KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKERETAAPIAN
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DIREKTUR JENDERAL PERKERETAAPIAN
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
i
ii
vi
xi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
1.2.
Maksud dan Tujuan
1.3.
Ruang Lingkup
1-1
1-1
1-2
1-2
BAB 2 ORGANISASI DIREKTORAT JENDERAL
PERKERETAAPIAN
2.1.
Tugas, Fungi dan Kewenangan
2.2.
Struktur Organisasi
2.3.
Sumber Daya Manusia
2-1
2-1
2-2
2-2
2-3
2-4
2-5
2-6
2-10
2-10
2-10
2-11
2-12
2-13
2.2.1. Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian
2.2.2. Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api
2.2.3. Direktorat Prasarana Perkeretaapian
2.2.4. Direktorat Sarana Perkeretaapian
2.2.5. Direktorat Keselamatan Perkeretaapian
2.3.1. Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian
2.3.2. Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api
2.3.3. Direktorat Prasarana Perkeretaapian
2.3.4. Direktorat Sarana Perkeretaapian
2.3.5. Direktorat Keselamatan Perkeretaapian
BAB 3 KEGIATAN STRATEGIS BIDANG
PEMERINTAHAN
3.1.
Penyederhanaan Perjanjian di Lingkungan
Ditjen Perkeretaapian
3.2.
Pengujian dan Sertifikasi SDM Perkeretaapian
3.3.
Pengujian dan Sertifikasi Sarana Perkeretaapian
3.4.
Pelaksanaan Kegiatan Perawatan dan
Pengoperasian Sarana perkeretaapian Milik
Negara (IMO)
3.5.
Pengujian dan Sertfikasi Prasarana
Perkeretaapian
3-1
3-1
3-2
3-3
3-4
3-5
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 ii
3-6
3-11
3-12
3-14
3-14
3.5.1. Pengujian Jalur dan Bangunan Perkeretaapian
3.5.2. Perizinan Pembangunan yang Sejajar /
Memotong Jalur Kereta Api
3.5.3. Pengujian dan Sertifikasi Komponen Kereta Api
3.5.4. Pengujian dan Sertifikasi Pengelasan
3.5.5. Pengujian Fasilitas Operasi
BAB 4 KEGIATAN
4.1.
Pembangunan Prasarana Perkeretaapian
4.1.1. Pembangunan Prasarana Jalur Kereta Api
4.2.
Pengadaan Fasilitas Prasarana KA
4.3.
Kegiatan di Bidang Sarana Perkeretaapian
4-1
4-1
4-1
4-25
4-25
v
BAB 5 PELAKSANAAN KEGIATAN PENINGKATAN
KESELAMATAN
5.1.
Kegiatan Pelaksanaa Peningkatan Keselamatan
5.2.
Kegiatan Sosialisasi dan Promosi Keselamatan
Perkeretaapian Terhadap Masyarakat dengan
Instansi Terkait Tahun 2016
5.3.
Kegiatan Workshop Preventif Kecelakaan di
Bidang Perkeretaapian
5.4.
Kegiatan Rakornis Keselamatan
5.5.
Kegiatan Pembinaan SDM Kontraktor
Perkeretaapian
5.6.
Kegiatan Monitoring Pembangunan Liar
5.7.
Kegiatan Penyegaran / Peningkatan Kompetensi
5-1
5-1
5-2
5-3
5-4
5-7
5-8
5-9
5-9
5-10
5-10
5-10
5-12
5-14
5-15
5-17
5.7.1. Tenaga Penguji Sarana dan Penguji Prasarana
Perkeretaapian
5.7.2. Teknis Inspektur dan Auditor Perkeretaapian
5.8.1. Kecakapan Awak Sarana Perkeretaapian
5.8.2. Kecakapan Pengatur Perjalanan Kereta Api dan
Pengendalian Perjalanan Kereta Api
5.8.3. Kecakapan Penjaga Perlintasan Kereta Api
5.8.
Kegiatan Pengujian Awak Sarana
Perkeretaapian
5.9.
Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Sertifikasi
SDM Perkeretaapian
5.10. Kegiatan Bimbingan Teknis SDM Perkeretaapian
5.11. Akreditasi Badan Hukum Pendidikan dan Pelatihan SDM
Perkeretaapian
5.12. Penilaian Akreditasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan SDM
Perkeretaapian Balai Diklat Sriwijay “ ASCEP SUNARTO”,
Palembang
5.13. Kegiatan Peningkatan Kualitas PPNS Perkeretaapian
5.14. Kegiatan Identifikasi Pendataan Peningkatan Keselamatan di
Daerah Rawan Perusakan dan Pencurian di Jalur Kereta Api
5.15. Kegiatan Penegakan Hukum dan Korwas di Bidang
Perkeretaapian
5.16. Kegiatan Penyuluhan Regulasi Tindaka Pidana
Perkeretaapian dan Sosialisasi Tata Cara Berlalu Lintas di
Perlintasan Sebidang
5.17. Kegiatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan
dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN)
5.18. Kegiatan Pemeriksaan Kompetensi Awak Sarana dan
Petugas Prasarana, Sertifikat Kelaikan Sarana dan
Prasarana Perkeretaapian
5.19. Perlintsan Sebidang
5-17
5-20
5-21
5-22
5-25
5-26
5-28
5-30
5-31
BAB 6 PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG OPERASIONAL
6.1.
Pemantauan Angkutan Lebaran 2016 (1437)
6.2.
Pemantauan Angkutan Natal 2015 dan Tahun
Baru 2016
6.2.1. Pengoperasian KA Tambahan
6.2.2. Jumlah Penumpang KA
6.2.3. Program dan Realisasi Sarana
6.2.4. Kejadian Menonjol / Peristiwa Penting
6.3.
Pelayanan Angkutan Perintis Moda
Transportasi Kereta Api
6.3.1. KA. Perintis Cut Mutia (Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam - NAD)
6.3.2. KA. Perintis Lembah Anai
(Provinsi Sumatera Barat)
6.3.3. KA. Perintis Kertalaya
(Provinsi Sumatera Selatan)
6.3.4. KA. Perinis Siliwangi (Propinsi Jawa Barat)
6.3.5. KA. Perintis Bathara Kresna
(Provinsi Jawa Tengah)
6-1
6-1
6-3
6-3
6-4
6-5
6-7
6-7
6-8
6-9
6-10
6-11
6-12
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 iv
6.4.
Subsidi Tarif Angkutan Ekonomi / Public
Service Obligation (PSO)
6.5.
Angkutan Motor Gratis dengan Moda Kereta Api
6.6.
Penetapan Trase Bidang Perkeretaapian
6-13
6-14
6-17
6-20
BAB 7 PENUTUP
7.1. Kesimpulan
7.2. Saran
7-1
7-1
7-3
6.3.6. KA. Perintis Jenggala (Provinsi Jawa Timur)
DAFTAR GAMBAR
2-7
2-8
2-8
2-9
2-9
2-10
2-11
2-12
2-13
2-14
3-3
3-4
4-2
4-3
4-3
4-4
4-5
4-5
4-5
4-6
4-6
4-7
4-7
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 vi
Gambar 2.1. Struktur Organisasi Ditjen Perkeretaapian
Gambar 2.2. Struktur Organisasi Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I
Gambar 2.3. Struktur Organisasi Balai Teknik Perkeretaapian
Kelas II
Gambar 2.4. Struktur Organisasi Balai Pengujian Perkeretaapian
Gambar 2.5. Struktur Organisasi Balai Perawatan Perkeretaapian
Gambar 2.6. Komposisi Pegawai Setditjen Perkeretaapian
Berdasarkan Tingkat Pendidikan (a) Tingkat Golongan/
Kepangkatan (b)
Gambar 2.7. Komposisi Pegawai Direktorat Lalu Lintas dan
Angkutan Kereta Api Berdasarkan Tingkat
Pendidikan (a) Tingkat Golongan/Kepangkatan (b)
Gambar 2.8. Komposisi Pegawai Direktorat Prasarana
Perkeretaapian Berdasarkan Tingkat Pendidikan (a)
Tingkat Golongan/Kepangkatan (b)
Gambar 2.9. Komposisi Pegawai Direktorat Sarana
Perkeretaapian Berdasarkan Tingkat Pendidikan (a)
Tingkat Golongan/Kepangkatan (b)
Gambar 2.10. Komposisi Pegawai Direktorat Sarana
Perkeretaapian Berdasarkan Tingkat Pendidikan (a)
Tingkat Golongan/Kepangkatan (b)
Gambar 3.1. Diagram Jumlah Sertifikasi Sarana Perkeretaapian
Tahun 2015 & 2016
Gambar 3.2. Dokumentasi Pengujian Sarana Perkeretaapian
Gambar 4.1. Dokumentasi Pengujian Sarana Perkeretaapian
Gambar 4.2. Proses Pemasangan dan Pembangunan Pilar dan
Pondasi di Jalan Layang Medan – Bandar Khalipah
Gambar 4.3. Proses Gelar Geotextile untuk Pembangunan Badan
Jalan Kereta Api Antara Kuta Blang - Bireuen
Gambar 4.4. Kondisi 100% Pembangunan Jalan Kereta Api
Gambar 4.5. Pembuatan Akses Jalan Untuk Pembangunan Jembatan
Gambar 4.6. Proses Perakitan U-Shape Persegment
Gambar 4.7. Kondisi 100% Pembangunan Jembetan Kereta Api
Gambar 4.8. Kondisi 100% Peningkatan Jalan Rel Km. 94 + 200
s.d Km. 104+000
Gambar 4.9. Kondisi 100% Pembangunan Badan Jalan KA
Km. 151+400 s.d Km. 164+400
Gambar 4.10. Kondisi 100% Peningkatan Jembatan Kereta Api
BH. 8 Km. 42+674
Gambar 4.11. Kondisi Pembangunan KA Bandara Internasional
Minangkabau (BIM)
4-8
4-9
4-9
4-9
4-10
4-11
4-11
4-12
4-12
4-12
4-13
4-13
4-13
4-14
4-14
4-14
4-14
4-15
4-15
4-16
4-17
4-17
Gambar 4.12. Kondisi Pembangunan KA Bandara Internasional
Minangkabau (BIM)
Gambar 4.13. Map Pembangunan Kereta Api Ringan/Light Rail
Transit
(LRT) di Provinsi Sumatera Selatan
Gambar 4.14. Kondisi zona pembangunan LRT Provinsi Sumatera
Selatan
Gambar 4.15. Kunjungan Kerja Menteri Perhubungan ke Lokasi
Pembangunan LRT di Sumatera Selatan
Gambar 4.16. Kondisi 100% Penataan Emplasemen dan
Pemasangan Sinyal Mekanik
Gambar 4.17. Kondisi 100% Badan Jalan Rel Kereta Api di
Km.98+000 s.d Km. 106+00
Gambar 4.18. Kondisi 100% Pemasangan Rel Maja Km.
66+925-Km.69+925 antara Maja – Rangkasbitung
Gambar 4.19. Pekerjaan Paket A (Pekerjaan Sipil) Pembongkaran
dan Pembangunan Stabling Manggarai, Tanah Abang
dan Pasar Senen
Gambar 4.20. Pekerjaan Paket A (Pekerjaan Sipil) Elevated Track
Manggarai – Jatinegara
Gambar 4.21. Pekerjaan Paket A (Pekerjaan Bangunan Gedung)
Bangunan OCC Manggarai
Gambar 4.22. Pekerjaan Paket B pembangunan Stasiun Cibitung
Gambar 4.23. Pekerjaan Paket B Pembangunan Stasiun Cikarang
Gambar 4.24. Pekerjaan Paket B Pembangunan
Stasiun Bekasi Timur
Gambar 4.25. Pekerjaan Paket B Pembangunan Gardu Traksi
Bekasi
Timur
Gambar 4.26. Pekerjaan Paket B Pembangunan Gardu Traksi
Cibitung
Gambar 4.27. Pekerjaan Paket B Pembangunan Gardu Traksi
Cikarang
Gambar 4.28. Pekerjaan paket B Pembangunan Signal Cabin
Bekasi, Tambun, Cikarang
Gambar 4.29. Pekerjaan Paket B Pembangunan Jembatan Kereta
Api
Gambar 4.30. Pekerjaan Paket B2.1 Penyempurnaan Jalur Baru
antara Jatinegara – Bekasi
Gambar 4.31. Pekerjaan paket B2.1 Pembangunan Depo Cipinang
Segmen I dan II
Gambar 4.32. Data Teknis Kereta Api Ringan (LRT) Terintegrasi di
Jabodebek
Gambar 4.33. Rekapitulasi Progres Fisik Kereta Api Ringan (LRT)
Terintegrasi di Jabodebek
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 viii
4-18
4-18
4-19
4-19
4-20
4-21
4-21
4-22
4-22
4-23
4-24
4-24
4-24
4-27
4-27
5-3
5-4
5-7
5-8
5-9
5-19
5-10
5-11
5-12
5-14
5-17
5-20
Gambar 4.34. Dokumentasi Pekerjaan Lintas Pelayanan 1 Kereta
Api Ringan (LRT) Terintegrasi di Jabodebek
Gambar 4.35. Dokumentasi Pekerjaan Lintas Pelayanan 2 Kereta
Api Ringan (LRT) Terintegrasi di Jabodebek
Gambar 4.36. Dokumentasi Pekerjaan Lintas Pelayanan 3 Kereta
Api Ringan (LRT) Terintegrasi di Jabodebek
Gambar 4.37. Dokumentasi Precast Plant Sentul di Pembangunan
Kereta Api Ringan (LRT) Terintegrasi di Jabodebek
Gambar 4.38. Dokumentasi Pembangunan Jalur Ganda KA Lintas
Purwokerto - Kroya
Gambar 4.39. Dokumentasi Pembangunan Jalur Ganda
KA Lintas Kroya – Kutoarjo
Gambar 4.40. Dokumentasi Pembangunan Jalur Ganda KA Lintas
Kroya – Kutoarjo
Gambar 4.41. Dokumentasi Pembangunan Jalur Ganda KA
Lintas Madiun - Kedungbanteng
Gambar 4.42. Dokumentasi Pembangunan Jalur Ganda KA
Lintas Madiun – Jombang
Gambar 4.43. Dokumentasi Jalur MRT Jakarta North – South
Gambar 4.44. Dokumentasi Pembangunan Jalur MRT
Jakarta North – South
Gambar 4.45. Pekerjaan Flyover Makassar – Parepare
Gambar 4.46. Pekerjaan Jembatan Makassar – Parepare
Gambar 4.47. Dokumentasi Pengadaan Kereta Inspeksi
Gambar 4.48. Dokumentasi Pengadaan Kereta Ukur
Gambar 5.1. Kegiatan Sosialisasi dan Promosi Keselamatan
Perkeretaapian
Gambar 5.2. Workshop Preventif Kecelakaan di Bidang
Perkeretaapian
Gambar 5.3. Kegiatan Rakornis Keselamatan
Gambar 5.4. Kegiatan Pembinaan SDM Kontraktor Perkeretaapian
Gambar 5.5. Monitoring dan Inventarisasi Bangunan Liar di Jalur KA
Gambar 5.6. Kegiatan Penyegaran / Peningkatan Kompetensi
Gambar 5.7. Kegiatan Peningkatan Kompetensi Teknis Inspektur
Perkeretaapian
Gambar 5.8. Alur Pengujian
Gambar 5.9. Alur Pengujian
Gambar 5.10. Alur Pengujian
Gambar 5.11. Pelatihan Train Watcher
Gambar 5.12. Akreditasi Badan Hukum Pendidikan dan Pelatihan
SDM Perkeretaapian
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 ix
5-21
5-22
5-25
5-26
5-27
5-29
5-30
5-31
5-32
5-32
5-32
6-3
6-3
6-8
6-9
6-9
6-10
6-10
Gambar 5.13. Penilaian Akreditasi Lembaga Diklat SDM
Perkeretaapian
Gambar 5.14. Peningkatan Kualitas PPNS Perkeretaapian
Gambar 5.15. Identifikasi Daerah Rawan Perusakan dan Pencurian
Prasarana KA
Gambar 5.16. Kegiatan Penegakan Hukum dan Korwas di Bidang
Perkeretaapian
Gambar 5.17. Penyuluhan Regulasi Tindak Pidana Perkeretaapian
Gambar 5.18. Kegiatan P4GN di Daop IV Semarang
Gambar 5.19. Kegiatan P4GN di Daop VI Yogyakarta
Gambar 5.20. Kegiatan Pemeriksaan Kompetensi Awak Sarana dan
Petugas Prasarana, Sertifikat Sarana dan Prasarana
Perkeretaapian.
Gambar 5.21. Dokumentasi Kondisi JPL. 127 antara Muara Enim –
Banjarsari, JPL 76 Antara Prabumulih – Lembak dan
JPL. 02 antara Muara Enim – Tanjung Enim
Gambar 5.22. Dokumentasi Penutupan Pintu Perlintasan Liar Desa
Wanajaya dan Kelurahan Telaga Asih, Kab Bekasi
Jawa Barat
Gambar 5.23. Dokumentasi Penutupan JPL 30 KM 6+227
Jalan Letjen Suprapto Senen
Gambar 6.1. Grafik Perbandingan Volume Penumpang Angkutan
Lebaran
Gambar 6.2. Pemantauan Angkutan Lebaran Tahun 2016
Gambar 6.3. Rangkaian KA Cut Mutia
Gambar 6.4. Peresmian Bersama Kereta Api Perintis KA Cut Mutia
Gambar 6.5. Rangkai KA Lembah Anai
Gambar 6.6. Peresmian Kereta Api Perintis KA Lembah Anai
Gambar 6.7. Rangkaian KA Kertalaya
6-11
6-11
6-12
6-12
6-13
6-13
6-14
6-14
6-15
6-17
6-17
6-19
6-19
Gambar 6.8. Operasional Kereta Api Perintis KA. Kertalaya
Gambar 6.9. Rangkaian KA Siliwangi
Gambar 6.10. Peresmian Kereta Api Perintis KA. Siliwangi Lintas
Sukabumi-Cianjur oleh Menteri Perhubungan
Gambar 6.11. Rangkaian KA Bathara Kresna
Gambar 6.12. Rangkaian KA Jenggala
Gambar 6.13. Pelayanan Kereta Api Perintis KA. Jenggala
Gambar 6.14. Dirjen Perkeretaapian dan Dirut PT KAI dalam
Penandatanganan Kontrak Subsidi PSO
Gambar 6.15. Penandatanganan Kontrak PSO
Gambar 6.16. Diagram Jumlah Kontrak PSO dari Tahun 2012 – 2016
Gambar 6.17. Diagram Prosentase Jumlah Penumpang & Alokasi
PSO Tahun 2016
Gambar 6.18. Kegiatan Verifikasi Pelaksanaan PSO terhadap KA
Ekonomi
Gambar 6.19. Diagram Tujuan Mudik Angkutan Motor Gratis
Gambar 6.20. Kegiatan Angkutan Motor Gratis Lebaran 1417 H
DAFTAR TABEL
3-3
3-3
3-6
3-9
3-11
3-13
3-14
4-25
4-26
5-4
5-11
5-12
5-14
5-16
5-33
Tabel 3.1.
Sertifikat Kompetensi SDM Perkeretaapian
Tabel 3.2.
Pengujian dan Sertifikasi Sarana Tahun 2016
Tabel 3.3.
Daftar Jumlah Sertifikat Uji Pertama
Tabel 3.4.
Realisasi Proses Penerbitan Sertifikat Uji Berkala
Tabel 3.5.
Realisasi Proses Penerbitan SK Perizinan Bangunan
yang Sejajar/Memotong Jalur Kereta Api
Tabel 3.6.
Realisasi Proses Penerbitan SK Perizinan Bangunan
yang Sejajar/Memotong Jalur Kereta Api
Tabel 3.7.
Realisasi Proses Penerbitan SK Perizinan Bangunan
yang Sejajar/Memotong Jalur Kereta Api
Tabel 4.1.
Pengadaan
Tabel 4.2.
Sarana Perkeretaapian Milik Negara
Tabel 5.1.
Hasil dan Rekomendasi dari Rakornis Keselamatan
Tabel 5.2.
Kriteria Penilaian Pengujian
Tabel 5.3.
Kriteria Penilaian Pengujian
Tabel 5.4.
Kriteria Penilaian Pengujian
Tabel 5.5.
Rekapitulasi Sertifikasi
Tabel 5.6.
Pintu Perlintasan Sebidang
6-1
6-4
6-5
6-5
6-5
6-7
6-15
6-16
6-17
6-18
6-20
Tabel 6.1.
Realisasi Jumlah Penumpang Harian Angkutan
Lebaran
2016
Tabel 6.2.
Pengoperasian KA Tambahan
Tabel 6.3.
Pengoperasian KA Tambahan Total Jumlah
Penumpang KA Utama Pada Masa
Tabel 6.4.
Total Jumlah Penumpang KA Lokal Pada Masa
Angkutan Natal 2015 dan Tahun Baru 2016
Tabel 6.5.
Program dan Realisasi Sarana Angkutan Natal 2015
dan
Tahun
Baru
Tabel 6.6.
Jumlah Kejadian Menonjol/Peristiwa Penting
Tabel 6.7.
Alokasi PSO yang diberikan Pemerintah dari Tahun
2012-2016 Sesuai Kontrak PSO
Tabel 6.8.
Alokasi Dana PSO Ditjen Perkeretaapian Tahun 2016
Tabel 6.9.
Alokasi Dana PSO Ditjen Perkeretaapian Tahun 2016
Tabel 6.10. Kuota Angkutan Motor Pada Angkutan Lebaran Tahun
2016
Tabel 6.11. Realisasi Penetapan Trase bidang Perkeretaapian
periode
2016
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 xii
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 1 - 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seiring dengan meningkatnya perkembangan ekonomi Indonesia, maka pergerakan manusia dan barang pun ikut mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan manusia. Tak hanya pergerakan orang, pergerakan barang pun juga meningkat. Peningkatan pergerakan tersebut harus didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana transportasi yang memadai. Hal tersebut adalah hakekat dasar dari transportasi sebagai kebutuhan turunan akibat aktivitas sosial, ekonomi dan budaya.
Transportasi dapat memberikan nilai manfaat, misalnya seorang produsen yang mengirim produknya ke tempat lain yang dapat memberikan harga maupun nilai manfaat yang lebih tinggi. Kesimpulannya transportasi berperan besar menggerakkan roda perekonomian. Apabila dalam proses pemindahan produk tersebut biayanya dapat ditekan (biaya transportasi), maka daya saing akan meningkat. Hal ini berelasi dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik sehingga kesejahteraan masyarakat akan meningkat
Kebutuhan akan transportasi yang efisien akan terjawab dengan moda kereta api. Penggunaaan moda ini mampu mengakomodasi penumpang maupun barang dalam jumlah yang besar sekaligus berarti mengurangi polusi serta menghemat penggunaan bahan bakar.
Kesadaran akan efisiensi yang dapat diberikan oleh kereta api dimulai dengan adanya reformasi undang-undang tentang perkeretaapian melalui penerbitan UU No. 23 Tahun 2007. Perundangan yang baru tersebut
BAB
1 - 2 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
memberikan peluang bagi swasta dan daerah untuk ikut berusaha. Penyusunan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional juga sebagai pedoman dalam mengembangkan perkeretaapian Indonesia.
Adapun laporan tahunan ini, diharapkan dapat memberikan gambaran akan tugas pokok dan fungsi direktorat serta permasalahan yang terjadi. Permasalahan yang terjadi hendaknya dapat menjadikan pelajaran di tahun-tahun selanjutnya.
1.2. Maksud dan Tujuan
Maksud Penyusunan Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 adalah untuk menyajikan data dan informasi mengenai hasil pelaksanaan kegiatan pemerintahan, pembangunan dan operasional yang strategis di bidang Perkeretaapian.
Tujuan Penyusunan Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 adalah tersedianya gambaran mengenai hasil kegiatan Direktorat Jenderal Perkeretaapian selama tahun 2016.
1.3. Ruang Lingkup
Adapun cakupan dari Laporan ini adalah :
a. Kegiatan Pemerintahan, meliputi kegiatan-kegiatan non fisik yang bersifat rutin seperti penyederhanaan perijinan, pengujian dan sertifikasi SDM, pengujian dan sertifikasi sarana serta prasarana perkeretaapian dan lain-lain;
b. Kegiatan Pembangunan, meliputi kegiatan fisik pembangunan prasarana dan sarana perkeretaapian yang dibiayai melalui APBN Tahun 2016;
c. Kegiatan Operasional, meliputi kegiatan pelayanan angkutan kereta api termasuk angkutan lebaran dan pelaksanaan Public Services Obligation (PSO) untuk menunjang pelayanan kereta kelas ekonomi.
ORGANISASI
DIREKTORAT JENDERAL
PERKERETAAPIAN
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 2 - 1
BAB II
ORGANISASI DIREKTORAT JENDERAL
PERKERETAAPIAN
2.1. Tugas, Fungi dan Kewenangan
Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 189 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan, bahwa sesuai tugas pokoknya Direktorat Jenderal Perkeretaapian yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian adalah unsur pelaksana sebagian tugas dan fungsi Kementerian Perhubungan yang bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan.
Direktorat Jenderal Perkeretaapian mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang Perkeretaapian. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana tersebut di atas, Direktorat Jenderal Perkeretaapian menyelenggarakan fungsi dan kewenangan :
a. Perumusan kebijakan di bidang penyelengggaraan lalu lintas, angkutan, sarana, dan prasarana transportasi kereta api, serta peningkatan keselamatan transportasi kereta api;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang penyelenggaraan lalu lintas, angkutan, sarana, dan prasarana transportasi kereta api, serta peningkatan keselamatan transportasi kereta api;
c. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penyelenggaraan lalu lintas, angkutan, sarana, dan prasarana transportasi kereta api, serta peningkatan keselamatan transportasi kereta api;
BAB
2 - 2 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
d. Pelaksanaan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang penyelenggaraan lalu lintas, angkutan, sarana, dan prasarana transportasi kereta api, serta peningkatan keselamatan transportasi kereta api;
e. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang penyelenggaraan lalu lintas, angkutan, sarana dan prasarana transportasi kereta api, serta peningkatan keselamatan transportasi kereta api;
f. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian; dan g. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.
2.2. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian diatur melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 189 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan dapat dilihat pada Gambar 2.1.
2.2.1. Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian
Sekretariat Direktorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas dan pemberian pelayanan dukungan teknis dan administrasi kepada seluruh satuan organisasi dalam lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
Dalam melaksanakan tugasnya, Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian menyelenggarakan fungsi :
a. Penyiapan koordinasi dan penyusunan rencana, program, pengembangan sistem dan teknologi informasi di bidang perkeretaapian, serta evaluasi dan pelaporan;
b. Penyiapan pengelolaan keuangan dan barang milik negara di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian;
c. Penyiapan koordinasi dan penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan, pemberian pertimbangan dan advokasi hukum, pelaksanaan jaringan dan dokumentasi hukum serta urusan hubungan masyarakat dan antar lembaga serta kerja sama luar negeri di bidang perkeretaapian; dan
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 2 - 3 d. Penyiapan koordinasi dan pelaksanaan pengelolaan kepegawaian, standar kompetensi jabatan dan sumber daya manusia, organisasi dan tata laksana, kegiatan administrasi perkantoran, kearsipan dan tata persuratan, pelaksanaan urusan umum dan kerumah tanggaan, kesejahteraan pegawai serta pengadaan barang milik negara di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
2.2.2. Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang lalu lintas dan angkutan kereta api.
Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api menyelenggarakan fungsi :
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang penataan dan pengembangan jaringan, lalu lintas dan angkutan kereta api, serta kerja sama dan pengembangan usaha di bidang perkeretaapian;
b. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang penataan dan pengembangan jaringan, lalu lintas dan angkutan kereta api, serta kerja sama dan pengembangan usaha di bidang perkeretaapian;
c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang penataan dan pengembangan jaringan, lalu lintas dan angkutan kereta api, serta kerjasama dan pengembangan usaha di bidang perkeretaapian;
d. Penyiapan pelaksanaan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang penataan dan pengembangan jaringan, lalu lintas dan angkutan kereta api, serta kerjasama dan pengembangan usaha di bidang perkeretaapian; dan e. Pelaksanaan urusan tata usaha, keuangan, kepegawaian dan rumah tangga
2 - 4 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
2.2.3. Direktorat Prasarana Perkeretaapian
Direktorat Prasarana Perkeretaapian mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, pedoman, kriteria dan prosedur, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang prasarana perkeretaapian.
Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Prasarana Perkeretaapian menyelenggarakan fungsi :
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang prasarana perkeretaapian yang terdiri atas jalur dan bangunan kereta api, stasiun kereta api, fasilitas operasi kereta api, perpotongan dan persinggungan jalur kereta api dan kelaikan prasarana perkeretaapian;
b. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang prasarana perkeretaapian yang terdiri atas jalur dan bangunan kereta api, stasiun kereta api, fasilitas operasi kereta api, perpotongan dan persinggungan jalur kereta api dan kelaikan prasarana perkeretaapian;
c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, kriteria di bidang prasarana perkeretaapian yang terdiri atas jalur dan bangunan kereta api, stasiun kereta api, fasilitas operasi kereta api dan kelaikan prasarana perkeretaapian;
d. Penyiapan pelaksanaan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang prasarana perkeretaapian yang terdiri atas jalur dan bangunan kereta api, stasiun kereta api, fasilitas operasi kereta api dan kelaikan prasarana perkeretaapian, serta pelaksana jasa konsultansi serta konstruksi prasarana perkeretaapian;
e. Penyiapan evaluasi dan pelaporan di bidang prasarana perkeretaapian yang terdiri atas rencana jalur dan bangunan kereta api, stasiun kereta api dan fasilitas operasi kereta api serta kelaikan prasarana perkeretaapian; dan f. Penyiapan pelaksanaan urusan tata usaha, keuangan, kepegawaian, dan
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 2 - 5
2.2.4. Direktorat Sarana Perkeretaapian
Direktorat Sarana Perkeretaapian mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang sarana perkeretaapian.
Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Sarana Perkeretaapian menyelenggarakan fungsi:
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang sarana perkeretaapian yang mencakup pengembangan, pengadaan, pengawasan, kelaikan dan sertifikasi sarana, pengelolaan sarana perkeretaapian milik negara, pemberian tanda kelaikan sarana, fasilitas pengujian, pemeriksaan dan pengawasan perawatan sarana perkeretaapian;
b. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang sarana perkeretaapian yang mencakup pengembangan, pengadaan, pengawasan, kelaikan dan sertifikasi sarana, pengelolaan sarana perkeretaapian milik negara, pemberian tanda kelaikan sarana, fasilitas pengujian, pemeriksaan dan pengawasan perawatan sarana perkeretaapian;
c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang sarana perkeretaapian yang mencakup pengembangan, pengadaan, pengawasan, kelaikan, sertifikasi, pengelolaan sarana;
d. Perkeretaapian milik negara, pemberian tanda kelaikan sarana, fasilitas pengujian, pemeriksaan dan pengawasan perawatan sarana perkeretaapian; e. Penyiapan pelaksanaan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang sarana perkeretaapian yang mencakup pengembangan, pengadaan, pengawasan, kelaikan, sertifikasi, pengelolaan sarana perkeretaapian milik negara, pemberian tanda kelaikan sarana, fasilitas pengujian, pemeriksaan dan pengawasan perawatan sarana perkeretaapian;
f. Penyiapan evaluasi dan pelaporan di bidang sarana perkeretaapian; dan g. Pelaksanaan tata usaha, keuangan, kepegawaian, dan rumah tangga
2 - 6 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
2.2.5. Direktorat Keselamatan Perkeretaapian
Direktorat Keselamatan Perkeretaapian mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang keselamatan perkeretaapian.
Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Keselamatan Perkeretaapian menyelenggarakan fungsi:
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang keselamatan perkeretaapian yang mencakup rekayasa dan peningkatan keselamatan perkeretaapian, audit dan inspeksi keselamatan, pemeriksaan dan analisis kecelakaan, sertifikasi sumber daya manusia dan akreditasi kelembagaan, serta pencegahan pelanggaran dan penegakan hukum;
b. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang keselamatan perkeretaapian yang mencakup rekayasa dan peningkatan keselamatan perkeretaapian, audit dan inspeksi keselamatan, pemeriksaan dan analisis kecelakaan, sertifikasi sumber daya manusia dan akreditasi kelembagaan, serta pencegahan pelanggaran dan penegakan hukum;
c. Penyiapan penyusunan standar, norma, prosedur dan kriteria dibidang rekayasa dan peningkatan keselamatan perkeretaapian, audit dan inspeksi keselamatan, pemeriksaan dan analisis kecelakaan, sertifikasi sumber daya manusia dan akreditasi kelembagaan, serta pencegahan pelanggaran dan penegakan hukum;
d. Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang rekayasa dan peningkatan keselamatan perkeretaapian, audit dan inspeksi keselamatan, pemeriksaan dan analisis kecelakaan, sertifikasi sumber daya manusia dan akreditasi kelembagaan, pencegahan pelanggaran dan penegakan hukum, serta badan hukum atau lembaga yang melakukan pengujian, pemeriksaan dan perawatan prasarana dan sarana serta badan hukum atau lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia perkeretaapian.
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 2 - 7 G am ba r 2 .1 . Str uk tu r Orga ni sa si Di tje n Pe rk ere ta ap ia n
2 - 8 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 G am ba r 2 .2 . Str uk tu r Orga ni sa si B al ai T ek ni k Pe rk ere ta ap ia n Ke la s I G am ba r 2 .3 . S tru ktu r Orga ni sa si B al ai T ek ni k Pe rk ere ta ap ia n Ke la s II
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 2 - 9 Gambar 2.4. Struktur Organisasi Balai Pengujian Perkeretaapian
2 - 10 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
2.3. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia Direktorat Jenderal Perkeretaapian secara keseluruhan pada Tahun 2016 berjumlah 594 pegawai dengan rincian 346 pegawai dikantor pusat dan 248 pegawai di Balai Perkeretaapian sebagaimana diuraikan masing-masing unit kerja Eselon II dibawah ini.
2.3.1. Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian
Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian, terdiri atas: a. Bagian Perencanaan;
b. Bagian Keuangan; c. Bagian Hukum; dan
d. Bagian Kepegawaian dan Umum.
Komposisi sumber daya manusia (SDM) Sekretariat Direktorat Jenderal Perkeretaapian tahun 2016 secara total pegawai 92 Orang, dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. b.
Gambar 2.6. Komposisi Pegawai Setditjen Perkeretaapian Berdasarkan Tingkat Pendidikan (a) Tingkat Golongan/Kepangkatan (b)
2.3.2. Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, terdiri atas: a. Subdirekorat Penataan dan Pengembangan Jaringan;
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 2 - 11 b. Subdirekorat Lalu Lintas;
c. Subdirekorat Angkutan;
d. Subdirekorat Kerjasama dan Pengembangan Usaha; dan e. Subbagian Tata Usaha
Komposisi sumber daya manusia (SDM) Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api tahun 2016 secara total pegawai 63 orang, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. b.
Gambar 2.7. Komposisi Pegawai Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Berdasarkan Tingkat Pendidikan (a) Tingkat Golongan/Kepangkatan (b)
2.3.3. Direktorat Prasarana Perkeretaapian
Direktorat Prasarana Perkeretaapian, terdiri atas :
a. Subdirektorat Jalur dan Bangunan Kereta Api Wilayah I; b. Subdirektorat Jalur dan Bangunan Kereta Api Wilayah II; c. Subdirektorat Fasilitas Operasi Kereta Api;
d. Subdirektorat Pengujian dan Sertifikasi Jalur dan Bangunan Kereta Api; e. Subdirektorat Pengujian dan Sertifikasi Fasilitas Operasi Kereta Api; dan f. Subbagian Tata Usaha.
2 - 12 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
Komposisi sumber daya manusia (SDM) Direktorat Prasarana Perkeretaapian tahun 2016 secara total pegawai 71 orang, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. b.
Gambar 2.8. Komposisi Pegawai Direktorat Prasarana Perkeretaapian berdasarkan tingkat Pendidikan (a) tingkat golongan/kepangkatan (b)
2.3.4. Direktorat Sarana Perkeretaapian
Direktorat Sarana Perkeretaapian mempunyai total sumber daya manusia 57 Orang, terdiri atas:
a. Subdirektorat Pengembangan dan Pengawasan Sarana; b. Subdirektorat Pengelolaan Sarana Milik Negara;
c. Subdirektorat Pengujian dan Sertifikasi Sarana Wilayah I; d. Subdirektorat Pengujian dan Sertifikasi Sarana Wilayah II; dan e. Subbagian Tata Usaha.
Komposisi sumber daya manusia (SDM) Direktorat Sarana Perkeretaapian tahun 2016 terdiri dari 57 Orang, dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan dan golongan / kepangkatan digambarkan pada Gambar 2.9.
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 2 - 13
a.
b.
Gambar 2.9. Komposisi Pegawai Direktorat Sarana Perkeretaapian Berdasarkan Tingkat Pendidikan (a)Ttingkat Golongan/Kepangkatan (b)
2.3.5. Direktorat Keselamatan Perkeretaapian
Direktorat Keselamatan Perkeretaapian mempunyai total sumber daya manusia 63 Orang, terdiri atas:
a. Subdirektorat Rekayasa dan Peningkatan Keselamatan; b. Subdirektorat Audit dan Inspeksi Keselamatan;
c. Subdirektorat Pemeriksaan dan Analisis Kecelakaan;
d. Subdirektorat Sertifikasi Sumber Daya Manusia dan Akreditasi Kelembagaan; e. Subdirektorat Pencegahan & Penegakan Hukum; dan
f. Subbagian Tata Usaha.
Komposisi sumber daya manusia (SDM) Direktorat Keselamatan Perkeretaapian tahun 2016 terdiri dari 63 Orang, dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan dan tingkat golongan / kepangkatan sebagai berikut :
2 - 14 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
a. b.
Gambar 2.10. Komposisi Pegawai Direktorat Sarana Perkeretaapian Berdasarkan Tingkat Pendidikan (a) Tingkat Golongan/Kepangkatan (b)
KEGIATAN STRATEGIS
BIDANG PEMERINTAHAN
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 3 - 1
BAB III
KEGIATAN STRATEGIS BIDANG
PEMERINTAHAN
Pelaksanaan kegiatan bidang pemerintahan merupakan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi sebagaimana telah dituangkan dalam program kerja tahun 2016. Pelaksanaan program strategis bidang pemerintahan di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian adalah sebagai berikut :
3.1. Penyederhanaan Perjanjian di Lingkungan Ditjen Perkeretaapian
Pada Tahun 2016, capaian jumlah penyederhanaan perijinan di lingkungan Ditjen Perkeretaapian mencapai 100%. Capaian penyederhanaan perijinan dalam rangka mencapai sasaran meningkatnya kinerja Ditjen Perkeretaapian dalam mewujudkan good governance khususnya pada indikator Capaian Kinerja Jumlah penyederhanaan perijinan di lingkungan Ditjen Perkeretaapian Tahun 2016, pada tahun 2016 Ditjen Perkeretaapian melakukan penyederhanaan perizinan antara lain :
a. Perizinan Penyelenggaraan Prasarana Perkeretaapian Umum: 1) Penetapan Trase Jalur KA;
2) Penetapan Badan Usaha;
3) Perjanjian Penyelenggaraan Prasarana Perkeretaapian Umum; 4) Izin Usaha;
5) Izin Pembangunan; 6) Izin Operasi.
BAB
3 - 2 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
b. Perizinan Penyelenggaraan Sarana Perkeretaapian Umum : 1) Izin Usaha;
2) Izin Operasi.
c. Perizinan Penyelenggaraan Perkeretaapian Khusus : 1) Persetujuan Prinsip Pembangunan;
2) Penetapan Trase Jalur KA; 3) Izin Pembangunan;
4) Izin Operasi.
3.2. Pengujian dan Sertifikasi SDM Perkeretaapian
Dari segi regulator, peningkatan keselamatan merupakan hal yang pokok oleh sebab itu Pemerintah dalam hal ini Ditjen Perkeretaapian menetapkan standar, pedoman dan ketentuan yang harus dilakukan oleh operator. Disamping itu juga pemerintah mempunyai kewajiban untuk melakukan pengujian dan sertifikasi terhadap sarana dan prasarana perkeretaapian yang akan dioperasikan serta SDM perkeretaapian. Dengan demikian setidaknya ada jaminan keselamatan untuk pengoperasian kereta api.
Dalam rangka peningkatan keselamatan di bidang SDM, operator wajib menggunakan SDM yang memenuhi kualifikasi keahlian atau kecakapan sesuai dengan bidang kerjanya. SDM perkeretaapiaan yang telah mengikuti pelatihan dan memenuhi kualifikasi keahlian atau kecakapan diberikan sertifikat dari Pemerintah atau badan hukum Indonesia yang telah memenuhi persyaratan akreditasi.
Jumlah Sertifikasi SDM Teknis Perkeretaapian pada tahun 2016 sebanyak 3.213 atau sebesar 72,23% dari target yang ditetapkan sebesar 4.448 sertifikat, sebagaimana tabel dibawah ini:
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 3 - 3 Tabel 3.1. Sertifikat Kompetensi SDM Perkeretaapian
yang diterbitkan Ditjen Perkeretaapian 2011-2015
Indikator Kinerja Utama
Satuan Target Realisasi Kinerja Tahun 2016 TW1 TW2 TW3 TW4 Total Jumlah Sertifikasi
SDM Teknis Perkeretaapian
Sertifikat 4448 776 1120 1930 3213 3213 3.3. Pengujian dan Sertifikasi Sarana Perkeretaapian
Untuk memenuhi persyaratan teknis dan menjamin kelaikan operasi sarana perkeretaapian, wajib dilakukan pengujian dan sertifikasi sesuai dengan Undang- Undang Nomor. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Pada Tahun 2016 telah dilakukan pengujian dan sertifikasi terhadap sarana perkeretaapian sebagaimana tabel dibawah ini :
Tabel 3.2. Pengujian dan Sertifikasi Sarana Tahun 2016
Gambar 3.1. Diagram Jumlah Sertifikasi Sarana Perkeretaapian Tahun 2015 & 2016
No.
Jenis Sarana
Sertifikat
2015
2016
1.
Lokomotif
111
210
2.
Kereta dengan Penggerak
Sendiri
429
449
3.
Peralatan Khusus
24
13
4.
Kereta Yang ditarik Lokomotif
102
816
5.
Gerbong
1254
1592
3 - 4 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
Dari tabel & diagram tersebut diatas, diketahui bahwa jumlah sertifikasi sarana perkeretaapian pada tahun 2016 mengalami kenaikan sebanyak 1.160 sertifikat atau 60,42% dibanding tahun 2015 sebanyak 1.920 sertifikat. Pelaksanaan sertifikasi sarana perkeretaapian tahun 2016 didominasi jenis sarana perkeretaapian Gerbong dengan persentase sebesar 51,69%.
Pengukuran tinggi coupler Lokomotif CC 20183 35
Pengukuran temperature
beraing gerbong Pengukuran intensitas cahaya kereta
Pengukuran tinggi coupler Lokomotif CC 20183 35
Pengukuran Diameter Roda Kereta
Pengujian dinamis gerbong di Stasiun Belawan Gambar 3.2. Dokumentasi Pengujian Sarana Perkeretaapian
3.4. Pelaksanaan Kegiatan Perawatan dan Pengoperasian Sarana perkeretaapian Milik Negara (IMO)
Pada tahun 2016 Ditjen Perkeretaapian Melaksanakan Kegiatan pelaksanaan perawatan dan pengoperasian prasarana perkeretaapian milik Negara /
Infrastructure Maintenance and Operation (IMO) berdasarkan kontrak antara
Ditjen Perkeretaapian dengan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Nomor : 01/KTR/PPFPP-KA/I/2016 dan HK.221/I/28/KA-2016 tanggal 18 Januari 2016. Pada tahun 2016 Ditjen Perkeretaapian melaksanakan kegiatan pelaksanaan perawatan dan pengoperasian prasarana perkeretaapian milik negara (IMO) yang meliputi antara lain:
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 3 - 5 a. Perawatan Jalur Kereta Api;
b. Perawatan Jembatan;
c. Perawatan Stasiun Kereta Api;
d. Perawatan Fasilitas Operasi Kereta Api, terdiri dari:
1) Perawatan seluruh peralatan sinyal dan telekomunikasi;
2) Perawatan instalasi listrik meliputi seluruh perawatan Listrik Aliran Atas dan Listrik Umum untuk fasilitas pengoperasian prasarana perkeretaapian; 3) Pelaksanaan pengoperasian prasarana perkeretaapian milik negara yaitu
oleh petugas pengoperasian prasarana perkeretaapian.
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai pelaksana Perawatan dan Pengoperasian Prasarana Perkeretaapian Milik Negara (IMO) sesuai dengan KP 27 Tahun 2016 tanggal 13 Januari 2016 tentang Penugasan Kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk melaksanakan Perawatan dan Pengoperasian Prasarana Perkeretaapian Milik Negara Tahun Anggaran 2016.
Dalam setiap pelaksanaan pembayaran perawatan Perawatan dan Pengoperasian Prasarana Perkeretaapian Milik Negara (IMO) oleh PT. Kereta Api Indoensia (Persero)| dilakukan verifikasi oleh Tim Verifikasi, yang dibentuk dengan Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian.
3.5. Pengujian dan Sertfikasi Prasarana Perkeretaapian
Direktorat Jenderal Perkeretaapian melaksanakan pengujian prasarana perkeretaapian dalam rangka mengemban amanat UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian serta Peraturan Menteri Perhubungan No. 30 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengujian dan Pemberian Sertifikat Prasarana Perkeretaapian bahwa pengujian prasarana perkeretaapian dilakukan untuk mengetahui kesesuaian antara persyaratan teknis dan kondisi serta fungsi prasarana perkeretaapian, pada tahun 2016 Direktorat Jenderal Perkeretaapian melaksanakan pengujian terhadap jalur dan bangunan serta Fasilitas Operasi Perkeretaapian dengan rincian sebagai berikut:
3 - 6 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
3.5.1. Pengujian Jalur dan Bangunan Perkeretaapian
Pengujian yang telah dilaksanakan Subdit Kelaikan jalur dan Bangunan Kereta Api terdiri atas pengujian pertama dan pengujian berkala dengan hasil berupa Sertifikat Uji Pertama dan Uji Berkala.
Sesuai Dengan Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor : KA. 405/SK. 333/DJKA/12/16 Tentang Pengesahan dan Sertifikasi Uji Pertama Prasarana Perkeretaapian Milik Negara Berupa Jalur, Bangunan dan Stasiun Kereta Api Hasil Pekerjaan Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah Tahun Anggaran 2015.
Tabel 3.3. Daftar Jumlah Sertifikat Uji Pertama
SERTIFIKAT UJI PERTAMA
Kegiatan Jml Ket
1. Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah
Pengujian Pertama Jalur dan Bangunan Kereta Api, Pekerjaan PPK Kegiatan Peningkatan Jalan KA Lintas Selatan Jawa TA. 2014
Pengujian Pertama Jalur dan Bangunan Kereta Api pekerjaan TA.2015: (PPK Kegiatan Pengembangan Perkeretaapian Jawa Tengah,
PPK Kegiatan Jalur Ganda Cirebon – Kroya,
PPK Kegiatan Peningkatan Jalan KA Lintas Selatan Jawa)
11
32
Sudah Terbit
Sudah Terbit
2. Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jakarta dan Banten
Stasiun Kebayoran; Stasiun Parung Panjang; Stasiun Maja
3 Dalam
Proses
3. Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Barat
Pembangunan Stasiun Tanjung beserta pembangunan peron sedang dan akses jalan masuk ke Stasiun Tanjung;
3 Dalam
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 3 - 7
SERTIFIKAT UJI PERTAMA
Kegiatan Jml Ket
Pekerjaan Struktur Baja Atas BH 357 dari Jembatan Beton menjadi Jembatan Baja di KM 154 + 449 Sepur Hilir Bentang 10 + 10 Meter antara Cilegeh – Kedokangabus;
Penanggulangan Longsor di Km. 212 + 400 s/d Km 212 + 500 antara Leuwigoong s/d Cibatu lintas Bandung – Banjar.
4. Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Timur
Stasiun Pucuk; Stasiun Surabayan
2 Dalam
Proses
5. Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Sumatera Bagian Utara
Pengujian Pertama Jalur dan Bangunan Kereta Api, Pekerjaan TA. 2015 oleh:
PPK Pengujian Jalur dan Bangunan Pekerjaan Pengembangan Perkeretaapian Sumatera Utara
Peningkatan jalan kereta api antara Binjai – Kuala Begumit.
PPK Kementerian Perindustrian
Pembangunan Jalur dan Bangunan Kereta di Kawasan Ekonomi khusus Sei Mangke
3 Dalam
Proses
6. Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Sumatera Bagian Barat
Pekerjaan PPK Pengembangan Perkeretaapian Sumatera Barat TA.2015:
Peningkatan jalan Kereta Api mengganti Rel R.33 bantalan besi menjadi Rel R.54 bantalan Beton antara Stasiun Lubuk Alung – Stasiun Sicincin lintas Teluk Bayur – Sawah Lunto;
Peningkatan jalan Kereta Api mengganti Rel R.33 bantalan besi menjadi Rel R.54 bantalan Beton antara Stasiun Sicincin – Stasiun Kayu Tanam lintas Teluk Bayur
6 Dalam
3 - 8 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
SERTIFIKAT UJI PERTAMA
Kegiatan Jml Ket
– Sawah Lunto;
Peningkatan Jalan KA Rel R.25 menjadi Rel.R.54, Bantalan Beton, Penambat Elastis antara Stasiun Lubuk Alung – Stasiun Naras;
Peningkatan Jembatan BH 09 (WTT) Km. 1+120, Bentang 25m, antara bukit putus – Pauhlima lintas Bukit Putus – Indarung;
Peningkatan Jembatan KA BH.96 Km.12+123 bentang 40 meter, antara bukit putus – Pauhlima lintas Bukit Putus – Indarung;
Peningkatan Jembatan KA BH 113, Km. 13+366, Bentang 25m + 40m + 15m, antara bukit putus – Pauhlima lintas Bukit Putus – Indarung.
7. Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Sumatera Bagian Selatan
Pekerjaan Jalur dan Bangunan oleh Investasi PT. KAI (Persero)
Pembangunan Jalur Ganda antara Niru –Tanjung Enim Baru;
Pembangunan 8 (delapan) Stasiun dan Longsiding yaitu: stasiun Branti, Gedung Ratu, Haji Pamanggilan, Sungai Tuha, Kemelak, Air Tuba, Talang Baru, Durian dan Kepayang.
Pembangunan Jalur KA TLS 1 & TLS 2 PT Bukit Asam
Pembangunan Jalur Rel Lingkar Phase-5 Pelabuhan Tarahan Hasil Pekerjaan PT Bukit Asam
9 Dalam
Proses
Total 69 (Terbit 43) (Proses 26)
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 3 - 9 Tabel 3.4. Realisasi Proses Penerbitan Sertifikat Uji Berkala
NO KEGIATAN PEKERJAAN /LOKASI REALISASI A. PENGUJIAN BERKALA JALUR DAN BANGUNAN KA
1. WILAYAH JAWA
a. DAOP 1
Jakarta Pengujian Berkala untuk daerah operasional 1
JAKARTA, sesuai hasil
perawatan prasarana perkeretaapian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero). PROSES SERTIFIKAT (522 LEMBAR SERTIFIKAT) b. DAOP 2
Bandung Pengujian Berkala untuk daerah operasional 2
BANDUNG, sesuai hasil
perawatan prasarana perkeretaapian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero).
PROSES SERTIFIKAT
c. DAOP 3
Cirebon Pengujian Berkala untuk daerah operasional 3
CIREBON, sesuai hasil
perawatan prasarana perkeretaapian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero).
PROSES SERTIFIKAT
d. DAOP 5
Purwokerto Pengujian Berkala untuk daerah operasional 5
PURWOKERTO, sesuai hasil
perawatan prasarana perkeretaapian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero).
PROSES SERTIFIKAT
e. DAOP 6
Yogyakarta Pengujian Berkala untuk daerah operasional 6
YOGYAKARTA, sesuai hasil
perawatan prasarana perkeretaapian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero).
PROSES SERTIFIKAT (208 LEMBAR SERTIFIKAT)
3 - 10 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
NO KEGIATAN PEKERJAAN /LOKASI REALISASI
f. DAOP 7
Madiun Pengujian Berkala untuk daerah operasional 7
MADIUN, sesuai hasil
perawatan prasarana perkeretaapian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero).
PROSES SERTIFIKAT
g. DAOP 9
Jember Pengujian Berkala untuk daerah operasional 9
JEMBER, sesuai hasil
perawatan prasarana perkeretaapian oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero). PROSES SERTIFIKAT (261 LEMBAR SERTIFIKAT) 2. WILAYAH SUMATERA a. DIVRE 1 Sumatera Utara
Pengujian Berkala Jalur dan Bangunan hasil perawatan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) untuk Divisi
Regional 1 SUMATERA UTARA. PROSES SERTIFIKAT (176 LEMBAR SERTIFIKAT) b. DIVRE 2 Sumatera Barat
Pengujian Berkala Jalur dan Bangunan hasil perawatan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) untuk Divisi
Regional 2 SUMATERA BARAT. PROSES SERTIFIKAT c. DIVRE 3 Sumatera Selatan
Pengujian Berkala Jalur dan Bangunan hasil perawatan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) untuk Divisi
Regional 3 SUMATERA SELATAN. PROSES SERTIFIKAT d. DIVRE 4 Tanjung Karang
Pengujian Berkala Jalur dan Bangunan hasil perawatan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) untuk Divisi
Regional 4 TANJUNG KARANG
PROSES SERTIFIKAT
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 3 - 11
3.5.2. Perizinan Pembangunan yang Sejajar/Memotong Jalur Kereta Api
Subdit Kelaikan Jalur dan Bangunan Kereta Api mempunyai tugas tambahan yakni pelaksanaan proses perizinan bangunan yang sejajar / memotong jalur kereta api, sertifikasi komponen prasarana baru dan sertifikasi las. Terhitung per Desember 2016 terdapat 19 perizinan crossing jalur Rel, 11 uji komponen bantalan dan rel kereta api dan 5 uji pengelasan.
Pada tahun 2016 terdapat 19 perizinan yang sudah di proses, namun hanya empat yang diterbitkan SK. Kendala yang dialami dalam penerbitan izin adalah tidak siapnya stake holder untuk memenuhi persyaratan administrasi dan kesiapan teknis sehingga tidak dapat disampaikan untuk proses lanjut. Adapun daftar realisasi proses penerbitan SK perizinan bangunan yang sejajar/memotong jalur Kereta Api terdapat pada tabel berikut :
Tabel 3.5. Permohonan Penerbitan SK Perizinan Bangunan yang Sejajar/Memotong Jalur Kereta Api
NO KEGIATAN PEMOHON 1 Permohonan Izin Crossing
dengan jalur KA PT. Maju Karya Alam
2 Permohonan Izin Perlintasan Sebidang (JPL) PT. Bulog Mangil 3 Permohonan Izin Perlintasan Sebidang (JPL) PT. Permata Dunia Sukses
4 Permohonan Izin Crossing
Pipa Air Bersih PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi
5 Permohonan Izin Perlintasan Sebidang (JPL) BTP Wil. Suamtera Bag. Utara
6 Permohonan Izin Crossing Pipa Gas Km. 88+850
antara Sta. Cikampek – Sta. Bungur
PT. PGN (Persero)
3 - 12 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
NO KEGIATAN PEMOHON
Crossing Cilegon
8 Permohonan Izin Crossing
PU Kota Cilegon PU Kota Cilegon
9 Permohonan Izin Crossing
Pipa BBM PT. AKR Medan
10 Permohonan Izin
Perlintasan Tidak Sebidang (Fly Over)
PT. Citra Raya Sidoarjo
11 Permohonan Izin
Perlintasan Tidak Sebidang (Fly Over)
Pemkab Cimahi
12 Permohonan Izin Crossing
Pipa ESDM Merak Kementerian ESDM
13 Permohonan Izin Crossing
Pipa ESDM Cilegon Kementerian ESDM
14 Permohonan Izin
Perlintasan Tidak Sebidang (Fly Over)
PT. Pejagan Pemalang Tol Road
15 Permohonan Izin Crossing
Pipa Air Bersih PT. Sulinda Mills
16 Permohonan Izin Crossing
PEMDA Tangerang PEMDA Tangerang
17 Permohonan Izin Crossing
Pipa Air Bersih PDAM Bogor
18 Permohonan Izin Crossing
Pipa Air Bersih PU Cipta Karya Yogyakarta
19 Permohonan Izin Crossing
Pipa PT. Mitsubishi Chemical Indonesia
3.5.3. Pengujian dan Sertifikasi Komponen Kereta Api
Pada tahun 2016 terdapat sebelas pengujian dan sertifikasi komponen Kereta Api. Seluruhnya belum ada yang selesai hingga terbitnya SK. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengujian komponen adalah tidak lengkapnya
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 3 - 13 dokumen. Adapun daftar realisasi pengujian dan proses penerbitan SK Bantalan Beton dan Penambat Rel Kereta Api.
Tabel 3.6. Realisasi Proses Penerbitan SK Perizinan Bangunan yang Sejajar/Memotong Jalur Kereta Api
No Kegiatan Pemohon Posisi Saat Ini 1 Sertifikasi Bantalan
1067 mm PT. Waskita Beton Precast Pengambilan Sampel Ulang
2 Sertifikasi Bantalan 1435 mm, panjang 2440 mm
PT. Tjakrindo
Mas SK No. KA.405/SK.03/DJKA/I/2017
3 Sertifikasi Bantalan 1435 mm, panjang 2740 mm
PT. Tjakrindo
Mas SK No. KA.405/SK.03/DJKA/I/2017
4 Sertifikasi Bantalan
1067 mm PT. Kunango Jantan Usulan Test Track
5 Sertifikasi Penambat
Elastis R. 54 PT. Pandrol Indonesia Menunggu hasil pengujian BP2TKS Serpong
6 Sertifikasi Bantalan
1067 mm PT. Jaya Beton Proses menunggu pengajuan gambar teknis
7 Sertifikasi Bantalan 1435 mm, panjang 2740 mm
PT. Jaya
Beton Proses menunggu pengajuan gambar teknis
8 Sertifikasi Bantalan
1067 mm PT. Varia Usaha Beton Pengambilan Sampel Ulang
9 Sertifikasi Bantalan
slabtrack untuk KCIC PT. WIKA Beton SK No. KA.405/SK.01/DJKA/I/2017
10 Sertifikasi Penambat
Slabtrack untuk MRT PT. Pandrol Indonesia Menunggu kelengkapan dokumen
11 Track Dumping Level
3 - 14 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
3.5.4. Pengujian dan Sertifikasi Pengelasan
Pada tahun 2016 terdapat lima pengujian dan sertifikasi pengelasan yang sudah dilakukan. Terdapat dua pengujian yang telah terbit sertifikatnya, satu pengujian yang masih dalam proses sertifikasi, dan dua pengujian yang perlu dilakukan pengujian ulang. Adapun daftar realisasi pengujian dan sertifikasi pengelasan terdapat pada tabel 3.10
Tabel 3.7. Realisasi Proses Penerbitan SK Perizinan Bangunan yang Sejajar/Memotong Jalur Kereta Api
No Kegiatan Pemohon Posisi Saat Ini 1 Sertifikasi Las
Thermit R. 60
PT. SNAGA Group Pengujian Ulang
2 Sertifikasi Las Thermit R. 54
PT. SNAGA Group Pengujian Ulang
3 Sertifikasi Las Thermit R. 54 PT. MMBK Selesai 4 Sertifikasi Las Thermit R PT. Nanhai Selesai 5 Sertifikasi Flash Butt Welding
PT. Saputro Rekomendasi Direktur Prasarana Nomor 8/SRT/K3/DJKA/I/2017
3.5.5. Pengujian Fasilitas Operasi
a. Pengujian Pertama
Menurut Peraturan Menteri Perhubungan No. 30 Tahun 2011 mengenai Tata Cara Pengujian dan Pemberian Sertifikat Prasarana Perkeretaapian dalam Pasal 5 menyatakan bahwa uji pertama wajib dilakukan untuk prasarana perkeretaapian baru dan prasarana perkeretaapian yang mengalami perubahan spesifikasi teknis. Uji pertama meliputi uji rancang bangun dan uji fungsi.
b. Pengujian Berkala
Uji berkala wajib dilakukan untuk setiap jenis Prasarana Perkeretaapian yang telah dioperasikan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh Menteri dengan melakukan uji fungsi Prasarana Perkeretaapaian.
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 3 - 15 c. Uji Rancang Bangunan dan Uji Fungsi
Fasilitas pengoperasian kereta api sebagaimana disebutkan pada UU 23 tahun 2007 pasal 59, terdiri dari :
1) Pengujian Rancang Bangun Peralatan Persinyalan, Telekomunikasi dan Instalasi Listrik
Uji Rancang bangun, yaitu memeriksa kesesuaian dokumen terhadap hasil fisik prasarana perkeretaapian. Dokumen tersebut meliputi:
a) Detail desain prasarana perkeretaapian yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat Prasarana Perkeretaapian;
b) Spesifikasi teknis prasarana perkeretaapian yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat Prasarana Perkeretaapian;
c) Gambar Rencana yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat Prasarana Perkeretaapian; dan
d) Gambar hasil pelaksanaan (as built drawing).
2) Pengujian Fungsi Peralatan Persinyalan
Uji fungsi peralatan persinyalan sebagaimana disebutkan pada PM. 30 tahun 2011 pasal 8 butir 4 paling sedikit meliputi uji :
a) Negative Check
Pengujian dilakukan di panel pelayanan meyakinkan suatu rute yang dibentuk kemudian di konflik/kontra dengan rute lain yang berlawanan atau bersinggungan (yang seharusnya tidak dapat dilakukan) untuk memastikan keamanan atas rute yang dibentuk tersebut.
b) Indikasi Pelayanan
Pengujian dilakukan di panel pelayanan untuk meyakinkan fungsi semua indikator di panel pelayanan dengan cara memfungsikan dan menonaktifkan semua fungsi indicator di panel pelayanan dapat beroperasi sesuai dengan fungsinya dan sesuai dengan kondisi di lapangan.
c) Akurasi
Pengujian dilakukan di panel pelayanan untuk menyakinkan proses pembentukan rute dan posisi wesel kereta api terhadap ketepatan posisi peralatan persinyalan untuk amannya suatu rute yang terbentuk.
3 - 16 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
d) Data Logger
Pengujian dilakukan dengan cara memfungsikan perekaman data operasi PPKA dalam melayani operasi kereta api untuk meyakinkan bahwa peralatan data logger dapat merekam aktifitas pelayanan perjalanan kereta api.
e) Jarak Tampak
Pengujian dilakukan dengan cara visual untuk meyakinkan peraga sinyal, tanda atau marka mampu menunjukkan indikasi aman atau tidak aman dengan jelas dalam segala cuaca terkait jarak dimana masinis masih dapat melihat dengan jelas baik siang maupun malam hari.
f) Sistem Pertanahan
Pengujian dilakukan mengukur tahanan pada peralatan persinyalan dengan menggunakan alat ukur tahanan tanah / earthing tester untuk meyakinkan bahwa tahanan pentanahan sesuai dengan spesifikasi teknik yang ditetapkan.
g) Ruang Bebas
Pengujian dilakukan dengan mengukur jarak antara as rel sampai badan Peraga sinyal baik di sisi kanan atau kiri rel dengan menggunakan meteran untuk meyakinkan terbebasnya jalur kereta api dari rintangan atau gangguan yang dapat mengganggu keselamatan perjalanan kereta api.
3) Pengujian Fungsi Peralatan Telekomunikasi
Uji fungsi peralatan telekomunikasi sebagaimana disebutkan pada PM. 30 tahun 2011 pasal 8 butir 5 paling sedikit meliputi uji :
a) Panggilan Selektif.
Pengujian dilakukan pada konsol dengan cara menggunakan tombol panggil peralatan untuk mengetahui kesesuaian tujuan panggilan yang telah ditetapkan.
Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016 3 - 17 b) Kejelasan Informasi/ Suara Yang Diterima.
Pengujian dilakukan dengan cara mendengarkan informasi / suara yang diterima untuk mengetahui kejelasan informasi / suara yang diterima.
c) Perekam Suara
Pengujian dilakukan dengan cara memutar ulang hasil perekam suara untuk meyakinkan bahwa perekam suara sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan.
d) Sistem Pentanahan
Pengujian dilakukan dengan cara mengukur tahanan pada peralatan telekomunikasi dengan menggunakan alat ukur tahanan tanah /
earthing tester untuk meyakinkan bahwa tahanan pentanahan sesuai
dengan spesifikasi teknik yang ditetapkan. e) Sistem Media Transmisi Telekomunikasi
Pengujian dilakukan dengan cara membandingkan kualitas data pada sisi pengirim yang dikirim melalui media transmisi dengan data yang diterima pada sisi penerima.
4) Pengujian Fungsi Instalasi Listrik
Uji fungsi peralatan telekomunikasi sebagaimana disebutkan pada PM. 30 tahun 2011 pasal 8 butir 5 paling sedikit meliputi uji :
a) Stabilitas Sistem Tegangan
Pengujian dilakukan dengan cara mengukur tegangan mengunakan alat volt meter untuk meyakinkan bahwa tegangan yang dihasilkan harus stabil sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan.
b) Sistem Dapat Saling Berhubungan
Pengujian dilakukan secara simulasi dengan memutus salah satu catu daya sesuai denagn spesifikasi teknis yang ditetapkan.
c) Ketingian dan Deviasi Kawat Trolley
Pengujian dilakukan dengan cara mengukur untuk meyakinkan bahwa ketinggian dan deviasi kawat trolley sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan.
3 - 18 Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Tahun 2016
d) Keausan Kawat Trolley
Pengujian dilakukan dengan cara mengukur ketebalan trolley untuk meyakinkan bahwa diameter kawat trolley sesuai spesifikasi teknis yang ditetapkan.
e) Tahanan Sistem Pentanahan
Pengujian dilakukan dengan cara mengukur tahanan pada peralatan Instalasi Listrik dengan menggunakan alat ukur tahanan tanah / earthing tester untuk meyakinkan bahwa tahanan pentanahan sesuai dengan spesifikasi teknik yang ditetapkan.
f) Sistem Pengendalian Catu Daya / Supervisory Control and Data
Acquision
Pengujian dilakukan secara simulasi untuk meyakinkan bahwa pengendalian catu daya / SCADA sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan.
g) Isolasi
Pengujian dilakukan dengan cara mengukur isolasi instalasi listrik untuk meyakinkan bahwa isolasi instalasi listrik terpasang sesuai spesifikasi teknis yang ditetapkan.
h) Linking Breaking Device (LBD) / Intertriping
Pengujian dilakukan secara simulasi untuk meyakinkan apabila salah satu catu daya (substation) trip maka catu daya (substation) yang berhubungan akan trip secara otomatis.
i) Ruang Bebas
Pengujian dilakukan dengan mengukur jarak antara as rel sampai badan tiang pole listrik aliran atas di sisi kanan atau kiri rel dengan menggunakan meteran untuk meyakinkan terbebasnya jalur kereta api dari rintangan atau gangguan yang dapat mengganggu keselamatan perjalanan kereta api.