• Tidak ada hasil yang ditemukan

APLIKASI MODEL MARKETING CARTEL UNTUK ME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "APLIKASI MODEL MARKETING CARTEL UNTUK ME"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

APLIKASI MODEL MARKETING CARTEL UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI KEGIATAN DAN ALIRAN INFORMASI DALAM PEMASARAN

KOMODITAS KAKAO EKSPOR INDONESIA

TUGAS INDIVIDU

diajukan guna memenuhi salah satu syarat menyelesaikan tugas mata kuliah Kapita Selekta pada Program Studi Agribisnis

Fakultas Pertanian Universitas Jember

Oleh:

Ahmad Fatikhul Khasan

NIM. 111510601073

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

(2)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan

sumberdaya alam, terutama dari hasil pertanian. Peran sektor pertanian antara

lain sebagai sumber utama pangan dan pertumbuhan ekonomi. Peran sektor

pertanian Indonesia dapat ditingkatkan lagi apabila dikelola dengan baik,

mengingat semakin langkanya atau menurunnya mutu sumber daya alam,

seperti minyak bumi dan air serta lingkungan secara global. Sektor pertanian

akan terus menjadi sektor penting dalam upaya pengentasan kemiskinan,

memperbesar kesempatan kerja, peningkatan pendapatan nasional, dan

penerimaan ekspor serta berperan sebagai produsen bahan baku untuk

meningkatkan nilai tambah di sektor industri dan jasa (Deptan, 2007). Oleh

karena itu, sektor pertanian berpengaruh dalam struktur perekonomian

Indonesia.

Subsektor perkebunan merupakan bagian dari sektor pertanian yang

mempunyai kontribusi penting dalam hal penciptaan nilai tambah yang

tercermin dari kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB).

Berdasarkan harga yang berlaku, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi

yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Sebagai negara berkembang

dimana penyediaan lapangan kerja merupakan masalah yang mendesak,

subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang cukup signifikan. MenuruT

Deptan (2007), subsektor perkebunan sebagai bagian integral dari sektor

pertanian, memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (i) ditinjau dari cakupan

komoditasnya, meliputi sekitar 145 jenis tanaman berupa tanaman tahunan dan

tanaman semusim, (ii) ditinjau dari hasil produksinya, merupakan bahan baku

industri atau ekspor, dan (iii) ditinjau dari pengusahaanya, sekitar 85%

(3)

Menurut Zamdan Hamra (2008), komoditi perkebunan mempunyai peran

penting dalam aspek kehidupan masyarakat baik ekonomi, sosial maupun

ekologi. Dari aspek ekonomi, perkebunan telah menghasilkan devisa negara, dari

aspek sosial dapat mengatasi pengangguran dengan kemampuannya menyerap

tenaga kerja, serta dari aspek ekologi, marnpu menjaga dan mempertahankan

kelestarian alam. Perkebunan mampu mempercepat pembangunan dari

ketertinggalan suatu daerah. Beberapa komoditas perkebunan yang dianggap

penting di Indonesia, yaitu: karet, kelapa sawit, kelapa, kopi, kakao, teh, dan tebu

yang merupakan komoditas unggulan sebagai penyumbang devisa negara.

Menurut Amran Arman (2011), tanaman kakao (Theobroma cacao L.)

merupakan tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis cukup baik dan

peluang pasar cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari kecenderungan permintaan

pasar dunia yang semakin meningkat dengan rata-rata 1.500.000 ton/tahun.

Peluang pasar semakin terbuka seiring dengan adanya kemunduran produksi

yang dialami oleh negara-negara penghasil kakao lainnya. Kakao cukup penting

bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja,

sumber pendapatan, dan devisa negara. Kakao juga berperan dalam mendorong

pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri.

Indonesia merupakan negara produsen utama kakao dunia. Luas areal

tanaman kakao Indonesia + 1,4 juta hektar dengan produksi + 500 ribu ton/tahun

menempatkan Indonesia sebagai negara produsen terbesar ketiga dunia setelah

Pantai Gading dan Ghana sedangkan dari sisi industri (world cocoa brinding),

Indonesia berada di nomor tujuh dunia di bawah Belanda, Amerika, Jerman,

Pantai Gading, Malaysia, dan Brazil. Luas perkebunan kakao di Indonesia terus

meningkat sepanjang 5 tahun terakhir. Dengan demikian, peluang peningkatan

produksi terbuka luas termasuk penambahan nilai tambah produk dari kakao.

Indonesia memiliki potensi untuk meningkatkan daya saing dengan

meningkatkan produk olahan kakao. Namun, industri pengolahan kakao di

(4)

negara-negara produsen olahan kakao yang tidak didukung ketersediaan bahan

baku yang memadai, seperti Malaysia. Pengembangan daya saing diperlukan

untuk meningkatkan kemampuan penetrasi kakao dan produk kakao Indonesia

di pasar ekspor, baik dalam kaitan pendalaman maupun perluasan pasar.

Peningkatan daya saing kakao dapat dilakukan dengan efisiensi biaya produksi

dan pemasaran, dan peningkatan mutu kakao (Ragimun, 2012).

Peningkatan mutu kakao dilakukan dengan pengembangan agribisnis, yaitu

pendekatan dalam pembangunan pertanian yang tidak hanya memandang

pertanian sebagai produksi primer di usahatani saja melainkan mencakup juga

produksi dan distribusi alat, bahan input dan jasa pertanian, serta distribusi dan

pengolahan hasil pertanian. Sistem agribisnis kakao merupakan rangkaian

beberapa kegiatan yang saling mempengaruhi dan terkait yaitu kegiatan dari

hulu sampai hilir, usaha pengadaan input, usahatani kakao, usaha perkebunan

kakao, usaha pengolahan hasil atau agroindustri kakao, usaha perdagangan atau

pemasaran kakao, usaha jasa, dan pendukung agribisnis kakao (Maswadi, 2011).

Pengembangan kakao di Indonesia tersebar di beberapa wilayah. Sentra

produksi kakao antara lain, Propinsi Sulawesi Selatan, Indonesia, Sulawesi

Tengah, Lampung, dan Propinsi Bali. Sulawesi merupakan salah satu daerah di

Indonesia yang memiliki perkebunan kakao rakyat dan pemerintah yang cukup

luas. Sektor perkebunan merupakan andalan bagi pemerintah Indonesia dan

tanaman perkebunan yang potensial serta paling banyak ditanam oleh

masyarakat adalah tanaman kakao. Berikut adalah tabel luas areal, produksi, dan

(5)

Tabel 1. Perkembangan Areal, Produksi, dan Produktivitas Kakao di Indonesia

2008-2012

Tahun Luas Areal Produksi (ton) Produktivitas (kg/ha)

2008 96658 106323,8 1129,51

2009 99847 94854,6 951,35

2010 100393 90253,3 899,19

2011 110293 111395,9 1019,51

2012 127547 125761,3 986,99

Sumber: Statistik Perkebunan Indonesia, 2008-2012

Dari tabel 1, dapat dilihat bahwa peningkatan luas areal produksi kakao

tidak mempengaruhi peningkatan produksi dan produktivitas kakao. Luas areal

tertinggi yaitu 127,547 ha tahun 2012 dan luas areal terendah yaitu 96,658 ha

tahun 2008. Produksi kakao tertinggi yaitu 125761,3 ton tahun 2002 dan

produksi kakao terendah yaitu 90253,3 ton tahun 2010. Sedangkan produktivitas

kakao 2008-2012 tertinggi yaitu 1129,51 kg/ha tahun 2008 dan produktivitas

kakao terendah 899,19 kg/ha tahun 2010. Oleh karena itu, luas areal yang tinggi

tidak dapat menjamin produksi dan produktivitas kakao tinggi karena sistem

agribisnis saling mempengaruhi dan terkait antar subsistem dalam melakukan

budidaya kakao. Hendaknya dapat meningkatkan mutu produk dari kakao dan

pengembangan produk hilir kakao guna meningkatkan daya saing kakao. Hal ini

menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan usaha dan meraih

(6)

1.2 Identifikasi Masalah

Sesuai dengan uraian di atas, dapat diidentifikasikan beberapa

permasalahan di daerah penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana sistem agribisnis kakao di Indonesia ?

2. Bagaimana strategi pengembangan pemasaran kakao melalui pembentukan

marketing cartel ?

1.3 Manfaat

1. Untuk mengetahui sistem agribisnis kakao di Indonesia.

2. Untuk mengetahui strategi-strategi yang dilakukan dalam pengembangan

agribisnis kakao di Indonesia

1.4 Tujuan

1. Sebagai bahan informasi bagi petani kakao dalam menjalakan usahatani.

2. Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak terkait dalam melakukan

pengembangan budidaya kakao.

(7)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Menurut penelitian Maswadi (2011), berjudul prospek dan strategi

pengembangan perkebunan kakao berkelanjutan di Sumatera Barat bahwa

pertanian masih menjadi penyumbang terbesar bagi PDRB Sumatera Barat

dengan pangsa 24,46%, diikuti sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan

pangsa 17,74%, sektor jasa 15,68% dan sektor angkutan dan komunikasi 15,02%.

Sub sektor perkebunan memberikan sumbangan terbesar kedua di sektor

pertanian setelah tanaman pangan dan hortikultura yaitu dengan pangsa 5,45%,

sedikit menurun dibanding tahun 2007 yang pangsanya sebesar 5,61% ( Disbun

Sumbar, 2009a). Disamping itu beberapa tahun terakhir, kakao menunjukkan

peran yang makin nyata bagi perekonomian regional Sumatera Barat khusunya

sebagai penyedia lapangan kerja, penyumbang PDRB dan penghasil devisa

melalui ekspor.

Hal ini merupakan buah keberhasilan pencanangan Sumatera Barat sebagai

sentra produksi kakao. Selaras dengan kegiatan pengembangan, produksi

perkebunan kakao Sumatera Barat terus meningkat dari yang belum begitu

diperhitungkan secara nasional hingga tahun 2004 (urutan ke 13 luas areal dan

urutan ke 12 produksi), maka sejak tahun 2007 Sumatera Barat dengan total

produksi 20.917 ton biji kakao tercatat sebagai penghasil kakao urutan ke 8, baik

dari segi luas maupun produksi. Pada tahun 2008, produksi kakao Sumatera

Barat tercatat sebesar 32.376 ton. Dengan total produksi tersebut Sumatera

Barat diperkirakan berada pada posisi ke 6 produsen kakao terbesar secara

nasional dan berada pada posisi kedua wilayah

Pengembangan perkebunan kakao dilakukan secara tradisional dan masih

memegang kuat ketentuan-ketentuan adat khususnya terkait dengan konservasi

sumberdaya alam. Hal ini mereka lakukan karena mereka hidup di lingkungan

(8)

pengelolaan yang baik agar tidak terjadi bencana. Karena itu penentuan lokasi

kebun kakao dan cara pengelolaan oleh petani dilakukan dengan sangat

hati-hati, sehingga pengembangan perkebunan kakao dapat dikatakan tidak

menimbulkan permasalahan lingkungan yang berarti (Disbun Sumbar, 2009).

2.2 Kakao

Menurut Tjitrosoepomo dalam Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia

(2008), kakao merupakan saatu-satunya diantara 22 jenis marga Theobroma,

suku Sterculiaceae yang diusahakan secara komersial. Kakao sebagai tanaman

budidaya memerlukan kondisi lingkungan yang baik agar mampu tumbuh

optimal. Keadaan iklim dan tanah merupakan faktor utama pertumbuhan

tanaman kakao selain faktor lain seperti sifat genetis dan perlakuan kultur teknis.

Adapun klasifikasi kelapa sawit sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Dicotyledoneae

Bangsa : Malvales

Suku : Sterculiaceae

Marga : Theobroma

Jenis :Theobroma cacao L.

Beberapa sifat dari buah dan biji digunakan sebagai dasar klasifikasi dalam

sistem taksonomi. Berdasarkan bentuk buahnya, kakao dapat dikelompokkan

dalam empat populasi, yaitu Forma Cacao, Forma Pentagonum, Forma

Leiocarpum, dan Forma Lacandonense. Sifat morfologi dan fisiologinya sangat

beragam, demikian juga daya dan mutu hasilnya.

Habitat asli tanaman kakao adalah hutan tropis dengan naungan

pohon-pohon yang tinggi, curah hujan tinggi, suhu sepanjang tahun relatif sama, serta

kelembapan tinggi dan relatif tetap. Dalam habitat seperti itu, tanaman kakao

(9)

Tanaman kakao bersfifat dimorfisme (mempunyai dua bentuk tunas

vegetatif). Tunas yang arah pertumbuhannya ke atas disebut dengan tunas

ortrotop atau tunas air, sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya ke samping

disebut plagiotrop. Tanaman kakao asal biji, setelah mencapai tinggi 0.9-1.5

meter akan berhenti tumbuh dan membentuk jorket. Jorket adalah tempat

percabangan dari pola percabangan ortrotop ke plagiotrop dan khas hanya pada

tanaman kakao.

Daun kakao bersifat dimorfisme. Pada tunas ortrotop, tangkai daun

memiliki panjang 7.5-10 cm. Tangkai daun berbentuk silinder dan bersisik halus

serta bergantung. Sifat khusus daun kakao yaitu adanya dua persendian yang

terletak di pangkal dan ujung tangkai daun. Bentuk helai daun bulat memanjang,

ujung daun meruncing, dan pangkal daun runcing. Susunan tulang daun menyirip

dan tulang daun menonjol ke permukaan bawah helai daun.

Akar tanaman kakao sebagian besar merupakan akar lateral berkembang

dekat permukaan tanah, yaitu pada kedalaman tanah 0-30 cm. Jangkauan akar

lateral tanaman kakao dinyatakan jah di luar proyeksi tajuk. Ujungnya

membentuk cabang-cabang kecil yang susunannya berlapis-lapis.

Bunga tanaman kakao bersifat kauliflori yaitu bunga tumbuh dan

berkembang dari bekas ketiak daun pada batang dan cabang. Tempat tumbuh

bunga semakin lama membesar dan menebal. Bunga kakao mempunyai rumus

K5C5A5+5G(5) yang artinya bunga disusun oleh 5 daun kelopak yang bebas satu

sama lain, 5 daun mahkota, 10 tangkai sari yang tersusun dalam 2 lingkaran dan

masing-masing terdiri dari 5 tangkai sari tetapi hanya 1 lingkaran yang fertil dan

5 daun buah yang bersatu. Bunga kakao berwarna putih, ungu, atau

kemerahan.warna yang kuat terdapat pada benang sari dan daun mahkota.

Warna buah kakao sangat beragam, tetapi pada dasarnya hanya ada dua

macam warna. Buah yang ketika muda berwarna hijau atau hijau agak putih jika

sudah masak akan berwarna kuning. Sementara itu, buah yang ketika muda

(10)

setelah berumur enam bulan. Pada saat itu, ukurannya beragam dari 10-30 cm

sesuai pada kultivar dan faktor-faktor lingkungan selama perkembangan buah.

Oleh karena itu, mutu produksi buah kakao juga dipengaruhi dari usaha tani

kakao tersebut.

2.3 Perkebunan Kakao

Menurut Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (2010) bahwa usahatani (farm)

adalah organisasi dari alam (lahan), tenaga kerja, dan modal yang ditujukan

kepada produksi di lapangan pertanian. Organisasi tersebut berdiri sendiri dan

sengaja diusahakan oleh seseorang atau sekumpulan orang sebagai

pengelolanya. Istilah usahatani telah mencakup pengertian yang luas, dari

bentuk yang paling sederhana hingga modern. Usahatani di Indonesia

merupakan usahatani yang dilaksanakan secara komersil, yaitu perkebunan.

Subsektor pertanian yaitu perkebunan kakao merupakan salah satu

komoditas yang pertumbuhannya paling pesat dibandingkan dengan komoditas

perkebunan lainnya. Perkebunan kakao berkembang sangat pesat pada era

tahun 1980-an sampai dengan pertengahan tahun 1990-an. Areal produksi juga

meningkat dengan laju 9.4% per tahun. Laju pertumbuhan yang pesat menandai

era dimana kelapa sawit bukan lagi merupakan primadona perkebunan.

Usaha tani merupakan bagian dari subsistem agribisnis yang mengandung

pengertian sebagai rangkaian kegiatan dari beberapa sub-sistem yang saling

terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Setidaknya ada Lima sub-sistem yang

saling terkait adalah (1) sistem faktor input pertanian (input factor

system), (2) sistem produksi pertanian (production system), (3)

sub-sistem pengolahan hasil pertanian (processing subsystem), (4) sub-sub-sistem

pemasaran (marketing subsystem), dan (5) sub-sistem kelembagaan penunjang

(Sumardjo, 2010). Subsistem agribisnis saling mempengaruhi antar

(11)

sistem agribisnis yang nantinya dijalankan, misalnya yaitu oengembangan

agribisnis kakao.

Kakao berasal dari Benua Amerika pada bagian yang mempunyai iklim

tropis. Sangat sulit untuk mengetahui negara bagian mana tepatnya tanaman ini

berasal, karena tanaman ini telah tersebar secara luas semenjak penduduk

daerah itu masih hidup mengembara. Tanaman ini mulai masuk ke Indonesia

sekitar tahun 1560 oleh orang Spanyol melalui Sulawesi dan kakao mulai

dibudidayakan secara luas sejak tahun 1970.

Pengembangan kakao di Indonesia tersebar di beberapa wilayah, dan yang

termasuk propinsi sentra produksi kakao adalah Propinsi Sulawesi Selatan,

Indonesia, Sulawesi Tengah, Lampung dan Propinsi Bali. Dalam agribisnis kakao

ada beberapa kendala yang dihadapi, khususnya dalam peningkatan

produktivitas dan kualitas yang dihasilkan antara lain adalah masih

mempergunakan teknologi tradisional dengan bahan tanaman yang tidak berasal

dari klon atau biji yang terpilih dan dengan budidaya yang kurang memadai, serta

serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) berupa hama dan penyakit.

Selain permasalahan tersebut, dalam era globalisasi dewasa ini terdapat

tuntutan terhadap produk yang dihasilkan harus memenuhi kualitas yang tinggi

dan proses produksi akrab lingkungan. Fakta di lapang menunjukkan bahwa

pengendalian hama di tingkat produsen saat ini masih terbatas pada penggunaan

pestisida saja, sementara tuntutan konsumen mengarah kepada persyaratan

lingkungan yang diakui oleh WTO (ISO 14000) dan Codex Alimentarius (adanya

ambang batas maksimum kandungan zat tambahan, logam berat, residu

pestisida, dan bahan pencemar lainnya). Artinya, apabila kakao Indonesia ingin

bersaing di pasar global maka persyaratan tersebut harus dipenuhi. Dengan

melihat permasalahan dan tantangan yang dihadapi tersebut, maka tulisan ini

(12)

BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Sistem Agribisnis Kakao di Indonesia 3.1.1 Usaha Perkebunan Kakao

Sistem agribisnis kakao tidak dapat dipisahkan dari subsistem utama yaitu

budidaya kakao atau usaha perkebunan kakao yang pelakunya adalah petani.

Petani kakao dapat menjalankan fungsinya baik sebagai petani yang mengelola

usaha perkebunannya dan juga sebagai pengusaha yang melakukan fungsi

agroindustri yaitu mengolah hasil kebun kakao menjadi produk biji kakao yang

siap untuk dipasarkan, juga petani dapatmenjalankan fungsi pemasaran yaitu

memasarkan produk berupa buah atau biji kakao ke konsumen. Berdasarkan

status kepemilikan, usaha perkebunan kakao di Indonesia terbagi atas Usaha

Perkebunan Rakyat (PR), Usaha Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan

Besar Swasta (PBS)

Berdasarkan status pengusahaannya, perkebunan kakao di Indonesia

didominasi oleh usaha Perkebunan Rakyat yang mencapai 87,4%, Perkebunan

Besar Negara 6,0% dan Perkebunan Besar Swasta 6,67%. Tentunya kebijakan

pengembangan usaha perkebunan kakao oleh pemerintah akan mengarah pada

petani kebun kakao juga segala akibat persaingan produksi dan pasar produk

kakao domestik maupun mancanegara secara jelas yang terkena dampak adalah

petani kakao. Mulai tahun 2009 sampai 2011, Departemen Pertanian telah

melaksanakan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional melalui

program rehabilitasi, peremajaan dan intensifikasi perkebunan rakyat.

3.1.2 Pemasaran Kakao

Negara-negara penghasil kakao dominan adalah negara-negara Afrika, Asia

dan Oceania juga negara-negara Amerika. Negara negara di Eropa tidak

memproduksi kakao namun sebagai konsumen dari produk kakao.

Negara-negara konsumen kakao terbesar masih dipegang Negara-negara-Negara-negara Eropa sebanyak

42,10 persen, sedangkan produsen kakao terbesar masih dipegang

(13)

Belanda, Amerika Serikat dan Jerman. Konsumsi kakao cenderung meningkat tiap

tahun di negara-negara maju.

Dalam hal pemasaran dan penguasaan pangsa pasar internasional,

komoditas perkebunan dan pertanian umumnya menderita gejala struktur pasar

yang sangaat asimetris antara pasar internasional dan pasar domestik. Gejala

asimetris tersebut sering dianalogikan dengan fenomena serupa pada hubungan

antara petani produsen dan pedagang atau konsumen, karena produsen

komoditas perkebunan sebagian besar berada di negaranegara berkembang

sementara konsumen produk hilir perkebunan berada di negaranegara maju.

Bagi negara-negara berkembang yang lebih banyak mengandalkan ekspor

komoditas pertanian dan agroindustri, struktur pasar yang asimetris jelas

merupakan ancaman serius bagi peningkatan produksi, produktivitas dan ekspor

komoditas.

Pasar ekspor produk kakao Indonesia yang kebutuhannya lebih dari 20.000

ton beberapa tahun terakhir adalah China, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat,

Australia dan Brasil. Data Askindo tahun 2008, total ekspor kakao mencapai

142.000 ton dan 40% di antaranya dipasarkan ke Amerika Serikat, sedang sisanya

60% persen dipasarkan ke pasar Asia dibanding Eropa. Sekitar 70 persen dari

total produksi biji kakao nasional diekspor dalam bentuk biji kakao mentah,

hanya 30 persen yang diolah di dalam negeri jadi produk kakao olahan seperti

cocoa butter, cocoa liquor, cocoa cake dan cocoa powder untuk kebutuhan

dalam negeri dan diekspor. Kakao yang diimpor Uni Eropa dari negara

berkembang kemudian diolah menjadi berbagai komoditi berbeda. Produk hasil

olahan kakao tersebut kemudian diekspor kembali ke berbagai negara asal bahan

mentahnya termasuk Indonesia. Umumnya produk olahan kakao yang diekspor

kembali oleh Uni Eropa adalah coklat dan produk makanan yang mengandung

coklat. Namun demikian disamping produk olahan kakao, diantara negara Uni

Eropa juga terjadi perdagangan ekspor biji kakao untuk keperluan industri

(14)

3.2 Strategi Pengembangan Pemasaran Kakao melalui Pembentukan Marketing Cartel

Pemasaran hasil perkebunan kakao secara konvensional memiliki banyak

kelemahan yang menyebabkan pasar kakao berjalan tidak efisien. Tidak

efisisiensinya pemasaran kakao ini berdampak pada besarnya margin pemasaran

dan juga terputusnya aliran informasi dari pasar ke petani kakao Terputusnya

informasi ini mengurangi pengetahuan petani tentang criteria-kriteria kakao

yang diinginkan oleh pasar yang pada ahirnya menyebabkan tidak optimalnya

hasil yang diperoleh oleh petani.

Pembentukan marketing cartel adalah salah satu solusi untuk mengatasi

hambatan-hambatan aliran informasi dari pasar kepada petani kakao. Marketing

cartel disini adalah kelompok pemasaran kakao yang dibentuk untuk menaungi

petani-petani kakao dalam hal pemasaran hasil kakaonya. Pelibatan pihak-pihak

yang berperan vital dalam kegiatan pemasaran kakao dalam marketing cartel

menjadi prioritas utama dari strategi ini. Pihak-pihak yang harus dilibatkan dalam

marketing cartel antara lain eksportir, lembaga penelitian, pemerintah, dan

petani kakao itu sendiri. Skema struktur marketing cartel adalah sebagai berikut.

Gambar 1 : Struktur Marketing Cartel

Marketing Cartel Eksportir

Lembaga Penelitian Pemerintah

(15)

Struktur teratas dari marketing cartel adalah eksportir kakao, Pemeilihan

eksportir kakao sebagai ujung tombak dari marketing cartel adalah status kakao

sebagai komoditas ekspor. Keadaan ini menjadikan hanya eksportir kakao yang

lebih mengetahui secara rinci bagaimana keadaan pasar kakao ekspor, baik dari

sisi teknis maupun non teknis. Informasi pasar yang dimiliki oleh eksportir kakao

dapat langsung disampaikan kepada pihak-pihak yang terdapat dalam marketing

cartel. Informasi mengenai kualitas kakao yang diinginkan pasar dapat langsung

diberikan kepada petani sehingga petani mengetahui pasti kakao yang seperti

apa yang harus mereka produksi.

Adanya marketing cartel juga mampu menghubungkan lembaga

penelitian dengan petani sehingga para peneliti mengetahui dengan pasti

permasalahan apa yang sedang dihadapi oleh petani. Selain itu adanaya

marketing cartel juga memudahkan sosialisasi dan penerapan hasil penelitian.

Kemudian bertemunya lembaga penelitian dengan pihak eksportir juga

membuka peluang untuk penelitian tentang pengembangan kualitas kakao

secara tepat sasaran. Tepat sasaran karena pengetahuan eksportir kakao tentang

kualitas kakao yang diinginkan pasar bisa diterima langsung oleh lembaga

penelitian, sehingga lembaga penelitian dapat melakukan penelitian sesuai

dengan keadaan pasar.

Kemudian terlibatnya Pemerintah dalam marketing cartel juga membantu

terciptanya kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran. Kebijakan tepat sasaran

karena bertemunya pemerintah dengan pihak petani dan pihak eksportir akan

memperbesar peluang terciptanya kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan

pihak-pihak tersebut. Seperti contoh untuk kebijakan di bidang produksi,

Pemerintah dapat mengetahui secara pasti dan langsung tentang apa yang

sebenarnya dibutuhkan petani dan juga dalam kebijakan yang berkaitan dengan

ekspor kakao Pemerintah juga bisa merumuskan kebijakan yang dibutuhkan oleh

(16)

Adanya marketing cartel juga menguntungkan bagi petani karena

mendapat kepastian pasar. Adanya kepastian pasar ini mampu meningkatkan

minat petani dalam melakukan kegiatan budidaya kakao yang pada ahirnya akan

(17)

BAB 4. SIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1 Simpulan

1. Tidak efisiensinya saluran pemasaran kakao adalah penyebab utama

terputusnya aliran informasi permintaan pasar kepada petani kakao dan

besarnya margin pemasaran.

2. Pelibatan pihak Pemerintah, Eksportir Kakao, Lembaga Pemelitian dan

Petani kakao dalam marketing cartel mampu mengatasi

hambatan-hamabatan aliran informasi dan memperkecil margin pemasaran.

4.2 Rekomendasi

1. Sebaiknya pengembangan sistem agribisnis kakao lebih difokuskan pada

usaha mengefisiensikan kegiatan pemasaran kakao dibandingkan dengan

perluasan lahan ataupun pengembangan industri pengolahan kakao,

kegiatan pemasaran kakao yang tidak efisien akan selalu mengurangi nilai

ekonomi dari kakao.

2. Pemerintah sebagai pihak yang memiliki wewenang paling besar seharusnya

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Amran, A. 2011. Studi Evaluasi Gerakan Nasional Peningkatan Produksi dan Mutu

Kakao (Gernas Kakao).

Darwis. 2008. Perspektif Agribisnis Kakao di Sulawesi Tenggara. Pusat Analisis

Sosek dan Kebijakan Pertanian, Bogor.

Deptan. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kelapa Sawit. Jakarta:

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Disbun, Sumbar. 2009 . Strategi Pengembangan Komoditas Kakao di Kabupaten

Halmahera Barat. Jurnal Pertanian, Vol. 13, No. 2.

Herdiansyah, dkk. 2008. Strategi Pengembangan Potensi Wilayah Agroindustri

Perkebunan Unggulan. Jurnal Teknik Industri, Vol. 13, No. 2.

Maswadi. 2011. Prospek dan Strategi Pengembangan Perkebunan Kakao

di Sumatera Barat. ISSN: 2088-6381 Vol 1, No 2, hal 23-30.

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 2008. Budidaya Kakao. Jakarta: PT.

Agromedia Pustaka.

Sunanto, Hatta. 1992. Pengolahan Hasil dan Aspek Ekonomi Cokelat. Yogyakarta:

Kanisius.

Ragimun. 2012. Analisis Daya Saing Komoditas Kakao Indonesia. Jurnal

Pembangunan Manusia Vol.6, No.2.

Zamdan, H. 2008. Strategi Pengembangan Agribisnis Kakao di Kabupaten Padang

Gambar

Tabel 1.  Perkembangan Areal, Produksi, dan Produktivitas Kakao di Indonesia
Gambar 1 : Struktur Marketing Cartel

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Kesesuian untuk Daya Dukung pengembangan kawasan pariwisata menggunakan nilai yang tergolong tinggi seperti kememapuan pengembangan sangat tinggi dan kemampuan

motor listrik yang lain adalah arus lain adalah arus sekun sekunder yang der yang dicipt diciptakan akan semata-mata oleh induksi, seperti pada transformator alih-alih

Studi literatur bertujuan untuk mendapatkan referensi yang berhubungan dengan konversi data spasial yaitu DSM ke DTM, juga beberapa tahapan di dalamnya serta

Pembuktian hipotesis digunakan untuk menjawab hipotesis penelitian yang telah ditarik sebelumnya, yaitu diduga bahwa Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama

Yohanes 4: 13-14 yang berisi, Jawab Yesus kepadanya, “Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, akan

Indonesian citizens in transnational marriage without a prenuptial agreement on separation of property, the status of rights to land in the form of joint property will be

Perbandingan antara kedilan internal dan eksternal; keadilan internal ini maksudnya adalah jika seseorang dengan pekerjaan yang sama akan digaji dengan jumlah yang sama walaupun