BAB II
LANDASAN TEORI A. Hakikat Bahasa Indonesia
1. Definisi Bahasa Indonesia
Bahasa Indoensia berasal dari bahasa Melayu termasuk rumpun bahasa Austranesia yang telah digunakan sebagai lingua franca di nusantara sejak abad-abad awal penggalan modern, paling tidak dalam bentuk informalnya. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah melayu pasar.
Bahasa Indonesia ialah bahasa yang terpenting di kawasan publik kita. Pentingnya peranan bahasa itu antara lain bersumber pada ikrar ketiga sumpah pemuda 1928 yang berbunyi “ Kami poetra dan poetry Indonesia mendjoen-djoen bahasa persatoen, bahasa Indonesia ” dan pada Undang-Undang Dasar 1945 kita di dalamnya tercantum pasal khusus yang menyatakan bahwa “ bahasa Negara ialah bahasa Indonesia”. Namun, disamping itu beberapa alasan lain mengapa bahasa Indonesia menduduki tempat yang terkemuka di antara beratus-ratus bahasa nusantara yang masing-masing amat penting bagi penuturnya sebagai bahasa ibu. Penting tidaknya suatu bahasa dapat juga di dasari patokan seperti jumlah penutur, luas penyebaran, dan peranannya sebagai sarana ilmu, seni sastra dan pengungkapan budaya.
2. Ruang Lingkup Pembelajaran Bahasa Indonesia
Adapun ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD/ MI dapat di kategorisasi sebagai berikut :
a. Aspek mendengarkan mencakup dua sub aspek yaitu: 1) Mendengarkan aktif
2) Aktif produktif.
Adapun contoh dari masing-masing sub aspek itu sebagai berikut:
1) Mendengarkan aktif dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; membedakan berbagai bunyi bahasa perintah, dan dongeng yang dilisankan.
2) Mendengarkan aktif produktif dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita, mengulang deskripsi tentang benda-benda di tentang deskripsi benda-benda di
sekitar dan dongeng, menyebutkan isi dongeng, mendeskripsikan isi puisi.
b. Aspek berbicara mencakup dua sub aspek yaitu mendengarkan aktif dan aktif produktif.
1) Berbicara aktif dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; mendeskipsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana, Mendeklamasikan puisi anak dengan lafal dan intonasi yang sesuai.
2) Berbicara aktif produktif dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; bertanya kepada orang lain dengan pikiran, perasaan, dan menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun, Menceritakan kembali cerita anak yang didengarkan dengan menggunakan kata-kata sendiri.
c. Aspek membaca mencakup dua sub aspek yaitu mendengarkan aktif dan aktif produktif.
1) Membaca aktif dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; membaca nyaring teks (15-20 kalimat) dengan wacana tulis dengan memperhatikan lafal dan intonasi yang tepat, membaca nyaring dan membaca dalam hati.
2) Membaca aktif produktif dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; menyebutkan isi teks agak panjang (20-25 kalimat) yang dibaca dalam hati, menjawab dan atau mengajukan pertanyaan.
d. Aspek menulis, mencakup dua sub aspek yaitu sastra dan non sastra. 1) Sub aspek sastra dapat dicontohkan pada kompetensi dasar
seperti; menulis karangan sederhana, menulis berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.
2) Sub aspek non sastra dapat dicontohkan pada kompetensi dasar seperti; menulis petunjuk, surat, pengumuman, formulir, teks pidato, laporan dan ringkasan.
3. Konsep Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pandangan Anthony (1998:104) tentang pengajaran bahasa hingga saat ini, istilah Anthony tentang pendekatan, metode, dan teknik masih digunakan oleh guru bahasa.
a. Pendekatan
Pendekatan adalah sejumlah asumsi tentang hakikat sesuatu. Sesuatu yang dimaksud dalam hal ini adalah pembelajaran bahasa, yaitu sejumlah teori yang sudah diyakini kebenarannyadan tidak dipermasalahkan lagi.
b. Metode
Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa metode dalam pengajaran bahasa berarti suatu,perencanaan'yang menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran bahasa secara teratur berdasarkan, pendekatan tertentu. Artinya, bahwa penerapan suatu metode dalam pengajaran bahasa dikerjakan melalui langkah-langkah yang teratur dan dilakukan secara bertahap. Mulai dari penyusunan rencana pengajaran.. Penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar.
c. Teknik
Istilah teknik dalam pengajaran selalu mengacu pada, pengertian implementasi perencanaan pengajaran di depan kelas yakni penyajian pelajaran di dalam kelas maupun. di luar kelas.
B. Strategi Penggunaan Media Gambar
Secara umum, strategi dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk sampai pada tujuan (Hamdani, 2011:18).
Menurut Sudjana (2013:147), strategi mengajar adalah tindakan guru melaksanakan rencana mengajar. Artinya, usahan guru dalam menggunakan beberapa variable pengajaran tujuan, bahan, metode, dan alat, serta evaluasi agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan yang telah di tetapkan.
Dengan demikian, strategi mengajar pada dasarnyan adalah tindakan nyata dari guru atau praktek guru melaksanakan pengefesien. Dengan perkataan lain strategi mengajar adalah politik atau teknik yang digunakan guru dalam melaksanakan/praktek mengajar dikelas.
1. Pengertian Media Gambar
Menurut Gintings (2008:140) kata media berasal adalah bentuk jamak dari kata medium yang berasal dari bahasa latin yang berarti pengantar atau perantara. Dalam konteks belajar dan pembelajaran, media dapat diartikan
sebagai segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan atau materi ajar dari guru sebagai komunikator kepada siswa sebagai kominukan dan sebaliknya.
Menurut Syaf (2010:89) gambar merupakan media visual yang penting dan mudah di dapat. Dikatakan penting sebab ia dapat mengganti kata verbal, mengkonkritkan yang abstrak, dan mengatasi pengamatan manusia. Gambar membuat orang mendapat mengungkapkan ide atau informasi yang terkandung di dalamnya dengan jelas, lebih jelas dari pada yang diungkapkan oleh kata-kata. Akan tetapi karena setiap orang merasa mudah untuk memperoleh gambar, ia menganggapnya sebagai “ hal yang biasa ” atau “ terlalu biasa “ sehingga melupakan manfaatnya.
Dari kesimpulan di atas bahwa media gambar adalah alat perantara media visual yang dapat merangsang manusia untuk mengungkapkan segala ide atau informasi yang ingin di sampaikan oleh setiap orang atau manusia.
Media gambar ini di maksudkan agar siswa mendapatkan kesempatan untuk menggalih potensi yang ada di benak fikiran mereka, yaitu dengan cara mengungkapkan pendapat mereka masing-masing yang ingin di sampaikan oleh siswa melalui media gambar dalam keterampilan menulis puisi tersebut. Setelah itu para siswa memberikan pertanggung jawaban atas materi yang telah di diskusikan dengan guru dan teman-teman untuk disampaikan kepada guru dan teman-teman dalam proses pembalajaran yang lebih aktif lagi, di dalam proses penggunaan media gambar dan gruru sebagai subjek sedangkan para siswa sebagai objek, sehingga proses pembelajaran yang terjadi siswa dengan guru hanya sebagai fasilitator.
2. Cara Menggunaan Media Gambar
Gambar dapat dipergunakan, baik dalam lingkungan anak-anak maupun dalam lingkungan orang dewasa. Gambar yang berwarna umumnya menarik perhatian. Semua gambar mempunyai arti, uraian dan tafsiran sendiri. Karena itu gambar dapat dipergunakan sebagai media pendidikan dan mempunyai nilai-nilai pendidikan bagi peserta didik yang memungkinkan belajar secara efisien peserta didik yang berkaitan dengan pemanfaatan media gambar dalam data PBM. Dalam menggunakan media gambar ada berbagai macam hal yang perlu kita perhatikan demi tercapainya tujuan pembelajaran serta penguasaan materi yang optimal oleh siswa. Beberapa ahli menyatakan
ada beberapa rambu rambu yang perlu di perhatikan dalam penggunaan gambar :
a. Prinsip-prinsip pemakaian media gambar sebagai berikut:
1) Pergunakanlah gambar untuk tujuan-tujuan pengajaran yang spesifik, yaitu dengan cara memilih gambar tertentu yang akan mendukung penjelasan inti pelajaran atau pokok-pokok pelajaran. Tujuan khusus itulah yang mengarahkan minat siswa kepada pokok-pokok pelajaran. Bilamana tujuan instruksional yang ingin dicapainya adalah kemampuan siswa membandingkan kelompok hewan bertulang belakang dengan tidak, maka gambar-gambarnya harus memperhatikan perbedaan yang mencolok antara hewan bertulang belakang dan tak bertulang belakang. 2) Padukan gambar-gambar kepada pelajaran, sebab keefektivan pemakaian
gambar-gambar di dalam proses belajar mengajar memerlukan keterpaduan. Bilamana gambar-gambar itu akan dipakai semuanya, perlu dipikirkan kemungkinan dalam kaitan pokok-pokok pelajaran. Pameran gambar di papan pengumuman pada umumnya mempunyai nilai kesan sama seperti di dalam ruang kelas. Gambar-gambar yang riil sangat berfaedah untuk suatu mata pelajaran, karena maknanya akan membantu pemahaman para siswa dan cara itu akan ditiru untuk hal-hal yang sama dikemudian hari sehingga gambar tersebut akan menginspirasinya. 3) Pergunakanlah gambar-gambar itu sedikit saja, daripada menggunakan
banyak gambar tetapi tidak efektif. Hematlah penggunaan gambar yang mendukung makna. Jumlah gambar yang sedikit tetapi selektif, lebih baik daripada dua kali mempertunjukkan gambar yang serabutan tanpa pilih-pilih. Banyaknya ilustrasi gambar-gambr secara berlebihan, akan mengakibatkan para siswa merasa dirongrong oleh sekelompok gambar yang mengikat mereka, akan tetapi tidak menghasilkan kesan atau inpresi visual yang jelas, jadi yang terpenting adalah pemusatan Perhatian pada gagasan utama. Sekali gagasan dibentuk dengan baik, ilustrasi tambahan bisa berfaedah memperbesar konsep-konsep permulaan. Penyajian gambar hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dengan memperagakan konsep-konsep pokok artinya apa yang terpenting dari pelajaran itu. Lalu diperhatikan gambar yang menyertainya, lingkungannya, dan lain-lain.
4) Kurangilah penambahan kata-kata pada gambar oleh karena gambar-gambar itu sangat penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita, atau dalam menyajikan gagasan baru. Misalnya dalam mata pelajaran biologi. Para siswa mengamati gambar-gambar candi gaya Jawa Tengah dan Jawa Timur menjelaskan bahwa mengapa bentuk tidak sama, apa ciri-ciri membedakan satu sama lain. Guru bisa saja tidak bisa mudah dipahami oleh para siswa yang bertempat tinggal di lingkungan hutan tropis asing. Demikian pula istilah supermarket terdengar asing bagi siswa-siswa yang hidup di daerah pedesaan atau di daerah perkampungan.
5) Mendorong pernyataan yang kreatif, melalui gambar-gambar para siswa akan didorong untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan dan tulisan, seni grafis dan bentuk-bentuk kegiatan lainnya. Keterampilan jenis keterbacaan visual dalam hal ini sangat diperlukan bagi para siswa dalam membaca gambar-gambar itu.
6) Mengevaluasi kemajuan kelas, bisa juga dengan memanfaatkan gambar baik secara umum maupun secara khusus. Jadi guru bisa mempergunakan gambar datar, slides atau transparan untuk melakukan evaluasi belajar bagi para siswa. Pemakaian instrumen tes secara bervariasi akan sangat baik dilakukan guru, dalam upaya memperoleh hasil tes yang komprehensip serta menyeluruh.
b. Memilih gambar yang baik dalam pengajaran sebagai berikut:
1) Keaslian gambar, gambar menunjukkan situasi yang sebenarnya, seperti melihat keadaan atau benda yang sesungguhnya. Kekeliruan dalam hal ini akan memberikan pengaruh yang tak diharapkan gambar yang palsu dikatakan asli.
2) Kesederhanaan, gambar itu sederhana dalam warna, menimbulkan kesan tertentu, mempunyai nilai estetis secara murni dan mengandung nilai praktis. Jangan sampai peserta didik menjadi bingung dan tidak tertarik pada gambar.
3) Bentuk item, hendaknya sipengamat dapat memperoleh tanggapan yang tetap tentang obyek-obyek dalam gambar.
4) Perbuatan, Ggmbar hendaknya hal sedang melakukan perbuatan. Siswa akan lebih tertarik dan akan lebih memahami gambar-gambar yang sedang bergerak.
5) Fotografi, siswa dapat lebih tertarik kepada gambar yang nilai fotografinya rendah, yang dikerjakan secara tidak profesional seperti terlalu terang atau gelap. Gambar yang bagus belum tentu menarik dan efektif bagi pengajaran.
6) Artistik, segi artistik pada umumnya dapat mempengaruhi nilai gambar. Penggunaan gambar tentu saja disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai
c. Menggunakan gambar dalam kelas sebagai berikut:
Pengajaran dalam kelas dengan gambar sedapat mungkin penyajiannya efektif. Gambar-gambar yang digunakan merupakan gambar yang terpilih, besar, dapat dilihat oleh semua peserta didik, bisa ditempel, digantung atau diproyeksikan. Display gambar-gambar dapat ditempel pada papan buletin, menjadikan ruangan menarik, memotivasi siswa, meningkatkan minat, perhatian, dan menambah pengetahuan siswa.
d. Mengajar siswa membaca gambar sebagai berikut:
1. Warna, siswa sangat tertarik pada gambar-gambar berwarna. Umumnya pada mulanya mereka mengamati warna sebelum mereka mengetahui nama warna, barulah ia tafsirkan. Pada umumnya mereka memilikji kriteria tersendiri tentang kombinasi warna-warna. Melatih menanggapi, membedakan, dan menafsirkan warna perlu dilakukan guru terhadap para siswa.
2. Ukuran, dapat dibandingkan mana yang lebih besar antara seekor ayam dengan seekor sapi, mana yang lebih tinggi antara seorang manusia dengan gereja, dan sebagainya.
3. Jarak, maksudnya agar anak dapat mengira-ngira jarak antara suatu obyek dengan obyek lainnya dalam suatu gambar, misalnya jarak antara puncak gunung latar belakangnya.
4. Sesuatu gambar dapat menunjukkan suatu gerakan. Mobil yang sedang diparkir yang nampak dalam sebuah gambar, dalam gambar terdapat sebuah simbol-simbol gerakan.
5. Temperatur, bermaksud anak memperoleh kesan apakah di dalam gambar temperaturnya dingin atau panas. Bandingkan gambar yang menunjukkan musim salju dan gambar orang-orang yang berada dalam keadaan membuka pakaian. Maka dapat dibedakan temperatur rendah dan keadaan panas.
3. Manfaat Media Gambar
Dalam buku Subana (1998:322) menjelaskan manfaat gambar sebagai media pembelajaran antara lain:
a. Menimbulkan daya tarik pada diri siswa.
b. Mempermudah pengertian atau pemahaman siswa. c. Mempermudah pemahaman yang sifatnya abstrak.
d. Memperjelas dan memperbesar bagian yang penting atau yang kecil sehingga dapat diamati.
e. Menyingkat suatu uraian. Informasi yang diperjelas dengan kata-kata mungkin membutukan uraian panjang.
4. Kelebihan dan Kekurangan Media Gambar a. Kelebihan Media gambar
1) Sifatnya konkrit. Gambar/ foto lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibanding dengan media verbal semata.
2) Gambar dapat mengatasai masalah batasan ruang dan waktu. Tidak semua benda, objek atau peristiwa dapat dibawa ke kelas, dan tidak selalu bisa, anak-anak dibawa ke objek tersebut. Untuk itu gambar atau foto dapat mengatasinya. Air terjun niagara atau danau toba dapat disajikan ke kelas lewat gambar atau foto. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau, kemarin atau bahkan menit yang lalu kadang-kadang tak dapat dilihat seperti apa adanya. Gambar atau foto sangat bermanfaat dalam hal ini. 3) Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. Sel atau
penampang daun yang tak mungkin kita lihat dengan mata telanjang dapat disajikan dengan jelas dalam bentuk gambar.
4) Dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia beberapa saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalah pahaman.
5) Murah harganya, mudah didapat, mudah digunakan, tanpa memerlukan peralatan yang khusus.
b. Kekurangan Media Gambar
1) Penghayatan tentang materi kurang sempurna, karena media gambar hanya menampilkan persepsi indera mata yang tidak cukup kuat untuk menggerakkan seluruh kepribadian manusia, sehingga materi yang akan dibahas kurang sempurna.
2) Gambar atau foto benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran.
3) Ukuran sangat terbatas untuk kelompok besar.
C. Motivasi Belajar dan Hal-hal Ynag Perlu Diperhatikan Dalam Pemberian Motivasi.
1. Pengertian Motivasi, Macam-macam Motivasi, dan Cara Meningkatkan Motivasi Belajar.
a) Pengertian motivasi belajar
Dalam pembelajaran motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan atau mendorong siswa untuk belajar atau menguasai materi pelajaran yang sedang di ikutinya. Tanpa motivasi, siswa tidak akan tertarik dan serius dalam mengikuti pembelajaran. Sebaliknya, dengan adanya motivasi yang tinggi, siswa akan tertarik dan terlibat aktif bahkan terinisiatif dalam proses pembelajaran. Dengan motivasi yang tinggi siswa akan berupaya sekuat-kuatnya dan dengan menempuh berbagai strategi yang positif untuk mencapai keberhasilan dalam belajar.
Motivasi merupakan salah satu faktor penentu dalam pencapaian prestasi belajar. Siswa memiliki motivasi belajar tinggi akan mudah diarahkan untuk mencapai prestasi belajar (Kurdi dan Aziz, 2006:50).
Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswi yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal itu mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan
sebagai berikut: 1) adanya hasrat dan keinginan berhasil, 2) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, 3) adanya harapan dan cita-cita masa depan, 4) adanya penghargaan dalam belajar, 5) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, 6) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik, (Uno, 2013:23).
Upaya siswa dalam mencapai suatu keberhasilan belajar tersebut meliputi mendengarkan ceramah dengan serius, menjawab pertanyaan, berpartisipasi aktif dalam diskusi, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Bahkan tidakjarang siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan memberikan masukan dalam bentuk gagasan atau usulan kepada guru atau kepada kelas tentang berbagai kegiatan tambahan bahkan tugas tambahan untuk memperluas dan memperdalam lingkup metri pembelajaran yang harus dipelajari.
b) Macam-macam motivasi belajar
1) Kebutuhan-kebutuhan organis yakni, motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam dari tubuh seperti : lapar,haus, kebutuhan bergerak, beristirahat atau tidur, dan sebagainya. 2) Motif-motif yang timbul yang timbul sekonyong-konyong (emergency
motives) inilah motif yang timbul bukan karena kemauan individu tetapi karena ada rangsangan dari luar, contoh : motif melarikan diri dari bahaya,motif berusaha mengatasi suatu rintangan.
3) Motif Obyektif yaitu motif yang diarahkan atau ditujukan ke suatu objek atau tujuan tertentu di sekitar kita, timbul karena adanya dorongan dari dalam diri kita.
c) Cara meningkatkan motivasi belajar 1) Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa yang justru untuk mencapai angka/nilai yang baik. Sehingga yang dikejar hanyalah nilai ulangan atau nilai raport yang baik. Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi belajar yang sangat kuat. Yang perlu diingat oleh guru, bahwa pencapaian angka-angka tersebut belum merupakan hasil belajar yang
sejati dan bermakna. Harapannya angka-angka tersebut dikaitkan dengan nilai afeksinya bukan sekedar kognitifnya saja.
2) Hadiah
Hadiah dapat menjadi motivasi belajar yang kuat, dimana siswa tertarik pada bidang tertentu yang akan diberikan hadiah. Tidak demikian jika hadiah diberikan untuk suatu pekerjaan yang tidak menarik menurut siswa.
3) Kompetisi
Persaingan, baik yang individu atau kelompok, dapat menjadi sarana untuk meningkatkan motivasi belajar. Karena terkadang jika ada saingan, siswa akan menjadi lebih bersemangat dalam mencapai hasil yang terbaik.
4) Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Bentuk kerja keras siswa dapat terlibat secara kognitif yaitu dengan mencari cara untuk dapat meningkatkan motivasi.
5) Memberi ulangan
Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan diadakan ulangan. Tetapi ulangan jangan terlalu sering dilakukan karena akan membosankan dan akan jadi rutinitas belaka.
6) Mengetahui hasil
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi belajar anak. Dengan mengetahui hasil belajarnya, siswa akan terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi jika hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa pasti akan berusaha mempertahankannya atau bahkan termotivasi untuk dapat meningkatkannya.
7) Pujian
Apabila ada siswa yang berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pemberiannya juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana
yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
8) Hukuman
Hukuman adalah bentuk reinforcement yang negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijaksana, bisa menjadi alat motivasi belajar anak. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman tersebut.
2. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pemberian Motivasi
Menurut Ranupandojo yang di kutip dalam buku Gintings (2008:99), memberikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan motivasi sebagaimana dirangkum berikut ini:
a. Memahami adanya perbedaan individu baik secara fisik maupun secara emosional.
b. Setiap individu memiliki kepribadian yang unik sehingga memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi situasi tertentu.
c. Semua perilaku terjadi akibat adanya perubahan baik dalam diri individu maupun dalam situasi yang dihadapinya.
d. Setiap individu memiliki rasa ego yang cenderung mengabaikan kepentingan orang lain, akan tetapi secara rasional ia dapat menyesuaikan dengan kepentingan orang lain.
e. Emosi seseorang biasanya dapat dengan mudah dikenali dan sangat dominan dalam membentuk perilaku seseorang. Dengan melihat emosinya, kita dapat memperkirakan bagaimana perilakunya.
f. Pada umumnya kata jarang mengetahui kondisi individu secara mendalam, sehingga sukar memperkirakan reaksinya terhadap situasi tertentu.
D. Keterampilan Menulis Puisi 1. Pengertian Keterampilan
Keterampilan yaitu kemampuan untuk menggunakan akal, fikiran, ide dan kreatifitas dalam mengerjakan, mengubah ataupun membuat sesuatu menjadi lebih bermakna sehngga menghasilkan sebuah nilai dari hasil pekerjaan tersebut.
Kata keterampilan sama artinya dengan kata kecekatan. Terampil atau cekatan adalah kepandaian melakukan sesuatu dengan cepat dan benar. Seseorang yang dapat melakukan sesuatu dengan cepat tetapi salah tidak dapat dikatakan terampil. Demikian pula apabila seseorang dapat melakukan sesuatu dengan benar tetapi lambat, juga tidak sapat dikatakan terampil (Soemarjadi, Ramanto, dan Zahri,1991:2).
Bisa disimpulkan bahwasanya keterampilan tersebut dapat dilatih sehingga mampu melakukan sesuatu, tanpa adanya latihan dan proses pengasahan akal, fikiran tersebut tidak akan bisa menghasilkan sebuah keterampilan yang khusus atau terampil karena keterampilan bukanlah bakat yang bisa saja didapat tanpa melalui proses belajar yang intensif dan merupakan kelebihan yang sudah diberikan semenjak lahir.
2. Pengertian Menulis Puisi
Menurut Tarigan (2008:3 dan 22-23), ada 3 pengertian menulis yaitu : 1) Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini, penulis haruslah terampil memanfaatkan grafolegi, struktur bahasa, dan kosa kata. 2) Menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. 3) Menulis adalah suatu bnetuk berfikir, tetapi justru berfikir bagi membaca tertentu dan bagi waktu tertentu.
Pendapat lain dikemukakan oleh Ahmad dan H.P (2010:106), yang mengartikan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil.
Pengembangan keterampilan menulis melibatkan jenis kompetensi dan keterampilan dalam menggunakan linguistik, sosiolinguistik, dan wacana. Dengan demikian keterampilan menulis menyesuaikan dengan penulis itu sendiri. Menulis puisi merupakan salah satu bentuk kreativitas bidang sastra yang merupakan cerminan pengalaman, pengetahuan, dan perasaan penyair yang membuat sebuah puisi.
Menurut Dresden yang di kutip dari buku Mihardja (2012:18), puisi adalah sebuah dunia dalam kata. Isi yang terkandung di dalam puisi merupakan cerminan pengalaman, pengetahuan, dan perasaan penyair yang membentuk sebuah dunia bernama puisi. Kesustraan, khususnya puisi adalah cabang seni yang paling sulit untuk di hayati secara langsung sebagai totalitas. Sedangkan menurut Sayuti, puisi adalah pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek-aspek bunyi di dalamnya, yang mengucapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari individu dan sosialnya, yang di ungkapkan dengan teknik tertentu sehingga puisi itu dapat membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengarnya.
Menurut Ikranegara (2012: 92) Puisi yaitu karangan yang bentuknya terikat.
Dalam puisi dan metodologi pengajaran, B.P Sitomorang membeberkan bahwa perkataan puisi berasal dari bahasa Yunani yang juga dalam bahasa Latin poietes (Latin poeta). Mula-mula artinya pembangun, pembentuk, pembuat. Asal katanya poieo atau poio atau poeo yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Artinya yang mula-mula itu lama-kelamaan semakin dipersempit menjadi hasil seni sastra, yang kata-katanya di susun menurut irama, sajak, dan kadang-kadang kata-kata kiasan (Purba, 2010:9).
Setelah mengkaji dari pendapat diatas, dapat di simpulkan bahwa menulis puisi adalah keterampilan berbahasa yang merupakan kreativitas seseorang yang membuat pesan baik fisik maupun batiniah dalam bentuk karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat, diberi irama dan pemilihan kata-kata yang imaginatif.
3. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
Dari pembicaraan di muka, kita dapat menyimpulkan bahwa menulis merupakan suaru keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini, penulis haruslah terampil memanfaatkan grafolegi, struktur bahasa, dan kosa kata. Keterampilan menulis ini tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur.
Dalam kehidupan modern ini, jelas bahwa keterampilan menulis sangat dibutuhkan. Kiranya tidaklah terlalu berlebihan bila kita katakana bahwa
keterampilan menulis merupakan suatu cirri dari orang yang terpelajar. Sehubungan dengan hal ini, ada seseorang penulis yang mengatakan “bahwa penulis dipergunakan, melaporkan / memberitahukan, dan mempengaruhi; dan maksud serta tujuan seperti itu hanya dapat di capai dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun pikirannya dan mengutarakannya dengan jelas, kejelasan itu bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat” (Morsey, 1976:122).
4. Unsur-Unsur Puisi
Setelah puisi dibangun oleh beberapa unsur, baik unsur dari dalam maupun dari luar. Unsur dari dalam dan luar dipadukan menjadi satu kesatuan teks puisi. Unsur pembangun itu tersebut :
a. Diski, adalah pilihan kata yang dipergunakan dalam puisi tersebut, untuk puisi anak cenderung deniotatif, hal ini karena puisi anak harus benar-benar menggunakan bahasa anak yang sederhana dan lugas.
b. Imajinasi, adalah pengindraan, bahwa bagaimana cara penulis puisi dalam menyajikan pengalaman batin kepada pembaca agar pembaca seolah-olah ikut melihat, mendengar, menyentuh, mengalaminya sendiri peristiwa yang dibacanya tersebut atau kejellasan daya lukis atau penggambaran penyair mengenai suasana atau keadaan atau watak dan poerilaku berdasarkan penggunaan kata-kata.
c. Kata-kata konkret, adalah pelukisan dari pengimajinasian dengan kata-kata konkret.
d. Gaya bahasa, adalah penggunaan bahasa (kata-kata/kalimat) untuk pengertian khusus.
e. Ritme/irama, adalah gambaran suasana hati penyair dalam melafalkan puisi. f. Rima/bunyi, adalah pengulangan bunyi merupakan cirri dominan pada puisi
anak (Tarigan, 2006:10.48).
a. Menentukan idea tau gagasan
Hal penting yang harus kamu lakukan sebelum menulis puisi adalah menentukan ide. Ide atau gagasan pokok itu akan menjadi dasar penulisan puisi. Ide untuk menulis puisi dapat kamu peroleh dari mana saja dan kapan saja. Jadi, kamu juga dapat memperolehnya dari lingkungan di sekitarmu. Misalnya, sampah yang menumpuk, banjir, kemarau, atau apa saja. Nah, cobalah sekarang temukan ide untuk sebuah puisi. Ide itu kemudian renungkan dan catat di bukumu!
b. Pilihan kata
Setelah mendapatkan ide dan merenungkannya, langkah berikutnya adalah memilih kata-kata untuk menuliskan puisi. Baris-baris puisi bukan sekadar deretan kata yang tidak bermakna. Kata-kata dalam puisi harus bermakna. Selain itu, perlu dipilih kata yang tepat, yaitu kata yang mampu mewakili pikiran dan perasaan. Katakata yang dipilih dapat berupa kata yang bermakna lugas maupun kiasan. Namun, kata-kata bermakna kiasan lebih menambah keindahan puisi. Dalam memilih kata juga perlu memerhatikan persamaan bunyi atau rima. Katakata yang memiliki persamaan bunyi awal atau akhir jika dirangkai akan menimbulkan kesan indah. Jika dibaca, puisi itu terdengar indah.
c. Menulis puisi
Di atas kamu sudah belajar menentukan ide dan merenungkannya. Kamu juga sudah belajar memilih kata-kata yang tepat. Langkah selanjutnya adalah berlatih merangkai kata-kata itu menjadi baris-baris puisi. Sesudah menuliskan kata-kata dalam bentuk puisi, coba bacalah kembali! Jika masih ada kata yang kurang tepat.
E. Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang keterampilan menulis dengan menggunakan karya wisata sudah banyak dilakukan oleh peneliti. Meskipun demikian, penelitian ini tetap masih menarik untuk diadakan penelitian lebih lanjut. Penelitian yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah penelitian Mundoko (2004) dan penelitian Nur Janah (2008).
Mundoko (2004) melakukan penelitian tentang Upaya Meningkatkan Hasil Pembelajaran Menulis Puisi melalui Metode Karya Wisata Siswa Kelas VI SD Negeri 9 Gumelem Kulon Kecamatan Susukan Kabupaten Banjarnegara Semester 1 Tahun Ajaran 2003-2004.
Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa penelitian menulis dengan menggunakan karya wisata hasilnya lebih memuaskan dibandingkan dengan siswa hanya mendengarkan objek yang akan dijadikan sebuah puisi. Hal ini terlihat hasil rata-rata yang diperoleh pre test 48,6 pada siklus I rata-rata 56, siklus II 64,5 dan siklus III 72,5.
Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Nur Janah (2008) dengan judul Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Narasi Melalui Media Kartun dengan Metode Tandur pada Siswa Kelas VII MTs Darussalam Kroya Kabupaten Cilacap menunjukkan hasil yang serupa yaitu peningkatan hasil tes. Dari hasil penelitian diperoleh data hasil nilai rata-rata pre test 57,6 pada siklus I rata-rata 67,4 dan siklus II 76,2. Dari dua kajian penelitian di atas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Jika pada penelitian sebelumnya hanya menggunakan karya wisata dan kartun, pada kesempatan ini peneliti akan menggunakan media gambar yang lebih menarik minat siswa dalam menulis puisi tersebut. Jadi, 5 yang menjadi pembeda dalam penelitian ini adalah pada objek penelitian dan penggunaan media.
F. Kerangka Pemikiran
Belajar merupakan kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Maka dalam proses belajar mengajar media merupakan cara penyampaian materi yang merupakan bagian penting dari pendidikan. Bahkan dengan media sangat menentukan tingkat keberhasilan dalam keterampilan menulis puisi dalam suatu proses pembelajaran pendidikan. Dalam suatu pelaksanaan proses belajar mengajar, maka guru selalu dihadapkan dengan suatu pilihan dalam memilih metode atau media yang ingin diterapkan agar sesuai dengan materi dan tingkat kemampuan siswa bahkan kondisi kelas dan lingkungan (Syah, 2012:59).
Konsep belajar mengajar tidak semua siswa memiliki daya serap yang sama dan optimal di dalam satu kelas tidak semua siswa dan siswi memiliki daya tangkap pembelajaran yang sama, dimana dalam 1 kelas ada yang memiliki daya
serap yang cepat (pandai) dan daya serap siswa yang kurang cepat (lemah). Maka dengan itu seorang guru menerapkan strategi pembelajaran yang tepat dengan cara menerapkan media pembelajaran. Dimana media merupakan salah satu alat perantara agar peserta didik dapat berjalan secara efektif dan efesien pada tujuan pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tujuan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Peran guru selain memberikan kesempatan untuk membuat anak menjadi lebih aktif juga mempunyai kewajiban berfikir lebih kreatif. Dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa media gambar maka siswa akan selalu terlibat secara langsung dalam pembelajaran, sehingga dalam keterlibatan ini materi yang di bahas akan selalu teringat dalam pemikirannya dan konsep yang harus dikuasai siswa akan mudah diterimanya hal ini sesuai dengan prinsip yang menyatakan bahwa pembelajaran akan cepat dikuasai dengan siswa tersebut ikut aktif dalam pembelajaran (Sunjaya, 2005:85).
Penggunaan media gambar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia peneliti berharap siswa menjadi mandiri dalam belajar dan mampu menyusun kosa kata dengan baik dan benar di kelas. Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang terpenting dikawasan republik kita serta meningkatkan semangat belajar siswa dan membuat siswa menjadi aktif untuk mengkontribusikan idea tau gagasan yang dimiliki dalam bentuk gambar untuk mencapai suatu tujuan pelajaran yang tertentu dengan memberikan hasil belajar yang baik. Dari penjelasan diatas maka kerangka pemikiran yang dilakukan oleh peneliti dapat menggambarkan dengan bentuk diagram sebagai berikut:
Gambar 1.1
Bagan Kerangka Berfikir
Kegiatan Awal
Tindakan yang di lakukan
Kondisi akhir yang diharapkan
G. H. I. J. K. L. G. Hipotesis Tindakan
Peneliti menduga bahwa dengan menggunakan media gambar dalam keterampilan menulis puisi di kelas V MI Sirojul Muta’alimin Desa limbangan Kec. Losari Kab. Brebes akan meningkat motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Guru belum menggunakan media pembelajaran Guru menggunakan media gambar Dugaan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran dapat meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa terhadap
keterampilan menulis puisi
Siklus II dan III melaksanakan PBM dengan menggunakan media gambar Masih rendahnya hasil belajar siswa pada motivasi belajar siswa dalam keterampilan menulis puisi
Hipotesis melalui media pembelajaran gambar dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada keterampilan menulis puisi