• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING PT SAUNG MIRWAN DENGAN PENDEKATAN ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP) Oleh: YUTI ARLAN H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING PT SAUNG MIRWAN DENGAN PENDEKATAN ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP) Oleh: YUTI ARLAN H"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING PT SAUNG

MIRWAN DENGAN PENDEKATAN

ANALYTIC NETWORK

PROCESS

(ANP)

Oleh:

YUTI ARLAN

H24080013

DEPERTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING PT SAUNG

MIRWAN DENGAN PENDEKATAN

ANALYTIC NETWORK

PROCESS

(ANP)

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA EKONOMI

Pada Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

YUTI ARLAN

H24080013

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

(3)

Pendekatan Analytic Network Process (ANP) Nama : Yuti Arlan

NIM : H24080013

Menyetujui,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Ir. Muhammad Syamsun, M.Sc. Alim Setiawan S, S.TP, M.Si. NIP 19500727 197412 1 001 NIP 19820227 200912 1 001

Mengetahui, Ketua Departemen

Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc. NIP 19610123 198601 1 002

(4)

Yuti Arlan. H24080013. Strategi Peningkatan Daya Saing PT Saung Mirwan dengan Pendekatan Analytic Network Process (ANP). Di bawah bimbingan Muhammad Syamsun dan Alim Setiawan S.

Sayuran merupakan komoditi yang tersedia dalam jumlah yang cukup banyak di Indonesia yang merupakan negara agraris. Besarnya potensi sayuran disadari oleh banyak pelaku usaha sehingga memicu munculnya para pesaing dalam agribisnis sayuran. Munculnya para pesaing, ditambah dengan harga pesaing yang lebih murah, menuntut pihak PT Saung Mirwan yang sudah sangat lama berkecimpung dalam bisnis ini, untuk dengan cermat merumuskan strategi yang tepat agar dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan keunggulan kompetitif agribisnis sayuran, (2) menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi daya saing PT Saung Mirwan, (3) merumuskan strategi berdasarkan faktor internal dan eksternal yang dimiliki oleh PT Saung Mirwan, dan (4) membuat prioritas strategi untuk meningkatkan daya saing PT Saung Mirwan.

Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui indepth interview dan pengisian kuesioner oleh responden. Data sekunder diperoleh dengan mengumpulkan informasi dari tempat penelitian dan literatur. Alat analisis yang digunakan adalah Porter’s Diamond Model, Matriks SWOT, dan Analytic Network Process (ANP). Pengolahan data menggunakan

softwareMicrosoft Excel 2007 dan Superdecisions 2.0.8.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumberdaya alam, teknologi, jumlah pembeli, tingkat pertumbuhan pembelian, dan petani mitra merupakan atribut yang paling besar pengaruhnya terhadap daya saing agribisnis sayuran dan yang paling rendah pengaruhnya adalah strategi pesaing. Penelitian juga menunjukkan bahwa kekuatan utama dari PT Saung Mirwan adalah mutu produk yang sudah mencapai kualitas ekspor, sedangkan kelemahan utama adalah karyawan yang kurang inisiatif dan sudah mulai jenuh. Peluang utama bagi PT Saung Mirwan adalah tren gaya hidup konsumen (pola hidup sehat), sedangkan yang menjadi ancaman utama adalah serangan hama dan anomali iklim. Analisis dengan menggunakan Matriks SWOT menghasilkan lima alternatif strategi untuk meningkatkan daya saing, yaitu menyediakan produk sesuai demand, mengadakan

training dan gathering untuk karyawan, smart promotion, melaksanakan produksi sesuai prosedur, dan strategi efisiensi biaya. Analisis dengan menggunakan

Analytic Network Process (ANP) menunjukkan bahwa strategi utama untuk meningkatkan daya saing PT Saung Mirwan adalah strategi melaksanakan produksi sesuai prosedur.

(5)

v

Penulis bernama lengkap Yuti Arlan. Lahir pada tanggal 18 Juli 1991 di Ciamis, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Bapak Drs. Arya Bhakti dan Ibu Aty Rufaidah, BA. Lulus dari Sekolah Dasar Negeri Pengadilan 5 Bogor pada tahun 2002 kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bogor, lulus pada tahun 2005. Selanjutnya menyelesaikan pendidikan menengah atas pada Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bogor pada tahun 2008.

Pada tahun 2008, diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor) di Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Pada masa perkuliahan, aktif dalam organisasi mahasiswa. Tergabung sebagai Staff Departemen Advokasi BEM TPB 45 (Badan Eksekutif Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama) periode 2008-2009. Tergabung sebagai Anggota Gentra Kaheman periode 2008-2009. Kemudian di tingkat II bergabung dalam Sahabat Muda Ksatria BEM FEM 2009 Kabinet Sahabat Ksatria. Selanjutnya tergabung dalam BEM FEM 2010 Kabinet Orasi sebagai Sekretaris Biro Pengembangan Internal. Tahun berikutnya tergabung sebagai Bendahara Kabinet BEM FEM 2011 Kabinet Sinergi.

Selama masa perkuliahan juga aktif berpartisipasi dalam kepanitiaan beberapa acara BEM FEM, BEM KM, juga Himpunan Profesi Departemen Manajemen - Center of Management (COM@). Selain pernah menjadi Ketua Pelaksana Orasi Muda BEM FEM 2010, juga menjadi sekretaris dan bendahara di beberapa kepanitiaan di IPB. Pernah menjadi pengisi acara malam kebudayaan dalam acara IFSS 2009 (International Forestry Students' Symposium). Mendapatkan Beasiswa Bank Indonesia periode 2011 dan pernah mengikuti magang atau pelatihan kerja di Production Logistic Department PT Mercedes-Benz Indonesia.

(6)

vi

Alhamdulillah segala puji dan syukur senantiasa dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis dalam menyusun skripsi yang berjudul “Strategi Peningkatan Daya Saing PT Saung Mirwan dengan Pendekatan Analytic Network Process (ANP)”. Shalawat serta salam tercurah kepada Rasulullah SAW beserta para keluarga, sahabat, serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan keunggulan kompetitif agribisnis sayuran, menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi daya saing PT Saung Mirwan, kemudian merumuskan strategi dan memilih strategi yang menjadi prioritas dalam peningkatan daya saing perusahaan. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyadari masih banyaknya kekurangan dalam penulisan skripsi ini karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya penelitian berikutnya sebagai penyempurna skripsi ini.

Bogor, Maret 2012 Penulis

(7)

vii

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat tersusun tanpa bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Ir. Muhammad Syamsun, M.Sc dan Bapak Alim Setiawan S, S.TP, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk membimbing serta memberikan saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Drs. Edward H. Siregar, SE, MM selaku dosen penguji sidang yang telah meluangkan waktunya menjadi penguji sidang serta memberikan saran dalam penulisan skripsi ini.

3. Bapak Tatang Hadinata, Mbak Ardhita Zulhis Prihandini, Bapak Wasil, beserta seluruh jajaran di PT Saung Mirwan yang telah memperkenankan dan membantu penulis dalam melakukan penelitian.

4. Seluruh staf pengajar dan karyawan/wati Departemen Manajemen FEM IPB yang telah membantu memfasilitasi segala keperluan kuliah dan birokrasi yang harus diselesaikan penulis.

5. Mama dan Papa tercinta yang selalu mencurahkan kasih sayang, dukungan moril maupun materiil, kesabaran, pengorbanan, dan do‟a yang tiada terputus bagi ketiga buah hatinya.

6. Kakakku tersayang Syifa Ratna Pujasari dan adikku tersayang Fikri Nugraha Bhakti, terima kasih selalu memberikan dukungan dan canda tawa yang menghibur selama ini.

7. Keluarga besar tercinta H. Adang Sutisna dan Alm. Kaharudin Datuk Tunaro atas segala bantuan, dukungan, dan do‟a tak terhingga selama ini.

8. Sheila, Mega, Mia, Ira, Nika, Icha, Ismi wanita-wanita penyemangatku, terima kasih sudah berbagi canda tawa, suka duka, serta saling mendukung selama tiga tahun ini. Semoga persahabatan kita tak lekang oleh waktu. 9. Teman-teman seperjuangan, khususnya Arni, Dede, Meli, Yuvi, serta Risya,

Jejes, Ocha, terima kasih sudah saling menyemangati, membantu, serta berbagi ilmu.

(8)

viii

10. Keluarga besar Manajemen 45, terima kasih atas semua dukungan serta kenangan kita baik suka maupun duka selama tiga tahun ini. Semoga silaturahim kita akan tetap terjaga.

11. Keluarga Orasi dan Sinergi, terima kasih atas dukungan, kebersamaan, dan pelajaran berharga selama ini. Semoga kisah kita menjadi sebuah kisah klasik yang indah untuk masa depan. Dan semoga silaturahim kita tak lekang oleh waktu.

12. Staff Perpustakaan LSI, FEM, dan MB IPB yang telah turut membantu mempermudah penulis dalam mendapatkan literatur bagi skripsi ini.

13. Semua pihak yang tak dapat penulis tuliskan satu persatu yang telah membantu penulis selama menyelesaikan skripsi ini serta semua pihak yang telah mewarnai hari-hari penulis selama perkuliahan. Semoga Allah SWT memberikan pahala atas kebaikannya.

(9)

ix

Halaman RINGKASAN

RIWAYAT HIDUP ... v

KATA PENGANTAR ... vi

UCAPAN TERIMA KASIH ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 4

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1. Manajemen Strategi ... 5

2.2. Keunggulan Kompetitif ... 5

2.3. Analisis Porter’s Diamond Model ... 8

2.4. Analisis SWOT ... 10

2.5. Analytic Network Process ... 11

2.6. Penelitian Terdahulu ... 13

III. METODE PENELITIAN ... 18

3.1. Kerangka Pemikiran ... 18

3.2. Tahapan Penelitian ... 18

3.3. Metode Penelitian ... 21

3.3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21

3.3.2 Jenis dan Metode Pengumpulan Data ... 21

3.3.3 Pengambilan Sampel ... 22

3.3.4 Pengolahan dan Analisis Data ... 22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40

4.1. Gambaran Umum Perusahaan ... 40

4.2. Struktur Organisasi PT Saung Mirwan ... 41

4.3. Kegiatan Usaha PT Saung Mirwan ... 43

4.4. Identifikasi Faktor Daya Saing Agribisnis Sayuran ... 46

4.4.1 Faktor Kondisi ... 47

4.4.2 Faktor Permintaan ... 51

4.4.3 Faktor Industri Terkait dan Industri Pendukung ... 54

(10)

x

4.4.6 Peranan Kesempatan ... 57

4.5. Analisis Faktor Strategis Internal dan Eksternal PT Saung Mirwan... 58

4.5.1 Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan ... 58

4.5.2 Identifikasi Peluang dan Ancaman ... 59

4.6. Rumusan Strategi ... 60

4.6.1 Strategi SO ... 61

4.6.2 Strategi WO ... 61

4.6.3 Strategi ST ... 62

4.6.4 Strategi WT ... 62

4.7. Perumusan Prioritas Strategi ... 62

4.7.1 Prioritas Klaster Faktor ... 65

4.7.2 Prioritas Klaster Masalah ... 66

4.7.3 Prioritas Klaster Alternative ... 66

4.8. Implikasi Manajerial ... 67

KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 72

(11)

xi

No Halaman

1. Jenis data dan sumber data yang dikumpulkan ... 21

2. Check list Hubungan Saling Ketergantungan Antar Kriteria ... 31

3. Skala Perbandingan Fundamental ... 33

4. Daftar manfaat yang didapat dari sistem kemitraan ... 44

5. Faktor yang berpengaruh terhadap daya saing agribisnis sayuran ... 46

6. Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan PT Saung Mirwan ... 58

7. Identifikasi Peluang dan Ancaman PT Saung Mirwan ... 59

8. Matriks SWOT PT Saung Mirwan ... 60

(12)

xii

No Halaman

1. Produksi Sayuran di Indonesia tahun 2006-2010 ... 1

2. Nilai Ekspor Sayuran di Indonesia tahun 2006-2010 ... 2

3. Sistem Lengkap dari Keunggulan Kompetitif Nasional ... 8

4. Perbedaan Hierarki dan Jaringan (Network) ... 12

5. Gambaran kerangka pemikiran penelitian ... 19

6. Tahapan Penelitian ... 20

7. Supermatriks dari hierarki ... 35

8. Supermatriks Hierarki ... 37

9. Supermatriks Holarki ... 37

10. Supermatriks dari Jaringan ... 37

11. Komponen supermatriks dari jaringan ... 38

12. Struktur Organisasi PT Saung Mirwan ... 43

13. Pola aliran dalam rantai pasokan di PT Saung Mirwan ... 45

14. Analisis Daya Saing Agribisnis Sayuran di Indonesia ... 57

15. Kerangka Strategi Peningkatan Daya Saing PT Saung Mirwan ... 63

16. Kerangka Strategi Peningkatan Daya Saing PT Saung Mirwan pada Software Superdecisions ... 64

17. Prioritas Klaster Faktor ... 65

18. Prioritas Klaster Masalah ... 66

(13)

xiii

No Halaman

1. Kuesioner Penelitian ... 74 2. Hasil pengolahan data dengan Superdecisions ... 100

(14)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris dan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di bidang pertanian. Sebenarnya negara ini diuntungkan karena dikaruniai kondisi alam yang mendukung, hamparan lahan yang luas, keragaman hayati yang melimpah, serta beriklim tropis dimana sinar matahari terjadi sepanjang tahun sehingga bisa menanam sepanjang tahun. Realita sumberdaya alam seperti ini sewajarnya mampu membangkitkan Indonesia menjadi negara yang makmur, tercukupi kebutuhan pangan seluruh warganya. Meskipun belum terpenuhi, pertanian menjadi salah satu sektor riil yang memiliki peran sangat nyata dalam membantu penghasilan devisa negara. Di antaranya adalah hasil pertanian sayur, yang merupakan salah satu produk dari sub sektor pertanian, yaitu hortikultura. Sayuran merupakan produk yang sudah banyak diekspor ke luar negeri. Dengan diekspornya sayuran, secara tidak langsung berpengaruh pada penghasilan devisa negara, penyumbang dalam pertumbuhan dan peningkatan perekonomian negara.

Gambar 1. Produksi sayuran di Indonesia tahun 2006-2010 (www.bps.go.id, 2012)

(15)

2

Gambar 2. Nilai ekspor sayuran di Indonesia tahun 2006-2010 (www.kemendag.go.id, 2012)

Potensi sayuran yang cukup besar tersebut disadari oleh para pelaku usaha, sehingga saat ini sudah cukup banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang agribisnis sayuran. Dengan semakin banyaknya para pelaku usaha dalam bidang ini mengakibatkan persaingan semakin ketat.

Paradigma yang berkembang saat ini adalah menentukan sektor usaha yang lebih menitikberatkan pada pemenuhan tuntutan konsumen atau memberikan pelayanan prima kepada konsumen. Paradigma tersebut mengubah cara pandang perusahaan dalam hal pengadaan produk di pasar, yaitu yang awalnya produsen aktif menawarkan produknya ke pasar (push system), selanjutnya berubah menjadi produsen yang harus lebih berfokus dalam memenuhi tuntutan dan kepuasan pasar (pull system). Perubahan paradigma tersebut menimbulkan permasalahan baru dalam bisnis, terutama berkaitan dengan upaya perusahaan dalam meningkatkan keunggulan kompetitif dan efisiensinya yang berfokus pada pelayanan kepada konsumen (Nugroho, 2004).

PT Saung Mirwan adalah perusahaan yang bertugas untuk mengolah sayuran dari petani sebelum sayuran dikirim ke pelanggan. Dalam pengolahan sayuran tersebut meliputi kegiatan sortasi, pemotongan, pengemasan dan pengepakan, serta pengiriman. PT Saung Mirwan

(16)

3

merupakan perusahaan yang telah lama bergerak dalam usaha sayuran. Namun, kini telah banyak bermunculan pesaing yang menawarkan harga lebih murah. Seperti perusahaan lain pada umumnya yang selalu berusaha untuk mempertahankan keunggulan bersaingnya, PT Saung Mirwan juga perlu dengan cermat merumuskan strategi yang tepat untuk dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan kompetitif agribisnis sayuran, serta merumuskan strategi untuk meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini, akan dirumuskan sebagai berikut:

1. Faktor apa saja yang mempengaruhi keunggulan kompetitif pada agribisnis sayuran?

2. Apa saja yang menjadi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi daya saing PT Saung Mirwan?

3. Bagaimana rumusan strategi peningkatan daya saing berdasarkan faktor-faktor internal dan eksternal yang dimiliki oleh PT Saung Mirwan? 4. Apakah prioritas strategi untuk meningkatkan daya saing PT Saung

Mirwan? 1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan keunggulan kompetitif agribisnis sayuran.

2. Menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi daya saing PT Saung Mirwan.

3. Merumuskan strategi berdasarkan faktor internal dan eksternal yang dimiliki oleh PT Saung Mirwan.

4. Membuat prioritas strategi untuk meningkatkan daya saing PT Saung Mirwan.

(17)

4

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan sebagai berikut:

1. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan para pembaca dan dapat dijadikan sebagai referensi bagi peneliti lain yang berminat untuk melakukan penelitian di bidang yang sama ataupun penelitian lanjutan.

2. Bagi peneliti, untuk menambah pengetahuan di bidang manajemen strategi, khususnya mengenai perumusan strategi serta melatih kemampuan menulis untuk mengaplikasikan teori-teori yang sudah didapatkan saat perkuliahan.

3. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi PT Saung Mirwan dalam menerapkan strategi peningkatan daya saing.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada lingkup bahasan yang berfokus pada pengkajian keunggulan kompetitif dalam agribisnis sayuran. Penelitian ini juga berusaha untuk menganalisis lingkungan internal dan eksternal perusahaan. Analisis lingkungan internal mencakup faktor-faktor kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan, sedangkan analisis lingkungan eksternal mencakup peluang dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. Penelitian ini dilakukan di PT Saung Mirwan yang terletak di Kampung Pasir Muncang, Desa Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Bogor. Penelitian ini dilakukan dalam ruang lingkup manajemen strategi, khususnya mengenai perumusan strategi.

(18)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manajemen Strategi

Manajemen strategis dapat didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk memformulasi, mengimplementasi, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuannya (David, 2006).

Menurut Siagian (2008), manajemen stratejik adalah serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi tersebut. Istilah strategi semula bersumber dari kalangan militer dan secara populer sering dinyatakan sebagai „kiat yang digunakan oleh para jenderal untuk memenangkan suatu peperangan‟.

Manajemen strategik menurut Wheelen dan Hunger (2004) adalah penekanan pada pengambilan keputusan strategis. Keputusan strategis berhubungan dengan masa yang akan datang dalam jangka panjang organisasi secara keseluruhan.

2.2. Keunggulan Kompetitif

Menurut Mulyadi dan Setiawan (2001), dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, daya saing perusahaan dapat dibangun jika perusahaan memiliki keunggulan tertentu dibandingkan dengan pesaing.

Keunggulan bersaing (competitive advantage) merupakan proses dinamis, karenanya harus dilakukan berkesinambungan. Untuk itu perlu

barrier agar sulit ditiru. Competitive advantage menggambarkan bahwa suatu perusahaan dapat bertindak lebih baik dibandingkan perusahaan lain walaupun mereka bergerak di lingkungan industri yang sama (Hasan, 2009).

David (2006) mengatakan bahwa keunggulan kompetitif dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan dengan sangat baik oleh sebuah perusahaan dibandingkan dengan pesaingnya. Ketika sebuah

(19)

perusahaan dapat melakukan sesuatu dan perusahaan lainnya tidak dapat, atau memiliki sesuatu yang diinginkan pesaingnya, hal tersebut menggambarkan keunggulan kompetitif. Memiliki dan menjaga keunggulan kompetitif sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang dari suatu organisasi.

Keunggulan kompetitif merupakan posisi yang terus berlaku untuk lebih superior dari para pesaing, yaitu dalam konteks lebih disukai oleh konsumen. Keunggulan kompetitif tidak dapat dipahami hanya dengan melihat perusahaan sebagai suatu bagian, tetapi juga harus dilihat dari segala aktivitas perusahaan, yaitu dalam perancangan, proses produksi, pemasaran, dan kegiatan lain yang berperan sebagai pendukung produknya. Aktivitas tersebutlah yang memberikan peran bagi perusahaan dalam memperoleh efisiensi dan diferensiasi dengan pesaingnya (Porter, 1994).

Sumber dari keunggulan kompetitif tersebut berasal dari dua hal. Pertama, kemampuan perusahaan untuk membedakan produknya dengan produk pesaing dan mampu memberikan layanan yang lebih baik dibandingkan pesaing, sehingga nilai tersebut disebut sebagai keunggulan nilai (value advantage). Kedua, cara bekerja perusahaan yang dapat menekan biaya sehingga menjadi seminimal mungkin dengan memperoleh laba yang tinggi, sehingga melahirkan keunggulan dalam produktivitas (productivity advantage).

Vollman, et al. (2005) memaparkan beberapa bentuk kebijakan perusahaan yang dapat mempengaruhi keunggulan kompetitif, yaitu:

1. Outsourcing. Pengambilan sumber daya dari luar perusahaan, yang merupakan bentuk kebijakan dari perusahaan untuk menetapkan aktivitas apa yang perlu dilakukan sendiri oleh perusahaan dan mana yang lebih baik dilakukan oleh pihak lain. Kebijakan ini biasanya dimulai dengan mengeliminasi aktivitas-aktivitas yang dianggap tidak terlalu kritis dan lebih berkonsentrasi pada bisnis inti perusahaan. Pertanyaan yang paling utama muncul dalam hal outsourcing adalah „partner manakah yang lebih baik?‟. Implementasi outsourcing dalam

(20)

suatu perusahaan juga memerlukan strategi, kompetensi baru, cara kerja yang baru, serta infrastruktur pendukung yang baru.

2. Regionalisasi/globalisasi, yaitu bila rantai pasok sudah keluar dari wilayah lokal ataupun wilayah global. Regionalisasi memerlukan beberapa perubahan dalam rantai pasokan, mencakup aktivitas, proses, dan sistem yang baru. Selain itu, regionalisasi akan membutuhkan standarisasi baru. Peluang dapat terbuka lebar jika beroperasi secara global. Dalam hal ini, pilihan pemasok menjadi terbatas, untuk pemasok yang dapat mendukung operasi global. Mereka mungkin perlu untuk menempatkan unit-unit perusahaan dalam lokasi yang sama, namun mereka juga perlu untuk sama-sama meningkatkan cara kerja, proses, dan sistem informasi.

3. Konsentrasi pada pelanggan tertentu, yaitu bila produsen mampu bekerja sama dan berkonsentrasi dengan perusahaan pengecer yang telah memiliki citra dan jaringan distribusi yang luas. Kerjasama tersebut akan menghadirkan keuntungan dari volume permintaan yang banyak dan produk dapat dipasarkan ke berbagai pasar atau segmen dan pengguna akhir (end user). Di sisi lain, perusahaan pengecer tersebut memiliki posisi tawar yang kuat dan akan selektif dalam memilih pemasok, sehingga akan memaksa pemasok untuk berkonsentrasi untuk memenuhi kriteria konsumen yang harus dipenuhi.

4. Penguncian, yaitu penguasaan terhadap posisi yang menguntungkan dengan pihak lain. Hal tersebut dilakukan dengan memberikan pelayanan dan nilai tambah yang sulit untuk ditiru oleh pesaing. Penguncian juga dilakukan terhadap pemasok supaya terkonsentrasi dalam memenuhi kriteria yang diinginkan oleh perusahaan tersebut. Penguncian ini dapat terjadi hanya dengan melalui perbaikan secara terus-menerus (continuous improvement).

Terdapat empat faktor utama yang menentukan dayasaing suatu industri yaitu kondisi faktor sumberdaya, kondisi permintaan, kondisi industri pendukung dan industri terkait serta kondisi struktur, persaingan dan strategi perusahaan. Keempat faktor utama tersebut didukung oleh

(21)

faktor pemerintah dan faktor kesempatan dalam meningkatkan dayasaing industri. Faktor-faktor tersebut menghasilkan suatu lingkungan dimana suatu perusahaan lahir dan belajar bagaimana bersaing. Faktor-faktor tersebut membentuk suatu sistem, yaitu The Diamond of National Advantage. Setiap poin dalam berlian tersebut mempengaruhi keberhasilan suatu negara dalam mendapatkan keunggulan bersaing di pasar internasional (Porter, 1990).

2.3. Analisis Porter’s Diamond Model

Porter’s Diamond Model terdiri dari empat determinan (faktor-faktor yang menentukan) daya saing. Empat atribut ini adalah faktor kondisi, kondisi permintaan, industri terkait dan industri pendukung, dan ketatnya persaingan. Peranan pemerintah dan peluang juga berperan penting dalam menentukan daya saing. Secara lengkap, model Porter’s Diamond disajikan dalam Gambar 3.

Keterangan:

Garis ( ) menunjukkan keterkaitan antara komponen utama yang saling mendukung

Garis ( ) menunjukkan keterkaitan antara komponen penunjang yang

mendukung komponen utama

Gambar 3. Sistem Lengkap dari Keunggulan Kompetitif Nasional (Porter, 1990)

Lebih lanjut Porter (1990) menjelaskan bahwa faktor kondisi mengacu pada input yang digunakan sebagai faktor produksi, seperti tenaga kerja, sumber daya alam, modal, dan infrastruktur. Variabel-variabel ini adalah variabel-variabel yang sudah ada dan dimiliki oleh suatu industri.

Kondisi Faktor Sumberdaya Kondisi Permintaan Domestik Industri Terkait dan Industri Pendukung Persaingan Struktur, Strategi Perusahaan Smart promo-tion Peran Kesempatan

(22)

Semakin tinggi kualitas faktor input ini, maka semakin besar peluang industri untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas.

Kondisi permintaan mengacu pada tersedianya pasar domestik yang siap berperan menjadi elemen penting dalam menghasilkan daya saing. Pasar seperti ini ditandai dengan kemampuan untuk menjual produk yang diproduksi. Hal ini didorong dengan adanya permintaan produk serta adanya kedekatan hubungan antara perusahaan dengan pelanggan. Semakin maju suatu masyarakat dan semakin demanding pelanggan dalam negeri, maka industri akan selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas produk atau melakukan inovasi guna memenuhi keinginan pelanggan lokal yang tinggi. Namun, dengan adanya globalisasi, kondisi permintaan tidak hanya berasal dari lokal tetapi juga bersumber dari luar negeri.

Industri terkait dan industri pendukung mengacu pada tersedianya serangkaian dan adanya keterkaitan kuat antara industri pendukung dan perusahaan. Manfaat industri pendukung dan terkait akan meningkatkan efisiensi dan sinergi dalam suatu industri. Sinergi dan efisiensi dapat tercipta terutama dalam transaction cost, technology sharing, informasi, maupun

skills (keahlian dan keterampilan) tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh industri atau perusahaan lainnya. Hubungan dan dukungan ini bersifat positif yang akan menyebabkan meningkatnya produktivitas dan berujung pada peningkatan daya saing perusahaan.

Pesaing mengacu pada strategi dan struktur yang ada pada sebagian besar perusahaan dan intensitas persaingan pada industri sayuran. Strategi perusahaan dan pesaing akan memotivasi perusahaan atau industri untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan dan selalu mencari inovasi baru. Dengan adanya persaingan yang sehat, perusahaan akan selalu mencari strategi baru yang cocok dan berupaya untuk selalu meningkatkan efisiensinya. Pada akhirnya persaingan di dalam negeri yang kuat akan mendorong perusahaan untuk mencari pasar internasional.

Faktor peran pemerintah dan peluang juga ditambahkan dalam

Porter’s Diamond. Peran pemerintah sebenarnya tidak berpengaruh secara langsung terhadap upaya peningkatan daya saing global, tetapi berpengaruh

(23)

pada faktor-faktor penentu daya saing global. Peran pemerintah melalui kewenangan yang dimiliki, memberikan fasilitas, katalis, dan tantangan bagi industri. Pemerintah mengajukan dan mendorong industri agar mencapai level daya saing tertentu. Hal-hal tersebut dapat dilakukan pemerintah melalui kebijakan insentif berupa subsidi, perpajakan, pendidikan, fokus pada penciptaan, dan menegakkan standar industri. Pemerintah juga dapat memfasilitasi lingkungan industri yang mampu memperbaiki kondisi faktor daya saing sehingga dapat berdaya guna secara efisien dan aktif.

Peran kesempatan berada di luar kendali perusahaan dan pemerintah. Beberapa kesempatan yang mampu meningkatkan naiknya daya saing global industri nasional adalah penemuan baru murni, biaya perusahaan yang konstan akibat perubahan harga minyak atau depresiasi mata uang. Selain itu, dapat juga terjadi karena peningkatan permintaan produk industri yang lebih besar dari pasokannya atau kondisi politik yang menguntungkan daya saing.

2.4. Analisis SWOT

Wheelen dan Hunger (2004) berpendapat, analisis SWOT tidak hanya dapat digunakan untuk mengidentifikasi kompetensi langka (distinctive competence) perusahaan, yaitu kapabilitas berupa keahlian tertentu dan sumber-sumber yang dimiliki yang secara strategis membuat sebuah perusahaan berbeda, tetapi juga dapat mengidentifikasi ketidakmampuan perusahaan dalam memanfaatkan peluang yang ada karena keterbatasan sumber-sumber tertentu. Menurut Rangkuti (2011), analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman. Setelah diketahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, barulah dapat ditentukan keuntungan dari peluang-peluang yang ada, sekaligus untuk memperkecil atau bahkan mengatasi kelemahan yang dimilikinya untuk menghindari ancaman yang ada. Analisis SWOT ini terbagi atas empat komponen dasar, yaitu:

(24)

1. Kekuatan atau Strengths (S), merupakan suatu kelebihan khusus yang memberikan keunggulan kompetitif di dalam suatu industri yang berasal dari perusahaan. Kekuatan perusahaan akan mendukung perkembangan usaha dengan cara memperlihatkan sumber dana, citra, kepemimpinan pasar, hubungan dengan konsumen ataupun pemasok, serta faktor-faktor lainnya.

2. Kelemahan atau Weaknesses (W), merupakan keterbatasan dan kekurangan dalam hal sumberdaya, keahlian, dan kemampuan yang secara nyata menghambat aktivitas keragaan perusahaan. Fasilitas, sumberdaya keuangan, kemampuan manajerial, keahlian pemasaran, dan pandangan orang terhadap merek dapat menjadi kelemahan.

3. Peluang atau Opportunities (O), merupakan situasi yang diinginkan perusahaan. Segmen pasar, perubahan dalam persaingan, perubahan teknologi, peraturan dalam persaingan, peraturan baru atau yang ditinjau kembali dapat menjadi sumber peluang bagi perusahaan.

4. Ancaman atau Threats (T), merupakan situasi yang paling tidak disukai dalam lingkungan perusahaan. Ancaman merupakan penghalang bagi posisi yang diharapkan oleh perusahaan. Masuknya pesaing baru, pertumbuhan pasar yang lambat, meningkatnya posisi penawaran pembeli dan pemasok, perubahan teknologi, peraturan baru yang ditinjau kembali dapat menjadi sumber ancaman bagi perusahaan.

Selain empat komponen dasar ini, analisis SWOT dalam proses analisisnya akan berkembang menjadi beberapa sub komponen yang jumlahnya tergantung pada kondisi organisasi, dimana masing-masing sub komponen adalah penjabaran dari masing-masing komponen.

2.5. Analytic Network Process

Metode Analytic Network Process (ANP) merupakan pendekatan kualitatif non parametrik non bayesian untuk proses pengambilan keputusan dengan kerangka kerja umum tanpa membuat asumsi-asumsi (Ascarya, 2006). ANP merupakan suatu metode yang mampu memperbaiki kelemahan dari metode Analytical Hierarchy Process (AHP) berupa kemampuan

(25)

mengakomodasi keterkaitan antar kriteria atau alternatif (Saaty dalam

Suswono dkk, 2010).

Dengan kata lain, metode ini adalah pengembangan metode dari AHP itu sendiri. Pada metode ANP memiliki dua jenis keterkaitan, yaitu keterkaitan dalam satu set elemen (inner dependence) dan keterkaitan antar elemen yang berbeda (outer dependence) sehingga metode ANP ini menjadi lebih kompleks dibanding metode AHP. ANP merupakan pendekatan baru dalam proses pengambilan keputusan yang memberikan kerangka kerja umum dalam memperlakukan keputusan-keputusan tanpa membuat asumsi-asumsi tentang independensi elemen-elemen pada level yang lebih tinggi dari elemen-elemen dalam suatu level. Bahkan ANP menggunakan jaringan tanpa harus menetapkan level seperti pada hierarki yang digunakan dalam AHP, yang merupakan titik awal ANP. Konsep utama dalam ANP adalah pengaruh (influence), sementara konsep utama dalam AHP adalah preferensi (preference). AHP dengan asumsi dependensinya tentang klaster dan elemen merupakan kasus khusus dari ANP (Suswono dkk, 2010).

Perbedaan antara hierarki dan jaringan (network) dapat dilihat pada Gambar 4. Hierarki memiliki tujuan (goal) atau titik sumber (source node) serta kriteria dan sub kriteria atau titik tumpahan (sink node). Bentuknya berupa struktur linear dari atas ke bawah tanpa adanya timbal balik (feedback) dari level terendah ke level diatasnya. Selain itu, loop hanya terjadi pada level terendah. Jaringan (network) menyebar dalam segala arah dan memungkinkan terjadinya pengaruh (influence) dari suatu cluster

terhadap cluster lainnya maupun cluster itu sendiri dan timbal balik (feedback) yang membentuk siklus (Saaty dalam Nugroho, 2008).

(26)

Gambar 4. Perbedaan Hierarki dan Jaringan (Aziz dalam Ascarya, 2006)

Menurut Ascarya dalam Susilo (2008), terdapat dua jenis keterkaitan pada metode ANP, yaitu: (1) keterkaitan dalam satu set elemen (inner dependence), artinya elemen dalam suatu komponen/cluster dapat mempengaruhi elemen lain dalam komponen/cluster yang sama, dan (2) keterkaitan antar elemen yang berbeda (outer dependence), artinya elemen dalam suatu komponen/cluster dapat mempengaruhi elemen lain dalam komponen/cluster yang berbeda dengan memperhatikan setiap kriteria. Seperti halnya Analytical Hierarchy Process (AHP), ANP juga menggunakan skala rasio. Prioritas-prioritas dalam skala rasio merupakan angka fundamental yang memungkinkan untuk dilakukannya perhitungan operasi aritmetika dasar, seperti penambahan dan pengurangan dalam skala yang sama, perkalian dan pembagian dari skala yang berbeda, dan mengkombinasikan keduanya dengan pembobotan yang sesuai dan menambahkan skala yang berbeda untuk memperoleh skala satu dimensi. Perlu diingat bahwa skala rasio juga merupakan skala absolut. Kedua skala tersebut diperoleh dari pairwise comparison „pembandingan sepasang-sepasang‟ dengan menggunakan judgements atau rasio dominasi pasangan dengan menggunakan pengukuran aktual. Dalam hal penggunaan

judgements, dalam AHP seseorang bertanya: ”Mana yang lebih disukai atau

lebih penting?”, sementara dalam ANP seseorang bertanya: “Mana yang mempunyai pengaruh lebih besar?”. Pertanyaan terakhir jelas memerlukan observasi faktual dan pengetahuan untuk menghasilkan jawaban-jawaban yang valid, yang membuat pertanyaan kedua lebih obyektif daripada pertanyaan pertama.

(27)

2.6. Penelitian Terdahulu

Meidina Trijadi Lamadlauw (2006) meneliti mengenai Strategi Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Agroindustri di Kabupaten Bogor. Berdasarkan analisis internal eksternal, posisi UKM agroindusti di Kabupaten Bogor berkaitan dengan strategi pengembangan terletak pada koordinat (0,21; 0,13) dan menempati kuadran I cross impact matrix. Posisi tersebut mengindikasikan bahwa dalam pengembangan kebijakan UKM agroindustri dapat menggunakan strategi yang bersifat agresif. Berdasarkan hasil penilaian skor dengan menggunakan konsep AHP, strategi yang tepat untuk pengembangan UKM agroindustri di Kabupaten Bogor adalah memberikan perhatian yang lebih besar pada proses formulasi kebijakan. Strategi ini dimaksudkan agar berbagai kebijakan pemerintah Kabupaten Bogor yang dihasilkan, baik yang ditujukan khusus kepada usaha kecil, baik langsung dan atau tidak langsung berpengaruh terhadap usaha kecil, kiranya dapat lebih memihak kepada kepentingan usaha kecil atau minimal tidak menghambat pengembangan usaha kecil di wilayah ini, serta harus mampu menjawab kebutuhan atau mengakomodir kebutuhan stakeholder lain yang berhubungan dengan pengembangan UKM agroindustri di Kabupaten Bogor.

Joko Susilo (2008) meneliti Rumusan Strategi Pengembangan PT BPRS Amanah Ummah dengan Pendekatan Analytic Network Process. Hasil yang diperoleh yaitu faktor internal (kelebihan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) yang mempengaruhi pengembangan PT BPRS Amanah Ummah. Didapat bahwa kekuatan utamanya adalah memiliki lokasi strategis yang dekat dengan konsumen (nasabah dan debitur), yaitu di areal pasar Leuwiliang Bogor. Sedangkan kelemahan utama adalah masih terbatasnya kualitas sumberdaya manusia. Peluang utamanya adalah potensi pangsa pasar umat Islam yang besar karena basis masyarakat di sekitar pesantren. Sedangkan yang menjadi ancaman adalah banyaknya jumlah pesaing yang membidik segmen UMK. Rumusan strategi pengembangan berdasarkan faktor-faktor internal dan eksternal didapatkan lima alternatif strategi pengembangan, yaitu strategi peningkatan Kualitas

(28)

Aktiva Produktif (KAP), strategi penghimpunan dana, strategi penyaluran dana, strategi efisiensi biaya (cost cutting), dan strategi hubungan antarlembaga keuangan. Prioritas strategi bagi pengembangan PT BPRS Amanah Ummah dengan menggunakan Analytic Network Process (ANP) didapat bahwa strategi utamanya adalah strategi peningkatan Kualitas Aktiva Produktif (KAP) dengan bobot normal sebesar 0,31352.

Komadin (2008) meneliti mengenai Strategi Peningkatan Investasi Kabupaten Indramayu. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kabupaten Indramayu mengalami penurunan investasi. Investor lebih fokus pada industri pengolahan minyak dan gas serta pertanian dan belum pada sektor-sektor lainnya. Hasil analisis tentang daya saing investasi menunjukan bahwa prioritas elemen faktor kekuatan yang paling mempengaruhi daya saing yaitu potensi ekonomi (0,351), faktor kelemahan yang paling mempengaruhi yaitu kualitas infrastruktur rendah (0,378), faktor peluang yang paling mempengaruhi yaitu pengembangan transportasi darat Jakarta– Cirebon (0,498), faktor ancaman yang paling mempengaruhi yaitu adanya persaingan dengan daerah lain (0,443). Dari analisis daya saing tersebut, prioritas alternatif strategi dalam peningkatan investasi Kabupaten Indramayu secara berurutan yaitu mengembangkan zona dan kluster industri (0,551), mengembangkan agroindustri hulu sampai hilir (0,237), mengembangkan kelembagaan pelayanan perizinan dan investasi (0,138), dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (0,074).

Suswono, Arief Daryanto, Mohamad Husein Sawit, dan Bustanul Arifin (2010) melakukan penelitian mengenai Strategi Peningkatan Daya Saing Perum BULOG. Penelitian ini menganalisis bagaimana meningkatkan daya saing Perum BULOG setelah terjadi perubahan status dari LPND menjadi Perum. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa peran dan fungsi yang harus diprioritaskan oleh Perum BULOG setidaknya dalam lima tahun mendatang lebih bertumpu pada fungsi bisnis PSO dengan ditunjang aspek penguatan komitmen pemerintah. Di lain pihak, faktor internal yang harus diprioritaskan untuk meningkatkan kinerja dan daya saing BULOG adalah aspek pembelajaran dan pertumbuhan (learning & growth) dan aspek

(29)

proses internal (internal process). Adapun strategi alternatif yang harus diprioritaskan adalah strategi value creation.

Surip Prayugo (2010) melakukan penelitian mengenai Analisis Rantai Nilai Ayam Ras Pedaging Untuk Meningkatkan Daya Saing (Studi Kasus di PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk). Dari hasil penelitian didapat bahwa atribut yang pengaruhnya paling tinggi terhadap daya saing adalah SDM dan Sumberdaya Modal dengan bobot (4,00). Sedangkan atribut yang pengaruhnya paling rendah terhadap daya saing adalah preferensi konsumen dengan bobot (2,57). Analisis ini dilakukan dengan

Porter’s Diamond Model. Faktor kekuatan yang memiliki nilai bobot tertinggi pada analisis IFE yaitu layanan after sales (0,083), sedangkan nilai bobot paling rendah adalah keuntungan pabrik pengolah ayam tinggi (0,064). Faktor kelemahan yang paling rendah adalah sebagian besar peternak masih menggunakan kandang terbuka serta vaksin dan obat yang didistribusikan PT SHS International masih impor (nilainya sama, 0,041). Pada analisis EFE, faktor peluang yang memiliki nilai bobot paling tinggi adalah pertumbuhan industri perunggasan naik (0,152) sedangkan faktor peluang yang memiliki nilai bobot paling rendah adalah konsumsi ayam per kapita masih rendah (0,098). Faktor ancaman yang memiliki bobot paling tinggi adalah serangan wabah penyakit (0,112) dan yang bobotnya paling rendah adalah adanya produk substitusi ayam (0,083). Nilai matriks IFE adalah 2,739 dan nilai matriks EFE adalah 3,194 sehingga posisi rantai nilai berada pada kuadran II, yaitu tumbuh dan kembangkan. Strategi yang disarankan adalah product upgrading, process upgrading, functional upgrading, dan channel upgrading.

Venty Fitriany Nurunisa (2011) melakukan penelitian mengenai Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Agribisnis Teh Indonesia. Dari hasil penelitian didapat bahwa komponen faktor sumberdaya dan komponen komposisi permintaan domestik, serta komponen faktor sumberdaya dengan komponen industri terkait dan industri telah saling mendukung, sementara komponen lainnya belum saling mendukung. Selain itu, apabila dilihat dari komponen pendukungnya, komponen peranan

(30)

pemerintah baru memiliki keterkaitan yang mendukung dengan komponen faktor sumberdaya saja, sementara komponen peranan kesempatan telah mampu mendukung semua komponen utama. Strategi peningkatan dayasaing yang dihasilkan melalui analisis Matriks SWOT lebih mengarah kepada strategi peningkatan kinerja petani teh rakyat, yaitu dengan meningkatkan posisi tawar petani melalui penguatan kelompok tani dan dukungan dari adanya asosiasi dan Dewan Teh Indonesia. Sementara untuk perkebunan besar negara dan swasta, strategi lebih mengarah kepada peningkatan produksi dan diversifikasi produk, khususnya untuk produk teh tujuan ekspor. Permasalahan lain yang menjadi fokus strategi adalah permasalahan yang terkait dengan konsumsi teh, strategi yang digunakan lebih diutamakan kepada peningkatan upaya promosi yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai teh dan manfaatnya. Kemudian, strategi yang telah dihasilkan dipetakan ke dalam rancangan arsitektur strategik, sehingga dihasilkan rancangan arsitektur strategik agribisnis teh Indonesia.

(31)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran

Sayuran sebagai salah satu produk dari salah satu sub sektor pertanian, yaitu hortikultura, merupakan produk yang sudah banyak diekspor ke luar negeri. Dengan diekspornya sayuran, secara tidak langsung berpengaruh pada penghasilan devisa negara, penyumbang dalam pertumbuhan dan peningkatan perekonomian negara. Dengan melihat potensi sumberdaya alam hayati negara kita ini, maka sayuran bisa menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan.

Tingginya potensi sayuran ini yang membuat PT Saung Mirwan tetap bertahan dalam bisnis ini. Dan hal ini pula yang memicu munculnya para pesaing dalam agribisnis sayuran. Munculnya para pesaing, ditambah dengan harga pesaing yang lebih murah, menuntut pihak PT Saung Mirwan untuk meningkatkan keunggulan kompetitifnya.

Perusahaan perlu mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan kompetitif. Setiap perusahaan juga perlu melakukan analisis lingkungan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal sehingga mampu merumuskan strategi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Peranan strategi di perusahaan sangat penting, terutama dalam mengendalikan faktor-faktor internal dan eksternal perusahaan sehingga mampu mencapai visi dan misi perusahaan. Kerangka pemikiran penelitian ini seperti terlihat pada Gambar 5.

3.2. Tahapan Penelitian

Penelitian ini terdiri dari empat tahap penelitian, yaitu tahapan pra penelitian, pengumpulan data, analisis data, dan interpretasi hasil penelitian. Tahapan pertama dimulai dari pengidentifikasian minat penelitian, kemudian pemilihan topik yang disertai dengan diskusi dengan dosen pembimbing juga dengan melakukan studi pustaka untuk mencari literatur-literatur yang terkait dengan topik-topik yang akan dipilih. Hasilnya adalah berupa topik penelitian. Langkah selanjutnya adalah berupa perumusan masalah yang

(32)

19

nantinya menjadi tujuan penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan membuat rancangan pengumpulan data.

Tahap kedua pada penelitian ini adalah dengan melakukan studi pendahuluan ke tempat penelitian untuk memastikan ketersediaan dari data-data yang dibutuhkan. Selain itu, data-data dari perusahaan juga didapat dari opini pakar yang diperoleh dengan cara kuesioner dan wawancara. Untuk mendukung data-data tersebut, juga dilakukan studi pustaka.

Data-data yang berhasil dikumpulkan kemudian dianalisis pada tahapan analisis data. Analisis data ini sesuai dengan perumusan masalah dan dilakukan dengan alat-alat analisis yang sesuai.

Tahapan terakhir yaitu interpretasi hasil dari analisis data. Dari tahapan akhir ini dapat dijadikan dasar dalam membuat kesimpulan dan saran. Tahapan penelitian selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 5. Gambaran kerangka pemikiran penelitian

Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi keunggulan kompetitif

Menganalisis faktor lingkungan internal dan eksternal sahaan

Potensi agribisnis sayuran

Ketatnya persaingan

Perusahaan harus mampu mempertahankan keunggulan kompetitif

Merumuskan strategi yang tepat

(33)

20

Gambar 6. Tahapan penelitian

Analisis data Analisis lingkungan

dan perumusan strategi

Hasil Identifikasi faktor

keunggulan kompetitif

Kesimpulan dan Saran Bobot prioritas tiap elemen

Prioritas Strategi Porter’s Diamond Model Ya Tidak Pairwise Comparison

Nilai Eigen Vektor

Hitung CI dan CR

ANP

Konsisten ?

Analisis Prioritas Strategi

IFE-EFE Matrix dan

SWOT Analysis

Pengumpulan data Studi pustaka dan diskusi

Penentuan topik penelitian

Perumusan Masalah

1. Faktor apa saja yang mempengaruhi keunggulan kompetitif pada agribisnis sayuran? 2. Apa saja yang menjadi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi daya saing

PT Saung Mirwan?

3. Bagaimana rumusan strategi peningkatan daya saing berdasarkan faktor-faktor internal dan eksternal yang dimiliki oleh PT Saung Mirwan?

4. Apakah prioritas strategi untuk meningkatkan daya saing PT Saung Mirwan?

Pra penelitian

Rancangan Pengumpulan Data

Identifikasi kebutuhan data, metode pengumpulan data, dan pemilihan analisis data Identifikasi minat penelitian

Pemilihan topik penelitian

Studi pendahuluan, Studi pustaka, Opini pakar

(34)

21

3.3. Metode Penelitian

3.3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT Saung Mirwan yang terletak di Kampung Pasir Muncang, Desa Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), hal ini dikarenakan PT Saung Mirwan merupakan salah satu perusahaan yang paling lama berkiprah dalam bisnis sayuran ini dibandingkan dengan pesaingnya. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2012.

3.3.2 Jenis dan Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dan pengisian kuesioner oleh responden untuk mengetahui faktor daya saing, faktor internal dan eksternal perusahaan, serta untuk perumusan strategi. Kuesioner yang digunakan dapat dilihat pada Lampiran 1. Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen yang dimiliki oleh pihak perusahaan. Selain itu, juga dilakukan studi literatur. Studi literatur dilakukan dengan cara mempelajari dan menelaah buku-buku, jurnal, dan artikel-artikel yang berhubungan dengan topik bahasan penelitian ini. Secara lebih terperinci, jenis data yang dikumpulkan sumbernya diperlihatkan Tabel 1.

Tabel 1. Jenis data dan sumber data yang dikumpulkan

Data Jenis Data Sifat Data Metode

Pengumpulan Data Visi, misi, kondisi

umum perusahaan,

Sekunder Kualitatif Studi literatur

Strategi bersaing Primer Kualitatif Indepth Interview

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap daya saing Primer Kualitatif dan Kuantitatif Indepth Interview dan Kuesioner

Kondisi internal dan eksternal Primer Kualitatif dan Kuantitatif Indepth Interview dan Kuesioner

Perumusan Strategi Primer Kuantitatif Indepth Interview

(35)

22

3.3.3 Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan salah satu metode non probability sampling (pengambilan sampel non acak/disengaja), yaitu purposive sampling. Kriteria responden yang akan diteliti yaitu memiliki pengetahuan dan/atau memiliki pengalaman tentang obyek yang diteliti. Responden yang dipilih mewakili perusahaan yang dianggap memiliki pemahaman mendalam mengenai kondisi persaingan dan kondisi perusahaan secara keseluruhan. Dalam metode ANP, jumlah responden tidak penting, yang paling penting adalah responden yang dipilih merupakan orang yang menguasai dan kompeten di bidangnya. Penelitian ini mengambil tiga responden, yaitu Direktur Utama, Purchasing Manager, dan Kepala Divisi Kemitraan.

3.3.4 Pengolahan dan Analisis data

Penelitian ini menggunakan Porter’s Diamond Model untuk mengidentifikasi faktor daya saing sayuran. Untuk mengetahui strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya saing perusahaan, digunakan metode SWOT Analysis. Data kuantitatif dari

Porter’s Diamond Model dan SWOT Analysis diolah dengan menggunakan Microsoft Excel 2007. Kemudian untuk menyusun dan memetakan strategi peningkatan daya saing perusahaan yang telah diperoleh, digunakan Analytic Network Process (ANP) yang diolah dengan menggunakan Software Superdecisions 2.0.8.

1. Porter’s Diamond Model

Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif Porter’s

Diamond Model (Model Berlian Porter) untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan kompetitif sayuran secara deskriptif atau menggunakan tiap komponen dalam Porter’s Diamond Model (Model Berlian Porter). Teori Berlian Porter dapat digunakan untuk mengetahui daya saing suatu komoditas berdasarkan kondisi dari komponen-komponen yang saling mendukung dan menguatkan di suatu negara terkait dengan

(36)

23

komoditas tersebut. Terdapat empat komponen utama dan dua komponen penunjang yang membentuk model seperti berlian. Komponen utama tersebut terdiri dari kondisi faktor sumberdaya, kondisi permintaan, industri terkait dan pendukung, serta struktur, persaingan, dan strategi perusahaan. Sedangkan komponen penunjang Berlian Porter merupakan faktor pemerintah dan faktor kesempatan. Berikut ini adalah penjelasan dari setiap komponen yang terdapat pada Teori Berlian Porter:

a. Kondisi Faktor Sumberdaya

Posisi suatu bangsa berdasarkan sumberdaya yang dimiliki merupakan faktor produksi yang diperlukan untuk bersaing dalam industri tertentu. Faktor produksi tersebut digolongkan ke dalam lima kelompok yaitu:

1) Sumberdaya Fisik atau Alam

Sumberdaya fisik atau sumberdaya alam yang mempengaruhi daya saing industri nasional mencakup biaya aksesibilitas, mutu dan ukuran lahan (lokasi), ketersediaan air, mineral dan energi serta sumberdaya pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan (termasuk sumberdaya pertanian laut lainnya), peternakan, serta sumberdaya alam lainnya, baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui. Begitu juga kondisi cuaca dan iklim, luas wilayah geografis, kondisi topografis, dan lain-lain.

2) Sumberdaya Manusia

Sumberdaya manusia yang mempengaruhi daya saing industri nasional terdiri dari jumlah tenaga kerja yang tersedia, kemampuan manajerial dan keterampilan yang dimiliki, biaya tenaga kerja yang berlaku (tingkat upah), dan etika kerja (termasuk moral).

3) Sumberdaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Sumberdaya IPTEK mencakup ketersediaan pengetahuan pasar, pengetahuan teknis, dan pengetahuan

(37)

24

ilmiah yang menunjang dan diperlukan dalam memproduksi barang dan jasa. Begitu juga ketersediaan sumber-sumber pengetahuan dan teknologi, seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga statistik, literatur bisnis dan ilmiah, basis data, laporan penelitian, asosiasi pengusaha, asosiasi perdagangan, dan sumber pengetahuan dan teknologinya.

4) Sumberdaya Modal

Sumberdaya modal yang mempengaruhi daya saing nasional terdiri dari jumlah dan biaya (suku bunga) yang tersedia, jenis pembayaran (sumber modal), aksesibilitas terhadap pembiayaan, kondisi lembaga pembiayaan dan perbankan, tingkat tabungan masyarakat, peraturan keuangan, kondisi moneter dan fiskal, serta peraturan moneter dan fiskal.

5) Sumberdaya Infrastruktur

Sumberdaya infrastruktur yang mempengaruhi daya saing nasional terdiri dari jenis, mutu, dan ketersediaan infrastruktur yang mempengaruhi persaingan. Hal tersebut termasuk ketersediaan sistem transportasi, komunikasi, pos dan giro, pembayaran transfer dana, air bersih, energi listrik, dan lain-lain.

b. Kondisi Permintaan

Kondisi permintaan dalam negeri merupakan faktor penentu daya saing industri, terutama mutu permintaan domestik. Mutu permintaan domestik merupakan sasaran pembelajaran perusahaan-perusahaan domestik untuk bersaing di pasar global. Mutu permintaan (persaingan ketat) di dalam negeri memberikan tantangan bagi setiap perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya sebagai tanggapan terhadap persaingan di pasar domestik. Ada tiga faktor kondisi permintaan yang mempengaruhi daya saing nasional, yaitu:

(38)

25

1) Komposisi Permintaan Domestik

Karakteristik permintaan domestik sangat mempengaruhi daya saing industri nasional. Karakteristik tersebut meliputi:

a) Struktur segmen permintaan domestik sangat mempengaruhi daya saing nasional. Pada umumnya perusahaan-perusahaan lebih mudah memperoleh daya saing pada struktur segmen permintaan yang lebih luas dibandingkan dengan struktur segmen yang sempit. b) Pengalaman dan selera pembeli yang tinggi akan

meningkatkan tekanan kepada produsen untuk menghasilkan produk yang bermutu dan memenuhi standar yang tinggi yang mencakup standar mutu produk,

product features, dan pelayanan.

c) Antisipasi kebutuhan pembeli yang baik dari perusahaan dalam negeri merupakan suatu poin dalam memperoleh keunggulan bersaing.

2) Jumlah Permintaan dan Pola Pertumbuhan

Jumlah atau besarnya permintaan domestik mempengaruhi tingkat persaingan dalam negeri, terutama disebabkan oleh jumlah pembeli bebas, tingkat pertumbuhan permintaan domestik, timbulnya permintaan baru dan kejenuhan permintaan lebih awal sebagai akibat perusahaan melakukan penetrasi lebih awal. Pasar domestik yang luas dapat diarahkan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dalam suatu industri. Hal ini dapat dilakukan jika industri dilakukan dalam skala ekonomis melalui adanya penanaman modal dengan membangun fasilitas skala besar, pengembangan teknologi, dan peningkatan produktivitas. 3) Internasionalisasi Permintaan Domestik

Pembeli lokal yang merupakan pembeli dari luar negeri akan mendorong daya saing industri nasional karena

(39)

26

dapat membawa produk tersebut ke luar negeri. Konsumen yang memiliki mobilitas internasional tinggi dan sering mengunjungi suatu negara juga dapat mendorong meningkatnya daya saing produk negara yang dikunjungi tersebut.

c. Industri Terkait dan Industri Pendukung

Keberadaan indutri terkait dan industri pendukung yang telah memiliki daya saing global juga akan mempengaruhi daya saing industri utamanya. Industri hulu yang memiliki daya saing global akan memasok input bagi industri utama dengan harga yang relatif murah, mutu lebih baik, pelayanan yang cepat, pengiriman tepat waktu dan jumlah sesuai dengan kebutuhan industri utama, sehingga industri tersebut juga akan memiliki daya saing global yang tinggi. Begitu juga industri hilir yang menggunakan produk industri utama sebagai bahan bakunya. Apabila industri hilir memiliki daya saing global maka industri hilir tersebut dapat menarik industri hulunya untuk memperoleh daya saing global.

d. Persaingan, Struktur dan Strategi Perusahaan

Struktur industri dan perusahaan juga menentukan daya saing yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang tercakup dalam industri tersebut. Struktur industri yang monopolistik kurang memiliki daya dorong untuk melakukan perbaikan-perbaikan serta inovasi baru dibandingkan dengan struktur industri bersaing. Struktur persaingan yang berada pada suatu industri sangat berpengaruh terhadap bagaimana perusahaan tersebut dikelola dan dikembangkan dalam suasana tekanan persaingan, baik domestik maupun internasional. Dengan demikian secara tidak langsung akan meningkatkan daya saing global industri yang bersangkutan.

(40)

27

1) Struktur Pasar

Istilah struktur pasar digunakan untuk menunjukkan tipe pasar. Degree of competition of market share (derajat persaingan struktur pasar) dipakai untuk menentukan sejauh mana perusahaan-perusahaan individual mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga atau ketentuan-ketentuan lain dari produk yang dijual di pasar. Struktur pasar didefinisikan sebagai sifat-sifat organisasi pasar yang mempengaruhi perilaku dan keragaan perusahaan, jumlah penjual dan keragaan produk (nature of the product) adalah dimensi-dimensi yang penting dari struktur pasar.

Dimensi lainnya adalah mudah atau sulitnya memasuki industri (hambatan masuk pasar), kemampuan perusahaan mempengaruhi permintaan melalui iklan, dan lain-lain. Beberapa struktur pasar yang ada, antara lain pasar persaingan sempurna, pasar monopoli, pasar oligopoli, pasar monopsoni, dan pasar oligopsoni. Biasanya struktur pasar yang dihadapi industri seperti monopoli dan oligopoli lebih ditentukan oleh kekuatan perusahaan dalam menguasai pangsa pasar yang ada, dibandingkan dengan jumlah perusahaan yang bergerak dalam suatu industri.

2) Persaingan

Tingkat persaingan dalam suatu industri merupakan salah satu faktor pendorong bagi perusahaan-perusahaan yang berkompetisi untuk terus melakukan inovasi. Keberadaan pesaing lokal yang handal dan kuat merupakan faktor penentu dan sebagai motor penggerak untuk memberikan tekanan pada perusahaan lain dalam meningkatkan daya saingnya. Perusahaan-perusahaan yang telah teruji pada persaingan ketat dalam industri nasional akan lebih mudah memenangkan persaingan internasional

(41)

28

dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang belum memiliki daya saing yang tingkat persaingannya rendah. 3) Strategi Perusahaan

Dalam menjalankan suatu usaha, baik perusahaan berskala besar maupun perusahaan berskala kecil, dengan berjalannya waktu, pemilik atau manajer dipastikan memiliki keinginan untuk mengembangkan usahanya dalam lingkup yang lebih besar. Untuk mengembangkan usaha, perlu strategi khusus yang terangkum dalam suatu strategi pengembangan usaha. Penyusunan suatu strategi diperlukan perencanaan yang matang dengan memperhatikan semua faktor yang berpengaruh terhadap organisasi atau perusahaan tersebut.

e. Peran Pemerintah

Peran pemerintah sebenarnya tidak berpengaruh langsung terhadap upaya peningkatan daya saing global, tetapi berpengaruh pada faktor-faktor penentu daya saing global. Daya saing global akan dipengaruhi secara langsung oleh perusahaan-perusahaan yang berada dalam industri tersebut. Peran pemerintah merupakan fasilitator bagi upaya untuk mendorong perusahaan-perusahaan dalam industri agar senantiasa melakukan perbaikan dan peningkatan daya saingnya. Pemerintah dapat mempengaruhi aksesibilitas pelaku industri terhadap berbagai sumberdaya melalui kebijakan-kebijakannya, seperti sumberdaya alam, tenaga kerja, pembentukan modal, sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi.

Pemerintah juga dapat mendorong peningkatan daya saing melalui penetapan standar produk nasional, standar upah tenaga kerja minimum dan berbagai kebijakan terkait lainnya. Pemerintah dapat mempengaruhi kondisi permintaan domestik baik secara langsung melalui kebijakan moneter dan fiskal yang dikeluarkannya, maupun secara langsung melalui perannya

(42)

29

sebagi pembeli barang dan jasa. Kebijakan penetapan bea keluar dan bea masuk, tarif pajak, dan lain-lainnya juga menunjukkan terdapat peran tidak langsung dari pemerintah dalam meningkatkan daya saing global.

Pemerintah dapat mempengaruhi tingkat daya saing melalui kebijakan yang melemahkan faktor penentu daya saing industri, tetapi pemerintah tidak dapat secara langsung menciptakan daya saing global. Peran pemerintah adalah memfasilitasi lingkungan industri yang mampu memperbaiki kondisi faktor penentu daya saing, sehingga perusahaan-perusahaan yang berada dalam industri mampu mendayagunakan faktor-faktor penentu tersebut secara efektif dan efisien.

f. Peran Kesempatan

Peran kesempatan merupakan faktor yang berada di luar kendali perusahaan dan pemerintah, tetapi dapat meningkatkan daya saing global industri nasional. Beberapa kesempatan yang mampu meningkatkan naiknya daya saing global industri nasional adalah penemuan baru murni, biaya perusahaan yang tidak berlanjut (misalnya terjadi perubahan harga minyak atau depresiasi mata uang), peningkatan permintaan produk industri yang bersangkutan lebih tinggi dari peningkatan pasokan, politik yang diambil oleh negara lain, serta berbagai faktor kesempatan lainnya.

2. Analisis SWOT

Dalam kajian ini, pendekatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis daya saing adalah dengan menggunakan analisis SWOT (strength – weakness – opportunity – threat). Penentuan komponen SWOT dieliminir dari faktor-faktor daya saing berdasarkan hasil wawancara dan brainstorming

dengan responden. Analisis SWOT terdiri atas analisis kondisi internal dilakukan dengan melakukan mengidentifikasi

(43)

kekuatan-30

kekuatan (strengths) dan kelemahan-kelemahan (weaknesses) perusahaan. Sedangkan analisis kondisi eksternal adalah mengidentifikasi peluang-peluang (opportunities) dan ancaman-ancaman (threats) yang terkait daya saing agribisnis sayuran.

Dari analisis kondisi lingkungan internal dan eksternal dihasilkan empat jenis strategi, yakni strategi SO, ST, WO, dan WT. Strategi SO merupakan gabungan antara kekuatan dan peluang, memanfaatkan kekuatan internal dari perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal, dikenal juga sebagai strategi agresif. Strategi ST merupakan gabungan kekuatan dan ancaman, menggunakan kekuatan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal, dinamakan juga dengan strategi diversifikasi. Strategi WO merupakan gabungan antara kelemahan dan peluang, memperbaiki kelemahan perusahaan dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal, dinamakan strategi orientasi putar balik. Strategi WT merupakan gabungan antara kelemahan dan ancaman, mengurangi kelemahan perusahaan serta menghindari ancaman eksternal, disebut sebagai strategi defensif. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam menyusun Matriks SWOT:

a. Tentukan faktor-faktor kekuatan dan kelemahan internal perusahaan.

b. Tentukan faktor-faktor peluang dan ancaman eksternal perusahaan.

c. Tentukan faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman strategis perusahaan.

d. Sesuaikan kekuatan internal dengan peluang eksternal untuk mendapatkan SO Strategy.

e. Sesuaikan kekuatan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan ST Strategy.

f. Sesuaikan kelemahan internal dengan peluang eksternal untuk mendapatkan WO Strategy.

(44)

31

g. Sesuaikan kelemahan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan WT Strategy.

3. Analytic Network Process (ANP)

Metode ANP digunakan untuk merumuskan strategi demi meningkatkan daya saing dengan memerhatikan tingkat ketergantungan antar kelompok atau cluster. Adapun tahapan yang dilakukan dalam ANP adalah:

a. Pembuatan Konstruksi Model

Langkah pertama adalah membuat model yang akan dievaluasi dan menentukan satu set lengkap jaringan kelompok (komponen) dan elemen-elemen yang relevan dengan tiap kriteria kontrol. Selanjutnya untuk masing-masing kriteria kontrol, tentukan semua elemen di tiap kelompok dan hubungkan mereka sesuai dengan pengaruh ketergantungan dari luar dan dari dalam kelompok. Hubungan tersebut menunjukkan adanya aliran pengaruh antar elemen. Anak panah yang menghubungkan suatu kelompok dengan kelompok yang lain menunjukkan pengaruh elemen suatu kelompok terhadap elemen kelompok yang lain. Selain itu, kelompok dari elemen memiliki

loop di dalam diri mereka sendiri jika elemen-elemennya saling bergantung satu sama lain. Hubungan saling ketergantungan antar kriteria dapat ditentukan dengan membuat check list

seperti Tabel 2. di bawah ini dan selanjutnya meminta para pakar/ahli untuk mengisi check list tersebut.

Tabel 2. Check List Hubungan Saling Ketergantungan Antar Kriteria A1 A2 ... An A1 a11 a12 … a1n A2 a21 a22 … a2n : : : … : Am am1 am2 … amn

Selanjutnya hasil kuesioner dari beberapa responden digabung untuk menentukan ada tidaknya hubungan saling

Gambar

Gambar 1.  Produksi sayuran di Indonesia tahun 2006-2010 (www.bps.go.id,  2012)
Gambar 2. Nilai ekspor sayuran di Indonesia tahun 2006-2010  (www.kemendag.go.id, 2012)
Gambar 3. Sistem Lengkap dari Keunggulan Kompetitif Nasional (Porter,   1990)
Gambar 4. Perbedaan Hierarki dan Jaringan (Aziz dalam Ascarya, 2006)  Menurut Ascarya dalam Susilo (2008), terdapat dua jenis keterkaitan  pada  metode  ANP,  yaitu:  (1)  keterkaitan  dalam  satu  set  elemen  (inner  dependence),  artinya  elemen  dalam
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun saran yang diberikan untuk pelaku usaha sayuran organik sehingga dapat meningkatkan daya saing industri adalah: (1) membangun citra yang positif dalam

Beberapa keuntungan yang dapat mempengaruhi naiknya daya saing global industri nasional adalah adanya penemuan baru yang murni, biaya perusahaan yang tidak

RINI HAKIMI. Strategi Peningkatan Daya Saing Industri Nata de Coco di Kota Bogor dengan Pendekatan Fuzzy. Dibimbing oleh MACHFUD, MARIMIN dan ANI SURYANI. Perusahaan nata de

Di antara madrasah yang memiliki daya saing tinggi ini adalah madrasah Ibtidaiyah negeri (mIn) madiun. tingginya daya saing madrasah ini terlihat dari meningkatnya jumlah

Sumber pertumbuhan industri agro China berpola ke promosi ekspor, sementara Thailand mengarah ke kemajuan teknologi (changes in input-outuput coefficients) Dalam konsep

(1) Faktor-faktor atau parameter penting agar kebudayaan lokal memiliki daya saing dalam industri kebudayaan yang berbasis pada ekonomi kreatif adalah: (a) Dalam wujud

daya saing industri minyak bumi dan gas alam di Jawa Timur dalam upaya mendukung peningkatan daya saing migas nasional di persaingan minyak bumi dan gas alam global

Analisis daya saing yang diukur dari empat faktor melalui pendekatan Porter’s Diamond, yaitu kondisi faktor, kondisi permintaan, strategi, struktur, persaingan, dan industri pendukung