Tugas Laporan
Sosiologi Pertanian
PRAKTEK LAPANG
SOSIOLOGI PERTANIAN
Disusun Oleh :
Alfiandi Nur Ilham
G0211 71 526
Nanas
Asisten Pembibing
Vibriany fitri
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Sosiologi pertanian adalah suatu pengetahuan sistematis dari suatu hasil penerapan metode ilmu dalam mempelajari masyarakat pedesaan, struktur sosial dan organisasi sosial, dan juga sistem perubahan dasar masyarakat dan proses perubahan sosial yang terjadi di daerah tersebut. Memahami suatu masyarakat sangat diperlukan dalam upaya melakukan interaksi dengan masyarakat tersebut. Salah satu upaya untuk memahami masyarakat dapat dilakukan dengan memahami secara mendalam bentuk-bentuk proses sosial dalam masyarakat, baik dalam konteks masyarakat luas maupun dalam konteks suatu keluarga yang memiliki norma tertentu. Untuk itulah diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai proses-proses sosial dalam masyarakat dan keluarga. (Teguh, 2013)
Pemaknaan struktur sosial akan sangat berkaitan dengan komunitas sebagai satu kesatuan system social. Komunitas adalah suatu unik atau kesatuan sosial yang terorganisasikan dalam kelompok-kelompok dan kepentingan bersama, baik bersifat fungsional maupun teritorial. Kelompok memiliki banyak kegunan.
Struktur sosial menunjukkan pada fakta bahwa tindakan individu-individu yang berinteraksi dipolakan dalam kaitan dengan posisi masing-masing dalam interaksi tersebut. Konsep struktur sosial yang di maksud adalah pola-pola dalam pengorganisasian sosial, yaitu berhubungan antar status dan peranan yang relatif bersifat mantap. Struktur sosial merupakan jaringan dari unsur sosial pokok dalam masyarakat kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial, stratifikasi, kekuasaan, dan wewenang.
Pada umumnya masyarakat di Kabupaten Bantaeng mencari nafkah dengan mengelola kebun, dimana kebun yang mereka kelola ditanami dengan lebih dari satu jenis tanaman yang biasanya mereka kenal dengan istilah kebun campur atau gado-gado. Jenis-jenis tanaman yang mereka usahakan dalam kebun mereka adalah cengkeh, coklat, padi, jagung, dan kacang. Hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya Praktek Lapang Sosial Pertanian.
I.2. Tujuan Field Trip
Field Trip yang dilakukan merupakan salah satu pengalaman untuk mendukung kompetensi sebagai mahasiswa pertanian yang sangat berharga.Latar belakang mahasiswa yang sebagian besar bukan berasal dari lingkungan pertanian menjadikan tugas lapang ini manjadi pengalaman baru dan menarik untuk dikaji secara sosiologi. Mahasiswa dapat memahami kekuatan produksi dan hubungan produksi seorang petani dalam konteks komunitas tani dimana ia hidup. Menganalisis status sosial dan peran sosial petani dalam stratifikasi sosial masyarakat tani. Mahasiswa juga dapat menganalisis keanggotaan petani dalam kelompok tani dan organisasi petani dimana ia bergabung. Dapat menganalisis proses sosial dan bentuk kerjasama dalam konflik yang dialami petani di daerah yang dikunjungi.
II. HASIL DAN PEMBAHASAN
II.1. Identitas Responden
Ibu Rahu. Bapak Sakka dan Ibu Rahu tinggal bersama orang tua dari Bapak Sakka. Jadi jumlah yang di tanggung Bapak Sakka sejumlah 3 orang.
II.2. Kekuatan Produksi yang Dimiliki Petani
Produksi adalah proses mencari, mengolakasikan dan mengolah sumber daya menjadi output dalam rangka meningkatkan mashlahah bagi manusia. Oleh karena itu, produksi juga mencakup aspek tujuan kegiatan menghasilkan output serta karakter-karakter yang melekat pada proses dan hasilnya (Sari, 2015). Kekuatan produksi yaitu pembagian tipe-tipe kemampuan, peralatan, dan tekhnologi sebagaimana jenis dan ukuran pasokan buruh yang tersedia di masyarakat. (Wahyuddin, 2015)
Bapak Sakka mengelola lahan yang luasnya 25 are. Lahan tersebut adalah lahan yang bukan miliknya sendiri. Peraltan yang digunakan oleh bapak Sakka dalam mengerjakan lahan tersebut dengan menggunakan alat seperti cangkul, sabit, dan lain lain. Hasil produksi yang didapatkan oleh bapak Sakka pada saat panen ada 10 karung beras yang beratnya 50 kg. Pendapatan usaha tani pak Sakka dalam kurun waktu setahun itu tidak tetap tergantung berapa upah yang diberikan oleh petani pemilik.
II.3. Hubungan Produksi
Hubungan produksi yaitu hubungan hak milik dalam masyarakat, hubungan sosial sesuai apa yang telah diatur masyarakat tentang kondisi dan kekuatan produksi dan dalam menyalurkan hasil produksi kepada anggota masyarakat. (Wahyuddin, 2015) Hubungan produksi terbagi menjadi pembagian kerja dalam proses produksi dan hubungan sosial antara pelaku produksi. Adapun hubungan produksi informan yaitu dalam proses produksi tanaman beras, beliau biasanya dibantu oleh anak, keponakan, atau tetangganya.
Yang terlibat dalam proses usaha tani Pak Sakka dibantu oleh tenaga kerja keluarga. Tenaga kerja keluarga yang turut serta dalam kegiatan pertanian adalah anaknya dan Ibu Rahu. Pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh tenaga kerja keluarga ialah menggemburkan lahan untuk ditanami padi, proses penanaman padi, dan penjagaan lahan pertanian agar tidak diserang oleh hama.
II.4. Status Sosial
Stratifikasi stratifikasi sosial adalah sebuah konsep yang menunjukkan adanya pembedaan dan/atau pengelompokan suatu kelompok sosial (komunitas) secara bertingkat. Misalnya: dalam komunitas tersebut ada strata tinggi, strata sedang dan strata rendah. Pembedaan dan/atau pengelompokan ini didasarkan pada adanya suatu simbol -simbol tertentu yang dianggap berharga atau bernilai — baik berharga atau bernilai secara sosial , ekonomi, politik, hukum, budaya maupun dimensi lainnya — dalam suatu kelompok sosial (komunitas). Simbol -simbol tersebut misalnya, kekayaan, pendidikan, jabatan, kesalehan dalam beragama, dan pekerjaan (Singgih, 2014)
Dari data yang saya dapatkan status sosial dari Bapak Sakka adalah sebagai petani tidak berlahan atau biasa disebut dengan petani pekerja. Bapak Sakka termasuk sebagai petani berlahan sempit karena rata-rata petani di daerah Tanah Loe memiliki lahan sebesar ±50 are sedangkan Bapak Sakka hanya mengerjakan lahan sebesar 25 are.
II.5. Keanggotaan Dalam Kelompok
Kelompok tani adalah sekumpulan orang-orang tani atau petani yang terdiri dari petani dewasa (pria/wanita) maupum petani-taruna yang terikat secara informal dalam suatu wilayah kelompok atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta berada di lingkungan pengaruh dan dipimpin oleh seorang kontaktani. Peranan kelompok tani adalah sebagai sarana kelas belajar, kerjasama dan sebagai unit produksi, peningkatan produksi dan keberhasilan usahatani. (Matanari , 2017)
II.6. Kerjasama dan Konflik
Kerjasama (Cooperation) adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok diantara kedua belah pihak manusia untuk tujuan bersama dan mendapatkan hasil yang lebih cepat dan lebih baik. (Sari, 2010)
Konflik dapat didefinisikan sebagai segala macam interaksi pertentangan atau antagonistic antara dua atau lebih pihak, konflik organisasi adalah ketidak sesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota atau kelompok-kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan, karena mereka harus membagi sumber daya-sumber daya yang terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja atau karena kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai, atau presepsi. (Ormando, 2013)
Durkheim menjelaskan adanya dua tipe solidaritas sosial yang dikaitkan dengan tingkat pembagian kerja dalam masyarakat. Pada masyarakat dengan sistem pembagian kerja yang rendah, akan menghasilkan tipe solidaritas mekanik, sedangkan pada masyarakat dengan pembagian kerja yang kompleks akan menghasilkan tipe solidaritas organik. Secara singkat, solidaritas mekanik berbentuk karena adanya saling kesamaan antar anggota masyarakat, yang dimaksud dengan kesamaan antar anggota masyarakat bisa dilihat dari tujuan masyarakat itu sendiri dan adat yang mereka biasa lakukan sehingga dapat tercipta solidaritas sedangkan solidaritas organik lebih terbentuk karena adanya perbedaan antar anggota masyarakat. Perbedaan jenis pekerjaan, pemikiran dan gaya hidup orang kota menyebabkan terciptanya solidaritas organik sehingga dengan adanya perbedaan tersebut menyebabkan setiap anggota masyarakat saling bergantung sama lain. (Silvia, 2016)
Dari hasil observasi yang saya lakukan Bapak Sakka mengatakan bahwa di daerah Tanah Loe pernah terjadi konflik yang disebabkan karena ada petani yang tidak kebagian pupuk pembagian dari pemerintah. Selain konflik ada juga kegiatan kerjasama yaitu membuat jalan di areal persawahan.
III. KESIMPULAN DAN SARAN
III.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktek lapang yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kelurahan Tanah Loe, Kecamatan Gantarang Keke, Kabupaten Bantaeng memiliki permasalahan permasalahan yang sering timbul yaitu organisasi atau lembaga kelompok sosial yang tidak sesuai dengan fungsinya, kurangnya penyuluhan mengenai masalah pertanian, serta pengenalan teknologi kepada masyarakat yang kurang memadai. Kasus atau masalah ini timbul karena kurangnya sosialisasi atau penyuluhan kepada masyarakat, dan interaksi sosial yang kurang terjalin serta tidak berfungsinya teori stuktural fungsional di dalam masyarakat setempat. Adapun solusi yang dapat kami usulkan yaitu sebaiknya pemerintah setempat berperan akif dalam dalam menangani masalah atau kasus sosial yang terjadi serta memberikan fasilitas kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat berorganisasi dalam suatu kelompok sosial.
IV.2. Saran
IV. DAFTAR PUSTAKA
Matanari, Salmiah, Emalisa. 2015. Peranan Kelompok Tani Terhadap Peningkatan Produksi Padi Sawah (Oriza Sativa) Di Desa Hutagugung Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi. Sumatera: Universitas Sumatera Utara
Ormando, Bill. 2013. Studi Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Konflik Di Dalam Proyek Konstruksi.
Jogjakarta : Universitas Atmajaya
Sari, R. 2015. repository.uin-suska.ac.id/6740/4/BAB%20III.pdf (11 November 2017)
Silvia, Winda. 2016. Solidaritas dan Fanatisme Komunitas Reggae Pantura di Desa Dalegan Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik. Surabaya: Universitas Islam Negeri Sunan Ampe Teguh, 2013.
Singgih, DS. 2014. Prosedur Analisis Stratifikasi Sosial dalam Perspektif Sosiologi . Surabaya : Universitas Airlangga