• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 5 HASIL PENELITIAN"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 5

HASIL PENELITIAN

5.1. Gambaran Umum Pusdiklat Buddhis Maitreya Wira, Jakarta Barat

Pusdiklat Buddhis Maitreya Wira terletak di Perumahan Duta Mas Blok A-8, Jl. P. Tubagus Angke, Jakarta Barat. Bangunan ini terdiri dari 4 lantai dengan luas bangunan 5000 m2, yang diresmikan pada bulan September 2003. Lantai 1 terdiri dari aula serbaguna, ruang publikasi, ruang tamu, ruang makan, sekretaris, kantor sekolah minggu, perpustakaan, kantor KVMI, dapur, toilet, dan tiga buah kamar tidur. Lantai dua terdiri dari aula khotbah, ruang tamu, ruang sound system, publikasi audio, ruang meeting, ruang computer, toilet, dan 15 kamar tidur. Lantai tiga terdiri dari aula, ruang persiapan, audiovisual, ruang tamu, dan tiga buah kamar tidur. Lantai empat terdiri dari ruang drama, studio rekaman, ruang olahraga, tempat suci, dan delapan kamar tidur.

Pusdiklat Buddhis Maitreya Wira merupakan tempat kegiatan penataran dan ceramah setiap tiga minggu sekali, di mana setiap vihara Buddhis Maitreya dari seluruh Jakarta mengirimkan wakilnya untuk mengikuti penataran yang diselenggarakan. Selain itu, pusdiklat ini juga menjadi tempat merayakan upacara keagamaan. Pengikut agama Buddha sekte Maitreya menekankan kehidupan bervegetaris bagi pengikutnya (Ratna, 2007).

(2)

5.2. Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan variabel independen dan variabel dependen. Gambaran frekuensi variabel independen dan dependen disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

5.2.1. Kejadian BBLR

Tabel 5.2.1. Distribusi Frekuensi Kejadian BBLR

Kejadian BBLR Frekuensi Persen

1 BBLR (< 2500 gram) 3 6,5

2 Non BBLR (>= 2500 gram) 43 93,5

Total 46 100

Distribusi frekuensi berat badan bayi lahir dapat dilihat pada tabel di atas, terlihat bahwa dari 46 responden sebanyak 8,7% melahirkan bayi dengan berat badan bayi < 2500 gram (BBLR), sedangkan 91,3% responden melahirkan bayi dengan berat badan bayi ≥ 2500 gram (Normal).

5.2.2. Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu 5.2.2.1. Umur Ibu Saat Melahirkan

Tabel 5.2.2.1 Distribusi Frekuensi Umur Ibu Saat Melahirkan

Umur Saat Melahirkan Frekuensi Persen

1 > 35 tahun 4 8,7

2 20-35 tahun 42 91,3

Total 46 100

Distribusi frekuensi umur ibu saat melahirkan terlihat pada tabel diatas, terlihat bahwa umur ibu hamil di bagi dalam 3 kategori yaitu umur < 20 tahun, umur 20 – 35 tahun dan umur > 35 tahun. Pada penelitian ini ternyata tidak ada ibu yang hamil saat berusia < 20 tahun, kategori umur terbesar adalah 20 – 35 tahun yaitu sebesar 91,3 % sedangkan umur < 20 tahun sebesar 8,7 %.

(3)

5.2.2.2. Usia Kandungan Ibu Saat Melahirkan

Tabel 5.2.2.2. Distribusi Frekuensi Usia Kandungan Ibu Saat Melahirkan

Usia Kandungan Saat Melahirkan Frekuensi Persen

1 < 37 minggu 5 10,9

2 >= 37 minggu 41 89,1

Total 46 100

Distribusi frekuensi usia kandungan ibu saat melahirkan dapat dilihat pada tabel di atas, terlihat bahwa dari 46 responden, sebanyak 89,1 % melahirkan bayi saat usia kandungan lebih >= 37 minggu, sedangkan 10,9 % melahirkan bayi saat usia kandungan < 37 minggu.

5.2.2.3 . Status Ibu Bekerja saat Hamil

Tabel 5.2.2.3. Distribusi Frekuensi Status Ibu Bekerja Saat Hamil

Status Ibu Bekerja Saat Hamil Frekuensi Persen

1 Bekerja 24 52,2

2 Tidak bekerja 22 47,8

Total 46 100

Dari tabel tersebut terlihat bahwa dari 46 responden, ternyata ada 52,2% responden yang bekerja saat hamil untuk menambah penghasilan keluarga dan ada 47,8% responden yang tidak bekerja selama hamil maupun setelah hamil.

5.2.2.4. Pendidikan Terakhir Ibu

Tabel 5.2.2.4. Distribusi Frekuensi Pendidikan Terakhir Ibu

Pendidikan terakhir Frekuensi Persen

1 Tidak tamat SD 1 2,2

2 Tamat SMP 1 2,2

3 Tamat SMA 13 28,3

4 Tamat akademi/PT 31 67,4

(4)

Distribusi frekuensi lama pendidikan responden dapat dilihat berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa dari 46 responden sebanyak 67,4% tamat akademi/PT, 38,3% tamat SMA, dan hanya 2,2% yang tamat SMP.

5.2.2.5. Tinggi Badan Ibu pra Hamil

Tabel 5.2.2.5. Distribusi Tinggi Badan Ibu pra Hamil

Variabel Jumlah

Min-Max Mean Median SD 95% CI Mean

TB pra hamil 46 145-172 158,85 158 6,366 158,85-158,96 Distribusi Tinggi badan ibu terlihat pada tabel diatas, terlihat bahwa dari 46 responden TB minimum adalah 145 cm dan TB max adalah 172 cm, dengan rata-rata 158,85, median 158, dan standar deviasi 6,366.

5.2.2.6. Berat Badan Ibu pra Hamil

Tabel 5.2.2.6. Distribusi Berat Badan Ibu pra Hamil

Variabel Jumlah

Min-Max Mean Median SD 95% Mean CI

BB pra

hamil 46 40-67 51,22 59 6,650 49,24-53,19

Distribusi berat badan ibu sebelum hamil terlihat pada tabel diatas, terlihat bahwa dari 46 responden berat badan minimumnya adalah 40 kg, berat badan maksimum 67 kg, rata-rata berat badan pra hamil adalah 51,22, dengan median 59, dan standar deviasi 6,650.

5.2.2.7. Distribusi Frekuensi IMT Ibu pra Hamil

Tabel 5.2.2.7. Distribusi Frekuensi IMT Ibu pra Hamil

IMT pra Hamil Frekuensi Persen 1 < 18,5 (kurus) 9 19,6 2 18,5-25 (normal) 35 76,1

3 >25 (gemuk) 2 4,3

(5)

Distribusi frekuensi IMT ibu pra hamil dapat dilihat dari tabel diatas, terlihat bahwa dari 46 responden 19,6% memiliki IMT pra hamil < 18,5, 76% memiliki IMT pra hamil antara 18,5-25, dan 4,3% memiliki IMT pra hamil > 25.

Dalam kaitannya dengan terjadinya risiko KEK pada ibu hamil, IMT merupakan indikator tindak lanjut bila ditemukan ibu hamil dengan LiLA < 23,5 cm. Penelitian di Jawa Timur menunjukkan bahwa LiLA yang rendah dapat menggambarkan IMT yang rendah pula. IMT yang akurat akan menggambarkan seorang ibu hamil benar-benar kurus. Sebagai cut off point ditetapkan bahwa ibu hamil dengan IMT < 18.5 adalah berisiko KEK dan ≥ 18,5 tidak berisiko KEK ( Irawati A, 2006).

5.2.2.8. Pertambahan Berat Badan Selama Hamil

Tabel 5.2.2.8. Distribusi Frekuensi Pertambahan Berat Badan Selama Hamil

Distribusi frekuensi pertambahan berat badan ibu selama hami terlihat pada tabel diatas, terlihat bahwa dari 46 responden sebanyak 4,3 % mengalami pertambahan berat badan < 8 kg selama kehamilannya, sedangkan sebanyak 95,7 % mengalami pertambahan berat badan selama hamil >= 8 kg.

5.2.2.9. Riwayat Keguguran

Tabel 5.2.2.9. Distribusi Frekuensi Riwayat Keguguran

Riwayat keguguran Frekuensi Persen

1 Ya 5 10,9

2 Tidak 41 89,1

Total 46 100

Pertambahan Berat Badan selama hamil Frekuensi Persen

1 < 8 kg 2 4,3

2 >= 8 kg 44 95,7

(6)

Distribusi frekuensi riwayat keguguran ibu dapat dilihat berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa dari 46 responden sebanyak 10,9% pernah mengalami keguguran dan sisanya sebesar 89,1% tidak pernah mengalami keguguran.

5.2.2.10. Paritas Ibu

Tabel 5.2.2.10. Distribusi Frekuensi Paritas Ibu

Paritas Frekuensi Persen

1 >= 3 5 10,9

2 < 3 41 89,1

Total 46 100

Distribusi frekuensi paritas ibu dapat dilihat berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa dari 46 responden sebanyak 89,1% mengalami paritas < 3, dan sebanyak 10,9% mengalami paritas >= 3.

5.2.2.11. Jenis Diet Vegetarian Ibu

Tabel 5.2.2.11. Distribusi Frekuensi Jenis Diet Vegetarian Ibu

Jenis Diet Vegetarian Ibu Frekuensi Persen

1 Ovo Vegetarian 2 4,3

2 Lacto-ovo vegetarian 44 95,7

Total 46 100

Distribusi frekuensi jenis diet vegetarian ibu terlihat pada tabel diatas, terlihat bahwa dari 46 responden sebanyak 4,3% responden menjalani diet ovo vegetarian (masih mengkonsumsi telur dan olahannya dalam diet sehari-hari) sedangkan sebanyak 95,7% responden menjalani diet lacto-ovo vegetarian (masih mengkonsumsi telur, susu, dan olahannya dalam diet sehari-hari).

(7)

5.2.2.12. Lama Menjadi Vegetarian

Tabel 5.2.2.12. Distribusi Lama Menjadi Vegetarian

Variabel Jumlah

Min-Max Mean Median SD 95% Mean CI

Lama menjadi vegetarian

46 1-18 8,72 8 4,375 7,42-10,02

Distribusi lama ibu menjadi vegetarian terlihat pada tabel diatas, terlihat bahwa dari 46 responden minimal telah menjadi vegetarian adalah 1 tahun, maksimal telah menjadi vegetarian 18 tahun, rata-rata telah menjadi vegetarian 8,72 tahun, dengan median 8 tahun, dan standar error 4,375.

5.2.3. Distribusi Frekuensi Antenatal Care (ANC) 5.2.3.1. Frekuensi Suntikan TT Selama Kehamilan

Tabel 5.2.3.1. Distribusi Frekuensi Frekuensi Suntikan TT Selama Kehamilan

Suntikan TT selama kehamilan Frekuensi Persen

1 Tidak pernah 41 89,1

2 >= 2 kali 1 2,2

3 < 2 kali 4 8,7

Total 46 100

Distribusi frekuensi status imunisasi TT selama kehamilan terlihat pada tabel diatas, dapat dilihat bahwa dari 46 responden sebanyak 89,1% tidak pernah melakukan suntikan tetanus toksoid selama kehamilan, 8,7% melakukan suntikan TT < 2 kali selama kehamilan, dan hanya 2,2% yang melakukan suntikan TT selama kehamilan >= 2 kali.

(8)

5.2.3.2. Konsumsi Tablet Fe Selama Kehamilan

Tabel 5.2.3.2. Distribusi Frekuensi Konsumsi Tablet Fe Selama Kehamilan

Konsumsi tablet Fe selama kehamilan Frekuensi Persen

1 Tidak mengkonsumsi 11 24

2 >= 90 tablet 29 63

3 < 90 tablet 6 13

Total 48 100

Distribusi frekuensi konsumsi tablet Fe selama kehamilan dapat terlihat pada tabel diatas, terlihat bahwa dari 46 responden sebanyak 24% tidak mengonsumsi Fe selama kehamilannya, 63% mengonsumsi >= 90 tablet selama kehamilan, dan 13% mengonsumsi < 90 tablet selama kehamilan.

5.2.4. Distribusi Frekuensi Karakteristik Bayi 5.2.4.1. Jenis Kelamin Bayi

Tabel 5.2.4.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Bayi

Jenis Kelamin Bayi Frekuensi Persen

1 Perempuan 23 50

2 Laki-laki 23 50

Total 46 100

Distribusi frekuensi jenis kelamin bayi dapat dilihat dari tabel diatas, terlihat bahwa proporsi bayi laki-laki dan perempuan yang dilahirkan oleh ibu-ibu vegetarian dari Pusdiklat Buddhis Maitreya Wira dalam rentang waktu Mei 2003-Mei 2008 terdistribusi merata yaitu masing-masing sebesar 50%.

Panjang badan dan berat badan bayi setelah lahir akan diukur oleh tenaga kesehatan, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah bayi lahir dengan panjang badan dan berat badan yang normal atau tidak. Umumnya panjang badan bayi saat lahir normal dengan panjang 49-50 cm.

(9)

BAB 6

PEMBAHASAN

6.1. Keterbatasan Penelitian

Adanya recall bias pada responden, dimana responden dalam memberikan jawaban mengenai beberapa variabel faktor resiko (seperti: umur saat melahirkan, umur kandungan saat melahirkan, berat badan pra hamil) sering lupa lama waktu yang berlalu antara peristiwa yang ditanyakan dengan saat mengingat. Itulah sebabnya variabel-variabel dalam penelitian ini tidak mencangkup semua faktor resiko kejadian BBLR karena dalam rangka mengurangi bias.

Sampel yang ada kurang mewakili populasi karena sampel yang diambil adalah ibu-ibu vegetarian anggota Pusdiklat Buddhis Maitreya Wira, Jakarta Barat, tidak mewakili dari keseluruhan populasi vegetarian dari sekte Buddhis Maitreya di Indonesia. Sampel dipilih berdasarkan listing yang terdaftar, kemudian ibu-ibu dari listing tersebut diminta untuk mengumpulkan buku kunjungan kehamilan. Kesulitannya bahwa catatan yang berasal dari buku kunjungan kehamilan tersebut tidak lengkap, sehingga disamping data berasal dari catatan medis juga dilakukan wawancara via telepon, dan apabila no telepon tidak tercantum dalam listing maka responden tersebut dikeluarkan dari sampel. Ada juga responden yang nomor teleponnya lengkap, namun ketika dihubungi ternyata menolak untuk diwawancara.

(10)

6.2 Kejadian BBLR

Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 46 kelahiran dari ibu vegetarian anggota Pusdiklat Buddhis Maitreya Wira dalam rentang waktu Mei 2003-Mei 2008 terdapat 3 kelahiran BBLR (6,5%). Hasil penelitian tersebut menunjukan persentase BBLR yang lebih besar dari angka BBLR nasional yaitu 5,6% (SDKI 2000-2003). Untuk itu perlu penanganan lebih lanjut mengingat bayi dengan BBLR rentan dengan penyakit-penyakit infeksi, seperti infeksi saluran pernafasan bagian bawah, ganguan belajar, masalah perilaku dan lain sebagainya (Agtini, 1996). Menkes DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP, pada pembukaan seminar sehari ”Peran Ibu dan Bapak Dalam Tumbuh Kembang Anak” yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-76 di Jakarta tanggal 16 Desember 2004 mengatakan bahwa menurut perkiraan, setiap tahunnya sekitar 400.000 bayi lahir dengan berat rendah. Menurut Menkes, kalau bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada umur kehamilan yang cukup, maka anak tersebut nantinya pada umur 40 tahun (kalau dapat mencapai usia itu) akan menderita penyakit jantung, hipertensi, maupun diabetes. Dengan demikian setiap tahun akan terdapat sekitar 400.000 calon-calon penderita penyakit degeneratif (www.depkes.go.id).

Bayi dengan berat lahir rendah umumnya kurang mampu meredam tekanan lingkungan yang baru, sehingga dapat berakibat pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan, bahkan dapat mengganggu kelangsungan hidupnya. Selain itu juga akan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian bayi karena rentan terhadap infeksi saluran pernafasan bagian bawah, gangguan belajar, penurunan IQ, masalah perilaku, dan lain sebagainya (Depkes, 1998). Setiap anak yang berstatus gizi buruk

(11)

mempunyai resiko kehilangan IQ 10 – 13 poin. Pada tahun 1999 diperkirakan terdapat kurang lebih1,3 juta anak bergizi buruk, maka berarti terjadi potensi kehilangan IQ sebesar 22 juta poin.

Berat lahir merupakan salah satu penentu kualitas generasi penerus karena erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan di masa yang akan datang. Kualitas yang baik akan dimulai dari berat lahir yang normal. Pada bayi berat lahir rendah (BBLR) ditemukan kadar transferin yang rendah. Transferin merupakan salah satu anti infeksi yang ada dalam tubuh, sehingga apabila jumlah transferin sedikit maka bayi tersebut akan mudah terkena infeksi (Soepinard, 1982). BBLR juga mempunyai resiko 6 kali untuk terjadinya kematian neonatal dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat lahir normal (Ronoatmodjo, 1996). Selain itu pada masa sekolah ditemukan bahwa anak-anak yang dilahirkan rendah mempunyai ukuran antropometrik yang rendah dibandingkan dengan anak-anak yang dilahirkan dengan berat lahir normal (Amirani, 1991).

6.3. Gambaran karakteristik Ibu, ANC, dan Karakteristik Bayi 6.3.1. Gambaran Karakteristik Ibu

6.3.1.1. Umur Saat Melahirkan

Umur ibu yang paling baik untuk melahirkan adalah antara 20 tahun sampai 30 tahun, makin jauh umur ibu dari rentang waktu tersebut makin besar resiko bagi ibu maupun anaknya (BKS Penfin, 1990). Hasil penelitian dari 46 ibu hamil vegetarian pada rentang waktu Mei 2003-Mei 2008, didapatkan ibu yang melahirkan pada usia 20-35 tahun sebesar 91%, sedangkan sisanya sebesar 9% melahirkan pada usia > 35 tahun, hal ini berarti, ibu hamil yang mempunyai risiko terhadap terjadinya gangguan pada kehamilan dan persalinan sebesar 9 %. Angka ini masih di bawah

(12)

angka hasil analisa data SDKI tahun 1994 yang menunjukkan bahwa sekitar 23,7 % ibu hamil pada umur < 20 tahun dan > 35 tahun.

Tingginya persentase (91%) ibu yang melahirkan pada rentang usia 20-35 dikarenakan tingkat pendidikan ibu yang cukup tinggi, sehingga mereka menyadari akibat buruk bila melahirkan pada usia > 35 tahun. Selain itu, sampel yang diambil pada penelitian ini adalah ibu vegetarian yang mempunyai anak pada rentang Mei 2003-Mei 2008, sehingga kebanyakan ibu yang menjadi sampel ini adalah ibu-ibu muda yang berusia dibawah 35 tahun.

Di pusdiklat Buddhis Maitreya Wira tidak didapatkan ibu yang melahirkan pada umur < 20 tahun, hal tersebut dikarenakan anggotanya yang menikah pada umur > 20 tahun. Menurut penuturan seorang anggota, di Pusdiklat ini justru banyak yang tidak menikah, menikah setelah mapan, ataupun menunda untuk mempunyai anak.

6.3.1.2. Umur Kandungan Saat Melahirkan

Usia kandungan ibu saat melahirkan dibedakan menjadi dua yaitu >= 37 minggu dan < 37 minggu. Bayi yang dilahirkan ketika usia kandungan ibu melahirkan >= 37 minggu dikatakan bayi normal, sedangkan bayi yang dilahirkan ketika usia kandungan ibu melahirkan < 37 minggu dikatakan bayi prematur. Bayi yang lahir normal sesuai dengan waktu dia lahir lebih baik dibandingkan dengan bayi prematur, hal ini dikarenakan bayi normal telah sempurna pertumbuhan dan perkembangannya dibandingkan dengan bayi prematur. Makin rendah usia kehamilan maka semakin kecil bayi yang dilahirkan, dan makin tinggi morbiditas dan mortalitasnya. Bayi yang dilahirkan prematur (<37 minggu) belum mempunyai alat-alat yang tumbuh lengkap dan sempurna seperti bayi matur (>= 37 minggu), oleh

(13)

sebab itu ia memiliki lebih banyak kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya, sehingga makin mudah terjadi komplikasi dan makin tinggi angka kematiannya. Ibu-ibu vegetarian yang menjadi sampel pada penelitian ini memiliki berat badan yang adekuat untuk melahirkan (78,3%) dan memiliki IMT pra hamil >= 18,5 (80,4%) sehingga outcome kehamilannya lahir pada usia cukup bulan (89%).

Ibu yang melahirkan pada umur kandungan < 37 minggu ada sebesar 11%, padahal kejadian BBLR sebesar 6,5%, artinya ada ibu hamil yang melahirkan prematur namun memiliki bayi dengan berat lahir > 2500 gram. Hal ini wajar terjadi, karena hampir 70% dari bayi yang lahir tersebut memiliki berat lahir > 3000 gr. Hal tersebut karena ibu yang menjalani diet vegetarian selama kehamilannya khawatir akan outcome kehamilannya, sehingga mereka mengkonsumsi menu vegetarian yang bergizi tinggi, akibatnya walaupun bayi lahir prematur ternyata masih memiliki berat lahir > 2500 gram.

6.3.1.3. Status Bekerja Selama Hamil

Ibu yang bekerja pada waktu bayi dalam kandungan tidak begitu mempengaruhi keadaan bayi, asalkan pada trimester pertama dan kedua saja. Bila ibu bekerja di trimester ketiga maka angka prematuritas akan naik. Istirahat pada trimester ketiga adalah sangat penting untuk ibu dan calon bayi (Sumitro, 1986).

Hasil penelitian didapatkan ibu yang bekerja selama hamil sebesar 52%, lebih banyak dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Hal ini dikarenakan ibu vegetarian yang menjadi sampel penelitian ini kebanyakan berpendidikan tinggi (Tamat Akademi/PT sebesar 67%) sehingga memilih untuk berkarir dengan modal ijazah yang dipegangnya. Dari proses wawancara yang berlangsung dengan responden, penulis menyimpulkan bahwa pekerjaan yang digeluti oleh responden bukanlah

(14)

pekerjaan yang menguras tenaga fisik, karena itu tidak membahayakan walaupun umur kehamilan telah memasuki trimester ketiga.

6.3.1.4. Pendidikan Terakhir

Tingkat pendidikan menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan tentang gizi dan kesehatan yang mereka peroleh. Pendidikan sendiri amat diperlukan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi di dalam keluarga dan dapat mengambil tindakan secepatnya (Apriadji, 1986). Pada penelitian ini didapatkan hasil ibu yang berpendidikan akademi/PT sebesar 64,7%, pendidikan yang tinggi ini berimplikasi pada pengetahuan ibu mengenai gizi dan kesehatan, mereka sebagian besar sudah tahu bagaimana padu-padan makanan vegetarian yang menyehatkan tanpa kehilangan cara membuat makanan tersebut tetap lezat dan membangkitkan selera.

6.3.1.5. Tinggi Badan pra Hamil

Tinggi badan selain ditentukan oleh faktor genetik juga ditentukan oleh status gizi sewaktu masa kanak-kanak, keadaan ini dapat diartikan bahwa gangguan gizi waktu anak-anak pengaruhnya sangat jauh sampai dengan masa reproduksi (Alisyahbana, 1985). Pengukuran tinggi badan ibu hamil sedapat mungkin dilaksanakan pada awal kehamilan, untuk menghindari kesalahan akibat perubahan postur tubuh.

Pada penelitian ini, tinggi badan yang didapatkan berasal dari ingatan responden saja. Tidak dilakukan pengukuran tinggi badan, karena pengumpulan data berasal dari data masa lalu ibu yang telah mempunyai anak. Dari data yang terkumpul, didapatkan tinggi badan minimum adalah 145 cm dan tinggi badan maksimum adalah 172 cm, dengan mean 158,85. Terlihat bahwa rata-rata ibu vegetarian

(15)

memiliki tinggi badan diatas rata-rata tinggi badan wanita Indonesia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, sebagian besar dari mereka tidak mengalami gangguan gizi sewaktu kecil.

6.3.1.6. Berat Badan pra Hamil

Berat badan ibu sebelum hamil dan kenaikan berat badannya selama hamil ternyata dapat berpengaruh terhadap kesehatan serta pertumbuhan janin dalam kandungannya. Kesehatan dan pertumbuhan janin sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibunya. Salah satu faktor penting untuk kesehatan ibu adalah pengaturan berat badan, yang sebaiknya dilakukan sejak si ibu merencanakan kehamilan.

Dari pengumpulan data yang telah dilakukan, didapatkan hasil berat badan pra hamil minimum adalah 40 cm dan berat badan pra hamil maksimum adalah 67 cm. Bila berat badan ibu sebelum hamil dan kenaikan berat badannya selama hamil adalah kurang dari normal, maka si bayi akan berisiko lahir dengan berat badan yang kurang atau berat bayi lahir rendah (BBLR). Bayi dengan BBLR akan terganggu perkembangan fisik maupun kecerdasannya.

6.3.1.7. IMT pra Hamil

Dalam kaitannya dengan terjadinya risiko KEK pada ibu hamil, IMT merupakan indikator tindak lanjut bila ditemukan ibu hamil dengan LiLA < 23,5 cm. Penelitian di Jawa Timur menunjukkan bahwa LiLA yang rendah dapat menggambarkan IMT yang rendah pula. IMT yang akurat akan menggambarkan seorang ibu hamil benar-benar kurus. Sebagai cut off point ditetapkan bahwa ibu

(16)

hamil dengan IMT < 18.5 adalah berisiko KEK dan ≥ 18,5 tidak berisiko KEK ( Irawati A, 2006).

Sebesar 20% responden memiliki IMT pra hamil < 18,5, berarti ada 20% responden berisiko untuk melahirkan BBLR, namun ternyata kejadian BBLR sebesar 6,5%. Hak tersebut dikarenakan ibu tersebut telah menyadari dirinya berisiko melahirkan BBLR dan berusaha untuk menambah berat badan selama kehamilan, terlihat dari pertambahan berat badan selama hamil yang adekuat (>= 8 kg) sebesar 96%.

6.3.1.8. Pertambahan Berat Badan Selama Hamil

Ibu hamil sebaiknya tidak perlu khawatir bila mengalami kenaikan berat badan selama hamil. Kenaikan berat badan tersebut tidak hanya disebabkan oleh timbunan lemak, namun juga akibat proses tumbuh kembang si janin, pertambahan berat rahim, plasenta, volume darah, cairan ketuban, cairan dalam jaringan tubuh ibu, serta membesarnya payudara. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk pengaruh berat badan ibu terhadap kehamilan:

• Bila berat badan ibu sebelum hamil adalah normal, maka kenaikan berat badan ibu sebaiknya antara 9-12 kg

• Kalau berat badan sebelumnya adalah berlebih, maka kenaikan berat badannya cukup antara 6-9 kg.

• Bila sebelum kehamilan berat badan ibu adalah kurang, maka kenaikan berat badan sebaiknya antara 12-15 kg

(17)

Dari hasil penelitian ini, diperoleh ibu yang memiliki berat badan pra hamil kurang (<47 kg) sebesarar 22%. Terlihat bahwa ibu yang mengalami kurang berat badan tersebut berusaha untuk menaikan berat badan yang cukup selama hamil, yang akhirnya terjadi kenaikan berat badan yang memadai (>= 8 kg) sebesar 95%. Ibu-ibu vegetarian yang berasal dari Pusdiklat Buddhis Maitreya Wira berasal dari sosial-ekonomi menengah, sehingga walaupun mereka mengalami berat badan yang kurang selama hamil, namun karena rutin memeriksakan kehamilan akhirnya didapat kenaikan berat badan yang normal selama hamil.

6.3.1.9. Riwayat Keguguran

Dari hasil penelitian diperoleh, ibu yang mempunyai riwayat keguguran sebesar 5,11%, tingginya angka tersebut disebabkan masih banyaknya ibu yang mengalami kehamilan pertama (54%), dimana biasanya kehamilan pertama sangat berisiko untuk mengalami keguguran.

6.3.1.10. Paritas

Paritas adalah banyaknya ibu melahirkan anak selama masa reproduksi. Ibu dengan jumlah kehamilan yang lebih dari tiga mengalami kesulitan untuk pertambahan BB yang diharapkan. Berdasarkan analisis SDKI 1994, total fertilitas wanita berusia 15-49 tahun rata-rata mempunyai 3,2 orang anak, hanya turun 0,2 orang dibangdingkan data SDKI 1991. Jadi secara umum masih memiliki faktor resiko dari aspek jumlah kelahiran (SDKI, 1994). Secara umum wanita dengan primipara melahirkan bayi yang lebih kecil dibandingkan dengan kelahiran multipara, akan tetapi ibu-ibu dengan paritas tinggi (melahirkan >3) cenderung mengalami komplikasi dalam kehamilan sehingga berpengaruh terhadap hasil-hasil kehamilan (Institute of Medicine, 1990).

(18)

Dari hasi penelitian, diperoleh ibu yang mengalami paritas > 3 sebanyak 11%, dengan demikian ibu-ibu ini berisiko untuk melahirkan BBLR dibandingkan ibu yang paritasnya <= 3, karena ibu yang telah mengalami banyak kelahiran mempunyai kecenderungan kekurangan zat gizi makro ataupun mikro dalam tubuhnya apalagi jika jarak dengan persalinan sebelumnya < 24 bulan.

6.3.1.10. Tipe Vegetarian Ibu

Dari hasil penelitian ini, didapatkan ibu-ibu dari Pusdiklat Buddhis Maitreya Wira hanya menjalani 2 macam tipe vegetarian, yaitu ovo vegetarian (4%) dan lacto-ovo vegetarian (96%). Ibu vegetarian bisa mendapatkan bayi yang sehat tanpa harus mengubah prinsip diet mereka. Tetapi memang harus lebih hati-hati dalam merencanakan diet dibanding ibu hamil yang bukan vegetarian. Apabila tidak mengikuti anjuran diet yang disarankan, maka diet vegetarian pada ibu yang sedang hamil seringkali rentan terhadap kekurangan vitamin B12, vitamin D, kalsium, zink, omega 3, dan riboflavin. Defisiensi vitamin B 12 selama kehamilan biasanya tidak terlihat sampai kelahiran. Dua kasus kerusakan neurologis dan kegagalan pertumbuhan terkait dengan defisiensi vitamin B12 ditemukan di Georgia pada tahun 2001. Kedua bayi tersebut dilahirkan dari seorang ibu yang mengikuti diet vegetarian selama kehamilan. Walaupun demikian, insiden defisiensi besi sama saja pada wanita vegetarian dan non vegetarian.

Asupan protein secara umum mencukupi pada diet vegetarian tetapi tidak bagi vegans. Kebutuhan protein tercukupi dengan mengkonsumsi berbagai jenis sayuran secara teratur dan memenuhi kebutuhan energi. Pada wanita hamil vegetarian, variasi tanaman sebagai sumber protein nabati diperlukan untuk memenuhi kebutuhan protein. Sumber protein nabati yang dapat saling melengkapi

(19)

antara lain dengan mengkonsumsi kacang-kacangan dan serealia secara bersamaan. Kebutuhan protein pada vegetarian kira-kira 30% lebih tinggi daripada non-vegetarian. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kandungan asam amino esensial dan rendahnya daya cerna dari protein nabati (kecuali kedelai).

Bagi vegetarian yang lacto-ovo, yaitu mereka yang masih makan telur dan minum susu, masukan protein yang memadai dapat dijamin dengan banyak memakan dua makanan ini, termasuk yoghurt dan keju. Tetapi pada vegan, vegetarian kuat yang tidak makan telur atau susu, harus mengganti dengan kombinasi protein sayuran untuk memenuhi lima porsi/bagian proteinnya, antara lain; kacang-kacangan, biji-bijian, biji gandum. Beberapa bahan pengganti daging merupakan sumber protein yang cukup baik, namun beberapa bahan lainnya rendah protein dan tinggi lemak serta kalori.

Kecukupan kalsium bukan masalah bagi vegetarian yang makan telur dan susu, tetapi bagi vegan, diperlukan strategi khusus. Banyak produk kedelai yang kaya kalsium, tetapi harus hati-hati akan susu kedelai yang diberi banyak gula (gula, sirup jagung, atau madu). Lebih aman bila mengkonsumsi produk susu kedelai murni. Tahu baru bisa dianggap kaya kalsium bila pada proses penggumpalannya diberikan kalsium, bila tidak, ia tidak mengandung atau hanya sedikit mengandung kalsium. Beberapa jenis penganan tepung jagung tortila yang ditumbuk dengan batu merupakan sumber kalsium yang bukan dari susu dan menyediakan 1/2 bagian kalsium per keratnya. Sumber kalsium lainnya adalah air jeruk yang ditambah kalsium, kacang almond, kasang tanha, buah kering. Ibu hamil vegan juga dianjurkan mengkonsumsi suplemen kalsium.

(20)

Vegetarian, khususnya vegan, seringkali tidak mendapat cukup vitamin B12 karena vitamin ini ditemukan pada makanan dari hewan. Pastikan ibu vegetarian mendapat vitamin tambahan yang mengandung B12, begitu pula asam folat dan zat besi.

Vitamin D selain terdapat dalam minyak ikan, juga diproduksi kulit kita bila terkena sinar matahari. Meski demikian sinar matahari bukan sumber vitamin D yang dianjurkan bagi wanita dan ibu hamil. Karena itu untuk menjamin kecukupan vitamin D bagi ibu hamil, dianjurkan mengkonsumsi susu yang diperkaya vitamin D. Bila pada diet ibu vegetarian tidak minum susu jenis ini, pastikan untuk mengkonsumsi suplemen yang formulanya mengandung vitamin D.

6.3.1.11. Lama Menjadi Vegetarian

Hasil penelitian didapatkan, minimum ibu telah menjadi vegetarian 1 tahun, dan maksimum 18 tahun, dengan mean 8,72 tahun. Dikhawatirkan telah terjadi defisiensi zat gizi mikro pada ibu yang sudah lama menjalankan diet vegetarian. Namun nampaknya hal tersebut tidak perlu kita risaukan pada ibu vegetarian dari Pusdiklat Buddhis Maitreya Wira, karena 96% dari mereka menjalankan lacto-ovo vegetarian, sehingga mereka masih menngkonsumsi telur, susu, dan olahannya dalam diet harian mereka. Selain itu mereka juga rutin mengadakan seminar dan pelatihan yang dihadiri oleh pakar-pakar ilmu gizi, sehingga diet mereka sehari-hari sedikit banyak dipengaruhi oleh intervensi dari ahli gizi tersebut. Mereka juga punya banyak jejaring dengan rumah makan vegetarian, yang notabene menyajikan makanan yang variatif, mengundang selera, dan bergizi tinggi.

(21)

6.3.2. Antenatal Care (ANC) 6.3.2.1. Imunisasi TT

Pada umumnya di Indonesia masih banyak persalinan yang ditolong oleh tenaga non kesehatan, oleh karena itu vaksinasi Tetanus Toksoid antenatal dapat menurunkan kemungkinan kematian bayi karena tetanus dan juga dapat mencegah kematian ibu yang disebabkan oleh tetanus. Pemberian vaksinasi Tetanus Toksoid merupakan kelengkapan dalam pelayanan antenatal, dengan demikian pemberian vaksinasi TT sebanyak 2 kali selama kehamilan menunjukan kualitas ANC yang baik.

Penelitian ini menghasilkan persentase yang tinggi (89%) untuk ibu hamil yang tidak pernah mengalami imunisasi TT selama kehamilan. Angka ini cukup mencengangkan, yang berarti kualitas ANC dari ibu hamil vegetarian di Pusdiklat Buddhis Maitreya Wira kurang baik. Standar kualitas ANC yang baik menurut Depkes adalah dengan 5T (ditimbang berat badan, diukur tinggi badan, disuntik TT minimal 2 kali selama kehamilan, diukur tekanan darah, konsumsi tablet Fe minimal 90 butir selama hamil).

6.3.2.2. Konsumsi Fe

Zat besi yang diberikan kepada ibu selama hamil adalah sekitar 1000 mg, ini termasuk 500 mg yang digunakan untuk meningkatkan massa pertumbuhan sel darah merah, 300 mg untuk janin, dan 200 mg untuk mengganti kehilangan zat besi setiap hari. Jadi, ibu hamil normal perlu menyerap rata-rata zat besi 3,5 mg/ hari. Kebutuhan zat besi meningkat secara tajam selama trimester ketiga, selama 12 minggu terakhir kehamilan janin menerima hampir semua zat besi yang dimakan oleh ibu. Karena banyak ibu di Indonesia mempumyai jarak kehamilan kurang dari 2

(22)

tahun dan karena banyak ibu hamil yang tidak memakan makanan yang mengandung zat besi tinggi maka suplemen zat besi direkomendasikan sebagai asupan yang rutin (depkes, 1993).

Hasil penelitian mendapatkan, ibu yang tidak mengkonsumsi tablet Fe selama hamil sebesar 24%. Menurut wawancara yang penulis lakukan, alasan tidak mengkonsumsi adalah karena kadar Hb darahnya normal. Padahal dalam hampir semua kehamilan dialami anemia fisiologik kehamilan, yaitu kadar Hb darah menjadi 11 gr/dl (normal 12 gr/dl), yang merupakan konsekuensi wajar dari peningkatan cairan tubuh ibu.

6.3.3. Karakteristik Bayi 6.3.3.1. Jenis Kelamin Bayi

Jenis kelamin dari bayi yang lahir pada ibu vegetarian anggota Pusdiklat Buddhis Maitreya Wira adalah 50% perempuan dan 50% laki-laki.

Gambar

Tabel 5.2.1. Distribusi Frekuensi Kejadian BBLR
Tabel 5.2.2.3. Distribusi Frekuensi   Status Ibu Bekerja Saat Hamil  Status Ibu Bekerja Saat Hamil  Frekuensi  Persen
Tabel 5.2.2.5. Distribusi  Tinggi Badan Ibu pra Hamil  Variabel Jumlah
Tabel 5.2.2.10. Distribusi Frekuensi Paritas Ibu   Paritas  Frekuensi  Persen
+3

Referensi

Dokumen terkait

Danise dan Robert (2009:107), mengemukakan bahwa strategi investasi yang berdasarkan kepemilikan modal dari dalam perusahaan (modal sendiri) memiliki hubungan

Program prakerin di susun bersama antara sekolah dan dunia kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan peserta didik agar dapat menambah wawasan pengalaman dan

Salah satu yang melatar belakangi penggunaan wireless sebagai media untuk jaringan komputer adalah kemudahan, dan letak geografis yang tidak memungkinkan menggunakan kabel, karena

Saat ini perangkat keras yang dibutuhkan untuk menjalankan iklan animasi layanan masyarakat sudah dimiliki oleh WALHI Yogyakarta dan iklan animasi dapat dijalankan hanya

Data hasil observasi ini didapatkan melalui lembar observasi hasil belajar siswa, dan digunakan untuk melihat proses dan perkembangan hasil belajar siswa pada saat tes akhir

Hanya karena nikmat kesehatan dan kesempatan dari Allah-lah kegiatan penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu yang berjudul “Analisis

Tanggal Penandatanganan Akta Penggabungan 21 Januari 2011 Periode pembelian saham dari pemegang saham publik ICON yang 25 – 27 Januari 2011 tidak setuju terhadap

Penulis menyimpulkan bahwa Data - data yang diperlukan untuk analisis yang bersifat historis dapat diintegrasikan ke dalam data warehouse, memberikan kemudahan bagi pihak