• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM DESA JOLOTIGO, PEMAHAMAN DAN IMPLEMENTASI TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III GAMBARAN UMUM DESA JOLOTIGO, PEMAHAMAN DAN IMPLEMENTASI TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

39

A. Gambaran Umum Desa Jolotigo. 1. Letak Geografis

Desa Jolotigo Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan merupakan Desa yang mempunyai letak sebagai berikut: Sebelah utara adalah Desa Sengare, sebelah selatan adalah Desa Petung Kriyono, sebelah barat adalah Desa Mesoyi, dan sebelah timur adalah Desa Silurah.

Desa Jolotigo terdiri dari Lima Dukuh yaitu: Dukuh Jolotigo, Dukuh Purbo, Dukuh Simbar, Dukuh Kebon Manis dan Dukuh Karyomukti. Sedangkan letak Balai Desa atau Kelurahannya berada di Dukuh Jolotigo.

Adapun jarak Desa Jolotigo menuju Kecamatan Talun sejauh 13 km dan 13 km dari Kecamatan Doro, cukup jauh namun banyak orang atau pengunjung yang datang meskipun untuk sekedar menikmati pemandangan alam dan hawa pegunungan yang sejuk.1

Untuk mengetahui kondisi geografis Desa Jolotigo berdasarkan data profil Desa Jolotigo tahun 2015 akan peneliti paparkan pada tabel berikut ini:

(2)

TABEL I

Kondisi Geografis Desa Jolotigo.

No. Uraian Keterangan

1. 2. 3.

Tinggi tempat dari permukaan laut Jumlah bulan hujan

Keadaan suhu rata-rata

1250 dpl 4 Bulan

270C

Kondisi Geografis Desa Jolotigo Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan berdasarkan data profil Desa Jolotigo tahun 2015 ialah ketinggian tempat dari permukaan laut 1250 di atas permukaan laut (dpl), Jumlah bulan hujan 4 Bulan Serta Keadaan suhu Desa Jolotigo rata-rata 270C.

TABEL II

Luas Wilayah Desa Menurut Penggunaannya

No. Penggunaanya Keterangan

1. 2. 3. Luas Pemukiman Luas Persawahan Ladang 474 Ha 73,015 Ha 637,004Ha

Keadaan penduduk Desa Jolotigo Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan berdasarkan data profil Desa Jolotigo tahun 2015, jumlah penduduk seluruh jiwa dengan jumlah 1989 Jiwa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:2

TABEL III

Penduduk Menurut Golongan Usia

No. Golongan usia Jumlah

(3)

1. 2. 3. 4.. 1-20 Tahun 21-40 Tahun 41-60 Tahun 61-90 Tahun 727 601 493 168 Jumlah 1989

Dari data penduduk menurut golongan usia terlihat bahwa usia produktif 1-20 Tahun lebih banyak dikarenakan masih sedikitnya warga masyarakat yang melaksanakan program Keluarga Berencana (KB) serta banyak para wanita yang menikah di usia muda antara 17-20 Tahun.

TABEL IV Jumlah Penduduk

No. Uraian Jiwa/KK

1. 2.

Jumlah seluruh penduduk Jumlah kepala keluarga

1989 Jiwa 397 KK

2. Sejarah masuknya agama Islam

Desa Jolotigo berasal dari sebuah cerita yang nyata pada zaman wali, konon sebelum disebut Desa Jolotigo, dulu di daerah ini ada seseorang wali yang akan membuat sebuah telaga yang akan dinamai dengan telaga Jolotundo dengan di sediakan tiga jaring atau “Jolo” (orang jawa menyebutnya) “Jolo” tersebut disenderkan pada sebuah pohon kayu. Kemudian sekarang juga disebut sebagai “Kali” (sungai). Tetapi ketika telogo tersebut belum jadi masih berbentuk sebuah kubangan besar yang berisi air, kemudian air tersebut njebol atau

njepot (orang jawa menyebutnya). Kemudian kubangan tersebut tidak

(4)

tersebut dinamai kali Jepot. Dan dari situlah tempat ini disebut sebagai Desa Jolotigo, begitulah warga menyebutnya. Lama kelamaan desa yang hanya terdiri dari sekelompok kecil orang menjadi ramai karena dengan warga yang beranak pinak. Pada masa itu Belanda datang ke desa ini dan membangun sebuah pabrik teh serta menanam teh pada bukit-bukit dan lahan-lahan yang begitu luas. Tak berapa lama Belanda angkat kaki dari negeri ini. Dan kemudian pabrik itu dikelola oleh Pemerintah Indonesia sendiri dan sebagai sumber mata pencaharian warga masyarakat Jolotigo. Kemudian hari demi hari desa ini semakin ramai dan banyak pendatang yang menetap untuk bekerja di Pabrik tersebut.

Masuknya agama Islam di Desa Jolotigo tidak diketahui kapan tahunnya, akan tetapi adanya cerita sebuah nama Desa Jolotiga menjadi pertimbangan bahwa masuknya agama Islam di sebarkan oleh para wali yang membabat Desa atau membuat Desa.3

Dari penelusuran peneliti, perkembangan Islam di Desa jolotigo yang mulai dapat diketahui dengan jelas adalah dimulai ketika warga Desa Jolotigo, salah satunya yang belakangan di panggil Mbah Slamet warga asli Desa Jolotigo, beliau adalah tokoh yang mengajarkan dan mengembangkan Islam di Desa Jolotigo pada sekitar tahun 1923. Di sisi lain, menurut cerita. Sebelumnya, kemungkinan warga Desa

(5)

Jolotigo beragama Hindu atau Budha yang bercampur dengan kepercayaan Jawa.4

Selepas masa Mbah Slamet, setelah tahun 1937 muncul nama-nama beberapa tokoh yang mengembangkan Islam di Desa Jolotigo lebih lanjut. Nama-nama itu adalah Mbah Rastam, Mbah Muhammad, Mbah Ibrahim yang mempelopori untuk mendirikan mushala pertama di Desa jolotigo.

Masih minimnya ulama’ serta pengetahuan agama di Desa Jolotigo membuat masyarakat berinisiatif untuk memondokkan anak-anaknya untuk belajar ilmu agama di pondok-pondok pesantren agar mereka memiliki pengetahuan mengenai agama. Lalu sekitar tahun 1961, munculah nama-nama tokoh agama yang ada di Desa Jolotigo seperti: Ust. Bukhori (Alumni PonPes Tarbiyatul Mubtadi’in Wonopringgo), Ust.ja’far (Alumni PonPes Ro’ikhatul Jannah Doro), dan Rasmani warga yang menimba ilmu pada tokoh agama Desa Jolotigo.

Pada sekitar tahun 1965 para tokoh agama Desa Jolotigo berinisiatif membangun majelis tempat mengaji yang bertempat di rumah masing-masing Ustadz dan membangun sekolah Madrasah Diniyah. Sekarang masyarakat telah berhasil membangun beberapa TPQ dan Madrasah Diniyah di Desa jolotigo.

Selanjutnya, pada tahun 2015 ini munculah nama-nama tokoh agama seperti: Ust. Fahmi, Ust. Manto, Ust. Teguh, Ust. Slamet, Ust.

(6)

Ribut, Ust. Erpan, Ust. Wahok. Dan sampai sekarang warga masyarakat Desa Jolotigo telah berhasil membangun 5 Mushola, 3 Masjid dan 3 TPQ yang tersebar di beberapa Dukuh.5

3. Sejarah masuknya agama Kristen

Masuknya agama Kristen di Desa Jolotigo yang mulai dapat diketahui dengan lebih jelas yaitu dimulai ketika warga Desa Dermo Kecamatan Petung Kriyono yang beragama Kristen berpindah tempat tinggal karena tempat yang sulit di jangkau oleh orang serta tempat tersebut terletak di dalam pedalaman hutan. Kemudian warga tersebut pindah ke Desa Jolotigo dengan Pendetanya yang lebih akrab di panggil Bapak Sungkono. Lama kelamaan masyarakat yang beragama Kristen yang dulunya hanya terdiri dari sekelompok kecil kini menjadi banyak karena dengan warga yang beranak pinak.

Selepas Pendeta Sungkono, setelah 1970-an Pendeta Karso dari Semarang menggantikan Pendeta Sungkono yang kemudian mengembangkan agama Kristen di Desa Jolotigo lebih lanjut. Lalu sekitar tahun 1975, agama Kristen mempelopori untuk mendirikan Gereja Kecil (GKJ Purbo) pertama di Desa Jolotigo. Selanjutnya sekitar tahun 1982 warga non Muslim membangun Sekolah Dasar Kristen (SDK) dibantu oleh warga masyarakat Desa Jolotigo.

Pada tahun 1984 Pendeta Karso digantikan oleh Pendeta Sukidi yang berasal dari Jogja yang mengusulkan untuk merehab Gereja Kecil

5

(7)

(GKJ Purbo) untuk di perbesar. Lebih lanjut tahun 2004 warga yang beragama Kristen membangun Taman Kanak-kanak dan membangun lagi gereja kecil di Dukuh Jolotigo untuk peribadatan. Selain Pendeta Sukidi sebagai tokoh agama, warga yang beragama Kristen juga memiliki tokoh agama diantaranya: Tanto, Pardi, Daryono, Kesno, Kosno, Wasari Natan, Samuel Casmad dan Casono. Kini pada tahun 2015 warga masyarakat Kristen telah berjumlah 640 orang serta telah memiliki gereja dan tempat pendidikan di Desa Jolotigo Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan.6

4. Ekonomi

Mata pencaharian penduduk masyarakat Desa Jolotigo sebagian besar ialah sebagai Buruh Tani di Pabrik PT.Jolotigo yang mengolah Teh Dan Karet, banyaknya masyarakat yang berkerja di Pabrik di karenakanletak Pabrik yang ada di Desa tersebut. Berdasarkan data profil Desa Jolotigo tahun 2015 terdapat beberapa macam bidang pekerjaan. Data tersebut dapat dilihat klasifikasinya pada tabel dibawah ini.

(8)

TABEL V

Mata Pencaharian Penduduk7

No. Mata Pencaharian Jumlah KK

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Buruh tani Petani Pedagang Tukang kayu Penjahit PNS Pensiunan Perangkat desa Industri kecil 800 500 30 16 5 14 30 9 3 Jumlah 1407 5. Pendidikan

Penduduk Desa Jolotigo merupakan masyarakat yang boleh dikatakan belum menyadari pentingnya pendidikan anak, ini dibuktikan dengan pendidikan anak di Desa Jolotigo rata-rata lulusan sekolah dasar, kemudian yang sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) ke atas dan hanya sebagian kecil yang sampai perguruan tinggi (PT). Masih sedikitnya yang sampai perguruan tinggi di karenakan kebayakan setelah lulus (SMP) atau (SMA) mereka langsung bekerja atau menikah bagi anak perempuan.

Hal ini berdasarkan data profil Desa Jolotigo tahun 2015, supaya lebih jelasnya mengenai tingkat pendidikan penduduk di Desa Jolotigo Kabupaten Pekalongan, pada tabel berikut ini akan dipaparkan mengenai komposisi jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan mereka.

(9)

TABEL IX

Tingkat Pendidikan Penduduk

Lembaga pendidikan formal yang ada di Desa berdasarkan profil Desa Jolotigo tahun 2015, supaya jelas mengenai prasarana pendidikan yang ada di Desa Jolotigo, pada tabel akan di paparkan mengenai prasarana pendidikan yang ada di Desa Jolotigo.8

TABEL X

Prasarana Pendidikan Penduduk

No Prasarana Ada / Tidak Jumlah Kondisi

1. 2. 3. 4. 5. Play group TK SDN SDK TPQ Ada Ada Ada Ada Ada 2 2 1 1 3 Baik Baik Baik Baik Baik TABEL X

Kehidupan Beragama Penduduk

No Agama Jumlah Islam Kristen Katholik 1349 640 -

8Dokumen Desa Jolotigo Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan. 2015.

No. Tingkat Pendidikan Jumlah

1. 2. 3. 4. 5. Tidak tamat SD SD SLTP / Sederajat SMA / Sederajat Diploma / Sarjana 247 400 184 162 24

(10)

Hindu Budha

- -

Jumlah 1989

Sumber: Potensi Agama penduduk tahun 20159

Dalam beragama, masyarakat Desa Jolotigo mayoritas memeluk agama Islam dan Agama Kristen sebagai warga minoritas.

6. Budaya

Masyarakat Desa Jolotigo adalah masyarakat yang peduli akan kerukunan Desanya. Berdasarkan data profil Desa Jolotigo, kegiatan gotong- royong yang aktif adalah sebagai berikut:10

TABEL VI Lembaga Gotong-royong No Kegiatan Status Ada/tidak ada Aktif/tidak aktif 1. 2. 3. 4. Mendirikan Rumah Mengolah tanah Membangun fasilitas umum/sarana pendidikan Perbaikan fasilitas umum

Ada Ada Ada Ada Aktif Aktif Aktif Aktif

Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan orang lain dalam hidupnya, hidup saling membantu merupakan ciri kehidupan masyarakat Desa Jolotigo dan mereka hidup bergotong-royong untuk memenuhi kebutuhan dalam mengisi hidup. Masyarakat Jolotigo merupakan Desa yang akrab dengan kegiatan gotong royong demi kerukunan bersama. Sebagaimana yang sudah di jelaskan pada tabel

9Dokumen Desa Jolotigo Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan. 2015. 10Dokumen Desa Jolotigo Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan. 2015.

(11)

diatas bahwa kegiatan gotong royong (membantu) tanpa upah, yang masih aktif di Desa Jolotigo adalah mendirikan rumah, membangun atau memperbaiki faslitas umum seperti bersih Desa dan memperbaiki jalan-jalan yang rusak. Juga membangun sarana pendidikan seperti sarana pendidikan PAUD, TK, TPQ dan Musholla, Gereja dan lain-lain.

B. Pemahaman mayarakat Desa Jolotigo tentang toleransi agama

Di tengah-tengah kehidupan agama yang plural di Negara kita, kerukunan merupakan suatu kondisi yang harus diciptakan bersama-sama. Kondisi tersebut dicerminkan dalam suasana damai, tertib, saling memahami dan menghargai. Kebalikan dari kerukunan itu ialah ketegangan atau konflik yang dicerminkan dengan persaingan yang tidak sehat, saling mengecam atau saling mengancam baik secara fisik maupun mental. Untuk menegakkan kebebasan agama haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk menciptakan kerukunan dan menghindarkan ketegangan itu, karena seringkali ketegangan itu akan menghilangkan kebebasan itu sendiri.11

Masyarakat Desa Jolotigo termasuk masyarakat yang dapat dikatakan warga yang mencintai kedamaian, karena peneliti belum pernah melihat adanya ketegangan baik itu sesama pemeluk agama ataupun dengan pemeluk agama lain yang mengakibatkan pertikaian. Kalaupun

11Syafiq A. Mughni, Nilai-Nilai Islam: Perumusan Ajaran dan Upaya Aktualisasi. Cet Ke-1

(12)

sampai ada konflik, baik itu konflik sosial atau yang menyangkut agama, sejauh ini mereka bisa menyelesaikannya dengan baik dan damai tanpa harus diakhiri dengan perselisihan atau permusuhan.

Pelaksanaan toleransi yang terjalin pada masyarakat Desa Jolotigo selain dipengaruhi oleh pribadi seseorang juga dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan dimana mereka tinggal. Selain itu juga kesadaran dari mereka yang memahami dan mengerti arti pentingnya toleransi antar agama.

Secara umum mereka memahami bahwa toleransi umat beragama yaitu hidup bersama secara rukun, saling menghormati, saling menolong, serta berdampingan secara damai tanpa adanya perselisihan satu dengan yang lain.

Pemahaman masyarakat Desa Jolotigo tersebut ternyata sesuai dengan QS. al-Mumtahanah ayat 8-9, yaitu:

                                             

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk

(13)

mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.12

Sedangkan toleransi antar umat beragama yang bapak Taruno pahami bahwa:

“Toleransi inggih puniko urip sareng-sareng lan tulung-tinulung satunggal kalih tiang lintune, antawisipon teng pembangunan lan kerjo bakti tanpo mandeng agami ingkang di enut.”13

(Toleransi yaitu hidup rukun dan saling menolong satu dengan yang lain, misalnya dalam hal pembangunan dan kerja bakti tanpa memandang agama yang di anutnya).

Pengertian toleransi juga diungkapakan oleh Maria Sriwanti bahwa:

“Toleransi antar umat beragama yoiku saling ngormati lan saling kerjo sami tanpo mandeng agami ingkang dipon beto.” 14

(Toleransi umat beragama adalah saling menghormati dan saling bekerja sama tanpa melihat agama yang di bawanya)

.

Ustad Jafar Sidik berpendapat pula bahwa toleransi dimaknai: “Teng pundike mawon tiang angsal mahami lan nampi perbedaan tiang lintunipon ing masalah keyakinan utawi ing masalah lintune sehinggo kito sami-sami saget urip rukun.” 15

(Dimana seseorang mau memahami dan menerima perbedaan orang lain pada masalah keyakinan maupun pada masalah yang lain sehingga kita bisa hidup rukun).

Toleransi agama juga diungkapkan oleh Sukidi bahwa toleransi agama yaitu:

“Saenipon kito sami ngormati lan menghargai punopokemawon ingkang di imani lan beto tiang lintune, kerono niku nderek tujuanipon uripe tiang-tiang meniko.” 16

12Departemen Agama RI, Mushaf al-Azhar: al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Penerbit

Hilal, 2010), hlm. 550.

13

Taruno, Kepala Desa , Wawancara Pribadi, Pekalongan, 29 Agustus 2015.

14Maria Sriwanti, Warga Desa Jolotigo, Wawancara Pribadi, Pekalongan, 8 September 2015. 15Jafar Sidik, Ustad, Wawancara Pribadi, Pekalongan, 3 September 2015.

(14)

(Dimana kita saling menghormati serta menghargai apa yang di yakini dan di anut orang lain, karena itu menyangkut tujuan hidup mereka masing-masing).

Sedangkan Indayahti menambahkan bahwa toleransi umat beragama ialah:

“Sikap tolong-tinulung, saling ngormati setunggal kalih tiang lintunipon lan mboten gumede kalian agami lintune.” 17

(Sikap saling tolong-menolong, saling menghormati satu dengan yang lain serta tidak saling mengejek dengan agama lain).

Oleh karena itu, toleransi beragama akan terealisasi apabila seseorang hidup rukun dan saling tolong-menolong antar sesama umat manusia serta akan membuat hidup menjadi tenang tanpa adanya perseteruan. Nabi Muhammad saw memerintahkan untuk saling menolong dan membantu dengan sesamanya tanpa memandang suku dan agama yang dipeluknya. Hal ini juga dijelaskan di dalam Qur’an pada surah al-Maidah Ayat 2 sebagai berikut:

ِناَوْدُعْلاَو ِمْثِلإا ًَلَع ْاىُنَواَعَت َلاَو يَىْقَتّلاَو ِرّبْلا ًَلَع ْاىُنَواَعَتَو

“….Bertolong-tolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu bertolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan”.18

Selanjutnya, Ustadz Bukhori berpendapat pula bahwa:

“Toleransi dipon artike bahwa mboten mbeda-mbedaake agami setunggal kalih lintune, kerono masalah agami inggih puniko terserah tiange ingkang mbeto lang urusanipon piyambak-piyambak kalih gusti kang moho kuoso. Intinipon urip teng gen masyarakat sami-sami jogo kerukunanipon sareng-sareng.” 19

(Toleransi dimaknai bahwa tidak membeda-bedakannya agama satu dengan yang lain, karena masalah agama terserah mereka

17

Indayahti, Guru, Wawancara Pribadi, Pekalongan, 14 September 2015.

18Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro, 2003), hlm.

85.

(15)

sendiri-sendiri serta urusan pribadi mereka sendiri dengan tuhan. Yang penting dalam hidup bermasyarakat saling menjaga kerukunan bersama).

Dari pendapat Ustad. Bukhori dapat disimpulkan bahwa setiap orang bebas memeluk agama yang diyakininya. Pendapat tersebut sesuai dengan firman Allah yang ada dalam surah al-Kafirun ayat 1-6:

﴿ َنوُرِّفاَكْلا اَهُيَأ اَي ْلُق

١

﴿ َنوُدُبْعَت اَم ُدُبْعَأ اَل ﴾

٢

﴿ ُدُبْعَأ اَم َنوُدِباَع ْمُتّنَأ اَلَو ﴾

٣

﴿ ْمُتدَبَع اَم ٌدِباَع اَنَأ اَلَو

٤

﴿ ُدُبْعَأ اَم َنوُدِباَع ْمُتّنَأ اَلَو ﴾

٥

ِنيِد َيِلَو ْمُكُنيِد ْمُكَل ﴾

﴿

٦

“Katakanlah, hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang kamu sembah.Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.(QS. al-Kāfirun ayat:1-6).20

Dalam surah tersebut dijelaskan bahwa orang-orang muslim tidak menyembah apa yang disembah orang kafir, begitu pula orang-orang kafir tidak menyembah apa yang disembah orang muslim. Di situ juga di jelaskan bahwa bagi kita agama kita (orang muslim) dan bagi mereka agama mereka (orang kafir).

C. Implementasi toleransi antar umat beragama di Desa Jolotigo Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan

Merupakan suatu kemestian bahwa manusia memerlukan suatu kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tata nilai sebagai world

views untuk menopang hidup budayanya. Sikap tanpa rasa kepercayaan

20Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro, 2003),

(16)

akan mengakibatkan kesulitan dalam memandang dan menjalani dunianya.21

Agama sebagai suatu bentuk kepercayaan telah menggariskan dua pola dasar hubungan yang mesti diterapkan oleh pemeluknya., yaitu; hubungan secara vertical dan hubungan secara horizontal. Pertama, ialah hāblum minallah (hubungan manusia dengan tuhan) yang direalisasikan dengan bentuk ibadat sebagaimana telah digariskan oleh setiap agama. Kedua adalah hablum minan-nās (hubungan manusia dengan sesamanya), hubungan ini tidak sebatas pada lingkungan suatu agama saja, tetapi juga berlaku pada orang yang tidak seagama, yaitu dalam bentuk kerjasama dalam masalah-masalah kemasyarakatan atau kemaslahatan bersama. Dalam hal seperti inilah berlaku toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama.

Setiap pemeluk agama perlu mengembangkan sikap toleransi yangwajar sesuai dengan proporsinya dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya mengembangkan sikap toleransi dalam berbagai bidang. Kemudian, bentuk toleransi yang ada dari warga masyarakat Desa Jolotigo dapat terlihat dari beberapa bidang kegiatan. Bidang tersebut di antaranya:

1. Toleransi dalam bidang sosial

Toleransi dalam bidang sosial terlihat pada waktu pemilihan Kepala Desa (Kades) di Desa Jolotigo. Pada tahun 2014 masyarakat

21M. Ridwan Lubis, Cetak Biru Peran Agama: Merajut Kerukunan, Kesetaraan Gender

dan Demokratisasi Dalam Masyarakat MultiKultural, (Jakarta: Puslitbang Kehidupan Beragama, 2005), hlm. vii.

(17)

Desa Jolotigo melakukan pemilihan kepala desa. Calon Kades di Desa tersebut terdiri dari 3 orang yaitu Ibu Diah Dana Purwaningsih, Bpk Taruno dan Bpk Lasno. Dari tiga calon tersebut salah satunya adalah warga yang beragama Kristen yaitu Bpk Lasno.

Dalam pemilihan Kepala Desa (Kades) yang di ikuti oleh sekitar 1684 pemilih tersebut, terlihat perolehan suara masing-masing calon antara lain: Ibu Diah Dana Purwaningsih memperoleh 520 suara, Bpk Taruno memperoleh 742 suara, Bpk Lasno memperoleh 165 suara serta 250 suara di nyatakan rusak dan ada beberapa warga yang tidak memilih karena sedang bekerja di kota yang tidak memungkinkan untuk memilih.

Dari pemilihan kepala desa tersebut menunjukan bahwa toleransi di Desa Jolotigo begitu kental karena semua warga memiliki hak yang sama tanpa memandang statu agamanya, semua warga berhak untuk mencalonkan menjadi Kades.

Pemilihan Kades di Desa Jolotigo berjalan dengan damai serta aman tanpa adanya perselisihan satu dengan yang lain dan akhirnya pemilihan tersebut dimenangkan oleh Bpk Taruno.22

Kemudian, toleransi agama juga dialami oleh Bapak Rasmani warga yang beragama Islam, beliau sedang mengalami musibah anaknya sakit dan harus segera dibawa ke Puskesmas yang ada di Kecamatan Talun. Sedangkan beliau tidak punya kendaraan bermotor

(18)

untuk membawa ke Puskesmas, sehingga akhirnya meminta tolong kepada tetangganya yang kebetulan beragama Kristen yaitu Bapak Sukidi.Akhirnya tanpa ragu Bapak Sukidi mengantarkan anak Bapak Rasmani ke Puskesmas.23

Selain itu, toleransi dalam bidang sosial dialami oleh Ustad Jafar Sidik yang sedang mengadakan hajatan, yaitu sunatan anaknya yang membutuhkan materi yang cukup banyak.Secara tidak langsung Bapak Kris (warga Non Muslim) mendengar dari warga bahwa Bapak Jafar Sidik akan melakukan hajatan, kemudian Bapak Kris berkunjung ke rumah Bapak Jafar Sidik untuk memberikan uang agar bisa sedikit memperlancar sunatan anaknya. Hal yang Bapak Kris lakukan itu biasa disebut oleh masyarakat dengan sebutan Kondangan.24

2. Toleransi dalam bidang ekonomi

Saling membantu dalam bidang ekonomi misalnya ada tetangga yang sedang mendirikan rumah membutuhkan bantuan materi atau mau meminjam uang untuk membeli bahan-bahan bangunan, maka tetangga yang lain kebetulan mempunyai uang segera meminjamkannya tanpa memandang agama apapun.25

Lebih lanjut, adanya potensi wisata di Desa Jolotigo seperti adanya curug Ragno dan Curug Bidadari membuat warga berkerjasama untuk menjadikannya sebagai tempat wisata dan khirnya pada awal

23Rasmani, Warga Desa Jolotigo,Wawancara Pribadi, Pekalongan, 7 September 2015. 24Jafar Sidik, Ustad, Wawancara Pribadi, Pekalongan, 3 September 2015.

(19)

tahun 2015 warga masyarakat Desa Jolotigo resmi membuka tempat wisata tersebut.

Di bukanya tempat wisata di Desa Jolotigo yang menawarkan keindahan alam yang begitu asri berupa curug Ragno dan Curug Bidadari ternyata mengundang banyak wisatawan yang ingin melihatnya, dari sinilah warga masyarakat Desa Jolotigo mendapat tambahan ekonominya dari para wisatawan atau dengan cara berjualan di dekat tempat wisata tersebut.

Toleransi dalam bidang ekonomi terlihat ketika warga Desa Jolotigo yang beragama Islam maupun Kristen bersatu padu untuk mengelola tempat wisata tersebut, karena adanya tempat wisata tersebut akan menambah perekonomian masyarakat Desa Jolotigo.26

3. Toleransi dalam tradisi keagamaan

Bentuk toleransi yang terjalin pada masyarakat Desa Jolotigo tidak sebatas pada bidang sosial dan ekonomi saja, akan tetapi bentuk toleransi yang terjalin juga terlihat pada bulan Ramadhan. Misalnya, warga yang beragama Islam menjalankan ibadah puasa, warga yang beragama Kristen menghormatinya dalam bentuk tidak mengganggu warga yang beragama Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa.27

Bentuk toleransi dalam bidang agama yang telah terjalin adalah pada saat perayaan hari raya Idul Fitri. Ketika warga yang beragama Islam merayakan hari raya Idul Fitri, warga yang beragama Kristen

26Windoyo, Warga Desa Jolotigo,Wawancara Pribadi, Pekalongan, 20 Oktober 2015. 27Casmuri, Warga Desa Jolotigo,Wawancara Pribadi, Pekalongan, 9 September 2015.

(20)

tetap menghormatinya bahkan tidak sedikit diantara mereka juga ikut merayakanya dengan cara berkunjung ke warga muslim. Persiapan oleh warga yang beragama Kristen dalam merayakan hari raya Idul Fitri untuk menyambut dan merayakanya tidak jauh berbeda dengan persiapan yang dilakukan oleh umat Islam pada umumnya, seperti halnya membeli makanan untuk disuguhkan ketika ada tamu yang datang ke rumahnya.

Seperti yang dilakukan oleh Bapak Sukidi, pemuka agama Kristen di Desa Jolotigo, beliau juga merayakan hari raya Idul Fitri dengan mengunjungi tetangga dan saudara baik yang ada di Desa Jolotigo maupun yang beradadi luar Desa Jolotigo, baik yang beragama Islam maupun sesama umat Kristen.28

Sebaliknya, pada saat perayaan hari Natal untuk warga Kristen. Warga yang beragama Islam juga menghormatinya dengan cara berkunjung ke rumah warga Non Muslim.29

4. Toleransi dalam bidang Politik

Toleransi dalam bidang Politik dapat kterlihat ketika ada pemilihan Presiden atau DPR. Warga masyarakat Desa Jolotigo begitu antusias untuk memilih calon Presiden dan tidak ada paksaan dari siapapun untuk memilih baik dari warga Muslim ataupun warga Kristen sehingga tidak ada keributan antar warga masyarakat Desa Jolotigo.

28Sukidi, Pendeta, Wawancara Pribadi, Pekalongan, 8 Agustus 2015.

(21)

Selain itu, terlihat ketika warga masyarakat Desa Jolotigo membuat Proposal secara bersama-sama untuk di ajukan kepada pemerintah pusat guna pembangunan tempat wisata Curug Ragno dan Curug Bidadari.30

Wujud dari beberapa bidang toleransi di atas yang dilakukan oleh warga Desa Jolotigo, seperti praktik-praktik toleransi yang dilakukan ternyata memiliki kendala atau hambatan, diantaranya bahwa tidak semua warga menyadari bahwa kita hidup di dalam masyarakat yang plural. Masih ada warga yang kurang memahami rasa persaudaraan dan masih mementingkan dirinya sendiri, atau kurangnya sikap toleransi terhadap agama lain.

Gambar

TABEL IV  Jumlah Penduduk
TABEL IX
TABEL VI  Lembaga Gotong-royong  No  Kegiatan  Status Ada/tidak  ada  Aktif/tidak aktif  1

Referensi

Dokumen terkait

Akses masyarakat pada layanan SPALD aman, terutama untuk MBR dan kawasan prioritas, melalui sistem on-site

butir instrumen variabel komitmen guru yang digunakan dalam penelitian adalah. sebanyak

sampah dengan metode 3R(reduce,reuse,recycle) dirasa masih kurang efektif diterapkan di berbagai tempat,pengelolaan sampah sejak dari sumbernya merupakan salah

Pemuda Ushuluddin yang biasanya akrab dengan kajian Tafsir Al-Quran dan Hadis, Studi Agama, Sosiologi Agama dan Filsafat menjadi penting untuk mengambil peran

eutrofikasi pada tingkat eutrofik sampai hipereutrofik, pencemaran air masih tergolong ringan di daerah budidaya ikan dan waktu konsentrasi P maksimum; budidaya ikan

Dengan ini menyatakan bahwa seluruh materi dalam skripsi saya yang berjudul ANALISIS PRODUCT PLACEMENT DALAM SINETRON TUKANG OJEK PENGKOLAN , adalah hasil karya tulis

Dalam pengerjaan laporan ini difokuskan pada perancangan antarmuka, langkah yang dilakukan untuk merancang aplikasi ini adalah dengan menganalisis gedung dan sumber

Berdasarkan Undang - Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah