BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berperilaku, karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing sehingga yang

21 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Perilaku

Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organism (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuhan, hewan, sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing sehingga yang dimaksud dengan perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara bicara, berjalan, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati langsung atau pihak luar, (Notoatmodjo, 2003).

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan, Hendrik L. Blum menggambarkannya sebagai berikut :

Keturunan

Status Kesehatan

Perilaku

Lingkungan : Fisik alamiah buatan manusia Sosial Budaya Fasilitas Kesehatan (Pelayanan Kesehatan)

(2)

Dari skema diatas, terlihat bahwa perilaku manusia mempunyai kontribusi, yang apabila dianalisa lebih lanjut kontribusinya lebih besar. Sebab disamping berpengaruh tidak lsngsung melalui faktor lingkungan terutama lingkungan fisik buatan manusia, sosio budaya, serta faktor fasilitas kesehatan. Bahwa faktor perilaku ini juga dapat berpengaruh terhadap faktor keturunan karena perilaku manusia terhadap lingkungan dapat menjadi pengaruh yang negatif terhadap kesehatan dank arena perilaku manusia pula maka fasilitas kesehatan disalahgunakan oleh manusia yang akhirnya berpengaruh kepada status kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

2.2. Pengetahuan, Sikap dan Tindakan 2.2.1. Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan manusia banyak digunakan untuk kabutuhan sehari-hari, terutama pengetahuan umum sangat bermanfaat untuk keperluan manusia sehari-hari. Pengetahuan ini diperlukan dalam rumah tangga, pertanian, kesehatan serta lainnya. Setiap orang akan menggunakan pengetahuan namun tidak tahu benar akan seluk-beluk pengetahuan itu. Manusia berani bertindak tidak hanya berguna secara kebetulan melainkan demikian mutlaknya sehingga tidak ragu-ragu lagi. Jadi pengetahuan yang dipergunakan orang untuk hidupnya sehari-hari adalah pengetahuan umum.

(3)

Dalam domain kognitif pengetahuan yang dicakup mempunyai 6 (enam) tingkatan, yaitu:

1. Tahu (know)

Tahu (know) diartikan sebagai mengingatkan suatu materi yang dipelajari sebelumnya. Yang termasuk ke dalam pengetahuan ini ialah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Untuk mengukur bahwa seseorang tahu dapat diukur dari kemampuan orang tersebut menyebutkannya, menguraikannya, mendefinisikan dan sebagainya.

2. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi secara benar. Orang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. 3. Aplikasi (aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai hokum-hukum, rumus, metode, primsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain.

4. Analisis (analysis)

Analisis diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam stuktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari

(4)

penggunaan kata kerja, seperti dapat mengambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

5. Sintesis (synthetis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi dari formulasi-formulasi yang telah ada.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan criteria-kriteria yang telah ada.

Unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seseorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Dalam lingkungan ada bermacam-macam hal yamg dialami individu itu melalui penerimaan panca inderanya serta alat penerimaan atau reseptor. Hala-hal yang dialaminya tersebut masuk dalam sel-sel otaknya sehingga terjadi bermacam-macam proses seperti proses fisik, fisiolgis dan psikologis kemudian dipancarkan atau diproyeksikan individu tersebut menjadi suatu penggambaran tentang lingkungan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain : a. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain agar mereka dapat memahami. Tidak dapa dipungkiri bahwa mekin tinggi pendidikan seseorang maka makin mudah seseorang untuk menerima

(5)

informasi dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang mereka miliki.

b. Pekerjaan

Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.

c. Umur

Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis, dimana dalam aspek psikologis taraf berpikir seseorang semakin matang dan dewasa.

d. Pengalaman

Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami oleh indivinu baik dari dalam dirinya ataupun dari lingkungannya. Pada dasarnya pengalaman menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi individu yang melekat menjadi pengetahuan pada individu secara subjektif.

e. Informasi

Kemudahan seseorang untuk memperoleh informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan baru (Wahid, 2007). Untuk mendapatkan informasi salah satunya dari media. Media adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan atau pengajaran. Media ini lebih sering disebut sebagai alat peraga karena berfungsi untuk membantu dan memperagakan sesuatu di dalam proses pendidikan atau pengajaran.

Media ini disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia diterima melalui pancaindra. Semakin banyak dan semakin jelas pula

(6)

pengertian atau pengetahuan yang diperoleh. Dengan kata lain media dimaksudkan untuk mengerahkan pancaindra sebanyak mungkin kepada objek sehingga mempermudah pemahaman (Notoatmodjo, 2003).

2.2.2. Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan manifestasi sikap itu tidak dapat dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan suatu predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap masih merupakan suatu reaksi tertutup bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2003).

Sikap menentukan jenis atau tabiat tingkah laku dalam hubungannya dengan perangsang yang relevan, orang-orang atau kejadian-kejadian. Dapatlah dikatakan bahwa sikap merupakan faktor internal, tetapi tidak semua faktor internal adalah sikap.

(7)

Adapun ciri sikap adalah sebagai berikut : 1. Sikap itu dipelajari (learnability)

Sikap merupakan hasil belajar. Ini perlu dibedakan dari motif-motif psikologi lainnya, milasnya : lapar, haus adalah motif psikologi yang tidak dipelajari, sedangkan pilihan kepada makanan eropa adalah sikap. Beberapa sikap dipelajari tidak disengaja dan tampa kesadaran sebagian individu. Barangkali yang terjadi adalah mempelajari sikap dengan sikap sengaja bila individu mengerti bahwa hal itu akan membawa lebih baik, membantu tujuan kelompok atau memperoleh sesuatu nilai yang sifatnya perseorang.

2. Memiliki kestabilan (stability)

Sikap bermula dari dipelajari, kemudian menjadi lebih kuat, tetap dan stabil, melalui pengalaman. Misalnya pengalaman terhadap suka dan tidak suka terhadap warna tertentu yang sifatnya berulang-ulang.

3. Personal Sosial Signifikan

Sikap melibatkan hubungan antara seseorang dengan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi. Jika seseorang merasa bahwa orang lain menyenangkan, terbuka serta hangat, maka ini sangat berarti begi dirinya dan merasa bebas dan nyaman.

4. Berisi kogniti dan afekti

Komponen kogniti dari pada sikap adalah berisi informasi yang faktual, misalnya objek itu dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan.

(8)

5. Approach-avoidance Directionality

Bila seseorang memiliki sikap yang mudah beradaptasi terhadap sesuatu objek, mereka akan mendekati dan membantunya, sebaliknya bila seseorang memiliki sikap yang susah beradaptasi mereka akan menghindarinya.

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu : 1. Menerima (receiving)

Diartikan bahwa orang atau subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek.

2. Merespon (responding)

Yaitu memberi jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu yang indikasi dari sikap karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan terlepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.

3. Menghargai (valuating)

Diartikan mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.

4. Bertanggung Jawab (responsible)

Yaitu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek.

(9)

2.2.3. Tindakan

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu tindakan nyata diperlukan faktor atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak-pihak lain.

Tingkatan tindakan secara teoritis adalah sebagai berikut : 1. Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah praktek tingkat pertama.

2. Respon terpimpin (guided responses)

Melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator tingkat kedua.

3. Mekanisme (mechanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu secara benar maka secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktek tingkat ketiga.

4. Adaptasi (adaptation)

Suatu tindakan yang sudah berkembang dengan baik, artinya itu sudah dimodifikasi tampa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan mewawancarai terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu. Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden(Notoatmodjo, 2003).

(10)

2.3. Model Kepercayaan Kesehatan (health belief model)

Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi. Sering tidak disadari bahwa interaksi tersebut amat kompleks sehingga kadang-kadang kita tidak sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan perilaku tertentu. Karena itu amat penting untuk dapat menelaah alasan dibalik perilaku individu, sebelum mampu mengubah perilaku tersebut (Machfoedz, 2006).

Health Belief Models (HBM) adalah suatu model kepercayaan penjabaran dari model sosio-psikologis. Munculnya model ini didasarkan pada kenyataan bahwa masalah-masalah kesehatan ditandai oleh kegagalan orang atau masyarakat untuk menerima usaha-usaha pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh provider. Kegagalan ini akhirnya memunculkan teori yang menjelaskan perilaku pencegahan penyakit menjadi model kepercayaan kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

Health Belief Models (HBM) dikembangkan sejak tahun 1950 oleh kelompok ahli psikologi sosial dalam pelayanan kesehatan masyarakat Amerika. Model ini digunakan sebagai upaya menjelaskan secara luas kegagalan partisipasi masyarakat dalam program pencegahan atau deteksi penyakit dan sering kali dipertimbangkan sebagai kerangka utama dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan manusia yang dimulai dari pertimbangan orang-orang tentang kesehatan (Maulana, 2007).

HBM ini digunakan untuk meramalkan perilaku peningkatan kesehatan. HBM merupakan model kognitif yang berarti bahwa khususnya proses kognitif dipengaruhi oleh informasi dari lingkungan. Menurut HBM kemungkinan individu akan

(11)

melakukan tindakan pencegahan tergantung secara langsung pada hasil dari dua keyakinan atau penilaian kesehatan yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian.

Penilaian pertama adalah ancaman yang dirasakan terhadap resiko yang akan muncul. Hal ini mengacu pada sejauh mana seseorang berpikir penyakit atau kesakitan betul-betul merupakan ancaman bagi dirinya. Asumsinya adalah bahwa bila ancaman yang dirasakan tersebut maka perilaku pencegahan juga akan meningkat.

Penilaian tentang ancaman yang dirasakan, ini berdasarkan pada ketidakkekebalan dirasakan yang merupakan kemungkinan bahwa orang-orang dapat mengembangkan masalah kesehatan menurut kondisi mereka. Keseriusan yang dirasakan orang-orang yang mengevaluasi seberapa jauh keseriusan penyakit tersebut apabila mereka mengembangkan masalah kesehatan mereka atau membiarkan penyakitnya tidak ditangani.

Penilaian kedua yang dibuat adalah antara keuntungan dan kerugian dari perilaku dalam usaha untuk memutuskan tindakan pencegahan atau tidak yang berkaitan dengan dunia medis dan mencakup berbagai ancaman, seperti check up untuk pemeriksaan awal dan imunisasi.

Penilaian ketiga yaitu petunjuk berperilaku sehat. Hal ini berupa berbagai informasi dari luar atau nasihat mengenai permasalahan kesehatan, misalnya media massa, promosi kesehatan dan nasihat orang lain atau teman (Maulana, 2009).

Sebagai kesimpulan, apabila individu bertindak untuk melakukan pengobatan dan pencegahan penyakitnya ada 3 hal yang berpengaruh terhadap upaya yang akan diambil yaitu :

(12)

1. Kerentanan yang Dirasakan

Agar seseorang bertindak untuk mengobati atau mencegah penyakitnya, ia harus merasa bahwa ia rentan terhadap penyakit tersebut.

2. Keseriusan yang Dirasakan

Tindakan individu untuk mencari pengobatan dan pencegahan penyakitnya akan didorong pula oleh keseriusan penyakit tersebut terhadap individu atau masyarakat.

3. Manfaat dan Rintangan yang Dirasakan

Apabila individu merasa dirinya rentan untuk penyakit yang dianggap gawat atau serius, ia akan melakukan suatu tindakan tertentu. Tindakan tersebut tergantung pada manfaat dan rintangan yang ditemukan dalam mengambil tindakan tersebut.

2.4. Bentuk-Bentuk Perubahan Perilaku

Adapun bentuk-bentuk perubahan perilaku, antara lain : 1. Perubahan Alamiah (natural change)

Perilaku manusia selalu berubah. Sebagian dari perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial budaya dan ekonomi, maka anggota masyarakat didalamnya juga akan mengalami perubahan.

2. Perubahan Terencana (planned change)

Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subjek.

(13)

3. Kesediaan Untuk Berubah (readiness to change)

Apabila terjadi suatu inovasi atau program-program pembangunan di dalam masyarakat, maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut dan sebagian orang lagi sangat lambat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut. Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda-beda (Notoatmodjo, 2003).

2.5. Konsep Sehat-Sakit

Persepsi masyarakat tentang sehat-sakit dipengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, disamping unsur sosial budaya, sebaliknya, petugas kesehatan berusaha sedapat mungkin menerapkan kriteria medis yang objektif berdasarkan gejala yang tampak, guna mendiangnosa kondisi fisik seorang individu. Perbedaan persepsi antara masyarakat dan petugas kesehatan inilah yang menimbulkan masalah dalam melaksanakan program kesehatan. Kadang-kadang orang tidak pergi berobat atau menggunakan sarana kesehatan yang tersedia sebab mereka tidak merasa mengidap penyakit atau jika individu tersebut merasa bahwa penyakitnya disebabkan oleh makhluk halus, maka mereka akan memilih untuk berobat kepada orang pandai (dukun) yang dianggap mampu mengusir makhluk halus tersebut dari tubuhnya sehingga penyakit akan hilang (Sarwono, 2004).

Menurut Notoatmodjo (2003), konsep sakit menurut pandangan masyarakat yaitu apabila seseorang mendapatkan seranagan penyakit (secara klinis), tetapi orang itu tidak merasa sakit atau mungkin tidak dirasakan sebagai sakit. Artinya,

(14)

anggota-anggota masyarakat yang secara klinis maupun laboratorium menunjukkan gejala klinis bahwa mereka diserang atau menderita suatu jenis penyakit, tetapi mereka tidak merasakan sebagai sakit. Oleh karena itu mereka tetap menjalankan kegiatannya sehari-hari sebagai orang sehat (Notoatmodjo, 2003).

Dari sini keluar suatu konsep sehat masyarakat, yaitu bahwa sehat adalah orang yang dapat bekerja atau menjalankan pekerjaannya sehari-hari dan keluar konsep sakit, dimana dirasakan oleh seseorang yang sudah tidak dapat bangkit dari tempat tidur dan tidak dapat menjalankan pekerjaannya sehari-hari (Notoatmodjo, 2003).

Persepsi masyarakat menganggap penyakit kusta merupakan penyakit kutukan dan menakutkan, hal ini dikarenakan wajah penderita kusta berbenjol-benjol dan tegang seperti wajah singa.

2.6. Keluarga

Keluarga adalah unit/satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat yang tinggal satu rumah. Keluarga biasanya terdiri dari suami, istri, dan juga anak-anak yang selalu menjaga rasa aman dan ketentraman ketika menghadapi segala suka duka hidup dengan erat artinya ikatan luhur hidup bersama (Arita, 2008).

2.6.1. Fungsi Keluarga

(15)

1. Fungsi Biologis : Diharapkan agar keluarga dapat menyelenggarakan persiapan-persiapan perkawinan bagi anak-anaknya, karena dengan perkawinan akan terjadi proses kelangsungan keturunan.

2. Fungsi Pemeliharaan : Keluarga diwajibkan untuk berusaha agar setiap anggotanya dapat terlindung dari gangguan-gangguan, yang pada intinya harus dapat mencipta rasa aman, tentram dan nyaman.

3. Fungsi Ekonomi: Fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat tinggal.

4. Fungsi Keagamaan : Diwajibkan uintuk menjalani dan mendalami serta mengamalkan ajaran-ajaran agama sebagai manusia yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

5. Fungsi Sosial: Keluarga berusaha untuk mempersiapkan anak-anaknya bekal-bekal selengkapnya dengan memperkenalkan nilai-nilai dan sikap yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan-peranan yang diharapkan akan mereka jalankan kelak bila sudah dewasa.

6. Fungsi Kesehatan : untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan keluarga. Adapun tugas kesehatan keluarga sebagai berikut :

(16)

a. Mengenal masalah kesehatan.

b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat. c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.

d. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat. 2.6.2. Fungsi Keluarga Terhadap Penyembuhan Pada Penderita Kusta

Ada beberapa fungsi keluarga terhadap penyembuhan pada penderita kusta, antara lain sebagai berikut :

1. Pemberi dukungan : Keluarga sangat berpengaruh dalam dalam memberikan dorongan ataupun dukungan untuk melakukan pencegahan penularan salah satunya dengan cara pengobatan sejak dini secara teratur sehinggan dapat sembuh tampa cacat (Fadoli, 2008).

Berada dalam kondisi pernah menjalani kehidupan normal namun harus mengalami suatu penyakit yang besar kemungkinan menimbulkan kecacatan dan dapat menular pada orang lain adalah suatu keadaan yang sangat berat bagi penderita dan dapat menimbulkan stres. Keberadaan kerabat atau keluarga penderita penyakit kusta dalam memberi dukungan akan mengurangi stres yang dialami penderita penyakit kusta (Nugraha, 2009). 2. Fungsi Pengawasan : Mengawasi penderita kusta agar menelan obat secara

teratur sampai pengobatan berakhir sehingga penderita kusta bisa sembuh (Usman, 2005).

3. Fungsi Pencegahan : Sikap keluarga dalam pencegahan penularan penyakit kusta yang baik akan berdampak positif maka kemungkinan penularan lebih kecil (Fadoli, 2008).

(17)

Menurut Fajar dkk; tingkat pendidikan, sosioekonomi atau penghasilan, pengetahuan dan kebiasaan keluarga berpengaruh terhadap usaha penderita mencari kesembuhan sekaligus juga mempengaruhi keteraturan berobat penderita kusta (Fajar dkk, 2004).

Sementara itu menurut Basaria; jenis kelamin, pendidikan dan peran petugas sangat besar pengaruhnya terhadap kepatuhan minum obat penderita kusta (Basaria, 2007).

2.7. Penyakit Kusta 2.7.1. Definisi Kusta

Penyakit kusta adalah penyakit menular yang menahun dan penularannya kepada orang lain memerlukan waktu yang cukup lama tidak seperti penyakit lainnya. Masa inkubasinya adalah 2-5 tahun. Penyakit ini menyerang syaraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran pernafasan bagian atas, mata, otot, tulang dan testis. Pada kebanyakan orang yang terinfeksi dapat asimtomatik. Namun pada sebagian kecil memperhatikan gejala-gejala yang mempunyai kecenderungan untuk menjadi cacat khususnya pada tangan dan kaki (Depkes RI, 2002).

Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik dan penyebabnya ialah Mycobacterium leprae yang bersifat intraselular obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat (Djuanda, 2008).

2.7.2. Penyebab Kusta

Sebagian penyakit menular disebabkan oleh bakteri. Bakteri penyebab penyakit kusta disebut Mycobakterium Leprae. Belum secara pasti bagaimana

(18)

penyebaran atau perpindahan penyakit kusta, yang jelas seseorang penderita tidak dapat menular ke orang lain kecuali mycobacterium leprae yang hidup keluar dari tubuh penderita kemudian masuk ke tubuh orang lain. Jenis bakteri ini juga dikenal dengan nama Hansen’s bacillus, lantaran ditemukan oleh seorang ahli fisika Norwegia bernama Gerhard Armauer Hansen, pada tahun 1873 (Depkes RI, 2002).

2.7.3. Tipe Kusta

1. Tipe PB (Pausi Basiler) yaitu penderita kusta yang mempunyai kelainan dengan jumlah lesi 1-5, penebalan syaraf hanya 1 disertai dengan gangguan fungsi dan pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) negatif.

2. Tipe MB (Multi Basiler) yaitu kelainan kulit dengan jumlah lesi lebih dari 5, penebalan syaraf lebih dari 2 disertai gangguan fungsi dan pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) positif.

2.7.4. Tanda-Tanda Penyakit Kusta

Tanda-tanda dari penyakit kusta bermacam-macam tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut. Adapun tanda-tanda yang mudah untuk dikenal yaitu:

1. Adanya bercak putih tipis seperti panu yang mati rasa pada tubuh manusia. 2. Adanya binti-bintik kemerahan yang tersebar pada kulit.

3. Adanya penebalan saraf tepi.

4. Muka berbenjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa). 2.7.5. Pengobatan Penderita Kusta

Dilihat dari sejarahnya pengobatan kusta telah melalui beberapa tahap perkembangannya. Meskipun obat yang ditemukan memberikan harapan yang lebih

(19)

cerah namun masih dalam evaluasi uji klinis, maka regimen MDT (Multi Drug Therapi) masih dianjurkan pada program pemberantasan kusta diseluruh dunia.

Program MDT (Multi Drug Therapi) dimulai pada tahun 1981, yaitu ketika kelompok studi kemoterapi WHO secara resmi mengeluarkan rekomendasi pengobatan kusta regimen kombinasi yang dikenal sebagai regimen kombinasi yang dikenal sebagai regimen MDT WHO yaitu DDS (diamino difenil sulfon), Rifampisin dan Klofazimin. Selain untuk mengatasi resisten dapsone dan rifampicin yang semakin meningkat, penggunaan MDT dimaksudkan untuk mengurangi ketidaktaantan penderita dan menurunkan angka putus obat (drop out rate) yang cukup tinggi pada masa terapi. WHO telah menyediakan obat MDT dalam kemasan blister pack PB dan MB untuk penderita kusta. Lamanya pengobatan penyakit kusta yaitu, PB selama 6-9 bulan sedangkan MB selama 12-18 bulan (Linuwin, 1997). 2.7.6. Cara Penularan

Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas, penularan di dalam rumah tangga dan kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan kusta (Djuanda, 2008).

Kusta mempunyai masa inkubasi 2-5 tahun, akan tetapi dapat juga beberapa bulan sampai beberapa tahun. Penularan terjadi apabila mycobacterium leprae yang solid (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk ke dalam tubuh orang lain. Secara teoritis, penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang lama dengan penderita. Yang jelas seorang penderita yang sudah minum obat sesuai dengan regimen WHO tidak menjadi sumber penularan kepada orang lain (Depkes, 2005).

(20)

Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:

• Melalui sekresi hidung, basil yang berasal dari sekresi hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.

• Kontak kulit dengan kulit yang lama dan berulang-ulang dalam jangka 40 hari sampai 40 tahun tetapi umumnya beberapa tahun, rata-rata 2-5 tahun (Djuanda, 2008).

2.7.7. Pencegahan Penyakit Kusta

Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. Faktor pengobatan adalah amat penting dimana kusta dapat dihancurkan, sehingga penularan dapat dicegah. Pengobatan kepada penderita kusta merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Kuman kusta diluar tubuh manusia dapat hidup 24-48 jam dan ada yang berpendapat sampai 7 hari, ini tergantung dari suhu dan cuaca diluar tubuh manusia tersebut. Makin panas cuaca makin cepatlah kuman kusta mati. Jadi dalam hal ini pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat yang lembab (Linuwin, 1997).

Penting sekali kita mengetahui atau mengerti beberapa hal tentang penyakit kusta ini, yaitu :

• Ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta.

(21)

• Enam dari tujuh kasus kusta tidaklah menular pada orang lain.

• Kasus-kasus menular tidak akan menular setelah diobati kira-kira 6 bulan secara teratur.

2.8. Kerangka Konsep Penelitian

Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah :

2.9. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Ada hubungan antara pengetahuan keluarga dengan proses penyembuhan pada penderita kusta

2. Ada hubungan antara sikap keluarga dengan proses penyembuhan pada penderita kusta Pengetahuan keluarga tentang penyakit kusta proses penyembuhan pada penderita kusta Karakteristik Keluarga: - Umur - Jenis Kelamin - Pendidikan - Pekerjaan - Lama menderita kusta Sumber Informasi: - Media Cetak dan elektronik - Petugas Kesehatan Sikap keluarga terhadap penyakit kusta

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :