• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Pelumasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Pelumasan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

171 171

Analisis Penurunan Kualitas Minyak Pelumas Pada

Analisis Penurunan Kualitas Minyak Pelumas Pada Kendaraan

Kendaraan

Bermotor Berdasarkan Nilai Viskositas, Warna dan

Bermotor Berdasarkan Nilai Viskositas, Warna dan Banyaknya

Banyaknya

Bahan Pengotor

Bahan Pengotor

Wayan Diatniti, Amir Supriyanto, Gurum Ahmad Pauzi

Wayan Diatniti, Amir Supriyanto, Gurum Ahmad Pauzi

 Jurusan Fisika Fakultas Matematika da

 Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan An Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampunglam Universitas Lampung  Jln. Prof. Dr. Sumantri Brojoneg

 Jln. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro No. 1 Bandar Laoro No. 1 Bandar Lampung 35145mpung 35145 email:

email: [email protected] [email protected],, [email protected] [email protected] Diterima (15 April 2015), direvisi (25 April 2015) Diterima (15 April 2015), direvisi (25 April 2015)  Abs

 Absttracractt.. An  An analysis analysis on on reduced reduced quality quality of of motorbike motorbike engine engine lubricant lubricant has has been been conducted. conducted. ThisThis research used two Vixon 4-cycles engine motorbikes produced in 2008 and

research used two Vixon 4-cycles engine motorbikes produced in 2008 and 2013, and Yamalube SAE2013, and Yamalube SAE 10W-40 as motor engine lubricant. The parameters are analyzed viscosity value using Stormer 10W-40 as motor engine lubricant. The parameters are analyzed viscosity value using Stormer method (by observing fluid flow in a burette and using Poseuille equation). The color analysis used method (by observing fluid flow in a burette and using Poseuille equation). The color analysis used  grayscale

 grayscale histogram histogram with with Delphi Delphi image image processing. processing. The The impurity impurity analysis analysis use use centrifugationcentrifugation method. The research results showed that

method. The research results showed that the more increasing of the more increasing of motorbike operational distance, themotorbike operational distance, the value

value of viscof viscosity and osity and the grthe grayscale ayscale histogram histogram value lubvalue lubricant wericant were dere decreased. creased. The The impurityimpurity analysis is no result, becau

analysis is no result, because impurity materials werse impurity materials were homogenous e homogenous so that they cannot be visuallyso that they cannot be visually observed.

observed. K

Keyeywoworrddss: Centrifugation, grayscale histogram, Stormer method, : Centrifugation, grayscale histogram, Stormer method, viscosity.viscosity.

Abstrak.

Abstrak. Telah dilakukan analisis penurunan kualitas minyak pelumas pada kendaraanTelah dilakukan analisis penurunan kualitas minyak pelumas pada kendaraan  bermotor. Pada

 bermotor. Pada penelitian penelitian ini digunakan ini digunakan dua motor dua motor 4tak, 4tak, yaitu motoryaitu motor Vixon tahun 2008 danVixon tahun 2008 dan motor

motor Vixon tahun 2013 dan pelumas yang digunakan, yaitu Yamalube dengan SAE 10W-Vixon tahun 2013 dan pelumas yang digunakan, yaitu Yamalube dengan SAE 10W-40. Parameter yang akan dianalisis, yaitu nilai viskositas dengan metode Stormer 40. Parameter yang akan dianalisis, yaitu nilai viskositas dengan metode Stormer (mengamati waktu alir fluida pada buret dan menggunakan persamaan Poiseuille). Analisis (mengamati waktu alir fluida pada buret dan menggunakan persamaan Poiseuille). Analisis warna dengan memanfaatkan nilai histogram

warna dengan memanfaatkan nilai histogram  grayscale grayscale  pada pengolahan citra Delphi.  pada pengolahan citra Delphi. Analisis banyaknya bahan pengotor menggunakan sentrifugasi. Hasil penelitian Analisis banyaknya bahan pengotor menggunakan sentrifugasi. Hasil penelitian menunjukkan semakin bertambah jarak tempuh motor, maka nilai viskositas dan nilai menunjukkan semakin bertambah jarak tempuh motor, maka nilai viskositas dan nilai histogram

histogram grayscale grayscale  pelumas mengalami penurunan. Untuk parameter analisis banyaknya  pelumas mengalami penurunan. Untuk parameter analisis banyaknya  bahan

 bahan pengotor pengotor tidak tidak didapatkan didapatkan hasil, hasil, karena karena pelumas pelumas dengan dengan bahan bahan pengotor pengotor cukupcukup homogen sehingga tidak dapat dilihat dengan kasat mata.

homogen sehingga tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Kata kunci:

Kata kunci: Histogram Histogram grayscale grayscale, metode Stromer, sentrifugasi, viskositas., metode Stromer, sentrifugasi, viskositas.

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Sepeda motor merupakan produk dari Sepeda motor merupakan produk dari teknologi otomotif yang paling banyak teknologi otomotif yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. digunakan oleh masyarakat Indonesia.  Namun,

 Namun, sebagian sebagian besar besar penggunanyapenggunanya masih awam akan mesin sepeda motor, masih awam akan mesin sepeda motor, sehingga apabila mengalami masalah atau sehingga apabila mengalami masalah atau

gangguan, hal yang dilakukannya adalah gangguan, hal yang dilakukannya adalah membawa sepeda motor tersebut ke membawa sepeda motor tersebut ke  bengkel.

 bengkel. Efisiensi Efisiensi dan dan efektifitas efektifitas kinerjakinerja mesin kendaraan bermotor sangat mesin kendaraan bermotor sangat dipengaruhi oleh kondisi minyak pelumas dipengaruhi oleh kondisi minyak pelumas yang digunakan (Suyanto, 1989).

yang digunakan (Suyanto, 1989).

Minyak pelumas (oli) adalah Minyak pelumas (oli) adalah  penopang

(2)

(Yubaidah, 2008). Bukan itu saja, bahkan oli juga menentukan performa dan daya tahan mesin. Semakin baik kualitas oli yang digunakan, semakin baik pula  performa dan daya tahan mesin.

Hal yang dapat mempercepat tingkat keausan komponen, yaitu apabila filter tidak berfungsi dengan baik (filter tersumbat). Filter adalah penyaring untuk memisahkan partikel padat dari suatu cairan atau gas. Selain itu, hal yang dapat mempercepat tingkat keausan komponen terdapat pada pelumas.

Oli yang telah dipakai pada waktu tertentu (berdasarkan jarak tempuh atau waktu kerja) juga harus diganti sebab kekentalan oli umumnya telah berubah (bertambah encer) (Hidayat, 2012) dan seiring dengan waktu pemakaian oli, maka warna oli pun akan berubah. Tidak hanya menyebabkan keausan logam pada mesin, tetapi juga menyebabkan endapan atau kerak akibat terlalu banyaknya bahan  pengotor dalam minyak pelumas.

Berdasarkan beberapa hal yang dipaparkan dari wacana di atas, penulis  berinisiatif untuk menganalisis karakterisasi penurunan kualitas minyak  pelumas pada kendaraan bermotor yang menjadi sasaran utama dalam melakukan analisis ini dilihat pada nilai viskositas dengan metode Stormer (Limantoro dan Felisia, 2012), perubahan warna dengan cara pengolahan citra pada level nilai histogram  grayscale  serta banyaknya  pengotor yang mengendap pada minyak  pelumas (oli) dengan cara sentrifugasi.

METODE PENELITIAN

Gambar 1 menunjukkan diagram alir

Gambar 1. Diagram alir penelitian.

Pengujian Warna Minyak Pelumas

Pengujian perubahan warna pada minyak pelumas ini, langkah yang dilakukan peneliti adalah mengambil sampel minyak pelumas dan meletakkannya ke dalam tabung gelas. Kemudian, mengambil gambar minyak  pelumas tersebut menggunakan camera

digital.

Langkah yang sama juga dilakukan secara berulang-ulang saat kendaraan motor menempuh jarak km yang  bertambah. Kemudian, hasil dari gambar yang diperoleh dianalisis nilai histogram citra  grayscale  pada pengolahan citra dengan Delphi.

Mulai

Menyiapkan sampel pelumas serta alat untuk mengujinya

Pengujian awal minyak pelumas

Pengujian pelumas dalam jarak km semakin bertambah

Mengamati perubahan warna pelumas

Mengukur viskositas pelumas

Mengamati banyaknya bahan  pengotor

Selesai

Analisis Data

(3)

173 Pengujian Banyaknya Pengotor Pada

Minyak Pelumas

Pengujian untuk mengetahui seberapa  banyak pengotor yang terkandung pada minyak pelumas ini dengan cara mencampurkan pelumas ke dalam tabung, kemudian tabung dimasukkan ke dalam alat sentrifugasi. Selain itu, digunakan tabung lain yang berisi cairan sebagai  penyeimbang. Di dalam alat sentrifugasi, tabung diputar dengan cepat. Selanjutnya, mengukur tinggi pengotor yang terkumpul. Langkah ini juga dilakukan secara berulang-ulang pada motor setiap rentang jarak tempuh yang bertambah. Pengujian Nilai Viskositas Pada Minyak Pelumas

Mula-mula menyiapkan alat  penentuan viskositas (metode Stormer) minyak pelumas, yaitu buret dengan statif seperti Gambar 2.

Gambar 2. Susunan alat (a) buret, (b) klem, (c) keran buret, (d) gelas, (e) statif.

Selanjutnya, mengukur suhu pelumas dan menentukan massa jenis pelumas tersebut menggunakan piknometer. Kemudian, memasukkan pelumas ke dalam buret dan mencatat waktu alir  pelumas pada buret sebanyak 25 ml. Pengamatan waktu alir dilakukan setiap  jarak tempuh motor semakin bertambah. Dan menghitung nilai viskositas dengan  persamaan Poiseuille:

η =

.

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini menggunakan dua sepeda motor yang memiliki merek sama, yaitu Vixion, tetapi tahun keluaran motor yang berbeda, yaitu motor 1 tahun 2008 dan motor 2 2013 dengan pelumas yang sama, yaitu pelumas Yamalube SAE 10W-40. Pemilihan minyak pelumas ini  berdasarkan rekomendasi dari mesin motor tersebut. Kode pelumas SAE 10W-40 ini, masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin -20 sd -25 ( kode 10w) dan suhu 150 dengan tingkat kekentalan tertentu.

Parameter yang akan dianalisis pada  penelitian ini, yaitu nilai viskositas  pelumas, warna pelumas, dan banyaknya  bahan pengotor pada pelumas. Dari setiap  parameter yang akan dianalisis ini, dilakukan pada jarak tempuh motor mula-mula (pada kondisi 0) dan selanjutnya dianalisis pada setiap jarak tempuh yang semakin bertambah. Pada sepeda motor 1 dilakukan analisis saat jarak tempuh mula-mula (pada kondisi 0), yaitu pada jarak tempuh 40120 km, sedangkan pada sepeda motor 2, yaitu 7895 km.

a

 b

c d e

(4)

Analisis Nilai Viskositas Minyak Pelumas

Untuk menentukan nilai viskositas,  pada penelitian ini memanfaatkan metode Stormer, yaitu metode yang mengamati waktu alir suatu fluida yang diukur kemudian dihitung dengan rumus Hukum Poiseuille yang terlihat pada persamaan (1). Pengukuran waktu alir fluida (oli) ini menggunakan buret.

Buret adalah sebuah peralatan gelas laboratorium berbentuk silinder yang memiliki garis ukur dan sumbat keran  pada bagian bawahnya (Yuwono, 1991). Buret yang digunakan pada penelitian ini, yaitu buret kelas A dapat dilihat pada

Gambar 3.

Pengujian Buret

Cara mengkalibrasi buret adalah dengan membandingkan nilai viskositas  pada referensi dengan nilai viskositas yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan mengamati waktu alir pada buret.  Nilai viskositas sampel yang dibandingkan, yaitu viskositas air pada suhu 32 . Nilai viskositas pengukuran dengan menggunakan metode Stormer seperti penelitian yang akan dilakukan dan nilai viskositas referensi air 32 diperoleh dari hasil persamaan interpolasi dari viskositas referensi air 30 dan 35 , dengan persamaan interpolasi yaitu:

(2)

Hasil kalibrasi buret diperoleh nilai  presentase error , yaitu 0,52% dan  presentase akurasi, yaitu 99,48%. Hasil  presentase error   dan presentase akurasi yang diperoleh cukup baik, maka  penerapan alat (buret) dengan perhitungan  persamaan Poiseuille dapat dilakukan dengan baik untuk penelitian ini. Nilai  presentase error  diperoleh dari persamaan (3) dan presentase akurasi dari persamaan (4).

 Error (%) = (3)

Akurasi (%) = 100% - Error (%) (4) Keterangan:

Yn= nilai yang diharapkan (referensi) Xn= nilai penelitian (Jones, 1990).

Hasil Pengujian Viskositas

Selanjutnya, penelitian mengamati waktu alir pelumas pada buret dilakukan. Selain mengamati waktu alir pelumas  pada buret, untuk menghitung nilai viskositas pelumas, juga diperlukan mengetahui nilai massa jenis dari pelumas tersebut. Massa jenis dapat diperoleh dari  pengukuran menggunakan piknometer.

Hasil pengukuran nilai massa jenis diperoleh nilai massa jenis pelumas semakin menurun saat jarak tempuh kendaraan bermotor semakin jauh (naik km tempuhnya). Hal ini dikarenakan  pelumas tersebut semakin lama digunakan

semakin encer.

Setelah waktu alir pelumas dan massa  jenis pelumas diketahui, kemudian menghitung nilai viskositas dengan rumus  pada persamaan (1). Hasil waktu alir  pelumas dapat dilihat pada Tabel 1  dan

Tabel 2. Pengamatan waktu alir pelumas dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan dan dari waktu alir ini diperoleh waktu air

(5)

175 Tabel 1. Waktu alir pelumas pada sepeda motor 1

No Jarak Tempuh(km) Waktu Alir (s)

t1 t2 t3 1 0 232 232 232 232 2 307 169 167 172 169 3 512 141 141 143 142 4 870 129 129 127 128 5 1220 126 124 124 125 6 1723 122 121 121 121 7 2455 118 117 117 171

Tabel 2. Waktu alir pelumas pada sepeda motor 2

No Jarak Tempuh(km) Waktu Alir (s)

t1 t2 t3 1 0 232 232 232 232 2 345 172 171 171 171 3 723 158 156 153 156 4 881 153 155 152 153 5 1955 129 127 128 128 6 2204 122 122 122 122

Gambar 4  dan Gambar 5,  yaitu grafik hubungan jarak tempuh dengan nilai viskositas rata-rata, dapat dilihat  bahwa viskositas berbanding terbalik dengan jarak tempuh motor, yaitu semakin tinggi (naik) jarak tempuh motor maka nilai viskositasnya semakin kecil. Hal ini disebabkan karena semakin lama  pelumas digunakan maka semakin  berkurang kualitas pelumas tersebut atau menjadi lebih encer. Saat pelumas menjadi bertambah encer, waktu alir yang diperoleh dari hasil pengukuran semakin cepat dan menghasilkan nilai viskositas semakin kecil karena nilai viskositas  berbanding lurus dengan waktu alir

 pelumas. Gambar 4. dengan nilai viskositas pelumasGrafik hubungan jarak tempuh  pada sepeda motor 1.

12.793 9.313 7.66 6.801 6.499 6.221 5.99 y = -3.46ln(x) + 12.12 R² = 0.95 0 2 4 6 8 10 12 14 0 307 512 870 1220 1723 2455    V    i  s    k  o  s    i    t  a  s    (  c    P    ) Jarak Tempuh (km)

(6)

Gambar 5.  Grafik hubungan jarak tempuh dengan viskositas pelumas pada sepeda motor 2.

Analisis Banyaknya Bahan Pengotor Minyak Pelumas

Analisis banyaknya bahan pengotor  pelumas dilakukan menggunakan alat mesin sentrifugasi. Sampel pelumas yang dianalisis, yaitu sebanyak 20 ml yang dimasukkan ke dalam 2 buah gelas tabung masing-masing sebanyak 10 ml. Waktu yang diatur, yaitu selama 5 menit dan kecepatan/rpm putarannya, yaitu 4400 rpm.

Analisis ini tidak didapatkan hasil. Hasil pelumas sesudah dilakukan putaran  pada alat sentrifugasi tidak diperoleh hasil endapan bahan pengotornya. Endapan  bahan pengotor pelumas ini tidak dapat dilihat dengan kasat mata, karena pelumas dengan bahan pengotor cukup homogen, sehingga tidak dapat terlihat pemisahan antar pelumas dengan pengotor.

Analisis Warna Minyak Pelumas dengan Histogram Tingkat Keabuan

Gambar 6. Tampilan awal program.

Gambar 6 terdapat komponen utama, yaitu (1) komponen perintah ‘pilih gambar’ citra, (2) komponen ‘konversi’ citra dari RGB ke  grayscale, (3) komponen ‘save to file (.bmp)’ dan (4) komponen menunjukkan hasil akhir nilai ‘histogram’. Saat perintah (4) ‘histogram’ dijalankan, maka akan ditunjukkan hasil grafik histogram pada (5) dan hasil nilai rata-rata histogram pada (6) serta pada tampilan awal program juga ditunjukkan (7) tabel nilai  grayscale  dari histogram citra yang dianalisis.

Pada analisis warna pengambilan gambar ini dilakukan disatu tempat, waktu  pagi hari menjelang siang hari dengan menggunakan kamera berukuran 2 MP tanpa ada cahaya tambahan seperti lampu atau cahaya pada kamera dengan jarak  pada kamera dengan sampel sejauh 8 cm.

Berdasarkan hasil citra yang diperoleh, dilakukan proses pemotongan  pada citra sampel oli agar hanya terlihat warna oli sampai sebelum penutup wadahnya saja. Proses pemotongan dilakukan dengan menggunakan program 12.793 9.428 8.485 8.246 6.788 6.221 y = -3.47ln(x) + 12.46 R² = 0.967 0 2 4 6 8 10 12 14 0 345 723 881 1955 2204    V    i  s    k  o  s    i    t  a  s    (  c    P    ) Jarak Tempuh (km) 1 2 3 4 6 5 7

(7)

177 Gambar 7.  Grafik hubungan jarak tempuh

dengan histogram  grayscale  pelumas pada sepeda motor 1.

Berdasarkan Gambar 7 dan Gambar 8, dapat dilihat bahwa semakin naik (bertambah) jarak tempuh, maka semakin kecil nilai rata-rata histogram  grayscale yang diperoleh. Hal ini disebabkan karena warna citra yang dianalisis mengalami  perubahan warna semakin hitam saat jarak

tempuh motor semakin bertambah.

Hasil analisis warna pelumas ini terlihat bahwa pada sepeda motor 2 mengalami penurunan nilai rata-rata histogram citra grayscale yang lebih baik dari penurunan nilai rata-rata histogram citra  grayscale  pada sepeda motor 1. Diambil sampel, yaitu pada jarak tempuh sepeda motor 2 (881 km), diperoleh nilai rata-rata histogramnya, yaitu 80,622, sedangkan pada jarak tempuh sepeda motor 1 (870 km) diperoleh nilai 62,578. Terlihat bahwa jarak tempuh sepeda motor 2 yang lebih jauh dari sepeda motor 1 tetapi menghasilkan nilai rata-rata histogramnya lebih besar dari sepeda motor 1. Hal ini menandakan perubahan warna pelumas sepeda motor 1 sangat menurun atau warna pelumas lebih pekat dibandingkan pada sepeda motor 2.

Gambar 8.  Grafik hubungan jarak tempuh dengan histogram  grayscale  pelumas pada sepeda motor 2.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa analisis dari setiap parameter, yaitu semakin bertambah jarak tempuh sepeda motor, maka semakin kecil nilai viskositas dan nilai rata-rata histogram tingkat keabuannya. Sementara, untuk analisis  banyaknya bahan pengotor tidak diperoleh hasil karena pelumas dengan pengotor cukup homogen.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Wahyu. 2012.  Motor Bensin  Moderen. Rineka Cipta. Jakarta. Jones, Lary Dean dan A. Foster Chin.

1990. Electronic Instruments and  Measurements Second Edition.

Prentice Hall College.

Limantoro, Setiawan dan Felisia, Puspitaningsih. 2012. Penentuan Viskositas Relatif (Metode Stormer).  Jurnal Viskositas. 164.204 74.366 62.675 62.578 59.835 55.5 55.907 y = -2.405x3+ 34.61x2- 157.6x + 284.2 R² = 0.953 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 0 307 512 870 1220 1723 2455    H    i  s    t  o  g   r   a   m    G  r   a   y   s   c   a    l  e Jarak Tempuh (km) 164.204 81.191 80.484 80.622 70.952 68.034 y = -3.793x3+ 46.34x2- 180.4x + 298.4 R² = 0.946 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 0 345 723 881 1955 2204    H    i  s    t  o  g   r   a   m       G     r     a     y     s     c     a       l    e Jarak Tempuh (km)

(8)

Suyanto. 1989. Teori Motor Bensin (BSE SMK). Dapartemen Pendidikan Indonesia. Jakarta.

Yubaidah. 2008. Monitoring Kualitas Mesin Otomotif. Jurnal Teknik Mesin  Fakultas Teknologi Industri

Universitas Kristen Petra.

Yuwono, Triwibowo. 1991.

 Makromolekul dan interaksi molekuler . Erlangga. Jakarta.

Gambar

Gambar 1 menunjukkan diagram alir
Gambar  2. Susunan  alat  (a)  buret,  (b)  klem, (c)  keran  buret,  (d)  gelas,  (e) statif.
Gambar  4  dan Gambar  5,  yaitu grafik  hubungan  jarak  tempuh  dengan nilai  viskositas  rata-rata,  dapat  dilihat  bahwa  viskositas  berbanding  terbalik dengan  jarak  tempuh  motor,  yaitu semakin tinggi (naik) jarak tempuh motor maka  nilai  visko
Gambar  5.   Grafik  hubungan  jarak  tempuh dengan viskositas pelumas pada sepeda motor 2.
+2

Referensi

Dokumen terkait

2015 LAPORAN LABA RUGI DAN PENGHASILAN KOMPREHENSIF.. Periode 1 Januari - 31

Berangkat dari ide tentang pembuatan kegiatan yang edukatif, inovatif, kreatif serta menarik pada Kreativitas Mesin Brawijaya (KMB) tahun-tahun sebelumnya yang

Sasaran kami Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis pada Smart Accounting Challenge (SAC) adalah sebanyak 120 peserta yang akan diikuti oleh pelajar

Ia merangkumi penjelasan mengenai kepentingan yang dikawal `uqubah , ciri penting `uqubqh, objektif `uqubah, nilai-nilai moral dalam `uqubqh , syarat `uqubah, pembahagian

Berdasarkan kesimpulan tersebut maka dapat disarankan beberapa hal untuk pimpinan dapat mempertahankan atau lebih meningkatkan lagi cara mereka memimpin dan

Keenam faktor ini sangat diperlukan oleh perusahaan agar perusahaan bisa memprediksi kejadian – kejadian yang akan terjadi pada proses operasional di dalam supply chain

Hal tersebut menunjukkan bahwa pada suhu 45°C larutan NaOCl 5,25% baik yang tanpa penambahan surfaktan maupun yang ditambah surfaktan mampu menghasilkan daya

Indonesia dapat mendayagunakan simpul-simpul hubungan bilateral komprehensif dan strategis yang telah dimilikinya dalam memastikan negosiasi Treaty Indo-Pacific yang bersifat