• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYERAPAN LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) MENGGUNAKAN KHITOSAN HASIL TRANSFORMASI KHITIN DARI KULIT UDANG (PENAEUS sp)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENYERAPAN LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) MENGGUNAKAN KHITOSAN HASIL TRANSFORMASI KHITIN DARI KULIT UDANG (PENAEUS sp)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENYERAPAN LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) MENGGUNAKAN

KHITOSAN HASIL TRANSFORMASI KHITIN

DARI KULIT UDANG (PENAEUS sp)

Intan Lestari dan Aulia Sanova

Jurusan PMIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi Kampus Pinang Masak, Mendalo Darat, Jambi 36361

Abstrak

Telah dilakukan penelitian penyerapan logam berat kadmium (Cd) menggunakan khitosan hasil transformasi khitin dari kulit udang (Penaeus sp). Limbah kulit udang merupakan salah satu limbah yang belum termanfaatkan secara potensial di Propinsi Jambi. Limbah kulit udang dapat dimanfaat kan sebagai adsorben salah satunya untuk penyerapan logam berat kadmium. Logam kadmium merupakan salah satu logam yang berbahaya bagi lingkungan. Oleh karenanya perlu penanganan khusus jika berada dalam konsentrasi yang tinggi di lingkungan. Khitin merupakan senyawa golongan polisakarida yang merupakan polimer linier dari anhidro N-asetil-D-glukosamin, sedangkan khitosan merupakan modifikasi dari senyawa polimer dan karbohidrat yang berasal dari khitin yang banyak terdapat dalam hewan crustaceae.. Khitin diisolasi dari limbah kulit udang dengan menggunakan basa kuat NaOH dan khitin yang terbentuk ditransformasi menjadi khitosan. Hasil isolasi senyawa khitin dan khitosan diidentifikasi dengan menggunakan spektrofotometer infra merah. N . Hasil menunjukkan bahwa persentase khitin yang diisolasi dari kulit udang sebesar 32%, khitosan hasil transformasi khitin diperoleh 77,6%. Hasil identifikasi dengan IR menunjukkan gugus-gugus fungsi khitin dan khitosan yang mirip dengan lteratur. Penentuan kondisi optimum penyerapan logam kadmium dengan menggunakan khitosan didapatkan efesiensi serapan 57,07% pada waktu kontak 15 menit dengan massa adorben 4 gr dengan konsentrasi analit 2,5 ppm.

Kata kunci : isolasi, khitin, khitosan, logam kadmium (cd), udang.

PENDAHULUAN

Provinsi Jambi merupakan salah satu

Provinsi yang dikenal dengan “Provinsi

Harapan” karena memiliki sumber daya alam

yang melimpah diantaranya adalah daerah

yang letak geografisnya berdekatan dengan

laut. Sebagai daerah yang dekat dengan laut,

Jambi mempunyai hasil laut yang cukup

melimpah, dimana hasil laut ini menjadi

komoditi

andalan

dalam

meningkatkan

komoditi nonmigas. Diantara hasil-hasil

tersebut adalah udang, kepiting dan jenis ikan

lainnya.

Udang

merupakan

salah

satu

primadona dikalangan masyarakat (Adrianna

dkk., 2001).

Udang dapat diekspor dalam bentuk beku

yaitu udang yang sudah dipisahkan kepala dan

kulitnya dan selanjutnya didinginkan “Cold

Storage”. Proses tesebut menghasilkan produk

samping berupa kepala dan kulit dan kaki

udang yang semakin lama semakin melimpah.

Apabila limbah kepala dan kaki udang ini jika

tidak dikelola dengan baik maka dapat

mempengaruhi

keseimbangan

lingkungan

(Adrianna, dkk, 2001). Pada akhirnya

diperlukan

biaya

yang

tinggi

untuk

mengelolanya. Dalam hal ini diharapkan

sentuhan teknologi dalam pengelolaan limbah

tersebut

sehinga

diharapkan

sentuhan

teknologi dalam pengelolaan limbah tersebut

sehingga

diharapkan

mendatangkan

keuntungan yang tinggi.

Manfaat khitosan yang berasal dari kulit

udang antara lain sebagai obat kolesterol, obat

pelangsing, perban penghentian pendarahan,

bahan kaos yang mampu menyerap keringat,

penyaring limbah pabrik, obat penghilang

(2)

Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains.

sakit maag yang akut bahkan sebagai bahan

pengganti contact lens yan mulai kabur

(Hanafi, M dkk., 2003). Sedangkan khitin

menjadi bahan aditif pada industri kertas dan

tekstil, pembungkus makanan, perekat pada

industri kulit, bahan khusus fotografi dan

sebagai bahan campuran penjernih air. Hasil

samping pengelolaan limbah udang juga bisa

digunakan untuk pakan ternak (Sugiarto dkk,

1979).

Khitin merupakan senyawa golongan

polisakarida yang merupakan polimer linier

dari

anhidro

N-Asetil

D-Glukosamin.

Mempunyai massa molekul yang besar

dengan rumus (C8H13O5)n dan mengandung

banyak jumlah atom C 47,29 %, H 6,45 %, N

6,89 % dan O 39.9 %. Struktur khitin mirip

dengan

selulosa

dimana

monomer-monomernya terangkai dengan ikatan

β

(1-4)

Glikosida. Perbedaannya dengan selulosa

yaitu atom C2, pada selulosa terikat gugus

hidroksil, sedang pada khitin terikat gugus

asetamida (NHCOCH3). Dengan adanya

gugus aktif ini maka khitn dan khitosan

merupakan salah satu biopolymer yang dapat

berfungsi sebagai bioadsorben (Latisma,

2003).

Khitosan adalah modifikasi dari senyawa

polimer dan karbohidrat yang berasal dari

khitin yang banyak terdapat dalam kulit luar

crutacea seperti pada udang dan kepiting.

Kandungan khitin dalam kulit udang lebih

banyak dari pada protein. Khitin dan khitosan

tidak bersifat toksik, berbentuk serbuk

bewarna putih semi transparan. Oleh karena

sifatnya yang tidak larut dalam beberapa asam

mineral dan air, maka sangat menguntungkan

apabila difungsikan sebagai adsorben (Knorr.,

1982).

Adsorben yang berasal dari khitin dan

khitosan yang diekstrak dari kulit udang telah

dilakukan, untuk penyerapan kromium IV

dengan efisiensi serapan 80 %. Khitin dari

hasil

isolasi

dari

kulit

udang

dapat

menghasilkan 18 % khitin dan hasil

transformasi

khitin

menjadi

khitosan

menghasilkan 80 % khitosan (Adrianna, dkk,

2001).

METODOLOGI PENELITIAN

Alat dan bahan :

Alat : Instrumen IR, AAS dan alat-lat

gelas. Bahan : NaOH 3%, NaOH 50%, HCl

1,25 N, Cd(NO3)2 dan akuades.

Prosedur Kerja :

Isolasi khitin dari kulit udang

Kulit udang sampai halus, kemudian

diayak dan ditambahkan NaOH 3% dengan

perbandingan 1:6 lalu dipanaskan pada suhu

80-85

O

C selama 30 menit. Campuran

disaring, dan diambil padatannya. Padatan

dibilas dengan menggunakan akuades sampai

bebas NaOH dengan uji bebas protein, degan

cara membuat reagen dan bahan uji biuret

dengan cara mencampurkan NaOH 2,5 N,

kedalam 3 ml larutan protein dan setetes

CuSO4 0,01 M. Padatan bebas protein

ditambah HCl 1,25 N dengan perbandingan

1: 10 kemudian dipanaskan dengan oven

dengan suhu 70-75

O

C selama 1 jam. Padatan

didinginkan, setelah benar-benar kering

dilanjutkan

dengan

uji

khitin

dengan

menggunakan instrument infra merah.

Transformasi khitin menjadi khitosan

1.

Menambah NaOH 50% kedalam khitin

yang diperoleh dengan perbandingan 1:10

kemudian dipanaskan pada suhu 95-100

O

C selama 30 menit.

2.

Mencuci padatan dengan aquades sampai

bebas

dari

NaOH

kemudian

mengeringkannya kedalam oven pada

suhu 80

O

C selama 24 jam.

3.

Melakukan uji khitosan setelah padatan

benar-benar kering.

Pembuatan kurva kalibrasi

Membuat larutan standar Cd(NO3)2 dengan

berbagai kosntrasi yaitu 0,5 ; 1 ; 2 ; 4 ppm

dengan cara menambahkan Cd(NO3)2

sebanyak 0,5 ml, 1 ml, 2 ml, dan 4 ml pada

tiap-tiap kosentrasi dari larutan standar

Cd(NO3)2 100 ppm kemudian campuran tadi

dilarutkan dengan menambahkan akuades

dalam labu takar 100 ml sampai tanda batas.

Adsorbsi ion logam cadmium (Cd)

1.

Memasukkan khitosan sebanyak 2 gram

kedalam gelas piala.

2.

Menambahkan larutan Cd

2+

2,5 ppm

sebanyak 100 ml kemudian mengaduk

larutan

dengan sheker 300 rpm selama 15

menit.

3.

Menyaring larutan untuk memisahkan

antara filtrate dan residu. Filtrat yang

(3)

diperoleh

dianalisis

dengan

spektrofotometri serapan atom (SSA).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Isolasi Khitin dari Kulit Udang

Tahap pertama yang dilakukan pada proses

isolasi khitin yaitu penghilangan protein, pada

tahap ini dilakukan penambahan NaOH 3%.

Setelah dilakukan pengamatan, sampel terlihat

mengendap di dalam larutan dan setelah

dilakukan pemanasan sampel terlihat masih

mengendap dalam larutan walaupun telah

dilakukan pengadukan secara berulang-ulang.

Hal inilah yang menyebabkan campuran sulit

untuk disaring. Setelah dilakukan pencucian

dengan aquades berkali-kali didapatkanlah

larutan bebas protein.Hal ini dibuktikan

dengan dilakukan uji bebas protein yang

menunjukkan larutan tidak menimbulkan

warna (Hargono., 2003).

Tahap kedua yaitu penghilangan garam

dan mineral, hal ini dilakukan karena pada

umumnya khitin tidak berbentuk murni tapi

merupakan

kombinasi

bersama

dengan

substansi lain misalnya kalsium karbonat,

protein

dan

pigmen.

Disamping

itu

penghilangan protein dan mineral bertujuan

agar tidak menggangu reaksi deasetilasi khitin

menjadi khitosan. Pada saat penambahan HCL

1,25 N pada padatan deproteinasi, larutan

terlihat menghasilkan gelembung-gelembung

dan apabila tidak diaduk secara terus menerus

maka gelembung-gelembung tersebut akan

meluap, begitupun pada saat pemanasan.

Akan tetapi pada saat penyaringan dilakukan

dengan sangat cepat jika dibandungkan

dengan proses sebelumnya.

Persentase hasil isolasi khitin dari limbah

kulit udang yang diperoleh adalah sebesar

32%, hasil ini lebih besar jika di bandingkan

dengan penelitian yang telah dilakukan

sebelumnya

yaitu

15%-20%.

Hal

ini

kemungkinan

disebabkan

karena

pada

penghilangan garam mineral tidak dilakukan

preparasi sampel.

Berdasarkan spektrum dalam menentukan

suatu senyawa yang dihasilkan maka hal

pertama yang perlu diperhatikan adalah

daerah sidik jari. Sidik jari disebut juga bagian

tengah spectrum, yaitu dengan panjang

gelombang 1300 – 909 cm

-1

. Bagian spekturm

ini sangat penting dalam hubunganya dengan

spektrum lainnya (Hartono dkk, 1998).

Gambar 1 Spektrum Infra Merah Khitin

Standar

Gambar 2. Spektrum Infra Merah Khitin

Kulit Udang

Hal kedua yang penting dilakukan dalam

sebuah pemeriksaan sebuah spectrum ialah

memperhatikan bagian serapan tinggi sebuah

spectrum yang disebut gugus fungsi (misalnya

OH, NH, C=O). Berdasarkan pada gugus

fungsi OH spectrum sampel berada pada

panjang

gelombang

2361,2

3270,9

sedangkan spectrum standar OH berada pada

3504,95 – 3631,01, pada gugus fungsi NH

spectrum sampel berada pada panjang

gelombang

3449,1

sedangkan

spectrum

standar NH berada pada 3417, 86 dan pada

gugus fungsi C=O spectrum sampel berada

pada panjang gelombang 1648,21. Dari

perbandingan spectrum infra merah khitin

standar dan spectrum infra merah khitin kulit

udang dari penelitian maka dapat dikatakan

tergolong khitin (J.H. Perri., 1960).

Transformasi Khitin Menjadi Khitosan

Struktur khitin mirip dengan selulosa

dimana monomer-monomernya terangkain

(4)

Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains.

dengan

ikatan

β

(1-4)

Glikosida.

Perbedaannya dengan selulosa yaitu atom C2,

pada

selulosa

terikat

gugus

hidroksil,

sedangkan pada khitin terikat gugus asetamida

(NHCOCH3). Jika sebagian gugus asetil

disubsitusikan oleh hidrogen menjadi NH2

dengan menggunakan basa kuat dengan

konsentrasi tinggi maka hasilnya dinamakan

khitosan (J.H. Perry, 1960).

Penggunaan larutan NaOH 50% pada

proses trasformasi khitin menjadi khitosan

dimaksudkan untuk memutuskan ikatan antara

gugus asetil dengan atom nitrogen sehingga

akan berubah menjadi gugus amino. Larutan

basa

kuat

dengan

konsentrasi

tinggi

digunakan karena khitin tahan terhadap proses

deasetilasi. Hal ini disebabkan karena unit sel

khitin berstruktur kristalin dan juga karena

adanya ikatan hydrogen intermolekul antara

atom hydrogen pada NH dengan gugus

karbonil.

Pada proses transformasi khitin menjadi

khitosan

diperoleh

prosentase

khitosan

sebesar 77,6%. Hasil yang hampir sama telah

dilakukan oleh Adriana dkk., 2001 yang mana

persentase khitosan yang diperoleh adalah

sebesar 80% dari isolasi khitin.

Berdasarkan spektrum khitosan di atas

ditemukan gugus karbonil pada angka

gelombang 1635 cm

-1

, hal ini disebabkan

karena khitosan yang diperoleh masih

mengandung khitin , begitupun jika dilihat

dari perbandingan daerah sidik jari sampel

dengan daerah sidik jari standar terdapat

sedikit kemiripan. Uji identifikasi khitin dapat

dideteksi

dengan

reaksi

warna

Van

Wesslink.Pada cara ini khitin direaksikan

dengan I2 – KI dan menunjukkan larutan tidak

berwarna (bening).

Gambar 3. Spektrum Infra Merah Khitosan standar

(5)

Gambar 5 Mekanisme reaksi transformasi

khitin menjadi khitosan

Khitosan

bersifat

polikationik

dapat

mengikat lemak dan logam berat pencemar.

Khitosan memiliki gugus amina yaitu adanya

unsur N yang bersifat basa. Mekanisme logam

kadmium (Cd) dimana terjadi pengikatan Cd

oleh gugus N dan O sehingga logam Cd

tersebut akan terikat.Logam berat atau logam

lain

secara

keseluruhan

dalam

larutan

elektrolit merupakan partikel bermuatan

positif,

sedangkan

khitosan

adalah

polielektrolit bermuatan negatif, reaksi antara

kedua partikel akan menuju pada arah

penghilangan gradient muatan dan berbentuk

senyawa produk yang tidak bermuatan

(Anonim, 2007).

Gambar 6 Mekanisme reaksi penyerapan

logam Kadmium (Cd)

Kurva Kalibrasi Standar Logam Kadmium (Cd)

Persamaan regresi linier untuk kurva

larutan standar adalah Y= 0,3624x + 0,1586

dengan kurva standar seperti gambar 7:

Pengujian Daya Serap Khitosan Terhadap Logam Kadmium (Cd)

Peristiwa adsorbsi disebabkan oleh gaya

tarik menarik molekul dipermukaan adsorben

Gambar 7. Kurva kalibrasi standar untuk

logam cadmium

pada molekul zat padat dan zat cair.

Adanya gaya ini menyebabkan zat padat dan

zat cair mempunyai gaya adsorbsi. Hasil

pengujian daya serap khitosan dari limbah

kulit udang terhadap logam kadmium dapat

dilihat pada kurva berikut :

Gambar 8. Kurva hubungan massa

khitosan terhada efisiensi

serapan

Gambar

diatas

menunjukkan

bahwa

penyerapan logam cadmium yang baik terjadi

pada massa khitosan 4 gram, kosentrasi 2,5

ppm dan waktu pengadukan 15 menit dengan

daya serap logam cadmium yang dihasilkan

sebesar 57,07%. Pada kondisi ini, permukaan

khitosan adalah jenuh oleh ion-ion logam

cadmium sehingga pada massa yang lebih

besar dari 4 gram kemampuan khitosan untuk

menyerap akan menurun atau pada suatu saat

dapat konstan. Jadi walaupun massa adsorben

bertambah

banyak

tidak

mempengaruhi

terhadap penyerapannya.

Prinsip dasar dalam mekanisme pengikatan

antara khitosan dengan logam berat yang

terkandung dalam limbah cair industry tekstil

adalah prinsip penukar ion. Dimana gugus

amina khususnya nitrogen dalam khitosan

(6)

Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains.

akan bereaksi dan mengikat logam dari

persenyawaan limbah cair. Khitosan yang

tidak

dapat

larut

dalam

air

akan

menggumpalkan logam-logam menjadi

flok-flok yang tidak akan bersatu dan dapat

dipisahkan dari air limbah. Khitosan dapat

bekerja sempurna jika dilarutkan dalam asam.

Mekanisme ini membantu dalam menetralkan

pH air limbah sebelum dibuang ke lingkungan

bebas.

Pada

penentuan

parameter

analitik,

kosentrasi yang digunakan adalah 0,5 ppm,

pengulangan pengukuran dilakukan sebanyak

6 kali pengulangan. Adapun nilai presisinya

yaitu sebesar 0,77%. Sedangkan nilai akurasi

yaitu sebesar 98,26%, hal ini menunjukkan

bahwa tingkat kesalahan dari peneliti snagat

kecil sedangkan tingkat akurasinya sangat

tinggi.

KESIMPULAN

1.

Isolasi khitin dari kulit udang dilakukan

melalui proses penghilangan protein

dari kulit udang menggunakan NaOH

3% dan penghilangan garam mineral

menggunakan HCl 1,25 N. Sedangkan

persentase khitin yang diperoleh dari

hasil isolasi sebesar 32%

2.

Transformasi khitin menjadi khitosan

dilakukan dengan menggunakan NaOH

50% dan persentase khitin yang

diperoleh dari hasil transformasi sebesar

77,6%

3.

Khitosan

mampu

menyerap

logam

cadmium pada berat khitosan 4 gram

dengan waktu kontak sekitar 15 menit

dengan daya serap 57,07%.

DAFTAR PUSTAKA

Adrianna,

Mudjiati,S.Elvira,V.Setijawati,

2001. Adsorpsi Cr (VI) dengan

adsorben Khitosan. Jurnal Kimia

Lingkungan Vol.3 Nomor 1. Unika

Widya Mandala.Surabaya.

Anonim, 2007., Potensi Khitosan Dari Sisa

Udang Sebagai Koagulan Logam

Berat Limbah Cair dan Industri

Tekstil. LIPI. Jakarta.

Hanafi, Muhammad, Syahrul Aiman, Efriana

D., B. Suwandi.2003., ” Pemanfaatan

Kulit

Udang

untuk

Pembuatan

Kitosan dan Glukosamin”. LIPI

Kawasan PUSPITEK, Serpong.

Hargono dan M. Djaeni, 2003.,“Pemanfaatan

Kitosan dari Kulit Udang sebagai

Pelarut Lemak”, Prosiding Seminar

Nasional, Teknik Kimia Universitas

Indonesia,

Hartono A.J. dan A.V. Purba, 1998.,

Penyidikan Spektrometrik Senyawa

Organik.

Edisi

ke-4.

Erlangga.

Jakarta

Knorr,D.1982. Functional Properties Of

Chitin Chitosan, Journal of Food

Science.

Latisma.Dj. 2003. Khitin Sebagai Alternatif

Solid Support Pada Sintesis Peptida.

J.Saintek Vol.VI, Nomor 1.

Perry, J. H., 1960, ”Chemical Engineers

Handbook”, 3rd Ed, Mc.Graw Hill

Book Company, New York

Soegiarto, A., Toro, V., Soegiarto, K.A,

1979., “Udang, Biologi, Potensi,

Budidaya, Produksi, dan Udang

Sebagai

Bahan

Makanan,

di

Indonesia”,

Lembaga

Oseanologi

Nasional-LIPI, Jakarta.

Gambar

Gambar  2.  Spektrum  Infra  Merah  Khitin  Kulit Udang
Gambar 4 Spektrum Infra Merah Khitosan Kulit Udang
Gambar  5  Mekanisme  reaksi  transformasi  khitin menjadi khitosan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan evaluasi yang meliputi komponen konteks, input, proses, produk pada program pembelajaran tematik di Sekolah Dasar

sebagai kopling sinyal (jembatan penghubung dari satu blok ke blok lain). Contoh penggunaan : Pada amplyfier, Penguat frekuensi menengah. Dan banyak kegunaan lainnya

Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif make a match terhadap hasil kognitif belajar IPS dan keterampilan

Disini penulis tertarik dengan desa Tanipah karena walaupun masyarakatnya orang-orang desa dengan pendidikan yang tidak terlalu tinggi dan bekerja sebagai petani,

Menurut Gagne, Wager, Goal, & Keller [6] menyatakan bahwa terdapat enam asusmsi dasar dalam desain instruksional. Keenam asumsi dasar tersebut dapat dijelaskan

Proses Transformasi Digital Assurance Proses transformasi sistem Digital Assurance yang dilakukan oleh jurusan Sastra Inggris IAIN Surakarta didukung oleh beberapa faktor,

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pendampingan pembuatan bahan ajar bagi guru SDIT Salsabilla Al Muthi’in Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Dosen

Van den Bosch memberlakukan tanam paksa (cultuurstelsel). Selain itu rakyat Indonesia juga diwajibkan membayar pajak. Pemerintah Belanda mengerahkan tenaga rakyat untuk