1
LAPORAN AKHIR PKMK
JAMUR KARDUS (BUDIDAYA JAMUR MERANG DENGAN MEDIA KARDUS) SEBAGAI USAHA SAMPINGAN YANG KREATIF DAN MANDIRI DALAM MEMANFAATKAN LIMBAH KARDUS BEKAS
Oleh :
Ketua : Donny Arzie A24062824 2006
Anggota : Husni Mubarok A24062979 2006
Andy Wijaya A24063045 2006
Habiburrohman R H24060908 2006
Ima Fajar Ayu A24070115 2007
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2
LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul Kegiatan : Jamur Kardus (Budidaya Jamur Merang Dengan Media Kardus) Sebagai Usaha Sampingan Yang Kreatif Dan Mandiri Dalam Memanfaatkan Limbah Kardus Bekas
2. Bidang Kegiatan : ( ) PKM-P (V) PKM-K ( ) PKM-T ( ) PKM-M 3. Bidang Ilmu :(
) Kesehatan (V) Pertanian
(
) MIPA ( ) Teknologi dan Rekayasa (
) Sosial Ekonomi ( ) Humaniora
(
) Pendidikan 4. Ketua Pelaksana Kegiatan
5. Anggota Pelaksana Kegiatan/penulis : 5 Orang 6. Dosen Pendamping
7. Biaya Kegiatan Total
a. Dikti : Rp 7.000.000 b. Sumber Lain : Tidak Ada 8. Jangka Waktu Pelaksanaan : Februari-juni 2010
Bogor, 4 juni 2010 Menyetujui
Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura
( Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc. Agr ) NIP. 1961 11 01 198703 1003 Wakil Rektor Bidang
Akademik dan Kemahasiswaan
( Prof. Dr.Ir Yonny Koesmaryono, MS) NIP. 1958 12 28 198503 1003
Ketua Pelaksana Kegiatan
( Donny Arzie) NIM. A24062824 Dosen Pendamping
( Dr. Ir. Yudiwanti, MS ) NIP. 1963 1107 198811 2 001
3
ABSTRAK
Minat masyarakat untuk mengonsumsi jamur terus meningkat. Konsumen semakin menyadari bahwa jamur bukan sekadar makanan, tapi juga mengandung khasiat obat, hal ini disebabkan membaiknya pemahaman masyarakat tentang makanan bergizi bagi kesehatan. Jamur mempunyai nilai gizi tinggi, terutama kandungan proteinnya sekitar 15%—20% (bobot kering). Suatu keunggulan spesifik lainnya dibandingkan dengan tanaman lain adalah kadar kolesterol jamur yang rendah , sehingga banyak masyarakat yang memilih jamur sebagai variasi menu makanan sehari-hari untuk mengurangi resiko serangan darah tinggi.
Jamur merang biasa dibudidayakan pada merang (jerami padi), namun melimpahnya kardus-kardus bekas maupun olahan yang tidak terpakai membuat
kardus menjasi alternatif media dalam budidaya jamur. Bertanam ”jamur
kardus” menjadi solusi bagi masyarakat perkotaan yang ingin menanam jamur. Kardus berasal dari serbuk kayu dan kayu merupakan salah satu tempat pertumbuhan jamur.
Media kardus sebagai media utama pertumbuhan jamur disobek-sobek dan direndam dengan air dan pupuk selama satu minggu, penanaman dilakukan pada rak-rak dalam kumbung, kardus yang telah ditiriskan dimasukkan dalam rak kumbung dan dicampur dengan lapisan kapur, dedak serta bonggol pisang dan
kangkung. Setelah dipasteurisasi selama 6 jam, bibit jamur yang telah
dihancurkan dan dicampur dengan tepung ketan dimasukkan pada lapisan atas media kardus. Panen dilakukan setelah bibit berumur 10-14 hari setelah tanam.
Jamur dijual ke pasar tradisional dengan harga Rp. 18.000/kg dan untuk konsumen rumah tangga dijual dengan harga Rp 10.000/500 gram kemasan sterofoam. Hasil yang dicapai pada periode pertama sebesar 61 kg dengan rata-rata perolehan hasil tiap kali panen sebesar 4,07 kg. Hasil ini belum maksimal dikarenakan beberapa kendala teknis khususnya teknik budidaya yang kurang tepat sehingga produktivitasnya masih rendah.
4
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan segala Rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan laporan akhir Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) ini. Laporan ini menuliskan tentang budidaya jamur merang dengan media kardus sebagai usaha sampingan yang kreatif dan mandiri dalam memanfaatkan limbah kardus bekas.
Kami ucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Yudiwanti, MS selaku dosen pendamping atas semua bantuan, motivasi dan perhatian yang telah diberikan selama kegiatan program. Tidak lupa Kami ucapkan terima kasih untuk teman-teman kami di departemen Agronomi dan Hortikultura yang telah memberikaan saran dan kritik sehingga program PKMK ini dapat selesai.
Tulisan ini kami susun guna melaporkan hasil kerja PKMK 2010 yang di danai oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional. Kami harapkan laporan ini dapat diterima oleh pembaca untuk dijadikan bahan pengetahuan bagi pembaca. Akhir kata kami tim penulis dengan segala kerendahan hati penulis persembahkan, semoga bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan. Terima Kasih.
Bogor, Juni 2010
5
1. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG
Jamur merang memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, kadar kolesterol jamur yang rendah sehingga banyak masyarakat yang memilih jamur sebagai variasi menu makanan sehari-hari untuk mengurangi resiko serangan darah tinggi. Kondisi ini ditunjang dengan meningkatnya daya beli masyarakat terhadap suatu produk pertanian seperti jamur merang (Volvariella volvaceae).
Budidaya “jumur kardus” adalah budidaya jamur merang yang ditanam dengan media dari olahan kardus. Sesuai namanya, jamur merang biasa dibudidayakan pada merang (jerami padi), namun melimpahnya kardus-kardus bekas maupun olahan yang tidak terpakai membuat kardus menjasi alternatif media dalam budidaya jamur, kemampuan kardus menjadi media dalam budidaya jamur karena pada dasarnya kardus berasal dari serbuk kayu dan kayu merupakan tempat yang cocok untuk pertumbuhan jamur.
Melimpahnya kardus merupakan solusi bagi masyarakat perkotaan yang ingin menanam jamur mengingat media kardus mudah ditemukan di daerah perkotaan, serta dapat mengurangi limbah kota yang setiap hari dihasilkan oleh masyarakat.
PERUMUSAN MASALAH
Dilihat dari upaya pemanfaatan limbah lingkungan, kardus bekas sangat potensial digunakan sebagai media budidaya jamur merang selain jumlahnya yang berlimpah juga dapat meningkatkan kualitas jamur yang dihasilkan. Pemanfaatan kardus bekas sebagai media ini dapat meningkatkan kualitas jamur yang lebih kenyal, warna jamur lebih putih dan bersih dan tidak berbau apek saat proses penanaman. Peningkatan kualitas produk diharapkan dapat menarik konsumen lebih banyak dan meningkatkan harga jual sehingga dapat mencapai profit yang diharapkan.
TUJUAN
Memperkenalkan produk jamur merang dengan kualitas baik, Mengembangkan kemandirian dan jiwa kewirausahaan mahasiswa melalui pengembangan kualitas produk dalam memanfaatkan limbah kardus bekas, memanfaatkan kardus bekas yang tidak terpakai dan yang berpotensi mengotori lingkungan, mendapatkan keuntungan serta menambah lapangan pekerjaan, menambah pilihan menu makanan yang enak, murah dan bergizi tinggi.
LUARAN YANG DIHARAPKAN
Melalui program ini diharapkan mahasiswa dapat lebih mengetahui dan terampil dalam manajemen budidaya jamur merang dengan media kardus, sehingga kualitas jamur yang dihasilkan dapat meningkat dan menghasilkan produk jamur merang dengan kualitas baik, lebih putih dan lebih kenyal sehingga dapat manarik konsumen untuk mengkonsumsi jamur yang bergizi tingg. Disamping itu, diharapkan dapat termanfaatkan kembali kardus-kardus bekas yang tidak terpakai sehingga menjadi nilai ekonomis sebagai media pertumbuhan jamur merang.
6
Budidaya “Jamur kardus” ini diharapkan menjadi unit usaha yang mampu membuka peluang kerja sekaligus mengangkat perekonomian masyarakat serta mampu memberikan solusi bagi masyarakat perkotaan yang ingin menanam jamur mengingat media kardus mudah ditemukan di daerah perkotaan
KEGUNAAN
a. Memotivasi mahasiswa untuk mengembangkan ide-idenya dalam berinovasi, menambah wawasan dan pengalaman dalam mengembangkan teknik budidaya jamur merang
b. Melatih kemampuan dalam berwirausaha sehingga mahasiswa mampu mendapatkan profit dalam usaha ini.
c. Dapat dijadikan sebagai usaha berkelanjutan, sehingga mahasiswa dapat mandiri secara finansial.
d. Mengurangi limbah kardus bekas yang berpotensi merusak lingkungan, e. Memanfaatkan kardus bekas menjadi barang yang bernilai sebagai media
pertumbuhan jamur merang,
f. Menambah menu makanan sehat yang rendah kolesterol dan bergizi bagi masyarakat,
II. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
“Jamur kardus” merupakan usaha jamur merang yang ditanam dengan media dari olahan kardus. Sifat kardus yang memiliki siklus perputaran (closing
loop) tersendiri yang membuatnya menjadi bahan yang akrab lingkungan
(bio-degradable) sehingga kardus menjadi satu material yang sangat ekonomis.
Penggunaan kardus sebagai media utama dalam budidaya jamur ini sangat prospektif. Kardus bekas yang melimpah seperti di toko-toko makanan, tempat photo copy, dan sebagainya bahkan hingga di tempat pembuangan sampah serta pengumpul bahan-bahan bekas semakin mempermudah untuk melakukan budidaya jamur merang dengan media kardus tersebut.
Budidaya jamur merang mempunyai panen yang relatif singkat yaitu sekitar satu sampai dengan satu setengah bulan. Kebutuhan jamur merang di pasaran dalam negeri juga mempunyai prospek yang sangat cerah. Kebutuhan jamur merang untuk Jakarta, Bogor, Sukabumi, Bandung, dan sekitarnya rata-rata 15-20 ton setiap harinya.
Usaha “Jamur Kardus” ini bergerak mulai dari proses peroduksi hingga penjualan. Pengusahaan produksi “jamur kardus” dilakukan di dalam kumbung, berlokasi Jl Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta selatan. Bibit jamur merang dibeli dari penjual (supleyer) bibit di Subang, Jawa Barat.
Kumbung tempat budidaya bersifat sewa yang terbuat dari rangka bambu, dinding bilik bambu dengan atap dilapisi terpal untuk menghindari kebocoran dari air hujan. Bagian dalam dinding dan atap dalam kumbung dilapisi dengan plastik transparan serta sterofoam yang berfungsi menjaga suhu dan kelembaban.
Luas kumbung berukuran 3,5 x 6 meter dan penanaman dalam satu kumbung menggunakan sistem rak. Satu kumbung berisi 2 baris rak kurang lebih berukuran masing-masing 5 x 1 m dimana stiap rak terdiri dari 3 susun, dengan demikian luas tanamnya sebesar 30 m2.
Empat konsep bauran pemasaran atau marketing mix yang terdiri dari product, place, price, dan promotion akan sangat diperhatikan. Agar dapat
7
berhasil, pemasaran harus mengetahui pelanggan dalam konteks termasuk persaingan, kebijakan dan peraturan pemerintah, serta kekuatan-kekuatan makro ekonomi, sosial,dan politik yang lebih luas yang membentuk perkembangan pasar.
Kualitas produk jamur merang yang dihasilkan sangat memperhatikan kualitas, apabila produk dengan kualitas yang baik dijual dengan harga yang bersaing maka menurut tori ekonomi akan dipastikan bahwa produk tersebut akan memiliki pasar yang luas.
III. METODE PENDEKATAN 1. Kegiatan Produksi
a. Kegiatan Persiapan
Kegiatan persiapan yang dilaksanakan meliputi: penyusunan proposal, survei pasar, survei peralatan teknis, survei sentra budidaya jamur, survey tempat kumbung jamur, perencanaan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai persiapan sebelum melakukan proses produksi dan budidaya yang sebenarnya. b. Penyiapan Media
Bahan utama yang perlu ditambahkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi jamur dan menunjang pertumbuhan diantaranya: Kardus, Pupuk NPK dan SP18, Pupuk Organik cair, Dedak halus, Tepung beras ketan, Kapur, Bonggol pisang, Kangkung, Arang sekam.
c. Pembuatan Media pertumbuhan jamur
Untuk memenuhi kumbung sebesar 30 m2, rendam kardus dengan larutan
kapur (45 kg kapur dalam air sampai semua kardus terendam) pada bak kolam semen berukuran 2x4 m, sobek-sobek dan hancurkan kardus sebanyak 300 kg hingga berukuran kurang lebih 5-10 cm, taburkan pupuk NPK dan SP18 serta sepertiga bagian bekatul (25 kg) ke dalam rendaman, biarkan hingga satu minggu lalu tiriskan, potong bonggol pisang dan limbah sayuran (kangkung) hingga menjadi potongan-potongan kecil.
d. Penanaman
Taburkan sisa kapur sebagai dasar media, masukan media kardus yang sudah ditiriskan ke atas rak dalam kumbung, taburkan setengah dari sisa bekatul (25 kg) di atasnya, setengah bagian kangkung dan bonggol pisang yang sudah dipotong-potong, lapisi kembali gundukan dengan media kardus, lalu taburkan sisa dedak atau bekatul, bonggol pisang dan limbah sayuran sehingga media tanam terdiri dari dua lapisan media.
Pasteurisasi dilakukan untuk mensterilkan media dan ruangan dalam kumbung. Dengan memasukkan uap panas (bersuhu 60-700C) selama 6-8 jam.
Pasteurisasi dilakukan dengan cara di sebelah kumbung di pasang 2 drum yang diberi air yang dipanaskan dan uapnya dialirkan dalam kumbung melalui selang.
Turunkan suhu sampai 300C dengan membuka jendela kumbung.
hancurkan bibit jamur dari botol, campur dengan tepung beras ketan dan letakan di tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung. Tanam bibit jamur di media (2 botol/m2). Taburkan merata di atas seluruh permukaan media. Taburi
dengan arang sekam yang sudah dicampur dengan air dan pupuk organik dan tutup rapat kumbung hingga 4 hari.
8
e. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan dengan menjaga suhu ruang pada 28-350C, pada
hari kelima, buka plastik penutup media dan jendela kumbung, lalu semprot dengan 10 liter air cucian beras yang dicampur pupuk organik cair dengan bantuan hand sprayer. Penyiraman dilakukan jika media terlihat kering. Sirkulasi udara perlu dijaga dengan membuka jendela kumbung pada waktu tertentu.
f. Panen
Jamur merang dapat dipanen setelah berumur 10-14 hari sejak penanaman, dipanen sebelum mekar, yaitu pada stadia telur. Penen dapat dilakukan setiap hari sampai tanaman berumur sebulan, setelah dipanen 4-5 kali, diistarahatkan dahulu selama 2-3 hari.
g. Sortasi dan grading
Jamur yang telah dipanen dilakukan sortasi dengan memisahkan jamur-jamur yang cacat ke dalam wadah terpisah. Untuk menentukan kualitas jamur-jamur perlu dilakukan grading melalui seleksi yang ditujukan untuk memilih jamur dengan bentuk, ukuran dan warna yang seragam serta bersih.
2. Organisasi Usaha
Untuk mencapai tujuan produksi dan pemasaran yang maksimal, sebagai tahap awal produksi jamur kardus dilakukan oleh lima orang yang merupakan anggota kelompok. Terdiri dari manajer dipegang oleh Donny Arzie, bagian produksi oleh Husni Mubarok, bagian administrasi dan keuangan oleh Ima fajar Ayu, bagian pemasaran dipegang oleh Habiburahman rifai, sedangkan Riset dan Pengembangan dipegang oleh Andi wijaya.
3. Pemasaran
Produk
Produk jamur merang dijual kepada konsumen dalam bentuk segar. Sebagian besar produk jamur dijual ke pasar tradisional karena permintaannya tinggi, beberapa dijual ke warung makan dengan kemasan plastik bening. Jamur dijual ke pasar menggunakan keranjang plastik dengan bobot sesuai hasil panen yang didapat setiap hari. Untuk momen penjualan ke masyarakat umum melalui direct selling produk dijual dengan kemasan sterofoam dan dilapisi plastik dengan bobot 500 gram.
Harga
Produk dijual ke pasar tradisional dengan harga Rp18.000 per kilogram, Penentuan harga ini berdasarkan pertimbangan harga yang dapat bersaing dengan jamur merang yang telah beredar di pasaran. Untuk Kemasan Sterofoam dijual dengan harga Rp. 10.000 per kemasan 500 gram
Tempat
Kumbung yang digunakan bersifat sewa yang berada di Jl Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta selatan. Bibit dipesan dari perusahaan bibit jamur yang berada di Subang.
Lokasi pemasaran yaitu Pasar minggu, dan Pasar Kebayoran Jakarta selatan,
9
Promosi
Pemberian informasi secara langsung dilakukan oleh para personil tim ketika melakukan direct selling, Pemberian informasi secara tidak langsung (undirect promotion) dilakukan dalam beberapa bentuk kegiatan diantaranya pemasaran produk melalui website.
IV. PELAKSANAAN PROGRAM Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Program pada awalnya direncanakan dilaksanakan di daerah Cileungsi, Bogor. Namun, karena beberapa kendala maka budidaya jamur dilaksanakan di pesanggarahan, Jakarta Selatan. Waktu Pelaksanaan program pun mundur hingga beberapa bulan.
Tahapan Pelaksanaan/Jadwal Faktual Pelaksanaan Tabel 1. Tahapan pelaksanaan/jadwal aktual
No Tanggal Tempat Jenis Kegiatan
1 18-Feb-10 Kampus IPB Konsultasi awal persiapan administrasi dan teknis
2 25 Feb-6 mar Bogor Survei pasar dan tempat budidaya 3 7-10 maret Pasar Bogor, Pasar Anyar Survei harga dan pembelian
beberapa alat
4 11-20 maret Jakarta Survey tempat sewa kumbung 5 27-28 maret Kebun jamur Ulujami,
jaksel
Negosiasi dan perizinan tempat sewa kumbung
6 31-Mar Kebun jamur Ulujami, jaksel
Persetujuan dan kesepakatan sewa kumbung
7 01-Apr Kampus IPB Konsultasi mengenai teknis dan masalah
8 5-12 April Darmaga tani, Bogor dan Jakarta
Pembelian bahan baku produksi 9 13-16 April Kebun jamur Ulujami,
Jaksel
Persiapan dan pembersihan kumbung
10 19-28 April Kebun jamur Ulujami, Jaksel
Perendaman media kardus 11 28-Apr-10 Kebun jamur Ulujami,
jaksel
Pemindahan media kardus ke rak kumbung, pembuatan media tumbuh, pasteurisasi media. 12 29-Apr-10 Kebun jamur Ulujami,
jaksel
Penanaman Bibit jamur
13 8-9 mei Kebun jamur Ulujami, jaksel Pemetikan (panen) dan penjualan mandiri
14 11-13 mei Kebun jamur Ulujami, jaksel Pemetikan (panen) dan penjualan ke pasar dan warung makan
15 15-Mei Kebun jamur Ulujami, jaksel
Pemetikan (panen) dan penjualan ke pasar dan warung makan
16 17-Mei Kebun jamur Ulujami,
jaksel Panen dan penjualan ke pasar 18 25-27 Mei Kebun jamur Ulujami,
jaksel Panen dan penjualan ke pasar 10
jaksel Penyiraman
17 19-22 Mei Kebun jamur Ulujami,
jaksel Panen dan penjualan ke pasar 19 30-31 Mei Kebun jamur Ulujami,
Instrumen Pelaksanaan
Program ini dilaksanakan oleh anggota kelompok pada tahap proses ide dan perencanaan hingga teknis pelaksanaan, beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditangangani oleh anggota seperti pembuka-tutup jendela kumbung setiap hari, menjaga kumbung, dibantu oleh seorang pekerja.
Realisasi Biaya
Tabel 2. Penggunaan Biaya PKM
Penggunaan biaya lebih lanjut terdapat pada LAMPIRAN.
Keterangan Debit Kredit
Saldo awal 7.000.000 Biaya Investasi 3.110.000 Biaya Variabel 1.685.500 Biaya Tetap 500.000 Biaya penunjang PKM 144.000 Pemasukan 1.108.000 Dana Terpakai 5.439.500 Saldo Akhir 2.668.500
=
=
11
V. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL
Karena banyaknya halangan dan permasalahan yang dihadapai dilapangan, tidak semua target luaran dapat tercapai tepat waktu. Kemunduran jadwal tanam ini menyebabkan hasil yang baru kami capai baru satu bulan yaitu bulan Mei.
Tabel 1. Hasil panen hingga minggu terakhir bulan mei adalah sebagai berikut:
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada panen periode pertama (15 kali pemetikan) didapatkan sebanyak 61 kg Jamur merang segar dengan perhitungan rata-rata perolehan per rak sebagai berikut;
Rata-rata Bobot per rak = B S
B
J
R
= 10,1 Kg
Sedangkan untuk rata-rata perolehan hasil panen per hari adalah 4,06 kg jamur merang segar dengan perhitungan sebagai berikut
Rata-rata bobot per hari = B S
B
J
= 4,07 Kg Hasil Penjualan
1. Penjualan ke Rumah Tangga sebanyak 5 kg = Rp. 100.000 (harga per 500 g adalah Rp. 10.000)
2. Penjualan ke Pasar Sebanyak 56 kg = 56 kg x Rp 18.000 = Rp 1.008.000
Penerimaan per Bulan mei sebesar Rp 1.008.000 + Rp 100.000 = Rp. 1.108.000
Tgl Panen 08-Mei 09-Mei 11-Mei 12-Mei 13-Mei Bobot
(kg)
Rata-rata
Bobot jamur
(kg) 1,10 1,00 3,00 5,00 4,50 14,60 2,92
Tgl Panen 15-Mei 19-Mei 20-Mei 21-Mei 22-Mei
Bobot (kg)
Bobot jamur
(kg) 4,00 6,70 5,50 4,00 3,60 23,80 4,76
Tgl Panen 25-Mei 26-Mei 27-Mei 30-Mei 31-Mei
Bobot (kg)
Bobot jamur
(kg) 5,50 3,80 4,50 5,00 3,80 22,60 4,52
12
Analisa Hasil
Break Even Point (BEP)
BEP atau Titik Impas adalah sebagai berikut : a. BEP volume Produksi
= Total Biaya Produksi : harga Jual = Rp. 2.185.500 : Rp 18.000 = 121,4 Kg
b. BEP harga
= Total Biaya Produksi : Total Produksi = Rp. 2.185.500 : 61
= Rp. 35.827/kg R/C ratio
R/C = Penerimaan : Biaya produksi = Rp. 1.108.000 : 2.185.500 = 0,5
Dari hasil yang dicapai terlihat bahwa produksi selama ini masih sekitar 50% dari target hasil untuk mencapai BEP produksi tiap periodenya sehingga untuk mencapai titik impas dan keuntungan, produktivitas perlu ditingkatkan 2 kali lebih besar atau menaikan harga hingga Rp. 35.827/kg
1. Perkembangan produk dan metode produksi
Dalam proses produksi jamur merang dengan media kardus ini, hasil yang telah dicapai belum mendapatkan produksi yang diharapkan. Produktivitas yang dihasilkan masih jauh dari target yang ingin dicapai sehingga pada akhirnya pula pemasukan dari hasil penjualan dirasa masih terlalu kecil.
Produktivitas yang masih kecil ini disebabkan oleh beberapa faktor dalam teknik budidaya yang kurang tepat. Pertama, yaitu permasalahan kadar air kardus yang masih tinggi pada saat pemindahan dari bak perendaman ke dalam kumbung. Hal ini terjadi karena penirisan kardus yang kurang lama, seharusnya kardus ditiriskan beberapa hari hingga kardus sedikit kering. Kadar air yang tinggi ini menyebabkan dibeberapa bagian media terlalu basah sehingga jamur terhambat pertumbuhannya. Kedua, komposisi beberapa media yang kurang tepat seperti pemberian kapur yang mungkin kurang banyak sehingga permukaan media tidak cukup panas untuk pertumbuhan jamur. Namun akhirnya, jamur dari media kardus ini dapat dipanen pada minggu ke dua bulan mei.
Pada awal bulan juni ini, jamur sudah tidak terlihat tumbuh lagi sehingga diperkirakan periode tanam hanya satu bulan, oleh karena itu pada bulan juni dipersiapkan untuk periode tanam ke dua.
2. Perkembangan pemasaran
Kelompok kami telah melakukan panen sebanyak 15 kali dan sebagian besar dijual ke pasar tradisional di Jakarta Selatan seperti pasar kebayoran lama. Pasar tradisional merupakan tujuan utama pemasaran karena memang permintaan pasar sangat tinggi dan memiliki konsumen tetap. Selain itu, daya serap penjualan ke pasar tradisional sangat tinggi dan tidak perlu melakukan promosi yang intens.
13
Untuk penjualan ke masayarakat dan warung makan kami coba lakukan di bogor, dan cukup banyak permintaan nya, namun karena jarak yang jauh dari tempat budidaya maka hanya sebagian kecil yang dapat kami pasarkan di sektor rumah tangga dan warung makan. Beberapa konsumen (pembeli) menilai bahwa jamur yang kita hasilkan memang lebih bagus dari biasanya namun meskipun terlihat lebih bagus pembeli tidak mau membeli jamur dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasaran, khususnya dalam penjualan ke pasar tradisional sangat sulit untuk menaikkan harga karena harga yang berlaku dipasar terbentuk atas mekanisme pasar yang berjalan antara banyak penjual dan pembeli sehingga kami pun tidak bisa memberlakukan harga sendiri.
Hal-hal yang kami lakukan untuk berpromosi antara lain : a. Pemberian informasi secara langsung (direct promotion)
Pemberian informasi secara langsung dilakukan oleh para personil tim ketika melakukan dirrect selling.
b. Pemberian informasi secara tidak langsung (undirect promotion) Promosi tidak langsung dilakukan dalam bentuk informasi di internet.
Promosi secara langsung dianggap cukup efektif karena adanya interaksi langsung antara konsumen dan produsen. Usaha promosi tidak langsung juga ditambah dengan terjadinya promosi mulut ke mulut (Word to Mouth) yang akan dilakukan oleh konsumen.
Hasil yang kami capai saat ini tidak lepas dari adanya permasalahan-permasalahan yang ditemukan dilapang baik teknis maupun non teknis. Diantaranya adalah:
a) Administratif dan teknis
Sulit memperoleh perizinan di tempat yang akan dijadikan tempat budidaya. Selain itu, masalah utama lainnya dalam pelaksanaan PKM ini adalah kesulitan mendapatkan tempat budidaya yang cocok untuk budidaya jamur merang di daerah Bogor. Masalah ini dikarenakan kendala cuaca atau lingkungan tumbuh jamur merang di Bogor mengingat curah hujan yang tinggi pada bulan sehingga diperlukan waktu yang cukup lama lagi untuk mencari alternatif tempat lain selain di Bogor, sehingga demikian mengakibatkan adanya perubahan jadwal.
Masalah-masalah di atas yang menyebabkan program agak terlambat dalam memulai kegiatas proses budidaya serta produksi jamur merang. Solusinya adalah mencari alternatif tempat lain untuk budidaya jamur dengan status kumbung di sewa dan berada dilingkungan yang cocok untuk pertumbuhan. Solusi yang dicapai adalah kami menyewa kumbung yang sudah jadi pada petani jamur merang di Jl. Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta selatan.
Masalah teknis lainnya adalah keawetan produk jamur merang yang mudah menurun kualitasnya, sehingga perlu diketahui teknologi pengawetan yang tepat. Solusinya adalah setelah panen jamur langsung dijual ke pasar sehingga menghindari jamur disimpan dalam waktu yang lama.
c) Organisasi Pelaksana
Sebagian anggota PKM merupakan mahasiswa semester akhir sehingga waktu untuk mengerjakan PKM tidak efektif karena terbagi untuk melakukan penelitian tugas akhir.
Dari struktur organisasi di atas, tidak semua bagian dapat melaksanakan tugasnya masing-masing. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu dari setiap
14
anggota. Untuk mengatasi hal-hal tersebut kami melakukan pembagian tugas sesuai dengan waktu luang yang dimiliki dan didasarkan atas kesediaan masing-masing personil dan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki personil.
d) Keuangan
Kendala keuangan diantaranya adanya penambahan pengeluaran untuk pengadaan alat yang belum tercantum dan terdapat beberapa komponen alat yang mengalami perubahan harga.
Solusinya adalah mencari tempat pembelian barang yang lebih murah serta penggunaan biaya yang lebih efisien.
Harga sewa kumbung di tempat budidaya dinilai terlalu mahal sehingga biaya investasi meningkat
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
Pelaksanaan bisnis budidaya jamur kardus kurang berjalan dengan baik karena beberapa kendala yang dihadapi baik teknis maupun non teknis, kendala teknis ini menyebabkan produktivitas jamur rendah sedangkan beberapa kendala non teknis menyebabkan jadwal pelaksanaan mundur beberapa bulan sehingga proses produksi baru berjalan satu bulan. Proses budidaya dimulai dari bulan April sampai sekarang juni 2010 dan kami terus melaksanakan perbaikan.
Perbaikan akan terus dilakukan pada periode tanam berikutnya, tim kami ke depan akan fokus pada peningkatan produktivitas hasil. Hasil penjualan pada bulan mei tercatat sebesar 61 kg dengan pemasukan Rp.1.108.000.
Dari hasil yang dicapai terlihat bahwa produksi selama ini masih sekitar 50% dari target hasil untuk mencapai BEP produksi sehingga untuk mencapai titik impas dan keuntungan, produktivitas perlu ditingkatkan 2 kali lebih besar atau menaikan harga hingga Rp. 35.827/kg
Dalam upaya pengembangan usaha, dibutuhkan keseriusan dan kerja yang lebih profesional agar dapat lebih meningkatkan skala usaha, selain itu faktor cuaca merupakan faktor penting yang harus sangat diperhitungkan dalam memulai budidaya jamur merang media kardus ini. Teknologi pengawetan pasca panen perlu dikembangkan karena produk jamur merang mudah dan cepat menurun kualitasnya, atau setelah panen jamur harus langsung dijual ke pasar sehingga menghindari jamur disimpan dalam waktu yang lama.
15
LAMPIRAN 1. Penggunaan Biaya
Tabel. Pengeluaran untuk biaya investasi
Tabel. Pengeluaran untuk biaya variabel
No. Uraian Satuan Jumlah Harga satuan (Rp) Total Harga (Rp) 1 Sewa kumbung (3,5 x 6 m) Bulan 3 600.000 1.800.000 2 Drum Buah 2 100.000 200.000
3 selang air meter 6 15.000 90.000 4 selang gas meter 6 10.000 60.000 5 Sprayer Unit 1 160.000 160.000 6 Kompor Unit 2 120.000 240.000 7 Ember plastik Buah 2 15.000 30.000
8 Sekop Buah 1 20.000 20.000 9 Keranjang plastik Buah 2 35.000 70.000 10 Pisau Buah 2 5.000 10.000 11 Termometer Buah 1 25.000 25.000 12 Tali rapia Gulung 1 5.000 5.000 13 Terpal Plastik m2 12 7.500 90.000 14 Timbangan unit 1 40.000 40.000 15 Regulator Gas unit 2 75.000 150.000
16 Cangkul buah 1 50.000 50.000
17 Terminal Listrik unit 1 10.000 10.000 18 Kabel listrik meter 10 3.000 30.000 19 Karung buah 10 1.000 10.000 20 Senter buah 1 20.000 20.000
Jumlah 3.110.000
No. Uraian Satuan Jumlah satuan (Rp) Harga Harga Total (Rp) 1 Kardus kg 300 1.500 450.000 2 Dedak halus
(bekatul) kg 75 2.500 187.500
3 Tepung beras ketan kg 3 11.000 33.000
4 Kapur kg 50 1.500 75.000
5 Dolomit kg 2 2.000 4.000
16
7 Sekam padi karung 2 10.000 20.000
8 Pupuk NPK kg 4 4.000 16.000
9 Pupuk SP-18 kg 6 3.500 21.000
10 Bibit jamur botol 60 5.000 300.000 11 Gas Isi ulang tabung 2 80.000 160.000 12 Kangkung ikat 150 500 75.000 13 Bonggol Pisang kg 50 500 25.000 14 Pupuk cair organik botol 6 30.000 180.000 15 Lakban gulung 2 5.000 10.000 16 wadah sterofoam buah 20 300 6.000 17 Alkohol 70% liter 1 25.000 25.000 18 Pengemas plastik pak 1 5.000 5.000 19 Plastik Wrap buah 2 14.500 29.000 20 Batu Baterai buah 2 2.000 4.000
Jumlah (Rp) 1.685.500
Tabel. Pengeluaran untuk Biaya tetap
Tabel. Biaya penunjang PKM
No Uraian Jumlah Harga Satuan (Rp) Jumlah Biaya (Rp) 1 Pembuatan dan Perbanyakan Proposal 3 20.000 60.000 2
Pembuatan dan
Perbanyakan Laporan akhir 3 25.000 75.000
3 Compac Disk 3 3.000 9.000 Total Rp144.000 No Uraian Jumlah (Rp) 1 Tenaga kerja 100.000 2 Listrik 50.000 3 Transportasi a. Pengiriman bibit 100.000 b. Bensin motor 200.000 4 Komunikasi 50.000 Jumlah 500.000
17
2. Logoo Produk