BUKU AJAR
MATA KULIAH
BUDIDAYA TANAMAN INDUSTRI
OLEH :
PROF. DR. IR. DAHLIANA DAHLAN, MS.
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2011
DAFTAR ISI
Bab I
Pendahuluan ... 1 I.1. Latar Belakang ... 1 I.2. Mekanisme dan Rancangan Pembelajaran ... 2 Bab II
2.1. Tujuan ... 4 2.2. Manfaat ... 4
Bagian Satu
Modul 1 : Tanaman Kapas Bab I : Pendahuluan
1.1.Latar Belakang ... 5 1.2.Ruang Lingkup ... 6 1.3.Sasaran Pembelajaran ... 6 Bab II : Bahan Pembelajaran
2.1. Tanaman Kapas sebagai Sumber Serat ... 7 2.2. Morfologi Tanaman Kapas ... 9 Bab III : Tugas Mahasiswa ... 18 Modul 2 : Syarat Tumbuh Tanaman Kapas
Bab I
1.1.Ruang Lingkup... 19 1.2. Sasaran Pembelajaran ... 19 Bab 2 : Bahan Pembelajaran
2.1.Persyaratan Tanah untuk Tanaman Kapas ... 20 2.2. Persyaratan Iklim untuk Tanaman Kapas ... 21
Bab 3 : Tugas-tugas Mahasiswa ... 25
Modul 3 : Sistem Budidaya Tanaman Kapas Bab I ... 26
1.1.Ruang Lingkup ... 26
1.2.Sasaran Pembelajaran ... 26
Bab II : Bahan Pembelajaran ... 27
2.1. Budidaya Tanaman Kapas ... 27
2.2. Paket Teknologi Kapas dan Kedelai ... 30
Bab 3 : Tugas Mahasiswa ... 33
Daftar Pustaka ... 34
Bagian Dua
Modul 1 : Tanaman Rami Bab I : Pendahuluan ... 361.1.Latar Belakang ... 36
1.2.Ruang Lingkup ... 36
1.3.Sasaran Pembelajaran ... 37
Bab II : Bahan Pembelajaran ... 38
2.1. Sistematika Botani Tanaman Rami ... 38
2.2. Morfologi Tanaman Rami ... 38
Bab III : Tugas Mahasiswa ... 44
Modul 2 : Syarat Tumbuh Tanaman Rami Bab I : Ruang Lingkup dan Sasaran Pembelajaran ... 45
1.1.Ruang Lingkup ... 45
Bab 2 : Bahan Pembelajaran ... 46
2.1.Persyaratan Iklim untuk Tanaman Rami ... 46
2.2. Persyaratan Tanah untuk Tanaman Rami ... 46
Bab 3 : Tugas-tugas Mahasiswa ... 48
Modul 3 : Sistem Budidaya Tanaman Rami Bab I. Ruang Lingkup dan Sasaran Pembelajaran ... 49
1.1.Ruang Lingkup ... 49
1.2.Sasaran Pembelajaran ... 49
Bab 2 : Bahan Pembelajaran ... 50
2.1. Persiapan Tanam ... 50
2.2. Penanaman ... 51
Bab 3 : Tugas Mahasiswa ... 56
Modul 4 : Panen dan Pengolahan Serat Rami Bab I. Ruang Lingkup dan Sasaran Pembelajaran ... 57
1.1. Ruang Lingkup ... 57
1.2. Sasaran Pembelajaran ... 57
Bab 2 : Bahan Pembelajaran ... 58
2.1. Panen Tanaman Rami ... 58
2.2. Pengolahan Serat Rami ... 60
Bab 3 : Tugas Mahasiswa ... 65
Daftar Pustaka ... 66
Bagian Tiga
Modul 1 : Morfologi Tanaman Tembakau Bab I : Pendahuluan ... 681.1.Latar Belakang ... 68
1.3.Sasaran Pembelajaran ... 69
Bab II : Bahan Pembelajaran ... 70
2.1. Morfologi Tanaman Tembakau ... 70
2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Tembakau ... 73
Bab III : Tugas Mahasiswa ... 75
Modul 2 : Budidaya Tanaman Tembakau Bab I. Ruang Lingkup dan Sasaran Pembelajaran ... 76
1.1.Ruang Lingkup ... 76
1.2. Sasaran Pembelajaran ... 76
Bab 2 : Bahan Pembelajaran ... 77
2.1.Budidaya Tanaman Tembakau ... 77
2.2. Panen dan Pasca Panen ... 81
Bab 3 : Tugas-tugas Mahasiswa ... 86
Daftar Pustaka ... 87
Bagian Empat
Modul 1 : Tanaman Tebu Bab I : Pendahuluan ... 881.1. Latar Belakang ... 88
1.2. Ruang Lingkup ... 89
1.3. Sasaran Pembelajatan ... 89
Bab II : Bahan Pembelajaran ... 90
2.1. Morfologi Tanaman Tebu ... 90
2.2. Penanaman, Pemeliharaan, Fase Pertumbuhan Tanaman Tebu ... 91
2.3. Hama dan Penyakit Tanaman Tebu ... 101
Modul 2 : Panen dan Pengolahan Hasil
Bab I. Ruang Lingkup dan Sasaran Pembelajaran ... 104
1.1.Ruang Lingkup ... 104
1.2. Sasaran Pembelajaran ... 104
Bab 2 : Bahan Pembelajaran 2.1.Kriteria Panen ... 105
2.2. Pengolahan Hasil Panen ... 106
Bab 3 : Tugas-tugas Mahasiswa ... 108
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Proses belajar mengajar yang berbasis kompetensi tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna tanpa adanya berbagai penunjang, salah satu diantaranya adalah tersedianya buku ajar,. Buku ajar adalah salah satu bagian yang menunjang proses pembelajaran pada kurikulum yang berbasis kompetensi dan model belajar pada sistem pembelajaran SCL. Sistem ini diterapkan pada semua fakultas dalam lingkup Universitas Hasanuddin. Ketersediaan buku ajar pada setiap mata ajaran membantu proses belajar mengajar baik bagi pengajar,maupun bagi mahasiswa. Bagi pengajar ketersediaan buku ajar dapat membantu terlaksananya proses belajar mengajar secara effektif, efisien, dan interaktif, sehingga dapat memunculkan keterlibatan secara aktif mahasiswa, sehingga dapat diharapkan pengajar bukan hanya sebagai pengajar tapi menjadi seorang fasilitataor. Bagi mahasiswa ketersediaan bahan ajar dapat membantu dalam melakukan belajar secara mandiri ,bukan lagi bergantung penuh pada apa yang diberikan dari dosen ,tetapi dapat membangkitkan keinginan tahuaan lebih banyak sehingga merangsang danmemunculkan potensi yang dapat diaktualisasaikan secara maksimal.
Mata kuliah tanaman industeri merupakan mata pelajaran wajib bagi mahasiswa jurusan agroteknologi yang memilih agronomi dan menjurus pada bagian tanaman industeri sebagai pilihan dalam tugas akhir..Mata pelajaran banyak diminati mahasiswa terutama bagi mereka yang berkieinginan dalam melanjutkan karir dibidang perkrebunan dan industeri.Mata kuliah ini masih mempunyai peluang yang cukup besar untuk diminati mahasiswa, karena perkebuanan tanaman kapasdan serat alam lainnya, tembakau dan tebu setiap tahun membuka peluang untuk mahasiswa melakukan praktek penelitian dari bebagai
aspek tehnologi. Hal ini menunjukkan masalah dalam tanaman industeri masih memerlukan tenaga dalam berbagai teknologi, dalam usaha meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi.
Beberapa masalah yang dihadapi mahasiswa adalah informasi yang menyangkut perkembangan teknologi budidaya danmasalah perkebangan pengusahaan tanaman industeri baik yang berada pada pertanaman atau pada pasca panen , informasi ini dapat diperoleh dari diskusi yang berkembang dalam setiap tatap muka dengan panduan buku ajar yang telah dipersispkan. Buku ajar ini akan memuat penjelasan mengenai berbagai aspek terkait masalah budidaya, usaha pengembangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi tanaman industeri baik dari kantitas maupun kualitas produksi baik dalam pertnaman maupun dalam prossesing sebagai bagian bahan industeri.Bahan ajar ini diharapkan dapat menimbulkan minat mahasiswa untuk mencari dan membaca buku teks dan jurnal penelitian lain.
1.2 Mekanisme dan Rancangan Pembelajaran
Mekanisme pelaksanaan pembelajaran mata kuliah ini dalam bentuk pembelajaraikum dengan SCL (Tabel 1) yakni dilakukan kuliah secara interaktif, diskusi, presentasi dan praktikum dengan metode PBL. Kuliah interaktif dilakukan melalui LMS dimana mahasiswa dapat mengunduh dan mengunggah bahan ajar dan jawaban maupun melalui pertanyaan melalui LMS. Setipa waktu untuk setipa kegitan dinilai oleh pembelajar berdasarkan kriteria penilaian yang sudah disepakati pada kontrak perkuliahan
Tabel 1. Mekanisme dan Rancangan Pelaksanaan Bahan Ajar Tanaman Industri
Bentuk Pembelajaran (Metode SCL) Kompetensi Akhir Sesi Pembelajaran Indikator Penilaian Kuliah, diskusi kelompok, presentase
Menyusun presentasi oral dan poster yang memuat langkah-langkah proses :
• Mengetahui sistem budidaya berbagai jenis tanaman Industri (Kapas, rami Tembakau dan Tebu) serta permasalahan
Kelengkapan dan kejelasan isi serta kejelasan penguasaan model yang dipilih; Kerja sama tim pada
(collaborative learning), tutorial praktikum (Project Based Learning) dalam pengembangannya.
• Mampu menjelaskan persyaratan tumbuh dan sistem budidaya Tanaman Kapas.
• Mampu menjelaskan bagaimana sistem sistem pengelolaan tanaman kapas sampai siap menjadi benang untik dipintal
• Mampu menjelaskan persyaratan tumbuh dan sistem budidaya tanaman Tembakau serta menjelaskan sistem pengelolaan tembakau sampai siap digunakan.
• Mampu menjelaskan persyaratan tumbuh dan sistem budidaya tanaman Tebu serta pengelolaan tanaman tebu sampai siap diolah menjadi gula
saat presentasi. Kemuktahiran pustaka.
BAB II
TUJUAN DAN MANFAAT
2.1 Tujuan
Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar tertulis dan interaktif dalam bentuk audio visual dan quiz interaktif untuk Mata Kuliah Tanaman Industri (Kapas, rami, Tembakau dan Tebu) serta sistem budidaya dan pengembangannya yang dapat diunduh dan diunggah dari LMS (Learning mangement System), www.unhas.ac.id.
2.2 Manfaat
Kegiatan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk memahami prinsip dan konsep Mata Kuliah Tanaman Industri, dan meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam teknik budidaya Tanaman Industri. Kegiatan ini juga dapat memberi kemudahan bagi mahasiswa untuk mengaksers sumber belajar khususnya untuk Mata Kuliah Tanaman Industri khususnya Tanaman kapas, Rami, Tembakau dan Tebu. Bagi staff pengajar bahan ajar ini dapat menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.
TA
AN
BA
NAM
AG
MA
GIA
AN
AN
N KA
I
AP
PASS
BAGIAN SATU
MODUL 1 : TANAMAN KAPAS BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Tanaman kapas diduga berasal dari Asia, Afrika, Australia, dan Amerika. Tanaman kapas telah lama dikenal dan dibudidayakan sejak zaman prasejarah. Di India (di lembah Sungai Indus) telah dikenal sekitar 3000 tahun sebelum Masehi dan digunakan untuk bahan baku tekstil. Kapas juga telah digunakan di Asia Kecil, Ethiopia, dan Afrika Timur, bahkan di sekitar Asia Kecil (Timur Dekat) kapas telah dibudidayakan sejak tahun 7000 sebelum Masehi.
Kapas masuk ke Eropa melalui Spanyol, dibawa oleh bangsa Moor. Di Cina telah dikenal sejak abad ke-7 dan di Amerika telah digunakan oleh suku Aztek dan Inca. Di Amerika terutama di Peru dan Meksiko tanaman kapas sebagai bahan baku pakaian telah dikenal jauh sebelum bangsa Eropa menemukan Amerika.
Pengusahaan kapas yang intensif baru dimulai pada abad ke-16 setelah tanaman kapas berevolusi dari tanaman tahunan menjadi tanaman semusim dan netral terhadap fotoperiodisitas. Penanaman secara besarbesaran di Amerika dimulai oleh emigran Eropa pada awal tahun 1600-an, sedangkan introduksi G.barbadense dari Amerika ke Mesir terjadi pada abad ke-19. Pengembangan kapas tidak dapat dipisahkan dengan Revolusi Industri di Inggris, Perang Saudara Utara-Selatan di Amerika, dan perjuangan Mahatma Gandhi untuk Kemerdekaan India (dikenal dengan Swadesi).
Kapas yang dimasukkan ke Indonesia telah menyebar ke berbagai daerah dan menyesuaikan diri dengan keadaan iklim dan tanah serta tata cara pertanaman di daerah tersebut. Kapas-kapas tersebut kemudian menjadi varietas lokal dan mendapat nama bau
sesuai dengan daerah masing-masing. Misalnya di Bayan (Lombok Barat) dinamakan kapas Bayan, kapas di Demak Jawa Tengah dinamakan kapas Demak. kapas di Grobogan Jawa Tengah dinamakan kapas Grobogan, kapas di Palembang dinamakan kapas Hulu, dan lain sebagainya. Jenis-jenis kapas tersebut tidak dikembangkan lagi, kapas yang berkembang saat ini merupakan spesies Gossypium hirsutum yang banyak berasal dari Amerika dan India. 1.2 Ruang lingkup
1. Mengenal dan mengetahui tentang tanaman kapas sebagai tanaman penghasil serat dari buah dan sebagai tanaman industeri penghasil benang untuk industeri tekstil 2. Mengenal tanaman kapas berdasarkan morfologi dan sifat-sifatnya.
3. Mengenal tanaman kapas yang banyak diusahakan di Indonesia.
1.3 Sasaran Pembelajaran.
Setelah mengikuti kuliah dan diskusi tentang hal tersebut diatas, maka mahasiswa dapat memahami:
1. Memahami tentang tanaman kapas yang banyak diusakan pada berbagai negara, sebagai bahan industeri tekstil untuk bahan pakaian yang berasal dari serat alam dan dibutuhkan oleh penduduk dunia sebagai bahan pakaian dan keperluan lainnya.
2. Mengetahui dan memahami tentang morpologi dan sifat- sifat tanaman kapas sebgai tanaman penghasil serat alam
BAB II
BAHAN PEMBELAJARAN
2.1 Tanaman Kapas Sebagai Sumber Serat
Kapas adalah serat halus yang menyelubungi biji beberapa jenis Gossypium (biasa disebut "pohon"/tanaman kapas), tumbuhan 'semak' yang berasal dari daerah tropika dan subtropika. Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri tekstil. Serat itu dapat dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Produk tekstil dari serat kapas biasa disebut sebagai katun ( benang maupun kainnya ). Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat kotor (bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila lemak, protein, malam (lilin), dan lain-lain residu disingkirkan, sisanya adalah polimer selulosa murni dan alami. Selulosa ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas), dan daya serap yang unik namun disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun) bersifat menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala panas ( menyerap keringat ).
Tanaman kapas secara botanis disebut dengan Gossypium sp yang memiliki sekitar 39 spesies dan 4 spesies diantaranya yang dibudidayakan yaitu : Gossypium herbacium L, Gossypium arberium L, Gossypium hersutum L dan Gossypium barbadense; dengan klasifikasi sebagai berikut :
Devisi : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Sub Kelas : Dicotyledonae Ordo : Malvales Famili : Malvaceae
Genus : Gossypium Spesies : Gossypium sp
Tanaman kapas mempunyai akar tunggang yang panjang dan dalam, bahkan sering lebih panjang dari pada tanamannya sendiri. Dari akar tunggang akan tumbuh akar-akar cabang, dan terus bercabang hingga membentuk akar-akar serabut. Pada waktu berkecambah calon akar tunggang tumbuh terlebih dahulu masuk kedalam tanah diikuti oleh keping biji. Batang terdiri dari ruas dan buku, dari buku keluar cabang vegetatif dan generatif. Selama pertumbuhan yang aktif, cabang generatif terbentuk tiap tiga hari, jumlah cabang generatif bervariasi antara 15-20 tergantung pada varietas dan lingkungan (Dahrul, 2007). Kapas (Gossypium hersutum) merupakan salah satu komoditi perkebunan penghasil serat alam untuk bahan baku industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Kebutuhan bahan baku industri TPT terus meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk, dan saat ini kebutuhan tersebut telah mencapai sekitar 500 ribu ton serat kapas yang setara dengan 1,5 juta ton kapas berbiji pertahun. Namun perkembangan industri TPT tersebut belum didukung oleh kemampuan penyediaan bahan baku berupa serat kapas dalam negeri, sehingga sekitar 99,5% kebutuhan bahan baku tersebut masih dipenuhi dari impor. Menyadari hal tersebut pemerintah sejak tahun 1978 telah berupaya terus meningkatkan produksi kapas mulai dari pelaksanaan program IKR, P2WK, proyek OECF, swadaya petani hingga Program Percepatan (akselerasi kapas) yang dimulai tahun 2007 sampai saat ini. Keseluruhan program tersebut diatas dilaksanakan secara bermitra antara petani dengan perusahaan pengelola kapas. Sedangkan, pemerintah berperan sebagai fasilitator.
Pada awalnya areal pengembangan kapas terbatas hanya di beberapa Provinsi yaitu : Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT dan Sulsel. Mulai tahun 2007 telah dikembangkan pertanaman kapas di Bali. Berdasarkan pengalaman pengembangan kapas selama ini ternyata keberhasilan usaha tani kapas sangat ditentukan oleh beberapa faktor terutama : (i)
penggunaan benih unggul dan sarana produksi secara 5 tepat (mutu, jenis, waktu, jumlah dan tempat) (ii) penerapan standar teknis anjuran termasuk ketepatan waktu tanam dan pemeliharaan tanaman dimulai sejak tanam hingga masa panen.
Kapas (Gossypium hirsutum) merupakan tanaman perkebunan dan bukan merupakan tanaman asli dari Indonesia. Tanaman kapas dikembangkan untuk menyediakan bahan baku bagi industri tekstil. Walaupun industri tekstil Indonesia termasuk lima besar di dunia, serat kapas yang merupakan bahan baku industri tekstil belum diusahakan dalam skala perkebunan besar. Pengembangan kapas secara intensif dilakukan melalui program Intensifikasi Kapas Rakyat (IKR) yang dimulai tahun 1978/1979 dengan luas areal sekitar 22.000 ha. Daerah pengembangan kapas meliputi daerah dengan iklim kering, yaitu Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Dalam perkembangannya, areal kapas dalam program IKR terus menurun dari tahun ke tahun dan pada musim tanam tahun 2006 luas areal kapas hanya mencapai 7000 ha yang tersebar di Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat.
2.2 Morfologi Tanaman Kapas
Akar Tanaman
Tanaman kapas umumnya dikembangbiakkan dari biji. Pada waktu berkecambah calon akar tunggang tumbuh lebih dahulu masuk ke dalam tanah, diikuti oleh keping biji. Kapas mempunyai akar tunggang yang panjang dan dalam, tergantung pada umur, besarnya tanaman. aerasi, dan stuktur tanah. Akar tunggang sering lebih panjang daripada tanamannya sendiri.
Dari akar tunggang akan tumbuh akar-akar cabang. Akar cabang akan bercabang-cabang lagi, dan membentuk akar-akar rambut. Kadang-kadang membentuk lapisan akar dan sering akar-akar tersebut menembus permukaan tanah.
Batang
Tanaman kapas dalam keadaan normal tumbuh tegak. Batang berwama bijau tua, merah atau hijau bernoktah merah. Batang umumnya berbulu dan ada pula yang tidak, serta ada yang ujinya berbulu, pangkalnya tidak berbulu. Dari setiap ruas, tumbuh daun dan cabang pada ketiaknya. Panjang dan jumlah cabang berbeda-beda menurut jenis cabang dan dipengaruhi oleh lingkungannya.
Cabang vegetatif tumbuh pada batang pokok dekat leher akar dan biasanya tumbuh ke atas. Cabangcabang vegetatif baru dapat berbunga dan berbuah setelah tumbuh cabang generatif. Banyaknya cabang vegetative bervariasi. biasanya sekitar 3-4 cabang.
Cabang generatif tumbuh pada batang pokok atau pada cabang vegetatif. Cabang generatif letaknya mendatar dan langsung membentuk bunga. Semua bunga dan buah tumbuh pada cabang generatif. Cabangcabang buah yang pertama biasanya dihasilkan pada ketiak daun ke-6 sampai ke-8 ke atas pada batang pokok. Jumlah cabang generatif antara 8-20 cabang (Balittas, 1993).
Daun
Bentuk daun pertama sampai kelima belum sempuma. kadang-kadang agak bulat atau panjang. Setelah daun kelima bentuk daun semakin sempuma dan bentuknya sesuai dengan jenis kapas. Terdapat paling sedikit 5 bentuk daun, yaitu bentuk entire, okra, twisted. barbadense, dan normal (Gambar 2).
Bentuk daun normal mempunyai 5 sudut daun (lekukan), kadang-kadang lebih atau kurang. Bentuknya bundar seperti jantung, lekukan daun ada yang dalam dan ada pula yang dangkal. Wama daun hijau, hijau kemerahan, dan merah. Daun berbulu ada yang lebat panjang, lebat pendek. ada yang berbulu jarang, bahkan ada yang halus tidak berbulu. Di bagian bawah daun (pada tulang daun) terdapat nektar dan ada pula yang tidak mengandung nektar (Balittas, 1993).
Bunga
Tanaman kapas mulai berbunga sekitar 30-45 hari dan mulai mekar sekitar 45-60 hari tergantung jenis dan varietas kapas. Bunga mulai mekar pada pagi hari (jam 6-7) dan layu pada siang harinya. Bunga pertama mulai tumbuh pada batang di atas cabang vegetatif, berbentuk spiral dengan filotaksi 3/8 (Mauney,1984). Tiap cabang generatif dapat tumbuh 6-8 bunga. Kuncup bunga berbentuk piramid kecil ada pula yang melintir (frego) dan berwama hijau. Bagian-bagian bunga:
1. Tangkai bunga 5. Bakal buah
2. Daun kelopak tambahan 6. Tangkai kepala putik 3. Daun kelopak 7. Kepala putik
Tangkai bunga yang menghubungkan buah dan cabang tanaman. kadang-kadang panjang atau pendek sesuai ukuran buah. Daun kelopak tambahan, bentuknya segi tiga, bergaris berwama hijau, nampak seperti kelopak bunga. Melekat pada daun kelopak dan tangkai bunga, mengelilingi dan melindungi bagian-bagian bunga yang lunak. Besamya bermacam-macam tergantung jenisnya. Daun kelopak. tertutup oleh daun kelopak tambahan. Jumlah daun kelopak bunga sama dengan mahkota bunga, yaitu 5 dan melekat mengelilingi dasar mahkota bunga.
Mahkota bunga, jumlahnya 5 buah dan terletak di dalam kelopak bunga. Mahkota bunga mempunyai dasar sempit dan melebar pada bagian atas. Warna mahkota bunga bermacam-macam ada yang putih, kuning muda, gading, dan ada yang kuning kemerahan. Setelah terjadi persarian mahkota bunga berubah wama menjadi ungu kemerahan sampai biru kemerahan.
Dalam mahkota bunga terdapat ruangan yang mengandung tangkai dan kepala putik, bakal buah, dan benang sari yang berlekatan satu sama lain dan membentuk sebuah tabung benang sari yang mengurung tangkai putik sampai ujung (Darjanto dan Siti-Satifah, 1982). Benang sari berwama krem dan ada pula yang berwama kuning (Balittas, 1993).
Bila tidak ada gangguan yang berarti pembungaan kapas mempunyai patron yang tetap, munculnya bunga 1. ke-2. dan seterusnya sangat teratur. Misalnya bunga 1 (A1) muncul 1 bunga, sekitar 3 hari kemudian muncul bunga ke-2 (Bl). sekitar 3 hari kemudian muncul bunga ke-3 (C) dan pada hari tersebut muncu 12 bunga (Cl dan eJ) dan seterusnya (Gambar 4 menurut Lugard dalam Ditjenbun, 1978).
Buah
Bunga kapas mekar pada pagi hari (jam 6-7) dan kemudian kepala putik membuka (reseptit). Bagian tangkai yang menganduug tepung sari juga segera membuka dan
menghamburkan tepung sarinya. Tepung sari dapat melekat pada kepala putik dan mampu bertahan sampai 12 jam. Tepung sari berkecambah dalam waktu yang singkat dan mencapai bakal buah dalam waktu sekitar 12-30 jam setelah persarian (Stewart dalam Mauney, 1984). Umumnya bunga kapas terjadi open pollinated, out crossing 35%.
Setelah terjadi persarian, maka buah segera terbentuk. Dari bunga sampai menjadi buah masak sekitar 40-70 hari. Buah yang masak akan retak dan terbuka. Kebanyakan buah terdiri dari 3 ruang dan kadangkadang 4-5 ruang.
Bentuk dan besar serta warna buah berbeda-beda ada yang bulat telur, bulat, dan ada yang segi tiga. Berat buah bervariasi antara 3-6 gram/buah. Buah-buah yang besar umumnya terdapat pada buah-buah yang terdapat di bagian bawah. Variasi ukuran buah terjadi baik antara varietas yang berbeda, atau terjadi pada buah-buah yang letak buahnya berbeda. Warna buah ada hijau muda, hijau gelap berbintik-bintik yang mengandung kelenjar minyak. Jumlah buah yang terbentuk tidak seluruhnya dapat dipanen, umumnya buah yang dapat dipanen sekitar 10-20 buah/tanaman (Balittas, 1993).
Biji dan Serat
Di dalam kotak buah berisi serat dan biji secara teratur. Tiap ruang buah terdapat dua baris biji dan rata-rata setiap ruang biji terdiri dari 9 biji. Bentuk biji bulat telur, berwama cokelat kehitaman, panjangnya antara 6-12 mm, dengan berat 100 biji sekitar 6-17 gram.
Kulit luar biji ada yang berserat dan ada yang tidak. Serat melapisi kulit biji sangat pendek, ada yang tebal dan halus, atau tebal dan kasar, tipis serta halus. Serat melekat erat pada biji, berwama putih atau krem ada pula yang berwama keabu-abuan. Serat disebut "fuzz" (kabu-kabu).
Biji kapas tidak hanya dilapisi kabu-kabu, tetapi di luarnya terdapat lapisan serabut yang disebut serat kapas (kapas). Kulit biji menebal membentuk lapisan serat berderet pada
kulit bagian dalam. Pemanjangan serat berlangsung sekitar 13-15 hari. Pada waktu buah masak kulit buah retak dan kapasnya/seratnya menjadi kering dan siap dipungut. Bagian serat terpanjang terdapat pada puncak biji. Berat serat kapas sekitar 1/3 berat kapas berbiji. Panjang serat bervariasi tergantung pada jenis dan varietas kapas. Panjang serat yang dikembangkan di Indonesia sekitar 26-29 mm (Ditjenbun. 1977).
Fase Pertumbuhan Kapas
Tanaman kapas dapat digolongkan menjadi 3 golongan berdasarkan umur, yaitu kapas dalam (umur sekitar 170-180 hari), kapas tengahan/medium (umur sekitar 140-150 hari), dan kapas genjah (<130 hari). Kapas yang ditanam di Indonesia umumnya termasuk kapas berumur medium/tengahan. Pertumbuhan tanaman setiap kelompok berbeda, sebagai
gambaran pertumbuhan tanaman kapas berumur dalam, mulai benih sampai panen (Hadad dan Sitepu, 1973).
Untuk kapas berumur tengahan kapas dipanen antara 140-150 hari, sedangkan kapas berumur genjah sekitar 130 hari. Umur panen kapas dipengaruhi pula pembahan iklim, makin kering panenan makin cepat. Dari pengamatan di lapang, kapas tengahan dalam keadaan udara yang sangat kering bisa lebih cepat (130-140 hari selesai dipanen).
BAB III
TUGAS PADA MAHASISWA
1. Diskusikan dengan sesama mahasiswa tentang kebutuhan serat kapas untuk industeri tekstil di Indonesia.
2. Perhatikan dengan jelas tanaman kapas yang telah ditanam didalam pot atau yang sedang tumbuh dikebun percoban dan teliti bagian-bagian yang telah didiskusikan. 3. Latihan soal-soal
BAGIAN I
MODUL II : SYARAT TUMBUH TANAMAN KAPAS BAB I
SYARAT TUMBUH TANAMAN KAPAS
1.1 Ruang lingkup
1. Mengenal dan mengetahui tentang syarat tumbuh tanaman kapas dari kebutuhan iklim menyangkut suhu dan penyinaran.
2. Mengenal dan mengetahui tentang yang dikendaki tanaman kapas dari jenis tanah dan penyiapan hara tanaman.
1.2 Sasaran pembelajaran
Setelah mengikuti kuliah materi ini, maka mahasiswa telah memahami tentang:
1. Mengetahui dan memahami dengan jelas tipe iklim dan jenis tanah yang dikehendaki tanaman kapas dapat tumbuh dengan baik dan memberikan produksi optimal.
2. Mengetahui dan memahami lokasi yang dapat ditanamai kapas berdasarkan kebutuhan iklim dan tanah.
BAB II
BAHAN PEMBELAJARAN 2.1 Persyaratan Tanah dan Iklim Untuk Tanaman Kapas
2.1.1. Tanah
Walaupun kapas mungkin diusahakan pada macam-macam jenis tanah, untuk memperoleh hasil yang optimal kapas menghendaki tanah yang subur, drainasi baik dan daya pegang air tinggi. Ditinjau dari daya pegang air, tanah dengan tekstur lempung liat (silt loams) adalah yang terbaik untuk kapas karena kemampuannya untuk manahan air selama 2-3 minggu.
Tanah bertekstur pasir kurang sesuai untuk kapas karena kesuburan dan daya pegang airnya yang rendah. Untuk lahan tersebut perlu perbaikan kesuburan tanah (penambhan bahan organik), pengairan dan usaha-usaha konservasi air. Tanah berstektur liat menghendaki drainasi yang baik untuk menghindari genangan yang akan menurunkan kandungan oksigen tanah. Penyerapan hara dan air berkurang bila kadar oksigen dalam tanah kurang dari 10%.
Kapas menghendaki tanah sedikit asam sampai netral dengan pH optimal 5.5. tanah masam akan menimbulkan keracunan aluminium (Al), mangan (Mn) dan kekahatan molybdenun (Mo), Calcium (Ca) Magnesium (Mg).
Seperti tanaman lainnya, kapas juga menghendaki tanah yang tinggi kadar bahn organiknya; jika persyaratan-persyaratan tumbuh kapas terpenuhi, hasil kapas berkolerasi positif dengan kandungan bahan organik tanah. Selain itu bahan organik juga menjadi sumber makanan untuk mikro-organisma tanah (bakteri, jamur, algae) yang berperan dalam menghancurkan sisa-sisa insektisida atau herbisida yang terkumpul ditanah.
2.1.2 Hara Tanaman
Penyerapan N,P, dan K pada berbagai tingkat umur kapas dikemukakan oleh Olson dan Bledsoe (1942) seperti tertera pada tabel 2; dapat dilihat bahwa penyerapan hara terbanyak (lebih dari 80%) terjadi sejak pembentukan bunga sampai waktu pembentukan dan pemasakan buah (umur 35-120 hari). Hanya sedikit sekali yang diserap pada awal pertumbuhan kapas.
Tabel 2. Persentase penyerapan N,P, dan K pada berbagai tingkat umur tanaman.
Umur (minggu) N P K 0 – 3 4.4 2.5 3.9 3 – 5 12.8 7.81 3.9 5 – 9 43.3 34.0 34.7 9 – 16 39.5 54.0 47.5
Walaupun kebutuhan NPK pada awal pertumbuhan kapas kurang dari 20% tetapi perlu tersedia. Kekurangan N pada periode ini akan menghambat pertumbuhan dan mengurangi pembentukan kuncup bunga. Kekurangan P akan menghambat perkembangan akar sedangkan kekurangan K akan mengurangi vigor tanaman, mengurangi ketahanan kapas terhadap kekeringan dan penyakit. Jadi tertundanya pemupukan pada periode tersebut akan berpengaruh langsung pada produksi.
2.2. Persyaratan Iklim Untuk Tanaman Kapas
2.2.1 Iklim dan Kebutuhan Air
Semua proses biologi pada tanaman kapas dipengaruhi oleh suhu. Kapas menghendaki perbedaan suhu siang dan malam yang nyata untuk pertumbuhan yang optimum; suhu ini berkisar antara 25-35 C. Kapas akan berhenti tumbuh pada suhu kurang
dari 15 C atau lebih dari 40 C. Tiap stadium perkembangan kapas berbeda-beda suhu minimum, optimum dan maksimumnya.
Cara terbaik untuk mengatakan hubungan antara suhu dan perkembangan tanaman kapas adalah dengan satuan kapas atau”growing degree days” (GDD). Tiap tanaman memiliki akumulasi GDD yang berbeda-beda untuk mencapai stadium tertentu. Sevacharian dan El-Zik (1983) telah menghitung GDD untuk tiap fase perkembangan kapas (suhu dasar 15.3 C) sebagai berikut :
Tabel 1. Hubungan antara GDD dengan pertumbuhan kapas
Stadia pertumbuhan Total GDD
Tanaman - tumbuh 45 - 130 - kuncup pertama 480 - 530
- bunga pertama 740 - 1150 - buah pertama merekah 1690 - 2050 - daun gugur 2550 - 4600
Kapas sangat rentan terhadap cuaca yang berawan; selama 160 hari pertumbuhannya, kapas memerlukan 800-850 jam penyinaran matahari atau 5 jam per hari. Keaawanan lebih dari 50% atau penyinaran kurang dari 5 jam/hari atau kelembaban lebih dari 90% akan mengurangi pembentukan buah; jadi daerah tersebut tidak sesuai untuk kapas.
2.2.2 Pola Kebutuhan Air Tanaman Kapas
Kebutuhan air untuk kapas bervariasi dari musim ke musim, lokasi ke lokasi dan varietas ke varietas lain. Untuk memperoleh hasil yang optimal, kapas memerlikan 6000-9000 m3 air selama 140-150 hari pertumbuhannya; air tersebut berasal dari hujan, air tanah dan irigasi.
Jika seluruhnya bersal dari hujan jumlah ini setara dengan 600-900 mm hujan; jika dianggap 25-30% kehilangan air akibat penguapan, aliran permukaan dan lain-lain, maka kapas tadah hujan memerlukan 800-1100 mm hujan selama 4-5 bulan. Kapas tadah hujan kurang dari 500 mm atau lebih dari 1600 mm selama 4 bulan pertanaman kapas.
Pola kebutuhan air berbeda setiap stadia pertumbuhan kapas. Kebutuhan air selama 1-2 mm/hari samapai kapas membentuk kuncup bunga; kekeringan pada periode ini akan menghambat pertumbuhan mengurangi jumlah dan luas daun serta berkurangnya jumlah kuncup bunga. Kebutuhan air mulai meningkat setelah pembentukan kuncup bunga dan yang terbanyak (8-10 mm/hari) pada periode pembungaan dan pengisian buah. Pada periodeini kapas sangat rentan terhadap kekeringan karena akn menyebabkan keguguran bunga dan buah-buah muda.
Setelah buah pertama merekah, kebutuhan air kapas kembali berkurang, tetapi tetap perlu air. Kekeringan pada periode ini akan menurunkan kualirat serat. Jadi pengertian “kering waktu panen” harus diartikan tidak ada hujan tetapi tersedia air. Disinilah perlunya memilih tanah yang mampu memegang air dalam jangka agak lama.
Pola kebutuhan air tanaman kapas dan pola hujan disuatu wilayah harus dipertimbangkan untuk menentukan waktu tanam, waktu dan jumlah pemberian air serta strategi-strategi penyesuaian menghadapi penyimpangan hujan atau terbatasnya ketersediaan air.
Untuk memenuhi air 2 mm/hari, perlu tersedia 60 mm air (80 mm hujan) untuk memulai menanam kapas tadah hujan. Faktor-faktor seperti perkembangan tanaman, ketersedian air tanah dan keadaan cuaca (suhu,radiasi, hujan dan kelembaban) akan menentukan waktu dan selang waktu pemberian air dilahan beririgasi. Jika air tanah yang dapat digunakan 50 – 100 mm, pada stadium pembungaan perlu pengairan tiap 6-12 hari.
Pengairan dapat ditunda 1 hari atau lebih jika terdapat hujan 8 mm (atau kelipatan 8 mm); pengairan dipercepat 3 hari untuk 2 hari panas dengan suhu lebih dari 40 C.
BAB III
TUGAS PADA MAHASISWA
Setelah menerim akuliah dan diskusi maka mahasiswa ditugaskan :
1. Berdiskusi sesama mahasiswa tentang kebutuhan iklim dan air yang sesuai untuk pertumbuhan tanamn kapas sehingga dapat memberikan produksi yang optimal. 2. Berdiskusi tentang jenis tanah dan kebutuhan hara yang dikehendaki oleh tanaman
kapas sehingga dapat bertumbuh secara optimal. 3. Latihan soal-soal
MODUL III : SISTEM BUDIDAYA TANAMAN KAPAS
BAB I
RUANG LINGKUP DAN SASARAN PEMBELAJARAN
1.1 Ruang Lingkup
1. Mengenal dan memahami tentang budidaya tanaman kapas mulai dari persiapan lahan, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan (penyulaman, pemupukan, pengairan dan pengendalian hama/penyakit, panen dan pasca panen).
2. Memahami tentang paket teknologi penanaman antara tanaman kapas dan tanaman kedelai.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mengikuti materi ini maka mahasiswa dapat memahami :
1. Bagaimana mengusahakan tanaman kapas dengan sistem budidaya yang tepat sehingga memberikan kemungkinan pertumbuhan tanaman kapas dan memberikan produksi yang optimal.
BAB II
BAHAN PEMBELAJARAN
2.1 Budidaya Tanaman Kapas
2.1.1 Persiapan Lahan
Lokasi yang dipilih rata dan relatif dekat dengan sumber air dan tidak tergenang air, dan mudah diawasi. Lahan dibersihkan, diratakan, dibuat plot-plot dan bumbunan, dan saluran drainase air diatur dengan baik.
Pengolahan Tanah dilakukan dengan pencangkulan untuk pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya, serta untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit. Kemudian dibuat plot dengan ukuran 3 x 2 meter, dengan tinggi 30 cm.
Tanah digemburkan kembali yang gunanya untuk membalik tanah, kemudian diberi pupuk kandang (1 sak/plot) dan dolomit (2 kg/plot), kemudian balik kembali tanah tersebut. Lalu dibuat jarak tanam yaitu 80 x 40 cm atau 80 x 50 cm, lakukan pengairan atau pemberian air, dibuat bumbunan atau perbaikan saluran air.
2.1.2 Penanaman
Penanaman dilakukan dengan menggunakan tugal dengan kedalaman 1-3 cm. Kemudian benih dimasukkan ke dalam lubang tanam 2-3 benih. Sebelum dilakukan penanaman diberikan furadan dan fungisida masing-masing 20 gram/plot, diletakkan di sekitar lubang tanaman. Kemudian diberikan pula SP36 (90 gr/plot) dan KCl (60 gr/plot) sebagai pupuk dasar (pemupukan I). Pemupukan ini dilakukan karena KCL dan SP36 merupakan yang sulit larut, maka pupuk ini diberikan lebih awal.
2.1.3 Pemeliharaan a. Penyulaman
Benih kapas sudah tumbuh pada hari ketujuh setelah tanam, sehingga bila ada benih yang tidak tumbuh harus dilakukan penyulaman dengan benih yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan dibawah umur 10-15 hari setelah tanam, agar pertumbuhan tanaman bisa seragam karena agar mempermudah dalam proses perawatanya.
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan apabila gulma banyak tumbuh disekitar tanaman kapas. Penyiangan dilakukan berulang-ulang apabila tumbuh banyak gulma. Penyiangan dilakukan secara manual dengan menggunakan koret dan dicabut.
c. Pembubunan
Pembubunan dilakukan agar tanaman memiliki perakaran yang kuat dan tidak mudah roboh. d. Penjarangan
Pada umur 14 hari setelah tanam, biasanya dilakukan penjarangan terhadap tanaman yang melebihi kebutuhan awal. Karena pada saat itu tanaman belum terlalu tua dan perakaran masih dalam kondisi mudah untuk di lakukan penjarangan, dan karena pada umur tersebut adalah umur yang ideal untuk melakukan penyeleksian tanaman. Penjarangan dilakukan secara manual, yaitu dengan cara dicabut menggunakan tangan.
e. Pengairan
Kebutuhan akan air atau kelembaban untuk kapas ialah sejak awal penanaman sampai menjelang panen. Cara pengairanya dengan cara disiram di daerah tanaman.
f. Pemupukan II
Pemupukan kedua dilakukan pada usia 2 minggu dengan menggunakan pupuk UREA sebesar 180 gram/plot.
g. Pemupukan III
Pemupukan ketiga dilakukan pada usia 4 minggu dengan menggunakan pupuk UREA sebesar 180 gram/plot.
h. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang menyerang tanaman kapas ini berupa earias vittella, belalang, aphis dan emphoasca. Hama tersebut diatasi dengan melakukan penyemprotan menggunakan insektisida berupa Buldok dengan dosis 2cc/liter, Dupol dengan dosis 6cc/liter, dan menggunakan Decis 4cc/liter. Sedang penyakit yang menyerang adalah puru akar yang menyebabkan tanaman layu sementara dan akhirnya tanaman mati.
Hama yang menyerang tanaman kapas ini berupa earias vittella, belalang, aphis sp dan emphoasca. Earias vittella biasanya menyerang bagian batang, sedangkan aphis sp
menyerang bagian daun, yang menyebabkan daun menjadi keriput karena cairan dan mineral didalam daun diserap oleh aphis. Dan penyakit yang menyerang adalah puru akar yang menyebabkan tanaman layu sementara dan akhirnya tanaman mati. Serangan hama yang meledak tersebut dikarenakan faktor alam, dimana lingkungan menjadi sangat lembab. Selain itu jarak tanam yang sempit yakni 40 x 30 cm, juga dapat menyebabkan serangan hama tidak bisa berhenti karena cabang-cabang tanaman kapas saling bedesakan.
2.1.4 Panen
Pembuahan terjadi 30 jam setelah penyerbukan. Pada waktu buah (boll) masak, kulit buah retak dan kapasnya/seratnya menjadi kering dan siap dipanen. Bagian serat terpanjang terdapat pada pucuk biji. Panjang serat bervariasi tergantung jenis dan varietasnya. Panjang serat yang dikembangkan di Indonesia sekitar 26-29 mm. Keterbatasan air pada periode pemanjangan serat, akan mengurangi panjang serat. 1 boll kapas ± 3,5 – 4 gram. Bentuk biji bulat telur, berwarna cokelat kehitaman dan berat biji per 100 biji sekitar 6-17 gram tergantung varietas. Serat melekat erat pada biji berwarna putih yang disebut fuzz
(kabu-kabu). Biji kapas tidak hanya dilapisi kabu-kabu, tetapi diluarnya terdapat lapisan serabut yang disebut serat kapas (kapas). Kulit biji menebal membentuk lapisan serat berderet pada kulit bagian dalam. Cabang-cabang generatif akan menghasilkan kira-kira 50 kuncup bunga dan dalam keadaan normal hanya 35-40% yang menjadi buah.
2.1.5 Pasca Panen
Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri tekstil. Serat itu dapat dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Produk tekstil dari serat kapas biasa disebut sebagai katun (benang maupun kainnya). Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat kotor (bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila lemak, protein, malam (lilin), dan lain-lain residu disingkirkan, sisanya adalah polimer selulosa murni dan alami. Selulosa ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas), dan daya serap yang unik namun disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun) bersifat menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala panas (menyerap keringat) Serat kapas memiliki beberapa manfaat dan kegunaan antara lain sebagai bahan baku industri tekstil, benang, kain sebagai pakaian sehari hari dan sebagai bahan kosmetik dan medis yaitu sebagai perban atau lapisan pembalut luka dan sebagai bahan popok bayi.
2.2 Paket Teknologi Kapas dan Kedelai
2.2.1 Benih dan Varietas
Vareitas kapas yang ditanam dapat dipilih : Kanesia 3, kanesia 4 dan Kanesia 5, sedang untuk kedelai digunakan varietas wilis. Kebutuhan benih kapas 6 – 8 kg benih tanpa kabu-kabu (delinted seed) per hektar dan benih kedelai 35 - 40 kg per hektar. Legin atau Rhizogen dapat diberikan pada daerah yang belum biasa ditanami kedelai. Jika pengairan memungkinkan, sebaiknya sesudah kedelai dipanen, ditanam kacang hijau varietas Betet,
Walet atau kacang tanah varietas kelinci; kebutuhan benih 25 kg per hektar untuk kacang hijau dan 40 kg/ha untuk kacang tanah.
2.2.2 Penyiapan Lahan
Penanaman kapas bersama kedelai setelah padi lahan sawah tidak memerlukan pengolahan tanah. Perlu dibuat saluran-saluran drainasi sedalam 20 cm dan lebar 25 cm, dengan jarak 1,5 – 2,0 m karena benih kapas dan kedelai tidak tahan terhadap genangan; untuk lahan-lahan liat, saluran drinasi dibuat agak dalam dan lebih lebar.
Jerami padi dibabat untuk dijadikan penutup tanah (mulsa) guna memelihara kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan gulma; tebal penutup mulsa jerami 3 – 5 cm. Untuk penanaman kacang hijau dan kacang tanah sesudah kedelai dilakukan pengolahan tanah ringan.
2.2.3 Tanam dan Pola Tanam
Benih kapas dan kedelai ditanam bersama-sama di bedengan-bedengan yang terbentuk akibat pembuatan saluran-saluran drainasi; penanaman dilakukan 5 – 7 hari setelah panen padi dengan tata tanam dan pola pergiliran tanaman seperti Gambar 1 dan 2. Selain kapas dan kedelai perlu ditanam 2.000 tanaman jagung perhektar untuk perangkap hama ulat bunga/buah kapas (H.armigera).
[ ] xx ooo [ ] xx ooo [ ] xx = kapas, 150 cm x 30 cm, 2 tan/lb [ ] xx ooo [ ] xx ooo [ ] (44.000 tan./ha)
[ ] xx ooo [ ] xx ooo [ ] ooo = kedelai, 25cm x 15cm, 2 tan/lb Saluran kapas (350.000 tan./ha)
Drainasi/ kedelai [ ] = saluran drainasi, Irigasi Lebar 20 cm, dalam 25 cm
Gambar 1. Tata tanam kapas dan kedelai dilahan sawah
.---.---.---.---.---.---.---.---.---.---.---. 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Padi kedelai k.hijau
Atau k.tanah kapas
BAB III
TUGAS PADA MAHASISWA Setelah mengikuti materi ini maka mahasiswa diharapkan :
1. Mendiskusikan bagaimana mengusahakan tanaman kapas dengan sistem budidaya yang tepat sehingga memberikan kemungkinan pertumbuhan tanaman kapas dan memberikan produksi yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Balitjas. 1990a. Uji Delapan Varietas Jagung sebagai Perangkap Penggerek buah Kapas
H.armigera Hbn. Laporan bulan Pebruari 1990. Balittas. Malang. 7 h
---. 1990b. Program Operasi Khusus Kapas – Palawija Tahun 1990/1991 di Dati II Sikka Flores NTT. Laporan bulan Nopember 1990. Balitjas. Malang. 14 h Dahrul, 2007. Budidaya Kapas. http// budidaya-tanaman-kapas-1286768724.htm. Diakses Pada tanggal 22 April 2011.
Eko, 2010. Laporan Budidaya Kaps. http// laporan-budidaya-kapas.html. Diakses Pada tanggal 22 April 2011.
Estu, 2009. Budidaya Tanaman Kapas. http// budidaya-tanaman-kapas.html. Diakses Pada tanggal 22 April 2011. Wikipedia, 2010. http//Wikipedia/Kapas.htm. Diakses Pada tanggal 22 April 2011.
AAK. 1983. Bertanam kapas. Kanisius. 80 hal.
ARS-USDA. 1968. Geneticts and cytology of cotton 1956-67. Report of Cooperative Research Under Southern
Regional Project S.1. Southern Cooperative, Series Bulletin 139. p. 84.
Balittas. 1993. Koleksi, konservasi, evaluasi, dan utilisasi plasma nutfah kapas. Laporan Hasil Penelitian ARMP 1992/1993. Balittas, Malang. p.39.
Darjanto dan Siti-Satifah. 1982. Biologi bunga dan teknik penyerbukan silang buatan. PT Gramedia Jakarta. 143 hal.
Ditjenbun. 1977. Varietas dan sifat-sifat serta kwalitas kapas di Indonesia. Ditjenbun, Deptan. 1977. 38 hal.
Ditjenbun. 1978. Pedoman bercocok tanam kapas. Direktorat Jenderal Perkebunan, Deptan. p. 106.
Endrizzi, J.E., E.L. Turcotte, and R.J. Kohel. 1984. Qualitative genetics, cytology, and cytogenetics. ARS- USDA and Texas A & M University College Station, Texas. Cotton. American Society of Agronomy Inc. Publisher Madison, Wisconsin, USA: 81-129.
Hadad, E.A clan D. Sitepu. 1973. Kemungkinan pertanaman kapas di Propinsi Sumatera Selatan. Pemberitaan LPTI No. 15-16 Sept-Des. 1973: 48-64.
Heyne, K. 1988. Tumbuhan berguna Indonesia. Ditetjemahkan clan diterbitkan oleh Badan Litbang Kehutanan, Dephut Jakarta. 1851 hal.
Hill, J.B., L.O. Overholts, H.W. Poopp, and A.R. Grove Jr. 1960. Botany.
McGraw-Hill Book Company. Inc. New York, Toronto London. P. 571. Fryxell, PA. 1984. Taxonomy and germplasm resources ARS-USDA and Texas A & M University College Station, Texas. Cotton. Number 24 in series Agronomy. American Society of Agronomy Inc. Publishers. Madison, Wisconsin, USA: 27-57.
Lee, JA. 1984. Cotton as a world crop. ARS-USDA and North Carolina State University, Releigh, North Carolina.Cotton Number 24 in series Agronomy. American Society of Agronomy Inc. Publisher, Madison, Wisconsin USA: 1-25. Mauney, lR. 1984. Anatomy and morfology of cultivated cottons. ARS-USDA Phoenix. Arizona. "Cotton" Number 24 in series Agronomy. American Society of Agronomy. Publisher Madison, Wisconsin USA: 59-79.
Poehlman, J.M 1977. Breeding field crops. University of Missouri. The Avi Publishing Company, Inc. Mestport, Connecticut p. 428.
Rusim-Mardjono, M Sahid, H. Sudarmo, Suprijono, dan Sudamadji. 2000. Uji multilokasi galur-galur kapas berumur genjah. Laporan Penelitian MTT 199912000. Balittas Malang.
T
B
TAN
BA
NA
AGI
AMA
IAN
AN
N I
N R
II
RAM
MI
BAGIAN DUA TANAMAN RAMI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman Rami pertama kali ditemukan oleh George E. Rumphius pada tahun1660, seorang peneliti botani dari Belanda di daerah India Timur dan diberi nama Ramium majus. Sebenarnya tanaman ini sudah dikenal manusia kira-kira 200 tahun sebelum masehi. Tanaman ini diduga juga berasal dari Cina bagian tengah dan Barat dan sampai sekarang tanaman ini berkembang baik di Negara tersebut.
Tahun 1737 tanaman tersebut dideskripsi dalam Hortus Cliffortianus oleh Carl Yon Linne (Linnaeus) menjadi Boehmeria Nivea. Nama Boehmeria diberikan pertama kali oleh Nicolaus Josephus Jacquin seorang professor kimia dan botani di Vienna, dengan mengambil nama seorang ahli botani Jerman yang berjasa dalam mengembangkan tanaman rami di Eropa untuk bahan pakaian yaitu George Rudolph Boehmer (Bally dalam Dempsey, 1975).
Tanaman rami merupakan salah satu tanaman penghasil serat alam yang dapat menjadi sumber bahan baku produk tekstil. Serat yang diambil dapat bersumber dari batang kemudian diolah dengan mesin dekortikator sehingga menghasilkan serat yang kuat dan panjang, hasilnya dapat berupa pintalan benang atau dapat dicampur dengan serat lain seperti kapas.
Tanaman rami termasuk dalam stingless netlle (sejenis daun gatal) dalam keluarga
Urticaceae dan ordo Urticales, yang ada di daerah tropika ada sekitar 40 genera dan 500-an
spesies. Rami merupakan spesies yang paling penting secara ekonomi, karena memiliki serat yang baik untuk diperdagangkan. Ada dua golongan rami yang secara komersial diusahakan yaitu rami hijau ( Boehmeria nivea var.tenaccisima) dan rami putih ( Boehmeria nivea
nar.proper). Ciri khas tanaman rami putih adalah pada daun bagian bawah berwarna putih
keperakan yang sangat kontras, sedangkan rami hijau warna putih keperakannya agak kurang jelas.
1.2 Ruang Lingkup
2. Mengenal tanaman rami berdasarkan morfologi dan sifat-sifatnya. 1.3 Sasaran Pembelajaran.
Setelah mengikuti kuliah dan diskusi tentang hal tersebut diatas, maka mahasiswa dapat memahami:
1. Memahami tentang tanaman rami yang banyak diusakan pada berbagai negara, sebagai bahan industri tekstil untuk bahan pakaian yang berasal dari serat alam dan dibutuhkan oleh penduduk dunia sebagai bahan pakaian dan keperluan lainnya.
2. Mengetahui dan memahami tentang morpologi dan sifat- sifat tanaman rami sebagai bahan industri tekstil.
BAB II
BAHAN PEMBELAJARAN 2.1 Sistematika Botani Tanaman Rami
Tanaman Rami dikenal sebagai tanaman serat nabati yang menghasilkan serat dari kulit kayu merupakan rumpun dari kelompok tanaman daun gatal ( netpe ), dengan klasifikasi klon rami dalam sistematika botaninya sebagai berikut :
Divisio : Magnoliophyta Classis : Magnoliosida Subclassis : Hammamelidae Ordo : Urticales Familia : Urticaceae Genus : Boehmiria Species : Boehmeria nivea
2.2 Morfologi Tanaman Rami
Tanaman rami dapat dikenal dengan memperhatikan ciri-ciri botani yang dimiliki, seperti batang, daun, akar ,biji, bunga.dan sistem perakaran.
A. Batang
Tanaman rami merupakan tanaman yang berbentuk semak, berumpun banyak, batang berwarna hijau muda sampai tua. Bentuk batang yang tinggi serta ramping sampai mencapai ketinggian 2 sampai 3 meter, diameter batang berkisar antara 8-20 mm. Akan tetapi kualitas pertumbuhan masih tetap tergantung pada kondisi pertanaman. Batang biasanya akan bercabang apabila sebagian batang terpotong / terpangkas karena gangguan hama /penyakit atau gangguan mekanis. Pertumbuhan cabang pada batang ini tidak dikehendaki, karena serat rami diambil dari kulit batangnya, oleh karena itu pertumbuhan cabang pada batang akan menurunkan produksinya dan kualitas. Produktivitas serat rami tergantung dari tinggi dan diameter batang, tebal tipisnya kulit serta rendemen serat (kandungan serat per batang). Batang rami dipanen setiap dua bulan sekali sehingga dalam setahun dapat dilakukan pemanenan 5-6 kali
Batang rami berbulu halus hingga kasar, berwarna hijau muda sampai hijau tua yang berubah menjadi coklat dari bagian bawah kebagian atas sesuai umur tanaman, yang pada akhirnya berubah menjadi hitam pada saat tanaman menjadi tua atau mati.
Batang muda berongga dan bergabus apabila sudah berubah menjadi tua. Ciri –ciri tanaman yang berbatang tebal dan tidak berongga bila dipijit batangnya, maka akan terasa sulit pecah dan perlu tenaga banyak. Sebaliknya yang berbatang tipis serta berongga besar akan mudah pecah sehingga sering di pertanaman rami mudah rebah bila ada angin kencang. . Umur panen serat yang tepat adalah dengan cirri-ciri apabila seperempat hingga sebagian batang bawah berwarna coklat. Bila dipenen terlalu muda (batang masih sangat hijau) maka secara fisiologis seratnya belum matang, serat mudah putus dan volume panen belum optimal. Demikian pula apabila dipanen terlambat (lewat matang) produksi serat akan menurun, karena batangnya banyak yang mati/kering dan sulit didekortikasi, serta kualitas seratnya sangat jelek, hitam dan mudah patah/putus karena terlalu tua.
B. Daun
Daun tanaman rami memiliki karateristik tersendiri, berikutnya menyerupai jantung dan bagian sisinya bergerigi halus, panjang daun berkisar 7,5-20 cm dan lebar 5-15 cm dan kelihatan bekerut. Dari hasil evolus klon, pada umumnya rami bertipe daun lebar banyak ditanam di dataran tinggi, sedang yang berdaun sempit banyak ditanam di dataran rendah, walaupun demikian, besar kecilnya daun juga masih dipengaruhi oleh tempat tumbuh terutama kesuburan tanah.
Permukaan daun bagian atas berbulu halus hingga kasar, berwarna hijau muda sampai hijau tua, sedangkan permukaan daun bagian bawah berwarna putih keperakan, ini dikarenakan adanya rambut-rambut panjang berwarna perak yang saling bertumpuk membentuk anyaman seperti karpet. Pinggir daun bergerigi lancip hingga tumpul berwarna seperti warna laminanya. Tulang daun berwarna hijau muda sampai hijau tua atau merah muda sampai merah tua. Tangkai daun (petiole) berwarna hijau muda hingga hijau tua serta merah muda hingga merah tua. Panjang petiole sekitar 3 -12 cm, ada yang lebih pendek dari panjang daun, tetapi ada yang hampir sama dengan panjang daun, tergantung dari macam klonnya. Sudut daun(daun-daun bagian atas) berkisar antara 50o-120o (agak tegak s.d. terkulai).
Berdasarkan hasil karakterisasi ukuran daun, tanaman rami dikelompokkan ke dalam dua tipe, yakni 1) tipe rami berdaun sempit (contoh : klon Pujon 10, Jawa Timur 3-0), 2) tipe rami berdaun lebar (contoh klon : Bandung A, Pujon 301, Pujon 302). Tipe rami ini diduga ada kaitannya dengan daya adaptasi tanaman terhadap tinggi tempat (dataran tinggi, sedang dan rendah). Dari hasil evaluasi klon, ternyata pada umumnya rami bertipe daun lebar tidak cocok untuk dataran rendah, dan banyak dari klon-klon yang cocok di dataran rendah adalah
dari tipe rami berdaun sempit. Kenyataan tersebut sering juga berkaitan dengan tipe bunga rami. Tipe daun (besar, kecil) ini adalah berdasarkan penampakan yang tetap, bukan berdasarkan ukuran panjang-lebar daun sebab bila didasarkan pada ukuran luas daun, tipe-tipe dari klon-klon tertentu akan berubah-ubah tergantung dari tingkat kesuburan tanahnya. Tetapi tipe rami berdasarkan besar kecilnya daun di sini akan tetap walaupun kesuburan tanaman seperti apapun. Sebagai contoh, untuk tipe rami berdaun sempit seperti pada Pujon 10, Pujon 12, Jawa Timur 3-0, Seikiseishin, sedangkan contoh tipe rami berdaun lebar adalah Pujon 301, Pujon 302, Bandung A. Tipe-tipe rami tersebut akan tetap sebagai tipe itu walaupun pertumbuhannya jelek ataupun subur dimana perunbahan bentuk luas daunnya sangat nyata. Tipe rami berdaun sempit dan berdaun lebar seperti Gambar 5a dan 5b.
Daun tanaman rami memiliki berat kira-kira 40% dari jumlah berat hijauan, daun rami memiliki kandungan beberapa zat cukup baik untuk makanan ternak. Sebagai contoh apabila dihasilkan 100 ton tanaman hijau/ha/tahun, ini berarti bahwa selain serat yang dihasilkan akan diperoleh 40 ton hijauan yang dapat dikonsumsi 50-60 domba/kambing dan juga dapat menggantikan sebanyak 25% makanan penguat berprotein tinggi untuk 10-12 ekor sapi.
Pertumbuhan tanaman pada tanah yang subur, maka daunnya akan besar- besar, sebaliknya bila ditanam pada tanah yang kurang subur, maka ukuran daunnya menjadi sempit, dan itu tidak akan stabil. Tetapi tipe rami berdasarkan besar kecilnya daun di sini akan tetap walaupun kesuburan berbeda.
Tabel 1. Kandungan zat pada daun rami No. Daun Rami Kering Kandungan (%) 1 Natrium (N) 2,94 2 Karbon (C) 27,61 3 Phospor (P) 0,3 4 Kalium (K) 2,2 5 Magnesium (Mg) 0,45 6 Kuprum (Cu) 7,95 7 Zinkum (Zn) 10,68 8 Sulfur (S) 0,19 C. Bunga
Tanaman rami mempunyai bunga berumah satu atau disebut tanaman dikotil, pada beberapa varietas bunganya bewarna putih kehijauan dan ada yang bewarna kekuning-kuningan, dan umumnya berubah menjadi warna coklat pada umur tua. Pada klon-klon tertentu bunga betina dan bunga jantan terdapat pada satu batang, biasanya bunga jantan muncul lebih dahulu dibanding bunga betina, dan pada perumbuhan selanjutnya bunga jantan selalu terletak pada ruas batang bawah dan ruas atas ditempati bunga betina sampai pada akhirnya ke pucuk tanaman.
Bunga betina majemuk bertingkat berbongkol-bongkol keluar dari ketiak daun sekitar 1-3 tangkai utama, dimana masing-masing tangkai bercabang dan beranting banyak. Pada ujung rantingnya terdapat sekumpulan bunga betina dalam bongkol mirip buah rambutan. Dalam satu bongkol terdapat banyak sekali bunga betina yang kecil-kecil. Warna bunganya hijau, merah, merah muda, coklat, kuning, dan lain-lain tergantung klonnya.
Individu bunga betina yang sangat kecil berbentuk tempolong dan berbulu halus pada sisi-sisinya. Bunga tidak dilengkapi dengan mahkota bunga sebagaimana bunga lengkap. , Struktur bunga yang lengkap (normal) terdiri dari kelopak bunga (calyx), mahkota bunga (corolla), benang sari (stamen) dan putik (pistile). Apabila salah satu atau lebih dari bagian-bagian bunga tersebut tidak ada, maka bunga tersebut disebut bunga tidak lengkap.
Bunga betina muncul dari ketiak daun bersamaan dengan mekarnya pucuk daun. Sekitar 4-7 hari kenudian mulai ada yang mekar dan siap untuk dibuahi (Gambar 6a dan 6b). Ciri-ciri bunga betina mekar ditandai dengan memanjangnya (menjulur) putik yang berwarna putih bening dari ujung bunga yang panjangnya sekitar 0,5-1 mm tergantung klonnya. Tangkai putik yang berfungsi sebagai tabung putik juga berbulu sebagaimana pada bunga (Gambar 7 ).
Mekarnya bunga betina tidak bersamaan walaupun dalam satu kelompok (bongkol), tetapi bertahap tidak beraturan, artinya mekarnya bunga tidak dimuali dari bunga yang paling dulu muncul (bagian bawah) tetapi bias terjadi bunga yang pertama muncul mekarnya biasa bersamaan dengan bunga yang ada di puncak tanaman.
Bunga betina yang telah dibuahi akan tumbuh menjadi buah yang semakin membesar dan akan kelihatan matang (tua) jika berwarna coklat tua sampai hitam, kelihatan kering, dan mudah sekali rontok. Ukuran kelompok bunga betina (bongkol) ada yang besar dan ada yang kecil, pada satu tanaman ada yang berjumlah banyak dan ada yang sedikit tergantung klonnya. Besar kecilnya dan banyak sedikitnya bunga/buah diduga ada kaitannya dengan daya adaptasi terhadap tinggi tempat. Berdasarkan hal tersebut tanaman rami dikelompokkan menjadi tipe rami berbunga besar, berbunga kecil serta berbunga banyak dan berbunga sedikit, dengan jumlah kombinasi tipe rami seperti di bawah ini :
Tabel 2. Beberapa tipe rami berdasarkan kombinasi ukuran dan jumlah bunga/buah Ukuran bunga/jumlah bunga Banyak (B) Sedikit (S)
Besar (Bs) (Bs) (B) (Bs) (S)
Kecil (K) (K) (B) (K) (S)
Bunga jantan majemuk bertingkat dengan bunga individunya berbentuk bulat berwarna hijau muda sampai hijau, pada ujungnya membentuk tonjolan (sudut) empat buah hingga membentuk bangun seperti buah jambu air. Bunga memiliki empat tangkai sari dengan kepala sari masing-masing sepasang kantong sari. Bunga muncul bersamaan dengan mekarnya daun sebagai mana bunga betina. Setelah matang akan pecah menghamburkan tepung sari dari kantong-kantong sari (Gambar 8).
Bunga jantan mulai mekar setelah matahari terbit hingga sore hari, paling aktif sekitar pagi hingga tengah hari serta banyak sinar matahari. Ciri-cirinya adalah bunga jantan yang sudah besar berwarna lebih mengkilap, akan membelah/pecah dengan spontan menjadi empat kelopak berbentuk seperti bintang (biasanya diiringi suara halus), beberapa saat kemudian
tangkai sari dan kantong sari yang empat buah memanjang secara spontan diikuti oleh pecahnya kantong sari dan menghamburkan beribu-ribu tepung sari.
D. Sistem Perakaran
Sistem perakaran tanaman rami adalah perakaran dimorphie, karena pada akar berfungsi mengambil nutrisi yang tumbuh vertical sedalam 20-30 cm, dan juga rizoma (rimpang) sebagai alat untuk meperbanyak diri dan juga terdapat umbi sebagai tempat cadangan makanan tumbuh vertical sedalam 10-20 cm.
Rimpang (rizoma) bercabang, beruas-ruas dan berakar rambut juga, tumbuh mendatar dengan ujung mencuat ke permukaan tanah dan akan tumbuh menjadi tunas anakan baru. Diameter rizoma bisa mencapai 2 cm bahkan lebih tergantung dari umur tanaman dan umur rizoma, dengan panjang bisa mencapai 50 cm bahkan lebih sehingga jangkauan penyebaran anakan dalam satu rumpunnya bisa lebih luas. Jumlah rizoma per rumpun bias mencapai 10 buah bahkan lebih tergantung dari umur tanaman. Rizoma yang beruas-ruas memiliki banyak mata tunas yang dapat tumbuh menjadi tunas anakan baru sebagai system perbanyakan tanaman. Kelebihan ini dimanfaatkan oleh petani sebagai cara yang paling mudah untuk perbanyakan tanaman. (Gambar 9 ).
Disamping mempunya rhizome terdapat juga akar yang berfungsi sebagai cadangan makanan berupa umbi. Bentuknya seperti ubi kayu, tumbuhnya mendatar dan diameter mencapai 3 cm. Berdasarkan perkembangan rizoma maka dapat ditentukan umur ekonomis dari tanaman rami, yaitu berkisar 5-15 tahun bahkan bias lebih tergantung dari pemeliharaan yang dilakukan(Gambar 10).
BAB III
TUGAS PADA MAHASISWA
Setelah mengikuti kuliah dan diskusi tentang hal tersebut diatas diharapkan agar mahasiswa :
1. Mendiskusikan tentang tanaman rami yang banyak diusakan pada berbagai negara, sebagai bahan industri tekstil untuk bahan pakaian yang berasal dari serat alam dan dibutuhkan oleh penduduk dunia sebagai bahan pakaian dan keperluan lainnya.
2. Mendiskusikan dan memahami tentang morpologi dan sifat- sifat tanaman rami sebagai bahan industri tekstil.
3. Latihan soal-soal
MODUL II : SYARAT TUMBUH TANAMAN RAMI BAB I
RUANG LINGKUP DAN SASARAN PEMBELAJARAN
1.1 Ruang Lingkup
2. Mengenal tanaman rami sebagai tanaman serat batang
3. Mengenal dan mengetahui tentang syarat tumbuh tanaman rami 1.2 Sasaran Pembelajaran.
Setelah mengikuti kuliah dan diskusi tentang hal tersebut diatas, maka mahasiswa dapat memahami:
1. Memahami tentang syarat tumbuh tanaman rami
2. Mengetahui dan memahami tentang morpologi dan sifat- sifat tanaman rami sebagai bahan industri tekstil.
BAB II
BAHAN PEMBELAJARAN 2.1 Iklim
Tanaman rami akan tumbuh dalam berbagai kondisi iklim yang sesuai/cocok, yaitu mulai pada ketinggian 10 – 1500 m diatas permuakaan laut atau dengan kata lain dapat beradaptasi secara meluas. Pada saat ini tanaman rami banyak diusahakan pada ketinggian dibawah 1000 m dari permukaan laut, walaupun demikian beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketinggian tempat mempengaruhi produksi serat secara umum. Beberapa penelitian menunjukkan tanaman rami dapat tumbuh baik pada ketinggian 350-1200 m diatas permukaan laut, karena pada ketinggian tersebut, masa vegetatif lebih lama dan pembungaan terlambat.
Tanaman rami memerlukan ketersediaan air sepanjang tahun sehingga daerah yang cocok untuk pertanaman rami adalah daerah dengan tipe iklim A dan B menurut klarifikasi Oldeman. , Sebaiknya rami dikembangkan di daerah dengan klarifikasi curah hujan tipe B dan C menurut Schmidt dan Ferguson (1951), yakni daerah dengan bulan basah 6 sampai 9 bulan dengan bulan kering kurang dari 3-4 bulan atau pada daerah yang mempunyai curah hujan 500- 2.500 mm/tahun dan tersebar sepanjang tahun.
Suhu udara yang dikehendaki tanaman rami agak seragam selama pertumbuhannya. Menurut Dempsey (1963), tanaman rami membutuhkan suhu udara yang optimal antara 24 °C sampai dengan 28°C. Pada suhu 23°C sampai dengan 29,7 °C pertumbuhan tanaman rami di Cina cukup baik .
2.2 Tanah
Untuk mendapatkan produksi yang tinggi pada umumnya tanaman memerlukan tanah yang subur yang bertekstur ringan ataupun tanah liat berpasir dengan pH berkisar 4,8-5,6, sedangkan pada tanah mineral yang kaya zat hara pH yang cocok berkisar 5,6-6,4. Tanah yang subur yang mengandung bahan organik dan kandungan Nitrogen dan Kalium sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil dan memperbaiki kualitas serat, sedangkan fosfor dibutuhkan pada awal pertumbuahan.
Pada tanah-tanah yang tergenang, tanaman rami tidak dapat tumbuh dengan baik karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan genangan air, sehingga apabila tanaman ini mendapat genangan air yang terus menerus akan mengakibatkan kematian, untuk itu
diperlukan drainase yang baik sehingga tidak terjadi genangan atau dapat diusahakan pada daerah-daerah yang berlereng sehingga drainase dapat berjalan dengan baik.
BAB III
TUGAS PADA MAHASISWA
Setelah mengikuti kuliah dan diskusi tentang hal tersebut diatas diharapkan agar mahasiswa :
1. Mendiskusikan tentang tanaman rami yang banyak diusakan pada berbagai negara, sebagai bahan industri tekstil untuk bahan pakaian yang berasal dari serat alam dan dibutuhkan oleh penduduk dunia sebagai bahan pakaian dan keperluan lainnya.
2. Mendiskusikan dan memahami tentang morpologi dan sifat- sifat tanaman rami sebagai bahan industri tekstil.
3. Latihan soal-soal
MODUL III : TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN RAMI BAB I
RUANG LINGKUP DAN SASARAN PEMBELAJARAN 1.1 Ruang Lingkup
2. Memahami dengan jelas tentang cara-cara yang perlu dilakukan dalam sistem budidaya tanaman rami untuk memberikan pertumbuhan yang optimal.
3. Memahami dengan jelas tentang bebagai perlakuan yang perlu diberikan dalam pembudidayaan tanaman kapas.
1.2 Sasaran Pembelajaran
Setelah mengikuti kuliah ini, maka mahasiswa dapat mendiskusikan masalah:
1. Sistem budidaya yang harus dilakukan dalam usaha memberi pertumbuhan yang optimal pada usaha budidaya tanaman Rami
2. Usaha yang perlu dipikirkantentang bagaimana usaha –usah yang perlu diperbaiki dan dikelolah dengan baik dalam usaha pengembangan tanaman rami dibeberapa daerah dalam usaha memenuhi kebutuhan serai di Indonesia.
BAB II
BAHAN PEMBELAJARAN 2.1 Persiapan Tanam
Tanaman rami merupakan tanaman tahunan sehingga dapat dipangkas/dipanen 4- 6 kali Tanaman ini dapat diusahakan baik secara tunggal ataupun secara campuran atau tumpang sari dengan tanaman palawija seperti kacang-kacangan.
Untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi tanaman rami secara optimal maka diperlukan beberapa teknik-teknik budidaya sebagai berikut :
A. Bahan Tanaman
Tanaman rami dapat diperbanyak dengan menggunakan berbagai cara yaitu :
1) Biji : Bahan tanaman ini diambil dari biji sehingga harus dilakukan pengecambahan terlebih dahulu, namun perbanyakan tanaman dengan biji jarang dilakukan, karena memerlukan waktu lama dan sulit dalam pelaksanaannya.
2) Rizoma : Bahan tanaman diambil dengan menggunakan akar yang memiliki banyak mata tunas yang disebut rizoma. Cara ini paling banyak digunakan dalam perbanyakan tanaman. Untuk menghasilkan rizoma yang baik harus melakukan penanaman rami sesuai dengan kaidah-kaidah pembibitan, antara lain pemilihan lahan yang baik, tersedianya fasilitas pengairan, menggunakan varietas yang murni, dipelihara dengan baik, dan setelah umur 2 (dua) tahun baru dapat diambil rizomanya. Kelemahan dari cara ini adalah memerlukan lahan luas dan waktu relatif lama.
3) Setek batang : Perbanyakan tanaman dengan stek batang jarang digunakan karena peluang tumbuhnya sedikit sangat tergantung dari umur tanaman yang distek, pemeliharaan, iklim dan kondisi lahan.
4) Kultur jaringan : Perbanyakan tanaman dengan cara ini lebih cepat memperoleh bibit dalam waktu relatif singkat karena tidak memerlukan lahan luas, tetapi biayanya masih sangat mahal.
Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan setek rhizome banyak digunakan .Panjang stek rhizoma yang baik untuk bibit adalah yang telah be ukuran diameter sebesar 8-12 mm, yang dipotong sepanjang 10 cm. Umumnya rizoma pada ukuran tersebut memiliki lebih dari tiga mata tunas dan cadangan makanan yang ada dalam stek yang berupa karbohidrat cukup tersedia. Hasil potongan rizoma sebaiknya diletakkan di tempat yang lembab, sebelum ditanam agar tidak mengalami kekeringan. Rizome sebaiknya diambil dari pertanaman yang sudah berumur 3-4 tahun.
B. Pengolahan Tanah
Tanah yang gembur sebagai media tumbuh sangat dikehendaki sebagai tanaman rami dengan menggunakan rizoma sebagai bahan tanaman. Pengolahan tanah dapat dilaksanakan sebelum atau sesudah turun hujan. Pada umunya tujuan dari pengolahan tanah untuk meremahkan struktur tanah sehingga dapat jadi gembur dan tidak keras. Cara pengolahan tanah dengan menggunakan alat-alat pengolah tanah, misalnya cangkul dan traktor, kedalaman olah tanah yang ideal disesuaikan dengan tebal tipisnya lapisan olah (top soil), biasanya berkisar 20 -30 m.
Pemberian kompos atau pupuk organik diperlukan setelah pengolahan tanah yang diberikan sesuai dengan tingkat kesuburan tanah. Pemberian bahan organik biasanya diberikan sebelum penanaman yaitu 10-15 hari. Tanah-tanah yang siap ditanami sebaiknya dilakukan dengan membuat alur-alur untuk mengatur pembuangan air sehingga tidak terjadi genangan ;pada pertanaman rami.
2.2 Penanaman
A. Waktu Tanam dan Jarak Tanam
Setelah tanah selesai diolah, dilakukan penanaman dari bibit rami yang berasal dari bibit rizoma. Bibit rami sebaiknya ditanam pada musim penghujan karena pada awal pertumbuhan membutuhkan air yang cukup. Pada umur 7 hari setelah tanam, biasanya sudah muncul tunas-tunas yang berasal dari rizoma. Untuk tunas-tunas yang tidak tumbuh diperlukan penyulaman dari bibit yang telah dipersiapkan sehingga terjadi keseragaman pertumbuhan hal ini berhubungan dengan umur pemotongan pertama dari tanaman.
Jarak tanaman rami di masing-masing daerah berlainan, tergantung dari tingkat kesuburan tanahnya. Pada daerah yang tanahnya kurang subur jarak tanam dirapatkan dan pada daerah yang subur jarak tanam direnggangkan. Jarak tanam berhubungan erat dengan bahan tanam yang digunakan. Dari beberapa penelitian ternyata ada beberapa jarak tanam yang digunakan yaitu
Pada tanah datar atau tanah yang berstruktur berat sebaiknya menggunakan jarak tanam 50 cmX 50 cm atau 60 cmX 60 cm, pada tanah yang yang miring atau berstruktur ringan sebaiknya menggunakan jarak tanam 75cm X 50 cm atau 100 cmX 50 cm
Akar rhizoma yang akan dijadikan bahan tanaman adalah yang berwarna coklat tua, kemudian dipotong sepanjang 10 sampai 20 cm, sebaiknya Rhizoma yang sudah dipotong