• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BUPATI GARUT

PROVINSI JAWA BARAT

PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 515 TAHUN 2015

TENTANG

PEDOMAN PENGELOLAAN GEDUNG DAKWAH KABUPATEN GARUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI GARUT,

Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten Garut memiliki Gedung Dakwah Kabupaten Garut sebagai aset yang dimanfaatkan untuk meningkatkan syiar Islam dan pengembangan Al-Qur’an, yang diarahkan untuk membangun masyarakat Garut yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

b. bahwa dalam rangka peningkatan fungsi serta akuntabilitas pengelolaan keuangan dan penggunaan aset Gedung Dakwah Kabupaten Garut, perlu diatur mengenai pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Pedoman Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Provinsi Jawa Barat (Berita Negara Tahun 1950) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1968 tentang Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang dengan Mengubah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Provinsi Jawa Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1968 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2851); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan

Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan

Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);

5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494);

(2)

6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5879);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5533);

11. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5334); 12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang

Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);

13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah;

14. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 14 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 27); 15. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 23 Tahun 2008

tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 38) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 9 Tahun 2014 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 23 Tahun 2008 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Daerah Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2014 Nomor 9);

(3)

16. Peraturan Bupati Garut Nomor 199 Tahun 2012 tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Daerah dan Unit Pelaksana Teknis pada Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Garut (Berita Daerah Kabupaten Garut Tahun 2012 Nomor 28) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Bupati Garut Nomor 415 Tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Bupati Garut Nomor 199 Tahun 2012 tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Daerah dan Unit Pelaksana Teknis pada Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Garut (Berita Daerah Kabupaten Garut Tahun 2015 Nomor 19);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN GEDUNG DAKWAH KABUPATEN GARUT.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kabupaten Garut.

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

3. Bupati adalah Bupati Garut.

4. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Garut.

5. Unit Pelaksana Teknis Dinas Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut yang selanjutnya disebut UPTD Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut adalah Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kabupaten Garut yang memiliki tugas pokok dan fungsi dalam mengelola barang milik daerah berupa Gedung Dakwah Kabupaten Garut.

6. Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut yang selanjutnya disebut Kepala UPTD Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut adalah Kepala UPTD yang bertanggungjawab dalam pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut.

7. Gedung Dakwah Kabupaten Garut adalah barang milik daerah yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Garut yang dijadikan sentral pemrograman, pembinaan dan pengembangan syiar Islam di Kabupaten Garut.

8. Pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik daerah yang tidak digunakan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah dan/atau optimalisasi barang milik daerah dengan tidak mengubah status kepemilikan.

9. Sewa adalah pemanfaatan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima imbalan uang tunai.

10. Pengelola Barang adalah pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab menetapkan kebijakan dan pedoman serta melakukan pengelolaan barang milik daerah.

11. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang.

(4)

12. Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik daerah.

13. Kuasa Pengguna Barang adalah kepala satuan kerja atau pejabat yang ditunjuk oleh Pengguna Barang untuk menggunakan barang yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya.

BAB II

RUANG LINGKUP PENGELOLAAN DAN PENGGUNAAN GEDUNG Bagian Kesatu

Ruang Lingkup Pengelolaan Pasal 2

Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut meliputi kegiatan penggunaan, pemanfaatan serta pengamanan dan pemeliharaan.

Pasal 3

Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, dilakukan terhadap bangunan:

a. masjid;

b. gedung serbaguna; c. gedung perpustakaan;

d. gedung penunjang kegiatan keagamaan; e. gedung sekretariat;

f. gedung seminar serta pendidikan dan pelatihan; g. gedung asrama;

h. gedung manasik haji; i. lahan/area parkir; j. studio penyiaran; k. souvenir shop; dan l. klinik kesehatan.

Bagian Kedua Penggunaan Gedung

Pasal 4

(1) Masjid sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a digunakan untuk kegiatan syiar Islam maupun kegiatan keagamaan.

(2) Gedung serbaguna sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b digunakan untuk kegiatan yang bersifat umum, seperti seminar, lokakarya, pertemuan/rapat, acara seremonial atau kegiatan keagamaan.

(3) Gedung perpustakaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c digunakan sebagai tempat menyimpan koleksi karya tulis, karya cetak dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian informasi dan rekreasi para pemustaka.

(5)

(4) Gedung penunjang kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf d digunakan sebagai tempat Pusat Dakwah Islam, Pusat Fasilitasi Perhajian dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an.

(5) Gedung sekretariat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf e digunakan untuk pelaksanaan tugas pokok dan fungsi UPTD Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut.

(6) Gedung seminar serta pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf f digunakan untuk kegiatan seminar atau pendidikan dan pelatihan baik yang bersifat rutin maupun kegiatan seminar atau pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh SKPD atau pihak ketiga selaku penyelenggara kegiatan keagamaan maupun kegiatan lainnya.

(7) Gedung asrama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf g digunakan untuk penunjang kegiatan keagamaan, pendidikan dan pelatihan oleh SKPD atau pihak ketiga selaku penyelenggara kegiatan keagamaan maupun kegiatan lainnya.

(8) Gedung manasik haji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf h digunakan untuk latihan para calon jamaah haji tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji yang akan dilaksanakan misalnya rukun haji, persyaratan, wajib, sunah, maupun hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama pelaksanaan ibadah haji, praktik tawaf, sa’i, wukuf, lempar jumrah, dan prosesi ibadah lainnya dengan kondisi yang dibuat mirip dengan keadaan di tanah suci.

(9) Lahan parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf i digunakan sebagai sarana parkir kendaraan bermotor dan dapat digunakan untuk pelaksanaan kegiatan pameran dan bazar.

(10) Studio penyiaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf j digunakan untuk penyiaran informasi yang berhubungan dengan syiar Islam atau kegiatan keagamaan.

(11) Souvenir Shop sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf k digunakan untuk promosi souvenir atau cinderamata yang berhubungan dengan keagamaan.

(12) Klinik kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf l digunakan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan calon jamaah haji.

BAB III PEMANFAATAN

Bagian Kesatu Bentuk Pemanfaatan

Pasal 5

(1) Pemanfaatan Gedung Dakwah Kabupaten Garut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dilaksanakan dalam bentuk:

a. sewa; atau

b. pungutan retribusi atas pelayanan tempat khusus parkir.

(2) Sewa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan terhadap: a. gedung serbaguna;

b. gedung seminar serta gedung pendidikan dan pelatihan; c. gedung asrama; dan

d. lahan parkir untuk pelaksanaan kegiatan pameran dan bazar.

(3) Sewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh Pengguna Barang setelah mendapat persetujuan Pengelola Barang.

(6)

(4) Pelayanan tempat khusus parkir sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf b dilaksanakan terhadap lahan parkir untuk kendaraan bermotor.

Pasal 6

(1) Sewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) dikenakan untuk 1 (satu) kali penyelenggaraan kegiatan yang bersifat umum.

(2) Sewa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi kegiatan keagamaan. (3) Sewa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan tarif sewa yang besarannya

ditetapkan oleh Bupati.

Pasal 7

(1) Pelayanan tempat khusus parkir sebagaimana dimaksud Pasal 5 ayat (1) huruf b dikenakan kepada orang pribadi yang menggunakan/menikmati pelayanan jasa parkir.

(2) Pelayanan tempat khusus parkir sebagaimana dimaksud ayat (1) dikenakan retribusi sesuai dengan tarif retribusi tempat khusus parkir yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Bagian Kedua Tata Cara Pemanfaatan

Pasal 8

(1) Pemanfaatan sebagian Gedung Dakwah Kabupaten Garut melalui sewa sebagaimana dimaksud Pasal 5 ayat (1) huruf a dan ayat (2) dilaksanakan melalui mekanisme sebagai berikut:

a. Kepala SKPD, orang pribadi atau pihak ketiga selaku penyelenggara kegiatan mengajukan permohonan penggunaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut kepada Pengguna Barang paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal pelaksanaan kegiatan;

b. berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada huruf a, Pengguna Barang meneruskan permohonan tersebut kepada Kepala UPTD Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut selaku Kuasa Pengguna Barang;

c. Kepala UPTD Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut melakukan pengkajian terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada huruf a, untuk mengetahui kesesuaian kegiatan dan jadwal pelaksanaan kegiatan;

d. apabila permohonan sebagaimana dimaksud pada huruf a memiliki kesesuaian kegiatan dengan fungsi gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan tanggal yang dimohonkan untuk pelaksanaan kegiatan belum digunakan untuk pelaksanaan kegiatan yang lain, Kepala UPTD Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut memberikan rekomendasi persetujuan penggunaan kepada Pengguna Barang;

e. berdasarkan rekomendasi Kepala UPTD Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut sebagaimana dimaksud pada huruf d, Pengguna Barang menyampaikan permohonan persetujuan penggunaan Gedung Dakwah kepada Pengelola Barang;

f. Pengelola Barang memberikan persetujuan penggunaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut;

g. setelah mendapat persetujuan dari Pengelola Barang sebagaimana dimaksud pada huruf f, Pengguna Barang mengeluarkan izin penggunaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut.

(7)

(2) Izin penggunaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g hanya berlaku untuk 1 (satu) kali penyelenggaraan kegiatan.

(3) Kepala SKPD, orang pribadi atau pihak ketiga selaku penyelenggara kegiatan yang telah memperoleh izin penggunaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut, wajib

membayar sewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 yang dibayarkan 2 (dua) hari sebelum tanggal pelaksanaan kegiatan.

Pasal 9

(1) Pemanfaatan lahan parkir yang digunakan untuk pelayanan tempat khusus parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b dikelola oleh UPTD Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut.

(2) Setiap orang pribadi yang mendapatkan pelayanan tempat khusus parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan retribusi pelayanan tempat khusus parkir.

(3) Pemungutan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh petugas pemungut retribusi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB IV PENDAPATAN

Pasal 10

(1) Hasil sewa atas pemakaian barang milik daerah dan pungutan retribusi untuk

pelayanan tempat khusus parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 merupakan penerimaan daerah.

(2) Penerimaan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disetorkan ke Kas Daerah melalui Bendahara Penerimaan.

BAB V

PEMELIHARAAN DAN PENGAMANAN Bagian Kesatu

Pemeliharaan Pasal 11

(1) Pemeliharaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut dapat dilaksanakan oleh UPTD Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut atau pihak ketiga yang memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2) Mekanisme penunjukan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah.

Bagian Kedua Pengamanan

Pasal 12

(1) Pengamanan Gedung Dakwah Kabupaten Garut terdiri atas pengamanan administratif dan fisik.

(2) Pengamanan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengamanan dokumen pengelolaan serta dokumen pelaksanaan program dan kegiatan UPTD Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut.

(8)

(3) Pengamanan fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengamanan infrastruktur Gedung Dakwah Kabupaten Garut.

Pasal 13

(1) Pengamanan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dilaksanakan oleh UPTD Pengelolaan Gedung Dakwah Kabupaten Garut.

(2) Pengamanan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) dapat dilakukan oleh pihak ketiga sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB VI

KETENTUAN PENUTUP Pasal 14

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Garut.

Ditetapkan di Garut pada tanggal 24 - 6 - 2015 B U P A T I G A R U T, t t dt t d RUDY GUNAWAN Diundangkan di Garut pada tanggal 24 - 6 - 2015

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN GARUT, T t t d

I M A N A L I R A H M A N BERITA DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2015 NOMOR 24

(9)
(10)

TANGGAL

TENTANGPEMBENTUKAN BADAN PENGELOLA ISLAMIC CENTRE KABUPATEN GARUT

BUPATI GARUT,

RUDY GUNAWAN

PEMBINA

PENGARAH KEPALA BADAN

BIDANG

PUSDAI PUSTAJI BIDANG BIDANG LPTQ

PELAKSANA TEKNIS PELAKSANA TEKNIS PELAKSANA TEKNIS SEKRETARIAT SUBBAGIAN KEPEGAWAIAN DAN UMUM SUBBAGIAN PERENCANAAN DAN PROGRAM SUBBAGIAN KEUANGAN

(11)
(12)
(13)

LAMPIRAN II PERATURAN BUPATI NOMOR :

TANGGAL :

TENTANG : PEMBENTUKAN BADAN PENGELOLA ISLAMIC CENTRE KABUPATEN GARUT

SUSUNAN PERSONALIA PENGURUS

BADAN PENGELOLA DAKWAH KABUPATEN GARUT

Permbina : a. Bupati Garut

b. Wakil Bupati Garut

Pengarah : Sekretaris Daerah Kabupaten Garut

Kepala Badan : Asisten Perekonomian Setda Kabupaten Garut Sekretaris : Kepala Bagian Adm. Kesra Setda Kabupaten Garut Kepala Bidang Pusdai : Kepala Bidang Aset pada DPPKA Kabupaten Garut Kepala Bidang Pustaji : Kepala Kementerian Agama Kabupaten Garut Kepala Bidang LPTQ : Ketua Harian LPTQ Kabupaten Garut

BUPATI GARUT,

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, kinerja dinas juga dapat diketahui dari akuntabilitas organisasi, yaitu pertanggungjawaban anggaran yang digunakan berdasarkan alokasi dana yang diberikan oleh pemerintah

Pengambilan anakan dilakukan dari kebun masyarakat karena rumpun sagu milik masyarakat telah beberapa kali dipanen, sedangkan rumpun sagu di PT National Sago Prima baru sebagian yang

Pasien bisa tidak mau makan karena ingin mengurangi gejala yang terjadi selain itu juga mungkin pasien dengan penyakit CD dapat ditemukan massa pada kuadran perut kanan bawah yang

Judul yang penulis ajukan adalah “Implementasi Zero Burning policy sebagai upaya konservasi kebakaran hutan dan lahan di kalimantan tengah (studi khasus Kabupaten

Dalam hal LPK belum ada yang diakreditasi oleh KAN untuk melakukan kegiatan sertifikasi dengan ruang lingkup produk Pupuk Urea Amonium Fosfat, BSN dapat menunjuk LPK

diri yang akan membantu anak didik dalam memilah pengaruh yang baik dan yang buruk' pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Negara Indonesia memiliki tradisi

Menurut Sugiyono (2009:148), pengertian instrumen adalah ”Alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati”. Berdasarkan pengertian di atas,

Deskripsi mata diklat tersebut adalah membekali peserta dengan kemampuan mengadopsi dan mengadaptasi keunggulan organisasi yang memiliki best practice dalam pengelolaan