• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Pelayanan Keperawatan Kesehatan docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Pelayanan Keperawatan Kesehatan docx"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Keperawatan kesehatan mental dan psikiatrik adalah suatu bidang spesialisasi praktek keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya ( ANA ). Semuanya didasarkan pada diagnosis dan intervensi dari adanya respons individu akan masalah kesehatan mental yang actual maupun potensial. Ada empat karakteristik keperawatan :

1. Fenomena yaitu rentang respons-respons yang berkaitan dengan kesehatan yang teramati pada orang sakit dan sehat yang menjadi focus diagnosa dan penanganan keperawatan.

2. Teori yaitu konsep-konsep, prinsip-prinsip dan proses yang memandu intervensi keperawatan dan pemahaman tentang respons yang berhubungan dengan kesehatann. 3. Tindakan-tindakan yaitu intervensi untuk mencegah kesehatan.

4. Pengaruh yaitu evaluasi tindakan keperawatan yang berhubungan dengan respon kesehatan yang teridentifikasi dan hasil asuhan keperawatan yang diantisipasi.

Pelayanan yang menyeluruh difokuskan pada pencegahan penyakit mental, menjaga kesehatan, pengelolaan atau merujuk dari masalah kesehatan phisik dan mental, diagnosis dan intervensi dari gangguan mental dan akibatnya, dan rehabilitasi (Haber & Billing, 1993).

Keperawatan jiwa / mental diharapkan mampu mengkaji secara komprehensif, menggunakan ketrampilan memecahkan masalah secara efektif dengan pengambilan keputusan klinik yang komplek (advokasi), melakukan kolaborasi dengan profesi lain, peka terhadap issue yang mencakup dilema etik, pekerjaan yang menyenangkan, tanggung jawab fiskal. Jadi peran keperawatan jiwa profesional telah berkembang secara komplek dari elemen-elemen sejarah aslinya.

(2)

Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.

Kesehatan jiwa meliputi:

 Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri

 Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain

 Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari - hari.

Keperawatan jiwa dimulai antara tahun 1770 dan 1880 seiring dengan kejadian penanganan pada seorang penyakit mental. Sebelumnya, pada masa peradaban dimana roh-roh dipercaya sebagai penyebab gangguan dan mengusirnya agar sembuh. Para leluhur Yunani, Romawi dan Arab percaya bahwa gangguan emosional diakibatkan tidak berfungsinya organ pada otak. Mereka menggunakan berbagai pendekatan tindakan seperti : ketenangan, gizi yang baik, kebersihan badan yang baik, musik dan aktivitas rekreasi.Selama abad 7 sebelum masehi, Hippocrates menjelaskan perubahan perilaku atau watak dan gangguan mental disebabkan oleh perubahan 4 cairan tubuh atauhormon, yang dapat menghasilkan panas, dingin, kering dan kelembaban. Aristotle melengkapi dengan hati, dan Seorang Dokter Yunani, Galen :menyatakan emosi atau kerusakan mental dihubungkan dengan otak. Orang Yunani menggunakan kuil sebagai rumah sakit dan memberikan lingkungan udara bersih, sinar matahari dan air bersih untuk menyembuhkan penyakit jiwa/mental. Bersepeda, Jalan-jalan, dan mendengarkan suara air terjun ini sebagai contoh penyembuhan.

Falsafah biasanya diartikan sebagai suatu pandangan dan pengetahuan yang mendasar, yang selanjutnya digunakan untuk mengembangkan dan membangun suatu persepsi atau asumsi tertentu tentang kehidupan. Falsafah memberikan suatu gambaran atau pandangan terhadap suatu sistem nilai dan keyakinan. Bagi setiap individu, falsafah berperan dalam membantu seseorang memahami makna dari pengalaman hidup yang dijalaninya serta berfungsi sebagai penuntun dalam bersikap dan berperilaku. Falsafah hidup seseorang berkembang melalui dari hasil belajar, hubungan interpersonal, pendidikan formal maupun informal, agam, dan dipengaruhi oleh latar belakang budaya serta lingkungan.

Berdasarkan konseptual model keperawatan diatas, maka dapat dikelompokkan ke dalam 6 model yaitu:

1. Psycoanalytical (Freud, Erickson)

(3)

3. Social ( Caplan, Szasz)

4. Existensial ( Ellis, Rogers)

5. Supportive Therapy ( Wermon, Rockland)

6. Medica ( Meyer, Kraeplin)

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliyah Keperawatan Jiwa I serta mengetahui bagaimana bentuk keperawatan jiwa.

2. Tujuan Khusus:

a. Agar mahasiswa mengetahui Sejarah Keperawatan Jiwa Di Dunia dan Di Indonesia

b. Agar mahasiswa mengetahui Pengertian Keperawatan Kesehatan Jiwa

c. Agar mahasiswa mengetahui tentang Upaya Keperawatan Jiwa Di Indonesia

d. Agar mahasiswa mengetahui Hak-hak Klien pada Keperawatan Jiwa

C. Manfaat

Manfaat yang diharapkan oleh penulis adalah sebagai berikut :

1. Untuk masyarakat: sebagai bahan informasi untuk menambah pengetahuan kesehatan 2. Untuk Mahasiswa: di harapkan makalah ini dapat bermanfaat sebagai bahan

pembanding tugas serupa.

(4)

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Keperawatan Jiwa 1. Masa Peradaban

Keperawatan jiwa dimulai antara tahun1770 dan 1880 seiring dengan kejadian penanganan pada seorang penyakit mental. Sebelumnya, pada masa peradaban dimana roh-roh dipercaya sebagai penyebab gangguan dan mengusirnya agar sembuh. Para leluhur Yunani, Romawi dan Arab percaya bahwa gangguan emosional diakibatkan tidak berfungsinya organ pada otak. Mereka menggunakan berbagai pendekatan tindakan seperti : ketenangan, gizi yang baik, kebersihan badan yang baik, musik dan aktivitas rekreasi. Selama abad 7 sebelum masehi, Hippocrates menjelaskan perubahan perilaku atau watak dan gangguan mental disebabkan oleh perubahan 4 cairan tubuh atau hormon, yang dapat menghasilkan panas, dingin, kering dan kelembaban. Aristotle melengkapi dengan hati, dan Seorang Dokter Yunani, Galen :menyatakan emosi atau kerusakan mental dihubungkan dengan otak. Orang Yunani menggunakan kuil sebagai rumah sakit dan memberikan lingkungan udara bersih, sinar matahari dan air bersih untuk menyembuhkan penyakit jiwa/mental. Bersepeda, jalan-jalan, dan mendengarkan suara air terjun ini sebagai contoh penyembuhan.

2. Masa Pertengahan

Era dari Alienation, social exclusion dan confinement.Dokter menjelaskan gejala : a. Depression

b. Paranoia c. Delusions d. Hysteria

e. Nighmares Rumah Sakit Jiwa pertama, Bethlehem Royal Hospital, telah dibuka di England.

Selama 18 abad, era dari reason dan observation :

f. Pinel, seorang dokter Perancis membuka sebuah rumah sakit untuk seorang penderita jiwa / mental di pilih kota La Bicetre, Paris. Dia memulai dengantindakan kemanusiaan dan advokasi, melalui observasi perilaku, riwayat perkembangan dan menggunakan komunikasi dengan penderaita.

(5)

3. Abad 18 dan 19

Pada abad ke-18, seorang praktisi kesehatan bernama William Ellis membantu mengadakan perawatan bagi orang dengan gangguan jiwa. Dia mengusulkan pendamping yang terlatih bagi orang-orang dengan gangguan jiwa. Pada tahun 1836, William Ellis mempublikasikan Treatise on Insanity yang secara terbuka mengemukakan bahwa praktik keperawatan yang didirikan tersebut berhasil memberikan ketenangan bagi pasien dengan gangguan jiwa dan juga memberikan harapan demi harapan yang baik Keperawatan jiwa dimulai antara tahun 1770 dan 1880 seiring dengan kejadian penanganan pada seorang penyakit mental. Sebelumnya, pada masa peradaban dimana roh-roh dipercaya sebagai penyebab gangguan dan mengusirnya agar sembuh.Para leluhur Yunani, Romawi dan Arab percaya bahwa gangguan emosional diakibatkan tidak berfungsinya organ pada otak. Mereka menggunakan berbagai pendekatan tindakan seperti : ketenangan,gizi yang baik, kebersihan badan yang baik, musik dan aktivitas rekreasi. Keperawatan jiwa mengalami perkembangan baik di Eropa maupun di USA. Walk (1961) mengungkapkan bahwa sejarah kejiwaan tidak lengkap rasanya jika tidak ada sejarah keperawatan jiwa di dalamnya.

Perawat psikiatrik kini makin banyak memberikan perawatan pada orang-orang dikomunitas, di United Kingdom setelah muncul kebijakan pemerintah mengenai keperawatan komunitas. Keperawtan jiwa yang modern berfokus pada upaya meningkatkan atau mempertahankan kesehatan jiwa dan salah satu tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa jika hal ini memungkinkan. Saat ini keperawatan jiwa di Inggris merupakan cabang pengetahuan yang diajarkan dalam sekolah keperawatan berijazah dan pendidikan akademi keperawatan. Kini cabang pengetahuan tersebut semakin banyak dipelajari pula pada tingkat pascasarjana.

(6)

keterampilan dalam memberikan pengobatan melalui asuhan keperawatan. Diakhir abad 19 mengalami perubahan atau perkembangan menjadi cohtoh pengobatan dari perawat pskiatrik, seperti :

a. Membantu dokter

b. Mengelola obat penenang c. Memberikan hidroterapi

4. Pada Abad Ke-20

Department of Health and Human Services (1999) memperkirakan 21 juta penduduk Amerika dapat didiagnosis mengalami gangguan jiwa. Dari jumlah tersebut, 6,5 juta mengalami disabilitas akibat gangguan jiwa yang berat, dan 4 juta diantaranya adalah anak-anak dan remaja. Misalnya, 3% sampai 5% anak-anak usia sekolah mengalami gangguan hiperaktivitas / defisit perhatian. Lebih dari 10 juta anak berusia kurang dari 7 tahun tumbuh di rumah yang salah satu orang tuanya menderita gangguan jiwa yang signifikan atau menyalahgunakan zat sehingga menghambat kesiapan mereka untuk masuk sekolah.

Beberapa ahli berpendapat bahwa deinstitutionalization memiliki efek negatif sekaligus positif (Torrey, 1997). Walawpun jumlah tempat tidur di Rumah Sakit umum menurun sebesar 80%, ada peningkatan jumlah pasien yang masuk Rumah Sakit sebesar 90% (Appleby & Desai, 1993). Hal ini memunculkan istilah “efek pintu putar”. Penderita gangguan jiwa persisten dan berat dirawat dalam waktu singkat, tetapi frekuensi mereka masuk rumah sakit lebih tinggi. Unit psikiatri rumah sakit umum kewalahan dengan arus kontinu pasien yang masuk dan keluar rumah sakit dengan cepat. Jumlah kunjungan individu yang mengalami gangguan akut ke ruang kedaruratan meningkat 400% sampai 500% di beberapa kota.

Banyak ahli berpendapat bahwa pasien saat ini lebih agresif. Empat sampai delapan persen pasien di ruang kedaruratan psikiatri membawa senjata (Ries, 1997), dan sekitar 1000 pembunuhan dalam setahun dilakukan oleh penderita gangguan jiwa persisten dan berat yang tidak mendapatkan perawatan yang adekuat (Torrey, 1997). Sepuluh sampai lima belas persen pesakitan di penjara pemerintah menderita gannguan jiwa persisten dan berat (Lamb & Weinberger, 1998).

(7)

masalah penyalahgunaan zat (Haugland et al; 1997). Mereka yang tunawisma dan mengalami gangguan jiwa ditemukan di taman, bandara, terminal bis, gang, dan lorong bertangga, penjara, dan tempat umum lain. Beberapa dari mereka menggunakan tempat penampungan, halfway house atau board and care room, yang lain menyewa kamar hotel yang murah jika mereka mampu (Haugland et al; 1997). Banyak penderita gangguan jiwa yang tinggal di jalan semakin memburuk masalah kejiwaannya akibat tidak memiliki rumah sehingga hal ini menjadi sebuah lingkaran setan.

Banyak masalah yang dialami penderita gangguan jiwa yang tunwisma dan mereka yang melewati pintu kutar perawatan pisikiatri, disebabkan oleh dana masyarakat yang tidak adekuat. Ketika rumah sakit pemerintahan di tutup dana yang disimpan negara tidak di transfer ke program dan dukungan masyarakat. Terapi pisikiatri rawat inap masih merupakan pos pengeluaran utama dalam bidang kesehatan jiwa di amerika serikat sehingga kesehatan jiwa masyarakat tidak pernah memiliki dana pokok yang dibutuhkan untuk menjadi efektif (Keltner Schwecke, & Bostrom, 1999).

Pada tahun 1993, Acces to Community Care and Ef-fective Services and Support (ACCESS) dibentuk dan didanai oleh pemerintah pederal untuk mulai memenuhi kebutuhan penderita gangguan jiwa yang juga tunawisma baik secara purna maupun paru waktu. Tujuan ACCESS ialah meningkatkn akses kepelayanan komprehensif melalui rangkaian keperawatan mengurangi duplikasi dan biaya pelayanan, dan meningkatkan efisiensi pelayanan (Randolph at al ; 1997) program seperti ini memberi pelayanan kepada individu yang tidak mendapatkan pelayanan jika keadaan yang terjadi sebaliknya.

5. Keperawatan Jiwa di Indonesia

Diperkirakan bahwa 2-3% dari jumlah penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa berat. Bila separuh dari mereak memerlukan perawatan di rumah sakit dan jika penduduk Indonesia berjumlah 120 juta orang maka ini berarti bahwa 120 ribu orang dengan gangguan jiwa berat memerlukan perawatan di rumah sakit. Padahal yang tersedia sekarang hanya kira-kira 10.000 tempat tidur.

(8)

ditangani pada jaman dulu. Adapun tindakan yang dimaksud adalah dipasung, dirantai atau diikat lalu ditempatkan tersendiri di rumah atau di hutan (bila sifat gangguan jiwanya berat dan membahayakan). Bila tidak berbahaya, dibiarkan berkeliaran di desa, sambil mencari makanan dan menjadi tontonan masyarakat malahan ada kalanya diperlakukan sebagai orang sakti, Mbah Wali atau medium (perantara antara roh dan manusia).

a. Zaman Kolonial

Sebelum ada Rumah Sakit Jiwa di Indonesia, para ganggguan jiwa ditampung di RS sipil atau RS militer di Jakarta, Semarang dan Surabaya. Yang ditampung pada umumnya penderita gangguan jiwa berat. Ternyata tempat RS yang disediakan tidak cukup. Tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda mengadakan sensus terhadap penderita gangguan jiwa di Pulau Jawa dan Madura, hasilnya ada kira-kira 600 orang penderita gangguan jiwa di Pulau Jawa dan Madura, 200 orang lagi di daerah-daerah lain. Keadaan demikian untuk penguasa pada waktu itu sudah cukup alasan untuk membangun RS Jiwa. Maka pada tanggal 1 Juli 1882, dibangun Rumah Sakit Jiwa pertama di Bogor, kemudian berturut-turut RSJ Lawang pada 23 Juni 1902), RSJ Magelang pada tahun 1923 dan RSJ Sabang pada tahun 1927. RSJ ini tergolong RS besar dan menampung penderita gangguan jiwa menahun yang memerlukan perawatan lama.

Pemerintah Hindia Belanda mengenal 4 macaam tempat perawatan penderita psikistrik, yaitu:

1) RS Jiwa (Kranzinnigengestichten)

Di Bogor, Magelang, Lawang, dan Sabang, RSJ terus penuh, sehingga terjadi penumpukan pasien sementara, tempat tahanan sementara kepolisian dan penjara-penjara. Maka dibangunlah “annexinrichtingen” pada RS ysng sudah ada seperti di Semplak (Bogor) tahun 1931 dan Pasuruan (dekat Lawang) tahun 1932

2) RS Sementara (Doorgangshuizen)

Tempat penampungan sementara bagi pasien psikotik yang dipulangkan setelah sembuh, yang perlu perawatan lebih lama dikirim ke RS Jiwa yang didirikan di Jakarta, Semarang, Surabaya, Ujung Pandang, Palemnbang, Bali Banjarmasin,Manado dan Medan.

3) Rumah Perawatan (Veerplegtehuiizen)

(9)

4) Koloni

Tempat penampungan pasien psikiatrik yang sudah tenang, pasien dapt bekerja dalam bidang pertanian serta tinggal dirumah penduduk, tuan rumah diberi uang kos, dan masih berada dibawah pengawasan.

Rumah-rumah semacam ini dibangun jauh dari kota dan masyarakat umum. Perawatan bersifat isoslasi dan penjagaan (custodial care). Teori dasar yang sekarang tidak dianut lagi:

1) Pasien harus keluar dari rumah dan lingkungan yang menyebabkan ia sakit, oleh sebab itu harus dirawat disuatu tempat yang tenang, sehingga terbiasa dengan suasana rumah sakit.

2) Menghidari stigma (cap yang tidak baik)

 Dewasa ini pemerintah hanya memiliki satu jenis rumah sakit jiwa yaitu RSJ pemerintah, untuk menyederhanakan dan memperkuat struktur organisasi serta sekligus menghapus kecendrungan kepada diskriminasi pelayanan.

 Terdapat pula kecendrungan membangun rumah sakit yang tidak besar lagi, tetapi berkapasitas 250-300 tempat tidur, karena lebih efektif dan efisien. RS juga sebaiknya tidak terpencil tetapi berada ditengah-tengah masyarakat agar kegiatan dan hubungan akan lebih terjamin.

 Cara pengobatan yang dahulu sering dipakai di RSJ adalah isolasi dan penjagaan (custodiall care), sejak tahun 1910 telah dicoba untuk meninggalkan penjagaan yang terlalu ketat terhadap pasien dengan memberikan kebebasan yang lebih besar (no restrin). Kemudian pada tahun 1930 dicoba terapi kerja.

 Semua RSJ dan fasilitasnya dibiayai oleh pemerintah Hindia Belanda, yang akhirnya membentuk Dienstvan het krankzinnigenwezen untuk mengurus hal ini. Dari pihak swasta atas prakarsa Van Wullffen Palthe didirikan koloni di Lenteng Agung yang mendapat subsidi dari pemerintah. Witte Kruis Kolonie suatu usaha swasta untuk menampung pengemis didaerah Jawa Tengah tetapi juga bersedia menerima orang bekas pasien gangguan jiwa yang sudah tenang, dirawat cuma-Cuma.

b. Zaman Setelah Kemerdekaan

(10)

maka belum dapat bekerja dengan baik. Pada tahun 1950 pemerintah RI menugaskan untuk melaksanakan hal-hal yang dianggap penting bagi penyelenggaraan dan pembinaan kesehatan jiwa di Indonesia. Jawatan ini bernaung di bawah Departemen Kesehatan; tahun 1985 diubah menjadi Urusan Penyakit Jiwa; 1960 menjadi Bagian Kesehatan Jiwa; dan tahun 1966 menjadi Direktorat Kesehatan Jiwa yang sampai sekarang dipimpin oleh Direktur Kesehtan Jiwa atau Kepala Direktorat Kesehatan Jiwa.

Direktorat Kesehatan Jiwa menyempurnakan struktur organisasinya menjadi Dinas, yang diubah menjadi Subdirektorat Peningkatan (Promosi), Subdirektorat Pelayanan dan Pemulihan, Subdirektorat Rehabilitasi dan Subdirektorat Pengembangan Program.

Dengan ditetapkannya UU Kesehatan Jiwa No. 3 Tahun 1966 oleh pemerintah, maka lebih terbuka untuk menghimpun semua potensi guna secara bertahap melaksanakan modernisasi semua sistem rumah sakit serta fasilitas kesehatan jiwa di Indonesia. Direktorat kesehatan jiwa mengadakan kerjasama dengan berbagai instansi pemerintah dan dengan fakultas kedokteran, badan internasional, seminar nasional dan regional Asia serta rapat kerja nasional serta daerah. Adanya pembinaan sistem pelaporan, tersusun PPDGJ I tahun 1973 dan diterbitkan tahun 1975 serta integrasi dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas.

Pihak swasta pun lebih memikirkan masalah kesehatan jiwa, terutama di kota-kota besar. Di jakarta, kemudian di Yogyakartadan Surabaya serta beberapa kota lainnya didirikan sanatorium kesehatan jiwa. RSU pemerintah dan RS ABRI menyediakan tempat tidur untuk pasien gangguan jiwa dan mendirikan bagian psikiatri, demikia pula RS swasta seperti RS St. Carolus di Jakarta, RS Maria (Minahasa). Di Jakarta dan Surabaya telah didirikan Pusat Kesehatan Jiwa Masyarakat.

Metode pengobatan penderita gangguan Jiwa telah banyak mengalami kemajuan dari jaman ke jaman. Evolusi ini merupakan cerminan dari perubahan dasar-dasar filosofi dan teori tentang pengobatan.

 Awal Sejarah

Gangguan jiwa masih dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan berkaitan dengan dosa atau kejahatan, sehingga terkadang pengobatan yang dilakukan pun bersifat brutal dan tidak manusiawi (Maramis, 1990)

 Abad Pertengahan

(11)

mengemis. Namun setelah beberapa kelompok agama yang memberikan sumbangan, para penderita mulai disalurkan kerumah sakit (Stuart undeen, 1998)

 Abad 15-17

Kondisinya memprihatinkan. Penderita laki-laki dan perempuan disatukan. Mereka mendapatkan pakaian dan makanan yang tidak layak, bahkan sering dirantai, dikurung, dan dijauhkan dari sinar matahari (Connonly, 1968; dikutip oleh Antai Otong, 1994)

 Abad ke-18

Terjadinya revolusi Perancis dan Amerika yang memberikan inspirasi pada masyarakat luas akan kebisaaan serta perlakuan yang adil untuk semua.

 Abad ke-19

Didirikan Rumah Sakit Jiwa pertama, McLean Asylum di Massachusetts yang memberikan pengobatan secara manusiawi pada penderita gangguan jiwa (Stuart Sundeen, 1998)

 Abad ke-20

Disebut era psikiatri, karena para medis mulai menggali basis gangguan jiwa secara ilmu dan klinik seperti: Adolph Mayer (1866-1950) dengan teori psikobiologi; Clifford beers (1876-1943) yang menulis artikel mengenai perawatan intensif; Emil Kraepelin (1856-1926) dengan klasifikasi gangguan jiwanya; Sigmund Freud (1856-1939) yang mengembangkan teori psikonalisis, psikoseksual dan neurosis; Carl Gustav Jung (1857-1961); Karen Horney (1885-1952) dan Harry Stack Sullivan (1892-1949) dengan teori interpersonalnya.

Kesehatan jiwa berkembang pesat pada Perang Dunia II karena menggunakan pendekatan metode pelayanan public health service. Konsekuensinya, peran perawat jiwa juga berubah dari peran pembantu menjadi peran aktif dalam tim kesehatan, untuk mengobati penderita gangguan jiwa. Pada masa kini, perawatan penderita gangguan jiwa lebih difokuskan pada basis komunitas. Ini sesuai dengan hasil Konferensi Nasional I keperawatan Jiwa (Oktober, 2004), bahwa pengobatan akan lebih difokuskan dalam hal tindakan preventif. Beberapa jurnal menunjukkan bahwa tindakan preventif sangat penting.

(12)

salah satu dari ketiga jenis tersebut, dan 34% menyatakan mengalami lebih dari satu jenis (American Journal of Psychiatry, Volume 160, August 2003).

 Perempuan yang mengalami deperesi ketika usianya 18-21 tahun, mempunyai

kecenderungan menderita obesitas dibandingkan dengan yang tidak mengalaminya. Namun secara umum, mereka baik laki-laki maupun perempuan yang mengalalmi depresi ketika usianya 11-15 tahun, maka ia mempunyai kecenderungan untuk mengalami obesitas lebih tinggi di masa adul-nya (Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine, Volume 157, August 2003).

 Dari seluruh responden berusia 26 tahun, lebih dari setengahnya mengalami gangguan

kesehatan jiwa yang diprediksikan sama dengan gangguan jiwa yang mungkin dideritanya ketika ia berusia 15 tahunan (Archives of General Psychiatry, Volume 60, July 2003).

 Terapi farmakologi dan psikoterapi yang diberikan secara bersamaan pada wanita

berpenghasilan rendah (low income) penderita depresi, ternyata dapat menurunkan tingkat depresi. Dilaporkan bahwa mereka yang hanya mendapat terapi farmakologi saja, menunjukkan penurunan tingkat depresi adan juga peningkatan aktivitas kerja rumah ataupun pekerjaannya. Sedangkan mereka yang hanya mendapat psikoterapi saja, juga mengalami penurunan tingkat depresi tetapi tidak mengalami peningaktan dalam aktivitas rumah atau pekerjaannya (Journal of The American Medical Association, Volume290, July 2003).

 Seorang anak dengan orang tua yang mengalami gangguan jiwa, maka ia mempunyai

kecenderungan untuk mengalami gangguan jiwa pula pada masa adolescent-nya (Pediatrics, Volume 112, August 2003)

B. Pengertian Keperawatan Kesehatan Jiwa 1. Menurut American Nurses Associations (ANA)

Keperawatan jiwa adalah area khusus dalam praktek keperawatan yang menggunakan ilmu tingkah laku manusia sebagai dasar dan menggunakan diri sendiri secara teraupetik dalam meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan mental masyarakat dimana klien berada (American Nurses Associations).

2. Menurut WHO

(13)

managemen, bersifat positif yang menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan kepribadian yg bersangkutan.

3. Menurut UU Kesehatan Jiwa No.03 Tahun 1966

Kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual emosional secara optimal dari seseorang dan perkembangan ini selaras dengan orang lain.

Keperawatan jiwa adalah pelayanan keperawatan profesional didasarkan pada ilmu perilaku, ilmu keperawatan jiwa pada manusia sepanjang siklus kehidupan dengan respons psiko-sosial yang maladaptif yang disebabkan oleh gangguan bio-psiko-sosial, dengan menggunakan diri sendiri dan terapi keperawatan jiwa ( komunikasi terapeutik dan terapi modalitas keperawatan kesehatan jiwa ) melalui pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan, mencegah, mempertahankan dan memulihkan masalah kesehatan jiwa klien (individu, keluarga, kelompok komunitas ).

Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berusaha untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku sehingga klien dapat berfungsi utuh sebagai manusia.

Prinsip keperawatan jiwa terdiri dari empat komponen yaitu manusia, lingkungan, kesehatan dan keperawatan.

a. Manusia

Fungsi seseorang sebagai makhluk holistik yaitu bertindak, berinteraksi dan bereaksi dengan lingkungan secara keseluruhan. Setiap individu mempunyai kebutuhan dasar yang sama dan penting. Setiap individu mempunyai harga diri dan martabat. Tujuan individu adalah untuk tumbuh, sehat, mandiri dan tercapai aktualisasi diri. Setiap individu mempunyai kemampuan untuk berubah dan keinginan untuk mengejar tujuan personal. Setiap individu mempunyai kapasitas koping yang bervariasi. Setiap individu mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputuasan. Semua perilaku individu bermakna dimana perilaku tersebut meliputi persepsi, pikiran, perasaan dan tindakan.

b. Lingkungan

Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam dirinya dan lingkungan luar, baik keluarga, kelompok, komunitas. Dalam berhubungan dengan lingkungan, manusia harus mengembangkan strategi koping yang efektif agar dapat beradaptasi. Hubungan interpersonal yang dikembangkan dapat menghasilkan perubahan diri individu.

c. Kesehatan

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang menunjukkan salah satu segi kualitas hidup manusia, oleh karena itu, setiap individu mempunyai hak untuk memperoleh kesehatan yang sama melalui perawatan yang adekuat.

(14)

Dalam keperawatan jiwa, perawat memandang manusia secara holistik dan menggunakan diri sendiri secara terapeutik.

Metodologi dalam keperawatan jiwa adalah menggunakan diri sendiri secara terapeutik dan interaksinya interpersonal dengan menyadari diri sendiri, lingkungan, dan interaksinya dengan lingkungan. Kesadaran ini merupakan dasar untuk perubahan. Klien bertambah sadar akan diri dan situasinya, sehingga lebih akurat mengidentifikasi kebutuhan dan masalah serta memilih cara yang sehat untuk mengatasinya. Perawat memberi stimulus yang konstruktif sehingga akhirnya klien belajar cara penanganan masalah yang merupakan modal dasar dalam menghadapi berbagai masalah.

Proses keperawatan kesehatan jiwa pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan klien, dan masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal ( Carpenito, 1989 dikutip oleh Keliat,1991).

Perawat memerlukan metode ilmiah dalam melakukan proses terapeutik tersebut, yaitu proses keperawatan. Penggunaan proses keperawatan membantu perawat dalam melakukan praktik keperawatan, menyelesaikan masalah keperawatan klien, atau memenuhi kebutuhan klien secara ilmiah, logis, sistematis, dan terorganisasi. Pada dasarnya, proses keperawatan merupakan salah satu teknik penyelesaian masalah (Problem solving).

Proses keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan dan masalah klien sehingga mutu pelayanan keperawatan menjadi optimal. Kebutuhan dan masalah klien dapat diidentifikasi, diprioritaskan untuk dipenuhi, serta diselesaikan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat dapat terhindar dari tindakan keperawatan yang bersifat rutin, intuisis, dan tidak unik bagi individu klien. Proses keperawatan mempunyai ciri dinamis, siklik, saling bergantung, luwes, dan terbuka. Setiap tahap dapat diperbaharui jika keadaan klien berubah.

Tahap demi tahap merupakan siklus dan saling bergantung. Diagnosis keperawatan tidak mungkin dapat dirumuskan jika data pengkajian belum ada. Proses keperawatan merupakan sarana / wahana kerja sama perawat dan klien. Umumnya, pada tahap awal peran perawat lebih besar dari peran klien, namun pada proses sampai akhir diharapkan sebaliknya peran klien lebih besar daripada perawat sehingga kemandirian klien dapat tercapai. Kemandirian klien merawat diri dapat pula digunakan sebagai kriteria kebutuhan terpenuhi dan / atau masalah teratasi.

(15)

Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.

Kesehatan jiwa meliputi :

1) Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri 2) Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain

3) Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari - hari. 1. Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa

Kapan seseorangg dikatakan mengalamai gangguan jiwa Normal dan Abnormal. Gejala gangguan jiwa merupakan interaksi dari berbagai penyebab sebagai proses penyesuaian terhadap stressor. Gejala gangguan jiwa dpt berupa gangguan pada :

a. Kesadaran b. Ingatan c. Orientasi d. Efek dan emosi e. Psikomotor f. Intelegensi g. Kepribadian h. Penampilan

i. Proses pikir, persepsi j. Pola hidup

2. Penyebab Terjadinya Gangguan Jiwa

Walaupun gejala utama terdapat pada unsur kejiwaan tapi penyebab utamanya mugkin di badan (Somatogenik), di lingkungan sosial (Sosiogenik) atau psike (Psikogenik) Penyebabnya tidak tunggal tapi beberapa penyebab yg terjadi bersamaan dan saling mempengaruhi.

Secara umum diketahui bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh adanya gangguan pada otak tapi tidak diketahui secara pasti apa yang mencetuskannya. Stress diduga sebagai pencetus dari gangguan jiwa tapi stress dapat juga merupakan hasil dari berkembangnya mental illness pd diri seseorang. Reaksi tiap orang terhadap stress berbeda-beda.

Beberapa kemungkinan penyebab gangguan jiwa : 1) Somatogenik

(16)

c. Neurokimia

d. Tingkat perkembangan organik e. Faktor pre and perinatal

f. Excessive secretion of the neurotransmitter nor epineprine 2) Faktor Psikologik

a. Interaksi ibu dan anak b. Peranan ayah

c. Persaingan antar saudara kandung

d. Hubungan dalam keluarga, pekerjaan dan masyarakat e. Kehilangan

f. Kosep diri g. Pola adaptasi

h. Tingkat perkembangan emosi 3) Faktor Sosial Budaya

a. Kestabilan keluarga b. Pola asuh anak c. Tingak ekonomi d. Perumahan

e. Pengaruh rasial dan keagamaan, nilai-nilai 3. Pelayanan Keperawatan Komprehensif

a. Pencegahan Primer

Target pelayanannya yaitu anggota masayarakat yang belum mengalami gangguan sesuai dengan kelompok umur yaitu anak-anak, remaja, dewasa dan usia lanjut dengan berbagai aktivitas seperti:

2) Program pendidikan kesehatan, program sosialisasi, manajmen stres dan persiapan menjadi orang tua.

3) Program dukungan sosial

4) Program pencegahan penggunaan obat. b. Pencegahan Sekunder

Target pelayanannya yaitu anggota masyarakat yang beresiko atau memperlihatkan tanda-tanda masalah psikososial atau gangguan jiwa dengan berbagai aktivitas seperti:

1) Menentukan kasus sedini mungkin

(17)

c. Pencegahan Tersier

Target pelayanannya yaitu masayarakat yang sudah mengalami gangguan jiwa pada tahap pemulihan dengan berbagai aktivias seperti:

1) Program dukungan sosial dan menggerakkan sumber-sumber di masyarakat 2) Program rehabilitasi dengan memberdayakan pasien dan keluarga hingga mandiri 3) Program pencegahan stigma.

D. Fungsi Perawat Kesehatan Jiwa dalam Upaya Penanganan Masalah Kesehatan Jiwa Fungsi perawat kesehatan jiwa adalah memberikan asuhan keperawatan secara langsung dan asuhan keperawatan secara tiak langsung. Fungsi ini dapat dicapai dengan aktifitas perawat kesehatan jiwa yaitu :

1) Memberikan lingkungan terapeutik yaitu lingkungan yang ditata sedemikian rupa sehingga dapat memberikan perasaan aman, nyaman baik fisik, mental dan social sehingga dapat membentu penyembuhan pasien.

2) Bekerja untuk mengatasi masalah klien “here and now” yaitu dalam membantu mengatasi segera dan tiak itunda sehingga tidak terjai penumpukan masalah.

3) Sebagai model peran yaitu paerawat dalam memberikan bantuan kepada pasien menggunakan dir sendiri sebagai alat melalui contoh perilaku yang ditampilkan oleh perawat.

4) Memperhatikan aspek fisik dari masalah kesehatan klien merupakan hal yang penting. dalam hal ini perawat perlu memasukkan pengkajian biologis secara menyeluruh dalam mengevaluasi pasien kelainan jiwa untuk meneteksi adanya penyakit fisik sedini mungkin sehingga dapat diatasi dengan cara yang tepat.

5) Member pendidikan kesehatan yang ditujukan kepada pasien, keluarga dan komunitas yang mencakup pendidikan kesehatan jiwa, gangguan jiwa, cirri-ciri sehat jiwa, penyebab gangguan jiwa, cirri-ciri gangguan jiwa, fungsi dan ugas keluarga, dan upaya perawatan pasien gangguan jiwa.

6) Sebagai perantara social yaitu perawat dapat menjadi perantara dari pihak pasien, keluarga dan masyarakat alam memfasilitasi pemecahan masalah pasien.

7) Kolaborasi dengan tim lain. Perawat dalam membantu pasien mengadakan kolaborasi dengan petugas lain yaitu dokter jiwa, perawat kesehatan masyarakat (perawat komunitas), pekerja social, psikolog, dan lain-lain.

(18)

pemimpin diharapkan dapat mengelola asuhan keperawatan jiwa an membantu perawat yang menjadi bawahannya.

9) Menggunakan sumber di masyarakat sehubungan dengan kesehatan mental. Hal ini penting untuk diketahui perawat bahwa sumber-sumber di masyarakat perlu iidentifikasi untuk digunakan sebagai factor penukung dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa yang ada di masyarakat,

Pasien dengan gangguan jiwa memiliki juga memeliki haknya sebagai pasien sama seperti pasien-pasien yang lain. Adapun hak-hak pasien yang mengalami gangguan kesehatan jiwa adalah:

1) Hak untuk dihormati sebagai manusia 2) Hak memperoleh privacy

3) Hak untuk mempunyai kesempatan yang sama dan warga negara lainnya dalam pelayanan kesehatan pendapatan, pendidikan pekerjaan perumahan, transportasi dan hukum

4) Hak untuk mendapatkan informasi, pendidikan dan training tentang gangguan jiwa, pengobatan perawatan dan pelayanan yg tersedia

5) Hak untuk bekerja atau berinteraksi dengan tenaga kesehatan, khususnya dalam pengambilan keputusan sehubungan dengan treatment, perawatan dan rehabilitasi 6) Hak untuk complain

7) Hak untuk mendapatkan advocacy

8) Hak untuk menghubungi teman dan saudara

9) Hak mendapatkan pelayanan yang mempertimbangkan budaya, agama dan jenis kelamin

10) Hak untuk hidup, bekerja dan berpartisipasi dalam masyarakat tanpa diskriminasi

E. Perkembangan Kesehatan Jiwa Di Indonesia

(19)

Perkembangan dunia saat ini, berbagai masalah terkait dengan kualitas hidup meningkatkan berbagai permasalahan kehidupan baik terkait penyakit (bergeser ke masalah degeneratif dan penyakit yang berhubungan dengan perilaku) masalah bunuh diri, penyimpangan perilaku sosial (abuse behaviour), kriminalitas, yang semuanya terkait secara mendasar dengan masalah kesehatan jiwa. Sebanyak 20% dari jumlah penduduk merokok setiap hari dan lebih separuhnya merokok sampai 12 batang sehari (Profil Kesehatan, 2003).

Penggunaan NAPZA suntik (IDU, injecting drug user) meningkat dari 22,2% dari antara seluruh pengguna Napza pada tahun 2001 menajdi 46,9% pada tahun 2002 dan meningkat lagi menjadi 61,8% pada tahun 2003. Penularan HIV/AIDS meningkat melalui jarum suntik pada berkisar 33,01% pada tahun 2004 dari sebelumnya 0,65% pada tahun 1995. Pada saat ini di Indonesia terdapat tiga juta orang yang menderita penyalagunaan dan ketergantungan zat sedangkan yang meninggal karena overdosis sejumlah 15.000 orang setahun. Angka bunuh diri 1,8 per 100.000, sedangkan percobaan bunuh diri 20 kali dari jumlah bunuh diri.

Keadaan kesehatan jiwa global (the world health report 2001). Diperhitungkan persentase Gangguan Mental dan Perilaku 12% dari global burden disease sementara anggaran belanja bagi kesehatan di banyak negara kurang dari 1% dari total pengeluaran. Gangguan jiwa dan perilaku dialami oleh lebih dari 25% dari seluruh populasi pada suatu waktu dari hidupnya, yang berakibat pada ekonomi dan kualitas hidupnya serta keluarga. Kira-kira 20% dari seluruh pasien yang berobat di Puskesmas menderita satu atau lebih gangguan jiwa. Dari empat keluarga mempunyai sekurang-kurangnya satu anggota keluarga dengan gangguan jiwa atau perilaku.

(20)

Dampak secara ekonomi, gangguan jiwa jelas memerlukan biaya. Pasien sendiri dan anggota keluarga atau orang yang bertanggungjawab/penyantun juga akan kurang produktivitasnya baik di rumah maupun tempat kerjanya. Kehilangan mata pencaharian ditambah dengan biaya untuk pengobatannya sendiri mengakibatkan masalah keuangan yang serius, menjadikannya miskin atau bertambah miskin. Penyakit penyerta, gangguan jiwa juga terjadi sebagai akibat penyakit kronis seperti pada kanker, penyakit jantung, diabetes, HIV/AIDS dan lain-lain. Pada banyak penelitian menunjukkan bahwa penderita yang tidak diobati gangguan jiwanya mempunyai risiko yang lebih tinggi akan berperilaku yang buruk, tidak rutin berobat, fungsi kekebalan tubuhnya yang menurun sehingga mudah untuk mendapat penyakit lain. Penderita depresi tiga kali lebih sering tidak taat dengan pengobatan dibandingkan pasien tanpa depresi. Stigma dan diskriminasi, penderitaan, ketidak mampuan, kehilangan nafkah merupakan hal yang mengikuti sepanjang masih adanya stigma. Banyak orang dengan gangguan jiwa merupakan korban dari keadaan sakitnya dan merupakan sasaran diskriminasi yang tidak wajar.

Pengertian tentang gangguan jiwa dan pengobatan maju dengan pesat. Diketahui bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh banyak faktor dan mempunyai penyebab secara fisik di otak. Juga diketahui bahwa pada kebanyakan kasus dapat diobati secara efektif. Dengan pengobatan yang tepat gejala dapat dikendalikan dengan efektif pada 70% kasus depresi, skizofrenia dan epilepsi, dan dengan pengobatan yang terus menerus dapat menurunkan angka kekambuhan.

Jika gangguan jiwa diobati secara efektif dan adanya penghormatan akan hak-hak asasi, keuntungan sekunder diperoleh tidak hanya bagi individu tetapi juga bagi anggota keluarga dan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari:

 Berkurangnya Napza suntik mengurangi risiko HIV/AIDS

 Pengobatan ansietas dan depresi pada pasien diabetes mengakibatkan perbaikan diabetesnya

(21)

Pelayanan Kesehatan Jiwa merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan sehingga atas pencanangan Paradigma Sehat sebagai cara pandang baru dalam pembangunan kesehatan maka Pelayanan Kesehatan Jiwa turut didalamnya. Upaya kesehatan jiwa yang dilakukan lebih mengutamakan upaya-upaya preventif dan promotif yang proaktif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.

F. Konseptual Model Keperawatan Kesehatan Jiwa Tabel 1

Model View of

behavioral deviation

Therapeutic process Roles of a patient & therapist

Psychoanalytic al

(freud, Erickson)

Ego tidak mampu mengontrol

ansietas, konflik tidak selesai

Asosiasi bebas & analisa mimpi

Transferen untuk

memperbaiki traumatic masa lalu

Klien:

mengungkapkan semua pikiran & mimpi

Terapist :

menginterpretasi pikiran dan mimpi pasien

Interpersonal (Sullivan, peplau)

Ansietas timbul & dialami secara interpersonal, basic fear is fear of rejection

Build feeling security Trusting relationship & interpersonal

satisfaction

Patient: share anxieties

Therapist : use

empathy & relationship Social (caplan,szasz) Social & environmental factors create stress, which cause anxiety &symptom

Environment manipulation & social support

Pasien:

menyampaikan

masalah menggunakan sumber yang ada di masyarakat

Terapist: menggali system social klien Existensial

(Ellis, Rogers)

Individu gagal menemukan dan menerima diri

Experience in relationship, conducted in group

Encouraged to accept self

(22)

sendiri & control behavior mempelajari diri Terapist: memperluas kesadaran diri klien Supportive

Therapy (Wermon,Rock land)

Faktor

biopsikososial & respon maladaptive saat ini

Menguatkan respon koping adaptif

Klien: terlibat dalam identifikasi coping Terapist: hubungan yang hangta dan empatik

Medical

(Meyer,Kreapli n)

Combination from physiological, genetic,

environmental & social

Pemeriksaan diagnostic,

terapi somatic,

farmakologik & teknik interpersonal

Klien: menjalani prosedur diagnostic & terapi jangka panjang Terapist : Therapy, Repport

effects,Diagnose illness, Therapeutic Approach

Berdasarkan konseptual model keperawatan diatas, maka dapat dikelompokkan ke dalam 6 model yaitu:

1. Psycoanalytical (Freud, Erickson)

Model ini menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapt terjadi pada seseorang apabila ego(akal) tidak berfungsi dalam mengontrol id (kehendak nafsu atau insting). Ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan akalnya (ego) untuk mematuhi tata tertib, peraturan, norma, agama(super ego/das uber ich), akan mendorong terjadinya penyimpangan perilaku (deviation of Behavioral).

Faktor penyebab lain gangguan jiwa dalam teori ini adalah adanya konflik intrapsikis terutama pada masa anak-anak. Misalnya ketidakpuasan pada masa oral dimana anak tidak mendapatkan air susu secara sempurna, tidak adanya stimulus untuk belajar berkata- kata, dilarang dengan kekerasan untuk memasukkan benda pada mulutnya pada fase oral dan sebagainya. Hal ini akan menyebabkan traumatic yang membekas pada masa dewasa.

(23)

sadarnya digali dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali traumatic masa lalu. Hal ini lebih dikenal dengan metode hypnotic yang memerlukan keahlian dan latihan yang khusus.

Dengan cara demikian, klien akan mengungkapkan semua pikiran dan mimpinya, sedangkan therapist berupaya untuk menginterpretasi pikiran dan mimpi pasien.

Peran perawat adalah berupaya melakukan assessment atau pengkajian mengenai keadaan-keadaan traumatic atau stressor yang dianggap bermakna pada masa lalu misalnya ( pernah disiksa orang tua, pernah disodomi, diperlakukan secar kasar, diterlantarkan, diasuh dengan kekerasan, diperkosa pada masa anak), dengan menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik setelah terjalin trust (saling percaya).

2. Interpersonal ( Sullivan, peplau)

Menurut konsep model ini, kelainan jiwa seseorang bias muncul akibat adanya ancaman. Ancaman tersebut menimbulkan kecemasan (Anxiety). Ansietas timbul dan alami seseorang akibat adanya konflik saat berhubungan dengan orang lain (interpersonal). Menurut konsep ini perasaan takut seseorang didasari adnya ketakutan ditolak atau tidak diterima oleh orang sekitarnya.

Proses terapi menurut konsep ini adalh Build Feeling Security (berupaya membangun rasa aman pada klien), Trusting Relationship and interpersonal Satisfaction (menjalin hubungan yang saling percaya) dan membina kepuasan dalam bergaul dengan orang lain sehingga klien merasa berharga dan dihormati.

Peran perawat dalam terapi adalah share anxieties (berupaya melakukan sharing mengenai apa-apa yang dirasakan klien, apa yang biasa dicemaskan oleh klien saat berhubungan dengan orang lain), therapist use empathy and relationship ( perawat berupaya bersikap empati dan turut merasakan apa-apa yang dirasakan oleh klien). Perawat memberiakan respon verbal yang mendorong rasa aman klien dalam berhubungan dengan orang lain.

3. Social ( Caplan, Szasz)

(24)

Prinsip proses terapi yang sangat penting dalam konsep model ini adalah environment manipulation and social support ( pentingnya modifikasi lingkungan dan adanya dukungan sosial)

Peran perawat dalam memberikan terapi menurut model ini adalah pasien harus menyampaikan masalah menggunakan sumber yang ada di masyarakat melibatkan teman sejawat, atasan, keluarga atau suami-istri. Sedangkan therapist berupaya : menggali system sosial klien seperti suasana dirumah, di kantor, di sekolah, di masyarakat atau tempat kerja.

4. Existensial ( Ellis, Rogers)

Menurut teori model ekistensial gangguan perilaku atau gangguan jiwa terjadi bila individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan hidupnya. Individu tidak memiliki kebanggan akan dirinya. Membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam Bodi-image-nya.

Prinsip dalam proses terapinya adalah : mengupayakan individu agar berpengalaman bergaul dengan orang lain, memahami riwayat hidup orang lain yang dianggap sukses atau dapat dianggap sebagai panutan(experience in relationship), memperluas kesadaran diri dengan cara introspeksi (self assessment), bergaul dengan kelompok sosial dan kemanusiaan (conducted in group), mendorong untuk menerima jatidirinya sendiri dan menerima kritik atau feedback tentang perilakunya dari orang lain (encouraged to accept self and control behavior).

Prinsip keperawatannya adalah : klien dianjurkan untuk berperan serta dalam memperoleh pengalaman yang berarti untuk memperlajari dirinya dan mendapatkan feed back dari orang lain, misalnya melalui terapi aktivitas kelompok. Terapist berupaya untuk memperluas kesadaran diri klien melalui feed back, kritik, saran atau reward & punishment.

5. Supportive Therapy ( Wermon, Rockland)

(25)

Prinsip proses terapinya adalah menguatkan respon copinh adaptif, individu diupayakan mengenal telebih dahulu kekuatan-kekuatan apa yang ada pada dirinya; kekuatan mana yang dapat dipakai alternative pemecahan masalahnya.

Perawat harus membantu individu dalam melakukan identifikasi coping yang dimiliki dan yang biasa digunakan klien. Terapist berupaya menjalin hubungan yang hangat dan empatik dengan klien untuk menyiapkan coping klien yang adaptif.

6. Medica ( Meyer, Kraeplin)

Menurut konsep ini gangguan jiwa cenderung muncul akibat multifactor yang kompleks meliputi: aspek fisik, genetic, lingkungan dan factor sosial. Sehingga focus penatalaksanaannya harus lengkap melalui pemeriksaan diagnostic, terapi somatic, farmakologik dan teknik interpersonal. Perawat berperan dalam berkolaborasi dengan tim medis dalam melakukan prosedur diagnostic dan terapi jangka panjang, therapist berperan dalam pemberian terapi, laporan mengenai dampak terapi, menentukan diagnose, dan menentukan jenis pendekatan terapi yang digunakan.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

(26)

Secara umum diketahui bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh adanya gangguan pada otak tapi tidak diketahui secara pasti apa yang mencetuskannya. Stress diduga sebagai pencetus dari gangguan jiwa tapi stress dapat juga merupakan hasil dari berkembangnya mental illness pd diri seseorang.

Prinsip Keperawatan Jiwa 1) Manusia

2) Lingkungan 3) Kesehatan 4) Keperawatan

Kesehatan jiwa meliputi :

1) Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri 2) Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain

3) Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari - hari.

Fungsi perawat kesehatan jiwa adalah memberikan asuhan keperawatan secara langsung dan asuhan keperawatan secara tiak langsung. Fungsi ini dapat icapai dengan aktifitas perawat kesehatan jiwa yang membantu upaya penanggulangan maslah kesehatan jiwa.

B. Saran

Penulis berharap perawat lebih mempelajari mengenai fungsi dan perannya dalam penanganan masalah kesehatan jiwa dengan memahami masalah kesehatan jiwa yang ada serta upaya penanganannya dengan baik.

(27)

Jiwa. Selain itu diharapkan dengan adanya makalah ini dapat membantu teman-teman dalam mengenal dan memahami keperawatan jiwa menyeluruh. Serta penulis berharap kritik dan sarannya dari para pembaca atas kekurangan dari makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin. 2002. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta : Widya Medika. George, JB (1995), Nursing Theories, 4 Ed, Appleton & Lange, USA.

(28)

Kansas City, Mo.1980. Nursing: a social policy statement. American Nurses Association: The Association.

Keliat, Budi Anna;Panjaitan;Helena. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Ed.2. Jakarta: EGC. Shives, L.R., (1998). Basic Concepts of Psychiatric Mental Health Nursing. 4th Edition. Philadelphia

: Lippincott.

Stuart, G.W., & Laraia, M.T. (1998). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. St.Louis : Mosby Year Book.

Stuart, G.W., & Sundeen, S.J. (1995). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC Stuart, Gail W.2007.Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.

Gambar

Tabel 1Model

Referensi

Dokumen terkait

Latar Belakang: Proses pendokumentasian asuhan keperawatan jiwa merupakan salah satu tugas yang dilakukan oleh perawat jiwa karena itu masalah-masalah yang terkait dengan

Jika tidak ada perubahan dalam struktur dan proses sistem pemberian asuhan keperawatan, sulit untuk meningkatkan kualitas asuhan.. keperawatan, khususnya dalam menghadapi

akhir dari tahap – tahap proses keperawatan untuk mengetahui apakan masalah – masalah keperawatan yang muncul pada kasus asuhan keperawatan pada pasien dengan

◦ Membantu proses penyelesaian masalah dalam keperawatan dengan memberikan arah yang jelas bagi tujuan tindakan keperawatan sehingga8. segala bentuk dan tindakan dapat

Setelah penerapan asuhan keperawatan pada masalah Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, dengan tindakan keperawatan yang

mampu (KK) mengaplikasikan konsep dengan pendekatan proses keperawatan sebagai dasar penyelesaian masalah serta (S) mengembangkan sikap profesional

Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik dalam masalah pemenuhan oksigenasi diberikan intervensi keperawatan teknik relaksasi

Asuhan Gizi Asuhan gizi adalah proses pelayanan gizi yang bertujuan untuk memecahkan masalah gizi, meliputi kegiatan pengkajian, diagnosis gizi, intervensi gizi melalui pemenuhan