BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. infectious agent dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan (susceptible

39  Download (0)

Full text

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Vektor

Vektor adalah arthropoda yang dapat memindahkan/menularkan suatu “infectious agent” dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan (susceptible host). Vektor dapat merugikan manusia dan merusak lingkungan hidup manusia. Oleh karena itu, adanya vektor harus ditanggulangi, sekalipun demikian tidak mungkin kita membasmi vektor tersebut sampai ke akar-akarnya, melainkan kita hanya mampu berusaha mengurangi atau menurunkan populasi vektor tersebut ke tingkat tertentu yang tidak mengganggu atau membahayakan kehidupan manusia. Nyamuk merupakan salah satu jenis vektor yang dapat mengganggu kesehatan manusia (Depkes RI, 2000).

2.1.1. Vektor Nyamuk

Di dunia kesehatan kelompok nyamuk yang perlu diketahui adalah Tribus culicini dan Tribus anophelini. Tribus anophelini diantaranya yang penting adalah genus anopheles sedangkan dari Tribus culicini yang penting adalah genus aedes, culex dan mansonia.

2.1.2. Biologi dan Siklus Hidup Nyamuk

Siklus hidup nyamuk sejak telur hingga menjadi nyamuk dewasa, sama dengan serangga yang lain mengalami tingkatan (stadium) yang berbeda-beda. Dalam siklus hidup nyamuk terdapat empat stadium, yaitu : (1) Stadium dewasa, (2) telur,

(2)

(3) jentik dan (4) pupa/kepompong. Stadium dewasa sebagai nyamuk yang hidup di alam bebas, sedangkan ketiga stadium yang hidup dan berkembang di dalam air. 1. Nyamuk Dewasa

Dari kepompong akan keluar nyamuk/stadium dewasa. Berdasarkan jenis kelaminnya nyamuk dapat dibedakan atas nyamuk jantan dan nyamuk betina. Nyamuk-nyamuk yang keluar dari kepompong sebagian jadi nyamuk jantan dan sebagian lainnya betina dengan perbandingan yang kira-kira sama (1:1). Nyamuk jantan keluar lebih dahulu daripada nyamuk betina. Setelah nyamuk jantan keluar dari kepompong, maka jantan tersebut tetap tinggal di dekat sarang (breeding places). Kemudian setelah jenis yang betina keluar, maka si jantan kemudian akan mengawini betina sebelum betina tersebut mencari darah. Betina yang telah kawin akan beristirahat untuk sementara waktu (1-2 hari) kemudian baru mencari darah. Setelah perut penuh darah betina tersebut akan beristirahat lagi untuk menunggu proses pemasakan dan pertumbuhan telurnya. Selama hidupnya nyamuk betina hanya sekali kawin. Untuk pembentukan telur yang berikut, nyamuk betina cukup mencari darah untuk memenuhi kebutuhan zat putih telur yang diperlukan. Waktu yang dibutuhkan untuk menunggu proses perkembangan telurnya berbeda-beda tergantung pada beberapa faktor diantaranya yang penting adalah temperatur dan kelembaban serta species dari nyamuk.

2. Telur

Nyamuk akan meletakkan telurnya di tempat yang berair. Air dalam hal ini merupakan faktor utama, oleh karena itu tanpa air telur tidak akan tumbuh dan

(3)

berkembang. Dalam keadaan kering telur akan cepat kering dan mati, meskipun ada beberapa nyamuk yang telurnya dapat bertahan dalam waktu cukup lama meskipun dalam lingkungan tanpa air (Aedes). Kebiasaan meletakkan telur dari nyamuk berbeda-beda tergantung jenisnya. Nyamuk Anopheles akan meletakkan telurnya di atas permukaan air, telur diletakkan satu persatu atau bergerombolan tetapi saling lepas. Telur Anopheles mempunyai alat pengapung nyamuk. Nyamuk Culex meletakkan telur di atas permukaan air, telur diletakkan sebagai gerombolan yang bersatu berbentuk seperti rakit sehingga mampu untuk mengapung. Nyamuk Aedes meletakkan telurnya menempel pada yang terapung di atas air atau menempel pada permukaan benda yang merupakan tempat air pada batas permukaan air dengan tempatnya. Nyamuk mansonia meletakkan telurnya menempel pada tumbuhan air dan diletakkan secara bergerombol sebagai karangan bunga. Stadium telur ini memakan waktu beberapa hari (1-2 hari).

3. Jentik

Untuk perkembangan stadium jentik memerlukan tingkatan tertentu. Antara tingkatan yang satu dengan tingkatan yang lainnya bentuk dasarnya sama. Dalam hal ini pertumbuhan kecuali untuk memperbesar ukuran tubuh juga melengkapi bulu-bulunya. Stadium jentik dikenal empat tingkatan jentik yang masing-masing tingkatan dinamakan instar. Jadi untuk jentik nyamuk dikenal instar pertama, kedua, ketiga dan keempat bulu-bulu sudah lengkap, sehingga untuk identifikasi jentik diambil jentik instar keempat.

(4)

Stadium jentik memerlukan waktu kira-kira satu minggu. Pertumbuhan dan perkembangan jentik dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yang penting adalah: temperatur, cukup tidaknya bahan makanan, ada/tidak ada binatang air lainnya yang merupakan predator. Jentik Anopheles hanya mampu berenang ke bawah permukaan paling dalam 1 meter, maka di tempat-tempat dengan kedalaman lebih dari 1 meter tidak ditemukan jentik Anopheles.

4. Kepompong

Kepompong adalah stadium akhir dari nyamuk yang berada di dalam air. Stadium kepompong tidak memerlukan makanan dan kepompong merupakan stadium dalam keadaan inaktif. Pada stadium ini terjadi pembentukan sayap sehingga setelah cukup waktunya nyamuk yang keluar dari kepompong dapat terbang. Meskipun kepompong dalam keadaan inaktif, tidak berarti tidak ada proses kehidupan. Kepompong tetap memerlukan zat asam (O2

2.1.3. Tata Hidup Nyamuk

), zat asam masuk ke tubuh kepompong melalui corong nafas. Stadium kepompong makan waktu kira-kira 1-2 hari.

Dalam kehidupannya nyamuk selalu memerlukan tiga macam tempat yaitu: 1. Tempat Berkembang Biak (Breeding Places)

Dalam hidup siklus nyamuk mempunyai empat stadia yaitu nyamuk dewasa, telur, larva, kepompong. Stadia telur, larva, dan kepompong berada di dalam air dan tempat yang mengandung air tersebut dinamakan breeding places. Untuk tiap jenis nyamuk mempunyai tipe breeding places yang berlainan. Nyamuk Culex dapat berkembang di sembarang tempat air. Aedes hanya mau di tempat yang airnya cukup

(5)

bersih dan tidak beralas tanah. Mansonia senang di kolam, rawa-rawa danau yang airnya banyak tanaman air. Sedangkan Anopheles kesenangan untuk memilih breeding places sangat bervariasi.

Tipe-tipe breeding places yang disenangi Anopheles untuk berkembang biak bermacam-macam tergantung species Anopheles yang bersangkutan. macam breeding places Anopheles antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Berdasarkan kadar garam dari air dibedakan atas :

1. Air payau yaitu campuran air tawar dengan air laut. Breeding places air payau dapat sebagai tambak-tambak ikan pantai, muara sungai yang sedang menutup, dll. Anopheles yang sedang berkembang biak di air payau diantaranya: An.sundaicus, An.subpictus-subpictus, An.Vagus.

2. Breeding places air tawar masih dibedakan lagi atas macam-macam tipe. Kebanyakan nyamuk Anopheles senang berkembang biak di air tawar.

b. Berdasarkan keadaan sinar matahari breeding places dibedakan atas : 1. Breeding places yang langsung mendapat sinar matahari

Anopheles yang senang berkembang biak di tempat yang langsung mendapat sinar matahari adalah antaranya An.sundaicus, An.maculatus.

2. Breeding places yang terlindung dari sinar matahari

Nyamuk Anopheles yang menyenangi tempat yang terlindung, misalnya : An.vagus, An.umbrocus, An.burbumbrosus.

(6)

c. Berdasarkan aliran air dibedakan :

1. Air tidak mengalir seperti kobokan, bekas-bekas tapak kaki yang kemasukan air, bekas-bekas roda yang kemasukan air dan lain sejenisnya. Tempat-tempat macam ini dapat digunakan berkembang biak oleh An.vagus, An.indefinitus, An.leucosphirus.

2. Air yang tenang atau sedikit mengalir seperti sawah disenangi banyak jenis Anopheles, misalnya : An.acunitus, An.vagus, An.barbirostris, An.indefinitus, An.anularis, dll.

Stadium dalam air bagi nyamuk, sejak dari telur hingga nyamuk keluar dari kepompong memerlukan waktu 8-12 hari. Panjang pendeknya waktu yang diperlukan dipengaruhi oleh temperatur air.

2. Tempat Untuk Mendapatkan Umpan/Darah (Feeding Places)

Berdasarkan kesenangan mencari darah, dikenal dua golongan nyamuk yaitu nyamuk yang senang mencari darah binatang dan nyamuk yang senang mencari darah manusia.

Kebanyakan nyamuk di Indonesia kesenangan ini tidak bersifat mutlak, artinya meskipun nyamuk tersebut bersifat senang menggigit binatang tetapi bila tidak ada binatang nyamuk tersebut akan menggigit orang juga, misalnya An. aconitus. Waktu keaktifan mencari darah bagi nyamuk berbeda-beda. berdasarkan waktu keaktifan mencari darah dibedakan atas nyamuk yang aktif pada waktu malam, misalnya Anopheles dan Culex serta nyamuk yang aktif pada waktu siang, misalnya Aedes.

(7)

Baik nyamuk yang aktif waktu malam maupun siang, bila diteliti lebih lanjut tiap jenis mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda pula. Ada golongan nyamuk yang banyak mulai menggigit pada siang hari yang makin malam makin berkurang (Anaconitus). Ada yang mulai menggigit setelah tengah malam hingga pagi (An. icucosphyrus). Ada juga yang sepanjang malam terus menerus ditemukan banyak menggigit orang/binatang (Anopheles sundaicus-subpictus).

Dalam usahanya mendapatkan umpan perlu diperhatikan jarak terbangnya sangat jauh, misalnya Anopheles sundaicus jarak terbangnya bisa mencapai 5 km. 3. Tempat Untuk Beristirahat (Resting Places)

Setelah nyamuk betina menggigit orang/binatang hingga perutnya penuh darah, nyamuk tersebut akan pergi ke resting places. Nyamuk akan beristirahat di resting places selama 2-3 hari untuk iklim Indonesia. Kemudian setelah telur masak nyamuk pergi ke breeding places untuk bertelur.

Tempat beristirahat nyamuk dapat bersifat di dalam rumah/bangunan lain dan di luar rumah/bangunan lain atau di alam luar.

Resting places di alam luar dapat bersifat alamiah seperti gua-gua, tebing-tebing sungai/parit, semak-semak, dll. Resting places di alam luar dapat juga bersifat buatan seperti pit traps yaitu lubang-lubang dalam tanah yang sengaja dibuat atau kotak-kotak yang diwarnai gelap sebagai resting places buatan yang ditempatkan di tempat-tempat yang bisa didatangi nyamuk. Resting places buatan biasanya aman dari musuh, lembab, dan terlindung dari sinar matahari.

(8)

Penyakit malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Plasmodium (kelas Sporozoa) yang menyerang sel darah merah.

2.1.4. Biologi dan Kehidupan Vektor Malaria 1. Anopheles sundaicus

Malaria adalah termasuk jenis penyakit yang disebabkan oleh protozoa genus plasmodium, yang ditandai dengan demam mendadak (parozysmal), anemia, pembesaran limpa. Vektor penyakit malaria adalah nyamuk Anopheles. Nyamuk ini termasuk ke dalam ordo Diphtera, dengan sub ordonya Nematocera. Dari sub ordo ini, family adalah Culicidae, sub family Culicinae dengan genusnya Anopheles. Dari genus tersebut salah satu spesies yang paling berbahaya adalah Anopheles sundaicus, dimana “natural infection rate” nya tinggi seperti di pulau Jawa 1-36%.

Nyamuk Anopheles mengalami metamorfose yang lengkap, yaitu meliputi empat stage telur, larva (jentik), kepompong (pupa) dan dewasa. Telur nyamuk ini diletakkan di atas permukaan air. Air dalam hal ini merupakan faktor utama karena tanpa air tidak akan bertumbuh dan berkembang. Telur diletakkan satu per satu atau bergerombol tetapi saling lepas. Stadium telur memakan waktu 1-2 hari.

Pada stadium jentik dikenal empat tingkatan disebut Instar. Untuk membedakan ke empat Instar ini dapat dilihat keadaan umum dari jentik tersebut atau dengan melihat bulu-bulunya. jentik I dan II ukurannya kecil dan bulu-bulunya sederhana. Kunci untuk mengidentifikasi jentik biasanya dipakai instar IV, karena mudah untuk melihat keadaan bulu-bulunya. Demikian pula jentik III tidak jauh berbeda dengan jentik IV. Pertumbuhan dan perkembangan jentik dipengaruhi oleh

(9)

beberapa faktor antara lain suhu air, ada tidaknya bahan makanan, ada tidaknya binatang air lainnya yang merupakan predator, yaitu musuh-musuh dari larva tersebut.

Larva Anopheles mampu berenang ke bawah permukaan air paling dalam 1 meter maka tempat-tempat dengan kedalaman lebih 1 meter tidak ditemukan jentik Anopheles. Jentik ini memakan zat-zat organik di dalam air dalam pertumbuhannya menjadi pupa. Jentik Anopheles bila beristirahat sejajar dengan permukaan air. Stadium jentik Anopheles ini memerlukan waktu 7-8 hari.

Larva Anopheles sundaicus panjangnya 5 mm, dengan warna coklat atau kehijau-hijauan. Untuk mengidentifikasi jentik An. sundaicus dapat dilihat tanda-tandanya sebgai berikut :

a. Bulu selukung dalam depan berjauhan

b. Bulu kipas abdomen segmen I tumbuh sempurna c. Bulu selukung dalam, sederhana.

d. Bulu lubang udara 7 sampai 8

e. Pada ruas perut X, duri-durinya kasar dan berpigmen, berbentuk kerucut, letaknya tidak berhamburan. Jumlah yang berpigmen adalah 76%.

Pada stadium pupa tidak memerlukan makanan, karena pupa merupakan stadium yang inaktf. meskipun demikian, proses kehidupan tetap ada karena pupa tetap memerlukan zat asam (O2) yang masuk ke dalam tubuhnya melalui corong nafas. Stadium ini memerlukan waktu kira-kira 1-2 hari.

(10)

Pada stadium dewasa sebagai nyamuk telah hidup di alam bebas. Nyamuk-nyamuk yang keluar dari pupa menjadi Nyamuk-nyamuk jantan dan betina dengan perbandingan kira-kira sama (1:1). Nyamuk jantan keluar lebih dahulu dari betina. Setelah nyamuk jantan mengawini nyamuk betina barulah nyamuk betina pergi mencari darah. Dalam mencari darah nyamuk Anopheles sundaicus aktif pada malam hari, sepanjang malam terus-menerus ditemukan banyak menggigit orang.

Nyamuk Anopheles sundaicus termasuk spesies yang besarnya sedang. Nyamuk dewasa senang hinggap di dalam rumah, kandang atau di luar rumah. Di dalam rumah hinggap di dinding, di bawah atap, gantungan pakaian, di bawah kolong alat-alat rumah tangga, sedangkan di luar rumah terdapat pada pagar dari daun kelapa, daun pisang, semak belukar.

Tempat berkembang biak An. sundaicus adalah air payau, dimana biasanya terdapat tumbuh-tumbuhan Enteromorpha, Chsetomorpha dengan kadar garam kesukaannya adalah 1,2 – 1,8% dan tidak suka pada kadar garam lebih dari 4%. Namun larvanya masih juga diketemukan pada kadar garam 0,4%, bahkan di Sumatera larva An. sundaicus di temukan di air tawar, misalnya di Mandailing dengan ketinggian 210 m dari permukaan laut dan Danau Toba pada ketinggian 1000 meter. Tetapi jentiknya paling banyak terdapat pada air payau, lebih menyukai daerah terbuka yang langsung terkena sinar matahari seperti pada lagune-lagune, rawa atau genangan/telaga yang terlindung oleh tambak-tambak di pesisir pantai.

(11)

Nyamuk ini termasuk ke dalam jenis nyamuk yang terbangnya kuat, dapat mencapai 5 km dari sarang jentiknya, dan lebih suka darah manusia daripada darah binatang.

Ciri-ciri nyamuk Anopheles sundaicus :

a. Sayap paling sedikit dengan 4 noda hitam, termasuk costs & long.

b. Kaki bertitik, kaki belakang tanpa hubungan putih lebar antara tibia dan tarsale.

c. Tarsale 5 seluruhnya hitam d. Long 6 kurang dari 3 noda hitam. 2. Anopheles aconitus

Di Indonesia nyamuk ini terdapat hampir di seluruh kepulauan kecuali Maluku dan Irian. Biasanya dapat dijumpai di dataran rendah tetapi lebih banyak di dapat di daerah kaki gunung (foothilis) pada ketinggian 400-1000 m. makin ke Indonesia timur penyebarannya makin berkurang.

Jentiknya terdapat di sawah dan saluran irigasi. Sawah yang akan ditanami dan mulai diberi air, yang masih ada batang padi dan jerami yang berserakan, merupakan sarang yang sangat baik. Di seluruh irigasi jentiknya terdapat di tepi yang banyak ditumbuhi rumput dan tidak begitu deras airnya. Sawah yang permukaannya bersih dan saluran air yang tepinya terpelihara dengan baik biasanya tidak ada jentiknya.

Nyamuk dewasa terdapat hinggap dalam rumah dan kandang, tetapi tempat hinggap yang paling disukai adalah di luar rumah, pada tebing yang curam, gelap dan

(12)

lembab. Juga terdapat di antara semak belukar di dekat sarangnya. Jarak terbangnya dapat mencapai 1,5 km, tetapi jarang terdapat jauh dari sarangnya. Terbangnya pada malam hari untuk menghisap darah.

Pemeriksaan dengan precipitin test menunjukkan darah manusia dan kerbau dalam lambung mereka. Anopheles aconitus lebih menyukai darah binatang dan hanya menggigit darah manusia bila tidak banyak ternak yang dapat dijadikan umpan. Nyamuk dewasa kecil, agak hitam, rusuk ke-6 (long6) mempunyai 3 noda hitam dan jumbai pada ujung rusuk ke-6 putih, moncong (probocis) separuh bagian ke ujungnya coklat kekuningan. Jentik juga kecil, bulu selukung (cypeal hairs) pendek, bercabang-cabang; tergal plate bentuknya convex. Tergal plate pada abdomen besar-besar, pada ruas yang kedua.

3. Anopheles barbirostris (Anophel wulp)

Terdapat di seluruh Indonesia, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Jentik biasanya terdapat di dalam air yang jernih, seperti sawah, parit yang aliran airnya tidak begitu deras, kolam yang banyak tumbuh-tumbuhannya, rawa-rawa, mata air, dan genangan air lainnya. Sering juga dijumpai pada air yang keruh. Tempat air yang teduh lebih disukai, walaupun terdapat juga dalam air yang terbuka. Biasanya air payau yang dihindari.

Nyamuk dewasa lebih jarang dijumpai daripada jentiknya, sehingga dapat digolongkan sebagai nyamuk liar. Akan tetapi kadang-kadang dapat dijumpai di dalam rumah dan kandang dalam jumlah yang besar. Tempat hinggap adalah

(13)

tebing-tebing sungai sebelah sawah, diantaranya semak-semak, rumpun-rumpun bambu, dan bangunan-bangunan kosong.

Jarak terbangnya tidak jauh, terbang pada siang hari bila cuaca gelap (berawan) dan dalam keteduhan hutan-hutan yang lebat. sebagian besar zoophilic, makin ke timur makin domestik. Di Sulawesi sering masuk rumah untuk menghisap darah dan keluar lagi.

Mempunyai natural infection rate 0,5% walau demikian penting artinya di Sumatera dan Sulawesi, karena ikut memelihara adanya malaria. Di tempat lain kurang penting dan hanya merupakan vektor tambahan pada waktu epidemi atau bila terdapat dalam jumlah yang besar.

Nyamuk besar hitam, palpi lebat, ada sisik putih pada ruas abdomen 3-6, sayap seperti Myzorhyncus lainnya tetapi jumbai punya noda putih yang sempit pada ujung long 3, hubungan putih ruas tersalah 2-4 kaki belakang jelas; pada mesepimoron ada segerombolan sisik-sisik putih. Jentiknya juga besar, tidak punya stigma club, Souter clypeals dengan lebih dari 50 cabang.

Banyak spesies yang mirip dengan A.barbirotris sehingga sering dikelompokkan menjadi Barbirotris Group. Di Sulawesi dilaporkan salah satu spesies dari group ini yang mempunyai natural infection rate 13,3 yang diduga adalan An. vanus walker. Nyamuk ini hanya terdapat di Sulawesi bedanya hubungan putih rusa tersala 3-4 kecil, hanya pada ujung tersale 3, dan perbedaan kecil lainnya pada alat kelamin. Jentiknya juga berbeda yaitu banyak rambut-rambut yang bercabang.

(14)

Jumlah cabangnya lebih sedikit, misalnya outer clypeals kurang dari 50. Yang menyolok adalah bahwa spesies ini anthropophilik.

4. Anopheles bancrofti (Giles)

Di Indonesia hanya terdapat di Maluku dan Irian. Sarang jentiknya di dalam hutan, yaitu rawa-rawa yang banyak dengan tumbuh-tumbuhan yang lebat. Ternyata jentiknya memerlukan keteduhan dan perlindungan dari tumbuh-tumbuhan ini.

Nyamuk dewasa tabiatnya nocturnal. Menyerang manusia dalam rumah maupun luar rumah, tetapi juga menggigit binatang, banyak terdapat hinggap pada dinding rumah, dan kelambu, juga di kandang-kandang tidak jarang terdapat dalam jumlah yang besar.

Di Irian Barat ditemukan dengan natural infection rate 4,3% maka harus dianggap sebagai vektor yang berbahaya bila dijumpai dalam jumlah yang besar.

Palpi hitam, femur, tibia dan metatarsus kaki belakang bertitik jumbai dengan noda putih pada ujung long 4.2, 5.1, dan 5.2. Jentiknya mempunyai stignal, innercypeals berdekatan panjang dengan cabang pendek-pendek serta jarang; outer clypeals dengan banyak cabang (60) yang berasal dari 2-3 cabang utama.

5. Anopheles farauti (Laveran)

Tadinya dikenal sebagai A.punculatus dan melucensis, tetapi pada tahun 1946 diakui sebagai spesies tersendiri. Terdapat di Kepulauan Maluku dan Irian Barat di daerah ini penyebarannya sangat luas.

Jentiknya terdapat dalam air tawar, air payau dan genangan air hujan. Ada kalanya terdapat di dalam hutan mangrove, tetapi mereka lebih suka tempat yang

(15)

panas. Pada musim hujan dapat bersarang pada semua macam genangan air, tetapi genangan yang dapat dijadikan sarang tidak banyak, dengan sendirinya jumlah nyamuk pada musim kemarau juga sedikit.

Nyamuk dewasa aktif pada malam hari, tetapi mau menggigit pada siang hari bila udara tidak cerah. Di beberapa daerah mereka menggigit manusia, tanpa menghiraukan sama sekali adanya binatang ternak di daerah itu. Di tempat yang satu banyak terdapat di dalam rumah, sedangkan di tempat yang lain hinggap di luar rumah.

Natural Infection Rate pernah terdapat di 12,7% dari Irian. Sangat susceptible terhadap infeksi dan tergolong spesies yang domestik, disamping itu juga antropophilik, sehingga merupakan vektor yang sangat efisien.

Nyamuk mempunyai banyak noda-noda pada sayap, shaltor putih pada pangkalnya dan hitam pada ujungnya. Probiscia seluruhnya hitam sedangkan A.koliensis ada noda-noda putih. Jentiknya susah dibedakan dengan jentik A. koliensis.

6. Anopheles kochi (Donitz)

Tersebar di seluruh Indonesia kecuali Irian. Jentiknya terdapat dalam macam-macam genangan air, baik yang jernih maupun yang keruh, tetapi tidak pernah dalam air payau. Lebih suka tempat yang terbuka, misalnya genangan air dalam lumpur bekas tapak kaki kerbau, kubangan, sawah yang akan ditanami. Juga terdapat di dalam parit, mata air, saluran dalam perkebunan tebu, kolam. Mudah sekali

(16)

menyesuaikan diri dari keadaan. Mengingat sifatnya bersarang dalam musim hujan mencapai jumlah yang terbanyak.

Nyamuk dewasa terdapat di dalam rumah maupun kandang. Termasuk nyamuk yang domestik dan lebih menyukai darah binatang daripada manusia. Sebagai vektor malaria tidak begitu penting artinya kecuali bila terdapat dalam jumlah yang besar. Natural Infection Rate-nya 0,4 - 11,5%, biasanya rendah, tetapi di tempat-tempat tertentu dan pada waktu ada epidemi ratenya tinggi.

Tanda pengenal nyamuk dewasa adalah 6 pasang kumpulan bersisik pada abdomen bagian ventral. jentiknya mempunyai innerclype, as yang panjang dengan cabang-cabang yang sangat halus, inner shoulder hair bercabang 2-9, natural hair simple.

7. Anopheles koliensis (Owen)

Hanya terdapat di Irian, di tempat-tempat yang tingginya lebih dari 500 m di atas permukaan air. Genangan air temporair di padang rumput di tepi hutan dan kena sinar matahari lebih disukai oleh jentik-jentiknya daripada yang terlindung. Selama musim kering jarang dijumpai, demikian pula nyamuk dewasanya.

Sangat antropophilik dan suka hinggap di dalam rumah sesudah menggigit sampai malam berikutnya. Mulai aktif jam 09.00 malam sampai pagi hari, puncak kegiatannya setelah tengah malam.

8. Anopheles letifer (Gater)

Terdapat di Sumatera dan Kalimantan, di dataran rendah dekat pantai. Sarang jentiknya adalah genangan air yang coklat tua dengan pH 5-8. Tidak di dalam hutan

(17)

tetapi di daerah hutan yang sudah dibuka, dalam air yang terlindung oleh semak belukar.

Nyamuk dewasa masuk rumah dari senja sampai pagi hari. Tempat hinggapnya di luar rumah, sangat antropophilik, hidupnya lebih dekat dengan kediaman manusia daripada A. umbrosus.

Nyamuk besar, palpi kurang begitu lebat, tidak ada propleural setae, kaki depan tidak ada hubungan putih, sedangkan hubungan putih kaki belakang sempit. Jentiknya berbeda dengan spesies Umbrosus Group lainnya pada rambut-rambutnya yang bercabang, jumlah cabang lebih sedikit inner clypeals 4-7 cabangnya; posterior Clypeals pendek, tidak mencapai pangkal Inner Clypeals, bercabang 3-4; lateral hair ruas abdomen ke-3 dengan 3-4 cabang.

2.1.5. Faktor Lingkungan Yang Memengaruhi Perkembangbiakan Nyamuk Anopheles spp.

2.1.5.1. Lingkungan Fisik a. Suhu

Suhu udara mempengaruhi panjang pendeknya siklus perkembangbiakan nyamuk. Menurut Thomson dalam Marsaulina (2002), waktu tetas telur Anopheles sangat dipengaruhi oleh suhu air pada tempat perindukannya, makin tinggu suhu air maka waktu tetas akan semakin singkat.

b. Kelembaban

Kelembaban dapat mempengaruhi perkembangan nyamuk Anopheles karena kelambaban yang rendah dapat memperpendek umur nyamuk. Di Punjab, India

(18)

kelembaban paling rendah 63 % untuk memungkinkan terjadinya penularan. Kelembaban mempengaruhi kecepatan berkembang biak, kebiasaan menggigit, istirahat nyamuk. Rata-rata kelembaban minimal adalah 60%, relatif kelembaban tertinggi bagi hidup nyamuk memungkinkan lebih lama dalam mentransmisi infeksi pada beberapa orang (Marsaulina, 2002).

c. Hujan

Hujan mempengaruhi terjadinya breeding places. Curah hujan yang berlebihan dapat mengubah aliran kecil air menjadi aliran deras hingga banyak larva dan pupa serta telur terbawa oleh arus air. Menurut Depkes RI dalam Marsaulina (2002) nyamuk Anopheles berkembangbiak dalam jumlah besar.

d. Sinar Matahari

Menurut penelitian Ompusunggu dkk (1992) larva An.sundaicus dan An. subpictus hampir selalu ditemukan bersama-sama di lagun yang berjarak 0-10 meter dari pantai. Kondisi lagun pada saat penemuan kedua spesies ini adalah sebagai berikut: lebih sering ditemukan di air bersih daripada air kotor, hampir selalu ada algae, lebih sering dengan bahan-bahan terapung, hampir selalu ada sinar matahari langsung (Ompusunggu dkk, 1992).

Menurut Depkes dalam Marsaulina 2002 pengaruh sinar matahari terhadap larva nyamuk berbeda-beda. An. sundaicus lebih suka tempat yang sedikit cahaya matahari sebaliknya An. hyrcanus lebih menyukai tempat terbuka, An. barbirostris dapat hidup baik di tempat teduh maupun terang. Cahaya matahari langsung akan membuat keadaan yang tidak meyenangkan bagi aktivitas nyamuk.

(19)

e. Arus air

Arus air mempengaruhi perkembangan nyamuk Anopheles karena arus air yangt deras dapat merusak tempat perindukan nyamuk. Larva An.maculatus mempunyai habitat khusus yaitu di parit atau sungai kecil berbatu dengan air mengalir perlahan atau tanpa aliran pada daerah pegunungan (Pranoto dan Munif, 1992).

f. Kedalaman Air

Jentik Anopheles mampu berenang pada permukaan air paling dalam 1 meter, maka tempat-tempat dengan kedalaman lebih 1 meter tidak ditemukan jentik Anopheles spp. (Marsaulina, 2002).

2.1.5.2.Lingkungan Kimia a. Salinitas

Menurut Takken dalam Marsaulina (2002), berbagai spesies nyamuk Anopheles spp. Dapat digolongkan menurut kandungan garam dari air di habitatnya ada tiga, yaitu spesies air asin, air payau, ataupun air tawar. Salinitas optimum untuk perkembangan Anopheles sundaicus di Indonesia adalah 12-18 0/00

Berdasarkan penelitian Ompusunggu (1992) di Kabupaten Sikka, Flores menemukan larva Anopheles sundaicus dan Anopheles subpictus hidup pada kadar garam yang sangat bervariasi antara 2,2-30

. Salinitas optimum ini tidak selalu sama di berbagai tempat untuk perkembangan Anopheles sundaicus.

0

(20)

ditemukan di sungai yang mengalir dan lagun dengan kadar garam berkisar antara 0,2-10,4 0/00. Larva An. vagus ditemukan mampu hidup pada lagun dengan kadar garam 0,4-5,0 0/00 (Ompusunggu, 1992). Anopheles sundaicus yang dikenal sebagai vektor malaria disana banyak ditemukan di sawah, kolam-kolam yang tidak terpelihara dan genangan air di sekitar rumah yang banyak ditumbuhi lumut. Salinitas air sekitar 15-28 0/00

Bone-Webster dan Swellengrebel dalam Ompusunggu (1992) menyatakan bahwa larva jenis nyamuk An. sundaicus bisa hidup mulai dari air tawar hingga air payau yang berkadar garam 8,6

(Blondini dkk, 2003).

0 /00 b. pH

atau lebih.

pH air mempengaruhi tempat perindukan nyamuk Anopheles spp. Menurut Marsaulina (2002) derajat keasaman (pH) air digunakan dalam pengaturan respirasi dan sistem enzim dalam tubuh larva nyamuk. pH air sangat bervariasi dengan bertambahnya kedalaman, pH cenderung menurun (Marsaulina, 2002).

Menurut Depkes RI (1990) disebutkan bahwa An. sundaicus mempunyai tempat perindukan utama di pantai dan air payau berkadar garam antara 12-18 0/00 c. BOD (Biochemical Oxygen Demand)

.

BOD (Biochemical Oxygen Demand) menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan-bahan buangan di dalam air. Jika konsumsi oksigen tinggi yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut, maka berarti kandungan bahan-bahan buangan

(21)

yang membutuhkan oksigen tinggi untuk reaksi biokimia, yaitu untuk mengoksidasi bahan organik, sintesis sel, dan oksidasi sel (Fardiaz, 2004).

d. DO (Dissolved Oxygen)

Menurut Warren dalam Marsaulina (2002) bahwa kandungan oksigen terlarut yang sangat rendah mengurangi jenis invertebrata berukuran lebih besar sedangkan caing Tubifex, larva-larva nyamuk dan sebagainya masih ditemukan. Biasanya pada air yang cukup dangkal persediaan O2

Penurunan oksigen terlarut di dalam air adalah menurunnya kehidupan hewan dan tanaman air. Hal ini disebabkan karena mahluk hidup tersebut banyak yang mati atau melakukan migrasi ke tempat yang konsentrasi oksigennya masih tinggi (Fardiaz, 2004).

masih banyak ditemukan (Marsaulina, 2002).

e. CO2

Penurunan pH diduga berhubungan dengan kandungan CO (Karbondioksida)

2 (Karbondioksida), karena setiap pertambahan kedalaman air konsentrasi CO2 (Karbondioksida) juga akan bertambah. Pada perairan yang telah tercemar oleh bahan organik kandungan CO2

Menurut Bates dalam Marsaulina (1992) CO

(Karbondioksida) ini semakin tinggi sehingga meracuni kehidupan organisme perairan.

2 (Karbondioksida) di tempat perindukan larva Anopheles umumnya tidak ada korelasinya secara langsung terhadap kehidupan larva. Hal ini disebabkan oleh larva Anopheles hidup di permukaan air dengan spirakelnya selalu berontak dengan udara bebas, sehingga larva mengambil oksigen untuk pernafasannya langsung dari udara bebas.

(22)

2.1.5.3.Lingkungan Biologi a. Vegetasi air

Vegetasi air dapat mempengaruhi kehidupan larva seperti pohon bakau, ganggang. Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk karena dapat menghalangi sinar matahari (Irsanya, 2005).

Menurut Rao dalam Marsaulina (2002) tumbuhan air di tempat perindukan sangat berperan terhadap keberadaan larva nyamuk Anopheles. Hal ini disebabkan oleh tumbuhan air dapat berfungsi sebagai tempat penambatan diri bagi larva nyamuk saat beristirahat di atas permukaan air, tempat berlindung dari arus air dan serangan predator (Marsaulina, 2002).

b. Hewan Predator

Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah (panchax spp.), gambusia, nila, mujahir dan lain-lain akan mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah. Coelentarata adalah hidra air tawar yang dapat menghancurkan larva instar pertama dan instar kedua di tempat perkembangbiakan nyamuk dalam air tergenang. Serangga pemangsa di air, larva Dyscidae dan Hydrophilidae (Coleoptera) adalah musuh dari nyamuk (Marsaulina, 2002).

c. Makanan

Lingkungan tempat perindukan nyamuk, khususnya larva nyamuk Anopheles banyak ditemukan di perairan dangkal karena berhubungan dengan cara makan dan ketersediaan bahan makanan yang terdapat di permukaan air (Marsaulina, 2002). Di

(23)

alam, larva nyamuk bergantung pada mikroorganisme yang menjadi makanannya, zooplankton dan fitoplankton.

Pada stadium pupa tidak memerlukan makanan, karena pupa merupakan stadium yang inaktif. Meskipun demikian, proses kehidupan tetap ada karena pupa tetap memerlukan zat asam (O2) yang masuk ke dalam tubuhnya melalui corong nafas. Stadium ini memerlukan waktu kira-kira 1-2 hari.

2.2. Survei Entomologi Malaria

2.2.1. Survei Nyamuk Anopheles Dewasa

Survei nyamuk Anopheles dewasa meliputi beberapa hal di bawah ini : 1. Penangkapan nyamuk dengan umpan orang (human bite).

2. Penangkapan nyamuk yang hinggap di dinding rumah pada malam hari. 3. Penangkapan nyamuk di sekitar ternak pada malam hari.

4. Penangkapan nyamuk di dalam rumah atau bangunan lain pada malam hari. 5. Penangkapan nyamuk pada pagi hari di alam luar.

6. Penangkapan pagi hari di dalam rumah/bangunan lain dengan space spraying. 2.2.2 Survei Jentik

a. Tujuan Survei Jentik

Tujuan dilakukan survei jentik adalah untuk mengetahui perilaku berkembang biak dan inventarisasi tempat perindukan atau tempat berkembang biak nyamuk yang sangat diperlukan dalam upaya tindakan anti larva.

(24)

Beberapa tujuan lain dalam melakukan survei jentik adalah : 1. Mengetahui habitat/breeding places dari suatu spesies 2. Mengetahui distribusi geografi dari spesies-spesies yang ada

3. Mengetahui hubungan larva dengan hewan atau tanaman air lainnya. b. Alat/Bahan

1. Pipet larvae besar dan kecil. 2. dipper

3. vial/bottle

c. Cara Melakukan Survei Jentik

1. Pada setiap tempat masing-masing 1 m2 diambil 10 cidukan (bila arealnya luas diambil beberapa sampel).

2. Penangkapan dengan menggunakan dipper : dilakukan pada berbagai macam genangan air di daerah lokasi, misalnya sawah, rawa-rawa, pinggir-pinggir parit, kubangan atau jejak kerbau, dll. Genangan air di sekitar rumah, misalnya tempurung, bekas ban mobil, dll/

3. Larva di dipper diambil dengan pipet dan dipindahkan ke dalam vial (botol kecil).

4. Vial diberi label sesuai dengan tempat dimana larvanya diambil: tanggal, tempat, type tempat penangkapan, nama collector.

5. Selanjutnya akan diproses kemudian.

Survei dilakukan dengan menggunakan alat cidukan jentik. Kepadatan dapat dihitung untuk tiap ciduk atau tiap 10 ciduk. Banyaknya cidukan disesuaikan dengan

(25)

luasnya tempat perindukan serta penyebaran jentik. Dalam survei ini perlu dicatat luas tempat perindukan, flora dan fauna yang ada, baik yang ada di tempat perindukan maupun di sekitarnya.

2.2.3. Etiologi Malaria

Di Indonesia dikenal empat macam spesies parasit malaria yaitu : 1. Plasmodium Vivax sebagai penyebab Malaria Tertiana.

2. Plasmodium falciparum sebagai penyebab Malaria Tropika, yang sering menyebabkan malaria otak dengan kematian.

3. Plasmodium malariae sebagai penyebab malaria Quartana.

4. Plasmodium ovale sebagai penyebab malaria ovale yang sudah sangat jarang ditemukan (Depkes RI, 1999 ; Depkes RI, 2000).

2.2.3.1. Sumber dan Cara Penularan

Sumber penyakit adalah manusia sebagai host intermidiate dan nyamuk Anopheles betina yang infected sebagai host devinitive. Penyakit malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang siap menularkan (infected) dimana sebelumnya nyamuk tersebut telah menggigit penderita malaria yang dalam darahnya mengandung gametosit (gamet jantan dan betina).

2.2.3.2. Masa Inkubasi

Masa inkubasi pada tubuh manusia (masa inkubasi intrinsik), yaitu waktu manusia digigit nyamuk yang infected, dengan masuknya sporozoit, sampai timbul gejala klinis (demam). Kurang lebih 12 hari untuk Plasmodium falciparum. 15 hari

(26)

untuk Plasmodium vivax, 28 hari untuk Plasmodium malariae, dan 17 hari untuk Plasmodium ovale (Depkes, 2006).

2.2.3.3. Gejala dan Tanda Klinis

Gejala klinis yang ditimbulkan penyakit malaria yang klasik adalah : menggigil, demam (suhu antara 37,5 oC – 40 o

Pada penyakit malaria dengan komplikasi (malaria berat) gejala yang timbul dapat berupa, gangguan kesadaran, kejang, panas tinggi hingga >40

C); dan berkeringat. Gejala lain yang mungkin timbul adalah sakit kepala, mual atau muntah dan diare serta nyeri otot atau pegal-pegal pada orang dewasa.

o

2.2.4. Siklus Hidup Plasmodium dan Patogenesis Malaria

C, anemia, mata dan tubuh menguning (ikterus), serta perdarahan hidung, gusi atau saluran pencernaan, jumlah kencing berkurang (oliguri), muntah terus menerus sehingga tidak dapat makan dan minum, warna urine seperti teh coklat tua sampai kehitaman (black water fever), dan pernafasan cepat.

2.2.4.1.Siklus Hidup Plasmodium

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembangbiak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.

Species plasmodium pada manusia adalah Plasmodium falciparum, P. vivax, P. ovale dan P. Malariae. Jenis Plasmodium yang banyak ditemukan di Indonesia adalah P. falciparum dan P. vivax, sedangkan P. malariae dapat ditemukan di

(27)

beberapa propinsi antara lain : Lampung, Nusa Tenggara Timur dan Papua. P. ovale pernah ditemukan di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

2.2.4.2. Siklus Hidup Plasmodium

Parasit malaria memerlukan dua hospes untuk siklus hidupnya, yaitu manusia dan nyamuk anopheles betina.

1. Siklus Hidup pada Manusia (Aseksual)

Pada waktu nyamuk anopheles infektif menghisap darah manusia, sporozoit yang berada di kelenjar liur nyamuk akan masuk ke dalam peredaran darah selama lebih kurang ½ jam. Setelah itu sporozoit akan masuk ke dalam sel hati dan menjadi tropozoit hati. Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10.000-30.000 merozoit hati (tergantung spesiesnya).

Siklus ini disebut siklus ekso-eritrositer yang berlangsung selama lebih kurang 2 minggu. Pada P. vivax dan P. ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kambuh).

Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah. Di dalam sel darah merah, parasit tersebut berkembang dari stadium tropozoit sampai skizon (8-30 merozoit, tergantung spesiesnya). Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni. Selanjutnya

(28)

eritrosit yang terinfeksi (skizon) pecah dan merozoit yang keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Siklus ini disebut siklus eritrositer.

Setelah 2-3 siklus skizogoni darah, sebagian merozoit yang menginfeksi sel darah merah dan membentuk stadium seksual (gametosit jantan dan betina).

2. Siklus Pada Nyamuk Anopheles Betina (Seksual)

Apabila nyamuk betina menghisap darah yang mengandung gametosit, di dalam tubuh nyamuk, gamet jantan dan betina melakukan pembuahan melalui zigot. Zigot berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk. Pada dinding luar lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi sporozoit. Sporozoit ini bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia.

Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam. Masa inkubasi bervariasi tergantung spesies plasmodium.

Masa prepaten adalah rentang waktu sejak sporozoit masuk sampai parasit dapat dideteksi dalam darah dengan pemeriksaan mikroskopik.

Tabel 2.1 Masa Inkubasi Penyakit Malaria

Plasmodium Masa Inkubasi (Hari)

P. falciparum 9-14 (12)

P. vivax 12-17 (15)

P. ovale 16-18 (17)

(29)

2.2.4.3. Patogenesis Malaria

Demam mulai timbul bersamaan dengan pecahnya skizon darah yang mengeluarkan bermacam-macam antigen. Antigen ini akan merangsang sel-sel makrofag, monosit atau limfosit yang mengeluarkan berbagai macam sitokinin, antara lain TNF (tumor nekrosis factor). TNF ini akan dibawa aliran darah ke hipotalamus yang merupakan pusat pengatur suhu tubuh dan terjadi demam. Proses skizogoni pada ke empat plasmodium memerlukan waktu yang berbeda-beda, Plasmodium falciparum memerlukan waktu 36-48 jam, Plasmodium vivax/ovale 48 jam, dan Plasmodium malariae demam timbul selang waktu 2 hari.

Anemia terjadi karena pecahnya sel darah merah yang terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi. Plasmodium falciparum menginfeksi semua jenis sel darah merah, sehingga anemia dapat terjadi pada infeksi akut dan kronis.

Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale hanya menginfeksi sel darah merah muda yang jumlahnya hanya 2% dari semua jumlah sel darah merah, sedangkan Plasmodium malariae menginfeksi sel darah merah tua yang jumlahnya hanya 1% dari jumlah sel darah merah. Sehingga anemia yang disebabkan oleh P.vivax dan P.ovale dan P.malariae umumnya terjadi pada keadaan kronis.

Limpa merupakan organ retikuloendothelial, dimana plasmodium dihancurkan oleh sel-sel makrofag dan limposit. Penambahan sel-sel radang ini akan menyebabkan limpa membesar.

Malaria berat akibat Plasmodium falciparum mempunyai patogenesis yang khusus. Eritrosit yang terinfeksi Plasmodium falciparum akan mengalami sekuestrasi

(30)

yaitu tersebarnya eritrosit yang berparasit tersebut ke pembuluh kapiler alat dalam tubuh. Selain itu, pada permukaan eritrosit yang terinfeksi akan membentuk knob yang berisi berbagai antigen Plasmodium falciparum. Pada saat terjadi proses sitoadherensi, knob tersebut akan berikatan dengan reseptor sel endotel kapiler. Akibat dari proses ini terjadilah obstruksi (penyumbatan) dalam pembuluh kapiler yang menyebabkan terjadinya iskemia jaringan. Terjadinya sumbatan ini juga didukung oleh proses terbentuknya “rosette” yaitu bergerombolnya sel darah merah yang berparasit dengan sel darah merah yang lainnya. Pada proses sitoaderensi ini diduga juga terjadi proses imunologik yaitu terbentuknya mediator-mediator antara lain sitokinin (TNF, interleukin), dimana mediator tersebut mempunyai peranan dalam gangguan fungsi pada jaringan tertentu.

2.2.5. Tumbuhan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) 2.2.5.1. Klasifikasi Eceng Gondok

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae

Suku : Pontederiaceae

Marga : Eichhornia

Jenis : Eichornia crassipes Solms

Orang lebih banyak mengenal tanaman ini tumbuhan pengganggu (gulma) diperairan karena pertumbuhannya yang sangat cepat. Awalnya didatangkan ke Indonesia pada tahun 1894 dari Brazil untuk koleksi Kebun Raya Bogor. Ternyata

(31)

dengan cepat menyebar ke beberapa perairan di Pulau Jawa. Dalam perkembangannya, tanaman keluarga Pontederiaceae ini justru mendatangkan manfaat lain, yaitu sebagai biofilter cemaran logam berat, sebagai bahan kerajinan, dan campuran pakan ternak.

Eceng gondok hidup mengapung bebas bila airnya cukup dalam tetapi berakar di dasar kolam atau rawa jika airnya dangkal. Tingginya sekitar 0,4 - 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut.

Eceng gondok dapat hidup mengapung bebas di atas permukaan air dan berakar di dasar kolam atau rawa jika airnya dangkal. Kemampuan tanaman inilah yang banyak di gunakan untuk mengolah air buangan, karena dengan aktivitas tanaman ini mampu mengolah air buangan domestic dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Eceng gondok dapat menurunkan kadar BOD, partikel suspensi secara biokimiawi (berlangsung agak lambat) dan mampu menyerap logam-logam berat seperti Cr, Pb, Hg, Cd, Cu, Fe, Mn, Zn dengan baik, kemampuan menyerap logam persatuan berat kering eceng gondok lebih tinggi pada umur muda dari pada umur tua (Mukti, 2008).

Adapun bagian-bagian tanaman yang berperan dalam penguraian air limbah adalah sebagai berikut :

(32)

1. Akar

Bagian akar eceng gondok ditumbuhi dengan bulu-bulu akar yang berserabut, berfungsi sebagai pegangan atau jangkar tanaman. Sebagian besar peranan akar untuk menyerap zat-zat yang diperlukan tanaman dari dalam air. Pada ujung akar terdapat kantung akar yang mana di bawah sinar matahari kantung akar ini berwarna merah, susunan akarnya dapat mengumpulkan lumpur atau partikel-partikal yang terlarut dalam air (Mukti, 2008).

2. Daun

Daun eceng gondok tergolong dalam makrofita yang terletak di atas permukaan air, yang di dalamnya terdapat lapisan rongga udara dan berfungsi sebagai alat pengapung tanaman. Zat hijau daun (klorofil) eceng gondok terdapat dalam sel epidemis. Dipermukaan atas daun dipenuhi oleh mulut daun (stomata) dan bulu daun. Rongga udara yang terdapat dalam akar, batang, dan daun selain sebagai alat penampungan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan O

2 dari proses fotosintesis. Oksigen hasil dari fotosintesis ini digunakan untuk respirasi tumbuhan dimalam hari dengan menghasilkan CO

2 c. Tangkai

yang akan terlepas kedalam air (Mukti, 2008).

Tangkai eceng gondok berbentuk bulat menggelembung yang di dalamnya penuh dengan udara yang berperan untuk mengapaungkan tanaman di permukaan air. Lapisan terluar petiole adalah lapisan epidermis, kemudian dibagian bawahnya terdapat jaringan tipis sklerenkim dengan bentuk sel yang tebal disebut lapisan

(33)

parenkim, kemudian didalam jaringan ini terdapat jaringan pengangkut (xylem dan floem). Rongga-rongga udara dibatasi oleh dinding penyekat berupa selaput tipis berwarna putih (Mukti, 2008).

d. Bunga

Eceng gondok berbunga bertangkai dengan warna mahkota lembayung muda. Berbunga majemuk dengan jumlah 6 - 35 berbentuk karangan bunga bulir dengan putik tunggal.

Eceng gondok juga memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut, eceng gondok merupakan tumbuhan perennial yang hidup dalam perairan terbuka, yang mengapung bila air dalam dan berakar didasar bila air dangkal. Perkembangbiakan eceng gondok terjadi secara vegetatif maupun secara generatif, perkembangan secara vegetatif terjadi bila tunas baru tumbuh dari ketiak daun, lalu membesar dan akhirnya menjadi tumbuhan baru.

Setiap 10 tanaman eceng gondok mampu berkembangbiak menjadi 600.000 tanaman baru dalam waktu 8 bulan, hal inilah membuat eceng gondok banyak dimanfaatkan guna untuk pengolahan air limbah. Eceng gondok dapat mencapai ketinggian antara 40 - 80 cm dengan daun yang licin dan panjangnya 7 - 25 cm.

(34)

2.2.5.2. Faktor Lingkungan yang Menjadi Syarat untuk Pertumbuhan Eceng gondok

Faktor lingkungan yang menjadi syarat untuk pertumbuhan eceng gondok adalah sebagai berikut :

1. Cahaya matahari, PH dan Suhu

Pertumbuhan eceng gondok sangat memerlukan cahaya matahari yang cukup, dengan suhu optimum antara 25

o C-30

o

2. Ketersediaan Nutrien Derajat keasaman (pH) Air

C, hal ini dapat dipenuhi dengan baik di daerah beriklim tropis. Di samping itu untuk pertumbuhan yang lebih baik, eceng gondok lebih cocok terhadap pH 7,0 - 7,5, jika pH lebih atau kurang maka pertumbuhan akan terlambat (Mukti, 2008).

Pada umumnya jenis tanaman gulma air tahan terhadap kandungan unsur hara yang tinggi. Sedangkan unsur N dan P sering kali merupakan faktor pembatas. Kandungan N dan P kebanyakan terdapat dalam air buangan domestik. Jika pada perairan kelebihan nutrien ini maka akan terjadi proses eutrofikasi. Eceng gondok dapat hidup di lahan yang mempunyai derajat keasaman (pH) air 3,5 - 10. Agar pertumbuhan eceng gondok menjadi baik, pH air optimum berkisar antara 4,5 – 7. 2.2.5.3. Ciri-ciri Fisiologis Enceng Gondok

Eceng gondok memiliki daya adaptasi yang besar terhadap berbagai macam hal yang ada disekelilingnya dan dapat berkembang biak dengan cepat. Eceng gondok dapat hidup ditanah yang selalu tertutup oleh air yang banyak mengandung makanan. Selain itu daya tahan eceng gondok juga dapat hidup ditanah asam dan tanah yang

(35)

basah (Anonim, 1996). Kemampuan eceng gondok untuk melakukan proses-proses sebagai berikut :

a. Transpirasi

Jumlah air yang digunakan dalam proses pertumbuhan hanyalah memerlukan sebagian kecil jumlah air yang diadsorbsi atau sebagian besar dari air yang masuk kedalam tumbuhan dan keluar meninggalkan daun dan batang sebagai uap air. Proses tersebut dinamakan proses transpirasi, sebagian menyerap melalui batang tetapi kehilangan air umumnya berlangsung melalui daun. Laju hilangnya air dari tumbuhan dipengaruhi oleh kwantitas sinar matahari dan musim penanamnan. Laju teraspirasi akan ditentukan oleh struktur daun eceng gondok yang terbuka lebar yang memiliki stomata yang banyak sehingga proses transpirasi akan besar dan beberapa factor lingkungan seperti suhu, kelembaban, udara, cahaya dan angin.

b. Fotosintesis

Fotosintesis adalah sintesa karbohidrat dari karbondioksida dan air oleh klorofil. Menggunakan cahaya sebagai energi dengan oksigen sebagai produk tambahan. Dalam proses fotosintesis ini tanaman membutuhkan CO

2 dan H2

c. Respirasi

O dan dengan bantuan sinar matahari akan menghasilkan glukosa dan oksigen dan senyawa-senyawa organic lain. Karbondioksida yang digunakan dalam proses ini beasal dari udara dan energi matahari.

Sel tumbuhan dan hewan mempergunakan energi untuk membangun dan memelihara protoplasma, membran plasma dan dinding sel. Energi tersebut dihasilkan

(36)

melalui pembakaran senyawa-senyawa. Dalam respirasi molekul gula atau glukosa (C

6H12O6

2.3. Landasan Teori

) diubah menjadi zat-zat sedarhana yang disertai dengan pelepasan energi.

Adanya tumbuhan Enceng gondok (Eichornia crassipes) berpengaruh terhadap perkembangbiakan larva nyamuk Anopheles spp. Ada beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangbiakan larva nyamuk Anopheles spp. di antaranya faktor biologi, faktor fisik serta faktor kimia (Irsanya, 2005).

Vegetasi air dapat mempengaruhi kehidupan larva seperti pohon bakau, ganggang. Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk karena dapat menghalangi sinar matahari (Irsanya, 2005).

Menurut Rao dalam Marsaulina (2002) tumbuhan air di tempat perindukan sangat berperan terhadap keberadaan larva nyamuk Anopheles. Hal ini disebabkan oleh tumbuhan air dapat berfungsi sebagai tempat penambaan diri bagi larva nyamuk saat beristirahat di atas permukaan air, tempat berlindung dari arus air dan serangan predator (Marsaulina, 2002).

Suhu udara mempengaruhi panjang pendeknya siklus perkembangbiakan nyamuk. Menurut Thomson dalam Marsaulina (2002), waktu tetas telur Anopheles sangat dipengaruhi oleh suhu air pada tempat perindukannya, makin tinggi suhu air maka waktu tetas akan semakin singkat.

(37)

Menurut penelitian Ompusunggu dkk (1992) larva An. sundaicus dan An. subpictus hampir selalu ditemukan bersama-sama di lagun yang berjarak 0-10 meter dari pantai. Kondisi lagun pada saat penemuan kedua spesies ini adalah lebih sering ditemukan di air bersih daripada air kotor, hampir selalu ada algae, lebih sering dengan bahan-bahan terapung, hampir selalu ada sinar matahari langsung (Ompusunggu dkk, 1992).

pH air mempengaruhi tempat perindukan nyamuk Anopheles spp. Menurut Marsaulina (2002) derajat keasaman (pH) air digunakan dalam pengaturan respirasi dan sistem enzim dalam tubuh larva nyamuk. pH air sangat bervariasi dengan bertambahnya kedalaman, pH cenderung menurun (Marsaulina, 2002).

Salinitas berpengaruh terhadap tempat perindukan nyamuk. Pada kadar garam di atas 40 0/00

BOD (Biochemical Oxygen Demand) menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan-bahan buangan di dalam air. Jika konsumsi oksigen tinggi yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut, maka berarti kandungan bahan-bahan buangan yang membutuhkan oksigen tinggi untuk reaksi biokimia, yaitu untuk mengoksidasi bahan organik, sintesis sel, dan oksidasi sel (Fardiaz, 2004).

tidak memungkinkan untuk perkembangan larva nyamuk. pH air juga berpengaruh terhadap pengaturan respirasi dan sistem enzim dalam tubuh larva (Marsaulina, 2002).

Menurut Warren dalam Marsaulina (2002) bahwa kandungan oksigen terlarut yang sangat rendah mengurangi jenis invertebrata berukuran lebih besar sedangkan

(38)

caing Tubifex, larva-larva nyamuk dan sebagainya masih ditemukan. Biasanya pada air yang cukup dangkal persediaan O2

Penurunan oksigen terlarut di dalam air adalah menurunnya kehidupan hewan dan tanaman air. Hal ini disebabkan karena mahluk hidup tersebut banyak yang mati atau melakukan migrasi ke tempat yang konsentrasi oksigennya masih tinggi (Fardiaz, 2004).

masih banyak ditemukan (Marsaulina, 2002).

Kandungan oksigen terlarut yang sangat rendah mengurangi jenis invertebrata berukuran lebih besar sedangkan caing Tubifex, larva-larva nyamuk dan sebagainya masih ditemukan. Di alam, larva nyamuk bergantung pada mikroorganisme yang menjadi makanannya, zooplankton dan fitoplankton.

Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah (panchax spp.), gambusia, nila, mujahir dan lain-lain akan mempengaruhi populasi nyamuk d suatu daerah (Marsaulina, 2002).

(39)

2.4. Kerangka Konsep Penelitian

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian

Angka Perkembangbiakan nyamuk Anopheles spp.

• Larva

• Pupa (Kepompong) • Imago (Nyamuk Dewasa) Faktor Lingkungan Dengan

Keberadaan Tumbuhan Enceng gondok (Eichornia

crassipes): 1. Fisik • Suhu Air • Sinar Matahari • Kedalaman Air 2. Kimia • pH • Kadar Garam • BOD • DO 3. Biologi • Hewan Predator

Figure

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian

Gambar 2.1

Kerangka Konsep Penelitian p.39

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in