• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

- 1 -

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RESMI RAPAT KOMISI V DENGAN SERIKAT PEKERJA (TRADE UNION) PT. JAKARTA INTERNATIONAL CONTAINER

INDONESIA (JICT) Tahun Sidang : 2019-2020

Masa Persidangan : II Rapat ke- : -

Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat Umum Sifat Rapat : Terbuka

Hari, Tanggal : Rabu, 29 Januari 2020 Waktu : Pukul 13.10 s.d. 13.40 WIB

Tempat : Ruang Rapat Komisi V DPR RI, Gedung Nusantara - Jakarta

Ketua Rapat : Ir. Ridwan Bae / Wakil Ketua Komisi V DPR RI / F-PG

Sekretaris Rapat : Nunik Prihatin Budiastuti, S.H.

Acara : Membahas Pengelolaan Pelabuhan di Indonesia Hadir : 27 dari 52 orang Anggota dengan rincian

A. Anggota DPR RI: PIMPINAN :

1. Lasarus, S.Sos, M.Si 2. Ir. Ridwan Bae

1. FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN:

7 orang Anggota dari 10 Anggota: 1. H. Herson Mayulu,S.IP

2. Mochamad Herviano

3. Bob Andika Mamana Sitepu.SH 4. Sarce Bandaso Tandiasik, SH 5. H.M. Rifqinizamy Karsayuda 6. Jimmy Demianus Ijie

7. Bambang Suryadi, SH,MH

2. FRAKSI PARTAI GOLKAR: 1 orang Anggota dari 7 Anggota: 1. H. Hasan Basri Agus

(2)

- 2 -

3. FRAKSI PARTAI GERINDRA: 2 2 orang Anggota dari 6 Anggota:

1. Ade Rezki Pratama, SE

2. Iis Edhy Prabowo, S.Hum, MM 4. FRAKSI NASDEM:

3 orang Anggota dari 4 Anggota: 1. Drs.H.Tamanuri,MM

2. Sri Wahyuni 3. Roberth Rouw

5. FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA 3 orang Anggota dari 6 Anggota:

1. H. Irmawan, S.Sos, MM 2. Ruslan M Daud

3. Sofyan Ali, S.Ag, SH, M.Pd 6. FRAKSI PARTAI DEMOKRAT:

3 orang Anggota dari 5 Anggota: 1. H. Irwan, S.IP, MP

2. Drh. Jhoni Allen Marbun 3. Lasmi Indaryani.SE

7. FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA: 2 orang Anggota dari 4 Anggota:

1. Ahmad Syaikhu

2. H. Suryadi Jaya Purnama, ST

8. FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL: 3 orang Anggota dari 4 Anggota:

1. Hj. Hanna Gayatri, SH 2. H. Boyman Harun, SH 3. Athari Ghauthi Ardi

9. FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN:

1 orang Anggota dari 1 Anggota: 1. H. Muh Aras, S.Pd,MM

ANGGOTA YANG IZIN DAN SAKIT: 1. H. Ansar Ahmad, SE,MM (F-PG) B. UNDANGAN:

1. Nova Sofyan Hakim (Penasehat SPJICT)

2. Hazris Malsyah (Ketua Umum) 3. M.Dedi. Zainuddin (OPS JICT)

4. M. Firmansyah. Sukadirman (Sekjen) 5. Iqbal Latief. R (Wasekjen)

(3)

- 3 -

7. Hariyadi (SPJICT) 8. Mafiro Tomo (SPJICT)

KETUA RAPAT / WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Komisi V DPR RI,

Yang saya hormati Ketua Umum dan Anggota Serikat Pekerja PT. Jakarta International Container Terminal.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, tentu karena kebesaran-Nyalah kita juga semua sampai bisa bertemu pada kesempatan hari ini.

Sebelum kita memulai pembicaraan pokok dalam pertemuan hari ini, perlu kiranya kami perkenalkan dahulu Pimpinan Anggota Komisi V DPR RI yang hadir pada ruangan ini yaitu saya sendiri Ir. Ridwan Bae. Kemudian berikutnya kami persilakan Pak Aras.

F-PPP (H. MUHAMMAD ARAS, S.Pd., M.M.): Terima kasih Pimpinan.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Yang terhormat Pimpinan Komisi V, Pak Ridwan Bae dan teman-teman Anggota Komisi V,

Yang saya hormati rekan-rekan dari JICT.

Perkenalkan nama saya Muhammad Aras, dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Dapil Sulawesi Selatan II.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Lanjut pak.

F-PDIP (BOB ANDIKA MAMANA SITEPU, S.H.): Terima kasih Pimpinan.

Perkenalkan nama saya Bob Andika Mamana Sitepu, dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Dapil Sumatera Utara III.

(4)

- 4 - Terima kasih.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Lanjut pak.

F-PDIP (H.M. RIFQINIZAMI KARSAYUDA): Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Selamat siang.

Salam sejahtera untuk kita semua. Pimpinan, para Anggota yang terhormat. Bapak-bapak dari JICT yang kami hormati.

Saya Rifqi Karsayuda, Dapil Kalimantan Selatan I, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Selamat siang.

Salam sejahtera untuk kita semua.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE/F-PG): Ya, terima kasih.

Silakan pak.

F-P.NASDEM (Drs. H.TAMANURI, M.M.):

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Saya Tamanuri, dari Fraksi Partai Nasdem, Dapil II Lampung. Terima kasih.

F-PG (Drs. H. HASAN BASRI AGUS, M.M.): Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Saya Haji Hasan Basri Agus, Dapil Provinsi Jambi, dari Fraksi Partai Golkar.

(5)

- 5 -

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. F-P.NASDEM (SRI WAHYUNI):

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Selamat siang.

Salam sejahtera buat kita semua.

Yang saya hormati Pimpinan Komisi V dan rekan-rekan Anggota Komisi V yang saya banggakan.

Yang saya hormati Bapak-bapak dari PT. Jakarta International Container Terminal.

Selamat datang Pak di Komisi V.

Perkenalkan nama saya Sri Wahyuni, saya dari Dapil VII Jawa Timur, drai Partai Nasdem.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. F-PDIP (H. HERSON MAYULU, S.IP.):

Terima kasih Ketua.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua.

Saya Haji Herson Mayulu, dari Fraksi PDI Perjuangan, daerah pemilihan Sulawesi Utara.

Terima kasih.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. F-PDIP (SARCE BANDASO TANDIASIK, S.H.): Terima kasih Pimpinan.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Selamat siang.

Salam sejahtera buat kita semua.

Perkenalkan nama saya Sarce Bandaso, pemilihan Sulawesi Selatan III.

(6)

- 6 -

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Terima kasih.

Sambil menunggu yang lain, selanjutnya kami ucapkan terima kasih kepada seluruh unsur Serikat Pekerja PT. Jakarta International Container Terminal yang telah hadir dalam ruangan rapat ini guna menyampaikan secara langsung masukan dan pemikiran terkait dengan penyelesaian permasalahan dan pengelolaan pelabuhan di Indonesia sesuai dengan suratnya kepada Komisi V DPR RI nomor sekian tanggal 8 November 2019 perihal Permohonan Audiensi.

Untuk mempersingkat waktu, kiranya pengantar kami selanjutnya kami persilakan kepada saudara untuk memperkenalkan diri, termasuk dari unsur pengurus SPJICT yang hadir, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian masukan-masukannya.

Kami persilakan saudara.

SEKJEN SPJICT (MUHAMMAD FIRMANSYAH SUKARDIMAN): Baik, terima kasih.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Selamat siang.

Bapak Pimpinan Komisi V yang saya hormati.

Bapak dan Ibu Anggota Komisi V yang saya hormati juga.

Perkenalkan saya Muhammad Firmansyah Sukardiman, selaku Sekjen SPJICT. Di samping kanan saya ada Bang Iqbal selaku Wasekjen IV, di samping kiri saya yang tengah ada Pak Hazris Malsyah selaku Ketua Umum. Kemudian di sebelah Pak Hazris ada Bung Nova Sofyan selaku Penasehat.

Alhamdulillaah terima kasih atas waktu dan kesempatannya dari Pimpinan Komisi V dan Bapak dan Ibu Anggota Komisi V bersedia menerima kami. Maksud dan tujuan kami hadir di sini adalah untuk memberikan aspirasi barangkali menyampaikan aspirasi dan memberikan masukan terkait dengan pengelolaan pelabuhan terbesar di Indonesia yaitu terminal peti kemas Jakarta International Container Terminal.

Perlu kami sampaikan bahwa kehadiran kami ke sini adalah mengulang audiensi yang kami lakukan ke DPR RI pada tahun 2015. Waktu itu kami menyampaikan pendapat, menyampaikan masukan kepada DPR terkait dengan pengelolaan. Ada satu unit terminal peti kemas di bawah Pelindo II, anak usaha Pelindo II, namanya PT. Jakarta International Container Terminal. PT JICT ini dulunya unit terminal peti kemas yang

(7)

- 7 -

kemudian berubah menjadi sebuah PT pada tahun 1999 dan sahamnya dimiliki 99% oleh PT. Pelindo II dan 1% oleh Koperasi Pegawai Maritim.

Tiga hari kemudian dilakukan privatisasi, sehingga kepemilikan sahamnya berubah menjadi 51% dimiliki oleh Hutchison, 48,9% dimiliki oleh Pelindo II dan 0,1% dimiliki oleh Koperasi Pegawai Maritim. Masa privatisasi untuk 20 tahun dari tahun 1999 sampai 2019, dengan harga uang muka senilai 243.000.000 US Dollar.

Namun ada hal yang janggal yang kami lihat ketika pada tahun 2014 Direktur Utama Pelindo II waktu itu Pak R.J. Lino melakukan atau menginisiasi proses perpanjangan kerja sama dengan Hutchison untuk masa 20 tahun berikutnya dari tahun 2019 sampai 2039, namun diberlakukan sejak ditandatangani yaitu 5 Agustus 2014.

Beberapa hal yang menurut kami janggal adalah yang pertama dari sisi harga. Ketika tahun 1999 kapasitas JICT hanya 1,2 Juta Teus ukuran kontainer yang pendek yang 20 feet, itu harganya 243.000.000 US Dollar untuk uang mukanya. Di tahun 2014 ketika kapasitas naik 2 kali lipat harganya hanya 200.000.000 US Dollar. Yang kemudian direvisi menjadi 215.000.000 US Dollar.

Kemudian yang kedua, proses perpanjangan tidak transparan, karena tidak melalui proses tender. Yang ketiga, ada beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri BUMN yang dilanggar. Tidak ada dalam rencana kerja anggaran, tidak ada dalam rencana kerja jangka panjang, dan tidak ada persetujuan RUPS, dalam hal ini persetujuan dari Kementerian BUMN.

Kemudian yang keempat, barangkali yang terkait dengan kehadiran kami di sini di Komisi V yaitu adanya beberapa pelanggaran terhadap Undang-undang Pelayaran No.17 Tahun 2008. Jadi ketika tahun 1999 mulai di ketika pertama diprivatisasi, fungsi Pelindo adalah sebagai operator dan regulator, sehingga dia berhak melakukan proses kerja sama dengan siapapun.

Namun ketika tahun 2008 ada Undang-undang Pelayaran, fungsinya dipisahkan, Pelindo hanya sebagai operator. Sehingga kalau mau melakukan kerja sama dengan pihak lain harus mendapatkan izin konsesi dulu dari Kementerian Perhubungan, dalam hal ini dikeluarkan oleh Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, nah hal itu tidak dilakukan. Sehingga tanggal 5 Agustus 2014 dilakukan tanda tangan, tanggal 6-nya Otoritas Pelabuhan menyampaikan surat ke Direktur Pelindo II yang menyatakan bahwa kerja sama yang anda lakukan tidak sesuai dengan undang-undang, harus melalui izin konsesi dulu. Namun waktu itu Pak R.J. Lino maksa tetap dijalankan klausul dan sebagainya, sehingga di kami ada sedikit perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat itu akhirnya berujung kepada beberapa intimidasi yang kami dapat, diantaranya ada PHK yang dilakukan hanya melalui SMS dan email di malam hari.

(8)

- 8 -

Kemudian ada PHK terhadap 400 orang tenaga outsourcing dengan alasan pergantian vendor. Padahal sebenarnya karena kami menyampaikan aspirasi terkait ini dan beberapa intimidasi lainnya. Termasuk ada penembakan mobil anggota kami yang sampai saat ini aneh bin ajaib di kami itu perusahaan internasional yang CCTV-nya sangat banyak namun Polisi kesulitan menemukan hanya 1 atau 2 orang pelaku yang melakukan penembakan tersebut.

Nah atas dasar intimidasi-intimidasi tersebut, kami melakukan auidensi, roadshow dan lain sebagainya di tahun 2015 sehingga DPR waktu itu merespon dengan membentuk Pansus Pelindo II. Kemudian pada bulan Desember tanggal 17 Desember 2015 Pansus menyampaikan rekomendasinya atas dasar beberapa temuan dalam penyidikan Pansus ditemukan pelanggaran-pelanggaran, sehingga harus batal demi hukum.

Kemudian di tahun 2019, tanggal 25 Juli 2019, Pansus telah menyelesaikan laporan akhir dan sama kesimpulannya adalah bahwa untuk proses perpanjangan ini harus batal. Kenapa? Karena ada audit BPK yang menyatakan ada indikasi kerugian keuangan negara senilai minimal 4,08 Triliun hanya untuk kasus JICT. Belum untuk kasus Koja, TPK Koja sama dengan JICT prosesnya itu sekitar 1,86 Triliun dan pembangunan Terminal Kalibaru yang indikasi kerugiannya 1,4 Triliun dengan potensi kerugian karena gagal konstruksi senilai 7 Triliun dan pinjaman dana Global Bond senilai kerugiannya senilai minimal 744 Miliar di tahun 2016.

Nah kehadiran kami ke sini adalah barangkali ingin menyampaikan permohonan pak kepada Komisi V, Bapak Ibu di Komisi V dan Pimpinan Komisi V bahwa di Pelabuhan Tanjung Priok saat ini ada dua terminal peti kemas yang dioperasikan oleh Hutchison, yaitu JICT dan Koja yang menurut kami tidak ada alas hukumnya. Kementerian Perhubungan telah mengirimkan surat ke Pelindo pada 6 Agustus telah mengirimkan surat juga kepada Kementerian BUMN bahwa ini tidak sesuai dengan aturan.

Nah kami ingin menyampaikan itu dan barangkali kami minta tolong juga untuk pemerintah bisa hadir, Kementerian Perhubungan bisa hadir untuk menyelesaikan permasalahan ini. Bagaimana mungkin satu terminal peti kemas yang memegang 60% proses bongkar muat arus ekspor impor di Tanjung Priok berjalan operasinya tanpa alas hukum.

Nah ini yang itu barangkali pak, kami hadir ke sini menyampaikan aspirasi terkait itu, mudah-mudahan Komisi V bisa menjembatani atau menyampaikan apa yang kami sampaikan hari ini kepada Kementerian Perhubungan dan mungkin saya pikir seharusnya Kementerian Perhubungan ketika suratnya tidak dijalankan oleh Pelindo dia bisa mengambil tindakan tegas.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

(9)

- 9 -

SEKJEN SPJICT (MUHAMMAD FIRMANSYAH SUKARDIMAN):

Nah ini ada satu video Pak yang ingin kami sampaikan waktu di Pansus pak.

KETUA RAPAT /WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Pansus mana?

SEKJEN SPJICT (MUHAMMAD FIRMANSYAH SUKARDIMAN): Pansus Pelindo DPR.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Untuk apa lagi kan kita sudah tahu semua?

SEKJEN SPJICT (MUHAMMAD FIRMANSYAH SUKARDIMAN):

Ya makanya kita mau menyampaikan terkait dengan pernyataan dari Pak Jonan atau tidak perlu?

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Tidak perlu, kita sudah tahu semuanya.

SEKJEN SPJICT (MUHAMMAD FIRMANSYAH SUKARDIMAN): Baik. Terima kasih pak.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Perkenalkan dong anggota-anggotanya dari mana saja. SEKJEN SPJICT (MUHAMMAD FIRMANSYAH SUKARDIMAN):

Bagaimana pak?

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Yang itu kita minta perkenalkan juga siapa saja rombongan yang hadir di sini.

(10)

- 10 -

SEKJEN SPJICT (MUHAMMAD FIRMANSYAH SUKARDIMAN):

Di belakang Anggota SP, silakan, masing-masing silakan memperkenalkan diri.

ANGGOTA SPJICT (SUKANTA):

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Nama saya Pak Sukanta Anggota SPJICT. Terima kasih Pak.

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. ANGGOTA SPJICT (HARIYADI):

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Nama saya Hariyadi, Anggota SPJICT Bagian Planner Lantai VII. Terima kasih Pak.

ANGGOTA SPJICT (MAFIRO TOMO):

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Nama saya Mafiro Utomo, dari Pengurus SPJICT Bagian Organisasi. ANGGOTA SPJICT (AKHID):

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Nama saya Akhid, Anggota SPJICT Komisariat Department Development.

ANGGOTA SPJICT (SUHARTO):

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh,

Bapak Ketua, nama saya Suharto, saya bekerja di Komersil, saya Anggota SPJICT.

ANGGOTA SPJICT (IFAN): Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Nama saya Ifan, saya Anggota SPJICT, sekarang Bagian Operation. ANGGOTA SPJICT (TOMI IRIAWAN):

(11)

- 11 -

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Nama saya Tomi Iriawan, Anggota SPJICT.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Barangkali sudah cukup terwakili ya, karena kalau semua diperkenalkan bisa sampai pagi kita ini, besok pagi.

Baik, mungkin ada tanggapan dari Anggota yang terhormat, silakan Pak.

F-PDIP (H. HERSON MAYULU, S.IP.): Baik, terima kasih Ketua.

Teman-teman dari JICT.

Saya Pak Ketua justru bingung, apa ini kewenangan Komisi V atau Komisi VI? Kalau tadi dari asosiasi bongkar muat itu memang kecenderungannya melekat dengan tugas kita di Komisi V, tapi kalau yang ini, saya justru melihat bukan di komisi kita, tapi di Komisi VI yang membidangi BUMN. Demikian Ketua.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Terima kasih.

Masih ada pandangan yang lain? Silakan pak.

F-P.NASDEM (Drs. H.TAMANURI, M.M.):

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Pak Pimpinan, saudara-saudara dari SPJICT dan Hadirin yang berbahagia. Kalau mendengar paparan yang disampaikan tadi, ini kelihatannya ada yang tidak benar lagi ini, karena sudah menyalahi semua aturan-aturan yang disyariatkan, akan tetapi kita harus teliti lagi kenapa harus begini. Kenapa harus terjadi seperti ini dan apa kebenaran-kebenaran mereka? Walaupun ini betul kata kawan saya tadi bahwa ini domain-nya bukan di Komisi V lebih berat ke Komisi VI, akan tetapi ya tidak salah bahwa saudara-saudara sekalian menyampaikan aspirasi karena kami ini adalah wakil bapak-bapak sekalian. Nah oleh karena itu tentu akan kami catat apa yang disampaikan mengenai masalah-masalah yang menjadi kerisauan bapak-bapak sekalian.

(12)

- 12 - Terima kasih.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Silakan Pak masih ada pak? Ya Pak Rifqi.

F-PDIP (H.M. RIFQINIZAMI KARSAYUDA): Terima kasih Pimpinan.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Persoalan yang disampaikan ini kan implikasi dari pelanggaran terhadap Undang-undang No.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Di mana undang-undang itu sendiri adalah produk hukum dari DPR wabil khusus Komisi V pada periode itu, karena itu Pelindo sebagai salah satu Badan Usaha Pelabuhan (BUP) penting untuk menegakkan berbagai ketentuan-ketentuan hukum. Pelindo itu sebagaimana tadi kami juga sampaikan di ruangan ini pada saat menerima teman-teman dari APBMI, sekarang tidak lagi memiliki privilege seperti masa lalu, di mana mereka berperan dalam dua hal sekaligus regulator dan operator.

Saat ini Pelindo sama dengan BUP-BUP yang lain. Bapak-bapak di atas ini juga dulu juga sebelum pakai pin ini ada yang punya BUP juga pak, tapi sekarang sudah tidak boleh lagi, yang ketawa paling keras itu BUP-nya paling besar. Tidak, BUP swasta kecil-kecilan pak, jangan terlalu keras, kalau keras ini tidak jadi kita bela ini. Kita ini berteman.

Nah untuk itu maka kami mendukung sepenuhnya upaya penegakkan hukum dalam konteks kita memastikan bahwa undang-undang yang merupakan produk kami ini Undang-undang No.17 Tahun 2008 bisa kita tegakkan. Kami juga tentu agak tercengang mendengar bahwa Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok yang merupakan perpanjangan dari regulator dalam hal ini Menteri Perhubungan c.q. Dirjen Perhubungan Laut itu tidak bisa melakukan penegakkan hukum dengan baik terhadap PT. Pelindo yang mestinya dari sisi kewenangan berdasarkan undang-undang yang saya sebutkan tadi itu merupakan kewenangannya.

Karena itu mungkin tadi Pak Herson katakan kalau soal bagaimana manajemen BUMN itu bukan urusan atau domain Komisi V, tapi terkait dengan bagaimana pelaksanaan terhadap Undang-undang tentang Pelayaran itu merupakan kewajiban kami untuk menegakkannya, yang mitra kami sesungguhnya bukan Pelindo-nya, mitra kami sesungguhnya adalah Kementerian Perhubungannya.

Ketika Kementerian Perhubungan kehilangan marwah di hadapan BUP, ketika itu pula kami meminta tolong kepada Pimpinan untuk segera

(13)

- 13 -

memanggil saudara Dirjen, saudara Menteri termasuk di dalamnya Kepala Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok. Ini penting bagi Komisi V untuk menegakkan produk hukum yang dibuatnya dan yang paling penting lagi negara tidak boleh kalah dengan institusi-institusi swasta.

Terima kasih.

Wabillaahittaufik walhidayah,

Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh. Selamat siang.

Salam sejahtera untuk kita semua. Merdeka!.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Anak muda itu memang selalu semangat.

Ya jadi ada beberapa kondisi tadi yang kita lihat ya. Yang pertama adalah persoalan intimidasi ya. Kalau intimidasi kan persoalan tenaga kerja itu. Tenaga kerja itu ada di Komisi IX ya di Komisi IX jelas itu. Nah kalau soal kontrak kerjanya tadi yang kita lihat juga bahwa dipersoalkan juga persoalan kontrak kerja itu ada di Komisi VI ya itu kira-kira gambaran.

Komisi V, kalau Komisi V memang ada keterkaitan juga kita Pak Herson juga ada di sini, bahwa ada indikasi pelanggaran terhadap Undang-undang No.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran Pasal 92, 344 Ayat (2) dan 345 Ayat (2) yang dilakukan oleh PT. Pelindo II. Di mana masih tidak tunduk atas perintah undang-undang kira-kira seperti itu gambarannya yang ada, sehingga Komisi V merasa perlu untuk juga terkait dalam persoalan apa yang menjadi keluhan dari teman-teman ini.

Alur tugas dan wewenang atau Otoritas Pelabuhan terkait dengan BUMN Perhubungan atau PT. Pelindo II yang adalah sebagian badan usaha pelabuhan itu sendiri. Nah Komisi V tentu bermaksud menegakkan dan pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-undang No.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, utamanya pelanggaran terhadap undang-undang tersebut. Jadi kita di Komisi V hanya pada faktor ini tok yang bisa kita bicarakan, bahwa kita hanya pada indikasi pelanggaran undang-undangnya ya. Nanti tadi diminta dan sudah disampaikan juga oleh Pak Rifqi tadi ini akan cepat segera kita akan sikapi dengan memperhatikan apa yang menjadi keinginan saudara-saudara semua. Saya kira itu barangkali gambarannya. Masih ada?

Tapi sebelum ada perkenalan dulu Pak Jhoni Allen pak ini baru tiba ini, silakan perkenalkan diri Pak Jhoni Allen untuk dikenal sama ya. Pak Jhoni Allen untuk memperkenalkan diri. Sudah, sudah cukup katanya Pak Jhoni Allen ini orang yang paling berpengaruh di Komisi V ini. Oke, masih ada dari Komisi V? Cukup. Ada tanggapan tambahan dari teman-teman, kami persilakan.

(14)

- 14 -

SEKJEN SPJICT (MUHAMMAD FIRMANSYAH SUKARDIMAN): Baik, terima kasih Pimpinan Komisi Pak Ridwan.

Jadi betul memang kami menyampaikan audiensi juga ke dua komisi yang lain yaitu dengan Komisi VI inshaAllah dijadwalkan tanggal 26 Februari dan Komisi IX belum dapat jadwal pak, mudah-mudahan setelah ini kami dapat jadwal juga. Jadi memang hari ini kami lebih kepada indikasi pelanggaran Undang-undang Pelayarannya.

Terima kasih pak. Ada tambahan? PENASEHAT JICT (NOVA):

Ya.

Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Nama saya Nova, sebagai penasehat di SPJICT. Jadi kalau mendengar nama serikat mungkin pasti bapak-bapak tadi saya dengar katanya ini harusnya ke BUMN atau mungkin kalau misalnya masalah pelanggaran ke tenaga kerja. Sebenarnya sudah kami lakukan pak, kalau ke BUMN juga kita pernah melakukan Rapat Dengar Pendapat Umum, ke Komisi IX bahkan waktu 100 orang diberikan surat peringatan, itu kita juga bahkan sudah mendapatkan surat langsung dari waktu itu Wakil Ketuanya Bapak Pius Lustrilanang.

Jadi tentang permasalahan ketenagakerjaan itu sudah juga menjadi concern mereka, cuma memang kami perlu perkenalkan di SPJICT ini sudah beberapa kali juga membantu terkait dengan teknis di kepelabuhanan. Waktu itu yang menjadi kebijakan-kebijakan di Kementerian Perhubungan, salah satunya adalah penegakkan Undang-undang No.17 Tahun 2008.

Waktu itu bahkan Pak Jonan sendiri setelah mendengar permasalahan di pelabuhan di semua Pelindo dari I, III, IV semua patuh terhadap undang-undang mengikuti konsesi yang diberikan oleh Kementerian Perhubungan. Hanya Pelindo II waktu itu di zaman Pak R.J. Lino, beliau yang tidak mau untuk melakukan itu sampai saatnya akhirnya Pak Jonan mengirim surat kepada Badan Reserse dan Kriminal untuk mengawasi Pendapatan Negara Bukan Pajak waktu itu, terutama yang diindikasikan di Pelabuhan Indonesia II. Yang kedua, juga kita membantu Kementerian Maritim waktu itu dan Kementerian Perhubungan untuk melakukan sebuah analisa sebagaimana pentingnya kereta api untuk masuk ke dalam pelabuhan. Karena Pak Lino waktu itu ngotot bahwasanya kereta api tidak boleh masuk ke pelabuhan, tapi kami melihat di beberapa negara bahkan kami berikan presentasi waktu itu di Kementerian Perhubungan bahwasanya memang kereta api sangat penting karena pelabuhan itu fungsinya adalah multi moda. Tidak hanya tergantung

(15)

- 15 -

terhadap moda trucking, tapi ada juga moda yang dilakukan dengan kereta api, karena rel ini sendiri sudah berdiri dari zaman Belanda.

Jadi memang kawan-kawan dari SPJICT perlu kami perkenalkan mungkin bukannya bangga diri, tapi memang selama ini kami cukup banyak membantu pemerintah terhadap penegakkan-penegakkan hukum ataupun kelancaran arus barang terutama di Pelabuhan Indonesia II di Cabang Tanjung Priok.

Terima kasih.

KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (Ir. RIDWAN BAE / F-PG):

Cukup? Baik, dari Komisi V cukup juga ya dari Anggota? Cukup ya? Kalau memang sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, kami sudah mendengarkan dua hal yang sangat penting tadi. Yang pertama soal peti kemasnya itu nanti dibicarakan kepada Komisi VI. Nah Komisi V lebih pada persoalan undang-undangnya dan ini akan segera kami tindaklanjuti sebagaimana saran Pak Rifqi tadi dari PDIP agar kita akan segera menyampaikan kepada Menteri Perhubungan. Kalau dianggap perlu, Menteri Perhubungan nanti kita akan undang khusus ya untuk bersama-sama dengan SPJICT, seperti itu kira-kira keputusan kita, informasi akan kami sampaikan kepada teman-teman semua.

Demikian barangkali pertemuan kia akhiri dengan ucapan Bismillaahirrahmaanirrahiim, saya tutup dengan ucapan yang sama.

(RAPAT DITUTUP PUKUL 13.40 WIB)

a.n. Ketua Rapat SEKRETARIS RAPAT,

NUNIK PRIHATIN B., S.H. NIP. 19691202 199803 2 002

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil perencanaan pembangunan jalan pada kawasan Alak yang dikerjakan dengan metode Analisa Komponen, dan rencana jenis pekerasan adalah Lapen dan Inter block maka

Pengembangan media yang biasa dibuat oleh guru Sekolah Dasar adalah media grafis. Seperti yang telah diuraikan pada kegiatan belajar sebelumnya media grafis adalah semua

Pada Dokumen Penawaran tidak melampirkan brosur dengan lengkap (pada barang Suspended Washer Extractor, Steam Ironing dan Water Treatment) sesuai dengan isi dari

Ekstrak biji cerakin disemprotkan pada hama ulat daun bawang yang tersedia dalam tiap wadah (10 ekor tiap wadah) untuk masing-masing konsentrasi dan dilakukan 3 kali

[r]

A. Berdasarkan karakteristik demografis di atas karakteristik negara berkembang sesuai angka.... Jarak kedua kota tersebut adalah 50km. Jika antara kedua kota tersebut

banyak gambar tetapi tidak efektif. Hematlah penggunaan gambar yang mendukung makna. Jumlah gambar yang sedikit tetapi selektif, lebih baik daripada dua kali

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan Wilopo (2006) yang menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan