Forensik dan Medikoetikolegal
Forensik
Visum et Repertum Tanatologi Traumatologi Forensik Asfiksia Drowning Luka TembakTrauma Panas, Dingin, dan Listrik Kasus Kejahatan Seksual dan Abortus
Infanticide
Disaster Victim Management and Forensic Identification
Medikoetikolegal
Surat Kematian
Informed Consent
Biomedical Ethics
Medical Professionalism
Medical Record
Medical Risk and Malpractice
Norma Praktik Kedokteran
Euthanasia
©Bimbel UKDI MANTAPVisum et Repertum
Definisi Visum et Repertum
• Keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan tertulis penyidik yang
berwenang, mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, baik hidup atau mati
ataupun bagian atau diduga bagian tubuh manusia berdasarkan keilmuannya dan dibawah
sumpah, untuk kepentingan peradilan
Dasar Hukum
• Staatsblad (Lembaran Negara) No 350 Tahun 1937 pasal 1 dan 2 yang menyatakan VeR adalah
“Suatu Keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah atau janji tentang apa yang
dilihat pada benda yang diperiksanya yang mempunyai daya bukti dalam perkara pidana”
• Pasal 133 KUHAP: “Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang
korban baik luka, keracunan, ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya”
• PP No 27 tahun 1983: “Penyidik polri berpangkat serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua,
kepangkatan penyidik pembantu adalah bintara serendah-rendahnya adalah Sersan Dua”
Nilai Visum et Repertum
• KUHAP pasal 184: Alat bukti yang sah adalah:
• 1. Keterangan saksi
• 2. Keterangan ahli
• 3. Surat
• 4. Petunjuk
• 5. Keterangan terdakwa
• Keterangan ahli tidak hanya terbatas pada “apa yang dilihat dan ditemukan oleh si
pembuat”
• Visum et Repertum terbatas pada “apa yang dilihat dan ditemukan oleh si pembuat”,
sehingga dimasukkan ke dalam alat bukti surat
Jenis Visum et Repertum
VeR perlukaan
(termasuk
keracunan)
Deskripsi luka Penyebab luka Derajat luka
VeR kejahatan
susila
Bukti
persetubuhan Bukti kekerasan Perkiraan umur
Pantas tidaknya korban untuk
dikawin
VeR psikiatrik
Penyakit jiwaKejahatan sebagai produk
penyakit jiwa
Psikodinamik kejahatan
Bentuk dan Susunan Visum et Repertum
Pro Justitia
• Ditulis di bagian atas visum
• Sudah dianggap sama dengan materai • Kata Pro Justitia artinya Demi Keadilan,
mengandung arti laporan yang dibuat untuk tujuan peradilan
Bagian Pendahuluan
• Kata “Pendahuluan” tidak ditulis dlm VeR • Berisi tentang waktu, tempat
pemeriksaan, atas permintaan siapa, nomor, tanggal surat, dokter, pembantu yang memeriksa, identitas korban, mengapa diperiksa
Bagian Pemberitaan
• Bagian ini berjudul “ Hasil Pemeriksaan” • Berisikan apa yang dilihat dan ditemukan
Bagian Kesimpulan
• Memuat intisari dari hasil pemeriksaan, disertai pendapat dokter yg
memeriksa/menyimpulkan kelainan yg terjadi pada korban
• Jenis luka/cedera yg ditemukan, jenis kekerasan, derajat luka atau sebab kematian
Bagian Penutup
• Bagian ini tidak berjudul
• Memuat pernyataan VeR dibuat atas sumpah dokter, menurut pengetahuan pengetahuan yang sebaik-baiknya dan sebenarnya
• Cantumkan Lembaran Negara No 350 tahun 1937 atau berdasarkan KUHAP
Kerahasiaan dalam Hasil Pemeriksaan Forensik
• Rahasia jabatan bukan berdasarkan azas kepercayaan, diwajibkan bagi pejabat Negara
• Rahasia pekerjaan berdasarkan azas kepercayaan, bersifat swasta
• Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran juga berlaku
untuk bidang kedokteran forensik
• Pasal 1 Rahasia kedokteran adalah segala sesuatu yang diketahui pada waktu atau selama
melakukan pekerjaan kedokteran
• Pasal 2 Bila ada peraturan yang sederajat atau lebih tinggi dari PP No 10 tahun 1966, maka wajib
simpan rahasia kedokteran tidak berlaku
• Pasal 3 Orang yang sedang menjalani pendidikan di bidang kedokteran juga wajib simpan
rahasia
• Penggunaan keterangan ahli, atau VeR hanya untuk keperluan peradilan
• Berkas VeR hanya boleh diserahkan kepada penyidik yang memintanya
Pengungkapan Rahasia Kedokteran
• Walaupun pengadilan meminta seorang dokter untuk membuka rahasia kedokteran,
dokter memiliki hak tolak (verschoningsrecht) (Pasal 170 KUHAP)
• Pertimbangan hakim dapat membatasi hak tolak dokter, yakni apabila kepentingan
yang dilindungi pengadilan lebih tinggi dari rahasia kedokteran
• Pengungkapan rahasia kedokteran dapat dilakukan dalam kondisi (Benhard Knight,
1972):
• Adanya persetujuan pasien
• Berdasarkan perintah hukum
• Berdasarkan perintah pengadilan
• Kepentingan umum menyangkut masalah kesehatan dan keselamatan umum
• Pasal 10 ayat (2) Permenkes 269/2008: Kepentingan pasien, permintaan aparatur
penegak hukum, permintaan pasien, permintaan institusi sesuai
perundang-undangan, penelitian pendidikan audit medis tanpa menyebutkan identitas pasien.
©Bimbel UKDI MANTAPAplikasi Visum et Repertum
VeR hidup untuk perlukaan
• Pada korban yang diduga korban tindak pidana, pencatatan rekam medik harus lengkap dan jelas
sehingga dapat digunakan untuk pembuatan visum et repertum
• Pada korban luka sedang-berat akan datang ke dokter sebelum melapor ke penyidik/tanpa surat
permintaan VeR (surat terlambat) → tetap dibuatkan VeR setelah perawatan/pengobatan selesai
• Jika masih diperlukan pemeriksaan ulang → VeR sementara
• VeR definitif: dibuat seketika, korban tidak memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan
sehingga dapat dibuat kesimpulan.
• VeR sementara: VeR yang dibuat untuk sementara waktu karena korban memerlukan perawatan &
pemeriksaan lanjutan sehingga derajat perlukaan belum dapat ditentukan. VeR ini tidak ditulis
kesimpulan tapi hanya keterangan bahwa saat VeR dibuat korban masih dalam perawatan.
• VeR lanjutan: VeR yang dibuat setelah luka korban telah dinyatakan sembuh atau pindah rumah
VeR hidup untuk kasus kejahatan seksual
• Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan barang
bukti, kalau korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari
polisi, jangan diperiksa, minta korban kembali kepada polisi
• VeR harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan pada waktu
permintaan pembuatan VeR diterima oleh dokter
• Bila korban datang atas inisiatif sendiri dilakukan pemeriksaan oleh dokter
kembali bersama polisi membawa surat permintaan VeR beberapa waktu
kemudian dokter harus menolak membuat VeR, karena segala sesuatu
yang diketahui sebelum permintaan VeR datang merupakan rahasia
kedokteran (KUHP pasal 322)
• Apabila tetap ingin membuat VeR dibuat berdasarkan keadaan saat ini
hasil pemeriksaan yang lalu diberikan dalam bentuk surat keterangan
Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomer 1226/Menkes/SK/XII/2009
©Bimbel UKDI MANTAP
VeR Jenazah
• Pasal 134
• (1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah
mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih
dahulu kepada keluarga korban.
• (2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan
sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
• (3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga
atau pihak yang diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.
• Apabila jenazah dibawa pulang paksa, maka baginya tidak ada surat keterangan
Tanatologi
Bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari kematian dan
perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi
perubahan tersebut
Dipergunakan untuk kepentingan medikolegal
Medical examiner (physician) investigate the cause, mechanism, and
Tanda Kematian
Tanda Kematian Tidak Pasti
• Pernafasan berhenti, dinilai selama 10
menit
• Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15
menit
• Kulit pucat
• Tonus otot menghilang dan terjadi
relaksasi primer
• Pembuluh darah retina mengalami
segmentasi ke arah tepi retina
• Pengeringan kornea menimbulkan
kekeruhan
Tanda Pasti Kematian
• Lebam mayat (livor mortis)
• Kaku mayat (rigor mortis)
• Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
• Pembusukan (decomposition, putrefaction)
• Adiposera
• Mummifikasi
Tanda Kematian Pasti
Algor Mortis
• Penurunan suhu tubuh setelah kematian karena proses perpindahan panas melalui
cara konduksi, konveksi, evaporasi, dan radiasi
• Grafik penurunan suhu tubuh berbentuk sigmoid
• Hubungan penurunan suhu dengan lama kematian
• Dua jam pertama suhu turun setengah dari perbedaan antara suhu tubuh dan
suhu sekitarnya
• Dua jam berikutnya suhu tubuh turun setengah dari nilai pertama
• Dua jam selanjutnya suhu tubuh turun setengah dari nilai kedua
• Dua jam selanjutnya suhu tubuh turun setengah dari nilai terakhir atau 1/8 dari
nilai awal
Livor Mortis
• Pewarnaan ungu kemerahan pada kulit di bagian terendah tubuh setelah kematian
• Sinonim hypostasis, post-mortem staining, post-mortem lividity, suggilation
• Cessation of the circulation relaxation of the muscular tone of the vascular bed
gravity pulls down stagnant blood to the lowest accessible area sedimentation of
red cells bluish red discoloration
• Distributed to the lowest area with free compression depend on the body
position after death
©Bimbel UKDI MANTAP
20-30 menit pasca mati Mulai tampak 30menit - 8 jam pasca mati Hilang dengan penekanan
8-12 jam pasca mati Menetap atau tidak
hilang dengan penekanan
Warna Khusus
Cherry pink Carbon Monoxide poisoning
Acts in part by tying up hemoglobin (200 times that of oxygen), saturation from 20-30% will appear as cherry-red lividity Pink around large joints Hypothermia
Wet skin allows atmospheric oxygen to pass through, and also at low temperature hemoglobin has a greater affinity for oxygen Bright red Cyanide poisoning
Inhibits cytochrome c oxidase and prevents utilization of oxygen Reddish Burn and coal
Dark bluish violet Asphyxia
Dark Brown Phosphorous, chlorate, nitrite, aniline poisoning Increases production of methemoglobin
Blackish Opium poisoning
Rigor Mortis
• Temperature-dependent physicochemical change that occurs within muscle cells as a result of lack of oxygen
• Periode Relaksasi Primer
• Terjadi segera setelah kematian, berlangsung selama 2-3 jam, seluruh otot mengalami relaksasi dan dapat
digerakkan ke segala arah
• Kaku Mayat (Rigor Mortis)
• Setelah terjadi kematian tingkat seluler, karena ketiadaan oksigen, maka asam laktat akan terbentuk dan
ATP tidak dihasilkan lagi
• Dalam keadaan ATP rendah dan tingkat keasaman yang tinggi, maka serabut aktin dan myosin akan
berikatan dan menimbulkan kekakuan
• Kekakuan dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah dalam (sentripetal) dan menjalar
kraniokaudal
• Periode Relaksasi Sekunder
• Terjadi relaksasi kembali karena telah terjadi dekomposisi dari serabut aktin dan myosin
0-2 jam pasca mati
Terjadi relaksasi primer
2 jam pasca mati
Kaku mayat mulai tampak
12-24 jam pasca mati
Kaku mayat lengkap seluruh tubuh
24-36 jam pasca mati
Terjadi relaksasi sekunder ©Bimbel UKDI MANTAP
Diagnosis Banding Kaku Mayat
Kekakuan karena panas (Heat
stiffening)
• Terjadi jika mayat terpapar pada
suhu yang lebih tinggi dari 75
oC,
atau jika mayat terkena arus
listrik tegangan tinggi terjadi
koagulasi
protein sehingga otot
menjadi kaku
• Pada kasus terbakar, keadaan
mayat menunjukan postur
tertentu yang disebut dengan
pugilistic attitude, yaitu suatu
posisi di mana semua sendi
berada dalam keadaan
fleksi
dan
tangan terkepal
• Perbedaan antara kaku mayat
dan kaku karena panas adalah
adanya tanda bekas terbakar,
otot akan mengalami laserasi bila
dipakasa untuk diregangkan, dan
tidak terjadi relaksasi primer
maupun sekunder
Kekakuan karena dingin (Cold
stiffening)
• Pada suhu yang sangat dingin,
terjadi pembekuan jaringan
lemak dan otot
• Bila sendi ditekuk akan terdengar
bunyi pecahnya es dalam rongga
sendi
• Bila mayat dipindahkan ke
tempat dengan suhu lingkungan
yang lebih tinggi maka kekakuan
akan hilang
Spasme cadaver (Cadaveric
spasm, instantaneous rigor)
• Keadaan ini terjadi jika sebelum
meninggal, korban melakukan
aktivitias tinggi, sehingga lebih
cepat mengalami kekakuan
setelah meninggal
• Pada kekakuan ini tidak
mengalami tahapan relaksasi
primer dan bentuk kekakuan
menunjukkan aktivitas terakhir
korban
Pembusukan (decomposition, putrefaction)
• Proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolysis dan putrefaksi
• Autolisis pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril
oleh kerja enzim digestif yang dilepaskan sel pasca mati
• Putrefaksi Clostridium welchii melakukan proses pembusukan dengan darah
sebagai media pertumbuhan dan menghasilkan gas-gas alkane, H2S, dan HCN,
serta asam amino dan lemak
• Pertama kali tampak pada perut kanan bawah berwarna hijau kekuningan oleh
karena terbentuknya sulf-met-hemoglobin
• Lalat menempatkan telur pada mayat 8-24 jam menetas menjadi belatung 4-5
hari menjadi pupa 4-5 hari kemudian menjadi lalat dewasa
©Bimbel UKDI MANTAP
24 jam pasca mati
Pembusukan mulai terjadi
36 jam pasca mati
Kulit melepuh (blister) Munculnya belatung
Dekomposisi organ yang cepat membusuk (laring, trakea, otak, GI
tract Dekomposisi organ yang lambat membusuk (uterus non-gravid, prostat)
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembusukan
• Temperatur temperatur ideal untuk
pembusukan adalah 70-100
oF, melambat bila di
bawah 70
oF atau di atas 100
oF, dan berhenti di
bawah 32
oF atau di atas 212
oF
• Udara Pembusukan lebih cepat terjadi di
udara terbuka dibandingkan di dalam air dan di
dalam tanah
• Kelembaban Keadaan
lembab
mempercepat
proses pembusukan
• Penyebab kematian Bagian tubuh yang
terluka
mempercepat pembusukan, dan mayat
penderita yang meninggal karena penyakit
kronis lebih cepat membusuk daripada mayat
orang yang sehat
Dalam
Tanah
Air
Udara
CEPAT
Hangat
Lembab
LAMBAT
Adiposera
• Terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau berminyak berbau tengik akibat
hidrolisis lemak
yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati
• Faktor-factor yang mempermudah pembentukan adalah kelembaban tinggi, suhu hangat, dan
lemak tubuh yang cukup
• Faktor-factor yang menghambat pembentukan adalah kelembaban rendah, suhu dingin, dan
adanya air yang mengalir
• Proses: early stages of formation (pale, greasy, unpleasant smell hydrolysis progress (more
brittle and whiter) fully formed (grey, waxy compound that maintains the shape of the body
Mumifikasi
• Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi
pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan
• Jaringan menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput, dan tidak membusuk
• Terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara baik, tubuh yang dehidrasi, dan
waktu yang lama
- Tepi luka tidak rata
- Bisa ditemukan jembatan jaringan
Traumatologi Forensik
- Tepi luka rata
- Tidak ada jembatan jaringan
Trauma
Tumpul
Vulnus excoriatum/lecet Lecet gores Lecet serut Lecet tekan Lecet geser Contusio/memar Vulnus laseratum/robekTajam
Stab/tusuk Vulnus incisum/iris Chop/bacokVulnus excoriatum (luka lecet)
• Removal of the superficial epithelial layer of the skin (epidermis) by friction against rough
surface/compression
• Luka lecet gores benda runcing (misalnya kuku) mengeser lapisan permukaan kulit
(epidermis) dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah
kekerasan yang terjadi
• Luka lecet serut variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan
permukaan kulit yang lebih lebar
• Luka lecet tekan penjejakan benda tumpul pada kulit sehingga ditemukan kulit yang kaku
dan gelap pada area penekanan akibat pemadatan jaringan yang tertekan
• Luka lecet geser tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser, misalnya pada kasus
gantung diri
Vulnus Excoriatum
Tangential
(friction/sliding/scrape)
Linear (luka lecet gores)
Brush (luka lecet serut)
Compression
(crushing/pressure)
Compression only (luka
lecet tekan)
Compression and sliding
(luka lecet geser)
Antemortem
Abrasions
• Reddish-brown
color
• Margins are
blurred due to
vital reactions
Postmortem
Abrasions
• Yellowish in
color
• Translucent area
• Margins are
sharply defined
• Absence of vital
reactions
Contusio (luka memar)
• Infiltration or extravasation of blood into the tissue due to rupture of vessels
by the application of blunt force
• Terjadi pada subkutan tanpa diskontinuitas kulit
• Contusio superfisial akan segera muncul dengan warna kemerahan, contusion
yang lebih dalam akan muncul beberapa saat kemudian
©Bimbel UKDI MANTAP
Haemosiderin (iron pigment), dark brown color to blue color (2-4
days) Haematoidin (iron-free pigment), green color (5-7 days) Bilirubin, yellow color (7-10 days) Normal color of skin (15-20 days)
Vulnus laceratum (luka robek)
• Luka terbuka akibat trauma benda tumpul yang menyebabkan kulit
teregang ke satu arah dan bila batas elastisitas kulit terlampaui, maka
akan terjadi robekan pada kulit
• Bentuk luka tidak beraturan, tepi tidak rata, tampak jembatan jaringan
Lecet geser
Lecet tekan
Contusio
Contusio
Stab wound/luka tusuk
• Deep wounds produced by the pointed end of a weapon or an object, entering the body
• The depth of the wound track in the body is longer than its length on the skin
• Sudut luka dapat memperkirakan benda penyebabnya, bila satu sudut luka lancip dan
yang lain tumpul, berarti benda tajam bermata satu, bila kedua sudut luka lancip, berarti
benda tajam bermata dua
©Bimbel UKDI MANTAP
Vulnus incisum (luka iris)
• Produced by sharp cutting instruments (knife, razor, blade)
• The sharp edge of the instrument is pressed into and drawn along the surface of the skin,
producing a wound whose length is greater than its depth
• Edges are regular, clear cut, retracted and averted, except in neck and scrotum, edges are inverted
• Drawing cuts deeper at start, gradually become shallow and at the end only skin is cut with
scratch “tailing of the wound”
• Sawing cuts multiple at the beginning and only one deep cut wound called “tentative or
hesitation cuts”
• Bevelling cuts when weapon is used oblique or tangential way over the body
Chop (luka bacok)
• A chop wound is produced by an heavy instrument with a cutting edge (for example ‘axe’)
• It is an incised-like wound but it’s depth is almost same great as its length
Pembunuhan
Bunuh Diri
Kecelakaan
Lokasi luka
Sembarang
Terpilih
Terpapar
Jumlah luka
Banyak
Banyak
Tunggal/banyak
Pakaian
Terkena
Tidak terkena
Terkena
Luka tangkis
Ada
Tidak ada
Tidak ada
Luka percobaan
Tidak ada
Ada
Tidak ada
Cedera sekunder
Mungkin ada
Tidak ada
Mungkin ada
Luka iris: jembatan jaringan (-),
tepi luka rata
Luka bacok: tepi luka rata,
panjang=dalam
Derajat Perlukaan
Luka Ringan
• Tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan jabatan atau pekerjaan (KUHP 352)
• Umumnya tanpa luka, atau dengan luka lecet atau memar kecil di lokasi yang tidak
berbahaya/tidak menurunkan fungsi alat tubuh
Luka Sedang
• Di antara luka ringan dan luka berat
• Mengakibatkan korban tidak dapat melakukan
pekerjaannya karena sakit (pijn/pain) yang dialami, tetapi tidak sampai mengakibatkan luka berat
• Dapat merupakan hasil dari tindak penganiayaan (KUHP pasal 351 (1) atau 353 (3))
Luka Berat
• Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali atau menimbulkan bahaya maut (KUHP 90)
• Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan • Kehilangan salah satu panca
indra
• Cacat berat • Sakit lumpuh
• Terganggu daya pikir selama empat minggu lebih
• Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan
Luka Tembak
Definition
• Gunshot wound is a wound caused by a bullet
with or without any other components coming
out of the gun barrel at the time of firing
Components attending the bullet at the
time of firing
• Smoke
• Gunpowder particles
• Flame
COMPONENTS ATTENDING THE BULLET
©Bimbel UKDI MANTAP
SMOKE
BULLET
GUNPOWDER
Senjata Api
Senjata api dengan
laras beralur
(Rifled Bore)
Arah putar ke kiri
(Colt)
Arah putar ke
kanan (Smith dan
Wesson)
Senjata api dengan
laras licin (Smooth
Bore)
Luka Tembak Masuk
The bullet is the most responsible for causing the wound
• Principally, a bullet causes an entrance wound, consisting of two part:
a hole surrounded by abrasion zone
• Because the form of the wall inside the barrel is spiral groove, the
bullet passing it will rotate on its axis
• This rotating movement keep the bullet move relatively in a straight
line after leaving the barrel
• When it touches the skin, its rotating movement scratches the soft
tissue causing
an abrasion zone
• Because the kinetic energy of the bullet is far more powerful than the
elasticity of the skin, the bullet penetrate the skin easily and causing
a
bullet hole
Bullet Hole
Wound Shape
• A bullet perpendicularly hitting a
body part having low density, such
as the stomach, will cause
a
round-shape bullet wound
• When it hits part of the body with
higher density, the head, for
instance, part of its kinetic energy
and the hot gas will be flung back
causing irregular laceration on the
soft tissue surrounding the bullet
hole creating
stellar-shape wound
A Bullet Hits the Stomach Perpendicularly
©Bimbel UKDI MANTAP
Bullet Hole
Abrasion Zone
A Bullet Hits the Head Perpendicularly
Bullet Hole
Luka Tembak Keluar
Exit Wound
• If the bullet hits the body and the
penetrating power strong enough, it can
pass the body and causing an exit wound
on the opposite side of the body
• Beside have no marginal abrasion, exit
wounds are characteristically large and
irregular, consisting of holes and
lacerations
• This large and irregular wound take place
when splintered bone is carried out with
the bullet at exit
• Laceration Like
• No Abrasion Zone
Gunpowder Particles
Effect (Kelim Tatto)
• Gunpowder particles effect
black spots surrounding the
gunshot wound
• Those gunpowder particles had
gone so deep into the flesh that
to remove them by rubbing the
skin surface was ineffective
• Gunpowder particles can reach
the target
at a range of 60 cm
©Bimbel UKDI MANTAP
Bullet Hole
Abrasion Zone
Gunpowder
Particles
Smoke Effects (Kelim
Jelaga)
• Because of the imperfect
burning process, soot will
be resulted in
• The soot is found only on
the surface,
easily removed
by rubbing
• Soot is capable of reaching
a target at
a range of 20-30
cm
Bullet Hole
Abrasion Zone
Gunpowder
Particles
Soot
Flame Effect (Kelim
Api)
• Flame/hot gas will burn
the skin when the bullet
hits the target
• Flame can reach a target
at a range of 15 cm
©Bimbel UKDI MANTAP
Bullet Hole
Abrasion Zone
Gunpowder
Particles
Soot
Burn
GUNSHOT WOUND CLASIFICATION
Contact Wound (Luka Tembak Tempel)
• A muzzle impression occurs when the muzzle of the
gun is placed tightly against the surface of the target
at the moment of firing.
• Part of the body with high density, bone area, for
example, will receive a clearer muzzle impression
• Hard pressure of the gun muzzle to the target is
called hard contact, whereas soft pressure is called
soft contact
Muzzle Mark (Kelim Senjata)
• A contact wound is usually round in shape with ring
like abrasion
• Discovered on the outside part of the wound is a
muzzle mark
• The wound will look dirty because of grease and
combustion products such as gunpowder particles
and soot
Dirty Bullet Hole
Muzzle Rim Mark
Blackish Abrasion
Hard Contact
• Hard pressure of the gun muzzle
to the target brings about a
perfect contact in that the skin
forms a seal around the muzzle
• So that the flinging back of the
firing power and hot gas will
violently pass through the soft
tissue, causing irregular
lacerations surrounding the
wound with a muzzle mark on the
outside of the wound
Soft Contact
• Because soft pressure of the gun
muzzle to the target produces an
imperfect contact, there may be
some openings along the contact
area
• What follows is that the flinging
back of the firing power and
combustions products will escape
sideways passing these openings,
causing blackish and dirty abrasion
surrounding the wound with or
without a muzzle mark on the
outside of the wound
The abrasion ring, and a very clear muzzle imprint, are seen in this hard
contact range gunshot wound
This is a soft contact range gunshot entrance wound with grey-black discoloration from the burned powder
Very Close Range Wound (Luka Tembak Jarak Sangat Dekat)
• At the time of firing, smoke brings about soot on the surface of a target. The smoke is still capable of reaching a
target at a range of 30 cm
• Flame or hot gas will cause burn area surrounding a gunshot wound. Flame can reach a target up to 15 cm
firing distance
• The presence of soot and burn area surrounding a gunshot wound indicates that it is a very close range
wound
Close Range Wound (Luka Tembak Jarak Dekat)
• Gunpowder particles still can reach a target at a range of 60 cm. They effect black spots surrounding the
gunshot wound. When a gunshot wound is surrounded by only these black spots, it is classified into close
range wound
Distant Wound (Luka Tembak Jarak Jauh)
• When at the time of firing, gunpowder particles miss the firing target, the wound will be formed only by the
moving bullet
• The moving bullet causes a wound, consisting of two parts which are a hole and its surrounding abrasion zone.
This wound is classified into long range wound
Sangat Jauh > 60 cm
Anak peluru
Jauh < 60 cm
Anak peluru
Kelim tattoo
Dekat < 30
Anak peluru
Kelim tattoo
Kelim jelaga
Kelim api (<15
cm)
Tempel
Anak peluru
Kelim tattoo
Kelim jelaga
Kelim api
Kelim senjata
©Bimbel UKDI MANTAPAsfiksia
Definisi
• Suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernapasan, mengakibatkan
oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbon dioksida (hiperkapnea)
Etiologi
• Penyebab alamiah penyakit yang menyumbat saluran napas seperti laryngitis difteri atau
menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru
• Trauma mekanik trauma yang mengakibatkan asfiksia mekanik melalui sumbatan atau halangan pada
saluran napas
• Keracunan bahan yang menimbulkan depresi pusat pernapasan
Hipoksik-hipoksia Di
mana oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi
darah
Anemik-hipoksia Darah
yang tersedia tidak dapat membawa oksigen yang cukup untuk metabolism
dalam jaringan
Stagnan-hipoksia Di mana
oleh karena sesuatu terjadi kegagalan sirkulasi
Histotoksik-hipoksia Di
mana oksigen yang terdapat di dalam darah, oleh karena
sesuatu hal, tidak dapat dipergunakan oleh jaringan
Fase Asfiksia
Fase Dispnea
• Penurunan kadar oksigen dan peningkatan kadar karbon dioksida merangsang respiratory center di medulla oblongata amplitude dan frekuensi pernapasan meningkat sebagai kompensasi terjadi dyspnea
Fase Konvulsi
• Peningkatan karbon dioksida lebih lanjut merangsang susunan saraf pusat terjadi konvulsi (kejang) kejang klonik kejang tonik spasme opistotonik
Fase Apnea
• Depresi respiratory center pernapasan melemah kesadaran menurun dan relaksassi sfingter
Fase Akhir
• Paralisis pusat pernapasan lengkap
Pemeriksaan Jenazah
Pemeriksaan Luar
• Sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku • Warna lebam mayat merah-kebiruan gelap dan
terbentuk lebih cepat distribusi lebam lebih luas akibat kadar CO2 yang tinggi dan aktivitas fibrinolisin sehingga sulit membeku dan mudah mengalir
• Terdapat busa halus pada hidung dan mulut oleh karena peningkatan frekuensi dan amplitude
pernapasan dan sekresi lendir pada fase dyspnea • Pembendungan pada mata berupa pelebaran
pembuluh darah konjungtiva bulbi dan palpebral terjadi pada fase konvulsi
• Muncul Tardieu’s spot peningkatan tekanan vena dengan cepat berakibat pecahnya venula kapiler di daerah dengan jaringan ikat longgar (konjungtiva bulbi, pleura, epikardium). Kondisi hipoksia juga berperan melemahkan dinding venula.
Pemeriksaan Dalam
• Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer • Busa halus di saluran pernapasan
• Pembendungan sirkulasi sehingga organ menjadi lebih berat, lebih gelap, dan bila diiris mengeluarkan banyak darah
• Petekie pada mukosa-mukosa organ dalam • Edema paru
Asfiksia
Pembekapan
(Smothering)
Penyumbatan
(Gagging dan
Choking)
Pencekikan
(Manual
Strangulation)
Penjeratan
(Strangulation)
Gantung
(Hanging)
Tenggelam
(Drowning)
Pembekapan (Smothering)
• Penutupan lubang hidung dan mulut yang menghambat pemasukan udara ke paru-paru
• Bunuh diri (suicidal smothering) misal pada penderita penyakit jiwa menggunakan bantal untuk
menutupi hidung dan mulut
• Pembunuhan (homicidal smothering) misal pada kasus pembunuhan anak sendiri
• Kecelakaan (accidental smothering) missal pada bayi bulan-bulan pertama kehidupannya
• Pemeriksaan luar luka lecet tekan atau geser pada hidung, bibir, dagu, permukaan gusi dan gigi
Penyumbatan (Gagging dan Choking)
• Gagging sumbatan jalan napas pada orofaring
• Choking sumbatan jalan napas pada laringofaring
• Bunuh diri (suicidal choking) jarang terjadi karena ada reflex batuk dan muntah
• Pembunuhan (homicidal choking) umumnya korban adalah bayi atau orang dengan fisik yang
lemah
• Kecelakaan (accidental choking) tersedak makanan saat berbicara atau tertawa (bolus death)
• Pemeriksaan luar terdapat benda asing pada mulut, orofaring, atau laringofaring
Pencekikan (Manual Strangulation)
• Penekanan leher dengan tangan, yang menyebabkan dinding saluran napas bagian atas tertekan dan terjadi
penyempitan saluran napas sehingga udara pernapasan tidak dapat lewat
• Pemeriksaan luar
• Pembendungan muka dan kepala akibat tertekannya pembuluh vena dan arteri superfisial
• Luka lecet kecil, dangkal, berbentuk bulan sabit akibat penekanan kuku jari
• Fraktur tulang lidah (os hyoid) dan kornu superior kartilago thyroid unilateral
Penjeratan (Strangulation)
• Penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang, rantai, kawat dan sebagainya melingkari atau mengikat
leher hingga saluran pernapasan tertutup
• Bunuh diri (self strangulation) pengikatan oleh korban sendiri dengan simpul hidup dengan jumlah lilitan
lebih dari satu
• Pembunuhan pengikatan biasanya dengan simpul mati
• Kecelakaan misalnya pekerja yang bekerja dengan tali kemudian terjatuh dan terlilit
• Pemeriksaan luar
• Jejas jerat biasanya mendatar, lebih rendah dari jejas jerat pada kasus gantung
• Pola jejas dapat dilihat dengan menempelkan transparent scotch tape, kemudian dilihat di bawah mikroskop
• Terdapat luka lecet tekan di sekitar jejas jerat
Gantung (Hanging)
• Kasus gantung hamper sama dengan kasus penjeratan, namun asal tenaga jerat berasal dari tubuh korban
sendiri
• Berdasarkan posisi korban
• Complete hanging kedua kaki tidak menyentuh lantai
• Partial hanging kedua kaki masih menyentuh lantai
• Berdasarkan posisi titik gantung
• Typical hanging titik gantung terletak di atas daerah oksiput dan tekanan pada arteri karotis paling besar
• Atypical hanging titik gantung terdapat di samping, sehingga leher dalam posisi sangat miring (fleksi lateral)
• Asfiksia seksual (Auto-erotic hanging)
• Deviasi seksual yang menggunakan cara gantung atau jerat untuk mendapatkan kepuasan terlambat
mengendurkan tali atau melepaskan diri setelah kehilangan kesadaran
Drowning
Definisi
• Kematian akibat mati lemas
(asfiksia) disebabkan masuknya
cairan ke dalam saluran pernapasan
Klasifikasi
• Immersion seluruh tubuh masuk
ke dalam air
• Submersion sebagian tubuh
(kepala) masuk ke dalam air
©Bimbel UKDI MANTAP
Vicious Cycle of Drowning
Water enters respiratory
passage
Cough reflex
Air driven out of lungs Need for air
Deep inspiration
Mekanisme
Kematian
Asfiksia (Wet
Drowning)
Air Tawar: Konsentrasi elektrolit lebih rendah → Hemodilusi
darah, air masuk ke dalam aliran darah sekitar alveoli → Hemolisis
→ Pelepasan ion K⁺→ terjadi perubahan keseimbangan ion K⁺ dan
Ca⁺⁺ dalam serabut otot jantung dan mendorong terjadinya
fibrilasi ventrikel
Air Asin: Konsentrasi elektrolit lebih tinggi → air akan ditarik dari
sirkulasi pulmonal ke dalam jaringan interstitial paru → oedem
pulmonal hemokonsentrasi, hipovolemi syok hipovolemik
dan henti jantung
Spasme Laring (Dry
Drowning)
Refleks Vagal
(Immersion
Syndrome)
Drowning Types
• I Dry Drowning or Immersion Syndrome
• IIa Fresh water
Pemeriksaan Jenazah pada Kasus Drowning
©Bimbel UKDI MANTAP
External Findings
• A “washerwoman” appearance in
the hands and soles (Look white
and wrinkled)
• “Goose flesh” (cutis anserina)
• “Mushroom like appearance” in
the nostrils, mouth, and airways
(white foam or hemorrhagic fluid)
• Cadaveric spasm
Internal Findings
• A white or hemorrhagic foam is
found in the trachea and bronchi
• Water may be found in the
stomach.
• There could be dilatation of the
right ventricle
• Pulmonary edema
• Brain swelling
Pemeriksaan Diatom
• Merupakan alga bersel satu dengan dinding terdiri dari silikat (SiO2) yang tahan panas dan asam kuat
• Pemeriksaan Destruksi Asam pada Paru
• Jaringan perifer paru diambil sebanyak 100 gram tambahkan asam sulfat pekat diamkan selama kurang
lebih setengah hari agar jaringan hancur dipanaskan dalam lemari asam sambil diteteskan asam nitrat
pekat sampai terbentuk cairan yang jernih dinginkan dan lakukan sentrifugasi hingga terbentuk sedimen
lihat di bawah mikroskop
• Pemeriksaan diatom positif bila terdapat 4-5 diatom/lpb atau 10-20 per satu sediaan
• Pemeriksaan Getah Paru
• Paru disiram air bersih iris bagian perifer ambil sedikit cairan perasan dari jaringan perifer taruh pada
gelas objek amati di bawah mikroskop
Pemeriksaan Darah Jantung (Getler Chloride Test)
• This is analysis of blood in the right and left sides of the heart
• In freshwater, the chloride level was high in the right
• In saltwater, the chloride level was high in the left
©Bimbel UKDI MANTAP
Trauma Panas, Dingin, dan Listrik
Trauma Panas
• Burns are caused by the transfer of energy from a physical or chemical source into living
tissues, which causes disruption of their normal metabolic processes and commonly leads
to irreversible changes that end in tissue death
• Complete epidermal necrosis can occur at 44°C if exposed for 6 hours, while such
necrosis occurs within 5 seconds at 60°C and less than 1 second at 70°C
• Burn where the heat source is dry
• Scalding where the heat source is wet with moist heat from hot water, steam and
other hot liquids
• Hyperthermia – a condition where the core body temperature is greater than 40°C
(100°F) – occurs when heat is no longer effectively dissipated, leading to excessive heat
retention
External and Internal Findings
• Finding of soot in the airways, oesophagus
and/or stomach – the implication that
respiration was required to inhale the soot
• Blood samples can be taken for a rapid
assessment of carboxyhaemoglobin, as a
convenient marker of the inhalation of the
combustion products of fire
• ‘Pugilist attitude’ of the body
• Post-mortem splitting of fragile burnt skin
• Heat-related ‘extradural haemorrhage’
• Toxic gas inhalation – CO (most common), cyanide,
acrolein, nitrogen dioxide, hydrochloric acid
- Often see soot in nose/mouth
- May produce edema, mucosal necrosis of upper
airway, or bronchospasm
- CO levels usually 30-60% in fire deaths
• Neurogenic shock secondary to severe pain
• Trauma
Immediate
• Delayed hypovolemic shock with renal failure
• ARDS
• Infection (pneumonia, sepsis, cutaneous)
• Pulmonary embolus due to immobilization
Trauma Dingin
• Deaths from exposure occur through heat loss from radiation, convection,
conduction, respiration and evaporation. Environmental temperatures below
10°C are probably sufficient to cause harmful hypothermia in vulnerable
individuals.
• Hypothermia occurs when a person’s normal body temperature of around
37°C (98.6°F) drops below 35°C (95°F). It is usually caused by being in a cold
environment. It can be triggered by a combination of factors, including
prolonged exposure to cold (such as staying outdoors in cold conditions or in a
poorly heated room for a long time), rain, wind, sweat, inactivity or being in
cold water.
External and Internal Findings
• Indistinct red or purple skin discoloration “frost erythema” over large joints, such as the
elbows, hips or knees (and in areas of skin in which such discoloration cannot be hypostasis)
• Haemorrhagic gastric lesions “Wischnewsky spots”
• Tissue injury that varies in severity from erythema to infarction and necrosis following
microvascular injury and thrombosis “frostbite”
• Paradoxical undressing is a phenomenon that describes the finding of partially clothed – or
naked – individuals in a setting of lethal hypothermia confusion and abnormal processing of
peripheral cutaneous stimuli in a cold environment, leading the individual to perceive warmth
and thus to shed clothing
• The phenomenon of ‘hide and die syndrome’ describes the finding of a body that appears to
be hidden terminal primitive ‘self-protective’ behavior and may be more commonly
Trauma Listrik
• The essential factor in causing harm is the current (i.e. an electron flow) which is measured in
milliamperes (mA). This in turn is determined by the resistance of the tissues in ohms and the
voltage of the power supply in volts (V).
• Usually, the entry point is a hand that touches an electrical appliance or live conductor, and the
exit is to earth (or ‘ground’), often via the other hand or the feet. In either case, the current will
cross the thorax, which is the most dangerous area for a shock because of the risks of cardiac arrest
or respiratory paralysis.
10 mA
Pain and muscle
twitching of the
hand
30 mA
‘Hold-on’ effect,
the muscles will go
into spasm, which
cannot be
voluntarily released
because the flexor
muscles are
stronger than the
extensors
50 mA
Fatal ventricular
fibrillation is likely
to occur
Internal and External Findings
• The focal electrical lesion is usually a blister ‘electric mark’, which occurs when the conductor is in firm contact with the skin and which usually
collapses soon after infliction, forming a raised rim with a concave centre
• The skin is pale, often white, and there is an areola of pallor (owing to local vasoconstriction), sometimes
accompanied by a hyperaemic rim • ‘Spark burn’, a central nodule of fused
keratin, brown or yellow in colour, is surrounded by the typical areola of pale skin
Lightning
• A lightning strike from cloud to earth high-voltage electricity (10 megavolt) and
100.000 A
• Some of the lesions caused to those who are struck directly or simply caught close to
the lightning strike are electrical, but other will be from burns and yet others result
from the ‘explosive effects’ of a compression wave of heated air leading to ‘burst
eardrums’, pulmonary blast injury and muscle necrosis/myoglobinuria
©Bimbel UKDI MANTAP
External and Internal Findings
• Partial or complete stripping of clothing from the victim ‘Blast
effect’
• Magnetization or even fusion of metallic objects in the clothing
• ‘Metalization’ penempelan partikel konduktor pada kulit
tubuh korban yang dapat diidentifikasi dengan pewarnaan
khusus
• ‘Fern or branch-like’ or ‘arborescent mark’ patterns on the skin
– the so-called Lichtenberg figure
Kasus Kejahatan Seksual
Pengertian
• Perkosaan adalah pengertian hukum bukan istilah medis, sehingga digunakan istilah persetubuhan
• Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undang-undang meliputi
persetubuhan di dalam perkawinan maupun di luar perkawinan
Pembuktian
• Hakim tidak dapat menjatuhkan hukuman kepada seorang terdakwa kecuali dengan
sekurang-kurangnya 2 alat bukti yang sah ia yakin bahwa tindak pidan tersebnut telah terjadi (pasal 183
KUHP)
• Ada tidaknya persetubuhan
• Ada tidaknya kekerasan
• Penentuan sudah atau belum waktunya untuk dikawin
Penentuan Jenis Delik
• Perkosaan Kekerasan atau ancaman kekerasan menyetubuhi seorang wanita di luar perkawinan, termasuk dengan
sengaja membuat orang pingsan atau tidak berdaya (pasal 89 KUHP)
• Persetubuhan di luar perkawinan
• Bila wanita berusia >15 tahun tidak dapat dihukum kecuali jika perbuatan dilakukan dalam keadaan wanita
pingsan atau tidak berdaya
• Bila wanita berusia 12-15 tahun dihukum karena wanita belum waktunya untuk dikawin, akan tetapi harus ada
pengaduan dari korban atau keluarganya (delik aduan)
• Bila wanita berusia <12 tahun dihukum karena wanita belum waktunya untuk dikawin dan tidak diperlukan adanya
pengaduan dari korban (delik temuan)
• Perzinahan Persetubuhan antara pria dan wanita di luar perkawinan, di mana salah satu diantaranya telah kawin
dan pasal 27 BW berlaku baginya. Pasal 27 BW adalah mengenai asas monogamy, di mana dalam waktu yang
bersamaan seorang laki-laki hanya boleh dengan satu istri, dan seorang perempun hanya noleh dengan satu suami.
• Perbuatan cabul Kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan
perbuatan cabul
• Pada kasus homoseksual atau lesbian dimasukkan sebagai kejahatan seksual bila partnernya belum dewasa,
dikatakan dewasa bila secara yuridis berumur di atas 21 tahun atau dibawahnya tapi sudah pernah kawin
Tanda Persetubuhan
• Penetrasi Penis
• Robekan pada selaput dara
• Luka-luka pada bibir
kemaluan dan dinding vagina
• Pancaran Air Mani (tanda
pasti)
• Sperma di dalam vagina
• Asam Fosfatase, Spermin,
Kholin
• Kehamilan
• Penyakit Kelamin
• GO
• Sifilis
Tanda Kekerasan
• Luka lecet bekas kuku, gigitan
(bitemark), serta luka memar
pada tubuh
• Pemeriksaan toksikologi obat
atau racun yang dapat
membuat pingsan
Penentuan Layak Dikawin
• Pemeriksaan identitas diri (KTP,
SIM, dll)
• Pemeriksaan erupsi gigi molar II
dan III
• Erupsi molar II 12 tahun
• Mineralisasi mahkota molar III
tanpa pembentukan akar gigi
12-15 tahun
• Erupsi molar III 17-21 tahun
• Pernah atau belumnya
menstruasi, bila belum pernah
menstruasi diobservasi
selama 8 minggu di rumah sakit
Abortus
Pengguguran kandungan menurut hukum
• Tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran, tanpa
melihat usia kandungannya
• Tidak dipersoalkan apakah dengan pengguguran kehamilan tersebut lahir bayi hidup atau mati
• Yang dianggap penting adalah kandungan masih hidup sewaktu pengguguran dilakukan
Abortus
Abortus
spontan
Abortus
Provokatus
Terapeutikus
Indikasi ibu
Indikasi anak
Kriminalis
Pelaku abortus yang terkena pidana
• Wanita yang sengaja menggugurkan kandungannya atau
menyuruh orang lain melakukannya (KUHP pasal 346)
• Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita lain tanpa
(KUHP 347) atau dengan seizinnya (KUHP 348)
• Dokter, bidan atau juru obat yang melakukan kejahatan di atas
(KUHP 349)
• Orang yang mempertunjukkan alat/cara mengugurkan kandungan
pada anak dibawah 17 tahun (KUHP 283)
• Barangsiapa menganjurkan/merawat/memberi obat kepada
seseorang wanita dengan memberi harapan agar gugur
kandungannya (KUHP 299)
Infanticide
Definisi
• Pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada saat dilahirkan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak
Kitab Undang-undang Hukum Pidana
• Pasal 341 Ibu dengan sengaja merampas nyawa anaknya karena takut ketahuan diancam karena pembunuhan anak sendiri dengan pidana penjara 7 tahun
• Pasal 342 Apabila didahului oleh niat atau rencana membunuh sebelumnya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana dengan pidana penjara 9 tahun
Faktor Penting
• Ibu Hanya ibu kandung sendiri yang dapat dihukum, apabila orang lain turut membantu maka orang lain tersebut diancam sebagai tindak pembunuhan biasa
• Waktu Tidak disebutkan batasan waktu, hanya dinyatakan “pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian” belum timbul rasa kasih sayang seorang ibu
Tugas Dokter
• Apakah bayi tersebut dilahirkan mati
atau hidup?
• Berapakah umur bayi tersebut? • Apakah bayi tersebut sudah dirawat? • Apakah sebab kematiannya?
©Bimbel UKDI MANTAP
Lahir Mati (stillbirth)
Kematian hasil konsepsi sebelum keluar atau dikeluarkan dari ibunya,
tanpa mempersoalkan usia kehamilan
Janin tidak bernapas atau tidak menunjukkan tanda kehidupan lain
Lahir Hidup (livebirth)
Keluar atau dikeluarkannya produk konsepsi yang lengkap, tanpa mempersoalkan usia gestasi dan
kondisi tali pusat, dan telah menunjukkan tanda kehidupan
Lahir Mati
Tanda maserasi (aseptic
decomposition) berlangsung dari
luar ke dalam
Dada belum mengembang
diafragma belum turun ke sela iga 4-5
Pemeriksaan makroskopik paru
paru belum mengisi rongga dada,
tidak teraba derik udara
Uji apung paru hasil negatif
(tenggelam)
Pemeriksaan mikroskopik paru
adanya tonjolan (projections) yang
berbentuk seperti bantal
Lahir Hidup
Tanda maserasi (aseptic
decomposition) tidak ada
Dada sudah mengembang
diafragma turun ke sela iga 4-5
Pemeriksaan makroskopik paru
paru sudah mengisi rongga dada,
teraba derik udara, seperti spons
Uji apung paru hasil positif
(terapung)
Pemeriksaan mikroskopik paru
tidak adanya tonjolan (projections)
yang berbentuk seperti bantal
Kemampuan Hidup (Viabilitas)
Parameter
Viable
Cukup Bulan
Umur kehamilan
>28 minggu
>36 minggu
Panjang kepala-tumit
>35 cm
>48 cm
Panjang kepala-tungging
>23 cm
>30-33 cm
Berat badan
>1000 gram
>2500-3000 gram
Lingkar kepala
>32 cm
33 cm
Tanda cacat bawaan
(-)
(+/-)
Tanda Perawatan
Ada tidaknya tanda-tanda perawatan:
• Ada tidaknya lumuran darah pada badan bayi • Ada tidaknya tanda-tanda perawatan tali pusat • Ada tidaknya lemak bayi yang jelas
• Pemberian pakaian bayi
Tanda Lain Bayi Cukup Bulan
• Lanugo sedikit,terdapat pada dahi, punggung, dan bahu
• Kartilago telinga telah sempurna (bila dilipat, cepat kembali ke keadaan semula) • Diameter tonjolan susu 7mm atau lebih • Kuku jari telah melewati ujung jari
• Garis telapak kaki telah melewati 2/3 telapak kaki
• Testis telah turun ke dalam skrotum • Labia minora telah tertutup oleh labia
Management of Disasters and Mass
Casualties
Definitions
• Event of serious magnitude causing severe damage to life and property. Loss of life of ten
persons or more may be considered as Mass Disaster
• An event, natural or man-made, sudden or progressive, which impacts with such severity
that the affected community has to respond by taking preventive measures (WHO)
©Bimbel UKDI MANTAP
Natural Disaster • Flood • Cyclone • Earthquake • Volcanic eruption • Epidemics • Tsunami Man-Made Disasters • Air crash • Sinking ship • Train accidents • Building collapse • Bomb blasts • Warfare
Problems
in Mass
Disasters
Big number of victims Difficult transportation to the area Need coordination inter-department• Deaths of a number of individuals take place, for which no prior data nor records are available.
OPEN
• The probable names of all the victims are known, as the number of individuals belonging to a fixed
identifiable group.
CLOSE
MIXED
DISASTER CLASSIFICATION BASED
ON POPULATION
(Hinchcliff, 2011)
Purpose
• Identification Human right
• Investigation The cause and
effect and preventive measures
Initial Action at the Disaster
Site
Collecting Post Mortem Data
Collecting Ante Mortem Data
Reconciliation (Comparing Data)
Returning to the Family
(Debriefing)
Steps in Investigating
Mass Disasters
Disaster
Victim
Investigations
Prosedur standar yang dikembangkan oleh Interpol (International Criminal
Police Organization) untuk
mengidentifikasi korban yang meninggal akibat bencana massal
Initial Action at the Disaster Site
• Tindakan awal yang dilakukan di tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengetahui seberapa luas
jangkauan bencana
• Dalam kebanyakan kasus, polisi memikul tanggung jawab komando untuk operasi secara keseluruhan
• Sebuah tim pendahulu (kepala tim DVI, ahli patologi forensic dan petugas polisi) harus sedini
mungkin dikirim ke TKP untuk mengevaluasi:
• Pemetaan jangkauan bencana dan pemberian koordinat untuk area bencana
• Perkiraan jumlah korban
• Keadaan mayat
• Evaluasi durasi yang dibutuhkan
• Institusi medikolegal yang mampu merespon dan membantu proses DVI
• Metode menangani mayat
• Transportasi mayat
• Penyimpanan mayat
• Kerusakan property yang telah terjadi
• Langkah utama yang dilakukan
• To secure mengamankan area, misalnya dengan memasang police border
• To collect mengumpulkan korban dan property terkait untuk kepentingan identifikasi korban
• Documentation memfoto area bencana dan korban kemudian memberikan nomor dan label
Collecting Post Mortem Data
• Dokumentasi foto kondisi jenazah korban
• Pemeriksaan fisik, baik luar maupun dalam
• Pemeriksaan sidik jari
• Pemeriksaan rontgen
• Pemeriksaan odontology forensic
• Pemeriksaan DNA
• Pemeriksaan antropologi forensik
Primary Data
• Fingerprint
Analysis
• Forensic Dental
Analysis
• DNA Analysis
Secondary Data
• Personal
descriptions
• Medical findings
• Evidence/clothing
Collecting Ante-Mortem Data
• Pengumpulan data jenazah sebelum kematian dari keluarga maupun orang yang terdekat
• Data dapat berupa foto semasa hidup, interpretasi ciri-ciri spesifik jenazah, rekaman pemeriksaan gigi korban, data sidik jari, sampel DNA orang tua maupun kerabat korban, serta informasi lain yang relevan untuk kepentingan
identifikasi
Reconcilliation
• Pembandingan data post mortem dengan ante mortem
• Apabila data yang dibandingkan terbukti cocok maka dikatakan identifikasi positif atau telah tegak
• Apabila data yang dibandingkan ternyata tidak cocok maka identifikasi dianggap negative dan data pos mortem jenazah tetap disimpan sampai deitemukan data antemortem yang sesuai
Returning to the Family (Debriefing)
• Korban yang telah diidentifikasi direkonstruksi hingga didapatkan kondisi kosmetik terbaik kemudian dikembalikan kepada keluarganya untuk dimakamkan