• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 PENELUSURAN PERSOALAN PERANCANGAN DAN PEMECAHNYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 PENELUSURAN PERSOALAN PERANCANGAN DAN PEMECAHNYA"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

PENELUSURAN PERSOALAN PERANCANGAN DAN

PEMECAHNYA

2.1. Narasi Konteks Lokasi, Site, dan Arsitektur 2.1.1. Situasi Sekitar

Gambar 2.1. Situasi Lokasi Perancangan Tambakboyo Riverside Village Sumber: Penulis, 2018

(2)

2.1.2. Keadaan Eksisting Lokasi Perancangan

Lokasi eksisting terdiri dari RTH, sungai, bangunan hunian, gudang RW, dan toilet umum. Pada lokasi perancangan ada bangunan yang dipertahankan, ada yang dihancurkan kemudian dibangun kembali di lahan tersebut, ada juga yang akan dibangun bangunan baru diatas lahan kosong dan RTH yang masih melebihi batas minimal.

Gambar 2.2. Keadaan Eksisting Lokasi Perancangan Tambakboyo Riverside Village

(3)

Bangunan yang dipertahankan merupakan bangunan yang berada di pinggir jalan utama. Bangunan ini merupakan hunian yang sudah layak huni. Selain itu, aturan sempadan juga sudah dilaksanakan dengan baik.

Bangunan yang berada di tepian sungai akan dihancurkan kemudian dibangun kembali di lahan yang sama dengan perlakuan konsep M3K (mundur, munggah, madhep kali). Bangunan-bangunan seperti ini cocok untuk diterapkan konsep tersebut sebab bangunan ini belum memenuhi

Gambar 2.3. Bangunan Eksisting yang Dipertahankan Sumber: Dokumentasi Penulis, 2018

Gambar 2.4. Bangunan yang Dihancurkan Sumber: Dokumentasi Penulis, 2018

(4)

sempadan sungai dengan jarak 3 meter, masih berjumlah satu lantai, dan penampilan bangunan masih kumuh.

Lahan kosong yang berada di lokasi perancangan ini biasanya digunakan warga untuk menjemur pakaian dan menaruh hasil memulung para pemulung. Di lokasi ini fungsi tersebut tetap dipertahankan namun akan ditambah fasilitas umum berupa toilet.

Gambar 2.5. Lahan Kosong Sumber: Dokumentasi Penulis, 2018

Gambar 2.6. Lahan kosong berupa RTH Sumber: Dokumentasi Penulis, 2018

(5)

Di lokasi yang paling luas ini adalah lokasi yang akan dibangun ruang publik berupa education center.

2.1.3. Struktur Peruntukan Lahan

Bangunan dan perkerasan akan diisi hunian, education center, gazebo, toilet umum, foodcourt, lahan parkir, dan aksesnya. Sedangkan RTH berupa sungai, taman, kolam ikan, dan air mancur.

Gambar 2.7. Struktur Peruntukan Lahan Sumber: Penulis, 2018

(6)

2.1.4. Sirkulasi

Jalan utama dengan simbol merah memiliki lebar 9 meter dan dapat dilalui truk. Sedangkan jalan dengan simbol kuning memilikilebar 1,5-2,5 meter dapat dilalui kendaraan roda dua, sementara jalan dengan symbol pink hanya dapat dilalui pejalan kaki. Akses ini akan dipertahankan dan ada yang diperlebar sesuai dengan kebutuhan dan aturan yang berlaku.

Gambar 2.8. Sirkulasi Sumber: Penulis, 2018

(7)

2.1.5. Arah Matahari

Berdasarkan arah matahari yang bergerak dari timur ke barat maka diminimalkan bukaan pada bangunan sisi barat supaya menghindari terik matahari di siang-sore hari. Pada bangunan eksisting itu sendiri, bukaan lebih dominan di sisi utara dan selatan supaya terik matahari dari barat tidak langsung masuk ke dalam bangunan.

Gambar 2.9. Arah Matahari Sumber: Penulis, 2018

(8)

2.1.6. Arah Angin

Arah angin paling besar berada dari sisi tenggara. Arah angin ini paling menguntungkan bagi hunian yang berada di pinggir jalan utama karena bukaan bangunan sudah tepat perletakannya. Sedangkan untuk bangunan yang baru, arah angin ini lebih berpengaruh kepada bangunan di lantai dua khususnya di kamar tidur yang berada di selatan. Sebab angin berhembus dari tenggara dan terdapat bukaan pada kamar di sisi selatan.

Gambar 2.10. Arah Angin Sumber: Penulis, 2018

(9)

2.1.7. Kelembaban

Kelembaban tertimggi berada di barat laut. Di lokasi tersebut adalah lokasi yang paling dekat dengan sungai. Di sisi tersebut masih berupa lahan kosong berupa tanah yang ditumbuhi rumput liar. Sedangkan lokasi yang paling kering adalah di sisi barat daya. Di sisi ini merupakan jalan utama menuju lokasi perencanaan.

Gambar 2.11. Data Kelembaban Sumber: Penulis, 2018

(10)

2.1.8. Suhu

Suhu yang ada di lokasi sekitar tergolong sedang. Untuk menanggulangi kondisi suhu yang tinggi maka diterapkan penghawaan alami berupa bukaan. Bukaan tersebut berupa jendela yang dapat dibuka dan ditutup serta ventilasi tanpa kaca sehingga udara dapat dengan mudah masuk ke dalam ruangan. Selain itu, dengan suhu yang cukup tinggi ini material yang cocok untuk bangunan setempat adalah material seperti batu bata.

Gambar 2.12. Data Suhu Sumber: Penulis, 2018

(11)

2.1.9. Kebisingan

Kebisingan tertinggi berasal dari sisi timur laut. Hal ini disebabkan karena aliran air sungai yang semakin deras karena perbedaan kontur yang lebih curam. Namun kebisingan ini memiliki dampak positif sebab suara aliran air sungai dapat menjadi hiburan bahkan ciri khas tersendiri bagi Kawasan tepian sungai. Berbeda dengan aliran sungai di sisi barat laut yang cukup tenang. Selain di pinggir sungai, sisi barat daya juga terkadang bising namun hanya ketika ada kendaraan lewat saja.

Gambar 2.13. Data Kebisingan Sumber: Penulis, 2018

(12)

2.2. Peta Kondisi Fisik

Berikut adalah peta kondisi fisik yang ditunjukkan dari peta makro (RDTR Kecamatan Depok) dan peta mikro (mapping lokasi perencanaan).

`

Gambar 2.15 Peta Mikro Sumber: Google Maps, 2018

Gambar 2.14. Peta Makro Sumber: Google Maps, 2018

(13)

Dari gambar 2.14 dan 2.15 dapat diketahui bahwa lokasi perencanaan sudah sesuai dengan RDTR, yaitu sebagai pemukiman perkampungan. Jumlah bangunan yang akan diredesain sejumlah 15 unit. Lokasi berada di tepian sungai sehingga membutuhkan perlakuan yang berbeda dibandingkan dengan lokasi yang berada di pinggir jalan utama. Dengan keadaan yang seperti itu, maka perlakuan berbeda yang diterapkan pada lokasi perencanaan yaitu dengan pendekatan M3K (mundur, munggah, madhep kali). Selain itu, di lokasi tersebut juga membutuhkan satu wadah untuk menampung kegiatan warga yaitu berupa education center yang dirancang untuk didirikan di atas lahan kosong dan RTH yang masih sangat luas.

2.3. Data Lokasi dan Peraturan Bangunan Terkait

Pasal Bunyi Pasal

BAB 2, Bag.2 Pasal 7

Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf c, ditentukan paling sedikit berjarak 3 (tiga) meter dari tepi luar kaki tanggul sepanjang alur sungai.

BAB 2, Bag.2 Pasal 8

Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf d, ditentukan paling sedikit berjarak 5 (lima) meter dari tepi luar kaki tanggul sepanjang alur sungai.

Berkaitan dengan aturan tersebut, lokasi perencanaan termasuk lokasi tepian sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan Sleman, yaitu Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik

Indonesia No.28 Tahun 2015

(14)

kecamatan Depok. Sehingga menggunakan aturan jarak sempadan minimal 3 meter dari bibir sungai.

Berdasarkan Peraturan bangunan diatas, lokasi perancangan memiliki dua fungsi utama. Yaitu permukiman yang berada di sisi selatan sungai yang terdiri dari tipe 42 dan tipe 36 serta ruang publik yang didalamnya terdapat fungsi perdagangan (menjual hasil workshop) yang merupakan bagian dari education center yang berada di utara sungai.

Berdasarkan aturan tersebut maka pembagian KDB dan KDH lokasi perancangan yaitu sebagai berikut:

• Luas Total Site (+Akses Dan Bangunan Eksisting): 19.222,87 m2 • Luas Site Yang Dirancang: 15.287,95 m2

Tabel 2.2. Peraturan Bangunan di Kecamatan Depok

Sumber: Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Depok 30 %

(15)

• KDB (Bangunan+Perkerasan Lainnya): 8.618.405 m2 (56,4%) • RTH: 6.669,545 m2 (43,6%)

Berdasarkan standar keamanan bangunan pada tabel 2.3, jarak tempuh maksimal untuk keluar bangunan adalah 45 meter. Standar ini dapat diterapkan dengan merencanakan jarak antar pintu bangunan yaitu 45 meter bahkan kurang dari itu.

Tabel 2.3. Jarak Tempuh Keluar Bangunan

(16)

2.4. Property Size

Dari tabel 2.4 dapat diketahui bahwa kebutuhan ruang perorang yaitu 1,5m2 untuk ruang pameran.

Tabel 2.4. Kebutuhan Ruang Pameran

(17)

Dari tabel 2.5 dapat diketahui bahwa kebutuhan ruang perorang yaitu 5,6m2 untuk ruang workshop.

Tabel 2.5. Kebutuhan Ruang Workshop

(18)

No. Jenis Ruang Luas Keterangan

1. Teras (Lt1) 4.725 m2

2. Taman (Lt1) 2,775 m2 Di halaman depan 3. Ruang tamu (Lt1) 6,225 m2

4. Ruang keluarga (Lt1) 5,4 m2

5. Ruang tidur (Lt2) 18 m2 @9 m2 Terdiri dari dua ruangan

6. Dapur (Lt1) 5,175 m2

7. Kamar mandi (Lt1) 2,21 m2 8. Ruang cuci (Lt1) 1,81 m2

9. Balkon (Lt2) 3,495 m2 beratap

10. Taman (Lt2) 1,7 m2 Depan balkon

11. Sirkulasi Tangga dan Selasar (Lt 1 dan 2)

20,485 m2

12. Ruang Jemur (terbuka) 6 m2 Di belakang rumah/bangunan (tidak termasuk 72 m2)

Total Lantai 1 36 m2

Total Lantai 2 36 m2

Total Luas Lantai 72 m2

Tabel 2.6. Property Size Rumah Tipe 36 Tingkat Dua

(19)

No. Jenis Ruang Luas Keterangan

1. Teras (Lt1) 5,65 m2

2. Taman (Lt1) 2,775 m2 Di halaman depan 3. Ruang tamu (Lt1) 6,225 m2

4. Ruang keluarga (Lt1) 7,2 m2

5. Ruang tidur (Lt2) 24 m2 @12 m2 Terdiri dari dua ruangan

6. Dapur (Lt1) 6,9 m2

7. Kamar mandi (Lt1) 2,21 m2 8. Ruang cuci (Lt1) 2,04 m2

9. Balkon (Lt1) 3,495 m2 Balkon (beratap)

10. Taman (Lt2) 1,7 m2 Depan balkon

11. Sirkulasi Tangga dan Selasar (Lt 1 dan 2)

21,805 m2

12. Ruang Jemur (terbuka) 6 m2 Di belakang rumah/bangunan (tidak termasuk 84 m2)

Total Lantai 1 42 m2

Total Lantai 2 42 m2

Total Luas Lantai 84 m2

Tabel 2.7. Property Size Rumah Tipe 42 Tingkat Dua

(20)

No .

Jenis Ruang Luas Keterangan

1. Lobby (Lt1) 65,66 m2 2. Ruang Pameran (Lt1) 670,57 m2 3. Mushola (Lt1) - Wudhu Pria - Wudhu Wanita - Shaf Pria - Shaf Wanita - Serambi - Area alas kaki

206,05 m2 11.7m2 @2,925m2 11.7m2 @2,925m2 77.025m2 @1,28 m2 77.025m2 @1,28 m2 23.595 m2 5.005 m2

3 wudhu berdiri, 1 duduk 3 wudhu berdiri, 1 duduk

4. Pos Satpam (Lt1) 3 m2 5. Kasir (Lt1) 3 m2 6. Toilet (Lt1) - Toilet Pria - Toilet Wanita 41,12 m2 1. 5,46m2 @1,83m2 (Bilik) 2. 3,9m2 (Difabel) 3. 11.2 m2 (Area wastafel) 1. 5,46m2 @1,83m2 (Bilik) 2. 3,9m2 (Difabel) 3. 11.2 m2 (Area wastafel)

3 bilik dan 1 toilet difabel

3 bilik dan 1 toilet difabel Tabel 2.8. Property Size Education Center

(21)

7. Janitor (Lt1) 11,78 m2 8. Kantor dan Ruang

Istirahat (Lt1)

29 m2

9. Penyimpanan barang bekas (Lt1)

109 m2 Terdiri dari 4 ruang

penampungan: penampungan besi (dicat ulang),

penampungan karton/kardus, penampungan botol kaca, dan penampungan botol plastik serta bungkus saset

10. Ruang Tangga +Lift barang +Selasar (Lt1) 239,12 m2 Ruang MEE 30 m2 11. Balkon (Lt2) 54,71 m2 12. Ruang Workshop (Lt2) 289,77 m2 13. Toilet (Lt2) - Toilet Pria - Toilet Wanita 33,84 m2 1. 3,66 m2 @1,83 m2 (Bilik) 2. 4,22 m2 (Difabel) 3. 9,04 m2 (Area wastafel) 1. 3,66 m2 @1,83 m2 (Bilik) 2. 4,22 m2 (Difabel) 3. 9,04 m2 (Area wastafel)

(22)

14. Ruang OB+Istirahat (Lt2) 27,33 m2 15. Janitor (Lt2) 12,05 m2 16. Ruang Tangga +Lift barang +Selasar (Lt2) 116,45 m2 Total Lantai 1 1.408,30 m2 Total Lantai 2 534,15 m2

Total Luas Lantai 1.942,45 m2

No. Jenis Ruang Luas Keterangan

1. Parkir Mobil 150 m2

2 Parkir Mini Bus 187, 22 m2

3. Parkir Motor 254,8 m2 Di halaman depan

4. Pos Parkir 12 m2 @4 m2 1 pos untuk keluar-masuk motor, 1 pos masuk mobil/mini bus, dan 1 pos keluar mobil/mini bus

5. Foodcourt 551,064 m2 6. Gazebo 60, 7475 m2 @5,52 m2 11 Unit 7. Parkir Hunian (1) - Mobil - Motor 131,6 m2 90 m2 41,6 m2

Parkir terpusat (di tengah-tengah kawasan hunian) Sumber: Penulis, 2018

(23)

8. Parkir Hunian (2) 14,4 m2 Ukuran yang sama dengan parkiran eksisting namun dipindahkan 8 meter ke barat.

9. Toilet Umum 9,3 m2

@2,325 m2

Terdiri dari dua unit di sisi barat dan dua unit di sisi timur

2.5. Hubungan Ruang

Skema 2.1. Hubungan Ruang Tambakboyo Riverside Village Sumber: Penulis, 2018

(24)

2.6. Data Klien dan Pengguna

Skema 2.2. Alur Kegiatan Klien dan Pengguna Sumber: Penulis, 2018

(25)

No. Jenis Ruang Pengguna Kapasitas Kegiatan 1. Teras (Lt1) Penghuni,

tamu

3 Orang Bersantai, bertamu (menunggu)

2. Taman (Lt1) - - -

3. Ruang tamu (Lt1) Penghuni, tamu

3-4 Orang Bertamu, bersantai (bias jadi satu dengan ruang keluarga jika tirai dibuka)

4. Ruang keluarga (Lt1)

Penghuni 4 Orang Bersantai, istirahat, tidur, makan

5. Ruang tidur (Lt2) Penghuni 2 orang perkamar

Istirahat, tidur, belajar

6. Dapur (Lt1) Penghuni 3 Orang Memasak, mencuci piring

7. Kamar mandi (Lt1)

Penghuni 1 Orang MCK

8. Ruang cuci (Lt1) Penghuni 1 Orang Mencuci pakaian 9. Balkon (Lt2) Penghuni 3 Orang Bersantai

10. Taman (Lt2) - - -

11. Sirkulasi Tangga dan Selasar (Lt 1 dan 2)

Penghuni 1 Orang Akses dari lantai 1 ke lantai 2

12. Ruang Jemur (terbuka)

Penghuni 2 Orang Menjemur pakaian

Sumber: Penulis, 2018

(26)

No .

Jenis Ruang Pengguna Kapasitas Kegiatan

1. Lobby (Lt1) Pengunjung (warga dan

non warga setempat),

satpam

43 Orang Pintu masuk berkunjung, mencari pusat informasi (satpam)

2. Ruang Pameran (Lt1)

Pengunjung 408 orang Melihat-lihat dan membeli hasil karya workshop warga sekitar 3. Mushola (Lt1) - Wudhu Pria - Wudhu Wanita - Shaf Pria - Shaf Wanita - Serambi - Area alas kaki

Pengunjung, satpam, tukang pos parkir, pemandu workshop, penjual di foodcourt, pengelola, pegawai. - 4 Orang - 4 Orang - 60 Orang - 60 Orang - -

Sholat, istirahat sejenak bagi pengunjung

4. Pos Satpam (Lt1)

Satpam 2 Orang Menjaga keamanan sekitar dan memberi informasi

5. Kasir (Lt1) Kasir 2 Orang Melayani pembayaran yang membeli hasil karya pameran 6. Toilet (Lt1) - Toilet Pria Pengunjung, satpam, tukang pos MCK Tabel 2.11. Data Klien dan Pengguna Education Center

(27)

- Toilet Wanita parkir, pemandu workshop, penjual di foodcourt, pengelola, pegawai. - 4 Orang (3 bilik dan 1 difabel) - 4 Orang (3 bilik dan 1 difabel) 7. Janitor (Lt1) Petugas Janitor

4 Orang Menyimpan alat2 pembersih di ruang janitor, dan membersihkan setiap ruangan di education center lantai 1 8. Kantor dan Ruang Istirahat (Lt1) Pengelola dan staff 4 Orang Mengelola 9. Penyimpanan barang bekas (Lt1) Pegawai, staff, warga yang mau memasok barang 3 Orang per ruangan (terdiri dari 4 ruang) Menyimpan barang-barang bekas 10. Ruang Tangga +Lift barang +Selasar (Lt1) Pengunjung, satpam, pemandu workshop, pengelola, pegawai.

- Sirkulasi dari lantai 1 ke lantai 2

Ruang MEE Petugas MEE

3 Orang Memantau MEE bangunan

(28)

11. Balkon (Lt2) Pengunjung, pemandu workshop, pengelola, pegawai.

- Akses melalui ramp, menikmati pemandangan sekitar 12. Ruang Workshop (Lt2) Peserta workshop (untuk umum namun diutamakan bagi warga setempat), pemandu workshop, pengelola, pegawai. 85 Orang Workshop 13. Toilet (Lt2) - Toilet Pria - Toilet Wanita Pengunjung, pemandu workshop, pengelola, pegawai, satpam. - 3 Orang (2 bilik dan 1 difabel) - 3 Orang (2 bilik dan 1 difabel) MCK 14. Ruang OB+Istirahat (Lt2)

Petugas OB 4 Orang Menyediakan konsumsi, istirahat

15. Janitor (Lt2) Petugas Janitor

4 Orang Menyimpan alat2 pembersih di ruang janitor, dan

(29)

ruangan di education center lantai 2 16. Ruang Tangga +Lift barang +Selasar (Lt2) Pengunjung, satpam, pemandu workshop, pengelola, pegawai.

- Sirkulasi dari lantai 1 ke lantai 2

No. Jenis Ruang Pengguna Kapasitas Kegiatan 1. Parkir Mobil Pengunjung,

Pengelola, pemandu workshop.

10 Unit Parkir

2 Parkir Mini Bus Pengunjung, Pengelola,

pemandu workshop.

10 Unit Parkir

3. Parkir Motor Pengunjung, satpam, pemandu workshop, pengelola, pegawai, tukang pos parkir. 96 Unit Parkir

4. Pos Parkir Tukang Pos 2 Orang per unit Penjaga pos karcis Sumber: Penulis, 2018

(30)

5. Foodcourt penjual di foodcourt, pengunjung, satpam, pemandu workshop, pengelola, pegawai, tukang pos parkir. -3 Orang penjual perunit (11 unit) -144 orang pengunjung di meja makan - 1 orang pertoilet (4 toilet) - 55 pengunjung di selasar (depan ruko-ruko) - Berjualan - Makan/ minum/ istirahat - MCK - Membeli/ memesan/ membayar makanan 6. Gazebo Pengunjung 5 Orang perunit

(11 unit)

Bersantai

7. Parkir Hunian(1) Warga - 6 unit mobil -16 unit motor

Parkir

8. Parkir Hunian(2) Warga 4 Unit motor Parkir

9. Toilet Umum 1 Orang

pertoilet (4 toilet)

MCK

(31)

2.7. Kajian Tema Perancangan

2.7.1. Narasi Problematika Tematis

Fokus masalah pada lokasi rancangan dititik beratkan pada tiga poin, yaitu: 1. Pemukiman kumuh yang berada persis di tepian sungai. Hal ini

ditunjukkan dengan keadaan fasad, tata massa bangunan, dan denah setiap bangunan itu sendiri. Hal ini akan diselesaikan dengan cara meredesain bangunan tersebut dengan penerapan M3K (mundur, munggah, madhep kali).

2. Alih fungsi fasilitas umum yaitu berupa toilet umum yang sekarang berubah fungsi menjadi gudang. Selain itu, dibutuhkan juga fasilitas umum berupa tempat menampung hasil memulung guna menghindari

Skema 2.3. Problematika Tematis Sumber: Penulis, 2018

Membangun hunian Membangun kembali dan

(32)

penumpukan rongsok di pedestrian ataupun di dalam hunian. Hal hal tersebut akan diselesaikan dengan cara meredesain toilet yang sekarang berfungsi sebagai gudang menjadi fungsi semula, menambah jumlah toilet untuk sisi timur, dan menyediakan ruangan khusus penyimpanan barang rongsok yang sudah dibersihkan dan dipilah.

3. Kebutuhan ruang publik juga merupakan fokus masalah sebab di lokasi merupakan lokasi yang berpotensi mengembangkan barang-barang bekas. Hal ini diwujudkan dengan rancangan education center dengan sasaran yaitu para pemulung sekaligus warga Tambakboyo yang aktif dalam kegiatan bank sampah.

2.7.2. Paparan Teori yang Dirujuk 1. Riverside

Riverside Development adalah konsep pengembangan daerah tepian

air sungai (Echois dalam Pradana 2016). Riverside biasa disebut dengan

waterfront. Menurut Bren dalam Suferi (2008), waterfront adalah lahan area

yang terletak berbatasan dengan air, terutama merupakan bagian kota yang menghadap ke laut, sungai atau danau. Menurut Suferi (2008), tepian sungai sebagai area waterfront dapat dijelaskan sebagai berikut.

Area waterfront yang terjadi karena kontak langsung antara daratan dan sungai memiliki ciri sebagai berikut:

1) Sebagai transportasi air dan aset irigasi.

2) Sangat tergantung pada kondisi lingkungan sekitar dan musim. 3) Cenderung digunakan sebagai tempat pembuangan sampah sementara dan limbah.

Dilihat dari keadaan tapak yang ada, biasanya waterfront tepian sungai mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1) Terdapat jalan setapak sepanjang jalan. 2) Terdapat area rumput atau vegetasi yang luas. 3) Orientasi taman ke sungai.

(33)

4) Adanya keserasian bahan antara arena hiburan dengan taman. Sedangkan dilihat dari bentuk design bangunan biasanya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1) View bangunan diarahkan ke sungai.

2) Masterplan dari bangunan mengikuti bentuk dari sungai. 3) Massa bangunan terputus atau menerus.

4) Massa bangunan terangkat dari site.

5) Massa bangunan biasanya geometris dan proposional. 6) Massa bangunan biasanya vertikal–horizontal.

Beberapa karakteristik yang patut dipertimbangkan untuk mencapai kesuksesan dalam penataan kawasan tepi air antara lain (Sastrawati, 2003):

1) Perlindungan Tepi Air

Kondisi sumber daya air ini mempengaruhi teknik, desain, dan konstruksi pada pembangunan di kawasan tersebut. Tanah di tepi air sering mengalami erosi sehingga untuk mencegah hal tersebut dibuat struktur perlindungan tepi air terutama bila dilakukan reklamasi.

2) Orientasi Bangunan ke Arah Tepi Air

Orientasi bangunan sebaiknya ke arah tepi air sehingga tidak menjadikan tepi air sebagai halaman belakang. Ketinggian bangunan diharapkan tidak menghalangi pandangan ke tepi air sehingga memberikan kesempatan bagi penduduk untuk menikmati pemandangan alam sungai.

3) Tema Pembangunan

Tema dapat berkaitan dengan kekhasan ekologi, iklim, sejarah atau sosial budaya setempat.

(34)

2. Housing/ Perumahan

Berikut adalah uraian tentang housing/ perumahan Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011.

1) Permukiman

Menurut Undang-Undang No 4 Tahun 1992 dalam Aida (2004) pemukiman dapat diartikan sebagai perumahan atau kumpulan rumah dengan segala unsur serta kegiatan yang berkaitan di dalam pemukiman tersebut.

2) Perumahan

Perumahan merupakan kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.

3) Rumah

Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya. 4) Perumahan kumuh

Perumahan kumuh adalah perumahan yang mengalami penurunan kualitas fungsi sebagai tempat hunian.

(35)

3. M3K (Mundur, Munggah, Madhep Kali)

Menurut Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) Nasional (2017), M3K atau Mundur, Munggah, Madhep Kali merupakan gerakan yang digalakkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta terkait penataan kawasan bantaran sungai. Hal ini sudah direalisasikan di tepian sungai Kali Winongo, Yogyakarta.

Gambar 2.16. Denah Rumah Hunian Tipe 86

Sumber: httpsexporumahminimalis.blogspot.co.id201710rumah-kecil-minimalis-modern-2-lantai.html, 2018

Gambar 2.17. Rumah Hunian Tipe 36 Tingkat 2

Sumber:

httpsexporumahminimalis.blogspot.co.id20171 0rumah-kecil-minimalis-modern-2-lantai.html,

2018

Gambar 2.18. Rumah Hunian Tipe 54 Tingkat 2

Sumber:

httpsexporumahminimalis.blogspot.co.id20171 0rumah-kecil-minimalis-modern-2-lantai.html,

(36)

1) Mundur: Bangunan yang menempel ke tepi sungai dimundurkan guna memberi ruang bagi akses jalan, yang kemudian berfungsi juga sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

2) Munggah (naik): Rumah yang sudah "dimundurkan" otomatis berkurang ukurannya. Mengingat keterbatasan lahan, bangunan "dinaikkan/ditingkat" menjadi dua lantai guna "mengembalikan" (setidaknya) mendekati ukuran semula.

3) Madhep Kali: Semua bangunan "baru" didesain sedemikian rupa agar pintu depannya menghadap kali/sungai.

4. Ruang Publik

Ruang publik merupakan ruang yang dapat diakses oleh publik dan tempat dimana orang-orang melakukan aktivitas secara individu maupun berkelompok (Carr dalam Naafi’aa, 2015). Ruang public dapat berbentuk cluster ataupun linier dalam ruang terbuka maupun tertutup (Mulyanto,2012).

Ruang terbuka publik pada dasarnya merupakan suatu wadah yang mampu menampung kegiatan masyarakat baik secara individu maupun

Gambar 2.19. Program KOTAKU di Anakan Sungai Winongo Sumber: Penulis, 2018

(37)

kelompok yang meliputi jalan, pedestrian, taman, plaza, pemakaman di sekitar lpangan terbang dan lapangan olahraga (Hakim dalam Larasati, 2014).

Menurut Murdock dalam Mulyanto 2012, ruang public memiliki empat hak yang timbul dari adanya ruang publik. Hak-hak tersebut yaitu:

1) Hak mendapatkan informasi; menciptakan kemampuan untuk mengakses informasi seluas-luasnya mengenai aktivitas yang akan meluaskan pilihan dalam berkegiatan.

2) Hak mendapatkan pengalaman; menyedikan akses untuk menyampaikan representasi individual maupun pengalaman sosial. 3) Hak mendapatkan pengetahuan; ruang publik harus menjamin akses

menuju ‘kunci perdebatan dan argumen’.

4) Hak untuk berpartisipasi; mencakup kemampuan berbicara tentang hidup dan aspirasi yang didengar masyarakat.

Sementara menurut Phillips (1993), bangunan publik merupakan wadah untuk melayani berbagai kebutuhan publik, dibayar dari langganan publik, dan dikelola oleh pemerintah atau dewan lokal untuk dan atas nama semua orang.

5. Pemulung

Menurut Nelson dalam Aida (2014) pemulung dibatasi sebagai seorang atau sekelompok manusia yang penghidupannya diperoleh dari mengumpulkan barang-barang bekas yang telah terbuang di tempat pembuangan sampah sebagai “barang dagangan”.

2.7.3. Kajian Tipologi dan Preseden

1. Tepian Sungai Winongo, Yogyakarta

Tepian sungai Winongo berada di Kota Yogyakarta. Dulunya lokasi ini merupakan lokasi yang kumuh dan tidak terawat, bahkan tumpukkan daun yang berguguran memiliki tinggi hingga selutut. Namun dengan

(38)

adanya gagasan dari salah satu warga dan didukung oleh warga lain sehingga lokasi ini mampu direvitalisasi hingga menjadi rapi dan asri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, revitalisasi adalah proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. Revitalisasi dilakukan berdasarkan program pemerintah KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh). Program Kota Tanpa Kumuh adalah satu upaya strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mempercepat penanganan permukiman kumuh di Indonesia dan mendukung “Gerakan 100-0-100”, yaitu 100 persen akses universal air minum, 0 persen permukiman kumuh, dan 100 persen akses sanitasi layak (Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017). Berikut adalah dokumentasi sebelum dan sesudah program KOTAKU di tepian Sungai Winongo.

Gambar 2.20. Proses Penerapan M3K pada Hunian Tepi Sungai Winongo Sumber: Dokumentasi Warga Tepi Sungai Winongo, 2016

Gambar 2.21 Proses Penerapan M3K pada Pedestrian Tepian Sungai Winongo Sumber: Dokumentasi Warga Tepi Sungai Winongo, 2016

(39)

Selain proses revitalisasi, ruang publik sebagai media edukasi di tepian Sungai Winongo juga menjadi preseden untuk perancangan Tambakboyo Riverside Housing. Media edukasi di tepian Sungai Winongo ini berupa ruang baca dan belajar untuk anak-anak dan remaja yang dibangun diatas lahan kosong. Sementara pada perancangan di Tambakboyo, media edukasi difokuskan untuk memanfaatkan barang bekas hasil memulung. Berikut adalah ruang edukasi di tepian Sungai Winongo.

Gambar 2.22. Proses Pembersihan Sungai sekaligus Taman Sungai Winongo Sumber: Dokumentasi Warga Tepi Sungai Winongo, 2016

Gambar 2.23. Ruang Edukasi di tepian Sungai Winongo Sumber: Dokumentasi Penulis, 2018

(40)

2. Riverside Housing (Kingston Upon Thames, Great Britain)

Riverside Housing (Kingston Upon Thames, Great Britain) merupakan bangunan yang difungsikan sebagai hunian. Lingkungan sekitar bangunan ini sudah memiliki ruang pedestrian di tepian sungainya, orientasi bangunan menghadap ke sungai, dan menaikkan bangunan menjadi bertingkat. Hal ini membuat penampilan bangunan sekaligus lingkungan sekitarnya menyatu.

Gambar 2.24. Riverside Housing, Great Britain Sumber: https://www.geograph.org.uk/photo/232693

Gambar 2.25. Landscape Riverside Housing, Great Britain Sumber: https://www.geograph.org.uk/photo/232693

(41)

3. Tirion Group

Tirion Group merupakan organisasi nirlaba. Group tersebut mencoba untuk menciptakan lingkungan tepian sungai yang difungsikan sebagai hunian, komersil, dan pariwisata dengan memanfaatkan alam (sungai) sebagai landcape yang menarik orang-orang untuk datang ke lokasi ini.

4. Riverside Clubhouse, China

The clubhouse terletak di satu sisi sungai di Yancheng dengan tim arsitek TAO-Trace Architecture Office. Clubhouse ini dikelilingi oleh taman dan lapangan olah raga. Langit, air, dan unsur-unsur dari situs ini menentukan suasana yang tenang, murni dan puitis. Bangunan kaca di tepi sungai dan pepohonan secara alami menjadi ide awal, untuk mengintegrasikan pengunjung, arsitektur dan lansekap (yang mempertahankan situs alami).

Konsep bentuk clubhouse ini berupa peregangan, loop, dan lipat. Konsep bentuk tersebut menghasilkan ruang halaman yang menawarkan privasi lebih banyak, semakin dekat ke air dan memudahkan untuk menikmati lansekap lebih luas. Selain itu, konsep pada bangunan ini

Gambar 2.26. Contoh Masterplan Riverside Housing Sumber: http://tirionhomes.co.uk/news/category/ely-mill-news/

(42)

untuk lebih mudah menikmati pemandangan alam lebih luas dari dalam ruangan. Berikut adalah perbandingan antara Clubhouse, China dengan keadaan eksisting lokasi perancangan.

Gambar 2.27. View Clubhouse, China Sumber:

https://www.archdaily.com/204840/riversid e-clubhouse-tao

Gambar 2.28. View Lokasi Perancangan

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2018

Gambar 2.29. Sitplan Clubhouse, China

(43)

Gambar 2.30. Potongan A-A’ Clubhouse, China Sumber: https://www.archdaily.com/204840/riverside-clubhouse-tao

Gambar 2.31. Potongan B-B’ Clubhouse, China Sumber: https://www.archdaily.com/204840/riverside-clubhouse-tao

Gambar 2.32. Proses Bentukan Clubhouse, China Sumber: https://www.archdaily.com/204840/riverside-clubhouse-tao

(44)

5. Museum Of Islamic Art

Museum Of Islamic Art berlokasi di Doha, Qatar dengan gaya arsitektur “Islamic Architecture”. Arsitek nya adalah I. M. Pei, Jean-Michel Wilmotte. Museum ini memiliki luas 35.000 m2 dan dibangun pada tahun 2005-2009.

Museum Islamic Art terdiri dari 5 lantai yang berada di dekat laut, di Doha Bay Teluk Arab yang merupakan rumah koleksi karya internasional. Didedikasikan untuk studi keragaman seni dari dunia Islam, yang akan mengumpulkan dan melestarikan pameran karya yang mencakup tiga benua dari 7 sampai abad ke-19. Konsep bangunan “Matahari Padang Pasir” menjadi peran penting, mengubah arsitektur menjadi permainan cahaya dan bayangan. Di bagian atas atrium, sebuah oculus menangkap dan memantulkan cahaya bermotif dalam kuba.

Gambar 2.33. Situasi Museum Of Islamic Art

(45)

Gambar 2.34. Atap Atrium Museum Of Islamic Art Sumber:

https://www.designboom.com/architecture/museum-of-islamic-arts-by-im-pei/

Gambar 2.35. Site Plan Museum Of Islamic Art Sumber:

(46)

Gambar 2.36. Denah lantai 1 Museum Of Islamic Art Sumber:

http://housevariety.blogspot.co.id/2011/02/museum-of-islamic-art-by-im-pei.html

Gambar 2.37. Denah lantai 2 Museum Of Islamic Art Sumber:

(47)

Bangunan ini memiliki ruang-ruang yang berfungsi sebagai berikut: a. Museum

Museum ini terdiri dari Artefak Islam seperti: 1) Sutra dinding-gantung dari Alhambra Palace 2) Liontin giok milik Shah Jahan

3) Lebih dari seribu keeping perhiasan, kaca, keramik dan kayu dari dunia Islam.

Gambar 2.38. Denah lantai 5 Museum Of Islamic Art Sumber:

(48)

69 b. Perpustakaan

1) Program pendidikan Museum ini terletak di sebelah timur bangunan utama.

2) Merupakan ruang baca penuh cahaya

3) Fasilitas di perpustakaan ini ialah: ruang kelas, workshop, ruang belajar, dan fasilitas teknis dan penyimpanan buku.

Gambar 2.39. Ruang Pameran Museum Of Islamic Art Sumber: http://fr.clicknetherfield.com/_assets/images/case-studies/by-case/main/museum-islamic-art-doha/image-3.jpg

Gambar 2.40. Perpustakaan Museum Of Islamic Art Sumber:

(49)

c. Atrium

1) Lokasi: Setelah masuk, di jantung museum

2) Kapasitas: Roundtables hingga 700 tamu; tamu berdiri 2000 orang 3) Ketersediaan: Selasa

d. Majelis

1) Lokasi: Dekat pintu masuk utamamuseum 2) Kapasitas: 22 tamu

3) Ketersediaan: Minggu sampai Kamis Gambar 2.41. Atrium Museum Of Islamic Art

Sumber:

http://www.qm.org.qa/sites/default/files/styles/content_image/public/images/body/ven ue-mia-atrium-2_0.jpg?itok=WK-iJhsy

(50)

e. Ruang Kelas

1) MIA Kelas Foyer

• Kapasitas: tamu berdiri 100 orang • Ketersediaan: Minggu sampai Kamis 2) MIA Kelas

• Lokasi : Education Centre

• Kapasitas : bentuk U untuk 40 tamu; gaya teater hingga 120 tamu Gambar 2.42. Atrium Museum Of Islamic Art

Sumber:

http://www.qm.org.qa/sites/default/files/styles/content_image/public/images/body/v enue-hire-majlis.jpg?itok=he53MYG5

Gambar 2.43. Ruang Kelas Museum Of Islamic Art Sumber: https://www.facebook.com/PoltronaFrauQatar/

(51)

f. Restoran

1) IDAM, restoran pertama AlainDucasse di Timur Tengah. 2) Di pusat museum, dengan pemandangan Doha skyline. 3) MIA Cafe terletak di Atrium Museum Seni Islam

\

Gambar 2.44. Ruang Meeting Museum Of Islamic Art

Sumber:://www.qm.org.qa/sites/default/files/styles/content_image/public/images/ body/venue-hire-classroom_0.jpg?itok=VxrrA1TS

Gambar 2.45. Restoran Museum Of Islamic Art

Sumber: https://www.cntravellerme.com/content/3057-top-10-restaurants-in-qatar

(52)

g. Auditorium

1) Lokasi: Lantai dasar 2) Kapasitas: 197 kursi teater

3) Fasilitas: Layar besar dan proyeksi dengan sistem suara 4) Ketersediaan: Minggu s/d Kamis

h. Western Courtyard

1) Lokasi: Antara Pusat

2) Pendidikan danbangunan museumutama

3) Kapasitas: Roundtables hingga400 tamu; tamu berdiri 900 orang. 4) Ketersediaan: Minggu s/d Kamis.

Gambar 2.46. Auditorium Museum Of Islamic Art Sumber:

http://www.qm.org.qa/sites/default/files/styles/content_image/pu blic/images/body/venue-hire-auditorium.jpg?itok=RHCs8zYq

(53)

i. Eastern Courtyard

1) Lokasi: sisi Timur pintu masuk utama museum

2) Kapasitas: Roundtables hingga 200 tamu; tamu berdiri 700 orang 3) Ketersediaan: Minggu sampai Kamis

Gambar 2.47. Western Courtyard Museum Of Islamic Art Sumber:

http://www.qm.org.qa/sites/default/files/styles/content_image/public/image s/body/venue-hire-central-courtyard-3.jpg?itok=mXUAx5aX

Gambar 2.48. Eastern Courtyard Museum Of Islamic Art Sumber:

http://www.qm.org.qa/sites/default/files/styles/content_image/public/image s/body/venue-hire-c-coutryard.jpg?itok=-odcD4Yl

Gambar

Gambar 2.12. Data Suhu  Sumber: Penulis, 2018
Gambar 2.13. Data Kebisingan  Sumber: Penulis, 2018
Gambar 2.15 Peta Mikro  Sumber: Google Maps, 2018
Tabel 2.1 Peraturan Sempadan Sungai Bertanggul
+7

Referensi

Dokumen terkait

Permukaan bata yang memerlukan kerja-kerja lepaan adalah dikhususkan pada dinding atau tembok yang menggunakan bata tanah, bata pasir, blok konkrit atau apa juga jenis bata yang

Model SITT yang diterapkan di berbagai agroekosistem telah terbukti mampu meningkatkan efisiensi usahatani, karena peran ternak dalam penyediaan daging, tenaga kerja, pupuk yang

Diskripsikan dengan penuh percaya diri menggunakan contoh yang kontekstual bahwa aktivitas pasar faktor produksi modal dan skill dapat meningkatkan perekonomian

Selama masa kampanye pilpres 2014, kedua format kicauan berupa kultwit dan twitwar ini menjadi bagian dari pola pesan politik yang seringkali diunggah oleh akun

Orang tua adalah pendidik dalam keluarga. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya menjadi orang yang berkembang secara sempurna. Mereka menginginkan anaknya yang

Hal ini sesuai dengan penelitian Mardiah (2012) yang menyatakan bahwa kejadian phlebitis pada pasien yang dipasang infus sebanyak 61,7% terjadi phlebitis dengan

Rumusan baru dan notasi baru yang sesuai untuk memperoleh analisis nilai yang disajikan. Dengan kompak, konsisten, perhitungan nilai yang diperoleh menjadi lebih transparan

Menurut aspek pendidikan, definisi ketunanetraan didasarkan pada fungsi penglihatan untuk kepentingan pendidikan, sehingga diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu: