Disamping tingkat inflasi dan suku bunga, nilai tukar mata uang sering digunakan untuk mengukur level perekonomian suatu negara. Nilai tukar mata uang
memegang peranan penting dalam perdagangan antar negara, dimana hampir sebagian besar negara-negara di dunia saat ini terlibat dalam aktivitas ekonomi pasar bebas. Bagi perusahaan investasi dan investor
mancanegara, nilai tukar mata uang akan berdampak pada return dan portofolio investasinya.
Nilai tukar mata uang suatu negara adalah
relatif, dan dinyatakan dalam perbandingan
dengan mata uang negara lain. Tentu saja
perubahan nilai tukar mata uang akan
mempengaruhi aktivitas perdagangan kedua
negara tersebut. Nilai tukar yang menguat
akan menyebabkan nilai ekspor negara
tersebut lebih mahal, dan impor dari negara
lain lebih murah, dan sebaliknya. Berikut
Suatu negara yang tingkat inflasinya konsisten
rendah akan lebih kuat nilai tukar mata uangnya
dibandingkan negara yang inflasinya lebih
tinggi. Daya beli
(purchasing power)
mata uang
tersebut relatif lebih besar dari negara lain.
Pada akhir abad 20 lalu, negara-negara dengan
tingkat inflasi rendah adalah Jepang, Jerman dan
Swiss, sementara Amerika Serikat dan Canada
menyusul kemudian. Nilai tukar mata uang
negara-negara yang inflasinya lebih tinggi akan
mengalami depresiasi dibandingkan negara
partner dagangnya.
Suku bunga, inflasi dan nilai tukar sangat
berhubungan erat. Dengan merubah tingkat suku bunga, bank sentral suatu negara bisa
mempengaruhi inflasi dan nilai tukar mata uang. Suku bunga yang lebih tinggi akan menyebabkan permintaan mata uang negara tersebut meningkat. Investor domestik dan luar negeri akan tertarik
dengan return yang lebih besar. Namun jika inflasi kembali tinggi, investor akan keluar hingga bank sentral menaikkan suku bunganya lagi. Sebaliknya, jika bank sentral menurunkan suku bunga maka
akan cenderung memperlemah nilai tukar mata uang negara tersebut.
Neraca perdagangan antara 2 negara berisi semua pembayaran dari hasil jual beli barang dan jasa.
Neraca perdagangan suatu negara disebut defisit bila negara tersebut membayar lebih banyak ke negara partner dagangnya dibandingkan dengan pembayaran yang diperoleh dari negara partner dagang. Dalam hal ini negara tersebut
membutuhkan lebih banyak mata uang negara partner dagang, yang menyebabkan nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap negara
partnernya melemah. Keadaan sebaliknya disebut surplus, dimana nilai tukar mata uang negara
tersebut menguat terhadap negara partner dagang.
Neraca anggaran domestik suatu negara
digunakan juga untuk membiayai proyek-proyek untuk kepentingan publik dan pemerintahan. Jika anggaran defisit maka public debt membengkak.
Public debt yang tinggi akan menyebabkan naiknya inflasi. Defisit anggaran bisa ditutup
dengan menjual bond pemerintah atau mencetak uang. Keadaan bisa memburuk bila hutang yang besar menyebabkan negara tersebut default
(gagal bayar) sehingga peringkat hutangnya turun. Public debt yang tinggi jelas akan
cenderung memperlemah nilai tukar mata uang negara tersebut.
Jika harga ekspor meningkat lebih cepat dari
harga impor maka nilai tukar mata uang
negara tersebut cenderung menguat.
Permintaan akan barang dan jasa dari negara
tersebut naik yang berarti permintaan mata
uangnya juga meningkat. Keadaan sebaliknya
untuk harga impor yang naik lebih cepat dari
harga ekspor.
Para investor tentu akan mencari negara
dengan kinerja ekonomi yang bagus dan
kondisi politik yang stabil. Negara yang kondisi
politiknya tidak stabil akan cenderung
beresiko tinggi sebagai tempat berinvestasi.
Keadaan politik akan berdampak pada kinerja
ekonomi dan kepercayaan investor, yang pada
akhirnya akan mempengaruhi nilai tukar mata
uang negara tersebut.
Sumber : www.investopedia.com : 6 Factors That Influence Exchange Rates, by Jason Van Bergen
Mengatasi Penyebab dan Dampak Krisis
Ekonomi Global masih menjadi berita hangat
tanpa melewati 1 (satu) hari pun dalam
bulan-bulan terakhir ini. Berbicara krisis ekonomi
1. Meningkatkan penggunaan produksi dalam
negeri
2. Memanfaatkan peluang perdagangan
internasional
3. Menyatukan langkah strategis Pemerintah
dengan Bank Indonesia (BI)
4. Menghindari politik non partisan untuk
menghadapi krisis.
Kenaikan ekspor yang signifikan tersebut
Dengan demikian untuk mempertahankan capital inflow agar tidak serta merta keluar, Indonesia perlu meningkatkan beberapa sektor yang sampai saat ini
masih menjadi kelemahan mendasar dan dipercaya dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi kedepannya.
Sektor yang paling utama adalah masalah infrastruktur, dimana menurut data yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) ada 3 sektor infrastruktur yang perlu
mendapat perhatian serius yaitu pelabuhan, jalan raya, serta suplai listrik. WEF melihat bahwa ketiga infrastruktur indonesia tersebut masih tertinggal dibandingkan dengan negara lainnya di Asia Tenggara. Disamping itu, WEF juga menggaris bawahi mengenai implementasi tekhnologi
Diluar kelemahan tersebut terdapat tiga hal (key triger) yang dapat dijadikan alasan bagi investor asing untuk tetap bertahan di Indonesia, tiga key triggeryang dipercaya dapat menarik minat
investor asing serta mampu menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi dimasa yang akan datang adalah:
- Besarnya Pasar Domestik Indonesia, dimana menurut IMF Indonesia adalah pasar terbesar ke empat dunia, setelah China, India, Amerika.
- Murahnya upah tenaga kerja Indonesia dibandingkan negara lainnya di Asia
Gas Alam Cadangan gas alam 112 ton kubik kaki (salah satu yang terbesar di dunia)
Batu bara - Produsen batubara terbesar ke 6 dunia - Eksportir batubara terbesar ke 2 dunia
Geothermal Menguasai 40% dari cadangan geothermal dunia
Kelapa Sawit
Eksportir kelapa sawit terbesar dunia dengan produksi 19 juta ton pertahun
Cocoa Produsen cocoa terbesar ke dua dunia dengan produksi 770 ribu ton per tahun
Timah Produsen Timah terbesar ke dua dunia dengan produksi 65 ribu ton per tahun
Minyak bumi
Cadangan minyak bumi lebih dari 9 Miliar barrel (30 besar dunia)
Inflasi. Inflasi merupakan sebuah konsekuensi wajar dari
pertumbuhan ekonomi yang sehat. Seiring dengan bertumbuhnya ekonomi dan kenaikan daya beli masyarakat, maka kenaikan
harga merupakan kondisi yang pasti terjadi. Akan tetapi inflasi dapat menjadi momok yang menakutkan apabila kondisi ini
didasari sebuah ekspektasi yang tidak disertai oleh peningkatan daya beli secara riil, sehingga kenaikan harga akan menjadi beban bagi konsumen. Inflasi dapat menjadi hal yang positif dan negatif, bagaikan sebuah pisau bermata dua. Bagaimana inflasi dipandang tidak lepas dari seberapa besar, seberapa lama, dan kapan
terjadinya.
Hal yang negative yang berkaitan dengan inflasi adalah turunnya daya beli uang yang beredar di masyarakat, sehingga secara
langsung menurunkan daya beli konsumen itu sendiri. Dalam kasus yang ekstrim, konsumen akan cenderung tidak melakukan konsumsi dan memilih untuk menyimpan uang jika dikhawatirkan terjadi kenaikan harga yang terus-menerus. Sisi positif dari inflasi adalah menurunkan nilai riil utang, atau secara umum