Kualitas Hidup Caregiver dalam Merawat Anggota Keluarga dengan Skizofrenia di RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan Chapter III VI

34 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

3.1 KerangkaKonsep

KerangkakonsepdalampenelitianinimenjelaskanKualitasHidupCaregiver dalamMerawatAnggotaKeluargadenganSkizofrenia di RS. Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan, yang mencakupkondisifsisik, psikologis, hubungansosial, danlingkungannya yang telahdiuraikansebelumnyaberdasarkankonsep

WHOQOL-BREF menurut WHO. Berdasarkantujuanpenelitiandantinjauanpustakamakakonseppenelitiandapatdigam

barkansebagaiberikut :

Skema 3.1 KerangkaKonseptual Penelitian Caregiver

dalamMerawatAnggotaKeluar gadenganSkizofrenia

Kualitashidup :

- Domain kesehatan fisik - Domain psikologis - Domain hubungan sosial - Domain lingkungan

Kualitas hidup - Baik

(2)

3.2 DefinisiOperasional

Penelitian ini terdiri dari satu variabel, yaitu variabel kualitas hidup caregiverdalam merawat anggota keluarga dengan skizofrenia yang akan

dijelaskan pada tabel 3.2

(3)

BAB 4

METODE PENELITIAN 4.1Desainpenelitian

Desainpenelitianadalahdeskriptifyaiturancanganpenelitian yang bertujuanuntukmenjelaskansuatukeadaansecaraobjektif,

dalamhaliniadalahKualitasHidupCaregiver

dalamMerawatAnggotaKeluargadenganSkizofrenia di KunjunganRawatJalan RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan.

4.2Populasidansampel 4.2.1Populasi

PopulasidalampenelitianiniadalahseluruhCaregiver yang merawat AnggotakeluargadenganSkizofrenia di KunjunganRawatJalan RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan padabulanJanuari – April 2016 terdapat 3.653 orang dengan target populasi pada tahun 2016 yaitu 650 orang penderita skizofrenia.

4.2.2 Sampel

Sampelpadapenelitianiniadalahcaregiver utamayang merawatanggotakeluargadenganskizofrenia di KunjunganRawatJalan RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan dengan kriteria inklusisebagaiberikut: 1) usia 18 –

65 tahun,2) telahmerawatanggotakeluarga yang

(4)
(5)

Rumusbesarsampelsebagaiberikut rumus Slovin ( dalam Hidayat, 2007 )

=

+

(

)

Keterangan : n :Besarsampel

N :Besarpopulasi (target populasi 650 pasien skizofrenia)

d :Derajatketepatan yang digunakan (10% = 0,1)

PerhitunganBesarSampel

=

+

(

)

�= ���

�+��� (�,�)�

�= 650 1 + 6,5

n=

650 7,5

(6)

Jumlahbesarsampelpadapenelitianiniialahsebanyak 87 orang caregiver.Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan

menggunakan teknik probability samplingdengan pendekatan simple random sampling.Pengambilan simple random sampling merupakan teknik pengambilan

sumber data secara acak (Polit & Beck). Memberikankesempatan yang samakepadasetiapanggota yang adadalampopulasiuntukdijadikansampel.

4.3 TempatdanWaktuPenelitian 4.3.1 Tempat penelitian

Penelitian dilakukan di Kunjungan Rawat Jalan RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan. Tempat ini dipilih karena rumah sakit ini merupakan rumah sakit pendidikan khusus bagi mahasiswa kedokteran, keperawatan dan psikologi di Sumatera Utara. Selain itu rumah sakit ini merupakan rujukan khusus untuk penderita gangguan jiwa di Provinsi Sumatera Utara dan sebagian wilayah di Nanggroe Aceh Darusalam.

4.3.2 Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan selama sepuluh bulan yaitu dimulai dari bulan Oktober tahun 2016 sampai dengan bulan Juli tahun 2017. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret sampai bulan April 2017.

4.4 PertimbanganEtik

(7)

prosedur pelaksanaan penelitian yang dilakukan. Penelitian menjelaskan bahwa penelitian dijaga kerahasiaannya dengan tidak mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data, tetapi dengan memberi kode pada masing-masing lembar kuesioner. Peneliti mengakui hak-hak caregiver dalam menyatakan kesediaan atau ketidaksediaan menjadi subjek penelitian dan memiliki hak untuk membuat keputusan sendiri. Jika caregiver bersedia, maka caregiver diminta untuk menandatangani lembar persetujuan penelitian dan memberikan kuesioner untuk diisi.

Jika dalam pengisian kuesioner caregiver kurang mengerti maka peneliti memberikan penjelasan. Setelah seluruh kuesioner selesai diisi oleh caregiver, kemudian dikembalikan kepada peneliti. Jika caregivermenolak dan mengundurkan diri selama pengumpulan data berlangsung, maka penelitian memberi kebebasan kepada caregiver dengan tidak melanjutkan mengisi kuesioner dan peneliti mengambil caregiver lainnya untuk mengisi kuesioner yang baru.

4.5 InstrumenPenelitian

(8)

Instrumen kedua berisi kuesioner kualitas hidup dari World Health Organization Quality Of Life (WHOQOL) – BREF. Kuesioner ini merupakan rangkuman dari World Health Organization Quality Of Life (WHOQOL) – 100 dan telah dilakukan Back Translate yaitu dari Bahasa Inggris ke Indonesia oleh ibu Roxana Devi Tumanggor dosen Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris oleh Bapak Asih Nurakhir yaitu dosen pengajar dari UNPAD yang berasal dari 26 pertanyaan (WHOQOL) – BREF. Terdiri dari kualitas hidup secara menyeluruh dan kesehatan secara umum

dan satu bagian terdiri dari 24 pertanyaan yang berasal dari WHOQOL – 100dan telah ada perubahan.

Kuesioner ini berpedoman pada skala likert yang dikategorikan sangat buruk, buruk, biasa-biasa saja, baik, sangat baik. Jika cargiver menjawab sangat buruk diberi nilai 1, buruk diberi nilai 2, biasa-biasa saja diberi nilai 3, baik diberi nilai 4, sangat baik diberi nilai 5. Nilai tertinggi yang mungkin dicapai 130 sedangkan terendah 26.

R = nilai tertinggi – nilai terendah = 130 – 26 = 104

Menetukan panjang kelas I = Rentang/banyaknya kelas = 104 – 2 = 52

Maka kualitas hidup caregiverdikategorikan atas kelas interval sebagai berikut : 1. Baik = 79 – 130

(9)

Untukpertanyaannomor 1 dan 2 tentangkualitashidupsecaramenyeluruhdankesehatansecaraumum. Domain 1 –

Fisikadapada pertanyaan nomor 3, 4, 10, 15, 16, 17, dan 18. Domain 2 – Psikologisadapadapertanyaannomor 5, 6, 7, 11, 19, dan 26. Domain 3 – Hubungan sosial adapadapertanyaannomor 20, 21, dan 22. Domain 4 – Lingkunganadapadapertanyaannomor 8, 9, 12, 13, 14, 23, 24, dan 25. Pertanyaan positif pada kuesioner ini terdapat pada nomor 1, 2, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24 dan 25 dan pertanyaan negatif terdapat pada nomor 3, 4 dan 26.

Kuesioner ini berpedoman pada skala likert yang dikategorikan sangat buruk, buruk, biasa-biasa saja, baik, sangat baik. Jika caregiver menjawab sangat buruk diberi nilai 1, buruk diberi nilai 2, biasa-biasa saja diberi nilai 3, baik diberi nilai 4, sangat baik diberi nilai 5.

Kemudian untuk pengkategorian kualitas hidup caregiver digunakan perhitungan sebagai berikut :

1. Kualitas hidup caregiver R = nilai tertinggi – nilai terendah = 130 – 26 = 104

Menetukan panjang kelas I = Rentang/banyaknya kelas = 104/2 = 52

(10)

2) Buruk = 26 - 78 2. Kesehatan fisik

R = nilai tertinggi – nilai terendah = 28 – 7 = 21

Menetukan panjang kelas I = Rentang/banyaknya kelas = 21/2 = 10,5 = 11

Maka kualitas hidup caregiverberdasarkan kesehatan psikologis dikategorikan atas kelas interval sebagai berikut :

1) Baik = 19 – 28 2) Buruk = 7 - 18 3. Kesehatan psikologis

R = nilai tertinggi – nilai terendah = 24 – 6 = 18

Menetukan panjang kelas I = Rentang/banyaknya kelas = 18/2 = 9

Maka kualitas hidup caregiverberdasarkan kesehatan psikologis dikategorikan atas kelas interval sebagai berikut :

1) Baik = 16 – 24 2) Buruk = 6 - 15 4. Hubungan Sosial

(11)

= 12 – 3 = 9

Menetukan panjang kelas I = Rentang/banyaknya kelas = 9/2 = 4,5 ≈ 5

Maka kualitas hidup caregiverberdasarkan hubungan sosial dikategorikan atas kelas interval sebagai berikut :

1) Baik = 9 – 12 2) Buruk = 3 - 8 5. Lingkungan

R = nilai tertinggi – nilai terendah = 32 – 8 = 24

Menetukan panjang kelas I = Rentang/banyaknya kelas = 24/2 = 12

Maka kualitas hidup caregiverberdasarkan lingkungan dikategorikan atas kelas interval sebagai berikut :

1) Baik = 21 – 32 2) Buruk = 8 - 20 4.6 UjiValiditas

Penelitian dengan menggunakan instrumenWorld Health Organization Quality Of life , peneliti melakukan uji validitas terhadap instrumen penelitian. Uji

(12)

yang ahli dalam keperawatan jiwa dan dosen dari Fakultas Keperawatan UNRI. Hasil perhitungan content validity indeksdiperoleh nilai 0.93.

4.7 UjiReliabilitas

Ujireliabilitasmerupakanindeks yang menunjukansejauhmanasuatualatpengukurdapatdipercayaataudapatdiandalkan.Inst

rumenQuality of Life dilakukanujireliabilitasdenganmenggunakanujicronbach α. Uji reliabilitas dilakukan terhadap 20 orang caregiverdi Kunjungan Rawat Jalan RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan yang mempunyai karakteristik yang sama dengan penelitian. Hasilanalisisdengancronbach alphadiperoleh nilai yaitu 0,770. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa instrumen Quality of Life yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabel dan telah dihitung dengan menggunakan sistem komputerisasi.

4.8 Pengumpulan Data

Prosedur yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu, pada tahap awal peneliti mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada institusi pendidikan Fakultas Keperawatan Program Studi Ners Universitas Sumatera Utara, kemudian permohonan izin yang telah diperoleh diserahkan kepada RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan untuk melakukan penelitian.

(13)

memberikan penjelasan tentang tujuan, manfaat, dan cara pengisian kuesioner, termasuk menjelaskan hak-hak caregiver untuk menolak mengisi kuesioner sebelum pengisian kuesioner.

Langkah selanjutnya jika caregiver menyetujui pengisian kuesioner caregiver diberikan informed concent untuk ditanda tangani dan peneliti

memberikan kesempatan kepada caregiver untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum dimengerti. Disaat yang bersamaan ketika caregiver mengisi informed concent peneliti membuat kode pada kuesioner tanpa menuliskan namacaregiver.

Setelah itu peneliti memulai proses pengumpulan data dan memberikan kuesioner data demografi dan kuesioner kualitas hidup caregiver dan selanjutnya kuesioner diisi oleh caregiver dan dilanjutkan kembali pengumpulan kuesioner yang telah diisi oleh caregiver, selanjutnya peneliti memeriksa kejelasan dan kelengkapan kuesioner.

4.9 Analisa Data

(14)

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan mengenai karakteristik caregiverdan kualitas hidupcaregiversebagai caregiver dalam merawat anggota keluarga dengan skizofrenia di RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2017dengan jumlah sebanyak 87 orangcaregiver yang mempunyai anggota keluarga yang menderita skizofrenia dan sedang menjalani rawat jalan di RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan.

5.1 HASIL PENELITIAN 5.1.1 KarakteristikCaregiver

Caregiver yang merawat anggota keluarga dengan skizofrenia

sebagianbesar berada pada rentang umur 41-54 tahun dan 55-65 tahun sebanyak 30 orang caregiver (34,5%), sebagian besar caregiver berjenis kelamin perempuan sebanyak 37 orang caregiver (65,5%). Tingkat pendidikan caregiver paling dominan adalah SMA/Sederajat sebanyak 37 orang caregiver (42,5%), dengan jenis pekerjaan caregiver yang paling dominan ialah sebagai wiraswasta sebanyak 42 orang caregiver(48,3%), sebagian besar caregiver memiliki penghasilan Rp.1.000.000,- s.d Rp.3.000.000 setiap bulannya sebanyak 42 orang caregiver (55,2%). Berdasarkan hubungan caregiver dengan anggota keluarga, paling dominan caregiver adalah orang tua yang menjadi caregiver bagi anak mereka yang menderita skizofrenia sebanyak 41 orang caregiver (47,1%), dan sebagian besar caregiver telah merawat anggota keluarga mereka yang menderita

(15)

skizofrenia antara 1-4 tahun sebanyak 41 orang caregiver (47,1%), kemudian 5-10 tahun sebanyak 24 orang caregiver (27,6%) dan lebih dari 10 tahun sebanyak 22 orang caregiver (25,3%).

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi dan Persentase KarakteristikCaregiver yang Merawat Anggota Keluarga dengan Skizofrenia di RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan (n=87)

Karakteristik Frekuensi (f) Persentase (%)

Umur

Lama Merawat Pasien Skizofrenia

(16)

5.1.2 Kualitas Hidup Caregiver

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa data distribusi frekuensi dan persentase kualitas hidup caregiveryang di jelaskan dalam tabel 5.2 menunjukkan bahwa sebagian besar caregivermemiliki kualitas hidup dalam kategori yang baik yakni sebanyak 45 orang caregiver (51,7%), dan caregiveryang memiliki kualitas hidup buruk sebanyak 42 orang caregiver (48,3%).

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Kualitas Hidup Caregiver yang Merawat Anggota Keluarga dengan Skizofrenia di RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan (n=87)

Kualitas Hidup Caregiver Frekuensi (f) Persentase (%)

Baik 45 51,7

Buruk 42 48,3

Total 87 100

5.1.3 Kualitas Hidup Caregiver Berdasarkan Kesehatan Fisik

(17)

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase KarakteristikCaregiver yang Merawat Anggota Keluarga dengan Skizofrenia di RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan Berdasarkan Kesehatan Fisik (n=87) Kategori Kualitas Hidup Caregiver

Berdasarkan Kesehatan Fisik Frekuensi (f) Persentase (%)

Baik 49 56,3

Buruk 38 43,7

Total 87 100

5.1.4 Kualitas Hidup Caregiver Berdasarkan Kesehatan Psikologis

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa data distribusi frekuensi dan persentase kualitas hidup caregiver berdasarkan kesehatan psikologis yang di jelaskan dalam tabel 5.4 menunjukkan bahwa hampir seluruh caregivermemiliki kualitas hidup berdasarkan kesehatan psikologis dalam kategori yang baik yakni sebanyak 86 orang caregiver (98,9%), dan caregivermemiliki kualitas hidup berdasarkan kesehatan psikologis dalam kategori yang buruk yakni hanya sebanyak 1 orang caregiver (1,1%).

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase KarakteristikCaregiver yang Merawat Anggota Keluarga dengan Skizofrenia di RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan Berdasarkan Kesehatan Psikologis (n=87) Kategori Kualitas Hidup Caregiver

Berdasarkan Kesehatan Psikologis Frekuensi (f) Persentase (%)

Baik 86 98,9

Buruk 1 1,1

Total 87 100

5.1.5 Kualitas Hidup CaregiverBerdasarkan Hubungan Sosial

(18)

dalam tabel 5.5 menunjukkan bahwa sebagian besar caregivermemiliki kualitas hidup berdasarkan hubungan sosial dalam kategori yang baik yakni sebanyak 83 orang caregiver (95,4%), dan caregiveryang memiliki kualitas hidup berdasarkan hubungan sosial dengan kategori yang buruk yakni sebanyak 4 orang caregiver (4,6%).

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi dan Persentase KarakteristikCaregiver yang Merawat Anggota Keluarga dengan Skizofrenia di RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan Berdasarkan Hubungan Sosial (n=87) Kategori Kualitas Hidup Caregiver

Berdasarkan Hubungan sosial Frekuensi (f) Persentase (%)

Baik 83 95,4

Buruk 4 4,6

Total 87 100

5.1.6 Kualitas Hidup Caregiver Berdasarkan Lingkungan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa data distribusi frekuensi dan persentase kualitas hidup caregiver berdasarkan lingkungan yang di jelaskan dalam tabel 5.6 menunjukkan bahwa sebagian besar caregivermemiliki kualitas hidup berdasarkan lingkungan dalam kategori yang baik yakni sebanyak 67 orang caregiver (77%), dan caregivermemiliki kualitas hidup berdasarkan lingkungan

(19)

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase KarakteristikCaregiver yang Merawat Anggota Keluarga dengan Skizofrenia di RS Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem Medan Berdasarkan Lingkungan (n=87)

Kategori Kualitas Hidup Caregiver

Berdasarkan Lingkungan Frekuensi (f) Persentase (%)

Baik 67 77,0

Buruk 20 23,0

Total 87 100

5.2 Pembahasan

5.2.1 Kualitas Hidup Caregiver

(20)

Namun sebanyak 42 orang caregiver (48,3%) mempunyai kualitas hidup yang buruk karena caregiver menyatakan tidak sama sekali puas dengan dukungan yang diberikan oleh teman, sehingga berdampak dengan interaksi sosial caregiver, didukung oleh penelitian yang dilakukan Primaria (2014) menunjukkan

bahwa caregiver rentan terhadap gangguan psikologis, dan gejala yang hadir seperti stres, frustasi, mengurangi interaksi sosial, kecemasan, depresi sehingga berdampak pada kesehatan fisik. Kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas hidup caregiver sebagai perawat utama pasien skizofrenia di rumah.

(21)

Alejandra (2011) menyatakan bahwa keluarga khususnya caregiver mempunyai peran besar dalam tahap pemulihan, sehingga sejak awal perawatan keluarga diharapkan ikut terlibat pada penanganan perawatan keluarga yang mengalami skizofrenia. Seseorang yang menjadi caregiver dalam keluarga bisa dilihat dari kedekatan dan kesempatannya dalam menjalankan perannya.

Kualitas hidup dapat diartikan sebagai derajat dimana seseorang menikmati kemungkinan dalam hidupnya. Chang dan Weissman (2004) menjelaskan bahwa kenikmatan tersebut memiliki dua komponen yaitu pengalaman, kepuasan dan kepemilikan atau pencapaian beberapa karateristik dan kemungkinan-kemungkinan tersebut merupakan hasil dari kesempatan dan keterbatasan setiap orang dalam hidupnya dan merefleksikan interaksi faktor personal dan lingkungan. Kreitler dan Ben (2004 dalam Kurs, 2015) menambahkan kualitas hidup sebagai persepsi individu mengenai keberfungsian mereka di dalam bidang kehidupan. Dalam hal ini bahwa kualitas hidup dibentuk oleh suatu gagasan yang terdiri dari aspek kognitif dan afektif karena penilaian individu terhadap suatu kondisi mempengaruhi secara efektif dan menimbulkan reaksi terhadap kondisi emosi individu tersebut.

(22)

Marsaulina (2012) yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara kualitas hidup dan dukungan anggota keluarga dengan pencegahan kekambuhan pasien skizofrenia dengan nilai (p)=0,012 (<0,05).

5.2.2 Kualitas Hidup Caregiver Berdasarkan Kesehatan Fisik

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar caregiver dalam studi ini memiliki kualitas hidup berdasarkan kesehatan fisik dalam kategori yang baik yaitu sebanyak 49 orang caregiver (56,3%). Berdasarkan distribusi jawaban caregiver ditemukan data bahwa sebanyak 40,2% caregiver merasa cukup puas dengan kecukupan tidur, kemudian sebanyak 69% caregiver merasa cukup puas dengan kemampuan untuk melakukan aktivitas hidup, dan 49,4% caregiver merasa cukup puas dengan kemampuan dalam bekerja.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Nuralita (2015) yang menjelaskan bahwa dari 86 responden yang diteliti sebagai anggota keluarga yang merawat pasien skizofrenia diketahui bahwa sebanyak 52 responden (60,5%) tetap memiliki kesehatan fisik yang baik, dan 34 orang responden (39,5%) memiliki kesehatan fisik yang buruk selama merawat anggota keluarga yang menderita skizofrenia. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Marsaulina (2012) yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara kondisi kesehatan fisik keluarga yang merwat pasien skizofrenia dengan pencegahan kekambuhan pasien skizofrenia dengan nilai (p)=0,003 (<0,05).

(23)

kurang waktu untuk istirahat karena merawat keluarga yang sakit, sebanyak 56,3% caregiver menyatakan menerima informasi tentang skizofrenia dari dokter dan perawat hanya dalam kategori yang sedang, sebanyak 48,3% caregiver menyatakan bahwa tidak sama sekali mampu mengikuti kegiatan lingkungan seperti gotong royong, sebanyak sebanyak 42,5% caregiver tidak sama sekali merasa kehilangan semangat dalam 1 (satu) tahun terkhir selama merawat anggota keluarga dengan skizofrenia.

Dapat disimpulkan bahwa kualitas hidup rata-rata caregiver berdasarkan kesehatan fisik adalah baik. Meskipun caregiver mempunyai kewajiban untuk memberikan perhatian dan waktu dalam merawat anggota keluarga yang menderita skizofrenia, mereka masih dapat beradaptasi dengan kondisi kesehatan mental penderita skizofrenia. Sehingga caregiver dapat menjalankan perannya sebagai caregiver untuk merawat anggota keluarga yang mengalami skizofrenia. Situasi inilah yang menyebabkan kesehatan fisik rata-rata caregiver dalam kategori baik.

(24)

seseorang dengan mudah dapat mengalami gangguan kesehatan fisik karena kelelahan ataupun karena infeksi penyakit tertentu yang menyebabkan kesehatan fisik menjadi terganggu. (Kurs, 2015).

Menurut Zhou (2016), kualitas hidup berdasarkan kesehatan fisik seseorang juga dipengaruhi oleh ketersediaaan waktu untuk beristirahat atau kualitas tidur yang seseorang dapatkan. Oleh karena itu, penting untuk mengatur waktu tidur dengan waktu kerja sebaik mungkin agar kulitas kesehatan fisik tetap terjaga secara optimal.

5.2.3 Kualitas Hidup Caregiver Berdasarkan Kesehatan Psikologis

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa data distribusi frekuensi dan persentase kualitas hidup caregiver berdasarkan kesehatan psikologis menunjukkan bahwa hampir seluruh caregiver memiliki kualitas hidup berdasarkan kesehatan psikologis dalam kategori yang baik yakni sebanyak 86 orang caregiver (98,9%), dan caregiver memiliki kualitas hidup berdasarkan kesehatan psikologis dalam kategori yang buruk yakni hanya sebanyak 1 orang caregiver (1,1%).

(25)

caregivermenyatakan bahwa mampu berkonsenterasi dalam kategori yang

sedang, sebanyak 60,9% caregiver menyatakan bahwa sering sekali menerima gambaran diri akibat masalah keluarga yang sakit karena menderita skizofrenia,kemudian sebanyak 52,9% caregiver menyatakan bahwa sangat puas dengan diri sendiri dalam menjalani hidup.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui bahwa sebagian besar anggota keluarga yang menjadi caregiver bagi penderita skizofrenia tetap memiliki kualitas hidup berdasarkan kesehatan psikologis dalam kategori yang baik. Hal ini dikarenakan sebagian besar caregiver yang masih sangat sering menikmati hidup dan merasakan hidup mereka sangat berarti meskipun merawat anggota keluarga yang menderita skizofrenia. Hasil studi ini juga menunjukkan adanya penerimaan yang tinggi terhadap kehadiran penderita skizofrenia di rumah sehingga caregiver dapat mengatasi stigma yang ada di masyarakat.

Menurut Mirza (2015), keluarga tidak mengalami stres selama merawat pasien, mengingat lamanya waktu merawat pasien yang rata-rata sudah lebih dari 10 tahun yaitu sebanyak 25 orang dan 22 orang diantaranya mengalami stres normal (88,0%) dan 3 lainnya mengalami tingkat stres ringan (12%). Keluarga telah berada tahap acceptance (penerimaan) terhadap apa yang telah terjadi.

(26)

psikologis caregiver dapat dinilai berada dalam kondisi yang baik. Berdasarkan hasil penelitian juga diketahui bahwa anggota keluarga yang menjadi caregiver tetap memiliki konsenterasi yang baik dalam menjalani pekerjaan dan merasa sangat puas dengan diri sendiri selama merawat anggota keluarga dengan skizofrenia. Menurut Nanda (2014), konsentasi dan ketelatenan serta kesabaran sangat dibutuhkan bagi anggota keluarga yang menjadi caregiver selama merawat anggota keluarga yang sakit, agar terhindar dari rasa tertekan dan stress yang berlebihan. Berdasarkan hasil penelitian ini juga diketahui bahwa sebagian besar responden masih merasa puas dengan kemampuan untuk merawat anggota keluarga yang menderita skizofrenia,dan tetap mampu mengerjakan pekerjaan lain dengan baik selain merawat anggota keluarga yang menderita skizofrenia sehingga sebagian sebagian besar anggota keluarga yang menjadi caregiver bagi penderita skizofrenia tetap memiliki kualitas hidup berdasarkan kesehatan psikologis dalam kategori yang baik.

(27)

skizofrenia dengan pencegahan kekambuhan pasien skizofrenia dengan nilai (p)=0,004; p<0,05).

5.2.4 Kualitas Hidup Caregiver Berdasarkan Hubungan Sosial

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa data distribusi frekuensi dan persentase kualitas hidup caregiver berdasarkan hubungan sosial menunjukkan bahwa sebagian besar caregiver memiliki kualitas hidup berdasarkan hubungan sosial dalam kategori yang baik yakni sebanyak 83 orang caregiver (95,4%), dan caregiver memiliki kualitas hidup berdasarkan hubungan sosial dalam kategori yang buruk yakni sebanyak 4 orang caregiver (4,6%).

Hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa sebanyak 62,1% caregiver menyatakan bahwa sangat puas dengan hubungan diri sendiri, kemudian

sebanyak 66,7% caregiver menyatakan bahwa sangat banyak menghadiri kegiatan keagamaan seperti sholat berjamaah atau wirit atau kebaktian, dan sebanyak 34,5% caregiver menyatakan tidak sama sekali puas dengan dukungan yang diberikan oleh teman.

(28)

seperti sholat berjamaah atau wirit atau kebaktian selama merawat anggota keluarga dengan skizofrenia. Menurut Hawari (2003) interaksi dan dukungan sosial yang baik dan kegiatan sosial kemasyarakatan yang masih dapat tetap diikuti oleh caregiver secara baik selama merawat anggota keluarga yang sakit dapat memberikan dampak positif kepada caregiver agar terhindar dari rasa dikucilkan dari masyarakat yang dapat menyebabkan interaksi sosial menjadi terhambat anatara caregiver dengan anggota masyarakat.

Menurut Nur Ellah (2015), secara sosial pada awal perawatan, setiap individu dalam keluarga merasa malu dan lingkungan sosial cenderung menghindar karena tindakan penderita yang mengganggu. Akan tetapi semakin lama lingkungan sosial mulai menerima dan menaruh kepedulian serta dukungan atas ketekunan mereka dalam merawat penderita.

(29)

Dapat disimpulkan bahwa rata-rata caregiver dapat menjalani aktivitas di masyarakat dengan baik yaitu keluarga masih bisa mengikuti kegiatan sosial seperti pengajian dan ibadah digereja. Interaksi sosial yang baik antar masyarakat bagi seorang caregiver perlu dilakukan agar tetap mendapatkan dukungan sosial yang baik dari masyarakat. Dukungan sosial yang baik akan membuat kenyamanan hidup bagi seorang caregiver karena terhindar dari diskriminasi sosial karena memiliki anggota keluarga yang menderita Skizofrenia.

5.2.5 Kualitas Hidup Caregiver Berdasarkan Lingkungan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar caregiver yang menjadi caregiver memiliki kualitas hidup dalam kategori yang baik sebanyak 45 orang caregiver (51,7%), dan caregiver memiliki kualitas hidup dalam kategori yang buruk yakni sebanyak 42 orang caregiver (48,3%) (Tabel 5.6).

(30)

sehari-hari dalam kategori yang sedang, sebanyak 55,2% caregiver menyatakan bahwa memiliki kesempatan untuk beraktivitas santai dalam kategori yang sedang, kemudian sebanyak 73,6% caregiver menyatakan bahwa merasa cukup puas dengan kondisi tempat tinggal, dan sebanyak 78,2% caregiver menyatakan bahwa merasa cukup puas dengan akses terhadap pelayanan kesehatan serta ketersediaan transportasi.

(31)

akan meningkatkan dampak baik untuk anggota keluarga yang sakit serta bagi seorang caregiver untuk memberikan perawatan yang optimal untuk kesembuhan anggota keluarga yang sakit.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Nuralita (2015) yang menjelaskan bahwa dari 86 responden yang diteliti sebagai anggota keluarga yang merawat pasien skizofrenia diketahui bahwa sebanyak 66 responden (76,7%) tetap memiliki interaksi lingkungan dalam kategori yang baik, dan 20 orang responden (23,3%) memiliki interaksi sosial kemasyarakatan yang buruk selama merawat anggota keluarga yang menderita skizofrenia. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Marsaulina (2012) yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara interaksi lingkungan dengan pencegahan kekambuhan pasien skizofrenia (p=0,024; p= <0,05).

5.3 Keterbatasan Penelitian

(32)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Kualitas hidup caregiver, sebagianbesar

caregivermemilikikualitashidupdalamkategori yang baikyaknisebanyak 45

orang caregiver (51,7%),

dancaregivermemilikikualitashidupdalamkategori yang burukyaknisebanyak 42 orang caregiver (48,3%).

2. Kualitas hidup caregiver berdasarkan kesehatan fisik, sebagianbesar caregivermemilikikualitashidupberdasarkankesehatanfisikdalamkategori

yang baikyaknisebanyak 49 orang caregiver (56,3%), dancaregivermemilikikualitashidupberdasarkankesehatanfisikdalamkatego ri yang burukyaknisebanyak 38 orang caregiver (43,7%).

3. Kualitas hidup caregiver berdasarkan kesehatan psikologis, hampirseluruh caregivermemilikikualitashidupberdasarkankesehatanpsikologisdalamkate

gori yang baikyaknisebanyak 86 orangcaregiver (98,9%), dancaregivermemilikikualitashidupberdasarkankesehatanpsikologisdalam kategori yang burukyaknihanyasebanyak 1 orang caregiver(1,1%).

4. Kualitas hidup caregiver berdasarkan hubungan sosial, sebagianbesar caregivermemilikikualitashidupberdasarkanhubungansosialdalamkategori

(33)

5. Kualitas hidup caregiver berdasarkan lingkungan, sebagianbesar caregivermemilikikualitashidupberdasarkanlingkungandalamkategori

yang baiksebanyak 67 orang caregiver(77%), dancaregivermemilikikualitashidupberdasarkanlingkungandalamkategori yang buruksebanyak 20 orang caregiver(23%).

6.2 Saran

6.2.1 Bagi Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data tambahan bagi institusi pendidikan keperawatan agar dapat mengintegrasikan dalam pembelajaran terkait dengan keempat domain yang mempengaruhi kualitas hidup, dan dapat diaplikasikan dalam pendidikan keperawatan khususnya bagi mata ajar keperawatan jiwa.

6.2.2 Bagi Praktek Keperawatan

(34)

6.2.3 Bagi Penelitian Keperawatan Selanjutnya

Figur

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi dan Persentase KarakteristikCaregiver yang
Tabel 5 1 Distribusi Frekuensi dan Persentase KarakteristikCaregiver yang . View in document p.15
Tabel 5.2  Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Kualitas Hidup
Tabel 5 2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Kualitas Hidup . View in document p.16

Referensi

Memperbarui...