• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nyamuk Culex quinquefasciatus

Nyamuk Culex dapat hidup didaerah tropis dan subtropis. Nyamuk Culex merupakan nyamuk pembawa (vektor) penyakit filaria. Di Indonesia banyak ditemukan nyamuk Culex, hal ini disebabkan karena distribusinya sangat luas dan penyebarannya yang bersifat endemik. Penyebaran nyamuk Culex berkaitan dengan alat transportasi penampung air seperti drum yang mengandung larva, dan bisa juga berkaitan dengan pemukiman penduduk yang dilengkapi sarana penampungan air. (8,9)

2.1.1 Klasifikasi

Adapun klasifikasi dari Culex quinquefasciatus adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda Subfilum : Mandibulata Klas : Isecta Subklas : Pterygota Ordo : Diptera Subordo : Nematocera Famili : Culicidae Subfamili : Culicina

(2)

Genus : Culex

Spesies : Culex quinquefasciatus(8)

2.1.2 Morfologi

Culex quinquesfasciatus termasuk ordo diptera (sayap sepasang) yang

mengalami metamorfosis sempurna, yaitu melewati fase telur-larva-pupa-dewasa.

Morfologi tiap stadium berbeda-beda, berikut penjelasan mengenai morfologi dari stadium-stadium Culex :

2.1.2.1 Telur

Gambar 2.1 Telur Culex quinquefasciatus Sumber :

http://medent.usyd.edu.au/arbovirus/mosquit/photos/mosquitophotos_cul ex.htm

Telur biasanya diletakkan di atas permukaan air satu per satu atau berkelompok, melekat satu sama lain sampai akhirnya membentuk seperti sebuah rakit. Bentuk dari telur Culex yaitu meruncing dan kadang berbentuk menyerupai peluru senapan. Telur yang baru diletakkan berwarna putih yang kemudian setelah 1-2 jam akan mengalami perubahan warna menjadi hitam. (8,10,11)

(3)

2.1.2.2 Larva

Gambar 2.2 Larva Culex quinquefasciatus Sumber :

http://medent.usyd.edu.au/arbovirus/mosquit/photos/mosquitophotos_cul ex.htm

Setelah 2-3 hari telur akan menetas menjadi larva yang disebut larva instar 1, selanjutnya berkembang menjadi larva instar 2, instar 3, dan instar 4. Setiap akhir instar, larva mengalami pergantian kulit. Pertumbuhan larva dari instar 1 sampai instar 4 berlangsung selama 6-8 hari. Pada instar 3 dan instar 4 larva mempunyai struktur tubuh yang sempurna dan bergerak aktif dengan memperlihatkan gerakan naik ke permukaan dan turun ke dasar perindukan.

Struktur tubuh yang terbentuk yaitu kepala, dada (thorax), perut (abdomen). Larva Culex menggantungkan tubuhnya dipermukaan air untuk mendapatkan oksigen

dan udara melalui corong pernafasan (sifon). Posisi larva Culex pada permukaan air ialah dengan membentuk sudut 45o. Hal ini dikarenakan hanya ujung sifon saja yang menempel pada permukaan air. Partikel-partikel organik yang berada didalam air merupakan sumber makanan larva culex.(8,10,11)

(4)

2.1.2.3 Pupa

Gambar 2.3 Pupa Culex quinquefasciatus Sumber :

http://medent.usyd.edu.au/arbovirus/mosquit/photos/mosquitophotos_cul ex.htm

Setelah melewati instar 4, larva berubah bentuk menjadi pupa. Pupa berbentuk agak pendek, tubuh melengkung seperti koma, dan bergerak aktif naik turun dari dasar ke permukaan air terutama bila diganggu. Pada stadium ini, pupa tidak memerlukan makanan. Setelah 1-2 hari, perkembangan pupa akan sempurna kemudian kulit pupa akan mengelupas dan nyamuk dewasa keluar.(8,10)

(5)

2.1.2.4 Imago (Dewasa)

Gambar 2.4 Nyamuk Dewasa Culex quinquefasciatus Sumber :

http://medent.usyd.edu.au/arbovirus/mosquit/photos/mosquitophotos_cul ex.htm

Setelah 2-3 hari, dari pupa akan muncul nyamuk dewasa melalui robekan pada kulit bagian thorax. Tubuh nyamuk dewasa terdiri dari beberapa bagian, yaitu kepala, thorax, dan badan. Pada bagian kepala terdiri dari sepasang mata, proboscis, sepasang palpus dan sepasang antena. Perbedaan nyamuk Culex betina dan jantan yakni Culex jantan memiliki palpa tanpa pelebaran pada ujungnya dan juga memiliki antenna yang berbulu lebat.(8,10)

(6)

2.1.3 Siklus Hidup

Gambar 2.5 Siklus Hidup Culex quinquefasciatus Sumber :

https://ru.wikipedia.org/wiki/%D0%9A%D1%83%D0%BB%D0%B5%D0

%BA%D1%81%D1%8B#/media/File:Culex_mosquito_life_cycle_en.svg

Siklus hidup nyamuk Culex di mulai dari telur, larva, pupa sampai dewasa (imago). Culex dapat bertelur 150-300 butir. Culex meletakkan telurnya pada permukaan air secara berkelompok atau membentuk seperti rakit. Telur Culex ketika dikeluarkan berwarna putih, setelah 1-2 jam akan berubah menjadi

warna hitam. 2-3 hari telur menetas menjadi larva. Kemudian larva akan berkemang menjadi pupa setelah melewati instar 4 Dan kemudian pupa berkembang menjadi nyamuk dewasa. Kurang lebih 1-2 minggu pertumbuhan Culex dari telur hingga dewasa.(7,8)

(7)

2.1.4 Tempat Perindukan

Tempat utama perindukan Culex qinquefasciatus adalah air tercemar yang mengandung tingkat pencemaran organik yang tinggi. Culex dapat bertahan hidup pada air keruh dan air tercemar.(8,10)

2.1.5 Perilaku Nyamuk

Culex menggigit manusia dan hewan terutama pada malam hari sebelum

matahari terbit. Pola aktivitas menggigit di dalam rumah dimulai sejak sore, sepanjang malam sampai pagi hari, dengan 3 puncak kepadatan yaitu pukul 20.00- 21.00, pukul 22.00-23.00, dan tengah malam 02.00-03.00. sedangkan diluar rumah, nyamuk Culex quinquefasciatus ada sepanjang malam dengan 3 puncak kepadatan yaitu pukul 21.00-22.00, 24.00-01.00, dan pukul 02.00-03.00.(14) Culex disebut bersifat anthropofilik karena menyukai darah manusia sebagai makanannya. Culex juga dapat disebut bersifat zooanthrofilik karena menghisap darah hewan vertebrata berdarah panas. Nyamuk betina akan menghisap darah untuk pembentukan telurnya. Setelah menghisap darah, Culex akan beristirahat 2- 3 hari untuk menunggu proses pertumbuhan telur. Setelah matang, nyamuk akan menetaskan telurnya disembarang tempat seperti genangan air, bak mandi, got terbuka, dan empang ikan. Nyamuk betina akan bertelur sampai sore hari menjelang matahai terbenam dan akan kembali menghisap darah pada malam hari.(7,10)

(8)

2.1.6 Patogenesis Culex quinquefasciatus

Salah satu penyakit yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Culex ialah filarasis limfatik. Filariasis limfatik (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria, yang hidup disaluran dan kelenjar limfe serta menyebabkan gejala akut atau kronis. Nyamuk sendiri mendapatkan mikrofilaria dengan menghisap darah dari manusia atau hewan yang terinfeksi filariasis. Nyamuk sebagai vektor menghisap darah penderita (mikrofilaremia) dan saat itu mikrofilaria ikut terhisap bersama darah masuk dalam lambung nyamuk. Dalam tubuh nyamuk mikrofilaria tidak berkembang biak tetapi hanya berubah bentuk dari instar 1 sampai instar 3 sampai beberapa hari, karenanya diperlukan gigitan berulang kali untuk terjadinya infeksi. Di dalam tubuh manusia instar 3 menuju sistem limfe dan selanjutnya tumbuh menjadi cacing dewasa jantan maupun betina kemudian berkembang biak.(11,12,18)

2.2 Jamur Trichoderma harzianum

Trichoderma harzianum merupakan sejenis cendawan / fungi yang

termasuk kelas ascomycetes. Trichoderma harzianum memiliki aktivitas antifungal. Pada umunya, Trichoderma banyak ditemukan di tanah hutan maupun tanah pertanian atau pada substrat berkayu.(13)

(9)

Gambar 2.5 Koloni Jamur Trichoderma harzianum

Sumber : https://www.researchgate.net/figure/47460532_fig1_Figure-1- Cultural-characteristics-of-Trichoderma-harzianum-colonies-on-Sabroud-dextrose

2.2.1 Klasifikasi

Klasifikasi jamur Trichoderma harzianum adalah sebagai berikut : Kingdom : Fungi

Divisi : Ascomycota Subdivisi : Sordariomycetes Ordo : Hypocreales Family : Hypocreasea Genus : Trichoderma

Spesies : Trichoderma harzianum(13,14)

(10)

2.2.2 Morfologi

Gambar 2.6 Mikroskpik Jamur Trichoderma harzianum(13) Morfologi jamur Trichoderma harzianum terdiri dari konidiospora yang terdapat pada struktur konidiofor. Konidiofor bercabang menyerupai piramida berupa cabang lateral dan berulang-ulang, sedangkan ke arah ujung percabangan menjadi bertambah pendek. Konidia berbentuk semi bulat hingga oval pendek, berukuran (2,8-3,2)×(2,5-2,8) µm, berdinding halus., cabang hifa tampak langsing dan panjang terutama pada apeks dari cabang dan berukuran 1,8×2,5 µm.

Trichoderma mempunyai Khlamidospora (spora aseksual berdinding tebal dan mampu bertahan hidup dalam lingkungan yang kurang menguntungkan) umumnya ditemukan dalam miselia dari koloni yang sudah tua, berbentuk bulat, berwarna hialin dan berdiding halus.(13,14)

2.2.3 Mekanisme infeksi jamur Trichoderma harzianum terhadap Serangga Ada empat tahapan jamur Trichoderma harzianum dalam menginfeksi serangga. Tahap pertama, adanya kontak antara konidia jamur dengan tubuh serangga. Tahap kedua, proses penempelan dan perkecambahan konidia pada intergumen serangga. Tahap ketiga, penetrasi dan invasi. Pada tahap penetrasi,

(11)

jamur menembus intergumen dan membentuk kecambah. Penembusan tersebut mengeluarkan enzim seperti kitinase, lipase, protease, laminarinase yang dapat menyebabkan dinding sel menjadi lisis; dan mengeluarkan toksin. Tahapan yang keempat, yaitu destruksi pada titik penetrasi dan terbentuknya blastospora kemudian beredar kedalam hemolimfa serangga serta merusak jaringan serangga dalam waktu 1-2 hari. Peredaran hemolimfa akan rusak sehingga hemolimfa kental dan berwarna pucat, kemudian melambat dan akhirnya berhenti. Serangga mengalami paralisis, melemah dan pada akhirnya mati. Tubuh serangga menjadi keras karena jaringan dan cairan tubuhnya habis dimakan oleh jamur.(16,17)

2.3 Kerangka Konsep

Gambar 2.7 Bagan Kerangka Konsep Konsentrasi Jamur

Trichoderma harzianum Jumlah Kematian Larva Culex quinquefasciatus

(12)

2.4 Definisi Operasional

Tabel 2.1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Cara

Ukur

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala Ukur 1 Konsentrasi

jamur

Trichoderma harzianum

Jumlah kandungan spora jamur Trichoderma harzianum yang terdapat pada setiap konsentrasi yang paling banyak dinyatakan dalam satuan spora/mm3

Mikros kopik

Improved Neubauer

Spora/

mm3

Rasio

2 Jumlah kematian larva Culex quinquefascia tus

Jumlah larva Culex quinquefasciatus yang mati sebanyak 50% setelah diberi perlakuan pada waktu observasi dengan jarak waktu setiap 24 jam

Makros kopik

Visual Ekor Rasio

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 3.8 diatas kover majalah Playboy Februari 2007, dengan teknik pencahayaan high key (warna dominan putih), titik fokus adalah tubuh perempuan, sudut pandangnya

1) Masalah bhakikat dari hidup manusia. 2) Masalah hakikat karya manusia. 3) Masalah hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu. 4) Masalah hakikat dari hubungan

Terjadinya perbedaan konversi ransum pada penelitian ini, dapat dijelaskan sebagai berikut: konsumsi ransum tidak dipengaruhi oleh ransum perlakuan, tetapi bila dikaitkan

2018, Pengaruh Leverage, Likuiditas, Komisaris Independen, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Moderating (Studi

Biasanya, frekwensi pribadi dari struktur mesin dan bagian mesin jauh lebih tinggi daripada frekuensi dari gaya yang tidak seimbang dalam mesin yang mungkin terjadi dalam

Total satu transaksi membutuhkan 50 orang yang terlibat dan menghabiskan waktu 8 jam (pada waktu sebenarnya adalah 3-5 hari dikarenakan intensitas yang banyak) Berikut ini

Tata Cara Penyusunan Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan DAS (RTk RHL-DAS) pada kawasan bergambut berfungsi lindung dan budi daya adalah sebagaimana tercantum dalam

Aplikasi kamus bahasa indonesia – jawa – jawa krama berbasis Android ini dapat di jalankan pada handphone berbasikan android dengan sistem operasi minimal 2.2 atau Froyo.