• Tidak ada hasil yang ditemukan

debridement fraktur terbuka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "debridement fraktur terbuka"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Debridement pada patah tulang

Debridement pada patah tulang

terbuka

terbuka

Pendahuluan

Pendahuluan

Patah tulang terbuka menandakan adanya komunikasi antara tulang yang patah Patah tulang terbuka menandakan adanya komunikasi antara tulang yang patah dengan lingkungan eksternal dan melibatkan cedera jaringan lunak dan kulit di dengan lingkungan eksternal dan melibatkan cedera jaringan lunak dan kulit di sekitar lokasi tulang yang patah.Patah tulang yang disertai cedera pada

sekitar lokasi tulang yang patah.Patah tulang yang disertai cedera pada jaringanjaringan lun

lunak ak memeruprupakakan an kkegaegawawatdatdarurrurataatan n ororthothopedpedi i dan dan mememermerluklukan an prprotootokkolol tata

tatalakslaksana ana sesusesuai ai dengdengan an klasklasifkaifkasi. si. TTujuan ujuan teraterapi pi adaladalah ah untuk untuk mencmencapaiapai peny

penyembuembuhan han tulatulang ng tanpa kompltanpa komplikaikasi si dan dan kekembalmbalinya inya selurseluruh uh ungsungsi i secasecarara lengkap.

lengkap.11

Semua patah tulang terbuka, walaupun ringan, harus dianggap sebagai cedera Semua patah tulang terbuka, walaupun ringan, harus dianggap sebagai cedera ya

yang ng terterkkontontamaminainasi si sesehinhingga gga sasangangat t penpentinting g untuntuk uk memencencegah gah terterjadjadinyinyaa ineksi.

ineksi.  Sebagian besar patah tulang terbuka terkontaminasi oleh bakteri baik  Sebagian besar patah tulang terbuka terkontaminasi oleh bakteri baik

pada saat atau segera setelah kejadian. Sekitar !"#$"% pasien memiliki hasil pada saat atau segera setelah kejadian. Sekitar !"#$"% pasien memiliki hasil kultur positi

kultur positi sebelum tatalaksanadimulasebelum tatalaksanadimulai.i.11

&lasifkasi pada cedera jaringan lunak yang terjadi bersamaan dengan patah &lasifkasi pada cedera jaringan lunak yang terjadi bersamaan dengan patah tulang sebaiknya melibatkan semua aktor yang penting.'al ini

tulang sebaiknya melibatkan semua aktor yang penting.'al ini untuk membantuuntuk membantu ahli

ahli bedabedah h mengmengambiambil l kekeputusputusan an dan dan menurmenurunkunkan an kekemungmungkinakinan n terjaterjadinyadinya komplikasi.&lasifkasi yang baik juga memiliki nilai prognostik.

komplikasi.&lasifkasi yang baik juga memiliki nilai prognostik.11

&la

&lasifsifkakasi si yayang ng papaling ling umumum um digdigunaunakakan n untuntuk uk patpatah ah tultulang ang terterbukbuka a adaadalahlah klas

klasifkaifkasi si oleh oleh (ust(ustillo illo dan dan )nder)nderson son serserta ta TTscheschernerne.(us.(ustillo tillo dan dan )nde)ndersorsonn mem

membabagi gi patpatah ah tutulanlang g terterbukbuka a memenjanjadi di tigtiga a kkeloelompompok k berberdasdasararkakan n tintingkgkatat k

kepepararaahahannnnyaya, , kkememududiaian n (u(uststilillo lo mememomodidifkfkasasi i klklasasififkkasasi i inini i dedengnganan men

menamambahbahkakan n tigtiga a sub sub tiptipe e berberdadasarsarkakan n derderajaajat t kkonontamtaminainasi, si, kkeruerusasakakann periosteal *

periosteal * periosteal  periosteal strippingstripping+ dan cedera askular. -alaupun demikian sistem+ dan cedera askular. -alaupun demikian sistem klasifkasi ini, yang awalnya dibuat untuk klasifkasi patah tulang terbuka pada klasifkasi ini, yang awalnya dibuat untuk klasifkasi patah tulang terbuka pada ti

tibibia a papada da tatahuhun n 11$!$!, , mememimilikliki i babanynyak ak kkekekururanangagan n sesertrta a kketetererbabatatasasann reliabilitas antar obserer. Tahun 1/", Tscherne, mempublikasi klasifkasi untuk reliabilitas antar obserer. Tahun 1/", Tscherne, mempublikasi klasifkasi untuk cedera jaringan lunak baik terbuka maupun tertutup yang membagi cedera ini cedera jaringan lunak baik terbuka maupun tertutup yang membagi cedera ini menj

menjadi adi empaempat t kkelomelompok. pok. &las&lasifkaifkasi si ini ini kkemudemudian ian dikdikembaembangkangkan n oleh oleh grupgrup 'an

'annonoer er memenjanjadidi HannoHannover ver FractFracture ure ScaleScale  *'0S+.amun   *'0S+.amun demikian klasifkasidemikian klasifkasi y

yaanng g aadda a tteettaap p mmeennuunnjjuukkaan n keketteerrbbaattaassaan n rreelliiaabbiilliittaas s sseehhiinnggggaa )2

)2menmengemgembabangkngkan an suasuatu tu klaklasifsifkakasi si yayang ng sasangangat t telteliti iti dadan n melmelipuiputi ti semsemuaua cedera jaringan lunak yang terjadi pada patah tulang terbuka, yaitu cedera pada cedera jaringan lunak yang terjadi pada patah tulang terbuka, yaitu cedera pada ku

kulit, lit, otot otot atau atau tendtendon on dan dan strukstruktur tur neurneuro o askaskularular.-.-alaupalaupun un sangsangat at lengklengkapap namun klasifkasi ini sulit untuk digunakan dalam praktek klinik sehari#hari.2leh namun klasifkasi ini sulit untuk digunakan dalam praktek klinik sehari#hari.2leh ka

karrenena a ititu u klklasasififkakasi si (u(uststillillo o dadan n )n)ndedersrson on mamasisih h seseriring ng didigugunanakakan n dadann penelitian untuk suatu

(2)

(ambar 1.

&lasifkasi patah tulang terbuka menurut (ustillo dan )nderson

 Tercapainya tujuan terapi untuk kembalinya ungsi normal ekstremitas yang cedera sangat bergantung pada penyembuhan awal

 jaringan lunak yang terlibat serta tersambungnya *union+ tulang secara anatomis

dan tanpa komplikasi.1

5mpat aktor utama yang mempengaruhi keberhasilan terapi pada patah tulang terbuka adalah 6

• Proflaksis antibiotik

• Debridement luka dan patah tulang secara segera

• Stabilisasi patah tulang

• Penutupan luka defniti di awal

Pada tatalaksana di ruang gawat darurat, okus utama diberikan pada stabilisasi tanda# tanda ital dan cedera yang mengancam nyawa.Setelah semua tindakan resusitasi selesai dan tidak ada lagi ancaman pada nyawa pasien maka

pemeriksaan menyeluruh dan anamnesis dikerjakan secara lengkap.1

Pemeriksaan fsik pada patah tulang sebaiknya meliputi kedalaman dan ukuran luka serta cedera pada kulit dan jaringan lunak disekitar lokasi patah tulang.Pada luka yang sangat tercemar, misalnya oleh tanah, maka di ruangan gawat darurat dapat dilakukan pencucian luka *lavage+ dengan menggunakan cairan steril.

Selain itu luka sebaiknya tidak ditusuk * probed+ dan segera ditutup

kemudianpemeriksaan lanjutan untuk luka tersebut dapat dilakukan kemudian di kamar operasi. Pemeriksaan lain pada ekstremitas harus dikerjakan secara lengkap, bagian proksimal dan distal dari lokasi raktur *frakture site+ dan apakah terjadi cedera askular, gangguan ungsi neurologis dan kontinuitas7 keutuhan dari muskulotendinius. Deormitas yang terjadi sebaiknya dikoreksi dengan traksi secara lembut dan tanpa paksaan demikian juga sendi yang terdislokasi di reduksi. Setelah itu diberikan bidai pada ekstremitas yang cedera dan dilakukan pemeriksaan oto polos.4,8

Debridement

Defnisi

Debridement awalnya merupakan istilah yang menggambarkan terapi yang digunakan hanya pada luka yang terineksi, meliputi insisi untuk membuang isi purulen dari suatu luka. 9ama kelamaan disadari bahwa membuang jaringan nekrotik saat debridement sangat menguntungkan dan sebaiknya dilakukan seawal mungkin.

(3)

Patofsiologi

Semua cedera yang menyebabkan kerusakan jaringan dan perdarahan

akanmengaktikan mekanisme humoral dan selular yang berungsi

menghentikan perdarahan dan mencegah terjadinya ineksi. Sel#sel pertama yang bergerak untuk mencegah kerusakan jaringan adalah granulosit neutroflik dan makroag.9eukosit berungsi sebagai pertahanan non spesifk terhadap ineksi.0ungsi makroag adalah menghilangkan jaringan nekrotik dan mikroorganisme dengan sekresi protease dan agositosis serta memproduksi dan melepaskan sitokin.-alaupun demikian, kapasitias agositosis makroag terbatas.:ila kapasitas agositosis berlebih karena banyaknya jaringan nekrotik, aktiitas agositosis anti bakteri juga menurun. )ktiitas agositosis ini juga berhubungan dengan konsumsi oksigen tinggi, daerah dengan hipoksia dan aaskular memiliki resiko terkena ineksi lebih besar. Dengan berdasarkan pada patofsiologi ini maka perlu dilakukan debridement bedah pada jaringan mati atau nekrotik untuk membantu atau mendukung ungsi agositosis dari makroag.

(4)

Tujuan terapi

 Tujuan debridement adalah sebagai berikut6 4

• 5kstensi dari luka akibat trauma untuk identifkasi ;ona cidera *injury

 zone+

• Deteksi dan membuang benda#benda asing terutama yang organik

•  Deteksi dan membuang jaringan yang tidak viable

• <eduksi kontaminasi bakteri

• =embuat luka baru yang resisten terhadap kontaminasibakteri

Waktu untuk melaksanakan debridement ( timing)

Panduan standar yang sering digunakan untuk melakukan debridement adalah sebelum >! jam?. Sebenarnya teori ini mulai diperkenalkan oleh Paul 9eopold

0riedrich sejak tahun 1// dan didasarkan pada penelitian binatang.

<ekomendasi ini dibuat sebelum era modern resusitasi, antibiotik, irigasi pulsatil dan protokol debridement yang sistematis.4Selain itu standar ini tidak didukung

oleh data yang cukup untuk menjadi suatu rekomendasi.4

Sebagian besar penelitian saat ini membandingkan debridement gawat darurat 7

emergent *@! jam setelah cedera+ dengan debridement segera 7 urgent   *@4  jam setelah cedera+. -erner =D melaporkan literature review dalam A))2S ""/ dan menyatakan bahwa sampai saat tersebut data yang ada masih belum dapat

mendukung rekomendasi untuk emergent debridement  namun juga tidak dapat

mendukung penundaan atau penjadwalan debridement untuk patah tulang terbuka.!Schenker =9, =D melaporkan suatu studi terapeutik leel BBB yang

menyatakan penundaan debridement tidak berhubungan dengan meningkatnya ineksi.$Pollak ), =D melaporkan studi prognostik leel BB dalam A:AS "1" dan

menyatakan waktu antara cedera dan debridement bukan merupakan prediktor independen yang signifkan untuk resiko ineksi, yang berpengaruh adalah waktu

hingga pasien tiba di rumah sakit./Skaggs D9, =D juga melaporkan studi

multicenter melibatkan 884 anak#anak dengan patah tulang terbuka (ustilo and

)nderson typeB, BB, dan BBB melaporkan rate yang sama antara operasi yang

dilakukan @ ! jam dengan minimal $ jam setelah cedera.<icci -=, =D dalam Specialty Update; Whats !ew in "rthopaedic #rauma, A:AS "11 menyatakan

data dari $ower %&tremity 'ssessment (roject   *95)P+ study menyatakan bahwa

waktu antara cedera dan pelaksanaan debridement bukan merupakan aktor terpenting yang mempengaruhi terjadinya ineksi.1"

:eberapa penulis bahkan menyarankan bahwa untuk patah tulang terbuka derajat rendah dapat tidak diperlukan melakukan debridement.Salah satunya

adalah 2rcutt et al. yang melaporkan rate ineksi dan delayed union  yang

rendah pada  patah tulang terbuka derajat rendah *tipe B dan BB+ dengan pencucian lokal dan antibiotik intra ena. -alaupun demikian karena suatu penelitian prospekti dan randomisasi sulit untuk dicapai. 2leh karena itu praktek klinis didasarkan pada inormasi terbaik yang tersedia dan dapat diterapkan pada pasien. Sehingga dapat disarankan melakukan debridement segera

(5)

*urgent + pada patah tulang terbuka segera setelah kondisi medis pasien

membaik dan semua kegawat daruratan telah teratasi.!

Prinsip dan teknik debridement 1.Penggunaan tourniquet

Sebagian ahli bedah memilih menggunakan tourniket sehingga mengurangi perdarahan dan mempermudah jalannya operasi. -alaupun demikian dalam debridement, hal ini akan menambah iskemia jaringan pada bagian yang telah cedera serta mempersulit penilaian italitas jaringan. :eberapa jalan tengah yang dapat digunakan adalah pemakaian tourniket tanpa dikembangkan hingga sangat diperlukan antara lain bila terjadi perdarahan masi akibat lepasmya bekuan darah dari cedera arteri besar. )lternati lain adalah mengembangkan tourniket selama 1"#" menit kemudian melepasnya untuk melihat hasil pengisian pada kapiler *capiler )ush+ untuk menilai iabilitas jaringan lunak.  Tourniket tidak boleh dikembangkan pada saat melakukan reaming intra medular

karena melakukan reaming pada lingkungan yang iskemik dapat menyebabkan kerusakan termal pada tulang. Sebagai kesimpulan penggunaan tourniket dalam debridement sangat terbatas dan sebagian besar tindakan dilakukan tanpa tourniket. 1,3,4,8

2. Eksisi tepi luka

5ksisi dilakukan hingga mencapai tepian kulit yang sehat. 'al ini akan dibahas lebih lanjut pada point berikutnya.

. !emperluas luka

Cona cedera menggambarkan adanya dimensi cedera lebih besar daripada luka yang terlihat sehingga sebaiknya dilakukan klasifkasi ulang cedera saat debridement.1Seringkali luka yang terjadi pada tipe B dan BB perlu untuk diperluas,

terlebih bila dalam pemeriksaan radiologis tampak pergeseran *dsiplacement +

yang signifkan.perlu diingat bahwa untuk membersihkan kontaminasi diperlukan paparan *eposure+ yang adekuat.Esaha membersihkan debris dengan

mengorek * poking+ luka yang kecil dapat berbahaya.4 -alaupun demikian pada

patah tulang terbuka, dengan luka @ 1 cm pergeseran minimal, dan konfgurasi patah yang relati stabil memiliki resiko ineksi dan non union yang sama dengan patah tulang tertutup oleh karena itu dapat dianggap dan diperlakukan sama

dengan patah tulang tertutup.4 Perluasan luka asli harus dilakukan dengan

penuh perencanaan untuk menghidari adanya sayatan yang tidak berguna yang akan mengganggu tatalaksana selanjutnya. 5ksisi yang paling aman adalah mengikuti garis untuk asiotomi karena sayatan ini menghindari arteri perorator yang mungkin berguna untuk mengambil Fap kulit bila dibutuhkan. Selain itu kadang diperlukan insisi tambahan di luar perluasan dari luka yang ada.

(6)

". #egmen tulang

Penilaian dari permukaan tulang yang patah harus dilakukan dengan menarik keluar ujung patahan tersebut dari luka yang ada. Gara yang paling sederhana dan tidak menambah kerusakan jaringan adalah dengan membengkokan ekstrimitas tersebut sesuai gaya yang terjadi pada saat cidera. Dengan cara tersebut permukaan patahan akan keluar dari luka yang ada tanpa menambah

kerusakan jaringan lunak. Tidak disarankan menggunakan retaktor dan bone

lever yang besar.

$. !embuang jaringan %ang tidak &ital

 Aaringan mati atau non ital merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri oleh karena itu semua jaringan yang meragukan sebaiknya dibuang.&arakteristik pasien dan cideranya merupakan patokan untuk merencanakan debridement yang diperlukan.Sebenarnya, ahli bedah memiliki metode sendiri untuk melakukan debridement pada luka, namun disarankan mengikuti suatu metode pemeriksaan yang teliti terhadap kulit dan dermis pada luka diikuti lemak subkutan dan otot dan akhirnya otot dan tulang. Pendekatan bertahap dan sistematis diperlukan terutama bila menghadapi luka yang besar

dan kompleks agar tidak terjadi debridement yang tidak adekuat .4,8

$.1 'ulit dan lemak subkutis

Bnsisi yang luas namun tepat memudahkan dilakukannya debridement yang eekti dengan memberikan isualisasi yang adekuat dari otot, asia dan struktur neuro askular serta ujung tulang yang terkontaminasi. Pertanyaan yang selalu muncul adalah berapa luas yang dapat dikatakan insisi yang adekuat.Pada luka karena trauma dengan energi tinggi dapat digunakan patokan bahwa luka sebaiknya diperluas hingga panjangnya sesuai diameter ekstremitas pada leel tersebut.amun patokan yang lebih tepat adalah luka diperluas sehingga dapat melihat seluruh ;ona cedera.=ulai dari eksplorasi luka dan lokasi patah dan dilanjutkan ke arah proksimal dan distal sampai mencapai jaringan sehat dan

semua area yang mengalami pengelupasan *stripping+ periosteal telah

diidentifkasi.

-alaupun debridement yang adekuat sangat penting, namun tidak disarankan untuk membuka jaringan yang bersih dan tidak telibat.Secara khusus, tidak dianjurkan untuk melepaskan kulit dari asia dibawahnya karena pembuluh darah ertikal di lokasi tersebut sangat penting untuk menjamin ital atau tidaknya  jaringan kulit diatasnya. 9uka tembus yang kecil atau lubang serta Fap yang

tidak beraturan serta tidak berperan pentinguntuk menutup deek sebiaknya di eksisi.

:ila jaringan kulit yang ada adekuat maka eksisi pada kulit yang terkontaminasi dan mengalami kontusio dilakukan hingga 1# mm ke arah kulit yang sehat

(7)

dengan menggunakan pisau yang tajam.'al ini menghilangkan kontaminasi dan  jaringan kulit yang tidak ital serta menpersiapkan ujung luka yang baik.

(ambar .Bnsisi elips pada luka patah tulang terbuka memungkinkan inspeksi area cedera dan memberikan penutupan luka yang lebih baik.3

(ambar 3. =emperluas luka obliHue atau transersal, ). ; plasty menghasilkan  Fap besar dan resiko untuk necrosis dari ujung Fap. :,G kedua metode ini jugamenghasilkan  Fap besar dengan resiko nekrosis pada ujung distal Fap. D. insisi yang memotong luka awal menghasilkan Fap yang paling kecil dan hal ini akan mengurangi resiko kematian Fap.3

(ambar  (ambar 3.

$.2 asia

Semua jaringan asia yang tidak ital, rusak atau terkontaminasi seharusnya dieksisi.Disarankan untuk melakukan asiotomi terbatas pada semua patah tulang terbuka yang terjadi karena cedera dengan energi tinggi dan bila ada

indikasi dilanjutkan dengan asiotomi lengkap. &adang#kadang pada saat

melakukan debridement pada patah tulang terbuka, ditemukan deek pada asia.Entuk mencapai komponen otot dan tulang di bawahnya maka deek asia tersebut perlu diperlebar.2leh karena itu maka asiotomi pada kompartemen myoasial yang terlibat patah tulang terbuka merupakan bagian dari debridement.

$. tot

2tot memiliki kandungan air yang tinggi sehingga saat suatu objek menabrak ekstremitas dapat terjadi kerusakan otot akibat gelombang cairan. 'al ini terutama terjadi pada kejadian patah tulang yang disebabkan gaya dengan

energi tinggi yang terjadi dari pembebanan tidak langsung secara cepat *indirect 

rapid loading*  yang menyebabkan tulang meledak pecah *burst out + menjadi banyak pecahan. Pecahan#pecahan ini masuk ke dalam otot dan menyebabkan kerusakan otot walaupun dari luar komponen otot tersebut tidak menampakkan kerusakan.

Salah satu ragmen kecil dapat menembus kulit dan menyebabkan patah tulang terbuka tipe B dengan luka yang sangat kecil padahal terdapat kerusakan otot yang besar pada otot di bagian dalam. &arena penampakan fsik yang ringan, seringkali keadaan non ital otot seringkali terlewat dan tidak terdiagnosa.

(8)

 Aaringan otot yang nekrotik merupakan aktor resiko mayor untuk berkembangnya bakteri dan terjadinya ineksi anaerob.2leh karena itu harus diusahakan membuang semua jaringan otot yang non ital walaupun tentunya tetap dengan perencanaan yang teliti. -alaupun demikian, dikatakan bahwa bila 1"% dari massa otot *muscle belly + dapat diselamatkan dan masih terhubung dengan tendonnya maka masih didapatkan adanya ungsi yang signifkan. Entuk alasan tersebut maka pada saat debridement pertama pada patah tulang terbuka derajat berat otot bagian marginal yang italitasnya masih meragukan dapat ditinggalkan dahulu dan dinilai kembali 4#4/ jam kemudian saat redebridement saat iabilitas otot telah lebih jelas.

Penilaian italitas otot cukup sulit untuk dilakukan. Iang menjadi pegangan

adalah 4 aktor yang dikemukakan oleh (regory yaitu 4 G 6color+ consistency+

contractility+ and capacity to bleedatau warna, konsistensi, kontraktilitas dan kemampuan untuk berdarah.Penilaian ini semakin sulit bila terjadi hipoksemia karena tourniket atau cedera pembuluh darah besar atau adanya shock.

Secara histologis terdapat 3 perubahan post iskemik pada otot,yaitu 6 1. Cona dalam nekrosis otot dimana tidak terjadi bengkakJ . Cona iskemia sebagian

dimana sebagian otot yang ital bengkakJ 3. Cona outlying dari otot yang normal

dimana tidak terjadi pembengkakan. &arena adanya lapisan#lapisan ini kadang# kadang ahli bedah yang kurang teliti dapat menilai hanya komponen superfsial saja dan tidak memperhatikan bahwa nekrosis justru terjadi pada lapisan otot yang lebih dalam.)gar hal tersebut tidak terjadi maka ahli bedah harus melihat melewati komponen superfsial saat debridement. 'al ini dapat tercapai dengan

>membuka? *spreading+ otot sesuai dengan seratnya dengan menggunakan

hemostat sehingga penilaian jaringan otot di lapisan dalam dapat dilakukan tanpa kerusakan bermakna pada unit muskulotendineus.

$." Tendon

 Tendon , kecuali bila rusak parah dan terkontaminasi, bukan merupakan aktor resiko untuk terjadi ineksi dan memiliki ungsi yang perlu dipertahankan. :ila tendon tidak dapat ditutup dengan jaring lunak, maka sebisa mungkin peritenon dipertahankan. Entuk alasan tersebut biasanya kita tidak melakukan debridement pada peritenon namun mencucinya dengan cairan dengan jumlah yang banyak *copius irigation+. :ila tendon tanpa peritenon harus dibiarkan terbuka pada suatu luka maka tendon tersebut harus dijaga tetap lembab ,antara lain dengan balutan, hingga luka dapat di tutup.

$.$.Tulang

 Tulang merupakan jaringan dengan askularisasi yang terbatas sehingga

mempersulit penilaian italitasnya.0ragmen#ragment tulang merupakan

komponen yang sulit untuk dinilai.Emumnya ragmen kortikal berukuran kecil yang tidak menempel pada jaringan lunak dapat disingkirkan. :ila ragment kortikal yang disingkirkan lebih besar maka renkonstruksi dapat menjadi sulit

dan mungkin dipermudah dengan bone graft   dan bone transport . :ila ragment

(9)

tersebut dapat dipertahankan. Ejung raktur pada tulang harus dikeluarkan dari luka untuk dilakukan debridement and irigasi.&anal intramedalar dinilai.Entuk menyingkirkan hematoma dan benda asing debridement dapat dilakukan dengan menggunakan kuret dan irigasi.

Pada laporan serial kasus patah tulang tibia terbuka derjat BBB yang diterapi dengan eksternal fksator, edward et al menyatakan bahwa mempertahankan segment aaskular yang besar meningkatkan ineksi 8"%. amun demikian bila patah disebabkan oleh trauma dengan energi rendah, bila ahli bedah yakin akan leel kontaminasi yang rendah serta irrigasi yang dilakukan cukup, maka ragment tulang dapat dipertahankan untuk mempermudah fksaksi internal.:ila dicurigai terjadi ineksi dapat dilakukan debridement ulang.

Secara umum, debridement pada komponen tulang dapat dilakukan dengan konserati, namun, bila terjadi ineksi atau kemungkinan terjadinya ineksi maka dilakukan redibridement segera secara agresi untuk menyingkirkan semua komponen tulang yang tidak ital.9ebih mudah untuk menangani rekonstruksi akibat hilangnya segmen tulang daripada melakukan tatalaksana pada osteomielitis klinis.Pada patah tulang terbuka yang terineksi, kesalahan yang umum dilakukan adalah keterlambatan eksisi segmen tulang yang tidak ital. Sama seperti pada tendon, maka tulang yang tidak memiliki periosteum dan tidak tertutup jaringan lunak akan mati. 2leh karena itu, bila tulang tidak dapat tertutup oleh jaringan lunak sangat penting untuk mempertahankan periosteum.

$.* #endi

Semua luka yang menembus sendi harus di eksplorasi.9uka yang ada di debridement sampai ke sendi.9uka awal kadang cukup untuk melakukan eksplorasi yang adekuat, namun bila tidak, maka luka sebaiknya diperluas.Entuk sendi tertentu, seperti lutut dan bahu, maka untuk melakuan eksplorasi yang adekuat lewat arthrotomi diperlukan insisi yang sangat besar. 2leh karena itu, pada situasi demikian ada baiknya mengkombinasikan debridement luka dan pemeriksaan sendi dengan arthroskopi . Sangat penting untuk melakukan pemeriksaan secara teliti karena ada kemungkinan terdapat benda asing atau raktur osteochondral.

$.+ #ara, dan pembuluh darah

Gedera sara yang dapat diperbaiki sebaiknya disambung sebelum luka ditutup. Pembuluh#pembuluh darah kecil yang dijumpai saat debridement dapat di ligasi atau dilakukan koagulasi.Gedera pada pembuluh darah besar biasanya telah diketahui sebelum operasi dan perencanan tentang tindakan operasi telah diputuskan sebelumnya.

&ehilangan asupan darah pada tungkai bawah selama lebih dari / jam sebagian besar berakhir dengan amputasi :ila ada kemungkinan operasi tertunda maka sebaiknya dilakukan irigasi dan debridement pada luka untuk menyingkirkan kontaminasi utama dan langsung dilanjutkan dan perbaikan pembuluh darah.

(10)

*. Pen-u-ian luka.12

Setelah semua jaringan mati, nekrotik dan terkontaminasi dibuang langkah

berikutnya adalah irigasi dengan jumlah banyak *copius irrigation+.:anyak

penelitian dilakukan untuk menjawab beberapa hal yang masih menjadi perdebatan dalam pencucian luka.Gairan yang paling sering digunakan adalah

normal saline, Brigasi dapat digunakan dengan menggunakan bulb syringe,

dituang atau pencucian dengan high pressure atau low pressure, setiap metode

memiliki keuntungan dan kerugiannya masing#masing. &esalahan yang paling sering terjadi adalah mendorong cairan dengan alat suntik melalui suatu luka kecil, hal tersebut hanya mendorong kontaminasi ke dalam.

/rigasi dengan tekanan rendah atau tekanan tinggi /rigasi dengan tekanan tinggi

• =embersihkan luka secara eekti sebaiknya dilakukan dengan cairan yang

diberikan dengan )uid jet impacting dengan tekanan $ pounds persH

inch. 'al ini dapat dicapai dengan mendorong dengan tenaga cairan dari alat suntik 38cc melalui jarum 1/ g namun tidak dapat dicapai dengan bulb syringe atau gaya graitasi. Dasar dari tindakan ini adalah tekanan yang tinggi menghambat penempelan bakteri pada permukaan luka secara mekanik.

• Dirschl et al. menyatakan bahwa terdapat pengurangan pembentukan

tulang baru dalam minggu pertama setelah irigasi dengan tekanan tinggi dibandingkan kontrol. :handari et al menemukan kontaminasi pada 1#4 cm dari luka setelah pencucian luka sacara pulsatile. Selain itu ditemukan  juga kontaminasi menurun pada kanal tulang. Sebagai tambahan jarak

ujung irigasi ke jaringan mempengaruhi derajat kebersihan luka.4

/rigasi dengan tekanan rendah

Dasar pemikiran melakukan irigasi dengan tekanan rendah adalah eek samping irigasi tekanan tinggi pada tulang.Draeger dan Dhaner menemukan kerusakan  jaringan lunak yang lebih banyak dalam penelitian dengan model in itro namun dapat membersihkan kontaminan lebih baik. Dalam studi ini laage pulsatil

tekanan tinggi dibandingkan dengan penggunaan bulb syringe ditambah.4

 0umlah dan jenis -airan

=ohit :handari et al *A:AS ""1+ membandingkan eek berbagai cairan terhadap  jumlah dan ungsi osteoblas dan osteoclast serta eektiitas cairan tersebut

dalam membersihkan bakteri dari tulang. Brigasi pulsatil tekanan rendah dengan larutan sabun atau dengan saline steril paling eekti dalam membersihkan  jaringan.11

 Aumlah cairan yang digunakan juga beragam, yang sering digunakan adalah berdasarkan rekomendasi )nglen. =enurut :handari et.al kombinasi paling eekti adalah tekanan rendah, pulsatil, larutan sabun 1% .Dalam penelitian terbaru )nglen membandingkan larutan sabun nonsteril dengan larutan bacitracin untuk irigasi 3/ patah tulang terbuka ekstrimitas bawah dan tidak

(11)

menemukan perbedaan tingkat ineksi namun gangguan penyembuhan tulang

pada grup dengan bacitracin.4

Pemberian antibiotik atau antiseptik pada cairan pencuci saat ini tidak terbukti

memberikan perbedaan yang bermakna. Semua ;at tambahan memiliki

keuntungan dan kerugian masing#masing. Sampai saat ini belum ada yang nampak lebih superior dan belum ada konsensus yang baku.

+. Penutupan luka

• 9uka kecil yang sedikit terkontaminasi, grade B atau BB, setelah dilakukan

debridement yang adekuat dapat langsung dijahit kembali dengan syarat luka dapat ditutup tension.

•  Pada derajat patah tulang terbuka uang lebih berat, stabilisasi segera dan

penutupan luka dan grat kulit atau penggunaaan Fap baik lokal maupun  jauh.

• Pemberian gentamicin beads dibawah balutan serta acuum dressing.

• Penutupan segera dari luka dapat menurunkan insidens ineksi, malunion

dan non union. 0ischer, (ustilo, dan Karecka dalam studi 43 tipe BB: dengan patah tulang terbuka shat tibia, menemukan ineksi pada  dari 11 pasien dengan Fap otot, dibandingkan dengan 1" dari 1 pasien dengan perawatan terbuka dan  dari 13 dengan penundaan penutupan luka. 'ertel. 5t al menyatakan bahwa rekonstruksi segera membutuhkan operasi ulang yang lebih sedikit dibandingkan bila dilakukan penundaan *delayed reconstruction+. 4

Datar Pustaka

1. GliLord <. PJ 2pen ractures in Golton G. 9, et.al. )2 Principles o 0racture =anagement. ew IorkJ Stuttgart 6 !1$#41J """

. ayagam SJ Principles o racture in -arwick D. in Solomon 9. )pleyMs System o 2rthopedics and ractures th ed .9ondon6 $"!#11J "1"

3. 2lson S.)J -illis =.DJ Bnitial =anagement o open racture in :uchol; et.al <ockwood N (reenOs 0ractures in )dults, !th ed. 31  41/ J ""!

4. 2T) 2pen 0racture Study (roup. ) ew Glassifcation Scheme or 2pen 0ractures. A 2rthop Trauma. "1"J 4 */+ 48$#!8

8. -ood (.-J general principle o racture treatment in GanaleJ GampbellOs 2peratie 2rthopaedics, 11th edJ 3"8#3J ""$

!. -etner G.=.9J The Ergency o Surgical DQbridement in the =anagement o  2pen 0ractures. Aournal o the )merican )cademy o 2rthopaedic Surgeons. ""/J 1! *$+ 3!#$8

(12)

$. Schenker =.9. Does Timing to 2peratie Debridement )Lect Bnectious Gomplications in 2pen 9ong#:one 0racturesJ) Systematic <eiew. The  Aournal o bone and joint Surgery. "1J461"8$#!4

/. Pollak ). The <elationship :etween Time to Surgical Debridement and Bncidence o Bnection )ter 2pen 'igh#5nergy 9ower 5tremity Trauma.  The Aournal o bone and joint Surgery. "1"J6$#18

. Skaggs D.9. The 5Lect o Surgical Delay on )cute Bnection 0ollowing 884 2pen 0ractures in Ghildren. The Aournal o bone and joint Surgery. ""8J /$6 /#1

1".<icci -.=. Specialty updateJ -hatMs ew in 2rthopaedic Trauma. The  Aournal o bone and joint Surgery. "11J361$4!#8!

11.)nglen A.2. Gomparison o Soap and )ntibiotic Solutions or Brrigation o  9ower#9imb 2pen 0racture -ounds. The Aournal o bone and joint Surgery. ""8J /$61418#

Referensi

Dokumen terkait

Kemungkinan dibuktikan oeh : Gangguan frekuensi jantung, tekanan darah dalam aktifitas, terjadinya disritmia, kelemahan umum Tujuan : Terjadi peningkatan toleransi pada klien

Satu hal yang harus diingat adalah bahwa komplikasi yang paling sering terjadi pada fraktur terbuka adalah infeksi. Insidensi terjadinya infeksi luka pada fraktur

Pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya beberapa tipe longsoran, faktor keamanan kestabilan lereng dan critical strength reduction factor.. Data

Meskipun telah dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya infeksi pasca operasi dengan melaku- kan pemeriksaan gigi dan air kencing, tidak ada jaminan 100% bahwa tidak akan

Pelestarian merupakan salah satu tugas BP4 setelah pernikahan terjadi dan muncul kemungkinan akan terjadinya perceraian. Hal tersebut dilakukan agar hubungan suami istri

Hasil penelitian ini pun sejalan dengan penelitian yang dilakukan Machmudah, dkk 2012 menjelaskan bahwa kemungkinan terjadinya depresi postpartum terjadi pada responden yang mengalami

ABSTRAK ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF DENGAN KOMPLEMENTER PADA NY “D” DI BIDAN PRAKTIK MANDIRI NY “A” DESA NGUMPUL KECAMATAN JOGOROTO KABUPATEN JOMBANG Jauharotudz Dzakiriyah1,Fifi Ratna Aminati2,Siti Nur Farida3 Program studi Diploma Tiga Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Jombang Email : [email protected] Kehamilan, Persalinan,Nifas,Bayi Baru lahir, dan KB adalah suatu keadaan fisiologis dimana siklus kehidupan Wanita terjadi. Namun pada prosesnya terdapat beberapa kemungkinan atau suatu keadaan dimana dapat mengancam jiwa ibu dan bayi baru lahir bahkan bisa menyebabkan terjadinya suatu kematian yang terjadi pada ibu dan bayi merupakan salah satu indicator perkembangan derajat Kesehatan dimana untuk menilai keberhasilan pelayanan Kesehatan dan program pembangunan Kesehatan dengan metode Asuhan Kebidanan Komprehensif dengan komplementer pada ibu hamil,bersalin,nifas,neonatus dan kb. Jenis metode penelitian ini menggunakan studi kasus dengan cara mengkaji suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari satu unit tunggal. Subjek peneliti yaitu ibu hamil dengan usia kehamilan trimester III. Dilakukan analisis secara mendalam menggunakan beberapa aspek menggunakan metode trianggulasi data dan catatan perkembangan SOAP. Hasil yang didapatkan dari asuhan kebidanan pada Ny “D” yaitu tidak ada kesenjangan antara asuhan yang dilapangan sesuai dengan apa yang ada di dalam teori. Penulis sudah melakukan Tindakan sesuai dengan prosedur. Kesimpulan dan saran pada penulis laporan tugas akhir ini yaitu diharapkan mampu meningkatkan mutu pelayanan kebidanan yang diberikan sesuai standar pelayanan kebidanan terbaru sesuai kompetensi bidan. Kata Kunci : Asuhan Kebidanan Komprehensif Dengan