• Tidak ada hasil yang ditemukan

Forensik Etik Medikolegal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Forensik Etik Medikolegal"

Copied!
159
0
0

Teks penuh

(1)

Forensik dan Medikoetikolegal

Forensik

Visum et Repertum Tanatologi Traumatologi Forensik Asfiksia Drowning Luka Tembak

Trauma Panas, Dingin, dan Listrik Kasus Kejahatan Seksual dan Abortus

Infanticide

Disaster Victim Management and Forensic Identification

Medikoetikolegal

Surat Kematian

Informed Consent

Biomedical Ethics

Medical Professionalism

Medical Record

Medical Risk and Malpractice

Norma Praktik Kedokteran

Euthanasia

©Bimbel UKDI MANTAP

(2)

Visum et Repertum

Definisi Visum et Repertum

• Keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan tertulis penyidik yang

berwenang, mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, baik hidup atau mati

ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia berdasarkan keilmuannya dan dibawah

sumpah, untuk kepentingan peradilan

Dasar Hukum

• Staatsblad (Lembaran Negara) No 350 Tahun 1937 pasal 1 dan 2 yang menyatakan VeR adalah

“Suatu Keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah atau janji tentang apa yang

dilihat pada benda yang diperiksanya yang mempunyai daya bukti dalam perkara pidana”

• Pasal 133 KUHAP: “Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang

korban baik luka, keracunan, ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan

tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran

kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya”

• PP No 27 tahun 1983: “Penyidik polri berpangkat serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua,

kepangkatan penyidik pembantu adalah bintara serendah-rendahnya adalah Sersan Dua”

(3)

Nilai Visum et Repertum

• KUHAP pasal 184: Alat bukti yang sah adalah:

• 1. Keterangan saksi

• 2. Keterangan ahli

• 3. Surat

• 4. Petunjuk

• 5. Keterangan terdakwa

• Keterangan ahli  tidak hanya terbatas pada “apa yang dilihat dan ditemukan oleh si

pembuat”

• Visum et Repertum  terbatas pada “apa yang dilihat dan ditemukan oleh si pembuat”,

sehingga dimasukkan ke dalam alat bukti surat

(4)

Jenis Visum et Repertum

VeR perlukaan

(termasuk

keracunan)

Deskripsi luka Penyebab luka Derajat luka

VeR kejahatan

susila

Bukti

persetubuhan Bukti kekerasan Perkiraan umur

Pantas tidaknya korban untuk

dikawin

VeR psikiatrik

Penyakit jiwa

Kejahatan sebagai produk

penyakit jiwa

Psikodinamik kejahatan

(5)

Bentuk dan Susunan Visum et Repertum

Pro Justitia

• Ditulis di bagian atas visum

• Sudah dianggap sama dengan materai • Kata Pro Justitia artinya Demi Keadilan,

mengandung arti laporan yang dibuat untuk tujuan peradilan

Bagian Pendahuluan

• Kata “Pendahuluan” tidak ditulis dlm VeR • Berisi tentang waktu, tempat

pemeriksaan, atas permintaan siapa, nomor, tanggal surat, dokter, pembantu yang memeriksa, identitas korban, mengapa diperiksa

Bagian Pemberitaan

• Bagian ini berjudul “ Hasil Pemeriksaan” • Berisikan apa yang dilihat dan ditemukan

Bagian Kesimpulan

• Memuat intisari dari hasil pemeriksaan, disertai pendapat dokter yg

memeriksa/menyimpulkan kelainan yg terjadi pada korban

• Jenis luka/cedera yg ditemukan, jenis kekerasan, derajat luka atau sebab kematian

Bagian Penutup

• Bagian ini tidak berjudul

• Memuat pernyataan VeR dibuat atas sumpah dokter, menurut pengetahuan pengetahuan yang sebaik-baiknya dan sebenarnya

• Cantumkan Lembaran Negara No 350 tahun 1937 atau berdasarkan KUHAP

(6)

Kerahasiaan dalam Hasil Pemeriksaan Forensik

• Rahasia jabatan  bukan berdasarkan azas kepercayaan, diwajibkan bagi pejabat Negara

• Rahasia pekerjaan  berdasarkan azas kepercayaan, bersifat swasta

• Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran juga berlaku

untuk bidang kedokteran forensik

• Pasal 1  Rahasia kedokteran adalah segala sesuatu yang diketahui pada waktu atau selama

melakukan pekerjaan kedokteran

• Pasal 2 Bila ada peraturan yang sederajat atau lebih tinggi dari PP No 10 tahun 1966, maka wajib

simpan rahasia kedokteran tidak berlaku

• Pasal 3  Orang yang sedang menjalani pendidikan di bidang kedokteran juga wajib simpan

rahasia

• Penggunaan keterangan ahli, atau VeR hanya untuk keperluan peradilan

• Berkas VeR hanya boleh diserahkan kepada penyidik yang memintanya

(7)

Pengungkapan Rahasia Kedokteran

• Walaupun pengadilan meminta seorang dokter untuk membuka rahasia kedokteran,

dokter memiliki hak tolak (verschoningsrecht) (Pasal 170 KUHAP)

• Pertimbangan hakim dapat membatasi hak tolak dokter, yakni apabila kepentingan

yang dilindungi pengadilan lebih tinggi dari rahasia kedokteran

• Pengungkapan rahasia kedokteran dapat dilakukan dalam kondisi (Benhard Knight,

1972):

• Adanya persetujuan pasien

• Berdasarkan perintah hukum

• Berdasarkan perintah pengadilan

• Kepentingan umum menyangkut masalah kesehatan dan keselamatan umum

• Pasal 10 ayat (2) Permenkes 269/2008: Kepentingan pasien, permintaan aparatur

penegak hukum, permintaan pasien, permintaan institusi sesuai

perundang-undangan, penelitian pendidikan audit medis tanpa menyebutkan identitas pasien.

©Bimbel UKDI MANTAP

(8)

Aplikasi Visum et Repertum

VeR hidup untuk perlukaan

• Pada korban yang diduga korban tindak pidana, pencatatan rekam medik harus lengkap dan jelas

sehingga dapat digunakan untuk pembuatan visum et repertum

• Pada korban luka sedang-berat akan datang ke dokter sebelum melapor ke penyidik/tanpa surat

permintaan VeR (surat terlambat) → tetap dibuatkan VeR setelah perawatan/pengobatan selesai

• Jika masih diperlukan pemeriksaan ulang → VeR sementara

• VeR definitif: dibuat seketika, korban tidak memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan

sehingga dapat dibuat kesimpulan.

• VeR sementara: VeR yang dibuat untuk sementara waktu karena korban memerlukan perawatan &

pemeriksaan lanjutan sehingga derajat perlukaan belum dapat ditentukan. VeR ini tidak ditulis

kesimpulan tapi hanya keterangan bahwa saat VeR dibuat korban masih dalam perawatan.

• VeR lanjutan: VeR yang dibuat setelah luka korban telah dinyatakan sembuh atau pindah rumah

(9)

VeR hidup untuk kasus kejahatan seksual

• Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan barang

bukti, kalau korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari

polisi, jangan diperiksa, minta korban kembali kepada polisi

• VeR harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan pada waktu

permintaan pembuatan VeR diterima oleh dokter

• Bila korban datang atas inisiatif sendiri  dilakukan pemeriksaan oleh dokter

 kembali bersama polisi membawa surat permintaan VeR beberapa waktu

kemudian  dokter harus menolak membuat VeR, karena segala sesuatu

yang diketahui sebelum permintaan VeR datang merupakan rahasia

kedokteran (KUHP pasal 322)

• Apabila tetap ingin membuat VeR  dibuat berdasarkan keadaan saat ini 

hasil pemeriksaan yang lalu diberikan dalam bentuk surat keterangan

(10)

Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomer 1226/Menkes/SK/XII/2009

(11)

©Bimbel UKDI MANTAP

VeR Jenazah

• Pasal 134

• (1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah

mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih

dahulu kepada keluarga korban.

• (2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan

sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.

• (3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga

atau pihak yang diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan

ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

• Apabila jenazah dibawa pulang paksa, maka baginya tidak ada surat keterangan

(12)

Tanatologi

Bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari kematian dan

perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi

perubahan tersebut

Dipergunakan untuk kepentingan medikolegal

Medical examiner (physician)  investigate the cause, mechanism, and

(13)

Tanda Kematian

Tanda Kematian Tidak Pasti

• Pernafasan berhenti, dinilai selama 10

menit

• Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15

menit

• Kulit pucat

• Tonus otot menghilang dan terjadi

relaksasi primer

• Pembuluh darah retina mengalami

segmentasi ke arah tepi retina

• Pengeringan kornea menimbulkan

kekeruhan

Tanda Pasti Kematian

• Lebam mayat (livor mortis)

• Kaku mayat (rigor mortis)

• Penurunan suhu tubuh (algor mortis)

• Pembusukan (decomposition, putrefaction)

• Adiposera

• Mummifikasi

(14)

Tanda Kematian Pasti

Algor Mortis

• Penurunan suhu tubuh setelah kematian karena proses perpindahan panas melalui

cara konduksi, konveksi, evaporasi, dan radiasi

• Grafik penurunan suhu tubuh berbentuk sigmoid

• Hubungan penurunan suhu dengan lama kematian

• Dua jam pertama  suhu turun setengah dari perbedaan antara suhu tubuh dan

suhu sekitarnya

• Dua jam berikutnya  suhu tubuh turun setengah dari nilai pertama

• Dua jam selanjutnya  suhu tubuh turun setengah dari nilai kedua

• Dua jam selanjutnya  suhu tubuh turun setengah dari nilai terakhir atau 1/8 dari

nilai awal

(15)

Livor Mortis

• Pewarnaan ungu kemerahan pada kulit di bagian terendah tubuh setelah kematian

• Sinonim  hypostasis, post-mortem staining, post-mortem lividity, suggilation

• Cessation of the circulation  relaxation of the muscular tone of the vascular bed 

gravity pulls down stagnant blood to the lowest accessible area sedimentation of

red cells  bluish red discoloration

• Distributed to the lowest area with free compression  depend on the body

position after death

©Bimbel UKDI MANTAP

20-30 menit pasca mati Mulai tampak 30menit - 8 jam pasca mati Hilang dengan penekanan

8-12 jam pasca mati Menetap atau tidak

hilang dengan penekanan

(16)

Warna Khusus

Cherry pink  Carbon Monoxide poisoning

Acts in part by tying up hemoglobin (200 times that of oxygen), saturation from 20-30% will appear as cherry-red lividity Pink around large joints  Hypothermia

Wet skin allows atmospheric oxygen to pass through, and also at low temperature hemoglobin has a greater affinity for oxygen Bright red  Cyanide poisoning

Inhibits cytochrome c oxidase and prevents utilization of oxygen Reddish  Burn and coal

Dark bluish violet  Asphyxia

Dark Brown  Phosphorous, chlorate, nitrite, aniline poisoning Increases production of methemoglobin

Blackish  Opium poisoning

(17)

Rigor Mortis

• Temperature-dependent physicochemical change that occurs within muscle cells as a result of lack of oxygen

• Periode Relaksasi Primer

• Terjadi segera setelah kematian, berlangsung selama 2-3 jam, seluruh otot mengalami relaksasi dan dapat

digerakkan ke segala arah

• Kaku Mayat (Rigor Mortis)

• Setelah terjadi kematian tingkat seluler, karena ketiadaan oksigen, maka asam laktat akan terbentuk dan

ATP tidak dihasilkan lagi

• Dalam keadaan ATP rendah dan tingkat keasaman yang tinggi, maka serabut aktin dan myosin akan

berikatan dan menimbulkan kekakuan

• Kekakuan dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah dalam (sentripetal) dan menjalar

kraniokaudal

• Periode Relaksasi Sekunder

• Terjadi relaksasi kembali karena telah terjadi dekomposisi dari serabut aktin dan myosin

0-2 jam pasca mati

Terjadi relaksasi primer

2 jam pasca mati

Kaku mayat mulai tampak

12-24 jam pasca mati

Kaku mayat lengkap seluruh tubuh

24-36 jam pasca mati

Terjadi relaksasi sekunder ©Bimbel UKDI MANTAP

(18)

Diagnosis Banding Kaku Mayat

Kekakuan karena panas (Heat

stiffening)

• Terjadi jika mayat terpapar pada

suhu yang lebih tinggi dari 75

o

C,

atau jika mayat terkena arus

listrik tegangan tinggi  terjadi

koagulasi

protein sehingga otot

menjadi kaku

• Pada kasus terbakar, keadaan

mayat menunjukan postur

tertentu yang disebut dengan

pugilistic attitude, yaitu suatu

posisi di mana semua sendi

berada dalam keadaan

fleksi

dan

tangan terkepal

• Perbedaan antara kaku mayat

dan kaku karena panas adalah

adanya tanda bekas terbakar,

otot akan mengalami laserasi bila

dipakasa untuk diregangkan, dan

tidak terjadi relaksasi primer

maupun sekunder

Kekakuan karena dingin (Cold

stiffening)

• Pada suhu yang sangat dingin,

terjadi pembekuan jaringan

lemak dan otot

• Bila sendi ditekuk akan terdengar

bunyi pecahnya es dalam rongga

sendi

• Bila mayat dipindahkan ke

tempat dengan suhu lingkungan

yang lebih tinggi maka kekakuan

akan hilang

Spasme cadaver (Cadaveric

spasm, instantaneous rigor)

• Keadaan ini terjadi jika sebelum

meninggal, korban melakukan

aktivitias tinggi, sehingga lebih

cepat mengalami kekakuan

setelah meninggal

• Pada kekakuan ini tidak

mengalami tahapan relaksasi

primer dan bentuk kekakuan

menunjukkan aktivitas terakhir

korban

(19)

Pembusukan (decomposition, putrefaction)

• Proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolysis dan putrefaksi

• Autolisis  pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril

oleh kerja enzim digestif yang dilepaskan sel pasca mati

• Putrefaksi  Clostridium welchii melakukan proses pembusukan dengan darah

sebagai media pertumbuhan dan menghasilkan gas-gas alkane, H2S, dan HCN,

serta asam amino dan lemak

• Pertama kali tampak pada perut kanan bawah berwarna hijau kekuningan oleh

karena terbentuknya sulf-met-hemoglobin

• Lalat menempatkan telur pada mayat  8-24 jam menetas menjadi belatung  4-5

hari menjadi pupa  4-5 hari kemudian menjadi lalat dewasa

©Bimbel UKDI MANTAP

24 jam pasca mati

Pembusukan mulai terjadi

36 jam pasca mati

Kulit melepuh (blister) Munculnya belatung

Dekomposisi organ yang cepat membusuk (laring, trakea, otak, GI

tract Dekomposisi organ yang lambat membusuk (uterus non-gravid, prostat)

(20)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembusukan

• Temperatur  temperatur ideal untuk

pembusukan adalah 70-100

o

F, melambat bila di

bawah 70

o

F atau di atas 100

o

F, dan berhenti di

bawah 32

o

F atau di atas 212

o

F

• Udara  Pembusukan lebih cepat terjadi di

udara terbuka dibandingkan di dalam air dan di

dalam tanah

• Kelembaban  Keadaan

lembab

mempercepat

proses pembusukan

• Penyebab kematian  Bagian tubuh yang

terluka

mempercepat pembusukan, dan mayat

penderita yang meninggal karena penyakit

kronis lebih cepat membusuk daripada mayat

orang yang sehat

Dalam

Tanah

Air

Udara

CEPAT

Hangat

Lembab

LAMBAT

(21)

Adiposera

• Terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau berminyak berbau tengik akibat

hidrolisis lemak

yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati

• Faktor-factor yang mempermudah pembentukan adalah kelembaban tinggi, suhu hangat, dan

lemak tubuh yang cukup

• Faktor-factor yang menghambat pembentukan adalah kelembaban rendah, suhu dingin, dan

adanya air yang mengalir

• Proses: early stages of formation (pale, greasy, unpleasant smell  hydrolysis progress (more

brittle and whiter)  fully formed (grey, waxy compound that maintains the shape of the body

Mumifikasi

• Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi

pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan

• Jaringan menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput, dan tidak membusuk

• Terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara baik, tubuh yang dehidrasi, dan

waktu yang lama

(22)

- Tepi luka tidak rata

- Bisa ditemukan jembatan jaringan

Traumatologi Forensik

- Tepi luka rata

- Tidak ada jembatan jaringan

Trauma

Tumpul

Vulnus excoriatum/lecet Lecet gores Lecet serut Lecet tekan Lecet geser Contusio/memar Vulnus laseratum/robek

Tajam

Stab/tusuk Vulnus incisum/iris Chop/bacok

(23)

Vulnus excoriatum (luka lecet)

• Removal of the superficial epithelial layer of the skin (epidermis) by friction against rough

surface/compression

• Luka lecet gores  benda runcing (misalnya kuku) mengeser lapisan permukaan kulit

(epidermis) dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah

kekerasan yang terjadi

• Luka lecet serut  variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan

permukaan kulit yang lebih lebar

• Luka lecet tekan  penjejakan benda tumpul pada kulit sehingga ditemukan kulit yang kaku

dan gelap pada area penekanan akibat pemadatan jaringan yang tertekan

• Luka lecet geser  tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser, misalnya pada kasus

gantung diri

(24)

Vulnus Excoriatum

Tangential

(friction/sliding/scrape)

Linear (luka lecet gores)

Brush (luka lecet serut)

Compression

(crushing/pressure)

Compression only (luka

lecet tekan)

Compression and sliding

(luka lecet geser)

Antemortem

Abrasions

• Reddish-brown

color

• Margins are

blurred due to

vital reactions

Postmortem

Abrasions

• Yellowish in

color

• Translucent area

• Margins are

sharply defined

• Absence of vital

reactions

(25)

Contusio (luka memar)

• Infiltration or extravasation of blood into the tissue due to rupture of vessels

by the application of blunt force

• Terjadi pada subkutan tanpa diskontinuitas kulit

• Contusio superfisial akan segera muncul dengan warna kemerahan, contusion

yang lebih dalam akan muncul beberapa saat kemudian

©Bimbel UKDI MANTAP

Haemosiderin (iron pigment), dark brown color to blue color (2-4

days) Haematoidin (iron-free pigment), green color (5-7 days) Bilirubin, yellow color (7-10 days) Normal color of skin (15-20 days)

(26)

Vulnus laceratum (luka robek)

• Luka terbuka akibat trauma benda tumpul yang menyebabkan kulit

teregang ke satu arah dan bila batas elastisitas kulit terlampaui, maka

akan terjadi robekan pada kulit

• Bentuk luka tidak beraturan, tepi tidak rata, tampak jembatan jaringan

(27)
(28)

Lecet geser

Lecet tekan

Contusio

Contusio

(29)

Stab wound/luka tusuk

• Deep wounds produced by the pointed end of a weapon or an object, entering the body

• The depth of the wound track in the body is longer than its length on the skin

• Sudut luka dapat memperkirakan benda penyebabnya, bila satu sudut luka lancip dan

yang lain tumpul, berarti benda tajam bermata satu, bila kedua sudut luka lancip, berarti

benda tajam bermata dua

©Bimbel UKDI MANTAP

(30)

Vulnus incisum (luka iris)

• Produced by sharp cutting instruments (knife, razor, blade)

• The sharp edge of the instrument is pressed into and drawn along the surface of the skin,

producing a wound whose length is greater than its depth

• Edges are regular, clear cut, retracted and averted, except in neck and scrotum, edges are inverted

• Drawing cuts  deeper at start, gradually become shallow and at the end only skin is cut with

scratch “tailing of the wound”

• Sawing cuts  multiple at the beginning and only one deep cut wound called “tentative or

hesitation cuts”

• Bevelling cuts  when weapon is used oblique or tangential way over the body

Chop (luka bacok)

• A chop wound is produced by an heavy instrument with a cutting edge (for example ‘axe’)

• It is an incised-like wound but it’s depth is almost same great as its length

(31)

Pembunuhan

Bunuh Diri

Kecelakaan

Lokasi luka

Sembarang

Terpilih

Terpapar

Jumlah luka

Banyak

Banyak

Tunggal/banyak

Pakaian

Terkena

Tidak terkena

Terkena

Luka tangkis

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Luka percobaan

Tidak ada

Ada

Tidak ada

Cedera sekunder

Mungkin ada

Tidak ada

Mungkin ada

(32)

Luka iris: jembatan jaringan (-),

tepi luka rata

Luka bacok: tepi luka rata,

panjang=dalam

(33)

Derajat Perlukaan

Luka Ringan

• Tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk

menjalankan jabatan atau pekerjaan (KUHP 352)

• Umumnya tanpa luka, atau dengan luka lecet atau memar kecil di lokasi yang tidak

berbahaya/tidak menurunkan fungsi alat tubuh

Luka Sedang

• Di antara luka ringan dan luka berat

• Mengakibatkan korban tidak dapat melakukan

pekerjaannya karena sakit (pijn/pain) yang dialami, tetapi tidak sampai mengakibatkan luka berat

• Dapat merupakan hasil dari tindak penganiayaan (KUHP pasal 351 (1) atau 353 (3))

Luka Berat

• Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali atau menimbulkan bahaya maut (KUHP 90)

• Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan • Kehilangan salah satu panca

indra

• Cacat berat • Sakit lumpuh

• Terganggu daya pikir selama empat minggu lebih

• Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan

(34)

Luka Tembak

Definition

• Gunshot wound is a wound caused by a bullet

with or without any other components coming

out of the gun barrel at the time of firing

Components attending the bullet at the

time of firing

• Smoke

• Gunpowder particles

• Flame

COMPONENTS ATTENDING THE BULLET

©Bimbel UKDI MANTAP

SMOKE

BULLET

GUNPOWDER

(35)

Senjata Api

Senjata api dengan

laras beralur

(Rifled Bore)

Arah putar ke kiri

(Colt)

Arah putar ke

kanan (Smith dan

Wesson)

Senjata api dengan

laras licin (Smooth

Bore)

(36)

Luka Tembak Masuk

The bullet is the most responsible for causing the wound

• Principally, a bullet causes an entrance wound, consisting of two part:

a hole surrounded by abrasion zone

• Because the form of the wall inside the barrel is spiral groove, the

bullet passing it will rotate on its axis

• This rotating movement keep the bullet move relatively in a straight

line after leaving the barrel

• When it touches the skin, its rotating movement scratches the soft

tissue causing

an abrasion zone

• Because the kinetic energy of the bullet is far more powerful than the

elasticity of the skin, the bullet penetrate the skin easily and causing

a

bullet hole

Bullet Hole

(37)

Wound Shape

• A bullet perpendicularly hitting a

body part having low density, such

as the stomach, will cause

a

round-shape bullet wound

• When it hits part of the body with

higher density, the head, for

instance, part of its kinetic energy

and the hot gas will be flung back

causing irregular laceration on the

soft tissue surrounding the bullet

hole creating

stellar-shape wound

A Bullet Hits the Stomach Perpendicularly

©Bimbel UKDI MANTAP

Bullet Hole

Abrasion Zone

A Bullet Hits the Head Perpendicularly

Bullet Hole

(38)

Luka Tembak Keluar

Exit Wound

• If the bullet hits the body and the

penetrating power strong enough, it can

pass the body and causing an exit wound

on the opposite side of the body

• Beside have no marginal abrasion, exit

wounds are characteristically large and

irregular, consisting of holes and

lacerations

• This large and irregular wound take place

when splintered bone is carried out with

the bullet at exit

• Laceration Like

• No Abrasion Zone

(39)

Gunpowder Particles

Effect (Kelim Tatto)

• Gunpowder particles effect

black spots surrounding the

gunshot wound

• Those gunpowder particles had

gone so deep into the flesh that

to remove them by rubbing the

skin surface was ineffective

• Gunpowder particles can reach

the target

at a range of 60 cm

©Bimbel UKDI MANTAP

Bullet Hole

Abrasion Zone

Gunpowder

Particles

(40)

Smoke Effects (Kelim

Jelaga)

• Because of the imperfect

burning process, soot will

be resulted in

• The soot is found only on

the surface,

easily removed

by rubbing

• Soot is capable of reaching

a target at

a range of 20-30

cm

Bullet Hole

Abrasion Zone

Gunpowder

Particles

Soot

(41)

Flame Effect (Kelim

Api)

• Flame/hot gas will burn

the skin when the bullet

hits the target

• Flame can reach a target

at a range of 15 cm

©Bimbel UKDI MANTAP

Bullet Hole

Abrasion Zone

Gunpowder

Particles

Soot

Burn

(42)

GUNSHOT WOUND CLASIFICATION

Contact Wound (Luka Tembak Tempel)

• A muzzle impression occurs when the muzzle of the

gun is placed tightly against the surface of the target

at the moment of firing.

• Part of the body with high density, bone area, for

example, will receive a clearer muzzle impression

• Hard pressure of the gun muzzle to the target is

called hard contact, whereas soft pressure is called

soft contact

Muzzle Mark (Kelim Senjata)

• A contact wound is usually round in shape with ring

like abrasion

• Discovered on the outside part of the wound is a

muzzle mark

• The wound will look dirty because of grease and

combustion products such as gunpowder particles

and soot

Dirty Bullet Hole

Muzzle Rim Mark

Blackish Abrasion

(43)

Hard Contact

• Hard pressure of the gun muzzle

to the target brings about a

perfect contact in that the skin

forms a seal around the muzzle

• So that the flinging back of the

firing power and hot gas will

violently pass through the soft

tissue, causing irregular

lacerations surrounding the

wound with a muzzle mark on the

outside of the wound

Soft Contact

• Because soft pressure of the gun

muzzle to the target produces an

imperfect contact, there may be

some openings along the contact

area

• What follows is that the flinging

back of the firing power and

combustions products will escape

sideways passing these openings,

causing blackish and dirty abrasion

surrounding the wound with or

without a muzzle mark on the

outside of the wound

The abrasion ring, and a very clear muzzle imprint, are seen in this hard

contact range gunshot wound

This is a soft contact range gunshot entrance wound with grey-black discoloration from the burned powder

(44)

Very Close Range Wound (Luka Tembak Jarak Sangat Dekat)

• At the time of firing, smoke brings about soot on the surface of a target. The smoke is still capable of reaching a

target at a range of 30 cm

• Flame or hot gas will cause burn area surrounding a gunshot wound. Flame can reach a target up to 15 cm

firing distance

• The presence of soot and burn area surrounding a gunshot wound indicates that it is a very close range

wound

Close Range Wound (Luka Tembak Jarak Dekat)

• Gunpowder particles still can reach a target at a range of 60 cm. They effect black spots surrounding the

gunshot wound. When a gunshot wound is surrounded by only these black spots, it is classified into close

range wound

Distant Wound (Luka Tembak Jarak Jauh)

• When at the time of firing, gunpowder particles miss the firing target, the wound will be formed only by the

moving bullet

• The moving bullet causes a wound, consisting of two parts which are a hole and its surrounding abrasion zone.

This wound is classified into long range wound

(45)

Sangat Jauh > 60 cm

Anak peluru

Jauh < 60 cm

Anak peluru

Kelim tattoo

Dekat < 30

Anak peluru

Kelim tattoo

Kelim jelaga

Kelim api (<15

cm)

Tempel

Anak peluru

Kelim tattoo

Kelim jelaga

Kelim api

Kelim senjata

©Bimbel UKDI MANTAP

(46)

Asfiksia

Definisi

• Suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernapasan, mengakibatkan

oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbon dioksida (hiperkapnea)

Etiologi

• Penyebab alamiah  penyakit yang menyumbat saluran napas seperti laryngitis difteri atau

menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru

• Trauma mekanik  trauma yang mengakibatkan asfiksia mekanik melalui sumbatan atau halangan pada

saluran napas

• Keracunan  bahan yang menimbulkan depresi pusat pernapasan

Hipoksik-hipoksia  Di

mana oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi

darah

Anemik-hipoksia  Darah

yang tersedia tidak dapat membawa oksigen yang cukup untuk metabolism

dalam jaringan

Stagnan-hipoksia  Di mana

oleh karena sesuatu terjadi kegagalan sirkulasi

Histotoksik-hipoksia  Di

mana oksigen yang terdapat di dalam darah, oleh karena

sesuatu hal, tidak dapat dipergunakan oleh jaringan

(47)

Fase Asfiksia

Fase Dispnea

• Penurunan kadar oksigen dan peningkatan kadar karbon dioksida  merangsang respiratory center di medulla oblongata  amplitude dan frekuensi pernapasan meningkat sebagai kompensasi  terjadi dyspnea

Fase Konvulsi

• Peningkatan karbon dioksida lebih lanjut  merangsang susunan saraf pusat  terjadi konvulsi (kejang)  kejang klonik  kejang tonik  spasme opistotonik

Fase Apnea

• Depresi respiratory center  pernapasan melemah  kesadaran menurun dan relaksassi sfingter

Fase Akhir

• Paralisis pusat pernapasan lengkap

(48)

Pemeriksaan Jenazah

Pemeriksaan Luar

• Sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku • Warna lebam mayat merah-kebiruan gelap dan

terbentuk lebih cepat  distribusi lebam lebih luas akibat kadar CO2 yang tinggi dan aktivitas fibrinolisin sehingga sulit membeku dan mudah mengalir

• Terdapat busa halus pada hidung dan mulut  oleh karena peningkatan frekuensi dan amplitude

pernapasan dan sekresi lendir pada fase dyspnea • Pembendungan pada mata berupa pelebaran

pembuluh darah konjungtiva bulbi dan palpebral  terjadi pada fase konvulsi

• Muncul Tardieu’s spot  peningkatan tekanan vena dengan cepat berakibat pecahnya venula kapiler di daerah dengan jaringan ikat longgar (konjungtiva bulbi, pleura, epikardium). Kondisi hipoksia juga berperan melemahkan dinding venula.

Pemeriksaan Dalam

• Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer • Busa halus di saluran pernapasan

• Pembendungan sirkulasi sehingga organ menjadi lebih berat, lebih gelap, dan bila diiris mengeluarkan banyak darah

• Petekie pada mukosa-mukosa organ dalam • Edema paru

(49)
(50)

Asfiksia

Pembekapan

(Smothering)

Penyumbatan

(Gagging dan

Choking)

Pencekikan

(Manual

Strangulation)

Penjeratan

(Strangulation)

Gantung

(Hanging)

Tenggelam

(Drowning)

(51)

Pembekapan (Smothering)

• Penutupan lubang hidung dan mulut yang menghambat pemasukan udara ke paru-paru

• Bunuh diri (suicidal smothering)  misal pada penderita penyakit jiwa menggunakan bantal untuk

menutupi hidung dan mulut

• Pembunuhan (homicidal smothering)  misal pada kasus pembunuhan anak sendiri

• Kecelakaan (accidental smothering)  missal pada bayi bulan-bulan pertama kehidupannya

• Pemeriksaan luar  luka lecet tekan atau geser pada hidung, bibir, dagu, permukaan gusi dan gigi

Penyumbatan (Gagging dan Choking)

• Gagging  sumbatan jalan napas pada orofaring

• Choking sumbatan jalan napas pada laringofaring

• Bunuh diri (suicidal choking)  jarang terjadi karena ada reflex batuk dan muntah

• Pembunuhan (homicidal choking)  umumnya korban adalah bayi atau orang dengan fisik yang

lemah

• Kecelakaan (accidental choking)  tersedak makanan saat berbicara atau tertawa (bolus death)

• Pemeriksaan luar  terdapat benda asing pada mulut, orofaring, atau laringofaring

(52)

Pencekikan (Manual Strangulation)

• Penekanan leher dengan tangan, yang menyebabkan dinding saluran napas bagian atas tertekan dan terjadi

penyempitan saluran napas sehingga udara pernapasan tidak dapat lewat

• Pemeriksaan luar

• Pembendungan muka dan kepala akibat tertekannya pembuluh vena dan arteri superfisial

• Luka lecet kecil, dangkal, berbentuk bulan sabit akibat penekanan kuku jari

• Fraktur tulang lidah (os hyoid) dan kornu superior kartilago thyroid unilateral

Penjeratan (Strangulation)

• Penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, kawat dan sebagainya melingkari atau mengikat

leher hingga saluran pernapasan tertutup

• Bunuh diri (self strangulation)  pengikatan oleh korban sendiri dengan simpul hidup dengan jumlah lilitan

lebih dari satu

• Pembunuhan  pengikatan biasanya dengan simpul mati

• Kecelakaan  misalnya pekerja yang bekerja dengan tali kemudian terjatuh dan terlilit

• Pemeriksaan luar

• Jejas jerat biasanya mendatar, lebih rendah dari jejas jerat pada kasus gantung

• Pola jejas dapat dilihat dengan menempelkan transparent scotch tape, kemudian dilihat di bawah mikroskop

• Terdapat luka lecet tekan di sekitar jejas jerat

(53)

Gantung (Hanging)

• Kasus gantung hamper sama dengan kasus penjeratan, namun asal tenaga jerat berasal dari tubuh korban

sendiri

• Berdasarkan posisi korban

• Complete hanging  kedua kaki tidak menyentuh lantai

• Partial hanging  kedua kaki masih menyentuh lantai

• Berdasarkan posisi titik gantung

• Typical hanging  titik gantung terletak di atas daerah oksiput dan tekanan pada arteri karotis paling besar

• Atypical hanging  titik gantung terdapat di samping, sehingga leher dalam posisi sangat miring (fleksi lateral)

• Asfiksia seksual (Auto-erotic hanging)

• Deviasi seksual yang menggunakan cara gantung atau jerat untuk mendapatkan kepuasan  terlambat

mengendurkan tali atau melepaskan diri setelah kehilangan kesadaran

(54)
(55)

Drowning

Definisi

• Kematian akibat mati lemas

(asfiksia) disebabkan masuknya

cairan ke dalam saluran pernapasan

Klasifikasi

• Immersion  seluruh tubuh masuk

ke dalam air

• Submersion  sebagian tubuh

(kepala) masuk ke dalam air

©Bimbel UKDI MANTAP

Vicious Cycle of Drowning

Water enters respiratory

passage

Cough reflex

Air driven out of lungs Need for air

Deep inspiration

(56)
(57)
(58)

Mekanisme

Kematian

Asfiksia (Wet

Drowning)

Air Tawar: Konsentrasi elektrolit lebih rendah → Hemodilusi

darah, air masuk ke dalam aliran darah sekitar alveoli → Hemolisis

→ Pelepasan ion K⁺→ terjadi perubahan keseimbangan ion K⁺ dan

Ca⁺⁺ dalam serabut otot jantung dan mendorong terjadinya

fibrilasi ventrikel

Air Asin: Konsentrasi elektrolit lebih tinggi → air akan ditarik dari

sirkulasi pulmonal ke dalam jaringan interstitial paru → oedem

pulmonal  hemokonsentrasi, hipovolemi  syok hipovolemik

dan henti jantung

Spasme Laring (Dry

Drowning)

Refleks Vagal

(Immersion

Syndrome)

Drowning Types

• I  Dry Drowning or Immersion Syndrome

• IIa  Fresh water

(59)

Pemeriksaan Jenazah pada Kasus Drowning

©Bimbel UKDI MANTAP

External Findings

• A “washerwoman” appearance in

the hands and soles (Look white

and wrinkled)

• “Goose flesh” (cutis anserina)

• “Mushroom like appearance” in

the nostrils, mouth, and airways

(white foam or hemorrhagic fluid)

• Cadaveric spasm

Internal Findings

• A white or hemorrhagic foam is

found in the trachea and bronchi

• Water may be found in the

stomach.

• There could be dilatation of the

right ventricle

• Pulmonary edema

• Brain swelling

(60)
(61)

Pemeriksaan Diatom

• Merupakan alga bersel satu dengan dinding terdiri dari silikat (SiO2) yang tahan panas dan asam kuat

• Pemeriksaan Destruksi Asam pada Paru

• Jaringan perifer paru diambil sebanyak 100 gram  tambahkan asam sulfat pekat  diamkan selama kurang

lebih setengah hari agar jaringan hancur  dipanaskan dalam lemari asam sambil diteteskan asam nitrat

pekat sampai terbentuk cairan yang jernih  dinginkan dan lakukan sentrifugasi hingga terbentuk sedimen 

lihat di bawah mikroskop

• Pemeriksaan diatom positif bila terdapat 4-5 diatom/lpb atau 10-20 per satu sediaan

• Pemeriksaan Getah Paru

• Paru disiram air bersih iris bagian perifer  ambil sedikit cairan perasan dari jaringan perifer  taruh pada

gelas objek  amati di bawah mikroskop

Pemeriksaan Darah Jantung (Getler Chloride Test)

• This is analysis of blood in the right and left sides of the heart

• In freshwater, the chloride level was high in the right

• In saltwater, the chloride level was high in the left

©Bimbel UKDI MANTAP

(62)

Trauma Panas, Dingin, dan Listrik

Trauma Panas

• Burns are caused by the transfer of energy from a physical or chemical source into living

tissues, which causes disruption of their normal metabolic processes and commonly leads

to irreversible changes that end in tissue death

• Complete epidermal necrosis can occur at 44°C if exposed for 6 hours, while such

necrosis occurs within 5 seconds at 60°C and less than 1 second at 70°C

• Burn  where the heat source is dry

• Scalding  where the heat source is wet with moist heat from hot water, steam and

other hot liquids

• Hyperthermia – a condition where the core body temperature is greater than 40°C

(100°F) – occurs when heat is no longer effectively dissipated, leading to excessive heat

retention

(63)
(64)

External and Internal Findings

• Finding of soot in the airways, oesophagus

and/or stomach – the implication that

respiration was required to inhale the soot

• Blood samples can be taken for a rapid

assessment of carboxyhaemoglobin, as a

convenient marker of the inhalation of the

combustion products of fire

• ‘Pugilist attitude’ of the body

• Post-mortem splitting of fragile burnt skin

• Heat-related ‘extradural haemorrhage’

(65)
(66)

• Toxic gas inhalation – CO (most common), cyanide,

acrolein, nitrogen dioxide, hydrochloric acid

- Often see soot in nose/mouth

- May produce edema, mucosal necrosis of upper

airway, or bronchospasm

- CO levels usually 30-60% in fire deaths

• Neurogenic shock secondary to severe pain

• Trauma

Immediate

• Delayed hypovolemic shock with renal failure

• ARDS

• Infection (pneumonia, sepsis, cutaneous)

• Pulmonary embolus due to immobilization

(67)

Trauma Dingin

• Deaths from exposure occur through heat loss from radiation, convection,

conduction, respiration and evaporation. Environmental temperatures below

10°C are probably sufficient to cause harmful hypothermia in vulnerable

individuals.

• Hypothermia occurs when a person’s normal body temperature of around

37°C (98.6°F) drops below 35°C (95°F). It is usually caused by being in a cold

environment. It can be triggered by a combination of factors, including

prolonged exposure to cold (such as staying outdoors in cold conditions or in a

poorly heated room for a long time), rain, wind, sweat, inactivity or being in

cold water.

(68)

External and Internal Findings

• Indistinct red or purple skin discoloration “frost erythema” over large joints, such as the

elbows, hips or knees (and in areas of skin in which such discoloration cannot be hypostasis)

• Haemorrhagic gastric lesions “Wischnewsky spots”

• Tissue injury that varies in severity from erythema to infarction and necrosis following

microvascular injury and thrombosis “frostbite”

• Paradoxical undressing is a phenomenon that describes the finding of partially clothed – or

naked – individuals in a setting of lethal hypothermia  confusion and abnormal processing of

peripheral cutaneous stimuli in a cold environment, leading the individual to perceive warmth

and thus to shed clothing

• The phenomenon of ‘hide and die syndrome’ describes the finding of a body that appears to

be hidden  terminal primitive ‘self-protective’ behavior and may be more commonly

(69)
(70)

Trauma Listrik

• The essential factor in causing harm is the current (i.e. an electron flow) which is measured in

milliamperes (mA). This in turn is determined by the resistance of the tissues in ohms and the

voltage of the power supply in volts (V).

• Usually, the entry point is a hand that touches an electrical appliance or live conductor, and the

exit is to earth (or ‘ground’), often via the other hand or the feet. In either case, the current will

cross the thorax, which is the most dangerous area for a shock because of the risks of cardiac arrest

or respiratory paralysis.

10 mA

Pain and muscle

twitching of the

hand

30 mA

‘Hold-on’ effect,

the muscles will go

into spasm, which

cannot be

voluntarily released

because the flexor

muscles are

stronger than the

extensors

50 mA

Fatal ventricular

fibrillation is likely

to occur

Internal and External Findings

• The focal electrical lesion is usually a blister ‘electric mark’, which occurs when the conductor is in firm contact with the skin and which usually

collapses soon after infliction, forming a raised rim with a concave centre

• The skin is pale, often white, and there is an areola of pallor (owing to local vasoconstriction), sometimes

accompanied by a hyperaemic rim • ‘Spark burn’, a central nodule of fused

keratin, brown or yellow in colour, is surrounded by the typical areola of pale skin

(71)

Lightning

• A lightning strike from cloud to earth  high-voltage electricity (10 megavolt) and

100.000 A

• Some of the lesions caused to those who are struck directly or simply caught close to

the lightning strike are electrical, but other will be from burns and yet others result

from the ‘explosive effects’ of a compression wave of heated air leading to ‘burst

eardrums’, pulmonary blast injury and muscle necrosis/myoglobinuria

©Bimbel UKDI MANTAP

External and Internal Findings

• Partial or complete stripping of clothing from the victim ‘Blast

effect’

• Magnetization or even fusion of metallic objects in the clothing

• ‘Metalization’  penempelan partikel konduktor pada kulit

tubuh korban yang dapat diidentifikasi dengan pewarnaan

khusus

• ‘Fern or branch-like’ or ‘arborescent mark’ patterns on the skin

– the so-called Lichtenberg figure

(72)
(73)

Kasus Kejahatan Seksual

Pengertian

• Perkosaan adalah pengertian hukum bukan istilah medis, sehingga digunakan istilah persetubuhan

• Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undang-undang meliputi

persetubuhan di dalam perkawinan maupun di luar perkawinan

Pembuktian

• Hakim tidak dapat menjatuhkan hukuman kepada seorang terdakwa kecuali dengan

sekurang-kurangnya 2 alat bukti yang sah ia yakin bahwa tindak pidan tersebnut telah terjadi (pasal 183

KUHP)

• Ada tidaknya persetubuhan

• Ada tidaknya kekerasan

• Penentuan sudah atau belum waktunya untuk dikawin

(74)

Penentuan Jenis Delik

• Perkosaan  Kekerasan atau ancaman kekerasan menyetubuhi seorang wanita di luar perkawinan, termasuk dengan

sengaja membuat orang pingsan atau tidak berdaya (pasal 89 KUHP)

• Persetubuhan di luar perkawinan

• Bila wanita berusia >15 tahun  tidak dapat dihukum kecuali jika perbuatan dilakukan dalam keadaan wanita

pingsan atau tidak berdaya

• Bila wanita berusia 12-15 tahun  dihukum karena wanita belum waktunya untuk dikawin, akan tetapi harus ada

pengaduan dari korban atau keluarganya (delik aduan)

• Bila wanita berusia <12 tahun  dihukum karena wanita belum waktunya untuk dikawin dan tidak diperlukan adanya

pengaduan dari korban (delik temuan)

• Perzinahan  Persetubuhan antara pria dan wanita di luar perkawinan, di mana salah satu diantaranya telah kawin

dan pasal 27 BW berlaku baginya. Pasal 27 BW adalah mengenai asas monogamy, di mana dalam waktu yang

bersamaan seorang laki-laki hanya boleh dengan satu istri, dan seorang perempun hanya noleh dengan satu suami.

• Perbuatan cabul  Kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan

perbuatan cabul

• Pada kasus homoseksual atau lesbian  dimasukkan sebagai kejahatan seksual bila partnernya belum dewasa,

dikatakan dewasa bila secara yuridis berumur di atas 21 tahun atau dibawahnya tapi sudah pernah kawin

(75)

Tanda Persetubuhan

• Penetrasi Penis

• Robekan pada selaput dara

• Luka-luka pada bibir

kemaluan dan dinding vagina

• Pancaran Air Mani (tanda

pasti)

• Sperma di dalam vagina

• Asam Fosfatase, Spermin,

Kholin

• Kehamilan

• Penyakit Kelamin

• GO

• Sifilis

Tanda Kekerasan

• Luka lecet bekas kuku, gigitan

(bitemark), serta luka memar

pada tubuh

• Pemeriksaan toksikologi obat

atau racun yang dapat

membuat pingsan

Penentuan Layak Dikawin

• Pemeriksaan identitas diri (KTP,

SIM, dll)

• Pemeriksaan erupsi gigi molar II

dan III

• Erupsi molar II  12 tahun

• Mineralisasi mahkota molar III

tanpa pembentukan akar gigi

 12-15 tahun

• Erupsi molar III  17-21 tahun

• Pernah atau belumnya

menstruasi, bila belum pernah

menstruasi  diobservasi

selama 8 minggu di rumah sakit

(76)

Abortus

Pengguguran kandungan menurut hukum

• Tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran, tanpa

melihat usia kandungannya

• Tidak dipersoalkan apakah dengan pengguguran kehamilan tersebut lahir bayi hidup atau mati

• Yang dianggap penting adalah kandungan masih hidup sewaktu pengguguran dilakukan

Abortus

Abortus

spontan

Abortus

Provokatus

Terapeutikus

Indikasi ibu

Indikasi anak

Kriminalis

(77)

Pelaku abortus yang terkena pidana

• Wanita yang sengaja menggugurkan kandungannya atau

menyuruh orang lain melakukannya (KUHP pasal 346)

• Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita lain tanpa

(KUHP 347) atau dengan seizinnya (KUHP 348)

• Dokter, bidan atau juru obat yang melakukan kejahatan di atas

(KUHP 349)

• Orang yang mempertunjukkan alat/cara mengugurkan kandungan

pada anak dibawah 17 tahun (KUHP 283)

• Barangsiapa menganjurkan/merawat/memberi obat kepada

seseorang wanita dengan memberi harapan agar gugur

kandungannya (KUHP 299)

(78)

Infanticide

Definisi

• Pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada saat dilahirkan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak

Kitab Undang-undang Hukum Pidana

• Pasal 341  Ibu dengan sengaja merampas nyawa anaknya karena takut ketahuan diancam karena pembunuhan anak sendiri dengan pidana penjara 7 tahun

• Pasal 342  Apabila didahului oleh niat atau rencana membunuh sebelumnya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana dengan pidana penjara 9 tahun

Faktor Penting

• Ibu  Hanya ibu kandung sendiri yang dapat dihukum, apabila orang lain turut membantu maka orang lain tersebut diancam sebagai tindak pembunuhan biasa

• Waktu  Tidak disebutkan batasan waktu, hanya dinyatakan “pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian”  belum timbul rasa kasih sayang seorang ibu

(79)

Tugas Dokter

• Apakah bayi tersebut dilahirkan mati

atau hidup?

• Berapakah umur bayi tersebut? • Apakah bayi tersebut sudah dirawat? • Apakah sebab kematiannya?

©Bimbel UKDI MANTAP

Lahir Mati (stillbirth)

Kematian hasil konsepsi sebelum keluar atau dikeluarkan dari ibunya,

tanpa mempersoalkan usia kehamilan

Janin tidak bernapas atau tidak menunjukkan tanda kehidupan lain

Lahir Hidup (livebirth)

Keluar atau dikeluarkannya produk konsepsi yang lengkap, tanpa mempersoalkan usia gestasi dan

kondisi tali pusat, dan telah menunjukkan tanda kehidupan

Lahir Mati

Tanda maserasi (aseptic

decomposition)  berlangsung dari

luar ke dalam

Dada belum mengembang 

diafragma belum turun ke sela iga 4-5

Pemeriksaan makroskopik paru 

paru belum mengisi rongga dada,

tidak teraba derik udara

Uji apung paru  hasil negatif

(tenggelam)

Pemeriksaan mikroskopik paru 

adanya tonjolan (projections) yang

berbentuk seperti bantal

Lahir Hidup

Tanda maserasi (aseptic

decomposition)  tidak ada

Dada sudah mengembang 

diafragma turun ke sela iga 4-5

Pemeriksaan makroskopik paru 

paru sudah mengisi rongga dada,

teraba derik udara, seperti spons

Uji apung paru  hasil positif

(terapung)

Pemeriksaan mikroskopik paru 

tidak adanya tonjolan (projections)

yang berbentuk seperti bantal

(80)

Kemampuan Hidup (Viabilitas)

Parameter

Viable

Cukup Bulan

Umur kehamilan

>28 minggu

>36 minggu

Panjang kepala-tumit

>35 cm

>48 cm

Panjang kepala-tungging

>23 cm

>30-33 cm

Berat badan

>1000 gram

>2500-3000 gram

Lingkar kepala

>32 cm

33 cm

Tanda cacat bawaan

(-)

(+/-)

Tanda Perawatan

Ada tidaknya tanda-tanda perawatan:

• Ada tidaknya lumuran darah pada badan bayi • Ada tidaknya tanda-tanda perawatan tali pusat • Ada tidaknya lemak bayi yang jelas

• Pemberian pakaian bayi

Tanda Lain Bayi Cukup Bulan

• Lanugo sedikit,terdapat pada dahi, punggung, dan bahu

• Kartilago telinga telah sempurna (bila dilipat, cepat kembali ke keadaan semula) • Diameter tonjolan susu 7mm atau lebih • Kuku jari telah melewati ujung jari

• Garis telapak kaki telah melewati 2/3 telapak kaki

• Testis telah turun ke dalam skrotum • Labia minora telah tertutup oleh labia

(81)

Management of Disasters and Mass

Casualties

Definitions

• Event of serious magnitude causing severe damage to life and property. Loss of life of ten

persons or more may be considered as Mass Disaster

• An event, natural or man-made, sudden or progressive, which impacts with such severity

that the affected community has to respond by taking preventive measures (WHO)

©Bimbel UKDI MANTAP

Natural Disaster • Flood • Cyclone • Earthquake • Volcanic eruption • Epidemics • Tsunami Man-Made Disasters • Air crash • Sinking ship • Train accidents • Building collapse • Bomb blasts • Warfare

(82)

Problems

in Mass

Disasters

Big number of victims Difficult transportation to the area Need coordination inter-department

• Deaths of a number of individuals take place, for which no prior data nor records are available.

OPEN

• The probable names of all the victims are known, as the number of individuals belonging to a fixed

identifiable group.

CLOSE

MIXED

DISASTER CLASSIFICATION BASED

ON POPULATION

(Hinchcliff, 2011)

(83)

Purpose

• Identification  Human right

• Investigation  The cause and

effect and preventive measures

Initial Action at the Disaster

Site

Collecting Post Mortem Data

Collecting Ante Mortem Data

Reconciliation (Comparing Data)

Returning to the Family

(Debriefing)

Steps in Investigating

Mass Disasters

Disaster

Victim

Investigations

Prosedur standar yang dikembangkan oleh Interpol (International Criminal

Police Organization) untuk

mengidentifikasi korban yang meninggal akibat bencana massal

(84)

Initial Action at the Disaster Site

• Tindakan awal yang dilakukan di tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengetahui seberapa luas

jangkauan bencana

• Dalam kebanyakan kasus, polisi memikul tanggung jawab komando untuk operasi secara keseluruhan

• Sebuah tim pendahulu (kepala tim DVI, ahli patologi forensic dan petugas polisi) harus sedini

mungkin dikirim ke TKP untuk mengevaluasi:

• Pemetaan jangkauan bencana dan pemberian koordinat untuk area bencana

• Perkiraan jumlah korban

• Keadaan mayat

• Evaluasi durasi yang dibutuhkan

• Institusi medikolegal yang mampu merespon dan membantu proses DVI

• Metode menangani mayat

• Transportasi mayat

• Penyimpanan mayat

• Kerusakan property yang telah terjadi

• Langkah utama yang dilakukan

• To secure  mengamankan area, misalnya dengan memasang police border

• To collect  mengumpulkan korban dan property terkait untuk kepentingan identifikasi korban

• Documentation  memfoto area bencana dan korban kemudian memberikan nomor dan label

(85)

Collecting Post Mortem Data

• Dokumentasi foto kondisi jenazah korban

• Pemeriksaan fisik, baik luar maupun dalam

• Pemeriksaan sidik jari

• Pemeriksaan rontgen

• Pemeriksaan odontology forensic

• Pemeriksaan DNA

• Pemeriksaan antropologi forensik

Primary Data

• Fingerprint

Analysis

• Forensic Dental

Analysis

• DNA Analysis

Secondary Data

• Personal

descriptions

• Medical findings

• Evidence/clothing

(86)

Collecting Ante-Mortem Data

• Pengumpulan data jenazah sebelum kematian dari keluarga maupun orang yang terdekat

• Data dapat berupa foto semasa hidup, interpretasi ciri-ciri spesifik jenazah, rekaman pemeriksaan gigi korban, data sidik jari, sampel DNA orang tua maupun kerabat korban, serta informasi lain yang relevan untuk kepentingan

identifikasi

Reconcilliation

• Pembandingan data post mortem dengan ante mortem

• Apabila data yang dibandingkan terbukti cocok maka dikatakan identifikasi positif atau telah tegak

• Apabila data yang dibandingkan ternyata tidak cocok maka identifikasi dianggap negative dan data pos mortem jenazah tetap disimpan sampai deitemukan data antemortem yang sesuai

Returning to the Family (Debriefing)

• Korban yang telah diidentifikasi direkonstruksi hingga didapatkan kondisi kosmetik terbaik kemudian dikembalikan kepada keluarganya untuk dimakamkan

Indikator kesuksesan suatu proses Disaster Victim Identification

bukan didasarkan pada cepat atau tidaknya proses terseebut

berlangsung, tetapi lebih didasarkan pada akurasi atau ketepatan

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum, debridement pada komponen tulang dapat dilakukan dengan konserati, namun, bila terjadi ineksi atau kemungkinan terjadinya ineksi maka dilakukan

Hasil penelitian Gerungan (2016) melaporkan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Intra Uterine Fetal Death (IUFD) Di RS UP Prof Dr.R.D.Kandou Manado didapatkan

Hasil penelitian terdiri dari Anggaran Pendapatan dan Belanja (APB) Desa terdiri pendapatan desa, yang masih mengandalkan dana transfer dari pemerintah pusat yaitu

Grieshaber (1994) mengemukakan bahwa keberhasilan pelatihan yang telah dicapai dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain modul pelatihan, fasilitator dan

Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga skripsi dengan judul “PERLINDUNGAN UPAH DAN WAKTU KERJA

Pada penelitian ini membahas perancangan purwarupa pengendali pintu pagar rumah otomatis dengan menggunakan mikrokontroller arduino dan modul WiFi ESP8266

Peran dan fungsi Biro Humas dan Protokol Pemprov Jabar pada kegiatan “Bandung Lautan Sepeda” se- jalan dengan tugas pokok dalam pelayanan informasi, meliputi koordinasi dan

Mesin Egg Grader menggunakan kontroler Arduino 2560 sebagi prosesor, sensor infrared digunakan sebagai sensor kedatangan, sensor berat loadcell dengan driver HX711