penentuan kadar nikotin

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

 Irda Fidrianny, dkk.  Irda Fidrianny, dkk.

Analisis Nik

Analisis Nikotin dalam

otin dalam Asap dan

Asap dan Filter

Filter Rokok 

Rokok 

Irda Fidrianny*, IGNA Supradja, Andreanus A Soemardji Irda Fidrianny*, IGNA Supradja, Andreanus A Soemardji  Departemen Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,  Departemen Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,

 Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa 10 Bandung 40132  Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa 10 Bandung 40132

(Diterima

(Diterima 9 Agustus 2004, 9 Agustus 2004, disetujui 18 Oktober disetujui 18 Oktober 2004)2004)

Abstrak  Abstrak    Nikotin dalam asap dan filter beber

  Nikotin dalam asap dan filter beberapa rokok telah dianalisis kualitatif dan kuanapa rokok telah dianalisis kualitatif dan kuantitatif titatif secara kromatogrsecara kromatografi lapisafi lapis tipis.

tipis. Kadar nikotin dalam asap rKadar nikotin dalam asap rokok putih lebih tinggi daripada dalam rokok kretek beokok putih lebih tinggi daripada dalam rokok kretek berfilter dan rokok kretek rfilter dan rokok kretek  tanpa filter, kadar nikotin dalam filter rokok yang dibakar lebih besar daripada kadarnya dalam filter rokok  tanpa filter, kadar nikotin dalam filter rokok yang dibakar lebih besar daripada kadarnya dalam filter rokok  sukarelawan.

sukarelawan. Kata kunci

Kata kunci: nikotin, asap rokok, filter.: nikotin, asap rokok, filter.

Abstract Abstract

Qualitative and quantitative thin layer chormatographic analysis of nicotine in smoke and that in filter of some Qualitative and quantitative thin layer chormatographic analysis of nicotine in smoke and that in filter of some sortes of

sortes of cigarettes had cigarettes had been carriebeen carried out. Nicd out. Nicotine content of otine content of white cigarette white cigarette smoke smoke was higher was higher than that inthan that in “kretek” cigarette with or w

“kretek” cigarette with or without filter. Nicotine content in cigarette fithout filter. Nicotine content in cigarette filter was ilter was higher than that in cigarette filter higher than that in cigarette filter  from volunteers (smokers).

from volunteers (smokers). Key words

Key words: nicotine : nicotine content content cigarette scigarette smoke, filter moke, filter  . .

Pendahuluan

Pendahuluan

Asap rokok m

Asap rokok mengandung sekitar engandung sekitar 4000 senyawa4000 senyawa, antara, antara lain

lain nikotin, ter nikotin, ter dan 3,4-benozopiredan 3,4-benozopiren, karbon n, karbon monok- monok-sida, karbon diokmonok-sida, nitrogen okmonok-sida, amonia, sulfur  sida, karbon dioksida, nitrogen oksida, amonia, sulfur  [1]. Nikotin, suatu alkaloid yang sudah lama dikenal, [1]. Nikotin, suatu alkaloid yang sudah lama dikenal, dalam

dalam asap rokok asap rokok lama kelamaalama kelamaan akan teran akan tera-kumulasi-kumulasi  pada dinding pem

 pada dinding pembuluh darah pebuluh darah perokok rokok menyempitkanmenyempitkan   pembuluh darah. Nikotin dalam asap rokok yang   pembuluh darah. Nikotin dalam asap rokok yang masuk ke paru dengan cepat diabsorpsi dari masuk ke paru dengan cepat diabsorpsi dari paru-  paru ke dalam darah dan efisiensinya hampir sama   paru ke dalam darah dan efisiensinya hampir sama dengan apabila diberikan secara intravena. Senyawa ini dengan apabila diberikan secara intravena. Senyawa ini mencapai otak dalam waktu 8 detik setelah inhalasi [2]. mencapai otak dalam waktu 8 detik setelah inhalasi [2]. Bahan utama rokok adalah daun tembakau (

Bahan utama rokok adalah daun tembakau ( Nicotiana Nicotiana tabacum

tabacum) ) kering kering yang yang merupakan merupakan sumber sumber utamautama nikotin

nikotin [3]. [3]. Di IDi Indonesia, ndonesia, di samdi samping rokok ping rokok putih,putih,   banyak ber

  banyak beredar roedar rokok kretek kok kretek berfilter berfilter maupun tanpamaupun tanpa filter Penelitian ini bertujuan menentukan kadar  filter Penelitian ini bertujuan menentukan kadar  nikotin dalam asap

nikotin dalam asap rokok beberapa rokok beberapa rokok rokok putih, kretek putih, kretek   berfilter dan tanpa filter yang disimulasi menggunakan  berfilter dan tanpa filter yang disimulasi menggunakan alat simulasi perokok aktif dan filter rokok yang alat simulasi perokok aktif dan filter rokok yang diambil dari sisa rokok yang dibakar dengan alat diambil dari sisa rokok yang dibakar dengan alat simulasi perokok aktif dan filter rokok dari simulasi perokok aktif dan filter rokok dari suka-relawan. relawan.

Percobaan

Percobaan

Bahan Bahan

Bahan, pelarut dan alat yang digunakan untuk analisis Bahan, pelarut dan alat yang digunakan untuk analisis kualitatif adalah rokok kretek berfilter A, B, C, rokok  kualitatif adalah rokok kretek berfilter A, B, C, rokok  kretek tanpa filter D, E, F, rokok putih G, H, I, nikotin kretek tanpa filter D, E, F, rokok putih G, H, I, nikotin   baku, alat simulasi perokok aktif, asam asetat glasial,   baku, alat simulasi perokok aktif, asam asetat glasial, eter, amonia, kloroform, bismut subnitrat, kalium eter, amonia, kloroform, bismut subnitrat, kalium iodida, metanol,

iodida, metanol, silika gel silika gel GF 60.GF 60. Alat

Alat

Alat pembuat kromatografi lapis tipis (Spreader Alat pembuat kromatografi lapis tipis (Spreader Stahl-Desaga), alat simulasi perokok aktif, alat penguap Desaga), alat simulasi perokok aktif, alat penguap  putar vakum (Rotavapor RE-111), lempeng lapis tipis  putar vakum (Rotavapor RE-111), lempeng lapis tipis siap pakai silika gel GF 254, bejana kromatografi, siap pakai silika gel GF 254, bejana kromatografi, mikropipet (Socorex 5 – 50

mikropipet (Socorex 5 – 50 µµl), lampu ultraviolet,l), lampu ultraviolet, spektrofotometer ultraviolet–sinar tampak (Shimadzu spektrofotometer ultraviolet–sinar tampak (Shimadzu UV-160), sectrofo-tometer inframerah (Beckman UV-160), sectrofo-tometer inframerah (Beckman IR-33), spektrofotoden-sitometer (Shimadzu Dual 33), spektrofotoden-sitometer (Shimadzu Dual Wave-length TLC Scanner CS-910). length TLC Scanner CS-910). Prosedur Prosedur 1. Pengambilan cuplikan 1. Pengambilan cuplikan

Asap rokok hasil pembakaran rokok diisap dengan Asap rokok hasil pembakaran rokok diisap dengan  pompa vakum yang merupakan alat simulasi perokok   pompa vakum yang merupakan alat simulasi perokok  aktif yang kondisinya dianggap sama dengan kondisi aktif yang kondisinya dianggap sama dengan kondisi orang yang menghisap rokok secara kuat dan dalam orang yang menghisap rokok secara kuat dan dalam

(2)

  jumlah besar. Filter rokok diperoleh dari rokok yang   jumlah besar. Filter rokok diperoleh dari rokok yang dibakar dengan alat simulasi perokok aktif dan dari dibakar dengan alat simulasi perokok aktif dan dari sisa okok sukarelawan. Filter dipisahkan dari bagian sisa okok sukarelawan. Filter dipisahkan dari bagian rokok yang belum terbakar, bagian kertasnya dibuang, rokok yang belum terbakar, bagian kertasnya dibuang, kemudian sisanya ditimbang.

kemudian sisanya ditimbang. 2.

2. Ekstraksi nikotin  Ekstraksi nikotin dari asap dari asap rokok dan rokok dan filter rokok filter rokok  a. Asap rokok 

a. Asap rokok 

Tiga puluh rokok dibakar selama 7

Tiga puluh rokok dibakar selama 7±±1 menit per rokok 1 menit per rokok  dan asap rokok yang diperoleh ditampung dalam 50 dan asap rokok yang diperoleh ditampung dalam 50 mL

mL larutan larutan asam asam asetat asetat 10 10 % % dengan dengan bantuan bantuan pompapompa vakum yang merupakan alat simulasi perokok aktif, vakum yang merupakan alat simulasi perokok aktif, kemudian diekstraksi dengan 10 mL eter, fase air  kemudian diekstraksi dengan 10 mL eter, fase air  dibasakan dengan 5 mL amonia dan diekstraksi empat dibasakan dengan 5 mL amonia dan diekstraksi empat kali masing-masing dengan 30 mL kloroform. kali masing-masing dengan 30 mL kloroform. Kumpulan ekstrak kloroform dipekatkan hingga 10 mL. Kumpulan ekstrak kloroform dipekatkan hingga 10 mL. b. Filter rokok 

b. Filter rokok 

Sejumlah cuplikan filter rokok yang sudah dipisahkan Sejumlah cuplikan filter rokok yang sudah dipisahkan dari bagian rokok yang belum terbakar dimaserasi 24 dari bagian rokok yang belum terbakar dimaserasi 24   jam dalam 150 mL larutan asam asetat 10 %, lalu   jam dalam 150 mL larutan asam asetat 10 %, lalu dipekatkan hingga 10 mL. diekstraksi dengan 10 mL dipekatkan hingga 10 mL. diekstraksi dengan 10 mL eter., selanjutnya diperlakukan sama dengan prosedur  eter., selanjutnya diperlakukan sama dengan prosedur  ekstraksi nikotin dari asap rokok di atas.

ekstraksi nikotin dari asap rokok di atas. 3. Analisis kualitatif nikotin

3. Analisis kualitatif nikotin

a. Analisis kualitatif nikotin secara kromatografi lapis a. Analisis kualitatif nikotin secara kromatografi lapis

tipis tipis

Analisis kualitatif nikotin dalam asap rokok dan filter  Analisis kualitatif nikotin dalam asap rokok dan filter  rokok dilakukan secara kromatografi lapis tipis dengan rokok dilakukan secara kromatografi lapis tipis dengan membandingkan harga Rf bercak cuplikan dan bercak  membandingkan harga Rf bercak cuplikan dan bercak  nikotin baku, dengan menggunakan fase diam silika nikotin baku, dengan menggunakan fase diam silika gel

gel G G 60, 60, pengembang pengembang metanol-amonia metanol-amonia (200:3) (200:3) dandan  penampak bercak Dragendorff.

 penampak bercak Dragendorff. b.

b. Analisis Analisis kualitatif nikotin kualitatif nikotin secara secara spektrofotometrispektrofotometri ultraviolet 

ultraviolet 

Bercak pada kromatogram cuplikan dan nikotin baku, Bercak pada kromatogram cuplikan dan nikotin baku, masing-masing dikerok dan dilarutkan dalam etanol. masing-masing dikerok dan dilarutkan dalam etanol. Dibuat spektrum serapan ultraviolet cuplikan dan Dibuat spektrum serapan ultraviolet cuplikan dan nikotin baku. Kemudian dibandingkan panjang nikotin baku. Kemudian dibandingkan panjang gelom- bang maksimum antara cuplikan dan nikotin baku.  bang maksimum antara cuplikan dan nikotin baku.

c.

c. Analisis Analisis kualitatif nikotikualitatif nikotin secn secara speara spektrofotometriktrofotometri inframerah

inframerah

Ekstrak kloroform cuplikan dikisatkan, padatan Ekstrak kloroform cuplikan dikisatkan, padatan sisa-nya sert

nya serta nikotin a nikotin baku masbaku masing-masing ing-masing dibuat “mull”dibuat “mull” dengan nujol untuk

dengan nujol untuk pembuatan spektrum inframerah.pembuatan spektrum inframerah. 4. Analisis kuantitatif nikotin

4. Analisis kuantitatif nikotin

a. Penentuan batas kepekaan nikotin pada lempeng  a. Penentuan batas kepekaan nikotin pada lempeng 

kromatografi

kromatografi lapis lapis tipistipis

Larutan nikotin baku dengan kadar 0,194 mg/mL Larutan nikotin baku dengan kadar 0,194 mg/mL dalam kloroform ditotolkan masing-masing sebanyak 2, dalam kloroform ditotolkan masing-masing sebanyak 2, 3, 4, 5, 10, 15, 20, 30, 40,dan 50

3, 4, 5, 10, 15, 20, 30, 40,dan 50 µµL pada pelatL pada pelat kromatografi lapis tipis kemudian dielusi dengan kromatografi lapis tipis kemudian dielusi dengan

b. Pembuatan kurva kalibrasi nikotin baku b. Pembuatan kurva kalibrasi nikotin baku

 Nikotin baku dengan kadar 0,097, 0,194, 0,388, 0,775,  Nikotin baku dengan kadar 0,097, 0,194, 0,388, 0,775, 1,551, 3,102, 6,205, 12,409 dan 24,819 mg/mL dalam 1,551, 3,102, 6,205, 12,409 dan 24,819 mg/mL dalam kloroform ditotolkan pada pelat kromatografi lapis kloroform ditotolkan pada pelat kromatografi lapis tipis siap pakai, setelah dielusi dengan pengembang tipis siap pakai, setelah dielusi dengan pengembang metanol-amonia (200:3 diukur dengan metanol-amonia (200:3 diukur dengan spektrofotoden-sitometer pada panjang gelombang maksimum nikotin sitometer pada panjang gelombang maksimum nikotin 265 nm

265 nm untuk pemuntuk pembuatan kurbuatan kurva kalibrasi va kalibrasi nikotin.nikotin. c. Penentuan perolehan kembali nikotin secara c. Penentuan perolehan kembali nikotin secara

Spektrofotodensitometri Spektrofotodensitometri

Perolehan kembali nikotin dari asap rokok ditentukan Perolehan kembali nikotin dari asap rokok ditentukan dengan cara menampung asap dari hasil pembakaran dengan cara menampung asap dari hasil pembakaran rokok dari sejumlah cengkeh dalam laruitan asam rokok dari sejumlah cengkeh dalam laruitan asam asetat

asetat dengan dengan bantuan bantuan alat alat simulasi simulasi perokok perokok aktif,aktif, setelah

setelah ditambahkan ditambahkan sejumlah sejumlah tertentu tertentu nikotin bakunikotin baku larutan asam asetat tersebut diekstraksi dengan eter. larutan asam asetat tersebut diekstraksi dengan eter. Kemudian fase air diekstraksi dengan kloroform dalam Kemudian fase air diekstraksi dengan kloroform dalam suasana basa. Selanjutnya diperlakukan sama dengan suasana basa. Selanjutnya diperlakukan sama dengan  prosedur pada pembuatan kurva kalibrasi nikotin baku  prosedur pada pembuatan kurva kalibrasi nikotin baku

di atas.

di atas. Perolehan Perolehan kembali nikotin kembali nikotin dari asap dari asap rokok rokok  dapat dihitung dengan bantuan persamaan regresi dapat dihitung dengan bantuan persamaan regresi kurva kalibrasi.

kurva kalibrasi.

Perolehan kembali nikotin dari filter rokok ditentukan Perolehan kembali nikotin dari filter rokok ditentukan dengan ca

dengan cara mra memasukkan emasukkan filter filter rokok yrokok yang belumang belum dibakar ke dalam larutan asam asetat. Setelah dibakar ke dalam larutan asam asetat. Setelah ditam-  bahkan sejumlah tertentu nikotin baku, larutan asam   bahkan sejumlah tertentu nikotin baku, larutan asam asetat tersebut diekstraksi dengan eter. Kemudian sisa asetat tersebut diekstraksi dengan eter. Kemudian sisa fase air diekstraksi dengan kloroform dalam suasana fase air diekstraksi dengan kloroform dalam suasana  basa. Selanjutnya diperlakukan sama dengan prosedur   basa. Selanjutnya diperlakukan sama dengan prosedur    pada pembuatan kurva kalibrasi nikotin baku di atas.   pada pembuatan kurva kalibrasi nikotin baku di atas. Perolehan kembali nikotin dari filter rokok dapat Perolehan kembali nikotin dari filter rokok dapat dihitung dengan bantuan persamaan regresi kurva dihitung dengan bantuan persamaan regresi kurva kalibrasi.

kalibrasi. d.

d. Penentuan Penentuan kadar kadar nikotin nikotin dalam dalam asap asap rokok rokok dandan  filter rokok 

 filter rokok 

Sejumlah tertentu ekstrak yang diperoleh dari prosedur  Sejumlah tertentu ekstrak yang diperoleh dari prosedur  2

2 dandan 33 masing-masingmasing-masing ditotolkan pada lempengditotolkan pada lempeng kromatografi lapis tipis, lalu dielusi dengan kromatografi lapis tipis, lalu dielusi dengan pengem- bang metanol-amonia (200:3), diukur dengan  bang metanol-amonia (200:3), diukur dengan spektro-fotodensitometer pada panjang gelombang maksimum fotodensitometer pada panjang gelombang maksimum nikotin 265 nm. Kadar nikotin dalam asap rokok dan nikotin 265 nm. Kadar nikotin dalam asap rokok dan filter rokok dihitung dengan bantuan

filter rokok dihitung dengan bantuan persamaan regresipersamaan regresi kurva kalibrasi.

kurva kalibrasi.

Hasil dan pembahasan

Hasil dan pembahasan

Dalam prosedur awal ekstraksi nikotin dalam asap Dalam prosedur awal ekstraksi nikotin dalam asap rokok yang dihasilkan alat simulasi alat perokok aktif  rokok yang dihasilkan alat simulasi alat perokok aktif  ditampung dalam larutan asam. Hal ini dilakukan ditampung dalam larutan asam. Hal ini dilakukan untuk mengubah nikotin basa yang terdapat dalam untuk mengubah nikotin basa yang terdapat dalam asap rokok berubah menjadi bentuk

asap rokok berubah menjadi bentuk garamnya. Nikotingaramnya. Nikotin yang telah diubah menjadi bentuk garamnya lalu yang telah diubah menjadi bentuk garamnya lalu

(3)

 Irda Fidrianny, dkk.  Irda Fidrianny, dkk.

lain dalam asap rokok yang tidak larut dalam asam. lain dalam asap rokok yang tidak larut dalam asam.  Nikotin dalam bentuk garamnya larut dalam air tetapi  Nikotin dalam bentuk garamnya larut dalam air tetapi tidak larut dalam eter. Dengan demikian nikotin dalam tidak larut dalam eter. Dengan demikian nikotin dalam  bentuk garamnya tetap berada dalam fase air. Setelah  bentuk garamnya tetap berada dalam fase air. Setelah itu fase airnya dibasakan dengan amonia untuk  itu fase airnya dibasakan dengan amonia untuk  mengubah nikotin menjadi bentuk basanya yang mengubah nikotin menjadi bentuk basanya yang kemu-dian diekstraksi dengan kloroform.

dian diekstraksi dengan kloroform.

Hasil analisis kualitatif nikotin dalam asap dan filter  Hasil analisis kualitatif nikotin dalam asap dan filter  rokok serta nikotin baku secara kromatografi lapis tipis rokok serta nikotin baku secara kromatografi lapis tipis dengan menggunakan fas

dengan menggunakan fase diam silika gel, e diam silika gel, tiga macamtiga macam   pengembang metanol-amonia (200:3),   pengembang metanol-amonia (200:3), kloroform-metanol (9:1), sikloheksana-toluena-dietilamin (75:15: metanol (9:1), sikloheksana-toluena-dietilamin (75:15: 10) dan penam

10) dan penampak bercak Dpak bercak Dragendorff ragendorff menun-jukkanmenun-jukkan   bahwa

  bahwa cuplikan cuplikan asap asap rokok rokok dan fdan filter ilter rokok rokok mengan- mengan-dung nikotin.

dung nikotin. Kadar Kadar nikotin samnikotin sampai sekecil pai sekecil 1,941,94µµg.g.   pada lempeng kromatografi lapis tipis masih dapat   pada lempeng kromatografi lapis tipis masih dapat

terdeteksi dengan jelas. terdeteksi dengan jelas.

Hasil analisis kualitatif nikotin dalam asap rokok  Hasil analisis kualitatif nikotin dalam asap rokok  secara spektrofotometri ultraviolet dan inframerah secara spektrofotometri ultraviolet dan inframerah menunjukkan bahwa cuplikan yang diuji mempunyai menunjukkan bahwa cuplikan yang diuji mempunyai spektrum ultraviolet dan inframerah yang sama dengan spektrum ultraviolet dan inframerah yang sama dengan nikotin baku. Hal ini menunjukkan bahwa cuplikan nikotin baku. Hal ini menunjukkan bahwa cuplikan adalah nikotin.

adalah nikotin.

Dari kurva kalibrasi nikotin baku diperoleh persamaan Dari kurva kalibrasi nikotin baku diperoleh persamaan regresi

regresi y y = = 1,79 1,79 x x + + 9,065 9,065 dengan dengan koefisien koefisien korelasikorelasi r = 0,99. Hasil perolehan kembali nikotin dalam asap r = 0,99. Hasil perolehan kembali nikotin dalam asap rokok dan filter rokok secara spektrofotodensitometri rokok dan filter rokok secara spektrofotodensitometri adalah: 99,08

adalah: 99,08 ±± 0,17 % dan 99,040,17 % dan 99,04 ±± 0,12 %. Hal ini0,12 %. Hal ini menunjukkan bahwa prosedur yang digunakan menunjukkan bahwa prosedur yang digunakan membe-rikan hasil

rikan hasil perolehan kembali perolehan kembali yang baik. yang baik. Hasil penen-Hasil penen-tuan perolehan kembali nikotin dapat dilihat pada tuan perolehan kembali nikotin dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1 :

Tabel 1 :Hasil perolehan kembali nikotin dalam asapHasil perolehan kembali nikotin dalam asap rokok

rokok secara secara spektrofotodensitometrispektrofotodensitometri Kadar Nikotin

Kadar Nikotin Sebenarnya Sebenarnya

Kadar Nikotin yang diperoleh Kadar Nikotin yang diperoleh

kembali kembali µ µgg %% µµgg % % Rata-rata Rata-rata (%)(%) 19,85 19,85 100 100 19,68 19,68 99,1199,11 19,85 19,85 100 100 19,72 19,72 99,3499,34 19,85 19,85 100 100 19,68 19,68 99,1199,11 19,85 19,85 100 100 19,63 19,63 99,8999,89 19,85 19,85 100 100 19,63 19,63 99,8999,89 19,85 19,85 100 100 19,68 19,68 99,1199,11 99,08 99,08±±0,170,17

Kadar nikotin dalam asap rokok kretek berfilter lebih Kadar nikotin dalam asap rokok kretek berfilter lebih kecil daripada dalam asap rokok kretek tanpa filter. kecil daripada dalam asap rokok kretek tanpa filter.

Hal ini disebabkan karena dengan adanya filter  Hal ini disebabkan karena dengan adanya filter  sebagian nikotin dalam asap rokok tertahan dalam sebagian nikotin dalam asap rokok tertahan dalam filter yang memang dibuat untuk maksud tersebut. filter yang memang dibuat untuk maksud tersebut. Kadar nikotin dalam asap rokok kretek berfilter  Kadar nikotin dalam asap rokok kretek berfilter  ataupun rokok kretek tanpa filter lebih kecil daripada ataupun rokok kretek tanpa filter lebih kecil daripada dalam asap rokok putih. Hal ini disebabkan karena dalam asap rokok putih. Hal ini disebabkan karena dalam rokok kretek berfilter ataupun tanpa filter  dalam rokok kretek berfilter ataupun tanpa filter  sebagian jumlah tembakau digantikan dengan sebagian jumlah tembakau digantikan dengan penam- bahan sejumlah komponen cengkeh, sedangkan dalam  bahan sejumlah komponen cengkeh, sedangkan dalam rokok putih semuanya terdiri dari komponen rokok putih semuanya terdiri dari komponen tem-  bakau. Dengan demikian jumlah tembakau dalam   bakau. Dengan demikian jumlah tembakau dalam rokok kretek berfilter ataupun tanpa filter lebih sedikit rokok kretek berfilter ataupun tanpa filter lebih sedikit   bila dibandingkan dengan jumlah tembakau dalam   bila dibandingkan dengan jumlah tembakau dalam rokok putih, sehingga kadar nikotin dalam rokok  rokok putih, sehingga kadar nikotin dalam rokok  kretek berfilter ataupun tanpa filter lebih kecil daripada kretek berfilter ataupun tanpa filter lebih kecil daripada dalam rokok putih. Hasil penentuan kadar nikotin dalam rokok putih. Hasil penentuan kadar nikotin dalam asap rokok dapat dilihat pada Tabel 3.

dalam asap rokok dapat dilihat pada Tabel 3.

Kadar nikotin dalam filter yang berasal dari alat Kadar nikotin dalam filter yang berasal dari alat simulasi perokok aktif lebih besar daripada dalam filter  simulasi perokok aktif lebih besar daripada dalam filter  rokok yang berasal dari sukarelawan. Hal ini rokok yang berasal dari sukarelawan. Hal ini disebab-kan karena rokok yang dihisap dengan alat simulasi kan karena rokok yang dihisap dengan alat simulasi dihisap

dihisap secara secara terus terus menerus menerus selama selama pembakaranpembakaran rokok

rokok sehingga sehingga jumlah jumlah nikotin nikotin yang yang tertahan tertahan padapada filter lebih besar. Sedangkan rokok yang dihisap oleh filter lebih besar. Sedangkan rokok yang dihisap oleh sukarelawan tidak dihisap secara terus

sukarelawan tidak dihisap secara terus menerus selamamenerus selama  pembakaran rokok sehingga jumlah nikotin yang akan  pembakaran rokok sehingga jumlah nikotin yang akan tertahan pada filter lebih kecil. Hasil penentuan kadar  tertahan pada filter lebih kecil. Hasil penentuan kadar  nikotin dalam filter rokok dapat dilihat pada Tabel 4 nikotin dalam filter rokok dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5.

dan Tabel 5. Tabel 2

Tabel 2 : Hasil perolehan kembali nikotin : Hasil perolehan kembali nikotin dalam filter dalam filter  rokok secara spektrofotodensitometri

rokok secara spektrofotodensitometri Kadar nikotin

Kadar nikotin sebenarnya sebenarnya

Kadar nikotin yang diperoleh Kadar nikotin yang diperoleh

kembali kembali µ µgg %% µµgg % % Rata-rata Rata-rata (%)(%) 1 199,,8855 110000 1919,,6633 9988,,8899 1 199,,885 5 10100 0 1919,,6688 9999,,1111 1 199,,885 5 10100 0 1919,,6633 9988,,8899 1 199,,885 5 10100 0 1919,,6688 9999,,1111 1 199,,885 5 10100 0 1919,,6688 9999,,1111 1 199,,885 5 10100 0 1919,,6688 9999,,1111 99,04 99,04±±0,120,12

Kesimpulan

Kesimpulan

Kadar nikotin dalam asap rokok putih lebih besar  Kadar nikotin dalam asap rokok putih lebih besar  daripada dalam asap rokok kretek berfilter ataupun daripada dalam asap rokok kretek berfilter ataupun tanpa filter. Kadar nikotin dalam filter rokok yang tanpa filter. Kadar nikotin dalam filter rokok yang dihisap alat simulasi perokok aktif lebih besar daripada dihisap alat simulasi perokok aktif lebih besar daripada kadar nikotin dalam filter rokok yang dihisap oleh kadar nikotin dalam filter rokok yang dihisap oleh sukarelawan

(4)

Tabel 3 :

Tabel 3 :Hasil penentuan kadar nikotin dalam asap rokok Hasil penentuan kadar nikotin dalam asap rokok  Kadar nikotin (mg/batang rokok) Kadar nikotin (mg/batang rokok) Jenis rokok  Jenis rokok  1 1 2 2 3 3 Rata-rataRata-rata Kretek Kretek A A 0,28 0,28 0,27 0,27 0,300,30 0,280,28±±0,020,02 B B 0,32 0,32 0,33 0,33 0,300,30 0,320,32±±0,020,02 C C 0,33 0,33 0,36 0,36 0,350,35 0,350,35±±0,020,02 Filter Filter D D 0,48 0,48 0,45 0,45 0,510,51 0,480,48±±0,030,03 E E 0,44 0,44 0,45 0,45 0,480,48 0,460,46±±0,020,02 F F 0,35 0,35 0,33 0,33 0,360,36 0,350,35±±0,020,02 Putih Putih G G 0,83 0,83 0,89 0,89 0,910,91 0,880,88±±0,040,04 H H 1,14 1,14 1,11 1,11 1,161,16 1,141,14±±0,030,03 I I 1,20 1,20 1,21 1,21 1,231,23 1,211,21±±0,020,02 Keterangan: A, B, C = rokok kretek berfilter;

Keterangan: A, B, C = rokok kretek berfilter; D, E,

D, E, F = F = rokok kretek rokok kretek tanpa filter; tanpa filter; G, HG, H, I , I = = rokok putihrokok putih

Tabel 4

Tabel 4: Hasil penentuan kadar : Hasil penentuan kadar nikotin dalam filter nikotin dalam filter rokok yang berasarokok yang berasall dari alat simulasi perokok aktif 

dari alat simulasi perokok aktif 

Kadar nikotin (mg/batang rokok) Kadar nikotin (mg/batang rokok) Jenis rokok  Jenis rokok  1 1 2 2 3 3 Rata-rataRata-rata A A 00,,4466 00,,5555 0,,40411 00 4747±±00 0707 B B 00,,3388 00,,4411 00,,4400 0,400,40±±0,020,02 C C 00,,4411 00,,5544 00,,4466 0,470,47±±0,070,07 Keterangan: A, B, C = rokok kretek berfilter 

Keterangan: A, B, C = rokok kretek berfilter 

Tabel 5 :

Tabel 5 :Hasil penentuan kadar nikotin dalam filter rokok yang berasal dariHasil penentuan kadar nikotin dalam filter rokok yang berasal dari sukarelawan

sukarelawan

Kadar nikotin (mg/batang rokok) Kadar nikotin (mg/batang rokok) Jenis rokok 

Jenis rokok  1 1 2 2 3 3 Rata-rataRata-rata A A 0,28 0,28 0,26 0,26 0,260,26 0,270,27±±0,020,02 B B 0,32 0,32 0,28 0,28 0,290,29 0,300,30±±0,020,02 C C 0,34 0,34 0,37 0,37 0,390,39 0,370,37±±0,030,03 Keterangan: A, B, C = rokok kretek berfilter 

Keterangan: A, B, C = rokok kretek berfilter 

Daftar pustaka

Daftar pustaka

1.

1. Stedman, Stedman, R.L., R.L., 1968, 1968, The The Chemical Chemical CompositionComposition of Tobacco and Tobacco Smoke,

of Tobacco and Tobacco Smoke, Chemical Re-Chemical Re-views

views, 68(2), 153-207., 68(2), 153-207.

2.

2. Gilman, A.G.Gilman, A.G.et al et al . (Eds.), 1991,. (Eds.), 1991,The Pharmacolo-The Pharmacolo-  gical Basis of Therapeutics

  gical Basis of Therapeutics, Vol. I, Pergamon, Vol. I, Pergamon Press, S

Press, Singapore, ingapore, 180-181, 545-549, 180-181, 545-549, 563.563. 3.

3. Reynolds, J.E.F. (Ed.), 1993,Reynolds, J.E.F. (Ed.), 1993,   Martindale: The  Martindale: The   Extra Phramacopoeia

  Extra Phramacopoeia, , 3030thth ed., The Pharmaceu-ed., The Pharmaceu-tical

(5)

 Irda Fidrianny, dkk.  Irda Fidrianny, dkk.

4.

4. Gritter, Gritter, R.J. R.J. , , 1991,1991, Pengantar Kromatografi  Pengantar Kromatografi , ed., ed. 2, terjemahan Padmawinata K., Penerbit ITB, 2, terjemahan Padmawinata K., Penerbit ITB, Bandung, 107-155.

Bandung, 107-155. 5.

5. Moffat, A.C.. et al. (Eds.), 1986,Moffat, A.C.. et al. (Eds.), 1986,Clarke’s IsolationClarke’s Isolation and Identification of Drugs

and Identification of Drugs, , 22ndnd ed., The Phrama-ed., The Phrama-ceutical

ceutical Press, Press, London, London, 807-808.807-808.

6.

6. Stahl, E., 1985,Stahl, E., 1985,   Analisis Obat Secara Kroma-  Analisis Obat Secara Kroma-tografi dan Makroskopi 

tografi dan Makroskopi , terjemahan Padmawinata, terjemahan Padmawinata K. dan Soediro I., Penerbit ITB, Bandung, 3-10. K. dan Soediro I., Penerbit ITB, Bandung, 3-10. 7.

7. Windholz, M.(Ed.), 1976,Windholz, M.(Ed.), 1976,The Merck Index The Merck Index , 9, 9ththed.,ed., Merck and Co.,

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :