ARTIKEL
ANALISIS MISKONSEPSI SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL
PEMBELAJARAN INKUIRI PADA POKOK BAHASAN KELARUTAN
DAN HASIL KALI KELARUTAN KELAS XI IPA SMA NEGERI 5
SAMARINDA
Oleh : EKO JAYANTI
NIM: 1505126001
PASCA SARJANA PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
ANALISIS MISKONSEPSI SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA POKOK BAHASAN KELARUTAN
DAN HASIL KALI KELARUTAN KELAS XI IPA SMA NEGERI 5 SAMARINDA
Eko Jayanti, Iis Intan W, Abdul Majid [email protected]
Jurusan MIPA, Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Mulawarman
Abstrak : Proses pembelajaran di sekolah masih sering menggunakan metode konvensional yang cenderung membuat siswa menjadi pasif, sehingga dinilai kurang mampu untuk mendorong peserta didik memahami suatu konsep atau materi dan berujung kepada miskonsepsi. Miskonsepsi kimia sangat rentan terjadi pada peserta didik dalam menyelesaikan suatu masalah. Salah satu cara untuk dapat melihat tingkat miskonsepsi pada siswa yaitu dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri, dimana dalam model pembelajaran ini melibatkan siswa secara aktif untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang diberikan, sehingga dilakukan penelitian analisis miskonsepsi siswa dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 5 Samarinda kelas XI IPA. Pengumpulan data dilakukan menggunakan hasil tes di setiap akhir pertemuan, ulangan harian, dan observasi. Data penelitian dianalisis dengan menghitung skor dari jawaban siswa, mengkategorikan jawaban siswa ke dalam tingkat derajat pemahaman konsep, menghitung jumlah siswa setiap tingkat derajat pemahaman yang diubah kedalam bentuk persentase sehingga dapat terlihat tingkat miskonsepsi siswa.
Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan pembahasan, dapat diketahui bahwa tingkat miskonsepsi siswa pada post-test pertemuan I termasuk rendah yaitu 4,17%; pada post-test pertemuan II termasuk sedang yaitu 34,72%; pada post-test pertemuan III tidak terjadi miskonsepsi; dan pada ulangan harian termasuk sedang yaitu 36,63%.
Kata Kunci: Miskonsepsi, Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan, Model Pembelajaran Inkuiri
PENDAHULUAN
Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
serta bertanggung jawab. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia. Penyelenggaraan pendidikan di sekolah melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik yang dilaksanakan melalui suatu proses interaksi belajar atau yang biasa disebut proses pembelajaran.
Proses pembelajaran dapat dikatakan baik jika antara guru dan siswa terdapat hubungan timbal balik. Seorang guru harus berusaha agar siswa dapat membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir dan memahami apa yang dipelajari, sehingga akan membentuk suatu perubahan pada diri siswa sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing siswa. Pelaksanaan pembelajaran di sekolah, terutama pembelajaran kimia masih banyak menggunakan metode konvensional seperti menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi. Penggunaan metode yang seperti itu akan membuat siswa menjadi pasif dalam pembelajaran dan tidak mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir mereka. Dalam proses pembelajaran di kelas hanya mengarahkan siswa kepada kemampuan siswa untuk menghafal materi atau informasi saja, tidak mengarahkan siswa untuk memahami suatu informasi tersebut. Sedangkan kimia merupakan suatu bidang ilmu pengetahuan yang menekankan
pada penguasaan konsep, dari konsep yang sederhana sampai konsep yang lebih kompleks dan abstrak. Dalam proses pembelajaran, konsep merupakan hal yang perlu dipahami, dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Konsep kimia terbentuk dalam diri siswa secara berangsur-angsur melalui pengalaman dan interaksi mereka dengan alam sekitarnya. Namun hal tersebut tidaklah terjadi di lapangan, yang terjadi di lapangan yaitu siswa hanya mencatat atau menyalin bahkan menghafal rumus-rumus tanpa makna dan pengertian. Oleh karena itu, mata pelajaran MIPA terutama kimia merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit dan menjadi momok oleh sebagian besar siswa, sehingga tidak heran jika sebagian besar siswa tidak mencapai ketuntasan minimum atau tidak berhasil dalam belajar kimia.
kesulitan dalam memecahkan masalah bahkan siswa akan mengalami miskonsepsi. Jika miskonsepsi ini telah terjadi pada siswa, maka akan sulit untuk mengubah miskonsepsi yang terjadi, butuh waktu yang lama untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan konsep yang diterima siswa.
Kesalahan dalam
pemahaman konsep
(miskonsepsi) merupakan salah satu masalah besar dalam pendidikan yang harus segera diselesaikan. Miskonsepsi banyak terjadi tidak hanya pada siswa saja tetapi dalam buku pun masih ditemukan miskonsepsi, akibatnya banyak pemahaman keliru yang harus segera dibenarkan. Hal yang menjadi salah satu penyebab terjadinya miskonsepsi adalah adanya penekanan dari guru yang mengharuskan siswa agar hafal terhadap suatu konsep, sehingga siswa cenderung hafal tanpa paham apa yang dihafalnya, akibatnya miskonsepsi pun akan terjadi. Seharusnya, guru lebih menekankan dalam hal pemahaman konsep, karena dengan pemahaman inilah materi bisa terkuasai untuk jangka waktu yang lama dan miskonsepsi pun dapat diminimalisir.
Usaha untuk
menganalisis miskonsepsi telah banyak dilakukan, namun hingga saat ini masih terdapat kesulitan dalam membedakan antara siswa yang mengalami miskonsepsi dengan yang tidak tahu konsep. Salah satu upaya yang dinilai
mampu untuk menganalisis permasalahan tersebut yaitu dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran inkuiri merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, sehingga dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan suatu masalah atau pertanyaan. Model pembelajaran inkuiri menekankan kepada proses mencari dan menemukan solusi dari sebuah masalah secara individu. Peran siswa dalam model ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Ghoniyatus dan Suyono (2012) dengan judul penerapan strategi pembelajaran PDEODE (predict, discuss, explain, observe, discuss, explain) untuk mereduksi miskonsepsi siswa pada materi pokok hidrolisis garam di
SMAN 2 Bojonegoro,
berdasarkan hasil penelitian miskonsepsi siswa dominan pada konsep dan sumber penyebab miskonsepsi antara lain prakonsepsi siswa yang salah.
Berdasarkan latar
belakang yang telah
diungkapkan diatas, maka penulis termotivasi untuk melakukan analisis miskonsepsi
siswa dengan model
pembelajaran inkuiri pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan kelas XI IPA SMA Negeri 5 Samarinda.
METODE PENELITIAN
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 5 Samarinda tahun pelajaran 2013/2014. Sampel diambil dari populasi yang dijadikan sumber data dengan menggunakan teknik purpossive sampling, yaitu kelas XI IPA 5 sebanyak 24 siswa.
Secara umum prosedur penelitian dibagi menjadi 3 tahap yakni : tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap penyelesaian. Tahap persiapan terdiri dari melakukan observasi ke sekolah, menganalisis materi yang akan diajarkan, merencanakan strategi
pembelajaran yang sesuai dengan konsep materi yang akan diajarkan dan memperhitungkan waktu yang diperlukan, menyusun
Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) dan menyusun materi pelajaran yang akan disampaikan. Serta mempersiapkan instrumen penelitian berupa tes tertulis berbentuk uraian. Tahap pelaksanaan terdiri dari memberikan perlakuan berupa model pembelajaran inkuiri pada materi pembelajarannya, yaitu kelarutan dan hasil kali kelarutan dan melaksanakan tes akhir pertemuan yang berjumlah 5 soal. Tahap Penyelesaian terdiri dari analisis hasil tes tertulis, pengolahan data, analisis dan pembahasan temuan penelitian dan penarikan kesimpulan.
Teknik pengumpulan data terdiri dari dokumentasi tes dan observasi.
jawaban dikelompokkan, kemudian menghitung persentase untuk masing-masing kriteria miskonsepsi dengan rumus yang digunakan oleh Cahyaningsih (2006), sebagai berikut :
Persentase (%) MK = � × % memahami konsep secara lengkap
MS : Jumlah siswa yang memahami sebagian konsep
MSM: Jumlah siswa yang memahami sebagian dengan miskonsepsi
Data observasi untuk melihat keefektivitasan penggunaan model pembelajaran inkuiri diperoleh melalui pengisian lembar observasi yang dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung dan diisi oleh seorang observer. Pengolahan data hasil lembar observasi menggunakan rumus :
� = � �ℎ � �� � � %
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 5 Samarinda yang beralamat di Jalan Juanda Kelurahan Air Putih Kecamatan Samarinda Ulu Kota Samarinda. Hasil penelitian ini digunakan untuk mengetahui miskonsepsi siswa dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri.
Penelitian dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan, dimana pertemuan pertama, kedua, dan ketiga merupakan kegiatan perlakuan dengan
menggunakan model
pembelajaran inkuiri dan untuk melihat keefektivitasan model pembelajaran inkuiri pada penelitian ini menggunakan lembar observasi yang diisi oleh observer atau pengamat.
Berdasarkan hasil dari lembar observasi, persentase aktifitas pelaksanaan model pembelajaran inkuiri yaitu sebagai berikut :
Tabel 4.1 Aktifitas Pelaksanaan
Model Pembelajaran
Inkuiri
Kriteria Aktifitas Siswa
aktifitas guru dalam pelaksanaan model pembelajaran inkuiri memiliki rata-rata sebesar 81,90% yang termasuk dalam kategori sangat baik dan aktifitas siswa memiliki rata-rata sebesar 79,30% yang termasuk dalam kategori baik.
Tabel 4.2 Persentase Tingkat Derajat Miskonsepsi Siswa Setiap Butir Soal
Jenis Tes
No. Soal
Kriteria
MSM M
Post-Test 1
1 37,5 0 2 0 0 3 16,67 0 4 41,67 4,17 5 20,83 0
Post-Test 2
1 0 0 2 29,17 0 3 12,5 29,17 4 0 41,67 5 16,67 33,33
Post-Test 3
1 0 0 2 45,83 0 3 33,33 0 4 0 0 5 12,5 0
UH 1 0 37,50 2 0 4,17 3 0 54 4 0 66,67 5 45,83 25
Ket :
MSM : Memahami Sebagian dengan Miskonsepsi M : Miskonsepsi
Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui miskonsepsi siswa dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan kelas XI IPA 5 di SMA Negeri 5 Samarinda tahun ajaran 2013/2014. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan, pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga dilakukan kegiatan treatment (perlakuan) dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri dan di setiap akhir pertemuan dilaksanakan post-test dengan jenis soal berupa soal essay sebanyak 5 butir soal dan pada pertemuan keempat dilaksanakan kegiatan ulangan harian yang mencakup materi dari pertemuan pertama, kedua, dan ketiga.
Kegiatan belajar mengajar pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan dengan
menggunakan model
bekerja sama di dalam kelompok, tujuannya agar siswa bisa mencari penyelesaian yang tepat untuk membuktikan hipotesis yang telah mereka buat. Di dalam tahap ini yang dicari adalah tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan, selain itu juga mengembangkan kemampuan berpikir secara rasional artinya kebenaran jawaban bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi didukung oleh data yang telah dikumpulkan dan informasi-informasi yang didapat dari berbagai sumber, misalnya buku pelajaran. Setelah data dan informasi-informasi telah dikumpulkan, guru mengarahkan kepada masing-masing kelompok untuk mempresentasikan dan menjelaskan jawaban hasil diskusi mereka. Langkah terakhir dalam proses pembelajaran inkuiri ini adalah guru memberikan penguatan dan penjelasan terhadap hasil diskusi yang telah dipresentasikan oleh masing-masing kelompok.
Miskonsepsi siswa pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan dengan
menggunakan model
pembelajaran inkuiri dapat dilihat dari nilai post test setiap akhir pertemuan dan ulangan harian dengan jenis soal berupa essay masing-masing sebanyak 5 butir soal. Persentase hasil post test ketiga pertemuan dan ulangan harian dapat dilihat pada grafik berikut.
Grafik Persentase Tingkat Derajat
Pemahaman Siswa Kategori
Memahami Sebagian Miskonsepsi
dan Miskonsepsi Pada Pokok
Bahasan Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa untuk post-test pertemuan I pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan yang membahas tentang materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yaitu persentase tertinggi pada tingkat derajat pemahaman memahami sebagian dengan miskonsepsi terjadi pada butir soal nomor 4 yang merupakan soal perhitungan yang memuat materi hubungan kelarutan dengan hasil kali kelarutan. Nilai persentase yang tinggi ini dipengaruhi karena pada proses pembelajaran pertemuan I siswa masih belum terbiasa dengan model pembelajaran yang digunakan, pada model pembelajaran yang digunakan lebih menitikberatkan kegiatan belajar mengajar kepada siswa dan siswa belum terbiasa dengan hal tersebut. Sehingga informasi yang mereka peroleh pun hanya
sebagian saja yang disertai dengan miskonsepsi.
Selanjutnya untuk persentase tingkat derajat pemahaman kategori miskonsepsi yang memiliki persentase tertinggi yaitu terjadi pada butir soal nomor 4. Dalam pertemuan I ini nilai persentase tertinggi berada pada butir soal yang sama, artinya siswa untuk memahami butir soal seperti yang ada pada soal nomor 4 masih belum bisa memahami secara benar dan lengkap. Siswa masih belum terbiasa untuk mengerjakan soal yang sifatnya lebih konkrit yang dalam proses penyelesaiannya membutuhkan langkah-langkah dalam pengerjaannya. Selain itu siswa masih kebingungan dalam proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran inkuiri yang menitikberatkan proses belajar mengajar kepada siswa, siswa selama ini terbiasa hanya menjadi pendengar sehingga ketika proses pembelajaran diubah siswa mengalami kebingungan. Bagi siswa yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi akan sangat senang, namun bagi siswa yang memiliki rasa keingintahuan yang rendah akan menyebabkan miskonsepsi terjadi dan hal ini yang terjadi pada pertemuan I.
Berdasarkan data yang diperoleh terlihat bahwa miskonsepsi siswa baik memahami sebagian dengan miskonsepsi atau miskonsepsi masih terlihat tinggi. Hal ini dipengaruhi bukan saja dari kemampuan siswa tetapi strategi atau metode seorang pengajar dalam proses pembelajaran juga
sangat penting dalam hal ini
proses pembelajaran
menggunakan model
sebagian dengan miskonsepsi persentase tertinggi terdapat pada butir soal nomor 2 dimana pada butir soal ini menjelaskan tentang pengaruh ion senama terhadap kelarutan. Butir soal nomor 2 ini merupakan jenis soal konsep yang sering sekali siswa mengalami kekeliruan dalam menjelaskan konsep-konsep yang ada. Hal ini kurang sebanding pada saat proses
pembelajaran sebelum
dilaksanakan post-test yang memperlihatkan bahwa siswa sudah sangat baik dalam proses pembelajaran. Namun ketika mengerjakan atau diberikan soal yang serupa dengan soal latihan siswa masih banyak mengalami kesalahpahaman. Artinya siswa memahami materi hanya pada saat proses pembelajaran saja dan ketika diberikan tes kembali siswa mengalami ketidakberhasilan dalam menjawab. Hal ini menunjukkan bahwa konsep yang dipahami siswa bersifat hanya sementara saja, ketika diberikan tes yang tidak memperbolehkan siswa untuk melihat dari berbagai sumber seperti buku, catatan bahkan bertanya dengan teman siswa masih mengalami kesulitan dan kebingungan untuk menjawab. Kemampuan daya ingat siswa tidak dioptimalkan secara maksimal, hanya beberapa konsep yang siswa pahami dengan baik.
Selanjutnya persentase untuk tingkat derajat pemahaman miskonsepsi paling tinggi yaitu pada butir soal nomor 4 merupakan jenis soal yang membahas tentang materi pengaruh pH terhadap kelarutan.
Dalam soal ini sama dengan butir soal nomor 2 yaitu soal berupa konsep, dalam hal ini siswa
banyak mengalami
kesalahpahaman atau miskonsepsi karena siswa belum terbiasa untuk mengerjakan soal yang berupa
konsep konkrit yang
membutuhkan pemikiran lebih untuk menyelesaikannya. Sama hal nya dengan permasalahan sebelumnya, hal ini tidak sebanding dengan yang ada dalam proses pembelajaran berlangsung. Ketika proses pembelajaran berlangsung siswa dapat mengerjakan soal yang serupa, karena dalam latihan siswa dituntun oleh guru dalam menyelesaikan masalah, boleh mencari informasi dari berbagai sumber, sehingga pada saat latihan soal sebelum diberikan tes siswa dapat menjawab. Namun informasi yang mereka cari tadi tidak dipahami dengan sungguh-sungguh oleh siswa.
miskonsepsi pada pertemuan II ini yang artinya untuk pertemuan II penggunaan model pembelajaran inkuiri masih belum dapat secara maksimal membantu siswa dalam memahami materi.
Selanjutnya untuk post-test pertemuan III pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan yang membahas tentang materi reaksi pengendapan bahwa persentase tertinggi untuk kategori memahami sebagian dengan miskonsepsi terjadi pada butir soal nomor 2 yang merupakan soal berupa hitungan reaksi pengendapan. Tingginya nilai persentase yang terjadi pada butir soal nomor 2 ini tidak signifikan dengan pada saat proses pembelajaran berlangsung, ketika proses pembelajaran berlangsung kegiatan siswa yang dinilai dari observasi termasuk sangat baik artinya siswa telah dapat mengikuti proses pembelajaran yang baru dengan sangat baik, akan tetapi pemahaman konsep siswa juga sangat baik ketika proses pembelajaran berlangsung, akan tetapi pada saat diberikan post-test siswa mengalami kegagalan dalam menjawab, artinya konsep yang dipahami oleh siswa pada saat pembelajaran berlangsung hanya bersifat sementara. Siswa juga masih belum terbiasa dengan soal-soal yang memerlukan langkah-langkah dalam proses penyelesaiannya. Selanjutnya untuk kategori miskonsepsi pada post-test pertemuan ini tidak ada siswa yang tergolong ke dalam kategori miskonsepsi.
Pada pertemuan III tingkat miskonsepsi siswa sedikit menurun jika dibanding dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya yang hampir di setiap butir soal mengalami miskonsepsi. Untuk pertemuan III siswa sudah mulai banyak memahami materi yang diberikan, hal tersebut tidak lepas dari penggunaan model pembelajaran inkuiri pada saat proses pembelajaran, artinya pengaruh penggunaan model pembelajaran inkuiri untuk post-test pertemuan III sangat efektif untuk membantu siswa dalam memahami konsep materi.
Tingginya nilai persentase miskonsepsi pada tiap butir soal ulangan harian ini sangat berbeda jauh dengan hasil pada post-test yang terjadi di ketiga pertemuan sebelumnya. Hal ini terjadi karena pada ulangan harian siswa dituntut untuk mengingat kembali semua materi yang telah mereka pelajari dan kemampuan daya ingat siswa tidak terlalu optimal dalam mengingat kembali materi-materi sebelumnya. Untuk ulangan harian tidak diberikan perlakuan model pembelajaran inkuiri, sehingga tidak ada pengaruh dalam ulangan harian terhadap model pembelajaran.
Selama proses belajar mengajar berlangsung, dilakukan observasi oleh seorang observer. Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru dan siswa pada pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga, diketahui bahwa aktivitas guru dan siswa meningkat semakin baik.
Adapun data hasil observasi aktivitas guru dan siswa disajikan pada grafik berikut ini.
Grafik hasil observasi guru dan siswa
Pada treatment pertama menunjukkan efektivitas model pembelajaran inkuiri yang paling
rendah dibandingkan treatment kedua dan ketiga. Hal ini dikarenakan pada treatment pertama ini siswa belum terbiasa dengan cara belajar dengan
menggunakan model
pembelajaran inkuiri, siswa masih terlihat canggung dan beberapa siswa terlihat pasif pada tahapan menyusun hipotesis dan tanya
jawab dalam tahapan
pengumpulan data. Beberapa siswa masih belum bisa menyesuaikan diri dengan tahapan-tahapan model pembelajaran inkuiri, mereka belum bisa lepas dari cara belajar yang biasanya mereka terapkan (konvensional).
Pada treatment kedua mengalami peningkatan efektivitas model pembelajaran inkuiri dibandingkan dari treatment pertama, secara keseluruhan tahapan inkuiri berjalan dengan sangat baik dan efektif. Beberapa tahapan inkuiri mengalami peningkatan menjadi sangat baik seperti pada tahapan menguji hipotesis dan mempresentasikan hasil uji hipotesis pada aktivitas siswa,
serta menyampaikan
permasalahan dan membimbing dalam membuat kesimpulan pada aktivitas guru. Hal ini menunjukkan siswa mulai bisa menerapkan tahapan-tahapan model pembelajaran inkuiri dalam kegiatan belajar mengajar.
Pada treatment ketiga merupakan pelaksanaan model pembelajaran inkuiri yang berjalan sangat baik dan efektif dengan persentase yang paling tinggi, hal ini menunjukkan model
77.14% 82.80%
pembelajaran inkuiri sudah terlaksana dengan sangat baik diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Tahapan-tahapan model pembelajaran inkuiri mengalami peningkatan seperti pada tahapan tanya jawab menjadi sangat baik, siswa terlibat aktif dalam kegiatan tanya jawab dalam proses pengumpulan data melalui tayangan yang ditampilkan, mereka sudah terlihat berani dan tidak canggung untuk mengajukan pertanyaan. Begitu juga dalam membuat kesimpulan siswa dengan arahan dari guru sudah mampu untuk menemukan poin-poin penting dari materi yang telah didiskusikan.
Penggunaan model
pembelajaran inkuiri ini sama
halnya dengan model
pembelajaran lain, yakni memiliki kelebihan serta kekurangan. Adapun kelebihan dari model pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
a. Model pembelajaran inkuiri yang menekankan kegiatan belajar mengajar pada siswa sehingga dapat membuat siswa menjadi lebih aktif. b. Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mencari penyelesaian atau solusi dalam memecahkan masalah secara individu.
c. Memberikan pengalaman belajar yang berbeda kepada siswa.
d. Siswa dilatih untuk bekerja sama dengan temannya. Adapun kelemahan dari strategi synergetic teaching berbantukan teka-teki silang, yaitu:
a. Memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat menyesuaikan kebiasaan siswa mengikuti kegiatan belajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri. b. Bagi siswa yang memiliki
kemampuan belajar yang tidak baik dan pasif akan semakin pasif karena dalam hal ini siswa mencari informasi sendiri, jika tidak dibimbing dengan baik maka
hal tersebut akan
menyebabkan miskonsepsi.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa tingkat miskonsepsi siswa dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kelarutan di SMA Negeri 5 Samarinda yaitu :
1. Tingkat miskonsepsi siswa pada post-test pertemuan I cukup rendah dan hanya terjadi miskonsepsi pada butir soal nomor 4 sebesar 4,17%.
2. Tingkat miskonsepsi siswa pada post-test pertemuan II cukup tinggi pada butir soal nomor 3 sebesar 29,17%, butir soal nomor 4 sebesar 41,67% dan butir soal nomor 5 sebesar 33,33%. 3. Tingkat miskonsepsi siswa
tinggi dan terjadi miskonsepsi disetiap butir soal nomor 1 sebesar 37,50%, butir soal nomor 2 sebesar 4,17%, butir soal nomor 3 sebesar 54%, butir soal nomor 4 sebesar 66,67% dan butir soal nomor 5 sebesar 20,83%.
Daftar Pustaka
Adisendjaja, Y. H. 2007. Identifikasi Kesalahan dan Miskonsepsi Buku Teks Biologi SMU. Jurnal Penelitian. Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UPI: Bandung
Ahmadi, A., dan Supriyono, W., 2004. Psikologi Belajar Edisi Revisi. PT Rineka Cipta: Jakarta
Alwi et al. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Pusat Bahasa, DEPDIKNAS Balai Pustaka
Arikunto, S. 2009. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta
Asmara, H. 2005. Kesalahan – Kesalahan Siswa dalam Pembelajaran Sistem Persamaan Linear Dua Variabel pada Siswa Kelas II SLTP Negeri 27 Samarinda. Skripsi S1 pada FKIP UNMUL Samarinda: tidak diterbitkan
Berg, V.D. 1990. Miskonsepsi Fisika dan Usaha Untuk
Menanggulanginya.
Salatiga: Universitas Satya Wacana Salatiga
Budiningsih, A. 2005. Belajar dan Pembelajaran. PT Rineka Cipta: Jakarta
Dahar, R.W. 1996. Teori – Teori Belajar. Erlangga: Jakarta __________. 2011. Teori –Teori
Belajar & Pembelajaran. Erlangga: Jakarta
Dalyono, M. 2009. Psikologi Pendidikan. PT Rineka Cipta: Jakarta
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. PT Rineka Cipta: Jakarta
Djamarah,S., dan Zaim. 2006. Strategi Belajar Mengajar.PT Rineka Cipta: Jakarta
Effendy. 2002. Upaya untuk Mengatasi Kesalahan Konsep dalam Pengajaran
Kimia dengan
Menggunakan Strategi Konflik Kognitif. Jurnal Media Komunikasi Kimia. No. 2, th 6
Universitas Tanjungpura: Pontianak
Faridah. 2004. Miskonsepsi dalam Topik Elektrolisis dikalangan Pelajar Tingkatan Empat di Daerah Tanah Merah, Kelantan. Tesis. Johor Bahru: Universiti Teknologi Malaysia. Malaysia
Hadi, S. 2009. Model Pembelajaran Pencapaian Konsep. http://hadirukiyah.blogspot. com/2009/06/Model- Pembelajaran-Pencapaian-Konsep.html, diakses tanggal 15 April 2014
Halomoan, M. 2008. Analisis Persepsi Guru Mata Pelajaran Fisika Madrasah Aliyah Terhadap Konsep Gaya pada Benda Diam dan Bergerak. Balai Diklat Keagamaan: Medan
Hasan, I. 2002. Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Ghalia Indonesia: Jakarta
Hasan, S., D. Bagayoko, D. and Kelley E. L. 1999. Misconceptions and The Certainty of Response Index (CRI). Phys. Educ. 34 (5) p. 294 – 299
Hernawan, H. 2008. Identifikasi Miskonsepsi Siswa pada Konsep Sistem Reproduksi
Manusia dengan
Menggunakan Tes
Diagnostik Pilihan Ganda
Beralasan. Skripsi S1, FPMIPA UPI: Bandung
Koentjaraningrat. 1990. Metode – Metode Penelitian Masyarakat. Gramedia: Jakarta
Made, W. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Bumi Aksara: Jakarta
Maulana, Aris. 2011. Identifikasi Miskonsepsi Calon Guru Kimia Pada Konsep (Pembelajaran) Ikatan Kimia SMA Kelas X pada Mata Kuliah Telaah Kurikulum, Skripsi FKIP UNMUL: Samarinda tidak diterbitkan
Muedjiono dan Hasibun. 2006. Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdukarya: Bandung
Mulyasa, E. 2006. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. PT Remaja Rosdakarya: Bandung
Narbuko, Cholid dan Achmadi, A.
2001. Metodologi
Penelitian. Bumi Aksara: Jakarta
Nuraini. 2009. Identifikasi Konsep Sukar dan Kesalahan
Konsep Hukum
Universitas Negeri Malang: Malang
Oxtoby, D.W., Gillis, H.P. dan Nachtrieb, N.H. 2001. Prinsip – Prinsip Kimia Modern Edisi Keempat Jilid 1. Erlangga: Jakarta
Purtadi, Sukisman dan Sari, Lis Permana. 2009. Analisis Miskonsepsi Konsep Laju dan Kesetimbangan Kimia pada Siswa SMA. Jurnal Penelitian. Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY: Yogyakarta
Rusyan, T. 1989. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. PT Remadja Rosdakarya: Bandung
Sadia, Wayan I. 1997. Penerapan Strategi Konflik Kognitif
dalam Mengatasi
Miskonsepsi.
http://www.google.co.id/Efe ktivitas+Strategi+Konflik+ Kognitif+dalam+Mengatasi +Miskonsepsi/, diakses tanggal 15 April 2014
Sagala, S. 2005. Konsep Belajar dan Makna Pembelajaran. Alfabeta: Bandung
Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana Prenada Media: Bandung
Sembiring, I. 2004. Miskonsepsi Siswa Tentang Stoikiometri pada Siswa Kelas II SMUN
1 Berastagi T.A 2002/2003. Skripsi. Jurusan Kimia, Universitas Negeri Medan: Medan
Simamora, Maruli dan Redhana, I Wayan. 2007. Identifikasi Miskonsepsi Guru Kimia pada Pembelajaran Konsep Struktur Atom. Jurnal Penelitian. Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Undiksha: Bali
Sudaryanti, Y. 2014. Analisis Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa Dengan
Menggunakan Model Problem Based Learning (PBL) Pada Pokok Bahasan Larutan Penyangga Kelas XI IPA SMA Negeri 14 Samarinda. Skripsi. Pendidikan Kimia, FKIP Universitas Mulawarman: Samarinda
Sunarya, Y. 2002. Kimia Dasar II. Alkemi Garfisindo Press: Bandung
Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Kanisius: Yogyakarta
___________. 2005. Miskonsepsi dan Perubahan Konsep Pendidikan Fisika. PT Gramedia Widiasarana Indonesia: Yogyakarta
Suyanti, R.D. 2010. Strategi Pembelajaran Kimia. Graha Ilmu: Yogyakarta
Syah, M. 2010. Psikologi Belajar. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta
Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. PT Bumi Aksara: Jakarta
Vaudhi, F. 2009. Identifikasi Konsep Sukar dan Kesalahan Konsep Mol pada Siswa SMA Negeri 1 Malang. Skripsi. Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang: Malang
Wilantara. 2005. Implementasi Model Belajar Konstruktivis dalam Pembelajaran Fisika
untuk Mengubah
Miskonsepsi Ditinjau dari Penalaran Formal Siswa. Tesis. IKIP Singaraja: Bali
Winarni, S. 2006. Koreksi Kesalahan Konsep Gaya – Gaya Antarmolekul