BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kedatangan internet sudah membuka ruang baru, ialah suatu“ ruang imajiner” yang di dalamnya tiap orang bisa melaksanakan apa saja yang dapat dicoba dalam kehidupan sosial tiap hari dengan metode yang baru (Piliang, 2005). Aplikasi media sosial semacam Facebook, Twitter serta Instagram sudah menjadi contoh nyata buat kita. Isi account individu bisa kita isi dengan apa saja yang kita mau. Apalagi tanpa rasa khawatir, melainkan dengan percaya serta yakin diri kita terencana mengunggah informasi kita yang bisa jadi orang lain tidak mengetahuinya.
Media baru atau media sosial ini kemudian menjadi salah satu alat yang sangat digemari masyarakat terkait penyebaran informasi dan media komunikasi antar satu orang dengan yang lainnya. Media sosial ini sangat memengaruhi kehidupan manusia, maka dari itu seluruh pengguna media diharapkan pandai dalam bersikap dan memiliki etika dalam setiap apapun yang dilakukan.
Salah satu informasi yang memiliki penyebaran cukup pesat belakangan ini adalah terkait bentuk tubuh ideal dalam perkembangan industrial dan budaya konsumerisme di negara barat. Penampilan fisik telah menjadi salah satu nilai utama terutama bagi perempuan kemudian berdampak pada penyebaran nilai-nilai yang mempengaruhi perspektif masyarakat terhadap standarisasi tubuh ideal. Standarisasi memiliki tubuh ideal berbeda-beda khususnya didalam budaya dimana individu tinggal dengan adanya kultur budaya terjadi pada perubahan standar tubuh ideal dalam budaya Barat. Menurut (Tiara, 2017) standar ideal tubuh perempuan pada saat ini terbagi menjadi tiga, yaitu kurus, langsing, dan berisi. Kemajuan teknologi memperkenalkan kemudahan dalam mengakses informasi dari bermacam media, salah satunya media sosial. Perihal ini setelah itu berakibat pada penyebaran nilai- nilai yang bisa pengaruhi perspektif warga terhadap standarisasi badan sempurna. Standarisasi badan sempurna berbeda- beda bergantung dari wilayah serta budaya yang terdapat disekitarnya. Biasanya standarisasi badan diterapkan pada wanita. Tubuh sempurna, dalam perihal ini penampilan raga sudah jadi salah satu nilai utama paling utama bagi wanita. Bagi (Barbara Watterson, 2011) standarisasi badan sempurna perempuan pada masa Mesir kuno mempunyai tubuh kurus, kulit lembut, putih serta nampak muda semacam dewi. Perihal tersebut bisa dilihat dari penggambaran wanita pada foto di tembok ataupun
benda- benda aset Mesir kuno. Badan sempurna wanita bagi Ni Luh (Rahayu Widiasti, 2016), digambarkan dengan badan yang cenderung kurus, berlekuk, kokoh serta sehat. Perihal ini bisa dilihat dalam kehidupan seharihari semacam banyak industri yang dikala ini memasukan badan sempurna serta penampilan menarik bagaikan salah satu kriteria untuk calon karyawannya semacam pegawai bank, sales promotion, pramugari serta masih banyak lagi.
Gambar 1. 1 Infografis tentang Body Shaming
sumber : https://nasional.kompas.com/ (diakses pada 2 Oktober 2020)
Standar sempurna tersebut setelah itu membentuk citra badan pada warga, spesialnya pada wanita. Bagi Rice dalam (Akhmad Mukhlis, 2013), citra tubuh ataupun body image ialah cerminan secara mental menimpa badannya. Citra tubuh bagi (Nur Hasmawati, 2017) pengaruhi penerimaan diri terhadap lingkungannya. Terus menjadi besar citra badan, hingga terus menjadi besar pula penerimaan diri seorang terhadap dirinya, tetapi kala standar serta evaluasi susah dicapai maka bisa memunculkan perasaan tidak puas terhadap keadaan diri. Pola pikir ini terus terbawa sehingga memunculkan anggapan bila tidak mempunyai wujud badan sempurna yang diharapkan. Citra badan yang negatif bisa menuju terhadap aksi diskriminasi yang biasa lebih diketahui dengan sebutan body shaming. Bagi Zulfikri Ikhlasul Qamal
Bialangi, body shaming bisa dikategorikan bagaikan wujud dari kekerasan verbal atau yang lebih diketahui dengan istilah bullying (2018). Secara pendek sikap body shaming merupakan menghina wujud raga seorang yang tidak cocok dengan standar sempurna.
Gambar 1. 2 Infografis Kampanye Body Positivity Tara Basro di Media Sosial
sumber : https://www.alinea.id/infografis/ (diakses pada 2 Oktober 2020) Berkaitan dengan maraknya isu tersebut, terbitlah ekspresi baru yang memanfaatkan media sosial dalam hal yang positif sebagai salah satu penanggulangan isu body shaming yaitu kampanye body positivity. Kampanye tersebut dinamakan media vidual kampanye. (Antar Venus, n.d, 2009) mendefinisikan media visual kampanye merupakan segala bentuk penyampaian pesan kepada khalayak menggunakan gambar, foto, dan segala sesuatu yang dapat dilihat oleh indra penglihatan. Banyak tagar-tagar yang menyuarakannya kampanye body positivity yang paling populer di media sosial diantaranya #HereIAm , pertama kali terkenal lewat sosial media Youtube, bertujuan untuk mencintai tubuhnya. Kedua perusahaan
menentang gagasan tentang keindahan tubuh, para model dalam fashion diambil dari mereka yang bertubuh besar dan berisi. Ketiga #LessIsMore merupakan kampanye digital yang dibuat oleh Erin Treloar, CEO Raw Beauty Talks sebuah platform online yang mendorong perempuan untuk menemukan kepercayaan dirinya tidak menggunakan photoshop dalam mengedit foto yang membuat lebih menarik.
Gambar 1. 3 Bentuk Kampanye Body Positivity dengan Tagar #HereIAm
sumber : https://www.youtube.com/ (Diakses pada 3 November 2020)
Seiring berkembangnya konten-konten terkait body positivity, salah seorang public figure Indonesia Tara Basro melakukan kampanye di sosial media instagram dan twitter pada tanggal 03 Maret 2020. Selebriti tersebut mengunggah foto dengan memperlihatkan tubuh yang berisi, memiliki lipatan perut, juga melihatkan stretch mark dengan ciri khas caption yang menuliskan keterangan “Let Your Self Bloom” dan tanpa busana “Worthy Of Love”. Muncul dengan sebutan kampanye tubuh positif (body positivity) sebagai ajakan untuk semua orang terutama wanita mencintai tubuh mereka masing-masing sempat menjadi sorotan masyarakat dan mendapat banyak respons positif yang menyuarakan aksi mencintai diri sendiri apapun bentuk tubuhnya dari para pengikutnya yang datang dari berbagai kalangan, termasuk kalangan selebritas.
Unggahan dalam media sosial Instagram Tara Basro pada saat kampanye “Let Your Self Bloom”
Gambar 1. 4 Unggahan pada tanggal 03 Maret 2020 pukul 08.58 WIB
Sumber : Akun media sosial Instagram @tarabasro Gambar 1.5
Slide kedua
6 Unggahan dalam media sosial Twitter dan Instagram Story Tara Basro yang sudah di
takedown pada saat kampanye “Worthy Of Love”
Gambar 1. 5 Unggahan pada tanggal 03 Maret 2020 pukul 09.00 WIB
Sumber : id.safe.net.or.id
Sebuah ide berkampanye menjadi sebuah keputusan yang diambil oleh Tara Basro untuk menyuarakan terkait rasa insecure perempuan soal lekuk tubuh ideal akibat propaganda iklan, standar masyarakat, dan bombardir tubuh sempurna dari influencer membuat banyak pihak, khususnya perempuan yang ikut bersuara di media sosial masing-masing untuk mendukung dan berterimakasih kepada Tara Basro dilansir dari vice.com. Melalui foto yang di unggah di media sosial Tara Basro menyampaikan sebuah keadilan mengenai body image dengan sudut pandang yang berbeda dan mengikuti kampanye dalam budaya barat. Unggahan Tara Basro tersebut menuai kontroversi bagi sekelompok orang dengan masing-masing pendapatnya. Pro dan kontra pasti akan timbul terhadap suatu karya apabila hasil karya tersebut merupakan foto objek manusia tanpa busana atau telanjang. Pandangan dan pemaknaan terhadap suatu karya pasti berbeda-beda.
Dalam penelitian ini, pembahasan makna dalam foto yang diunggah Tara Basro menitikberatkan pada pemaknaan foto unggahan kampanye body positivity milik Tara Basro. Peneliti menggunakan analisis semiotika komunikasi yang memandang komunikasi sebagai sebuah proses yang berdasarkan pada sistem tanda termasuk didalamnya adalah bahasa dan semua yang terkait dengan kode-kode nonverbal.
Berbagai masalah komunikasi yang sering terjadi akibat adanya kesalah pahaman atau perbedaan dalam memberikan makna yang dipengaruhi oleh sifat kode-kode semiotika. Ciri serta simbol ialah perlengkapan serta modul yang digunakan dalam interaksi. Komunikasi ialah proses transaksional dimana pesan( ciri) dikirimkan dari seseorang pengirim( sender) kepada peneirma( receiver). Supaya pesan tersebut bisa diterima secara efisien hingga butuh terdapatnya proses interpretasi terhadap pesan tersebut, sebab cuma manusia yang mempunyai keahlian untuk memakai serta memaknai simbol- simbol, hingga berkembanglah ilmu yang mangulas tentang gimana menguasai simbol ataupun lambang. Salah satunya yang kita tahu dengan semiologi. Semiologi merupakan ilmu yang digunakan untuk menginpresentasikan pesan (ciri) dalam proses komunikasi. Pembahasan tentang konsep simbol wajib dimulai dengan uraian tentang konsep tanda (“ sign”). Ciri ialah faktor yang digunakan untuk mewakili faktor lain ( Nawiroh, 2015). Hingga dari itu semiotika dirasa sangat cocok oleh peneliti, terlebih peneliti akan menggunakan teori Roland Barthes yang memanglah pakar di bidang semiotika gambar.
Peneliti memilih Tara Basro sebagai subjek penelitian ini dikarenakan bertujuan untuk mencari informasi dasar atas fenomena ini bahwasanya Tara Basro banyak yang menarik masyarakat, dan selebriti tanah air hanya Tara Basro yang berani mengkampanyekan body positivity di media sosial. Berangkat dari fenomena tersebut maka dilakukannya penelitian untuk mempelajari bagaimana Tara Basro melalui kampanye body positivity “Worth It Love” dan “Let Your Self Bloom” yang menuai pro dan kontra sejak tanggal 03 Maret 2020 hingga 12 Maret 2020. Melalui penelitian ini juga peneliti akan menganalisis unggahan Tara Basro berdasarkan:
1.2 Fokus Penelitian
Supaya tidak terjadinya perluasan masalah, maka peneliti memfokuskan untuk meneliti makna foto kampanye body positivity yang disampaikan oleh Tara Basro dalam media sosial dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes denotasi, konotasi, dan mitos.
1.3 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian dan fokus penelitian, maka peneliti menyusun identifikasi masalah yaitu :
a. Bagaimana makna konotasi, denotasi, serta mitos dalam postingan foto tentang "body positivity" pada media sosial Tara Basro?
b. Apa pesan yang terkandung dalam postingan foto tentang "body positivity" pada media sosial Tara Basro?
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui bagaimana makna konotasi, denotasi, serta mitos dalam postingan foto tentang "body positivity" pada media sosial Tara Basro
b. Untuk mengetahui Apa pesan yang terkandung dalam postingan foto tentang "body positivity" pada media sosial Tara Basro
1.5 Kegunaan Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan: 1.5.1 Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan dari aspek teoritis, seperti: a. Menambahkan wawasan dalam bidang keilmuan semiotika bagi para pembaca
agar memahami makna yang tersembunyi di dalam suatu foto.
b. Menjadikan salah satu pengembangan dalam melengkapi ilmu di bidang komunikasi yang melibatkan pentingnya menyampaikan pesan melalui foto khususnya di media sosial dengan berbagai perspektif komunikasi agar menghasilkan komunikasi yang efektif.
c. Memberikan tambahan informasi dan referensi bagi para pembaca. 1.5.2 Aspek Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kegunaan dari aspek praktis, seperti menambah wawasan bagi para praktisi media sosial yang aktif dalam mengikuti kampanye online serta mengunggah foto di dalam akun media sosial, dan dapat dijadikan referensi untuk penelitian berikutnya.
1.6 Waktu Penelitian
Tabel 1. 1 Waktu Penelitian
No Keterangan
Bulan (2020/2021)
Feb Mar Apr Mei Jun Jul Okt Nov Des Feb 1 Mencari dan
menetapkan fenomena penelitian
2 Melakukan pra penelitian 3 Menentukan judul penelitian 4 Penyusunan BAB 1 5 Penyusunan BAB II 6 Penyususnan BAB III 7 Pendaftaran Desk Evaluation 8 Revisi 9 Penyusunan BAB IV 10 Penyusunan BAB V 11 Sidang Skripsi 12 Revisi Final Skripsi 13 Bimbingan