ARAH KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PEMBENTUKAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG
PENANAMAN MODAL
Dosen :
Prof. Dr. H Rukmana Amanwinata, S.H., M.H.
Dr. Hernadi Affandi, S.H., L.L.M
Disusun Oleh : Ressy Purnamasari Affandi
NPM : 110620170023
Fakultas Hukum
Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Padjadjaran
i
Daftar Isi
Daftar Isi ... i
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 3
BAB II PEMBAHASAN ... 4
2.1. Latar Belakang Diterbitkannya Undang-Undang Penanaman Modal Tahun 2007 ... 4
2.2. Kebijakan Pemerintah dalam Pembentukan Undang-Undang Penanaman Modal Nomor 25 Tahun 2007 ... 7
2.3. Potensi Bagi Penanaman Modal di Indonesia Setelah Diterbitkannya Undang-Undang Penanaman Modal Nomor 25 Tahun 2007 ... 10
2.4. Tantangan Masa Depan dan Permasalahan Penanaman Modal di Indonesia 15 BAB III PENUTUP ... 19
3.1. Kesimpulan ... 19
3.2. Saran ... 20
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penanaman modal merupakan sektor utama yang sangat dihandalkan negara-negara di dunia untuk menggerakan roda perekonomian negara-negara. Jika dicermati dengan seksama apa yang dicita-citakan oleh para pendiri republik ini sungguh menakjubkan yakni bagaimana menyejahterakan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Namun patut disadari bahwa untuk mencapai tujuan tersebut tidak segampang membalik telapak tangan, namun
memerlukan kerja keras semua pihak. Sarana yang dipakai dalam mencapai tujuan tersebut yakni melalui pranata pembangunan. Pelaksanaan pembangunan ekonomi seperti diketahui memerlukan modal dalam jumlah yang cukup besar dan tersedia pada waktu yang tepat. Seharusnya modal dapat disediakan oleh pemerintah dan/atau masyarakat luas melalui tabungan nasional (national saving). Keadaan ideal, dari segi nasionalisme adalah apabila kebutuhan akan modal dalam negeri sendiri, apalah itu oleh pemerintah dan/atau dunia usaha swasta dalam negeri. Lewat pranata hukum investasi diharapkan ada payung hukum yang jelas bagi investor jika ingin menanamkan modalnya.Mengingat akan begitu besarnya peran penanaman modal atau investasi bagi pembangunan nasional, maka sudah sewajarnya penanaman modal atau investasi mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan menjadi bagian yang penting dalam penyelenggaraan perekonomian nasional. Sebab dengan adanya kegiatan penanaman modal atau investasi Indonesia dapat mengolah segala potensi ekonomi yang ada menjadi kekuatan ekonomi .
Pembangunan instrumen hukum penanamam modal atau investasi di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1967 yakni dengan diundangkannya
2
berhenti disitu saja, hal ini dapat dilihat dari dilengkapi dan di sempurnakannya kedua undang-undang di atas. Adapun Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang PMA telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang PMA (UU PMA), sedangkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang PMDN telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang PMDN (UU PMDN).
Semenjak diberlakukannya Undang Nomor 1 Tahun 1967 jo. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1970 tentang PMA (UU PMA) dan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 jo. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1970 tentang PMDN (UU PMDN), dapat dikatakan kegiatan penanaman modal atau investasi di Indonesia cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Di dalam perkembangan hukum di Indonesia Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) dan
Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri (UU PMDN) kini tidak berdiri secara sendiri-sendiri lagi. Pada saat ini pengaturan mengenai penanaman modal atau investasi telah diatur dalam sebuah undang-undang, yakni Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU PM), yang disahkan pada tanggal 26 April 2007.
Sejak diundangkan, undang-undang ini telah menimbulkan perbedaan pandangan yang cukup signifikan dan cenderung bertolak belakang. Pandangan pertama menganggap undang-undang ini sangat berpihak kepada investor asing dengan adanya jaminan perlakuan yang sama antara investor asing dan domestik.Pandangan ini mengarah kepada suatu pendapat yang menganggap bahwa undang-undang ini tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Pandangan kedua, menganggap undang-undang ini merupakan salah satu solusi yang tepat mengatasi problema penanaman modal di Indonesia. Undang-undang ini juga dikatakan telah disesuaikan dengan perubahan perekonomian global yang semakin terbuka dan tanpa batas serta telah
memenuhi kewajiban internasional Indonesia dalam berbagai kerjasama
3
Apabila dipahami secara cermat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal sebenarnya dibangun di atas pendekatan yang sama dengan undang-undang penanaman modal di negara sedang berkembang pada umumnya. Dimana selain memberi kesempatan yang lebih luas kepada investor asing dengan menjamin adanya perlakuan yang sama antara penanam modal asing (PMA) dan penanam modal dalam negeri (PMDN), undang-undang ini juga membuka ruang yang luas bagi pemerintah untuk menetapkan persyaratan-persyaratan tertentu kepada penanaman modal asing (PMA) untuk menjaga kepentingan nasional. Mendasarkan kepada uraian latar belakang tersebut diatas, penulis berkeinginan untuk mengetahui secara mendalam mengenai dampak diterbitkannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007, khususnya terhadap penanaman modal di Indonesia ke dalam bentuk penulisan makalah yang berjudul “ARAH KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007 TENTANG PENANAMAN MODAL”
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang menjadi latar belakang diterbitkannya Undang-Undang
Penanaman Modal Nomor 25 Tahun 2007?
1.2.2 Kemanakah arah kebijakan pemerintah dalam pembentukan
Undang-Undang Penanaman Modal Nomor 25 Tahun 2007?
1.2.3 Apakah yang menjadi potensi penanaman modal di Indonesia setelah
diterbitkannya Undang-Undang Penanaman Modal Nomor 25 Tahun 2007?
1.2.4 Apakah yang menjadi tantangan masa depan terkait penanaman modal di
4 BAB II PEMBAHASAN
2.1. Latar Belakang Diterbitkannya Undang-Undang Penanaman Modal Tahun 2007
Sejak menanti cukup lama akhirnya ketentuan investasi yang selama empat puluh
tahun diatur dalam undang-undang yakni Pertama, Undang-Undang Nomor 1 tahun
1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) dan yang Kedua, Undang Undang
Nomor 6 tahun tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), dicabut dan diganti dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal (UUPM). Undang-Undang penanaman modal dinyatakan berlaku sejak diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia (LNKRI) Tahun 2007 Nomor 67 pada tanggal 26 April 2007. Jika dirunut ke belakang terlihat, bahwa pembahasan terhadap pembaruan ketentuan investasi memakan waktu yang cukup lama. Hal ini dapat dimaklumi, sebab ruh yang terkandung dalam undang-undang penanaman modal menganut paham liberal tampaknya belum sepenuhnya dapat diterima oleh berbagai pihak. Namun dalam perjalanan waktu, akhirnya berbagai masukan yang disampaikan oleh para pihak yang mempunyai perhatian terhadap pengaturan hukum investasi dirangkum dalam semangat yang ada dalam UUPM yang ada saaat ini. Adanya paham liberal dalam undang-undang penanaman modal dapat disimpulkan, dari perlakuan yang diberikan oleh pemerintah kepada penanam modal. Dalam undang-undang ini tidak dibedakan perlakuan terhadap penanam modal asing
dengan penanam modal dalam negeri.1 Kelihatannya disinilah letak perbedaan sudut
pandang dalam melihat arti pentingnya penanaman modal. Ketika Rancangan
Undang-Undang Penanaman Modal digulirkan Denni Purbasari, salah seorang yang
menentang faham liberalisasi, mengemukakan liberalisasi dalam RUU PM, tidak
tepat untuk meningkatkan investasi. Hal ini karena penurunan investasi disebabkan
1
5
tingginya biaya berbisini (pungli, perizinan pusat, dan perda) dan menurunnya pasar
Indonesia karena daya beli.2 Dengan demikian perdebatan sebenarnya adalah
bagaimana memberikan perlindungan terhadap industry dalam negeri.
Sedangkan dari pihak pemerintah sebagai penggagas RUU PM mempunyai alasan tersendiri, mengapa dirasakan perlu ada liberalisasi dalam penanaman modal.
Hal ini dikemukakan oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dengan
disahkannya RUU PM menjadi Undang-Undang tentang Penanaman Modal, pemerintah optimis investasi usaha di berbagai bidang akan semakin meningkat. Investasi adalah instrumen yang penting dalam pembangunan nasional. Diperlukan
Undang Undang yang benar-benar berbeda dan menarik bagi investor.3 Pendapat
serupa juga dikemukakan oleh Fahmi Idris, Menteri Perindustrian kala itu, adanya
kesan bahwa RUU Penanaman Modal lebih menguntungkan investor asing, hal itu merupakan hal yang tidak mungkin terhindarkan. Saat ini tidak kenal lagi modal
asing ataupun modal dalam negeri. Yang dipersoalkan justru jika terjadi sengketa, bagaimana penyelesaiannya (dispute settlement) hal ini pun sudah ada penyelesaiannya dalam UU tersebut. jadi kebijakan ini sah saja diterapkan asal ditujukan untuk mendorong investasi sebab dunia sekarang ini sudah tanpa batas
borderless.4
Namun ada pemikiran lain yang mengemukakan, bahwa tersendatnya arus modal asing masuk ke Indonesia tidaklah semata-mata karena undang-undang investasi tidak memadai, akan tetapi biaya yang harus dikeluarkan oleh pelaku bisnis dalam menjalankan kegiatan bisnisnya sulit untuk diprediksi. Terlepas dari adanya berbagai pandangan terhadap kehadiran undang-undang penanaman modal yang mengadopsi berbagai perkembangan hukum investasi internasional, menarik untuk
2
Lihat Deni Purbasari “Penerapan Liberalisasi dalam RUU tidak tepat” dalam www.hukumonline.com edisi 8 September 2006.
3
Lihat Harian Umum Suara pembaruan, edisi 27 maret 2007.
4
6
dicermati apa yang dikemukakan oleh Didik J.Rahcbani, dalam undang-undang ini berbagai kepentingan coba diakomodasikan, disamping itu juga bertindak adil kepada
investor namun tanpa mengurangi kepentingan nasional.5 Apa yang dikemukakan
pakar ekonomi tersebut patut direnungkan, sebab jika hanya berfokus kepada satu sudut pandang saja, sementara pergerakan ekonomi begitu cepat, maka pilihan yang bijak adalah bagaimana menyatukan berbagai kepentingan tersebut dalam satu norma hukum yang dapat dijadikan pegangan bagi semua pihak yang terkait dengan investasi.
Lahirnya Undang-Undang Penanaman Modal tidak lepas bisa dilepaskan dari perkembangan masyarakat khususnya komunitas pebisnis yang semakin dinamis, baik di dalam negeri maupun di dunia internasional, terlebih lagi di era masa kini yang lebih dikenal sebagai era globalisasi arus perputaran modal pun demikian cepat dari tempat satu ke tempat lain. Terbitnya Undang-Undang Penanaman Modal tahun
2007 melahirkan secercah harapan dalam iklim investasi di Indonesia.Perlu diketahui pula bahwa lahirnya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal juga tidak dapat dipisahkan dari keanggotaan Indonesia di Wold Trade Organization (WTO), dimana Indonesia telah meratifikasi kesepakatan pendirian WTO melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 yang mewajibkan Indonesia untuk mengharmonisasikan peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal dengan kesepakatan-kesepakatan yang ada dalam WTO. Selain itu, untuk meningkatkan jumlah investasi yang ditanakman oleh investor di Indonesia, diperlukan adanya perubahan yang radikal. Salah satu yang perlu dilakukan perubahan adalah perubahan terhada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan Undang-kUndang Nomor 6 Tahun 1986 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri.
Alasan perlunya perubahan kedua Undang-Undang ini adalah karena tidak sesuai dengan tantangan dan kebutuhan untuk mempercepat perkembangan
5Ketika RUU PM dibahas di DPR RI, Didik J.Rachbani, bertindak sebagai Ketua Pansus Lihat
7
perekonomian nasional, melalui konstruksi pembangunan hukum nasional di bidang
penanaman modal yang berdaya saing dan berpihak kepada kepentingan nasional.6
Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal maka pengaturan kekgiatan penanaman modal di Indonesia mengalami perubahan dan diharapkan berkesuaian atau sejalan dengan UU Nomor 52 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang memberi wewenang lebih luas kepada daerah untuk melakukan penyelenggaraan investasi di daerah. Kewengangan daerah tidak hanya sebatas pada perizinan penanaman modal, akan tetapi juga meliputi pengaturan lebih lanjut dari kebijakan tingkat atas baik yang berkenan dengan pemberian berbagai fasilitas investasi maupun pembinaan dan pengendalian modal di daerah. Di Inldonesia, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal sebagai dasar hukum utama pelaksanaan penanaman modal dan peraturan pelaksanaanya, cakupan materinya juga memberikan insentif berupa pelayanan,
fasilitas, kemudahan dan jaminan bagi investor yang diberikan dalam kegiatan
penanaman modal di Indonesia.7
2.2. Kebijakan Pemerintah dalam Pembentukan Undang-Undang Penanaman Modal Nomor 25 Tahun 2007
Ditetapkannya ketentuan penanaman modal melalui Undang-Undang tentag penanaman Modal Nomor 25 Tahun 2007 sebagi pengganti UU Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan UU Nomor 6 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri telah mengakhiri dualism pengaturan tentang penanaman modal apakah itu penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri. Selain
6Lihat Penjelasan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007
7Pemberian fasilitas atau insentif ini juga dapat disebut sebagai pemberian hak bagi para investor.
Selain memiliki kewajiban, investor juga memiliki hak yang melekat kedalam status mereka sebagai
investor yang telah menunaikan kewajibannya. Hal tersebut sebagian merupakan hak dasar yang lazim
dimiliki setiap pelaku usaha yang baik dan sebagian lagi merupakan hak tentative atau conditional
berdasar kebijaksanaan pemerintah baik tersistem maupun yang bersifat ad-hoc. Sebagiannya dimuat
8
itu, kehadiran undang-undang baru ini sekaligus mempertegas dan memperjelas kebijakan pengaturan penanaman modal di Indonesia.
Dalam ketentuan Bab 3 Pasal 4 diatur tentang Kebijakan Dasar Penanaman Modal yang menjadi acuan dan kerangka dalam pengembangan penanaman modal di Indonesia, baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri. Secara tegas disebutkan, bahwa pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk: (a) mendorong terciptanya iklim usaha nasional yang kondusif bagi penanaman modal untuk penguatan daya saing perekonomian nasional; dan (b) mempercepat peningkatan penanaman modal. Selain itu, dalam menetapkan kebijakan dasar sebagaimana dimaksud ini, maka pemerintah akan memberi perlakuan yang sama bagi penanam modal dalam negeri dan asing dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional. Selanjutnya, pemerintah akan menjamin kepastian hukum, berusaha, dan keamanan berusaha bagi penanam modal sejak
proses pengurusan perizinan hingga berakhirnya kegiatan penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, serta membuka kesempatan bagi perkembangan dan memberikan perlindungan kepada usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi.
9
menciptakan terwujudnya kedaulatan ekonomi Indonesia. Keterkaitan pembangunan ekonomi dengan pelaku ekonomi dimantapkan lagi dengan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVI Tahun 1998 tentang Politik Ekonomi dalam Rangka Demokrasi Ekonomi sebagai sumber hukum materiil. Dengan demikian pengembangan penanaman modal bagi usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi menjadi bagian dari kebijakan dasar penanaman modal.
Berkaitan dengan hal tersebut, penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, pembangunan ekonomi berkelanjutan, kapasitas, dan kemapuan teknologi nasional, mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan, serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing.
Arah kebijakan dan strategi nasional di bidang penanaman modal dituangkan dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 pada
agenda pembangunan nasional nomor 6 (enam), “Meningkatkan Produktivitas Rakyat
dan Daya Saing di Pasar Internasional”, dengan sub agenda prioritas “Penguatan
Investasi”. Sasaran yang hendak dicapai dalam rangka “Penguatan Investasi” untuk lima tahun ke depanadalah:
1. Menurunnya waktu pemrosesan perizinan investasi nasional di pusat dan di daerah menjadi maksimal 15 hari per jenis perizinan pada tahun 2019.
2. Menurunnya waktu dan jumlah prosedur untuk memulai usaha (starting a business) menjadi 7 hari dan menjadi 5 prosedur pada tahun 2019, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan peringkat Indonesia pada Ease of Doing Business (EoDB). 3. Meningkatnya pertumbuhan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi sebesar 12,1% pada tahun 2019.
4. Meningkatnya investasi PMA dan PMDN menjadi Rp 933 triliun pada tahun 2019
dengan kontribusi PMDN yang semakin meningkat menjadi 38,9%.8
8
10
2.3. Potensi Bagi Penanaman Modal di Indonesia Setelah Diterbitkannya Undang-Undang Penanaman Modal Nomor 25 Tahun 2007
Untuk lebih meningkatkan kepercayaan investor asing dalam berinvestasi di Indonesia, maka Pemerintah Indonesia pun membuat perjanjian bilateral dengan berbagai negara asal investor. Perjanjian investasi (investment agreement) ini melahirkan beberapa prinsip yang umum dalam tata pergaulan internasional. Prinsip
yang dimaksud, antara lain: Pertama,prinsip A national treatment clause, artinya
setiap pihak akan memberikan perlakuan yang sama bagi warga negara para pihak seperti yang diberikan oleh para pihak kepada warga negara sendiri. Kedua,prinsip A most favoured nation clause, bahwa warga negara dari pihak akan mendapatkan a fair
and equitable treatment dalam hal penanaman modal asing. Warga negara para pihak
tidak akan mendapat perlakuan yang kurang dibandingkan dengan perlakuan yang
diberikan kepada warga negara pihak lain.9Selain itu dengan ditertibkannya
serangkaian peraturan pelaksanaan dari UUPM secara normatiftertentu diharapkan semakin menarik bagi calon investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Seperti diketahui, satu hal yang acapkali menjadi pertimbangan bagi calon investor untuk menanamkan modalnya di adalah terkait dengan fasilitas pajak, jika menarik investor akan menanamkan modalnya. Oleh karena itu cukup beralasan, mengapa para investor cukup giat melakukan berinvestasi di negara-negara yang memberi
insentif pajak yang menguntungkan dalam hitungan bisnis investor.10Dinamika
pembangunan nasional memrlukan langkah-langkah pembaruan di berbagai bidang, apalagi Indonesia telah memasuki decade pembangunan dan berada pada posisi transisional untuk menuju negara yang maju, aman, adil, dan sejahtera.
TAHUN 2015-2019
9
Tineke Louse Tuegeh Longdong. Atas Ketertiban Umum dan Konvensi New York 1958. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1998. Hlm. 49.
10Ida Bagus Rahmadi Sapancana. Kerangka Hukum dan Kebijakan Investasi Langsung di Indonesia.
11
Bagi Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan belum terkelola secara maksimal dan memadai, bukanlah perkara mudah untuk melakukannya. Pengelolaan potensi ekonomi menjadi ekonomi riil beryupa barang dan jasa tidak hanya memerlukan modal yang besar tetapi juga butuh teknologi, keterampilan (skill) dan manajemen yang kesemua itu bisa diperoleh melalui kegiatan penanaman modal khususnya penanaman modal asing. Secara objektifdapat dikemukakan berkaitan dengan berbagai faktor dan segi yang melingkupinya, maka prospek pengembangan penanaman modal khususnya penanaman modal asing sangatlah menjanjikan. Menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan investasi atau penanaman modal tidaklah sulit asalkan kondisi ekonomi kita stabil, keamanan dapat terjaga dengan baik, kepastian hukum dapat diciptakan, sehingga penanaman modal dapat berjalan dengan baik.
Pada periode 2015-2019, kinerja penanaman modal di Indonesiadiharapkan
tumbuh tinggi namun terdapat down risk (risiko perlambatan)akibat keringnya likuiditas dunia, menurunnya harga komoditas dunia,tekanan neraca pembayaran, hambatan perizinan dan nonperizinan sertamakin restriktifnya ketentuan investasi di sektor hulu sumber daya alam. Beberapa faktor yang diperkirakan akan dapat mempertahankan atau bahkanmeningkatkan kinerja penanaman modal di Indonesia pada periode 5 (lima) tahun mendatang antara lain:
Pertama, masih tingginya kepercayaan dan minat penanam modaluntuk
12
Kedua, besarnya pasar domestik menjadi daya tarik penanaman modal
sebagaimana telah ditunjukkan oleh survei yang dilakukan JBIC. Jumlah penduduk yang besar yaitu sekitar 255,5 juta (proyeksi tahun 2015) dengan struktur demografi muda serta banyaknya jumlah penduduk berpendapatan menengah dan tinggi (sekitar 223,6 juta) menjadikan Indonesia sebagai pasar paling menarik di Asia. Sementara itu, pasar Tiongkok diproyeksikan mengalami penurunan sejalan dengan struktur demografi yang menua akibat kebijakan satu anak. Berbagai survei dan data penanaman modal menunjukkan telah terjadi pergeseran paradigma investasi di Indonesia dari resource base ke market base khususnya substitusi impor. Untuk itu, arah kebijakan penanaman modal harus mendorong berkembangnya sektor yang memproduksi barang konsumsi (market base) didukung oleh sektor yang mengolah sumber daya alam menjadi bahan baku (hilirisasi).
Ketiga, dikeluarkannya berbagai kebijakan hilirisasi komoditi primer
pertambangan, pertanian dan perikanan akan mendorong penanaman modal jika dilaksanakan secara konsisten dan didukung kebijakan lintas sektoral. Program hilirisasi akan memperkokoh struktur ekonomi sekaligus menghapus missing middle dan menjaga ketahanan neraca pembayaran. Pengembangan industri hilir akan mengurangi impor bahan baku dan penolong yang saat ini mencapai 93% total
impor11. Komitmen Pemerintah yang tinggi untuk mengeksploitasi kekayaan laut
Indonesia yang sangat besar dan pembatasan kapal berbendera asing akan mendorong penanaman modal disektor kelautan yang mencakup perikanan tangkap dan budidaya, sertaindustri pengolahan ikan.
Keempat, kondisi lingkungan eksternal positif terhadap investasi di Indonesia
lima tahun mendatang antara lain: (a) komitmen dari negara-negara maju dan berkembang untuk memajukan perekonomian dunia; (b) perekonomian Asia yang diperkirakan menjadi kawasan ekonomi dinamis baru yang dimotori perekonomian Tiongkok dan negara-negara industri baru di Asia (Korea Selatan, India, dan
11
13
ASEAN); (c) terbentuknya pasar tunggal dan satu kesatuan basis produksi ASEAN pasca berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015; serta (d) Indonesia menjadi Ketua Indian Ocean Rim Association (IORA) periode tahun 2015-2017 yang akan dimanfaatkan untuk pengembangan sentra ekonomi di kawasan pantai barat Pulau Sumatera, serta peningkatan pemanfaatan potensi ekonomi dan sumber daya hayati laut di kawasan Samudera Hindia wilayah barat Pulau Sumatera.
Dalam pertemuan 20 di Australia pada bulan November 2014, negaranegara G-20 sepakat mendorong pertumbuhan ekonomi global hingga 2,1 persen lebih tinggi pada 2018. Tambahan pertumbuhan ekonomi global tersebut akan meningkatkan aktivitas ekonomi global hingga USD 2.000 triliun. G-20 juga sepakat meningkatkan investasi, perdagangan, mendorong terciptanya kompetisi bisnis yang adil dan pengentasan kemiskinan. Untuk mendorong perdagangan global, G-20 sepakat untuk mengurangi tarif ekspor impor, menyederhanakan prosedur kepabeanan, serta
mengurangi hambatan dagang. Dalam forum tersebut telah dikeluarkan juga 21 communique atau keputusan bersama, yang mana dari jumlah tersebut tiga diantaranya terkait dengan infrastruktur. Negara-negara G-20 sepakat untuk membantu dan mendorong investasi pembangunan infrastruktur di negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi yang pesat di kawasan Asia diperkirakan menjadi daya tarik aliran modal asing yang jenuh di pasar negara maju. Faktor utama yang mempengaruhinya adalah potensi pasar yang besar, pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yang tinggi, melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju (AS dan Uni Eropa), tersedianya sumber daya alamsebagai sumber bahan baku dan tenaga kerja sebagai faktor produksi.
14
untuk memanfaatkan pasar Indonesia yang besar sekaligus pintu masuk pasar negara anggota ASEAN lainnya. Namun demikian Pemerintah harus melakukan perbaikan daya saing perekonomian nasional. Dalam rangka mengoptimalkan manfaat kerjasama IORA bagi kepentingan nasional, Indonesia akan menerapkan strategi multiplication of authrority, yaitu tindakan bersama dari berbagai lapisan untuk menuju tujuan bersama. IORA merupakan forum kerjasama regional negara-negara di kawasan Samudera Hindia yang didirikan pada tahun 1997, beranggotakan 20 negara, yaitu: Australia, Banglades, India, Indonesia, Iran, Kenya, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Mozambik, Oman, Seychelles, Comoros, Singapura, Afrika Selatan, Sri Lanka, Tanzania, Thailand, Uni Emirat Arab dan Yaman. Terdapat 6 (enam) fokus kerjasama IORA, yaitu: (a) keselamatan dan keamanan maritim; (b) fasilitasi perdagangan dan investasi; (c) manajemen perikanan; (d) manajemen risiko bencana alam; (e) kerjasama di bidang akademik, sains, dan teknologi; serta (f) pertukaran
kebudayaan dan pariwisata. Kerjasama IORA berperan penting untuk: (a) memastikan wilayah perairan di sekitar Indonesia akan tetap menjadi sumber kerjasama bagi semua negara dan menjadi lingkungan yang kondusif bagi pembangunan dan kemakmuran Indonesia, khususnya dalam mengantisipasi peningkatan perdagangan, ketahanan pangan, lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi, keselamatan dan keamanan maritim terkait dengan Samudera Hindia; (b) mendukung hubungan dan kerjasama bilateral dengan negara-negara di lingkar Samudera Hindia; serta (c) konektifitas antara negara-negara di kawasan Samudera Hindia khususnya anggota IORA, bukan hanya padasektor infrastruktur, namun juga pada tataran people-to-people connectivity.BKPM akan secara aktif mendukung pengembangan wilayah barat Pulau Sumatera, khususnya untuk pengembangan
pariwisata, perikanan dan logistik sesuai dengan rencana Pemerintah.12
12
15
2.4. Tantangan Masa Depan dan Permasalahan Penanaman Modal di Indonesia
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 menetapkan tantangan utama pembangunan yang terkait dengan penanaman modal dapat dikelompokkan atas: (a) pembangunan tata kelola untuk menciptakan birokrasi yang efektif dan efisien; (b) pertumbuhan ekonomi; (c) percepatan pemerataan pembangunan antar wilayah; serta (d) percepatan pembangunan kelautan.Merujuk kepada RPJMN tersebut maka tantangan penanaman modal di Indonesia:
Pertama dalam tata kelola pemerintahan yang efektif dan efisien adalah
meningkatkan integritas, akuntabilitas, efektifitas, dan efisiensi birokrasi dalam menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan publik terkait penanaman modal adalah penyelenggaraan PTSP secara utuh di tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Kelembagaan PTSP dibentuk untuk memberikan
kemudahan mendapatkan pelayanan perizinan dan nonperizinan kepada penanam modal. Namun saat ini belum seluruh Kementerian dan Lembaga yang memiliki kewenangan untuk memberikan perizinan dan nonperizinan terkait penanaman modal melimpahkan atau mendelegasikan pemberian perizinan tersebut kepada PTSP Pusat (BKPM). Demikian pula belum seluruh PTSP Provinsi dan Kabupaten/Kota menerima pelimpahan atau pendelegasian kewenangan perizinan dan nonperizinan terkait dengan penanaman modal dari Gubernur dan Bupati/Walikota. Selain itu masih terjadi ketidakseragaman nomenklatur.
Kedua, pertumbuhan ekonomi saat ini belum optimal, salah satu faktor
16
menjaga stabilitas ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berkelanjutan dan inklusif akan dicapai melalui reformasi yang menyeluruh (comprehensive reform).
Langkah-langkah reformasi yang menyeluruh dapat dilakukan antara lain dengan kebijakan: (a) mengefisienkan kelembagaan ekonomi melalui penciptaan iklim usaha yang produktif dan kepastian hukum bagi dunia usaha; (b) perbaikan tata kelola yang antara lain dengan melakukan right government policy; dan (c) memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan domestik. Right government policy di bidang penanaman modal diperlukan karena masih banyaknya peraturan perundang-undangan pusat dan daerah yangtidak harmonis dan distorsif sehingga menyebabkan tidak efektifnya kebijakaninsentif dan tingginya biaya transaksi bagi dunia usaha, seperti tidak adanya kejelasan prosedur, waktu, dan biaya. Upaya yang perlu dilakukan antara lain harmonisasi kebijakan serta penyederhanaan perizinan dan nonperizinan terkait dengan penanaman modal. Upaya lain yang akan dilakukan
untuk mengoreksi disharmonis peraturan perundang-undangan Pusat dan Daerah adalah memberikan fasilitasi penyelesaian masalah (debottlenecking) kepada perusahaan-perusahaan yang menanamkan modalnya di Indonesia.
Ketiga, percepatan pemerataan pembangunan antar wilayah. Pemerintah terus
17
Pemerintah telah berkomitmen untuk membangun infrastrukturtenaga listrik sebesar 35,9 GW. Selain itu, akan dibangun 172 pelabuhan baru, 65 dermaga penyeberangan baru, 15 bandara baru, 3.258 km jalur kereta, 2.650 km jalan baru, 1.000 km jalan tol, serta pengembangan 14 Kawasan Industri (KI) dan 7 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di luar Pulau Jawa. Untuk mencapai target tersebut, dalam lima tahun kedepan kebutuhan investasi infrastruktur Indonesia adalah Rp 5.519,4 triliun. Dari jumlah tersebut, pendanaan Pemerintah hanya berkisar 40,14% atau sekitar Rp 2.215,6 triliun selama 5 (lima) tahun ke depan, sehingga terdapat selisih pendanaan sekitar Rp 3.303,8 trilliun (Bappenas, 2014). Pemerintah akanmelakukan kaji ulang struktur APBN antara lain dengan mengurangi subsidi BBM dan mengalokasikannya untuk pembangunan infrastruktur. Tantangan ke depan adalah mendorong partisipasi swasta dalam pembangunan infrastruktur baik melalui skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) maupun non KPS (Business to Business). Selain itu, Pemerintah Indonesia
telah berkomitmen untuk bergabung dengan Asian Infrastructure Invesment Bank (AIIB) yang diinisiasi oleh Pemerintah Tiongkok. Dengan demikian, tantangan berikutnya adalah pemanfaatan kesepakatan G-20 maupun AIIB untuk mendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Keempat, terdapat empat risiko tekanan perekonomian global yang
dapatmempengaruhi penanaman modal di Indonesia, yaitu:
1. Melambatnya perekonomian dunia. Skenario pesimis terus berlangsung. Pada
18
2. Rendahnya harga komoditi dunia atau berakhirnya era commodities super cycle
(peningkatan permintaan komoditi dunia).
3. Terjadinya kekeringan likuiditas dunia akibat kebijakan “normalisasi” moneter
atau penghentian stimulus moneter (tapering off quantitative easing) pada akhir tahun 2014. Kebijakan tersebut akan diikuti dengan kenaikan suku bunga dunia.
4. Meningkatnya persaingan dengan negara tetangga, terutama Malaysia, Thailand,
dan Vietnam dalam menarik penanaman modal khususnya pasca diberlakukannya MEA. Saat ini, posisi daya saing tenaga kerja Indonesia tergolong rendah dibandingkan ASEAN lainnya, artinya Indonesia tidak dapat lagi mengandalkan pada tenaga kerja murah. Faktor lain yang kurang kompetitif terdapat dalam bidang infrastruktur, techno readiness dan financial market development.
Kelima, Sejak awal tahun 2012 terjadi depresiasi/pelemahan nilai tukar rupiah
yang didorong oleh:
1. Faktor Eksternal: apresiasi nilai tukar dolar AS terhadap hampir seluruh mata
uang akibat rencana kenaikan FFR (Federal Fund Rate) dan kebijakan Quantitative Easing ECB (European Central Bank) dan BOJ (Bank of Japan) yang diikuti oleh sejumlah negara.
2. Faktor Internal: defisit transaksi berjalan (current account). Terdapat risiko
missmatch utang luar negeri swasta dan hanya 13,6% melakukan lindung tunai
(forex hedging). 13
13
19 BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan
Dalam kebijakan penanaman modal sebagaimana diatur dalam berbagai peraturan penanaman modal, khususnya yang terdapat dalam ketentuan undang-undang tentang penanamaan modal ditetapkan kebijakan penanaman modal di Indonesia sebagai dasar atau landasan bagi pemerintah untuk mengatur dan mengarahkan, serta mengembangkan penanaman modal di Indonesia. Adanya kebijakan penanaman modal ini akan mempertegas upaya pemerintah dalam mengatur dan memberi kontribusi optimal pada pembangunan ekonomi Indonesia. Kebijakan penanaman modal akan memberi arah bagi upaya pengembangan penanaman modal di Indonesia serta menjadi kerangka landasan bagi pengaturan penanaman modal selanjutnya.
Adanya pembaruan kebijakan penanaman modal memberi batasan dan arahan terhadap suatu tindakan atau perbuatan pemerintah untuk melakukan suatu hal yang berkenaan dengan kepentingan atau kebutuhan dasar masyarakat terhadap tercapainya pembukaan kesempatan lapangan kerja yang luas, tingkat penguasaan teknologi, kemampuan atau kapasitas sumber daya manusia, dan tingkat pendapatan masyarakat. Keberadaan penanaman modal di suatu negara haruslah diatur dan diarahkan sedemikian rupa agar dalam pelaksanaan aplikasi usahanya dapat bersesuaian dengan kepentingan dan kebutuhan dasar masyarakat dan tidak bertentangan dengan kebijakan pembangunan ekonomi kita.
20
kepastina hukum, berusaha, dan keamanan berusaha bagi penanam modal sejak proses pengurusan perizinan hingga berakhirnya kegiatan penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, serta membuka kesempatan bagi perkembangan dan memberikan perlindungan kepada usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi.
3.2.Saran
Tujuan penyelenggaraan penanaman modal hanya dapat tercapai apabila faktor penunjang yang menghambat iklim penanaman modal dapat diatasi, antara lain melalui perbaikan koordinasi antar-instansi pemerintah pusat dan daerah, penciptaan birokrasi yang efisien, kepastian hukum dibidang penanaman modal, biaya ekonomi yang berdaya saing tinggi serta iklim usaha yang kondusif di bidang ketenagakerjaan dan keamanan berusaha. Dengan perbaikan berbagai faktor penunjang tersebut,
diharapkaln realisasi penanaman modal akan membaik secara signifikan.
Agar pemerintah pusat lebih memperhatikan undang-undang atau kebijakan lain yang sejalan atau mendukung adanya penanaman modal di Indonesia baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri.
21 Daftar Pustaka
Adolf, H. (2005). Hukum Ekonomi Internasional (Suatu Pengantar ed., Vol. 5).
Bandung: CV Keni Media.
Adolf, H. (2010). Perjanjian Penanaman Modal Dalam Hukum Perdagangan
Internasional (WTO). Bandung: CV Keni Media.
Chandrawulan, A. (2014). Hukum Perusahaan Multinasional, Liberalisasi hukum
Perdagangan Internasional dan Hukum Penanaman Modal. Bandung: P.T. Alumni.
Fahamsyah, E. (2015). Hukum Penanaman Modal. Yogyakarta: LaksBang
PRESSindo.
Hartono, S. (1999). Hukum Ekonomi Pembangunan Indonesia. Jakarta: CV. Trimitra Mandiri.
HS, S., & Sutrisno, B. (2008). Hukum Investasi di Indonesia. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Ilmar, A. (2006). Hukum Penanaman Modal di Indonesia (Vol. 3). Jakarta: Kencana.
Ilmar, A. (2017). Hukum Penanaman Modal DI Indonesia (Vol. 5). Jakarta: Kencana.
Sembiring, S. (2010). Hukum Investasi. Bandung: CV. Nuansa Aulia.