• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan moral remaja. Dimana konsep-konsep ini akan membantu dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan moral remaja. Dimana konsep-konsep ini akan membantu dalam"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai konsep dari pola asuh orang tua dan perkembangan moral remaja. Dimana konsep-konsep ini akan membantu dalam menjelaskan mengenai hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan moral remaja.

1. Pola Asuh Orang tua

1.1.Pengertian Pola Asuh Orang tua

Pengasuhan menurut Porwadarminta (dalam Amal, 2005) adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin atau mengelola. Pengasuhan yang dimaksud disini adalah mengasuh anak. Menurut Darajat (dalam Amal, 2005) mengasuh anak maksudnya adalah mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan, minumnya, pakaiannya dan keberhasilannya dalam periode yang pertama sampai dewasa. Dengan pengertian di atas dapatlah dipahami bahwa pengasuhan anak yang dimaksud adalah kepemimpinan, bimbingan yang dilakukan terhadap anak berkaitan dengan kepentingan hidupnya.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2002), pengertian pola asuh adalah merupakan suatu bentuk (struktur), system dalam menjaga, merawat, mendidik dan membimbing anak kecil. Sedangkan pola asuh menurut Soetjiningsih (2004) adalah suatu model atau cara mendidik anak yang merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya.

(2)

xix

Dalam laporan Temu Ilmiah Sistem Kesejahteraan Anak Nasional, 1998 (dalam Garliah, 2003) pola asuh orang tua dirumuskan sebagai seperangkat sikap dan perilaku yang tertata, yang diterapkan oleh orang tua dalam berinteraksi dengan anaknya.

Kohn, 1986 (dalam Tarmudji, 1991) mengatakan bahwa pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orang tua ini meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritasnya, dan cara orang tua memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anaknya.

Ukuran keluarga mempunyai pengaruh terhadap pola asuh keluarga dan hasil-hasil yang dicapai oleh anak. Keluarga besar dan keluarga kecil secara kualitatif menggambarkan pengalaman-pengalaman perkembangan. Anak-anak yang berasal dari keluarga kecil menerima lebih banyak perhatian daripada anak-anak dari keluarga yang besar. Penelitian telah menghubungkan perbedaan ini dengan perkembangan intelektual dan penampilan prestasi di sekolah (Feiring dan Lewia, 1984).

1.2.Tipe Pola Asuh Orang tua

Baumrind (1989), mengemukakan tiga pola asuh orang tua, yaitu : a. Pola Asuh Authoritarian (Otoriter)

Pola asuh ini ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi dan orang tua memaksa anak untuk berperilaku seperti yang diinginkan. Bila aturan-aturan ini dilanggar, orang tua akan menghukum anak dengan hukuman yang biasanya bersifat fisik. Tapi bila anak patuh maka orang tua tidak memberikan hadiah karena sudah dianggap sewajarnya bila anak menuruti kehendak orang tua.

(3)

Perilaku orang tua dalam berinteraksi dengan anak bercirikan tegas, suka menghukum, anak dipaksa untuk patuh terhadap aturan-aturan yang diberikan oleh orang tua tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alas an dibalik aturan tersebut, serta cenderung mengekang keinginan anak. Pola asuh otoriter dapat berdampak buruk pada anak, yaitu anak merasa tidak bahagia, ketakutan, tidak terlatih untuk berinisiatif (kurang berinisiatif), selalu tegang, cenderung ragu, tidak mampu menyelesaikan masalah, kemampuan komunikasinya buruk serta mudah gugup, akibat seringnya mendapat hukuman dari orang tua. Dengan pola asuh seperti ini, anak diharuskan untuk berdisiplin karena semua keputusan dan peraturan ada di tangan orang tua.

b. Pola Asuh Authoritative (Demokratis)

Pola asuh demokratik ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginannya serta belajar untuk dapat menanggapi pendapat orang lain. Orang tua bersikap sebagai pemberi pendapat dan pertimbangan terhadap aktivitas anak. Dengan pola asuhan ini, anak akan mampu mengembangkan kontrol terhadap perilakunya sendiri dengan hal-hal yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini akan mendorong anak untuk mampu berdiri sendiri, bertanggung jawab dan yakin terhadap diri sendiri. Daya kreativitasnya berkembang dengan baik karena orang tua selalu merangsang anaknya untuk mampu berinisiatif.

Menurut Shochib (dalam Yuniyati, 2003), orang tua menerapkan pola asuh demokratis dengan banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat keputusan secara bebas, berkomunikasi dengan lebih baik, mendukung anak untuk memiliki kebebasan sehingga anak mempunyai kepuasan sedikit menggunakan

(4)

xxi

hukuman badan untuk mengembangkan disiplin. Pola asuh authoritative dihubungkan dengan tingkah laku anak-anak yang memperlihatkan emosional positif, sosial, dan pengembangan kognitif.

c. Pola Asuh Permessive (Permisif)

Pola asuh ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anaknya untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua tidak pernah memberi aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa pertimbangan dari orang tua. Anak tidak tahu apakah perilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah membenarkan atau menyalahkan anak. Akibatnya anak akan berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak.

Dengan pola asuh seperti ini, anak mendapatkan kebebasan sebanyak mungkin dari orang tua. Pola asuh permisif memuat hubungan antara anak-anak dan orang tua penuh dengan kasih sayang, tapi menjadikan anak agresif dan suka menurutkan kata hatinya. Secara lebih luas, kelemahan orang tua dan tidak konsistennya disiplin yang diterapkan membuat anak-anak tidak terkendali, tidak patuh, dan tingkah laku agresif di luar lingkungan keluarga.

Tipe pola asuh menurut Maccoby dan Martin, 1983 (dalam Parke dan Locke, 1999) terdiri dari empat tipe yaitu : authoritarian (otoriter), authoritative (demokratis), permissive dan uninvolved parenting (Neglectful), yaitu pola asuh dimana orang tua tidak mau terlibat dan tidak mau pula terlalu memedulikan kehidupan anaknya. Menurut Maccoby dan Martin, tipe pola asuh ini bercirikan orang tua yang secara aktif melupakan anak mereka dan dimotivasi untuk melakukan apapun yang dibutuhkan untuk meminimalkan biaya, dan usaha berinteraksi dengan anak. Dengan pola asuh seperti ini, akan menimbulkan serangkaian dampak buruk.

(5)

Diantaranya anak akan mempunyai harga diri yang rendah, tidak punya control diri yang baik, kemampuan sosialnya buruk, dan merasa bukan bagian yang penting untuk orang tuanya.

Tipe pola asuh menurut Hoffman, 1970 (dalam Garliah, 2003) terdiri dari tiga tipe yaitu :

a. Induction (pola asuh bina kasih)

Adalah suatu teknik disiplin dimana orang tua memberi penjelasan atau alas an mengapa anak harus mengubah perilakunya. Pada tipe pola asuh seperti ini dijumpai perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi.

b. Power assertion (pola asuh unjuk rasa)

Adalah perilaku orang tua tertentu yang menghasilkan tekanan-tekanan eksternal pada anak agar mereka berperilaku sesuai dengan keinginan orang tua. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orang tua yang directive nya tinggi dan supportive rendah.

c. Love withdrawal (pola asuh lepas kasih)

Adalah pernyataan-pernyataan non fisik dari rasa dan sikap tidak setuju orang tua terhadap perilaku anak dengan implikasi tidak diberikannya lagi kasih saying sampai anak merubah perilakunya. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orang tua yang directive dan supportive rendah.

2. Kebiasaan Remaja dalam Mengkonsumsi Alkohol 2.1. Alkohol

Alkohol adalah zat yang diperoleh atas peragian atau fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari peragian tersebut akan diperoleh alkohol 15% tetapi

(6)

xxiii

dengan proses penyulingan atau destilasi dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%

Etanol adalah bentuk molekul sederhana dari alkohol yang sangat mudah diserap dalam saluran pencernaan mulai dari mulut, esofagus, lambung, sampai usus halus. Daerah saluran pencernaan yang paling banyak menyerap alkohol adalah bagian proksimal usus halus, disini juga diserap vitamin B yang larut dalam air, kemudian dengan cepat beredar dalam darah. Minum minuman beralkohol berarti mengkonsumsi antara 10-12 gram etanol (Neinstein, 2002).

Ada 3 golongan minuman beralkohol yaitu golongan A : kadar etanol 1%-5%(bir, green sand), golongan B : kadar etanol 5%-20% (anggur/ wine) dan golongan C : kadar etanol 20% -45% ( Whiskey, Vodka, TKW, Mainson House, Johny Walker, Kamput, Arak atau Tuak).

Alkoholism adalah keadaan penyalahgunaan serta ketergantungan alkohol. Sedangkan menurut National Council on Alkoholism tahun 1992 mendefenisikan bahwa alkoholism adalah suatu penyakit kronis progresif yang ditandai dengan hilangnya control akibat memakai alkohol dengan konsekuensi timbulnya masalah sosial, hukum, psikologi dan juga fisik. Gangguan psikiatri acap kali timbul selama dalam keadaan keracunan alkohol maupun dalam keadaan putus alkohol (Soetjiningsih, 2004).

Mengkomsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak akan menyebabkan ketergantungan dan toleransi terhadap jumlah dari alkohol yang dikomsumsi. Penggunaan alkohol jangka jumlah yang berlebihan bisa merusak berbagai organ di tubuh terutama hati, otak, dan jantung. Alkohol cenderung menyebabkan toleransi, teratur minum lebih dari 2 gelas alkohol per hari, bisa mengkomsumsi alkohol lebih

(7)

banyak dari non-alkoholik tanpa mengalami intoksikasi. 2008).

Adapun penyebab seseorang menjadi alkoholik banyak faktor ikut terlibat didalamnya. Faktor psikologis bahwa alkohol dalam jumlah sedikit dapat mengatasi keadaan cemas, gelisah, ketegangan, merasa kuat dan percaya diri, mengurangi perasaan nyeri dan merasa mampu mengatasi stress kehidupan sehari-hari (Soetjiningsih, 2004).

Teori psikodinamikpsikoanalitik mengatakan mereka yang pecandu alkohol adalah mereka yang mengalami fiksasi pada fase oral sehingga mereka memuaskan serta mengatasi frustasinya dengan minum-minum seperti alkohol. Sering mereka tergolong memiliki kepribadian anti sosial. Teori tingkah laku mengatakan bahwa efek reward setelah mereka minum dan terus ingin untuk minum seterusnya. Faktor genetik ikut berperan dalam memunculkan seseorang menjadi alkoholik, orang tua peminum, saudara kembar, akan menjadikan anknya juga alkoholik (Behrman, 2000).

Kriteria diagnostik untuk keracunan alkohol adalah : 1. Gejala terjadi segera setelah minum alkohol

2. Perubahan dalam tingkah laku dan psikologis berupa : tingkah laku agresif, emosi labil, gangguan dalam pertimbangan, gangguan fungsi sosial dan pekerjaan.

3. Satu atau lebih gejala sebagai berikut : bicara pelo/cadel, nistagmus, jalan terhuyung-huyung, gangguan koordinasi, gangguan pemusatan perhatian dan memori, stupor dan koma.

(8)

xxv

2.2. Faktor-faktor Penyebab Remaja Mengkonsumsi Alkohol

Ketersedian alkohol yang mudah dan dekat dengan masyarakat hanya salah satu dari beberapa faktor yang berperan pada penyalahgunaan zat, Irwan (1995) menyebutkan ada 5 faktor yang berperan dalam penyalahgunaan zat :

1. Kepribadian (antisocial/psikopatik) 2. Kondisi kejiwaan (kecemasan/depresi)

3. Kondsi keluarga (keutuhan keluarga,kesibukan orang tua, komunikasi orang tua dan anak

4. Kelompok teman sebaya

5. Zat nya itu sendiri (mudah diperoleh di pasaran, resmi/tidak resmi)

Sedangkan menurut Rutter dalam Irwan mengemukakan hal-hal berikut sebagai faktor-faktor penyebab remaja mengkomsumsi alkohol adalah :

1. Kematian orang tua (broken home by death)

2. Kedua orang tua bercerai atau berpisah (broken home by divorce/separation) 3. Hubungan orang tua kurang harmonis (poor marriage)

4. Hubungan anak-orang tua buruk (poor parent-child relationship) 5. Suasana rumah tanga yang tegang (high tension)

6. Suasana rumah tanga kurang kehangatan (low warmth) 7. Orang tua sibuk dan jarang di rumah (absent)

8. Orang tua memiliki kelainan kepribadian (personality disorder)

2.3. Efek yang Ditimbulkan Mengkonsumsi Alkohol

Efek yang ditimbulkan setelah mengkomsumsi alkohol dapat dirasakan segera dalam waktu beberapa menit saja, tetapi efeknya berbeda beda, tergantung dari jumlah atau kadar alkohol yang dikomsumsi. Alkohol merupakan depresan sistem

(9)

SSP, namun pada dosis rendah dapat bersifat sebagai stimulan. Pada dosis sedang dapat menyebapkan sedasi, eufpori, mudah terangsang, dan koordinasi. Apabila dosis dinaikkan akan terjadi ataksia, emosi labil, dan bicara yang kacau. Sedangkan pada dosis tinggi dapat menyebapkan penurunan kesadaran, gagal nafas, koma, kematian. (Soetjiningsih, 2004).

Penggunaan jangka panjang alkohol juga dapat menimbulkan efek yang tidak baik bagi tubuh :

1. Kadar asam urat yang rendah

2. Kadar zat besi yang rendah (Anemia) 3. Kerusakan kulit, diare, dan deoresi

4. Peradangan pada kerongkongan (esopagitis) 5. Peradangan pada lambung (gastritis, ulkus) 6. Peradangan pada hati (hepatitis, sirosis, kanker) 7. Peradangan pancreas (pankreatitis)

8. Denyut jantung abnormal (aritmia, gagal jantung) 9. Tekanan darah tinggi, stroke, aterosklerosis

10. Pada otak dapat mengakibatkan berkurangnya koordinasi, ingatan jangka pendek yang buruk, psikosa, kebingungan

11. Pada saraf dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan untuk berjalan (kerusakan saraf di lengan dan tungkai yang mengendalikan pergerakan).

2.4. Perubahan/Dampak Mengkonsumsi Alkohol

Dampak sosial yang bisa dirasakan dalam penyalahgunaan zat termasuk alkohol yaitu kepada diri sendiri, kepada keluarga, dan kepada masyarakat.

(10)

xxvii 1 . Bagi diri sendiri :

a) Merusak syaraf dan organ tubuh lain b) Memupus IMTAQ

c) Menurunkan semangat belajar

d) Mengakibatkan perilaku menyimpang e) Memicu tindakan tidak bermoral f) Mengakibatkan pelanggaran hokum 2 . Bagi orang tua dan keluarga

- Menyebapkan beban mental dan emosional - Menyebapkan beban biaya yang tinggi

- Menimbulkan rasa malu dan penderitaan yang berkepanjangan - Merusak hubungan kasih sayang antar anggota keluarga 3 . Bagi lingkungan masyarakat

a) Menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban b) Mengakibatkan hilangnya kepercayaan

c) Mendorong tindak kejahatan

d) Menimbulkan beban ekonomi dan sosial yang besar

2.5. Tingkatan Pengkonsumsi Alkohol

Sejauh ini belum ada ketentuan atau standar yang menegaskan tentang tingkat keamanan peminum alkohol secara, namun Woteki dan Thomas (1992) mengelompokkan peminum alkohol secara sederhana dalam 3 kelompok :

(11)

1. Kelompok pertama adalah “peminum ringan” (linght drinker) yaitu mereka yang mengkomsumsi antara 0,28 s/d 5,9 gram atau ekuivalen dengan minum 1 botol bir atau kurang.

2. Kelompok kedua adalah “peminum menengah” (moderate drink). Kelompok ini mengkomsumsi antara 6,2 s/d 27,7 gram alkohol atau setara dengan 1 s/d 4 botol bir per hari.

3. Kelompok ketiga adalah “peminum berat” (heavy drinker) yang mengkomsumsi lebih dari 28 gram alkohol per hari atau lebih dari 4 botol bir sehari.

( www.ristek.go.id ,2007)

Sedangkan menurut (Irwan H, 2008) perubahan perilaku tidak bisa menjadi patokan bahwa seseorang itu pecandu atau bukan. 3 tingkatan seseorang untuk menjadi pecandu yaitu : 1). Tingkat coba-coba dengan kebiasaan menyendiri, pergaulan berubah, perubahan cara berpakaian, perubahan aktivitas, mulai keluar malam, perubahan pola makan, 2). Tingkat pengguna tetap dengan kebiasaan sering bangun terlambat, semakin sering menyendiri, sering bolos, aktivitas spiritual berkurang, adanya penelpon yang aneh-aneh, mulai merokok, muncul problema keuangan, adanya skors dari sekolah, adanya pemberontakan, mulai menyenangi musik dan lirik narkoba, menggunakan istilah-istilah yang biasa digunakan pecandu, mulai sering lama di kamar mandi, 3). Tingkat kecanduan dengan kebiasaan penggunaan uang berlebihan, sering tidak pulang ke rumah, sering mengantuk, pola pikir aneh, ada keinginan bunuh diri, temannya biasanya peminum juga juga, sering marah kalau ditanya tentang kondisi kesehatannya.

Referensi

Dokumen terkait

adalah untuk lebih mendalami pribadi anak, merangsang kecerdasan, dan mengasah bakat anak. Pola interaksi pembelajaran yang baik di TK dimaksudkan untuk lebih

Gambar 3 menunjukkan tampilan awal saat pertama kali game dijalankan dan muncul suara backsound sebagai pengiring game dilanjutkan ke menu awal pada gambar 4

Untuk mendapat status gizi yang baik selama kehamilan maka ibu dalam keadaan hamil harus cukup mendapatkan makanan bagi dirinya sendiri maupun janinnya, makanan

Tilaar, 1997 (Sambeta, 2010) mengemukakan bahwa pendidikan pada saat ini dihadapkan pada tuntutan tujuan yang semakin canggih, semakin meningkat baik ragam, lebih-lebih

Sependapat dengan asumsi Gell, pertunjukan fire dance oleh komunitas Flownesia dapat menjadi iklan dalam sebuah acara, iklan yang dimaksud adalah efek enchanting yang dihasilkan

Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan, maka penelitian tentang optimasi parameter respon mesin cetak sistem injeksi perlu dilakukan dengan prosedur terpadu yang

Fungsi dari aplikasi ini adalah untuk memasukan data barang masuk dan data barang keluar , pada aplikasi ini proses penginputan data barang dilakukan dengan cara memasukan

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi proses produksi modifikasi terhadap metode dan suhu filling pada jamu kunyit asam yang ditinjau dari karakteristik