• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Morfologi Tumbuhan Ten

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Praktikum Morfologi Tumbuhan Ten"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tumbuhan merupakan makhluk hidup sama seperti manusia, manusia memerlukan energi untuk melangsungkan kegiatan atau reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh tumbuhan tersebut. Tumbuhan memiliki akar, batang, daun, bunga dan biji atau buah. Semua organ-organ yang dimiliki oleh tumbuhan itu mempunyai peranan atau fungsi sendiri-sendiri yang tidak kalah pentingnya seperti kita memiliki mata, kaki, tangan, jantung, ginjal, paru-paru dan lain-lain.

Di dalam tubuh tumbuhan juga melakukan suatu proses respirasi yang terjadi di dalam tubuh. Batang memiliki fungsi selain sebagi penyokong tegaknya tubuh tumbuhan, batang juga berperan sebagai tempat melekatnya daun-daun tumbuhan. Bentuk antara penampang melintang batang dikotil dan monokotil berbeda. Kebanyakan batang dari tumbuhan dikotil itu berkayu seperti pohon mangga, pohon rambutan dan lain-lain. Pohon tersebut memiliki batang yang berkayu, sedangkan pada batang monokotil kebanyakan batangnya tidak berkayu karena tidak memiliki kambium.

Pembagian tubuh tumbuhan menjadi sejumlah organ yang dibagi-bagi lagi menurut sel dan jaringan penyusunnya merupakan cara yang mudah untuk mempelajarinya. Oleh sebab itu setiap organ tumbuhan masih terdapat bagian-bagian lagi, seperti daun yang masih terdapat xilem, floem, epidermis, stomata dan masih banyak lagi jaringan dan sel penyusun daun. Begitupun dengan batang, batang memiliki banyak sel dan jaringan penyusunnya, seperti stele, xilem, dan floem.

(2)

B. Tujuan

Adapun tujuan diadakannya praktikum morfologi tumbuhan yang membahas tentang pengamatan beberapa sifat umum batang adalah sebagai berikut:

1. Mengenal karakteristik dari batang (caulis) tebu (Saccarum officinarum L.) dan jati (Tectona grandis L.).

(3)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Batang

Menurut Hidayat (1995), batang merupakan sumbu dengan daun yang melekat padanya. Di ujung sumbu titik tumbuhnya, batang dikelilingi oleh daun muda dan menjadi terminal. Di bagian batang yang lebih tua, yang daunnya saling berjauhan, nodus tempat daun melekat pada batang dapat dibedakan dari ruas, yakni bagian batang di antara dua buku yang berturutan. Di ketiak daun biasanya terdapat tunas ketiak. Bergantung pada pertumbuhan ruas dapat dibedakan beberapa macam bentuk tumbuhan. Batang bisa memperlihatkan sumbu yang memanjang dengan buku dan ruas yang jelas. Sebaliknya, batang dapat juga amat pendek dan letak daunnya merapat membentuk roset. Taraf percabangan yanng terjadi jika tunas ketiak tumbuh menjadi ranting menambah keragaman bentuk. Berkaitan dengan habitat tumbuh dibedakan batang yang tumbuh dibawah tanah, di dalam air atau di darat. Batang juga ada yang tegak, memanjat atau merayap. Ragam lain adalah susunan daun pada batang, ada atau tidak adanya tunas ketiak yang tumbuh menjadi cabang, serta taraf percabangan bila ada.

Menurut Suradinata (1998), batang itu bermacam-macam dari yang lunak seperti spons, atau bertangkai getas pada tumbuhan air, sampai kepada batang pohon yang menjulang tinggi mencapai 90 meter. Di bagian dalam, jaringan batang juga sangat bervariasi, baik macamnya maupun penataan sel-sel yang menyusunnya, tetapi juga memiliki banyak ciri yang sama. Batang-batang konifer, dan khususnya Batang-batang-Batang-batang dikotiledon yang berkayu serta herba, sangat serupa susunan jaringannya. Mekanisme terjadinya penambahan tinggi, dan macam-macam jaringan yang bertalian dengan penyimpanan, penunjangan, maupun pengankutan hampir sama saja dalam semua kelompok tumbuhan pembuluh.

(4)

Batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan. Pada umumnya batang mempunyai sifat-sifat seperti berikut (Tjitrosoepomo, 2011) :

1. Umumnya berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk lain. Akan tetapi selalu bersifat aktinomorf, artinya dapat dengan sejumlah bidang dibagi menjadi dua bagian yang setangkup. 2. Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh buku-buku dan

pada buku-buku inilah terdapat daun.

3. Tumbuhnya biasanya keatas, menuju cahaya atau matahari.

4. Selal bertambah panjang diujungnya oleh sebab itu sering dikatakan bahwa batang mempunyai pertumbuhan yang tidak terbatas.

5. Mengadakan percabangan dan selama hidupnya tumbuhan tidak digugurkan kecuali kadang-kadang cabang atau ranting yang kecil.

6. Umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek misalnya rumput dan waktu batang masing muda.

Sebagian dari bagian tumbuh-tumbuhan batang mempunyai tugas untuk (Tjitrosoepomo, 2011) :

1. Mendukung bagian-bagian tumbuhan yang ada di atas tanah yaitu: daun, bunga, dan buah.

2. Dengan percabangannya memperluas bidang asimilasi dan menempatkan bagian-bagian tumbuhan di dalam ruang sedemikian rupa, sehingga dari segi kepentingan tumbuhan bagian-bagian tadi terdapat dalam posisi yang posisi yang paling menguntungkan.

3. Jalan pengangkutan air dan zat-zat makanan dari bawah ke atas dan jalan pengangkutan hasil-hasil asimilasi ke atas ke bawah.

4. Menjadi tempat penimbunan zat-zat cadangan makanan.

Menurut Tjitrosoepomo (2011), jika kita membandingkan berbagai jenis tumbuhan ada di antaranya yang jelas kelihatan batangnya, tetapi ada pula yang tampaknya tidak berbatang. Oleh sebab itu kita membedakan: 1. Tumbuhan yang tidak berbatang (Planta acaulis). Tumbuh-tumbuhan yang

(5)

satu sama lain merupakan suatu rosert, misalnya lobak (Raphanus sativus L.), sawi (Brassica juncea L.). Tumbuhan semacam ini akan memperlihatkan batang dengan nyata pada waktu berbunga. Dari tengah-tengah roset daun akan muncul batang yang tumbuh cepat dengan daun-daun yang jarang-jarang, bercabang-cabang, dan mendukung bunga-bunganya.

2. Tumbuhan yang jelas berbatang, batang tumbuhan dapat dibedakan seperti berikut (Tjitrosoepomo, 2011) :

a. Batang basah (herbaceus), yaitu batang yang lunak dan berair misalnya pada bayam (Amaranthus spinosus L), krokot (Portulaca oleracea L). b. Batang berkayu (lignosus), yaitu batang yang biasa keras dan kuat,

karena sebagian besar terdiri atas kayu, yang terdapat pada pohon-pohon dan semak-semak pada umumnya. Pohon adalah tumbuhan yang tinggi besar, batang berkayu dan bercabang jauh dari permukaan tanah, sedang semak adalah tumbuhan yang tak seberapa besar, batang berkayu, bercabang-cabang dekat permukaan tanah atau malahan dalam tanah. Contoh mangga (Mangifera indica L), sidaguri (Sida rhombifolia L).

c. Batang rumput (calmus), yaitu batang yang tidak keras mempunyai ruas-ruas yang nyata dan seringkali berongga misalnya pada padi (Oryza sativa L) dan rumput (Gramineae) pada umumnya.

d. Batang mendong (calamus), seperti batng rumput tetapi mempunyai ruas-ruas yang lebih panjang, misalnya pada mendong (Fimbristylis globulosa Kunth.), wlingi (Scirpus grassu L.) dan tumbuhan sebangsa teki (Cyperaceae), lainnya.

(6)

kelas dikotil bentuk batang pada umumnya mengecil pada bagian atas, yang dianggap sebagai suatu kerucut sesuai dengan pertumbuhan ujung batang dan cabang-cabangnya. Bentuk batang sendiri biasanya dilihat dari penampang melintangnya. Berdasarkan hal ini, bentuk batang tumbuhan dibedakan yaitu bulat, bersegi, dan pipih. Batang bulat jika penampang melintangnya menunjukkan bangun lingkaran. Batang bulat dapat ditemukan pada kebanyakan tumbuhan seperti pada batang bambu. Pada batang bersegi, penampang melintang batang menunjukkan bangun segitiga dan segi empat. Batang segitiga dapat ditemukan pada jenis-jenis teki (Cyperus sp). Tumbuhan berbatang segi empat dapat ditemukan pada tumbuhan markisa (Passiflora quadrangularis), anggur (Vitis sp), dan sebagainya. Untuk batang pipih, penampang melintang batang yang terlihat biasanya berbentuk elips atau setengah lingkaran. Batang pipih biasanya selalu melebar menyerupai daun, sehingga mengambil alih tugas daun pula. Batang yang bersifat demikian dinamakan filokladia (Phyllocladium) dan kladodia (Cladodium). Batang bersifat filokladia jika bentuk batang sangat pipih dan mempunyai pertumbuhan yang terbatas, misalnya pada jakang. Sedangkan batang bersifat kladodia, jika batang masih tumbuh terus dan mengadakan percabangan, misalnya dari jenis-jenis kaktus.

Gambar 1. Buah naga jenis kaktus (Sumber : Warnita, 2013).

(7)

B. Arah Tumbuh Batang

Menurut Rosanti (2011), walaupun batang umumnya tumbuh ke arah cahaya, menjauhi tanah dan air, tetapi arahnya dapat memperlihatkan beberapa variasi, sehingga arah tumbuh batang dibedakan menjadi:

1. Tegak lurus (erectus)

Yaitu jika arahnya lurus ke atas. Batang tegak lurus biasanya tidak bercabang, misalnya pepaya (Carica papaya L.), kelapa (Cocos nosifera) dan beberapa jenis cemara.

2. Menggantung (dependens, pendulus)

Batang seperti ini hanya dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan yang tumbuhnya di lereng-lereng atau tepi jurang, misalnya Zebrina pendula atau tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas pohon sebagai epifit misalnya jenis anggrek (Orchidaceae) tertentu.

3. Berbaring (humifusus).

Batang ini terletak pada permukaan tanah, hanya ujungnya saja yang sedikit membengkok ke atas misalnya pada semangka (Citrillus vulgaris). Kadang-kadang batang berbaring diberikan penunjang dari kayu, kawat, atau besi agar bisa tumbuh ke atas.

4. Menjalar atau merayap (repens).

Batang menjalar hampir sama dengan batang berbaring, yang membedakan terletak dari buku-bukunya yang mengeluarkan akar, sehingga dapat tumbuh menjadi tunas. Batang menjalar dapat ditemukan pada kangkung (Ipomoea crassicaulis), ubi jalar (Ipomoea batatas) dan sebagainya.

5. Serong ke atas atau condong (ascendens),.

Pangkal batang seperti hendak berbaring, tetapi bagian lainnya lalu membelok ke atas, misalnya pada kacang tanah (Arachis hypogaea). 6. Mengangguk (nutans).

(8)

7. Memanjat (scandens).

Yaitu jika batang tumbuh ke atas dengan menggunakan penunjang. Penunjang dapat berupa benda mati ataupun tumbuhan lain, dan pada waktu naik ke atas batang menggunakan alat-alat khusus untuk berpegangan pada penunjangnya ini, misalnya dengan akar pelekat, contohnya pada sirih (Piper bettle) dan arisema (Arisaema sp.).

8. Membelit (volubilis).

Berbeda dengan batang memanjat yang menggunakan alat bantu untuk naik ke atas, batang membelit tidak menggunakan alat bantu, tetapi batang tumbuhan itulah yang membelit. Dengan kata lain batangnya sendiri naik dengan melilit penunjangnya. Arah melilit terbagi dua, yaitu ke kiri dan ke kanan. Membelit ke kiri, jika dilihat dari atas arah belitan berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Dengan kata lain jika kita mengikuti jalanya batang yang membelit itu, penunjang akan selalu di sebelah kiri yang melihat.

C. Arah Tumbuh Batang

Menurut Tjitrosoepomo (2011), batang suatu tumbuhan ada yang bercabang ada yang tidak, yang tidak bercabang kebanyakan dari golongan tumbuhan yang berbiji tunggal (Monocotyledoneae), misalnya jagung (Zea mays). Umumnya batang memperlihatkan percabangan entah banyak entah sedikit. Cara percabangan ada bermacam-macam biasanya dibedakan tiga macam cara percabangan, yaitu:

1. Cara percabangan monopodial, yaitu jika batang pokok selalu tampak jelas. Karena lebih besar dan lebih panjang (lebih cepat pertumbuhannya daripada cabang-cabangnya, misalnya pohon cemara (Casuarina equisetifolia L.).

(9)

3. Percabangan menggarpu atau dikotom, yaitu cara percabangan yang batang setiap kali menjadi dua cabang yang sama besarnya, misalnya paku andam (Gleichenia linearis Clarke).

Menurut Kusdianti (2012), Bila batang utama pertumbuhannya ritmik, ketika periode reda tumbuh tercapai, daun-daun dan tunas aksilar yang terbentuk tersusun dalam karangan. Pada saat ini pula, tunas aksilar beberapa daun dekat di bawah meristem apeks tumbuh menghasilkan cabang-cabang yang tumbuh horizontal. Cabang-cabang tersebut dapat berstruktur monopodial atau berstruktur simpodial. Kelompok model struktur percabangan ini meliputi :

1. Model Kwan-Koriba. Batang dengan struktur simpodial. Setiap caulomer pembentuk batang menghasilkan lebih dari satu cabang ke arah lateral pada bagian distalnya. Salah satu cabang terdiferensiasi secara sekunder sehingga posisi tumbuhnya menjadi kearah vertikal, meneruskan pertumbuhan batang ke arah atas. Misalnya Alstonia macrophylla dan Cerbera manghas.

2. Model Pevost. Batang berstruktur simpodial. Setiap caulomer pembentuk batang menghasilkan lebih dari satu cabang (caulomer baru) pada bagian distalnya. Salah satu dari cabang-cabang yang lain pada awalnya tumbuh ortotrop, kemudia menjadi plagiotrop (mendatar) karena oposisi atau substitusi. Misalnya Euphorbia pulcherima dan beberapa species Piper. 3. Model Fagerlind. Batang berstruktur monopodial dan pertumbuhannya

ritmik. Cabang tersusun seperti dalam karangan sebagai akibat pertumbuhan ritmik dari batang. Cabang tersebut berstruktur sympodial dan tumbuh plagiotrop. Misalnya Rhotmania longiflora dan Miconia sp. 4. Model Petit. Batang berstruktur monopodial dengan pertumbuhan kontinu.

Cabang tumbuh plagiotrop dan berstruktur simpodial. Misalnya Gossypium arboreum, Gossypium hirsutum, dan Morinda lucida.

(10)

yang tumbuhnya tak terbatas. Misalnya Terminalia catapa, Elaeocarpus pedunculatus, dan Manilkara hidentata.

6. Model Scarrone. Batang berstruktur monopodial dengan pertumbuhan ritmik. Cabang tersusun seperti dalam karangan, berstruktur simpodial, dan tumbuh ortrotop. Perbungaan letaknya terminal pada cabang. Misalnya Mangifera indica, Casia siamea, dan Pandanus candelabrum.

7. Model Rauh. Batang berstuktur monopodial dengan pertumbuhan ritmik. Cabang tersusun seperti dalam karangan, berstruktur monopodial, pertumbuhannya ritmik dan ortotrop. Cabang dengan batang secara morfologi identik. Misalnya Hevea braziliensis, Araucaria araucana, Pinus mercusii, Pinus silvestris, Podocarpus salicifolius, Dillenia indica, dan Canarium schweinfurthii.

8. Model Attim. Batang berstruktur monopodial. Cabang dengan batang secara morfologi identik. Misalnya Casuarina equisetifolia, Eucalyptus globulus, dan Rhizophora recemosa.

9. Model Nozeran. Batang berstruktur simpodial dengan pertumbuhan ritmik. Setiap caulomer penyusun batang .

10. Model Massart. Batang tumbuh ortotrop dengan pertumbuhan ritmik dan berstruktur monopodial. Cabang tersusun seperti dalam karangan, tumbuh plagiotrop, dan berstruktur monopodial atau simpodial. Misalnya Abies alba, taxus baecata, Ceiba pentandra, Diospyros sp, dan Myristica fragrans.

11.Model Raux. Batang berstruktur monopodial dengan pertumbuhan kontinu. Cabang berstruktur monopodial dan tumbuh plagiotrop. Misalnya Cananga odorata, Durio zibethinus, Phyllanthus discoideus, Coffea arabica, dan Celtis integrifolia.

(11)

Menurut Mulyani (2006), batang primer berkembang dari protoderm, prokambium, dan meristem dasar.

1. Kolateral

Tipe kolateral dibedakan menjadi kolateral tertutup dan kolateral terbuka. Disebut kolateral tertutup apabila di antara xilem dan floem tidak terdapat kambium, tetapi terdapat parenkim penghubung. Tipe ini biasa terdapat dalam batang monokotil. Pada kolateral terbuka di antara xilem dan floem terdapat kambium yang bersifat dipleuris. Tipe ini biasanya terdapat pada batang dikotiledon.

2. Bikolateral

Berkas pengangkut tipe bikolateral terdiri atas satu bagian xilem di tengah serta satu bagian floem di sebelah luar dan satu bagian di sebelah dalam. Antara xilem dan floem luar terdapat kambium, dan antara xilem dan floem terdapat parenkim penghubung. Tipe bikolateral terdapat pada beberapa dikotiledon, misalnya pada Solanaceae.

3. Konsentris

Berkas pengangkut tipe konsentris terdiri atas xilem yang dikelilingi oleh floem atau sebaliknya. Apabila floem dikelilingi oleh floem disebut konsentris amfikribral, yang biasa terdapat pada Pteridophyta. Apabila floem dikelilingi oleh xilem disebut konsentris amfivasal, yang biasa terdapat pada monokotiledon misalnya pada Aloe arborescens.

4. Radial

Berkas pengangkut tipe menjari terdiri atas xilem dan floem yang tersusun berselang-selang menurut arah jari-jari. Susunan seperti ini terdapat pada akar sewaktu xilem dan floem dalam keadaan primer.

D. Batang Dikotil

(12)

kemudian menjadi beberapa lapisan kolenkim. Bagian korteks yang lain terdiri atas sel parenkim yang kemudian menjadi beberapa lapisan kolenkim. Bagian korteks yang lain terdiri atas sel parenkim yang berisi klorofil. Endodermis yang berisi tepung disebut floeoterma atau selubung tepung. Empulur terdiri atas sel parenkim yang berisi getah yang juga terdapat pada bagian korteks. Pada batang yang sudah tua, empulur terdiri atas sel berdinding tebal dan berwarna lebih tua karena banyak mengandung tanin. Selnya terdiri atas sel hidup yang mengandung tepung. Pada floem sekunder banyak dibentuk serabut yang terdiri atas pembuluh pengangkut dan sel parenkim. Pada batang muda terdapat epidermis dan masih terdapat pada awal pertumbuhan sekunder. Pada batang tua akan terbentuk periderm dengan lentisel. Satu atau dua lapisan korteks di bawah epidermis berisi kloroplas. Lapisan ini diikuti oleh dua atau tiga lapisan kolenkim, dan parenkim dengan sel getah. Floem primer berisi serabut dekat dengan korteks. Di dalam floem sekunder juga terdapat serabut, tetapi tidak pada metafloem. Kambium pembuluh memisahkan floem dengan xilem sekunder dengan membentuk silinder yang padat. Empulur terdiri atas sel parenkim yang berisi sel getah. Tepung dan kristal sering terdapat dalam empulur maupun korteks.

E. Batang Monokotil

(13)
(14)

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum morfologi tumbuhan yang membehas tentang sifat umum batang dilaksanakan pada hari senin tanggal 10 November 2014 pukul 10.30 WIB di Laboratorium Biologi IAIN Raden Fatah Palembang.

B. Alat dan Bahan Paktikum

a. Batang jati muda (Tectona grandis L.) b. Batang jati tua (Tectona grandis L.)

c. Batang tebu muda (Saccharum officinarum L.) d. Batang tebu tua (Saccharum officinarum L.)

C. Cara Kerja

a. Diambil batang jati yang masih muda dengan beberapa daun yang masih melekat amati sifat-sifatnya, kemudian gambarkan.

b. Diberi keterangan pada gambar yang anda buat dengan menunjukkan apeks, pucuk, buku, ruas, daun dan tunas aksilar.

c. Dibuat potongan melintang pada batang jati tadi, kira-kira 10-20 cm di bawah apeks pucuk.

d. Digambar bagian melintang dari potongan tadi dan tunjukkan sifat aktinomorf batang pada bagan melintang yang telah anda buat.

(15)

f. Dilakukan hal yang sama (1-5) untuk batang jagung.

BAB IV

(16)

A. Hasil Pengamatan

Dari praktikum morfologi yang membahas tentang sifat umum pada batang yaitu dapat dihasilkan sebagai tabel berikut ini:

Tabel 1. Hasil praktikum

Gambar Keterangan

Batang Jati Muda (Tectona grandis L.)

1. Buku (nodus) 2. Ruas (internodus)

Batang Jati Muda (Tectona grandis L.)

(17)

Batang Tebu Tua (Saccharum Officinarum L.)

1. Ruas (internodus) 2. Buku ruas (nodus)

Batang Tebu Muda (Saccharum officinarum L.)

(18)

Tabel 2. Perbedaan batang jati tua (Tectona grandis L.) dan batang jati muda (Tectona grandis L.

Tabel 2. Perbedaan batang jati (Tectona grandis L.) tua dan muda.

Tabel 3. Perbedaan batang tebu tua (Saccharun officinarum L.) dan batang tebu muda (Saccharun officinarum L.)

Batang Tebu Tua (Saccharun

Tidak mempunyai bulu-bulu halus Mempunyai bulu-bulu halus Bentuk batang bulat Bentuk batang bulat

Terdapat retakan-retakan gabus Tidak terdapat retakan-retakan gabus Macam batang calamus Macam batang calamus

Memiliki cincin tumbuh Tidak mempunyai cincin tumbuh Memiliki mata akar Tidak memiliki mata akar

Mempunyai retakan tumbuh Tidak mempunyai retakan tumbuh Teksturnya keras Teksturnya agak lembut

Kulit batang cenderung lebih kering

Kulit batang cenderung basah Batang Jati Tua (Tectona grandis L.) Batang Jati Muda (Tectona grandis

L.)

Berwarna coklat. Berwarna hijau

Bentuk batang bulat Bentuk batang persegi Permukaan batang memperlihatkan

bekas daun dan melepaskan kerak.

Permukaan batang licin

Tidak terdapat bulu-bulu halus Terdapat bulu-bulu halus Kulit batang kering Kulit batang basah

Ruas batangnya lebih panjang Ruas batangnya lebih pendek Terdapat tempat melekat tangkai

daun

Terdapat bekas tempat melekatnya tangkai daun pada buku

Arah tumbuh batang keatas Arah tumbuh keatas Percabangan aksilar Percabangan aksilar

Berkambium Berkambium

(19)

Tabel 3. Perbedaan batang tebu(Saccharun officinarum L.) dan batang jati (Tectona grandis L.)

Batang Tebu (Saccharun officinarum L.)

Batang Jati (Tectona grandis L.)

Lebih dominan berwarna keunguan

Lebih dominan berwarna coklat

tipe batang monopodial Tipe batang gabungan Tidak memiliki percabangan Memiliki percabangan

Batang tebu tua berbentuk silindris Bentuk jati tua silindris Tebu muda tidak mempunyai bulu-grandis L.) tua, batang tebu (Saccharun officinarum L.) muda dan batang tebu (Saccharun officinarum L.) tua. Dari keempat jenis batang ini mempunyai ciri-ciri atau perbedaan masing-masing dari setiap batang.

(20)

tidak lagi memiliki bulu-bulu halus, karena bulu-bulu halus hanya dimiliki pada saat ia masih muda. Batang jati (Tectona grandis L.) juga memiliki bintik-bintik lentisel, bisa kita lihat secara langsung bentuk dari lentisel secara kasat mata, seperti berbentuk tonjolan-tonjolan kecil pada batang jati (Tectona grandis L.) .

Menurut Sumarna (2004), tanaman jati (Tectona grandis L.) yang tumbuh di Indonesia berasal dari India. Tanaman yang mempunyai nama ilmiah Tectona grandis L. secara historis, nama Tectona berasal dari bahasa portugis (tekton) yang berarti tumbuhan yang memiliki kualitas tinggi. Di negara asalnya, tanaman jati ini dikenal dengan banyak nama daerah, seperti ching-jagu (di wilayah Asam), saigun (Bengali), tekku (Bombay), dan kyun (Burma).

Morfologi dari batang tebu (Saccharun officinarum L.) hampir sama dengan morfologi dari bentuk batang jagung (Zea mays). Bentuknya sama, dan pada batang tebu (Saccharun officinarum L.) memiliki ruas-ruas sama pada batang jagung (Zea mays) juga memiliki ruas-ruas pada batang. Tebu (Saccharun officinarum L.) banyak manfaat selain digunakan sebagai bahan mentah pembuatan gula, tebu (Saccharun officinarum L.) juga bisa dijadikan minuman yang nikmat. Batang tebu (Saccharun officinarum L.) tua berwarna keunguan sedangkan batang tebu (Saccharun officinarum L.) muda berwarna hijau keputihan. Permukaan pada batang tebu (Saccharun officinarum L.) ini licin, namun pada batang tebu (Saccharun officinarum L.) muda terasa sedikit kasar, ini disebabkan karena batang tebu (Saccharun officinarum L.) muda memiliki bulu-bulu halus. Batang tebu (Saccharun officinarum L.) tua teksturnya keras sedangkan tebu (Saccharun officinarum L.) muda lembut sehingga mudah dipatahkan tanpa bantuan pisau atau alat bantu lainnya. Pada batang tebu (Saccharun officinarum L.) tua ia memiliki mata akar sedangkan pada batang tebu (Saccharun officinarum L.) muda ia belum memiliki mata akar.

(21)

officinarum L.) tua, dan yang terakhir adalah tabel perbedaan antara batang jati dan batang tebu (Saccharun officinarum L.). Banyak terdapat perbedaan antara batang tebu (Saccharun officinarum L.) dan batang jati (Tectona grandis L.). Batang tebu (Saccharun officinarum L.) termasuk jenis tanaman monokotil karena batangnya tidak memiliki percabangan pada batang. Sedangkan jati (Tectona grandis L.), jati (Tectona grandis L.), termasuk ke dalam jenis tanaman dikotil karena, memiliki percabangan pada batang jati (Tectona grandis L.) itu sendiri. Selain itu perbedaan selanjutnya yaitu batang jati (Tectona grandis L.) adalah batang yang berkambium sedangkan batang tebu (Saccharun officinarum L.) tidak memiliki kambium itulah sebabnya mengapa pohon jati (Tectona grandis L.) bisa lebih lama bertahan hidup atau disebut sebagai batang sejati karena batangnya berkambium, sedangkan pada batang tebu (Saccharun officinarum L.) tidak memiliki kambium sehingga bukan tumbuhan sejati. Pada batang tebu (Saccharun officinarum L.) pertunasanya terminal sedangkan pada jati (Tectona grandis L.) pertunasanya aksilar. Morfologi dari batang tebu (Saccharun officinarum L.) hampir sama dengan morfologi batang jagung (Zea mays). Selain perbedaan, ada kesamaan antara batang jati (Tectona grandis L.) dan batang tebu (Saccharun officinarum L.) yaitu pada saat muda batang-batang tersebut memiliki bulu-bulu halus pada batangnya, sedangkan ketika batang-batang tersebut tua tidak memiliki bulu-bulu halus pada batangnya.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari praktikum pengamatan bagian-bagian daun dapat disimpulkan yaitu sebagai berikut :

(22)

2. Batang jati (Tectona grandis L.) termasuk ke dalam jenis batang dikotil yang mana ia memiliki kambium dan mempunyai percabangan.

Gambar

Gambar 1. Buah naga jenis kaktus (Sumber : Warnita, 2013).
Tabel 3. Perbedaan batang tebu tua (Saccharun officinarum L.) dan
Tabel 3. Perbedaan  batang tebu(Saccharun officinarum L.)  dan

Referensi

Dokumen terkait

Tumbuhan mempunyai selaput inti sehingga bersifat eukariotik dan tersusun oleh banyak sel (multiseluler), yang kemudian membentuk jaringan dan organ.. Selain itu, tumbuhan juga

Selain itu, perbedaan titik leleh antara literatur dengan yang diperoleh saat praktikum terjadi karena pengisian kapiler yang berlebih, dimana menurut

Booklet hasil karakterisasi morfologi dan anatomi pegagan ( Centella asiatica (L.) Urban.) di kabupaten Batang dapat digunakan sebagai sumber belajar tambahan mahasiswa

Selain itu, juga untuk mengetahui seberapa besar potensial jaringan pada suatu tumbuhan terutama pada umbi kentang ( Solanum tuberosum L. ) Bahan yang digunakan dalam

Sedangkan sel hewan mempunyai perbedaan dari sel tumbuhan selain tidak mempunyai dinding sel, kloroplas, tidak lazim punya vakuola, juga sel hewan mempunyai

Sedangkan pada keadaan setelah diberi larutan hipertonik, perbedaan hasil disebabkan karena perbesaran pada foto literatur lebih tinggi sehingga keadaan lepasnya membran dari