasi (m dpl) Tipologi Lahan Sub grup Tanah Tekstur Reaksi tanah 33 Kerucut volkan puncak
Qvep Lava andesit hornblenda
Bergunung Lereng bawah
>45 % > 1000 lahan kering Typic Hapludands
Agak kasar-sedang
Masam 34 Aliran lava Qvsl Lava andesit
basal
Bergunung Puncak 8-15% > 1000 Lahan kering Typic Haplorthents
Agak kasar Masam 35 Aliran lava Qvsl Lava andesit
basal
Bergunung Lereng atas
>45% > 1000 Lahan kering Typic Haplorthents
Agak kasar Masam 36 Aliran lava Qvsl Lava andesit
basal
Bergunung Lereng tengah
>45% > 1000 Lahan kering Typic Hapludands
Agak kasar-sedang
Masam 37 Aliran lava Qvsl Lava andesit
basal
Bergunung Lereng bawah
>45 % > 1000 Lahan kering Typic Hapludands Agak kasar-sedang Masam 38 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Punggung 0-3 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts Sedang-halus Masam 39 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Punggung 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts Sedang-halus Masam 40 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Punggung 0-3 % < 700 Lahan basah Typic Dystrudepts Sedang-halus Masam 41 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Punggung 3-8 % < 700 Lahan basah Typic Dystrudepts Sedang-halus Masam 42 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 0-3 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts Sedang-halus Masam 43 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts Sedang-halus Masam 44 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts Sedang-halus Masam 45 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 15-30% < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts Sedang-halus Masam 46 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng > 30% < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts Sedang-halus Masam 47 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 0-3 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts Sedang-halus Masam 48 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts Sedang-halus Masam 49 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang-halus
Lampiran 4 (lanjutan)
No LU
Unit Fisiografi Formasi Bahan Induk Bentuk wilayah Posisi lereng Lereng (%) Elevasi (m dpl) Tipologi Lahan Sub grup Tanah Tekstur Reaksi tanah 50 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts Sedang-halus Masam 51 Lungur volkan bawah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 15-30% < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts Sedang-halus Masam 52 Lungur volkan tengah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Punggung 3-8 % 700-1000 Lahan basah Typic Dystrudepts
Sedang Masam 53 Lungur volkan
tengah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % 700-1000 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 54 Lungur volkan
tengah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 15-30% 700-1000 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 55 Lungur volkan
tengah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 30-45 % 700-1000 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 56 Lungur volkan
tengah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng > 45 700-1000 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 57 Lungur volkan
tengah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng > 45 700-1000 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 58 Lungur volkan
tengah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % 700-1000 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam 59 Lungur volkan
tengah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % 700-1000 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam 60 Lungur volkan
tengah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 15-30% 700-1000 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam 61 Lungur volkan
tengah
Qvsb Breksi tufaan Berbukit memanjang
Sisi lereng 30-45 % 700-1000 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam 62 Kerucut volkan
atas
Qvsb Breksi tufaan Bergunung Puncak 8-15 % > 1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam 63 Kerucut volkan
atas
Qvsb Breksi tufaan Bergunung Lereng atas 15-30% > 1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam 64 Kerucut volkan
atas
Qvsb Breksi tufaan Bergunung Lereng tengah
30-45 % > 1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam 65 Aliran lahar dan
lava muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 0-3 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Lampiran 4 (lanjutan)
No LU
Unit Fisiografi Formasi Bahan Induk Bentuk wilayah Posisi lereng Lereng (%) Elevasi (m dpl) Tipologi Lahan Sub grup Tanah Tekstur Reaksi tanah 66 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 67 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 8-15 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 68 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 0-3 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 69 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 70 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 71 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 15-30% < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 72 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng >30 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 73 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 0-3 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam 74 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 3-8 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam 75 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 8-15 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam 76 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 0-3 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam 77 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam 78 Aliran lahar dan lava
muda. lereng bawah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam 79 Aliran lahar dan lava
muda. lereng tengah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 0-3 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam 80 Aliran lahar dan lava
muda. lereng tengah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 3-8 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam 81 Aliran lahar dan lava
muda. lereng tengah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 8-15 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam 82 Aliran lahar dan lava
muda. lereng tengah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Lampiran 4 (lanjutan)
No LU
Unit Fisiografi Formasi Bahan Induk Bentuk wilayah Posisi lereng Lereng (%) Elevasi (m dpl) Tipologi Lahan Sub grup Tanah Tekstur Reaksi tanah 83 Aliran lahar dan lava
muda. lereng tengah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam 84 Aliran lahar dan lava
muda. lereng tengah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 15-30% 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam 85 Aliran lahar dan lava
muda. lereng tengah
Qvpy Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng >30 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam 86 Kerucut volkan Qvpy Lahar & lava
andesit
Bukit memanjang
Puncak 8-15 % >1000 Lahan kering Typic Udhorthents
Agak kasar
Masam 87 Kerucut volkan Qvpy Lahar & lava
andesit
Bukit memanjang
Lereng atas
>45 % >1000 Lahan kering Typic Udhorthents
Agak kasar
Masam 88 Kerucut volkan Qvpy Lahar & lava
andesit
Bukit memanjang
Lereng tengah
>45 % >1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam 89 Aliran lahar dan lava
subresen . lereng bawah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam
90 Aliran lahar dan lava subresen. lereng bawah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam
91 Aliran lahar dan lava subresen. lereng bawah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam
92 Aliran lahar dan lava subresen. lereng bawah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 15-30 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam
93 Aliran lahar dan lava subresen. lereng bawah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng > 30 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam
94 Aliran lahar dan lava subresen. lereng bawah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 3-8 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam
95 Aliran lahar dan lava subresen. lereng bawah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Lampiran 4 (lanjutan)
No LU
Unit Fisiografi Formasi Bahan Induk Bentuk wilayah Posisi lereng Lereng (%) Elevasi (m dpl) Tipologi Lahan Sub grup Tanah Tekstur Reaksi tanah 96 Aliran lahar dan lava
subresen. lereng bawah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam
97 Aliran lahar dan lava subresen. lereng bawah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 15-30 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam
98 Aliran lahar dan lava subresen. lereng bawah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng > 30 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang Masam
99 Aliran lahar dan lava subresen. lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 3-8 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam
100 Aliran lahar dan lava subresen. lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam
101 Aliran lahar dan lava subresen. lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam
102 Aliran lahar dan lava subresen. lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam
103 Aliran lahar dan lava subresen. lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 15-30 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam
104 Aliran lahar dan lava subresen
. lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng > 30 % 700-1000 Lahan kering Typic Hapludands
Sedang Masam
105 Aliran lahar dan lava subresen . lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Punggung 3-8 % 700-1000 Lahan basah Aquic Hapludands
Sedang Masam
106 Aliran lahar dan lava subresen . lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % 700-1000 Lahan basah Aquic Hapludands
Lampiran 4 (lanjutan)
No LU
Unit Fisiografi Formasi Bahan Induk Bentuk wilayah Posisi lereng Lereng (%) Elevasi (m dpl) Tipologi Lahan Sub grup Tanah Tekstur Reaksi tanah 107 Aliran lahar dan
lava subresen. lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % 700-1000
Lahan basah Aquic Hapludands
Sedang Masam
108 Aliran lahar dan lava subresen. lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit Bukit memanjang Sisi lereng 15-30 % 700-1000
Lahan basah Aquic Hapludands
Sedang Masam
109 Kepundan Qvpo Lahar & lava andesit
Bergunung Melandai 8-15 % >1000 Lahan kering Typic Udorthents
Kasar-agak kasar
Masam 110 Kaldera Qvpo Lahar & lava
andesit
Bergunung cembung 8-15 % >1000 Lahan kering Typic Udorthents Kasar-agak kasar Masam 111 Dinding Kepundan
Qvpo Lahar & lava andesit
Bergunung Dinding >45 % >1000 Lahan kering Typic Udorthents
Kasar-agak kasar
Masam 112 Dinding Kaldera Qvpo Lahar & lava
andesit
Bergunung Dinding >45 % >1000 Lahan kering Typic Udorthents Kasar-agak kasar Masam 113 Kerucut volkan lereng atas
Qvpo Lahar & lava andesit
Bergunung Lereng atas
>45 % >1000 Lahan kering Typic Udorthents sedang -agak kasar Masam 114 Kerucut volkan lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bergunung Lereng tengah
15-30 %
>1000 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 115 Kerucut volkan
lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bergunung Lereng tengah
30-45 %
>1000 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang Masam 116 Kerucut volkan
lereng tengah
Qvpo Lahar & lava andesit
Bergunung Lereng tengah
>45 >1000 Lahan kering Typic Dystrudepts Sedang Masam 117 Dataran volkan berombak Qvst Tuf batuapung pasiran
Berombak punggung 3-8 % < 700 lahan basah Typic Endoaquepts Sedang Masam 118 Dataran volkan berombak Qvst Tuf batuapung pasiran
Berombak Sisi lereng 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts Sedang Masam 119 Dataran volkan berombak Qvst Tuf batuapung pasiran
Berombak Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts Sedang Masam 120 Dataran volkan berombak Qvst Tuf batuapung pasiran
Berombak Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts Sedang Masam 121 Dataran volkan berombak Qvst Tuf batuapung pasiran
Berombak Sisi lereng 0-3 % < 700 lahan basah Typic Endoaquepts Sedang Masam 122 Dataran volkan berombak Qvst Tuf batuapung pasiran
Berombak Sisi lereng 8-15 % < 700 lahan basah Typic Endoaquepts
Lampiran 4 (lanjutan)
No LU
Unit Fisiografi Formasi Bahan Induk Bentuk wilayah Posisi lereng Lereng (%) Elevasi (m dpl) Tipologi Lahan Sub grup Tanah Tekstur Reaksi tanah 123 Dataran volkan bergelombang
Qvt Tuf batuapung Bergelombang Punggung 0-3 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang-halus Masam 124 Dataran volkan
bergelombang
Qvt Tuf batuapung Bergelombang Punggung 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang-halus Masam 125 Dataran volkan
bergelombang
Qvt Tuf batuapung Bergelombang Punggung 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang-halus Masam 126 Dataran volkan
bergelombang
Qvt Tuf batuapung Bergelombang Punggung 8-15 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang-halus Masam 127 Dataran volkan
bergelombang
Qvt Tuf batuapung Bergelombang Sisi lereng 3-8 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts
Sedang-halus Masam 128 Dataran volkan
bergelombang
Qvt Tuf batuapung Bergelombang Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang-halus Masam 129 Dataran volkan
bergelombang
Qvt Tuf batuapung Bergelombang Sisi lereng 15-30 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang-halus Masam 130 Dataran volkan
bergelombang
Qvt Tuf batuapung Bergelombang Sisi lereng 15-30 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang-halus Masam 131 Dataran volkan
bergelombang
Qvt Tuf batuapung Bergelombang Sisi lereng 15-30 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts
Sedang-halus Masam 132 Dataran volkan
bergelombang
Qvt Tuf batuapung Bergelombang Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts Sedang-halus Masam 133 Lungur volkan. bagian bawah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Punggung 0-3 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts. Hapludults Halus Masam 134 Lungur volkan. bagian bawah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Punggung 3-8 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts Halus Masam 135 Lungur volkan. bagian bawah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Punggung 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts. Hapludults Halus Masam 136 Lungur volkan. bagian bawah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Punggung 8-15 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts. Hapludults Halus Masam 137 Lungur volkan. bagian bawah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Sisi lereng 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts. Hapludults
Lampiran 4 (lanjutan)
No LU
Unit Fisiografi Formasi Bahan Induk Bentuk wilayah Posisi lereng Lereng (%) Elevasi (m dpl) Tipologi Lahan Sub grup Tanah Tekstur Reaksi tanah 138 Lungur volkan. bagian bawah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts. Hapludults Halus Masam 140 Lungur volkan. bagian bawah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Sisi lereng 15-30 % < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts. Hapludults Halus Masam 141 Lungur volkan. bagian bawah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Sisi lereng > 30% < 700 Lahan kering Typic Dystrudepts. Hapludults Halus Masam 142 Lungur volkan. bagian bawah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Sisi lereng 15-30 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts. Hapludults Halus Masam 143 Lungur volkan. bagian bawah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Sisi lereng 15-30 % < 700 Lahan basah Aquic Dystrudepts. Hapludults Halus Masam 144 Lungur volkan. bagian tengah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Punggung 3-8 % < 700 Lahan kering Typic Hapludands Halus Masam 145 Lungur volkan. bagian tengah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Sisi lereng 8-15 % < 700 Lahan kering Typic Hapludands Halus Masam 146 Lungur volkan. bagian tengah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Sisi lereng 15-30 % < 700 Lahan kering Typic Hapludands Halus Masam 147 Lungur volkan. bagian tengah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Sisi lereng > 30 % < 700 Lahan kering Typic Hapludands Halus Masam 148 Lungur volkan. bagian tengah Qvb Breksi. andesit-basal Berbukit memanjang
Sisi lereng Bergelom bang (8-25%)
< 701 Lahan basah Aquic Hapludands
Lampiran 5 Interpretasi survei geolistrik
Titik Desa Kec. Ketebalan Hambatan (Ohm)
Jenis batuan Ukuran butir Makna hidrogeologi Potensi airbumi
PO 01 Pasirdoton Cidahu 0.57 212 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
3.76 102 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
15.9 22.6 Lahar Pasir berlempung Lapisan jenuh air SP 54.77 103 Tufa Lempung berpasir Lapisan tidak jenuh air KP
75 - - - Lapisan non akifer TP
PO 02 Tenjolaya Cicurug 2.44 45.1 Tanah Overburden Lapisan jenuh air SP
2.705 14.6 Tanah Overburden Lapisan jenuh air SP
7.345 107 Teras Berpasir kompak Lapisan tidak jenuh air KP 16.02 4.31 Lava Lempung berpasir Lapisan tidak jenuh air KP 52.04 171 Lava. breksi Berpasir kompak Lapisan tidak jenuh air KP PO 03 Purwasari Cicurug 24.74 182 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
46.94 301 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
21.18 62.2 Tuf dan batu apung Pasir berlempung Lapisan jenuh air SP 24.44 6.42 Tufa Lempung berpasir Lapisan tidak jenuh air KP
49.44 707 Batu liat Pasir kompak Lapisan non akifer TP
PO 04 Ciheulang Tonggoh
Nagrak 0.9 37.5 Tanah Overburden Lapisan jenuh air SP
0.98 16.3 Tanah Overburden Lapisan jenuh air SP
2.05 148 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
32.58 36.7 Lahar Pasir berlempung Lapisan jenuh air SP 113.49 22.4 Lahar & batuan
andesit
Lampiran 5 (lanjutan)
Titik Desa Kec. Ketebalan Hambatan (Ohm)
Jenis batuan Ukuran butir Makna hidrogeologi Potensi airbumi
PO 05 Cikembang Cisaat 2.22 64.2 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
4.03 326 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
93.75 36.8 Tufa. breksi Lempung. pasir berbatu Lapisan jenuh air SP PO 06 Sukamulya Cikembar 1.05 211 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP 8.2 96.4 Lahar Pasir berlempung Lapisan tidak jenuh air KP 23.72 18.7 Lahar Pasir berlempung Lapisan jenuh air SP 67.03 2.15 Batu liat Liat kompak Lapisan non akifer TP PO 07 Ciambar Parungkuda 5.19 162 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP 17.85 44.4 Lahar Pasir berlempung Lapisan jenuh air SP
16.56 0.609 Napal Liat kompak Lapisan non akifer TP
110.4 810 Batupasir Pasir kompak Lapisan non akifer TP PO 08 Langensari Parungkuda 0.762 206 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
6.625 16.223 65.7 33.4 Lahar Lahar Pasir berlempung Pasir berlempung
Lapisan jenuh air Lapisan jenuh air
SP SP
23.59 1.42 Napal Liat Lapisan non akifer TP
Lampiran 5 (lanjutan)
Titik Desa Kec. Ketebalan Hambatan (Ohm)
Jenis batuan Ukuran butir Makna hidrogeologi Potensi airbumi PO 09
Bojong-genteng
Parungkuda 4.152 14.1 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
2.84 41.9 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
27.37 4.56 Napal Liat Lapisan non akifer TP
115.64 2.37 Napal Liat Lapisan non akifer TP
PO 10 Kadu-nunggal
Kalapa-nunggal
0.9 204 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
3.05 277 Tanah Overburden Lapisan non akifer TP
4.29 45.1 Lahar Pasir berlempung Lapisan jenuh air SP
8.96 178 Lava Pasir kompak Lapisan tidak jenuh air KP
58.08 30.4 Lahar Pasir berlempung Lapisan jenuh air SP 74.73 101 Breksi. lava Pasir lempung berbatu Lapisan tidak jenuh air KP PO 11 Gunung
Endut
Kalapa-nunggal
12.43 71.79 Tanah Overburden Lapisan jenuh air SP
1.87 49.6 Lahar Pasir berlempung Lapisan jenuh air SP 16.99 69.71 11.28 34.08 Tufa breksi Lahar Lempung berbatu Pasir berlempung
Lapisan tidak jenuh air Lapisan jenuh air
KP S PO 12 Cipanengah
Bojong-genteng
20.10 78.68 Tanah Overburden Lapisan jenuh air SP
2.48 36.83 Tanah Overburden Lapisan jenuh air SP
5.54 104.9 Tufa dan lahar Pasir berlempung Lapisan tidak jenuh air KP 12.36 8.736 Tuva napalan Lempung/liat Lapisan tidak jenuh air KP 77.61 32.39 Lahar. breksi Pasir. berlempung dan
berbatu
Lapisan tidak jenuh air SP
Ket: TP = tidak potensial KP = kurang potensial SP = sangat potensial
Lampiran 6 Algoritma model tangki standar dalam bahasa Pascal
procedure TankModel(B:ArrayM; Xi:single; var Yx:single);
var
YA0,YA1,YA2,YB0,YB1,YC0,YC1,YD1: single;
procedure TankA(Ha:real; B:ArrayM; var YA0,YA1,YA2:single);
begin
YA0:=B[0]*Ha;
YA1:=B[1]*(Ha-B[2]); if YA1<0 then YA1:=0;
YA2:=B[3]*(Ha-B[4]); if YA2<0 then YA2:=0;
end;{TankA}
procedure TankB(Hb:real; B:ArrayM; var YB0,YB1:single);
begin
YB0:=B[5]*Hb;
YB1:=B[6]*(Hb-B[7]); if YB1<0 then YB1:=0;
end;{TankB}
procedure TankC(Hc:real; B:ArrayM; var YC0,YC1:single);
begin
YC0:=B[8]*Hc;
YC1:=B[9]*(Hc-B[10]); if YC1<0 then YC1:=0;
end;{TankC}
procedure TankD(Hd:real; B:ArrayM; var YD1:single);
begin
YD1:=B[11]*Hd;
end;{TankD}
begin {Main for TankModel}
Ha:=Ha+Xi;
TankA(Ha,B,YA0,YA1,YA2);
Ha:=Ha-(YA0+YA1+YA2);
Hb:=Hb+YA0;
TankB(Hb,B,YB0,YB1);
Hb:=Hb-(YB0+YB1);
Hc:=Hc+YB0;
TankC(Hc,B,YC0,YC1);
Hc:=Hc-(YC0+YC1);
Hd:=Hd+YC0;
TankD(Hd,B,YD1);
Hd:=Hd-YD1;
Yx:=YA1+YA2+YB1+YC1+YD1;
end;{End of TankModel}
Lampiran 7 Alokasi air optimal untuk domestik, industri non AMDK, dan pertanian
untuk sekali tanam pada kondisi normal dan saat terjadi tren perubahan
iklim pada irigasi konvensional berdasarkan pengguna air
Ket: 1) Air Permukaan
2) Mata Air 3)
Air Tanah
Lampiran8 Alokasi air optimal untuk domestik, industri non AMDK, dan pertanian
untuk sekali tanam pada kondisi normal dan saat terjadi tren perubahan
iklim pada irigasi konvensional berdasarkan sumber air
AP1) MA2) AT3) AP MA AT Domestik (%) 48,5 - 50,6 16,6 - 16,7 0 31,4 - 31,9 48,4 - 48,5 0 Industri (%) 3,0 - 3,1 2,1 - 2,2 100 1,9 - 2,0 3,0 - 3,1 100 Pertanian (%) 48,6 - 50,7 81,2 - 81,4 0 66,1 - 66,7 48,4 - 48,5 0 AMDK (juta m3) 0 67,1 27,2 0 0 -12,4 Domestik (%) 48,3 - 48,4 17,8 - 17,9 0 30,3 - 30,5 52,5 - 53,0 0 Industri (%) 3,2 2,2 - 2,3 100 1,8 - 1,9 3,0 - 3,1 100 Pertanian (%) 48,5 79,8 - 80,0 0 67,6 - 67,9 44,4 - 46,4 0 AMDK (juta m3) 0 50,7 28,3 0 0 -14,7 Domestik (%) 48,3 - 49,1 17,8 - 17,9 0 29,1 - 29,3 19,1 - 19,4 0 Industri (%) 3,2 2,2 - 2,3 100 1,7 - 1,8 2,4 - 2,5 100 Pertanian (%) 48,5 - 49,2 79,8 - 80,0 0 68,9 - 69,1 78,1 - 78,5 0 AMDK (juta m3) 0 51,2 28,5 0 26 -22,6 Domestik (%) 43,3 19,3 - 19,4 0 31,4 - 31,9 48,4 - 48,5 0 Industri (%) 12,9 - 13,0 9,3 - 9,6 100 1,9 - 2,0 3,0 - 3,1 100 Pertanian (%) 43,7 - 43,8 71,0 - 71,4 0 66,1 - 66,7 48,4 - 48,5 0 AMDK (juta m3) 0 37,2 29 0 0 -25,9 Domestik (%) 48,3 - 48,4 19,7 - 19,8 0 23,9 - 24,3 34,0 - 34,5 0 Industri (%) 3,3 - 3,4 2,4 - 2,5 100 1,4 - 1,5 4,2 - 4,4 100 Pertanian (%) 48,4 - 48,5 77,6 - 77,9 0 49,9 - 50,7 61,1 - 61,8 0 AMDK (juta m3) 0 42,4 29,1 0 -57,2 -70,4 Pertumbuhan ekonomi naik 4% Pertumbuhan ekonomi naik 5% Pertumbuhan ekonomi naik 6% Pertumbuhan ekonomi naik 7%
Skenario Pengguna (1 kali
tanam)
Inisial
Normal Tren Perubahan Iklim
Existing Optimasi AP MA AT Existing Optimasi AP MA AT
Domestik 31,4 - 31,9 28,6 - 29,0 18,6 - 19,1 9,8 - 9,9 0 31,4 - 31,9 37,4 - 37,7 18,8 - 18,9 18,8 - 18,9 0 Industri 5,0 - 5,2 4,2 - 4,4 1,2 - 1,3 1,2 - 1,3 1,9 - 2,0 5,0 - 5,2 4,2 - 4,5 1,1 - 1,2 1,2 - 1,3 1,9 - 2,0 Pertanian 62,9 - 63,5 66,8 - 67,0 18,7 - 19,1 47,6 - 48,5 0 62,9 - 63,5 58,0 - 58,4 39,2 - 39,5 18,8 - 18,9 0 AMDK (juta m3) 0 67 27,2 0 0 -12,4 Domestik (%) 31,4 - 31,9 29,8 - 30,2 18,9 - 19,4 10,4 - 10,5 0 31,4 - 31,9 37,1 - 38,4 18,4 - 18,7 18,7 - 19,7 0 Industri (%) 5,0 - 5,2 4,6 - 4,7 1,3 - 1,4 1,3 - 1,4 2,1 5,0 - 5,2 4,1 - 4,4 1,1 - 1,2 1,2 - 1,3 1,8 - 1,9 Pertanian (%) 62,9 - 63,5 65,5 - 66,8 19,0 - 19,4 46,1 - 47,0 0 62,9 - 63,5 56,4 - 59,8 39,7 - 41,1 16,7 - 18,7 0 AMDK (juta m3) 0 50,7 28,3 0 0 -14,7 Domestik (%) 31,4 - 31,9 29,7 - 30,2 19,0 - 19,3 10,4 - 10,5 0 31,4 - 31,9 24,5 - 24,7 16,3 - 16,4 8,2 - 8,3 0 Industri (%) 5,0 - 5,2 4,6 - 4,7 1,3 - 1,4 1,3 - 1,4 2,1 5,0 - 5,2 3,6 - 3,9 1,0 - 1,1 1,0 - 1,1 1,6 - 1,7 Pertanian (%) 62,9 - 63,5 65,6 - 66,9 19,0 - 19,3 46,3 - 47,2 0 62,9 - 63,5 54,5 - 55,1 38,3 - 38,8 16,2 - 16,3 0 AMDK (juta m3) 0 51,2 28,5 0 26 -22,6 Domestik (%) 31,4 -31,9 28,6 - 28,9 17,6 - 18,0 10,9 - 11,1 0 31,4 - 31,9 26,8 - 27,1 18,7 - 18,9 8,1 - 8,2 0 Industri (%) 5,0 - 5,2 12,8 - 12,9 5,3 - 5,4 5,3 - 5,4 2,2 5,0 - 5,2 4,1 - 4,4 1,1 - 1,2 1,2 - 1,3 1,8 - 1,9 Pertanian (%) 62,9 - 63,5 58,1 - 58,6 17,8 - 18,2 39,9 - 40,8 0 62,9 - 63,5 57,9 -58,5 39,2 - 39,7 18,7 - 18,8 0 AMDK (juta m3) 0 37,2 29 0 0 -25,9 Domestik (%) 31,4 -31,9 31,3 - 31,8 19,7 - 20,2 11,1 - 11,2 0 31,4 - 31,9 26,1 - 26,5 17,4 - 17,7 8,7 - 8,8 0 Industri (%) 5,0 - 5,2 4,9 - 5,0 1,3 - 1,4 1,4 - 1,5 2,2 5,0 - 5,2 3,8 - 4,1 1,0 - 1,1 1,1 - 1,2 1,7 - 1,8 Pertanian (%) 62,9 - 63,5 63,7 - 65,0 19,8 - 20,2 43,5 - 44,4 0 62,9 - 63,5 51,9 -52,7 36,3 - 36,9 15,6 - 15,8 0 AMDK (juta m3) 0 42,4 29,1 0 -57,2 -70,4 Pertumbuhan ekonomi naik 5% Pertumbuhan ekonomi naik 6% Pertumbuhan ekonomi naik 7% Pengguna Skenario Inisial Pertumbuhan ekonomi naik 4%
Sumber Air (1 kali tanam)
Lampiran 9 Alokasi air optimal untuk domestik, industri non AMDK, dan pertanian
untuk sekali tanam pada kondisi normal dan saat terjadi tren perubahan
iklim pada irigasi intermittent berdasarkan pengguna air
Lampiran 10 Alokasi air optimal untuk domestik, industri non AMDK, dan
pertanian untuk sekali tanam pada kondisi normal dan saat terjadi tren
perubahan iklim pada irigasi intermittent berdasarkan sumber air
AP MA AT AP MA AT Domestik (%) 58,9 - 59,4 59,9 - 60,2 0,0 46,6 - 46,8 59,9 - 60,2 0,0 Industri (%) 3,5 - 3,6 7,4 - 7,7 100,0 6,2 - 6,6 7,4 - 7,7 100,0 Pertanian (%) 36,9 - 37,5 32,1 - 32,7 0,0 46,8 - 47,0 32,1 - 32,7 0,0 AMDK (juta m3) 30,2 106,5 27,2 0,0 62,1 22,6 Domestik (%) 58,9 - 59,4 59,9 - 60,2 0,0 45,8 - 46,1 59,9 - 60,2 0,0 Industri (%) 3,5 - 3,6 7,4 - 7,7 100,0 7,8 - 8,2 7,4 - 7,7 100,0 Pertanian (%) 36,9 - 37,5 32,1 - 32,7 0,0 46,0 - 46,2 32,1 - 32,7 0,0 AMDK (juta m3) 17,5 133,0 28,3 0,0 85,6 -14,7 Domestik (%) 58,9 - 59,4 59,9 - 60,2 0,0 46,5 - 46,7 59,9 - 60,2 0,0 Industri (%) 3,5 - 3,6 7,4 - 7,7 100,0 6,5 - 6,9 7,4 - 7,7 100,0 Pertanian (%) 36,9 - 37,5 32,1 - 32,7 0,0 46,6 - 46,8 32,1 - 32,7 0,0 AMDK (juta m3) 17,2 134,3 28,5 0,0 88,9 -15,3 Domestik (%) 58,9 - 59,4 59,9 - 60,2 0,0 46,5 - 46,6 59,9 - 60,2 0,0 Industri (%) 3,5 - 3,6 7,4 - 7,7 100,0 6,6 - 7,0 7,4 - 7,7 100,0 Pertanian (%) 36,9 - 37,5 32,1 - 32,7 0,0 46,6 - 46,8 32,1 - 32,7 0,0 AMDK (juta m3) 17,9 135,6 28,8 0,0 92,3 - 92,4 -15,9 Domestik (%) 46,4 - 46,6 59,9 - 60,2 0,0 46,6 - 51,0 59,9 - 60,0 0,0 Industri (%) 6,7 - 7,0 7,4 - 7,7 100,0 6,7- 7,0 7,4 - 7,5 100,0 Pertanian (%) 46,6 - 46,7 32,1 - 32,7 0,0 46,7 - 51,2 32,7 - 32,9 0,0 AMDK (juta m3) 18,1 136,8 29,1 0 95,6 -15,5 Sumber Air
Tren Perubahan Iklim Normal
Pertumbuhan ekonomi naik 5%
Skenario Pengguna (1 kali tanam) Pertumbuhan ekonomi naik 6% Pertumbuhan ekonomi naik 7% Inisial Pertumbuhan ekonomi naik 4%
Existing Optimasi AP MA AT Existing Optimasi AP MA AT
Domestik (%) 56,6 - 57,0 57,0 - 57,4 38,0 - 38,3 19,0 - 19,1 0,0 56,6 - 57,0 50,1 - 50,2 23,0 - 24,1 26,1 - 27,1 0,0 Industri (%) 9,0 - 9,3 8,4 - 8,6 2,3 - 2,4 2,3 - 2,4 3,7 - 3,9 9,0 - 9,3 11,8 - 11,9 3,2 - 3,3 3,3 - 3,4 5,3 -5,4 Pertanian (%) 33,7 - 34,3 33,9 - 34,6 23,8 - 24,2 10,2 - 10,4 0,0 33,7 - 34,3 37,9 - 38,1 23,1 - 24,2 13,9 - 14,8 0,0 AMDK (juta m3) 30,2 106,5 27,2 0,0 62,1 22,6 Domestik (%) 56,6 - 57,0 57,0 - 57,4 38,0 - 38,3 19,0 - 19,1 0,0 56,6 - 57,0 49,8 - 49,9 22,2 - 23,2 26,6 - 27,7 0,0 Industri (%) 9,0 - 9,3 8,4 - 8,6 2,3 - 2,4 2,3 - 2,4 3,7 - 3,9 9,0 - 9,3 12,7 - 12,8 3,9 - 4,0 3,4 - 3,5 5,4 -5,5 Pertanian (%) 33,7 - 34,3 33,9 - 34,6 24,2 10,2 - 10,4 0,0 33,7 - 34,3 37,3 - 37,5 22,2 - 23,3 14,2 - 15,1 0,0 AMDK (juta m3) 17,5 133 28,3 0,0 85,6 -14,7 Domestik (%) 56,6 - 57,0 57,0 - 57,4 38,0 - 38,3 19,0 - 19,1 0,0 56,6 - 57,0 50,2 - 50,4 22,4 - 23,4 26,7 - 27,8 0,0 Industri (%) 9,0 - 9,3 8,4 - 8,6 2,3 - 2,4 2,3 - 2,4 3,7 - 3,9 9,0 - 9,3 12,1 - 12,2 3,3 - 3,4 3,4 - 3,5 5,4 -5,5 Pertanian (%) 33,7 - 34,3 33,9 - 34,6 24,2 10,2 - 10,4 0,0 33,7 - 34,3 37,6 - 37,7 22,4 - 23,5 14,2 - 15,2 0,0 AMDK (juta m3) 17,2 134,3 28,5 0,0 88,9 -15,3 Domestik (%) 56,6 - 57,0 57,0 - 57,4 38,0 - 38,3 19,0 - 19,1 0,0 56,6 - 57,0 50,2 - 50,3 22,3 - 23,3 26,9 - 27,9 0,0 Industri (%) 9,0 - 9,3 8,4 - 8,6 2,3 - 2,4 2,3 - 2,4 3,7 - 3,9 9,0 - 9,3 12,1 - 12,3 3,3 - 3,4 3,4 - 3,5 5,4 - 5,5 Pertanian (%) 33,7 - 34,3 33,9 - 34,6 24,2 10,2 - 10,4 0,0 33,7 - 34,3 37,6 - 37,7 22,3 - 23,4 14,3 - 15,2 0,0 AMDK (juta m3) 17,9 135,6 28,8 0,0 92,3 -15,9 Domestik (%) 56,6 - 57,0 50,2 22,1 - 23,2 27,0 - 28,0 0,0 56,6 - 57,0 50,2 - 52,4 23,2 - 24,3 27,0 - 28,0 0,0 Industri (%) 9,0 - 9,3 12,2 - 12,3 3,3 - 3,4 3,4 - 3,5 5,4 - 5,5 9,0 - 9,3 12,2 - 12,3 3,3 - 3,4 3,4 - 3,5 5,4 - 5,5 Pertanian (%) 33,7 - 34,3 37,5 - 37,6 22,2 - 23,2 14,4 - 15,3 0,0 33,7 - 34,3 37,6 - 39,7 23,2 - 24,4 14,4 - 15,3 0,0 AMDK (juta m3) 18,1 136,8 29,1 0,0 95,6 -15,5 Pertumbuhan ekonomi naik 7% Inisial Pertumbuhan ekonomi naik 4% Pertumbuhan ekonomi naik 5% Pertumbuhan ekonomi naik 6% Skenario Pengguna
Sumber Air (1 kali tanam)
Lampiran 11 Alokasi air optimal untuk domestik, industri non AMDK, dan pertanian
untuk dua kali tanam pada kondisi normal dan saat terjadi tren perubahan
iklim pada irigasi konvensional berdasarkan pengguna air
Lampiran 12 Alokasi air optimal untuk domestik, industri non AMDK, dan pertanian
untuk dua kali tanam pada kondisi normal dan saat terjadi tren perubahan
iklim pada irigasi konvensional berdasarkan sumber air
AP1) MA2) AT3) AP MA AT Domestik (%) 48,4 - 49,0 17,4 - 17,5 0 25,2 - 25,4 21,5 - 27,9 0 Industri (%) 3,1 - 3,2 2,2 - 2,3 100 1,5 - 1,6 2,7 - 3,6 100 Pertanian (%) 48,5 - 49,1 80,2 - 80,5 0 73,0 - 73,3 68,6 - 75,9 0 AMDK (juta m3) 0 51,0 27,2 0 32,5 8,7 Domestik (%) 25,2 - 25,4 9,7 - 9,8 0 25,2 - 25,4 42,6 - 42,7 0 Industri (%) 1,5 - 1,6 1,2 - 1,3 100 1,5 - 1,6 2,6 - 2,7 100 Pertanian (%) 73,0 - 73,3 89,0 - 89,1 0 73,0 - 73,3 54,7 - 54,8 0 AMDK (juta m3) 0 133,0 28,3 0 0 -14,7 Domestik (%) 52,2 - 53,9 34,1 - 35,1 0 25,2 - 25,4 42,8 - 42,9 0 Industri (%) 3,2 - 3,3 4,4 - 4,5 100 1,5 - 1,6 2,7 - 2,8 100 Pertanian (%) 42,9 - 44,6 60,5 - 61,5 0 73,0 - 73,3 54,4 - 54,5 0 AMDK (juta m3) 0 74,8 28,5 0 0 -15,3 Domestik (%) 25,2 - 25,4 14,0 - 14,3 0 25,2 - 25,4 42,4 - 42,5 0 Industri (%) 1,5 - 1,6 1,8 - 1,9 100 1,5 - 1,6 2,7 - 2,8 100 Pertanian (%) 73,0 - 73,3 83,9 - 84,2 0 0 54,8 - 54,9 0 AMDK (juta m3) 0 -34,5 28,5 -129,8 15,8 -94 Domestik (%) 25,2 - 25,4 14,1 - 14,4 0 25,2 - 25,4 41,8 - 41,9 0 Industri (%) 1,5 - 1,6 1,8 - 1,9 100 1,5 - 1,6 2,2 - 2,3 100 Pertanian (%) 73,0 - 73,3 83,8 - 84,0 0 73,0 - 73,3 56,0 - 56,1 0 AMDK (juta m3) 0 10,5 -40,7 -112,5 29,1 -17,4 Pertumbuhan ekonomi naik 7%
Skenario Pengguna (2 kali
tanam)
Normal Tren Perubahan Iklim
Inisial Pertumbuhan ekonomi naik 4% Pertumbuhan ekonomi naik 5% Pertumbuhan ekonomi naik 6%
Existing Optimasi AP MA AT Existing Optimasi AP MA AT
Domestik (%) 25,5 - 25,6 25,3 - 25,5 16,8 - 17,0 8,4 - 8,5 0 25,5 - 25,6 29,4 - 29,5 15,8 - 16,0 13,5 - 13,6 0 Industri (%) 4,1 - 4,2 3,7 - 3,8 1, 0 - 1,1 1,0 -1,1 1,7 - 1,8 4,1 - 4,2 3,5 - 3,6 0,9 - 1,0 1,0 - 1,1 1,6 - 1,7 Pertanian (%) 70,2 - 70,5 70,7 - 71,0 22,0 - 22,1 48,8 - 49,0 0 70,2 - 70,5 66,9 - 67,2 45,8 - 46,0 21,1 - 21,2 0 AMDK (juta m3) 126,1 0 98,9 27,2 0 0 -12,4 Domestik (%) 25,5 - 25,6 21,9 - 22,1 14,6 - 14,7 7,3 - 7,5 0 25,5 - 25,6 31,3 - 31,4 15,6 - 15,7 15,6 - 15,7 0 Industri (%) 4,1 - 4,2 3,2 - 3,3 0,9 - 1,0 0,9 - 1,0 1,4 - 1,5 4,1 - 4,2 3,4 - 3,6 0,9 - 1,0 1,0 - 1,1 1,5 - 1,6 Pertanian (%) 70,2 - 70,5 74,6 -74,9 32,4 - 32,5 42,2 - 42,4 0 70,2 - 70,5 65,1 - 65,4 45,2 - 45,3 20,0 - 20,1 0 AMDK (juta m3) 161,3 0 133 28,3 0 0 -14,7 Domestik (%) 25,5 - 25,6 25,5 - 25,7 17,0 - 17,1 8,5 - 8,6 0 25,5 - 25,6 31,3 - 31,4 15,6 - 15,7 15,6 - 15,7 0 Industri (%) 4,1 - 4,2 3,7 - 3,9 1,0 - 1,1 1,1 - 1,2 1,7 - 1,8 4,1 - 4,2 3,4 - 3,6 0,9 - 1,0 1,0 - 1,1 1,5 - 1,6 Pertanian (%) 70,2 - 70,5 70,4 - 70,7 21,1 - 21,2 49,3 - 49,5 0 70,2 - 70,5 65,1 - 65,3 45,2 - 45,4 19,8 - 19,9 0 AMDK (juta m3) 126,1 0 98,9 27,2 0 0 -15,4 Domestik (%) 25,5 - 25,6 25,3 - 25,5 16,9 - 17,0 8,4 - 8,5 0 25,5 - 25,6 31,0 - 31,1 15,7 - 15,8 15,3 - 15,4 0 Industri (%) 4,1 - 4,2 3,7 - 3,8 1,0 - 1,1 1,0 - 1,1 1,7 - 1,8 4,1 - 4,2 3,5 - 3,6 0,9 - 1,0 1,0 - 1,1 1,5 - 1,6 Pertanian (%) 70,2 - 70,5 70,7 - 71,0 21,9 - 22,0 48,8 - 49,0 0 70,2 - 70,5 65,3 - 65,5 45,5 - 45,7 19,8 - 19,9 0 AMDK (juta m3) 67,8 0 39,3 28,5 0 0 -16,9 Domestik (%) 25,5 - 25,6 22,1 - 22,2 14,7 - 14,8 7,4 - 7,5 0 25,5 - 25,6 31,7 - 31,9 14,4 - 14,5 17,3 - 17,4 0 Industri (%) 4,1 - 4,2 3,2 - 3,3 0,9 - 1,0 0,9 - 1,0 1,4 - 1,5 4,1 - 4,2 3,2 - 3,3 0,9 - 1,0 0,9 - 1,0 1,4 - 1,5 Pertanian (%) 70,2 - 70,5 74,6 - 74,7 31,9 - 32,3 42,3 - 42,8 0 70,2 - 70,5 65,0 - 65,2 41,8 - 41,9 23,2 - 23,3 0 AMDK (juta m3) 0 26,8 29,1 0 0 -17,4
Tren Perubahan Iklim
Pertumbuhan ekonomi naik 4% Pertumbuhan ekonomi naik 5% Pengguna
Sumber Air (2 kali tanam)
Pertumbuhan ekonomi naik 6% Pertumbuhan ekonomi naik 7% Skenario Inisial Normal
Lampiran 13 Alokasi air optimal untuk domestik, industri non AMDK, dan pertanian
untuk dua kali tanam pada kondisi normal dan saat terjadi tren perubahan
iklim pada irigasi intermittent berdasarkan pengguna air
Lampiran 14 Alokasi air optimal untuk domestik, industri non AMDK, dan pertanian
untuk dua kali tanam pada kondisi normal dan saat terjadi tren
perubahan iklim pada irigasi intermittent berdasarkan sumber air
AP MA AT AP MA AT Domestik (%) 51,8 - 52,0 53,4 - 53,6 0,0 46,7 - 46,8 53,4 - 53,6 0,0 Industri (%) 3,1 - 3,2 6,6 - 6,8 100,0 6,2 - 6,6 6,6 - 6,8 100,0 Pertanian (%) 44,8 - 45,1 39,6 - 39,9 0,0 46,8 - 46,9 39,6 - 39,9 0,0 AMDK (juta m3) 14,7 127,9 27,2 0,0 83,5 -12,4 Domestik (%) 50,2 - 52,0 53,4 - 53,6 0,0 46,7 - 51,1 53,4 - 53,6 0,0 Industri (%) 3,2 - 3,3 6,6 - 6,8 100,0 6,5 - 6,8 6,6 - 6,8 100,0 Pertanian (%) 44,8 - 46,6 39,6 - 39,9 0,0 46,8 - 51,3 39,6 - 39,9 0,0 AMDK (juta m3) 15,3 183,6 28,2 0,0 85,6 -14,7 Domestik (%) 49,8 - 51,8 53,4 - 53,6 0,0 46,5 - 46,7 53,4 - 53,6 0,0 Industri (%) 3,2 - 3,3 6,6 - 6,8 100,0 6,5 - 6,9 6,6 - 6,8 100,0 Pertanian (%) 45,0 - 47,0 39,6 - 39,9 0,0 46,6 - 46,8 39,6 - 39,9 0,0 AMDK (juta m3) 15,4 185,4 28,5 0,0 88,9 -15,3 Domestik (%) 49,3 - 51,4 53,4 - 53,6 0,0 46,5 - 46,6 53,4 - 53,6 0,0 Industri (%) 3,2 - 3,3 6,6 - 6,8 100,0 6,6 - 7,0 6,6 - 6,8 100,0 Pertanian (%) 45,4 - 47,5 39,6 - 39,9 0,0 46,6 - 46,8 39,6 - 39,9 0,0 AMDK (juta m3) 15,6 187,2 28,8 0,0 92,3 -15,9 Domestik (%) 48,8 - 50,9 53,4 - 53,6 0,0 46,4 - 46,6 27,7 - 53,6 0,0 Industri (%) 3,3 - 3,4 6,6 - 6,8 100,0 6,6 - 7,0 3,4 - 6,8 100,0 Pertanian (%) 45,8 - 47,9 39,6 - 39,9 0,0 46,6 - 46,8 39,6 - 68,9 0,0 AMDK (juta m3) 15,7 188,9 29,1 0,0 29,3 -16,4 Pertumbuhan ekonomi naik 7% Sumber Air
Tren Perubahan Iklim
Inisial Pertumbuhan ekonomi naik 4% Pertumbuhan ekonomi naik 5% Pertumbuhan ekonomi naik 6%
Skenario Pengguna (2 kali
tanam) Normal
Existing Optimasi AP MA AT Existing Optimasi AP MA AT
Domestik (%) 50,3 - 50,4 50,6 - 50,7 33,7 - 33,8 16,9 - 17,0 0,0 50,3 - 50,4 47,6 - 47,7 21,8 - 22,9 24,8 - 25,7 0,0 Industri (%) 8,0 - 8,3 7,4 - 7,6 2,0 - 2,1 2,1 - 2,2 3,3 - 3,4 8,0 - 8,3 11,2 - 11,3 3,0 - 3,1 3,2 - 3,3 5,0 - 5,1 Pertanian (%) 41,4 - 41,7 41,6 - 42,0 29,1 - 29,4 12,5 - 12,6 0,0 41,4 - 41,7 41,1 - 41,2 21,9 - 22,9 18,3 - 19,2 0,0 AMDK (juta m3) 14,7 127,9 27,2 0,0 83,5 -12,4 Domestik (%) 50,3 - 50,4 49,6 - 50,7 32,4 - 33,8 16,9 - 17,2 0,0 50,3 - 50,4 47,5 - 47,6 21,3 - 22,3 25,2 - 26,2 0,0 Industri (%) 8,0 - 8,3 7,6 - 7,7 2,1 - 2,2 2,1 - 2,2 3,4 - 3,5 8,0 - 8,3 11,4 - 11,5 3,1 - 3,2 3,2 - 3,3 5,1 - 5,2 Pertanian (%) 41,4 - 41,7 41,6 - 42,9 29,1 - 30,0 12,5 - 12,9 0,0 41,4 - 41,7 40,9 - 41,0 21,4 - 22,4 18,6 - 19,6 0,0 AMDK (juta m3) 15,3 183,6 28,2 0,0 85,6 -14,7 Domestik (%) 50,3 - 50,4 49,3 - 50,6 32,0 - 33,7 16,9 - 17,3 0,0 50,3 - 50,4 47,5 - 47,6 21,2 - 22,2 25,3 - 26,3 0,0 Industri (%) 8,0 - 8,3 7,6 - 7,7 2,1 - 2,2 2,2 - 2,3 3,4 - 3,5 8,0 - 8,3 11,5 - 11,6 3,1 - 3,2 3,2 - 3,3 5,1 - 5,2 Pertanian (%) 41,4 - 41,7 41,7 - 43,1 29,2 - 30,2 12,5 - 12,9 0,0 41,4 - 41,7 40,9 - 41,0 21,3 - 22,3 18,7 - 19,7 0,0 AMDK (juta m3) 15,4 185,4 28,5 0,0 88,9 -15,3 Domestik (%) 50,3 - 50,4 49,0 - 50,3 31,5 - 33,3 17,1 - 17,4 0,0 50,3 - 50,4 47,5 - 47,6 21,1 -22,1 25,5 - 26,4 0,0 Industri (%) 8,0 - 8,3 7,7 - 7,8 2,1 - 2,2 2,2 - 2,3 3,4 - 3,5 8,0 - 8,3 11,5 - 11,6 3,1 - 3,2 3,3 - 3,4 5,1 - 5,2 Pertanian (%) 41,4 - 41,7 42,0 - 43,4 29,4 - 30,4 12,6 - 13,0 0,0 41,4 - 41,7 40,9 - 41,0 21,1 -22,1 18,8 - 19,7 0,0 AMDK (juta m3) 15,6 187,2 28,8 0,0 92,3 -15,9 Domestik (%) 50,3 - 50,4 48,6 - 50,0 31,1 - 32,9 17,2 - 17,5 0,0 50,3 - 50,4 42,4 - 43,0 21,3 - 22,2 25,7 - 25,8 0,0 Industri (%) 8,0 - 8,3 7,7 - 7,8 2,1 - 2,2 2,2 - 2,3 3,4 - 3,5 8,0 - 8,3 11,9 - 11,1 2,2 - 2,3 2,3 - 2,4 3,6 - 3,7 Pertanian (%) 41,4 - 41,7 42,2 - 43,6 29,6 - 30,5 12,7 - 13,1 0,0 41,4 - 41,7 47,0 - 47,6 21,4 - 21,5 18,7- 19,2 0,0 AMDK (juta m3) 15,7 188,9 29,1 0,0 29,3 -16,4 Pertumbuhan ekonomi naik 7% Inisial Pertumbuhan ekonomi naik 4% Pertumbuhan ekonomi naik 5% Pertumbuhan ekonomi naik 6% Skenario Pengguna
Sumber Air (2 kali tanam)