• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Esensi manusia sebagai makhluk sosial menunjukkan bahwa ia tidak dapat bergantung pada dirinya sendiri. Setiap aktivitas dan tindakan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari senantiasa berhubungan dengan manusia lain. Sehingga dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial akan sulit untuk dapat memenuhi kebutuhan tanpa bantuan orang disekitarnya. Sebagai contoh adalah seorang bayi yang baru dilahirkan ke dunia, maka ia tidak akan mampu melakukan semua aktivitasnya sendiri termasuk berjalan dan mencari makan. Maka, peran keluarga serta orang disekitarnya yang membuat ia dapat bertahan hidup hingga menjadi manusia dewasa yang mandiri. Sebagai individu yang tidak dapat terlepas dari peran orang lain, manusia melakukan komunikasi dan interaksi untuk memenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya proses tersebut menjadikan manusia sebagai bagian dari sebuah kelompok atau organisasi.

Organisasi memiliki kaidah-kaidah tertentu yang mengharuskan manusia untuk bertindak dan berperilaku sejenis agar dapat diterima. Sehingga seseorang yang bergabung dalam sebuah organisasi cenderung memiliki tujuan yang sama dengan orang-orang yang ada di dalam organisasi tersebut. Selaras dengan Tubbs dan Moss (2005: 164) mengutip pernyataan Rogers dan Rogers dalam Hanneman dan McEwen tentang definisi organisasi yaitu “suatu kumpulan (atau sistem) individu yang bersama-sama, melalui suatu hierarki perangkat dan pembagian kerja, berusaha mencapai tujuan tertentu”. Hubungan timbal-balik antara individu-individu yang dalam satu organisasi membutuhkan komunikasi sebagai pemersatu perbedaan yang mereka miliki, baik dari segi karakteristik individu maupun tugas dan perannya di

(2)

2

dalam organisasi. Hal ini didukung oleh Muhammad (2002: 01) yang menyatakan bahwa adanya komunikasi yang baik, suatu organisasi dapat berjalan lancar dan berhasil begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi dapat macet dan berantakan.

Komunikasi didefinisikan sebagai suatu proses yang membuat kebersamaan bagi dua orang atau lebih yang semula monopoli oleh satu atau beberapa orang (Gode dalam Wiryanto, 2008: 6). Dari definisi tersebut diketahui bahwa dalam proses komunikasi terjadi penularan kepemilikan, yaitu yang semula hanya dimiliki oleh satu orang atau beberapa orang, setelah dikomunikasikan menjadi milik bersama. Sehingga komunikasi bertujuan untuk membuat kesamaan makna antara dua orang atau lebih yang terlibat dalam proses komunikasi. Selain itu komunikasi berusaha untuk menggabungkan perbedaan-perbedaan menjadi sebuah persamaan. Terutama dalam sebuah organisasi yang setiap individunya memiliki sifat, kepribadian dan perilaku yang berbeda dalam mencapai tujuan bersama sangat diperlukan adanya komunikasi organisasi.

Komunikasi organisasi menurut Devito (2011: 377) merupakan pengiriman dan penerimaan berbagai pesan di dalam organisasi. Karena organisasi memiliki hierarki perangkat dan pembagian kerja tertentu, salah satu tantangan besar dalam komunikasi organisasi adalah bagaimana menyampaikan informasi ke seluruh bagian organisasi dan bagaimana menerima informasi dari seluruh bagian organisasi. Proses tersebut berhubungan erat dengan aliran informasi (Pace dan Faules, 2006: 170). Aliran informasi menjadi salah satu faktor utama dalam mencapai komunikasi organisasi yang efektif.

Aliran informasi terkait dengan bagaimana informasi didistribusikan kepada seluruh bagian organisasi, sehingga memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi. Menurut Pace and Faules (2006: 170) proses aliran informasi merupakan proses yang rumit. Proses tersebut tidak hanya melibatkan

(3)

3 komunikasi antara dua orang atau lebih melainkan juga melibatkan tingkat struktur atau hierarki dalam organisasi. Aliran informasi diklasifikasikan menjadi dua yaitu sifat aliran informasi dan arah aliran informasi. Sifat aliran informasi lebih lanjut membahas tentang penerimaan pesan secara serentak atau berurutan. Sedangkan arah aliran informasi membahas tentang bagaimana komunikasi yang terjadi antara atasan dan bawahan, komunikasi antar divisi, maupun komunikasi lintas saluran.

Apabila dalam suatu organisasi terjadi kemacetan pada aliran informasi, besar kemungkinan terjadinya konflik atau perselisihan antar anggota organisasi tidak dapat dihindarkan. Cummings dalam Wahyudi (2011: 17) mendefinisikan konflik sebagai suatu proses interaksi sosial di mana dua orang atau lebih, atau dua kelompok atau lebih, berbeda atau bertentangan dalam pendapat atau tujuan mereka. Dalam organisasi, konflik dapat pula terjadi karena adanya benturan kepentingan antara orang-orang yang ada di dalam organisasi. Konflik dapat berakibat positif maupun negatif tergantung dari bagaimana suatu organisasi mengelola konflik tersebut. Pengelolaan konflik atau manajemen konflik merupakan proses pihak yang terlibat konflik atau pihak ketiga yang menyusun strategi konflik dan menerapkannya untuk mengendalikan konflik agar menghasilkan resolusi yang diinginkan (Wahyudi, 2010: 129). Sehingga diperlukan adanya serangkaian strategi atau pendekatan sesuai dengan konflik yang sedang dialami oleh suatu organisasi.

Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam Telkom University (KMPA Tel-U) merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan (ormawa) yang berada di bawah naungan Telkom University. Organisasi ini fokus bergerak pada bidang pecinta dan penggiat alam. KMPA memiliki struktur organisasi yang menunjukkan hubungan dengan lembaga lain di lingkungan Telkom University. Secara struktural setiap kegiatan yang dilaksanakan harus dipertanggung jawabkan kepada organisasi dan kepada Universitas. Secara keorganisasian, KMPA Tel-U memiliki dewan pengurus yang merupakan badan pelaksana organisasi tertinggi yang bersifat kolektif.

(4)

4

Organisasi KMPA Tel-U memiliki bentuk organisasi yang unik dan berbeda dibandingkan dengan struktur organisasi lain, yaitu federasi. Sehingga dalam KMPA Tel-U terdapat 4 (empat) unit pelaksana teknis (UPT) yang menaungi kegiatan pecinta dan penggiat alam, yaitu Astacala, Perimatrik, Gema Rawana dan X-Wasi. Berikut merupakan pembagian UPT berdasarkan Memorandum of Understanding (MoU) yang disepakati bersama oleh seluruh anggota KMPA Tel-U:

1. UPT Astacala menaungi 3 (tiga) fakultas yaitu, Fakultas Teknik Informatika, Fakultas Rekayasa Industri, dan Fakutas Teknik Elektro.

2. UPT Perimatrik menaungi 2 (dua) fakultas yaitu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Komunikasi dan Bisnis.

3. UPT Gema Rawana menangui Fakultas Ilmu Terapan

4. UPT terakhir yaitu X-Wasi menaungi Fakultas Industri Kreatif

Pembagian organisasi KMPA menjadi UPT dalam setiap fakultas disebabkan oleh transformasi Yayasan Pendidikan Telkom menjadi Telkom University. Awalnya masing-masing UPT tersebut merupakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang berada dibawah naungan fakultas (dahulu institusi). Sempat terjadi penolakan yang keras kepada pihak kampus atas adanya penggabungan UKM yang bergerak dalam bidang sejenis. Kerasnya penolakan penggabungan ini datang dari UKM pecinta alam, sesuai dengan wawancara yang peneliti lakukan dengan Direktur Kemahasiswaan Telkom University, Bapak Hendratno S.E. Akt, M.M yang menegaskan bahwa:

“KMPA... memang memang paling ini, karena dia meng-claim pak beda pak,

KMPA saya sama sana itu alasannya mereka gitu”. (Hasil wawancara Bapak

Hendratno, wawancara 4 Maret 2015, di gedung L, Telkom University)

Namun, setelah diterbitkannya SK Rektor Universitas Telkom Nomor: KEP.193/ORG22/REK.0/2013 tentang Organisasi Kemahasiswaan di Lingkungan

(5)

5 Universitas Telkom pada Pasal 4 poin a, menerangkan bahwa Unit Kegiatan Mahasiswa berada di tingkat universitas. Selanjutnya dijelaskan lebih detail dalam Pasal 5 yang menyebutkan bahwa “Organisasi mahasiswa yang tidak sesuai dengan ketentuan dimaksud pasal 4 keputusan ini, keberadaannya tidak diakui dan dilarang melakukan kegiatan dalam bentuk apapun dilingkungan universitas”. Kondisi demikian menyebabkan keempat UKM bidang pecinta alam bergabung dengan terpaksa karena membutuhkan legalitas, fasilitas dan pendanaan dari pihak kampus untuk menjalankan aktivitasnya.

Meleburnya keempat UKM menjadi satu dalam wadah KMPA Tel-U merupakan hasil keputusan yang dipaksakan agar mereka mendapatkan legalitas, fasilitas dan pendanaan dari pihak kampus. Hal tersebut merupakan awal mula terjadinya konflik di dalam organisasi yang baru berdiri kurang lebih satu tahun. Perselisihan atau konflik di dalam tubuh organisasi KMPA Tel-U tidak dapat dihindarkan karena masing-masing UPT masih memegang teguh sejarah dari organisasi lamanya. Seringkali konflik tersebut berupa perdebatan pendapat antar anggota KMPA Tel-U maupun konflik antar unit pelaksana teknis. Sesuai dengan wawancara yang peneliti lakukan dengan Dian Anggraheni, selaku ketua umum X-Wasi 2015 yang juga merupakan anggota aktif KMPA menerangkan bahwa:

“Semenjak dibentuknya KMPA itu dari kita semua itu banyak yang nggak setuju karena visi kita beda dan misi kita beda, jadinya masih ada konflik sih kadang-kadang… Biasanya konflik yang terjadi perbedaan pendapat, soalnya masih pada pegang kekeuh ama yang sejarah-sejarah masing-masing, kalo

misal ada kegiatan ya gitu cara menyatukannya gimana”. (Hasil Wawancara

dengan Dian Anggraheni, wawancara 14 Januari 2015, di Loby Fakultas Industri Kreatif, Telkom University)

Dari hasil wawancara tersebut, terlihat bahwa konflik mulai bermunculan ketika keempat UKM bergabung menjadi satu dalam wadah KMPA Tel-U yang menjadi induk kegiatan organisasi. Konflik yang dihadapi tidak hanya sebatas pada perbedaan pendapat antar individu di dalam organisasi, namun juga konflik penyatuan kegiatan

(6)

6

organisasi serta proses rekrutmen anggota baru. Terdapat salah satu unit pelaksana teknis yang melakukan open recruitment anggota baru untuk seluruh mahasiswa Telkom University. Hal tersebut jelas melanggar kesepakatan yang telah dibuat bersama, bahwa masing-masing unit pelaksana teknis memiliki wilayah gerak tersendiri. Alhasil konflik di dalam organisasi KMPA Tel-U tidak dapat dihindarkan.

Menurut peneliti, konflik yang terjadi dalam organisasi KMPA Tel-U menarik untuk dikaji lebih dalam, karena dilihat dari sejarah terbentuknya KMPA Tel-U yang banyak timbul ketidaksepakatan dari anggota-anggotanya. Selain itu struktur organisasi yang terdiri dari Dewan Pengurus dan bentuk organisasi KMPA Tel-U yang berupa federasi menjadi keunikan tersendiri dibandingkan dengan organisasi kemahasiswaan lain di lingkungan Telkom University. Cara individu-individu berkomunikasi dalam organisasi juga menarik untuk dipahami karena organisasi KMPA Tel-U yang merupakan wadah dari empat unit pelaksana teknis harus mampu mengakomodasi semua kepentingan-kepentingan dari masing-masing unit pelaksana teknis yang berada di bawah naungannya.

Sehingga penelitian ini akan mengambil objek penelitian yang membahas tentang komunikasi organisasi dalam menangani konflik, dengan subjek penelitian adalah organisasi KMPA. Penelitian ini akan fokus membahas tentang arah aliran informasi dan proses manajemen konflik yang dilakukan oleh KMPA Tel-U. Berlandaskan uraian latar belakang diatas, untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana komunikasi organisasi dalam menangani konflik, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Komunikasi Organisasi Dalam Menangani Konflik (Studi Kasus Pada Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) Telkom University)”

(7)

7 1.2 Fokus Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka fokus dalam penelitian ini adalah bagaimana komunikasi organisasi Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam Telkom University (KMPA Tel-U) dalam menangani konflik. Untuk mengetahui lebih rinci permasalahan maka diidentifikasikan sebagai berikut :

1. Bagaimana aliran informasi dalam organisasi KMPA Telkom University?

2. Bagaimana proses manajemen konflik dalam organisasi KMPA Telkom University?

1.3 Tujuan Penelitian

Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui komunikasi organisasi Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam Telkom University (KMPA Tel-U) dalam menangani konflik. Dalam penelitian ini ditetapkan beberapa tujuan, yaitu: 1. Menjelaskan aliran informasi dalam organisasi KMPA Telkom University. 2. Menjelaskan proses manajemen konflik dalam organisasi KMPA Telkom

University.

1.4 Manfaat dan Kegunaan Penelitian 1.4.1 Aspek Teoritis

a) Bagi penulis, mendapatkan ilmu pengetahuan dan wawasan tentang komunikasi organisasi khususnya dalam menyelesaikan konflik organisasi kemahasiswaan.

b) Sebagai bekal wawasan dan pengetahuan penulis dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan belajar tentang pentingnya komunikasi organisasi dan manajemen konflik dalam mencapai tujuan bersama organisasi.

c) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan tentang komunikasi organisasi dalam manajemen konflik untuk menambah

(8)

8

masukan demi perkembangan ilmu komunikasi terutama yang berkaitan dengan komunikasi organisasi.

1.4.2 Aspek Praktis

a) Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat menjadi bahan masukan dan evaluasi bagi Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) Tel-U untuk menangani konflik yang terjadi dalam organisasi melalui komunikasi organisasi.

b) Menjadi karya ilmiah yang bisa berkaitan tentang komunikasi organisasi dan manajemen konflik serta menambah pemahaman tentang kehidupan berorganisasi. Serta menjadi referensi untuk peneliti lain dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan studi kasus kualitatif.

1.5 Tahapan Penelitian

Menurut Moleong (2013: 127), tahapan penelitian kualitatif terdiri dari tahap pra-lapangan, tahap pekerjaan lapangan dan tahap analisis data.

1. Tahap Pra-Lapangan

Pada tahap pra-lapangan, kegiatan yang harus dilakukan oleh peneliti kualitatif yaitu menyusun rancangan penelitian, memilih lokasi penelitian, memilih dan memanfaatkan informan serta menyiapkan perlengkapan penelitian. Dalam tahapan ini ditambah dengan satu pertimbangan yang perlu dipahami, yaitu etika lapangan.

2. Tahap Pekerjaan Lapangan

Pada tahap ini, peneliti perlu memahami kembali latar penelitian terlebih dahulu. Selain itu, peneliti perlu mempersiapkan dirinya baik secara fisik maupun secara mental. Karena dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan wawancara dan observasi sebagai salah satu metode pengumpulan data. Dengan demikian, peneliti dan subjek penelitian dapat bekerja sama dengan saling bertukar informasi.

(9)

9 3. Tahap Analisis Data

Pada tahap ini, semua data baik primer maupun sekunder harus sudah terkumpul dan peneliti tinggal melakukan analisis dengan metode kualitatif pendekatan studi kasus. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan serta pengujian kesimpulan. Setelah itu, peneliti harus menarik sebuah kesimpulan kuat dari penelitian yang telah dilakukan.

1.6 Lokasi Dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini bertempat di sekretariat Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam Telkom University (KMPA Tel-U) yang berada di Jalan Telekomunikasi No. 1 Terusan Buah Batu, Bandung dengan subjek penelitian yaitu anggota organisasi KMPA Telkom University.

Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan Oktober 2014 sampai dengan bulan April 2015. Berikut merupakan tabel tahapan dan waktu penelitian :

Tabel 1.1

Waktu dan Tahapan Penelitian

No Tahapan Penelitian 2014-2015

Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr 1. Penentuan tema penelitian 2. Perumusan dan identifikasi masalah 3. Penelitian Lapangan 4. Wawancara Narasumber 5. Pengolahan Data 6. Menyusun Laporan

Referensi

Dokumen terkait

Strategi harga pemasaran produk pembiayaan di BPRS Puduarta Insani, ialah dari ketentuan margin dan nisbah, dimulai dari perhitungan operasional, biaya tenaga

Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang pemenuhannya setelah kebutuhan primer terpenuhi, namun tetap harus dipenuhi, agar kehidupan manusia berjalan dengan baik. Contoh: pariwisata

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan FGD pada orang tua atau keluarga korban, anak yang menjadi korban, tokoh masyarakat, tokoh agama dan pejabat dari instansi terkait,

Secara parsial, variabel kualitas layanan yang terdiri dari: dimensi variabel bukti fisik (tangibles) dan empati (emphaty) berpengaruh secara signifikan dan

BILLY TANG ENTERPRISE PT 15944, BATU 7, JALAN BESAR KEPONG 52100 KUALA LUMPUR WILAYAH PERSEKUTUAN CENTRAL EZ JET STATION LOT PT 6559, SECTOR C7/R13, BANDAR BARU WANGSA MAJU 51750

Penelitian ini difokuskan pada karakteristik berupa lirik, laras/ tangganada, lagu serta dongkari/ ornamentasi yang digunakan dalam pupuh Kinanti Kawali dengan pendekatan

(9) Walaupun dalam penelitian ini didapatkan laki-laki lebih banyak yang melakukan hubungan seksual pranikah tetapi ditemukan bahwa tidak ada beda rerata usia inisiasi