• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP MOTIVASI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. Muh Idris Dosen STAI Luqman al Hakim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONSEP MOTIVASI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. Muh Idris Dosen STAI Luqman al Hakim"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

KONSEP MOTIVASI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Muh Idris

Dosen STAI Luqman al Hakim

Abstrak

Motivasi adalah penggerak dalam melakukan aktifitas. Dalam aktifitas pembelajaran motivasi mempunyai kedudukan yang sangat penting. Berhasil atau tidaknya proses interaksi antara pendidik dan peserta didik ditentukan oleh kualitas motivasi yang dimiliki oleh pendidik dan peserta didik.

Dalam konsep umum motivasi terdiri dari motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari lingkungan sekitar yang mempengaruhi seseorang.

Dalam pendidikan agama Islam, motivasi terdiri dari motivasi yang berasal dari Allah (Tauhid) dan motivasi yang berasal dari selain Allah. Motivasi Tauhid adalah motivasi utama yang menjadi penggerak seorang muslim dalam bergerak, sedangkan motivasi selain Allah selama tidak melebihi motivasi tauhid merupakan sebuah kebolehan. Keyword; Motivasi Belajar, Konsep Umum, Konsep Islam

A. Pendahuluan

Pendidikan agama memiliki karakteristik yang unik. Sebab berbeda dengan subyek pelajaran lain yang lebih menekankan pada penguasaan aspek materi pelajaran, pengajaran agama -termasuk Islam- tidak hanya sekedar mengajarkan ajaran agama kepada peserta didik, tetapi juga menanamkan komitmen terhadap ajaran agamanya. Hal ini berarti bahwa pendidikan agama memerlukan pendekatan pendidikan yang berbeda dengan subyek pelajaran lain. Metode tidak hanya berpengaruh pada peningkatan penguasaan materi tentang ajaran agama, tetapi juga pada penanaman komitmen beragama, karena yang terakhir ini lebih ditentukan oleh proses pengajarannya dari pada materinya.1

Saat ini pendidikan Islam di sekolah maupun di pesantren dalam beberapa segi dianggap gagal mencapai tujuannya. Indikasi kegagalan tersebut antara lain adalah rendahnya kualitas moral (tingkah laku) anak didik dan lulusan lembaga-lembaga tersebut. Realitas terkini menampakkan bahwa Indonesia -yang mayoritas penduduknya

1 Muhaimin dkk., Strategi Belajar Mengajar (Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama).

(2)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

beragama Islam- termasuk negara terkorup di dunia. Selain itu praktek suap, pergaulan (seks) bebas, dan penggunaan obat-obat terlarang terjadi dimana-mana. Memang makin banyak orang Islam di Indonesia yang lebih memahami ajaran agamanya, namun hal itu tidak serta merta mereka aplikasikan dalam kehidupan.

Salah satu aspek yang dianggap menjadi penyebab terjadinya hal diatas adalah penggunaan metode pendidikan Islam di sekolah dan sebagian pesantren yang lebih menekankan pada aspek pengetahuan dan ketrampilan fisik, namun mengabaikan aspek afeksi siswa. Akibatnya terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan kemauan/kesadaran (untuk mengamalkan), antara gnosis dan praxis dalam kehidupan beragama. 2

Aspek lain yang menyebabkan hal tersebut adalah kegagalan para pendidik dalam membangkitkan motivasi belajar bagi anak didik. Padahal Belajar dalam Islam mempunyai kedudukan yang tinggi. Perintah pertama Allah kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca. Membaca adalah aktifitas utama dalam proses belajar. Siapa saja yang melakukan aktifitas membaca dalam pengertian aktifitas seluruh indra manusia dalam memahami dirinya dan sekitarnya adalah proses belajar. Dalam kaidah Islam diketahui bahwa perintah hukumnya wajib, siapa yang meninggalkan atau melalaikan perintah akan mendapatkan konsekwensi. Maka, jika aktifitas belajar adalah perintah dalam Islam maka belajar hukumnya wajib, dan ini pun telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW.

َ ط

َ ل

َ ب

َ

َ علا

َ ل

َ مَ

َ ف

َ ر

َ ي

َ ض

َ ة

َ

َ ع

َ ل

َ كَى

َ ل

َ

َ م

َ س

َ لَ م

َ

“Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap muslim3” (HR. Baihaqi)

Rasulullah menegaskan bahwa menuntut ilmu itu adalah suatu kewajiban bagi setiap insan yang beriman kepada Allah. Orang Islam yang menuntut ilmu berarti ia telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, karena Allah memerintahkan kepada

2Nasution, Harun. Islam Rasional. Bandung: Mizan, 1998, Hal 428

3 Kata setiap muslim menunjukkan laki-laki dan perempuan, sementara versi (hadits) yang lain

menambahkan dan muslimah. Otoritas (penambahan kata dan muslimah) justru cenderung menjadikan hadits ini dhaif (lemah). Bagaimanapun, hadits tersebut lebih otentik dengan anjuran bagi seluruh muslim, laki-laki dan perempuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Lihat Maulana Muhammad Ali, A Manual

(3)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

setiap mukmin untuk menuntut ilmu.4 Tanpa ada diskriminasi sebagaimana yang dituduhkan kaum feminis pendukung kaum gender, agama Islam menganjurkan setiap lelaki dan perempuan belajar serta menggunakan ilmu yang dimilikinya, juga untuk mengembangkan dan menyebarkan ilmunya. Islam tidak saja membatasi pada anjuran supaya belajar, bahkan menghendaki supaya seseorang itu terus menerus melakukan pembahasan, penelitian dan studi.5

Al-Qur‟an dan al-Hadits sebagai sumber utama dalam rujukuan Islam, menunjukkan dorongan kepada setiap orang muslim dan mukmin untuk selalu rajin belajar. Anjuran menuntut ilmu tersebut dibarengi dengan pentingnya komponen-komponen pendukung guna makin meningkatkan semangat belajar bagi setiap orang. Salah satu komponen yang utama adalah motivasi, baik itu motivasi yang datang dari dalam diri sendiri atau motivasi internal, maupun motivasi yang ditumbuhkan dari peranan lingkungan sekitarnya atau motivasi eksternal.

Dalam konsep umum telah lama dipahami bahwa motivasi merupakan pendorong bagi setiap individu untuk melakukan aktifitasnya apapun itu. Perilaku belajar bagi bagi manusia tidak terlepas dari adanya motivasi yang ada di dalam dirinya. Proses belajar mengajar di kelas selalu menuntut adanya motivasi dalam diri setiap siswa. Keberadaan motivasi dalam proses pembelajaran merupakan fakor penting yang akan mempengaruhi seluruh aspek-aspek pembelajaran.

Siswa yang termotivasi akan menunjukkan respon berupa minat untuk melakukan aktifitas pembelajaran, merasakan keberhasilan diri, mempunyai usaha-usaha untuk sukses dan memiliki strategi-strategi kognitif yang efektif dalam menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Demikian juga guru yang memiliki motivasi dalam proses pembelajaran akan merasa bahwa mereka dapat membantu siswanya untuk belajar dan memberikan waktu untuk membuat perencanaan dan strategi-strategi untuk mensukseskan pembelajaran.

Atas dasar urgensi itu analisis tentang motivasi belajar inilah, perlu kajian yang komprehensif tentang bagaimana konsep strategi dalam pendidikan Agama Islam.

4

M. Syureich, Persiapan Menghadapi Hari Esok (Jakarta: Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, 1991), 46.

5 Muhammad „Athiyah al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Gani

(4)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

Sehingga pembelajaran yang dilaksanakan dalam pendidikan agama Islam dapat menjadi solusi bagi permasalahan-permasalahan modern. Demikian juga output pendidikan agama Islam menjadi kontributif bagi masyarakatnya.

B. Pembahasan 1. Pengertian

Motivasi itu sesungguhnya merupakan seluruh proses gerakan yang mencakup berbagai rangsangan. dorongan, atau daya pembangkit bagi terjadinya suatu prilaku. Dorongan dalam proses gerakan itu pada dasarnya adalah rangsangan pembangkit bagi terjadinya prilaku, dalam rangka mencapai suatu tujuan. Motivasi-motivasi yang timbul pada diri individu mempunyai peranan dan fungsi ganda yaitu sebagai pembangkit aktivitas individu dan sebagai penyeleksi setiap aktivitas yang dilakukan. fungsi dan peranan motivasi memiliki kecenderungan yang sangat dominan dalam membentuk kepribadian individu secara optimal.

Motivasi terdiri dari beberapa pengertian antara lain dalam bahasa Inggris yakni motive yang artinya penggerak.6 Dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu atau usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu bergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya7.

Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisasi yang meyebabkan kesiapannya untuk memenuhi serangkaian tingkah laku atau perbuatan, sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah laku untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu8.

6

Jhon M. Echol dan Hasan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), Cet. Ke-2,593

7

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), Cet. Ke-2, 593

8

(5)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

Motif adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Atau seperti dikatakan oleh Sertain dalan bukunya Psychology Understanding of Human Behaviour, motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku atau perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang9.

WS. Winkel membedakan motif dan motivasi sebagai berikut: Motif merupakan daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan dan motivasi merupakan daya penggerak yang telah menjadi aktif10.

Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli mengenai motif dan motivasi dapat diambil kesimpulan bahwa Motif adalah .Suatu tenagayang mendorong atau menggerakkan individu untuk bertindak melakukan sesuatusedangkan motivasi adalah suatu kondisi yang tercipta atau diciptakan untuk membangkitkan dalam diri individu agar mencapai tujuan tertentu. Adapun yang dimaksud dengan motivasi belajar adalah kekuatankekuatan atau tenaga-tenaga yang dapat memberikan dorongan kepada kegiatan

belajar siswa11.

Tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi sangat dipengaruhi oleh seberapa besarnya motivasi yang ditimbulkan pada diri individu berarti pula perubahan energi yang dimanfaatkanpun akan semakin besar, serta didahului adanya reaksi-reaksi yang ingin dicapai. Jadi motivasi belajar sebagai system bimbingan internal yang berusaha untuk menetapkan fokus anak dalam hal belajar, namun harus berdiri pada dirinya sendiri dan berkompetisi melawan semua hal menarik lain pada eksistensi keseharian12.

Sardiman mengemukakan bahwa .Dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan

Cet. Ke-11, h. 28

9 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Cet. Ke-11, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1996), 60 10

WS. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: PT. Gramedia, 1996), 27

11

Amier Daien Indra Kusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), 162

12

Raymond J. Wlodkowski dan Judith H. Jaynes, Motivasi Belajar, (Jakarta: Cerdas Pustaka, 2004), Cet. Ke-2, 12

(6)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai13. Prayitno mengatakan bahwa: .Motivasi belajar tidak saja merupakan suatu energi yang menggerakkan siswa untuk belajar tetapi juga sebagai suatu yang mengarahkan aktivitas siswa kepada tujuan belajar14.

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Motivasi Belajar adalah . Dorongan atau kekuatan dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan serta arah belajar untuk mencapai tujuan yang dikehendaki siswa.

2. Jenis-Jenis Motivasi Belajar

Siswa akan berhasil dalam proses belajar kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Keinginan atau dorongan untuk belajar. keadaan inilah yang disebut dengan motivasi. Motivasi dalam hal ini meliputi dua hal: (1) mengetahui apa yang akan dipelajari, dan (2) memahami mengapa hal tersebut patut dipelajari. Tanpa motivasi, kegiatan belajar akan sulit untuk berhasil bahkan tidak akan berhasil.

Secara umum, ada 2 jenis motivasi yang mempengaruhi kegiatan belajar seseorang:

a. Motivasi Intrinsik, yaitu motif-motif15 yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

Siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan

13

A. M. Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), 75

14

Elida Prayitno, Motivasi dalam Belajar, (Jakarta: PPLPTK DepDikBud, 1989), h. 8

15 Motif diartikan sebagai suatu kekuatan atau daya pendorong yang menyebabkan orang mulai

bergerak atau mengambil suatu tindakan. Sudarsono, Kamus Filsafat dan Psikologi (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), h. 160. Motif juga dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi mencapai sutau tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Lihat Sardiman, Interaksi dan Motivasi, Op.cit., h. 71.

(7)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbol dan seremonial. b. Motivasi Ekstrinsik, adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena

adanya perangsang dari luar.16

Motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktifitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktifitas belajar.

3. Teori-Teori Motivasi Belajar

Motivasi merupakan sebuah bangunan psikologi yang mempunyai banyak pembahasan dengan berdasarkan berbagai macam teori. Beberapa teori dikembangkan melalui eksperimen dengan binatang di laboratorium-laboratorium. Teori yang lain dikembangkan berdasarkan pada penelitian-penelitian yang menggunakan manusia sebagai objek penelitiannya melalui eksperimen-eksperimen dalam situasi yang telah dikondisikan oleh para peneliti. Teori yang lain berkembang dari hasil pengalaman-pengalaman bekerja dalam lapangan psikologi klinik dan industry.

a. Motivasi dalam teori Pembelajaran Perilaku

Pada pertengahan abad dua puluh, aliran perilaku (behavioristik) merupakan aliran psikologi yang cukup populer17. Diantara teori pembelajaran yang termasuk ke dalam aliran behavioristik ini adalah teori koneksionisme yang dipopulerkan oleh Thorndike, Kondisioning klasik yang dipopulerkan oleh Pavlov, dan kondisioning Operan dari B.F. Skinner. Ke empat teori tersebut termasuk ke dalam kelompok aliran behavioristik yang menekankan adanya hubungan antara stimuli dan respon sebagai mekanisme perubahan perilaku. Teori tersebut sangat relevan dengan motivasi karena dalam aliran behavioristik motivasi yang muncul dari diri individu berkaitan dengan tingkat respon individu terhadap stimulan.

1) Kondisioning Klasik

Teori kondisioning klasik oleh Pavlov merupakan teori yang muncul dari hasil eksperimennya dengan menggunakan anjing sebagai objek penelitiannya. Dari hasil

16 Selanjutnya lihat Sardiman, Interaksi dan Motivasi, Op.cit., h. 37, 87-89. 17

(8)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

penelitiannya diambil kesimpulan bahwa jika daging diletakkan di dekat mulut anjing yang lapar maka anjing akan mengeluarkan air liur (salivation). Bahkan jika daging tersebut dipasangkan dengan bel yang sesungguhnya jika disendirikan maka tidak akan menimbulkan respon dari anjing, namun jika diletakkan bersamaan dengan daging maka bel itu dapat membuat anjing mengeluarkan liurnya18.

Teori Pavlov ini dapat menimbulkan energy gerakan jika diterapkan di dalam ruangan kelas dimana pembelajaran dilaksanakan dapat diterapkan dengan menggunakan tips yang ditawarkan oleh Woolfolk sebagaimana dikutip oleh Esa Wahyuni:

a) Memberikan suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas-tugas belajar dengan menekankan adanya kerjasama dan kompetisi antar kelompok dari pada antar individu. Hal ini disebabkan karena siswa akan memiliki respon yang negative terhadap kompetisi antar individu.

b) Membimbing siswa agar dapat mengatasi situasi-situasi yang mencemaskan atau menekan. Misalnya dengan mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkan siswa yang lain cara memahami sebuah materi. Atau jika ada siswa yang takut berbicara di depan kelas maka guru memintanya untuk menyampaikan sebuah laporan di depan kelompok kecil saja19.

2) Koneksionisme

Koneksionisme adalah teori yang dikembangkan oleh Thorndike. Thorndike adalah seorang psikolog Amerika yang pertama kali mengadakan percobaan hubungan stimuli dan respon dengan kucing melalui prosedur dan apparatus yang sistematis20. Eksperimennya sebagai berikut:

a) Kucing yang lapar diletakkan dalam kotak yang dilengkapi dengan alat pembuka apabila disentuh.

b) Di luar kotak diletakkan daging. Kucing dalam kotak bergerak kesana kemari mencari jalan keluar untuk mendapatkan daging tersebut. Usaha pertama gagal, namun kucing terus berusaha berkali-kali.

18 Gordon H. Bower, The Psychology of Learning and Motivation, (California: Akademic Press, 1990) 38 19 Peter Westwood, Learning and Learning difficulties, (Victoria:Acer Press, 2002) 18

20

(9)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

c) Pada suatu ketika kucing tanpa sengaja menyentuh alat pembuka sehingga pintu kotak terbuka dan kucing pun mendapatkan daging.

Percobaan Thorndike tersebut diulang-ulang dan respon kucing sama saja, namun makin lama makin cepat dalam membuka pintunya. Gerakan usahanya makin sedikit dan makin efisien. Akhirnya ketika kucing diuji coba kembali dapat membuka pintu dengan sekali gerakan.

Dari percobaan tersebut Thorndike menyatakan bahwa perilaku belajar manusia oleh stimulus yang ada di lingkungan sehingga menimbulkan respon secara refleks. Stimulus yang terjadi setelah sebuah perilaku terjadi akan mempengaruhi kegiatan selanjutnya. Percobaan inilah yang disebut sebagai teori koneksionisme yang artinya sebuah stimuli akan berhubungan dengan respon yang akan muncul sebagai hasil dari stimuli yang diberikan.

Intrich dan Sucnk menyatakan dalam Esa Nur Wahyuni menyatakan bahwa pada tahun 1932 Thorndike merevisi pernyataan yang dibuatnya dengan berdasarkan pada penelitiannya yang menemukan bahwa pemberian hadiah sebagai konsekuensi dari sebuah tindakan dapat menguatkan tindakan tersebut di masa yang akan datang. Sedangkan hukuman tidak selalu dapat melemahkan sebuah perilaku21.

Penerapan teori ini ke dalam pembelajaran adalah siswa perlu didorong dan dijaga motivasinya untuk siap melakukan aktifitas serta memberikan konsekwensi yang menyenangkan terhadap perilaku yang cocok dengan yang dilakukannya. Oleh karena itu, siswa membutuhkan kondisi-kondisi tertentu untuk belajar serta pengalaman-pengalaman yang diinginkan, mengetahu nilai-nilai penting belajar, dan menerima feedback yang positif.

3) Konditioning Operan

Teori kondisioning operan B.F. Skinner merupakan teori kondisioning yang berpengaruh pada pada motivasi, khususnya dalam pembelajaran. Menurut teori ini, perilaku-perilaku manusia telah telah diarahkan oleh sebuah rangsangan tertentu seperti

21

(10)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

anjing pada eksperimen Pavlov, manusia juga bisa mengeluarkan air liur ketika lapar dan melihat makanan di depannya22.

Demikian juga pada teori Thorndike yang mengatakan bahwa manusia mempunyai sikap refleks untuk belajar tentang segala sesuatu, bagi Skinner belajarnya manusia mempunyai hubungan dengan akibat yang akan diterimanya dari perilaku belajarnya. Artinya, jika akibat dari belajarnya adalah hal yang menyenangkan maka siswa akan semangat dalam belajar. Namun, jika akibat dari belajarnya adalah hal yang buruk maka hal tersebut dapat melemahkan perilaku belajar seorang siswa.

Dari eksperimen-eksperimen yang Skinner lakukan terdapat empat prinsip-prinsip belajar yang berkaitan dengan bagaimana membuat siswa mempunyai energi untuk belajar. Empat prinsip tersebut adalah penguatan (reinforcement), hukuman (funishment), memberi contoh kecil (shapping), dan pengurangan (extintion)23.

Reinforcement adalah sebuah penguatan kepada siswa sebagai akibat dari perilaku belajarnya yang baik. Bentuk dari reinforcement biasanya berbentuk hadiah yang menyenangkan bagi siswa sehingga dapat membuat siswa semakin bersemangat untuk melakukan dan mewujudkan perilaku belajarnya yang nantinya akan memberikan akibat yang menyenankan pula. Dalam pemberian penguatan kepada siswa banyak hal yang harus diperhatikan, diantaranya jangan sampai penguatan yang diberikan kepada siswa tidak tepat sasaran sehingga tidak menghasilkan perubahan perilaku belajar. Kekeliruan-kekeliruan dalam memberikan reinforcement biasanya terjadi karena guru tidak memahami jenis-jenis reinforcement tersebut.

Dari segi jenisnya reinforcement dapat dibagi menjadi dua yaitu reinforcement primer dan sekunder. Reinforcement primer adalah penguatan berupa kebutuhan dasar manusia seperti makanan, keamanan dan kenyamanan. Sedangkan reinforcement sekunder adalah reinforcement yang merupakan adaptasi dari reinforcement primer. Sebagai contoh uang adalah kebutuhan primer namun tidak akan berarti kebutuhan utama jika itu diberikan kepada anak kecil yang belum mengetahui arti dari kegunaan uang tersebut.

22 Jonathan E. Larson , Educational Psychology Cognition and learning (New York: Nova Science

Publisher, 2009) 216

23

(11)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

Dari segi bentuknya reinforcement dapat dibagi menjadi dua yaitu reinforcemen positif dan negative24. Reinforcement positif diberikan untuk memberikan penguatan perilaku dan meningkatkan kualitas perilakunya seperti pujian, dan hadiah-hadiah. Sedangkan reinforcement negatif adalah konsekwensi berupa penarikan diri dari situasi yang tidak menyenangkan untuk menguatkan perilaku belajar. Seperti seorang guru membebaskan siswa untuk disetrap di depan kelas jika dapat mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Punishment adalah penghadiran konsekuensi yang tidak menyenangkan untuk menurunkan kualitas dan kuantitas sebuah perilaku yang tidak diinginkan. Menurut Kazdin dalam Esa membagi punishment menjadi dua yaitu punishment yang tidak menyenangkan seperti menjemur di lapangan hingga materi selesai dan punishment positif berupa hal yang menyenangkan seperti akan dibelikan sepeda jika mengurangi bolos dari sekolah.

b. Motivasi dalam Teori Pembelajaran Kognitif

Pendekatan kognitif tentang motivasi adalah merupakan sebuah reaksi dari pandangan-pandangan behavioral terhadap motivasi. Aliran kognitif berpendapat bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh cara berfikir, tidak sekedar dari adanya penguatan atau mendapatkan konsewensi negative karena perbuatannya. Perilaku manusia akan lebih diatur oleh rencana-rencana, tujuan-tujuan, ekspektasi skema-skema dan atribusi25.

Pendekatan kognitif berpendapat bahwa manusia merespon bukan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dari luar dirinya atau kondisi-kondisi secara fisik, seperti lapar, akan tetapi manusia merespon berdasarkan interpretasinya terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. Misalkan seorang siswa yang merasa lapar ketika mengikuti pelajaran di kelas tidak akan secara otomatis mencari makanan untuk dimakan. Hal tersebut dikarenakan interpretasi siswa bahwa tidak sopan untuk makan pada saat jam pelajaran berlangsung.

Pada aliran ini manusia dipandang sebagai makhluk yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, mereka aktif dalam mencari informasi-informasi yang dibutuhkan untuk memecahkan problem yang dihadapinya. Manusia lebih suka

24 Jonathan E. Larson , Educational Psychology Cognition and learning 214 25

(12)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

berusaha untuk bekerja keras karea ia ingin memahami sehingga aliran ini lebih menekankan pada motivasi yang berasal dalam diri manusia yang didapatkan dari proses berfikir26.

c. Motivasi dalam Teori Pembelajaran Humanistik

Abraham Maslow menyusun kebutuhan manusia secara hirarkis27 yang dapat dilihat dalam gambar berikut:

Table 2.2 Hirarki Kebutuhan Manusia menurut Abraham Maslow

Pembagian di atas dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kebutuhan defisiensi seperti kebutuhan fisiologis, keamanan, diakui dan harga diri. Kemudian kelompok selanjutnya adalah kebutuhan pengembangan yang mencakup kebutuhan untuk mengaktualisasikan kemampuannya, kebutuhan untuk mengetahui dan memahami, dan kebutuhan estetis.

26Robert A. Slavin, Educational Psychology 164-69 27

Robert A. Slavin, Educational Psychology 319-320

transee ndence ce aktualisasi Kebutuhan estetik Kebutuhan mengetahui

Kebutuhan harga diri Kebutuhan dicintai & diakui

Kebutuhan rasa aman Kebutuhan-kebutuhan fisiologis

(13)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

Sebagai kebutuhan yang bersifat berurutan maka kebutuhan yang bersifat fisiologis harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum melanjutkan kepada kebutuhan selanjutnya. Substansi dari teori kebutuhan ini adalah kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya.

Implikasi teori ini dalam pendidikan dan pembelajaran bahwa dalam pendidikan dan pembelajaran bawah hubungan antara kebutuhan dasar dan kebutuhan pengembangan hendaknya mendapatkan perhatian yang besar oleh para guru dan pelaku pendidikan. Hal ini berarti dalam belajar kebutuhan dasar harus terpenuhi dahulu seperti seorang anak yang dalam keadaan lapar tidak akan bisa mengembangkan kebutuhan pengembangannya yaitu belajar. Jika siswa tidak yakin bahwa dirinya akan dicintai oleh lingkungan belajarnya maka dia tidak akan melakukan perilaku belajarnya dengan maksimal.

C. Konsep Motivasi dalam Pendidikan Agama Islam

Pada umumnya pendidikan agama identik dengan pendidikan Islam Secara sederhana pendidikan Islam dapat diartikan sebagai suatu proses pengembangan potensi kreativitas peserta didik, bertujuan untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, cerdas, terampil, memiliki etos kerja yang tinggi, bebudi pekerti yang luhur, mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya, bangsa dan negara serta agama.28

Pendidikan Islam bersumber pada nilai-nilai agama Islam disamping menanamkan atau membentuk sikap hidup yang dijiwai nilai-nilai tersebut, sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur‟an dan Al-hadist. Dan yang menjadi sasaran dari pendidikan Islam adalah mengintegrasikan iman dan taqwa dengan ilmu pengetahuan dalam pribadi manusia di akhirat, hal ini sesuai dalam UU RI No. 20 tahun 2003, pada ketentuan umum disebutkan bahwa:

28Arief, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002),

(14)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengenalan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa, dan negara.29

Dari pengertian tersebut tampak bahwa output pendidikan adalah terbentuk-nya kecerdasan dan ketrampilan seseorang yang dapat berguna bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Artinya masa depan bangsa dan negara ditentukan sejauh mana pendidikan bangsa Indonesia dan seberapa kecerdasan maupun ketrampilan yang dimilikinya untuk dapat membangun negaranya agar maju dan berkembang.

Ada beberapa pengertian pendidikan agama Islam menurut beberapa tokoh antara lain: a. Ahmad D Marimba, dalam bukunya pengantar filsafat pendidikan Islam

menyebutkan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani rohani berdasarkan hukum-hukum agama menuju kepada terbentuknya kepribadian utama berdasarkan ukuran-ukuran Islam.30

b. Menurut Hamdani Ihsan. Dalam bukunya Filsafat Pendidikan Agama Islam, pendididkan agama Islam ialah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menuntut ukuran Allah dan sisi pendidikan untuk mewujudkan tujuan atau adalah ajaran Allah.31

c. Zuhairini, dalam bukunya metodik kudus pendidikan agama menyebutkan bahwa pendidikan Islam adalah usaha sistematis dan praktis dalam

29Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

(SISDIKNAS): Beserta Penjelasannya (Bandung: Citra Umbara, 2003). hal.3.

30Ahmad D Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, PT AL-MA‟arif, (Bandung, 1989),

hal. 19

31

(15)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

membentuk anak didik agar supaya mereka hidup sesuai ajaran agama Islam.32

Dari berbagai pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan agama disamping ilmu pengetahuan tentang agama Islam juga diarahkan pembentukan pribadi yang sesuai ajaran Islam dalam proses belajar mengajar pendidikan Islam mencakup aspek pengetahuan dan aspek keterampilan sehingga anak didik memiliki pengetahuan tentang Islam sekaligus mampu untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia dan alam sekitarnya.

Esensi pendidikan Islam yang harus dilaksanakan oleh umat Islam adalah pendidikan yang memimpin manusia ke arah akhlak yang mulia dengan memberikan kesempatan keterbukaan terhadap pengaruh dari dunia luas dan perkembangan dalam diri manusia yang merupakan kemampuan dasar yang dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT, didalam Al-Qur‟an surat An-Nahl ayat 78: َ ف لْا وَ رب ص ب لْا وَ ع مهسلاَ م ك لَ ل ع ج وَبًئ ي شَ نى م ل ع تَ لََ م ك تب ههم أَ نى ط بَ ه مَ م ك ج ر خ أَ هاللَّ و َ تَ م كهل ع لَ ة د ئ َ نو ر ك ش (... 87 ) َ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur” (QS.An-Nahl:َ78).33

Sesuai dengan ayat tersebut di atas jelaslah bahwasanya usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses pendidikan sebagai upaya membimbing dan mengarahkan kemampuan-kemampuan dasar dan

32 Zuhairini, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: PT Usaha Nasional, 1983),

hal. 27

33

(16)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

belajar manusia baik sebagai makhluk maupun dalam hubungannya dengan alam sekitar.

Selanjutnya menurut Munardji dikutip dari H. Djumberansjah Indar: "Bahwa untuk memahami pendidikan agama Islam lebih mendalam, maka tentu amat mustakhil tanpa terlebih dahulu memahami Islam itu sendiri sebagai kekuatan yang memberi hidup bagi sesuatu peradaban besar yang mana salah satu buahnya adalah pendidikan.34

Adapun al-Ghazali walaupun belum merumuskan pengertian pendidikan secara jelas. Namun, lebih spesifik, Al-Ghazali tentang pendidikan menyatakan:

”Sesungguhnya hasil ilmu ialah mendekatkan kepada Allah, Tuhan semesta alam, menghubungkan diri dengan ketinggian malaikat dan berhampiran dengan malaikat tinggi...”.35

”...Dan ini, sesungguhnya adalah dengan ilmu yang berkembang melalui pengajaran dan bukan ilmu yang beku dan tidak berkembang.”36

Dari pengertian tersebut di atas, menurut analisis Abu Rusdi dikutip oleh Syaefuddin,37 kata ”hasil”, seperti tertera dalam kutipan pertama di atas, menunjukkan proses, kata ”mendekatkan diri kepada Allah” menunjukkan tujuan dan kata ”ilmu” menunjukkan pada alat. Adapun kutipan kedua merupakan penjelasan mengenai alat, yakni disampaikannya dalam bentuk pengajaran.

Dengan demikian, pandangan Al-Ghazali mengenai pendidikan agama Islam adalah sarana bagi pembentukan manusia yang mampu mengenal Tuhannya dan berbakti kepada-Nya. Dalam pandangan Al-Ghazali dinyatakan bahwa manusia yang dididik

34 Munardji, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bina Ilmu, 2004), hal. 9

35 Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya‟ Ulum Ad-Din, Juz I (tk. Sirkah Nur

Asia, tt), hal. 13

36 Ibid., hal. 11

37Syaefuddin, Percikan Pemikiran Al-Ghazali dalam Pengembangan Pendidikan Islam, (Bandung:

(17)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

dalam proses pendidikan hingga pintar, namun tidak bermoral, orang tersebut dikategorikan sebagai orang bodoh, yang hidupnya akan susah. Demikian pula, orang yang tidak mengenal dunia pendidikan, dipandangnya sebagai orang yang binasa. Pandangan ini berdasarkan pernyataan Abu Darda, salah seorang sahabat Nabi, yang dikutip oleh Al-Ghazali dalam bukunya:

”Orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu berserikat pada kebaikan. Dan manusia lain adalah bodoh dan tak bermoral. Hendaklah engkau menjadi orang yang berilmu atau belajar atau mendengar, dan jangan engkau menjadi orang keempat (tidak masuk salah seorang dari ketiga itu), maka binasalah engkau”.38

Berdasarkan pernyataan ini Al-Ghazali menekankan pentingnya manusia berilmu dan ilmu itu harus diajarkan kepada yang lainnya. Dengan kata lain, Al-Ghazali menghendaki bahwa pendidikan menjadi suatu kebutuhan pokok umat Islam karena Islam menghendaki pendidikan itu berlangsung sepanjang hayat manusia. Dengan pendidikan itu pula, umat Islam dapat berproses hingga mencapai predikat sebagai insan kamil, yakni manusia yang memiliki integritas moral yang tinggi, yang dibangun dari nilai-nilai akhlak yang diajarkan oleh Islam.

Dari banyak definisi tentang pendidikan agama Islam di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa pengertian pendidikan agama Islam adalah suatu proses yang komprehensif dan pengembangan kepribadian manusia secara keseluruhan, yang meliputi intelektual, spiritual, emosi dan fisik, sehingga seseorang muslim disiapkan dengan baik untuk dapat melaksanakan tujuan-Nya (khalifah-Nya) di dunia.

Motivasi adalah dorongan yang sangat menentukan tingkah laku dan perbuatan manusia. Ia menjadi kunci utama dalam meninterpretasikan dan melahirkan perbuatan

38Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya‟ Ulum Ad-Din, Juz I (tk. Sirkah Nur

(18)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

manusia. Dalam konsep Islam peranan ini disebut niyyah. Niyyah adalah pendorong utama manusia untuk berbuat atau beramal. Dalam sebuah hadith Rasulullah bersabda,

…….

Artinya:

“………….sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya”39

Niat yang dilakukan karena Allah adalah ibadah, maka lingkaran perbuatan manusia berada pada niat dan ibadah. Niat adalah pendorong manusia untuk melakukan perbuatan sementara ibadah adalah tujuan manusia untuk melakukan perbuatan. Dalam kaitannya dengan motivasi, ibadah menjadi salah satu motif kuat bagi manusia untuk melakukan perbuatan termasuk belajar.

Dalam hubungannya dengan perbuatan dan tingkah laku manusia, dapat dijelaskan bahwa manusia berbuat untuk memenuhi kebutuhannya, Baharuddin mengatakan bahwa dalam Islam ada tiga jenis motivasi, motivasi jismiah, motivasi nafsiah dan motivasi ruhaniah40.

Motivasi nafsiah jismiah adalah motivasi yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan fisik dan biologis berupa makan, minum, pakaian dan lain-lain. motivasi nafsiah adalah motivasi yang pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat psikologis seperti rasa aman, seksual, penghargaan diri, rasa ingin tahu, rasa memiliki, rasa cinta dan lain-lain. Motivasi ruhaniah adalah motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat spiritual seperti aktualisasi diri, agama dan lain-lain41.

Menurut Abraham Maslow ada tiga motivasi utama manusia dalam bertingkah laku, yaitu motivasi biologis, motivasi psikologis dan motivasi meta-motivasi42. Menurutnya meta-motivasi adalah pemenuhan aktualisasi diri berupa perwujudan potensi batin manusia43. Baharuddin menyebut meta-motivasi yang disebutkan oleh Abraham Maslow sebagai motivasi spiritual yang merupakan motivasi tertinggi dalam tingakatan kebutuhan manusia44.

39 Al Bukhari. Sahih al-Bukhari, Juz’ al-awwal (Semarang:Toha Putra,tt.h) 2

4040 Baharuddin, Paradigma Psikologi Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004) 251 41

Ibid

42Abraham Horald Maslow, Motivation and Personality, (New York: Harper & Row, 1970) 35-47 43 Ibid 149

44

(19)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

Perwujudan motivasi utama manusia ini tampil dalam bentuk ibadah. Ibadah menjadi pendorong utama manusia dalam bergerak dan bertingkah laku. Dorongan motivasi dalam bentuk ibadah ini muncul dari dalam diri manusia sehingga menimbulkan kekuatan yang besar dan bertahan lama. Namun, walaupun motivasi spiritual adalah motivasi tertinggi dalam konsep Islam namun tidak banyak diantara manusia yang dapat memanfaatkannya menjadi pendorong utama dalam bergerak.

Dalam kaitannya dengan tingkah laku belajar, motivasi spiritual dapat menjadi sumber daya gerak siswa untuk melakukan perilaku belajar yang sesungguhnya. Jika dalam memenuhi kebutuhan fisik dan psikologi dorongan belajar tidak akan bertahan lama dan tidak menghasilkan daya gerak yang dahsyat, dalam memenuhi kebutuhan spiritual belajar yang diniatkan ikhlas mencari ridha Allah akan bermakna ibadah dan menghasilkan daya gerak yang sangat luar biasa dan akan bertahan lama bahkan kekal.

D. Penutup

1. Motivasi dalam proses interaksi pembelajaran mempunyai kedudukan yang penting. Pentingnya kedudukan motivasi dalam pembelajaran dapat dilihat dari efektifnya pembelajaran. Pembelajaran dapat disebut efektif dan berhasil jika terjadi respon positif dari peserta didik, terjadi interaksi timbal balik dari peserta didik, siswa aktif dan mandiri dan kelas menjadi miniatur sosial budaya yang sesungguhnya.

2. Secara umum umum, motivasi intrinsik menempati posisi utama dalam pembelajaran yang berhail. Motivasi ekstrinsik dinilai tidak bisa bertahan lama dan membuat siswa tergantung kepada pendidik. Siswa menjadi tidak aktif dan tidak kreatif. Motivasi intrinsik dinilai dapat bertahan lama karena inisiatif pembelajaran berawal dari diri peserta didik sendiri.

3. Dalam Pendidikan agama Islam, motivasi tauhid menjadi inti dari setiap aktifitas termasuk belajar. Belajar yang dilandasi pelaksanaan fungsi penghambaan kepada Allah adalah salah satu indikasi pembelajaran yang sukses. Motivasi selain Allah menjadi suatu kebolehan dengan syarat tidak melampaui motivasi pengesaan kepada Allah.

(20)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

Daftar Pustaka

Abraham Horald Maslow, Motivation and Personality, (New York: Harper & Row, 1970)

Al Bukhari. Sahih al-Bukhari, Juz’ al-awwal (Semarang:Toha Putra,tt.h) Baharuddin, Paradigma Psikologi Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004)

Muhammad Nur, Pemotivasian Siswa Untuk Belajar, (Surabaya:PPMS UNESA, 2003) Jonathan E. Larson , Educational Psychology Cognition and learning (New York:

Nova Science Publisher, 2009)

Peter Westwood, Learning and Learning difficulties, (Victoria:Acer Press, 2002) Esa Nur Wahyuni, Motivasi dalam Pembelajaran (Malang :UIN Malang Press, 2009) Gordon H. Bower, The Psychology of Learning and Motivation, (California: Akademic

Press, 1990)

Amier Daien Indra Kusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1973),

Raymond J. Wlodkowski dan Judith H. Jaynes, Motivasi Belajar, (Jakarta: Cerdas Pustaka, 2004), Cet. Ke-2,

A. M. Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004),

Elida Prayitno, Motivasi dalam Belajar, (Jakarta: PPLPTK DepDikBud, 1989)

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), Cet. Ke-11,

M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Cet. Ke-11, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1996)

WS. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Jakarta: PT. Gramedia, 1996)

Jhon M. Echol dan Hasan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), Cet. Ke-2

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), Cet. Ke-2

M. Syureich, Persiapan Menghadapi Hari Esok (Jakarta: Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, 1991)

(21)

Ta’dibi : Jurnal Prodi Manajemen Pendidikan Islam Volume VI Nomor 2, September 2017 – Februari 2018

Muhammad „Athiyah al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry (Jakarta: Bulan Bintang, 1974)

Muhaimin dkk., Strategi Belajar Mengajar (Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama). Surabaya: CV. Citra Media, 1996

Gambar

Table 2.2 Hirarki Kebutuhan Manusia menurut Abraham Maslow

Referensi

Dokumen terkait

Kompetensi dan materi keimanan konsep pendidikan Luqman al- Hakim berbasis tauhid, sedangkan SD Islam al-Azhar 16 Cilacap terbatas pada iman kepada Allah dengan

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id.. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa individu merupalcan kesatuan antara jiwa dan raga dan di dalam jiwa tersebut terdapat pembawaanpembawaan yang dapat terpengaruh,

dan Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi

Sedangkan kelompok ajaran data dibagi kepada ajaran dasar sesuai yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits, dan ajaran bukan dasar yang timbul sebagai penafsiran dan

“Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Al-Qur’an di MI Alam Luqman Al Hakim Batu” sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar

Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) Bagaimana gambaran pendidikan SD I Integral Luqman Al-Hakim? 2) Motivasi apakah yang melandasi orang tua memilih SD Islam Integral Luqman

Dalam rangka menuntaskan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus, pemerintah mulai Pelita II menyelenggarakan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Di SDLB