• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MODEL JOINT ECONOMIC LOT SIZE DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ADANYA IMPERFECT QUALITY PRODUCT DAN INSPECTION ERROR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGEMBANGAN MODEL JOINT ECONOMIC LOT SIZE DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ADANYA IMPERFECT QUALITY PRODUCT DAN INSPECTION ERROR"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MODEL JOINT ECONOMIC LOT SIZE DENGAN

MEMPERTIMBANGKAN ADANYA IMPERFECT QUALITY PRODUCT DAN

INSPECTION ERROR

Risky Rachmania, Suparno

Jurusan Teknik Industri

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111

Email : [email protected] ; [email protected] Abstrak

Saat ini persaingan di dunia bisnis telah bergeser dari antar perusahaan menjadi antar supply chain. Oleh karena itu, kerja sama antara pemasok, pemanufaktur, dan pembeli menjadi salah satu strategi untuk meminimalisasi total biaya. Hubungan tersebut akan mempengaruhi sistem persediaan. Salah satu penelitian yang menghasilkan model matematis untuk menentukan ukuran lot yang optimal dengan mengintegrasikan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemanufaktur dan pembeli adalah penelitian Lee (2005). Dalam penelitian tersebut, diasumsikan bahwa semua barang yang dihasilkan memiliki kualitas yang sama. Namun pada kenyataannya, ketidaksesuaian produk sangat sulit untuk dihilangkan dalam proses produksi. Selain itu, dalam proses inspeksi juga terdapat kemungkinan terjadinya kesalahan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan ukuran joint economic lot size dengan mempertimbangkan adanya imperfect quality product dan inspection error. Penelitian dilakukan dengan mengintegrasikan model Lee (2005) dan model Khan, Jaber, dan Bonney (2010). Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan contoh numerik, adanya imperfect quality product dan inspection error akan meningkatkan biaya sebesar 1,53%.

Kata Kunci : Lot size, imperfect quality product, inspection error

Abstract

Nowadays, business competition has entered supply chain competition era. Therefore, a good relationship between supplier, manufacturer, and buyer is one of strategy to minimize total cost. This relationship will influence system inventory. Lee (2005) made a mathematic model to determine optimal lot size which consider manufacturer’s costs and buyer’s costs. Lee assumed that all products have same quality. However, imperfect quality product is very difficult to be vanished in production process. And there is error probability in inspection process. Therefore, the objective of this research is to determine optimal joint economic lot size with imperfect quality product and inspection error. This research integrate Lee’s model (2005) and Khan, Jaber, and Boney’s (2010). Numerical example is used to evaluate this model. It shows that imperfect quality product and inspection error will increase 1,53% of total cost.

Keywords : Lot size, imperfect quality product, inspection error 1. Pendahuluan

Setiap perusahaan tentunya selalu berusaha mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk proses produksinya. Salah satu upaya yang

dilakukan oleh perusahaan untuk

meminimalisasi total biaya adalah dengan menerapkan konsep Just In Time (JIT), yaitu menyesuaikan jumlah produksi dengan jumlah permintaan konsumen sehingga biaya yang tidak memberikan nilai secara langsung terhadap produk dapat diminimalisasi atau bahkan

dihilangkan (Tersine, 1994). Dengan

menerapkan konsep JIT, diharapkan biaya produksi dan biaya penyimpanan produk dapat dikurangi. Namun komponen biaya yang terkait dengan proses produksi keseluruhan bukan hanya biaya produksi dan biaya penyimpanan produk, tetapi juga biaya yang harus dikeluarkan untuk pemesanan dan penyimpanan bahan baku. Oleh karena itu, pemanufaktur sebaiknya menyesuaikan jumlah bahan baku yang dipesan dari pemasok dengan jumlah permintaan pembeli sehingga diharapkan biaya total dapat diminimalisasikan.

(2)

Penelitian mengenai penentuan ukuran lot dengan mengintegrasikan antara pemasok, pemanufaktur, dan pembeli telah banyak dibahas dalam penelitian sebelumnya seperti penelitian yang dilakukan Lee (2005). Hasil dari penelitian tersebut adalah model untuk menentukan ukuran lot yang optimal dengan mempertimbangkan lot pemesanan raw material dari pemanufaktur ke pemasok, ukuran lot produksi, dan lot pemesanan produk jadi dari pembeli ke

pemanufaktur. Penelitian ini tidak

mempertimbangkan adanya produk yang kualitasnya tidak sempurna (imperfect quality) dalam proses produksi. Namun pada kenyataannya, ketidaksesuaian produk sangat sulit untuk dihilangkan dalam proses produksi.

Terdapat beberapa penelitian mengenai penentuan ukuran lot yang mempertimbangkan adanya imperfect quality pada produk. Salameh dan Jaber (2000) membuat model kuantitas pemesanan yang optimal dengan memperhatikan adanya imperfect quality item. Dalam model tersebut, produk imperfect quality dijual dalam

single batch dengan harga yang lebih murah dari

pada produk yang kualitasnya sesuai dengan standar. Maddah dan Jaber (2008) memperbaiki persamaan expected profit per unit time dan

optimal order quantity yang dibuat oleh

Salameh dan Jaber (2000). Penelitian ini juga mengembangkan konsep dalam penelitian sebelumnya dengan mengasumsikan penjualan produk imperfect quality dilakukan dalam satu lot pengiriman. Konsep penelitian Salameh dan Jaber (2000) juga dikembangkan oleh Khan, Jaber, dan Bonney (2010). Penelitian ini mempertimbangkan adanya kesalahan dalam pelaksanaan inspeksi produk dan biaya yang harus ditanggung akibat pelaksanan inspeksi, yaitu biaya inspeksi, biaya error tipe I dan tipe II.

Penelitian mengenai penentuan jumlah pemesanan optimal yang disebutkan di atas tidak mempertimbangkan adanya rantai pasok. Penelitian yang mempertimbangkan adanya rantai pasok dan imperfect quality product dilakukan oleh Nurzaman (2008). Penelitian ini

menghasilkan model matematis untuk

menentukan ukuran lot gabungan pemasok,

pemanufaktur, dan pembeli dengan

mempertimbangkan proses produksi yang tidak

sempurna. Dalam penelitian ini,

dipertimbangkan biaya garansi untuk

mengantisipasi adanya pengembalian produk

dari konsumen karena adanya produk imperfect

quality yang tersebar di pasaran.

Perusahaan selalu melakukan inspeksi

terlebih dahulu sebelum mengirimkan

produknya ke konsumen. Dari proses inspeksi tersebut, produk dikategorikan menjadi produk yang kualitasnya telah sesuai dengan standard dan produk imperfect quality. Jika tidak dimanfaatkan, produk imperfect quality akan menambah biaya perusahaan sehingga beberapa perusahaan melakukan penjualan produk tersebut dengan harga yang lebih rendah. Akan tetapi, terdapat kemungkinan terjadinya kesalahan dalam proses inspeksi sehingga produk imperfect quality dikategorikan menjadi produk yang berkualitas, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, dalam penelitian tugas akhir ini akan dikembangkan model matematis untuk menentukan ukuran lot yang optimal dengan mengintegrasikan lot pemesanan bahan baku, lot produksi, dan lot pengiriman produk ke pembeli dengan mempertimbangkan adanya imperfect

quality product dan inspection error pada

produk yang diproduksi oleh pemanufaktur. Model matematis dikembangkan dengan memadukan penelitian Lee (2005) dan penelitian Khan, Jaber, dan Bonney (2010).

Dari hasil penelitian akan didapatkan formulasi matematis untuk menentukan joint

economic lot size dengan mempertimbangkan

adanya imperfect quality product dan inspection

error. Model tersebut kemudian akan diuji

dengan menggunakan contoh numerik sehingga dapat diketahui pengaruh imperfect quality

product dan inspection error terhadap total

biaya. Selanjutnya, dilakukan analisis sensitivitas

untuk mengetahui pengaruh perubahan

parameter terhadap model yang dihasilkan.

2. Metodologi Penelitian

Penelitian terdiri dari empat tahapan, yaitu tahap identifikasi dan perumusan masalah, tahap pembuatan model, tahap pengujian model, serta tahap analisis dan kesimpulan.

Tahap Identifikasi dan Perumusan Masalah Tahap ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu

preliminary study literature, identifikasi dan

perumusan masalah, studi literatur, penetapan tujuan penelitian, dan identifikasi komponen model. Tahapan preliminary study literature dilakukan dengan membaca jurnal-jurnal penelitian serta penelitian tugas akhir yang telah dilakukan sebelumnya. Dari tahap ini, dapat

(3)

diketahui permasalahan yang akan diangkat dan dijadikan sebagai dasar dalam topik penelitian. Ide penelitian yang akan dilaksanakan adalah penentuan lot size dengan mempertimbangkan adanya produk yang tidak sempurna pada hasil produksinya.

Dari jurnal-jurnal dan laporan tugas akhir yang telah dibaca, maka dapat ditentukan permasalahan apa yang perlu diselesaikan dan belum terkandung dalam model-model yang dihasilkan dari penelitian sebelumnya. Dari hasil identifikasi tersebut, maka permasalahan dari penelitian yang akan dilakukan adalah bagaimana menentukan ukuran lot optimal yang mengintegrasikan lot pemesanan bahan baku, lot produksi, dan lot pengiriman produk ke pembeli dengan mempertimbangkan adanya imperfect

quality product.

Tahap selanjutnya adalah tahap studi literatur, dimana pada tahapan ini dilakukan pencarian referensi yang akan mendukung jalannya penelitian. Dengan adanya studi literatur, diharapkan peneliti akan memiliki pedoman dalam menyelesaikan permasalahan dan mencapai tujuan penelitian. Literatur yang digunakan diantaranya adalah mengenai kualitas, inspeksi, persediaan, model penentuan lot size gabungan pemasok, pemanufaktur, dan pembeli,

model penentuan lot size yang

mempertimbangkan imperfect quality product dan inspection errors.

Tahap penetapan tujuan penelitian dilakukan untuk merumuskan tujuan penelitian sehingga penyelesaian masalah dan pembahasan dalam penelitian akan menjadi fokus. Selain itu, perumusan tujuan juga dilakukan untuk menentukan dan merencanakan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan model penentuan Joint Economic Lot Size dengan mempertimbangkan adanya imperfect

quality product dan inspection error.

Tahap terakhir adalah melakukan

identifikasi komponen model. Komponen model yang ditentukan terdiri dari kriteria kinerja, variabel keputusan, parameter, serta batasan dan asumsi.

Tahap Pembuatan Model

Dalam tahap ini, terdapat dua model yang akan dirancang, yaitu model konseptual dan model matematis. Model konseptual dapat membantu dalam pembuatan model matematis sehingga lebih sistematis dan terstruktur. Hal ini

dikarenakan model konseptual menggambarkan sistem dan keterkaitan antar komponen-komponen yang ada di dalamnya. Model konseptual yang digunakan dalam penelitian ini adalah model influenced diagram.

Model matematis digunakan untuk membuat formulasi perhitungan dari kriteria kinerja yang telah didefinisikan sebelumnya, yaitu total cost. Total cost merupakan total dari komponen-komponen biaya yang terkait dengan sistem, diantaranya adalah order cost, holding

cost, purchase cost, error type I, error type II,

dll. Turunan dari total biaya akan menghasilkan formulasi matematis dari economic lot size.

Tahap Pengujian Model

Model matematis yang telah dihasilkan diuji dengan menggunakan uji konveksitas, contoh numerik, dan uji sensitivitas. Uji konveksitas dilakukan untuk membuktikan apakah nilai yang didapatkan dari fungsi matematis terletak di dalam batas fungsi konveks. Contoh numerik diambil dari contoh perhitungan pada penelitian sebelumnya. Tujuan dari pemberian contoh numerik adalah untuk membuktikan bahwa fungsi matematis memiliki nilai dan nilai tersebut bersifat feasible. Sedangkan uji sensitivitas digunakan untuk mengetahui perubahan hasil akhir yang diperoleh jika terjadi perubahan pada beberapa parameternya.

Tahap Analisis dan Kesimpulan

Tahap analisis dan kesimpulan merupakan tahap akhir penelitian. Tahap ini terdiri dari tahap analisis dan interpretasi model serta tahap penarikan kesimpulan dan saran. Pada tahap analisis dan interpretasi model, model yang telah dihasilkan dianalisis kriteria kinerjanya sehingga

dapat diketahui parameter apa yang

mempengaruhinya. Tahap kesimpulan dan saran berisikan kesimpulan akhir dari pembuatan model serta diberikan saran-saran mengenai pengembangan model selanjutnya atau mengenai aplikasi model di perusahaan.

3. Deskripsi Model

Pemanufaktur membutuhkan bahan baku untuk melakukan proses produksi. Bahan baku

dipesan dari pemasok sejumlah Qr, dimana

Qr=m.Qm/f. Bahan baku tersebut digunakan

dalam proses produksi untuk memenuhi permintaan pembeli. Agar tidak terjadi shortage, maka laju produksi (R) lebih tinggi dari pada laju permintaan (D). Jumlah lot dalam satu kali

(4)

produksi adalah sebesar Qm, dimana nilai Qm

adalah n kali ukuran lot pengiriman produk ke

pembeli (Q) sehingga Qr=m.Qm/f=m.n.Q/f.

Sebelum produk dikirim ke pembeli, dilakukan proses inspeksi untuk mengetahui imperfect

quality product dan good product. Proses

inspeksi diasumsikan tidak membutuhkan waktu. Dalam setiap produksi, terdapat sejumlah produk yang dikategorikan sebagai imperfect

quality product (B1). B1 terdiri dari imperfect quality product dan produk yang sesuai dengan

spesifikasi, tetapi dikategorikan sebagai

imperfect quality product (error tipe I).

Probabilitas terjadinya ketidaksempurnaan kualitas pada sejumlah produk adalah p, sedangkan probabilitas terjadinya error tipe I adalah m1.

Dalam proses inspeksi, juga terdapat error tipe II, yaitu mengklasifikasikan imperfect

quality product sebagai produk yang sesuai

dengan spesifikasi. Karena adanya error tipe II, maka dalam satu lot pengiriman produk ke pembeli (Q), terdapat beberapa imperfect quality

product. Hal ini menyebabkan terjadinya

pengembalian beberapa produk ke pemanufaktur

(B2). Produk yang dikembalikan oleh pembeli

dan produk yang sebelumnya telah

diklasifikasikan sebagai imperfect quality

product akan dijual ke pembeli lain. Lead time

dari pemanufaktur ke pembeli diasumsikan sama dengan nol.

Notasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

D = jumlah permintaan produk (unit/tahun) R = laju produksi (unit/tahun)

Q =ukuran lot pemesanan produk oleh pembeli (unit/pengiriman)

Qm = ukuran lot produksi (unit/setup)

Qr = ukuran lot pemesanan bahan baku

(unit/pengiriman)

cp = biaya pemesanan produk oleh pembeli

($/pemesanan)

cs = biaya setup produksi ($/setup)

cr =biaya pemesanan bahan baku ($/pemesanan)

hp = biaya penyimpanan produk oleh pembeli

($/unit/tahun)

hs =biaya penyimpanan produk yang sesuai

dengan spesifikasi ($/unit/tahun)

he =biaya penyimpanan imperfect quality

product ($/unit/tahun)

hr =biaya penyimpanan bahan baku

($/unit/tahun)

n = bilangan integer yang menentukan jumlah lot produksi berapa kali jumlah lot pengiriman produk ke pembeli

m = bilangan integer yang menentukan jumlah lot pemesanan bahan baku berapa kali jumlah lot produksi

f = faktor konversi dari bahan baku menjadi produk jadi

d = biaya inspeksi ($/unit/tahun)

p = probabilitas imperfect quality product

m1 = probabilitas terjadinya error tipe I

m2 = probabilitas terjadinya error tipe II

c1 = biaya error tipe I ($/unit/tahun)

c2 = biaya error tipe II ($/unit/tahun)

B1 = produk yang diklasifikasikan sebagai

imperfect quality product

B2= produk yang dikembalikan oleh pembeli ke

pemanufaktur

4. Model Matematis

Profil inventory dari model yang dikembangkan ditunjukkan pada gambar 1. Profil inventory tersebut akan dijadikan acuan dalam membuat formulasi matematis.

(5)

Raw material inventory Manufacturer finished goods Buyer inventory Time Time Time (Q-B2)/D Qm/P Qr/D Qr=m.Qm/f Qr=Qm/mf B1 Qr/R Qm/D

Gambar 1 Profil Inventory

Biaya Pemesanan Bahan Baku

Terdapat dua kebijakan yang mungkin dilakukan dalam menentukan ukuran lot pemesanan bahan baku. Kebijakan pertama yaitu pemesanan bahan baku dilakukan sebanyak satu kali untuk beberapa kali produksi. Kebijakan kedua adalah pemesanan bahan baku dilakukan beberapa kali untuk sekali produksi. Perhitungan biaya pemesanan bahan baku, dibedakan berdasarkan kedua kebijakan tersebut.

Kebijakan 1 : r C mnQ Df (1) Kebijakan 2 : r C nQ mDf (2)

Biaya Penyimpanan Bahan Baku

Biaya penyimpanan bahan baku

disesuaikan dengan kebijakan pemesanan bahan

baku sehingga terdapat dua formulsi matematis dalam menentukan biaya penyimpanan bahan baku, yaitu kebijakan 1 dan kebijakan 2.

Kebijakan 1 : r h R D m R fR mnQ D 1 1 1 2 1 (3) Kebijakan 2 : r h mfR DnQ 2 (4)

Biaya Setup Produksi

Biaya setup merupakan hasil perkalian antara intensitas produksi setiap periode dengan biaya setup setiap produksi. Intensitas produksi setiap periode merupakan hasil bagi antara jumlah permintaan dengan jumlah lot produksi.

s

C nQ

D

(6)

Biaya Penyimpanan Produk

Produk yang disimpan terdiri dari produk yang sesuai dengan spesifikasi dan imperfect

quality product. Kedua jenis produk tersebut

dijumlahkan, kemudian hasil penjumlahan dibagi dengan cycle length sebesar Qm/D. Hasil pembagian tersebut ditunjukkan pada persamaan (6). e s h npm m p m p n Q h m p R nQD n Q m p R QD 2 2 1 1 1 2 1 ) 1 ( ) 1 ( 1 ) 1 ( 2 1 ) 1 )( 1 ( 2 2 ) 1 ( ) 1 )( 1 ( (6) Biaya Inspeksi

Setelah proses produksi selesai, produk akan diinspeksi. Besarnya biaya inspeksi merupakan perkalian antara jumlah lot produksi dengan biaya inspeksi per unit.

Q n

d (7)

Biaya Error Tipe I

Dalam proses inspeksi terdapat

kemungkinan terjadi kesalahan error tipe I, yaitu mengklasifikasikan produk dengan kualitas yang sesuai dengan spesifikasi tetapi dikategorikan sebagai imperfect quality product. Jumlah produk akibat error tipe I ini adalah banyaknya produk yang sesuai dengan spesifikasi dikali probabilitas terjadinya error tipe I. Biaya yang harus dikeluarkan karena adanya error tipe I merupakan hasil perkalian antara banyaknya produk tersebut dengan biaya error tipe I.

1 1) ) 1 ( (nQ p m c (8)

Biaya Error Tipe II

Biaya error tipe II adalah perkalian antara

banyaknya produk akibat error tipe II (B2)

dengan biaya error tipe II setiap unit. 2 2 c m p Q n (9)

Biaya Pemesanan Produk

Dalam setiap lot yang dipesan, terdapat sejumlah imperfect quality product yang nantinya akan dikembalikan ke pemanufaktur. Untuk memenuhi kebutuhan, maka intensitas pemesanan harus mempertimbangkan adanya faktor imperfect quality product. Formulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan pemesanan produk ditunjukkan pada persamaan (10). p C pm Q D ) 1 ( 2 (10)

Biaya Penyimpanan Produk

Rata-rata inventory pembeli merupakan luas segi tiga pada gambar 1 dibagi dengan cycle

lengthnya. Formulasi matematis dari biaya

penyimpanan ditunjukkan pada persamaan (11). p h pm Q 2 ) 1 ( 2 (11)

Persamaan di atas kemudian dijumlahkan sehingga diperoleh persamaan total biaya seperti yang ditunjukkan pada persamaan (12) dan persamaan (13). Persamaan (12) adalah persamaan total biaya untuk kebijakan 1, sedangkan persamaan (13) adalah persamaan total biaya untuk kebijakan 2.

Kebijakan 1 p p e s s r r h pm Q C pm Q D c m p Q n c m p nQ Q n d h npm m p m p n Q h m p R nQD n Q m p R QD C nQ D h R D m R fR mnQ D C mnQ Df Q n m TC 2 ) 1 ( ) 1 ( ) ) 1 ( ( 2 1 ) 1 ( ) 1 ( 1 ) 1 ( 2 1 ) 1 )( 1 ( 2 2 ) 1 ( ) 1 )( 1 ( 1 1 1 2 1 ) , , ( 2 2 2 2 1 1 2 2 1 1 1 (12) Kebijakan 2 p p e s s r r h pm Q C pm Q D c m p Q n c m p nQ Q n d h npm m p m p n Q h m p R nQD n Q m p R QD C nQ D h mfR DnQ C nQ mDf Q n m TC 2 ) 1 ( ) 1 ( ) ) 1 ( ( 2 1 ) 1 ( ) 1 ( 1 ) 1 ( 2 1 ) 1 )( 1 ( 2 2 ) 1 ( ) 1 )( 1 ( 2 ) , , ( 2 2 2 2 1 1 2 2 1 1 1 (13)

(7)

Pada model yang dikembangkan, terdapat tiga variabel keputusan yang dicari, yaitu m, n, dan Q. Untuk menentukan nilai m dan n yang akan memberikan total biaya optimal, maka dilakukan iterasi mulai m=i dan n=j. Sedangkan variabel keputusan Q dicari dengan melakukan penurunan persamaan total biaya. Hasil dari penurunan tersebut ditunjukkan pada persamaan (14) untuk kebijakan 1 dan persamaan (15) untuk kebijakan 2. Kebijakan 1 ) 1 )( ( 2 ) 1 ( ) 1 ( 2 1 ) 1 ( ) 1 ( 1 ) 1 ( 2 1 ) 1 )( 1 ( 2 2 ) 1 ( ) 1 )( 1 ( 1 1 2 1 ) )( 1 ( 2 2 2 2 1 1 2 2 1 1 1 2 pm mn h pm c npm c p nm dn h npm m p m p n Q h m p R nQD n Q m p R QD h R D R Rm fR Dmn mnc mc fc pm D Q p e s r p s r (14) Kebijakan 2 ) 1 )( ( 2 ) 1 ( ) 1 ( 2 1 ) 1 ( ) 1 ( 1 ) 1 ( 2 1 ) 1 )( 1 ( 2 2 ) 1 ( ) 1 )( 1 ( 2 ) )( 1 ( 2 2 2 2 1 1 2 2 1 1 1 2 pm mn h pm c npm c p nm dn h npm m p m p n Q h m p R nQD n Q m p R QD h mfR Dn nc c fc pm m D Q p e s r p s r (15) Untuk membuktikan apakah solusi yang dihasilkan oleh model berada dalam batas konveks, maka dilakukan uji konveksitas dengan melakukan penurunan persamaan total biaya.

Apabila hasil deferensiasi tersebut lebih besar dari nol, maka fungsi tersebut merupakan fungsi konveks. Perhitungan deferensiasi persamaan total biaya ditunjukkan pada persamaan (16) untuk kebijakan 1 dan persamaan (17) untuk kebijakan 2.

Kebijakan 1 ) 1 ( 2 ) , , ( 2 3 2 2 pm c n c c mn f Q D Q Q n m TC s p r (16) Kebijakan 2 ) 1 ( 2 ) , , ( 2 3 2 2 pm c n c c n mf Q D Q Q n m TC s p r (17)

Dari persamaan (16) dan (17) di atas, faktor yang menyebabkan nilai negatif adalah

adalah p dan m2. Namun nilai p dan m2 lebih

kecil dari satu sehingga turunan kedua dari persamaan total biaya akan bernilai positif.

5. Contoh Numerik

Sebelum diberikan contoh perhitungan matematis, pada bagian ini akan dijelaskan mengenai langkah-langkah perhitungan yang digunakan dalam mencari titik optimal. Langkah-langkah perhitungan tersebut adalah sebagai berikut :

Langkah 1 :

Menentukan nilai m=1 dan n=1

Langkah 2 :

Menghitung nilai Q dengan menggunakan persamaan (4.13) untuk kebijakan 1 dan persamaan (4.14) untuk kebijakan 2. Apabila nilai Q tidak integer, maka dilakukan pembulatan.

Langkah 3 :

Menghitung total biaya (TC) untuk m=1 dan n=j dengan menggunakan persamaan (4.11) untuk kebijakan 1 dan persamaan (4.12) untuk kebijakan 2. Selanjutnya nilai TC dibandingkan dengan nilai TC yang didapatkan dari iterasi sebelumnya. Apabila nilai TC ketika m=i dan n=j lebih tinggi dari pada nilai TC ketika m=i dan n=j-1, maka perhitungan dilanjutkan ke langkah 5. Perhitungan juga dilanjutkan ke langkah 5 ketika nilai TC tidak feasible. Namun apabila nilai TC ketika m=i dan n=j lebih rendah dari pada nilai TC ketika m=i dan n=j-1, maka perhitungan dilanjutkan ke langkah 4.

Langkah 4 :

Menentukan nilai n=j+1 untuk iterasi baru. Kemudian mengulangi perhitungan pada langkah 2 dan langkah 3.

Langkah 5 :

Menentukan nilai m baru, yaitu m=i+1 dan menentukan nilai n=1. Kemudian mengulangi perhitungan pada langkah 2 hingga langkah 4.

(8)

Langkah 6 :

Menentukan nilai m, n, dan Q yang memberikan nilai TC terendah pada masing-masing kebijakan. Kemudian nilai TC pada kebijakan 1 dibandingkan dengan nilai TC pada kebijakan 2. Nilai TC yang lebih rendah akan dipilih sebagai nilai terbaik

Langkah 7 :

Menghitung nilai Qm dan Qr, dimana Qm=nQ

dan nilai Qr tergantung dari kebijakan yang

terpilih. Apabila yang terpilih adalah kebijakan

1, maka Qr=mnQ/f. Apabila yang terpilih adalah

kebijakan 2, maka Qr=nQ/mf.

Contoh numerik yang digunakan dalam penelitian ini mengambil nilai dari parameter yang ada di jurnal Lee (2005) dan jurnal Khan, Jaber, dan Bonney (2010). Parameter numerik yang digunakan antara lain : D = 1000 unit/tahun he = 5 $/unit R = 3200 unit/tahun f = 0,8 cp = 25 $/pemesanan d = 0,5 $/unit cs = 400 $/setup p = 0,02 cr = 2500 $/pemesanan m1 = 0,02 hp = 25 $/unit m2 = 0,02 hs = 20 $/unit c1 = 100 $/unit hr = 10 $/unit c2 = 500 $/unit

berdasarkan contoh numerik di atas, didapatkan nilai variabel keputusan yang akan memberikan biaya optimal adalah m=1, n=9,dan Q=51. Total biaya yang dihasilkan adalah 11.453. Selanjutnya dilakukan perhitungan pada Qm dan Qr sehingga didapatkan nilai Qm=51 dan Qr=574.

6. Analisis dan Interpretasi Model

Bagian ini berisikan analisis model yang dibuat. Dilakukan analisis sensitivitas dengan

melakukan perubahan pada parameter

probabilitas imperfect quality product dan

inspection error, holding cost produk, setup cost, dan order cost bahan baku. Selain itu, juga

dilakukan perbandingan antara model eksisting dengan model yang dikembangkan.

Pengaruh Probabilitas Imperfect Quality Product dan Inspection Error

Ketika probabilitas terjadinya imperfect

quality product diturunkan sebanyak 90%, maka

total biaya akan turun sebanyak 0,63%. Sedangkan peningkatan probabilitas imperfect

quality product sebanyak sepuluh dan dua puluh

lima kali lipat probabilitas awal akan meningkatkan total biaya sebanyak 5,66% dan 10,91%. Probabilitas error tipe I juga mempengaruhi total biaya secara keseluruhan. Ketika probabilitas error tipe I diturunkan sebanyak 90%, total biaya akan mengalami penurunan sebanyak 0,03%. Sedangkan peningkatan probabilitas sebanyak 900% dan 2400% akan meningkatkan total biaya sebanyak 9,91% dan 33,10%. Penurunan probabilitas

error tipe II sebanyak 90% akan menurunkan

biaya sebanyak 7,84%. Sedangkan apabila probabilitas dinaikkan dengan jumlah sepuluh dan dua puluh lima kali lipat dari probabilitas awal, maka total biaya akan naik menjadi 57,7% dan 110,91%.

Dari hasil uji sensitivitas tersebut, dapat disimpulkan bahwa probabilitas imperfect

quality product, probabilitas error tipe I, dan error tipe II berbanding lurus dengan total biaya

yang harus ditanggung. ketika nilai probabilitas semakin besar, maka total biaya akan semakin meningkat. Oleh karena itu, dalam kegiatan produksi, probabilitas imperfect quality product dan inspection error harus diminimalisasi agar total biaya dapat direduksi.

Pengaruh Holding Cost Produk

Berdasarkan hasil uji sensitivitas,

peningkatan holding cost untuk produk yang sesuai dengan spesifikasi akan meningkatkan total biaya. Ketika holding cost dinaikkan lima kali lipat dan satu setengah kali lipat, maka biaya total akan naik sebanyak 58,03% dan 31,24%.

Sedangkan apabila biaya penyimpanan

diturunkan sebanyak 75%, maka biaya akan turun sebanyak 22,03%. Akan tetapi, jumlah pengiriman barang ke konsumen akan semakin sering ketika holding cost tersebut semakin rendah. Ketika holding cost dinaikkan menjadi 100, pengiriman produk ke konsumen hanya dilakukan satu kali. Dan ketika holding cost diturunkan menjadi 4, jumlah pengiriman produk ke konsumen meningkat menjadi 13 kali. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai

(9)

untuk segera mengosongkan persediaannya melalui pengiriman ke pembeli sekaligus.

Sama halnya dengan pengaruh peningkatan

holding cost produk yang sesuai dengan

spesifikasi, peningkatan biaya penyimpanan

imperfect quality product juga akan

meningkatkan total biaya. Ketika holding cost tersebut ditingkatkan menjadi empat dan sepuluh kali lipat dari biaya awalnya, maka total biaya akan meningkat sebanyak 1,56% dan 4,62%.

Sedangkan apabila biaya penyimpanan

diturunkan sebanyak 40%, maka biaya akan menurun sebanyak 0,22%.

Peningkatan dan penurunan holding cost untuk imperfect quality product ini, tidak mempengaruhi jumlah pengiriman produk ke pembeli. Sesuai dengan uji sensitivitas, berapapun biaya penyimpanan yang dibebankan, jumlah pengiriman produk ke pembeli akan selalu sama. Jadi dapat disimpulkan bahwa biaya penyimpanan imperfect quality product tidak mempengaruhi intensitas pengiriman produk ke pembeli. Hal ini dikarenakan produk yang dikirim ke pembeli adalah produk yang sesuai dengan spesifikasi, sedangkan imperfect quality

product akan dikirim di akhir periode dalam satu batch.

Pengaruh Setup Cost

Peningkatan nilai setup cost akan menyebabkan peningkatan total biaya. Ketika

setup cost dinaikkan sebanyak 150%, maka akan

terjadi peningkatan total biaya sebanyak 10,8%. Apabila biaya diturunkan sebanyak 75% dan 93,75% akan terjadi penurunan biaya sebanyak 5,92% dan 7,46%. Penurunan biaya setup cost yang cukup besar ternyata hanya memberikan sedikit dampak bagi penurunan biaya secara keseluruhan.

Pengaruh Biaya Pemesanan Bahan Baku

Peningkatan biaya pemesanan sebanyak 50% akan meningkatkan total biaya sebanyak 32,41%. Apabila biaya bahan baku diturunkan sebanyak 96% dan 99%, maka biaya total akan turun sebanyak 50,62% dan 53,25%. Penurunan biaya penyimpanan dalam jumlah besar akan memberikan pengaruh terhadap total biaya, yaitu penurunan sebanyak mendekati 50%.

Biaya pemesanan bahan baku sebenarnya mempengaruhi intesitas pemanufaktur dalam melakukan pengadaan bahan baku. Akan tetapi, dalam model yang dikembangkan ini, perubahan biaya pemesanan bahan baku tidak memberikan

perbedaan yang terhadap intensitas

pemesanannya sehingga dapat disimpulkan bahwa model matematis ini tidak sensitif terhadap perubahan harga pemesanan bahan baku.

Perbandingan Model Eksisting dengan Model yang Dikembangkan

Model yang dikembangkan ini merujuk pada dua penelitian sebelumnya, yaitu penelitian Lee (2005) serta penelitian Khan, Jaber, dan Bonney (2010). Penelitian Lee (2005) menghasilkan sebuah persamaan matematis untuk menentukan ukuran joint economic lot

size, dimana semua produk diasumsikan

memiliki kualitas yang sama. Dalam penelitian tersebut, total biaya minimum yang dihasilkan adalah sebesar 4.528,27. Dengan menggunakan nilai parameter yang sama dengan nilai yang digunakan pada penelitian Lee (2005) serta beberapa tambahan parameter lain, total biaya minimum yang didapatkan dari hasil pengembangan model ini adalah sebesar 11.453. Total biaya yang dihasilkan oleh kedua model memiliki perbedaan nilai yang relatif jauh. Dengan adanya imperfect quality product dan

inspection error, total biaya meningkat sebanyak

1,53% sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya imperfect quality product dan inspection

error akan meningkatkan total biaya yang harus

dikeluarkan oleh perusahaan.

Model yang dihasilkan pada peneitian Khan, Jaber, dan Bonney (2010) merupakan pengembangan dari model Economic Order

Quantity (EOQ). Dalam model EOQ, semua

produk memiliki kualitas yang sama. Namun penelitian Khan, Jaber, dan Bonney (2010) mempertimbangkan adanya imperfect quality

product dalam setiap lot yang dipesan. Selain

itu, juga terdapat kemungkinan terjadinya kesalahan dalam proses inspeksi. Penelitian ini menghasilkan persamaan matematis untuk menentukan ukuran lot pengiriman ke pembeli yang akan memberikan keuntungan optimal. Nilai optimal yang didapatkan dari penelitian Khan, Jaber, dan Bonney (2010) tidak dapat dibandingkan dengan nilai optimal yang didapatkan dari hasil pengembangan model. Hal ini dikarenakan kedua penelitian memiliki asumsi yang berbeda. Penelitian eksisting merupakan pengembangan model EOQ, sedangkan pada penelitian ini, adanya imperfect

quality product dan inspection error terdapat

(10)

7. Kesimpulan dan Saran

Dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan beberapa kesimpulan. Model yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah

model penentuan ukuran lot dengan

mempertimbangkan adanya imperfect quality

product dan inspection error. Model matematis

tersebut ditunjukkan pada persamaan (14) dan persamaan (15). Dari contoh numerik yang diberikan, dapat diketahui bahwa adanya

imperfect quality product dan inspection error

akan meningkatkan total biaya. Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa peningkatan

nilai pada beberapa parameter akan

meningkatkan total biaya. Dari uji sensitivitas tersebut, diketahui parameter yang sensitif dari model adalah probabilitas error tipe II, biaya pemesanan bahan baku, dan biaya penyimpanan produk yang sesuai dengan spesifikasi.

Model yang dibuat saat ini

mempertimbangkan adanya imperfect quality

product dan inspection error. Untuk penelitian

selanjutnya, model yang sudah ada dapat dikembangkan, misalnya dengan menambahkan batasan kapasitas kendaraan pada saat pengiriman bahan baku dan produk jadi.

8. Daftar Pustaka

Amalia 2009, Peranan Persyaratan

Karush-Kuhn-Tucker dalam Menyelesaikan

Pemrograman Kuadratis, Departemen

Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatra Utara Medan, accesed 6 Januari 2011, <http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456 789/14099/1/10E00011.pdf>.

Ariani, D. W 2004, Pengendalian Kualitas

Statistika Pendekatan Kuantitatif dalam manajemen Kualitas, Andi, Yogyakarta.

Fatchiati 2010, Influence Diagram, accessed 1

November 2010,

<http://fatchiati.wordpress.com/2010/03/24/i nfluence-diagram/>.

Ginting, R 2007, Sistem Produksi, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Jauhari, W. A 2007, Model Penentuan Lot

Gabungan Pemasok-Pembeli dengan

Permintaan Probabilistik, Thesis Teknik

Industri ITS, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Khan, M., Jaber, M. Y. dan Bonney, M 2010, ‘An economic order quantity (EOQ) for items with imperfect quality and inspection errors’, International Journal of Production

Economics, accessed 27 August 2010,

<www.elsevier.com/locate/ijpe>.

Lee, W. 2005 A joint economic lot size model

for raw material ordering, manufacturing setup, and finished goods delivering’,

International Journal of Management Science, vol. 33, pp. 163-174.

Luknanto, D 2000, Pengantar Optimasi Non Linier, Laboratorium Hidraulika Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, accessed 31 Desember 2010, <http://luk.staff.ugm.ac.id/optimasi/pdf/Nonl inier2003.pdf>.

Maddah, B. dan Jaber, M. Y 2008. ‘Economic order quantity for items with imperfect quality: Revisited’, International Journal of

Production Economics, vol. 112, pp.

808-815, accessed 27 August 2010,

<www.elsevier.com/locate/ijpe>.

Montgomery, D. C 2009, Introduction to

Statistical Quality Control: A Modern Introduction International Student Version,

Sixth Edition, John willey & Sons (Asia) Pte. Ltd.

Mursiyah, A 2007, Model Penentuan Ukuran

Lot gabungan Pemasok-Pemanufaktur-Pembeli dengan Mengontrol Lead Time pada Pengiriman Sama, Tugas Akhir Teknik

Industri ITS, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Nasution, A. H 2003, Perencanaan &

Pengendalian Produksi, Guna Widya,

Surabaya.

Nurshanti, I 2009, Pengembangan Model Joint

Economic Lot Sizing pada Pull dan Push dengan Remanufaktur, Tugas Akhir Teknik

Industri ITS, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Nurzaman, N 2008, Model Penentuan Ukuran

Lot Gabungan Pemasok-Pemanufaktur-Pembeli dengan Mempertimbangkan Proses Produksi yang Tidak Sempurna, Tugas Akhir

Teknik Industri ITS, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Pujawan, I. N 2005, Supply Chain Management, Guna Widya, Surabaya.

Rachman, A. A 2009, Model Penentuan Ukuran

Lot Gabungan Ekonomis Pemasok-Pemanufaktur-Pembeli dengan Mengontrol Lead Time pada Ukuran Pengiriman Sama dan Berbeda, Tugas Akhir Teknik Industri

ITS, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

(11)

Salameh, M.K. dan Jaber, M.Y 2000, ‘Economic production quantity model for items with imperfect quality’, International

Journal of Production Economics, vol. 64

pp. 59-64, <www.elsevier.com/locate/ijpe>. Sari, D. P 2008, Optimasi Joint Economic Lot

Size dalam Sistem Persediaan

Supplier-Buyer Ketika Terdapat Penawaran

Decremental Temporary Discount, Thesis

Teknik Industri ITS, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Schoderbeck. P.P., Schoderbeck. C.G., dan Kefalas, A.G 1985, Management Systems

Conseptual Consideration Third Edition,

Business Publication. INC, Plano, Texas. Tersine, R. J 1994, Principles of inventory and

materials management, Fourth Edition,

Prentice-Hall, Inc, New Jersey.

Walpole/Myers 1995, Ilmu peluang dan

statistika untuk insinyur dan ilmuwan; terjemahan RK Sembiring, Penerbit ITB,

Bandung.

Widharto, S 2000, Inspeksi Teknik Buku 1, PT Pradnya Paramita, Jakarta.

Gambar

Gambar 1 Profil Inventory  Biaya Pemesanan Bahan Baku

Referensi

Dokumen terkait

Penghitungan BOSP dilakukan untuk memberikan informasi kepada Pemerintah Kabupaten/Kota mengenai besarnya dana operasional per siswa per tahun yang dibutuhkan oleh satuan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Perputaran Persediaan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Industri Barang Konsumsi yang

terpenting melalui villi arachnoidea (tonjolan terpenting melalui villi arachnoidea (tonjolan-- terpenting melalui villi arachnoidea (tonjolan terpenting melalui villi

dimaksud dalam huruf a dan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 41 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2018 tentang Badan Layanan Umum Daerah,

83 Musrenbang RPJMD dan Penyusunan Rancangan Akhir RPJMD 330.000.000 330.000.000 Bappeda Kota Tasikmalaya Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi Terwujudnya peningkatan

Menurut (Samani et al., 2021) penelitian tindakan sekolah berbentuk siklus metodologis yang berdaur (cyclical methodology cyclus) yang meliputi kegiatan perencanaan,

Model komunikasi merupakan gambaran sederhana dari proses komunikasi yang menunjukkan hubungan antara satu komponen dengan komponen yang lain.. Berikut ini

2.1 Melakukan pendataan potensi pemuda yang ada di dukuh Sumyang sebagai bahan dasar dalam pengembangan dan object program karang taruna 2014- 2016 dalam