UNIVERSITAS INDONESIA
PENGUNAAN TEKNOLOGI eMAR DENGAN BAR-CODE
DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN
KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT
Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi Manajemen Koordinator Mata Ajar: Rr.Tutik Sri Hariyati, SKp., MARS
oleh
DIAN NOVITA
1006748495
PROGRAM PASCA SARJANA
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
KEKHUSUSAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
UNIVERSITAS INDONESIA
ABSTRAK
Kualitas atau mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit bergantung kepada kecepatan, kemudahan, dan ketepatan dalam melakukan tindakan keperawatan yang berarti juga pelayanan keperawatan bergantung kepada efisiensi dan efektifitas struktural yang ada dalam keseluruhan sistem suatu rumah sakit. Mutu pelayanan rumah sakit sangat erat kaitannya dengan perkembangan teknologi yang diterapkan rumah sakit tersebut. Berdasarkan sistematis Kawanoto, dkk (dikutip oleh Pinzon R, 2007) pada 70 penelitian terdahulu bahwa sistem pendukung klinis berbasis komputer terbukti meningkatkan pelayanan klinik pada 68% studi. Hasil (outcome) dari suatu teknologi adalah efektif, efisien dan perawat (user) dan kepuasan pasien dengan sistem ini. Elektronik Medication Administration (eMAR) dengan
bar coding merupakan kemajuan dibidang teknologi dan informasi dengan menggunakan
sofware yang. dapat mengakses informasi yang baik tentang obat dan pasiennya, sehingga perawat memiliki kesempatan yang luas dalam mencegah melakukan kesalahan dalam proses medikasi. Bar coding menggantikan dokumentasi manual dengan elektronik melalui pemindahan kode unik yang ditransmisikan ke database (Grotting,Yang, Kelly, Brown & Trohimovich, 2002).
Key words : Elektronik Medication Administration (eMAR), bar coding, mutu pelayanan rumah sakit
1. LATAR BELAKANG
Ditinjau dari sudut pandang keperawatan, mutu merupakan suatu pelayanan keperawatan yang komprehensif meliputi bio-psiko-sosio-spiritual yang diberikan oleh perawat profesional kepada pasien (individu, keluarga maupun masyarakat) baik sakit ataupun sehat (Swanburg, 2000). Dimana perawatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien dan standar pelayanan keperawatan dan perkembangan ilmu keperawatan dan teknologi.
Medikasi atau yang dikenal dengan pemberian obat merupakan elemen penting dalam praktik keperawatan dan perawat profesional selalu memprioritaskan keselamatan pasien. Medikasi merupakan pekerjaan perawat yang sering dan hampir setiap hari dilakukan oleh perawat saat berdinas diberbagai layanan kesehatan dan membutuhkan hingga 40% waktu kerja perawat perharinya (Raman, et.al, 2011). Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, perawat diharapkan memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan standar.
2. KAJIAN LITERATUR
Suatu pelayanan dikatakan bermutu jika dapat memberikan kepuasan bagi seserang atau masyarakat setelah membandingkan hasil yang dirasakan dengan harapannya. Berdasarkan hasil penelitan yang dilakukan Fowler, S.B, Sohler, P, Zarillo, D.F, 2009, menyatakan bahwa sistem eMAR lebih aman dari sistem sebelumnya, Terdapat peningkatan
kepuasan berhubungan kemudahan dalam mengecek standar pemberian obat dengan prinsip 5 benar.
Pada studi yang dilakukan oleh Fowler pada Agustus 2007 selama 3 dan 6 bulan, terjadi peningkatan kepuasan perawat setelah penerapan system bar code dalam administrasi pengobatan karena sistem ini memberikan mekanisme yang aman dalam mengirimkan entry obat mulai dari order sampai pemberian ke pasien. Kepuasan staf dengan perubahan pada system administrasi pengobatan berkembang dengan sejalannya pengembangan system bar
code (Fowler, Sohler, & Zarillo, 2009).
DIMENSI MUTU DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN A. Keamanan
Keamanan adalah prinsip yang paling fundamental dalam pemberian pelayanan kesehatan maupun keperawatan, dan sekaligus aspek yang paling kritis dari manajemen kualitas. Keselamatan pasien (patient safety) adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman, mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil. Tehnologi ini banyak memberikan banyak keuntungan dengan menurunya angka kesalahan proses medikasi. Di Doylestown Hospital, Amerika, angka kesalahan medikasi dinyatakan menurun 40% yang diperlihatkan melalui parameter keselamatan pasien (patient safety) dan persentase pencegahan kesalahan.Teknologi ini juga didesain deteksi kesalahan secara dini, mengurangi efek samping kesalahan setelah terjadi untuk mengurangi cedera.
B. Efektif
Dikatakan efektif jika layanan kesehatan mampu mengobati atau mengurangi keluhan, mencegah terjadinya penyakit serta berkembang atau meluasnya penyakit yang ada. Menurut Bargren dan Lu (2009), teknologi informasi dapat berperan dalam mencegah kejadian
medication error melalui tiga mekanisme yaitu pencegahan adverse event, memberikan
respon cepat segera setelah terjadinya adverse event dan melacak serta menyediakan umpan balik mengenai adverse event.
Saat ini dengan penggunaan eMAR di rumah sakit, akan memudahkan perawat dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan, karena teknologi ini mempunyai fasilitas untuk menyimpan data, dan perawat dapat langsung mengakses data dengan cepat dan mudah untuk mendapatkan informasi tentang program pemberian obat. Bar code bermanfaat untuk mencapai status keamanan bagi pasien, meminimalkan kesalahan akibat proses pemberian
obat, mengurangi pengeluaran biaya, meningkatkan efektifitas kerja dan kepuasan perawat serta menurunkan lama hari rawat pasien. Sistem bar-code dalam eMAR ini digunakan untuk mengumpulkan data secara otomatis yang menunjang efektivitas waktu dan biaya (Cummings, 2010).
C. Tangible (bukti langsung)
Merupakan hal-hal yang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh pasien yang meliputi fasilitas fisik, peralatan, dan penampilan staf keperawatan.
Hasil penelitian oleh Richard D.P, dkk terhadap pasien di unit cardiac telemetry dan medikal bedah eMAR dengan Bar Coding angka kesalahan dalam proses medikasi dapat diturunkan sebanyak 86,5% dengan tingkat akurasi sebesar 97%
Di Doylestown Hospital, Amerika, angka kesalahan medikasi dinyatakan menurun 40% yang diperlihatkan melalui parameter keselamatan pasien (patient safety) dan persentase pencegahan kesalahan
Di Kanada dengan sistem bar-code ini telah mampu menurunkan angka kesalahan pengobatan sebanyak 70-80%
Hasil penelitian di Brigham dan Women's Hospital di Boston dengan membandingkan pemberian obat kepada sejumlah pasien sebelum dan sesudah pemakaian bar
-code.Hasilnya terjadi peningkatan keefektifan pemberian obat dari 6.723 menjadi 7.318
pada unit rumah sakit tersebut. Selain itu tercatat bahwa terjadi penurunan 41% dalam kesalahan pemberian obat yang tidak sesuai dengan jadwal, penurunan 27% dalam kesalahan pemberian dosis dan 51% pengurangan pada potensi kejadian buruk narkoba yang terkait dengan jenis kesalahan.
D. Reliability (keandalan)
Keandalan dalam pelayanan keperawatan merupakan kemampuan untuk memberikan pelayanan keperawatan yang tepat dan dapat dipercaya dimana dapat dipercaya dalam hal ini didefinisikan sebagai pelayanan keperawatan yang konsisten.
eMAR mampu menyediakan akses data yang bermanfaat sebagai sumber dokumentasi pengobatan maupun dokumentasi pemberian injeksi yang aktual sehingga bermanfaat dalam penerapan keamanan dan keselamatan pasien (Takeda, 2010).
eMAR dengan barcoding dapat dipercaya memindai bar-code sebelum obat diberikan pada pasien dan keakuratan data serta identifikasi pemberian obat jelas terdokumentasi sebelum dan setelahnya.
eMAR dapat menurunkan angka kesalahan medikasi yang dapat berakibat buruk terhadap pasien, dapat diterapkan diruang NICU, tidak hanya dalam pemberian obat
tetapi juga bermanfaat dalam pemberian susu formula pada bayi. juga bisa diaplikasikan dalam pemberian tranfusi (Bargren&Lu, 2009)
Sistem barcode dalam eMAR ini digunakan untuk mengumpulkan data secara otomatis yg menunjang efektivitas waktu dan biaya (Cummings, 2010).
eMAR dengan bar-code bermanfaat untuk meminimalkan kesalahan akibat proses pemberian obat, mengurangi pengeluaran biaya, meningkatkan efektifitas kerja dan kepuasan perawat serta menurunkan lama hari rawat pasien.
E. Responsiveness (ketanggapan)
Ketanggapan dalam pelayanan keperawatan dapat dijabarkan perawat memberikan informasi yang jelas dan mudah dimengerti oleh pasien; kemampuan perawat untuk cepat tanggap menyelesaikan keluhan pasien; dan tindakan perawat cepat pada saat pasien membutuhkan.
eMAR dengan barcoding merupakan sofware yang dapat membantu perawat mengakses informasi yang baik tentang obat dan pasiennya
eMAR dengan barcode dapat berperan dalam mencegah kejadian medication error melalui tiga mekanisme yaitu (1) pencegahan adverse event, (2) memberikan respon cepat segera setelah terjadinya adverse event dan (3) melacak serta menyediakan umpan balik mengenai adverse event (Raman, K., et.al., 2011).
F. Assurance (Jaminan Kepastian)
Jaminan kepastian dimaksudkan menurut Raman, K., et.al (2011) adalah bagaimana perawat dapat menjamin pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien berkualitas sehingga pasien menjadi yakin pada pelayanan keperawatan yang diterimanya. Untuk mencapai jaminan kepastian dalam pelayanan keperawatan ditentukan oleh komponen : kompetensi, yang berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan, dan „keamanan‟, yaitu jaminan pelayanan yang menyeluruh sampai tuntas sehingga tidak menimbulkan dampak yang negatif pada pasien dan menjamin pelayanan yang diberikan kepada pasien aman.
Proses eMAAR dilakukan oleh tim yang kompeten terdiri dari perawat, farmasi dan TI berkolaborasi untuk meningkatkan keamanan pasien (Foote & Coleman, 2008).
Untuk meningkatkan kompetensi perawat dan efektifitas/efisien sistem dilakukan pelatihan, monitoring, pembelajaran dikelas dan modul dalam penggunaan alat, pemeliharaan alat dan mekanisme pelaporan bila terjadi kegagalan sistem ini.
G. Emphaty (empati)
Membina hubungan dan memberikan pelayanan serta perhatian secara individual pada pelanggannya.
Sytem Bar code mempunyai tujuan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan kepuasan pasien, meningkatkan efisiensi dan kepuasan perawat serta menurunkan biaya rawat pasien (Foote & Coleman, 2008)
MEMBANGUN SISTEM eMAR DENGAN BAR CODING
Sebelum sebuah pelayanan kesehatan atau rumah sakit menerapkan eMAR dengan Bar Coding maka diperlukan persiapan yang harus dilakukan yaitu:
1) Infrastruktur
Sebuah jaringan nirkabel diperlukan untuk menentukan alur kerja perawat dan kebutuhan sistem informasi klinis yang akan datang. Hal yang perlu dipertimbangkan adalh cakupan wilayah, aplikasi yang mendukung, point of care, infrastruktur , interferensi dan perangkat lain dirumah sakit Seorang Teknologi informasi menyiapkan perangkat keras, memaksimalkan otomatis sign dan pemecahan masalahan
2) Penyeleksian perangkat.
Disini perawat terlibat dalam pemilihan perangkat yang akan digunakan dengan pertimbangan kuantitas dan ketersediaannya. Dibutuhkan perangkat yang terdiri dari mobile computer yang dilengkapi dengan scanner bar kode. Perangkat dibeli dengan pertimbangan satu perawat per satu perangkat ditambah dengan perangkat tambahannya.
3) Farmasi
Farmasi melakukan aktivitas entry order sesuai spesifikasi eMAR dengan menampilkan sistem informasi klinik. Informasi ini diharapakan terus diperluas hingga mendukung tugas perawat dan perangkat tambahan digunakan untuk memonitor penggunaan obat-obat khusus. Fax yang berbasis keperawatan-farmasi dikembangkan untuk meningkatkan komunikasi dalam aktivitas order-entry.
4) Pedoman administrasi medikasi
Perawat dan ahli farmasi berkolaborasi dalam mengidentifikasi alur kerja dengan berbagai modifikasi. Termasuk didalam berhubungan dengan komunikasi antar perawat-farmasi, rekonsiliasi real-time, administrasi medikasi, dan strategi dokumentasi. Proses pengiriman bar-code obat adalah diawali dokter menulis order obat di catatan pasien, kemudian order tersebut di scan ke farmasi melalui sistem managemen order dari dokter.
Farmasi mereview order tersebut dan memasukan kedalam sistem farmasi. Setelah order tersebut masuk kedalam sistem, perawat membandingkan dengan order dokter yang ada dicatatan pasien, jika ada kesalahan maka perawat akan klarifikasi dan berkomunikasi dengan farmasi. Jika order sudah benar, perawat akan menerima order tersebut dan akan terlihat aktif
diprofil pasien, kemudian perawat akan mengambil obat dari sistem tersebut dari sebuah lembar kerja. Setelah tahap ini, perawat akan mendapatkan wireless komputer. Perawat meng-scan identitas dirinya untuk mengases sistem bar-code, memindai gelang pasien untuk mendapatkan profil obatnya. Scan medikasi juga dilakukan untuk menyakinkan ketepatan prinsip 5 benar. Setelah melakukan scaning, perawat memberikan obat kepada pasien, diiukuti dengan medokumentasikannya di catatan pasien.
5) Komunikasi
Komunikasi harus tetap dibangun untuk mendukung keselamatan pasien melalui komunikasi dengan dokter, pasien, keluarga, dan karyawan lainnya. Penjelasn diberikan kepada klien tentang proses pemberian obat yang aman dan nyaman melalui penggunaan tehnologi eMAR dengan bar-code ini.
6) Identifikasi personel
Dilakukan penggantian kartu identitas perawat atau karyawan yang terlibat. Kartu ini dapat mengakses bar-code pada sistem eMAR.
7) Identifikasi pasien
Untuk memastikan benar pasien dalam pemberian obat diperlukan bar-code yang harus digunakan dipergelangan tangan pasien. Gelang pasien yang digunakan harus memenuhi pertimbangan kualitas, daya tahan dan keamanan gelang. Gelang ini hanya didapatkan dari ruang pendaftaran pasien masuk untuk menjaga integritas sistem eMAR ini. Perawat tidak diperkenankan membuat atau memodifikasi gelang pasien.
8) Edukasi dan dukungan perencanaan
Dengan penggunaan tehnologi ini akan berdampak pada perubahan sistem kerja perawat terutama terkait dengan pemberian medikasi. Diperlukan 4-5 jam pembelajaran dikelas, modul dan komputer personal tambahan yang dapat digunakan dalam proses belajar bagi semua perawat. Dokter dan ahli farmasi juga harus ikut terlibat untuk mendukung penggunaan tehnologi ini dalam tugas perawat sehari-hari.
9) Personel tambahan
Diperlukan perawat klinis tambahan sebagai administrator sistem yang bertanggung jawab sebagai pengawas harian, analisa data dan pembuatan laporan. Seorang tehnisi farmasi juga dibutuhkan untuk membuat kembali bar-code dan menambah daftar obat yang baru. Dipertimbangkan juga tenaga apoteker baru untuk pemeriksaan, memvalidasi, dan mengelola upaya pengemasan ulang.
STANDAR YANG DITETAPKAN UNTUK PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN DENGAN PENGGUNAAN eMAR
Penilaian terhadap mutu dilakukan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang dikelompokkan dalam tiga komponen, yaitu :
a. Struktur (Input)
Donabedian (1987, dalam Wijono 2000) mengatakan bahwa struktur merupakan masukan (input) yang meliputi sarana fisik perlengkapan/peralatan, organisasi, manajemen, keuangan,
sumber daya manusia dan sumber daya lainnya dalam fasilitas keperawatan.
Dalam eMar dengan bar-code standar struktur terdiri dari : 1) Sarana fisik/peralatan
Sebuah jaringan nirkabel diperlukan untuk menentukan alur kerja perawat dan kebutuhan sistem informasi klinis yang akan datang
Dibutuhkan perangkat yang terdiri dari mobile computer yang dilengkapi dengan scanner
bar-code
Kartu identitas perawat/karyawan yang bertugas dalam proses medikasi tersebut Pedoman Medikasi
Gelang pasien
2) Sumber daya manusia
Manajemen medikasi dengan menggunakan teknologi informasi ini merupakan proses yang komplek dan melibatkan berbagai departemen dari berbagai profesi baik perawat maupun non-perawat
3) Manajemen Organisasi
Komunikasi harus tetap dibangun untuk mendukung keselamatan pasien melalui komunikasi dengan dokter, pasien, keluarga, dan karyawan lainnya. Penjelasan diberikan kepada klien tentang proses pemberian obat yang aman dan nyaman melalui penggunaan tehnologi eMAR dengan bar kode ini.
4) Biaya
Pengadaan alat dalam TI, SDM yang terlibat
Pemeliharaan yang optimal dalam penggunaan teknologi ini Pendidikan/pelatihan dalam aplikasi teknologi informasi b. Proses
Donabedian (1987, dalam Wijono 2000) menjelaskan bahwa pendekatan ini merupakan proses yang mentransformasi struktur (input) kedalam hasil (outcome). Proses adalah
kegiatan yang dilaksanakan secara profesional oleh tenaga kesehatan (perawat) dan interaksinya dengan pasien. Dalam kegiatan ini mencakup diagnosa, rencana perawatan, indikasi tindakan, prosedur dan penanganan kasus.
Alur Kerja eMAR dengan Bar Kode
Sebuah scanner genggam disambungkan ke komputer perawat atau tersambung dengan tanpa kabel merupakan bagian dari solusi teknologi. Scaner tersebut akan mengidentifikasi secara cepat dan dapat memferifikasi kebenaran 7 prinsip benar dalam medikasi (pasien, rekam medis, rute, dosis, waktu, obat, dokumentasi) melalui hasil scanner
bar-code pada kemasan obat dan scanner identitas pasien.
Saat perawat akan melakukan prosedur medikasi, perawat menggunakan kereta medikasi mobile (mobile medication cart). Bagian atas kereta terdapat scanner dan laptop atau komputer personal yang terhubung dengan program eMAR yang tersambung dengan sistem informasi rumah sakit (melalui sambungan jaringan wireless lokal RS). Proses ini digambarkan dalam gambar dibawah ini:
c. Outcome
Pendekatan ini adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan perawat terhadap pasien. Dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik positif maupun negatif. Sehingga baik tidaknya hasil dapat diukur dari derajat kesehatan pasien dan kepuasan pasien terhadap pelayanan perawatan yang telah diberikan (Donabedian, 1987 dalam Wijono 2000). (1) Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Richard D.P, dkk yang dilakukan terhadap
pasien di unit cardiac telemetry dan unit medikal bedah, melalui eMAR dengan Bar
tingkat akurasi sebelum penggunaan eMAR dengan Bar Coding sebesar 86,5% dan keakuratannya meningkat setelah menggunakan eMAR dengan Bar Coding sebesar 97% (2) Bar code merupakan terobosan teknologi inovatif di dunia kesehatan yang menggunakan perangkat lunak dan system computer dan telah terbukti bermanfaat untuk mencapai status safety bagi pasien, meminimalkan kesalahan akibat proses pemberian obat, mengurangi pengeluaran biaya cost, meningkatkan efektifitas kerja dan kepuasan perawat serta menurunkan lama hari rawat pasien.
(3) Berdasarkan tulisan yang dibuat oleh Lynas, K pada 2010, bahwa saat ini di Amerika Utara khususnya Kanada sistem ini telah menjadi kebijakan dan standardisasi dalam administrasi pemberian obat. Sistem ini telah diadopsi oleh 34 organisasi dari 6 sektor kesehatan yang terkait dengan farmasi, pelayanan, dan patient safety. Lynas menyebutkan bahwa sistem barcode ini telah mampu menurunkan angka kesalahan pengobatan sebanyak 70-80% di Kanada, sehingga selain membantu memudahkan administrasi RS sistem ini juga memberikan jaminan keamanan bagi klien dan mendatangkan kepercayaan yang tinggi dari para stakeholder yang terkait.
3. SIMPULAN DAN REKOMENDASI
Program menjamin mutu merupakan kegiatan/strategi menetapkan masalah mutu, menetapkan penyebab masalah mutu, menetapkan cara menyelesaikan masalah mutu, pelaksanaan penyelesaian masalah mutu, penilaian hasil, dan penyusunan saran tindak lanjut secara berkesinambungan, sistematis, objektif dan terpadu. Sasaran program penjamin mutu yaitu lingkungan, masukan, proses dan output Strategi ini merupakan program untuk mendesain standar pelayanan keperawatan dan mengevaluasi pelaksanaan standar tersebut (Swansburg, 1999).
Pengunaan tehnologi eMAR dengan bar-code ini masuk kedalam alur kerja staf perawat dan sangat membantu perawat dalam melaksanakan tugasnya khususnya dalam prosedur medikasi. eMAR dengan bar-code termasuk komponen penunjang patient safety yang merupakan komponen mutu dalam pelayanan RS. Kepuasan perawat dalam penggunaan sistem teknologi ini juga telah terbukti meningkat bila perawat mendapatkan sosialisasi, pelatihan dan kemampuan penggunaan sistem teknologi informasi tersebut (Fowler, 2009).
Direkomendasikan perlunya mengadakan sosialisasi eMAR dengan bar-code kepada personel yang akan terlibat, pertimbangan kebijakan rumah sakit, pengadaan perangkat, sistem komunikasi, pedoman kerja dan lain-lainya. Jika sudah terlaksana, dibutuhkan juga pemeliharaan yang optimal terhadap penerapan tehnologi eMAR ini.
Berdasarkan hasil survey nasioal American Society of Health-System Pharmacist
(ASHP) tahun 2005, pada tahun 2002 baru 3% institusi (dengan lebih dari 400 pasien)
menerapkan penggunaan eMAR dengan bar-code secara komplit dan naik menjadi 17,2% di tahun 2005. Tehnologi eMAR ini juga dapat diterapkan diruang NICU, tidak hanya dalam pemberian obat tetapi juga bermanfaat dalam pemberian susu formula pada bayi. Bahkan eMAR dengan bar-code ini juga bisa diaplikasikan dalam pemberian tranfusi (Bargren & Lu, 2009).
Direkomendasikan juga adanya indikator untuk mengetahui telah tercapainya tujuan dari program eMAR dengan bar-code. Indikator merupakan suatu ukuran atau petunjuk apakah standar layanan kesehatan telah ditetapkan dengan konsisten dan tepat atau tidak sehingga perlu dilakukan suatu investigasi untuk mengetahui masalah mutu layanan kesehatan apa yang terjadi dalam organisasi RS.
REFERENSI
Bargren, M., Lu, D. (2009). An Evaluation Process for an Electronic Bar Code Medication Administration Information System In an Acute Care Unit. Journal of Urology
Nursing, Vol. 29, No. 5, September-Oktober 2009, 355-391. Diakses tanggal 15
Oktober 2011
Fowler, S.B., Sohler, P., Zarillo, D.F. (2009). Bar-code technology for administration: medication error and nurse satisfaction. Medical Surgical Nursing Journal, March-April 2009, Vol.18, No.2. Diakses tanggal 15 Oktober 2011.
Paoletti, RD., Suess, TM., et al. (2007). Using bar-code technology and medication observation methodology for safer medication administration. American Journa
Health-System Pharmacy, Vol 64, Maret 1. Diakses tanggal 15 Maret 2011.
Pinzon, R. (2007). “Peran Teknologi Infromasi untuk Meningkatkan Keamanan Pengobatan di Rumah Sakit”: Seminar Nasional Teknologi, 24 November 2007.
Yogyakarta 2007: (SNT 2007) ISSN : 1978 – 9777.
Raman, K., et.al. (2011). Addressing challenges in bar-code scanningof large-volume
infusion bags. American Journal Health-System Pharmacy, Vol. 68, Agustus 2011, Page 1450-1453. Diakses tanggal 15 Oktober 2011.
Russo, R.(2008). eMAR and mobile computing: Why nursing homes need to get wired now. Nursing Homes; Jan 2008; 57, 1; ProQuest Nursing & Allied Health Source. pg. 32.
Diambil dari http://proquest.umi.com/pqdweb. Diakses tanggal 15 Oktober 2011.
Ross, J. (2008). Collaboration – Integrating Nursing, Pharmacy and Information Technology
into a barcode Medication Administration System Implementation. Vol(3) No.1.
Swansburg, R.C. (2000). Pengantar Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan untuk
Perawat Klinis. Jakarta: EGC.
Takeda, H. (2010). E-Health. IFIP AICT 335. Springer : NewYork
Tjong, A.E.S. (2004). Perubahan Paradigma ke Arah Budaya Melayani dalam Pelayanan Prima di RS. Jurnal Manajemen & Administrasi Rumah Sakit Indonesia, Vol. 5 (1), halaman 7- 14.
Turisco, F., Rhoad J. (2008) Equipped for efficiency: improving nursing care through technology. California Health Care Foundation, Desember 2008, Diakses tanggal 15 Oktober 2011.
Wijono, D. (2000). Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan: Teori, Strategi dan Aplikasi. Volume.1. Cetakan Kedua. Surabaya : Airlangga University Press.