BAB I PENDAHULUAN 1.1LATAR BELAKANG
Perekonomian dunia tidak lagi hanya terpusat pada arus perpindahan barang. Mobilisasi manusia antar negara pun kini tengah menjadi sebuah fenomena yang menarik bagi kajian Ilmu Hubungan Internasional. Kegiatan perpindahan manusia dari satu negara ke negara lain seringkali dilandasi oleh beberapa faktor utama, yakni mengamankan diri dari konflik yang terjadi di negaranya, menyelesaikan kepentingan bisnis dan profesional, belajar ke luar negeri dan berpariwisata. Pariwisata merupakan salah satu bidang yang dapat menjadi andalan suatu negara untuk meningkatkan perekonomiannya. Hal ini dikarenakan sektor pariwisata merupakan sebuah sektor yang dapat mengikutsertakan berbagai macam kalangan masyarakat untuk menjadi aktor ekonomi di dalamnya dan merupakan sektor yang tidak dapat habis. Pengikutsertaan seluruh kalangan masyarakat disini memiliki artian bahwa seluruh elemen masyarakat dapat ikut serta dalam memanfaatkan sektor wisata sebagai sumber pencaharian, seperti penyedia akomodasi, transportasi dan kebutuhan logistik. Berbeda dengan sektor manufaktur yang memerlukan sumber daya alam sebagai bahan utama dalam suatu produksi, sektor wisata yang notabene menyuguhkan keindahan suatu tempat tidak akan dapat habis, hanya saja memerlukan pengolahan dalam pelestariannya. Karena kelebihannya, sektor pariwisata kini tengah menjadi hal yang mendapatkan perhatian utama bagi pengembangan ekonomi negara. Hal ini terkait pada penyumbang kuota Gross Domestic Product (GDP) global sebesar 9% berasal dari sektor pariwisata, sektor tersebut juga tercatat pada posisi ke 4 setelah ekspor bahan bakar, bahan kimia dan produk otomotif dalam perdagangan internasional.1
Bagi beberapa negara, sektor pariwisata merupakan sebuah sumber ekonomi baru yang dapat digunakan sebagai salah satu katalisator pembangunan ekonomi ketika masih belum memiliki kemampuan yang tinggi dalam sektor manufaktur. Jepang merupakan salah satu negara yang kini sedang berusaha memposisikan sektor pariwisatanya menjadi salah satu penyangga perekonomiannya. Kemunduran sektor manufaktur Jepang pada tahun 2012 yang terlihat dari penurunan 3.5% Product Domestic Bruto (PDB) dan 0.7% GDP Jepang membuat pemerintah
1
Jepang ingin mengeksplorasi potensi ekonomi lain yang dimiliki selain sektor manufaktur.2 Berbeda dengan kehebatan kemampuan sektor manufakturnya, Jepang masih tergolong sebagai negara underdevelopment nation dalam hal pengolahan sektor pariwisata. Hal ini terlihat dari peringkat Jepang ke-39 sebagai negara penerima wisatawan di dunia dan peringkat ke-10 sebagai negara penerima wisatawan di kawasan Asia pada tahun 2011 di bawah China yang menempati peringkat 3 dan Korea Selatan pada posisi 25.3 Belum dapat dimanfaatkan secara maksimalnya sektor pariwisata Jepang menjadi dilema tersendiri bagi pemerintah Jepang karena kebijakan Cool Japan Strategysebagai strategi penyebaran budaya Jepang telah berhasil menyumbang 7% dari total komoditas ekspor yang lebih tinggi dibandingkan pemasukan sektor pariwisata yang hanya mencapai 6% pada tahun 2011.4 Rendahnya eksplorasi potensi sektor pariwisata menjadi hal yang disesalkan oleh pemerintah Jepang mengingat sektor pariwisata merupakan industri baru bersifat padat karya yang tidak dapat habis sehingga memiliki dampak ekonomi secara langsung maupun tidak pada ekonomi mikro dan makro dalam jangka yang panjang.
Jauh sebelumnya, Perdana Menteri Junichiro Koizumi yang menyadari rendahnya kemampuan Jepang dalam mengolah sektor pariwisatanya melalui Kementrian Luar Negeri untuk mengeluarkan kebijakan “Visit Japan Campaign” pada tahun 2003 guna menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Jepang. Penetapan target wisatawan sejumlah lebih dari 10 juta selama 7 tahun sejak kebijakan ini diterapkan ternyata masih belum terpenuhi karena pada kenyataannya wisatawan yang mengunjungi Jepang pada tahun 2010 hanya mencapai 8,61 juta.5 Tidak tercapainya jumlah yang ditargetkan melalui kebijakan pariwisata Visit Japan pada akhirnya membuat pemerintah Jepang berusaha lebih keras merancang strategi baru untuk mencapai target wisatawan guna semakin meningkatkan potensi sektor wisata sebagai sektor penyumbang pendapatan nasional Jepang. Keseriusan komitmen pemerintah Jepang untuk meningkatkan potensi ekonomi sektor pariwisata dapat dilihat dari keinginan Jepang untuk
2
Trading Economy, Japan GDP Growth Rate 1980 – 2014, http://www.tradingeconomics.com/japan/gdp-growth diakses pada 10 November 2014.
3
Minister of Land, Infrastructure, Transport and Tourism, White Paper on Tourism Japan 2012, The Tourism Situation in FY2012, 2012, p.4.
4
Nagata. Kazuaki, Exporting Culture via ‘Cool Japan’, The Japan Times News (online), 15 Mei 2012,
http://www.japantimes.co.jp/news/2012/05/15/reference/exporting-culture-via-cool-japan/#.UXVd86KSCNU diakses pada 22 April 2013. 5
Japan Tourism Agency, Visit Japan Campaign (daring),
mengubah posisi negaranya dari undeveloped nation tourism menjadi an emerging nation tourism Jepang yang tertera pada Japan Tourism White Paper tahun 2012.6
Berdasarkan dari kegagalan kebijakan pariwisata sebelumnya, pada tahun 2013 Pemerintahan Jepang lebih serius untuk menarik wisatawan asing. Hal ini diwujudkan dengan program olimpiade tahun 2020 yang diungkapkan dapat menarik 20 juta wisatawan asing ke Jepang oleh Perdana Menteri Shinzo Abe.7 Dalam merealisasikannya, pemerintah Jepang mengeluarkan dua kebijakan utama bersama perusahaan swasta untuk lebih mengondisikan Jepang yang lebih menarik. Dua kebijakan tersebut ialah kebijakan peningkatan jenis pelayanan bagi wisatawan asing yang lebih diteknankan pada pelayanan bandara dan fasilitas wireless serta kebijakan kemudahan pengurusan visa. Pemerintah Jepang membidik negara-Asia Tenggara yang memiliki mayoritas agama muslim untuk diberikan pembebasan Visa di Tahun 2013 seperti Malaysia dan Thailand untuk mengunjungi Jepang sebagai wisatawan dalam jangka waktu maksimal 15 hari dan memberikan kemudahan persyaratan pengurusan visa multiple-entry dan visa single-entry untuk warga negara Filipina dan Viet Nam melalui agen-agen perjalanan tertentu, serta melakukan pembebasan visa berdasarkan pendaftaran sebelumnya di Kedutaan Besar atau Konsulat Jenderal Jepang di Indonesia bagi pemegang e-paspor Indonesia. Sedangkan kebijakan kedua berisikan penambahan ruang ibadah bagi umat muslim di Bandara Narita serta menginstruksikan kepada pihak bandara untuk menyajikan makanan yang halal dengan meniadakan menu daging babi.8
Berdasarkan dua kebijakan yang diluncurkan oleh Perdana Menteri Shinzo Abe dalam sektor pariwisata dapat dilihat bahwa Jepang memiliki kecenderungan untuk memilih Kawasan Asia Tenggara sebagai orientasi utama kebijakan pariwisatanya. Menjadi sebuah hal yang menarik untuk dikaji lebih dalam mengenai alasan Jepang menjadikan Asia Tenggara sebagai pasar utama industri pariwisatanya ketika menyadari pengunjung yang berasal dari Asia
6
Minister of Land, Infrastructure, Transport and Tourism, White Paper on Tourism Japan 2012, The Tourism Situation in FY2012, 2012, p.4.
7
Kodera. Atsushi, Tourism emerges as new economic driver for Japan Government's campaign starting to yield significant dividends, TheJapanTimes (daring), 25 Agustus 2014,
http://www.japantimes.co.jp/news/2014/08/25/reference/tourism-emerges-new-economic-driver-japan/#.VFpVTjSUegw , diakses pada 3 September 2014.
8
Ministry of Foreign Policy Japan, Relaxation of Visa Requirements for Nationals of Indonesia, the Philippines, Viet Nam and India(daring), 17 Juni 2014,
Tenggara selalu menempati posisi lebih dari peringkat ke-5 setelah Korea Selatan, Taiwan, China, Amerika Serikat dan Hong Kong dengan pengunjung tidak pernah melebihi angka 260.000 bagi masing – masing Asia Tenggara pada tahun 2012.9 Vietnam bahkan hanya menyumbangkan 55.000 pengunjung pada tahun yang sama dibawah Australia dan Italia.10 Oleh karena itu, maka akan menjadi hal yang menarik untuk dikaji mengenai keputusan pemerintah Jepang untuk menjadikan Asia Tenggara sebagai pasar utama mengingat sedikitnya jumlah wisatawan yang disumbangkan ke sektor pariwisata Jepang dibandingkan dengan Asia Timur.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa orientasi kebijakan pariwisata Jepang pada tahun 2013 lebih mengarah ke kawasan Asia Tenggara dari pada Asia Timur sebagai penyumbang inbound tourist terbanyak di Jepang ?
1.3 LANDASANKONSEPTUAL
Pertanyaan di atas akan dijawab menggunakan dua landasan konseptual utama, yakni Analisis PEST dan Strategi Generik Poter.
1. Analisis Politik Ekonomi Sosial-budaya Teknologi (PEST).
Sektor Pariwisata kini telah berubah menjadi industri global yang sangat rentan terkena dampak pada sebuah kebijakan tingkat makro suatu negara. Perubahan sistem ataupun kebijakan di suatu negara seringkali menimbulkan efek domino yang mengharuskan negara lain untuk mengubah kebijakan pariwisata agar tetap dapat mencapai tujuan utama sebelumnya. Melihat dinamisnya sektor pariwisata, maka Francois Vellas dan Lionel Becherel dalam bukunya yang berjudul Pemasaran Pariwisata Internasional sebuah pendekatan strategis, menyatakan bahwa dalam memahami proses pemasaran strategis dalam pariwisata dibutuhkan mengetahui posisi produk dan pasar sebelum menentukan strategi pemasaran yang tepat. Analisis PEST merupakan sebuah
9
Japan National Tourism Organization, Foreign Visitors to Japan by Nationality and Month for 2012(daring), https://www.jnto.go.jp/eng/ttp/sta/PDF/E2012.pdf, diakses pada 2 November 2014. 10
metode yang digunakan untuk melihat faktor Politik, Ekonomi Sosio-budaya dan Teknologi yang mepengaruhi dan memberikan dampak kepada sebuah organisasi. Fokus kajian analisis ini terpusat pada kondisi lingkungan industri, strategi politik pariwisata yang ada, struktur serta efisiensi kebijakan negara dalam manajemen sistem pariwisata yang digunakan, produktivitas dan fungsi kegiatan promosi yang beragam.11
Variabel yang digunakan dalam analisa ini terdiri dari 5 hal yang terkait dan mempengaruhi industri pariwisata yakni Politik, Ekonomi, Sosio-budaya dan Teknologi. Pengkajian faktor politik pada metode ini ialah dengan melihat lingkungan politik yang terdiri dari undang-undang ataupun kebijakan yang mempengaruhi industri pariwisatanya, instablilitas politik dan konflik perbatasan wilayah pariwisata, sehingga peranan pemerintah memiliki posisi penting dalam menentukan perkembangan industri wisata. Dalam hal ini, penulis akan melihat dua indikator utama yang mempengaruhi kecenderungan orientasi kebijakan pariwisata Jepang ke kawasan Asia Tenggara, yakni dengan melihat hubungan politik Jepang yang semakin membaik dengan Kawasan Asia Tenggara dibandingkan dengan negara di kawasan Asia Timur dan kondisi elit politik Jepang yang berkomitmen untuk mengembangkan sektor pariwisata di tahun 2013. Instabilitas hubungan Jepang dengan Korea Selatan dan China merupakan salah satu faktor utama yang dapat digunakan untuk melihat alasan orientasi kebijakan pariwisata Jepang tahun 2013. Konflik perbatasan antara Korea Selatan dengan Jepang terkait pulau Dokdo serta sengketa pulau Senkaku/Diayou antara Jepang dengan China memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap jumlah kunjungan wisatawan ke Jepang. Hal ini terlihat dari semakin menurunnya jumlah wisatawan China ke Jepang semenjak meningkatnya eskalasi konflik sengketa pulau Senkaku antara Jepang – China pada tahun 2010. Menurunnya hingga 70% wisatawan China ke Jepang menjadi sebuah fenomena yang sangat berkebalikan dengan semakin meningkatnya jumlah wisatawan Asia Tenggara khususnya Malaysia dan Thailand ke Jepang pada tahun 2010 setelah adanya Joint Media Statement of the Ninth Meeting of ASEAN, China, Japan and Republic of Korea Tourism Ministers (9th M-ATM Plus Three). Merefleksikan kondisi hubungan multilateral Jepang dengan Asia Tenggara yang telah menyetujui adanya kerjasama
11
Becherel. Lionel dan Francois Vellas, Pemasaran Pariwisata Internasional sebuah pendekatan strategis, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta,2008, p. 65.
pariwisata dari Joint Media Statement of the Ninth Meeting of ASEAN, China, Japan and Republic of Korea Tourism Ministers (9th M-ATM Plus Three), maka Jepang mengeluarkan beberapa kebijakan untuk dapat merealisasikan kebijakan tersebut dan meningkatkan kedatangan wisatawan Asia Tenggara ke Jepang. Berdasakan pemaparan tersebut, maka penulis akan mengkaji serta mengorelasikan lebih jauh lagi perihal renggangnya hubungan Jepang dengan Negara Asia Timur berdampak pada kemunculan kebijakan pariwisata Jepang yang berorientasi kepada Negara Kawasan Asia Timur di tahun 2013.
Kedua, selain faktor politis yang telah di jelaskan di atas, faktor semakin membaiknya kondisi ekonomi kawasan Asia Tenggara juga merupakan pertimbangan utama bagi Jepang. Faktor ekonomi dalam konteks ini menjadi pertimbangan penting karena meliputi keadaan ekonomi di negara asal dan di negara tujuan wisatawan dengan mengkaji perihal inflasi, perubahan nilai investasi, gaji karyawan serta pengangguran sehingga dengan melihat kemampuan financial dari sebuah individu di suatu negara. Tidak dapat dipungkiri faktor kemampuan ekonomi merupakan salah satu dorongan terkuat bagi suatu Individu untuk menempatkan kegiatan berpariwisata sebagai kebutuhan utama. Beberapa Asia Tenggara yang masih berada pada posisi negara dunia ketiga seringkali dianggap kurang mampu dalam menyelenggarakan kegiatan pariwisata. Namun Pemerintah Jepang justru melihat hal yang berbeda pada kemampuan ekonomi Asia Tenggara sebagai kawasan yang potensial. Menggunakan dua indikator utama yaitu kemampuan financial individu, dengan pendapatan per kapita masyarakat Asia Tenggara tahun 2008 – 2012 yang memengaruhi adanya peningkatan jumlah kelas menengah yang menempatkan kegiatan berpariwisata sebagai gaya hidup keseharian sebagai tolak ukurnya, serta analisis ini akan ditunjang dengan tingginya perpindahan masyarakat Asia Tenggara ke Jepang karena didasari faktor bisnis dengan menggunakan indikator semakin meningkatnya jumlah investasi Asia Tenggara – Jepang serta semakin tingginya intensitas perdagangan yang terjadi. Oleh karena itu, penulis akan mengelaborasikan faktor ekonomi tersebut sebagai alasan kuat bagi pemerintah Jepang memilih untuk memberikan tendensi arah kebijakan pariwisata nya ke Asia Tenggara pada tahun 2013.
Faktor ketiga adalah Sosio-budaya yang merupakan variabel analisis yang bertumpu pada kemahiran pemasaran internasional sebuah negara dengan mencakup
sikap, sosiologi, perilaku dan perkembangan budaya. Berbeda dengan dua variabel yang sebelumnya, perkembangan budaya Jepang yang telah lama diinvestasikan ke Kawasan Asia Tenggara menjadi modal utama bagi Jepang untuk memudahkan menumbuhkan minat dan ketertarikan masyarakat Asia Tenggara melakukan kegiatan pariwisata ke Jepang. Tidak dapat dipungkiri adanya beberapa negara di Kawasan Asia Tenggara yang menjadi bekas koloni Jepang sangat mempengaruhi sense of belonging yang terjalin antara masyarakat. Faktor perkembangan budaya yang disasar Jepang pun tidak hanya kaku pada nilai historis beratus tahun yang lalu namun dikembangkan dalam citra baru yakni melalui budaya pop. Dalam hal ini penulis melihat bahwa peningkatan hubungan antar masyarakat Jepang dengan masyarakat Asia Tenggara mengalami peningkatan yang paling tinggi dibandingkan dengan kawasan lain sehingga akan lebih memudahkan bagi pemerintah Jepang untuk memicu keinginan berpariwisata ke Jepang berdasarkan kedekatan budaya dalam strategi promosinya. Oleh karena itu, penulis melihat adanya kedekatan historis Jepang –Asia Tenggara antara kalangan elit politik dan masyarakat umum sebagai peluang utama Jepang untuk semakin meningkatkan kunjungan masyarakat Asia Tenggara berpariwisata ke Jepang.
Terakhir adalah analisis faktor Teknologi yang menekankan pada transformasi teknologi dalam pemasaran industri pariwisata yang mengubah sistem distribusi, promosi serta operasi produk dan jasa pariwisata termasuk sistem distribusi global, internet, komunikasi elektronik, pembuatan tiket dan transfer dana secara eletronik. Pada era kemudahan perpindahan informasi pada saat ini, kecanggihan teknologi merupakan hal yang paling krusial dalam sistem pemasaran global. Hal tersebut dikarenakan dengan adanya sambungan yang terjalin antara pihak satu dengan pihak lainnya secara cepat akan mempermudah tersampaikannya informasi terbaru yang diharapkan dapat memengaruhi psikologi konsumen. Dalam hal ini, indikator transformasi teknologi akan dipusatkan kepada jumlah masyarakat Asia Tenggara yang telah memiliki alat teknologi yang memiliki sambungan internet dengan intensitas individu mengakses internet. Indikator kedua dalam variable ini adalah banyaknya masyarakat Asia Tenggara mengakses beberapa situs dan aplikasi yang berasal dari Jepang (situs hiburan Jepang, aplikasi dan situs e-commerce) digunakan penulis untuk melihat peluang kemudahan Jepang dalam
memberikan informasi pariwisata secara cepat dan efisien serta untuk melihat intensitas hubungan yang telah terjalin dengan Jepang – Asia Tenggara di level akar rumput.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis akan melihat alasan orientasi kebijakan pariwisata Jepang kepada kawasan Asia Tenggara dalam tujuan untuk meningkatkan jumlah wisatawan hingga 20 juta jiwa pada tahun 2020 melalui kebijakan pariwisata yang tertera pada Japan White Paper tahun 2012 berdasarkan kelima faktor tersebut.
2. Strategi Generik Porter untuk Pariwisata.
Perkembangan sektor wisata sangat bergantung kepada kerjasama yang terbentuk antara sektor privat maupun sektor publik. Peranan sektor publik akan menjadi sangat penting sebagai ujung tombak dari perkembangan sektor pariwisata terutama bagi negara yang masih memiliki status berkembang dalam sektor pariwisata. Begitu juga yang diterapkan oleh pemerintah Jepang yang memiliki peranan penting dalam mengembangkan sektor pariwisatanya. Jepang yang masih menjadi negara dengan status berkembang dalam sektor pariwisatanya pada tahun 2012 pada akhirnya membutuhkan peranan pemerintah yang kuat untuk mengondisikan pasar agar lebih mendukung wisatawan untuk berkunjung. Pemerintah Jepang memilih untuk menjalankan strategi Generik Porter untuk keberhasilan kebijakan pariwisatanya ke kawasan Asia Tenggara. Strategi Generik Poter yang dikemukakan oleh Michael Porter pada tahun 1985 mengatakan bahwa ada 2 cara yang digunakan sebuah organisasi untuk mencapai keuntungan kompetisi dalam penawaran produk yaitu dengan membuat produk dengan biaya yang lebih rendah dalam persaingan hingga mencapai cost leadership ataupun dengan menawarkan produk dan pelayanan yang unik dan bermutu tinggi yang dijual dengan harga tinggi (diferensiasi).12 Dalam kasus ini, Jepang menyadari kelemahannya terhadap harga produk. Kurs mata uang yang tinggi menjadi sebuah ganjalan Jepang untuk bersaing dengan produk wisata Korea Selatan maupun China yang jauh memiliki kurs mata uang lebih rendah. Pemberian subsidi kepada beberapa elemen Industri pariwisata pun belum mampu membuat harga yang lebih murah dibandingkan
12
Becherel. Lionel dan Francois Vellas, Pemasaran Pariwisata Internasional sebuah pendekatan strategis, Yayasan Obor Indonesia , Jakarta ,2008 p. 123.
berpariwisata di kedua negara tersebut, disamping Jepang kini sedang merasa terbebani dengan pemberian subsidi yang besar terhadap industri beratnya dalam kondisi ekonomi yang sulit. Oleh karena itu, pemerintah Jepang lebih memilih menggunakan cara diferensiasi untuk keberhasilan kebijakan pariwisata di Asia Tenggara. Beberapa program dalam strategi Jepang untuk meningkatkan jumlah wisatawan Asia tenggara ke Jepang yang seringkali menunjukkan citra negara yang ramah muslim akan dikorelasikan dengan hasil analisa PEST terhadap kondisi ekonomi Jepang saat ini akan dianalisis oleh penulis sebagai strategi yang paling tepat dalam realisasi kebijakan pariwisata Jepang.
1.4 HIPOTESIS
Jepang memilih Asia Tenggara sebagai pasar utama dalam pengembangan industri pariwisata dikarenakan adanya kondisi politik Internasional. Beberapa konflik yang terjadi antara Jepang dengan Korea Selatan dan China menjadi penyebab utama pemerintah Jepang harus mencari kawasan lain yang memiliki potensi yang besar sebagai pengalihan mitra utama dalam sektor pariwisata. Meningkatnya ketegangan konflik politik antara Jepang di kawasan Asia Timur telah menjalar kepada sektor ekonomi yang terkena dampak sangat buruk karena terjadi pemutusan beberapa kerjasama ekonomi khususnya di sektor pariwisata. Menjadi hal yang sangat krusial ketika konflik politik memengaruhi menurunnya performa ekonomi Jepang yang dikarenakan kondisi stagnasi ekonomi Jepang pada tahun 2012. Oleh karena itu, kerenggangan hubungan inilah yang memaksa Jepang untuk meningkatkan kerjasama dengan kawasan lain yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan kembali pendapatan negara melalui sektor pariwisata sebagai cara pemulihan kembali performa ekonominya.
Kawasan Asia Tenggara merupakan pilihan utama yang menguntungkan bagi pariwisata Jepang. Pasalnya faktor kuat ekonomi Asia Tenggara yang kian membaik karena lagi posisi ASEAN sebagai partner ekonomi Jepang ke-2 setelah China. Besarnya investasi yang diberikan Jepang ke ASEAN pun telah mencapai pada 11.5% dari jumlah keseluruhan investasi di Jepang. Disamping itu, dengan semakin meningkatnya jumlah peningkatan pendapatan per kapita pada masyarakat Asia Tenggara setiap tahunnya sebesar lebih dari 5% merupakan kesiapan masyarakat Asia Tenggara untuk berlibur ke negara lain. Menjadi hal yang penting ketika mobilisasi individu merupakan indikator utama dalam industri pariwisata sehingga akumulasi penduduk Asia Tenggara yang melebihi China seolah akan menjadi „tambang emas‟ bagi
perekonomian Jepang. Hubungan historical selama 40 tahun Jepang – ASEAN juga menjadi alasan yang cukup kuat untuk memosisikan Asia Tenggara sebagai pasar utamanya dengan balutan politik guna memperkuat hubungan People – to – people. Oleh karena itu, Jepang melihat peluang tersebut dan tidak ingin melewatkannya sehingga pada tahun 2013 mengeluarkan kebijakan pariwisata pro – Asia Tenggara untuk menarik lebih dari 50% wisatawan dari tahun sebelumnya.13
1.5 METODE PENGUMPULAN DATA
Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data, yaitu studi pustaka. Data dalam riset ini diperkaya melalui studi berbagai tulisan dan literatur terkait dengan pariwisata, strategi pariwisata dan perkembangan pariwisata Jepang. Data-data lainnya yang berkaitan dengan pariwisata dikumpulkan dengan tujuan untuk mencari data yang valid dan faktual untuk memperkuat objektivitas. Studi pustaka juga dilakukan sebagai landasan argumentasi yang dibangun oleh penulis pada tahap analisis konsep dan data.
1.6 SISTEMATIKA PENULISAN
Penelitian yang berjudul Orientasi Kebijakan Pariwisata Jepang Terhadap Kawasan Asia Tenggara di Era Shinzo Abe II akan dibagi menjadi 4 bab. Pada Bab 1 , penulis akan menyajikan pendahuluan penelitian yang mengulas latar belakang dan gambaran awal permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini. Bab 2 akan menjelaskan lebih rinci kondisi sektor pariwisata Jepang pada era Junichiro Koizumi pada tahun 2001 – 2006 dan orientasi kebijakan pariwisata pada masa kepemimpinan Shinzo Abe pada tahun 2012 - 2017. Sedangkan pada BAB 3 , penulis akan memberikan fokus penjelasan kepada analisa alasan Shinzo Abe memposisikan Asia Tenggara sebagai orientasi utama Kebijakan Pariwisata Jepang tahun 2013. BAB 4 merupakan kesimpulan dari seluruh penjelasan BAB I – BAB III yang berisi penjelasan atas keberhasilan Shinzo Abe dalam meningkatkan pendapatan nasional Jepang melalui sektor pariwisata dengan indikator tingginya peningkatan inbound tourist yang berimbas kepada kebangkitan sektor pariwisata Jepang.
13
Minister of Land, Infrastructure, Transport and Tourism, White Paper on Tourism Japan 2012, The Tourism Situation in FY2012, 2012, p.4.