• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI EKOLOGI LOKASI UNTUK POTENSI BUDIDAYA PANTAI DI KAWASAN PESISIR DESA TANJUNG KECAMATAN SUNGAI LIMAU KABUPATEN PADANG PARIAMAN SUMATERA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI EKOLOGI LOKASI UNTUK POTENSI BUDIDAYA PANTAI DI KAWASAN PESISIR DESA TANJUNG KECAMATAN SUNGAI LIMAU KABUPATEN PADANG PARIAMAN SUMATERA BARAT"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI EKOLOGI LOKASI UNTUK POTENSI BUDIDAYA PANTAI DI

KAWASAN PESISIR DESA TANJUNG KECAMATAN SUNGAI LIMAU

KABUPATEN PADANG PARIAMAN SUMATERA BARAT

ECOLOGICAL STUDY AREA FOR COASTAL AQUACULTURE POTENTIAL IN

COASTAL REGIONS TANJUNG SUNGAI LIMAU DISTRICT

PADANG PARIAMAN WEST SUMATRA

Efrizal1*, Elfrida2 dan Ikhsan2

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas,Kampus Unand Limau Manis, Padang, 25163,

Sumatera Barat, Indonesia1*

[email protected]

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta Padang, 25133, Sumatera Barat, Indonesia2

ABSTRACT

This study aims to establish a baseline for the preparation of spatial development of the area specifically for coastal aquaculture potential in coastal areas Tanjung Sungai Limau Padang Pariaman West Sumatra . The results of the study on the ecology of the location parameters ( water quality , climate and environment temperature, tidal patterns, current and waves) that have been carried out in the village of Tanjung Sungai Limau Padang Pariaman Regency indicate the conditions that allow for the development of coastal aquaculture activities, with an area of potential ± 35 ha , whereas that could be used for farming activities beach ± 8.75 Ha . Commodities that have important economic value to be developed based on the analysis of the potential of the region is the milkfish (Chanos chanos ) , black tiger shrimp (Penaeus monodon), mud crab (Scylla serrata) and blue swimming crab (Portunus pelagicus).

Keywords : Ecology, coastal aquaculture, coastal areas, potential

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dasar dalam penyiapan tata ruang khusus untuk pengembangan kawasan potensi budidaya pantai di kawasan pesisir Desa Tanjung Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat. Hasil kajian terhadap parameter ekologi lokasi (kualitas air, iklim dan suhu lingkungan, pola pasang surut, arus dan gelombang) yang telah dilakukan di Desa Tanjung Kecamatan Sungai Limau Kabupaten padang Pariaman menunjukkan kondisi yang memungkinkan untuk pengembangan kegiatan budidaya pantai, dengan luas areal yang potensial ± 35 Ha, sedangkan yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya pantai ± 8,75 Ha. Komoditi yang mempunyai nilai ekonomis penting untuk dikembangkan berdasarkan analisis potensi kawasan adalah ikan bandeng (Chanos chanos), udang windu (Penaeus mnodon), kepiting bakau (Scylla serrata) dan rajungan (Portunus pelagicus)

(2)

1. PENDAHULUAN

Kabupaten Padang Pariaman memilki garis pantai 72,5 km, yang merupakan garis pantai terpanjang di Sumatera Barat. Perkembangan usaha penangkapan di laut berjalan dengan baik, hal ini terlihat dari peningkatan dan nilai produksi yang cenderung meningkat dari tahun ketahun. Produksi terbesar yaitu di Kecamatan Pariaman Tengah dan Kecamatan Sungai Limau. Sedangkan menurut jenisnya, produksi ikan terbanyak adalah ikan tongkol 2.631,6 ton, sedangkan nilai tertinggi adalah ikan karang dengan produksi 1.943,41 ton dengan nilai terbesar Rp 29,16 milyar [2]. Usaha pengembangan budidaya pantai dan laut mempunyai peranan penting antara lain dalam upaya mengantisipasi kemugkinan rusaknya kelestarian sumberdaya laut yang disebabkan oleh penangkapan yang terus menerus tanpa memperhatikan tingkat kelestariannya. Disamping itu juga diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor. Lebih jauh pengembangan budidaya pantai diharapkan dapat memberi lapangan kerja baru yang sekaligus dapat meningkatkan pendapatan bagi para petani/nelayan.

Berkaitan dengan usaha pengembangan budidaya pantai, maka peneliti mencoba mengadakan suatu kajian dasar tentang ekologi lokasi dalam penentuan areal perairan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya pantai di kawasan pesisir Desa Tanjung Kecamatan Sungai Limau kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat.

2. BAHAN DAN METODA

Penelitian ini dilakukan di Desa Tanjung Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman dan Laboratorium Perikanan dan Kelautan Universitas Bung Hatta Padang dari bulan Juni – Oktober 2001. Metoda yang digunakan adalah metoda survey. Data primer yang didapatkan dari hasil wawancara, pengamatan langsung di lapangan dan di laboratorium. Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait dan berbagai literatur yang mendukung kegiatan studi. Peralatan yang digunakan adalah thermometer, pH meter, refraktometer, keping secchi, papan berskala, GPS, kompas, meteran, botol porselen, cawan porselen, pipet pencet, botol semprot, buret, klem dan standar buret, satu set tabung Nessler, labu ukur beker glas, pipet gondok, erlemenyer, dan jirigen dua liter. Bahan yang digunakan yaitu larutan MnSO4 5 H2O 10%, larutan

K2Cr2O7 0,05N, larutan alkali iodine, asam posphat pekat, larutan amilum 1%, larutan thio

sulfat 0,05N, larutan KI 10%, asam klorida pekat dan formalin 4%. Langkah awal dalam penentuan lokasi untuk kegiatan budidaya pantai adalah berdasarkan kesesuaian lahan secara fisik. Apabila kondisi fisik kawasan memungkinkan untuk kegiatan budidaya

(3)

peta kawasan yang berpotensi untuk kegiatan budidaya pantai di Desa Tanjung Kecamatan Sungai Limau Kab. Padang Pariaman mengacu kepada Peta Lingkungan Pantai terbitan Bakosurtanal dan Dehidros yang diusulkan sebagai peta dasar. Sedangkan pengambilan titik-titik koordinat dilakukan di lokasi yang direncanakan sebagai kawasan budidaya dengan menggunakan GPS (Global Position System). Data-data yang dianalisis adalah data yang berasal dari data primer dan data sekunder. Kesemua data tesebut diplotkan kedalam peta dasar yang disesuaikan dengan titik-titik koordinat yang telah diambil dengan menggunakan GPS. Selanjutnya data tersebut diinterprestasikan menjadi suatu bentuk tata ruang kawasan budidaya pesisir dan pantai Kabupaten Padang Pariaman.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum Daerah Lokasi

Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman mempunyai garis pantai lebih kurang 24 km, merupakan daerah yang berpotensi diantaranya pada daerah estuari Batang Gasan Desa Tanjung dengan titik koordinat 95058’3,0” BT dan 00027’9,0” LS

(Gambar 1.). Hasil pengukuran lapangan diperkirakan luas kawasan yang berpotensi untuk pengembangan budidaya pantai lebih kurang 35 Ha (Gambar 2). Namun dari luas tersebut diperkirakan kawasan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya pantai lebih kurang 8,75 Ha. Daerah ini sangat berpotensi secara fisik karena kawasan tersebut ditumbuhi vegetasi hutan mangrove yang menyebabkan perairan ini menjadi subur, akibat adanya jatuhan dari serasah atau daun mangrove yang menjadi humus pada dasar perairan. Selain itu bentuk tofografi daerah estuari Batang Gasan secara keseluruhan relatif datar, sehingga air di waktu pasang naik dapat mencapai ke arah hulu. Pada waktu pasang naik ditemukan salinitas yang tinggi pada perairan estuari Batang Gasan sebab masuknya air laut ke daerah tersebut. Salinitas pada perairan estuari dapat turun rendah pada saat pasang surut karena banyaknya air tawar yang masuk.

3.2 Analisis Potensi Kawasan

Dari gambaran kriteria fisik lokasi secara umum seperti yang telah dijelaskan di atas maka Desa Tanjung Kec. Sungai Limau memungkinkan untuk pengembangan budidaya pantai. Untuk itu dilakukan analisis potensi kawasan lebih lanjut yang meliputi ekologi lokasi seperti yang diuraikan dibawah ini:

(4)

Gambar 1. Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman

Gambar 2. Peta Kawasan Potensial Untuk Pengembangan Budidaya Pantai di Kawasan Pesisir Desa Tanjung Kecamatan Sungai Limau Padang Pariaman

(5)

3.2.1 Ekologi Lokasi

Secara umum ekologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makluk hidup dengan lingkungannya. Di bawah ini dikemukakan faktor-faktor yang berkaitan dengan aspek ekologis dalam pemilihan lokasi untuk budidaya pantai yaitu kualitas air, iklim dan suhu lingkungan, pola pasang, arus dan gelombang.

A. Kualitas Air

Kualitas air merupakan salah satu faktor penting demi mendukung keberhasilan dalam kegiatan budidaya. Dalam budidaya, kondisi air harus sesuai dengan kebutuhan ikan yang dibudidayakan. Setiap spesies ikan mempunyai toleransi yang berbeda-beda terhadap kualitas air. Hasil pengukuran parameter kualitas air di perairan Desa Tanjung Kec. Sungai Limau secara keseluruhan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Parameter Kualitas Air di Perairan Desa Tanjung Kecamtan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman.

No Parameter L M P1 P2 P3 P4 T 1 Suhu (oC) Udara 27 26 26 26 26 26 26 Permukaan 26 27 26 26 26 26 26 Dasar 25 25 25 25 - - - 2 Salinitas (‰) Surut 30 6 5 2 4 4 0,5 Naik - 21 11 10 10 10 -

3 Kecerahan (m) 2-3 0,5-1 0,5 0,5-2 Penuh Penuh 1

4 pH 7,8 7,6 7,4 8,2 7 7 7,2 5 Kecepatan Arus (m/dt) - 5/7 - 5/7 - - - 6 DO (mg/l) 7,51 - 5,69 - 5,48 - 6,32 7 NO3 (mg/l) 0,087 - 0,074 - 0,132 - 0,106 8 PO4 (mg/l) 3,086 - 2,855 - 2,624 - 3,086 9 NH3 (mg/l) ttd - ttd - 0,343 - Ttd

Keterangan : L = laut, M= Muara Sungai, P = Payau, T= Tawar

Suhu. Suhu air akan mempengaruhi penentuan kehadiran jenis organisme, pemijahan, penetasan telur. Aktivitas dan pertumbuhan mahkluk hidup. [7] menyatakan suhu optimum untuk budidaya berkisar antara 25-32oC. Dari Tabel 1, dapat dilihat bahwa

lokasi perairan estuari Desa Tanjung memiliki kisaran suhu antara 25-27oC. Menurut [5]

(6)

menjelaskan, udang windu tumbuh baik pada suhu 25-32oC. Berarti kawasan tersebut

layak untuk kegiatan budidaya bandeng, kepiting dan udang windu.

Salinitas. Menurut [4] salinitas perairan estuari sangat ditentukan oleh pasang surut air laut pada waktu pasang naik, salinitas akan tinggi karena pengaruh air laut yang masuk ke dalam perairan tersebut [4]. Di perairan pantai salinitas dapat turun rendah akibat pengenceran dari aliran sungai. Hasil pengamatan pada saat pasang surut, salinitas pada lokasi laut 30‰, muara 6‰ dan pada kawasan lokasi payau salinitas berkisar antara 2-5‰. Sedangkan salinitas estuari berkisar antara 10-11‰ ketika pasang naik dan daerah muara sungai salinitas naik hingga menjadi 21‰. [12] menjelaskan ikan bandeng mudah beradaptasi dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap kisaran salinitas, sedangkan kepiting hidup baik pada salinitas 10-35‰ [12]. [3] mengatakan pada salinitas 15-25‰ sangat optimal untuk kehidupan udang windu [3]. Dengan demikian kisaran salinitas pada kawasan penelitian cukup mendukung untuk komiditi yang telah disebutkan di atas.

Kecerahan. [13] menjelaskan nilai kecerahan yang baik utuk kelangsungan hidup ikan lebih besar dari 0,45 m, jika kecerahan dibawah 0,3 m kurang mendukung untuk aktivitas budidaya [13]. Selanjutnya dikatakan kekeruhan dapat diatasi dengan cara menggantian air. Dari hasil pengukuran dapat dilihat bahwa semua lokasi memiliki nilai kecerahan lebih besar dari 0,45 m, berarti lokasi tersebut sangat layak untuk pengembangan kegiatan budidaya.

Derajat Keasaman (pH). Dari hasil pengukuran pH perairan Batang Gasan pada daerah muara dan laut berkisar antara 7,6-7,8 dan pada daerah lokasi payau pH perairan 7-8,2. Menurut [15] pada kawasan hutan mangrove pH dapat mencapai nilai yang sangat rendah (asam), karena disebabkan oleh kadar asam sulfat yang tinggi pada dasar perairan [15]. Untuk budidaya bandeng dan kepiting pH yang ideal 7,5-8,5. Sedangkan menurut [9] udang windu hidup baik pada pH 7-9 [9].

Oksigen Terlarut (O2). Kandungan oksigen terlarut di dalam air sagat diperlukan bagi seluruh makhluk hidup [9] menyatakan kadungan oksigen dibawah 3 mg/l akan membahayakan kehidupan ikan [8]. Zonneveld et. al., (1991) menjelaskan kandungan oksigen trlarut untuk mendukung kegiatan budidaya sebaiknya berkisar anara 5-6 mg/l [15]. Dari hasil pengukuran kadar oksigen terlarut secara in situ pada semua lokasi berkisar antara 5,48 -7,10 mg/l, hal ini bermakna kawasan tersebut sangat layak untuk pengembangan aktivitas budidaya.

Nitrat (NO3). Kadar nitrat yang optmal bagi pertumbuhan plankton berkisar antara 3,9-15,5 mg/l, dan kandungan dibawah 0,114 mg/l nitrat merupakan faktor pembatas bagi

(7)

lokasi perairan berkisar antara 0,074-0,132 mg/l, bearti perairan pada kawasan tersebut sedikit kandungan hara bagi pertumbuhan fitoplankton.

Phospat (PO4). Kandungan kadar posphat yang optimal bagi pertumbuhan plangkton berkisar antara 0,27-5,51 mg/l dan akan menjadi faktor pembatas apabila kandungannya kurang dari 0,02 mg/l) [7]. Hasil pengukuran kandungan phospat berkisar antara 2,624-3,086 mg/l, bearti dapat disimpulkan bahwa kandungan nilai phospat di kawasan penelitian cukup layak untuk mendukung perkembangan dan pertumbuhan plankton.

Amoniak (NH3). Menurut [11] kadar amoniak yang rendah di dalam perairan baik untuk kehidupan hewan akuatik, tetapi pada kadar amoniak 1,29 mg/l dapat mematikan beberapa jenis ikan [11]. [5] menyatakan bahwa konsentrasi amoniak yang baik untuk kegiatan budidaya yaitu kecil dari 1 mg/l [5]. Pada pengukuran kadar amoniak di lokasi penelitian memperlihatkan nilai yang sangat rendah yaitu 0,343 mg/l pada perairan payau (P3) dan pada titik lokasi perairan laut, tawar dan payau (P1) lainnya terlihat kandungan amoniak pada kadar yang sangat rendah sehingga tidak terdeteksi (ttd).

B. Iklim dan Suhu Lingkungan

Kawasan Padang Pariaman termasuk daerah yang beriklim tropis basah dan memiliki bulan kering yang sangat pendek, sedangkan untuk kawasan pesisir pantai sangat dipengaruhi oleh angin laut. Curah hujan di Kabupaten Padang Pariaman berkisar antara 2.500-4.700 mm/tahun dengan jumlah hari hujan antara 132-267 hari hujan/tahun. Temperatur suhu udara berkisar antara 27-31oC dengan kelembaban udara 82-85%.

Nilai rata-rata curah hujan di Kabupaten Padang Pariaman mencapai 4.200,5 mm/th dengan kelembaban udara yang cukup tinggi yaitu 80% [2].

C. Pola Pasang

Pola pasang yang terjadi adalah tipe diurnal, yaitu dalam satu hari terjadi dua kali pasang naik dan pasang surut. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan wawancara dengan masyarakat di kawasan pesisir pantai di lokasi penelitian di dapatkan data fluktuasi pasang di Kabupaten Padang Pariaman berkisar antara 2-3 meter dan mencapai puncaknya pada bulan purnama. Hal ini disebabkan pada kondisi tersebut posisi bumi, bulan dan matahari sejajar sehingga dikenal dengan pasang purnama. Pada saat posisi bulan, bumi dan matahari membentuk siku-siku, terjadi fluktuasi pasang terkecil yang dikenal dengan pasang perbani. [5] mengatakan bahwa pengetahuan mengenai pasang surut air laut sangat penting dalam menentukan lokasi budidaya pantai atau tambak [5]. Karena pola pasang surut air laut yang terjadi di suatu daerah akan mempengaruhi tipe dan manajemen tambak maupun biaya operasionalnya. Kisaran pasang surut air laut yang dianggap memenuhi syarat pembuatan tambak adalah 2-3

(8)

meter [1]. Sedangkan menurut [14] kisaran pasang surut yang baik untuk tambak berkisar antara 1.7-2 meter [14]. Sementara [4] mengatakan bahwa untuk budidaya kepiting sirkulasi air cukup dengan fluktuasi pasang surut berkisar antara 1.5 – 2 meter [4].

D. Arus dan Gelombang

Angin dan gelombang di perairan Kabupaten Padang Pariaman sangat dipengaruhi oleh angin dari Samudra Hindia dengan ketinggian gelombang maksimum 3 m yang terjadi pada bulan Juli dan Desember. Secara umum, pola sirkulasi air di perairan pantai Kabupaten Padang Pariaman bergerak dari arah utara-barat laut ke arah tenggara, sejajar dengan orientasi pantai. Pola ini dapat dikatakan tetap sepanjang tahun, kecuali pada bulan Agustus arus bergerak ke arah sebaliknya. Adapun rata-rata besarnya arus yang terjadi bervariasi dari bulan ke bulan [2].

4. KESIMPULAN DAN PROSPEK

Berdasarkan hasil analisis terhadap parameter ekologi lokasi (kualitas air, iklim dan suhu lingkungan, dan pola pasang yang telah dilakukan di kawasan pesisir Desa Tanjung Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman menunjukkan kondisi yang memungkinkan untuk pengembangan kegiatan budidaya pantai, dengan luas areal yang potensial ± 57 Ha, sedangkan yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya pantai ± 8,75 Ha. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengkaji beberapa aspek biologi lokasi untuk menentukan potensi kawasan budidaya pantai di kawasan pesisir Desa Tanjung Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman. Komoditi yang mempunyai nilai ekonomis penting untuk dikembangkan berdasarkan analisis potensi kawasan adalah ikan bandeng (Chanos chanos), udang windu (Penaeus monodon), kepiting bakau (Scylla serrata), rajungan (Portunus pelagicus).

5. UCAPAN TERIMA KASIH

Peneliti mengucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan berbagai pihak dalam pelaksanaan penelitian ini, terutama kepada BAPPEDA Kabupaten Padang Pariaman Bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Universitas Bung Hatta Padang atas dana yang diberikan dalam pelaksanaan penelitian melalui surat perjanjian kerjasama No. 050/264/FISIK/BAPPEDA-2001.

6. PUSTAKA

[1]. Afrianto, E. dan E. Liviawaty. Teknik Pembuatan Tambak Udang. Penerbit Kanisius, Yogyakarta; 1991.

(9)

[2]. BAPPEDA Kab. Padang Pariaman dan PKSPL-IPB. Penyusunan Rencana

Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir Kabupaten Padang Pariaman: Identifikasi

Sumberdaya Wilayah Pesisir; 2000.

[3]. Buwono, D. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep.02/Menklh/i/1998 Tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Air Lingkungan; 1993.

[4]. Hanafi, A. Majalah Primadona: Kepiting Bakau. Edisi Oktober dan Desember. Jakarta; 1994.

[5]. Kordi, K., M.G.H. Budidaya Kepiting dan Ikan Bandeng di Tambak Sistem

Polikultur. Penerbit Dahara Prize Semarang; 1997.

[6]. Mahida, N.U. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Alih Bahasa: Ticoalu, G.A. Penerbit CV. Rajawali. Jakarta; 1986.

[7]. Mintardjo. Pedoman Budidaya Tambak : Persyaratan Tanah dan Air. Dirjen Perikanan, Deptan. ; 1985.

[8]. Mudjiman, A. Budidaya Bandeng di Tambak. Penerbit PT. Penebar Swadaya. Jakarta; 1991.

[9]. Murtidjo, B.A. Tambak Air Payau Budidaya Udang dan Bandeng. Penerbit Kanasius, Yogyakarta; 1989.

[10]. Pemda Kabupaten Padang Pariaman. Data Pokok Pembangunan Daerah

kabupaten Padang Pariaman Tahun 1999. BAPPEDA Kabupaten Padang

Pariaman; 2000.

[11]. Poernomo, A. Budidaya Air : Faktor-Faktor Yang Dominan Pada Budidaya Udang Intensif. Teknik Budidaya Air Payau. Penerbit Yayasan Obor Indonesia ; 1989. [12]. Rohaeni, E.S. Majalah Primadona: Budidaya Ikan Bandeng. Edisi Desember.

Jakarta; 1994.

[13]. Soeseno, S. Budidaya Ikan dan Udang Dalam Tambak. Penerbit PT. Gramedia, Jakarta; 1988.

[14]. Sudarmo, B.M. dan R.S. Ranohihardjo. Rekayasa Tambak. Penerbit PT. Penebar Swadaya. Jakarta; 1992.

[15]. Zonneveld, N., E.A. Huisman dan J.H. Bonn. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta; 1991.

Gambar

Gambar 1. Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman
Tabel  1.  Parameter  Kualitas  Air  di  Perairan  Desa  Tanjung  Kecamtan  Sungai  Limau  Kabupaten Padang Pariaman

Referensi

Dokumen terkait

c) Hukumanan tindak pidana korupsi adalah ta’zir , yaitu disesuaikan dengan keputusan hakim. Hukumanan berupa ta’zir ini bisa lebih berat mengingat korupsi membawa

Di harapkan melalui pengabdian ini anggota dan dirigen / pemimpin paduan suara dapat memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman mereka menjadi tenaga professional dalam bidang

Tahapannya adalahmemilih satu kecamatan yang merupakan sentra mangga di Kabupaten Indramayu(yaitu Kecamatan Cikedung), selanjutnya menentukan dua desa sentra mangga (Desa

Berdasarkan hasil analisis kemampuan siswa kelas VIII dalam mengidentifikasi latar pada drama sebelum menggunakan model pembelajaran cooperative script Sampel yang

Validitas item dari suatu tes adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir item, dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir tersebut. 40 Tinggi rendahnya skor

Di kalangan akademisi dakwah, munculnya tayangan sinetron mistis yang dikemas dengan menggunakan simbol-simbol kegamaan tersebut memang masih menjadi persoalan,

Berdasarkan analisis korelasi dan sidik lintas, karakter jumlah anakan produktif dan jumlah gabah total memiliki pengaruh langsung dan positif terhadap hasil

9asil ini adalah asumsi yang lebih keil, sebab jika jati putih dira'at dengan baik, dalam - pohon dapat menghasilkan kayu lebih dari $,1 meter kubik dalam 'aktu 3 6 :