• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. terjalin hubungan yang baik sehingga eksistensinya dapat diterima. Sementara itu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. terjalin hubungan yang baik sehingga eksistensinya dapat diterima. Sementara itu"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keberhasilan suatu usaha tidak terlepas dari faktor komunikasi, oleh karena itu penting bagi perusahaan untuk selalu berkomunikasi dengan masyarakat agar terjalin hubungan yang baik sehingga eksistensinya dapat diterima. Sementara itu dengan mengabaikan komunikasi dengan masyarakat maka lambat laun perusahaan akan mengalami kemunduran dan kegagalan. Aktivitas komunikasi dalam perusahaan sangat penting, tidak saja komunikasi internal tetapi juga komunikasi eksternal. Komunikasi internal berguna bagi perusahaan untuk menjalin kerjasama anggota dalam rangka kelangsungan hidupnya, sementara itu komunikasi eksternal berguna bagi perusahaan untuk menjalin hubungan baik dengan masyarakat. Melalui sentuhan Humas tujuan perusahaan dapat diwujudkan, karena Humas merupakan tenaga profesional yang memiliki kemampuan dalam mengelola komunikasi.

Humas dalam perusahaan mempunyai banyak tugas, namun secara garis besar tugas humas perusahaan dapat digolongkan menjadi dua: tugas internal dan tugas eksternal. Tugas humas ke dalam perusahaan menciptakan hubungan yang harmonis kepada seluruh anggota perusahaan. Sedangkan tugas humas ke luar perusahaan mengupayakan dan memelihara saling pengertian antara perusahaan dengan publik eksternal.

Menjalin hubungan dengan publik eksternal diperlukan oleh Humas dalam rangka membentuk citra positif perusahaan. Untuk terciptanya hubungan yang baik

(2)

tentu saja tidak mudah, bagi seorang Humas perlu mememperhatikan teknik atau metode yang tepat dalam melancarkan komunikasinya. Begitu juga bila seorang humas memerlukan sarana yang akan digunakan, apakah menggunakan media elektronik, media cetak, secara personal atau bahkan gabungan dari keseluruhannya.

Selain memperhatikan penggunaan sarana, dalam menjalin hubungan baik, seorang Humas juga perlu memperhatikan siapa yang menjadi publiknya, apakah publik internal atau publik eksternal. Hal ini penting karena dengan mengetahui publik sasaran Humas dapat membuat perencanaan dan metode yang tepat dalam mewujudkan tujuan yang diinginkannya. Demikian halnya dengan Humas (Publik Relations) Trans 7, dalam rangka menjalin hubungan dengan public eksternal diperlukan strategi yang tepat, untuk memperoleh citra positif dari publiknya.

Bukan Empat Mata (dulu bernama Empat Mata) adalah sebuah acara talkshow (bincang-bincang) Indonesia yang dibawakan oleh Tukul Arwana di Trans7. Acara ini mulai dipandu Tukul sejak September 2005. Setiap acaranya menyampaikan tema tertentu yang diselingi dengan lawakan. Program acara Bukan Empat Mata memenangkan Panasonic Awards untuk kategori Talkshow Hiburan Terbaik selama 2 tahun berturut-turut (2009, dan 2010).

Perubahan nama ini dikarenakan acara Empat Mata termasuk dalam acara yang memiliki reputasi cukup buruk karena sering mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Teguran pertama diberikan karena acara ini menampilkan adekan Sumanto pemakan manusia (2007).

Pada tahun 2008 Empat Mata dilarang tayang oleh KPI karena menyuguhkan adegan makan katak hidup-hidup. Tapi kemudian Pihak Trans7 “mengakali” vonis

(3)

tersebut dengan mengubah nama program tersebut menjadi Bukan Empat Mata dan tetap menayangkannya. KPI tidak bereaksi terhadap tindakan Trans7 tersebut akan tetapi acara ini dihimbau agar tidak membicarakan hal-hal yang vulgar, mesum, dan berbau seks.

Pada Tahun 2009, KPI memberikan teguran pertama pada acara BEM (Bukan Empat Mata), karena tamu Tukul pada saat itu adalah Kangen Band, tidak sengaja menyebut nama alat kelamin karena latah saat menjatuhkan sesuatu dan pada Bulan Desember 2009, acara ini kembali ditegur karena Tukul mencolek Bella Saphira dengan sengaja.

Untuk kesekian kalinya, tepatnya pada bulan Juni Tahun 2010, Bukan Empat Mata kembali menerima teguran dari KPI karena Atika (tamu Tukul) membaca Basmalah saat akan minum wine yang merupakan minuman haram di dalam Islam. Selain itu acara ini mendapat sorotan karena menghina pria tua berusia 140 tahun yang terdeteksi petugas sensus penduduk tahun 2010 yang berasal dari kota Sukabumi, Jawa Barat.

Pada bulan Mei Tahun 2012, Bukan Empat Mata menerima sanksi dari KPI berupa pengurangan durasi yang menyebabkan program tersebut hanya dapat disiarkan selama satu jam setiap harinya selama tiga hari berturut-turut, karena terdapat penayangan adegan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam acara ditayangkan beberapa narasumber bernyanyi sambil duduk dan tertawa-tawa disertai dengan celetukan-celetukan tertentu. Penonton menyanyikannya dengan duduk dan bertepuk tangan. Selain itu, sebelum lagu selesai, host memotong lagu tersebut.

(4)

Pada bulan Agustus Tahun 2012, Bukan Empat Mata menerima Peringatan Tertulis dari KPI, karena menayangkan adegan saat salah satu host wanita, Marcella Lumowa, menyampaikan cerita berjudul "Doa Seorang Wanita Bernama Susi", yang berpotensial menimbulkan dampak negatif karena melibatkan keberadaan Tuhan dalam lawakan.1

Melihat perjalanan program acara Bukan Empat Mata yang hingga saat ini masih memiliki ijin tayang dari pihak KPI tentu tidak lepas dari kerja keras pihak Trans 7 dalam menjalin hubungan dengan KPI. Dalam hal ini Humas memegang peranan penting, karena dalam hal membangun kepercayaan dan membentuk citra positif merupakan bagian dari tugas dan tanggungjawab praktisi Humas.

Membangun hubungan baik dengan publik internal maupun eksternal perusahaan merupakan tugas seorang Public Relations. Public Relations terkait dengan tugas internal adalah menciptakan hubungan harmonis diantara anggota dan menjembatani komunikasi dari atas ke bawah maupun dari bawah ke atas. Oleh karena itu penting bagi seorang Public Relations untuk dapat memahami kebutuhan dan aspirasi karyawan dalam bekerja sebagai masukan bagi pimpinan untuk mengambil langkah dan menetapkan kebijakan yang akan dibuat.

Sebagaimana tugas internal maka tugas eksternal Public Relations juga tidak kalah pentingnya. Sebagai sebuah perusahaan ataupun instansi memerlukan adanya citra positif di masyarakat. Keberadaan Public Relations dalam hal ini dapat menjadi ujung tombok dalam mewujudkan tujuan tersebut. Melalui serangkaian kegiatan, sebagai tugas dan tanggungjawabnya Public Relations dapat melakukannya.

1

(5)

Strategi Public Relations sangat dibutuhkan dalam melancarkan komunikasi dan kegiatannya, karena dengan strategi akan membantu tercapainya tujuan yang ingin dicapai. Dengan strategi Public Relations dapat membuat rencana dan juga perencanaan kegiatan yang akan dilakukan sebagai bagian dari pelaksanaan secara keseluruhan tujuan perusahaan.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmad S. Adnanputra, ”Strategi adalah bagian terpadu dari suatu rencana (plan), sedangkan rencana merupakan produk dari suatu perencanaan (planning), yang pada akhirnya perencanaan adalah salah satu fungsi dasar dari proses manajemen”.2

Dari uraian latar belakang masalah tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : Strategi Public Relations Trans 7 dalam Membangun Image Program Bukan Empat Mata.

1.2 Pembatasan Ruang Lingkup

1.2.1 Pembatasan materi.

Secara garis besar, materi yang dibahas dalam penelitian adalah bidang kehumasan. Dalam penelitian ini penulis lebih menitikberatkan pada strategi Public Relations Trans 7 dalam dalam membangun image Program Bukan Empat Mata.

1.2.2 Pembatasan pengertian.

Sesuai dengan permasalahannya penulis melakukan pembatasan – pembatasan terhadap pengertian dari kata-kata yang terdapat pada judul :

2

Rusady Ruslan, Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, Konsepsi dan Aplikasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008, hal. 133

(6)

Strategi

Istilah strategi menurut Hornby, (1973 : 997) yang dikutip oleh Abu Ahmadi – Joko Tri Prasetya :

“Istilah strategi mula-mula dipakai di kalangan militer dan diartikan sebagai seni dalam merancang (operasi) peperangan, terutama yang erat kaitannya dengan gerakan pasukan dan navigasi ke dalam posisi perang yang dipandang paling menguntungkan untuk memperoleh kemenangan”.3

Sementara itu Ahmad S. Adnanputra, mengatakan bahwa arti strategi adalah “Bagian terpadu dari suatu rencana (plan), sedangkan rencana merupakan produk dari suatu perencanaan (planning), yang pada akhirnya perencanaan adalah salah satu fungsi dasar dari proses manajemen”.4

Public Relations

Publik Relations menurut Howard Bonham, Vice Chairman, American National Red Cross dalam buku Abdurrachman :

“Public Relations is the art bringing about better public understanding which breeds greater public confidance for any individual or organitation” (publik relations adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian publik yang lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau sesuatu organisasi / badan)”. 5

Dari pengertian di atas maka yang dimaksud dengan Public Relations dikaitkan dengan penelitian adalah suatu seni atau cara mengkomunikasi pesan untuk memperoleh kepercayaan public pada perusahaan.

3

Abu Ahmadi – Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, Pustaka Setia, Bandung, 1997, hal. 11.

4

Rusady Ruslan, Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, Konsepsi dan Aplikasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008, hal. 133

5

Oemi Abdurrachman, Dasar- Dasar Public Relations, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hal 25

(7)

1.3 Pembatasan Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Trans 7 beralamat di Jl. Kapten Tendean Kav. 12/14 Mampang Jakarta Selatan dari mulai bulan Oktober 2013 sampai dengan Januari 2014.

1.4 Fokus Masalah

Berdasarkan uraian tersebut di a tas maka penelitian ini hanya menfokuskan pada strategi Public Relations Trans 7 dalam membangun image Program Bukan Empat Mata.

1.5 Rumusan Masalah

Berdasarkan fokus masalah maka rumusan masalahnya adalah : Bagaimana strategi Public Relations Trans 7 dalam dalam membangun image Program Bukan Empat Mata ?

1.6 Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah : Untuk mengetahui strategi Public Relations Trans 7 dalam dalam membangun image Program Bukan Empat Mata.

1.7 Kegunaan Penelitian

1.7.1 Secara teoretis, membuktikan bahwa strategi Public Relations Trans 7 dalam membangun image Program Bukan Empat Mata telah sesuai dengan teori-teori kehumasan yang telah dikemukakan oleh para ahli Public Relations.

(8)

1.7.2 Secara praktis, dapat memberikan masukan yang berarti sekaligus sebagai bahan acuan dan pemikiran bagi Humas pentingnya membuat strategi yang tepat dalam kegiatan komunikasi untuk membangun image suatu program acara.

(9)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Kajian Pustaka

Pada Kajian Pustaka ini penulis mengungkapkan penelitian sejenis yang dilakukan oleh Stevani (2011) mahasiswa Universitas Al-Azhar Jakarta denga judul : Strategi Humas Dalam Pelaksanaan ”Program Advis Kebijakan Untuk Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (Paklim) di Indonesia” (Studi pada pelaksanaan program PAKLIM oleh ”Deutsche Gesellschaft Fur Internasinale Zusammernarbeit (GIZ) GmbH” bekerjasama dengan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH).

Permasalahan yang diangkat adalah bagaimanakah strategi Public Relations dalam pelaksanaan program PAKLIM di Indonesia oleh GIZ bekerja sama dengan Kementrian Lingkungan Hidup.

Penelitian ini menggunakan teori Efektivitas Komunikasi dan Strategi Humas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, sifat penelitian deskriptif. Data diperoleh dari hasil wawancara (terstruktur) dan observasi (tidak tersetruktur).

Hasil penelitian yang dilakukan memperoleh hasil bahwa pelaksanaan program PAKLIM oleh GIZ dan KLH menunjukkan hubungan kerjasama antara kedua humas telah dibina dengan baik, melalui aspek-aspek atau strategi humas.

Penelitian yang dilakukan Stevani dilatarbelakangi adanya visi dan misi yang sama sehingga tidak mengalami banyak kendala dalam aktivitas Humas. Penelitian yang dilakukan penulis dilatarbelakangi terjadinya konflik sehingga tingkat kesulitan aktivitas Humas lebih tinggi.

(10)

Matrik Penelitian Sejenis Terdahulu

Nama

Peneliti Judul Penelitian Permasalahan Teori Metode

Hasil Penelitian Kritik Penulis terhadap Hasil Penelitian Bedanya dengan Penelitian Penulis Stevani, Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jakarta (2011) STRATEGI HUMAS DALAM PELAKSANAAN ”PROGRAM ADVIS KEBIJAKAN UNTUK LINGKUNGAN HIDUP DAN PERUBAHAN IKLIM (PAKLIM)” DI INDONESIA (Studi pada pelaksanaan program PAKLIM oleh ”Deutsche Gesellschaft Fur Internasinale Zusammernarbeit (GIZ) GmbH” bekerjasama dengan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) Bagaimanakah strategi Public Relations dalam pelaksanaan program PAKLIM di Indonesia oleh GIZ bekerja sama dengan Kementrian Lingkungan Hidup - Efektivitas Komunikasi - Strategi Humas Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sifat penelitian deskriptif. Pengumpulan data wawancara (terstruktur dan observasi (tidak tersetruktur) Pelaksanaan program PAKLIM oleh GIZ dan KLH telah menunjukkan hubungan kerjasama antara kedua humas telah dibina dengan baik, melalui aspek-aspek atau strategi humas Penelitian yang dilakukan Stevani sangat normatif, hampir tidak ada kendala yang terjadi kedua lembaga tersebut. Padahal kendala ini dapat mejadi pembelajaran yang baik bagi pihak-pihak yang bergelut dalam dunia kehumasan. Penelitian yang dilakukan saudara Stevani dilatarbelakangi adanya kesamaan visi dan misi dalam pelaksanaan program PAKLIM.

Sedangkan penelitian yang dilakukan penulis dilatar belakangi dari adanya konflik antar lembaga, sehingga tingkat kesulitan Humas lebih tinggi dalam menjalin kerjasama dan melaksanakan strategi yang tepat.

(11)

2.2 Teori

2.1.1 Komunikasi

Komunikasi sebagai kebutuhan yang vital dan mendasar dalam kehidupan manusia. Dengan komunikasi seseorang dapat menyampaikan maksud dan tujuan yang terkandung di dalamnya kepada orang lain. Dalam kegiatan komunikasi orang yang menyampaikan pesan biasa dikenal dengan komunikator, sedangkan yang menerima atau diberikan pesan dikenal dengan komunikan. Seorang komunikator dalam berkomunikasi dituntut untuk memperhatikan teknik-teknik berkomunikasi agar pesan yang disampaikan memperoleh umpan balik dari komunikan yang menjadi sasaran.

Seorang komunikator dalam menyampaikan informasi dapat secara langsung ataupun menggunakan sarana media. Sebuah informasi yang disampaikan komunikator kepada komunikan melalui sebuah proses. Dalam proses komunikasi terdapat unsur-unsur komunikasi yang harus terpenuhi sehingga informasi yang disampaikan memperoleh umpan balik dari komunikan.

Kata komunikasi sendiri telah banyak dikemukakan oleh para ahli dari sudut pandang yang berbeda-beda, namun pada intinya apa yang dikemukakan oleh para ahli mengenai komunikasi itu mengandung arti yang sama, yaitu penyampaian pesan. Willbur Schramm menyatakan bahwa kata ”Communication itu berasal dari bahasa latin ‘Communis’ yang berarti Common (sama). Dengan demikian apabila kita akan mengadakan komunikasi, maka kita harus mewujudkan persamaan antara kita dengan orang lain”.6

6

Sunarjo, Djoenaesih S Sunarjo, Himpunan Istilah Komunikasi Seri Ilmu Komunikasi -1, Edisi Ketiga, Liberty, Yogyakarta, 1995, hal. 143

(12)

Komunikasi menurut Bovee and Thill 2003 yang dikutip oleh Sri Astuti Pratminingsih : ”komunikasi berasal dari bahasa Latin ”communicare” yang berarti memberi, mengambil bagian atau meneruskan sehingga terjadi sesuatu yang umum (common), sama atas saling memahami”.7

Menurut Everett M. Rogers yang dikutip oleh Hafied Cangara, mengungkapkan bahwa : “Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber yang satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.”8

Menurut Carl. L. Hovland komunikasi adalah “proses mengubah perilaku orang lain (communication is the process to modify the behaviour of their individuals)”.9

Dari beberapa pengertian komunikasi di atas, maka seseorang melakukan komunikasi bertujuan untuk mewujudkan persamaan kepada orang lain atas ide, gagasan yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian maka diharapkan diperoleh perubahan sikap atau perilaku komunikan sesuai dengan tujuan dari komunikator

Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi merupakan tindakan yang memungkinkan kita mampu dan memberikan informasi atau pesan sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Dimana secara teoritis, kita mengenal beragam tindakan komunikasi berdasarkan pada konteks dimana komunikasi tersebut dilakukan, yaitu konteks komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi dan komunikasi massa. Agar komunikasi berjalan efektif, maka pihak-pihak yang terlibat dalam

7

Sri Astuti Pratminingsih, Komunikasi Bisnis, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2006, hal. 2.

8

Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, hal. 19.

9

(13)

komunikasi harus memiliki pemahaman yang sama terhadap lambang-lambang yang mereka gunakan.

Untuk memperoleh kejelasan, di bawah ini adalah gambar proses komunikasi yang ditampilkan oleh Philip Kotler dalam bukunya Marketing Managemen.

Gambar 2.1

Model Proses Komunikasi

Keterangan :

Sender : Komunikator yang menyampaikan pesan kepada seseorang atau sejumlah orang.

Encoding : Penyandian, yakni proses pengalihan pikiran ke dalam bentuk lambang

Message : Pesan yang merupakan seperangkat lambang bermakna yang disampaikan oleh komunikator

Media : Saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan

Decoding : Pengawasandian, yaitu proses dimana komunikan menetapkan makna pada lambang yang disampaikan oleh komunikator kepadanya

Receiver : Komunikan yang menerima pesan dari komunikator

Response : Tanggapan, seperangkat reaksi pada komunikan setelah diterpa pesan

Sender Encoding Message

Media

Decoding Receiver

Sender

(14)

Feedback: : Umpan balik, yakni tanggapan komunikan apabila tersampaikan atau disampaikan kepada komunikator

Noise : Gangguan tak terencana yang terjadi dalam proses komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan pesan lyang disampaikan oleh komunikator kepadanya.“10

Sementara itu komunikasi memerlukan proses, proses komunikasi menurut Onong Uchjana Effendy dalam bukunya Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek, terbagi menjadi dua tahap, yaitu :

a. “Proses komunikasi secara primer

Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu ‘menerjemahkan’ pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.

b. Proses komunikasi secara sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya, karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang lebih relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi.”11

Tujuan dari komunikasi adalah untuk tercapainya perubahan sikap, perubahan perilaku dan perubahan sosial, sedangkan komunikasi memiliki fungsi, yaitu :

a. “Informatif

Kegiatan komunikasi merupakan suatu sistem pemprosesan informasi dimana audience (khalayak) berharap memperoleh informasi yang lebih banyak,baik dan tepat waktu.

b. Regulatif

Kegiatan komunikasi sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Fungsi ini tergantung pada kredibilitas pesan.

10

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002, hal 18-19.

11

(15)

c. Persuasif

PR membujuk khalayak untuk melakukan suatu kegiatan sehingga dapat memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

d. Integratif

Kegiatan komunikasi yang bertujuan menumbuhkan keinginan khalayak untuk berpartisipasi lebih besar pada kegiatan komunikasi dengan cara menyediakan saluran komunikasi, baik itu formal (koran,buletin) maupun informal (tatap muka,event)”. 12

Dalam pencapaian tujuan, suatu organisasi perlu ada suatu proses komunikasi yang dapat mentransfer pesan-pesan dari komunikator ke komunikan. Proses komunikasi memungkinkan anggota organisasi bertukar informasi dengan menggunakan suatu bahasa atau simbol-simbol yang umum digunakan. Di samping itu, melalui proses komunikasi akan diperoleh suatu hasil yang sangat berarti bagi organisasi.

Komunikasi juga memiliki tujuan, yaitu untuk memberikan pengaruh kepada seluruh anggota organisasi agar mereka secara bersama-sama dapat mencapai tujuan organisasi. Adapun tujuan lainnya yaitu menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu untuk memahami orang lain.

Dalam kegiatan komunikasi terdapat unsur-unsur pokok yang perlu kita ketahui, yaitu :

1. “Komunikator, yaitu individu yang berinisiatif untuk menyampaikan pesan.

2. Pesan (message), yaitu suatu gagasan dan ide berupa pesan informasi, pengetahuan, ajakan atau ungkapan yang bersifat pendidikan yang akan disampaikan oleh komunikator.

3. Komunikan, yaitu seseorang atau sejumlah orang yang menjadi sasaran komunikator ketika ia menyampaikan pesan.

4. Media (channel), yaitu sarana atau saluran yang dipergunakan oleh komunikator dalam mekanisme penyampaian pesan.

12

Sasa Djuarsa Sendjaja, Pengantar Komunikasi, Jakarta, Penerbit Universitas Terbuka, 1993, hal. 132

(16)

5. Efek, yaitu suatu dampak yang terjadi dalam menyampaikan pesan tersebut yang dapat berakibat positif maupun negatif menyangkut tanggapan, persepsi dan opini dari hasil komunikasi tersebut”.13

Secara garis besar komunikasi dapat disimpulkan sebagai proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain dan selanjutnya menghasilkan umpan balik yang diinginkan. Maka dari itu, diharapkan dalam kegiatan komunikasi Humas dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat atas pesan yang terkandung dalamnya dipahami dan memperoleh feedback dari komunikan.

2.1.2 Humas

Istilah “hubungan masyarakat” yang di singkat “humas”, di Indonesia sudah benar-benar memasyarakat dalam arti kata telah dipergunakan secara luas oleh Departemen, perusahaan, lembaga dan lain-lain.

“Humas adalah sesuatu yang merangkum keseluruhan komunikasi yang terencana. Baik itu ke dalam maupun keluar, mengidentifikasi kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur seorang individu atau sebuah organisasi berdasarkan kepentingan publik, dan menjalankan suatu program untuk mendapatkan pengertian dan penerimaan publik”.14

Cutlip, Center dan Broom dalam bukunya yang berjudul “Effective Public Relations” (edisi ke-8) mengungkapkan pandangan Dr. Rex F. Harlow tentang Hubungan Masyarakat bahwa :

“Hubungan masyarakat merupakan fungsi manajemen khusus yang membantu pembentukan dan pemeliharaan garis komunikasi dua arah, saling

13

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002, hal. 10.

14

H. Frazier Moore, 2001, Humas (Membangun Citra Dengan Komunikasi) PT Remaja Rosdakarya, Bandung, hal 6.

(17)

pengertian, penerimaan, dan kerja sama antara organisasi dan masyarakatnya, yang melibatkan manajemen problem atau masalah, membantu manajemen untuk selalu mendapat informasi dan merespon pendapat umum, mendefinisi dan menekankan tanggung jawab manajemen mengikuti dan memanfaatkan perubahan dengan efektif, berfungsi sebagai system peringatan awal untuk membantu mengantisipasi kecenderungan, dan menggunakan riset serta komunikasi yang masuk akal dan etis sebagai sarana utamanya.” 15

Selain itu, Oemi Abdurrachman, dalam bukunya yang berjudul “Dasar-dasar Publik Relations” mengungkapkan pendapat menurut Howard Bonham, Vice Chairman, American National Red Cross bahwa :

“Public Relations is the art bringing about better public understanding which breeds greater public confidance for any individual or organitation” (publik relations adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian publik yang lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap seseorang atau sesuatu organisasi / badan)”. 16

Berdasarkan saling pengertian itu, hubungan baik antara perusahaan dengan publiknya diharapkan akan dapat selalu dipelihara sehingga kedua belah pihak dapat mengambil manfaatnya. Konsep komunikasi dua arah ini jugalah yang mengharuskan Humas bukan hanya bertugas mengumpulkan informasi tentang publik saja. Karena jika hanya itu yang dilakukan, maka kegiatan tersebut belum dapat dikatakan sebagai praktek kehumasan. Sebab humas bukan hanya berfungsi untuk melihat citra yang terbentuk, tetapi juga berusaha mengembangkannya kearah yang lebih baik. Agar citra yang dipersepsikan oleh masyarakat baik dan benar (dalam arti ada konsistensi antara citra dengan realitas), citra perlu dibangun secara jujur. Cara yang sudah digunakan secara luas dan mempunyai kredibilitas yang tinggi, yaitu hubungan masyarakat.

15

Scott M. Cutlip, Allen H. Center, dan Glen M. Broom. 2005. Effective Public Relations. Eight

Edition. PT. INDEKS. Kelompok Gramedia. hal. 4 16

Oemi Abdurrachman. 2001. Dasar- Dasar Public Relations. PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. hal 25.

(18)

Daya tarik penggunaan hubungan masyarakat sebagai cara untuk membangun citra, seperti yang diungkapkan oleh Kotler sebagaimana dikutip oleh Sutisna dalam bukunya Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran, yaitu “mempunyai kredibilitas yang tinggi, mampu menjangkau masyarakat secara luas dan kemampuannya untuk didramatisasi.”17

Jadi, peranan hubungan masyarakat dalam mengembangkan citra telah dibuktikan dan mendapat dukungan pendapat dari para ahli hubungan masyarakat. Untuk mendorong citra positif bagi suatu organisasi, hubungan masyarakat harus menyampaikan realitas yang sebenarnya. Penyampaian realitas yang sebenarnya bukan berarti harus disampaikan secara monoton dan tidak menarik perhatian. Hubungan masyarakat harus disusun sedemikian rupa agar mampu menarik dan menciptakan citra yang positif kepada publik eksternal.

Humas mempunyai fungsi keluar dan ke dalam. Fungsi keluar sebuah organisasi berusaha menciptakan citra yang baik dari masyarakat. Mengusahakan tumbuhnya sikap dan image masyarakat yang positif terhadap segala kebijakan dan tindakan organisasi. Ke dalam berusaha menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dan nyaman, mengidentifikasi agar dapat menimbulkan sikap dan gambaran yang positif bagi para anggota, atas suatu tindakan atau kebijakan kerja yang menarik, sehingga roda kepemimpinan berjalan tanpa hambatan apapun

2.1.3 Humas Internal

Merupakan kegiatan praktisi Humas yang memberikan kontribusi profatibilitas perusahaan, yaitu dalam membina hubungan antar sesama karyawan

17

Sutisna. 2001. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung, hal. 335.

(19)

pada suatu perusahaan (staff relations ), sehingga hal tersebut tidak sepenuhnya sama dengan hubungan-hubungan industri.

Suasana dimana terjalin komunikasi dan hubungan yang harmonis antara karyawan dengan karyawan dengan pimpinan, pada diri mereka juga ditanamkan rasa tanggung jawab dan kewajiban terhadap perusahaan. Pada tiap anggota perusahaan diberikan tanggung jawab pekerjaan dan mereka diberikan gambaran, bahwa keberadaan atau maju mundurnya perusahaan tersebut tergantung dari cara kerja para anggotanya.

Humas menurut Frank Jefkins yang dikutip oleh Wiryanto, dalam bukunya praktek praktik kehumasan adalah hubungan yang terjadi dalam suatu siklus organisasi atau instansi, mulai dari top management samapai ke pesuruh. Tingkat efektivitas dari humas internal sangat dipengaruhi oleh tiga hal pokok yaitu :

1. Keterbukaan pihak manajemen

2. Kesadaran dan pengakuan manajemen akan dinilai dan arti penting komunikasi dengan para pegawai.

3. Keberadaan seorang manajer komunikasi (manajer humas) yang tidak hanya ahli dan berpengalaman, tetapi juga didukukng oleh sumber-sumber daya teknis modern.18

Beberapa rumusan mengenai Humas internal di atas menjelaskan bagaimana seorang Humas tidak hanya dapat membina hubungan dengan publik eksternalnya, karena publik internal juga mempunyai peranan penting dalam kemaujan perusahaan. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, dijelaskan pula mengenai tugas Humas Internal dalam melaksanakan fungsi kehumasan dalam suatu instansi.

18

(20)

Tugas Humas Internal bila dirinci secara spesifik, maka akan memiliki tiga wujud, yaitu komunikasi ke bawah, ke atas, dan komunikasi sejajar. Untuk lebih jelas maka akan dijabarkan berikut ini secara detail.

Tugas Humas Internal mencakup :

1. Menambah sikap kesadaran perlunya kegiatan humas kepada karyawan dan pimpinan.

2. Memperoleh tugas dan wewenang yang jelas sekaligus membatasi tugasnya yang mudah sekali mencampuri dan memasuki bidang orang lain.

3. Memperoleh kepercayaan dan kerjasama dari teman sejawat.

4. Menanamkan prinsip-prinsip serta program kerja organisasi kepada para karyawan dan teman sejawat demi realisasi tujuan organisasi.

5. Memberi bantuan dan pelayanan kepada departemen atau bagian-bagian lain dalam instansi, menunjang jenjang wewenang yang dikenal sebagai fungsi staf maupun garis hierarkhi.

6. Meningkatkan keinginan dan hasrat kerjasama serta partisipasi.

7. Mengadakan dan menyebar ide akan kesadaran bermasyarakat pada para karyawan dan semua pihak.19

Dalam menjalankan komunikasi ke publiknya, khususnya publik internal, maka diharapkan dapat diperoleh hasil yang maksimal. Untuk mengukur hasil yang diperoleh tersebut diperlukan tingkatan efektivitas untuk mengukurnya.

2.1.4 Humas Eksternal

Menurut Edward L Bernay, dalam bukunya Public Relations (1952) yang dikutip oleh Rosady Ruslan terdapat 3 fungi utama Humas yaitu :

1) ”Memberikan penerangan kepada masyarakat

2) Melakukan persuasi untuk mengubah sikap dan perbuatan masyarakat secara langsung.

3) Berupaya untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu badan/lembaga sesuai dengan sikap dan perbuatan masyarakat atau sebaliknya”20.

19

(21)

Adapun fungsi humas berdasarkan ciri khas kegiatan Humas menurut Cutlip & Center dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. “Menunjang aktivitas utama manajemen dalam mencapai tujuan bersama (fungsi melekat pada manajemen lembaga/organisasi.

2. Membina hubungan yang harmonis antara badan/organisasi dengan publiknya yang merupakan khalayak sasaran.

3. Mengidentifikasi segala sesuatu yang berkaitan dengan opini, persepsi dan tanggapan masyarakat terhadap badan/organisasi yang diwakilinya, atau sebaliknya.

4. Melayani keinginan publiknya dan memberikan sumbang saran kepada pimpinan manajemen demi tujuan dan manfaat bersama.

5. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dan mengatur arus informasi, publikasi serta pesan dari badan/organisasi ke publiknya atau sebaliknya, demi tercapainya citra positif bagi kedua belah pihak.”21 Berdasarkan uraian fungsi Humas di atas dalam prakteknya Humas dalam organisasi mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan publik internal maupun eksternal. Semuanya ini sangat menentukan pada perkembangan organisasi secara keseluruhan.

Tugas Humas menurut Frank Jefkins dalam bukunya Public Relations yang diterjemahkan oleh Haris Munandar adalah :

1) “Menciptakan dan memelihara suatu citra yang baik dan cepat atas organisasinya.

2) Memantau pendapat umum mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan citra, kegiatan, reputasi.

3) Memberi nasehat atau masukan kepada pihak manajemen mengenai berbagai masalah komunikasi yang penting.

4) Menyediakan berbagai informasi kepada khalayak perihal kebijakan organisasi”. 22

Dalam pelaksanaannya, aktivitas Humas hendaknya dilakukan secara sistematis atau bertahap karena tugas yang harus dijalankan oleh Humas amat

20

Rosady Ruslan. 2008. Majamen Public Relations & Media Komunikasi, Konsepsi dan Aplikasi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. hal. 18

21

Ibid. hal. 18

22

(22)

banyak, sehingga sering terdapat tumpang tindih. Oleh karena itu aktivitas Humas sebagai fungsi manajemen meliputi tahap-tahap tertentu sehingga tidak terjadi tumpang tindih kegiatan. Tahap-tahap tersebut menurut Cutlip & Center yang dikutip oleh Oemi Abdurrachman dalam bukunya Dasar – dasar Public Relations, adalah :

1) “Fact Finding, merupakan tahap awal dalam kegiatan Humas mengumpulkan data atau fakta sebelum melakukan kegiatan.

2) Planning, merupakan pembuatan rencana tentang apa yang akan atau harus dilakukan dalam menghadapi permasalahan – permasalahan yang ada dalam perusahaan.

3) Communicating or Actions, setelah rencana disusun secara matang, lalu dilakukan tugas – tugas untuk mengkomunikasikan kebijakan perusahaan kepada seluruh karyawan.

4) Evaluation, merupakan tahap akhir. Dalam tahapan ini diadakan penelitian apakah kegiatan Humas telah mencapai tujuan atau masih terdapat hambatan sehingga dapat ditentukan cara-cara untuk mengatasi hambatan tersebut demi memperoleh hasil yang lebih baik”. 23

Tahap-tahap dalam kegiatan Humas merupakan tahap yang berkesinambungan, dimana satu sama lain saling terkait. Berdasarkan tahapan tersebut, mengutip pendapat Oemi Abdurrahman dalam bukunya Dasar – dasar Public Relations tugas penting eksternal Public Relations untuk memperoleh dukungan, pengertian, dan kepercayaan dari publik luar, menciptakan kesediaan kerja sama dari public, adalah :

1. “Menilai sikap dan opini publik terhadap kepemimpinan, terhadap para pegawai dan metode yang digunakan,

2. Memberi advice dan counsel pada pimpinan tentang segala sesuatu yang ada hubungannya dengan publik relations mengenai perbaikan-perbaikan, kegiatan-kegiatan, dan lain- lain.

3. Memberikan penerangan – penerangan yang obyektif, agar publik tetap informed tentang segala aktivitas dan perkembangan badan itu.

4. Menyusun staf yang efektif untuk bagian itu.” 24

23

Oemi Abdurrachman. 2001. Dasar-Dasar Public Relations, PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. hal.32

24

(23)

Dari uraian di atas maka menurut penulis berkaitan dengan kegiatan tugas eksternal Public Relations adalah memberikan masukan kepada pihak manajemen tentang penilaian masyarakat atas perusahaan yang diwakilinya. Tujuannya agar dapat membuat langkah kegiatan lebih baik dengan mengotimalkan seluruh anggota organisasi untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai.

2.1.5 Manajemen Strategi

Perkembangan dan perubahan di segala bidang, bidang ekonomi, sosial, budaya, teknologi membawa dampak pada struktur dalam organisasi. Tidak saja organisasi yang berorientasi bisnis, tetapi juga pada organisasi yang bukan bisnis seperti lembaga sosial, lembaga kemasyarakat ataupun organisasi partai politik.

Ningky Munir (2001) memandang faktor pendorong perubahan diberbagai bidang kehidupan : “perubahan dan penyempurnaan teknologi khususnya teknologi informasi, globalisasi bisnis, dan demokratisasi”.25

Perubahan-perubahan yang terjadi ini tentu saja berpengaruh terhadap pengelolaan organisasi, untuk selalu adaptif terhadap perubahan tersebut. Manajemen pun memperhatikan lingkungan internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap kinerja organisasi. Perubahan yang begitu cepat dan adanya pengaruh lingkungan internal dan eksternal ini, manajemen strategis menjadi penting. Menjadi kewajiban seorang pimpinan untuk dapat mengupayakan dan menyelaraskan setiap perubahan itu yang terjadi. Upaya menyelaraskan organisasi dengan lingkungannya itu yang melahirkan manajemen strategis.

25

(24)

Menurut Hari Lubis (1992 : 1) pengertian manajemen strategis adalah : ”Proses interaktif yang kontinu untuk menyelaraskan organisasi secara keseluruhan terhadap lingkungannya. Manajemen strategis merupakan rangkaian tindakan yang dimulai dari analisis lingkungan, penetapan arah organisasi, perumusan strategi organisasi, implementasi strategi organisasi, serta evaluasi dan pengendalian strategi”.26

Manajemen strategis merupakan upaya organisasi untuk bisa menyelaraskan dirinya dengan lingkungan. Manajemen strategis pada dasarnya merupakan upaya organisasi untuk menyesuaikan dengan lingkungannya. Sebagaimana definisi dari Rowe, et.al. (dalam Robson, 1997 : 6), yang menyatakan bahwa “Manajemen strategis adalah proses untuk menyeleraskan kemampuan intenal organisasi dengan peluang dan ancaman yang dihadapinya dalam lingkungannya”.27

Dari beberapa pengertian di atas manajemen strategi sangat penting sekali bagi pimpinan karena organisasi terdiri dari beberapa atau banyak orang yang berada di dalamanya. Sebagai anggota organisasi tidak terlepas dari pengaruh luar yang akan membentuk dan merubah sikap dan perilaku ke dalam organisasi. Kemampuan pimpinan untuk mengantisipasi setiap perubahan akan menentukan keberhasilan organisasi. Perubahan ini akan terus terjadi dan tidak dapat dihindari seiring dengan perubahan lingkungan, yang dapat dilakukan hanyalah mengantisipasi setiap perubahan untuk menjadikan peluang.

Sebagaimana Barker (1992 : 28) menyebut “Zaman sekarang ini mirip dengan sungai yang bergejolak. Dalam zaman yang bergejolak ini, kemampuan untuk mengantisipasi akan memperbesar peluang untuk berhasil”.28

26

Hari Lubis dalam Yosal Iriantara. 2004. Manajemen Strategis Public Relations. Ghalia Indonesia, Jakarta. hal. 3.

27

Yosal Iriantara. 2004. Manajemen Strategis Public Relations. Ghalia Indonesia. Jakarta. hal. 12

28

(25)

Dari pernyataan di atas jelas bahwa begitu pentingnya tindakan antisipasi yang sekaligus sebagai bagian dari kegiatan dalam manajemen. Dengan melakukan tindakan antisipasi sendiri sebenarnya pimpinan telah menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang humas, dimana tujuan dari seorang humas tidak saja mengharapkan feed-back melainkan juga melakukan freed-forward, untuk memperkecil akibat yang ditimbulkan dari adanya perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam organisasi ataupun luar organisasi.

Konsekuensi dari adanya perubahan menurut Ansorff dan McDannell (1990 : 9-10) menunjuk ada 3 konsekuensi dari akselerasi perubahan tersebut :

1. “Meningkatnya kesulitan untuk mengantisipasi perubahan dengan baik untuk bisa membuat perencanaan dan memberikan respons

2. Kebutuhan pada kecepatan yang meningkat dalam mengimplementasikan respons.

3. Kebutuhan atas fleksibilitas dan respons langsung terhadap kejutan yang tak bisa diantisipasi sebelumnya”.29

Dengan memperhatikan konsekuensi dengan adanya perubahan baik internal dan eksternal organisasi, jelas bahwa manajemen strategi menjadi penting dan harus memperoleh perhatian dengan baik. Jika tidak maka semakin banyak kusulitan-kesulitan yang akan dihadapi oleh pimpinan untuk menyelaraskan pengaruh eksternal ke dalam organisasi yang dipimpinannya.

Adapun mengenai manfaat manejemen strategi menurut Hari Lubis menyebutkan beberapa manfaat penerapan manajemen strategis :

“Mendeteksi masalah sebelum terjadi, membuat para manajer menjadi lebih berminat terhadap organisasi, membuat organisasi lebih responsive dan waspada terhadap perubahan, mengarahkan segala upaya untuk menuju objektif organisasi, dan merancang munculnya kerjasama dalam menjawab permasalahan dan dalam mememanfaatkan peluang30.

29

Ibid. hal. 10

30

(26)

Proses manajemen strategis berlangsung berikut diberikan skema model proses manajemen strategis.

Proses Manajemen Strategis31

1. Analisis Lingkungan

Analisis atau pemeriksaan (scanning) lingkungan pada dasarnya untuk mengetahui faktor-faktor yang sangat penting bagi masa depan organisasi. Ini biasa dinamakan sebagai factor-faktor strategis. Perlunya menganalisis lingkungan organisasi karena organisasi tidaklah hidup di ruang hampa. Organisasi hidup bersama organisasi lain yang sejenis dan organisasi-organisasi lain yang brada dalam sistem sosial. Selain itu organisasi ada tentunya bukan demi organisasi itu sendiri, melainkan bagi masyarakat. Karena itu, apa yang tejadi pada masyarakat yang hidup bersama organisasi itu akan berpengaruh terhadap organisasi. Perubahan kondisi sosial politik misalnya, akan berpengaruh terhadap organisasi.

2. Penetapan Arah Pengembangan Organisasi (Visi, Misi)

Secara sederhana visi adalah apa yang ingin dicapai organisasi pada masa depan, sedangkan misi merupakan maksud dari pendirian organisasi tersebut, yang mencerminkan arah perkembangan organisasi secara

31

Yosal Iriantara. 2004. Manajemen Strategis Public Relations. Ghalia Indonesia. Jakarta. hal. 14.

ANALISIS LINGKUNGAN - Internal - Eksternal PENETAPAN ARAH PENGEMBANGAN ORGANISASI - Misi - Objektif PERUMUSAN STRATEGI IMPLEMENTA SI STRATEGI PENGENDALI AN STRATEGI

(27)

umum. Sedangkan arah perkembangan yang lebih spesifik dicantumkan dalam objektif organisasi. Ketiga hal tersebut menjadi pedoman dalam pengembangan organisasi dan mendasari perumusan strategi yang akan dijalankan oleh organisasi tersebut. Visi, misi, dan objektif organisasi bagaimana pun tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungannya. Ada dialektika antara visi, misi dan objektif organisasi dengan lingkungan organisasi. Visi itu bisa diibaratkan merupakan keinginan kita, dan misi merupakan cara kita untuk mencapai keinginan tersebut dan objektif merupakan wujud kongkret keinginan tersebut.

3. Perumusan Strategi

Perumusan strategi merupakan keputusan mengenai jalan yang akan ditempuh untuk mencapai apa yang sudah ditetapkan dalam objektif. Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap faktor-faktor lingkungan sosial, operasional, dan internal, kemudian dengan mempertimbangkan objektif, maka ditetapkan strategi untuk mencapai objektif tersebut. Pilihan strategi tersebut biasanya didasarkan pada peluang strategi tersebut mampu mewujudkan objektif. Ketika merumuskan strategi, tersedia banak alternatif strategi untuk mencapai objektif, namun harus memilih strategi mana yang paling tepat dengan mempertimbangkan lingkungan sosial, operasional, dan internal organisasi.

4. Implementasi Strategi

Strategi yang sudah selesai dirumuskan, artinya sudah dibuat rencana strategisnya, manakala diimplementasikan mengharuskan adanya penyempurnaan perumusan strategi. Banyak organisasi yang mempu

(28)

menyusun strateginya dengan baik. Daya kreatif manajernya telah melahirkan strategi organisasi yang sangat baik. Bahkan tatkala strategi itu dibuat dalam bentup pernyataan strategis, banyak pihak yang memuji sebagai strategi yang inovatif yang diperhitungkan akan mampu membawa organisasi mncapai obyektif, mampu bersaing dalam lingkungan persaingan yang kerjas, dan organisasi akan mampu bertahan hidup ditengah himpitan situsai ekonomi yang berat. Namun kenyataanya, saat diimplementasikan tidak begitu halnya. Strategi yang baik itu menjadi sumber bencana bagi organisasi saat diimplementasikan, artinya strategi tersebut tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Wheelen dan Hunger yang dalam buki Iriantara (2004) mendaftar 10 masalah yang paling sering dijumpai organisasi saat mengimplementasikan strategi yang telah dirumuskan organisasi

1) ”Implementasi berjalan lebih lambat dari yang direncanakan. 2) Ada masalah besar yang tak terantisipasi

3) Koordinasi kegiatan yang tidak efektif

4) Kegiatan yang saling bersaing dan krisis yang mengalihkan perhatian dari implementasi

5) Kemampuan karyawan yang terlibat tak memadai

6) Pelatihan dan pembelajaran yang tak memadai pada karyaan level terndah

7) Faktor-faktor lingkungan eksternal yang tidak dapat dikontrol 8) Kepemimpinan dan arahan manajer yang tak memadai

9) Lemahnya pendefinisian kegiatan-kegiatan dan tugas-tugas implementasi yang pokok

10) Lemahnya monitoring kegiatan melalui sistem informasi”.32

Karena itu, keberhasilan dalam manajemen strategis ditentukan oleh perumusan dan implementasi strategi yang baik. Bila salah satu buruk, misalnya implementasinya buruk, maka secara keseluruhan gagal.

32

(29)

5. Pengendalian Strategi

Pengendalian/kontrol ini dilakukan dengan tujuan agar organisasi mencapai objektifnya melalui pemantauan dan evalusi proses manajemen strategis dan menerima umpan balik, guna menentukan apakah tiapa tahapan dalam perencanan dan implementasi manajemen strategis berjalan baik. Dalam melakukan kontrol tersebut dilakukan pengukuran kinerja organisasi. Pengukuran kinerja organisasi itu dinamakan audit strategis, yakni memeriksa dan mengevaluasi bidang-bidang yang dipengaruhi oleh implementasi manajemen strategis. Dengan melakukan audit strategis akan diketahui apakah implementasi sudah berjalan sesuai dengan sasaran yang ditetapkan sebelum atau tidak.

2.1.6 Strategi Humas

Menurut Rosady Ruslan strategi adalah : ”Bagian terpadu dari suatu rencana sedangkan rencana merupakan produk dari suatu perencanaan, yang pada akhirnya perencanan adalah salah satu fungsi dasar dari proses manajemen”.33

Menurut Ahmad S. Adnanputra strategi Humas adalah ”Alternatif optimal yang dipilih untuk ditempuh guna mencapai tujuan Public Relations dalam kerangka suatu rencana publik relations (Public Relations plant)”.34

Humas bertujuan untuk menegakkan dan mengembangkan suatu citra yang menguntungkan bagi organisasi/perusahaan atau produk barang dan jasa terhadap para stakeholdersnya sasaran yang terkait yaitu publik internal dan publik eksternal. Untuk mencapai tujuan tersebut strategi kegiatan humas semestinya diarahkan pada

33

Rosady Ruslan. 2008. Manajemen Public Relations & Media Komunikasi, Konsepsi dan Aplikasi. Edisi Revisi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. hal. 133

34

(30)

upaya menggarap persepsi para stakeholder, akar sikap tindak dan persepsi mereka. Konsekuensinya, jika strategi penggarapan itu berhasil maka akan diperoleh sikap tindak dan persepsi yang menguntungkan dari stakeholder sebagai khalayak sasaran. Pada akhirnya akan tercipta suatu opini dan citra yang menguntungkan.

Adapun tahap-tahap kegiatan strategi Humas : pertama, komponen sasaran, umumnya adalah para stakeholder dan publik yang mempunyai kepentingan yang sama. Sasaran umum tersebut secara struktural dan formal yang dipersempit melalui upaya segmentasi yang dilandasi ”seberapa jauh sasaran itu menyandang opini bersama, potensi polemik, dan pengaruhnya bagi masa depan organisasi, lembaga, nama perusahaan dan produk yang menjadi perhatian sasaran khusus. Maksud sasaran khusus disini adalah yang disebut publik sasaran.

Kedua komponen sasaran yang pada strategi Humas berfungsi untuk mengarahkan ketiga kemungkinan tersebut ke arah posisi atau dimensi yang menguntungkan. Landasan dalam proses penyusunan strategi Humas yang berkaitan pada manajemen suatu perusahaan / lembaga yaitu sebagai berikut :

1. ”Mengidentifikasi permasalah yang muncul 2. Identifikasi unit-unit sasarannya

3. Mengevaluasi mengenai pola dan kadar sikap tindak unit sebagai sasarannya.

4. Mengidentifikasi tentang struktur kekuasaan dan unit sasaran 5. Pemilihan opsi atau unsur taktikal strategi publi relations.

6. Mengidentifikasi dan evaluasi terhadap perubahan kebijaksanaan atau peraturan pemerintahan dan lain sebagainya.

7. Menjabarkan strategi Public Relations dan taktik atau cara menerapkan langkah-langkah program yang telah direncanakan, dilaksanakan, mengkomunikasikan dan penilaian/evaluasi hasil kerja”.35

Humas berfungsi untuk menciptkan iklim yang kondusif dalam mengembangkan tanggungjawab serta partisipasi antara pejabat Humas dan

35

(31)

masyarakat (khalayak sebagai sasaran) untuk mewujudkan tujuan bersama. Fungsi tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa aspek-aspek pendekatan atau strategi Humas :

1. ”Strategi operasional

Melalui pelaksanaan program Humas yang dilaksanakan dengan pendekatan kemasyarakat (social approach), melalui mekanisme sosial kultural dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dari opini publik atau kehendak masyarakat terekam pada setiap berita atau surat pembaca dan lain sebagainya yang dimuat di berbagai media massa.

Artinya pihak Humas mutlak bersikap atau berkemampuan untuk mendengar (listerning), dan bukan sekedar mendengar (hear) mengenal aspirasi yang ada di dalam masyarakat, baik mengenai etika, moral maupun nilai-nilai kemasyarakatan yang dianut.

2. Pendekatan persuasif dan edukatif

Fungsi Humas adalah menciptakan komunikasi dua arah (timbal balik) dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada pihak publiknya yang bersifat mendidik dan memberikan penerangan, maupun dengan melakukan pendekatan persuasif, agar tercipta saling pengertian, menghargai, pemahaman, toleransi dan lain sebagainya.

3. Pendekatan tanggungjawab sosial humas

Menumbuhkan sikap tanggungajawab sosial bahwa tujuan dan sasaran yang hendak dicapai tersebut bukan ditujukan untuk mengambil keuntungan sepihak dari publik sasarannya (masyarakat), namun untuk memperoleh keuntungan bersama.

4. Pendekatan kerja sama

Berupaya membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan berbagai kalangan, baik hubungan ke dalam (internal relations) maupun hubungan ke luar (eksternal relations) untuk meningkatkan kerja sama. Humas berkewajiban memasyarakatkan misi instansi yang diwakilinya agar diterima oleh atau mendapat dukungan masyarakat (publik sasarannya). Hal ini dilakukan dalam rangka menyelenggarakan hubungan baik dengan publiknya (community relations ) dan untuk memperoleh opini publik serta perubahan sikap yang positif bagi kedua belah pihak (mutual understanding).

5. Pendekatan koordinatif dan integratif

Untuk memperluas peranan PR di masyarakat, maka fungsi Humas dalam arti sempit hanya mewakili lembaga/instansinya. Tetapi peranannya yang lebih luas adalah berpartisipasi dalam menunjang program pembangunan nasional, dan mewujudkan Ketahanan Nasional di bidang politik, ekonomi, sosial budaya (Poleksosbud) dan Hankamnas”.36

36

Rosady Ruslan. 2008. Manajemen Public Relations & Media Komunikasi, Konsepsi dan Aplikasi, Edisi Revisi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. hal. 142-144.

(32)

Penjelasan langkah-langkah pokok dari berbagai aspek pendekatan dan strategi komunikasi Public Relations dalam upaya untuk menjalin berbagai hubungan positif dengan publik internal dan publik eksternal tersebut, dapat ditarik suatu pengertian yang mencakup peranan Humas di berbagai kegiatan di lapangan, yaitu :

1. ”Menginformasikan (to inform) 2. Menerangkan (to explain) 3. Menyarankan (to suggest) 4. Membujuk (to persuade) 5. Mengundang (to invite) 6. Meyakinkan (to convince)”37

Perencanaan merupakan langkah awal dari suatu kegiatan, bagaimana tidak tanpa perencanaan lebih dulu suatu kegiatan tidak akan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Begitu pula dalam kegiatan komunikasi, seorang komunikator perlu merencanakan terlebih dahulu mengenai pesan komunikasi yang akan ditujukan kepada sasaran komunikan. Sebagai seorang komunikator sebelum melakukan kegiatan komunikasi perlu adanya pemahaman terlebih dahulu mengenai bagaimana proses komunikasi berlangsung.

Suatu hal yang yang perlu diperhatikan oleh komunikator berkaitan dengan rencana komunikasi ini misalnya apa yang akan menjadi target dari komunikasi yang dilancarkan, siapa yang menjadi sasaran komunikasi, bagaimana proses komunikasi dilakukan dan yang tidak kalah pentingnya adalah mengenai siapa komunikator yang akan menyampaikan pesan komunikasi.

Sasaran komunikasi atau target komunikasi menentukan keberhasilan dari komunikasi yang dilancarkan komunikator. Oleh karena itu bagi seorang komunikator dalam menyampaikan pesan komunikasinya terlebih dulu harus

37

(33)

memahami siapa yang ingin diajak berkomunikasi, untuk selanjutnya menentukan bentuk komunikasi yang akan digunakan. Berkaitan dengan hal ini kemampuan dan ketrampilan seorang komunikator dalam berkomunikasi juga sangat mempengaruhi terhadap pemahaman komunikan atas informasi yang disampaikan.

2.3 Kerangka Pemikiran

Menurut Glaser dan Strauss : “Untuk keperluan penelitian kualitatif yang dikenal dengan teori dari-dasar, penyajian suatu teori dapat dilaksanakan dalam dua bentuk yaitu : (a) penyajian dalam bentuk seperangkat proposisi atau secara proposisional dan (b) dalam bentuk diskusi teoritis yang memanfaatkan kategori konseptual dan kawasannya”.38

Penelitian ini menggunakan teori efektivitas komunikasi. Hakikat komunikasi adalah understanding (memahami) tak mungkin seseorang melakukan kegiatan tertentu tanpa terlebih dahulu mengerti apa yang akan dilakukannya itu. Komunikasi yang efektif menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss, paling tidak menimbulkan 5 hal, yaitu ;

1. “Pengertian : Penerimaan yang cermat dari isi pesan sesuai yang dimaksud oleh komunikator. Maka disini yang dibutuhkan adalah kondisi psikologi komunikasi.

2. Kesenangan : tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian, tetapi juga komunikasi hanya berinteraksi saja. Tidak memiliki suatu tujuan, hanya untuk membuat senang, maka disini di perlukan sistem komunikasi interpersonal.

3. Pengaruh pada sikap ; komunikasi dilakukan untuk mempengaruhi orang lain. Proses komunikasi mempengaruhi sikap, tindakan dan pendapat orang lain dengan menggunakan manipulasi psikologis. Dengan demikian komunikan bertindak sesuai kehendak sendiri.

38

(34)

4. Hubungan yang makin baik ; Komunikasi di tujukan untuk menimbulkan hubungan sosial yang makin baik. Karena pada dasarnya manusia adalah ; a. Sebagai makhluk sosial, maka dibutuhkan berinteraksi dan

bergabung dengan orang lain.

b. Manusia perlu mengendalikan dan di kendalikan. c. Manusia perlu mencintai dan di cintai.

Semua kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan komunikasi interpersonal yang efektif.

5. Tindakan : Komunikasi persuavive di tujukan untuk melahirkan tindakan yang dikehendaki. Efektifitas komunikasi diukur dari tindakan nyata yang di lakukan oleh komunikan”39.

Sebuah komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh komunikan. Dengan perkataan lain, komunikasi adalah proses membuat sebuah pesan setala (tuned) bagi komunikator dan komunikan. Pertama-tama komunikator menyandi (encode) pesan yang akan disampaikan kepada komunikan. Kemudian menjadi giliran komunikan mengawa-sandi (de-code) pesan dari komunikator itu. Ini berarti ia menafsirkan lambang yang mengandung pikiran dan atau perasaan komunikator tadi dalam konteks pengertiannya.dalam proses itu komunikator berfungsi sebagai penyandi (encoder) dan komunikan berfungsi sebagai pengawa-sandi (decoder).

Wilbur Schramm, dalam bukunya “Communication Research in United States”, menyatakan bahwa ”komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame reference), yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang pernah diperoleh komunikan”.40

Bidang pengalaman (field experience) merupakan faktor yang penting dalam komunikasi. Jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman

39

Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1993, hal. 13

40

(35)

komunikan, maka komunikasi akan berlangsung lancar. Sebaliknya, bila pengalaman komunikan tidak sama dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti atau mencapai suatu pemahaman yang sama satu sama lain.

Berikut gambar mengenai unsur-unsur yang mempengaruhi pemahaman :

Field of Experience Field of Experience Sender Encoder Signal Decoder Receiver

Sumber : Rakhmat, 1993 :13)

Untuk itu agar suatu komunikasi menjadi efektif maka proses penyandian oleh komunikator harus bertautan dengan proses pengawasandian oleh komunikan. Memang bidang pengalaman (field experience) sangat mempengaruhi dalam melakukan komunikasi. Namun bukan berarti suatu komunikasi akan gagal apabila tidak ada kesamaan antara field experience komunikator dengan field experience komunikan. Karena di dalam teori komunikasi dikenal istilah empathy, yang berarti kemampuan memproyeksikan diri kepada peranan orang lain. Maksudnya adalah dimana seorang komunikator berusaha untuk memposisikan dirinya seolah-olah memiliki kedudukan yang sama dengan komunikan, walaupun memiliki perbedaan dalam kedudukan, jenis pekerjaan, agama, suku, bangsa, tingkat pendidikan, ideology, dll.

Teori komunikasi yang digunakan adalah apa yang digagaskan oleh Wilber Schramm dalam karyanya “How Communication Works“ dalam buku “Komunikasi dan Modernisasi“ bahwa “komunikasi hakekatnya adalah membuat si penerima dan

(36)

si pemberi pesan sama-sama “setela“ (tuned) untuk semua message (pesan).“41 Setelah (tuned) yang dimaksud adalah adanya kesamaan kerangka acuan (frame of refrence) dan bidang pengalaman (field of experience) antara komunikator dengan komunikan terhadap suatu pesan.

Wilber Schramm mengetengahkan apa yang ia namakan “the condition of success in communication“ yang diringkas oleh Onong Uchjana Effendy dalam Dinamika Komunikasi sebagai berikut :

1. “Pesan harus dirancang & disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian sasaran yang dimaksud

2. Pesan harus menggunakan tanda-tanda yang tertuju kepada pengalaman yang sama antar komunikator dan komunikan sehingga sama-sama dapat dimengerti

3. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi pihak komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk mengolah kebutuhan itu

4. Pesan harus menyarankan suatu cara untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kebutuhan tempat komunikan berada pada saat ia digerakan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.“42

Komunikasi merupakan suatu proses kegiatan dari komunikator kepada komunikan, dimana isi pesan yang disampaikan adalah lambang-lambang yang mengandung arti. Agar komunikasi ini memperoleh pemahaman masyarakat diperlukan adanya strategi yang tepat bagaimana cara menyampaikan pesan, sehingga menimbulkan kebutuhan.

41

Ibid, hal. 28

42

(37)

Bagan Kerangka Pemikiran Dalam kegiatannya PR perusahaan memerlukan strategi guna melancarkan kegiatannya. Dengan strategi PR dapat menyusun dan merencanakan kegiatan dengan tepat sasaran. Permasalahan :

Bagaimana strategi Public Relations Trans 7 dalam membangun image Program Bukan Empat Mata ?

Hasil Peneltiain :

Melalui pendekatan strategi Humas Public Relations Trans 7 dapat membangun image program Bukan Empat Mata.

Metode Penelitian : - Desriptif kualitatif Teori

- Efektifitas Komunikasi

- Strategi Humas (strategi operasional, pendekatan persuasive dan edukatif, pendekatan

tanggungjawab sosial humas, pendekatan kerjasama dan pendekatan koordinatif dan integratif

Instrumen :

(38)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Paradigma Penelitian

Menurut Bogdan dan Biklen yang dikutip oleh Lexy J. Moleong pengertian paradigma adalah “Kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berfikir dan cara penelitian”.43

Sedangkan menurut Thomas Khun “paradigma sebagai seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan, baik tindakan keseharian maupun dalam penyelidikan ilmiah.44

Secara umum paradigma dapat diartikan “sebagai seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari”.45

Terdapat empat paradigma ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan. Empat paradigma ilmu tersebut adalah “positivisme, post-positivisme, critical theory dan constructivism. Keempatnya dimaksudkan untuk menemukan hakikat realitas atau ilmu pengetahuan yang berkembang”46.

Perbedaan dari keempat paradigma tersebut dapat dilihat dari cara pandang masing-masing terhadap realitas yang digunakan dan cara yang ditempuh untuk melakukan pengembangan penemuan ilmu pengetahuan, khususnya pada tiga aspek yang ada di dalamnya yaitu aspek antologis, epistemologis, dan metodologis.

43

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001, hal. 30.

44

Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2006, hal. 63

45

Ibid.

46

Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2006, hal. 68

(39)

1. Positivisme

Positivisme merupakan paradigma yang muncul paling awal dalam dunia ilmu pengetahuan. Keyakinan dasar aliran ini berakar pada paham antologi realisme yang menyatakan bahwa realitas berada dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hokum alam. Penelitian berupaya mengungkap kebenaran realitas yang ada, dan bagaimana realitas tersebut senyatanya berjalan.

2. Post-Positivisme

Kemunculan paradigma ini adalah keinginan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme yang memang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung atas obyek yang diteliti. Cara pandang aliran ini bersifat critical realism. Aliran ini juga melihat realitas sebagai hal yang memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hokum alam, namun menurut aliran ini adalah mustahil bagi manusia untuk melihat realitas secara benar. Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi dipandang tidak mencukupi, tetapi harus dilengkapi dengan metode triangulasi yaitu penggunaan beragam metode, sumber data, periset dan teori. 3. Teori Kritis

Aliran ini sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai suatu paradigma, akan tetapi lebih tepat disebut ideologically oriented inquiry, yaitu suatu wacana atas realitas dengan muatan orientasi ideology tertentu yakni meliputi neo-Marxisme, materialisme, feminisme, freireisme, participatory inquiry dan paham-paham yang setara.

(40)

Secara ontologis cara pandang aliran ini sama dengan pandangan post-positivisme, khususnya dalam menilai objek atau realitas kritis (critical realism), yang tidak dapat dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. 4. Konstruktivisme

Paradigma ini hampir merupakan antitesis terhadap paham yang menempatkan pentingnya pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atas ilmu pengetahuan. Secara tegas paham ini menyatakan bahwa positivisme dan post positivisme keliru dalam mengungkap realitas dunia, dan harus ditinggalkan dan digantikan oleh paham yang bersifat konstruktif.

Secara ontologis, aliran ini menyatakan bahwa realitas itu ada dalam beragam bentuk konstruksi mental yang didasarkan pada pengalaman social, bersifat local dan spesifik, serta tergantung pada pihak yang melakukannya. Karena itu, realitas yang diamati oleh seseorang tidak bias digeneralisasikan kepada semua orang sebagaimana yang biasa dilakukan di kalangan positivis atau post positivis. Atas dasar filosofis ini, aliran ini menyatakan bahwa hubungan epistemologis antara pengamat dan objek merupakan satu kesatuan, subjektif dan merupakan hasil perpaduan interaksi di antara keduanya.

Secara metodologis, aliran ini menerapkan metode hermeneutika dan dialektika dalam proses mencapai kebenaran. Metode pertama dilakukan melalui identifikasi kebanaran atau konstruksi pendapat orang per orang, sedangkan metode kedua mencoba untuk membandingkan dan menyilangkan

(41)

pendapat orang per orang yang diperoleh melalui metode pertama, untuk memperoleh suatu consensus kebenaran yang disepakati bersama. Dengan demikian hasil akhir dari suatu kebenaran merupakan perpaduan pendapat yang bersifat relative, subjektif dan spesifik mengenai hal-hal tertentu.

Dari keempat paradigma tersebut maka dalam penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme yang menempatkan pentingnya pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atas permasalahan yang ternah dialami Trans 7.

Penulis menganggap Public Relations Trans 7 dalam membangun hubungan baik dengan KPI akan memperoleh hasil yang diharapkan apabila menerapkan strategi Humas dan memahami publik sasaran. Seperti misalnya memahami karakteristik masyarakat, merancang pesan yang mendidik, pendekatan persuasive.

3.2 Fenomenologi

Peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Sosiologi fenomenologis pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh filsuf Edmund Husseri dan Alfred Schultz. Pengaruh lainnya beradal dari Weber yang member tekanan pada verstehen, yaitu pengertian interpretative terhadap pemahaman manusia.47

Fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka. Inkuiri fenomenologis memulai

47

(42)

dengan diam. Dian merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti.48

Dari pengertian di atas maka kaitannya dengan penelitian ini, peneliti belum mengetahui usaha yang dilakukan Public Relations Trans 7. Peneliti berusaha mencari dan menggali lebih dalam bagaimana usaha yang dilakukan Public Relations Trans 7 melalui wawancara terbuka dan data-data yang diperoleh. Data tersebut dipelajari dan dianalisis sehingga peneliti mendapatkan informasi yang jelas tentang fenomena yang terjadi.

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut Bodgan dan Taylor mendefinisikan :

“Metodologi penelitian kualitatif sebagai prosedur penulisan yang menghasilkan data desrkiptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar belakang dan individu secara holistic (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bahan dari suatu keutuhan.49

Penelitian kualitatif memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dengan jenis penelitian lainnya, yakni membangun realitas makna sosial budaya, meneliti interaksi peristiwa dan proses, melibatkan variabel-variabel yang kompleks dan sulit diukur, memiliki keterkaitan erat dengan konteks,, dan melibatkan peneliti secara utuh.50

48 Ibid. 49 Ibid, hal. 3 50

Prasetya Irawan. 2006. Penelitian Kualitatif dan Kuantiatif Untuk Ilmu Sosial. Jakarta. Departemen Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. hal. 6-7.

Referensi

Dokumen terkait

Demikian juga KBIH sebagai organisasi atau lembaga bimbingan ibadah haji, tentu memerlukan suatu proses manajemen yang diantaranya perencanaan (planning) dalam pengelolaannya

Bermanfaat bagi Lembaga Pemasyarakatan, untuk meningkatkan fungsi-fungsi manajemen pada aktivitas dakwah yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Kendal agar apa

Begitu jelas fungsi Badan Permusyawaratan Desa (BPD), sehingga untuk mencapai keberhasilan dalam pelaksanaan fungsinya sebagai suatu lembaga, Badan

Public Relations merupakan fungsi manajemen dari sikap budi yang direncanakan dan dijalankan secara berkesinambungan oleh organisasi–organisasi, lembaga–lembaga umum dan

Pada jabatan ini, PR Manager menjalankan lima fungsi penting perusahaan, yaitu membantu menunjang semua kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan perusahaan, membina hubungan

Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk

Public relation adalah fungsi khusus manajemen yang membantu membangun dan memelihara komunikasi bersama, pengertian, dukungan, dan kerjasama antara organisasi

Aktivitas/kegiatan manajemen yang dijalankan oleh organisasi Lembaga Pemasyarakatan terkait dengan pembinaan bagi narapidana, tidak terlepas dari peranan manusia,