G
obind Vashdev adalah orang dari sisi lain dunia. Seorang idealis yang mendedikasikan dirinya sebagai pemberi untuk menjadi inspirator bagi kita yang barangkali kelebihan beban di sisi dunia materialisme. Pemikiran-pemikirannya adalah pencerahan yang luar biasa dan penjelasan-penjelasan yang disampaikan serasa kunci jawaban persoalan. Seperti sebuah penghubung dari logika satu dengan yang lainnya yang selama ini masih terpisah dengan pertanyaan mengapa.Hal sederhana seperti mengajak anak sikat gigi bersama akan lebih mudah membuat anak dengan semangat sikat gigi dibandingkan dengan hanya mengingatkannya saja terjelaskan dengan mudah dalam satu kalimat
Berbagi Inspirasi
dari
Pertemuan Orangtua
KEPING EDISI VII/2014Masih terkait pertemuan orangtua bersama Gobind Vashdev tanggal 22 Februari 2014, Keping edisi Maret memuat tulisan orangtua Smipa yang ingin berbagi dengan rekan orangtua lain tentang inspirasi parenting yang mereka dapatkan di
pertemuan tersebut.
Terimakasih kepada Ibu Mega, Ibu Aldhiella, Ibu Yuli, Ibu Ine dan Ibu Lili atas tulisan berbagi ini. Semoga pesan inspirasi ini terus bergema, bergulir di antara rekan-rekan orangtua, dan semakin memperlengkapi kita dalam mendampingi
anak-anak, titipanNYA.
‘walk the talk’.
Sama halnya dengan stimulasi, ada keterkaitan walk the talk di sini bahwa setiap hal yang kita lakukan tercerap lebih kuat dibandingkan kata-kata. Akhirnya, mudah dipahami
mengapa anak seorang pelukis bisa menggambar bagus, mengapa anak seorang crafter bisa menggunakan gunting, cutter, dan sebagainya. Hal yang sama pula berlaku dengan segala kenakalan anak.
Gobind Vashdev mengatakan cinta adalah waktu. Hal yang terbaik yang bisa dilakukan orang tua adalah waktu kebersamaan dan kehadiran kita sebagai aktor dalam walk the talk tadi. Live the moment.
M
empunyai anak memang merupakan anugerah istimewa yang diberikan Tuhan kepada para orangtua. Kami pun bersyukur, dianugerahi dua orang anak yang istimewa. Mengapa istimewa? Ya, karena mereka begitu unik, amat berbeda satu sama lain. Pada saat mengasuh anak pertama, kami merasa tidak mengalami banyak kesulitan berarti; tiba-tiba saja ia bisa duduk, berdiri, dan berjalan sendiri di usianya yang belum genap 13 bulan. Namun, saat ini, sang adik yang hampir menginjak 16 bulan, masih belum dapat berjalan, dan butuh banyak encouragement untuk berdiri sendiri. Belum lagi sifat dependensinya yang selalu meminta kami berada di dekatnya, tidak sekadar berada dalam jarak pandangnya. Berbeda dengan sang kakak yang sudah menunjukkan kemandiriannya pada usia yang sama, yang dapat dengan tenang bermain ataupun menonton DVD kesayangannya sendiri.Walaupun banyak yang mengatakan, mengasuh anak kedua, ketiga, dst. lebih mudah daripada mengasuh anak pertama, tidak demikian yang kami alami, padahal keduanya kami asuh sendiri dengan pola asuh yang sama. Rasanya kami mempunyai anak pertama untuk kedua kali, karena banyak hal yang begitu berbeda dan harus kami pelajari, sehingga rasanya kami harus ‘sekolah’ lagi. Secara bercanda, kami sering berkata, bahwa Tuhan ingin kami terus belajar, sehingga kali ini kami diberi tantangan yang lebih tinggi levelnya.
Kami akan selalu mengingat satu hal yang dikatakan seorang pembimbing keluarga di Paroki pada saat pembaptisan anak kami, yaitu bahwa seorang anak terlahir seperti sebuah buku kosong. Kita, sebagai orangtua, diberi hak istimewa untuk membimbing mereka menuliskan perjalanan hidup mereka sendiri. Jadi, bukan kita yang menentukan apakah buku itu akan menjadi buku fiksi, dongeng, atau buku ilmiah; namun anak-anak itulah yang akan menuangkan lika-liku hidup mereka ke dalam buku tersebut. Kita hanya mengajarkan cara menulis yang baik dan benar, karena ini adalah hidup mereka; bukan hidup kita, orangtuanya.
Terkait kasih sayang dan betapa berartinya anak-anak bagi
orangtuanya, ada satu kutipan yang kami yakini sampai saat ini. Apa pun keadaan anak kita; mereka tetap dan selalu menjadi bagian dari hidup kita. “To the world, you are a person; but to a
person, you are the world” [Ibu Mega, orangtua Vania-Kelompok Kuda Laut]
A
nak adalah titipan Yang Maha Kuasa, pesan pertama yang disampaikan kak Arry lewat puisi Rendra, dan kemudian dikukuhkan lagi oleh Gobind lewat kata bijak Khalil Gibran ini membuat saya pribadi merasa sangat terhormat mendapat kesempatan menjadi orangtua dan menerima titipan-Nya. Sangat bersyukur atas kesempatan belajar dan mengikuti Magic Parenting dari Gobind Vashdev. Kebanyakan orangtua cenderung mengonntrol anak dan membuat asumsi atau simpulan yang tidak didukung bukti valid. Padahal persepsi positif terhadap anak lah yang perlu dibangun. Lagipula pada dasarnya kalaupun anak bermasalah, sumbernya bukan dari anak sendiri. 99% masalah anak berasal dari ortu yang tidak mampu mengatasi diri dan masalahnya. Luka bathin, kekecewaan, kekhawatiran itu kemudianditurunkan pada anak. Selesaikan di dalam diri dulu; olah, pahami, cari jalan ke dalam (krn manusia tidak pernah bermasalah dengan apapun yang ada di luar dirinya, tapi dengan yang ada di dalam diri). Kalau di pertemuan sebelumnya, Gobind menganalogikan ini dengan kacamata. Ketika kacamata kita kotor, maka semua terlihat kotor. Bersihkan dulu, maka semua akan terlihat bersih, tidak perlu ngotot mengubah apa yang ada di luar diri.
Jangan berkomunikasi saat kita masih marah. Emosi marah itu yang akan ditangkap anak. Komunikasi adalah salah satu ketrampilan penting yang bisa dibangun seseorang, terutama
bagaimana ia berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Anak belajar dan mendapat referensi cara
berkomunikasi dari cara orangtuanya berkomunikasi dengan dia. Waspada dengan kata-kata yang kita keluarkan, karena akan menjadi inner voice mereka. Dalam hal ini, perlu belajar ‘Compassionate Communication’!!. Berkomunikasi bukan sekedar memberi instruksi atau interogasi. Anak akan banyak bercerita bila ia diajak bicara dan didengar (orangtua perlu belajar untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara, ketika berkomunikasi dengan anak). Anak akan termotivasi bila merasa aman dan dipercaya. Tidak membandingkan dengan anak lain atau jaman kita dulu. Kalaupun perlu, bandingkan dia dengan prestasinya terdahulu. Kalau kita ingin menceritakan perihal anak kita, selalu ingat untuk ngerasanin hal-hal yang positif saja. Supaya lekat di memori anak, maka kita-orangtua perlu ‘hadir’ di saat ini-saat bersama anak-anak. Jangan fokus pada masa lalu atau masa nanti, sehingga bebas dari kekhawatiran atau keinginan untuk mengontrol.
Mendapatkan anugerah titipan anak ternyata tidak sepaket dengan pengetahuan untuk membesarkannya dengan cara yang tepat. Mungkin tidak ada juga cara yang bisa disebut paling tepat. Namun ketika mendengar dari orang yang berbicara dengan hati (meminjam istilah Pak Iwan) seluruh hati, naluri, dan logika seperti tersadarkan. Banyak hal yang perlu betul-betul disadari agar kita dapat meninggalkan keturunan yang
terbaik bagi dunia ini, tidak hanya meninggalkan dunia yang masih baik bagi keturunan kita. Perlu jeda untuk menilik diri, menyadari hal-hal yang masih harus diperbaiki, dan secara sadar mengupayakan diri membangun kebiasaan yang lebih tepat dalam berinteraksi dengan anak. Semoga mendapat restu semesta untuk menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak yang dititipkan Tuhan pada kita. Amin
[Ibu Ine, orangtua Tobi-Kelompok Salmon dan Gio - Kelompok Marlin]
S
etelah pertemuan orangtua bersama Gobind, satu hal yang membuat saya sadar bahwa fase belajar terpenting dalam hidup saya adalah ketika mempunyai anak. Banyak hal yang perlu saya ketahui dan banyak hal yang perlu diperbaiki dalam menghadapi anak dan mendidik anak secara mental. Seperti yang Gobind pernah bilang, bahwa ketika kita melihat ada yang salah pada anak, sesungguhnya ada masalah yang terbangun tanpa sadar di dalam diri saya sebagai orangtua. Dan ketika saya berusaha memperbaiki masalah dalam diri saya tersebut, ternyata bukan hanya hubungan dengan anak saja yang membaik tapi juga dengan suami, orang-orang terdekat bahkan mengubah pandangan hidup saya tentang berkeluarga dan bersosialisasi terhadap orang lain.Dalam dua tahun ini, saya benar-benar berkaca ketika melihat sikap
anak saya dalam mengatasi emosi, karena 100% anak saya adalah mutlak pribadi saya dan suami, sebagai orangtua. Dan jujur, memperbaiki yang salah dalam sikap kami berdua cukup sulit dan masih dalam proses. Ketika saya bisa mengatasi emosi dan ego saya, membuat anak saya yang berumur lima tahun berkata: “Ibu, Gwen suka ngeliat ibu, Gwen senang ngeliat perasaan ibu.” Lalu saya sadar bahwa perasaan anak dipengaruhi oleh perasaan orangtuanya. Ketika saya bisa mengendalikan perasaan saya, tanpa sadar anak membentuk pribadi yang lebih menyenangkan dan lebih bisa berkomunikasi dengan saya, termasuk dalam menyampaikan perasaannya terhadap kami,
orangtuanya.
Jadi intinya, kita sebagai orangtua harus lebih bisa membuka mata, hati dan pikiran kita dan menyadari bahwa orangtua dan anak perlu memiliki hubungan yang seimbang dalam masalah emosi dan ego. Dan saat ini, hubungan saya dan anak menjadi lebih baik. Anakpun lebih bisa mencerna rasa suka dan ketidaksukaan saya akan sikap dan perilakunya, demikian pula sebaliknya.
P
agi itu, Hari Sabtu di Bulan Februari, saya menghadiri pertemuan orangtua Smipa. Acara mengalir dengan ringan, riang diselingi tawa renyah orangtua murid yang berbaur bersama kakak-kakak Smipa. Menjelang acara berakhir, dua cuplikan film membuat saya dan kebanyakan yang hadir menangis. Saya pun merenungkan, apa yang dapat menjadi inspirasi bagi saya dari Gobind, seorang pekerja hati, pagi ini. Gobind menyarankan lima hal yang perlu orangtua perhatikan dalam berkomunikasi dengan anak, yaitu: berdasarkan fakta, fokus, ungkapan perasaan, pahami kebutuhan dan solusi.Saya menguji dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah lulus dari semua syarat komunikasi tanpa kekerasan ini? Sebagai manusia yang bergelut dalam dunia bisnis, saya dituntut untuk selalu mengedepankan logika, yang tentu saja tidak cocok dibawa ke rumah untuk mengasuh anak-anak.
Dari lima hal cahaya komunikasi tersebut, empat cahaya telah menerangi hidup saya dalam berkomunikasi, namun ada satu cahaya yang redup. Saya tersadar dan pedih, rupanya saya belum memiliki cahaya ungkapan perasaan. Dengan cepat saya ke luar dari kesedihan dan bertekad untuk memiliki satu cahaya yang hilang.
Tuhan tampaknya membukakan jalan bagi saya untuk memiliki satu cahaya yang hilang. Tiga hari kemudian, putri sulungku meminta ijin untuk pergi
ke Jakarta selama dua hari bersama teman-teman kuliahnya untuk menghadiri satu acara. Singkat cerita, hingga tiba hari kepulangannya, ia belum juga muncul dan memberikan kabar. Malam itu, saya mulai gelisah dan berulang-ulang mengirimkan pesan singkat menanyakan keberadaannya dan pukul berapa ia akan tiba di rumah. Namun tetap tidak ada balasan. Hingga akhirnya, saat bangun pagi, hati saya mulai marah dan pikiranpun kacau,
berperang, namun dengan kesadaran tetap ingin memeluknya.
Saya bertekad untuk memiliki satu cahaya yang hilang. Saya mengirim satu pesan singkat lagi. Isinya, ungkapan perasaan saya yang selama ini terkubur di relung hati yang terdalam. “ Nak, mamih hawatir. Apakah kamu baik-baik saja?”. Magic words! Satu jam kemudian saya bukan hanya mendapatkan pesan pendek, namun cerita pendek. Kalimat pertama, “Mamih, maafkan saya. Saya tidak sempat memberi kabar, baterei saya mati. Banyak sekali undangan yang saya terima, sehingga saya harus menghadirinya”. Saya berjanji, hari ini saya pasti pulang, I love you, mamih”. Saya terpana menyaksikan keajaiban hasil ungkapan perasaan saya. Malam itu, putriku tiba di rumah. Tidak hentinya hati ini menaikkan puji syukur ke hadiratNYA. Saya telah memiliki cahaya yang ke lima. Terima kasih banyak Gobind Vashdev! [Ibu LIli Gunawan, orangtua Martin-Kelompok Nautilus dan Kevin-Kelompok Marlin]