• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Barong Tongkok merupakan sebuah Kota kecamatan yang termasuk dalam kawasan Kabupaten Kutai Barat dengan Ibu kota Sendawar yang merupakan pemekaran dari wilayah Kabupaten Kutai yang telah ditetapkan berdasarkan UU Nomor 47 tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang tertanggal 4 Oktober 1999, dengan mayoritas penduduk yaitu bersuku bangsa Dayak.

Mengingat kawasan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur merupakan sebuah kawasan Kota Kecamatan yang baru di bangun atau baru di buka (pemekaran daerah) dimana saat sekarang merupakan Pusat Kepemerintahan di Kabupaten Kutai Barat, dengan Sendawar sebagai Ibu Kota Kabupaten, maka Kabupaten Kutai Barat khususnya Barong Tongkok pun selalu membenahi segala sesuatunya dengan memfokuskan pada lima bidang pembangunan yang merupakan kebutuhan paling urgen bagi masyarakat Kutai Barat saat ini dan mendatang, kebutuhan tersebut meliputi peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM), pendidikan, kesehatan dan keagamaan, pengembangan ekonomi kerakyatan, pembangunan infrastruktur, pengembangan adat dan budaya, dan pembangunan lingkungan hidup yang terkait erat dengan masalah sumber daya alam (SDA).

Namun hingga saat ini rencana pemerintah tersebut belum bisa tercapai secara maksimal khususnya dalam sektor keagamaan, hal tersebut terbukti dengan adanya pendataan jumlah penduduk yang tidak sebanding dengan jumlah tempat ibadah yang mereka miliki, khususnya Agama Katolik. Agama Katolik merupakan salah satu agama mayoritas yang berada di Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur dengan jumlah umat adalah 8.809 jiwa yang terhitung pada

(2)

tahun 2000, namun hingga pada tahun 2004 sarana tempat ibadah bagi umat katolik hanya dapat dipenuhi dengan jumlah yang amat sangat tidak mencukupi, yaitu gereja yang berjumlah 13 buah terhitung pada tahun 2004.

Tabel 1.1

Tabel Jumlah Tempat Ibadah Menurut Agama Tahun 2004 di Barong Tongkok

(Sumber : Departemen Agama Kabupaten Kutai Barat, 2004)

Seperti apa yang terlihat pada Tabel 1. 1 di atas, maka sudah tentu sarana ibadah tersebut tidak akan mampu untuk menapung jumlah umat beragama katholik di Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur yang kian tahun semakin bertambah jumlahnya, ditambah lagi dengan gaya bangunan gereja setempat yang seolah-olah merupakan gereja yang dipindahkan dari tempat lain yang kemudian di tempatkan di daerhah tersebut, sehingga menyebabkan tidak adanya sisi kelokalan yang dapat ditonjolkan.

SARANA IBADAH

JUMLAH

(1) (2)

01. Masjid

9

02. Langgar

6

03. Musholla

2

04. Gereja Katolik

13

05. Gereja Protestan 70

Gambar. 1.1. Gereja Katolik Yesus Raja Barong Tongkok

(3)

Melihat dari foto Gereja Katolik Yesus Raja Barong Tongkok di atas dapat diketahui bahwa gereja tersebut tidak sama sekali menonjolkan sisi kelokalan, padahal bangunan gereja tersebut berdiri di Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur yang memiliki ciri khas rumah panggung yang panjang, kaya akan ukir-ukiran dan filosofi yang terkandung didalamanya, ditambah lagi dengan bentuk gereja yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sisi kelokalan, sehingga bangunan gereja tersebut merupakan jenis bangunan yang sama sekali tidak menghargai lokasi.

Dengan adanya pembangunan Gereja Katolik Santo Thomas Aquinas ini diharapakan dapat menjawab permasalahan yang timbul di Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur dimana dapat menampung jumlah umat katolik yang tahun demi tahun terus meningkat serta dapat memberikan pelayanan antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia, sekaligus juga sebagai pendukung dan mensukseskan program pemerintah yang memfokuskan pembangunan pada lima sektor, yaitu salah satunya adalah sektor keagamaan.

1. 2 Identifikasi masalah

1. Kurangnya jumlah sarana ibadah bagi Agama Katolik di Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

2. Tidak adanya bangunan yang dapat mewadahi berbagai macam kegiatan Agama Katolik di Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

3. Tidak adanya bangunan Gereja Katolik yang menonjolkan sisi kelokalan.

Gambar. 1.2. Rumah Tradisional Masyarakat Dayak

(4)

1. 3 Rumusan Masalah

Perlunya membangun sebuah Bangunan Gereja Katolik Santo Thomas Aquinas di Barong Tongkok Kutai Barat, Kalimantan Timur yang dapat mewadahi jumlah umat katolik di kawasan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur sebagai gereja yang mampu menjolkan sisi kelokalan serta memberikan pelayanan antar manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.

1. 4 Tujuan

Merancang Bangunan Gereja Katolik Santo Thomas Aquinas di Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur yang dapat mewadahi jumlah umat katolik di kawasan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur sebagai gereja yang mampu menjolkan sisi kelokalan serta memberikan pelayanan antar manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.

1. 5 Sasaran

1. Melakukan studi tentang Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat 2. Melakukan studi tentang Agama katolik

3. Melakukan studi tentang Gereja Katolik 4. Melakukan studi tentang Arsitektur Dayak

1. 6 Lingkup

1. Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur dibatasi pada hal – hal yang berhubungan dengan pemilihan site untuk bangunan tersebut. 2. Agama Katolik dibatasi pada sejarah agama dan tata cara peribadatan

masyarakat lokal.

3. Gereja Katolik di batasi pada definisi, sejarah singkat gereja, kegiatan, dan ruang gereja.

(5)

1. 7 Metode

1. 7. 1 Metode Pencarian Data

1. Wawancara: Melakukan wawancara langsung via telepon dengan Pastor Ambros Pantola, selaku Pastor Paroki St. Markus Melak dan Jelivan selaku mantan Ketua Dewan Paroki St. Markus Melak Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

2. Kuesioner : Ditujukan kepada umat Katholik di Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

3. Observasi : Pengamatan Langsung pada Perayaan Misa pada hari sabtu dan minggu serta Natal dan Paskah.

4. Studi Pustaka: Mempelajari Buku – buku tentang Gerja Katholik, Ruang serba guna, Ruang pertemuan, Pastoran, Arsitektur Suku Dayak.

1. 7. 2 Metode Menganalisis Data 1. Kuantitatif :

Dari tabulase Jumlah Tempat Ibadah Menurut Agama Tahun 2004 (Sumber : Departemen Agama Kabupaten Kutai Barat, 2004)

2. Kualitatif :

Berdasarkan dari tabel Jumlah Tempat Ibadah Menurut Agama Tahun 2004, maka dapat disimpulkan bahwa sarana ibadah yang ada di Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur adalah tidak mencukupi, dimana jumlah penduduk yang beragama Katholik adalah 8.809 jiwa yang tercatat pada tahun 2000.

1. 7. 3 Metode Perancangan

Menggunakan prinsip – prinsip perancangan dari ide awal perancangan proyek yang akan dikerjakan, yaitu dengan mengetahui serta menentukan kebutuhan ruang yang ada pada Bangunan Gereja Katolik yang akan di rencanakan. Kebutuhan ruang pada bangunan Gereja Katolik adalah, Gedung serba guna,

(6)

pastoran ( kamar bagi para Pastor ), ruang pertemuan, kantor pengelola dan Gua Maria. Dari kebutuhan ruang tersebut maka kita akan dapat mengetahui kegiatan apa saja yang akan dapat diwadahi pada bangunan Gereja Katolik yang akan di rencanakan, dengan melakukan pendekatan terhadap arsitektur lokal yang akan di aplikasikan kedalam bangunan khususnya tempat ibadah (Gereja).

1. 8 Sistematika Penulisan BAB 1. PENDAHULUAN

Mengungkapkan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, sasaran, lingkup, metode dan sistematika penulisan.

BAB 2. TINJAUAN AGAMA KATOLIK DI BARONG TONGKOK KABUPATEN KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR.

Mengungapkan potensi yang ada di Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur dengan melihat perbandingan antara jumlah penduduk dan Jumlah sarana ibadah bagi umat yang beragama Katolik serta tata peribadatan masyarakat lokal.

BAB 3. TINJAUAN TEORITIS GEREJA KATOLIK DAN ARSITEKTUR LOKAL/ SUKU DAYAK

Mengungkapkan desain requirement Bangunan Gereja Katolik. Desain requirement yang terdapat pada Bangunan Gereja Katolik adalah berupa, Gedung serba guna, ruang pertemuan, Pastoran ( kamar bagi para Pastor ), Kantor pengelola, dan Gua Maria serta Mengungkapkan teori – teori yang ada pada Arsitektur suku Dayak dapat di terapkan pada Bangunan Gereja Katolik yang menekankan pada penggunaan bahan dan desain bangunannya.

(7)

BAB 4. ANALISIS MENUJU KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BANGUNAN GEREJA KATOLIK

Mengungkapkan proses untuk menemukan ide–ide konsep perencanaan dan perancangan melalui metode–metode tertentu yang di aplikasikan pada lokasi atau site tertentu.

BAB 5. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GEREJA KATOLIK Mengungkapkan konsep–konsep yang akan ditransformasikan

kedalam rancangan fisik Arsitektural.

Rancangan fisik arsitektural tersebut yang meliputi bentuk tampilan bangunan, penggunaan bahan bangunan yang ramah lingkungan yang rencananya akan diterapkan pada bangunan Gereja Katolik Santo Thomas Aquinas.

Gambar

Tabel Jumlah Tempat Ibadah Menurut Agama Tahun 2004 di Barong  Tongkok

Referensi

Dokumen terkait

Logo merupakan lambang yang dapat memasuki alam pikiran/suatu penerapan image yang secara tepat dipikiran pembaca ketika nama produk tersebut disebutkan (dibaca),

Seperti halnya dengan pengetahuan komunikasi terapeutik perawat, kemampuan perawat yang sebagian besar pada kategori cukup baik tersebut kemungkinan karena adanya

Penelitian yang dilakukan di TK AndiniSukarame Bandar Lampung betujuan meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui media gambar pada usia

Ketersediaan informasi lokasi rumah sakit, fasilitas dan layanan yang tersedia di rumah sakit dan tempat kejadian dapat tersedia secara jelas dan terkini sehingga penentuan

Alhamdulillahirobbil’alamin segala puji syukur dan sembah sujud, penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya sehingga penyusun

H1: (1) Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan yang diberi insentif dengan karyawan yang tidak diberi insentif (2) Terdapat perbedaan

7.4.4 Kepala LPPM menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan pada periode Pelaporan Hasil Pengabdian kepada masyarakat berikutnya.. Bidang Pengabdian kepada masyarakat

Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk berkomunikasi, upaya terbaik mereka dapat digagalkan oleh kesalahpahaman dan konflik bahkan