BAB 3
Metode Penelitian
3.1 Metode Penelitian
Pada penelitian yang akan dilakukan di PT. Sumberdaya Sewatama merupakan jenis penelitian yang dipakai bersifat asosiatif di mana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dua variabel atau lebih, bagaimana variabel-variabel tersebut saling berhubungan dan mengetahui bagaimana tingkat ketergantungan antara variabel dependen dan independen dan pengaruh variabel moderasi terhadap variabel independen dan dependen tersebut.
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif di mana menurut Sugiyono (2007, p11) penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independent) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel lainnya karena dilakukan dengan datang ke lapangan dan membuat sebuah penjabaran mengenai kondisi di lapangan untuk mengangkat satu topik yang dapt dipergunakan untuk penelitian.
Unit analisis dari penelitian ini adalah individu, yaitu karyawan pada PT. Sumberdaya Sewatama, dengan time horizon sekali pengumpulan data atau cross sectional.
Tabel 3.1 Desain Penelitian Tujuan Penelitian Jenis Penelitian Metode Penelitian Unit Analisis Time Horison T1 Asosiatif Deskriptif survey Individu – Karyawan PT. Sumberdaya Sewatama cross sectional
T2 Asosiatif Deskriptif survey Individu – Karyawan PT. Sumberdaya Sewatama cross sectional Sumber: Penulis, 2014 3.2 Operasionalisasi Variabel
Operasionalisasi variabel merupakan penjabaran variabel atau sub variabel kepada konsep, beserta dimensi, indikator, ukuran, dan skala pengukuran yang diarahkan untuk memperoleh nilai variabel penelitian. Menurut Sekaran dan Bougie (2010, p 136), operasionalisasi diperlukan untuk mengukur konsep abstrak dan mengembangkannya menjadi area-area subjektif tentang perilaku dan perasaan pada sebuah penelitian.
Menurut Riduwan dan Kuncoro (2008, p11). Definisi operasional variabel merupakan penjelasan pengertian dari teori variabel, sehingga dapat diamati dan diukur dengan menentukan hal-hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu. Variabel adalah karakteristik yang dapat diamati dan sesuatu (objek), dan mampu memberikan macam-macam nilai atau beberapa kategori. Menutut Uma Sekaran (2008, p 127) dimensi merupakan perilaku atau sifat aspek, sedangkan indikator yang dengan kata lain adalah elemen, yang menjelaskan mengenai apa saja hal-hal yang membetuk dimensi tersebut.
Penelitian ini memiliki tiga jenis variabel yang diteliti, yaitu: 1. Variabel independen
Menurut Sugiyono (2007, p33) variabel independen sering disebut sebagai variabel bebas, yaitu variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah budaya organisasi (X).
2. Variabel dependen
Menurut Sugiyono (2007, p33) variabel dependen sering disebut sebagai variabel terikat, yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah stres kerja di lingkungan karyawan (Y).
Menurut Sekaran Uma dan Bougie (2010, p79) variabel moderator merupakan variabel yang memiliki efek “tergantung” diantara dua variabel yang dimoderasi. Dalam penerlitian ini, variabel moderasi yang diteliti adalah work-life conflict.
Dan penjelasan lebih lanjut mengenai operasionalisasi variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.0.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian
Variabel Dimensi Indikator Ukuran
Indikator Skala Pengukuran Budaya Organisasi (X) Sistem dari makna yang dimiliki oleh orang-orang yang ada di dalam organisasi, dan makna yang dimiliki orang-orang yang berada di dalam organisasi tersebut menjadi pembeda dengan organisasi lain. (Stephen P 1. Inovasi dan pengambilan risiko 2. Memperhatikan detil 3. Orientasi pada hasil 4. Orientasi individu 5. Orientasi pada tim 6. Keagresifan 7. Stabilitas
Robins, Timothy A. Judge, 2007:511) Stres Kerja (Y) Respon fisik dan tindakan yang kurang menyenangka n yang terjadi ketika hal-hal yang terkait dengan pekerjaan tidak sesuai dengan kemampuan, sumber daya, atau kebutuhan pekerja dengan kemampuan, sumber daya, atau kebutuhan pekerja. (Wang 2006, dalam Zahorah dan Kemampuan kebijaksanaa n (Skill discretion) 1. Pekerjaan mengharuskan belajar hal-hal baru. 2. Pekerjaan membutuhkan tingkat keterampilan tinggi. 3. Pekerjaan mengharuskan melakukan hal yang sama berulang-ulang. Interval Skala likert Keputusan otoritas (Decision authority) 1. Ada kebebasan untuk memutuskan bagaimana pekerja melakukan pekerjaan. 2. Ada kesempatan untuk menyampaikan hal yang terjadi di lapangan. Skala likert Tuntutan psikologis 1. Pekerjaan membuat sangat Skala likert
Omar 2010) (psychologic al demands) sibuk. 2. Konflik terkait dengan tuntutan pekerjaan Keamanan dalam bekerja (Job insecurity) 1. Keamanan kerja ditempat mereka berkerja baik. Skala likert Aktifitas fisik (Physical exertion) 1. Tugas membutuhkan banyak upaya fisik. Skala likert Dukungan sosial dari rekan kerja dan supervisor (Social support from co-workers and supervisors) 1. Terkena konflik dengan sesama anggota tim 2. Atasan membantu dalam pekerjaan yang dilakukan. 3. Orang-orang yang bekerja sama membantu dalam mendapatkan pekerjaan yang dilakukan.
Interval Skala likert
Konflik Pekerjaan –
1. Tuntutan organisasi terhadap
Kehidupan diluar Pekerjaan (work-life conflict) (Z) Asumsi bersama, keyakinan, dan nilai-nilai tentang sejauh mana organisasi mendukung dan menghargai integrasi pekerjaan dan keluarga hidup karyawan (Thompson 1999, p. 394 dalam Gina Gaio Santos, 2008)) komitmen karyawan dan prioritas karyawan antara organisasi dan keluarga. 2. Konsekuensi karir negatif terkait dengan penggunaan waktu yang tersedia saat lebih banyak dihabiskan untuk keluarga. 3. Adanya dukungan juga kepekaan organisasi terhadap keluarga karyawan. Sumber: Penulis, 2014
3.3 Sumber dan Cara Penentuan Data
Jenis data yang diambil dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang pada awalnya didapat dengan penyebaran kuesioner, dan diperkuat hasilnya oleh interview dengan perwakilan dari masing-masing divisi dalam perusahaan. Berarti, data yang didapatkan adalah data primer, yaitu sumber data asli yang diperoleh secara langsung dari sumber asli tanpa melalui perantara.
Selain itu, peneliti menggunakan berbagai data sekunder, yaitu data yang berasal dari sumber yang telah tersedia, bukan karena penjajakan secara individu langsung kepada sumber nya. Data sekunder yang dimaksud diperoleh dari website dari perusahaan, ataupun referensi-referensi yang telah ada sebelumnya untuk dijadikan pembelajaran dan sumber untuk melakukan sebuah penelitian.
Tabel 3.0.3 Jenis dan Sumber Data
Tujuan Penelitian Data Jenis Data Sumber
Data
T1
Stres kerja, konflik pekerjaan – kehidupan diluar pekerjaan (work-life conflict) dan budaya
organisasi. Kualitatif – Kuantitatif Data primer dengan kuesioner dan interview T2
Stres kerja, konflik pekerjaan – kehidupan diluar pekerjaan (work-life conflict) dan budaya
organisasi. Kualitatif – Kuantitatif Data primer dengan kuesioner Sumber: Penulis, 2014
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang akan digunakan oleh peneliti adalah , yaitu: a. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan bertemu langsung dengan Direktur HRD PT. Sumberdaya Sewatama dan mengajukan pertanyaan yang tidak terstruktur mencangkup perusahaan dan diskusi mengenai perusahaan dan kesesuaian topik yang dibahas dengan perusahaan. b. Studi Pustaka
Peneliti mencari beberapa informasi melalui berbagai sumber yang ada seperi website, profil perusahaan yang diberikan oleh PT. Sumberdaya Sewatama dan dipelajari untuk dijadikan referensi penulisan skripsi.
c. Kuesioner
Kuesioner yang disebar kepadapopulasi 200 karyawan dan dengan pengambilan sampel minimal 67 responden dengan standard error 10% berisi beberapa butiran pertanyaan yang mewakili pengukuran dari indikator variabel-variabel topik penelitian yang sudah ditentukan menurut indikator pada operasionalisasi variabel.
3.5 Teknik Pengambilan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Kuncoro & Ridwan, 2008). Dan sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti). Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi (Arikunto,2004:117). Pengambilan sampel juga dapat dilakukan dengan:
1. Pengambilan Sampel secara acak
Pengambilan sampel secara acak ini dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Simple Random Sampling
Pemilihan dilakukan dengan cara acak, di mana daftar nama responden dilakukan pengundian untuk terpilih.
b. Stratified Random Sampling
Teknik pengambilan sampel dari populasi di mana populasinya dibagi-bagi terlebih dahulu menjadi kelompok yang relatif homogen, atau didalam sebuah perusahaan juga dapat dibagi-bagi berdasarkan tingkat umur, atau tingkatan jabatan.
Sampling di mana pengambilan elemen pertama sebagai anggota dipilih secara acak kemudian diikuti secara sistematik, dan rumusan pengambilan sampel secara sistematis tersebut adalah:
N
n
Keterangan: N = k = interval n = ukuran sampel 2. Pengambilan Sampel Secara Non Acak
a)Purposive sampling
Pemilihan elemen untuk menjadi sampel berdasarkan pertimbangan yang tidak acak, subyektif
b)Quota sampling
Mirip dengan sampling acak berlapis namun pemilihan elemen dari stratum tidak acak
c) Convenience sampling
Pemilihan sampel sesuai dengan keinginan peneliti. Sampling ini digunakan biasanya untuk riset eksplanatory atau uji coba kuesioner. Penggunaannya terbatas untuk situasi tertentu.
d)Snowball sampling
Pemilihan sampel berdasarkan rekomendasi dari responden sebelumnya. Dapat diterapkan untuk populasi kecil.
Dan dalam penelitian ini, pengambilan sampel akan dilakukan secara acak menggunakan simple random sampling. Karena jumlah karyawan PT. Sumberdaya Sewatama ini adalah 200 karyawan yang berada di kantor pusat, maka metode pengambilan data ini adalah yang paling tepat dan dibagi atas beberapa divisi di PT. Sumberdaya Sewatama. Alternatif pengambilan sampel nantinya dapat dengan menggunakan ketentuan Slovin, yaitu untuk mencari jumlah minimal sampel yang akan digunakan, rumus slovin tersebut adalah:
N 200
1+N(α2) 1+200(10%2)
= 66,667 = 67 Keterangan: N: Jumlah populasi
n: Jumlah sampel
α: error atau tingkat ketelitian =10% 3.6 Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini metode analisis yang akan digunakan adalah metode analisis asosiatif kuantitatif untuk T-1, dan T-2. Analisis dilakukan dengan instrument pengambilan data dengan menggunakan kuesioner. Dari hasil kuesioner tersebut didapatkan data yang akan dianalisis lebih lanjut untuk menjawab tujuan dari penelitian, yaitu dengan uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, uji korelasi, uji regresi sederhana, dan uji regresi berganda. Dalam pelaksanaannya, pengolahan data dilakukan dengan program SPSS 16.0. Berikut adalah analisis yang dilakukan setelah data terkumpul:
Tabel 3.0.4 Analisis Data Tujuan penelitian Teknik analisis
T - 1: pengaruh X terhadap Y Regresi sederhana
T - 2: pengaruh Z terhadap hubungan X dan Y
Regresi berganda dengan variable moderasi yaitu MRA (Multiple Regression Analysis)
Sumber: Penulis, 2014
Argumen dari penggunaan teknik analisis dari masing-masing tujuan yang tertera dalam tabel adalah sebagai berikut:
o Tujuan 1
Dengan regresi sederhana maka nantinya akan dapat dihasilkan gambaran hubungan fungsional antara dua variabel (variabel bebas dan variabel terikat) secara kuantitatif.
o Tujuan 2
Dengan regresi berganda maka nantinya akan dapat meramalkan nilai pengaruh variabel Z (Konflik Pekerjaan dan Kehidupan diluar Pekerjaan (Work-Life Conflict) terhadap variabel terikat Y (Stres Kerja) dengan variabel bebasnya X (Budaya Organisasi).
3.6.1 Skala Likert
Skala Likert di gunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya di sebut sebagai variabel penelitian menurut Sugiyono (2007, p86).
Untuk mengukur pernyatan mengenai variabel stres kerja (X), budaya organisasi yang diterapkan (Y) dan konflik pekerjaan dan kehidupan diluar pekerjaan (work-life conflict) maka setiap jawaban diberi menggunakan skala likert sebagai berikut :
Tabel 3.5 Skala Likert
Keterangan Nilai
Sangat Setuju (SS) 5
Setuju (S) 4
Kurang Setuju (KS) 3
Tidak Setuju (TS) 2
Sangat Tidak Setuju (STS) 1
Sumber: Sugiyono (2007, p87)
3.6.2 Uji Validitas dan Reliabilitas
3.6.2.1 Uji Validitas
Dilakukan untuk menguji seberapa baik suatu instrument yang dibuat untuk dapat mengukur konsep tertentu (Haryadi Sarjono & Julianita, 2011). Uji validitas ini dapat dilakukan dengan menghitung korelasi antara masing-masing pernyataan dengan skor total memakai rumus korelasi pearson product moment. Rumusnya adalah sebagai berikut:
[
∑
∑
][
∑
∑
]
∑
∑
∑
− − − = 2 2 2 2 xy ) Y ( Y n . ) X ( X n ) Y )( X ( XY n rKeterangan : r = koefisien relasi X = skor X
Y = skor Y
n = banyakanya sampel dalam penelitian Dasar pengambilan keputusan uji validitas adalah:
Jika r hitung positif, serta r hitung ≥ r tabel, maka variabel tersebut valid
Jika r hitung tidak positif, serta r hitung < r tabel, maka variabel tersebut tidak valid
Jika r hitung > r tabel, tapi bertanda negatif, maka variabel tersebut tidak valid
3.6.2.2 Uji Reliabilitas
Kendalan (reliabilitas) merupakan suatu pengukuran untuk menunjukkan sejauh mana pengukuran tersebut tanpa bias (bebas kesalahan) dan membantu menilai ketepatan sebuah pengukuran (Haryadi Sarjono & Julianita, 2011). Dalam penelitian ini, teknik uji reliabilitas yang digunakan adalah Cronbach’s Apha untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya merupakan rentangan antara beberapa nilai berbentuk skala. Berikut rumusnya:
Keterangan : r11 = reliabilitas instrument k = banyak butir pertanyaan = varians total
= jumlah varians butir
Uji reliabilitas memiliki dasar pertimbangan sebagai berikut:
• Jika r Alpha (Cronbach’s Alpha) positif, serta r Alpha ≥ r tabel, maka variabel tersebut reliabel
• Jika r Alpha (Cronbach’s Alpha) tidak positif, serta r Alpha < r tabel, maka variabel tersebut tidak reliabel
3.6.3 Analisis Asumsi Klasik
Penelitian yang memiliki variabel moderasi didalamnya dikatakan baik apabila data yang diperoleh telah melalui uji asumsi klasik, sebab penelitian ini termasuk penelitian dengan model regresi linear. Menurut Singgih Santoso (2003,p121), uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui apakah model estimasi ini telah memenuhi kriteria dalam arti tidak terjadi penyimpangan yang cukup serius dari asumsi- asumsi yang harus dipenuhi dalam metode Ordinary Least Square (OLS).
Terdapat enam asumsi yang diperlukan dalam penaksiran nya, yaitu: 1. Rata-rata kesalahan pengganggu (e) sama dengan nol
2. Kesalahan pengganggu berbentuk distribusi normal; 3. Kesalahan pengganggu tidak berkorelasi dengan variabel
independen
4. Tidak adanya Autokorelasi antar gangguan (e) 5. Tidak adanya Multikolinearitas
6. Varian kesalahan pengganggu tetap atau homoskedastisitas (tidak terjadi heteroskedastisitas)
Asumsi klasik memiliki beberapa tahap analisis, yaitu uji normalitas, uji heterokedatisitas, uji multikorelasi, uji linearitas, dan uji auto korelasi. Semua analisis ini dilakukan agar data yang digunakan dapat mencapai Best Linear Unbiased Estimator (BLUE).
3.6.3.1 Uji Normalitas
Salah satu syarat sebelum melakukan uji selanjutnya adalah bahwa data-data tersebut harus memiliki distribusi data normal. Secara teoritis, semakin besar ukuran sampelnya, maka data akan mendekati normal.
Pengujian normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Jika nilai signifikansinya lebih besar dari dalam kasus ini 0,10 karena penelitian ini menggunakan probabilitas sebesar 90% yang berarti jika maka data distribusi tersebut dinyatakan normal dan juga sebaran data dalam kurva normalnya membentuk garis normal.
Uji ini biasanya digunakan untuk mengukur data berskala ordinal, interval, ataupun rasio. Adapun kriteria pengujian normalitas adalah sebagai berikut:
• Jika angka signifikasi Uji Kolmogorov-Smirnov Sig 0,10 maka data berdistribusi normal
• Jika angka signifikasi Uji Kolmogorov-Smirnov Sig < 0,10 maka data berdistribusi tidak normal
3.6.5.2 Uji Heterokedatisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Menurut Wijaya (2009, p124) heterokedatisitas menunjukkan bahwa varian variabel tidak sama untuk semua pengamatan/observasi. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap maka disebut heterokedatisitas. Uji ini pada akhirnya melihat scatter plot pada hasil pengolahan data uji heterokedatisitas. Intepretasi hasilnya, jika titik-titik dalam output menyebar secara acak , baik
dibagian atas angka 0 ataupun dibagian bawah 0, maka dapat disimpulkan bahwan tidak terjadi heterokedatisitas dalam model regresi ini.
3.6.5.3 Uji Multikorelasi
Analisis multikorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan diantara variabel bebas memiliki masalah multikorelasi tau tidak. Menurut Wijaya (2009,p119), ada beberapa cara mendeteksi ada tidaknya multikorelasi,yaitu:
1. Melihat nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris. Jika R2 terjadi demikian, secara individu variabel bebas banyak yang tidak signifikasn memengaruhi variabel terikat.
2. Menganalisis korelasi diantara variabel bebas.
3. Melihat VIF (variance-inflating factor), jika VIF < 10 maka tingkat kolinearitas dapat ditoleransi.
4. Nilai eigenvalue, sejumlah satu atau lebih variabel bebas yang mendekati nol membuktikan petunjuk adanya multikolieritas.
Tetapi dalam penelitian ini, saya menggunakan cara melhat VIF pada output di tabel coefficients, karena pada beberapa sumber yang saya baca cara ini dianggap paling mudah dan praktis.
3.6.6.4 Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah data masing-masing variabel bebas mempunyai hubungan yang linear dengan variabel terikat. Pedoman yang digunakan adalah jika nilai signifikansi pada lajur deviation from linearity > 0,10 maka disimpulkan hubungan variabel bebas dengan variabel terikat linear (Triton, 2006: 163).
3.6.6.5 Uji Auto Korelasi
Autokorelasi adalah korelasi antar anggota sampel yang diurutkan berdasarkan waktu. Autokorelasi menunjukkan adanya kondisi yang berurutan antara gangguan atau distribusi yang masuk dalam regresi (Gonick and Smith, 2007). Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antara anggota serangkaian data observasi yang diurutkan menurut waktu (time series). Untuk mendeteksi terjadinya autokorelasi dalam penelitian ini digunakan uji DW dengan melihat koefisien korelasi test.
3.6.4 Analisis Korelasi
Teknik analisis korelasi Pearson Product Moment termasuk teknik statistic parametik yang menggunakan data interval dan ratio dengan persyaratan tertentu. Misalnya, data dipilih secara acak (random), datanya berdistribusi normal, data yang dihubungkan berpola linier, dan data yang dihubungkan mempunyai pasangan yang sama sesuai dengan subjek yang sama sesuai dengan subjek yang sama. Kalau salah satu tidak terpenuhi persyaratan tersebut analisis korelasi tidak dapat dilakukan menurut Riduwan & Kuncoro (2008, p61-64). Rumus yang digunakan Korelasi Pearson Product Moment adalah:
Korelasi Pearson Product Moment dilambangkan dengan (r) dengan ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1 ≤ r ≤ + 1). Apabila nilai r = -1 artinya korelasinya negatif sempurna; r = 0 artinya tidak ada korelasi; dan r = 1 berarti korelasinya sangat kuat. Sedangkan artis harga r akan dikonsultasikan dengan tabel interpretasi nilai r sebagai berikut :
Tabel 3.0.6 Koefisien Korelasi Nilai r
Internal Koefisien Tingkat Hubungan
0,80 – 1,00 Sangat Kuat 0,60 – 0,799 Kuat 0,40 – 0,599 Cukup Kuat 0,20 – 0,399 Rendah Sumber: Sugiyono (2007, p214) 1.6.5 Analisis Pengaruh 3.6.5.1 Regresi Sederhana
Regresi sederhana, bertujuan untuk mempelajari hubungan fungsional antara dua variabel (variabel bebas dan variabel terikat). Rumus umum regresi sederhana adalah:
Keterangan : a = Nilai Konstanta b = Koefisien Regresi Y = Variabel Terikat X = Variabel Bebas
Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai koefisien regresi adalah :
3.6.5.2 Regresi Berganda dengan Variabel Moderasi
Uji analisis yang dilakukan dengan MRA (Moderated Regression Analysis) memiliki bagian analisis, yaitu:
1. Uji signifikan parameter individual (Uji t statistik)
Metode ini dilakukan dengan menambahkan variabel perkalian antara variabel bebas dengan variabel moderatingnya. Dengan X adalah stres kerja, Y adalah budaya organisasi, dan Z sebagai variable moderator adalah konflik pekerjaan dan diluar pekerjaan (work-life conflict), sehingga persamaan umumnya adalah sebagai berikut:
Keterangan :
a = Nilai Konstanta
b = Koefisien Regresi
X1 = Variabel Independen (Stres Kerja)
X2 = Variabel Moderasi (Work-Life Conflict)
Y = Variabel Terikat (Budaya Organisasi)
X1X2 = Interaksi antara variable independen dengan variable moderat 3.6.6 Rancangan Uji Hipotesis
Hipotesis adalah sebuah pernyataan yang tentatif, belum diuji, yang memprediksikan seorang peneliti dapatkan dari data empiris nya (Sekaran&Bougie, 2010,p87). Pada penelitian ini, untuk mengetahui apakah hasilnya signifikan atau tidak antara variabel stres kerja (X), budaya organisasi (Y), dan work-life conflict (Z), peneliti menggunakan tingkat kepercayaan 90%, sedangkan batas ketidakakuratannya (alpha) sebesar 10% = 0,10. Maka dasar pengambilan keputusannya adalah:
Jika Sig > 0,10, maka H0 diterima.
Jika Sig < 0,10, maka H0 ditolak atau Ha diterima. Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X1 X2
a. Untuk T-1
Pengujian secara keseluruhan (X,Y):
Ho: Budaya organisasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap stres kerja Ha: Budaya organisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap stres kerja
b. Untuk T-2
Pengujian secara keseluruhan (X,Y,Z)
Ho: Tidak ada pengaruh antara budaya organisasi terhadap stres kerja dengan work-life conflict sebagai variabel moderator
Ha: Ada pengaruh antara budaya organisasi terhadap stres kerja dengan work-life conflict sebagai variabel moderator
3.7 Rancangan Implikasi Hasil Penelitian
Analisis ini dilakukan dengan data primer dan sekunder. Data primer didapatkan dengan interview langsung dan kuesioner yang disebar kepada karyawan dengan penentuan sampel yang sudah disebutkan diatas. Data sekunder dilakukan dengan studi literatur dan sumber-sumber lainnya yang sudah tersedia dan menjadi sumber referensi tambahan. Rancangan pemecahan masalah dari penelitian yang akan diberikan kepada PT. Sumberdaya Sewatama nantinya akan dapat dilihat dari hasil jawaban atau pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari indikator dan dimensi yang sudah terlampir pada operasionalisasi variabel, yang dikumpulkan dengan kuesioner dan dioleh dengan SPSS. Jika hasil dari T1 adalah budaya organisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap stres kerja, berarti yang harus dilakukan dalam pemecahan masalah adalah, perusahaan memperhatikan factor-faktor dari budaya organisasi yang mana yang kurang sesuai dan seringkali menimbulkan stres diantara karyawan. Untuk rancangan T2, jika hasil dari perhitungan menunjukan sebuah pengaruh yang kuat yang dihasilkan oleh variabel moderasi konflik pekerjaan dan diluar pekerjaan (Work-Life Conflict)terhadap hubungan antara budaya organisasi dan stres kerja, maka faktor-faktor yang mempengaruhi posibilitas variabel moderat ini dapat muncul, harus diperhatikan. Strategi-strategi selanjutnya akan ditetapkan dan dipertimbangkan.