PENGARUH TINGKAT PENGANGGURAN, INFLASI, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI, TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI KOTA TASIKMALAYA SELAMA TAHUN

20  11  Download (1)

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH TINGKAT PENGANGGURAN, INFLASI, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI, TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN

DI KOTA TASIKMALAYA SELAMA TAHUN 2002-2015 Oleh :

ANNISA TARA DWI PUTERI NPM 113401065

Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Silwangi

email: annisataradp@gmail.com

ABSTRACT

THE INFLUENCE OF UNEMPLOYMENT RATE, INFLATION, AND ECONOMIC GRWOTH ON THE LEVEL OF POVERTY IN TASIKMALAYA

DURING THE YEAR 2002-2015

Guidance: Ade Komaludin Dwi Hastuti Lestari K.

Poverty is a social problem that is always there to accompany the life of a nation, very complex and should get proper treatment to overcome. There are many factors caused the poverty, including unemployment, inflation, and economic growth rate. Therefore, this study aimed to determine the effect of unemployment rate, inflation, and economic growth rate on the level of poverty in Tasikmalaya City during the year of 2002-2015. This study uses the rate of poverty level as the dependent variable, while the independent variable used is rate of unemployment, inflation, and economic growth rate. The method of analysis used in this research is multiple regression analysis. The results showed, that the unemployment rate partially directional effecting on the level of poverty, and so the inflation. While partially, the effect of economic growth rate undirectional effecting on the poverty rate. In addition, simultaneously, the unemployment rate, inflation, and economic growth rate effecting on the level of poverty is strongly directional. Thus, the government continously should take the effective policies to improve the development programs, providing the jobs, increasing the purchasing power, business mentoring in order to the dynamics of economics more widely, so that the rate of unployment and inflation decrease, and the equillibrium of economic growth rate increase, and the poverty decrease.

(2)

2

PENGARUH TINGKAT PENGANGGURAN, INFLASI, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI, TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN

DI KOTA TASIKMALAYA SELAMA TAHUN 2002-2015

Oleh:

ANNISA TARA DWI PUTERI NPM 113401065

Pembimbing: Ade Komaludin Dwi Hastuti Lestari K.

Kemiskinan adalah sebuah permasalahan sosial yang selalu ada mengiringi kehidupan suatu bangsa, sehingga sifatnya sangat kompleks dan harus mendapatkan penanganan yang tepat untuk mengatasinya. Banyak faktor penyebab terjadinya kemiskinan, diantaranya tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya selama Tahun 2002-2015. Penelitian ini menggunakan variabel tingkat kemiskinan sebagai variabel dependen, sedangkan variabel independen yang digunakan adalah tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil regresi menunjukkan, tingkat pengangguran secara parsial searah, berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya. Demikian pula inflasi yang secara parsial searah berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya. Sedangkan pengaruh pertumbuhan ekonomi, secara parsial berpengaruh tidak searah terhadap tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya. Adapun secara simultan, tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh kuat terhadap tingkat kemiskinan. Oleh karena itu, pemerintah secara efektif harus terus mengambil kebijakan peningkatan program pembangunan melalui penyediaan lapangan kerja yang memadai, meningkatkan daya beli masyarakat, serta pendampingan UMKM agar penduduk memiliki dinamika perekonomian yang lebih baik, sehingga tingkat pengangguran dan inflasi berkurang, pertumbuhan ekonomi meningkat seimbang, dan tingkat kemiskinan berkurang.

Kata Kunci: tingkat pengangguran, inflasi, pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan.

(3)

3

PENDAHULUAN

Aktivitas pembangunan dan perekonomian saat ini semakin tumbuh dan berkembang seiring dinamika kehidupan yang makin tinggi. Oleh karena itu, persaingan untuk mendapatkan hajat hidup semakin ketat dengan bertambahnya jumlah penduduk (populasi) di suatu wilayah. Persaingan dan dinamika kehidupan menjadi indikator adanya aktivitas sosial dan perekonomian yang berdampak terhadap berbagai aspek di wilayah tersebut, termasuk tingkat kemiskinan.

Meskipun tingkat kemiskinan di sejumlah wilayah di Indonesia meningkat, namun tingkat kemiskinan di beberapa wilayah di Provinsi Jawa Barat cenderung menurun. Sementara tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya selama enam tahun terakhir 2010-2015 cenderung menurun. Permasalahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Selama kurun waktu tahun 2010-2015 kondisi tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya tertera dalam tabel berikut:

Tabel 1

Tingkat Kemiskinan di Kota Tasikmalaya Tahun 2010-2015 dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya

Tahun Tingkat Kemiskinan (%) Tingkat Pengangguran (%) Inflasi Pertumbuhan Ekonomi (%) 2010 22,71 8,16 11,36 4,72 2011 17,98 9,14 6,17 4,85 2012 16,92 7,03 5,87 6,51 2013 14,19 6,52 6,19 6,55 2014 17,95 5,38 8,95 4,22 2015 16,48 9,88 5,62 4,16

Sumber: BPS Kota Tasikmalaya (2016)

Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang kompleks karena banyak faktor yang mempengaruhi dan menyebabkannya. Kemiskinan terjadi karena faktor internal dan eksternal seperti lingkungan, pendidikan, keluarga, masyarakat, dan sebagainya. Sedangkan beberapa faktor penyebab kemiskinan diantaranya tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi lokal dan global yang rendah.

Terkait dengan beberapa fakta permasalahan yang saling berhubungan antara jumlah pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi, dengan tingkat kemiskinan, maka perlu dilakukan upaya untuk menekan pertambahan jumlah pengangguran, menurunkan inflasi, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Semua upaya tersebut harus dilakukan dalam rangka menekan tingkat kemiskinan dari tahun ke tahun, khususnya di Kota Tasikmalaya.

Berdasarkan uraian permasalahan yang teridentifikasi di atas, penulis tertarik untuk menggali dan meneliti aspek-aspek yang saling berhubungan tersebut dalam sebuah judul, yaitu: “Pengaruh Tingkat Pengangguran, Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Tingkat Kemiskinan di Kota Tasikmalaya Tahun 2002-2015”.

(4)

4

Identifikasi Masalah

Beberapa permasalahan yang teridentifikasi di atas dirumuskan dalam dua permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat pengangguran, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya selama tahun 2002-2015.

2. Bagaimana pengaruh tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya selama tahun 2002-2015, baik secara parsial maupun secara bersama-sama

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk:

1. Mengetahui tingkat pengangguran, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya selama tahun 2002-2015.

2. Mengetahui pengaruh tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya selama tahun 2002-2015, baik secara parsial maupun secara bersama-sama

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian hubungan kausal untuk membuktikan secara empiris pengaruh tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya pada periode tahun 2002-2015. Penelitian ini dilakukan dengan cara menguji variabel-variabel penelitian melalui pembentukan model analisis dengan prosedur statistik, kemudian diambil interpretasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Operasionalisasi Variabel

Operasionalisasi variabel yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagaimana dijelaskan dalam tabel berikut:

Tabel 2

Operasionalisasi Variabel

Variabel Definisi Operasional Skala Notasi

Tingkat Pengangguran

Data tingkat pengangguran yang diterbitkan oleh BPS tentang Tingkat Pengangguran Kota Tasikmalaya Tahun 2002-2015

Ratio Tp

Inflasi Data inflasi yang diterbitkan oleh BPS tentang Inflasi di Kota Tasikmalaya Tahun 2002-2015

Ratio Inf Pertumbuhan

Ekonomi

Data laju pertumbuhan ekonomi yang diterbitkan oleh BPS tentang Pertumbuhan Ekonomi (berdasarkan harga konstan tahun 2000) Kota Tasikmalaya Tahun 2002-2015

Ratio Pe

Tingkat Kemiskinan

Data tingkat kemiskinan yang diterbitkan oleh BPS tentang Tingkat Kemiskinan dalam Persentase Pertumbuhan Penduduk Kota Tasikmalaya Tahun 2002-2015

(5)

5

Teknik Pengumpulan Data

Data sekunder yang diperlukan didapat melalui kegiatan-kegiatan:

1. Studi kepustakaan untuk mengumpulkan data atau hasil penelitian terdahulu yang relevan sebagai acuan dan kerangka pemikiran untuk menentukan permasalahan yang terjadi serta teori yang relevan dengan variabel penelitian; 2. Studi dokumentasi, yaitu dengan menelaah dan menganalisis laporan-laporan

yang terkait dengan tingkat pengangguran, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan tingkat kemiskinan yang diterbitkan oleh BPS dan sumber lain yang dapat dipercaya.

Jenis Data

Data penelitian ini berjenis sekunder yang berasal dari sumber sekunder, yaitu data dalam bentuk dokumen resmi pemerintah yang bisa diakses dari website resmi Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Dunia, dan dari sumber lain yang relevan dan terpercaya menurut deret waktu atau time series. Data tersebut meliputi: 1. Laporan tentang tingkat pengangguran di Kota Tasikmalya selama kurun

waktu tahun 2002-2015;

2. Laporan tentang inflasi di Kota Tasikmalya selama kurun waktu tahun 2002-2015;

3. Laporan tentang pertumbuhan ekonomi di Kota Tasikmalya selama kurun waktu tahun 2002-2015;

4. Laporan tentang tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalya selama kurun waktu tahun 2002-2015.

Model/Desain Penelitian

Model analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis pada penelitian ini adalah regresi linier berganda (multiple regression analysis). Penggunaan model persamaan regresi ganda dengan tiga variabel bebas dilakukan dengan tujuan peramalan (estimasi), yaitu bagaimana variabel independen digunakan untuk mengestimasi nilai variabel dependen.

Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel penelitian, yaitu tiga variabel bebas (independent variable) berupa tingkat pengangguran (X1), inflasi (X2), dan pertumbuhan ekonomi (X3), serta satu variabel terikat (dependent variable) yaitu tingkat kemiskinan (Y).

Teknik yang digunakan adalah analisa regresi ganda yang menghubungkan dua variabel independen dengan satu variabel dependent. Analisis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana perkembangan data variabel dependen bila tiga variabel independen (sebagai faktor prediktor) mengalami perkembangan/ fluktuasi. Analisis dilakukan dengan bantuan software E-Views 9.5.

Adapun persamaan regresi yang digunakan adalah sebagai berikut: Ŷ = f (Tp, Inf, Pe) atau Ŷ = f(x)

(6)

6

atau secara konkrit persamaan regresi ganda tersebut dirumuskan sebagai berikut: Ŷ = c + c1Tp + c2Inf + c3Pe + ε atau Ŷ = α + βX

Keterangan:

Ŷ = tingkat kemiskinan sebagai variabel terikat

c = α = konstanta tingkat kemiskinan tanpa variabel Tp, Inf, dan Pe c1=koefisien pengaruh Tp terhadap Ŷ

c2=koefisien pengaruh Inf terhadap Ŷ β =koefisien c3=koefisien pengaruh Pe terhadap Ŷ

Pe=pertumbuhan ekonomi

Inf=inflasi X = variabel bebas

Tp=tingkat pengangguran Pengujian Hipotesis

1. Koefisien Determinasi (R2)

Nilai R2 mengukur proporsi (bagian) atau persentase total variasi dalam Y yang dijelaskan oleh model regresi (Gujarati, 2003).

Dimana:

ESS=Explained Sum Square TSS=Total Sum Square RSS=Residual Sum Square

Koefisien determinasi yang digunakan adalah nilai adjusted R square atau adjusted R2 disesuaikan dengan derajat kebebasan (df), dengan harga df =(n-k) dan (n-1) yang diformulasikan sebagai berikut:

Dimana:

k = jumlah parameter termasuk intersep n = jumlah observasi (sampel)

2. Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh dan signifikansi koefisien determinasi semua variabel independen terhadap variabel dependen dengan formulasikan sebagai berikut:

Dimana:

ESS = Explained Sum Square RSS = Residual Sum Square n = jumlah observasi (sampel)

k = jumlah parameter estimasi termasuk intersep atau konstanta

Hipotesis dalam uji F ini adalah:

Ho : β1= β2 = ……….. = βk = 0 Ha : β1≠ β2 = ……….. ≠ βk ≠ 0

Artinya, jika harga F hitung lebih besar dari F tabel, maka Ho ditolak, demikian pula sebaliknya.

TSS RSS TSS ESS R2  1 1 1 2     n TSS k n RSS R ) ( ) 1 ( ) 1 ( 1 1 2 2 , 1 k n R k R n TSS k n ESS Fk n k          

(7)

7

3. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)

Uji t ini dilakukan untuk mengetahui signifikansi variabel independen secara individu atau parsial terhadap variabel dependen. Adapun hipotesis pada uji t ini adalah sebagai berikut:

Ho : βi= 0 (variabel tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap variabel tingkat kemiskinan)

Ha : βi≠ 0 (variabel tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap variabel tingkat kemiskinan).

Jika nilai t hitung lebih besar dibandingkan dengan nilai t tabel, maka Ho ditolak, artinya terdapat pengaruh secara individu atau parsial variabel independen terhadap variabel dependen, dan sebaliknya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Uji Klasik

1. Hasil Uji Normalitas

Hasil uji normalitas ditunjukkan dengan gambar berikut:

Gambar 1

Uji Histogram Residual dan Jarque-Bera (Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2017)

Berdasarkan data gambar di atas, nilai Jarque-Bera sebesar 0,2249 merupakan distribusi Chi-Square (χ2) dengan derajat kebebasan (df) = 14-4=10 dan α=5% dengan nilai χ2

sebesar 18,3070. Artinya, nilai Jarque-Bera lebih kecil dari nilai χ2

sehingga data yang didapatkan bisa disimpulkan berdistribusi normal. Oleh karena itu, data keempat variabel dapat digunakan untuk analisis lanjutan, sebelum dilakukan pengambilan kesimpulan.

2. Hasil Uji Multikolinieritas

Hasil uji multikolinieritas ditunjukkan dengan tabel berikut:

0 1 2 3 4 5 6 -5.0 -2.5 0.0 2.5 5.0 Series: Residuals Sample 2002 2015 Observations 14 Mean -7.30e-16 Median -0.082939 Maximum 4.037901 Minimum -4.062648 Std. Dev. 2.312059 Skewness -0.111506 Kurtosis 2.420517 Jarque-Bera 0.224896 Probability 0.893644

(8)

8

Tabel 3

Hasil Uji Multikolinieritas

(Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2017)

Berdasarkan data tabel di atas, nilai koefisien korelasi antara variabel Tingkat Pengangguran (Tp) dengan Inflasi (Inf) sebesar 0,5748. Nilai ini lebih kecil dari 0,85. Artinya, antara variabel tingkat pengangguran dengan inflasi tidak terjadi multikolinieritas. Kondisi yang sama juga ditunjukkan antara variabel inflasi dengan pertumbuhan ekonomi dan antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat pengangguran sebesar masing-masing 0,2213 dan 0,7739 yang lebih kecil dari 0,85.

3. Hasil Uji Autokorelasi

Hasil uji autokorelasi dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 4

Hasil Uji Autokorelasi

Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2017

Berdasarkan data tabel di atas, nilai P value-Obs*-squared = 0,8026 lebih besar dari 0,05 maka H0 tidak ditolak. Artinya, dengan tingkat signifikansi 95% dapat dikatakan tidak terdapat autokorelasi dalam model regresi yang dihasilkan.

Sementara itu, berdasarkan nilai Chi-Square (χ2) dengan derajat kebebasan atau degree of freedom (df) = 14-4=10 dan α=5% dengan nilai χ2 sebesar 18,3070, harga Obs*R-squared BG sebesar 0,4398. Angka Chi-Square di atas jauh lebih kecil dibandingkan angka hasil observasi. Hal ini menunjukkan, bahwa model regresi persamaan tersebut terbebas dari gejala autokorelasi, yaitu adanya serial korelasi (autokorelasi) atau dalam sekumpulan hasil observasi untuk model tertentu antara observasi yang satu dengan yang lain ada hubungan atau korelasi.

(9)

9

4. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dengan uji White adalah sebagaimana tabel berikut: Tabel 5

Hasil Uji Heteroskedastisitas

Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2017

Berdasarkan data tabel di atas, nilai P value-Obs*-squared = 0,4218 lebih besar dari 0,05 maka H0 tidak ditolak. Artinya, tidak terdapat gejala heteroskedastisitas dalam model regresi yang dihasilkan. Sedangkan berdasarkan nilai Chi-Square (χ2) dengan derajat kebebasan (df) = 14-4=10 dan α=5%, nilai χ2 sebesar 18,3070 dan harga Obs*R-squared SS White 9,1695 juga jauh lebih kecil, sehingga dapat disimpulkan, model regresi tersebut bebas dari heteroskedastisitas. Dengan kata lain, pengujian regresi atau analisis deskriptif bisa dilanjutkan dan bisa digunakan untuk mengambil kesimpulan atas hasil penelitian yang dilakukan terhadap empat variabel yang sudah ditentukan.

Deskripsi Tingkat Pengangguran, Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi, dan Tingkat Kemiskinan di Kota Tasikmalaya Periode Tahun 2002-2015

Secara nasional maupun tingkat provinsi, meskipun di sejumlah wilayah di tanah air meningkat, namun tingkat kemiskinan di beberapa wilayah di Provinsi Jawa Barat cenderung menurun. Tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya selama tahun 2002-2015 masih terbilang paling tinggi di provinsi ini. Hasil Sensus Tahun 2015, Kota Tasikmalaya memiliki penduduk miskin sebanyak 131.500 orang atau di urutan ke-25 atau dua terbawah dari 27 kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat. Selama periode tersebut tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya cenderung meningkat tipis sebesar 0,49% per tahun dengan rata-rata yang masih tinggi 17,07%. Hal ini diduga disebabkan oleh permasalahan sebelum terjadi otonomi, dimana Kota Tasikmalaya merupakan pusat aktivitas dan interaksi perekonomian warga di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, bahkan hingga kini, sehingga kesejahteraan penduduk di beberapa wilayah yang berada di pinggiran kota stagnan, sehingga ketimpangan sosialnya masih cukup tinggi.

Meskipun angka kemiskinan turun lebih dari dua persen dari tahun sebelumnya, namun Kota Tasikmaya masih menjadi kota dengan angka kemiskinan tertinggi di Jawa Barat, sebagaimana data berikut:

(10)

10

Tabel 6

Tingkat Kemiskinan di Kota Tasikmalaya Tahun 2002 – 2015 dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya

No. Tahun Tingkat Kemiskinan (%) Tingkat Pengangguran (%) Inflasi (%) Pertumbuhan Ekonomi (%) 1 2002 10,41 4,38 10,29 5,55 2 2003 13,04 4,76 3,78 3,05 3 2004 12,03 4,93 5,92 3,43 4 2005 17,64 6,08 12,83 3,99 5 2006 15,24 6,18 8,44 4,02 6 2007 14,25 9,29 7,72 6,11 7 2008 26,52 12,87 22,07 4,98 8 2009 23,55 10,41 14,17 7,70 9 2010 22,71 8,16 11,36 4,72 10 2011 17,98 9,14 6,17 4,85 11 2012 16,92 7,03 5,87 6,51 12 2013 14,19 6,52 6,19 6,55 13 2014 17,95 5,38 8,95 4,22 14 2015 16,48 9,88 5,62 4,16 Rata-rata 17,07 7,50 9,24 4,99

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat (2015)

Berdasarkan data tabel di atas tampak, bahwa selama kurun waktu tahun 2002 sampai tahun 2015 jumlah dan persentase tingkat kemiskinan pernah mencapai puncaknya pada tahun 2008-2010. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor internal dan eksternal, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, diantaranya kebijakan ekonomi global yang menuntut pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM bersubsidi. Dengan demikian, secara keseluruhan tingkat kemiskinan dengan persentase rata-rata 17,07% dianggap cukup memberatkan masyarakat dan pemegang pemerintahan setempat. Hal ini terlihat dari beberapa indikator pendukung, diantaranya karena masih tingginya ketimpangan sosial yang terjadi dan pendapatan yang masih rendah, yang mana dari kriteria penghitungan garis kemiskinan rupiah per orang per hidup yang berpenghasilan Rp 351.178 per bulan

Pengaruh Tingkat Pengangguran, Inflasi, dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Tingkat Kemiskinan di Kota Tasikmalaya secara Parsial maupun secara Bersama-sama

Berdasarkan model regresi ganda yang dihasilkan dari penelitian ini: Tk = 6,5806 + 0,9524Tp + 0,4431Inf – 0,1511Pe

dapat dijelaskan sebagai berikut: Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

(11)

11

Hasil pengujian signifikansi simultan terdapat dalam tabel berikut: Tabel 7

Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji F statistik) Dependent Variable: TK

Method: Least Squares Date: 01/13/17 Time: 09:40 Sample: 2002 2015

Included observations: 14

F-statistic 9.665.288

Prob(F-statistic) 0.002661

Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2017

Hasil pada tabel di atas menunjukkan, bahwa nilai F statistic sebesar 9,6653 lebih besar dibandingkan nilai F tabel (0,05;3;10) yaitu 3,7083. Demikian pula nilai probabilitasnya sebesar 0,0026 lebih kecil dibandingkan tingkat signifikansi 0,05 sehingga H0 ditolak. Hal ini berarti hipotesis H1 yang menyatakan, bahwa tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi secara simultan berpengaruh terhadap variabel tingkat kemiskinan, tidak ditolak. Koefisien Determinasi (R2)

Hasil uji determinasi ditunjukkan sebagaimana tabel berikut: Tabel 8

Hasil Uji Determinasi Dependent Variable: TK

Method: Least Squares Date: 01/13/17 Time: 09:40 Sample: 2002 2015 Included observations: 14 R-squared 0.743563 Adjusted R-squared 0.666631 S.E. of regression 2.636.152

Sum squared resid 6.949.300

Log likelihood -3.108.032

F-statistic 9.665.288

Prob(F-statistic) 0.002661

Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2017

Berdasarkan data tabel di atas, nilai R2 atau R-Squared adalah sebesar 0,7436. Hal ini berarti 74,36% variasi tingkat kemiskinan dapat dijelaskan oleh variabel tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan sisanya 25,64% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti.

(12)

12

Uji Signifikansi Parameter Individual atau Parsial (Uji t statistik)

Hasil Uji t statistik tentang pengaruh variabel independen terhadap dependen secara individual dengan hasil sebagaimana tabel berikut:

Tabel 9

Hasil Uji Signifikansi Parsial atau Individual (Uji t statistik) Dependent Variable: TK

Method: Least Squares Date: 01/13/17 Time: 09:40 Sample: 2002 2015

Included observations: 14

Variable t-Statistic Prob.

TP 2.534.959 0.0296

INF 2.359.901 0.0400

PE -0.253820 0.8048

C 2.140.291 0.0580

Sumber: Hasil Pengolahan Data, 2017

Berdasarkan data tabel di atas, nilai t hitung atau t statistik variabel independen, yaitu Tingkat Pengangguran (Tp) dan Inflasi (Inf) masing-masing adalah 2,5349 dan 2,3599 lebih besar dari nilai t tabel (0,05: 14-2), yaitu 2,1788. Demikian pula nilai probabilitas tingkat pengangguran dan inflasi keduanya lebih kecil dibandingkan taraf signifikansi 0,05 masing-masing sebesar 0,0296 dan 0,0399 sehingga H0 ditolak. Artinya, dua variabel independen, yaitu tingkat pengangguran dan inflasi secara parsial masing-masing berpengaruh terhadap variabel dependen Tingkat Kemiskinan atau Tk (Ŷ).

Sementara itu, nilai t hitung variabel independen Pertumbuhan Ekonomi (Pe) sebesar -0,2538 lebih kecil dibandingkan nilai t tabel (0,05; 114-2), yaitu 2,1788. Demikian pula nilai probabilitasnya sebesar 0,8048 lebih besar dibandingkan taraf signifikansi 0,05. Hal ini menunjukkan, bahwa variabel independen pertumbuhan ekonomi secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak lantas mampu menurunkan angka tingkat kemiskinan. Kondisi ini diduga disebabkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya dinikmati oleh sebagian orang saja (orang kaya atau pengusaha), atau tidak terjadi pemerataan kesejahteraan atau dengan kata lain ketimpangannya masih tinggi.

Berdasarkan hasil analisis secara keseluruhan, hasil penelitian ini menyimpulkan, bahwa tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi, secara simultan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan sebesar 74,36%. Hal ini menunjukkan ketiga variabel bebas di atas, meskipun secara parsial, hanya dua yang menunjukkan pengaruh yang searah terhadap tingkat kemiskinan, yaitu tingkat pengangguran dan inflasi, sedangkan pertumbuhan ekonomi menunjukkan pengaruh tidak searah, namun ketiga variabel independen pada pokoknya saling memberikan kontribusi terhadap menurunnya tingkat kemiskinan, sehingga dianggap sebagai faktor-faktor kemiskinan.

(13)

13

Hasil uji signifikansi secara bersama-sama menunjukkan, bahwa nilai F statistic sebesar 9,6653 lebih besar dibandingkan nilai F tabel (0,05;3;10) yaitu 3,7083. Adapun nilai probabilitasnya sebesar 0,0026 lebih kecil dibandingkan tingkat signifikansi 0,05 sehingga H0 ditolak. Hal ini berarti hipotesis H1 yang menyatakan, bahwa tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi secara simultan berpengaruh terhadap variabel tingkat kemiskinan, tidak ditolak. Sementara berdasarkan hasil uji determinasi, nilai R2 adalah sebesar 0,7436. Hal ini berarti 74,36% variasi tingkat kemiskinan dapat dijelaskan oleh variabel tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan sisanya sebesar 25,64% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti. Dengan kata lain, kemiskinan banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:

1. Persentase Tenaga Kerja. Kemiskinan dapat berkurang dengan peningkatan nilai tambah hasil pekerjaan, sehingga terjadi kenaikan produktivitas per orang dalam rumah tangga (Solihin, 2014).

2. Pengaruh Inflasi. Menurut Samuelson dan Nordhaus (2004), inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus-menerus. Ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam barang itu naik dengan persentase yang sama.

3. Pertumbuhan Ekonomi. Tidak ada korelasi antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mampu mengurangi munculnya kemiskinan, karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya memicu kesenjangan pendapatan dan in-equality (Solihin, 2014).

Berdasarkan uraian di atas, faktor-faktor penyebab kemiskinan sangat kompleks, baik faktor internal maupun eksternal. Artinya, satu sama lain saling berhubungan, baik dari sisi demografi, sisi sosial, kondisi perekonomian, hingga tingkat pendapatan, dan buruknya sektor pelayanan publik oleh pemerintah

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

1. Tingkat pengangguran di Kota Tasikmalaya selama tahun 2002-2015 sebesar 7,5% per tahun atau cenderung meningkat. Persentase ini dianggap rendah, karena pertumbuhan pengangguran di Kota Tasikmalaya relatif lebih kecil dibandingkan dengan tingkat pengangguran propinsi dalam tiga tahun terakhir, yaitu 9,08%, 9,16% dan 8,45% (tahun 2013-2015). Sedangkan selama kurun waktu tersebut inflasi di Kota Tasikmalaya termasuk rendah. Hal ini disebabkan terjadinya deflasi pada barang-barang yang harganya ditetapkan oleh pemerintah, seperti BBM dan listrik, ditambah kondisi sektor perekonomian UMKM yang tetap menjadi sektor andalan di Kota Tasikmalaya, sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh inflasi.

Selama periode tersebut, pertumbuhan ekonomi Kota Tasikmalaya cenderung menurun (melambat) rata-rata 4,99%. Perlambatan ini relatif tidak lebih besar dibandingkan kondisi nasional dan Jawa Barat pada umumnya. Hal ini disebabkan perekonomian Kota Tasikmalaya ditopang sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan industri pengolahan (UMKM) yang cukup maju dengan dukungan dari sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa lainnya.

(14)

14

Adapun selama periode tersebut tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya cenderung meningkat tipis sebesar 0,49% per tahun dengan rata-rata yang masih tinggi 17,07%. Hal ini diduga disebabkan oleh permasalahan sebelum terjadi otonomi, dimana Kota Tasikmalaya merupakan pusat aktivitas dan interaksi perekonomian warga di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, bahkan hingga kini, sehingga kesejahteraan penduduk di beberapa wilayah yang berada di pinggiran kota stagnan, sehingga ketimpangan sosial di Kota Tasikmalaya masih cukup tinggi.

2. Nilai t hitung tingkat pengangguran sebesar 2,5349 yang berarti lebih besar dibandingkan nilai t tabel 2,1788 dan nilai probabilitas sebesar 0,0296 yang lebih kecil dibandingkan tingkat signifikansi sebesar 5% atau 0,05. Hal ini berarti, tingkat pengangguran secara parsial berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan. Artinya, naiknya tingkat atau angka pengangguran berpengaruh positif atau searah terhadap naiknya tingkat atau angka kemiskinan di Kota Tasikmalaya.

Sementara itu, nilai t hitung inflasi sebesar 2,3599 yang berarti lebih besar dibandingkan nilai t tabel 2,1788 dan nilai probabilitas sebesar 0,0399 yang lebih kecil dibandingkan tingkat signifikansi sebesar 5% atau 0,05. Hal ini menunjukkan, bahwa inflasi secara parsial berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan. Artinya, naiknya angka inflasi berpengaruh positif atau searah terhadap naiknya tingkat atau angka kemiskinan. Dengan kata lain, bertambahnya tingkat inflasi tidak memberi pengaruh kepada penurunan tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya.

Selanjutnya, nilai t hitung pertumbuhan ekonomi sebesar -0,2538 yang berarti lebih kecil dibandingkan nilai t tabel 2,1788 dan nilai probabilitas sebesar 0,8048 yang lebih besar dibandingkan tingkat signifikansi sebesar 5% atau tingkat probabilitas sebesar 0,05. Hal ini menunjukkan, bahwa pertumbuhan ekonomi secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan. Artinya, naiknya angka pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif atau tidak searah terhadap naiknya tingkat atau angka kemiskinan. Dengan kata lain, meningkatnya pertumbuhan ekonomi tidak memberi pengaruh kepada penurunan tingkat kemiskinan.

Hasil penelitian ini juga menyimpulkan, bahwa tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi, secara simultan atau bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan sebesar 74,36%. Hal ini berarti 74,36% variasi tingkat kemiskinan dapat dijelaskan oleh tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan sisanya sebesar 25,64% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti atau masuk dalam model.

Pencapaian ini ditunjang oleh nilai F statistic sebesar 9,6653 lebih besar dibandingkan nilai F tabel 3,7083. Demikian pula nilai probabilitasnya sebesar 0,0026 lebih kecil dibandingkan tingkat signifikansi 0,05 atau tingkat probabilitas 5%. Hal ini berarti hipotesis H1 yang menyatakan, bahwa tingkat pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi secara simultan atau bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan, dapat diterima.

(15)

15

Saran

1. Tingkat pengangguran di Kota Tasikmalaya cenderung tumbuh lebih tinggi atau meningkat, namun masih lebih rendah dibandingkan secara nasional. Hal ini menjadi indikasi agar tetap diupayakan menurun, sehingga dapat mengurangi tingkat kemiskinan yang bisa dikatakan masih lebih tinggi di Provinsi Jawa Barat. Sebagai contoh, pemerintah dan pihak swasta agar memberikan keleluasaan kesempatan kepada masyarakat, khususnya lulusan sekolah agar mereka dapat terserap dunia kerja, terutama yang sesuai dengan bidangnya.

1. Inflasi di Kota Tasikmalaya dapat dikatakan paling rendah di Provinsi Jawa Barat. Namun hal ini harus tetap dipertahankan untuk tidak meningkat di masa yang akan datang. Salah satu upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah memberikan keleluasaan masyarakat untuk mengembangkan kemampuan fisik dan keuangannya (daya beli) untuk berkarya lebih produktif.

2. Pertumbuhan ekonomi di Kota Tasikmalaya masih dikatakan rendah dibanding wilayah lain di Provinsi Jawa Barat. Untuk itu, disarankan kepada pemerintah agar lebih menggiatkan sektor perdagangan dan pertanian, usaha kecil menengah dan mikor (UMKM), khususnya dalam bidang khas Kota Tasikmalaya, serta memberikan pendampingan, baik keilmuan dan keterampilan, maupun pengadaan permodalan dan teknologi.

2. Tingkat kemiskinan di Kota Tasikmalaya masih termasuk kategori tinggi di Provinsi Jawa Barat. Oleh karena itu disarankan kepada pemerintah, agar lebih memperhatikan faktor-faktor kemiskinan, diantaranya memberikan penawaran lapangan kerja seluas-luasnya agar penyerapan tenaga kerja, khususnya yang terdidik, lebih besar untuk menurunkan tingkat kemiskinan. Selain itu, disarankan pula kepada pemerintah agar mampu menekan laju inflasi melalui pengadaan barang dan jasa yang dibutuhkan dengan harga terjangkau dan mudah didapatkan, serta tentu saja dengan menjaga stabilitas moneter, seperti menekan penurunan nilai Kurs Rupiah terhadap Dollar AS agar daya beli masyarakat meningkat dan pertumbuhan ekonomi bergairah, sehingga mampu menekan tingkat kemiskinan.

DAFTAR PUSTAKA

Boediono, 1981, Teori Pertumbuhan Ekonomi, Edisi 1, Penerbit BPFE Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Boediono. 2008. Ekonomi Mikro : Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No.1, Edisi 5. Yogyakarta : BPFE

Dadang Solihin. 2014. Implementasi Kebijakan Pengentasan Kemiskinan. Cetakan Pertama Januari 2014. Yayasan Empat Sembilan Indonesia. Jakarta

Dumairy. 2003. Perekonomian Indonesia. Jakarta : Erlangga

Friedman, John and Clyde Weaver. 1979. Terrytory And Function: The Evolution Of Regional Planning. Berkelary ,University Of California Press

(16)

16

Gujarati, Damodar N., 2003, Basic Econometrics, Penerbit McGraw-Hill Publishing, New York. Terjemahan: Ekonometrika Dasar. Penerbit PT Erlangga, Jakarta

Hall, A.L. dan Midgley, J. 2004. Social Policy for Development. London: Sage Publications

Jhingan, M.L. 2002. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Raja Grafindo Pustaka, Jakarta

Kunarjo. 2003. Perencanaan dan Pengendalian Program pembangunan. UI Press: Jakarta

Kuncoro, Mudrajad, 2003, Ekonomi Pembangunan: Teori, Masalah dan Kebijakan, Edisi Ketiga, AMP YKPN, Yogyakarta

Mulyadi Subri. 2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia. PT RadjaGrafindo Persada. Jakarta

Nanga, Muana, 2001. Makro Ekonomi: Teori, Masalah dan Kebijakan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta

Payaman J. Simanjuntak. 2001. Pengantar Sumber Daya Manusia. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta

Samuelson, Paul A. dan William D. Nordhaus. 2004. Ilmu Makro Ekonomi. Edisi Ketujuhbelas. PT Media Global Edukasi-Erlangga. Jakarta

Sayogyo. 1977. Pembinaan dan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Di Jawa Barat. Diakses Tanggal 5 Juni 2016

Sadono Sukirno. 2006. Pengantar Teori Ekonomi Mikro, Edisi Ke-2, Raja Grafindo Persada. Jakarta

Sadono Sukirno. 2011. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan Dasar Kebijaksanaan. Jakarta

Sadono Sukirno. 2005. Mikro Ekonomi. Teori Pengantar. Raja Grafindo Persada, Jakarta

Sumodiningrat, G. 1999. Kemiskinan: Teori, Fakta Dan Kebijakan. IMPAC Jakarta

Suparlan, Parsudi, 1984. Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Sinar Harapan Obor Supriatna, Tjahya.1997. Birokrasi pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan.

Bandung : Humaniora Utama Press

Tulus H. Tambunan. 2001. Perekonomian Indonesia. Jakarta : Ghalia Indonesia Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith, 2006, Ekonomi Pembangunan, Edisi

Ke-sembilan, Penerbit PT Erlangga, Jakarta

Todaro, Michael P. 2003. Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga. Alih Bahasa: Drs. Haris Munandar, M.A. Jakarta: Penerbit Erlangga

Widarjono, Agus, 2007, Ekonometrika: Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan Bisnis. Penerbit Ekonisia Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta

Wirakartakusuma M. Djuhari. 1999. Bayang-Bayang Ekonomi Klasik.Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

(17)

17

Sumber On Line:

BPS. 2015. Determinan Inflasi di Jawa Barat, Laju Pertumbuhan Ekonomi, dan Tingkat Kemiskinan Kota Tasikmalaya. Tersedia: https://tasikmalayakota.bps.go.id/Subjek/view/id/23#subjekViewTab1 dan https://tasikmalayakota.bps.go.id/LinkTabelStatis/view/id/42 [akses 20 Juni 2016]

BPS. 2012. Penduduk Indonesia menurut Provinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010. Berita (on line). Tersedia: https://www.bps.go.id/ linkTabelStatis/view/id/1267 [akses 20 Juni 2016]

BPS. 2016. Kota Tasikmalaya dalam Angka 2015. Badan Pusat Statistik Kota Tasikmalaya

BPS. 2012. Jawa Barat Dalam Angka/ Jawa Barat in Figures 2011. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat

Pemkot Tasikmalaya. 2009. Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Tasikmalaya Tahun 2005-2025 tanggal 13 Oktober 2008. Tersedia: http://www.bphn.go.id/data/documents/08pdkotatasikmalaya009.pdf [akses 20 Juni 2016]

Pusdalisbang Provinsi Jabar. 2014. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Kota Tasikmalaya 2009-2013. Tersedia: http://regionalinvestment.bkpm.

go.id/newsipid/demografipendudukjkel.php?ia=3278&is=37 dan http:// pusdalisbang.jabarprov.go.id/pusdalisbang/data-94-Kependudukan.html [akses 20 Juni 2016]

Jurnal dan Karya Ilmiah:

Ade Fitrianingsih. 2015. Pengaruh Perdagangan Internasional terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Skripsi Jurusan Administrasi Niaga – Politeknik Negeri Bandung. (on line). Tersedia: e-learning.polban.ac.id/ pluginfile.php/1/blog/.../295/Ade%20fitria%20Ningsih.pdf [akses 20 Juni 2016]

Anak Agung Istri Diah Paramita. 2014. Pengaruh Investasi dan Pengangguran terhadap Pertumbuhan Ekonomi serta Kemiskinan di Provinsi Bali Tahun 1993-2013. Skripsi E-Jurnal EP Unud, 4 [10] : 1194-1218. Jurusan Ekonomi. Universitas Udayana Bali. (on line). Tersedia: ojs.unud.ac.id/index.php/ eep/article/download/15889/11256 [akses 20 Juni 2016]

Anggun Kembar Sari. 2013. Analisis Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pertumbuhan Ekonomi, dan Upah terhadap Pengangguran Terdidik di Sumbar Tahun 2008-2010. Skripsi Jurusan Ekonomi Pembangunan, Universitas Negeri Padang Sumatera Barat [akses 20 Juni 2016]

Anis Setiyawati Hamzah. 2007. Analisis Pengaruh PAD, DAU, DAK, dan Belanja Pembangunan terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan dan Pengangguran. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia Desember 2007, Vol.4, No. 2, hal. 211-228. Skripsi Fekon UI Jakarta. (on line). Tersedia: http://jaki.ui.ac.id/index.php/home/article/viewFile/244/219 [akses 20 Juni 2016]

(18)

18

Arie Bayu Indraprasta. 2015. Pengaruh Ketimpangan Distribusi Pendapatan, Pertumbuhan Ekonomi, dan UMP terhadap Tingkat Kemiskinan di Pulau Jawa (Studi Kasus di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur). Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Tirtayasa Banten (on line). Tersedia: http://repository.untirta.ac.id/TA/KS/KS03/KS0303/2015/

KS030300035/pengaruh-ketimpangan-distribusi-pendapatan- pertumbuhan-ekonomi-dan-upah-minimum-provinsi-terhadap-tingkat- kemiskinan-di-pulau-jawa-studi-kasus-di-provinsi-banten-jawa-barat-jawa-tengah-dan-jawa-timur.html [akses 20 Juni 2016]

Barika. 2013. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Pengeluaran Pemerintah, Pengangguran, dan Inflasi Terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi se Sumatera, Jurnal Ekonomi dan Perencanaan Pembangunan (JEPP), Vol. 05. No. 01, Januari-Juni 2013. [akses 20 Juni 2016]

Candra Mustika. 2011. Pengaruh PDB dan Jumlah Penduduk terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 1990-2008. Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi (on line). Tersedia: http://online-journal.unja.ac.id/ index.php/paradigma/article/viewFile/57/46 [akses 20 Juni 2016]

Denni Sulistio Mirza. 2012. Pengaruh Kemiskinan, Pertumbuhan Ekonomi, dan Belanja Modal terhadap IPM di Jawa Tengah Tahun 2006-2009. Economics Development Analysis Journal 1 (1) (2012). Skripsi Jurusan Ekonomi Pembangunan, Universitas Negeri Semarang (on line). Tersedia: http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/edaj [akses 20 Juni 2016]

Endah Susilowati. 2015. Pengaruh Tingkat Inflasi, Tingkat Penangguran Terbuka, Pertumbuhan Ekonomi, PAD, dan Belanja Modal terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 2007-2013. Skripsi Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (on line). Tersedia: https://eprints.uns.ac.id/21357/1/F0111028_pendahuluan.pdf [akses 20 Juni 2016]

Isti Qimariyah. 2011. Pengaruh Tingkat Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Tingkat Pengangguran di Jawa Timur. Jurnal Skripsi Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fekon. Unesa Surabaya (on line). Tersedia: ejournal.unesa.ac.id/article/5991/53/article.pdf[akses 20 Juni 2016]

Kumalasari, Merna. 2011. Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Angka Harapan Hidup, Angka Melek Huruf, Rata-Rata Lama Sekolah, Pengeluaran per Kapita, dan Jumlah Penduduk Terhadap Tingkat Kemiskinan di Jawa Tengah. Jurnal-Skripsi Undip Semarang [akses 20 Juni 2016]

Liyasmi Ika Harjana. 2015. Analisis Pengaruh Jumlah Penduduk, Tingkat Pengangguran Terbuka, dan Belanja Langsung terhadap Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur. Skripsi Jurusan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unibraw Malang [akses 20 Juni 2016]

Lupi Riyani. 2014. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 1991-2011. Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Surakarta (on line). Tersedia: http://eprints.ums.ac.id/ 30660/18/NASKAH_PUBLIKASI.pdf [akses 20 Juni 2016]

(19)

19

Moch. Heru Anggoro. 2015. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Pertumbuhan Angkatan Kerja terhadap Tingkat Pengangguran di Kota Surabaya Tahun +2004-2013. Jurnal Volume 3 Nomor 3 Tahun 2015. Skripsi Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya (on line). Tersedia: ejournal.unesa.ac.id/article/16292/53/article.pdf [akses 20 Juni 2016]

Mulyati, Sri. Analisis Hubungan Inflasi dan Pengangguran di Indonesia Periode 1985-2008: Pendekatan Kurva Phillips. Skripsi Fakultas Ekonomi Institut Pertanian Bogor (on line). Tersedia: http://repository.ipb.ac.id/ handle/123456789/14413 [akses 7 Agustus 2016]

Nova Nugraha Putra. 2015. Angka Kemiskinan Kota Tasikmalaya Tertinggi di Jawa Barat. Berita (on line). Tersedia: http://rri.co.id/post/berita/115102/ daerah/angka_kemiskinan_kota_tasikmalayatertinggi_di_jawa_barat.html) [akses 20 Juni 2016]

Okta Ryan Pranata Yudha. 2013. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Upah Minimum Tingkat Pengangguran Terbuka, dan Inflasi Terhadap Kemiskinan di Indonesia Tahun 2009-2011. Skripsi Jurusan Ekonomi Pembangunan, Universitas Negeri Semarang (on line). Tersedia: http://lib.unnes.ac.id/17313/ 1/7111409012.pdf [akses 20 Juni 2016] Priyo Adi Nugroho. 2015. Pengaruh PDRB, Tingkat Pendidikan, dan

Pengangguran terhadap Kemiskinan di Kota Yogyakarta Tahun 1999-2013. Skripsi. Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta [akses 20 Juni 2016]

Radityo Yudi Wibisono. 2015. Analisis Pengaruh PDRB, Pengangguran, dan Pendidikan terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2008-2013. Skripsi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro, Semarang [akses 20 Juni 2016]

Ravi D.W. 2010. Analisis Pengaruh Pdrb, Pendidikan dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008. Kumpulan Skripsi UNDIP: Semarang [akses 20 Juni 2016]

Siti Amalia. 2014. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi terhadap Pengangguran Terbuka dan Kemiskinan di Kota Samarinda. Jurnal Ekonomika-Bisnis Vol. 5 No.2 Bulan Juli Tahun 2014. Hal 173-182. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda Kalimantan Timur (on line). Tersedia: http://download.portalgaruda.org/ article.php?article=284897&val=263&title=PENGARUH%20PERTUMB UHAN%20EKONOMI%20DAN%20%20INFLASI%20TERHADAP%20 PENGANGGURAN%20TERBUKA%20DAN%20KEMISKINAN%20DI %20KOTA%20SAMARINDA [akses 20 Juni 2016]

Siti Walida Mustamin. 2015. Pengaruh Variabel Ekonomi Makro terhadap Kemiskinan di Kota Makassar Sulawesi Selatan. Jurnal Analisis, Desember 2015, Vol. 4 No. 2 : 165 – 173. Skripsi Jurusan Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Fakultas Ekonomi,Universitas

Hasanuddin Makassar (on line). Tersedia:

jttp://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/7ad3fc1f7f47ceafce1247b5fd64 fd6a.pdf [akses 20 Juni 2016]

(20)

20

Tegar Rizki. 2013. Pengaruh Jumlah Penduduk, Tingkat Pengangguran, dan Tingkat Pendidikan terhadap Kemiskinan. Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. (on line)

http://eprints.upnjatim.ac.id/cgi/search/simple?q=Tegar+Rizki&_action_se arch=Search&_action_search=Search&_order=bytitle&basic_srchtype=A LL&_satisfyall=ALL[akses 20 Juni 2016]

Van Indra W. 2013. Analisis Pengaruh Pdrb, Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005-2010. Kumpulan Skripsi UNIBRAW: Malang [akses 20 Juni 2016]

Widya Meiga Aningtyas. 2015. Analisis Pengaruh Pengangguran, Kemiskinan dan Fasilitas Kesehatan terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia di Kabupaten Jember Tahun 2004-2013. Jurnal Artikel Ilmiah Mahasiswa 2015. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Jember (on line). Tersedia: http://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/64291/WIDYA% 20MEIGA%20ANINGTYAS.pdf?sequence=1[akses 20 Juni 2016]

Yarlina Yacoub. 2012. Pengaruh Tingkat Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal EKSOS Volume 8, Nomor 3, Oktober 2012 hal 176 – 185. Skripsi Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak (on line). Tersedia: http://riset.polnep.ac.id/bo/upload/penelitian/penerbitan_jurnal/ 06-eksos%204%20yarlina%20okt12.pdf [akses 20 Juni 2016]

Figur

Memperbarui...