Nama: Ratna Mustika Sari Nomor Mahasiswa: (13/359663/PSP/4965)
Complain System dan Penciptaan Ruang Pelayanan Publik Berbasis Hak Warga Negara A. Latar Belakang
Tulisan ini membahas mengenai complain system sebagai upaya pemenuhan hak warga negara atas pelayanan publik berkualitas. Hal ini menjadi penting karena demokrasi seharusnya melahirkan perlindungan dan penyediaan hak pelayanan publik bagi warga negara serta menyediakan ruang bagi warga negara untuk mengontrol urusan publik. Mengarahkan konsolidasi demokrasi yang saat ini sedang berjalan di Indonesia menuju demokrasi substantive membutuhkan tidak hanya bekerjanya institusi politik dan procedural. Hal yang lebih penting dan utama adalah civil society memonitor dan mengkritsi institusi negara, mengidentifikasi masalah social politik, menggencarkan diskusi tentang masa depan negara dan menstimulus kesadaran politik warganegara (Elliot 2003: Alagappa 2004).
Pemilu demokratis menjadi prasarat lain menuju demokrasi yang substantive. Freedom house1 menyebutkan bahwa indicator Pemilu demokratis meliputi: adanya persaingan yang kompetitif dalam system politik multipartai; adany hak untuk memilih bagi semua warganegara yang telah cukup umur; adanya jaminan dari kerahasiaan dan keamanan surat suara serta tidak ada kecurangan dalam penghitungan suara sehingga akan melahirkan wakil rakyat yang sesuai dengan kehendak publik; Terakhir, adanya akses publik yang signifikan terhadap partai politik bagi mereka yang berhak untuk memilih baik melalui media dan berbagai kampanye politik terbuka lainnya.
Pemilu yang demokratik belum tentu melahirkan demokrasi liberal. Dimana dalam pemilu yang demokratis, pemilu yang layak akan berdampingan dengan beberapa
1
Problem Of Democratitation in Indonesia: An Overview (marcus Mietzner and Edward Aspinall) dalam Problem of Democratitation in Indonesia (elections, institutions, and society), Institute Of southeast Asian Studies, 2010.
kecacatan serius dalam implementasi hak individu, penegakan hukum dan berbagai kondisi krusial menuju masyarakat yang bebas. Apabila kondisi ini bisa dilalui, akan melahirkan demokrasi liberal dimana selain menikmati pemilu yang bebas jujur dan adil lebih jauh memiliki peluang besar bagi kebebasan sipil. Berdasar data dari freedom house, hanya 89 dari 199 Pemilu yang demokratis melahirkan demokrasi liberal, termasuk Indonesia didalamya.
Konsolidasi demokrasi di Indonesia gagal memenuhi keterjaminan dan keamanan surat suara sehingga terjadi manipulasi penghitungan suara yang pada akhirnya melahirkan elit yang tidak sesuai dengan harapan publik. Menurut catatan Diamond, bahwa kualitas Pemilu 2009 diragukan karena suara hasil pemilu 2009 dimanipulasi secara sistematis oleh pemerintah pusat untuk melanggengkan kekuasaan yang ada.
Selain problem cacatnya Pemilu demokratis, demokratisasi di Indonesia mengalami problem representative. Elit yang berkuasa seringkali tidak merepresentasikan kepentingan pihak yang direpresentasikan (baca: warga negara), mereka adalah wakil atas dirinya sendiri dan lingkaran tim suksesnya. Kepentingan warga negara seringkali diabaikan, bahkan dianggap selesai dengan transaksi suara dalam Pemilu. Ketika transaksi itu selesai, maka selesai juga urusan representasi antara mereka yang mewakili (agen) dan yang diwakili (konstituen). Akibatnya, warga negara tidak bisa mewakilkan kepentingannya berkait dengan keputusan-keputusan publik kepada elit yang berkuasa. Ruang control atas urusan publik pun tidak tersedia. Warga negara diakui keberadaannya hanya saat menjelang Pemilu saja.
Representasi formal hadir pada sebatas kemampuan agen mengelola konstituen untuk kepentingan mendulang suara pada saat Pemilu. Representasi subtantif dimana agen membawa kepentingan dari konstituennya belum terbangun. Kegagalan representasi dalam demokrasi melahirkan kebijakan publik, pelayanan publik dan publik good yang tidak merepresentasikan sepenuhnya kepentingan warga negara.
Problem representasi menyebabkan adanya gap antara kepentingan warga negara dan kebijakan yang dibuat oleh lembaga-lembaga pranata negara, yang pada akhirnya
seringkali memunculkan krisis legitimasi2 berupa gugatan seperti korupsi, kekecewaan maupun lemahnya ketersambungan antara warga dengan wakil rakyat dan atau lembaga negara. Gap ini secara klasik dikelola melalui; (1) penguatan proses partisipasi warga dalam pengambilan keputusan dan (2) akuntabilitas dan (responsiveness).
Dewasa ini, pemikiran ini telah berkembang dengan membangun sebuah pertanyaan yang mendorong pemikir untuk merekonstruksi ulang bagaimana partisipasi, akuntabilitas dan responsiveness dapat terwujud. Pertanyaannya adalah bagaimana warga negara khususnya kelompok miskin dapat bersuara, dan mampu mempengaruhi dan bagaimana tanggungjawab berbagai institusi yang ada dapat bekerja effektif? Argumen ini membawa wacana partisipasi dan akuntabilitas insitusional harus mendasarkan diri pada hak, yang dalam konteks pembangunan, memperkuat status warga negara. Jika semula warga dirumuskan sekedar sebagai penerima manfaat maka dengan pendekatan hak maka warga negara dirumuskan sebagai pihak yang berhak dan sah atas pembangunan itu.
Gaventa menyatakan bahwa konsep hak, khususnya dalam kaitan dengan tanggungjawab negara, akan mendorong pertanyaan baru tentang makna dan wujud kewarganegaraan. Konsep klasik selama ini mendudukkan konsep kewargaan sebagai terminologi liberal dan didudukkan sebagai kesamarataan hukum perseorangan yang dilengkapi oleh seperangkat hak dan kewajiban yang dilimpahkan negara kepada individu yang bersangkutan. Menurut Gaventa, konsep lama ini terlalu state-centric. Konsep baru yang berkembang adalah menempatkan kewargaan sebagai konsep plural dan tidak semata berorientasi pada negara akan tetapi memberikan pendekatan baru melalui orentasi pelaku (actor oriented approach).
Pendekatan ini berpendapat bahwa kewarganegaraan itu dapat dicapai melalui peng-agen-an (agency) kewarganegaraan itu sendiri. Dengan demikian konsep ini mampu melintas-batas sekat negara-bangsa, menempatkan aktor-aktor non negara untuk
2
John Gaventa dalam “Introduction;Exploring Citizenship, Participation and
Accountability”, dalam IDS Bulletin Vol. 33, No. 2, 2002.Brighton: Institute of Development Studies, University of Sussex
aku-an atau claiming, monitoring dan penguatan hak nya sendiri karena pada dasarnya masing-masing warga memiliki identitis yang berbeda.
Dalam strukturasi Giddens, kehadiran agency adalah prasarat dari lahirnya struktrurasi yang memungkinkan struktur memberikan ruang bagi berperannya warga negara dalam struktur tersebut. Teori strukturasi gidden percaya bahwa demokrasi terjdi ketika struktur merespon dinamika dan adanya dialektika antara human action dalam struktur yang akan melahirkan strukturasi yang mampu merespon dinamika tersebut. Kata kunci dari demokrasi akhirnya adalah penciptaan ruang yang memberika kesempatan bagi warga negara untuk berperan didalamnya. Tidak semua Human action dalam teori strukturasi gidden mampu menciptakan ruang tersebut. Namun, human action yang digerakkan oleh agency lah yang mampu merubah struktur tersebut sehingga melahirkan perubahan atas struktur itu sendiri.
Ruang komplain adalah salah satu ruang yang memungkinkan warga negara berperan dalam perubahan stukrtur tersebut. Desain kelembagaan yang meletakkan fondasi dasar dari system komplain ini adalah ombudsman3. Kelembagaan ini hadir untuk memastikan hak dasar warga terpenuhi. Institusionalisasi kelembagaan ini muncul pasca rekomendasi ketetapan MPR nomor VIII 2001 tentang arah kebijakan negara yang bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Dalam catatan Teten Masduki4, kendati bukan lembaga yang baru, hadirnya lembaga ini adalah wujud dari negara (state) maupun masyarakat (society) terhadap kebutuhan
3
Secara etimologi ombudsman berasal dariSkandinavia yang diartikan sebagai; wakil sah seseorang. 4
Lembaga semacam ombudsman pernah dipraktikkan di Cina sekitar 2000 tahun lalu selama Dinasti Han dan di Korea pada era Dinasti Choseon. Adalah Swedia yang pertama kali mendirikan lembaga ombudsman klasik (Justice Ombudsman) pada tahun 1809. Lembaga Parliamentary Ombudsman (Folketingets Ombudsman) yang lebih modern mulai didirikan di Denmark tahun 1955 dan kemudian New Zealand pada tahun 1962. Umumnya tetap menggunakan nama ombudsman, meskipun di sejumlah negara (Perancis), Public Protector (Afrika Selatan), Wafaki Mohtasib (Pakistan), Lok Ayukta (India). Lihat Masduki, Teten, Ombudsman (Daerah) dan Permasalahannya. Makalah disampaikan dalam Seminar dan Lokakarya tentang Pembentukan Lembaga Ombudsman Daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia bekerja sama dengan Partnership for Governance Reform in Indonesia di Yogyakarta, 23 Oktober 2003
sebuah lembaga independen yang menerima dan menyelidiki keluhan-keluhan masyarakat yang menjadi korban kesalahan administrasi (maladministration) publik. Dengannya, kepastian terhadap hak akan berimplikasi baik secara langsung atau tidak langsung terhadap aspirasi kesejahteraan yang terangkum semisal dalam paparan awal tulisan ini. Sampai dengan sekarang, lembaga ombudsman secara beragam sedikitnya telah ada di 107 negara termasuk Indonesia. dan kurang lebih 50 diantaranya berlandaskan konstitusi dan lainnya diatur oleh undang-undang tersendiri. Dengan demikian, kajian tentang respon public complaint dalam konteks historisitas yang muncul baik atas inisiatif negara maupun masyarakat menjadi tema menarik untuk dikaji dalam rangka melihat tapak kerja pengembangan demokrasi yang berkualitas.
B. Rumusan Masalah
Demokrasi terjadi ketika birokrasi dan penyelenggara pemerintah (baca: struktur) merespon dinamika dalam masyarakat. Dengan demokrasi, masyarakat diberi ruang berpartisipasi dalam perumusan kebijakan sampai dengan melakukan komplain atas implementasi kebijakan. Pelembagaan komplain sistem baik yang bersifat internal maupun eksternal komplain adalah agency yang menjadi salah satu ruang bagi warga negara berperan dalam perbaikan sistem penyelenggaraan pemerintah. Manifestasi dari ruang tersebut mewujud dalam Lembaga Ombudsman Daerah sebagai lembaga komplain. LOD DIY ini dibangun atas desakan civil society di Yogyakarta pada tahun 2004. Kehadirannya selama 9 tahun telah menangani lebih dari 1000 komplain warga negara berkait pelayanan publik. Pertanyaannyan kemudian:
1. Bagaimana LOD DIY ini menjadi ruang pertarungan antara warganegara yang menuntut hak pelayanan publik dengan pemerintah daerah sebagai institusi yang seharusnya menyediakan layanan publik?
2. Bagaimana karakteristik warga negara yang telah menyampaikan laporan ke LOD DIY?
3. bagaimana lembaga-lembaga pranata negara merespon laporan tersebut?
4. Serta strukturasi seperti apakah yang mampu diciptakan dengan adanya pelapor dan LOD DIY sebagai agency bagi perbaikan struktur yang lebih sensitif terhadap pelayanan publik berbasis hak warga negara?