• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIF KERJA PENGUSAHA UKM DKI JAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEKTIF KERJA PENGUSAHA UKM DKI JAKARTA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

A

NALISA KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM DAN INOVASI TERHADAP EFEKTIF KERJA PENGUSAHA UKM DKI JAKARTA

Sunarti

Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Bina Sarana Informatika (AMIK BSI) Jl. RS Fatmawati No.24, Pondok Labu, Jakarta Selatan

[email protected]

ABSTRACT

In the era of globalization which is supported by innovation characterized by the development of science and technology is very rapid for the human resources, especially small and medium entrepreneur. This study aims to analyze the knowledge management system for effective performance and innovation with a study case on the small and medium enterprises in Jakarta. The results of this study showed that knowledge management is not directly influence the effective work on SMEs in Jakarta, there is a significant effect of the personal knowledge to the job procedure, then the most dominant factor which is affecting the entrepreneur’s performance in Indonesia is technology.

Keywords: knowledge management and innovation system, effective work

I. PENDAHULUAN

Dalam mewujudkan dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas bagi kalangan pelaku usaha Indonesia yang terdiri dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang mandiri dan berkembang, diperlukan berbagai media pendukung bagi UKM yang nantinya dapat berguna untuk mensejajarkan UKM dengan pelaku usaha lainnya. Dalam hal ini, pemanfaatan teknologi informasi (Information technology) dapat digunakan sepenuhnya didalam dunia usaha yang tertuang dalam bentuk website di internet untuk mempromosikan perusahaan dan produk yang dihasilkan dan informasi pasar. Untuk memenuhi kebutuhan sarana promosi, informasi dan komunikasi, maka bagian pemasaran dan jaringan usaha membangun dan mengembangkan website khusus bagi pengusaha UKM dan umumnya untuk masyarakat yang keberadaanya dibawah manajemen Kementerian Koperasi dan UKM. Seiring dengan hal tersebut, berbagai metode dilakukan untuk mengembangkan pengetahuan dan informasi bagi UKM, salah satunya dengan model knowledge management system, yang mengikutsertakan teknologi informasi di dalam pengolahan pengetahuan. Dalam dunia bisnis misalnya pada UKM knowledge management system sangat dibutuhkan untuk menciptakan inovasi dalam menambah pengetahuan dan mengembangkan usahanya dimasa ke depan. UKM perlu mendapatkan perhatian yang besar baik dari pemerintah maupun masyarakat agar

dapat berkembang, untuk meningkatkan pontensi usahanya bersama pelaku ekonomi lainnya.

Pada web dengan menciptakan teknologi informasi, menyediakan akses informasi dan pengetahuan 24 jam/7 hari seminggu, dapat diakses kapan saja, dan di mana saja, atau dengan kata lain informasi dapat menawarkan layanan informasi yang dapat menembus ruang dan waktu. Peningkatan pembangunan ekonomi untuk meningkatkan inovasi UKM tergantung pada keefektifan pengelolaan pengetahuan dan teknologi. Adapun ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan dari knowledge perorangan yang harus dikelola agar menjadi knowledge organisasi, yang akhirnya knowledge menjadi aset organisasi UKM. Knowledge merupakan pengalaman, informasi tekstual dan pendapat para pakar pada bidangnya.

Apabila knowledge tersebut dikelola dengan efektif dan efisien maka akan terjadi suatu knowledge konversi dari tacit ke tacit atau ke explicit melalui sosialisasi, eksternalisasi, internalisasi dan kombinasi. Sebuah organisasi, perusahaan, masyarakat atau bahkan sebuah negara dan bangsa, dapat bekerjasama jika memiliki pengetahuan bersama yang tertanam di benak masing-masing anggotanya dan terwujud dalam praktek-praktek yang melibatkan semua anggotanya. Tanpa pengetahuan bersama, tidak akan ada pengetahuan sama sekali yang dimiliki oleh siapapun diantaranya para pengusaha UKM.

(2)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.1. Konsep dan manfaat Knowledge

Management

Knowledge Management System menurut Setiarso (2009:30) adalah system yang diciptakan untuk memfasilitasi penangkapan, penyimpanan, pencarian, transfer dan penggunaan kembali pengetahuan. Istilah knowledge management pertama kali muncul di dunia bisnis. Studi awal tentang knowledge management telah dilakukan pada pertengahan tahun 1980-an antara lain oleh Sveiby dan Iloyd dalam buku Setiarso (2009:45). Sedangkan istilah intellectual capital yang merupakan unsur dari knowledge management pertama kali diperkenalkan secara populer oleh Stewart pada tahun 1991 dimajalah Fortune yang mendefinisikan intellectual capital sebagai: “Intellectual capital is the sum of everything the people of the company know which gives a competitive advantage in the market”.

Menurut Ackoff dalam buku Tobing (2008, p.14) seorang pakar systems dan guru besar bidang perubahan organisasi, menyatakan bahwa isi atau kandungan intelektual dan mentalitas manusia dapat diklasifikasikan dalam lima katagori, yaitu: 1. Data dapat berupa simbol-simbol.

2. Informasi adalah data yang diproses agar dapat dimanfaatkan dan informasi dapat menjawab pertanyaan tentang ”who”, ”what”, ”where” dan ”when”.

3. Knowledge merupakan aplikasi dari data dan informasi dan menjawab pertanyaan ”how”.

4. Understanding adalah mengapresiasikan pertanyaaan ”why”.

5. Wisdom adalah evaluasi dari understanding.

Pengetahuan berbagi informasi merupakan sebagai modal intelektual yang mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan kemajuan suatu organisasi. Pada era informasi memunculkan karakteristik masyarakat yang memiliki informasi dimana keberadaan informasi menjadi sangat penting dan menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi setiap orang. Bagi masyarakat yang ber informasi banyak aspek kehidupan sangat bergantung kepada informasi. Tanpa informasi, kehidupanpun tidak akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan, dan di dalam

segala aspek kehidupan, mulai dari lingkup individu, keluarga, sosial hingga lingkup kelompok dan organisasi.

Untuk sampai pada penguasaan pengetahuan, seseorang harus menerjemahkan atau memprosesnya dari bahan baku bernama informasi. Dan, untuk mendapatkan informasi, harus terlebih dulu mengolah data yang ada. Dalam Knowledge Management, ketiga istilah itu membentuk rangkaian anak tangga dengan data berada diposisi paling bawah, dilanjutkan dengan informasi, kemudian pengetahuan, dan akhirnya kebijaksanaan (wisdom).

Menurut Davidson dan Voss dalam buku Setiarso (2009:5) bahwa sebenarnya mengelola knowledge adalah cara organisasi mengelola karyawan mereka, dan berapa lama mereka menghabiskan waktu untuk teknologi informasi. Pengembangan individu disuatu organisasi tidak sekedar dilakukan dengan mengirim mereka belajar ke sebuah pelatihan. Ada banyak metode dan alat lain yang dapat melengkapi, yaitu coaching (pelatihan), mentoring (memberi nasihat), on-the-job training (pelatihan kerja), termasuk tandem, knowledge sharing, serta communities of practice.

Untuk sampai pada penguasaan pengetahuan, seseorang harus menerjemahkan atau memprosesnya dari bahan baku bernama informasi. Dan, untuk mendapatkan informasi, harus terlebih dulu mengolah data yang ada. Dalam Knowledge Management, ketiga istilah itu membentuk rangkaian anak tangga dengan data berada diposisi paling bawah, dilanjutkan dengan informasi, kemudian pengetahuan, dan akhirnya kebijaksanaan (wisdom). Transisi dari data wisdom.

Menurut Nonaka dan Takeuchi dalam buku Setiarso (2009: 6) bahwa keberhasilan perusahaan di Jepang ditentukan oleh keterampilan dan kepakaran mereka dalam penciptaan pengetahuan dalam organisasinya (organizational knowledge creation). Dalam buku Tobing (2008: 21) dijelaskan polanyi seorang ahli kimia merupakan orang pertama yang memperkenalkan knowledge terdiri dari dua jenis yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge. Tacit knowledge adalah knowledge yang diam di dalam benak manusia dalam bentuk intuisi, judgement, skill, values dan belief yang sangat sulit diformalisasikan dan dibagikan dengan orang lain. Sedangkan explicit knowledge adalah knowledge yang dapat atau sudah terkondifikasi dalam bentuk

(3)

formula, kaset/cd video dan audio, spesifikasi produk atau manual.

Kedua jenis knowledge tersebut dalam buku Tobing (2008: 21) oleh Nonaka dan Takeuchi dapat dikonversi melalui empat jenis proses konversi, yaitu: Sosialisasi, Eksternalisasi,

Kombinasi dan Internalisasi. Keempat jenis proses konversi ini disebut SECI Proses (S:Socializationi, E:Eksternalization, C:Combination, dan I:Internalization). Berikut adalah Empat model konversi Knowledge:

Sumber : Setiarso (2009, p.38)

Gambar 2.2. Empat Tahapan Knowledge Management dengan Model SECI Nonaka

Penciptaan knowledge adalah proses interaksi dinamis yang berkesinambungan antara pengetahuan tacit dan eksplisit. Keempat modus konversi knowledge berinteraksi dalam penciptaan spiral of knowledge. Spiral menjadi dalam skala lebih besar ketika bergerak keatas melalui tingkat organisasi, dan dapat memicu spiral baru dalam penciptaan knowledge. 1. Sosialisasi merupakan proses sharing dan

penciptaan tacit knowledge melalui interaksi dan pengalaman langsung. 2. Ekternalisasi merupakan pengartikulasian

tacit knowledge menjadi explicit knowledge melalui proses dialog dan refleksi.

3. Kombinasi merupakan proses konversi explicit knowledge menjadi explicit knowledge yang baru melalui sistemisasi dan pengaplikasian explicit knowledge dan informasi.

4. Internalisasi merupakan proses pembelajaran dan akuisisi knowledge yang dilakukan oleh anggota organisasi

terhadap explicit knowledge yang disebarkan keseluruh organisasi melalui pengalaman sendiri sehingga menjadi tacit knowledge anggota organisasi.

Knowledge Management yang efektif harus dimulai dengan melihat secara strategis mengenai pengetahuan apa yang diperlukan oleh organisasi. Hal ini untuk menjamin bahwa knowledge management system yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan apa yang diperlukan dan core competency organisasi. Penyelarasan ini dapat dimulai dengan menentukan strategi apa yang sedang atau akan dijalankan dan apa yang sudah dijalankan oleh organisasi. Kemudian lakukan kajian mengenai pengetahuan apa yang diperlukan. Untuk menjalankan strategi tersebut dan pengetahuan apa yang sudah dimiliki oleh organisasi. Hubungan antara strategi dan kebutuhan ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini yang merupakan kerangka Model Zack adalah:

(4)

Apa yang harus diketahui oleh

organisasi ?

Apa yang harus dilakukan oleh

Organisasi ?

Apa yang diketahui oleh organisasi ?

Apa yang telah dilakukan ?

Knowledge-Strategy Link Knowledge-Strategy Link

Knowledge Gap Knowledge Gap

Gambar 2.3. Kerangka strategi model Zack Sumber: Setiarso (2009: 27)

Proses utama di dalam Knowledge Management sangat beragam, baik itu dari sisi terminology maupun dari pengertian dari proses itu sendiri. Suatu perusahaan yang bergerak pada penyedia jasa telekomunikasi

dan informasi menggunakan model proses bisnis yang digunakan dalam eTom (enhaced Telecom Operation Map). Proses utama dalam Knowledge Management yang di turunkan dari proses utama dalam Knowledge Management and research management.

Knowledge & Research Management (K & RM)

Knowledge

Management Research Management Technology Scanning

Kembangkan Strategi KM Serap Knowledge Klasifikasikan Knowledge Simpan Knowledge Pelihara Knowledge Sebarkan Knowledge

Gambar 2.4. Proses Utama KM yang dijabarkan dari eTOM Sumber : Tobing (2008: 42)

Untuk menentukan knowledge management pada sebuah organisasi perlu dilakukan analisis dari beberapa karakteristik dari faktor contigency. Di bawah ini gambar yang menunjukkan faktor-faktor dari contigency dan hubungannya dengan solusi Knowledge Management. Strategi penerapan Knowledge Management mencakup tiga aspek:

1. People aspects, yaitu terdiri dari pendidikan, pengembangan, rekrutmen, motivasi, retensi, organisasi, uraian pekerjaan, perubahan budaya perusahaan, dan mendorong adanya pengembangan pemikiran, kerjasama dan partisipasi

2. Process aspects, yaitu terdiri dari proses inovasi, continues improvement dan perubahan radikal seperti reengineering. 3. Technology aspects, yaitu terdiri dari

informasi dan decision support system, knowledge-based system, dan data mining system.

Dalam buku Tobing (2008:24) dijelaskan bahwa manfaat dengan adanya knowledge management dalam berbagai bidang diantaranya:

a. Bidang operasi dan pelayanan

Saat ini telah terjadi perubahan dari industri manufaktur ke industri jasa.

(5)

yang artinya perusahaan memiliki basis customer knowledge yang terkelola dengan baik. Dengan kondisi pekerjaan tersebut knowledge worker dapat memberikan respon yang lebih cepat, penanganan klaim pelanggan yang baik dan pelayanan yang proaktif.

b. Bidang pengembangan kompetensi personil

Proses pembelajaran ini terjadi dalam siklus yang kontinu. Proses ini berawal dari akuisisi knowledge yang kemudian diaplikasikan dalam proses bisnis organisasi. Knowledge yang diaplikasikan pontensial memunculkan knowledge baru melalui proses knowledge creation. Dalam siklus ini terjadi proses utaman knowledge management yaitu: knowledge creation, knowledge retention, knowledge trasfer/sharing, dan knowledge utilisation.

c. Bidang pemeliharaan ketersedian knowledge

Skill dan knowledge yang dimiliki oleh para pekerja dalam sebuah perusahaan perlu dikelola oleh perusahaan untuk menjamin tidak tersedianya knowledge loss.

Knowledge loss dalah suatu kondisi dimana perusahaan kehilangan knowledge yang dibutuhkan, walau sebenarnya knowledge tersebut sduah dimiliki oleh perusahaan.

d. Bidang inovasi dan pengembangan produk

Salah satu produk dari knowledge management adalah proses pembelajaran yang berimplikasi terhadap peningkatan kemampuan inovasi yaitu dengan terciptanya knowledge baru. Inovasi yag dikombinasikan dengan kebutuhan pelanggan akan menjadi solusi atau produk yang efektif dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi pelanggan. Sedangkan proses pengembangan produk adalah proses yang bersifat kolaboratif dan lintas fungsi. Artinya produk baru tidak dihasilkan oleh unit atau fungsi tertentu dalam perusahaan, tetapi melibatkan berbagai unit untuk menjamin bahwa produk yang dihasilkan tidak sekedar baru, tetapi juga berkualitas tinggi. knowledge management disini dapat mempromosikan dan menyediakan media unutk kolaborasi (baik virtual maupun tatap muka) dan knowledge sharing.

2.1.2. Jenis dan Konversi Knowledge

Menurut Nonaka dalam buku Munir (2008, p.26) Knowledge pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu:

1. Tacit knowledge adalah knowledge yang ada pada diri seseorang dan relatif sulit untuk diformalkan/diterjemahkan, sehingga masih ada hambatan untuk dikomunikasikan dengan individu lain. Tacit knowledge bersifat subyektif, intuisi, terkait erat dengan aktivitas dan pengalaman individu serta idealisme, values, dan emosi. Tacit knowledge memiliki dua dimensi, yaitu:

a. Dimensi teknis, yang lebih bersifat informal dan know-how dalam melakukan sesuatu. Dimensi teknis yang mengandung prinsip-prinsip dan teknis pengetahuan yang diperoleh karena pengalaman ini, relatif sulit didefinisikan dan dijelaskan.

b. Dimensi kognitif, terdiri dari kepercayaan persepsi, idealisme, values, emosi dan mental yang juga sulit dijelaskan. Dimensi ini akan membentuk cara seseorang menerima segala sesuatu yang ada di lingkungannya.

2. Explicit Knowledge adalah knowledge yang sudah dapat dikemukakan dalam bentuk data, formula, spesifikasi produk, manual, prinsip-prinsip umum, dan sebagainya. Knowledge ini telah menjadi milik perusahaan dan siap untuk ditransfer kepada semua individu dalam perusahaan secara formal dan sistematis. Interaksi antara tacit dan explicit knowledge ini disebut sebagai proses konversi knowledge (process knowledge conversion). Proses konversi dapat berasal dari knowledge yang bersifat tacit atau explicit untuk diubah menjadi knowledge yang bersifat tacit atau explicit. Apabila knowledge telah berubah menjadi tacit, maka knowledge siap digunakan antara lain untuk menghasilkan produk baru dan melakukan pelayanan yang lebih baik, sedangkan bila knowledge telah diubah menjadi explicit, maka knowledge siap untuk ditransfer kepada seluruh karyawan dalam perusahaan atau diubah ke dalam expert system.

(6)

2.1.3. Budaya Sharing, Kunci Sukses

Knowledge Management

Perbedaan yang mendasar antara aset fisik dan aset knowledge terletak pada proses peningkatan nilai. Nilai aset fisik akan berkurang jika dipergunakan dan cenderung bertambah atau memiliki nilai tetap jika tidak dipergunakan. Sementara, aset knowledge nilainya akan bertambah jika dibagikan dan dipergunakan, tetapi sebaliknya nilainya akan berkurang jika tidak dibagikan dan tidak dipergunakan. Bahkan jika tidak dipergunakan dalam jangka waktu yang lama nilai knowledge akan hilang.

Inti dari knowledge management adalah knowledge sharing atau knowledge transfer, karena melalui knowledge sharing terjadi peningkatan value dari knowledge yang dimiliki perusahaan. Seseorang yang melakukan knowledge sharing tidak akan kehilangan knowledge yang dimilikinya, tetapi justru melipatgandakan nilai dari knowledge tersebut, apabila sudah dimiliki dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Bahkan knowledge yang dishare dapat menjadi knowledge baru sesudah mengalami proses sosialisasi, ekternaslisasi, kombinasi dan internaslisasi. Kombinasi dan internalisasi akan mengalami multiplikasi nilai jika mengalami proses SECI secara berkelanjutan.

Budaya knowledge sharing merupakan budaya yang perlu ditumbuhkan dalam sebuah perusahaan yang ingin menerapkan knowledge management secara efektif. Karena sharing merupakan fondasi learning, dan melalui sharing tercipta kesempatan yang lebih luas. Seiring dengan semakin meluasnya perkembangan dan penggunaan internet oleh perusahaan, maka dalam knowledge sharing peran internet sangat penting dan menentukan. Hanya peran internet harus didukung oleh perubahan kebiasaan dari para penggunanya, khusunya jika berkomunikasi dan berkolaborasi dengan para koleganya.

Menurut Tobing (2008: 139) dijelaskan untuk suksesnya pembentukan knowledge sharing, perusahaan harus memenuhi persyaratan yaitu:

1. Peranan kepemimpinan berupa kemampuan merumuskan visi, keterlibatan langsung, pemberian dukungan dan advokasi.

2. Budaya perusahaan yang memberikan iklim kepercayaan dan keterbukaan.

4. Perusahaan menghargai knowledge, pembelajaran dan inovasi.

5. Perusahaan memiliki struktur organisasi yang adaptif.

6. Adanya kemampuan organisasi dalam mengeksekusi proses transformasi dengan mulus dan efektif.

2.1.4. Penerapan Knowledge Management di Organisasi

Menurut Setiarso (2009: 21) dijelaskan

bahwa knowledge management yang sukses tidak hanya karena komputer yang impresif, tetapi sebaiknya ditinjau dari ketiga komponen yang kritis yaitu:

a. Alur knowledge yang benar dan sumber yang dilimpahkan ke organisasi/instansi. b. Teknologi tepat yang disimpan dan dapt

mengomunikasikan knowledge tersebut. c. Budaya tempat kerja yang benar,

sehingga karyawan termotiasi untuk memanfaatka knowledge.

Menurut Setiarso (2009: 23) dijelaskan bahwa penerapan knowledge management pada suatu organisasi merupakan proses yang panjang dan lama, yang mencakup perubahan perilaku semua karyawan. Upaya mengubah perilaku ini bukanlah kegiatan masa kini saja, tapi persoalannya sekarang adalah mensinkronkan upaya perubahan ini dengan keseluruhan strategi pelaksanaan organisasi. Menurut Birkinsaw Dalam buku Setiarso (2009: 23) juga menggarisbawahi tiga kenyataan yang sangat mempengaruhi berhasil tidaknya knowledge management, yaitu: a. Penerapannya tidak hanya menghasilkan

knowledge baru, tetapi juga mendaur ulang knowledge yang sudah ada. b. Teknologi informasi belum sepenuhnya

bisa menggantikan fungsi-fungsi jaringan sosial antar anggota organisasi.

c. Sebagian besar organisasi tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya mereka ketahui. Banyak knowledge penting yang harus ditemukan lewat upaya-upaya khusus. Padahal, knowledge itu sudah dimiliki sebuah organisasi sejak lama.

III. METODE PENILITIAN

Menurut Zuriah (2008: 10), dijelaskan bahwa penelitian merupakan semua kegiatan

(7)

pengertian baru dan menaikkan tingkat ilmu dan teknologi. Dan penelitian harus mengikuti kaidah-kaidah penelitian sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, empat hal yang harus diperhatikan dalam penelitian yaitu:

a. Cara ilmiah

Kegiatan penelitian ini didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu: rasional, empiris dan sistematis

b. Data

Data yang diperoleh melalui penelitian adalah data empiris (teramati) yang mempunyai kriteria tertentu (valid) c. Tujuan

Setiap peneliti mempunyai tujuan dan kegunaan tertentu, secara umum tujuan penelitian ada tiga macam adalah penemuan, pembuktian dan pengembangan.

d. Kegunaan

Penelitian yang akan digunakan untuk memahami masalah.

Menurut Margono dalam buku Zuriah (2008: 10) tujuan dari penelitian adalah untuk membentuk kemampuan dan ketrampilan menggunakan rancangan-rancangan statistik penelitian yang berpedoman pada pemecahan masalah yang sedang diteliti. Dalam penelitian ada kegiatan penyelidikan (investigasi), yaitu mencari fakta secara teliti dan teratur menurut kaidah tertentu untuk menjawab suatu pertanyaan. Jadi penyelidikan dilakukan untuk menjelaskan sesuatu. Pada dasarnya, penyelidikan dinyatakan selesai setelah berhasil menemukan penyebab kejadian. Suatu penelitian baru dianggap selesai setelah berhasil menetapkan faktor atau latar belakang penggerak atau pengendali penyebab atau pelaku kejadian. Jadi, suatu penelitian menjangkau persoalan secara lebih jauh atau lebih mendalam daripada penyelidikan. Oleh karena penelitian selalu mengungkapkan faktor penyebab maka penelitian menjadi sumber ilmu.

3.1 Sumber Data

Data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dengan menyebarkan kepada 45 (empat puluh lima) pengusaha UKM di DKI Jakarta.

3.2 Metode Analisis Data

a. Analisis Deskriptif

Metode analisis deskriptif merupakan metode yang digunakan dengan mengadakan pengumpulan data dan penganalisaaan data yang diperoleh sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai fakta-fakta dan

sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diteliti.

b. Analisis Statistik

1. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis Regresi Linier Berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variable bebas (knowledge management dan inovasi) terhadap variabel terikat (Efektif kerja).

Dengan persamaan yang digunakan adalah: Y = a + bx1 + bx2, dimana Y = efektif kerja X1 = inovasi X2 = knowledge management A = bilangan konstanta B= koefisien

Sebelum data tersebut dianalisis, model regresi berganda di atas harus memenuhi syarat asumsi klasik, yaitu Uji Normalitas, Model regresi yang sudah memenuhi syarat asumsi klasik tersebut akan digunakan untuk menganalisis, melalui pengujian

hipotesis sebagai berikut:

1.Pengujian Koefisien Determinan (R2) atau goodness of Fit Test

Digunakan untuk melihat besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Dari persamaan dengan model persamaan tersebut akan dapat R2 atau Coefficient of Determination yang menunjukkan persentase dari variasi variabel yang mampu dijelaskan oleh model. Jika determinan (R2) semakin besar atau mendekati sama, maka variabel bebas (X1,X2) terhadap variabel terikat (Y) semakin kuat. Jika determinan (R2) semakin kecil atau mendekati satu, maka variabel terikat (Y) semakin kecil.

2. Uji Serempak (Uji F)

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah terdapat secara bersama-sama variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji F dilakukan secara serentak untuk membuktikan hipotesis awal tentang pengaruh Inovasi (x1) dan knowledge management (X2), terhadap efektif kerja (Y) sebagai variabel terikat.

Pengambilan keputusannya dengan membandingkan nilai Fhitung dengan nilai Ftabel.

Bila Fhitung lebih besar dari nilai Ftabel maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas dalam model mempengaruhi variabel terikat.

Model hipotesis yang digunakan adalah: H0: b1 = b2 =0 artinya variabel bebas (X1, X2,) secara bersama-sama tidak berpengaruh

(8)

positif dan signifikan terhadap variabel terikat (Y).

H0: b1 ≠ b2 artinya variabel bebas (X1, X2) secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel terikat (Y). Nilai Fhitung akan dibandingkan dengan nilai Ftabel.Kriteria pengambilan keputusan, yaitu:

H0 diterima bila Fhitung < Ftabel pada α = 5%

H0 ditolak bila Fhitung > Ftabel pada α = 5%

3. Uji secara Parsial (Uji-t).

Uji t bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial. Variabel bebas dikatakan berpengaruh terhadap variabel terikat dapat dilihat dari probabilitas variabel bebas dibandingkan dengan tingkat kesalahannya (α). Jika probabilitas variabel bebas lebih besar dari tingkat kesalahannya (α) maka variabel bebas tidak berpengaruh, tetapi jika probabilitas variabel bebas lebih kecil dari tingkat kesalahannya (α) maka variabel bebas tersebut berpengaruh terhadap variabel terikat. Model pengujiannya adalah:

H0 = bi = 0, artinya variabel bebas secara parsial tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel terikat.

Ha: bi ≠ 0, artinya variabel bebas secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadapvariabel terikat. Nilai Thitung akan dibandingkan dengan nilai Ttabel.

Kriteria pengambilan keputusan, yaitu: H0 diterima bila Thitung < Ttabel pada α = 5%

H0 ditolak bila Thitung > Ttabel pada α = 5%

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Pengujian Koefisien Determinasi (R2) atau Goodness of Fit Test

Pengujian dengan menggunakan uji koefisien determinasi (R2) atau Goodness of Fit Test, yaitu untuk melihat besarnya pengaruh variabel bebas yaitu Inovasi (x1) dan knowledge management (X2), terhadap efektif kerja (Y) sebagai variabel terikat. pada 45 (empat puluh lima) pengusaha UKM di DKI Jakarta. Ada dua pilihan di sini, apakah memakai RSquare atau Adjusted R Square. Jika variabel lebih dari dua variabel maka yang dipakai adalah Adjusted R Square.

Tabel 1

Hasil Uji R2 Model Summary

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .954a .911 .907 1.114 .291

a. Predictors: (Constant), penggunaan web, inovasi b. Dependent Variable: efektif

Tabel 1 menunjukkan angka R Square atau determinan (r2) sebesar 0,911 berarti variabel independen yaitu (X1, X2) berupa variabel inovasi dan knowledge management terhadap efektif kerja. dengan cara menghitung koefisien determinasi (KD) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

KD = r2 x 100% KD = 0,911 x 100% KD = 91.1%

Angka tersebut mempunyai maksud bahwa

terhadap efektif kerja adalah 91.1%. Adapun sisanya sebesar 8.9% (100% - 91.1%) dipengaruhi oleh faktor lain.

b. Uji Signifikan Simultan (Uji F)

Uji F (uji serempak) dilakukan untuk melihat secara bersama-sama (serentak) hubungan signifikan dari variabel independen yaitu (X1, X2) berupa variabel knowledge management dan inovasi terhadap efektif kerja (Y) pengusaha UKM DKI Jakarta.

(9)

Tabel 2 Hasil Uji f Anova

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 533.044 2 266.522 214.622 .000a

Residual 52.156 42 1.242 Total 585.200 44

a. Predictors: (Constant), penggunaan web, inovasi b. Dependent Variable: efektif

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui nilai Fhitung sebesar 214.622 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000. Sedangkan Ftabel sebesar 3.22 dengan taraf signifikansi 0,05 (5%). Maka Fhitung > Ftabel (214.62 >3.22), sedangkan tingkat signifikan sebesar 0,000 <0,05. Jadi kesimpulan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, yang artinya bahwa variabel knowledge management dan inovasi secara

bersama-sama mempunyai hubungan signifikan terhadap efektif kerja (Y)

c. Uji Signifikan Parsial (Uji-t)

Uji-t dilakukan untuk melihat secara individu pengaruh secara signifikan independen yaitu (X1, X2) berupa variabel knowledge management dan inovasi terhadap efektif kerja (Y). Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 5.325 1.192 4.469 .000 Inovasi .344 .131 .357 2.631 .012 Knowledge management .488 .109 .610 4.495 .000 a. Dependent Variable: efektif

Berdasarkan nilai B pada Tabel 3, maka dapat diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:efektif = 5.325 + 0.344 inovasi + 0.488

knowlegde management + e

Dari Tabel 3 dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

1. Nilai thitung variabel inovasi adalah 2.631 dan ttabel bernilai 2.014 sehingga thitung > ttabel (2.631 > 2.014) dan nilai signifikan 0,012 di bawah (lebih kecil dari 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel inovasi berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap efektif kerja pada pengusaha UKM DKI Jakarta. Artinya efektif kerja pengusaha ukm di dki Jakarta

akan meningkat apabila inovasi terhadap pekerjaan tersebut ditingkatkan.Koefisien regresi untuk variabel.

Inovasi adalah 0,344, artinya bahwa apabila inovasi suatu pekerjaan ditingkatkan sebesar satu satuan maka akan menambah efektif kerja pengusaha sebesar 0.344. 2. Nilai thitung variabel knowledge

management adalah 4.495 dan ttabel bernilai 2.014 sehingga thitung > ttabel (4.495 > 2.014) dan nilai signifikan 0,000 di bawah (lebih kecil dari 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel knowlegde management berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap efektif kerja pada pengusaha

(10)

UKM di DKI Jakarta. Artinya efektif kerja pengusaha ukm di dki Jakarta akan meningkat apabila knowledge management terhadap pekerjaan tersebut ditingkatkan. Koefisien regresi untuk variabelknowlege managment adalah 0,488, artinya bahwa apabila knowledge management suatu pekerjaan ditingkatkan sebesar satu satuan maka akan menambah efektif kerja pengusaha sebesar 0.488.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat pengaruh inovasi dan knowledge management System terhadap efektif kerja pada pengusaha UKM di DKI Jakarta, dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Uji Signifikan Simultan (Uji F)

membuktikan bahwa inovasi dan knowledge management System secara bersama-sama mempunyai hubungan signifikan terhadap efektif kerja pengusaha UKM.

2. Uji Signifikan Parsial (Uji-t) membuktikan bahwa variabel inovasi (x1) dan an (x2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektif kerja pada pengusaha UKM DKI Jakarta

DAFTAR PUSTAKA

Mireille Merx, C. and W.J. Nijhof. 2005. “Factors influencing knowledge creation and innovation in an organization, Journal

of European Indutrial Training; 2005; 29, 2/3; ABI/INFORM Global, pg.135.

Munir, Ningky. 2008. Knowledge Management Audit Pedoman Evaluasi Kesiapan Organisasi Mengelola Pengetahuan. Jakarta: Penerbit PPM

Setiarso, Bambang, Nazir Harjanto, Triyono, dan Hendro Subagyo. 2009. Penerapan Knowledge Management Pada Organisasi.Edisi 1. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu Sudjana. 2008. Metode Statistika. Bandung: PT. Tarsito Sugiyono. 2009. Metodologi Penelitian

Kuntitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta

Supangat Andi. 2008. Statistika dalam Kajian Deskriptif, Inferensi, dan Nonparametrik. Jakarta: Kencana.

Tobing, Paul L. 2009. Knowledge Management Konsep, Arsitektur dan Implementasi. Edisi 1 Cetakan Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu

UKM dan Koperasi, Kementrian. 2008. Revitalisasi Kopersi dan UKM sebagai Solusi Mengatasi Pengangguran dan Kemiskinan. Kementrian Koperasi dan Usaha Republik Indonesia.

Zuriah, Nurul. 2008. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Edisi 1 Cetakan Pertama. PT. Bumi Aksara

Gambar

Gambar 2.2. Empat Tahapan Knowledge Management dengan Model   SECI Nonaka
Gambar 2.4.  Proses Utama KM yang    dijabarkan dari eTOM  Sumber : Tobing (2008: 42)
Tabel 2   Hasil Uji f Anova  ANOVA b

Referensi

Dokumen terkait

Ada hal tertentu yang diatur dalam KUHAP khususnya mengenai tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang, seperti Pasal 141 KUHAP menyebutkan bahwa penuntut

Ada perbedaan sikap antara remaja laki-laki dan perempuan dari penelitian ini dikarenakan remaja perempuan masih dapat mengendalikan emosi, adanya keinginan untuk menghindari

Tesis Kedudukan letter C sebagai jaminan kredit di bank ...... ADLN -

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan: (1) hal-hal yang melatarbelakangi pemakaian bahasa Alay berupa (a) sebagai identitas diri, (b) sebagai ungkapan/ekspresi, (c)

28 Pembedaan level makna yang oleh Abu Zayd tersebut, di sisi lain juga berarti bahwa makna suatu pesan tidak selalu menuntut ditariknya suatu signifikansi, seperti

Setelah pemberian kombinasi kapur dan tawas dalam kemasan osmofilter pada pH yang divariasikan menunjukkan bahwa nilai alkalinitas mengalami penurunan yang realtif

Tentang laporan Pelapor yang menyebutkan Terlapor (Muhammad Saman, S.Pd) diduga melakukan Pelanggaran Administrasi Pemilihan Umum karena sebagai Calon Legislatif DPRK Aceh

Hasil keseluruhan dari uji validasi ahli materi, ahli desain, ahli media, kelompok kecil dan kelompok besar yang diperoleh sebesar 91,62% dengan kualifikasi sangat baik, sehingga