• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN SELF REGULATION PADA MAHASISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GAMBARAN SELF REGULATION PADA MAHASISWA"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN SELF-REGULATION PADA MAHASISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI

(STUDI KASUS PADA UNIVERSITAS ABC)

Fhany Aprilia Noor Natalia Onggo Sofia Maharani P

Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya

LATAR BELAKANG MASALAH

Proses pembelajaran di perguruan tinggi menuntut mahasiswa untuk aktif mencari sumber pembelajaran mereka. Hal ini berhubungan erat dengan teori yang dikemukakan oleh Santrock (2011) mengenai learner-centered. Santrock (2011) berpendapat bahwa perencanaan dan instruksi pembelajaran yang berpusat pada siswa (learner-centered) akan membantu mereka untuk mandiri dalam belajar dan meningkatkan tanggung jawabnya dalam proses belajar-mengajar. Salah satu dampak positif dari lerner-centered adalah terbuka saluran komunikasi dua arah dengan pengajar. Tentunya hal ini akan meningkatkan atmosfer akademik positif dalam proses belajar siswa.

(2)

untuk bebas mengintegrasikan tindakan yang dijalankan dengan diri pribadi tanpa terikat atau mendapat kontrol dari orang lain (Santrock, 2008). Sedangkan self-direct merupakan pembelajaran yang dilakukan secara mandiri yang dapat mengatur pemikiran, perasaan, dan kelakuan seseorang (Santrock, 2011)

Bila menilik karakteristik di atas, terlihat bahwa sebagai adult learner yang memiliki karakteristik autonomous dan self-directed membutuhkan self-regulation pada diri mahasiswa. Self-regulation merujuk pada proses belajar yang bersumber pada pikiran dan tingkah laku siswa yang secara sistematis berorientasi pada tujuan belajar yang dibuatnya (Schunk, Zimmerman, 2008). Menurut Zimmerman, Bonner, & Kovach (1996), self-regulation pada pendidikan mengacu pada pikiran, perasaan, dan tindakan untuk mencapai tujuan dalam pendidikan. Self-regulation memiliki beberapa dimensi yaitu kinerja dalam menjalani pendidikan, tujuan personal, dan self-efficacy. Self-regulation (atau self regulated learning) mengacu pada pembelajaran yang dihasilkan dari pengalaman diri yang dihasilkan siswa dan perilaku yang sistematis berorientasi pencapaian tersebut tujuan belajar mereka. Pembelajaran mandiri melibatkan kegiatan yang diarahkan pada tujuan yang memicu mahasiswa, memodifikasi, dan mempertahankan (Zimmerman, 1994, 1998). Misalnya, memperhatikan instruksi, mengelola informasi, berlatih dan berhubungan terhadap pembelajaran baru dengan pengetahuan sebelumnya, mempercayai dari salah satu pembelajaran yang dapat diikuti, dan membangun hubungan sosial yang produktif dengan lingkungan kerja (Schunk, 1995). Pembelajaran mandiri cocok dengan gagasan bahwa daripada menjadi penerima informasi yang pasif, siswa berkontribusi secara aktif untuk tujuan pembelajaran mereka dan menjalankan kontrol atas pencapaian tujuan.

Self-regulation dapat berperan dalam pencapaian prestasi. Tetapi dalam proses pencapaian prestasi mahasiswa akan menghadapi masalah-masalah dalam mencapai prestasi. masalah-masalah dalam pencapaian prestasi dapat berupa: ekspektasi harapan yang rendah terhadap kesuksesan, menghindari kegagalan, penundaan terhadap tugas, terlalu perfeksionis dalam mengerjakan suatu tugas, kecemasan yang tinggi, dan sikap apatis terhadap pembelajaran di universitas.

(3)

TINJAUAN TEORITIS A. Adult Learner

Mahasiswa yang melakukan proses belajar mengajar memiliki rentang umur dari 18-25 tahun. Menurut Santrock (2011), umur 18-18-25 sudah masuk ke dalam tahapan dewasa awal. Mahasiswa yang memasuki dunia perkuliahan, akan dituntut untuk menjalani proses belajar mengajar menggunakan tehnik adult learner.

Menurut Russel (2006), adult learner merupakan prinsip belajar dengan karakteristik pelajar seperti autonomous dan self-directed, memiliki pengalaman dan pengetahuan, berorientasi tujuan, berorientasi relevansi, praktis, dan adanya kebutuhan untuk dihormati. Karakteristik tersebut dapat dimiliki jika seseorang telah mengikuti sistem belajar mengajar pada perguruan tinggi. Peneliti memfokuskan adult-learner tehadap autonomous, self-direct, dan learner-centered.

A.1 Autonomous

Autonomous adalah kebutuhan seseorang untuk bebas mengintegrasikan tindakan yang dijalankan dengan diri pribadi tanpa terikat atau mendapat kontrol dari orang lain (Santrock, 2008). Sementara itu, Steinberg (dalam Ali & Asrori, 2004) membedakan karakteristik kemandirian atas tiga bentuk, yaitu:

a. Kemandirian emosional (emotional autonomy), merupakan aspek kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar individu. Dapat dicontohkan dengan hubungan emosional antar individu, dan seperti hubungan emosional peserta didik dengan guru atau orang tuanya.

b. Kemandirian tingkah laku (behavioral autonomy), adalah suatu kemampuan untuk membuat keputusan tanpa bergantung kepada orang lain dan melakukannya dengan bertanggung jawab. c. Kemandirian nilai (value autonomy), merupakan kemampuan memaknai prinsip mengenai benar

dan salah, tentang apa yang penting dan apa yang tidak penting. Faktor-faktor seperti hadiah (reward) atau ancaman dapat menurunkan kebutuhan individu untuk melakukan autonomous penuh pada tindakannya. Sedangkan kondisi seperti bebas menentukan pilihan atau mengetahui perasaan individu tersebut dapat meningkatkan kepuasan pada kebutuhan autonomy.

A.2 Self-Direct

(4)

kemampuan yang dimiliki pelajar untuk melakukan kegiatan belajar secara sendiri maupun dengan adanya bantuan dari orang lain berdasarkan motivasinya sendiri. Hal ini dilakukan untuk menguasai suatu kompetensi tertentu sehingga dapat digunakannya untuk memecahkan masalah yang ada.

A.3 Learner-Centered

Keberadaan autonomous dan self-direct memperlihatkan bahwa gaya belajar adult learner berkaitan erat dengan instruksi perencanaan learner-centered yang merupakan terbukanya komunikasi dua arah antara pelajar dengan pengajar. Santrock (2011) meyakini bahwa perencanaan dan instruksi pembelajaran yang berpusat pada pembelajar (learner-centered) memindahkan fokus dari pembelajaran yang berpusat pada pengajar menjadi pembelajaran yang berpusat pada pelajar.

B. Self-Regulation

Self-regulation adalah suatu proses dimana pelajar mengaktifkan dan menopang kognisi, perilaku, dan perasaannya secara sistematis yang diorientasikan pada pencapaian suatu tujuan (Zimmerman, Bonner, & Kovach, 1996). Self-regulation dapat digambarkan sebagai siklus yang berputar. Hal ini disebabkan karena perilaku sebelumnya digunakan untuk membuat penyesuaian dalam usaha saat ini. Siklus tersebut berguna untuk pengembangan self-regulation pada pelajar. Menurut Zimmerman, Bonner, dan Kovach (1996), terdapat empat tahapan dalam siklus self-regulation yaitu self-evaluation and monitoring, goal setting and strategic planning, strategy-implementation monitoring, dan strategic-outcome monitoring.

B.1. Self-Evaluation and Monitoring

(5)

B.1.1. Motivasi

Santrock (2011) menyatakan bahwa motivasi melibatkan proses yang menguatkan, mengarahkan dan mempertahankan perilaku. Motivasi ada beberapa jenis, motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi eksternal untuk melakukan sesuatu demi mendapatkan sesuatu yang lain. Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi hal itu sendiri.

B.1.2. Atribusi

Teori atribusi menyatakan bahwa individu termotivasi untuk mengungkap penyebab yang mendasari kinerja dan perilaku mereka sendiri (Santrock, 2011). Bernard Weiner mengidentifikasi tiga dimensi dari penyebab atribusi: locus (apakah penyebab tersebut internal atau eksternal terhadap pelaku), stability (tingkat di mana penyebab tersebut tetap sama atau berubah), dan controllability (tingkat di mana individu dapat mengendalikan atau tidak penyebab tersebut).

B.1.3. Self-efficacy

Self efficacy adalah keyakinan bahwa individu dapat menguasai situasi dan menghasilkan hasil yang positif (Santrock, 2011). Bandura (dalam Santrock, 2011) percaya bahwa efikasi diri adalah sebuah faktor yang sangat penting dalam menentukan apakah pelajar berprestasi atau tidak. Dale Schunk (dalam Santrock, 2011) telah menerapkan konsep efikasi diri pada banyak aspek dari prestasi pelajar. Dalam pandangannya, efikasi diri mempengaruhi pilihan aktivitas pelajar. Pelajar dengan efikasi diri rendah pada pembelajaran dapat menghindari banyak tugas, khususnya yang menantang. Sedangkan pelajar dengan efikasi diri tinggi menghadapi tugas belajar tersebut dengan keinginan besar. Pelajar dengan efikasi diri tinggi lebih tekun berusaha pada tugas belajar dibandingkan pelajar dengan efikasi diri rendah.

B.2. Goal Setting and Strategic Planning

(6)

Guru dapat menginstruksikan pelajar bagaimana menganalisis tugas, menetapkan tujuan yang efektif, dan memilih strategi yang tepat. Contoh, pelajar yang menunda-nunda untuk menulis makalah dapat mengamati pengajar ketika pengajar menunjukkan cara membuat tema untuk topik yang serupa, menjadwalkan waktu untuk menulis subbab-subbab, dan mengedit makalah. Agar goal setting and strategic planning dapat dilakukan dengan optimal, maka Moran, dalam bukunya Managing Your Own Learning at University, mengemukakan beberapa cara praktis untuk meningkatkan motivasi belajar di antaranya, pemberian ganjaran untuk memperkuat perilaku (positive reinforcement), penetapan sasaran (goal setting), dan penataan lingkungan belajar.

B.2.1. Intervensi Peningkatan

Moran (1997) mengatakan bahwa ada tiga cara praktis untuk meningkatkan motivasi belajar yaitu:

1. Pemberian ganjaran untuk memperkuat perilaku: Kekuatan dari positive reinforcement. Prinsip dasar dari cara ini adalah teori belajar yang berpandangan bahwa kegiatan yang lebih disenangi dapat menjadi penguatan positif (misalnya, nonton sinetron, nonton video, dsb), yang dapat dipakai sebagai penguatan untuk kegiatan lain yang kurang disenangi. Contoh, menonton bioskop, berjalan-jalan di pertokoan, berkunjung ke rumah teman, menikmati makanan kecil di kafe bagi pencapaian rencana belajar (setelah berhasil membuat rangkuman untuk beberapa bab). Melalui cara ini penguatan hanya dapat diberikan ketika telah berhasil mencapai sasaran belajar.

2. Penetapan sasaran (goal setting) untuk meningkatkan motivasi.

(7)

memanfaatkan sumber-sumber yang bisa diperoleh. Kelima, seseorang harus mengatur waktu agar sasaran dapat dicapai sesuai dengan waktu yang diprediksi.

3. Penataan lingkungan belajar. Maksud penataan disini adalah lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Strategi ini sejalan dengan prinsip-prinsip self-management.

B.3. Strategy-Implementation Monitoring

Strategy-implementation monitoring terjadi ketika mahasiswa mencoba melaksanakan strategi dalam konteks yang terstruktur dan memantau akurasi mereka dalam mengimplementasikannya. Pada tahap ini melibatkan penerapan pilihan strategi untuk pelajar, tergantung pada strategi yang sebelumnya digunakan, umpan balik dari teman sebaya atau guru, dan self-monitoring. Pelajar mulai menerapkan strategi baru, mereka sering terjerumus ke dalam metode yang lebih familiar kecuali mereka memantau kinerja strategis mereka dengan sangat terkontrol, dengan cara menulis catatan mengenai langkah-langkah strategi yang mereka gunakan. Dengan latihan terus menerus, terutama dalam pengaturan terstruktur di mana terdapat umpan balik yang jelas, mereka belajar untuk melaksanakan strategi yang pada akhirnya tidak memerlukan perhatian khusus. Ketika mengimplementasikan strategi dan memantaunya, maka akan ada faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang untuk berprestasi dan masalah-masalah dalam mencapai prestasi tersebut.

B.3.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi

McClelland (1987) menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi yaitu:

1. Harapan orang tua terhadap anaknya

Orang tua yang mengharapkan anaknya bekerja keras dan berjuang untuk mencapai sukses akan mendorong anak tersebut untuk bertingkah laku yang mengarah kepada pencapaian prestasi.

2. Pengalaman pada tahun-tahun pertama kehidupan

Adanya perbedaan pengalaman masa lalu pada setiap orang menyebabkan terjadinya variasi terhadap tinggi rendahnya kecenderungan untuk berprestasi pada diri seseorang. Biasanya hal ini dipelajari pada masa kanak-kanak awal, terutama melalu interaksi dengan orang tua dan significant others.

(8)

Bila dibesarkan dalam budaya yang menekankan pada pentingnya keuletan, kerja keras, sikap inisiatif dan kompetitif, serta suasana yang selalu mendorong individu untuk memecahkan masalah secara mandiri tanpa dihantui perasaan takut gagal, maka dalam diri seseorang akan berkembang hasrat berprestasi yang tinggi.

4. Peniruan tingkah laku (Modeling)

Melalui observational learning anak mengadopsi atau meniru banyak karakteristik dari model, termasuk dalam kebutuhan untuk berprestasi jika model memiliki motif tersebut dalam derajat tertentu.

5. Lingkungan tempat proses pembelajaran berlangsung

Iklim belajar yang menyenangkan, tidak mengancam, memberi semangat dan sikap optimisme bagi pelajar dalam belajar, cenderung akan mendorong seseorang untuk tertarik belajar, memiliki toleransi terhadap suasana kompetisi, dan tidak khawatir akan kegagalan.

B.3.2. Masalah-Masalah dalam Mencapai Prestasi

Santrock (2011) menyatakan bahwa masalah-masalah dapat timbul ketika mahasiswa merupakan:

a. Students Who Are Low Achieving and Have Low Expectation for Success

Pelajar membutuhkan konsistensi terhadap tujuan dan tantangan yang akan mereka raih dengan cara dosen memberikan semangat dan bantuan kepada mereka untuk mencapai kesuksesan. Failure Syndrome adalah ekspektasi atau harapan yang rendah terhadap suatu kesuksesan dan mudah menyerah terhadap tanda-tanda awal dari setiap kesulitan.

b. Students Who Protect Their Self-Worth by Avoiding Failure

Beberapa individu tertarik untuk memproteksi diri dan menghindari kegagalan yang dapat digabungkan menjadi beberapa strategi yang tidak efektif, yaitu nonperformance (tidak mau mencoba), procrastination (menunda waktu belajar saat akan ujian sampai akhirnya belajar di detik-detik terakhir sebelum ujian), dan setting unreachables goals (penetapan tujuan yang terlalu tinggi, di mana hal itu tidak memungkinkan untuk dicapai).

c. Students Who Procrastinate

(9)

d. Students Who Are Perfectionists

Berpikir bahwa suatu kesalahan tidak pernah dapat diterima, standar dari suatu performa harus selalu dapat diraih atau dicapai.

e. Students With High Anxiety

Kecemasan adalah suatu hal yang tidak pasti, perasaan yang sangat tidak menyenangkan terhadap ketakutan dan ketakutan akan hal yang akan terjadi. Biasanya disebabkan oleh tekanan dan harapan tidak realistis yang diberikan orangtua kepada anak. f. Students Who Are Uninterested or Alienated

Masalah motivasi pelajar yang paling sulit melibatkan pelajar yang apatis, tidak tertarik untuk belajar atau merasa asing terhadap pembelajaran di universitas. Penghargaan di universitas tidak menjadi nilai yang penting bagi mereka.

B.4. Strategic-Outcome Monitoring

Strategic-outcome monitoring terjadi ketika pelajar memusatkan perhatian mereka pada hubungan antara hasil belajar dan proses strategis untuk menentukan efektivitas. Pada tahap ini melibatkan perluasan pemantauan pelajar untuk memasukkan hasil kinerja yang terkait dengan variasi strategis untuk menentukan efektivitas. Misalnya, seorang pelajar yang menggunakan strategi pengelompokan untuk menghafal konsep-konsep kunci dalam geografi akan belajar arti dari kategori tersebut, seperti danau, gurun, dan pegunungan, akan bekerja lebih baik daripada kategori yang berubah-ubah, seperti kata-kata yang dimulai dengan huruf I, d atau rn. Efektivitas strategi pembelajaran apapun tergantung pada sejumlah tugas, kontekstual, dan faktor-faktor personal yang dapat berfluktuasi. Pelajar juga memonitor kemajuan saat mereka mengerjakan tugas secara menyeluruh, mengelola emosi yang mengganggu dan memudarnya motivasi serta menyesuaikan strategi yang diproses untuk mendorong kesuksesan. Hal ini termasuk pelajar yang mengajukan pertanyaan, mencatat, dan mengalokasikan waktu dan sumber daya mereka dengan menggunakan cara ini agar membantu mereka untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri (Paris & Paris, 2001). Sehingga strategic-outcome monitoring akan digambarkan melalui prestasi belajar.

B.4.1 Pestasi Belajar

(10)

a. Penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan guru.

b. Kemampuan yang sungguh-sungguh ada atau dapat diamati (actuability) dan yang dapat diukur langsung dengan tes tertentu.

Prestasi belajar menurut Wuryani (Asril, 2011) adalah hasil yang diberikan oleh pengajar kepada pelajar dalam jangka waktu tertentu sebagai hasil penilaian belajar. Chaplin (Asril, 2011) juga mengatakan bahwa prestasi belajar merupakan satu tingkat khusus perolehan atau hasil keahlian dalam karya akademis yang dinilai oleh guru-guru, lewat tes-tes yang dibakukan atau lewat kombinasi ke dua hal tersebut. Prestasi belajar yang berhasil dicapai seorang individu merupakan hasil interaksi atas berbagai faktor.

Menurut Muhibbinsyah (Asril, 2011), faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar mahasiswa di perguruan tinggi, secara garis besarnya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Faktor internal (faktor dari dalam diri mahasiswa), meliputi keadaan kondisi jasmani (fisiologis), dan kondisi rohani (psikologis).

2. Faktor eksternal (faktor dari luar diri mahasiswa), terdiri dari faktor lingkungan, baik sosial dan non sosial dan faktor instrumental (M.Alisuf dalam Asril, 2011).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai pelajar dari penilaian berupa tes-tes yang diberikan oleh pengajar pada waktu tertentu dan dilaporkan ke dalam hasil tertulis yang dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal.

B.4.2 Penilaian Prestasi Belajar

Penilaian terhadap prestasi belajar didasarkan pada tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor (Winkel, 2005). Ketiga aspek tersebut terkait erat dalam proses pembelajaran. Penilaian prestasi belajar dapat diinterpretasikan ke dalam bentuk nilai rapor, indeks prestasi, angka kelulusan dan sebagainya. Di negara Indonesia juga berlaku simbol nilai yang menggunakan simbol huruf A, B, C, D, dan E. Simbol ini merupakan terjemahan dari simbol angka-angka (Dewi, 2009). Simbol nilai angka yang berskala 0 sampai 4 ini lazim digunakan pada perguruan tinggi untuk menetapkan indeks prestasi (IP) mahasiswa, baik pada setiap semester maupun pada akhir penyelesaian studi (Syah, 2008).

(11)

mahasiswa secara kumulatif mulai dari semester pertama sampai semester paling akhir yang ditempuh, dan dihitung akhir setiap semester (Dewi, 2009).

Menurut buku peraturan akademik Universitas Pembangunan Jaya (2012), mahasiswa berprestasi dan memiliki kesempatan beasiswa adalah 1) memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) setelah semester 2 atau selanjutnya minimal 3,50.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah penilaian prestasi belajar pada program pendidikan tinggi yang ditetapkan dalam buku peraturan akademik Universitas Pembangunan Jaya (2011) menyatakan bahwa mahasiswa yang berprestasi dapat mengajukan permohonan beasiswa dengan syarat memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) setelah semester 2 atau selanjutnya minimal 3,50.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan dan mata kuliah Wawancara. Tugas ini bertujuan untuk melihat aplikasi teori psikologi pendidikan dalam praktik pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) di program studi Arsitektur, Teknik Sipil, Akuntansi, Manajemen, Desain Produk Industri, Desain Komunikasi Visual, Psikologi, Komunikasi, Teknik Informatika dan Sistem Informasi. Dalam tugas ini, mahasiswa melakukan pengambilan data pada dosen dan mahasiswa menggunakan teknik wawancara.

Pada tahap persiapan, dosen pengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan dan Wawancara melakukan sosialisasi tentang maksud dan tujuan tugas ini dalam forum rapat koordinasi yang berlangsung pada tanggal 11 Februari 2014. Setelah mendapatkan persetujuan secara verbal, kedua dosen kemudian menyusun gambaran tugas dan pelaksanaan pengambilan data kemudian menghubungi sejumlah dosen dari sejumlah prodi untuk mendapatkan kesediaan untuk diwawancara dan diobservasi. Dosen dan mata kuliah dari kesepuluh program studi yang berhasil diidentifikasi tersebut kemudian ditugaskan kepada kelompok mahasiswa. Hal ini dilakukan oleh kedua dosen secara acak (random). Dari pengaturan tersebut, setiap kelompok mahasiswa mendapatkan satu mata kuliah dimana mereka melakukan wawancara dan observasi dengan satu dosen dan dua mahasiswa.

(12)

bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana individu atau kelompok memberikan makna pada masalah (Creswell, 2014). Hal ini karena penelitian kualitatif bertujuan memahami bagaimana manusia menginterpretasikan pengalaman mereka, bagaimana mereka mengkonstruksikan kehidupan mereka dan makna yang mereka berikan pada pengalaman mereka (Meriam, 2009).

Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case study). Hal ini karena tim peneliti ingin mendapatkan gambaran fenomena sosial secara holistik dan bermakna secara mendalam (Yin, 2002). Setiap studi kasus menggambarkan proses belajar mengajar yang terjadi di satu mata kuliah sesuai dengan penugasan, dimana tim peneliti melakukan observasi dan wawancara dengan satu dosen yang mengampu mata kuliah tersebut dan dua orang mahasiswa yang mengikuti mata kuliah tersebut.

Pemilihan sampel dipilih secara purposif (purposive sampling) dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang memenuhi kriteria (Ritchie, Lewis, Nicholls dan Ormson, 2013). Kriteria yang dibutuhkan dalam menentukan dosen pengampu mata kuliah yang sebelumnya bersedia untuk diwawancara dan diobservasi. Sedangkan kriteria untuk menentukan mahasiswa adalah mereka yang dipilih oleh dosen yang bersangkutan berdasarkan kemampuan mereka untuk mengelaborasikan secara verbal pengalaman dan penghayatan mereka terhadap topik yang diteliti.

Pengambilan data untuk penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi. Wawancara memberikan cara untuk memahami pengalaman dan makna yang mereka berikan atas pengalaman (Seidman, 2013). Sedangkan observasi dilakukan karena penelitian ini ingin memahami fenomena yang dikaji dari perspektif atau sudut pandang subyek secara alamiah (Hatch, 2002). Khusus untuk wawancara, penelitian ini menggunakan wawancara terstruktur (semi-structured interview). Tim peneliti menggunakan daftar pertanyaan untuk memandu proses wawancara dan mengelola jalannya proses agar sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada subyek untuk membicarakan hal-hal yang dianggap penting atau menarik bagi mereka (Hesse-Biber dan Leavy, 2011)

(13)

Proses persiapan pengambilan data dilakukan sebagai berikut. Tim peneliti melakukan kajian literatur dan menyusun draft pertanyaan wawancara dan panduan observasi. Hal ini dipresentasikan untuk mendapatkan masukan dari dosen dan sesama mahasiswa. Setelah finalisasi daftar pertanyaan dan panduan observasi, tim peneliti kemudian menyusun lembar kesediaan (informed consent) untuk diisi oleh subyek sebagai tanda kesediaan mereka untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

Wawancara dan observasi dilakukan pada pada waktu-waktu berikut ini

Tabel 1

Tabel Pelaksanaan Pengambilan Data

Pengambilan

Data Narasumber Tempat Tanggal

Observasi Dosen Ruang B-304 7-Apr-14

Observasi Mahasiswa A Ruang B-305 7-Apr-14

Observasi Mahasiswa B Ruang B-306 7-Apr-14

Wawancara Dosen Program Studi Sistem Informasi 17-Apr-14

Wawancara Mahasiswa A Program Studi Sistem Informasi 24-Apr-14

Wawancara Mahasiswa B Program Studi Sistem Informasi 24-Apr-14

Tim peneliti kemudian melakukan transkripsi verbatim terhadap hasil wawancara. Hasil transkripsi tersebut kemudian dibaca bersama oleh tim peneliti untuk keperluan triangulasi. Triangulasi tersebut disusun berdasarkan kajian teoritis, dimana tim peneliti membandingkan hasil dari sudut pandang yang berbeda yaitu dosen dan mahasiswa. Hasil triangulasi tersebut dituangkan ke dalam analisis penelitian.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Adult Learner

A.1. Autonomous

(14)

ketidakhadiran sebanyak 4 kali dan waktu kelas yang ditentukan oleh BAP-PMP. Beliau juga berpendapat bahwa tidak perlu memberikan peraturan dan hukuman yang ketat karena sistem sendiri yang akan melakukan hukuman secara tidak langsung. Jika ada mahasiswa yang tidak masuk, maka mahasiswa tersebut tidak mendapatkan nilai selama kelas berlangsung.

NY berpendapat bahwa pembelajaran yang dilakukan di perguruan tinggi tidak sama dengan pembelajaran yang dilakukan di SMA. Sistem pada perguruan tinggi tidak lagi menggunakan peraturan yang ketat. Mahasiswa diminta untuk belajar aktif dan tidak lagi terkontrol dengan peraturan yang ada. Jika ingin tidak mengikuti kelas dapat dilakukan karena adanya kebebasan. Namun, ia tidak akan melakukannya karena ingin dapat memahami materi yang ada. Selain itu, mahasiswa dituntut untuk mandiri, segala sesuatunya diminta untuk mengerjakan sendiri.

WL berpendapat bahwa dalam perkuliahan setelah dosen memberikan materi mahasiswa dituntut aktif dengan cara tanya-jawab terhadap dosen. Selain itu, saat di dalam kelas mahasiswa sudah harus mengerti peraturan yang ada. Sehingga hal itu dapat menuntut kemandirian mahasiswa agar lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Berdasarkan hasil observasi di kelas tanggal 07 April 2014, maka Bapak AUG sedang memberikan kebebasan pada mahasiswa untuk tetap memperbolehkan mahasiswa masuk kelas dan tidak menegur mahasiswa tersebut. Pada saat itu ada mahasiswa yang masuk ke kelas terlambat, lebih dari 15 menit.

Pembelajaran yang dilakukan di perguruan tinggi tidak sama dengan pembelajaran yang dilakukan di SMA. Sistem pada perguruan tinggi tidak lagi menggunakan peraturan yang ketat. Mahasiswa diminta untuk belajar aktif dan tidak lagi terkontrol dengan peraturan yang ada seperti di SMA. Dalam kelas Perancangan Basis Data, mahasiswa diberikan kebebasan oleh Bapak AUG. Sesuai dengan teori autonomous, kebutuhan seseorang untuk bebas mengintegrasikan tindakan yang dijalankan dengan diri pribadi tanpa terikat atau mendapat kontrol dari orang lain (Santrock, 2008).

(15)

mengetahui mana yang benar dan salah serta apa yang penting dan tidak. Sesuai dengan teori kemandirian nilai (value autonomy), kemampuan memaknai prinsip mengenai benar dan salah, tentang apa yang penting dan apa yang tidak penting. Dalam analisa ini, sebagian besar mahasiswa sudah dapat mengetahui jika ia tidak masuk kelas tanpa alasan yang berarti atau penting, maka ia tidak bisa memahami materi dan mendapatkan nilai dengan maksimal. Jika ia tidak bisa memahami materi dan mendapatkan nilai dengan maksimal, maka IPK mahasiswa tersebut tidak akan sesuai dengan sasaran.

Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa tidak masuk kelas tanpa alasan yang berarti atau penting merupakan hal yang salah untuk dilakukan oleh mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa dalam kelas Perancangan Basis Data sudah memiliki prinsip mengenai benar dan salah serta tentang apa yang penting dan tidak. Ketiga, mahasiswa sudah dapat bertingkah laku sesuai dengan apa yang ia inginkan tanpa bergantung pada orang lain. Sesuai dengan teori kemandirian tingkah laku (behavioral autonomy), suatu kemampuan untuk membuat keputusan tanpa bergantung kepada orang lain dan melakukannya dengan bertanggung jawab. Dalam analisa ini, mahasiswa memiliki kemandirian tingkah laku dalam hal belajar. Belajar melalui diskusi pada klub mandiri, sosial media, ataupun kepada dosen-dosen SI, termasuk Bapak AUG. Selain itu, pilihan masuk kelas atau tidak juga sudah menjadikan contoh seorang mahasiswa dalam membuat keputusan atas apa yang akan ia lakukan tanpa bergantung pada orang lain dan mahasiswa tersebut bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.

A.2. Self-Direct

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG mengatakan bahwa mahasiswa memiliki kemauan tinggi untuk bertanya kepada Bapak AUG ketika sedang mengerjakan tugas (projek) atau ketika ada yang mahasiswa tidak mengerti dan pada saat dosen-dosen SI memuat artikel atau informasi mengenai sebuah materi di sosial media, mahasiswa ingin selalu tahu tentang informasi-informasi mengenai sebuah materi di sosial media tersebut untuk proses belajar mereka.

Menurut NY, pembelajaran yang dilakukan pada kelas Perancangan Basis Data dilakukan secara mandiri. Mahasiswa di haruskan untuk mencari materi-materi baru sebelum kelas dimulai, menanyakan kepada teman terhadap materi yang tidak dapat ia kerjakan dan melakukan diskusi. Walaupun tidak mendapatkan perintah dari dosen, NY tetap melakukan hal tersebut.

(16)

Berdasarkan hasil observasi di kelas tanggal 07 April 2014, maka Bapak AUG tidak sedang melakukan kegiatan belajar secara mandiri terhadap mahasiswa. Melainkan, Bapak AUG sedang melakukan kegiatan belajar secara bersama-sama di dalam kelas.

Dalam kelas Perancangan Basis Data, mahasiswa sudah dapat belajar secara mandiri tanpa harus selalu diajarkan oleh dosen. Sesuai dengan teori kemandirian belajar (self-direct), sifat, sikap, dan kemampuan yang dimiliki mahasiswa untuk melakukan kegiatan belajar secara sendiri maupun dengan adanya bantuan dari orang lain, berdasarkan motivasinya sendiri. Dalam analisa ini, mahasiswa memiliki kemauan tinggi untuk bertanya kepada Bapak AUG ataupun kepada teman yang lebih kompeten ketika sedang mengerjakan tugas (projek) atau ketika mahasiswa tidak mengerti dan pada saat dosen-dosen SI memuat artikel atau informasi mengenai sebuah materi pada sosial media, mahasiswa ingin selalu tahu tentang informasi-informasi mengenai sebuah materi pada sosial media tersebut untuk proses belajar mereka. Selain itu, sebagian besar mahasiswa juga mereview materi yang sudah dipelajari dan mempelajari materi-materi yang belum diajarkan oleh dosen melalui buku-buku ataupun internet.

A.3. Learner-Centered

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG tidak sedang melakukan proses belajar-mengajar yang berpusat pada pembelajar (learner-centered). Akan tetapi, ketika Bapak AUG sedang memberikan projek atau tugas kelompok, maka proses belajar-mengajar menjadi berpusat pada pembelajar (learner-centered).

NY dan WL menjelaskan bahwa mahasiswa turut aktif dalam pembelajaran. Bapak AUG memberikan materi yang pada akhirnya akan di praktikan di dalam project pada saat UAS nanti. Mahasiswa diminta untuk mengerjakan projek dan tugas secara kelompok dan individu. Yang dimana jika mereka tidak mengerti dalam mengerjakan tugas, dapat didiskusikan pada club mandiri yang mereka miliki dan bertanya atau meminta bimbingan dengan dosen. Tambahan pula, mahasiswa diminta untuk mengaplikasikan contoh kasus ke dalam software yang sesuai.

Berdasarkan hasil observasi di kelas tanggal 07 April 2014, maka Bapak AUG tetap berusaha untuk membuat mahasiswa aktif melalui tanya jawab, diskusi, konsul, serta Bapak AUG juga membuat atmosfer pada saat proses-belajar terjadi menjadi positif antara dosen, mahasiswa, dan lingkungan.

(17)

berpusat pada dosen menjadi pembelajaran yang berpusat pada pelajar. Learner-centered terbagi menjadi beberapa macam yaitu small group dicussion, problem based learning, essential question, discovery learning.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terlihat bahwa pada saat di kelas, terjadinya tanya jawab antar dosen dengan mahasiswa. Hal ini akan membuat pembelajar semakin aktif dan terus menggali informasi yang ingin mereka ketahui. Mahasiswa memiliki klub mandiri yang dimana mereka berkumpul membentuk small group discussion untuk membahas projek yang sedang mereka kerjakan. Jika ada sesuatu yang tidak dimengerti, mereka akan aktif bertanya kepada dosen seputar materi mengenai projek atau usecase untuk proses bisnis.

Selain itu adanya problem based learning (PBL) yang dilakukan dalam mata kuliah ini. Hal ini dilakukan dengan cara dosen melemparkan isu atau masalah yang terjadi mengenai materi pembelajaran dari mata kuliah ini, dengan begitu mahasiswa aktif mendiskusikan masalah yang sedang beredar dengan keterkaitan dengan materi pembelajaran. Hal tersebut juga dapat masuk ke dalam essential question yang dimana dosen menanyakan pertanyaan-pertanyaan berbobot seputar mata kuliah untuk memancing mahasiswa turut aktif dalam kelas. Terakhir, merupakan discovery learning, mahasiswa dituntut untuk mengumpulkan informasi mengenai mata kuliah tersebut. Hal tersebut dilakukan agar mahasiswa dapat menganalisis data untuk diaplikasikan menjadi usecase untuk proses bisnis dan dalam pembuatan software.

B. Self-Regulation

B.1. Self-Evaluation and Monitoring

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG mengatakan bahwa sebagian besar mahasiswanya adalah mahasiswa dengan motivasi yang tinggi dan sedang. Akan tetapi, mereka juga merupakan mahasiswa yang tidak jarang memiliki rasa malas pada saat mengerjakan tugas.

(18)

untuk mendapatkan nilai. NY, mengatakan jika ia tidak dapat mengerjakan atau mengerti akan suatu tugas, ia akan bertanya dan mendiskusikannya bersama klub mandirinya. Hasil yang di dapat, adalah nilai di atas rata-rata.

WL berpendapat bahwa hal-hal yang paling tidak dapat diatasi adalah menunda-nunda tugas dikarenakan rasa malas. Dengan berdiskusi terhadap teman, ia dapat mengetahui kelemahannya terhadap materi yang tidak ia ketahui. Hingga akhirnya ia dapat menemukan solusi untuk tugasnya dan mendapatkan hasil yang maksimal.

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG mengatakan bahwa sebagian besar mahasiswanya adalah mahasiswa dengan motivasi yang tinggi dan sedang. Akan tetapi, mereka juga merupakan mahasiswa yang tidak jarang memiliki rasa malas pada saat mengerjakan tugas. Mahasiswa dalam kelas Perancangan Basis Data sudah dapat mengevaluasi diri dan memantau bagaimana efektivitas pribadi mereka.

Sesuai dengan teori self-evaluation and monitoring terjadi ketika mahasiswa menilai efektivitas pribadi mereka. Biasanya terlihat dari pengamatan dan pencatatan kinerja sebelumnya dan hasil belajar yang didapat. Tahap ini melibatkan evaluasi seseorang pada saat belajar atau mengerjakan tugas (Zimmerman, Bonner, & Kovach, 1996).

Dalam analisa ini, mahasiswa dapat memahami diri bahwa ia terkadang dilanda oleh rasa malas. Selain itu, ketika terlalu banyak tugas yang diberikan, mahasiswa suka menunda-nunda pekerjaan tersebut. Namun, rasa malas tersebut tidak dibiarkan berlama-lama ada pada diri mereka, maka kemudian mahasiswa mengerjakan tugasnya kembali untuk mendapatkan nilai yang maksimal. Jika mahasiswa tidak dapat mengerjakan atau mengerti akan suatu tugas, maka ia akan bertanya dan mendiskusikan tugas tersebut bersama klub mandiri atau dosen.

B.1.1. Motivasi

(19)

Menurut NY, motivasi muncul karena NY ingin memahami mata kuliah tersebut. NY tidak mengejar prestasi karena menurutnya jika ia telah memahami suatu konteks pada mata kuliah tersebut IP pun pasti akan meningkat. Selain itu, NY juga mendapat dukungan dari keluarga, dosen, dan teman sebaya. Menurut NY, kinerja yang dilakukan berdasarkan karena ia ingin mengerti mengenai materi tersebut. Hal ini dilakukan agar ia dapat melakukan penerapan dengan baik. NY, melakukan hal ini sejak awal masuk perguruan tinggi. Namun, terkadang jika rasa malas melanda ia harus dapat melawannya.

Dalam konteks motivasi, WL sebagai mahasiswa dalam mata kuliah Perancangan Basis Data mengetahui bagaimana menggali motivasi dari dalam diri maupun dari luar diri. Namun, motivasi dari keluarga dan teman sebaya dapat membawa pengaruh positif dalam mencapai prestasi yang diinginkan. WL berpendapat bahwa kinerja yang dilakukan yaitu selalu mengajukan tanya-jawab dengan dosen karena ia penasaran terhadap materi yang diberikan oleh dosen. Dia lebih menyukai apabila dosen memberikan studi kasus di luar jam mata kuliah. Hal ini membuat WL lebih termotivasi dalam belajar.

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG menggambarkan motivasi yang dimiliki mahasiswa dengan jenis motivasi intrinsik. Akan tetapi, selain dari motivasi intrinsik ternyata mahasiswa juga memiliki motivasi ekstrinsik. Sesuai dengan teori motivasi, motivasi ada beberapa jenis yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi hal itu sendiri dan motivasi ekstrinsik adalah motivasi eksternal untuk melakukan sesuatu demi mendapatkan sesuatu yang lain (Santrock, 2011).

Dalam analisa ini, mahasiswa dikatakan memiliki motivasi intrinsik karena mahasiswa Perancangan Basis Data memiliki kemauan untuk paham atau menguasai mata kuliah tersebut, memiliki kemauan untuk konsultasi kepada Bapak AUG, dan mahasiswa ingin selalu tahu tentang informasi-informasi terbaru mengenai sebuah materi dari sosial media. Sedangkan mahasiswa dapat dikatakan memiliki motivasi ekstrinsik karena mahasiswa Perancangan Basis Data memiliki kemauan untuk mencapai prestasi dengan mendapatkan nilai IP yang terbaik.

B.1.3. Self-efficacy

(20)

NY, memiliki keyakinan bahwa jika ia dapat memahami teori yang diberikan di dalam kelas Perancangan Basis Data, secara otomatis ia dapat meningkatkan nilai IPK.

WL meyakini bahwa dirinya dapat menguasai situasi menunda-nunda tugas dan malas dengan cara diskusi dan mengerjakan tugas bersama-sama. Sehingga WL dapat menghasilkan nilai tugas yang maksimal.

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG mengatakan bahwa jika mahasiswa sudah dapat memahami dirinya sendiri, maka ia sudah dapat meyakini kemampuannya dalam bidang tertentu. Sehingga hasil yang diperoleh oleh mahasiswa dalam bidang tertentu tersebut bisa maksimal. Sesuai dengan teori self efficacy, keyakinan bahwa individu dapat menguasai situasi dan menghasilkan hasil yang positif (Santrock, 2011). Dalam analisa ini, mahasiswa sudah dapat memahami bahwa ia harus menguasai situasi pada saat mereka sedang dilanda rasa malas dan di saat sedang tidak mengerti tentang suatu materi, maka mereka harus segera melawan rasa malas tersebut dan berdiskusi atau bertanya tentang materi yang mereka tidak mengerti kepada orang yang lebih mengerti seperti dosen atau teman. Hal ini dilakukan agar menghasilkan hal yang positif seperti mendapatkan nilai IPK yang terbaik, mendapatkan ilmu yang maksimal, pengalaman, dan lain sebagainya.

B.2. Goal Setting and Strategic Planning

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG mengatakan bahwa strategi-strategi yang diberikan oleh Bapak AUG kepada mahasiswanya adalah melakukan review materi melalui kuis sebelum ujian, memberikan materi berupa ebook untuk dipelajari oleh mahasiswa, memberikan kesempatan untuk menambah ilmu melalui diskusi dalam klub mandiri, diskusi melalui media sosial dengan dosen-dosen SI, dan konsul dengan Bapak AUG di luar jam mata kuliah. Hal ini dilakukan agar mahasiswa dapat mencapai tujuannya yaitu mendapakan nilai IPK yang terbaik.

Menurut NY, ia ingin menyenangkan orang tuanya, membuat bangga dirinya dengan memahami materi yang telah diberikan. Sehingga IPK akan terus meningkat. Agar hal tersebut dapat dicapai, ia melakukan strategi dengan cara memperbanyak latihan, membaca buku tentang teori-teori yang akan di bahas. Selain itu, melakukan diskusi dengan klub mandiri yang merupakan perkumpulan mahasiswa SI.

(21)

Berdasarkan hasil observasi di kelas tanggal 07 April 2014, maka Bapak AUG tidak sedang memberikan review dan memberikan kesempatan untuk diskusi. Akan tetapi, Bapak AUG sedang memberkan materi melalui power point presentation.

Dalam kelas Perancangan Basis Data, mahasiswa sudah dapat menetapkan tujuan belajar mereka serta membuat rencana strategi untuk dapat meraih tujuan mereka dan untuk apabila mereka gagal. Sesuai dengan teori goal setting and strategic planning, mahasiswa menganalisis tugas belajar, menetapkan tujuan belajar tertentu, dan rencana atau memperbaiki strategi untuk mencapai tujuan. Tahap ini melibatkan menganalisis tugas belajar, menetapkan tujuan, dan perencanaan atau memperbaiki strategi pembelajaran (Zimmerman, Bonner, & Kovach, 1996).

Dalam analisa ini, Bapak AUG memberikan strategi-strategi belajar kepada mahasiswa yaitu mereview pelajaran-pelajaran melalui kuis sebelum ujian, memberikan materi berupa ebook untuk dipelajari oleh mahasiswa, memberikan kesempatan untuk menambah ilmu melalui diskusi dalam klub mandiri, media sosial dengan dosen-dosen di SI, dan konsul dengan Bapak AUG di luar jam mata kuliah. Hal ini dilakukan agar mahasiswa dapat mencapai tujuannya yaitu mendapakan nilai IPK yang terbaik. Selain itu, dari pihak mahasiswa sendiri memiliki strategi-strategi belajar yang berupa memperbanyak latihan, membaca tentang teori-teori yang akan di bahas melalui buku atau internet, melakukan diskusi dengan klub mandiri yang merupakan perkumpulan mahasiswa SI. Hal ini dilakukan agar mereka dapat meraih prestasi setinggi-tingginya dan membahagiakan orangtua.

B.2.1. Intervensi Peningkatan

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG mengatakan bahwa Bapak AUG memberikan penguatan kepada mahasiswa dengan motivasi sedang pada saat konsultasi mengenai tugas. Apabila mahasiswa tersebut dapat menyampaikan pendapatnya dan pendapatnya benar maka Bapak AUG akan memberikan apresiasi dalam bentuk pujian terhadap mahasiswa dengan motivasi sedang. Selain itu, Bapak AUG juga menetapkan sasaran (goal setting) untuk meningkatkan motivasi, serta membuat lingkungan fisik dan lingkungan sosial menjadi positif dalam proses belajar.

(22)

WL lebih menyukai bila kegiatan belajar di dalam kelas tidak hanya berupa pemberian materi tapi dengan adanya pemberian pertanyaan yang membuat penasaran untuk mencari jawabannya dapat menumbuhkan minatnya untuk meningkatkan motivasi belajar. WL memiliki tujuan untuk meraih prestasi setinggi-tingginya. Hal tersebut dapat ditempuh dangan cara mengerjakan tugas tepat waktu, walaupun terkadang muncul rasa malas. Selain itu ia melakukan praktek untuk mengasah kemampuannya dalam kelas Perancangan Basis Data.

Berdasarkan hasil observasi di kelas tanggal 07 April 2014, maka Bapak AUG memiliki lingkungan fisik yang positif dalam proses belajar-mengajar yaitu menggunkan gaya susunan auditorium. Dengan adanya prinsip susunan kelas maka Bapak AUG dapat melihat semua mahasiswa, mengurangi potensi-potensi masalah yang terjadi di kelas (mahasiswa bermain hp, mahasiswa mengobrol, dsb), dan mahasiswa dapat melihat seluruh presentasi. Selain itu, Bapak AUG juga membuat lingkungan sosial yang positif dalam proses belajar-mengajar yaitu gaya manajemen kelas autorithative. Bapak AUG juga menetapkan tujuan dari pembelajaran pada hari itu. Tujuan pembelajaran adalah agar mahasiswa memiliki kemampuan menggambarkan model use case untuk proses bisnis.

Moran (1997) berpendapat, ada tiga cara praktis dalam intervensi peningkatan yaitu pemberian ganjaran untuk memperkuat perilaku, penetapan sasaran (goal setting) untuk meningkatkan motivasi, dan penataan lingkungan belajar. Maksud penataan disini adalah lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Strategi ini sejalan dengan prinsip-prinsip self-management. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dalam kelas Perancangan Basis Data, dosen melakukan intervensi peningkatan terhadap mahasiswa dengan cara memberikan ganjaran untuk memperkuat perilaku. Hal tersebut dilakukan ketika mahasiswa melakukan konsultasi mengenai tugas dengan beliau. Beliau memberikan pujian ketika mahasiswa yang dapat menyampaikan pendapatnya dengan benar. Selain itu adanya pemberian pertanyaan di dalam kelas yang menjadikan reinforcement bagi mahasiswa.

(23)

untuk meraih prestasi setinggi-tingginya, agar dapat mengerti materi yang disampaikan sehingga dapat melakukan pengaplikasian pada dunia nyata. Tentunya hal tersebut dilakukan menggunakan beberapa strategi seperti mengerjakan tugas tepat waktu, menghilangkan rasa malas, memperbanyak latihan, dan praktek untuk mengasah kemampuannya di dalam kelas.

Pada aspek lingkungan fisik dan sosial menjadi positif dalam proses belajar mengajar, dosen dan mahasiswa saling mendukung satu sama lainnya. Hal ini dilakukan dengan cara menyusun kelas, agar suasana kelas berjalan kondusif dan menghindari potensi-potensi masalah yang terjadi di kelas. Penyusunan kelas dilakukan dengan gaya auditorium, dimana semua mahasiswa duduk menghadap dosen. Hal ini sangat efektif ketika dosen memberikan kuliah atau seseorang mengadakan presentasi untuk seluruh kelas. Sehingga semua mahasiswa dapat melihat pembicara yang akan menyampaikan materi di depan. Kedua mahasiswa turut menciptakan lingkungan fisik dan sosial yang positif pada saat mereka belajar. Tidak hanya di kelas, mereka melakukan hal tersebut ketika mereka belajar di luar kelas. Hal tersebut dilakukan dengan cara menjadwalkan kegiatan belajar secara teratur, serta mengerjakan dan mengumpulkan tugas dengan tepat waktu.

B.3. Strategy-Implementation Monitoring

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG memberikan umpan balik (feedback) kepada mahasiswa berupa lisan (teguran) ataupun tulisan (catatan khusus, nilai, dan sebagainya). Hal ini dilakukan oleh Bapak AUG agar mahasiswa dapat mengetahui dan memantau bagaimana mereka telah mengimplementasikan strategi selama ini.

NY, memiliki strategi dalam pencapaian tujuannya. Strategi tersebut berupa memperbanyak latihan, membaca buku akan teori-teori yang akan di bahas. Selain itu, melakukan diskusi dengan klub mandiri yang merupakan perkumpulan mahasiswa sistem informasi. Ketika malas melanda, ia harus membuang jauh-jauh rasa malas untuk dapat menyelesaikan tugasnya. Ketika ia tidak mengerti dengan suatu materi, ia bergegas menemui salah satu dosen untuk melakukan konsultasi.

Menurut WL, cara mencapai tujuan dalam belajar biasanya dengan berimprovisasi mencari contoh-contoh soal dan kasus-kasus terkait mata kuliah yang diajarkan. Sehingga strategi yang dilakukan lebih terarah yaitu untuk mencapai nilai terbaik dalam mata kuliah ini. Hal ini dilakukannya mulai dari ia memasuki perguruan tinggi.

(24)

akan memberikan feedback secara lisan dan tulisan sebelum ujian semester di saat dilakukannya pembimbingan akademik (PA).

Strategy-implementation monitoring terjadi ketika pelajar mencoba melaksanakan strategi dalam konteks yang terstruktur dan memantau akurasi mereka dalam mengimplementasikannya. Pada tahap ini melibatkan penerapan pilihan strategi untuk pelajar, tergantung pada strategi yang sebelumnya digunakan, umpan balik dari teman sebaya atau guru, dan self-monitoring. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, dosen memberikan memberikan umpan balik (feedback) kepada mahasiswa berupa lisan seperti teguran ataupun tulisan dengan catatan khusus, nilai, dan sebagainya. Hal ini dilakukan oleh Bapak AUG agar mahasiswa dapat mengetahui dan memantau bagaimana mereka telah mengimplementasikan strategi selama ini.

Strategi yang dilakukan oleh kedua mahasiswa dalam mencapai prestasi adalah dengan memperbanyak latihan membaca buku mengenai teori-teori yang mendukung, melakukan diskusi dengan klub mandiri, berimprovisasi mencari contoh-contoh soal dan kasus-kasus terkait mata kuliah yang diajarkan, membuang rasa malas yang ada, bertanya kepada dosen untuk meminta konsultasi mengenai materi yang tidak dimengerti. Dengan hal tersebut mahasiswa dapat melihat sudah sampai dimana ia melaksanakan strateginya dan apakah strateginya sudah terkontrol dengan baik atau belum. Ketika mahasiswa mendapatkan feedback dari dosen, ia mengetahui sudah berada dimana posisinya dalam memahami suatu materi.

B.3.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG mengatakan bahwa beliau berusaha membuat suasana kelas menjadi positif dengan gaya susunan dan manajemen kelas yang Bapak AUG miliki. Bapak AUG juga selalu memberikan motivasi kepada mahasiswa melalui konsul ataupun diskusi.

NY, keluarganya memberikan semangat, dukungan, dan memotivasi dirinya. Teman sebaya juga memberikan motivasi kepadanya. Hal tersebut dilakukan dengan memberikan bimbingan ketika ia kesulitan dalam memahami suatu materi dan memberikan dukungan satu sama lainnya. Dosen juga memberikan motivasi dengan memberikan fasilitas dan media untuk menunjang pemahaman mahasiswa, mengelola kelas dengan baik dengan cara menciptakan ruang belajar yang kondusif.

(25)

kegiatan perkuliahan. Selain, itu peran teman sebaya juga memotivasinya dengan cara mengerjakan tugas secara diskusi akan lebih mendorong dirinya agar tidak malas dalam menyelesaikan tugas yang diberikan dosen serta memberikan dia motivasi untuk turut bersaing secara positif dalam memperoleh nilai terbaik.

Berdasarkan hasil observasi di kelas tanggal 07 April 2014, maka Bapak AUG memiliki gaya susunan yang auditorium dan manajemen kelas yang authoritative. Bapak AUG juga membangun lingkungan kelas menjadi menyenangkan dengan cara menanamkan pemikiran kepada mahasiswa bahwa dosen dan mahasiswa itu sama. Hanya saja dibedakan berdasarkan lahir tahun dan banyaknya pengalaman seseorang.

McClelland (1987) menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi yaitu harapan orang tua terhadap anaknya, pengalaman pada tahun-tahun pertama kehidupan, latar belakang budaya tempat seseorang dibesarkan, peniruan tingkah laku (modeling), dan lingkungan tempat proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi pada kedua mahasiswa ditunjang dari kelima faktor tersebut. Mahasiswa mendapatkan motivasi dari keluarganya dengan memberikan semangat dan dukungan sehingga dapat memotivasi dirinya. Selain itu teman sebaya juga menjadi motivasi bagi mereka, ketika ada teman yang tidak bisa memahami sesuatu mahasiswa SI siap membantu satu sama lain, sehingga dapat meningkatkan motivasi ketika ada temannya yang memahami suatu materi membuatnya ingin memahami materi tersebut juga.

Selain itu, dosen turut berusaha untuk meningkatkan motivasi mahasiswa dengan cara membuat suanasa kelas menjadi positif dengan gaya susunan dan manajemen kelas yang Bapak AUG miliki. Dengan menggunakan susunan kelas auditorium dan manajemen kelas yang authoritative yang merupakan gaya manejemen kelas yang mendorong mahasiswa untuk menjadi aktif, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dan independent thinkers. Dosen tetap memonitor dan memberi perhatian pada kegiatan mahasiswa. Hal ini dilakukan dengan memberikan wadah untuk meningkatkan motivasi mahasiswanya dengan memberikan konsultasi ataupun diskusi di luar jam pelajaran.

B.3.2. Masalah-Masalah dalam Mencapai Prestasi

(26)

mengidentifikasi nilai-nilai dan tujuan, serta mengajarkan mereka untuk menggunakan strategi dalam mengatur waktu.

Menurut NY, mata kuliah ini tidak membosankan karena materi dapat dianalisis. Sehingga tidak membuat mahasiswa mengantuk. Namun, kendalanya adalah malas karena terlalu banyak tugas yang diberikan. Sehingga niat untuk mengerjakan tugas tertunda.

Menurut WL sebagai mahasiswa dalam mata kuliah Perancangan Basis Data, kendala yang paling sering dihadapi mahasiswa adalah perasaan malas dengan menunda-nunda dalam mengerjakan tugas. Hal itu dapat mengganggu mahasiswa dalam mengerjakan tugas dan proses belajar mengajar.

Mahasiswa dalam kelas Perancangan Basis Data, sebagian besar memiliki masalah prestasi yaitu Students Who Procrastinate. Sesuai dengan teori Students Who Procrastinate, alasan utama mahasiswa menunda adalah pengaturan waktu yang buruk, sulit berkonsentrasi, perasaan takut dan cemas (takut akan mendapatkan nilai yang jelek), masalah pribadi (masalah keuangan, masalah dengan pacar), bosan, ekspektasi yang tidak realistis dan perfeksionis (meyakini bahwa harus membaca seluruh tulisan yang ada sebelum memulai untuk menulis di kertas), dan takut akan kegagalan (berpikir jika tidak dapat meraih nilai A, maka gagal). Dalam analisa ini, mahasiswa dalam kelas Perancangan Basis Data memiliki masalah dengan rasa malas. Sehingga pengaturan waktu yang buruk pun hampir selalu dimiliki oleh mahasiswa. Pada akhirnya membuat tugas-tugas menjadi tertunda untuk dikerjakan, bahkan sampai tugas-tugas tersebut menumpuk. Maka dari itu, Bapak AUG membantu mahasiswa dengan cara memberikan deadline tugas dan tetap memantau mahasiswa melalui konsultasi.

B.4. Strategic-Outcome Monitoring

(27)

(IPK). Namun, ketika minggu UAS belum tiba dosen akan memberitahu nilai-nilai yang telah dilaksanakan sebelumnya seperti nilai kuis, tugas, dan UTS.

NY akan melakukan latihan sebanyak-banyaknya ketika ia diberikan suatu materi. Melakukan diskusi dengan teman sebaya, dan melakukan konsultasi dengan dosen. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang baik pula. Nilai yang di dapatkan selama pelajaran Perancangan Basis Data tidak pernah di bawah B. Nilai tersebut merupakan nilai kuis, tugas, dan nilai ujian tengas semester (UTS). Dengan demikian ia dapat mengatur strategi untuk mencapai tujuan. Jika nilai yang didapatkan sudah bagus, maka strategi yang dilakukan terus dipertahankan.

WL akan melakukan review setelah materi diberikan oleh dosen serta melakukan diskusi dengan dosen dan teman agar mendapatkan pengetahuan lebih tentang materi yang telah dipelajari. Sehingga dia akan mengetahui kelemahnya dan memperbaikinya dengan menghasilkan nilai tugas yang lebih baik.

Berdasarkan hasil observasi di kelas tanggal 07 April 2014, maka Bapak AUG sedang tidak memberikan umpan balik (feedback) berupa lisan dan tulisan. Akan tetapi, Bapak AUG akan memberikan feedback secara lisan dan tulisan setelah ujian semester di saat dilakukannya bimbingan akademik. Dan sedang tidak menginformasikan nilai mahasiswa.

Strategic-outcome monitoring terjadi ketika pelajar memusatkan perhatian mereka pada hubungan antara hasil belajar dan proses strategis untuk menentukan efektivitas. Pada tahap ini melibatkan perluasan pemantauan pelajar untuk memasukkan hasil kinerja yang terkait dengan variasi strategis untuk menentukan efektivitas.

(28)

dengan dosen, mencari tahu kelemahannya dan memperbaikinya dengan menghasilkan nilai yang baik.

B.4.1. Prestasi Belajar

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG mengatakan bahwa beliau akan memberikan hasil dari prestasi belajar mahasiswa pada akhir semester dalam bentuk elektronik (sisforun) atau dalam bentuk kertas (Kartu Hasil Studi) pada saat Pembimbingan Akademik.

NY, merasa berhasil ketika pencapaian prestasinya telah diorientasikan pada angka. Ia merasa berhasil ketika mencapai IPK di atas 3,00. Faktor yang harus dimunculkan adalah pengaturan akan rasa malas ketika mengerjakan tugas. Karena jika rasa malasnya dapat dikontrol, pembelajaran akan berjalan mulus.WL mengetahui pencapaian prestasinya akan maksimal apabila ia mendapatkan IPK diatas 3,00. Menurutnya faktor yang harus dapat ditimbulkan dalam dirinya adalah pengaturan rasa malas yang mengganggu. Apabila ia bisa mengatasi rasa malasnya, maka ia akan bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Dalam kelas Perancangan Basis Data, Bapak AUG mengatakan bahwa penilaian yang dilakukan adalah dengan cara menilai tes prestasi mahasiswa yang berupa tugas, UAS, UTS, dan kuis. Dengan acuan dari outcomes GBPP, maka Bapak AUG dapat menguantifikasikan hasil tes. Untuk lebih rinci, Bapak AUG memberikan penilaian dengan melihat dari kemampuan mahasiswa melakukan perancangan, kemampuan presentasi mahasiswa di dalamnya ada kemampuan retorik (mengumpulkan informasi, mengemas informasi, dan menyampaikan informasi), serta kemampuan teoritis.

NY, berpendapat bahwa dosen memberitahu bobot-bobot yang akan menjadi penilaian pada awal perkuliahan. Bobot tersebut berupa kehadiran, nilai tugas, nilai kuis, nilai UTS, dan nilai UAS. Prestasi belajar yang ia dapatkan berupa IPK. IPK yang telah ia kumpulkan selama kuliah sebesar 3,68.

WL berpendapat bahwa penilaian prestasi belajar dari dosen didasarkan pada hasil kinerja mahasiswa terhadap tugas dan tes-tes yang telah diberikan oleh dosen. Selain itu, dosen akan memberikan nilai yang sesuai dengan usaha dan menghasilkan tugas yang tepat sasaran. Pemberian kuis juga dapat menambah nilai bagi mahasiswa. Preastasi belajar yang ia terima berupa IPK. IPK yang telah ia kumpulkan selama kuliah sebesar 3,52.

(29)

Kesimpulan dari hasil penelitian menemukan bahwa kedua mahasiswa memiliki gambaran self-regulation yang berupa tujuan belajar, mampu fokus dengan tujuan yang sudah dibuat, serta mampu mendorong dirinya sendiri ketika malas. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa dengan self-regulation yang baik, maka akan meningkatkan prestasi belajar mahasiswa di perguruan tinggi. Dukungan dari dosen seperti penguatan, strategi belajar, dan penilaian juga dapat mendorong mahasiswa untuk berprestasi dalam proses belajar-mengajar di universitas.

B. Saran

Hendaknya pada penelitian selanjutnya, para peneliti dapat memperdalam kembali mengenai teori psikologi pendidikan serta lebih menggali informasi mengenai psikologi pendidikan pada saat pengambilan data dilakukan. Narasumber yang dipakai hendaknya dapat mewakili populasi. Akan lebih menarik jika narasumber yang dihadirkan tidak hanya mengajar atau belajar pada satu program studi melainkan mewawancarai beberapa narasumber dari program studi lainnya. Selain itu, mewawancarai narasumber yang memiliki masalah dalam prestasi agar dapat melihat perbedaan diantaranya.

Daftar Pustaka

Ali, M., & Asrori, M. (2004). Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara. Asril. (2011). Faktor-faktor Psikologis yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa SMA

(30)

Universitas Pembangunan Jaya. (2012). Buku Peraturan Akademik. Tangerang Selatan: BAP-PMP.

Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches London: SAGE Publication.

Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Balai Pustaka.

Dewi, A. (2009). Perbedaan Prestasi Belajar Mahasiswa yang Menggunakan Sistem KBK dan Non-KBK. Jurnal. Surakarta: Program Studi Div Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Flick, U. (2014). An Introduction to Qualitative Research London: SAGE Publication.

Goleman, D. (1998). Working With emotional intelligence. London: Bloomsbury.

Hatch, J. A. (2002) Doing Qualitative Research in Education Settings. New York: State University of New York Press.

Hesse-Biber, S. N., dan Leavy, P. (2011). The Practice of Qualitative Research Second Edition. London: SAGE Publication.

McClelland, D. C. (1987). Human Motivation. Cambridge, MA: Cambridge University Press. Meriam, S. B. (2009) Qualitative Research: A Guide to Design and Implementation. San

Fransisco: John Wiley & Sons, Inc.

Moran, A. P. (1997). Managing Your Own Learning at University. Dublin: University College Dublin Press.

Paris, S. & Paris, A. (2001). Classroom Applications of Research on Self-Regulated Learning. Educational Psychology, 36, 89-101.

Ritchie, J., Lewis, J., McNaughton, N. C., & Ormston, R. (2013). Qualitative Research Practice: A Guide for Social Science Students and Researchers Second Edition. London: SAGE Publication.

Russell, S. S. (2006). An overview of adult-learning processes. Urologic Nursing, 26,

349-352. diakses dari

http://www.tree4health.org/distancelearning/sites/www.tree4health.org.distancelearnin g/files/readings/Russell-Overview_of_adult_learning.pdf.

Santrock, J. W. (2011). Educational Psychology. (4thed.). New York: McGraw-Hill.

(31)

Seidman, I. (2013). Interviewing as Qualitative Research: A Guide for Researchers in Education and the Social Sciences. New York: Teachers College Columbia University.

Syah, M. (2008). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. (pp. 227-39). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Universitas Pembangunan Jaya. (2011). Buku Peraturan Akademik. Winkel, W.S. (2005). Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

Yin, R. K. (2009). Case Study Research: Design and Methods. (4th ed.). London: SAGE

Publication.

Gambar

Tabel Pelaksanaan Pengambilan Data

Referensi

Dokumen terkait

1) Rancang Bangun Sistem Informasi Akademik Siswa Berprestasi di SMP Negeri 1 Sangkapura ini menggunakan Metode Simple Additive Weighting (SAW). 2) Penentuan prestasi

operasional pada Badan Penanggulangan Bencana di Kota Palu. Disiplin kerja pegawai pada Badan Penanggulangan Bencana di Kota Palu dalam penelitian ini secara tegas

Kandungan karbohidrat burger surimi ikan Lele Dumbo cenderung meningkat dengan semakin tingginya tepung terigu yang ditambahkan dan semakin berkurangnya surimi

Peserta yang hadir terdiri dari Anggota DEN dari Unsur Pemangku Kepentingan, pejabat dan perwakilan dari 7 (tujuh) Kementerian Anggota DEN, Lembaga Negara dan Kementerian

Berbeda halnya jika kemaslahatan itu tidak dijelaskan secara eksplisit dalam kedua sumber itu, maka peranan mujtahid sangat menentukan untuk menggali dan menemukan

4070 penyempurnaan untuk meningkatkan persepsi keadilan dari pelamar karena hal tersebut dapat memberikan rasa kecewa dalam diri pelamar. Bagi organisasi, rendahnya persepsi

Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat

Gambar 4 menampilkan gambar induksi magnetik total untuk solenoid dengan inti (konsentrat pasir besi) sebagai fungsi arus listrik (I) yaitu sebesar 2 A hingga