BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengenalan Nyamuk
Nyamuk termasuk kelas insekta, ordo diptera dan famili culicidae. Nyamuk dapat mengganggu manusia dan binatang melalui gigitannya serta berperan sebagai vektor penyakit pada manusia dan binatang yang penyebabnya terdiri atas berbagai macam parasit (Sutanto dkk, 2008).
Serangga ini bentuknya langsing, halus, distribusinya kosmopolit, jumlahnya lebih dari 3000 spesies, stadium larva dan pupanya hidup di air. Merupakan kelompok artropoda yang terpenting untuk menularkan penyakit, dan dapat menimbulkan dermatitis (Garcia dan Bruckner, 1996).
Famili culicidae dibagi menjadi 3 tribus, yaitu tribus anophelini (Anopheles), tribus culicini (Culex, Aedes, Mansonia), dan tribus toxorhynchitini (Toxorhynchites) (Sutanto dkk, 2008).
Nyamuk dapat hidup sampai ketinggian 4200 meter di atas permukaan laut dan sampai 115 meter di bawah permukaan laut. Jumlah spesies di daerah tropis lebih banyak dibandingkan di daerah dingin seperti di kutub selatan (Sutanto dkk, 2008).
Semua jenis nyamuk membutuhkan air untuk kelangsungan hidup karena larva larva (jentik-jentik) nyamuk melanjutkan hidupnya di air dan hanya bentuk dewasa yang hidup di darat.Nyamuk betina memilih tipe air tertentu untuk meletakkan telurnya di permukaan air; ada yang meletakkan telur pada air bersih, air kotor, air payau, atau tipe air lainnya. Bahkan ada nyamuk yang meletakkan telurnya pada axil tanaman, lubang kayu, tanaman yang berkantung yang dapat menampung air, atau dalam kontainer kontainer bekas yang menampung air hujan atau air bersih (Sembel, 2009).
Telur nyamuk menetas dalam air dan menjadi larva. Larva-larva nyamuk hidup dengan memakan organisme organisme kecil, tetapi ada juga yang bersifat
predator seperti larva Toxorhynchites sp. yang memangsa jenis nyamuk lainnya yang hidup di dalam air. Kebanyakan nyamuk betina harus mengisap darah manusia atau hewan dalam jumlah yang cukup sebelum perkembangan telurnya terjadi. Bila tidak mendapatkan cairan darah yang cukup, nyamuk betina ini akan mati. Namun ada jenis nyamuk yang bersifat spesifik dan hanya meghisap darah manusia atau mamalia. Bentuk jantan nyamuk biasanya hidup dengan memakan cairan tumbuhan (Sembel, 2009).
Tingkah laku dan aktivitas nyamuk pada saat terbang berbeda beda menurut jenisnya. Ada nyamuk yang aktif pada waktu siang seperti Aedes aegypti dan pada waktu malam seperti Anopheles (Sembel, 2009).
2.2.1. Morfologi Nyamuk
Nyamuk berukuran kecil (4-13 mm). Kepalanya mempunyai probosis halus dan panjang yang melebihi panjang kepala. Pada nyamuk betina probosis dipakai sebagai alat untuk mengisap darah, sedangkan pada nyamuk jantan digunakan untuk mengisap bahan bahan cair seperti cairan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan juga keringat. Di kiri kanan probosis terdapat palpus yang terdiri atas 5 ruas dan sepasang antenayang terdiri atas 15 ruas. Antenna pada nyamuk jantan berambut lebat (plumose) dan pada nyamuk betina jarang (pilose). Sebagian besar toraks yang tampak (mesonotum), diliputi bulu halus. Bulu tersebut berwarna putih/ kuning dan membentuk gambaran yang khas untuk masing masing spesies. Posterior dari mesotonum terdapat skutelum yang pada anophelini bentuknya melengkung (rounded) dan pada culicini membentuk tiga lengkungan (trilobus). Sayap nyamuk panjang dan langsing, mempunyai vena yang permukaannya ditumbuhi sisik-sisik sayap (wing scales) yang letaknya mengikuti vena. Pada pinggir sayap terdapat sederetan rambut yang disebut umbai (fringe). Abdomen berbentuk silinder dan terdiri atas 8 ruas (Sutanto dkk, 2008).
Nyamuk mempunyai tiga pasang kaki (heksapoda) yang melekat pada toraks dan setiap kaki terdiri atas satu ruas femur, satu ruas tibia dan lima ruas tarsus (Sutanto dkk, 2008).
2.2. Siklus Hidup Nyamuk
Nyamuk termasuk dalam kelompok seranggak yang mengalami metamorfosi sempurna dengan bentuk siklus hidup berupa telur, larva, pupa, dan dewasa. Perbedaan siklus hidup nyamuk-nyamuk Culex. Aedes, Anopheles dapat dilihat melalu gambar 2.2.
Gambar 2.1 Siklus hidup nyamuk
Gambar 2.2 Siklus Hidup Nyamuk Anopheles, Aedes, Culex (Sumber : WHO, 1997)
1. Telur
Telur biasanya diletakkan di atas permukaan air satu per satu atau dalam kelompok. Telur-telur dari jenis Culex dan Culiseta, telur telurnya biasa diletakkan berkelompok (raft). Dalam satu kelompok bias terdapat puluhan atau ratusan butir telur nyamuk. Nyamuk Anopheles dan Aedes meletakkan telur diatas permukaan air satu per satu. Telur dapat bertahan hidup dalam waktu yang cukup lama dalam bentuk dorman. Namun, bila air cukup tersedia, telur telur itu biasanya menetas 2-3 hari sesudah diletakkan (Sembel, 2009).
2. Larva
Telur menetas menjadi larva atau sering juga disebut jentik. Berbeda dengan larva dari anggota anggota Diptera yang lain seperti lalat yang larvanya tidak bertungkai, larva nyamuk memiliki kepala yang cukup besar serta toraks dan abdomen yang cukup jelas. Larva dari kebanyakan nyamuk menggantungkan dirinya pada permukaan air. Untuk mendapatkan oksigen dari udara, larva nyamuk Culex dan Aedes biasanya menggantungkan tubuhnya agak tegak lurus pada permukaan air, sedangkan Anopheles biasanya secara horizontal atau sejajar dengan permukaan air. Ada jenis larva nyamuk yang hidup dalam air dan bernapas melalui difusi kutin (cutaneous diffusion) seperti Mansonia sp. Jenis jenis Mansonia memiliki tabung udara yang berbentuk pendek dan runcing yang dipergunkan untuk menusuk akar tanaman air. Kebanyakan larva nyamuk menyaring mikroorganisme dan partikel partikel lainnya dalam air. Larva biasanya melakukan pergantian kulit empat kali dan berpupasi sesudah sekitar 7 hari (Sembel, 2009).
3. Pupa
Setelah melewati pergantian kulit keempat, maka terjadi pupasi.Pupa berbentuk agak pendek, tidak makan, tetapi tetap aktif bergerak dalam air terutama bila diganggu. Mereka berenang naik turun dari bagian dasar ke permukaan air. Bila perkembangan pupa sudah sempurna, yaitu sesudah dua atau tiga hari, maka kulit pupa pecah dan nyamuk dewasa keluar serta terbang (Sembel, 2009).
4. Dewasa
Nyamuk dewasa yang baru keluar dari pupa berhenti sejenak di atas permukaan air untuk mengeringkan tubuhnya terutama sayap-sayapnya dan sesudah mampu mengembangkan sayapnya, nyamuk dewasa terbang mencari makanan. Dalam keadaan istirahat, bentuk dewasa dari Culex dan Aedes
hinggap dalam keadaan sejajar dengan permukaan, Sedangkan Anopheles hinggap agak tegak lurus dengan permukaan (Sembel, 2009).
2.3. Hal Hal yang Mempengaruhi Populasi Nyamuk
A. Pengaruh iklim
Iklim lebih banyak berpengaruh pada nyamuk dewasa dari stadium pradewasa. Komponen lingkungan fisik yang sangat berpengaruh adalah suhu, kelembaban, curah hujan, cahaya, dan angin. Ada dua macam iklim yaitu (1) iklim makro, merupakan keadaan cuaca rata-rata, merupakan keadaan rata rata di suatu daerah, dan (2) iklim mikro, merupakan modifikasi hingga suatu tingkat tertentu dari keadaan iklim makro. Dari kedua iklim ini dapat terjadi perbedaan suhu dan kelembaban dalam beberapa derajat (Susana dan Sembiring 2011).
B. Pengaruh Suhu
Nyamuk termasuk berdarah dingin, maka proses metabolisme dan siklus hidup tergantung suhu dan lingkungan serta tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sendiri terhadap perubahan lingkungan. Pada suhu diatas 350 𝐶, dapat mengalami perubahan yaitu lambatnya proses fisiologis, rata rata suhu optimum berkisar 250𝐶 − 270𝐶 dan pertumbuhan akan berhenti bila suhu kurang dari 100𝐶 atau diatas 400𝐶 serta nyamuk mempunyai toleransi suhu berkisar 50𝐶 − 60𝐶. Kecepatan perkembangan nyamuk
tergantung dari kecepatam proses metabolisme yang dipengaruhi oleh suhu (Susana dan Sembiring 2011).
C. Pengaruh Kelembaban Nisbi
Pernapasan nyamuk menggunakan pipa trakea dengan muara udara disebut spirakel. Spirakel yang terbuka tanpa mekanisme pengatur pada waktu kelembaban rendah akan menyebabkan penguapan air dari dalam
tubuh nyamuk sehingga cairan tubuh nyamuk akan keluar (Susanna dan Sembiring, 2011).
Ekosistem kepulauan menyebabkan nyamuk beradaptasi pada kelembaban tinggi sehingga dapat mempengaruhi populasi nyamuk yakini: 1. Adaptasi pada kelembaban tinggi menyebabkan nyamuk cepat lelah, dan kematian cukup tinggi akibat kekeringan sehingga populasi tetap stabil.
2. Adanya spirakel yang terbuka lebar dapat membatasi jarak terbang dan penyebaran nyamuk sehingga pola penyebaran berbentuk kluster, tidak dapat memilih mangsa (indiscriminate feeders) yaitu menggigit sembarangan hospes yang terdekat sebagai mangsa.
3. Kebutuhan kelembaban yang tinggi menyebabkan nyamuk mencari tempat yang lembab dan basah di luar rumah sebagai tempat beristirahat di siang hari.
4. Pada kelembaban kurang dari 60% umur nyamuk lebih pendek sehingga tidak cukup untuk pertumbuhan parasit (Susanna dan Sembiring, 2011).
D. Pengaruh Hujan dan Tempat Perkembangbiakan
Adanya hujan akan menyebabkan naiknya kelembaban nisbi udara dan menambah jumlah berkembang biaknya nyamuk (breeding place). Kejadian penyakit ditularkan oleh nyamuk biasanya meninggi beberapa waktu sebelum musim hujan lebat ataupun setelah hujan lebat yang dapat menciptakan tempat perkembangbiakan larva di berbagai tempat, antara lain di kolam, rawa, wadah, genangan air, lubang pohon dan tempat lainnya yang terdapat air (Susanna dan Sembiring, 2011).
E. Pengaruh Angin
Secara langsung angin dapat mempengaruhi terhadap penerbangannya, bila kecepatan angin 25 − 31 𝑚𝑖𝑙 𝑗𝑎𝑚⁄ dapat menghambat penerbangan, nyamuk dapat mentoleransi kecepatan angin
berkisar 12 𝑚𝑖𝑙 𝑗𝑎𝑚⁄ . Angin dapat mempengaruhi penguapan air dan suhu udara. Dalam keadaan tenang, mungkin suhu tubuh nyamuk mempunyai ketinggian berkisar 10𝐶 lebih tinggi dari suhu lingkungan, dan bila ada angin maka suhu tubuh nyamuk akan turun (Susanna dan Sembiring, 2011).
F. Pengaruh Tumbuhan
Tumbuhan bagi nyamuk merupakan salah satu tempat meletakkan telur, tempat berlindung, tempat mencari makan bagi larva. Tumbuhan juga dapat menjadi indikator memperkirakan adanya jenis nyamuk tertentu. Miasalnya bila tempat cukup terbuka kemungkinan nyamuk yang akan berkembang adalah An. sundaicus, bila tempat cukup teduh kemungkinan dapat dijumpai An. Barbirostris (Susanna dan Sembiring, 2011).
Mansonia sangat senang meletakkan telurnya pada daun bagian bawah tumbuhan terapung di air, sedangkan Aedes meletakkan pada tumbuhan air yang menjulang keatas atau pada permukaan air di bagian pinggir wadah (Susanna dan Sembiring, 2011).
Ada tumbuhan yang dapat menghambat perkembangan larva misalnya famili Labiatae yaitu biji selasih (Ocimun sanctum) yang dapat melekatkan larva sehingga larva tidak dapat berenang bebas (Susanna dan Sembiring, 2011).
2.4. Nyamuk Sebagai Vektor Penyakit
Nyamuk adalah vektor mekanis atau vektor siklik dari penyakit manusia dan hewan yang disebabkan oleh bakteri, cacing, protozoa, dan virus(Brown 1979). Berikut merupakan penyakit penyakit dimana nyamuk menjadi vektor penyakit :
A. Dengue
Dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan virus genus Flavivirus yaitu virus Dengue (DENV-1,-2,-3,-4) dan ditularkan kepada manusia oleh nyamuk dari genus Aedes terutama Ae.aegypti dan Ae. Albopictus (Guzman dkk. 2010 dalam
da Moura, 2015). Spesies yang berperan sebagai vektor sekunder yaitu Ae.albopictus, Ae. polynesiensis, dan Ae.(finlaya) neveus, yang dapat menyebabkan Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD), dan Syndrome Shock Dengue (SSD) (Susanna dan Sembiring, 2011).
B. Japanese Encephalitis (JE)
Janpanese Encephalitis merupakan penyakit zoonosis yang dapat menyebabkan radang akut pada susunan saraf pusat. Penyakit ini disebabkan oleh JE virus yang merupakan RNA virus, kelompok dari genus Flavivirus, family flaviviridae (WHO, 2006). JEV terutama ditansmisikan oleh nyamuk Culex sp. yakini: Cx. tritaeniorhincus (merupakan vektor utama), Cx. vishnui, Cx. gelidus, Cx. guscocephala, Cx. quiguefasciatus. Ada juga nyamuk dari genus Anopheles (An. annularis, An. vagus, An. kochi), Mansonia (Mn. annulifera, Mn.uniformis), Aedes (Ae. aegypti, Ae. albopictus, Ae. lineaatopennis), dan Armigeres subalbatus. Hewan lain yang dapat berperan secara alamiah sebagai tuan rumah reservoir adalah babi, kuda, sapi, dan kerbau maupun unggas (Susanna dan Sembiring, 2011).
C.Chikungunya (CHIK)
Chikungunya merupakan penyakit arboviral yang disebabkan oleh virus chikungunya (CHIKV) (Robinsin, 1995 dalam Schwartz dan Albert, 2010). Penyakit ini ditransmisikan melalui gigitan nyamuk. CHIKV merupakan anggota dari famili Togaviridae, genus Alphavirus (Lemant dkk, 2008 dalam Schwartz dan Albert, 2010).
Vektor yang berperan pada penyakit ini adalah nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus yang juga merupakan vektor dari penyakit dengue. Chikungunya tidak dapat ditularkan secara langsung dari manusia ke manusia (CDC, 2013)
D.Filariasis
Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) adalah penyakir menular yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun laki laki (Depkes, 2014).
Vektor dari filaria adalah nyamuk dari spesies Anopheles, Culex, Mansonia. Vektor terpenting di Indonesia adalah Cx. Fatigan, Ae. Aegypti dan Mansonia sp. Mikrofilaria dalam tubuh vektor tidak terjadi perkembangbiakan, hanya perubahan bentuk saja (Susanna dan Sembiring, 2011).
E.Malaria
Malaria merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di Asia, Amerika Latin, Timur Tengah, Eropa Timur, dan Pasifik (UNICEF, 2000). Penyakit malaria hampir terdapat di seluruh dunia terutama di daerah tropis dan subtropis, kecuali malaria tropika (P. falciparum) hanya terdapat di daerah yang beriklim tropis.Spesies terbanyak yang dijumpai adalah P. falciparum dan P.vivax. Spesies dari P. malariae hanya ditemukan di Indonesia bagian timur dan P. ovale banyak terdapat di Afrika, Pasifik Barat, tetapi juga ditemukan di Irian dan Nusa Tenggara Timur. Umumnya penularan malaria terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Jenis Anopheles di Indonesia lebih dari 90 macam.Dari sekian jenis, hanya beberapa yang mempunyai potensi untuk menularkan malaria. Vektor utama yang telah diketahui di Indonesia antara lain :
- An. aconitus - An. kochi - An. sundaicus - An. barbirostris - An. philipinensis - An. tselatus - An. schueffneri - An. punctulatus - An. farauti - An. minimus - An. balabacensis - An. Indefinus - An. ramsayi - An. umbrosus - An. leucopshyrus - An. hyrcanus group. - An. annularis - An. letifer - An. maculatus - An. subpictus - An.vagus
2.5. Survei Larva
Terdiri atas 2 metode yaitu : A. Metode Single Survey
Dilakukan dengan mengabil satu larva di setiap genangan air yang terdapat larva, kemudain dilakukan identifikasi.
B. Metode Visual
Dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya larva di setiap genangan air tanpa dilakukan pengambilan larva.Survei ini bertujuan untuk mengukur kepadatan larva. Adapun ukuran yang dipakai untuk menghitung kepadatan larva adalah :
1. Angka Bebas Larva (ABL)
Menyatakan persentase jumlah rumah bebas larva diantara rumah yang diperiksa secara acak.
𝐴𝐵𝐿 =𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑠 𝑙𝑎𝑟𝑣𝑎
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎 × 100%
>50% resiko penularn penyakit rendah <50% resiko penularan penyakit tinggi (Chadijjah dkk, 2011).
2. Breteau Indeks (BI)
Menyatakan persentase jumlah container yang positif larva dalam 100 rumah yang diperiksa.
𝐵𝐼 =𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑟𝑣𝑎
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎 × 100%
>50% resiko penularn penyakit tinggi <50% resiko penularan penyakit rendah (WHO, 2009).
3. Container Indeks (CI)
Menyatakan persentase jenis container yang berpotensi/paling banyak ditemukan larva.
𝐶𝐼 =𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑟𝑣𝑎
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎 × 100%
>50% resiko penularn penyakit tinggi <50% resiko penularan penyakit rendah (WHO, 2009).
4. House Indeks (HI)
Menyatakan persentase jumlah rumah ditemukan larva per jumlah rumah di periksa.
𝐻𝐼 =𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑟𝑣𝑎
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑖𝑘𝑠𝑎 × 100%
>50% resiko penularn penyakit tinggi <50% resiko penularan penyakit rendah (WHO, 2009).
2.6. Morfologi Larva Nyamuk Berdasarkan Spesies
A. Aedes sp
Larva nyamuk Aedes sp menggantungkan tubuhnya dengan membentuk sudut terhadap permukaan air. Larva Aedes sp memiliki ciri ciri yaitu mempunyai 2-3 deret comb scale, mempunyai siphon dengan panjang 4x lebar basal (Breeland dan Loyless, 1982). Siphon tufts berada di bagian tengah siphon. Mempunyai 4-7 precratal tufts. Pada segmen kepala memiliki 2-4 cabang midfrontal hairs dan inner frontal hairs (Utrio, 1976).
B. Anopheles sp
Larva Anopheles menggantungkan tubuhnya sejajar dengan permukaan air. Larva Anopheles sp tidak mempunyai siphon (Utrio, 1976) dan pada setiap segmen terdapat tergal plate. Spirakel berbentuk cincin pada ruas ke VIII abdomen yang berfungsi sebagai saluran udara (Susanna dan Sembiring, 2011).
C. Culex sp
Larva Culex sp menggantungkan dirinya dengan membentuk sudut terhadap permukaan air. Memiliki siphon yang lebih panjang dari Aedes sp dan bulu lebih dari satu (Susanna dan Sembiring, 2011). Larva Culex sp memiliki 4 deret comb scale, dan mempunyai siphon dengan panjang 5-6x lebar basal (Breeland dan Loyless, 1982).
D. Mansonia sp
Larva Mansonia sp mempunyai siphon yang ujungnya rucing, agak gelap, dan bergerigi (Susanna dan Sembiring, 2011).
(Sumber : Litting dan Stojanovich, 1997)
Gambar 2.4 Larva Anopheles sp (Sumber : WHO, 2013)
Gambar 2.5 Larva Culex quadrimaculatus (Sumber : Litting dan Stojanovich, 1997).