• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Standar Belanja (Asb) Tahun 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisa Standar Belanja (Asb) Tahun 2009"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Kebijakan otonomi daerah yang dilaksanakan semenjak tahun 2001

lalu, saat ini telah mengalami penyempurnaan-penyempurnaan seiring

dengan diberlakukannya Undang-Undang No 32 Tahun 2004 Tentang

Pemerintahan Daerah. Hal ini membawa implikasi penyempurnaan

sub-sistem otonomi daerah lainnya termasuk sub-sistem perencanaan dan

pengelolaan keuangan daerah.

Sistem pengelolaan keuangan daerah yang sebelumnya diatur dengan

Peraturan Pemerintah No 105 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan

Kepmendagri No 29 Tentang Tentang Pedoman Pengurusan,

Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah Serta Tata Cara

Penyusunan APBD, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan

Penyusunan Perhitungan APBD, diganti dengan paket perundangan lain,

diantaranya; Undang-Undang No 17 Tentang Keuangan Negara, Peraturan

Pemerintah No 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah,

Permerndagri No 13 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan

Permendagri No. 59 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

(pelengkap dari Permendagri No. 13 Tahun 2006).

Dalam perspektif teori manajemen anggaran publik (public

expenditure management), pemberlakuan ketiga payung hukum pengelolaan

keuangan daerah tersebut dapat dilihat sebagai alat untuk menciptakan

keterpaduan pengelolaan keuangan negara disamping memperkuat

terciptanya outcome pengelolaan keuangan publik, berupa; teralokasinya

sumber pembiayaan publik pada bidang dan sektor pembangunan yang

strategis (strategic allocation), terciptanya efisiensi pengelolaan keuangan

daerah (technical efficiency) dan terciptanya disiplin anggaran (Fiscal

(2)

Untuk menghindari permasalahan yang timbul dan agar pengeluaran

Anggaran Daerah berdasarkan pada kewajaran ekonomi, efisien, dan efektif,

maka Anggaran Daerah harus disusun berdasarkan kinerja yang akan dicapai

oleh Daerah. Dengan menggunakan Anggaran Kinerja tersebut, maka

Anggaran Daerah akan lebih transparan, adil, dan dapat

dipertanggungjawabkan. Salah satu instrumen yang diperlukan untuk

menyusun Anggaran Daerah dengan pendekatan kinerja adalah Analisis

Standar Belanja (ASB).

Laporan ASB ini terdiri dari metodologi penyusunan serta

pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam merumuskan ASB untuk Pemerintah

Kabupaten Kutai Kartanegara.

Laporan ini mungkin masih terdapat kekurangan di dalamnya, untuk

itu kepada berbagi pihak diharapkan sumbang saran demi penyempurnaan

laporan ini. Kepada berbagai pihak yang telah membantu berlangsungnya

pengembangan dan penyelesaian laporan ini diucapkan terima kasih.

Semoga laporan ini bermanfaat.

Tenggarong, 01 September 2008

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Umum

I-1

B. Dasar Hukum

I-2

C. Definisi Standar Analisis Belanja

I-3

D. Tujuan Pengembangan ASB

I-4

E. Posisi ASB dalam Penganggaran

I-5

BAB II GARIS BESAR DAN METODOLOGI PENGEMBANGAN ASB

A. Garis Besar Pengembangan ASB

II-1

1. Langkah-langkah Pengembangan ASB

II-1

2. Metode Pengumpulan Data

II-3

3. Metode Analisis

II-4

4. Asumsi Penyusunan ASB

II-4

B. Metodologi Pengembangan ASB

II-5

C. Metode Pengembangan ASB

II-8

BAB III HASIL PENGEMBANGAN ASB

A. Hasil Tahapan Pengembangan ASB

III-1

B. Ekualisasi Kegiatan

III-3

C. Tahap-Tahap Perolehan Nilai Perhitungan

III-4

D. Kebijakan Penyajian ASB

III-4

E. Uji Model

III-4

F. Format Penyajian ASB

III-5

G. Pelaksana

III-8

LAMPIRAN

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Umum

Laporan ini secara umum berisi uraian tentang dasar penyusunan Analisis

Standar Belanja (ASB), metodologi dan metode pengembangan Analisa Standar

Belanja ( ASB ) dan hasil jenis-jenis Analisa Standar Belanja ( ASB )

Kabupaten Kutai Kartanegara.

Hasil pengembangan Analisa Standar Belanja ( ASB ) Kabupaten Kutai

Kartanegara ini nantinya diharapkan dapat digunakan oleh seluruh Satuan Kerja

Perangkat Daerah (SKPD) sebagai pengguna anggaran dalam menjalankan

program/kegiatan yang jenis dan beban kerjanya dapat disetarakan.

Analisa Standar Belanja ( ASB ) yang dikembangkan hanya untuk

kegiatan belanja langsung sifatnya strategis yang data sekundernya berasal dari

Dokumen Pelaksanaan Anggaran - Satuan Kerja Perangkat Daerah

(DPA-SKPD) setiap satuan kerja di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai

Kartanegara . Penggunaan Dokumen Pelaksana Anggaran - Satuan Kerja

Perangkat Daerah (DPA – SKPD) didasarkan pada pertimbangan bahwa

dokumen ini merupakan hasil kesepakatan antara eksekutif dan legislatif (Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah ). Sehingga hasilnya diharapkan dapat diterima baik

oleh eksekutif maupun oleh dewan.

(5)

B. Dasar

Hukum

Dasar hukum pengembangan Standar Analisa Belanja atau disebut juga

Analisis Standar Belanja bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara adalah:

1.

PP 58 Tahun 2005 Pasal 38 ayat 2:

Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja dilakukan

berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, Analisis Standar

Belanja, Standar Satuan Harga, dan Standar Pelayanan Minimal

2.

Peraturan Menteri Dalam Negeri 13 Tahun 2006 Tentang

Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 Huruf e:

Dokumen sebagai lampiran meliputi KUA, PPA, Kode Rekening

APBD, Format RKA-SKPD, Analisis Standar Belanja, dan

Standar Satuan Harga

3.

Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 16 Tahun

2007 Tentang Pokok - Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah.

4.

Peraturan Bupati Kutai Kartanegara Nomor 7 Tahun 2008 Tentang

Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 65.

(6)

Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) menerbitkan pedoman

penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah

(RKA-SKPD) berdasarkan prinsip-prinsip kinerja dengan Surat Edaran (SE)

Kepala Daerah.

Adapun Isi Surat Edaran Kepala Daerah :

1. Kebijakan Umum APBD (KUA)

2. Prioritas dan Plafon Anggaran

3. Format RKA SKPD

4. Kode Rekening APBD

5. Analisis Standar Belanja (ASB)

6. Standar Satuan Harga

C.

Definisi Analisa Standar Belanja

Analisa Standar Belanja (ASB) merupakan salah satu komponen yang

harus dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam

penyusunan APBD dengan pendekatan kinerja. Analisa Standar Belanja ( ASB )

adalah standar yang digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau

biaya setiap program atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu Satuan

Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam satu tahun anggaran.

Penerapan Analisa Standar Belanja ( ASB ) pada dasarnya akan

memberikan manfaat antara lain:

1. Dapat menentukan kewajaran belanja untuk melaksanakan suatu

kegiatan sesuai dengan tupoksinya.

2. Meminimalisir terjadinya pemborosan anggaran yang menyebabkan

inefisiensi anggaran.

(7)

3. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan Keuangan

Daerah.

4. Penentuan anggaran berdasarkan pada tolok ukur kinerja yang

jelas.

5. Unit kerja mendapat keleluasaan yang lebih besar untuk

menentukan anggarannya sendiri.

D.

Tujuan Pengembangan Analisa Standar Belanja ( ASB )

Anggaran daerah dalam konteks otonomi dan desentralisasi menduduki

posisi yang sangat penting. Namun saat ini kualitas perencanaan Anggaran

Daerah yang digunakan masih relatif lemah. Proses perencanaan Anggaran

Daerah dengan paradigma lama cenderung lebih dominan. Lemahnya

perencanaan anggaran juga diikuti dengan ketidakmampuan Pemerintah Daerah

dalam meningkatkan penerimaan Daerah secara berkesinambungan, sementara

di pihak lain pengeluaran terus meningkat secara dinamis, tetapi tidak disertai

dengan penentuan skala prioritas dan besarnya plafon anggaran. Keadaan

tersebut pada akhirnya memunculkan kemungkinan underfinancing atau

overfinancing, yang semuanya mempengaruhi tingkat efisiensi dan efektivitas

unit-unit kerja pemerintah daerah.

Untuk menghindari permasalahan yang timbul di atas dan agar

pengeluaran anggaran daerah berdasarkan pada kewajaran ekonomi, efisien

dan efektif, maka anggaran daerah harus disusun berdasarkan kinerja yang

akan dicapai oleh daerah. Dengan menggunakan anggaran kinerja tersebut,

maka anggaran daerah akan lebih transparan, adil, dan dapat

dipertanggungjawabkan. Salah satu instrumen yang diperlukan untuk menyusun

anggaran daerah dengan pendekatan kinerja adalah Analisa Standar Belanja

( ASB ).

(8)

E.

Posisi Analisa Standar Belanja ( ASB ) dalam

Penganggaran

Analisa Standar Belanja ( ASB ) digunakan pada saat proses

perencanaan anggaran. ASB merupakan pendekatan yang digunakan oleh Tim

Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk mengevaluasi usulan program,

kegiatan, dan anggaran setiap satuan kerja dengan cara menganalisis beban

kerja dan biaya dari usulan program atau kegiatan yang bersangkutan.

Analisa Standar Belanja ( ASB ) digunakan pada saat mengkuantitatifkan

Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah ( SKPD ) menjadi

Dokumen Pelaksanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah ( SKPD ). Untuk

mengetahui beban kerja dan beban biaya yang optimal dari setiap usulan

program atau kegiatan yang diusulkan, langkah yang dilakukan adalah dengan

menggunakan formula perhitungan Analisa Standar Belanja ( ASB ) yang

terdapat pada masing-masing jenis Analisa Standar Belanja ( ASB ).

(9)

BAB II

GARIS BESAR DAN METODOLOGI

PENGEMBANGAN ASB

A.

Garis Besar Pengembangan ASB

1.

Langkah-Langkah Pengembangan ASB

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengembangan ASB

Kabupaten Kutai Kartanegara adalah sebagai berikut:

a. Langkah I: Kajian Pustaka

(1) Kajian terhadap mekanisme dan metodologi perencanaan

Anggaran Daerah.

(2) Kajian terhadap metode analisis dan evaluasi kinerja

Anggaran Belanja Daerah (performance measurement).

(3) Kajian terhadap literatur mengenai teori dan praktek yang

diterapkan beberapa negara-negara lain yang berkaitan

dengan penerapan performance measurement dan

financial control dalam proses atau siklus Anggaran

Daerah.

(4)

Pendalaman arah kebijakan Otonomi Daerah

sebagaimana yang tercermin dalam UU Nomor 32 Tahun

2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU Nomor 33 Tahun

2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah

Pusat dan Daerah , Peraturan Pemerintah (PP) No. 58

Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

beserta penjelasannya yang termuat dalam Permendagri

No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan

Keuangan Daerah.

(10)

(5) Kajian tentang berbagai peraturan dan produk hukum

yang terkait dengan proses atau siklus penganggaran

pemerintah daerah yang berlaku saat ini maupun yang

akan berlaku.

(6)

Kajian terhadap berbagai peraturan dan ketentuan

tentang tugas pokok dan fungsi Dinas/Unit Kerja Daerah.

(7) Kajian terhadap format dan struktur Anggaran Daerah dan

berbagai Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk

Teknis (Juknis).

b. Langkah II: Survey dan Pengumpulan Data

Langkah ini diawali dengan penyusunan daftar pertanyaan dan

format kuesioner serta wawancara yang dilakukan pada

berbagai jenjang birokrasi, khususnya Tim Anggaran

Pemerintah Daerah (TAPD) yang banyak terlibat dalam proses

perencanaan Anggaran Daerah. Survey ini telah dilakukan di

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai sampel

sebagaimana tersebut di atas.

c. Langkah III: Analisis Data

Kegiatan ini dilakukan untuk melihat karakteristik data dan

informasi dalam rangka pengembangan berbagai kajian yang

akan dilaksanakan. Berbagai data yang diperoleh, baik data

primer maupun sekunder akan dianalisis berdasarkan

pendekatan serta metodologi yang sesuai dan sejalan dengan

tujuan dan sasaran penelitian.

d. Langkah IV: Diskusi Awal

Kegiatan ini dilaksanakan untuk menjaring persepsi para

praktisi di daerah, para pakar dari Perguruan Tinggi dan

lembaga-lembaga lainnya mengenai hasil analisis dalam

penyiapan Model Perencanaan Anggaran Daerah yang

berorientasi pada Kinerja.

(11)

e. Langkah V: Penyusunan Model

Dalam kegiatan ini dipersiapkan model Analisa Standar

Belanja ( ASB ), yang akan digunakan dalam bentuk model

statistik yang dapat digunakan sebagai upaya perbaikan

kinerja pengeluaran daerah.

f. Langkah VI: Perumusan Akhir

Laporan akhir yang telah didiskusikan pada kegiatan diskusi

awal selanjutnya perlu dirumuskan kembali melalui berbagai

perbaikan. Perbaikan tersebut dilakukan dengan berdasarkan

masukan dan saran yang didapatkan pada kegiatan diskusi

awal.

g. Langkah VII: Diskusi Akhir

Kegiatan ini dilaksanakan untuk menjaring persepsi para

praktisi, para perangkat pemerintah daerah khususnya TAPD

dan para pakar dari Perguruan Tinggi dan lembaga-lembaga

lainnya mengenai hasil analisis dalam perumusan Laporan

akhir pengembangan model perencanaan anggaran yang

berorientasi pada kinerja dalam bentuk model Analisa Standar

Belanja ( ASB ).

2.

Metode Pengumpulan Data

Sumber data yang digunakan dalam analisis ini berasal dari data

primer maupun data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara

dan kunjungan lapangan (survey) di daerah penelitian. Sedangkan data

sekunder diperoleh melalui berbagai sumber data yang tersedia pada

berbagai satuan kerja di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai

Kartanegara .

(12)

3. Metode

Analisis

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan metoda rasionalistik. Metoda

kualitatif-rasionalistik ini didasarkan atas pendekatan holistik berupa suatu konsep

umum (grand concepts) yang diteliti pada objek tertentu (specific object),

yang kemudian mendudukkan kembali hasil penelitian yang didapat

pada konsep umumnya (Muhadjir, 1992). Metoda pemaparan penelitian

ini dilakukan dengan metoda diskriptif analitis dan metoda sintesis

preskriptif.

Metoda diskriptif analitis dimaksudkan bahwa pengungkapan atau

gambaran tentang keadaan yang faktual dan akurat tentang objek yang

diamati yang dibahas secara analitis, bertitik tolak dari pemikiran,

konsepsi, paradigma ataupun teori yang melandasi atau berkaitan

dengan program terkait. Sedangkan metoda sintesis preskriptif

dimaksudkan untuk membangun kembali hasil analisis kritis yang telah

dilakukan agar faktor-faktor yang relevan dan penting yang diperlukan,

dapat disintesiskan ke dalam konsep yang sistematis.

4. Asumsi

Penyusunan

ASB

Penyusunan Analisa Standar Belanja ( ASB ) di Pemerintah

Kabupaten Kutai Kartanegara menggunakan data Dokumen Anggaran

Satuan Kerja setiap SKPD pada Pemerintah Kabupaten Kutai

Kartanegara. Dalam proses pengembangan Analisa Standar Belanja (

ASB ) ini, ada beberapa asumsi yang digunakan. Asumsi-asumsi

tersebut antara lain:

1) Proses penyusunan Dokumen Pelaksana Anggaran - Satuan Kerja

Perangkat Daerah (DPA–SKPD) Pemerintah Kabupaten Kutai

Kartanegara telah memenuhi sistem dan prosedur yang benar.

(13)

2) Dokumen Pelaksana Anggaran - Satuan Kerja Perangkat Daerah

(DPA–SKPD) pada proses penetapannya tidak terjadi kesalahan

dalam perhitungan angka-angkanya.

3) Dokumen Pelaksana Anggaran - Satuan Kerja Perangkat Daerah

(DPA–SKPD) merupakan representatif dari sistem anggaran yang

berbasis kinerja yang mengacu pada Undang-undang dan

Peraturan Pemerintah yang berlaku.

B. Metodologi Pengembangan Analisa Standar Belanja (ASB)

Metodologi merupakan himpunan prinsip-prinsip atau langkah-langkah

sistematik yang berlaku umum yang digunakan untuk memecahkan suatu

permasalahan. Analisa Standar Belanja ( ASB ) dikembangkan dengan

kemiripan pola dengan pengembangan sistem dengan pendekatan prototyping.

Protoyping merupakan langkah untuk menyusun prototipe (bentuk awal) untuk

memperoleh gambaran hasil final dengan memunculkan satu contoh Analisa

Standar Belanja ( ASB ) hasil final. Setelah bentuk akhirnya disepakati maka

keseluruhan jenis Analisa Standar Belanja ( ASB ) bisa dikembangkan dengan

bentuk dan kandungan yang sama.

Pada dasarnya setiap pengembangan sistem atau model mencakup

empat tahap utama yaitu: analisis, disain, konstruksi, dan implementasi.

1.

Analisis merupakan tahap pertama yang dilakukan untuk

memilah-milah tatanan yang ada ke dalam bagian-bagian yang

sesuai untuk menentukan apa yang sedang terjadi dan

menentukan apa yang harus dihadirkan dalam standar analisis

belanja yang akan datang.

2.

Disain merupakan tahapan yang dilakukan untuk menentukan

bagaimana standar akan dibangun tanpa benar-benar

menghadirkannya secara fisik.

(14)

3.

Konstruksi

merupakan tahapan yang dilakukan untuk

menghadirkan secara fisik standar yang dimaksud yang

merupakan alat referensi atau rujukan bagi para penggunanya.

4.

Implementasi merupakan tahap terakhir untuk menghadirkan

standar final yang bisa diterapkan pada pengguna sebenarnya.

Analisis dilakukan agar model tidak menggambarkan sesuatu secara

keliru yang akan mengakibatkan solusi yang dihasilkan juga keliru. Tahap ini

mencakup deteksi masalah untuk mendefinisikan masalah yang sebenarnya,

penyelidikan awal untuk menentukan cakupan permasalahan yang dipecahkan,

penentuan kebutuhan untuk menentukan tingkat kebutuhan pengguna dan

berbagai peralatan yang diperlukan, sumber daya yang dikonsumsi, ataupun

alokasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas. Definisi kebutuhan

dilakukan untuk menentukan berbagai kebutuhan yang harus dihadirkan dalam

Analisa Standar Belanja ( ASB ) yang baru, ketersediaan sumber daya, dan

alokasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan Analisa Standar Belanja (

ASB ). Beberapa alternatif solusi akan mampu dihasilkan selepas tahap di

atas. Pemilihan atas solusi yang terbaik perlu dilakukan untuk menentukan

solusi yang paling optimal, aplikatif, sesuai dengan kebutuhan, memadai dan

tangguh, serta luwes (fleksibel) yang bisa diterapkan bagi para penggunanya.

Berbagai alat yang diperlukan untuk penggunaan Analisa Standar Belanja (

ASB ) sebagai alat kebijakan strategis juga ditentukan dalam aktivitas ini.

Disain merupakan tahap pengembangan Analisa Standar Belanja ( ASB

) untuk menentukan bagaimana Analisa Standar Belanja ( ASB ) akan dibangun

tanpa benar-benar menghadirkannya dalam bentuk fisik yang sebenarnya.

Tahap ini mencakup perancangan atas output (bentuk yang ringkas, padat, dan

mudah digunakan dan dipahami oleh pengguna), perancangan atas input, dan

perancangan atas prosedur atau ketentuan-ketentuan yang harus diikuti dan

dipenuhi oleh para pengguna.

(15)

Setelah disain yang terpilih ditetapkan tahap pengembangan masuk ke

tahap konstruksi. Pada tahap inilah model yang telah dirumuskan benar-benar

dibangun dan dihadirkan secara fisik sebagai satu contoh bentuk final. Satu

contohnya bisa berupa lembaran Analisa Standar Belanja ( ASB ) yang memuat

berbagai ketentuan yang harus diikuti, nilai belanja tetap dan belanja variabel

setiap aktivitas dalam satuan rupiah, teknik penggunaan dan penyesuaiannya

di masa depan, serta menanjak ke tahap yang lebih tinggi adalah penggunaan

ASB sebagai alat kebijakan strategis untuk meningkatkan efisiensi dan

produktivitas. Penggunaan Analisa Standar Belanja ( ASB ) untuk kebijakan

strategi dirumuskan bentuk, nilai, dan mekanisme penggunaannya pada tahap

ini.

Implementasi merupakan tahap terakhir untuk menghantarkan model

Analisa Standar Belanja ( ASB ) yang telah dibangun agar dapat digunakan

dengan baik oleh para penggunanya. Sebelum tahap ini diberlakukan

seringkali didahului dengan pengujian model (model testing). Beberapa analis

dan praktisi sebagian menggolongkan testing dalam kategori disain sementara

sebagian lagi menggolongkannya dalam tahap implementasi. Pengujian model

mencakup dua jenis yaitu: alpha testing dan beta testing. Alpha testing

merupakan pengujian model terhadap pengguna yang dikondisikan atau orang

luar yang dikondisikan seakan-akan merupakan pengguna sebenarnya. Jika

kurang bagus alpha test bisa dilaksanakan lagi sehingga disebut alpha 2 (alpha

two atau alpha dua) dan yang semula disebut dengan alpha 1 (alpha one).

Beta testing atau pengujian beta merupakan pengujian model terhadap

pengguna sebenarnya. Kekurangsempurnaan model bisa diperbaiki dan

dilakukan pengujian kembali pada mereka yang disebut dengan beta 2 (beta

two atau beta dua) dan tahap sebelumnya disebut beta 1 (beta one atau beta

satu). Tahap implementasi mencakup dua aktivitas utama yaitu sosialisasi dan

pendampingan teknis. Sosialisasi dimaksudkan untuk memberikan pemahaman

kepada para pengguna tentang tata cara penggunaan Analisa Standar Belanja

( ASB ) secara langsung. Berbagai kendala pemahaman dan penjelasan teknis

(16)

yang sulit dipahami melalui panduan bacaan yang dihadirkan dapat

dikonfirmasikan di sini.

Sedangkan pendampingan teknis hanya diperlukan jika pengguna masih

kesulitan juga untuk menggunakan Analisa Standar Belanja ( ASB ) ini.

Pendampingan teknis dilakukan untuk memberikan bimbingan bagi para

pengguna satu orang demi satu orang untuk menunjukkan berbagai mekanisme

pemahaman dan penghitungan variabel ataupun rentang batasan yang ada.

Aktivitas ini seharusnya tidak perlu dihadirkan jika pada aktivitas sosialisasi

berbagai keterangan disimak dengan baik dan berbagai perbedaan

pemahaman dikomunikasikan secara langsung.

C.

Metode Pengembangan Analisa Standar Belanja (ASB)

Metode merupakan himpunan prinsip-prinsip atau langkah-langkah yang

berlaku spesifik sesuai dengan permasalahan yang dihadapi di lapangan yang

berbeda-beda. Metode pengembangan Analisa Standar Belanja ( ASB ) untuk

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara mencakup beberapa tahapan

sebagai berikut:

1) Tahap Pengumpulan Data.

Data kegiatan dari berbagai satuan kerja perangkat daerah

dikumpulkan untuk dirinci untuk memperoleh gambaran awal atas

berbagai jenis kegiatan yang terjadi di Pemerintah Kabupaten Kutai

Kartanegara.

(17)

2) Tahap Penyetaraan Kegiatan.

Penyetaraan kegiatan dilakukan untuk menggolongkan daftar

berbagai kegiatan yang diperoleh dari tahap di atas ke dalam jenis

atau kategori kegiatan yang memiliki kemiripan pola kegiatan dan

bobot kerja yang sepadan.

3) Tahap Pembentukan Model Awal.

Model awal dibentuk untuk memperoleh gambaran nilai belanja dan

alokasinya yang terjadi di Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Tahap ini mencakup tiga langkah utama yaitu:

a. Pencarian Pengendali Belanja (cost driver) dari tiap-tiap jenis

kegiatan.

b. Pencarian Nilai Belanja Tetap (fixed cost) dan Belanja Variabel

(variable cost) untuk setiap jenis kegiatan.

Nilai belanja dari tiap jenis kegiatan dipisahkan dalam nilai

belanja tetap dan nilai belanja variabel. Dengan demikian,

setiap penambahan kuantitas akan dapat dianalisis

peningkatan belanja variabelnya.

c. Pencarian Nilai Rata-rata (Mean), Batas Atas dan Batas

Bawah.

Nilai mean, batas atas dan bawah dicari untuk memperoleh

gambaran awal atas rata-rata dari pengalokasian belanja

setiap jenis kegiatan dan pengendali belanjanya. Nilai Batas

Atas dan Batas Bawah kadang-kadang tidak bisa langsung

digunakan sebagai indikator dan penentuan kebijakan karena

sangat sering memunculkan nilai ketidakmungkinan.

(18)

4) Tahap Pengujian Model.

Sesuai dengan metodologi di atas maka model diuji dengan alpha

test dan beta test. Alpha test merupakan uji coba awal dari model ini

yang akan dilakukan dengan menggunakan responden mahasiswa

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sedangkan beta test juga

merupakan uji coba model Analisa Standar Belanja ( ASB ) kepada

pengguna langsung Analisa Standar Belanja ( ASB ) yaitu para

penyusun anggaran seluruh satuan kerja pengguna anggaran di

lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam rangka

mengkaji kelayakan dan keberterapan (aplikabilitas) model.

5) Tahap Perbaikan Model.

Model awal yang telah disusun kemudian didiskusikan dengan para

pelaku penyusunan anggaran di Pemerintah Kabupaten Kutai

Kartanegara khususnya Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD)

sebagai tim pembahas rencana anggaran eksekutif. Hasil diskusi

yang berupa masukan-masukan kemudian dianalis untuk dijadikan

dasar perbaikan dari model awal yang telah dikembangkan.

(19)

BAB III

HASIL PENGEMBANGAN

ANALISIS STANDAR BELANJA

A.

Hasil Tahapan Pengembangan ASB

Persiapan, perumusan, dan pengembangan Analisis Standar Belanja

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah dilaksanakan melalui

mekanisme dan tahapan sebagai mana yang dijelaskan pada bab 2. Tahapan

pengembangan yang telah dilaksanakan hingga laporan ini dibuat adalah telah

sampai pada proses model awal Analisa Standar Belanja ( ASB ) Kabupaten

Kutai Kartanegara yang telah disusun. Tahap-tahap yang telah dilewati sampai

pada penyusunan Laporan ini adalah:

Langkah I: Survey Dan Pengumpulan Data

Pada tahap survey, penyusun melakukan survey ke Pemerintah

Kabupaten Kutai Kartanegara guna memperoleh gambaran kegiatan

yang dilaksanakan. Survey ini dilakukan dengan metode wawancara.

Dari hasil wawancara diperoleh berbagai masukan dan saran sebagai

landasan pengembangan Analisa Standar Belanja ( ASB ).

Selain itu pada tahap ini diperoleh data sekunder berupa Dokumen

Pelaksanaan Anggaran - Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD)

2007 dan 2008 untuk masing-masing satuan kerja. Dokumen

Pelaksanaan Anggaran - Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD)

ini berisi seluruh kegiatan/program yang telah dilaksanakan seluruh

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mencakup jenis kegiatan

dan anggarannya.

(20)

Langkah II: Entry Data

Setelah seluruh data sekunder terkumpul, maka tahap selanjutnya

adalah melakukan entry data. Data kegiatan dari seluruh satuan kerja

perangkat daerah dikumpulkan untuk dirinci untuk memperoleh

gambaran awal atas berbagai jenis kegiatan yag terjadi di Pemerintah

Kabupaten Kutai Kartanegara. Data yang dientri adalah Dokumen

Pelaksanaan Anggaran - Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD)

tahun 2008 untuk komponen Belanja Langsung. Belanja langsung

merupakan belanja yang eksistensinya dipengaruhi secara langsung

oleh adanya kegiatan yang direncanakan (terprogram). Untuk Dokumen

Pelaksanaan Anggaran (DPA) tahun 2008 belanja langsung yang dientri

adalah belanja langsung selain kegiatan-kegiatan dalam Program

Pelayanan Administrasi Kantor dan kegiatan pemeliharaan. Dikarenakan

kegiatan-kegiatan tersebut sebenarnya merupakan kegiatan yang sulit

diukur ukuran kinerjanya.

Langkah III: Analisis Data

Berbagai data yang telah dikumpulkan, baik data primer maupun

sekunder dianalisis berdasarkan pendekatan serta metodologi yang

sesuai dan sejalan dengan tujuan dan sasaran pengembangan. Pada

tahapan ini, penyusun menganalisis karakteristik masing-masing data

yang dilihat berdasarkan belanja langsung dan belanja tidak langsung.

Belanja langsung merupakan belanja yang eksistensinya dipengaruhi

secara langsung oleh adanya kegiatan yang direncanakan (terprogram).

Sedangkan belanja tidak langsung merupakan belanja yang

eksistensinya tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya kegiatan

yang direncanakan (terprogram).

Analisa Standar Belanja ( ASB ) ini dikembangkan berdasarkan pada

data belanja langsung dari setiap satuan kerja. Hal ini dilakukan karena

beberapa alasan sebagai berikut:

(21)

1. Belanja langsung dianggarkan untuk setiap program/kegiatan yang

diusulkan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah.

2. Belanja langsung dapat diukur/dibandingkan secara langsung

dengan output program/kegiatan.

3. Variabilitas jumlah belanja langsung dipengaruhi langsung oleh

target kinerja/tingkat pencapaian. Berdasarkan belanja langsung

yang terdapat pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran - Satuan

Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD) tahun 2008 (selain kegiatan

dalan program Pelayanan Administrasi) kemudian dilakukan proses

pembobotan beban kerja dan kewajaran belanja.

Selanjutnya dilakukan proses penyetaraan atas dasar belanja langsung

untuk masing-masing program atau kegiatan satuan kerja di lingkungan

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Penyetaraan kegiatan dilakukan

dengan cara mengelompokkan kegiatan ke dalam satu kelompok/jenis yang

sama atau setara. Dari hasil penyetaraan ini dapat dikembangkan jenis

kelompok Analisa Standar Belanja ( ASB ) yang sifatnya umum.

B. Ekualisasi Kegiatan

Untuk memudahkan proses pembobotan beban kerja dan belanja suatu

kegiatan, maka masing-masing program atau kegiatan satuan kerja di

lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dilakukan proses

ekualisasi. Hasil dari ekualisasi dilakukan dengan cara mengelompokkan

program atau kegiatan ke dalam satu kelompok/jenis yang sama.

Berdasarkan hasil ekualisasi kegiatan, total Analisa Standar Belanja

( ASB ) yang dapat dimunculkan sampai dengan penyusunan Laporan ini

berjumlah 20 ( Dua Puluh ) jenis ASB. Jumlah ini sudah merupakan hasil

diskusi dari pihak Universitas Gadjah Mada sebagai Narasumber dalam

penyusunan Analisa Standart Belanja (ASB). Namun jumlah tersebut pada

(22)

proses perkembangan lebih lanjut memungkinkan akan bertambah atau

berkurang. Penambahan atau pengurangan jenis Analisa Standart Belanja

(ASB) tersebut semata-mata untuk menghadirkan jenis Analisa Standart

Belanja (ASB) yang akurat dan andal sebagai salah satu instrumen pada sistem

anggaran berbasis kinerja. Hasil dan jenis Analisa Standart Belanja (ASB)

tersebut dapat dilihat pada lampiran daftar Analisa Standart Belanja (ASB)

kegiatan.

C. Tahap-Tahap Perolehan Nilai Perhitungan

Tahapan pengukuran untuk memperoleh hasil dilakukan dalam dua

tahap utama yaitu tahap pengukuran awal dan tahapan berikutnya hanyalah

merupakan teknik untuk menyesuaikan nilai masing-masing sesuai dengan

tahun yang bersangkutan.

D. Kebijakan Penyajian ASB

Angka-angka yang terdapat dalam ASB ini diperoleh melalui suatu

perhitungan yang detail. Hasil dari perhitungan tersebut disajikan dengan

ketentuan sebagai berikut:

ƒ Mean, Batas Bawah, dan Batas Atas disajikan dalam bentuk

prosentase terhadap Belanja Total suatu program atau kegiatan

ƒ Nilai Mean, Batas Bawah, dan Batas Atas disajikan dalam nilai

pembulatan hingga dua digit dibelakang koma

ƒ Nilai perhitungan satuan pengendali belanja tetap (fixed cost) dan

satuan pengendali belanja variabel (variable cost) merupakan nilai

pembulatan ke angka ribuan ke atas.

E. Uji Model

Tahap pengujian selanjutnya dilakukan melalui diskusi secara langsung

dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah Pemerintah Kabupaten Kutai

(23)

Kartanegara. Diskusi yang mendalam ini diharapkan akan memperoleh banyak

masukan dan perbaikan guna meningkatkan tingkat kebenaran model yang

diajukan.

F. Format Penyajian Analisa Stándar Belanja (ASB)

1. Definisi Operasional Format Analisa Standar Belanja (ASB)

Hal-hal penting yang tercantum dalam Analisa Standart Belanja (ASB) ini

perlu dijelaskan agar memudahkan dalam mengoperasionalkan

penggunaan Analisa Standart Belanja (ASB), yaitu:

a. Deskripsi

Merupakan penjelasan dari masing-masing Analisa Standart Belanja

(ASB) yang ada. Selain itu, deskripsi juga menjelaskan rentang

waktu pengunaan Analisa Standart Belanja (ASB) untuk

masing-masing kegiatan.

b. Batasan Alokasi Objek Belanja

Batasan Alokasi Objek Belanja merupakan proporsi dari objek

belanja suatu kegiatan. Proporsi tersebut terbagi dalam 3 (tiga)

jenis, yaitu mean, batas bawah, dan batas atas. Total keseluruhan

proporsi objek belanja harus 100%.

c. Pengendali Biaya (cost driver)

Pengendali Belanja menjelaskan faktor apa yang memicu

biaya/belanja dari suatu kegiatan.

d. Satuan Pengendali Belanja Tetap (Fixed Cost)

Menunjukkan besarnya belanja tetap dari suatu kegiatan tanpa

dipengaruhi oleh perubahan/penambahan volume kegiatan.

e. Satuan Pengendali Belanja Variabel (Variable Cost)

Menunjukkan besarnya perubahan belanja variabel untuk

masing-masing kegiatan yang dipengaruhi oleh perubahan/penambahan

volume kegiatan.

(24)

f. Formula Perhitungan Belanja Total sebelum penambahan factor

inflasi.

Merupakan rumus dalam menghitung besarnya belanja total dari suatu

kegiatan. Formula ini merupakan penjumlahan antara fixed cost dan

variable cost

g. Formula Perhitungan Belanja Total x Laju Tingkat Inflasi 14,90

Dalam Perhitungan Belanja Total dari suatu Kegiatan dimana

penjumlahan antara Fixed Cost dan Variable Cost dikali dengan laju

tingkat inflasi year on year ( Juni 2008 terhadap Juni 2007 mencapai

14,90 persen dari data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), dari data

tersebut diasumsikan sebagai prediksi laju tingkat inflasi untuk

Anggaran 2009 masa yang akan datang.

2. Teknik Penggunaan

ASB ini seharusnya digunakan oleh setiap satuan kerja pada tahap awal

penyusunan angggaran. Dalam penggunaan Analisa Standart Belanja

(ASB), satuan kerja dapat mengikuti langkah-langkah sebagi berikut:

a) Satuan kerja harus mengetahui kegiatan yang akan

dilaksanakan tergolong dalam jenis Analisa Standart Belanja

(ASB) yang mana dari daftar Analisa Standart Belanja (ASB)

yang tersedia;

b)

Satuan kerja harus memahami apa yang menjadi pengendali

belanja (cost driver) sehingga mampu membedakan antara

-fixed cost dan variable cost;

c)

Menentukan target kinerja dari masing-masing kegiatan yang

akan dilaksanakan;

d)

Menghitungkan besarnya total belanja untuk kegiatan dengan

menggunakan formula yang ada pada Analisa Standart

Belanja (ASB) tersebut.

(25)

e) Perhitungan

alokasi

proporsi belanja dapat menggunakan

angka Mean atau angka diantara batas bawah dan batas

atas.

ƒ Apabila menggunakan proporsi yang standar adalah

menggunakan proporsi alokasi belanja sesuai dengan

proporsi mean dan total alokasi belanja harus 100% dari

belanja total.

ƒ Apabila ada komponen-komponen yang tidak sesuai

dengan kebutuhan (bisa lebih atau kurang dari nilai

mean), maka satuan kerja dapat menggeser proporsi/nilai

nominal anggaran pada masing-masing objek belanja

dengan menggunakan batas bawah dan batas atas tetapi

prosentase total belanja tidak melebihi 100%.

f)

Apabila satuan kerja merencanakan kegiatan yang belum

memiliki Analisa Standart Belanja (ASB) maka anggaran

yang diusulkan harus seijin dari Tim Anggaran Pemerintah

Daerah (TAPD).

3. Teknik Penyesuaian Tahun Selanjutnya

ASB ini disusun dan dihitung berdasarkan data Dokumen Pelaksanaan

Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD) tahun 2008

setiap SKPD di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai

Kartanegara. Analisa Standart Belanja (ASB) ini tidak dapat digunakan

untuk tahun selanjutnya tanpa dilakukan penyesuaian terhadap nilai-nilai

yang ada. Penggunaan tanpa melalui proses penyesuaian akan

menghasilkan nilai yang tidak akurat pada proses penyusunan anggaran.

Proses penyesuaian ini harus dilakukan melalui suatu teknik

penyesuaian yang dijelaskan dalam suatu rumus/formula.

Teknik penyesuaian yang dilakukan adalah menggunakan angka

penyesuaian (contohnya: angka estimasi inflasi) pada tahun yang

bersangkutan. Angka penyesuaian yang digunakan merupakan

kebijakan yang dibuat oleh bagian tim anggaran eksekutif yang tertuang

(26)

dalam surat edaran. Berdasarkan surat edaran tersebut, masing-masing

Satuan Kerja Perangkat Daerah melakukan penyesuaian terhadap

angka-angka pada belanja tetap dan belanja variabel.

4. ASB Sebagai Alat Kebijakan Strategis

Analisa Standart Belanja (ASB) ini dapat digunakan sebagai alat

kebijakan strategis Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara pada saat

penyusunan anggaran. Beberapa fungsi Analisa Standart Belanja (ASB)

untuk strategi adalah:

a.

Kebijakan Efisiensi.

Kebijakan efisiensi merupakan pencapain output yang maksimum

dengan input tertentu atau penggunaan input yang terendah untuk

mencapai output tertentu. Efisiensi merupakan perbandingan

output dengan input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau

target yang telah ditetapkan.

b.

Kebijakan Produktivitas

Produktivitas merupakan kemampuan pencapaian output yang

diharapkan dengan penggunan input yang ditetapkan.

Produktivitas ini menunjukkan tingkat pencapaian hasil program

dengan target yang ditetapkan.

c.

Peningkatan Kinerja melalui Pengukuran Kinerja:

ƒ Kinerja

Efisiensi.

ƒ Kinerja

Produktivitas.

G PELAKSANA

Kegiatan ini pada prinsipnya merupakan hasil kerjasama antara pihak

Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada ( UGM ) Yogyakarta dengan

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

,

menyiapkan (mobilisasi) personil

(27)

Tenaga Ahli sebagai Nara sumber sedangkan Pelaksana/Tim Teknis adalah

dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Tenaga ahli sebagai pelaksana kegiatan dipersiapkan Sekolah Pasca

Universitas Gadjah Mada ( UGM ) Yogyakarta yang memiliki pengalaman

dalam menangani kegiatan penelitian dan capacity building sektor publik

daerah di Indonesia. Personil pelaksana kegiatan ini, adalah:

Penanggung jawab

: Dr. Abdul Halim,MBA.,Akt

Ketua Tim

: Irwan Taufik Ritonga,SE.M.Bus.Akt

1. Ahli Keuangan Daerah

:

Ehermann Suhartono,SE,.M.Si

2. Ahli

Kelembagaan

:

Drs. Rusman R Manik.

3. Ahli Penganggaran Daerah

:

Yanti Murahadi,SE.

4. Ahli Penganggaran Daerah

:

Muhammad Silman, SE.

5. Ahli Statistik

:

Ir. Muhammad Firdaus.

6. Ahli Statistik

:

Agus Supriyanto, S.Pd

7. Staf

: Fita Nurul Yuanita, A.Md

Sedangkan Nara sumber pendamping dari Universitas Kutai Kartanegara

Tenggarong sbb:

Ketua Tim

: Prof. DR. Iskandar,SE.,M.Si

1. Anggota

:

Sudirman, S.Sos.,M.Si

2. Anggota

:

Rusmawati,SE.M.Si.

3. Anggota

:

Heru Suprapto,SE.

Tim Teknis Pendamping dan pengumpul data Fasilitasi Penyusunan

Analisa Standar Belanja ( ASB ) Kabupaten Kutai Kartanegara Anggaran

(28)

Tahun 2008 berdasarkan keputusan Plt. Bupati Kutai Kartanegara Nomor : 357

Tahun 2008, terdiri atas personil sbb ini adalah :

I. Pengarah

: Drs.

H.M. Samsuri Aspar, MM.

II. Penanggung Jawab

:

Dr. Ir. H. M. Aswin, MM.

III. Koordinator I

:

Drs. Sutrisno

IV. Koordinator

Ii

: Drs. H. M. Hardi, MM

V. Koordinator Iii

:

Drs. Fathan Djoenaidi, MM

VI. Koordinator

Iv

: Bambang Arwanto, Ap.,M.Si

VII. Koordinator

:

H.M. Arsyad, S.Sos, M.M

VIII. Koordinator V

:

Drs. Machmudan, M.Si

IX. Ketua

: Heriansyah, SE, M.Si

X. Wakil Ketua

:

Wiyono, Sip.,M.Si

XI. Sekretaris

:

Siti Nurwidyawati, SE

A. Kelompok Kerja I (Pembahasan ASB) :

1. Ir. Salderi, MP.

2. Ir. Rodi Hartono, M.Si

3. Hj.Sy Vanessa Vilna Sis, M.Si

4. Dra. Jane, Ar. Nz, MT

5. H.Rizali, SE.,M.Si

6. H. Fredy Wardana, SE.

7. Setianto.N. Aji, SH.

B. Kelompok Kerja I (Penyusunan ASB) :

1. Surya Alam, M.Sc

2. Munir Fasihu, M.Sc

3. Shinta Andriyani Susilo, M.A

4. Anne Hasanah D, Diplom.Bw

5. M. Afrizal. Mardinata.

(29)

ASB–001

APRESIASI KINERJA PERSONAL/LEMBAGA

Deskripsi:

Apresiasi atau penghargaan atas kinerja personal merupakan kegiatan yang dilakukan oleh suatu satuan kerja perangkat daerah untuk memberikan penghargaan kepada orang-orang yang telah menunjukkan kinerja atau pengabdian di bidang tertentu atau kepada lembaga. Pihak-pihak yang diberi penghargaan kinerja bisa merupakan pegawai di lingkungan satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan, satuan kerja perangkat daerah yang lain, ataupun masyarakat umum. Kegiatan ini mencakup perencanaan rincian kegiatan, penyusunan/pendataan nominator, pemilihan dan penyerahan penghargaan kepada pihak-pihak yang layak menerima serta pertanggungjawaban kegiatan kepada pihak yang berwenang.

Pengendali belanja (cost driver):

Jumlah Penerima Penghargaan

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):

= Rp. 19.431.358 per kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):

= Rp 1.978.086 , per Penerima Penghargaan

Rumus Penghitungan Belanja Total:

Belanja Tetap + Belanja Variabel

= Rp. 19.431.358 + (Rp. 1.978.086,x Jumlah Penerima Penghargaan) = Total Belanja x 14,90 % = Total Belanja Keseluruhan

Alokasi Obyek Belanja ASB 001 :

Rata-Rata Batas Bawah Batas Atas No Objek Belanja

(%) (%) (%) 1 Belanja Honorarium PNS 41,19% 25,20% 57,19% 2 Belanja Honorarium Non PNS 4,38% 0,00% 10,56% 3 Belanja Bahan Habis Pakai 12,01% 0,00% 29,00% 4 Belanja Jasa Kantor 33,18% 0,00% 80,11% 5 Belanja Cetak & Penggandaan 0,73% 0,00% 1,76% 6 Belanja Sewa 1,64% 0,00% 3,96% 7 Belanja Makan & Minum 6,87% 0,00% 14,48%

Contoh Kegiatan ASB 001

No Satker Kegiatan

(30)

2 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pengelolaan PAK Kenaikan Pangkat Guru TK,SD,SMP dan SMA/SMK 3 Sekretariat Daerah Pemberian Penghargaan bagi PNS yang Berprestasi

(31)

ASB–002

ASISTENSI ATAU BIMBINGAN DENGAN PENDAMPINGAN

Deskripsi:

Asistensi atau bimbingan dengan pendampingan merupakan kegiatan untuk memberikan bimbingan atau pendampingan kepada pegawai atau subyek pelaksana harian atas mekanisme kerja tertentu yang melibatkan pihak luar dalam rangka memberikan panduan tersebut.

Pengendali belanja (cost driver):

Jumlah lembaga yang didampingi dan Durasi Pendampingan

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):

= Rp13.975.000, per kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):

= Rp. 594.000.- per Lembaga per bulan

Rumus Penghitungan Belanja Total:

Belanja Tetap + Belanja Variabel

= Rp13.975.000 + (Rp. 594.000.- x Jumlah Lembaga x jumlah bulan)

= Total Belanja x 14,90 % = Total Belanja Keseluruhan

Alokasi Obyek Belanja ASB 002 :

Rata-Rata Batas Bawah Batas Atas No Objek Belanja

(%) (%) (%) 1 Belanja Honorarium PNS 16,25% 0,00% 44,00% 2 Belanja Honorarium Non PNS 1,30% 0,00% 3,00% 3 Belanja Bahan Habis Pakai 53,54% 0,00% 100,00% 4 Belanja Jasa Kantor 21,29% 0,00% 55,14% 5 Belanja Cetak & Penggandaan 1,72% 0,22% 3,22% 6 Belanja Makan & Minum 5,90% 0,00% 14,57%

ASB ini hanya menganggarkan objek belanja seperti tersebut diatas, dan jika ada penambahan objek belanja (contoh : belanja perjalanan dinas) dapat ditambahkan dengan perhitungan dengan standar yang berlaku, sesuai kebutuhan rill dan harus sepengetahuan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

Contoh Kegiatan ASB 002

No Satker Kegiatan

1 Bappeda Pendampingan Pengembangan Kapasitas Pemerintah Daerah 2

Dinas Pertanian dan Tanaman

(32)

No Satker Kegiatan

3

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pendamping Pemberdayaan Usaha Kecil Pedesaan

4

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pendampingan Lembaga Perkreditan Desa

5 Sekretariat Daerah Pendamping Pembebasan Tanah Buku Putih (GD) di 17 Kecamatan Kab. KUKAR 6 BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Asistensi Penyusunan Rancangan Pengelolaan Keuangan Darah Kabupaten/Kota 7 BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Asistensi Penyusunan RKA Bagi Seluruh SKPD Dinas/Instansi/Kecamatan Kab. Kukar Tahun 2007

8 BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Asistensi Pelaksanaan APBD Th. 2007 Bagi Seluruh PPTK, PPK & Bendahara. 9

Badan

Pemberdayaan Masyarakat

Peningkatan kualitas aparatur badan pemberdayaan masyarakat

10 Dinas Tenaga Kerja Pembinaan & Penempatan Tenaga kerja (Pembinaan Usaha Pemberi Kerja) 11 Dinas Tenaga Kerja Pembinaan Norma Ketenagakerjaan

12

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Pemberantasan Buta Huruf (KF)

13 Sekretariat Daerah Pengembangan Usaha Mikro Kecil Melalui Pengelolaan Unit Usaha Simpan Pinjam

14 Sekretariat Daerah Pemberdayaan dan Pengembangan Lembaga Perkreditan Desa/Lembaga Keuangan Mikro

15 BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Pendampingan Adm. Bendahara Penerima, Pengeluaran & Barang, untuk Pelaksanaan Permen No 13

16

Badan

Pemberdayaan Masyarakat

Peningkatan Kelembagaan masyarakat Desa

17

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pembuatan dan Pembinaan KUB ( Kelompok Usaha Bersama)

18

Badan

Pemberdayaan

Masyarakat Pembinaan Menejemen Pasar Desa

19 Dinas Tenaga Kerja Pembinaan & Pelatihan Lembaga Latihan Swasta 20 Dinas Tenaga Kerja Pembinaan Organisasi Ketenagakerjaan (LKS Tripartit & Dewan Pengupahan Daerah)

(33)

No Satker Kegiatan

21 Dinas Pendidikan dan kebudayaan Pembinaan SD Kunjung

22

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pembinaan & Dekranasda

23

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pembinaan Kemetrologian

24 Dinas Pendaftaran Penduduk (Capil) Fasilitas Pembentukan Kelompok Masyarakat Peduli KB

25

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pengembangan dan Pelayanan Teknologi Industri

26

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pemantapan Kelembagaan Koperasi

27

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Penyelenggaraan Paket B Setara SMP (P)

28 Kantor Arsip Pelatihan dan Bimbingan Teknis Dalam Rangka Pengembangan SDM Pemdes di Bidang Pengelolaan Administrasi Kearsipan 29 Kantor Arsip Monitoring dan Pembinaan Kearsipan

30 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pengadaan Staf Khusus/Konsultan Bidang Pendidikan

31 Dinas Pendidikan dan kebudayaan Pengembangan Sekolah Satu Atap SD/SMP

32 Dinas Pendidikan dan kebudayaan Pengembangan SMP Terbuka 33 Dinas Pendidikan dan kebudayaan Pengembangan Sekolah Filial(SD) 34 Dinas Pendidikan dan kebudayaan Pengembangan Sekolah Filial(SMP)

(34)

ASB–003

BIMBINGAN ATAU PELATIHAN TEKNIS

Deskripsi:

Bimbingan teknis merupakan kegiatan untuk memberikan bimbingan/pelatihan kepada para pegawai di lingkungan satuan kerja perangkat daerah untuk memperoleh keahlian teknis tertentu. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan keahlian teknis untuk masalah-masalah yang sifatnya operasional yang menjadi kebutuhan utama. kegiatan ini bukan hanya memberikan pelajaran tutorial saja tetapi juga memberikan contoh dan panduan rinci pada tiap-tiap peserta atas keahlian teknis yang dituju.

Pengendali belanja (cost driver):

Jumlah Peserta dan jumlah hari pelatihan.

Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):

= Rp. 14.965.300 per Kegiatan

Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):

= Rp. 178.100per Jumlah Peserta per Jumlah Hari Pelatihan

Rumus Perhitungan Belanja Total:

Belanja Tetap + Belanja Variabel

= Rp. 14.965.300 + (Rp. 178.100x Jumlah Peserta x Jumlah Hari Pelatihan) = Total Belanja x 14,90 % = Total Belanja Keseluruhan

Alokasi Obyek Belanja ASB 003 :

Rata-Rata Batas Bawah Batas Atas No Objek Belanja

(%) (%) (%) 1 Belanja Honorarium PNS 2,74% 0,69% 4,78% 2 Belanja Honorarium Non PNS 3,50% 0,00% 7,74% 3 Belanja Bahan Material 0,16% 0,00% 0,48% 4 Belanja Bahan habis Pakai 2,72% 0,79% 4,64% 5 Belanja Jasa Kantor 82,17% 0,00% 100,00% 6 Belanja Cetak & Penggandaan 1,31% 0,00% 2,93% 7 Belanja Sewa 1,05% 0,46% 1,64% 8 Belanja Makan & Minum 6,36% 1,49% 11,23%

Catatan :

1. ASB ini hanya menganggarkan objek belanja seperti tersebut diatas, dan jika ada penambahan objek belanja (contoh : belanja perjalanan dinas) dapat ditambahkan dengan perhitungan dengan standar yang berlaku, sesuai kebutuhan rill dan harus sepengetahuan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

2. Jika Pengiriman Peserta keluar daerah dalam rangka mengikuti Pelatihan /Bimbingan teknis dianggarkan dalam belanja Non Urusan (Ex B.A.U)

(35)

Contoh Kegiatan ASB 003

No Satker Kegiatan

1 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pembinaan kelompok Kerja Guru(KKG) 2 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pembinaan KKP TK/SD

3 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pembinaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di SMP 4 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pembinaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di SMA 5 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Peningkatan Mutu Pondok Pesantren

6 Dinas Sosial Pembinaan Karang Taruna & Organisasi Sosial Kab. Kutai Kartanegara

7 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Magang Guru SMK

8 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pembinaan bagi Pendidik dan Tenaga Pendidikan(KKP SMP/SMA)

9

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Magang Pengembangan Ukir Kayu ke Jepara

10

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Studi Efektitivitas dan Magang IK Kerajinan Kayu dalam Menunjang Kegiatan Promosi dan Pemasaran

11

Badan

Pemberdayaan Masyarakat

Pelatihan /orientasi substantive pemberdayaan masyarakat dan studi pembelajaran

12 Dinas Sosial Pelatihan Ketrampilan berusaha bagi Keluarga Miskin

13 Dinas Sosial Pelatihan Ketrampilan Bagi Penyandang Masalah kesejahteraan sosial

14 Dinas Tenaga Kerja Pelatihan/Penerapan Pengembangan Teknologi Tepat Guna (Perluasan Kesempatan Kerja)

15 Dinas Peternakan Pengembangan Ternak Rakyat di Pedesaan 16 Dinas Peternakan Pelatihan dan Temu Usaha AGRIBISNIS

(36)

No Satker Kegiatan

18 Dinas Pendidikan dan kebudayaan Pendidikan dan PelatihanFormal Tenggarong (Pembinaan KKG SMK)

19 Dinas Pendidikan dan kebudayaan Pendidikan dan Pelatihan Formal Pengawas TK/SD (Pengendalian dan Evaluasi Pendidikan)

20 Dinas Pendidikan dan kebudayaan pendidikan dan pelatihan Formal Guru SD/MI 5 Mata Pelajaran 21 Dinas Pendidikan dan kebudayaan Pendidikan dan Pelatihan Formal Guru SMP/MTS

22 Dinas Pendidikan dan kebudayaan pendidikan dan Pelatihan Formal Guru Geografi SMP/MTS

23 Dinas Pendidikan dan kebudayaan Pendidikan Berbasis Luas (Life Skill/pendidikan Kecakapan Hidup)pd SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA DAN smk

24 Dinas Pendidikan dan kebudayaan Pelatihan Sekolah

25 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pelatihan Kompetensi Tenaga Pendidik(MKKS SLTP/SLTA) 26 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pelatihan Kompetensi Tenaga Pendidik(KKS SMP/SMA) 27 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pelatihan Pengawas Tingkat TK/SD

28 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pelatihan Pengawas Tingkat SLTP/SLTA

29

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pelatihan AMT Bagi Usaha Industri Kecil Pemuda di Kec. Muara Jawa, Samboja & Marang Kayu

30

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pelatihan Penerapan Teknologi Pengolahan Bandeng Presto, Asap & Abon Ikan bagi IKM Kec. Muara Jawa

31 Sekretariat Daerah Pelatihan dan Penyiapan Peralatan Penunjang Investasi 32 Sekretariat Daerah Pelatihan bagi Kepala Desa di Balai PMD Yogyakarta

33 BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Pelatihan Pengelolaan Keuangan Daerah Tentang Sistem dan Prosedur Pembuatan Laporan Penerimaan PAD di Jakarta

34 BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Bimbingan Tehnis Implementasi Paket Regulasi Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

(37)

No Satker Kegiatan

35 BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Bimbingan Tehnis Penyusunan RKA-SKPD Bagi Seluruh SKPD Se-Kab. Kukar

36 BADAN PENGELOLAAN

KEUANGAN DAERAH Diklat Tim Teknis Kecamatan Guna Peningkatan Pendapatan Daerah 37

Badan

Pemberdayaan Masyarakat

Pelatihan Fasilisator Pelatih P3MD 38 Bapedalda Pendidikan dan Pelatihan Formal 39 Dinas Pendaftaran Penduduk (Capil) Pendidikan Dan Pelatihan Formal 40 Dinas Pendaftaran Penduduk (Capil) Pelatihan Tenaga Pengelola SIAK 41 Dinas Pendaftaran Penduduk (Capil) Pembinaan Administrasi Catatan Sipil

42 Dinas Pendaftaran Penduduk (Capil) Pembinaan Petugas Pembuat Akte Catatan Sipil 43 Dinas Pendaftaran Penduduk (Capil) Pembinaan Program KB Lapangan

44 Dinas Pendaftaran Penduduk (Capil) Penyiapan tenaga Pendamping Kelompok Bina Keluarga 45

Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan

Pendidikan dan Pelatihan Formal 46 Dinas Sosial Pendidikan Dan Pelatihan Formal

47 Dinas Sosial Pelatihan Keterampilan & Praktek Belajar Kerja Bagi Anak Terlantar

48 Dinas Sosial Pendidikan & Pelatihan Bagi Penyandang Cacat & Eks Trauma

49 Dinas Sosial Pendidikan & Pelatihan Ketrampilan Berusaha Bagi Eks Penyandang Penyakit Sosial Di Kec. Marang Kayu

50 Dinas Tenaga Kerja Pendidikan Dan Pelatihan Formal

51

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

(38)

No Satker Kegiatan

52

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Pelatihan Tutor Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

53

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Pelatihan Tutor Keaksaraan Fungsional(KF)

54

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Pelatihan Pertukangan Meubel

55

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Pelatihan Perbengkelan Las

56

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Pelatihan Perbengkelan Sepeda Motor,Mesin Ces dan Elektronik beserta Bantuan Modal Bekal Usaha

57

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Ketrampilan Modes Puta Putri,Pembuatan Sablon se Kab. Kukar

58

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Life Skill Bordir (SKB TGR)

59

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Life Skill Kompor Briket Batu Bara (SKB TGR)

60

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Pelatihan Salon Kecantikan (SKB Tenggarong)

61

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Pelatihan Salon Kecantikan (SKB Ma. Jawa)

62

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Pelatihan Bordir (SKB Ma.Jawa)

63

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Pelatihan Pengolahan Sabut Kelapa (SKB Ma. Jawa)

64

Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olah Raga

Pelatihan Salon Kecantikan (SKB Kota Bangun)

(39)

No Satker Kegiatan

66 Dinas Peternakan Pembinaan Pos Kesehatan Hewan

67 Dinas Peternakan Pengamanan Kesehatan Masyarakat Veterriner (Kesmavet)

68 Dinas Peternakan Pengembangan Pusat Pembibitan Ternak Kerbau 69 Dinas Peternakan Pengembangan Pusat Pembibitan Ternak Kambing

70 Dinas Peternakan Pengembangan Pusat Pembibitan (Breeding Center) Ternak Babi 71 Dinas Peternakan Pengembangan Bibit Ternak EMBRIO Tansper (ET)

72 Dinas Peternakan Pengembangan Usaha Tani Ternak Berbasis Agrinbisnis 73 Dinas Peternakan Pengembangan Pusat Pembibitan Ternak Ayam Buras 74 Dinas Peternakan Pelatihan Petani dan Pelaku Agribisnis

75 BADAN PENGAWAS DAERAH Pendidikan dan Pelatihan Formal

76 BADAN PENGAWAS DAERAH Pelatihan Pengembangan Tenaga Pemeriksa dan Aparatur Pengawasan

77 SEKRETARIAT DPRD Pendidikan dan Pelatihan Formal

78 SEKRETARIAT DPRD Bimbingan Teklnis Implementasi Peraturan Perundang-Undangan 79

Kantor Perpustakaan

Umum Pendidikan dan Pelatihan Formal

80 Dinas Pendidikan dan kebudayaan Pelatihan dan penatausahaan Keuangan(PERMENDAGRI 13) pada 13 Cab. Dis Pendidikan

81 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pelatihan Pendidikan Guru Bahasa Inggris di new Zealand

82 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pelatihan Pendidikan Certificate Tsl Transfer Degre ke Master Applied Linguistics di Australia

(40)

No Satker Kegiatan

84 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bimbingan Tehnis Pembuatan Karya Tulis Ilmiah

85

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pendidikan dan Pelatihan Formal

86

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Bimbingan Teknis Implementasi Peraturan Perundang-Undangan

87

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pembinaan Industri Kecil dalam Memperkuat Jaringan Klaster Industri (Pelatihan Teknis Sablon)

88

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pembinaan Industri Kecil dalam Memperkuat Jaringan Klaster Industri (Pelatihan Pembuatan Kue Kering)

89

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pelatihan Penjahitan, Perbengkelan Sepeda Motor & Partisipasi pada Ajang Promosi Produk IKM

90

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pelatihan Teknis Modifikasi Pembuatan Stempel

91

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Kontak Informasi Teknis Produksi Pengolahan Limbah Kayu menjadi Kerajinan Tikar Kayu

92

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pelatihan Pelayanan Administrasi Perijinan Industri (Wilayah Ulu, Pesisir dan Tengah)

93

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pelatihan Penerapan Teknologi Diversifikasi Pengelohan Buah Nenas bagi IKM Kec. Samboja

94

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

Pemantapan Kelembagaan dan Usaha Simpan Pinjam

95 Sekretariat Daerah Pelatihan Teknis Perangkat Pemerintah DesaDalam Penataan Tapal Batas Desa & Kelurahan

96 Sekretariat Daerah Pelatihan dan Bimbingan Teknis (BPD) dalam Wilayah Kab. KUKAR 97 Sekretariat Daerah Pelatihan Jurnalistik

(41)

No Satker Kegiatan

99 BADAN PENGELOLAAN

KEUANGAN DAERAH Pengaktifan & Sosialisasi Mesin Absensi Magnetik 100 BADAN PENGELOLAAN

KEUANGAN DAERAH

Pendidikan Akuntansi bagi Staf PPK pada SKPD di Lingkungan Pemkab. Kukar

101 BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Pelatihan Bagi Juru Pungut Pajak dan Retribusi se Kab. Kutai Kartanegara

102 SEKRETARIAT DPRD Pendidikan dan Pelatihan Formal

103 SEKRETARIAT DPRD Bimbingan Teklnis Implementasi Peraturan Perundang-Undangan

104 Sekretariat Daerah Pelatihan Teknis Staf Bagian Pemdes/Kelurahan Dalam Pengembangan Kapasitas Pemerintah Daerah

105 Sekretariat Daerah Pelatihan Peningkatan Kapasitas Perangkat Pemerintah Wilayah 106 Sekretariat Daerah Bimbingan Teknis dan Ujian Sertifikasi Pengadaan Barang/Jasa 107 Sekretariat Daerah Mengikuti Bintek Keprotokolan

108 Sekretariat Daerah Pelatihan Pengelolaan dan Pertanggung Jawaban Keuangan

109 SEKRETARIAT DPRD Aplikasi dan Implementasi Permendagri No. 13 Tahun 2006 di Lingkungan Sekretariat DPRD

110 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesantren Kilat dan Safari Ramadhan

111 SEKRETARIAT DPRD Aplikasi dan Implementasi Permendagri No. 13 Tahun 2006 di Lingkungan Sekretariat DPRD

112 Sekretariat Daerah Aplikasi dan Implementasi Permendagri No. 13 Th. 2006 di Lingkungan Sekretariat DPRD (P)

(42)

No Satker Kegiatan

114 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pelaksanaan Kerjasama secara Kelembagaan di Bidang Pendidikan(UGM Yogyakarta)

115 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Perjanjian Kerjasama antara Dinas Pendidikan Kab Kukar dengan IPB Bogor

116 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Perjanjian Kerjasama antara Pemerintah/Dinas Pendidikan Kab Kukar dengan ITB Bandung

117 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kerjasama Prestasi Junior Indonesia(PJI),Peningkatan Mutu SMP/SMA

118 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kerjasama FMTK Thr National Technical University College of Malaysia(KUTKM) Malaka

119 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Peningkatan Motivasi Guru Daerah Terpencil

120 Dinas Sosial Pendayagunaan Para Penyandang Cacat & Eks Trauma

121 Dinas Sosial Pemberdayaan Eks Penyandang Penyakit Sosial Di Kec. Kota Bangun

122 Bappeda Peningkatan SDM perencanaan

123 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Peningkatan Kualifikasi Guru Bahasa Inggris

124

Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Prindagkop)

(43)

ASB–004

FORUM KOMUNIKASI ATAU KOORDINASI

Deskripsi:

Forum komunikasi atau koordinasi merupakan kegiatan untuk menyelenggarakan komunikasi atau koordinasi dengan lembaga atau instansi lain yang terkait dengan maksud dan tujuan tertentu. Hasil dari kegiatan ini berupa kesepakatan dan kesepahaman tentang masalah yang ingin dipecahkan dan tercapainya tujuan yang diharapkan.

Satuan pengendali biaya (cost driver):

Jumlah lembaga yang dicakup dalam forum komunikasi atau koordinasi serta durasi proses komunikasi atau koordinasi dilakukan. Satu kali koordinasi setara dengan satu minggu, satu bulan koordinasi setara dengan 4 kali atau 4 minggu proses koordinasi.

(1 instansi = 5 orang perwakilan instansi = 5 lembaga di luar instansi /perwakilannya = 1 jaringan di luar instansi pemerintahan. 1 lembaga setara dengan 40 orang peserta bebas tanpa lembaga).

Satuan Pengendali Belanja Tetap (Fixed Cost)

= Rp 34.450.300per kegiatan

Satuan Pengendali Belanja Variabel (Variable cost)

= Rp 11.006.800per Jumlah Lembaga per Durasi dalam Minggu

Rumus Penghitungan Belanja Total:

Belanja Tetap + Belanja Variabel

= Rp 34.450.300 + (Rp 11.006.800x Jumlah Lembaga x Durasi dalam Minggu) = Total Belanja x 14,90 % = Total Belanja Keseluruhan

Alokasi Obyek Belanja ASB 004 :

Rata-Rata Batas Bawah Batas Atas No Objek Belanja

(%) (%) (%) 1 Belanja Honorarium PNS 30,73% 0,00% 65,20% 2 Belanja Honorarium Non PNS 3,84% 0,00% 9,96% 3 Belanja Bahan Habis Pakai 1,57% 0,63% 2,52% 4 Belanja Cetak & Penggandaan 0,70% 0,13% 1,28% 5 Belanja Sewa 0,04% 0,00% 0,12% 6 Belanja Makan & Minum 5,63% 0,01% 11,25% 7 Belanja Perjalanan Dinas 57,49% 0,00% 100,00%

Contoh Kegiatan ASB 004

No Satker Kegiatan

Referensi

Dokumen terkait

Pada pukul 12.45 WIB, pesaing yang dihadapi Insert Siang adalah FTV Mencoba mengambil jadwal yang berbeda dari program infotainment pesaing lain, program Insert

Alhamdulillahirabbilalamin, Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat, rezeki, hidayah dan pertolongan-Nya sehingga Tugas Akhir ini

Sebagai salah satu dari strategi public relations teori komunikasi turut mempengaruhi proses berjalannya event sebagai sarana untuk menyampaikan pesan serta mempengaruhi

“Melihat turun temurunnya Ulama‟ besar dari Wali 9, salah satunya adalah Sunan Gunung Jati yang melahirkan Kyai berkaromah, Pendakwah yang sederhana dan

10 revenue (pendapatan) yang ditargetkan oleh perusahaan dalam waktu per triwulan dan 60% karyawan dapat mencapai target revenue (pendapatan) perusahaan. Account Manager

Rincian Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Belanja Tidak Langsung Satuan Kerja Perangkat Daerah.. Rekapitulasi Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Belanja Langsung

Analisis Standar Belanja yang selanjutnya disingkat ASB adalah alat untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau belanja setiap kegiatan yang akan dilaksanakan oleh

Menampilkan pertanyaan sebelumnya Sukses 12 Menampilkan suara pada pertanyaan berikutnya Menekan tombol next pada menu exercise siswa setelah memilih salah satu opsi