LEMBAGA KONSERVASI SATWA DALAM PERSPEKTIF
PERDAGANGAN SATWA ILEGAL
1Oleh :
I Gusti Ayu Pradnya Swari Dewi2
Abstract
Indonesia is a country that is very rich its animal diversity, but is also know as a countrythat has a long list of endangered wildlife. The destruction of forests, the transfer function of over-harvesting and the destruction of their habitat is the main factor that threatens the extinction of wildlife. Forests as house a wide variety of wildlife is no longer able to protect the exixtence of wildlife due to habitat destruction. Various rare species endemic in Indonesia such as Sumateran tigers, one-horned rhino, the Javan hawk eagle, dragons, birds of paradise and other animals gravely threatened. Illegal wildlife trade proses a serious threat to the preservation of the wildlife. The wildlife illegally traded most are cought from the wild and not of capativity. By law the government efforts to protect endangered species from extinction is done with the issuance of Law No. 5 of 1990 on Conservation of Natural Resources and ecosystems followedby the enactment of Minister of Forestry Number : P.53/Menhut-II/2006 on Conservation. Public education to raise public awareness of the importance of wildlife conservation play an important role in wildlife conservation. Institutions ex-situ conservation becomes a toggle while during their forests in the rescue effort should be able to give life maximum for wildlife with regard to ethics and the rules of animal welfare so that the function and purpose of conservation agencies as a place of education, research and development of science can be fixed accomplished. Keywords : Illegal Wildlife Trade, Conservation, Wildlife
Abstrak
Indonesa merupakan negara yang sangat kaya dengan keanekaragaman satwanya, namun dkenal juga sebaga negara yang memlk daftar panjang tentang satwa lar yang terancam punah. Perusakan hutan, pengalhan fungs hutan yang berlebhan serta rusaknya habtat mereka merupakan faktor utama yang mengancam punahnya satwa lar tersebut. Hutan sebaga rumah berbaga macam satwa lar tdak lag mampu melndung keberadaan satwa akbat perusakan habtatnya. Berbaga satwa endemk yang langka d Indonesa sepert harmau Sumatera, badak bercula satu, elang jawa, komodo, burung cendrawash dan satwa-satwa lannya keberadaannya terancam punah. Secara hukum upaya pemerntah dalam melndung satwa langka dar ancaman kepunahan dlakukan dengan dkeluarkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservas Sumber Daya Alam Hayat dan Ekosstemnya selanjutnya dkut
1 Karya Ilmah Mahasswa pada Program Stud Magster (S2) Ilmu Hukum Program Pascasarjana Unverstas Udayana, Mengucapkan Termakash kepada Dr. Putu Tun Cakabawa Landra, SH.,M. Hum dan Dr. I Ketut Westra, SH.,MH selaku Pembmbng Tess
2 Mahasswa Magster Hukum Unverstas Udayana, Denpasar, Bal. e-mal : pradnya_ndy@yahoo. co.d
dengan dtetapkannya Peraturan Mentr Kehutanan Nomor : P.53/Menhut-II/2006 tentang Lembaga Konservas. Edukas kepada masyarakat untuk menngkatkan kesadaran publk akan pentngnya pelestaran satwa lar memankan peranan pentng dalam pelestaran satwa lar.
Lembaga konservas ex-situ menjad tempat tggal sementara selama hutan mereka dalam upaya penyelamatan harus mampu memberkan kehdupan yang maksmal bag satwa lar tersebut dengan tetap memperhatkan etka dan kadah kesejahteraan satwa sehngga fungs dan tujuan lembaga konservas sebaga tempat penddkan, peneltan dan pengembangan lmu pengetahuan dapat tetap terlaksana.
Keywords: Perdagangan Satwa Ilegal, Lembaga Konservas, Satwa Lar
menjad ancaman yang sangat serus bag kelestaran satwa lar, termasuk satwa langka. Perburuan satwa lar yang terus berlangsung serng dengan pembukaan hutan alam membuat habtat satwa semakn menyusut. Semakn menngkatnya jumlah penduduk dan pembangunan ekonom juga membawa akbat yang serus terhadap pencutan habtat satwa. Keadaan n telah membawa konsekuens buruk terhadap pertum-buhan populas satwa, terutama karena mereka terkurung dalam habtatnya yang menjad sempt. Pergerakannya akan berbenturan dengan kegatan manusa, akbatnya banyak terjad
konflik dengan manusia.
Konflik yang sangat nyata terjadi
antara manusa dengan harmau, gajah dan orangutan. D Pulau Sumatera,
konflik gajah ataupun harimau, semakin
menngkat dan telah menmbulkan banyak korban bak manusa yang tewas maupun harmau dan gajah yang terbunuh. Demkan juga d Pulau
Kalimantan konflik antara manusia
dengan orangutan sudah mula
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Indonesa sebaga negara
kepulauan yang terletak dantara dua benua memlk keanekaragaman hayat dengan tngkat kekhasan yang tngg, membuat Indonesa memlk peran yang sangat pentng dalam perdagangan satwa duna. Sebaga Negara yang menympan banyak keanekaragaman jens satwa lar dan merupakan salah satu Negara yang memlk tngkat keterancaman terhadap kepunahan satwa lar, konds n tentu sangat mengkhawatrkan secara nasonal maupun global. Hal n dapat dlhat dar sultnya untuk melhat beberapa jens satwa lar d habtat aslnya, sepert badak bercula satu, burung cendrawash, anoa, gajah Sumatera, harmau Sumatera dan mash banyak lag satwa-satwa lannya yang terancam punah.
Ancaman penurunan populas dan kepunahan satwa yang dlndung terus berlangsung. Perubahan area hutan menjad perkebunan sawt, pertambangan dan tanaman ndustry
terjad. Pembabatan, pembakaran, dan kebakaran hutan telah memusnahkan speses-speses satwa serta merusak unsur hara tanah. Aktvtas lan berupa penyemprotan hama dan obat pembasm pestsda dan sejensnya yang sukar terura akan merembes ke dalam ranta-ranta makanan, yang selanjutnya akan berpengaruh kepada mahluk-mahluk lan.
Setelah masalah habtat yang semakn menyusut secara kualtas dan kuantas, perdagangan satwa justru menjad ancaman serus. Tnggnya tngkat perburuan dan perdagangan lar yang dsebabkan karena tnggnya permntaan pasar terhadap jens-jens satwa lar, dtambah penawaran harga yang tngg untuk jens-jens satwa yang sangat langka, semakn mengancam keberadaan satwa-satwa lar tersebut. Satwa yang merupakan hasl tangkapan dar alam dperdagangkan secara bebas. Sebagan masyarakat gemar memperjualbelkan satwa dlndung dalam keadaan hdup untuk dpelhara, untuk dmanfaatkan organ tubuh satwa sebaga bahan obat tradsonal, maupun dalam bentuk hewan yang sudah dawetkan.
Perdagangan legal satwa
lar berlangsung terus-menerus
dan berkembang dengan sangat pesat. Perdagangan n bersfat sangat kompleks dan melbatkan banyak phak mula dar pemburu, eksportr bahkan tdak sedkt kasus perdagangan legal satwa lar yang melbatkan oknum petugas serta aparat keamanan. Perdagangan legal
juga merupakan kejahatan yang telah terorgansr dengan rap, memlk jarngan yang kuat serta dengan modus penyelundupan yang terus berkembang.
Satwa-satwa lar yang basanya dperjualbelkan n kebanyakan adalah satwa langka dar jens burung-burungan (aves) sepertu kakatua
raja, kakatua jambul kunng, gelatk, burung bayan maupun jens mamala atau prmata sepert monyet htam atau jens-jens lannya yang kebanyakan dpelhara manusa sebaga unsur
kesenangan saja. Satwa-satwa
tersebut dburu dar alam kemudan
dselundupkan untuk kemudan
dperdagangkan dberbaga kota besar bahkan hngga mancanegara.
Indonesa termasuk Negara yang memberkan kontrbus cukup besar dalam perdagangan organ satwa lar dperuntukkan untuk memasok perdagangan obat tradsonal, makanan khas, dan aksesors (termasuk bulu/ kult bnatang). Bahkan perkembangan terbaru dar perdagangan satwa langka n adalah dlakukan denggan menggunakan meda jejarng sosal nternet. Perdagangan satwa langka yang selama n berlangsung tertutup dan legal, kn menjad lebh mudah dan terbuka. Melalu jejarng sosal, pemlk satwa langka justru dengan terang-terangan mempromoskannya dengan memasang foto satwa yang dperdagangkannya.
Satwa lar yang dperdagangkan tersebut sebagan besar merupakan hasl tangkapan dar alam bukan dar
penangkaran. Penangkapan yang tdak ramah lngkungan terhadap satwa lar menmbulkan kerusakan ekosstem yang apabla terus dbarkan, maka dkhawatrkan suatu saat akan terjad
kepunahan yang menyebabkan
generas mendatang hanya akan bsa mengenal satwa-satwa tersebut melalu foto dokumentas saja.
Selan ancaman yang dakbatkan oleh manusa, ancaman kepunahan keanekaragaman hayat terutama satwa lar juga sebaga akbat alamah antara lan perubahan klm global dan penyakt. Mengngat sfatnya yang tdak dapat dgantkan, maka upaya konservas menjad kewajban mutlak tap generas dan tanggung jawab pemerntah serta masyarakat.
1.2. Perumusan Masalah
1. Bagamana peranan lembaga
konservas satwa dalam menjaga kelestaran satwa lar yang dlndung ?
2. Bagamana upaya perlndungan
terhadap perdagangan legal satwa lar yang dlndung ?
1.3. Tujuan Penelitian
Lembaga konservas sebaga
tempat pengembangbakan dan
penyelamatan satwa merupakan tempat tnggal sementara satwa dar kepunahan. Dalam hal n yang menjad obyek yang terkat mengena pelestaran satwa lar yang dlndung dar perdagangan legal.
Dsampng tujuan umum tersebut
diatas, penelitian ini secara spesifik
dharapkan mampu :
1. Untuk mengetahu peranan
lembaga konservas satwa dalam menjaga kelestaran satwa lar yang dlndung.
2. Untuk mengetahu upaya
perlndungan terhadap per-dagangan legal satwa lar yang dlndung.
II. METODE PENELITIAN
Peneltan n menggunakan metode peneltan hukum emprs, yatu cara atau prosedur yang dgunakan untuk memecahkan masalah peneltan dengan menelt data skunder terlebh dahulu dan kemudan dlanjutkan dengan menelt data prmer yang ada d lapangan.
Sfat peneltan dalam karya lmah n adalah deskrptf, yatu bertujuan menggambarkan secara tepat sfat-sfat suatu ndvdu atau kelompok tertentu, keadaan, gejala, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala, atau untuk menentukan ada tdaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lan dalam masyarakat.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Peranan Lembaga Konservasi
Satwa Dalam Menjaga Kelestarian Satwa Liar Yang Dilindungi
Berkurangnya luas hutan
menjad ancaman penurunan dan kepunahan satwa lar d Indonesa. Penyebab utama kepunahan satwa lar dantaranya adalah kehlangan, keruskan serta fragmentas habtat
tempat hdup, pemanfaatan secara berlebhan dan perburuan serta perdagangan legal. Satwa lar dalam Pasal 1 Ayat 7 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 adalah :
Semua bnatang yang hdup d darat, dan atau d ar, dan atau d udara yang mash mempunya sfat-sfat lar, bak yang hdup bebas maupun yang dpelhara oleh manusa.
Satwa lar dbag menjad 2 golongan yatu jens dlndung dan jens yang tdak dlndung.
Pemanfaatan satwa lar secara langsung ada beberapa macam, antara lan :
1. Perburuan tradsonal untuk
makan yang basa dlakukan oleh suku-suku pedalaman.
2. Perburuan tradsonal sepert
kult yang basanya dgunakan sebaga bahan pembuat tas, baju/ hasan lan oleh penduduk asl.
3. Mengumpulkan dan menjual
jens satwa lar
4. Menjual produk-produk dar
satwa lar, sepert : dagng, kult, rahang, cula dan gadng.
5. Berburu untuk tujuan
memperoleh penghargaan atau untuk olahraga wsatawan.
6. Melndung satwa lar d taman
nasonal sebaga atraks untuk wsatawan yang harus membayar bla akan melhat, menelt, memotret atau mendekatnya.3
3 Wranto, dkk, 2001, Berkaca dcermn Retak:
Refleksi Konservasi dan Implikasi Bagi
Pengelolaan Taman Nasonal, The Gbon Foundaton, Jakarta, hlm. 106-107.
Perdagangan satwa lar secara legal menjad ancaman serus bag kelestaran satwa lar d Indonesa. Tnggnya keuntungan yang dapat dperoleh dan keclnya resko hukum yang harus dhadap oleh pelaku perdagangan legat tersebut membuat perdagangan satwa legal menjad daya tark besar bag para pelaku untuk melakukan tndak kejahatan tersebut tanpa memperhatkan kelangsungan kelestaran satwa, bahkan mengganggu kesembangan ekosstem dan sklus ranta makanan yang ada.
Perdagangan tumbuhan dan satwa lar d Indonesa sebaga bentuk pemanfaatan telah datur dalam Peraturan Pemerntah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jens Tumbuhan dan Satwa Lar dan ketentuan dalam CITES. Dalam peraturan tersebut dnyatakan bahwa tumbuhan dan satwa lar yang dapat dperdagangkan adalah jens satwa lar yang tdak dlndung yang dperoleh dar hasl penangkaran maupun pengamblan atau penangkapan dar alam.
Ada beberapa hal yang melatarbelakang maraknya kejahatan terhadap satwa lar d Indonesa, dantaranya :
1. Adanya permntaan pasar
2. Nla ekonom yang tngg
3. Konds sosal ekonom
masyarakat
4. Penegakan hukum lemah
5. Isu belum menjad permasalahan
Memelhara hewan merupakan
salah satu kegemaran/hobby
manusa. Namun demkan sebagan orang memlk kegemaran untuk memelhara jens-jens tertentu sepert memelhara burung kakak tua, prmata dan sebaganya. Semakn langka satwa tersebut maka kepuasan seseorang akan kegenarannya tersebut semakn tngg. D duna maya banyak sekal forum atau kumpulan orang-orang yang memlk kegemaran yang sama yatu memelhara satwa lar, sepert forum pencnta burung paruh bengkok, elang, burung hantu, dan sebaganya. Kegemaran nlah yang kemudan memcu maraknya perdagangan dan perburuan satwa lar terutama jens-jens langka. Berkatan dengan kegemaran tersebut, sejumlah orang merasa status sosal atau gengsnya akan nak jka dapat mengkoleks jens satwa lar tersebut atau bagan tubuhnya.
Tnggnya permntaan terhadap satwa lar juga dpcu berkembangnya mtos d masyarakat jka mengkonsums bagan-bagan tertentu dar satwa lar dapat menngkatkan kekuatan, kewbawaan, dan sebaganya. Sepert msalnya dengan memlk kums harmau akan menambah kewbawaan, mengkonsums tangkur buaya akan menambah kekuatan, dan lan-lan. Mengkonsums bagan-bagan tertentu dar satwa lar juga dyakn sebaga bahan obat, terutama obat tradsonal. Banyak jens bagan tubuh satwa yang secara emprs dgunakan dan
dpercaya memlk khasat obat, msalnya empedu beruang madu yang dapat djadkan sebaga obat untuk luka akbat patah tulang, terklr dan kecelakaan rngan. Padahal beruang madu termasuk jens yang dlndung dan masuk dalam Apendks I CITES. Selan masyarakat lokal, d beberapa tempat sepert Chna bayak sekal obat-obat tradsonal yang berbahan dasar satwa dlndung, sepert tulang harmau, ssk trengglng, tanduk rusa, cula badak, dan sebaganya. Sehngga banyak kasus penyelundupan ssk trengglng maupun tulang harmau yang berasal dar Indonesa dengan tujuan Chna.
Besarnya keuntungan
nla ekonom yang dperoleh dar perdagangan legal satwa lar dan konds sosal ekonom masyarakat terutama sektar hutan menyebabkan perburuan satwa terus berlangsung. Masyarakat yang kurang
mengndahkan asas konservas,
mengambl satwa-satwa lar tersebut dar alam tanpa membuddayakan terlebh dahulu bahkan pengamblan sumberdaya alam tu tdak sebatas
kebutuhan pengobatan semata,
melankan sebaga mata pencaharan. Pemanfaatan yang berlebhan tesebut menyebabkan kehdupan satwa lar akan berada dambang kepunahan apabla usaha perlndungan dan pelestarannya tdak segera dlakukan secara maksmal. Untuk menjamn kelestaran keberadaan satwa lar, perlu dlakukan tndakan konservas berupa
pengelolaan yang berkelanjutan yang menjamn terjadnya kesembangan antara kegatan perlndungan dan pemanfaatan sumber daya alam hayat. Peranan lembaga konservas pun menjad sangat pentng. Kawasan konservas d Indonesa dtunjuk dan dtetapkan oleh pemerntah berdasarkan krera tertentu sesua
dengan peruntukannya. Aturan
tentang kawasan konservas d Indonesa dpayung oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservas Keanekaragaman Sumber Daya Alam Hayat dan Ekosstemnya dan Peraturan Menter Kehutanan No. P.53/Menhut-II/2006 tentang Lembaga Konservas, yang dalam Pasal 1 ayat 3 menyebutkan bahwa :
Lembaga Konservas adalah lembaga yang bergerak d bdang konservas tumbuhan dan atau satwa lar dluar habtatnya
(ex-situ) yang berfungs untuk pengembangbakan dan atau penyelamatan tumbuhan dan atau satwa dengan tetap menjaga kemurnan jens guna menjamn kelestaran keberadaan dan pemanfaatannya.
Oleh karena satwa lar
merupakan kekayaan alam yang perlu djaga kelestarannya, upaya konservas merupakan salah satu upaya untuk melestarkannya yang dapat dlakukan secara in-situ dan ex-situ.4 Pelestaran in-situ merupakan usaha pelestaran yang dlakukan
4 Muhamad Erwn, SH., M.Hum., 2011, Hukum
Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan Lingkungan Hidup, PT Refika
Adtama, Bandung, hlm. 149.
d habtat aslnya. Pelestaran n dtekankan agar suatu jens satwa d habtat aslnya tetap terjaga dan terpelhara yang dlakukan d tempat-tempat yang dlndung pemerntah atau yang serng dpadankan dengan
on spot. Konservas n mencakup kawasan suaka alam (Cagar Alam dan Suaka Margasatwa) dan kawasan pelestaran alam (Taman Nasonal, Taman Hutan Raya, dan Taman Wsata Alam). Contohnya : pelestaran Badaj Jawa d Taman Nasonal Ujung Kulon. Sedangkan pelestaran ex-situ
adalah kegatan konservas dluar habtat aslnya, dmana fauna tersebut dambl, dpelhara pada suatu tempat tertentu dan djaga keamanannya maupun kesesuaan ekolognya, atau yang serng dpadankan dengan out of spot.
Konservas ex-situ n dlakukan oleh lembaga konservas, sepert kebun raya, arbetrum, kebun bnatang, taman safar, dan tempat penympanan benh dan sperma satwa.5 Adapun tujuan dar perlndungan dan pelestaran n tdak hanya untuk menyelamatkan satwa dar ancaman kepunahan, akan tetap mengusahakan terjamnnya
keanekaragaman hayat dan
kesembangan unsur-unsur ekosstem yang telah mengalam gangguan akbat menngkatnya aktvtas manusa yang merambah kawasan hutan alam.
Hak dan kewajban lembaga konservas pun datur dalam Surat
5 Bambang Pamulard, 1999, Hukum Kehutanan
dan Pembangunan Bidang Kehutanan, PT
Keputusan Menter Kehutanan dan Perkebunan Nomor 479/Kpts-II/1998 tentang Lembaga Konservas Tumbuhan dan Satwa Lar, yang dalam Pasal 9 mencantumkan tentang kewajban, antara lan : membuat rencana karya pengelolaan, menyedakan sarana dan prasarana
pengelolaan, memelhara dan
menangkarkan jens tumbuhan dan satwa sesua ketentuan yang berlaku, mempekerjakan tenaga ahl sesua bdangnya, dlarang memperjual belkan satwa yang dlndung dan membuat laporan pengelolaan secara berkala termasuk mutas jens satwa.
Lembaga konservas yang mempunya fungs utama untuk
pengembangbakan dan atau
penyelamatan tumbuhan dan satwa dan fungs lannya sebaga tempat penddkan, peragaan, peneltan dan pengembangan lmu pengetahuan, sarana perlndungan dan pelestaran jens, serta sarana rekreas yang sehat, dalam pengelolaannya tetap dlakukan berdasarkan etka dan kadah kesejahteraan satwa (animal welfare).
D dalam animal welfare atau kesejahteraan satwa dkenal 5 prnsp kebebasan (five freedoms principle), melput :
1. Bebas dar rasa lapar, haus dan kekurangan gz (freedom from hunger and thirst).
2. Bebas dar rasa tdak nyaman
secara fisik dan cuaca panas
(freedom from discomfort). 3. Bebas dar rasa sakt, luka dan
penyakt (freedom from pain, injury and disease).
4. Bebas mengekspreskan prlaku
normal (freedom to express normal behavior).
5. Bebas dar rasa stress dan
tertekan (freedom from fear and distress).
Kelma prnsp tersebut tdak dapat dlhat sebaga prnsp yang terpsah-psah. Tdak terpenuhnya salah satu kebebasan akan menyebabkan terganggunya kebebasan yang lan. Lembaga konservas sebaga tempat tnggal sementara satwa lar dan tempat pengembangbakan serta penyelamatan satwa harus mampu berperan dalam menjaga kelestaran satwa lar yang dlndung dar kepunahan.
Indonesa kn menjad
sorotan duna nternasonal terkat dengan adanya kasus penangkapan penyelundupan satwa lar kakaktua jambul kunng yang dlakukan oleh petugas bea cuka d Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Tmur. Penyelundupan 21 ekor burung kakaktua jambul kunng dan burung bayan dlakukan dengan cara yang kej, yatu dengan memasukkan burung tersebut ke dalam botol mneral. Selama tahun 2015 sudah terjad 3 kasus penyelundupan kakaktua yang dlakukan dengan cara yang sama. Kakaktua jambul kunng mengalam ancaman kepunahan yang pada tahun 2007 hanya terssa 7000 d duna.
Kasus lannya adalah kasus penyelundupan 14 ekor orang utan
asal Indonesa yang drepatras dar Thaland akhrnya dpulangkan ke tanah ar. Repatras orang utan n adalah merupakan yang ketga kalnya, yatu pada tahun 2006 telah drepatras 48 orang utan dan pada tahun 2007 drepatras 4 orang utan. Kembalnya orang utan n merupakan komtmen Pemerntah Indonesa dalam memerang perdagangan satwa legal. Orang utan tersebut akan dpulangkan ke Kalmantan namun sebelumnya orang utan n akan mengalam karantna d salah satu lembaga konservas untuk memulhkan kesehatan maupun prlaku larnya. Setelah pulh, orang utan tersebut akan dlepaslarkan kembal ke habtat alamnya sesua dengan tes DNA
(Deoxyribo Nucleic Acid).
Meskpun telah dlndung d tngkat nasonal dan nternasonal, perdagangan satwa lar dan langka mash terus terjad. vons rngan yang djatuhkan ke penyelundup satwa semakn menunjukkan betapa lemahnya penegakan hukum perlndungan satwa d Indonesa. Dalam hal n, lembaga konservas dalam peranannya menjaga kelestaran satwa melakukan beberapa langkah dantaranya :
1. Membuat penangkaran bag
satwa-satwa yang dlndung.
2. Melakukan upaya
pengembang-bakan dan perkawnan
satwa-satwa langka untuk
mengembangkan populas satwa dan menghndar kepunahan satwa tersebut.
3. Melakukan penyelamatan dan
pelepaslaran satwa kealam bebas agar bsa hdup secara alamah.
4. Memberkan edukas kepada
masyarakat pentngnya kelesta-ran satwa untuk tetap hdup d habtatnya, sehngga mereka tdak lag mengusk keberadaan satwa dan menjaga satwa-satwa tersebut untuk tetap hdup d habtat aslnya.
3.2. Upaya Pencegahan Terhadap Perdagangan Satwa Ilegal
Perdagangan satwa lar legal d Indonesa telah berkembang dan member kontrbus yang sangat besar pada punahnya satwa lar yang palng berharga. Maraknya perdagangan le-gal satwa yang dlndung tdak hanya merupakan masalah pada tngkat lokal dan nasonal saja, tap bahkan sam-pa sam-pada tngkat nternasonal. Hal n dapat dlhat dar telah dtandatan-gannya Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) pada tahun 1973, yatu sebuah perjan-jan multlateral yang memberkan me-kansme nternasonal untuk mengatur perdagangan satwa lar.
Sampa saat n terdapat 180 negara yang menjad peserta CITES. Walaupun CITES bersfat mengkat se-cara hukum bag negara yang kut ser-ta dalam konvens n, mengharuskan negara yang kut serta untuk menerap-kan peraturan domestk CITES untuk memastkan bahwa CITES
dmple-mentaskan pada tngkat nasonal.
Pemerintah Indonesia meratifikasi
CITES, dengan dkeluarkannya Kepu-tusan Presden Nomor 43 Tahun 1978 yang memuat daftar jens-jens satwa dan tumbuhan lar yang termasuk dalam kategor kelangkaan. Walaupun Indonesa menyetuju CITES pada ta-hun 1978, tap undang-undang pelak-sanaan nasonal baru dlaksanakan pada tahun 1990 dengan dberlaku-kannya Undang-Undang Nomor 5 Ta-hun 1990 tentang Konservas Sumber Daya Alam Hayat dan Ekosstemnya.
CITES mengatur dan menga-was perdagangan dengan menetapkan tumbuhan dan satwa lar berdasarkan 3 (tga) kategor perlakuan perlndun-gan dar eksplotas perdaperlndun-ganperlndun-gan ya-tu Appendix I adalah daftar d dalam
CITES yang memuat jens-jens yang telah terancam punah (endangered)
sehngga perdagangan nternasonal spesmen yang berasal dar habtat alam harus dkontrol dengan ketat dan hanya dperkenankan untuk kepentn-gan non-komersal tertentu denkepentn-gan jn khusus. Appendix II adalah daftar d-dalam CITES yang memuat jens-jens yang saat n belum terancam punah, namun dapat menjad terancam punah apabla perdagangan nternasonalnya tdak dkendalkan. Appendix III adalah daftar ddalam CITES yang memuat jens-jens yang oleh suatu Negara ter-tentu pemanfaatannya dkendalkan dengan ketat dan memerlukan bantuan pengendalan nternasonal.6
6 Muhamad Erwn, SH., M.Hum., Op.Cit, hlm. 184
Majels Umum Perserkatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun telah me-nyerukan semua negara untuk menn-gkatkan upaya mengatas perburuan dan perdagangan legal satwa lar. PBB mendesak negara-negara anggot-anya untuk mengambl langkah tegas d tngkat nasonal untuk mencegah, memerang dan memberantas perda-gangan satwa llegal dar ss pasokan maupun permntaan. Dalam Pasal 21 ayat 2 huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 menyebutkan bahwa :
setap orang dlarang untuk menangkap, meluka, membu-nuh, menympan, memlk, memelhara, mengangkut, dan mempernagakan satwa yang dlndung dengan keadaan hdup.
Ketentuan n mencermnkan bahwa ketentuan hukum terkat den-gan perdaden-ganden-gan satwa lar yang dl-ndung berkut larangan dan sanks yang dkenakan kepada para pelaku-nya sebenarpelaku-nya telah dsedakan.
Upaya perlndungan terhadap satwa lar dan penegakan hukum per-buruan dan peredaran legal satwa lar perlu terus dlakukan. Pada tngkat Asa Tenggara, pemerntah juga telah melakukan kerjasama dalam
ASEAN Wildlife Enforcement Network
(ASEAN-WEN) yang dbentuk pada pertemuan Menter-Menter negara ASEAN yang bertanggungjawab dalam mplementas CITES d Bang-kok tanggal 1 Desember 2005. Tujuan pembentukan ASEAN-WEN adalah
untuk menngkatkan hubungan aparat penegak hukum antar negara ASEAN dalam memberantas perdagangan sat-wa lar.
Perdagangan jens satwa lar ha-rus dawal dengan penetapan kuota pengamblan atau penangkapan satwa lar dar alam yang merupakan batas maksmal jens dan jumlah spesmen satwa lar yang dapat dambl dar habtat alam yang ddasarkan pada prnsp kehat-hatan untuk mencegah terjadnya kerusakan atau degradas populas. Penetapan kuota pengam-blan dan penangkapan satwa lar d-lakukan oleh Drektur Jendral PHKA berdasarkan rekomendas LIPI. Pe-nyusunan kuota ddasar bahwa ket-ersedaan data potens satwa lar yang menggambarkan populas dan penyeb-aran setap jens mash sangat terbatas, sehngga membutuhkan peran LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan Perguruan Tngg untuk memberkan nformas mengena potens dan pe-nyebaran jens satwa lar yang dapat dmanfaatkan.
Perjnan dan penangkapan sat-wa lar dterbtkan oleh BKSDA (Ba-la Konservas Sumber Daya A(Ba-lam) berdasarkan kuota wlayah yang ada. Perjnan badan usaha atau perorangan yang akan melakukan peredaran satwa lar d dalam neger dterbtkan oleh kepala BKSDA dmana badan usaha atau perorangan yang memegang jn sebaga pengedar satwa dalam neger yang akan mengambl atau menangkap satwa berkewajban untuk
mempun-ya tempat dan fasltas penampungan satwa lar yang memenuh syarat yang telah dtetapkan oleh Drjen PHKA. Sedangkan peredaran satwa lar ke luar neger harus sesua jn BKSDA dan sesua dengan syarat-syarat yang dtetapkan CITES.
Pencegahan terhadap perda-gangan legal satwa lar yang dlnd-ung d Indonesa terus dlakukan. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservas Sumber Daya Alam Hayat dan Ekosstemnya den-gan ancaman denda maksmum Rp. 100.000.000,- (seratus juga rupah) dan pdana penjara 5 (lma) tahun d-anggap sudah tdak efektf dan belum memberkan vons maksmal sehngga tdak membuat pelaku menjad takut, tap justru satwa tersebut makn marak dperjual-belkan bahkan ada tempat khusus memperjual-belkan satwa yang dlndung tersebut. Lemahnya penegakan hukum dan besarnya ke-ngnan untuk memelhara dan mem-lk satwa dem kesenangan, memcu semakn maraknya kepemlkan satwa langka secara legal.
Menurut Rosen and Smth (2010) konds saat n perdagangan legal tumbuhan dan satwa lar sangat membahayakan, perlu lebh banyak sumber daya yang harus dtujukan un-tuk menyeldk dan mengatur perda-gangan legal tumbuhan dan satwa lar pada level lokal, regonal dan nterna-sonal. Pada tngkat lokal kampanye dan edukas untuk masyarakat tentang perdagangan legal dan dampaknya
dapat membantu untuk mengurang permntaan.
Penegakan hukum yang dapat dlakukan ada 2 (dua) bentuk yatu pencegahan (belum kejahatan terjad) dan pengendalan/represf (setelah ke-jahatan terjad). Dpelukan beberapa langkah agar perdagangan satwa lar tersebut bsa dselesakan, msalnya dengan melakukan montorng per-buruan dan perdagangan legal sat-wa, melakukan penngkatan kapasas aparat penegak hukum, khususnya yang terkat dengan peraturan perlnd-ungan speses dan pemahaman tentang ekolog satwa, penngkatan kerjasama antara Kementran Kehutanan dengan aparat penegak hukum dan nstans ter-kat lannya, penngter-katan kerjasama d tngkat regonal dan global, serta pem-berdayaan masyarakat d sektar hu-tan. Untuk melakukan pencegahan dan montorng pemburuan dan perdagan-gan legal, dperlukan unt patrol, ms-alnya Tger Patrol Unt, Rhno Patrol Unt, Orangutan Patrol Unt, dan lan sebaganya. Upaya dan dukungan dar pemerntah untuk melakukan pemba-haruan undang-undang dan pemberan sanks yang lebh berat kepada pelaku kejahatan terhadap satwa juga sangat dperlukan. Pemerntah ataupun apara-tur penegak hukum tdak dapat bekerja sendr dalam penanganan kasus perda-gangan satwa lar tersebut. Kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat maupun lembaga pemerntah yang berkatan dengan perlndungan satwa juga sangat dperlukan sebaga tempat
rehabltas satwa hasl operas yang dlakukan oleh pemerntah dar kasus perdagangan lar. Kesadaran masyara-kat tentang bahaya perdagangan legal satwa lar dengan tdak membel dan memelhara satwa lar akan membatu untuk memberhentkan perdagangan satwa lar tersebut.
IV. PENUTUP 4.1. Simpulan
1. Lembaga konservas satwa
mempunya peranan yang
sangat pentng untuk menjaga kelestaran satwa lar yang
dlndung sesua dengan
tujuan dan fungs Lembaga Konservas serta mencegah adanya perdagangan legal satwa yang dlndung ntuk mencegah adanya kepunahan satwa-satwa dlndung.
2. Upaya-upaya yang dlakukan
dalam mencegah perdagangan satwa yang dlndung yatu
dengan upaya preventf/
pencegahan yatu dengan cara melakukan penangkaran satwa,
pengembangbakan, serta
pelepaslaran. Sedangkan upaya
represf/pengendalan yatu
dengan melakukan penngkatan pengawasan dan penegakan sanks terhadap perdagangan legal satwa yang dlndung.
4.2. Saran
1. Pemerntah dengan
perlndungan satwa lar hendaknya memlk komtmen yang tngg dalam melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap perdagangan legal satwa lar yang dlndung bak dengan cara memformulaskan kembal sanks yang lebh tegas dan penndakan yang lebh tegas terhadap pelanggaran undang-undang perlndungan satwa untuk menghndar kepunahan satwa lar yang dlndung.
2. Lembaga konservas satwa
hendaknya lebh mengutamakan fungs perlndungan satwa dengan melakukan kerjasama dengan
organsas kemasyarakatan
atau LSM serta menngkatkan pemahaman anggota masyarakat akan pentngnya perlndungan dan pelestaran terhadap satwa lar yang dlndung.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Bambang Pamulard, 1999, Hukum
Kehutanan dan Pembangunan Bidang Kehutanan, PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Chefid Fandeli, 2009, Prinsip-Prinsip
Dasar Mengkonservasi Lanskap,
Gadjah Mada Unversty Press, Yogyakarta.
Chafid Fandeli, 2012, Bisnis
Konservasi, Pendekatan Baru dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup,
Gadjah Mada Unversty Press, Yogyakarta.
Had S. Alkondra, 2012, Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Pendekatan Ecosophy Bali Penyelamatan Bumi, Gadjah Mada Unversty Press, Yogyakarta.
HR. Mulyanto, 2008, Efek Konservasi dari Sistem SABO Untuk Pengendalian Sedimentasi Waduk, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Iskandar, 2015, Ilmu Kehutanan
Prinsip Hukum Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup Dalam Kebijakan Pengelolaan Kawasan Hutan Berkelanjutan, CV Mandar Maju, Bandung.
Much. Taufik Tri Hermawan, Lies
Rahayu Wjayant Fada,
Krstan Fajar Want, Hero Marhaento, Amala Annda,
2014, Pengelolaan Kawasan
Konservasi, Gadjah Mada Unversty Press, Yogyakarta.
Muhamad Erwn, 2011, Hukum
Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan Lingkungan Hidup, PT Refika
Adtama, Bandung.
Susan Clayton, Gene Myers, 2014,
Psikologi Konservasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Wranto, dkk, 2001, Berkaca dicermin Retak : Refleksi Konservasi dan Implikasi Bagi Pengelolaan Taman Nasional, The Gbon Foundaton, Jakarta.
Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Republk Indonesa Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservas Sumber Daya Alam Hayat dan Ekosstemnya.
Peraturan Menter Kehutanan
Republk Indonesa Nomor :
P.53/Menhut-II/2006 tentang
Lembaga Konservas.
Peraturan Pemerntah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jens Tumbuhan dan Satwa Lar