• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUPATIBONE PROVINSISULAWESISELATAN TENTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUPATIBONE PROVINSISULAWESISELATAN TENTANG"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

a. bahwa dalam rangka memberikan kepastian perlindungan kesejahteraan sosial bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan baik dalam maupun luar hubungan kerja diperlukan jaminan sosial melalui kepesertaan Program Badan Penye1enggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan; <_ b. bahwa memperhatikan ketentuan pasal 2

Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 2013 tentang Tata Cara Hubungan Antar Lembaga Badan Penye1enggara Jaminan Sosial, antara lain pada pokoknya menegaskan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan program jaminan sosial bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten;

c. bahwa sebagai upaya untuk mendukung kepesertaan Program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Pemerintah Kabupaten Bone memandang perlu mewajibkan setiap orang atau perusahaan mengikutsertakan tenaga kerjanya dalam program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan ;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c di atas, maka perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Kewajiban Kepesertaan Badan Penye1enggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Sebagai Persyaratan Pemberian Pelayanan Perizinan di Kabupaten Bone;

Menimbang

BUPATI BONE,

DENGANRAHMATTUHANYANGMAHAESA

KEWAJIBAN KEPESERTAAN BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN SEBAGAI PERSYARATAN PEMBERIAN

PELAYANAN PERIZINAN OLEH PEMERINTAH KABUPATEN BONE TENTANG

PERATURAN BUPATIBONE NOMOR 32 TAHUN2014

BUPATIBONE

(2)

1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1822) ;

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2918) ;

3. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3201) ;

4. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3468) ;

5. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279) ;

6. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286) ;

7. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

8. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor4438) ;

9. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456) ;

10. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038) ;

11. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 116, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5256) ;

(3)

12. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor

116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5256) ;

13. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor

140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578) ;

15.<Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor

165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593) ;

16. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintah Kabupaten /Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737) ;

17. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741) ;

18. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2013 tentang Perubahan Kesembilan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 Penyelenggaraan Program J aminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 229, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5472) ;

19. Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Kepada Pemberi Kerja Selain Penyelenggara Negara dan Setiap Orang, Selain Pemberi Kerja, Pekerja dan Penerima Bantuan luran dalam Penyelenggaraan Jaminan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 238, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5481) ;

20. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2013 tentang Penahapan Kepesertaan Program Jaminan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 253) ;

21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri

(4)

PERATURAN BUPATI TENTANG KEWAJIBAN KEPESERTAAN BADAN PENYELENGGARAJAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAANSEBAGAI PERSYARATAN PEMBERIAN PELAYANAN PERIZINAN OLEH PEMERINTAHKABUPATENBONE.

MEMUTUSKAN :

atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310) ;

22. Peraturan Menteri Tenaga Kerja PER-24/ MEN/VI/ 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja;

23. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor PER-12/MEN/VI/2007 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran luran, Pembayaran Santunan dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja ;

24. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2012 tentang Syarat-syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain;

25. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP-196/ MEN/ 1999 ten tang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi Tenaga Kerja Harian Lepas, Borongan dan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu pada Sektor Jasa Konstruksi ; 25. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor

52 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja di Sulawesi Selatan ; 26. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 34

Tahun 2014 tentang Kewajiban Kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Dalam Pemberian Perizinan dan Non Perizinan di Provinsi Sulawesi Selatan;

27. Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Bone Tahun 2008 Nomor 10);

28. Peraturan Daerah Kabupaten Bone Nomor 1 Tahun 2008 tentang Penetapan Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Kabupaten Bone (Lembaran Daerah Kabupaten Bone Tahun 2008 Nomor 1);

(5)

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Bone.

2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut asas otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan Prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahunl945. 3. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara

Pemerintah Daerah yang memimpin pe1aksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan otonom.

4. Bupati adalah Bupati Bone.

5. Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah.

6. Badan adalah sekumpulan orang darr/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komenditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN),atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi politik, organisasi lainnya, lembaga , dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

7. Perusahaan adalah setiap bentuk badan usaha yang mempekerjakan tenaga kerja dengan tujuan mencari untung atau tidak, baik milik swasta maupun negara.

8. Orang adalah orang perorangan baik sebagai pekerja mandiri maupun sebagai orang yang mempekerjakan orang lain.

9. Izin adalah izin yang diberikan oleh pemerintah daerah kepada setiap orang atau perusahaan sesuai peraturan perundang-undangan dalam rangka untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan.

10. Pelayanan perizinan adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan perizinan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap orang atau perusahaan yang disediakan oleh pemerintah daerah.

11. Jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak dan meningkatkan martabatnya menuju

terwujudnya masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur.

12. Program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, yang selanjutnya disebut Program BPJS Ketenagakerjaan adalah program negara atau pemerintah yang bertujuan memberikan perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pe1ayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, hari tua dan meninggal dunia. 13. Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling

singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran.

14. Pemberi Kerja adalah perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang memperkerjakan pegawai negeri dengan

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

(6)

(1) Setiap orang yang melakukan permohonan pengurusan atau perpanjangan izin kepada SKPD di lingkungan pemerintahan daerah wajib melampirkan fotokopi rekomendasi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dari pejabat penyelenggara BPJS Ketenagakerjaan setempat yang telah dilegalisir.

(2) Setiap perusahaan yang me1akukan permohonan pengurusan atau perpanjangan izin kepada SKPD di lingkungan pemerintah daerah wajib melampirkan fotokopi rekomendasi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dari pejabat penyelenggara BPJS Ketenagakerjaan setempat yang te1ah dilegalisir dan telah

Pasal4 BABIII

KEWAJIBAN KEPESERTAAN BPJS KETENAGAKERJAAN SEBAGAI PERSYARATAN PEMBERIAN PELAYANAN PERIZINAN Sasaran Peraturan Bupati ini adalah setiap orang atau pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja di daerah.

Pasal3 Tujuan Peraturan Bupati ini meliputi :

a. meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja; b. memberikan manfaat bagi tenaga kerja; dan

c. meningkatkan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. BAB II

TUJUAN DAN SASARAN Pasal2

15. Manfaat adalah faedah jaminan sosial yang menjadi hilk peserta dan/ atau anggota keluarganya.

16. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun diluar hubungan kerja, guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan orang lain atau

masyarakat.

17. Tanda pendaftaran wajib lapor ketenagakerjaan,· yang selanjutnya disebut wajib lapor adalah laporan atau informasi resmi secara tertulis setiap mendirikan, menghentikan, menjalankan kembali, memindahkan atau membubarkan perusahaan yang disampaikan kepada Kepala Dinas sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun

1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan.

18. Surat Permintaan Pembayaran, yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatarr/bendahara penge1uaran untuk mengajukan permintaan pembayaran.

19. Surat Permintaan Pembayaran Langsung, yang selanjutnya disingkat SPP-LS adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan pembayaran langsung kepada pihak ketiga atas dasar perjanjian kontrak kerja atau surat perintah kerja lainnya dan pembayaran gaji dengan jumlah tertentu yang dokumennya disiapkan oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan.

(7)

(1) Pembinaan dan pengawasan terhadap kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan pada perusahaan dilakukan secara periodik dan

Pasal8 BABIV

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Dalam rangka penyelenggaraan pelayanan atas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6, setiap SKPDjUnit Kerja dilingkungan Pemerintah Daerah termasuk Badan Pelayanan Perizinan terpadu wajib menyesuaikan Standar Operasional Prosedurnya.

Pasal7 (2)

Setiap orang atau perusahaan yang mengikuti pelelangan barang danj atau jasa di SKPDjUnit Kerja, wajib melampirkan dokumen berupa:

a. Kepesertaan program BPJS Ketenagakerjaan bagi tenaga kerja yang dipekerjakan oleh setiap orang atau perusahaan; dan

b. Keterangan pembayaran iuran bulan terakhir kepesertaan program BPJS Ketenagakerjaan.

Setiap Orang atau perusahaan yang begerak dibidang pekerjaan jasa konstruksi atau jasa lainnya yang melakukan pengurusan SPP-LS dengan menggunakan belanja pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pada Pemerintah Daerah, wajib melampirkan kembali dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(1)

Pasal6 (3)

(2)

Setiap SKPDjUnit Kerja di Lingkungan Pemerintah Daerah yang menyelenggarakan pelayanan dibidang perizinan bagi orang atau perusahaan, wajib menambahkan persyaratan pelayanan berupa: a. kepesertaan program BPJS Ketenagakerjaan bagi tenaga kerja

yang dipekerjakan oleh setiap orang atau perusahaan; dan

b. keterangan pembayaran iuran bulan terakhir kepesertaan program BPJS ketenagakerjaan.

Orang atau perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk orang atau perusahaan yang mengurus izin penelitian yang secara nyata mempekerjakan orang lain.

Pengecualian atas ketentuan dan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), ditujukan bagi orang yang mengurus izin penelitian semata untuk kepentingan akademik dan bukan proyek penelitianj non provit.

( 1) 1 1 -I I 1 1 I I 1 1 .1 ,I 1

I

I

I

I

'

I

1 1 :1 :1 :1 ! Pasal5

(3) Rekomendasi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berisikan :

a. kepesertaan Program BPJS Ketenagakerjaan bagi tenaga kerja yang dipekerjakan oleh setiap orang atau perusahaan; dan b. keterangan pembayaran iuran bulan terakhir kepesertaan

(8)

Pemberian atau perpanjangan izin yang telah diterbitkan oleh Pemerintah

Daerah sebelum diberlakukannya Peraturan Bupati ini, tetap

berlaku selama tidak bertentangan dengan Peraturan Bupati ini.

BAB VII

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 12

Pemerintah Daerah memberikan perhatian khusus kepada BPJS

Ketenagakerjaan untuk memberikan jaminan ketenagakerjaan berupa

jaminan sosial kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Tidak Tetap

(PTT)dan Tenaga Honorer lingkup Pemerintah Daerah. Pasal 11

BABVI

KETENTUAN LAIN-LAIN

(1) Setiap pejabatjPegawai Negeri Sipil penyelenggara pelayanan pada

SKPDjUnit Kerja yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 5, dapat dikenakan sanksi administrasif.

(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat

berupa:

a. Teguran lisan;

b. Teguran tertulis; dan

c. Sanksi lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan

dibidang kepegawaian.

(3) Penerapan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan

secara berjenjang dan proporsional.

(1) Pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4

ayat (1) dan ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa tidak

diberikannya pelayanan publik tertentu.

(2) Pelayanan publik tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9

ayat (1) berupa tidak diterbitkannya izin Pemerintah Daerah atas

permintaan BPJS Ketenegakerjaan. Pasal9

BABV

SANKSI ADMINISTRASI

Pasal 10

(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dilakukan Tim Koordinasi Fungsional Pelaksanaan Program BPJS

Ketenagakerjaan yang dibentuk oleh Bupati.

(3) Tugas-tugas Tim sebagaimana dimaksud ayat (2) diatur lebih lanjut

dalam Keputusan Bupati.

I' i

(9)

BERITA~DAERAH KABUPATEN BONE TAHUN 2014 NOMOR 362

Dharma

,1t E

t

Pembina Utama Madya

, ·9 ('NiP: 19600424 198702 1 004

Diundangkan di Watampone

pada tanggal

Ditetapkan di Watampone pada tanggal 26 Des embe'r 2014

Agar setiap orang rnengetahuinya, memerintahkan pengundangan

Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Bone.

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. BAB VIII

KETENTUANPENUTUP

Referensi

Dokumen terkait

Satuan PAUD Sejenis yang selanjutnya disebut SPS adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal yang dapat. dilaksanakan secara terintegrasi

Izin PPKH dengan kompensasi Lahan, yaitu pada provinsi dengan luas Kawasan Hutan &lt; 30 % :. Izin PPKH dengan kompensasi membayar PNBP- PKH dan melakukan penanaman,

Hal serupa juga terjadi pada saat latihan sedang berlangsung, menurut pembina ekstrakurikuler siswa sering sekali tidak mampu mengikuti rangkaian latihan yang

mengirim naskah dinas yang sudah berisi disposisi kepada Petugas Administrasi pada Wakil Bupati atau Sekretaris Daerah;a. mengirim naskah dinas keluar yang sudah

Tulisan NOVUS ORDO SECLORUM adalah berarti Orde Baru Abad ini atau Tatanan Dunia Baru atau Tatanan Zaman Baru (Satu pemerintahan dunia). Enam hal tersebut

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada peristiwa pergantian CEO terjadi praktik manajemen laba yang menaikkan laba (income increasing) periode akhir masa jabatan CEO lama

A Match); b) bertukar pasangan; c) berpikir-berpasangan-membagi (Think- Pair-Share); d) berkirim salam dan soal; e) kepala bernomor (Numbered Heads Together); f)

Tujuan dari penelitian adalah menjelaskan hasil penerapan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Group Investigation dapat meningkatkan prestasi belajar IPS materi