1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengembangan wilayah merupakan upaya pembangunan di suatu wilayah dengan tujuan mencapai kesejahteraan masyarakat dan memanfaatkan berbagai sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya kelembagaan, dan sumber daya teknologi serta prasarana fisik yang berkelanjutan (Rahayu & Santoso, 2014). Secara umum konsep pengembangan wilayah terdiri dari tiga yaitu pengembangan wilayah dari atas (Development from Above), pengembangan wilayah dari tengah
(Development from Within), dan pengembangan wilayah dari bawah (Development from Bellow). Pengembangan wilayah dari atas (Development from Above)
merupakan pengembangan dari sektor dinamis atau wilayah pusat yang menjalar ke sektor atau wilayah lainnya. Pengembangan wilayah dari atas terdiri dari prinsip dasar dan asumsi growth pole dan growth center.
Menurut perspektif neoklasik (Hirscman, 1985) setiap wilayah memiliki perbedaan potensi faktor pertumbuhan (sumberdaya alam, tenagakerja, modal dan teknologi). Perbedaan faktor pertumbuhan ekonomi tersebut mendorong spesialisasi wilayah berdasarkan keunggulan komparatif masing-masing, dimana pengembangan suatu wilayah dengan wilayah lainnya dapat berbeda. Salah satu strategi untuk mengurangi ketimpangan pengembangan wilayah adalah dengan mengembangkan wilayah tertentu menjadi pusat pertumbuhan (growth pole) secara menyebar (Rahayu & Santoso, 2014). Konsep growth pole oleh Francois Perroux (1995) menyatakan bahwa pembangunan atau pertumbuhan tidak terjadi di semua sektor (wilayah), melainkan hanya pada sektor (wilayah) yang dapat mendorong pembangunan. Teori ini merupakan konsep yang berusaha mengembangkan pusat perekonomian pada wilayah yang masih tertinggal. Oleh karenanya, untuk meningkatkan ekonomi suatu wilayah, perlu dibangun sektor strategis atau pusat kegiatan ekonomi sebagai pusat pertumbuhan. Pusat pertumbuhan baru di suatu daerah dapat dilakukan melalui pembangunan yang menjadi multiplier effect terhadap berbagai sektor sehingga mendorong perubahan di berbagai aspek kearah
yang lebih baik. Dengan fenomena yang ada, berbagai kota-kota besar di Indonesia menjadikan keberadaan suatu institusi pendidikan sebagai “pondasi” atau pusat pertumbuhan yang berpengaruh dalam pengembangan wilayah. Dengan adanya pembangunan perguruan tinggi, suatu kota dapat menarik minat mahasiswa untuk datang dan pada akhirnya mendatangkan pendapatan bagi kota tersebut (Rahayu N. T., 2017).
Pembangunan Pendidikan Tinggi mempunyai fungsi strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan serta sebagai kekuatan moral. Pembangunan didefinisikan sebagai rangkaian usaha mewujudkan pertumbuhan dan perubahan secara terencana dan sadar yang ditempuh oleh suatu bangsa menuju moderinitas dalam rangka pembangunan bangsa (Sondang, 2008). Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi mendefinisikan bahwa pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta program spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. Salah satu daerah yang menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayahnya adalah Tembalang. Kawasan Tembalang merupakan salah satu wilayah pemekaran Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah yang peruntukannya sebagai daerah pusat pengembangan pendidikan serta pertumbuhan perumahan dan permukiman. Sejak berdirinya kampus Universitas Diponegoro (UNDIP) di Tembalang, secara berangsur-angsur keberadaan kampus tersebut menjadi generator pertumbuhan di Tembalang. Pada tahun 1990-2000 sejak pembangunan Kampus UNDIP, Kawasan Tembalang mulai muncul kawasan perumahan yang tersebar di sekitar kampus dan fasilitas pendukung kegiatan pendidikan seperti rumah kos (sewa kamar), rental komputer, warung makan, fotokopi serta fasilitas lainnya yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Daerah yang semula pedesaan terdiri dari lahan hijau berupa pertanian dan perkebunan mulai tumbuh menjadi daerah terbangun sub urban (sub Kota/bagian wilayah Kota) dan terus berkembang pesat hingga sekarang (Samadikun, 2005).
Keberhasilan Tembalang untuk mengembangankan wilayahnya melalui pembangunan Perguruan Tinggi merupakan bukti nyata bahwa keberadaan suatu
institusi pendidikan dapat menjadi multiplier effect yang dapat berpengaruh terhadap berbagai aspek.
“Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademi, politeknik, institut atau universitas. Dewasa ini Institut Teknologi di Indonesia semakin berkembang, baik kuantitas maupun kualitasnya. Kebutuhan akan lulusan dari institut teknologi di tingkat nasional semakin meningkat sehingga mendorong pemerintah merencanakan pendirian Institut Teknologi di lokasi baru. Atas dasar kebutuhan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merencanakan pendirian Institut Teknologi Negeri di Sumatera dan di Kalimantan dalam rangka peningkatan dan pemerataan kualitas SDM di tingkat nasional. Institut Teknologi Sumatera (ITERA) telah ditetapkan sebagai Institut Tekonologi di Pulau Sumatera yang berlokasi di Desa Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. ITERA didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 124 Tahun 2014 tentang Pendirian Institut Teknologi Sumatera (Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 tentang STATUTA Institut Teknologi Sumatera)”
Institut Teknologi Sumatera memiliki potensi besar dalam pembangunannya, hal ini didorong karena ITERA merupakan satu-satunya institut teknologi negeri di Pulau Sumatera. “Berdasarkan Rencana Strategis ITERA Tahun 2014-2019 Institut Teknologi Sumatera masuk ke dalam Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) Merak Bakauheni-Bandarlampung- Palembang- Tanjung Api-Api (MBBPT). Surat Keputusan Mendikbud menyebutkan bahwa pendirian ITERA adalah guna meningkatkan kapasitas daya tampung mahasiswa di perguruan tinggi di Sumatera. ITERA memiliki lahan sangat luas yaitu 275 Ha dalam satu kesatuan kepemilikan oleh Kemenristekdikti. ITERA merupakan centre of excellence yang dapat meningkatkan daya saing Pulau Sumatera melalui pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia, khususnya sarjana teknik yang unggul berdasarkan kebutuhan pengembangan Pulau Sumatera.” Hal ini mendorong masuknya migran dari luar daerah yang datang dengan tujuan untuk menuntut ilmu maupun untuk menetap. Oleh karenanya, pembangunan ITERA diharapkan dapat menjadi salah satu faktor pembangkit perekonomian kawasan.
Institut Teknologi Sumatera didirikan sejak tahun 2014 di Desa Way Huwi dan pembangunannya masih berjalan hingga sekarang. “Jumlah penerimaan mahasiswa ITERA di tahun 2020 mencapai 4.194 mahasiswa dan akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) ITERA, Irfanianta Arif Setyawan, S.Farm., M.Sc. Apt., menyampaikan bahwa mahasiswa baru ITERA merupakan putra putri daerah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Apabila, dikelompokkan berdasarkan regional pulau asal, mahasiswa baru ITERA yang berasal dari Pulau Sumatera berjumlah 2.678 (73,17 %) dan dari luar Pulau Sumatera berjumlah 982 (26,83 %). Adapun 5 Provinsi dengan jumlah mahasiswa baru ITERA terbanyak yaitu Provinsi Lampung 1.632 (44,59%), Sumatera Utara 508 (13,88%), Jawa Barat 444 (12,13%), DKI Jakarta 307 (8,39%) dan Sumatera Selatan 246 (6,72%). Hal ini menunjukkan bahwa ITERA saat ini telah menjadi magnet Provinsi Lampung yang menarik minat mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran mahasiswa pendatang dari berbagai daerah tersebut dapat berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. (Purwaningsih, 1994) mengemukakan terdapat hubungan yang positif antara keberadaan perguruan tinggi dengan tingkat kenaikan pendapatan penduduk.
Pembangunan ITERA diarahkan ke daerah pinggiran yang masih menyediakan lahan luas bagi berdirinya kampus diharapkan dapat membawa perubahan terhadap daerah sekitar. (Purwaningsih, 1994) menyatakan bahwa Perguruan Tinggi dapat membawa perubahan yang tidak saja menyangkut satu atau dua aspek kehidupan, tetapi banyak aspek kehidupan. Aspek nyata yang dapat terlihat dan diukur dari pembangunan ITERA di lokasi baru adalah perubahan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini dikarenakan pembangunan ITERA diikuti pula dengan pembangunan sarana prasarana lainnya yang dapat berpengaruh terhadap kegiatan masyarakat disekitarnya. Pembangunan ITERA sejak tahun 2014 telah membangkitkan aktivitas kegiatan ekonomi seperti rumah kos, jasa fotocopy, laundry, rumah makan dan berbagai kegiatan lainnya yang berperan penting bagi kehidupan mahasiswa. Semakin lama kegiatan ekonomi tersebut semakin tumbuh dan berkembang pesat sehingga membawa perubahan terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Desa Way Huwi, sebagai salah satu daerah pinggiran yang menjadi tujuan pembentukan pusat pertumbuhan baru diharapakan dapat
menciptakan keanekaragaman kehidupan ekonomi yang akan menciptakan berbagai lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Rawn, 1999) mengemukakan bahwa pengaruh dari keberadaan perguruan tinggi bahkan menjadi salah satu faktor pembangkit perekonomian kawasan dan membantu perkembangan fisik dan lingkungannya, namun pengaruh ini dapat bersifat positif maupun negatif.
Berdasarkan kondisi tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi Desa Way Huwi sebelum keberadaan ITERA (tahun 2010) dan sesudah adanya ITERA (tahun 2020). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak positif dan mengantisipasi dampak negatif yang ditimbulkan dari pembangunan ITERA. Rentang waktu penelitian yang digunakan selama 10 tahun berdasarkan peneliti terdahulu mengenai dampak Kampus UNDIP di Tembalang pada tahun 1990-2000 yang mengemukakan bahwa telah terjadi perkembangan yang pesat sejak keberadaan Kampus UNDIP di Kawasan Tembalang (samadikun, 2005).
1.2 Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan penjelasan latar belakang diatas, sebelum didirikan ITERA pada tahun 2010 Desa Way Huwi merupakan kawasan pinggiran yang sepi oleh penduduk. Kondisi fisik Desa Way Huwi didominasi oleh lahan kosong dan sebagian lahan hijau berupa pertanian dan perkebunan yang dikelola oleh penduduk setempat. Keberadaan rumah-rumah penduduk hanya tersebar di beberapa titik dan mengelompok. Mata pencaharian masyarakat mayoritas petani dan masih sedikit yang memiliki usaha. Lokasinya yang berbatasan langsung dengan Kota Bandar Lampung mengakibatkan banyak masyarakat di Desa Way Huwi melakukan kegiatan sehari-harinya di Kota Bandar Lampung, seperti bekerja, sekolah, berbelanja dan berbagai kegiatan lainnya. Hal ini disebabkan karena belum terpenuhinya sarana ataupun fasilitas pendukung untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat di Desa Way Huwi.
Namun, kini keadannya sudah sangat berbeda. Sejak pembangunan ITERA pada tahun 2014 lahan-lahan di Desa Way Huwi yang semula kosong mulai berubah menjadi lahan terbangun, seperti bangunan rumah penyewaan atau kos, pertokoan, rumah makan, dan fasilitas pendukung kegiatan Pendidikan lainnya. Kemunculan berbagai fasilitas tersebut berperan penting bagi kehidupan mahasiswa dan penduduk setempat. Perkembangannya dari tahun ke tahun semakin meningkat dan dapat membawa perubahan terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Berdasarkan kondisi tersebut maka muncul pertanyaan penelitian sebagai berikut:
“Bagaimana Dampak Pembangunan ITERA terhadap Kondisi Sosial dan Ekonomi Masyarakat di Desa Way Huwi, Kecamatan jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan?”
Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi dulu sebelum keberadaan ITERA (tahun 2010) dan kondisi sekarang setelah adanya ITERA (tahun 2020). Penelitian ini menjadi penting dikarenakan belum adanya penelitian terkait dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi dan untuk mengetahui dampak positif serta mengatisipasi dampak negatif dari pembangunan ITERA.
1.3 Tujuan dan Sasaran Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah dijabarkan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi, Kecamatan jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Adapun sasaran yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial masyarakat di Desa Way Huwi
2. Mengidentifikasi dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapakan dapat memberikan manfaat teoritis dan manfaat praktis sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat teori terkait peran perguruan tinggi dalam pengembangan wilayah dan dampak perguruan tinggi terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
1.4.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pihak-pihak terkait antara lain:
a. Bagi Pemerintah
Penelitian ini dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak negatif yang dapat ditimbulkan ITERA dan untuk meningkatkan peran perguruan tinggi dalam pengembangan wilayah. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai masukkan dalam pembuatan kebijakan dan peraturan daerah dalam pengembangan wilayah untuk mencapai tujuan dan kesejahteraan masyarakat.
b. Bagi Institut Teknologi Sumatera
Penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan rumusan maupun kajian lebih lanjut untuk meningkatkan peran dan fungsi Institut Teknologi Sumatera dalam memajukan wilayah dan mensejahterahkan masyarakat.
c. Bagi Masyarakat
Manfaat untuk masyarakat ialah menjadikan pembangunan ITERA sebagai peluang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini berguna untuk pengambilan keputusan dalam berusaha dan memilih tempat tinggal dengan potensi yang lebih baik dan mengurangi kerugian di masa yang akan datang. Penelitian ini juga dapat memberikan pelajaran kepada masyarakat guna menghindari dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh pembangunan ITERA.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini meliputi 2 hal, yaitu ruang lingkup substansi yang berisikan batasan dalam penelitian dan ruang lingkup wilayah yang berisikan lokasi dan batas fisik wilayah studi yang diteliti.
1.5.1 Ruang Lingkup Substansi
Untuk mengetahui dampak dari keberadaan Institut Teknologi Sumatera terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar, ruang lingkup substansi dalam penelitian ini yaitu:
1. Sasaran 1 : Dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial
Dampak diartikan sebagai benturan antara dua benda yang mempunyai pengaruh yang sangat kuat, mendatangkan akibat negatif atau positif sehingga menyebabkan penambahan yang berarti dalam momentum sistem yang mengalami benturan (Poerwadarminta, 1980). (Soerjono, 2007) mengartikan istilah sosial berarti segala sesuatu yang menunjuk pada objeknya yaitu masyarakat. Status sosial merupakan suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dalam posisi tertentu dalam struktur masyarakat, pemberian posisi ini disertai pula seperangkat hak dan kewajiban yang hanya dipenuhi si pembawa statusnya, misalnya: pendapatan, pekerjaan, dan pendidikan (Soerjono, 2007). Aspek perubahan sosial yang dipengaruhi oleh dampak pembangunan menurut (Mukhlis & Drajat, 2012) ialah perubahan lapangan pekerjaan, perubahan kondisi kesehatan, perubahan tingkat pendidikan dan perubahan sosial. Penelitian ini membatasi dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial masyarakat berdasarkan variabel interaksi sosial, nilai dan norma, pendidikan, kesehatan dan kriminalitas. Batasan substansi ini berdasarkan tinjauan literatur dan kemudian dipilih variabel yang relevan untuk digunakan dalam penelitian.
2. Sasaran 2: Dampak Pembangunan ITERA terhadap kondisi ekonomi masyarakat
Pada sasaran ini, akan dibahas mengenai dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi ekonomi masyarakat. (Purwaningsih, 1994) mengemukakan terdapat hubungan yang positif antara keberadaan perguruan tinggi dengan tingkat
kenaikan pendapatan penduduk. Indikator yang mempengaruhi kondisi ekonomi mencakup berbagai hal yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan seperti pekerjaan, pendapatan, pengeluaran, kesehatan, kepemilikan aset dan kredit (pinjaman) (Juariyah & Basrowi, 2010). Penelitian ini membatasi dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi ekonomi masyarakat berdasarkan harga tanah, kesempatan kerja/usaha, pekerjaan, pendapatan, pengeluaran, kepemilikan asset dan kredit/pinjaman. Batasan substansi yang digunakan berdasarkan teori-teori yang terdapat pada sintesa literatur dan kemudian dipilih variabel yang relevan untuk digunakan dalam penelitian.
1.5.2. Ruang Lingkup Wilayah
Lingkup wilayah penelitian ini adalah Desa Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Lokus penelitian di Desa Way Huwi karena Desa Way Huwi merupakan Desa dimana Institut Teknologi Sumatera berdiri dan Desa Way Huwi merupakan Desa yang mengalami perkembangan yang cukup pesat dibandingkan Dusun lainnya yang berada di sekitar ITERA. Selain itu, dilihat dari kondisi fisik wilayah Desa Way Huwi telah banyak mengalami perubahan antara kondisi dulu sebelum adanya ITERA (tahun 2010) dan setelah adanya ITERA (tahun 2020). Perubahan fisik tersebut menunjukkan bahwa Desa Way Huwi merupakan kawasan yang berpotensi terjadinya perubahan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sebagai dampak pembangunan ITERA di lokasi tersebut.
Luasnya wilayah penelitian dan jumlah populasi yang besar serta terbatasnya waktu dan biaya, maka dilakukan penentuan lokus penelitian melalui kriteria pemilihan Dusun. Berikut ini merupakan kriteria pemilihan Dusun yang digunakan dalam penelitian:
Tabel I. 1 Kriteria Pemilihan Dusun
Nama Dusun
Kriteria Pemilihan Dusun Dusun yang mengalami perkembangan sejak pembangunan ITERA Kondisi Fisik Wilayahnya banyak mengalami perubahan
Kondisi Fisik Wilayah didominasi oleh kegiatan pendukung
Kampus ITERA
Dusun 1 v v v
Nama Dusun
Kriteria Pemilihan Dusun Dusun yang mengalami perkembangan sejak pembangunan ITERA Kondisi Fisik Wilayahnya banyak mengalami perubahan
Kondisi Fisik Wilayah didominasi oleh kegiatan pendukung Kampus ITERA Dusun 3 Dusun 4 Dusun 5 Dusun 6 v v v Dusun 7 v v v Dusun 8 Dusun 9 Dusun 10 v v v
Sumber : Hasil Analisis Peneliti, 2020
Berdasarkan kriteria tersebut maka ruang lingkup penelitian ini berada di Dusun 6, Dusun 7, Dusun 1, dan Dusun 10. Dusun yang terpilih merupakan Dusun yang memenuhi ketiga kriteria. Kriteria pemilihan Dusun dilakukan berdasarkan hasil observasi dan wawancara awal dengan beberapa informan yang mengetahui perkembangan Desa Way Huwi sejak dulu sebelum pembangunan ITERA (tahun 2010) hingga sekarang (tahun 2020). Informan tersebut diantaranya Sekretaris Desa, Kasi Pemerintahan Balai Desa, dan Kepala Dusun. Berdasarkan wawancara tersebut maka terdapat tiga kriteria yang digunakan dalam penentuan pemilihan Dusun diantaranya:
1. Dusun yang mengalami perkembangan sejak pembangunan ITERA, hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah pendatang khususnya mahasiswa di Dusun tersebut
2. Kondisi fisik wilayahnya banyak mengalami perubahan dulu dan sekarang. Hal ini ditandai dengan meningkatnya pembangunan di lahan-lahan yang semula kosong menjadi lahan terbangun
3. Kondisi fisik wilayah didominasi oleh kegiatan pendukung Kampus ITERA, seperti rumah kost, warung makan, fotocopy, laundry dan kegiatan pendukung lainnya.
Berikut ini merupakan peta ruang lingkup wilayah yang menjadi lokasi penelitian
Sumber: Hasil Analisis Peneliti, 2020
Gambar I. 1 Peta Ruang Lingkup Wilayah Penelitian
1.6 Metodologi Penelitian 1.6.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi Dampak Pembangunan ITERA terhadap Kondisi Sosial dan Ekonomi Masyarakat di Desa Way Huwi dengan pendekatan deduktif. Pendekatan deduktif sangat menekankan pada pentingnya kajian teori yang dilakukan dari awal penelitian (Raco, 2010). Pendekatan ini dilakukan melalui pengumpulan variabel-variabel yang diperoleh dari kajian literatur yang nantinya dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Dengan demikian pendekatan ini merupakan penafsiran angka statistik bukan secara kebahasaan (Sarwono,2006). Pendekatan penelitian deduktif menggunakan metode kuantitatif. Metode kuantitatif merupakan metode pendekatan penelitian yang banyak menggunakan angka-angka, mulai dari mengumpulkan data, penafsiran terhadap data yang diperoleh serta pemaparan hasilnya (Arikunto, 2006).
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui survei dengan pembagian kuesioner. Metode survei menurut Sugiyono (2017) adalah metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mendapatkan data yang terjadi pada masa lampau atau saat ini, tentang keyakinan, pendapat, karakteristik, perilaku, hubungan variabel dan untuk menguji beberapa hipotesis tentang variabel dari sampel yang diambil dari populasi tertentu. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan yang tidak mendalam, dan hasil penelitian cenderung untuk digeneralisasikan. Data yang telah didapat berdasarkan hasil kuisioner kemudian diolah dengan metode analisis statistik inferensial. Statistik inferensial menurut (Sugiyono, 2009) adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Penelitian kuantitatif ini mengembangkan suatu kejadian menggunakan model matematis atau membuat angka-angka untuk menyajikan informasi. Pendekatan deduktif dengan metode kuantitatif ini berorientasi pada variabel-variabel yang telah ditentukan sebagai objek penelitian.
1.6.2 Unit Amatan dan Unit Analisis a. Unit Amatan
Unit amatan dalam penelitian ini yaitu Desa Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian dilakukan dengan menyebar kuesioner kepada responden yaitu masyarakat di Desa Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.
b. Unit Analisis
Unit analisis dalam penelitian ini adalah masyarakat di Desa Way Huwi, Kecamatan Jati Agung. Masyarakat di Desa Way Huwi merupakan populasi yang merasakan dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial dan ekonomi.
1.6.3 Definisi operasional
Penelitian ini berjudul dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi. Definisi operasional penelitian
ini berisikan batasan pengertian terhadap variabel yang terpilih. Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Dampak
Dampak diartikan sebagai benturan antara dua benda yang mempunyai pengaruh yang sangat kuat, mendatangkan akibat negatif atau positif sehingga menyebabkan penambahan yang berarti dalam momentum sistem yang mengalami benturan (Poerwadarminta, 1980).
2. Pembangunan
Pembangunan adalah suatu proses sosial yang bersifat integral dan menyeluruh, baik berupa pertumbuhan ekonomi maupun perubahan sosial demi terwujudnya masyarakat yang lebih makmur (Supardi, 1994).
3. Perguruan tinggi
Pembangunan Pendidikan Tinggi mempunyai fungsi strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan serta sebagai kekuatan moral. Pendidikan adalah hal yang mendasar untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan menjamin kemajuan sosial dan ekonomi. (Todaro & Smith, 2006). Besar kecilnya pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat dipengaruhi oleh kuantitas maupun kualitas sumber daya yang dimilikinya, baik sumber daya fisik maupun sumber daya manusia termasuk jumlah penduduk serta tingkat keterampilan atau pendidikannya. (Todaro & Smith, 2006). Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademi, politeknik, institut atau universitas.
4. Pengembangan Wilayah
Pengembangan wilayah merupakan upaya pembangunan di suatu wilayah dengan tujuan mencapai kesejahteraan masyarakat dan memanfaatkan berbagai sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya kelembagaan, dan sumberdaya teknologi serta prasarana fisik yang berkelanjutan (Rahayu & Santoso, 2014). Pengembangan wilayah dari atas (Development from Above) merupakan pengembangan dari sektor dinamis atau wilayah pusat yang menjalar ke sektor atau wilayah lainnya. Menurut perspektif neoklasik
(Hirscman, 1985) setiap wilayah memiliki perbedaan potensi faktor pertumbuhan (sumberdaya alam, tenagakerja, modal dan teknologi).
5. Wilayah
Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait kepadanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional (Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang)
6. Kondisi Sosial
Soerjono Soekanto (2007) mengartikan istilah sosial berarti segala sesuatu yang menunjuk pada objeknya yaitu masyarakat. Status sosial merupakan suatu keadaan atau kedudukan yang diatur secara sosial dalam posisi tertentu dalam struktur masyarakat, pemberian posisi ini disertai pula seperangkat hak dan kewajiban yang hanya dipenuhi si pembawa statusnya, misalnya: pendapatan, pekerjaan, dan pendidikan (Soerjono Soekanto, 2012). Menurut (Armour, 1987) dalam (Soedharto, 1997) pembangunan akan memberi pengaruh terhadap perubahan sosial yang meliputi cara hidup atau interaksi sosial, sistem nilai dan norma.
7. Kondisi Ekonomi
Kondisi ekonomi masyarakat pada umumnya dijadikan sebagai patokan atau acuan dalam pemberian status pada setiap anggota masyarakat (Abdulsyani, 2007). Indikator yang termasuk dalam kondisi ekonomi mencakup berbagai hal yang berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan seperti pekerjaan, pendapatan, pengeluaran, kesehatan, kepemilikan aset dan kredit (pinjaman) (Basrowi dan Juariyah, 2010)
8. Masyarakat
Masyarakat merupakan suatu sistem dari kebiasaan, tata cara, dan kerja sama antara bebagai kelompok penggolongan dan pengawasan tingkah laku serta kebiasaan-kebiasaan manusia. Masyarakat menetap dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga menghasilkan adat istiadat atau kebiasaan (Soerjono, 2007)
1.6.4 Konseptualisasi Penelitian
Konseptualisasi penelitian merupakan tahapan studi yang berisi penjelasan mengenai hal yang berkaitan untuk mencapai tujuan dan sasaran penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan mengacu pada teori mengenai pengembangan wilayah yang merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan pembangunan yang juga menjadi perwujudan dari pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Matondang, 2018). Konsep pengembangan wilayah dari atas (Development from
Above) merupakan konsep pengembangan dari sektor dinamis atau wilayah pusat
yang menjalar ke sektor atau wilayah lainnya. Pengembangan wilayah dari atas terdiri dari prinsip dasar dan asumsi growth pole dan growth center. Konsep growth
pole Francois Perroux (1995) mengemukakan bahwa pembangunan atau
pertumbuhan tidak terjadi di semua sektor (wilayah), melainkan hanya pada sektor (wilayah) yang dapat mendorong pembangunan. Dengan fenomena yang ada, berbagai kota-kota besar di Indonesia menjadikan keberadaan suatu institusi pendidikan sebagai “pondasi” yang berpengaruh dalam pengembangan wilayah. Dengan adanya pembangunan perguruan tinggi, suatu kota dapat menarik minat mahasiswa untuk datang dan pada akhirnya mendatangkan pendapatan bagi kota tersebut (Ningsih, 2017).
Pembangunan perguruan tinggi mempunyai fungsi strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sebagai pusat pertumbuhan. Salah satu bentuk perguruan tinggi adalah Institut. Institut Teknologi Sumatera (ITERA) telah ditetapkan sebagai Institut Tekonologi di Pulau Sumatera yang berlokasi di Desa Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Pembangunan ITERA diarahkan ke daerah pinggiran yang masih menyediakan lahan luas bagi berdirinya kampus, diharapkan dapat membawa perubahan terhadap daerah sekitar. Menurut (Purwaningsih, 1994) terdapat hubungan yang positif antara keberadaan perguruan tinggi dengan tingkat kenaikan pendapatan penduduk. Oleh karenanya penelitian ini penting dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.
Untuk mencapai tujuan penelitian, terdapat dua sasaran yang digunakan. Sasaran pertama ialah identifikasi dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial masyarakat. Untuk menjawab sasaran pertama, maka digunakan variabel dan sub variabel yang terpilih dalam penelitian. Variabel tersebut diantaranya ialah interaksi sosial, nilai dan norma, pendidikan, kesehatan dan kriminalitas. Sedangkan, pada sasaran kedua yaitu identifikasi dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi ekonomi masyarakat variabel terpilih yang digunakan ialah harga tanah, kesempatan kerja/usaha, pekerjaan pokok, pendapatan, pengeluaran, kepemilikkan asset, dan kredit/pinjaman. Pemilihan variabel dan sub variabel dilakukan berdasarkan tinjauan literatur yang telah dilakukan dan merupakan variabel yang relevan untuk digunakan dalam penelitian guna mengetahui dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi.
Variabel-variabel tersebut kemudian dilakukan uji hipotesa untuk mengetahui ada atau tidaknya dampak. Kemudian, pada variabel yang berdampak maka dilakukan uji estimasi untuk mengetahui besaran dampak. Apabila nilai variabel menunjukkan peningkatan yang membawa pengaruh buruk bagi masyarakat maka variabel tersebut berdampak negatif. Sedangkan pada variabel yang menunjukkan peningkatan yang membawa pengaruh baik bagi masyarakat, maka variabel tersebut berdampak positif. Tahapan selanjutnya adalah analisis skalogram yang bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat atau hirarki dampak tiap Dusun di Desa Way Huwi. Berikut ini merupakan bagan konseptualisasi yang digunakan dalam penelitian.
Sumber : Hasil Analisis Peneliti, 2020
Gambar I. 2 Konseptualisasi Penelitian
1.6.5 Operasionalisasi Penelitian
Operasionalisasi penelitian merupakan kegiatan dalam mengidentifikasi sasaran penelitian yang telah ditentukan dan ingin dicapai. Operasional penelitian ini dirumuskan melalui sintesa literatur dan variabel terpilih yang digunakan dalam penelitian. Terdapat operasional penelitian kedua sasaran dalam penelitian yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Sasaran 1
Pada sasaran pertama akan dilakukan analisis mengenai dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial berdasarkan variabel terpilih dalam penelitian. Variabel tersebut didapatkan berdasarkan tinjauan literatur yang telah dilakukan oleh peneliti. Adapun variabel terpilih yang digunakan dalam penelitian ialah interaksi sosial, nilai dan norma, pendidikan, kesehatan, dan kriminalitas. Variabel tersebut terdiri dari sub variabel dengan penjelasan sebagai berikut:
Tabel I. 2 Operasionalisasi Penelitian Sasaran 1
Variabel Sub-Variabel Keterangan Jenis Data Sumber Teori Sumber Data Interaksi
sosial Kunjungan dengan tetangga
Jumlah kunjungan
dalam satu bulan Rasio Armour, 1987) dalam (Sudharto P. Hadi, 1997)
Kuisioner Masyarakat Kegiatan
gotong royong Jumlah kegiatan gotong royong dalam satu bulan
Rasio Kegiatan
Musyawarah Jumlah kegiatan masyawarah dalam satu bulan
Rasio Nilai dan
Norma Cara berpakaian Perubahan cara berpakaian Nominal Penyimpangan sosial Jumlah terjadinya penyimpangan sosial Rasio Larangan atau teguran tertentu Jenis larangan/teguran tertentu yang berlaku
Nominal Pendidikan Minat melanjutkan Pendidikan Tinggi Minat melanjutkan Pendidikan Tinggi untuk anak/keluarga
Nominal (Mukhlis & Drajat,2012) Kesehatan Kondisi
kesehatan Kondisi kesehatan masyarakat Nominal Kriminalita
s
Jenis kriminalitas
Jenis kriminalitas Nominal (Rainald Borck (2005) Jumlah
kriminalitas Jumlah terjadinya kriminalitas Rasio
Sumber : Hasil Analisis Peneliti, 2020
2. Sasaran 2
Pada sasaran kedua, akan dilakukan analisis mengenai dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Untuk menjawab sasaran kedua, peneliti juga menggunakan variabel terpilih dan sub variabel yang didapatkan berdasarkan tinjauan literatur yang telah dilakukan. Berikut ini merupakan penjelasan terkait variabel terpilih dan sub variabel yang digunakan dalam penelitian:
Tabel I. 3 Operasionalisasi Penelitian Sasaran 2 Variabel Sub-Variabel Keterangan Jenis
Data Sumber Teori Sumber Data Perkembangan
harga lahan Harga lahan Harga lahan Rasio Allison, 2006 dalam Haris dan Ernawati, 2013 Kuisioner Masyarakat Kesempatan Kerja/Usaha Pekerjaan sampingan Ada tidaknya pekerjaan sampingan Nominal
Variabel Sub-Variabel Keterangan Jenis
Data Sumber Teori Sumber Data Jenis Pekerjaan Jenis
pekerjaan pokok Jenis pekerjaan pokok Nominal Pendapatan Jumlah pendapatan pokok Jumlah pendapatan pokok Rasio Sri Purwaningsih (1994) Jumlah pendapatan tambahan Jumlah pendapatan tambahan Rasio Pengeluaran Jumlah
Pengeluaran Jumlah Pengeluaran Rasio Basrowi (2010) dan Juariyah (2010) Kepemilikkan
aset Jenis kekayaan/aset yang dimiliki
Jenis
kekayaan/aset yang dimiliki
Nominal
Kredit/pinjaman Ada atau tidaknya kredit/pinjama n Ada atau tidaknya kredit/pinjama n Nominal
Sumber : Hasil Analisis Peneliti, 2020
1.6.6 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan hal penting untuk memperoleh data-data terkait dengan tujuan penelitian. Metode pengumpulan data-data biasa disebut dengan Teknik pengumpulan data yang terbagi menjadi dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder.
A. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung tanpa perantara yang dilakukan oleh peneliti saat di lapangan. (Sugiyono, 2009) menyatakan bahwa data primer merupakan sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Tujuan dilakukannya pengumpulan data primer adalah untuk memperoleh data dan informasi mengenai kondisi eksisting, situasi, dan permasalahan yang terjadi di wilayah studi. Data primer yang didapatkan dari sumber penelitian selanjutnya akan dilakukan pengamatan, dicatat dan kemudian siap diolah untuk dianalisis. Dengan dikumpulkannya data primer, maka diharapkan tingkat objektif penelitian dapat terjaga sehingga menghasilkan output penelitian yang akurat dan sesuai kondisi lapangan. Pengumpulan data primer dalam penelitian ini dilakukan melalui kuisioner, dan observasi lapangan.
1. Kuesioner
Kuesioner adalah daftar pertanyaan dalam penelitian yang diharuskan untuk dijawab oleh responden atau informan (Bimo, 1994). Kuesioner merupakan daftar pertanyaan atau angket yang bertujuan untuk mendapatkan informasi, tanggapan, keyakinan, dan responden terhadap objek yang ditanyakan. Pertanyaan dalam kuisioner berdasarkan variabel dan sub variabel terpilih dalam penelitian dengan terperinci dan lengkap. Kuisioner dilakukan dengan cara menyebarkan kepada responden. Responden dalam penelitian ini adalah kepala keluarga atau rumah tangga di Desa Way Huwi. Kuesioner ini dilakukan untuk penelitian kuantitatif yang kemudian diolah lebih lanjut menggunakan statistik
2. Observasi Lapangan
Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang mengamati dan mengidentifikasi secara langsung situasi yang ada di lapangan. Teknik ini melakukan pencatatan secara sistematik objek yang diperlukan untuk mendukung penelitian (Sarwono, 2006). Observasi merupakan proses pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan kemudian melakukan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang terjadi (Hadi, 1986). Observasi lapangan meliputi pengamatan kondisi kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi yang kemudian nantinya akan didokumentasikan. Perlengkapan yang digunakan dalam observasi lapangan adalah kamera dan tabel kebutuhan data.
B. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data atau informasi yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber pertama melainkan berasal dari dokumen ataupun instansi terkait yang disesuaikan dengan kebutuhan data. Sumber dari data sekunder yaitu merupakan catatan atau dokumen yang tersedia pada publikasi pemerintah, media, dsb (Sekaran, 2011). Dalam penelitian ini data sekunder yang dibutuhkan berasal dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Selatan, Kecamatan Jati Agung dalam Angka, STATUTA Institut Teknologi Sumatera, Balai Desa Way Huwi, dan Polsek Jati Agung serta literatur-literatur yang mendukung penelitian. Data yang
akan diolah dalam penelitian ini berupa data yang memiliki keterkaitan variabel yang telah ditentukan dan nantinya akan dianalisis sesuai dengan kebutuhan penelitian. Adapun cara dalam memeroleh data sekunder ini antara lain:
1) Kajian dokumen
Data yang diperoleh dari kajian dokumen atau literatur yang telah didapat dari berbagai sumber terpercaya seperti buku, jurnal atau internet digunakan dalam mendukung kebutuhan data penelitian. Keseluruhan kajian dokumen disesuaikan dengan tema utama penelitian yaitu mengenai dampak pembangunan Perguruan Tinggi terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam penelitian dilakukan kajian dokumen Rencana Strategis Institut Teknologi Sumatera tahun 2014-2019, STATUTA Institut Teknologi Sumatera, dan Kecamatan Jati Agung dalam Angka tahun 2019
2) Survey instansi
Survey instansi berguna untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan penelitian dari instansi yang disesuaikan dengan kebutuhan data guna mendukung penelitian. Instansi terkait dalam penelitian ini, yaitu Balai Desa Way Huwi dan Polsek Jati Agung.
1.6.7 Teknik Sampling Data
Teknik sampling merupakan teknik atau metode yang digunakan untuk pengambilan sampel yang didasarkan pada keadaan dan kebutuhan data dalam penelitian. Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki dalam suatu populasi, sehingga sampel merupakan bagian dari populasi (Sugiyono, 2009). Sampel yang baik merupakan sampel yang mampu mewakili karakteristik dari populasi. Teknik sampling dilakukan dengan pengambilan sampel, dimana sampel merupakan bagian populasi yang diambil dan harus benar-benar representatif untuk dijadikan sumber informasi bagi peneliti (Sugiyono, 2009).
Populasi dalam penelitian ialah jumlah rumah tangga atau Kepala Keluarga yang merupakan penduduk Asli Desa Way Huwi dengan kriteria telah menetap sejak lama (minimal sejak tahun 2010). Berdasarkan kriteria tersebut, maka didapatkan jumlah populasi yaitu sebesar 974 Kepala Keluarga, dengan rincian sebagai berikut:
Tabel I. 4 Jumlah Kepala Keluarga Nama
Dusun Nama RT Jumlah Kepala Keluarga
Dusun 1 1 92 1A 75 2 119 Dusun 6 5 49 5A 51 6 40 6A 21 Dusun 7 26 37 27 29 28 77 29 67 30 68 31 70 Dusun 10 3 69 4 45 25 65 Total 974
Sumber : Data RT Desa Way Huwi, 2020
Setelah diketahui besaran populasi yaitu 974 Kepala Keluarga, selanjutnya dilakukan perhitungan sampel dengan menggunakan rumus Slovin sebagai berikut:
n = "#! (&! ') n : Besar sampel N : Besar populasi
d : Penyimpangan terhadap populasi atau derajat ketepatan yang diinginkan, biasanya menggunakan derajat 10% (0,1)
n = "#)*+ (,,")*+ ') n = ),*.)*+
n = 99,89 ≈ 100 responden
Berdasarkan perhitungan slovin diatas maka diketahui terdapat 100 responden sebagai sampel yang tersebar di empat Dusun. Langkah selanjutnya adalah pengambilan sampel dengan menggunakan teknik probability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Adapun metode dalam
pengambilan sampel digunakan metode Stratified Random Sampling. Stratified
random sampling adalah teknik pengambilan sampel pada populasi yang heterogen
dan berstrata dengan mengambil sampel dari tiap-tiap sub populasi secara acak atau sembarang. Stratified random sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang memperhatikan suatu tingkatan (strata) pada elemen populasi. Elemen populasi dikelompokkan pada tingkatan dengan tujuan pengambilan sampel merata dan sampel dapat mewakili populasi. Teknik ini dipilih untuk menghindari pengambilan sampel yang terkonsentrasi pada sebagian kelompok tertentu saja. Jumlah anggota sampel bertingkat (berstrata) dilakukan dengan cara Stratified
random sampling menggunakan rumus alokasi proportional sebagai berikut:
ni = !0. 2! Dimana:
ni = jumlah anggota sampel menurut strata n = jumlah seluruh anggota sampel
Ni = jumlah anggota populasi menurut strata N = jumlah anggota populasi seluruhnya
Berdasarkan perhitungan diatas maka didapatkan jumlah anggota sampel tiap RT dengan rincian sebagai berikut:
Tabel I. 5 Jumlah Sampel tiap RT di Desa Way Huwi Nama
Dusun Nama RT Jumlah sampel tiap Dusun Jumlah sampel tiap RT
Dusun 1 1 29 9 1A 8 2 12 Dusun 6 5 17 5 5A 6 6 4 6A 2 Dusun 7 26 36 4 27 3 28 8 29 7 30 7 31 7 Dusun 10 3 18 7 4 5 25 6 Total 100 100
Berdasarkan perhitungan sampel menggunakan stratified random sampling diatas maka didapatkan hasil jumlah sampel pada Dusun 1 sebanyak 29 responden yang terbagi di 3 RT. Dusun 6 terdiri dari 17 yang terbagi di 4 RT. Dusun 7 terdiri dari 36 responden yang terbagi kedalam 6 RT dan Dusun 10 terdiri dari 18 responden yang terbagi kedalam 3 RT.
1.6.8 Metode Analisis Data
Metode analisis data dikenal dengan teknik analisis data. Teknik analisis data merupakan langkah untuk mengolah data yang telah diperoleh. Teknik analisis ini berguna untuk merepresentasikan seluruh data yang telah didapatkan di lapangan untuk dapat dilakukan penarikan kesimpulan melalui metode analisis yang telah ditetapkan. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik inferensial. (Sugiyono, 2009) mengemukakan bahwa statistik inferensial merupakan teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel yang dilakukan secara random dan hasilnya dapat diberlakukan untuk populasi. Berikut ini merupakan teknik analisis statistik inferensial yang digunakan dalam penelitian:
1. Uji Hipotesa Rata-Rata Perbedaan Dua Populasi Tidak Bebas Uji Hipotesa rata-rata perbedaan dua populasi tidak bebas adalah rata-rata perbedaan nilai variabel yang dimiliki anggota dua populasi yang tidak bebas atau rata-rata perbedaan nilai variabel setiap pasangan anggota kedua populasi yang tidak bebas. Rata-rata perbedaan nilai variabel setiap pasangan anggota kedua populasi yang tidak bebas dianggap 34. Uji ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya dampak pada variabel-variabel jenis data rasio.
Berikut ini merupakan tahapan pengujian hipotesa rata-rata perbedaan dua populasi tidak bebas (non independent) yang digunakan dalam penelitian:
1. Penentuan asumsi
Pengambilan sampel yang diambil harus random sampling dan jenis data yang digunakan adalah interval rasio
2. Penentuan Pernyataan Hipotesa Nol Ho: µD ≤ 0, tidak ada dampak
3. Pemilihan Distribusi Hasil Sampel dan Penentuan Wilayah Kritis.
Pemilihan dan penentuan wilayah kritis ditentukan dengan sifat khusus kurva normal. Bentuk distribusi hasil sampel rata-rata populasi normal dengan tingkat kepercayaan 95% maka tingkat keberartian α = 0,05. Pengujian satu sisi positif maka batas dan wilayah kritis ditentukan dengan Tabel Kurva Student t dengan Nilai Baku t, Derajat Kebebasan df = n-1=100-1 = 99, maka nilai baku 5678589. = +1, 660391. Nilai baku t bersifat positif sebagai titik batas antara wilayah kritis dan tidak kritis
Sumber : Modul Hipotesa Parametrik
Gambar I. 3 Kurva Uji Hipotesa Dua Populasi Tidak Bebas 4. Penentuan Statistik Uji
1. Rata-rata perbedaan sampel: 34 =∑ 30
2 0<"
=
2. Variansi Perbedaan Sampel >?@A?=BA = ∑ (30− 34)D
2 0<"
= − 1 3. Simpangan Baku Perbedaan Sampel
FG= H ∑2 (30− 34)D 0<" = − 1 4. Statistik Uji IJ0KL2M= 34 − N, FG √= − 1 P
Sumber : Modul Hipotesa Parametrik
5. Pengambilan Kesimpulan.
Dalam pengambilan keputusan dilakukan dengan melihat posisi thitung terhadap
Batas Kritis tkritis
• Apabila thitung berada di luar “Wilayah Kritis”à Ho diterima dan H1
ditolak
• Apabila thitung berada di dalam ”Wilayah Kritis”à Ho ditolak dan H1
diterima
2. Uji Hipotesa Proporsi Populasi
Uji hipotesa proporsi populasi merupakan jumlah kejadian yang diinginkan dibagi seluruh kejadian. Uji ini dilakukan untuk mengetahui ada atau
tidaknya dampak pada variabel-variabel jenis data nominal. Berikut ini merupakan tahapan yang dilakukan dalam uji hipotesa proporsi populasi
1. Penentuan asumsi
Pengambilan sampel yang diambil harus random sampling dan jenis data yang digunakan adalah nominal.
2. Penentuan Pernyataan Hipotesa Nol Ho: pµ ≤ a, tidak ada dampak
H1: pµ > a, ada dampak
a = standar keberhasilan dalam pengujian. Penelitian ini tidak memiliki standar sehingga a=0
3. Pemilihan Distribusi Hasil Sampel dan Penentuan Wilayah Kritis
Wilayah Kritis diletakkan pada salah sisi “Kurva Normal” sebagai proporsi wilayah kritis terhadap seluruh wilayah di bawah kurva normal. Pada tabel kurva normal, Z mempunyai batas nilai baku Z positif. Nilai baku Z positif sebagai Z kritis sebagai titik batas antara wilayah kritis dengan wilayah tidak kritis
4. Penentuan Statistik Uji
Statistik Uji Proporsi adalah Z yang disebut Zhitung sebagai berikut:
QJ0KL2M= FI?IABIAR − S?@?TUIU@ RUB?V?ℎ?= X?RY QJ0KL2M= Z[− Z\ ]^_ QJ0KL2M= Z[− Z\ `Z\− (1 − Z\) √= Keterangan Z[ = Proporsi Sampel Z\= a = 0
Z\= 0,5 (karena dianggap sebagai standar eror paling tinggi) 5. Pengambilan Kesimpulan
Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan melihat batas wilayah Z kritis dan Z hitung.
• Zhitung berada di luar “Wilayah Kritis”, maka Hipotesa Nol diterima dan
• Zhitung berada di dalam ”Wilayah Kritis”, maka Hipotesa Nol ditolak dan
Hipotesa Satu diterima.
3. Estimasi Interval Perbedaan Rata-Rata Berpasangan
Pengujian estimasi interval perbedaan rata-rata berpasangan dilakukan untuk mengetahui penggambaran distribusi sampling. Uji estimasi ini dilakukan untuk mengetahui besaran dampak dan dilakukan pada variabel-variabel dengan jenis data rasio yang menunjukkan hasil uji hipotesa H1 diterima atau berdampak. Berikut ini merupakan langkah-langkah dalam pengujian estimasi interval perbedaan rata-rata berpasangan:
1. Menentukan Probabilitas Error = α, α = 0,05
2. Menggambar Distribusi Sampling dengan membagi α menjadi dua Ø Estimasi interval rata-rata menggunakan distribusi t
I,,,. D
a ;",,c" = I,,,D.;)) = 1.984217
3. Membuat Interval Kepercayaan
Pengujian estimasi interval perbedaan rata-rata berpasangan dilakukan dengan rumus berikut:
ij = 34 ± Ilm0K0[. FG √= − 1 Keterangan:
CI = Estimasi interval perbedaan rata-rata berpasangan 34 = Rata-rata perbedaan
FG= Standar Deviasi
4. Estimasi Interval Proporsi
Estimasi interval proporsi digunakan untuk menghitung proporsi (p). Proporsi (p) merupakan perbandingan antara jumlah kejadian yang sukses dengan jumlah seluruh observasi yang dilakukan. Pengujian ini dilakukan dengan pengambilan sampel yang dirasa telah mewakili seluruh populasi. Uji estimasi ini dilakukan untuk mengetahui besaran dampak pada variabel-variabel jenis data nominal yang menunjukkan hasil uji hipotesa H1 diterima atau berdampak. Estimasi interval akan menunjukkan angka atau letak dimana parameter populasi itu berada. Estimasi ini dibatasi oleh dua nilai yang berfungsi sebagai batas bawah
dan batas atas dari nilai simpangan yang dihasilkan. Berikut ini merupakan langkah-langkah dalam pengujian estimasi interval proporsi:
1. Menentukan Probabilitas Error = α, dalam penelitian ini menggunakan α=0,5 2. Menggambar Distribusi Sampling dengan cara membagi α menjadi dua dan
untuk menemukan nilai z 3. Membuat Interval Kepercayaan
ij = Zn± Qop
ij = Zn± QH
Z\(1 − Z\)
=
5. Analisis Skalogram
Teknik analisis skalogram merupakan teknik yang dilakukan untuk mengetahui tingkatan atau hirarki dampak. Analisis skalogram dapat menunjukkan peringkat atau hirarki suatu objek berdasarkan variabel yang telah ditentukan. Berikut ini merupakan langkah-langkah dalam melakukan analisis skalogram : 1. Siapkan matrik data awal antara obyek yang akan diurutkan terhadap variabel
penilaiannya dengan skala pengukuran ordinal Tabel I. 6 Matrik data awal
Variabel Nama Dusun 1 2 3 dst
Dusun 1 T T S
Dusun 2 T T T
Dusun 3 T S R
Sumber : Hasil Analisis Peneliti, 2021
2. Ubah matrik data menjadi matrik antara obyek dengan kelas nilai variabel Tabel I. 7 Matrik Obyek dan Kelas Variabel
Kelas Nilai Variabel Tinggi Sedang Rendah Dusun 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1 * * * 2 * * * 3 * * *
3. Lakukan iterasi dengan menukarkan urutan obyek dan variabel hingga memenuhi prinsip konsistensi dan derajat eror terkecil
Tabel I. 8 Iterasi
Kelas Nilai Variabel
Tinggi Sedang Rendah
Nama
Dusun 3 2 1 3 2 1 3 2 1
2 * * *
1 * * *
3 * * *
Sumber : Hasil Analisis Peneliti, 2021
4. Hitung koefisien reproductibility atau tingkat kebenaran minimal 0,8 dengan rumus sebagai berikut:
F =qUBUVY@Yℎ?= IAIAR − IAIAR rAVY?@ RsI?R RUBUVY@Yℎ?= IAIAR
Setelah didapatkan tabel iterasi dengan tingkat kebenaran minimal 0,8 maka tahap selanjutnya adalah perhitungan batas kelas dan penjumlahan skor untuk menentukan hirarki di tiap Dusun. Dusun dengan skor terbanyak merupakan Dusun dengan dampak hirarki tinggi, sedangkan Dusun dengan skor terendah merupakan Dusun dengan dampak hirarki rendah
1.7 Keaslian Penelitian
Penelitian ini berjudul Dampak Pembangunan Institut Teknologi Sumatera terhadap Kondisi Sosial dan Ekonomi Masyarakat di Desa Way Huwi. Penelitian ini menjadi penting karena belum ada peneliti terdahulu mengenai dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Oleh karenanya, perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi. Sebelum dilakukan penelitian ini, telah terdapat beberapa penelitian yang menggunakan tema yang sama namun terdapat beberapa perbedaan, diantaranya perbedaan lokus penelitian dan metode penelitan yang diuraikan pada tabel berikut:
Tabel I. 9 Keaslian Penelitian
Peneliti Judul Peneliti Lokasi Penelitian Tujuan Penelitian Penelitian Metode Hasil Penelitian Nelly Susanti Dampak Keberadaan
Kampus UNNES terhadap Kondisi Ekonomi dan Pendidikan Penduduk Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang
1. Mengetahui dampak keberadaan kampus UNNES terhadap kondisi sosial ekonomi penduduk
Kelurahan Sekaran dari tahun 2006-2010.
2. Mengetahui dampak keberadaan kampus UNNES terhadap motivasi orang tua untuk melanjutkan 30endidikan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi
Deskriptif
kuantitatif. 1. Keberadaan kampus UNNES memberikan dampak terhadap jenis pekerjaan baru dan tata nilai dalam kehidupan penduduk Kelurahan Sekaran
2. Keberadaan kampus UNNES meningkatkan motivasi orang tua terhadap partisipasi anak untuk melanjutkan 30endidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan kontribusi secara efektif sebesar 0,271 atau 27,1%.
Desideriana Taroci Tae, Arief Setijawan, Ardiyanto
Maksimilianus Gai
Pengaruh Keberadaan Perguruan Tinggi Negeri di Kota Malang terhadap Ekonomi di Kawasan Sekitar
Kota Malang 1. Mengidentifikasi dan memetakan factor-faktor yang berdampak terhadap kondisi ekonomi di kawasan sekitar PTN 2. Mengetahui pengaruh dari
perguruan tinggi negeri menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, overlay dan analisis regresi.
1. Perguruan Tinggi merupakan salah satu faktor yang memicu adanya perkembangan suatu kota di Kota Malang Perguruan Tinggi Negeri yaitu Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Islam Negeri dan Politeknik Negeri Malang 2. faktor-faktor yang mempengaruhi
ekonomi di kawasan sekitar perguruan tinggi negeri adalah luas dan jarak Ilham Azhari Said Pengaruh Keberadaan
Kampus II UIN ALAUDIN Makassar terhadap
Kehidupan Sosial Ekonomi Petani di Kelurahan Samata
Kelurahan Samata Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa
1. Untuk mengetahui perkembangan fisik ruang kawasan sekitar 30endidikan tinggi di Kelurahan Samata.
2. Untuk mengetahui pengaruh yang ditimbulkan akibat perkembangan fisik ruang kawasan sekitar 30endidikan tinggi terhadap aspek sosial ekonomi petani di
Kelurahan Samata.
Analisis deskriptif, analisis overlay, dan analisis uji korelasi
1. sejak keberadaan Kampus II UIN Alauddin Makassar telah terjadi perubahan penggunaan lahan di Kelurahan Samata.
2. keberadaan Kampus II UIN Alauddin Makassar memang telah memberikan pengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi petani di Kelurahan Samata
Peneliti Judul Peneliti Lokasi Penelitian Tujuan Penelitian Penelitian Metode Hasil Penelitian Garin Darpitamurti Dampak Pembangunan
Kampus AKBID Yogyakarta terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakay Dusun Prancakglondong, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul
Dusun Prancakglondong Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.
1. Mengetahui kondisi sosial-ekonomi masyarakat Dusun Prancakglondong sebelum adanya kampus,
2. Mengetahui Kondisi sosial- ekonomi masyarakat Dusun Prancakglondong sesudah adanya kampus,
3. Mengetahui Faktor- faktor yang mempengaruhi perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat Dusun Prancakglondong.
Deskriptif
kuantitatif 1. Kondisi sosial-ekonomi responden sebelum adanya Kampus AKBID antara lain: Sebagian besar responden 76,1% mengharapkan anak- anaknya bisa lulus jenjang perguruan tinggi. Banyak responden 94,36% dari seluruh responden masih mempertahankan tradisi. Tingkat pendapatan masyarakat terendah Rp 300.000,00 – < Rp 2.400.000,00.
2. Kondisi sosial-ekonomi responden setelah pembangunan Kampus AKBID antara lain: Terjadi kenaikan tingkat pendapatan masyarakat Dusun Prancakglondong dengan asumsi distribusi pendapatan antara sebelum pembangunan Kampus AKBID memiliki nilai yang sama. Status penguasaan rumah tinggal sudah berupa milik sendiri meningkat dari 71,8 % menjadi 87,3 %.
Septiyana Sari Dampak Pembangunan ITERA terhadap Kondisi Sosial dan Ekonomi Masyarakat di Desa Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan di Desa Way Huwi, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan Mengidentifikasi Dampak Pembangunan ITERA terhadap Kondisi Sosial dan Ekonomi Masyarakat di Desa Way Huwi
Analisis Statistik Inferensial
1. Dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial masyarakat di Desa Way Huwi
2. Dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi
1.8 Kerangka Analisis
Kerangka analisis merupakan perumusan dari input proses dan output penelitian. Input berupa data, variabel dan indikator yang akan digunakan dan yang telah diperoleh dari sintesa literatur. Untuk proses merupakan analisis dan metode yang digunakan, sedangkan output berupa hasil yang diperoleh dari analisis yang dilakukan. Berikut ini merupakan kerangka analisis dalam penelitian:
Sumber : Hasil Analisis Peneliti, 2020
1.9 Kerangka Berpikir
Sumber : Hasil Analisis Peneliti, 2020
1.9 Sistematika Penulisan
Laporan penelitian ini dituliskan sebagai laporan tugas akhir yang terdiri dari lima bagian. Adapun sistematika penulisan dalam laporan penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisikan mengenasi latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan dan sasaran, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, metodologi penelitian, kerangka pikir, keaslian penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN LITERATUR DAMPAK PERGURUAN TINGGI TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI
Pada bab ini membahas mengenai teori-teori dasar dan konsep dasar yang berkaitan dengan penelitian. Adapun hal yang akan dibahas meliputi tinjauan teoritis mengenai konsep pengembangan wilayah, Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Wilayah dan dampak perguruan tinggi terhadap sosial dan ekonomi masyarakat. Pada bab ini juga akan dijelaskan mengenai sintesa variabel yang akan digunakan sebagai tolak ukur dalam menentukan variabel-variabel yang akan dibahas dalam penelitian.
BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI
Pada bab ini berisi gambaran umum wilayah penelitian, yaitu Desa Way Huwi yang terletak di Kecamatan jati Agung Kab. Lampung Selatan dan gambaran umum mengenai Institut Teknologi Sumatera
BAB IV ANALISIS DAMPAK PEMBANGUNAN ITERA TERHADAP KONDISI SOSIAL DAN EKONOMI MASYARAKAT DI DESA WAY HUWI
Pada bab ini akan menjelasakan mengenai hasil analisis dampak pembangunan ITERA terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Way Huwi berdasarkan data yang telah didapatkan dan diolah menggunakan teknik analisis yang telah ditentukan.
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Bab ini menjelaskan temuan studi terkait analisis pada sasaran 1 dan sasaran 2, kesimpulan, rekomendasi, kelemahan studi, serta rekomendasi studi lanjutan