PERANAN SANDO DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL PADA MASYARAKAT ONEMBUTE

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Setiap manusia menginginkan agar hidupnya selalu dalam keadaan sehat dan tidak mengalami sakit. Beragam cara manusia untuk dapat menjaga kesehatannya, seperti menjaga lingkungan agar tetap bersih, berolahraga, atau menjaga pola makan. Suatu keadaan di mana seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas dengan baik merupakan keadaan di mana seseorang sedang sakit. Sakit adalah tubuh atau bagian tubuh berasa tidak nyaman karena menderita sesuatu seperti merasakan pusing atau demam (Qodratilah, 2011:465).

PERANAN SANDO DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL

PADA MASYARAKAT ONEMBUTE

6$1'252/(,175$',7,21$/75($70(17$721(0%87(62&,(7< Tini Suryaningsi

Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar

Jalan Sultan Alauddin / Tala Salapang Km.7 Makassar, 90221 Telepon (0411) 885119, 883748, Faksimile (0411) 865166

Pos-el: WHDBWKLQLH#\DKRRFRP Handphone: 081342961409

Diterima: 7 Juli 2015; Direvisi: 14 September 2015; Disetujui: 26 November 2015 ABSTRACT

This paper uses a descriptive qualitative approach, ZKLFK aims to describe the role of traditional treatment in sando at Onembute. Collecting data using the technique of indepth LQWHUYLHZV, direct observation, and literature. This paper VKRZVWKDW2QHPEXWHVRFLHW\ recognize three kinds of sando, namely 0EX¶RZDL, 6DQGR Pe’ana, and Mbo’pui7KHWKLUGNLQGVRIVDQGRKDYHVSHFL¿FDWLRQH[SHUWLFHRIHDFKDQGKDVDSRVLWLRQDQGDQLPSRUWDQW role in society life. 0EX¶RZDL have a role to cure all kinds of diseases. 6DQGR Pe’ana have a role to handling of childbirth. And Mbu’pui have a role in treating fractures. In addition to this, sando also has a role primarily as a leader in various rituals, such as rituals relating to starting reinforcements, EXLOWDQHZKRXVH, the customs and rituals in agricultural activities.

Keywords: sando role, tradisional treatment, disease ABSTRAK

Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan peranan sando dalam pengobatan tradisional di Onembute. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, pengamatan langsung, dan studi pustaka. Tulisan ini menunjukkan bahwa masyarakat Onembute mengenal tiga macam sando, yaitu 0EX¶RZDL6DQGR3H¶DQD, dan Mbo’pui. Ketiga macam sandoWHUVHEXWPHPLOLNLVSHVL¿NDVL keahlian masing-masing dan memiliki kedudukan serta peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat. Mbu’owai memiliki peranan untuk menyembuhkan segala jenis penyakit. 6DQGR Pe’ana memiliki peranan dalam menangani persalinan. Dan Mbu’pui memiliki peranan dalam mengobati patah tulang. Selain hal tersebut, sando juga memiliki peranan terutama sebagai pemimpin dalam berbagai ritual, seperti ritual yang berkenaan dengan tolak bala, mendirikan rumah baru, acara adat dan ritual dalam kegiatan pertanian.

Kata kunci: peranan sando, pengobatan tradisional, penyakit.

Sistem pengetahuan tentang sakit dan cara pengobatannya pada setiap masyarakat berbeda-beda, tergantung dari pengalaman dan apa yang mereka yakini selama ini. Masyarakat mengenal sistem pengobatan ada dua yaitu secara medis dan non medis. Pengobatan secara medis atau disebut dengan pengobatan dunia barat adalah pengembangan dari model Cartesian yang bersifat dualisme, yaitu manusia sebagai makhluk yang terdiri atas PLQGERG\VSLULWPDWWHUDQGUHDO

unreal, yang dalam perkembangannya, pendekatan

biomedis didasarkan kepada hasil penelitian dan data-data empiris. Sedangkan pengobatan non

(2)

medis merajuk pada pengobatan non barat, yang banyak digunakan oleh komunitas atau masyarakat tertentu dalam menjelaskan datangnya penyakit yang disebabkan oleh suatu agen yang bukan berasal dari makhluk manusia dan adanya ketidakseimbangan hidup dengan lingkungan alamiahnya (Sudarma, 2014:243). Secara medis, masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan lewat ilmu kedokteran, bersifat kimiawi, dan teknologi modern, sedangkan secara non medis, masyarakat lebih mengarah kepada pengobatan lewat jalur yang lebih sederhana, natural, menggunakan ramuan dari alam dan bebas bahan kimiawi.

Sistem pengetahuan dalam semua kebudayaan mempunyai batas kemampuan, sehingga dalam setiap kebudayaan sistem pengetahuannya tidak sama luasnya. Dalam bidang kesehatan misalnya, kecanggihan alat-alat modern terkadang tidak mampu menjelaskan jenis penyakit tertentu yang diderita oleh seseorang. Tidak hanya di Indonesia, tetapi bahkan di seluruh dunia, orang terpelajar yang menderita penyakit yang tidak berhasil disembuhkan berbagai dokter, banyak yang akhirnya meminta bantuan dukun untuk menyembuhkannya (Koentjaraningrat, 1997:215). Keinginan dari dalam diri manusia untuk sehat dan tidak sakit memicu diri untuk mendapatkan pengobatan agar memperoleh kesembuhan walaupun terkadang sistem pengobatan yang dilakukan tidak masuk akal atau irasional. Pilihan pengobatan tersebut didasarkan atas sikap putus asa karena pengobatan yang sudah dilakukan belum mendatangkan kesembuhan sehingga mendorong seseorang untuk mencoba alternatif lain walaupun bentuknya magis.

Dalam era globalisasi saat ini, sistem pengobatan secara tradisional masih tetap berfungsi dalam kehidupan masyarakat Indonesia meskipun sistem pengobatan secara modern telah dikenal luas bahkan diterapkan baik di wilayah perkotaan maupun di wilayah pedesaan. Pengobatan tradisional yang dimaksud berupa upaya penyembuhan terhadap penyakit yang dilakukan secara tradisional karena berasal dari nenek moyang atau berdasarkan kepercayaan turun-temurun dengan menggunakan

bahan-bahan dari alam maupun melalui jasa seseorang yang dipercaya memiliki kekuatan tertentu untuk mengobati orang sakit. Pada banyak masyarakat, tokoh pengobatan tradisional biasa disebut dukun (Liliweri, 2014:264).

Peranan dukun pada masyarakat yang masih percaya pada jasanya sangat membantu dalam mengatasi masalah bukan saja hanya dalam hal lahiriah tetapi juga yang bersifat batiniah. Walaupun pengetahuan yang diperoleh oleh dukun tidak melalui jalur pendidikan tetapi kemampuan yang dimilikinya untuk mengobati orang sakit dipercaya oleh masyarakat mampu menyamai profesi dokter bahkan melebihi kemampuan medis.

Kemajuan ilmu kesehatan secara modern semakin pesat sampai sekarang ini seperti cara pengobatan dan penyembuhan terhadap berbagai jenis penyakit, pengembangan obat dan alat kesehatan yang lebih canggih, sampai kepada upaya pencegahan penyakit dan pendidikan kesehatan. Namun kecanggihan yang mampuni harus diimbangi pula dengan pengetahuan-pengetahuan lain pada masyarakat seperti kebudayaan yang melekat yakni adat-istiadat, kebiasaan dan pikiran tradisional masyarakat akan kesehatan. Hal tersebut sangat penting dalam mengatasi ketidakcocokan persepsi akan kesehatan modern dengan kondisi masyarakat yang masih tradisional.

Keberadaan dukun masih dapat kita temui di tengah-tengah masyarakat yang telah mengenal adanya tenaga medis seperti bidan dan dokter. Apalagi saat ini pemerintah telah menyediakan beragam fasilitas medis di setiap desa seperti poskesdes, pustu, puskesmas, bahkan rumah sakit agar masyarakat dapat segera mendapatkan pelayanan kesehatan. Masyarakat di Onembute mengenal sistem pengobatan yang dilakukan secara non medis atau yang masih bersifat tradisional, yaitu masih menggunakan jasa dukun untuk mengobati suatu penyakit walaupun sudah ada layanan kesehatan secara medis yang telah tersedia. Bahkan dukun yang dipercayai dapat sangat terkenal di kalangan masyarakat luas dan tidak terbatas hanya pada kalangan masyarakat setempat saja. Jasa mereka masih sangat dibutuhkan walaupun di era kemajuan

(3)

Peranan Sando dalam Pengobatan ... 7LQL6XU\DQLQJVL seperti sekarang ini telah banyak fasilitas medis

yang tersedia dan tenaga medis yang siap untuk menolong masyarakat. Pertolongan seorang dukun tidak hanya terbatas untuk kesembuhan secara fisik saja tetapi juga secara spiritual walaupun alat-alat serta obat yang diberikan oleh seorang dukun sangat sederhana dan natural.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka penulis sangat tertarik untuk menulis tentang sando pada masyarakat Onembute di Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara. Adapun yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini yaitu bagaimana peranan sando dalam pengobatan tradisional pada masyarakat Onembute.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peranan sando dalam pengobatan tradisional pada masyarakat Onembute. Melalui penelitian ini, penulis mengharapkan agar dapat memberikan manfaat, yaitu sebagai bahan masukan dan referensi bagi penelitian-penelitian yang berhubungan dengan sando, serta mampu mengambil kebijakan sebagai pembentuk karakter bangsa.

Terkait dengan pengetahuan akan kesehatan, ada tiga jenis sistem pengetahuan medis, yaitu sistem medis budaya, sistem medis modern, dan sistem medis agama. Sistem medis budaya (etnomedis), adalah pengetahuan kesehatan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Etnomedis merupakan subdisiplin ilmu antropologi kesehatan dan berhubungan dengan kajian pengobatan tradisional. Sementara ilmu yang dimiliki oleh seorang ahli pengobatan (dalam masyarakat, tokoh pengobatan tradisional disebut dengan dukun, tabib, shaman, atau istilah lainnya yang semakna), merupakan bagian dari sistem nilai budaya yang dimilikinya. Mereka beranggapan bahwa “dokter” tradisional itu diposisikan seperti dewa yang mampu menyembuhkan orang sakit. Sedangkan dalam sistem medis modern, sakit dan sumber penyakit itu adalah sesuatu hal yang masuk akal (rasional) dan empiris. Cara pengujian dan pemecahan masalahnya dilakukan secara ilmiah, sesuai dengan metode ilmiah dan dapat diuji secara langsung (Sudarma, 2014:242-244). Dukun menurut kamus antropologi adalah orang yang ahli dalam penyembuhan penyakit,

yang disebabkan oleh roh dan kekuatan-kekuatan gaib, berdasarkan kekuatan batin atas kodrati dan pengetahuan eksperimental pengalamannya (Goo, 2012:55). Dalam kamus Bahasa Indonesia, dukun berarti orang yang mengobati, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna), sedangkan dukun beranak berarti dukun yang pekerjaannya menolong perempuan yang akan bersalin (Qodratilah, 2011:104).

Pengetahuan dan ilmu untuk menyembuhkan penyakit dalam masyarakat-masyarakat lokal sering dilakukan para dukun, oleh karena itu seringkali disebut “ilmu dukun”. Ilmu dukun biasanya memang banyak menggunakan ilmu gaib, disamping pengetahuan yang luas tentang berbagai ciri dan sifat tubuh manusia, letak serta susunan urat, dan sebagainya . Dalam menggunakan ilmu gaib tersebut, tidak terlepas dari tokoh inti dari pengobatan tradisional yaitu dukun (Koentjaraningrat, 2009:297).

Perbuatan magis adalah orang yang ahli dalam mempergunakan kekuatan-kekuatan atau daya-daya gaib yang terdapat di alam raya ini, atau sebaliknya mematahkan daya-daya kekuatan sesuatu dengan cara irasional yang menimbulkan perasaan mengerikan atau menakutkan. Sedangkan ilmu magi atau ilmu gaib adalah yang mengetahui cara penggunaan kekuatan atau daya-daya itu atau mengalahkannya (Ghazali, 2011:131). Menurut Otto (dalam Koentjaraningrat, 2010:65), Sifat dari hal yang gaib serta dianggap keramat itu adalah maha abadi, maha dahsyat, maha baik, maha adil, maha bijaksana, tak terlihat, tak berubah, tak terbatas, dan sebagainya. Intinya, sifatnya sulit dilukiskan dengan kata-kata karena hal yang gaib dan keramat itu memang memiliki sifat-sifat yang yang tidak dapat dicakup oleh pikiran dan akal manusia.

Menurut Frazer (dalam Pals, 2001:61), dalam kebudayaan yang masih primitif, orang yang mengklaim dapat menguasai teknik magis (dukun, shaman, ahli magi atau tukang sihir) hampir selalu dikaitkan dengan kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Hal itu disebabkan karena ia dianggap paling tahu bagaimana menguasai dunia alam untuk kebaikan sukunya, atau untuk kemalangan musuhnya.

(4)

Haviland (1993:206) mengungkapkan peran seorang shaman (dukun) yang sangat penting dalam masyarakat. Ia menggambarkan dengan kekuatan supranatural yang dimiliki, shaman memberi keyakinan secara psikologis tentang hal-hal seperti kekebalan terhadap serangan, sukses dalam cinta, atau pulihnya kesehatan. Pengobatannya secara medis mungkin tidak efektif, tetapi sikap batiniah yang ditimbulkannya pada si penderita dianggap penting untuk proses kesembuhan.

Pollock (2007:316) dalam penelitian HWQRJUD¿Q\DPHQMHODVNDQSHUDQ\DQJGLPDLQNDQ oleh seorang shaman tidak terbatas hanya pada masalah penyembuhan semata, tetapi mereka belajar dari budaya yang telah tertanam yang tidak dipengaruhi oleh budaya lain.

K o e n t j a r a n i n g r a t ( 1 9 9 2 : 2 8 9 ) mengungkapkan bahwa perbuatan-perbuatan dan pengobatan-pengobatan ilmu gaib yang dilakukan oleh seorang dukun didasarkan pada kepercayaan pada kekuatan sakti, misalnya membasmi penyakit dengan jimat, karena jimat dipercaya memiliki kekuatan sakti yang dapat mengusir penyakit tersebut. Syarat-syarat yang penting agar suatu perbuatan ilmu gaib dapat berhasil adalah semangat, kesungguhan, dan konsentrasi dari pelakunya.

Penyebab suatu penyakit baik secara fisik maupun batiniah oleh Foster/Anderson (1986:63), bahwa jika dipandang dari sudut kepercayaan yang berlaku mengenai sebab akibat suatu penyakit dan penentuan pengobatannya memiliki dua konsep yang dapat digunakan dalam masyarakat yang masih kuat memegang tradisi yaitu konsep personalistik dan konsep naturalistik. Dalam konsep personalistik, penyakit disebabkan oleh adanya intervensi dari suatu agen (perantara) aktif yang dapat berupa mahluk supernatural (mahluk gaib atau dewa), makhluk bukan manusia (seperti roh leluhur, roh jahat, hantu), dan manusia (tukang sihir, tukang tenung). Dalam kaitannya dengan konsep personalistik, cara penyembuhan suatu penyakit berdasarkan pengetahuan secara gaib atau supernatural yaitu dengan melakukan upacara dan sesaji. Upacara dimaksudkan untuk menetralisir atau membuat keseimbangan agar penyebab sakit dapat dikembalikan pada

asalnya sehingga orang yang sakit menjadi sehat kembali. Penyembuhan penyakit seperti itu dilakukan oleh “dukun”. Dalam konsep naturalistik, penyebab penyakit bersifat natural dan mempengaruhi kesehatan tubuh, misalnya karena cuaca, makanan, racun, kecelakaan, dapat, kuman. Di samping itu adanya unsur yang mengakibatkan ketidakseimbangan dalam tubuh misalnya dingin, panas, angin atau udara lembab. Penyembuhan penyakit menurut konsep naturalistik adalah dengan model keseimbangan dan keselarasan, artinya dikembalikan kepada keadaan semula sehingga orang menjadi sehat kembali. Penyembuhannya berupa ramuan-ramuan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang diracik sehingga memiliki khasiat untuk menyembuhkan.

Pengetahuan tradisional tidak dapat dipisahkan dari masyarakat asli. Sesuai dengan perkembangannya, masyarakat mengembangkan pengetahuan obat dan pengobatan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka di bidang kesehatan dan memiliki kaidah-kaidah atas pengetahuan tersebut. Pengetahuan tradisional dimaksudkan dengan mengacu pada suatu yang bersifat benda yakni tanaman obat, maupun yang tak benda berupa pengetahuan akan pengobatan. Menurut WHO, obat tradisional merupakan bagian dari pengetahuan tradisional (Daulay, 2011:31).

METODE

Penelitian mengenai sando ini dilakukan di Desa Onembute, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara. Ruang lingkup penelitian dan penulisan yaitu mengenai keberadaan sando di era kemajuan seperti sekarang ini dan masih ada ditengah-tengah masyarakat. Rumusan yang ingin dicapai yaitu mengenenai macam-macam sando yang ada di desa mereka, mengapa masyarakat Onmebute masih percaya pengobatan menggunakan jasa

sando padahal di desa mereka sudah ada berdiri

fasilitas Poskesdes. Selain itu penelitian ini juga melingkupi sejauh mana peranan sando dalam kehidupan masyarakat Onembute.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Data yang dikumpulkan berupa data

(5)

Sando: Studi Tentang ... 7LQL6XU\DQLQJVL primer dan data sekunder. Data primer berupa

observasi dan wawancara mendalam (indepth

LQWHUYLHZ  Observasi adalah suatu penyelidikan

secara sistematis menggunakan kemampuan indera manusia. Pengamatan dilakukan pada saat terjadi aktivitas budaya dan wawancara secara mendalam (Endraswara, 2012:208). Sedangkan data sekunder berupa studi pustaka, melalui literatur yang telah ada untuk dijadikan tinjauan pustaka sebagai acuan penelitian ini.

PEMBAHASAN

Gambaran Umum Onembute

Desa Onembute adalah sebuah desa yang terletak di Kabupaten Konawe. Untuk sampai ke Desa Onembute harus ditempuh lewat darat sejauh 43 km dari ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara (Kendari). Desa Onembute berada di Kecamatan Besulutu. Jarak dari Desa Onembute ke ibukota kecamatan adalah 12 km. Batas-batas wilayah Desa Onembute, yaitu di sebelah utara berbatasan dengan Desa Paku Jaya, di sebelah timur berbatasan dengan Desa Labela, di sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Besulutu, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Besulutu dan Domesinggo.

Di Desa Onembute bukan hanya ditempati oleh Suku Tolaki saja, akan tetapi ada juga Suku Bugis yang berasal dari Bone, Soppeng, dan Wajo. Suku Bugis menempati wilayah sebelah dalam dari jalan poros sedangkan untuk Suku Tolaki lebih banyak berada disepanjang jalan poros ke daerah Kolaka. Ada pula beberapa suku lain yaitu Muna, Gorontalo dan Makassar, umumnya mereka tinggal di Desa Onembute karena adanya perkawinan dengan penduduk asli (Suku Tolaki). Masyarakat Onembute sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani, baik petani sawah tadah hujan, sawah dengan irigasi maupun berkebun. Jika petani sawah tadah hujan tidak memungkinkan untuk menanam padi karena kemarau panjang, maka para petani berupaya menggantinya dengan tanaman palawija atau jenis sayur-sayuran seperti kacang panjang, dan sayur bayam. Selain sebagai petani, masyarakat di Desa Onembute ada juga yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil, berdagang dan sebagai pengusaha batu merah.

Untuk melayani kebutuhan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan karena sakit, pemerintah menyediakan satu buah Poskesdes (Pos Kesehatan Desa) dengan tenaga medis hanya seorang saja yaitu bidan desa. Kegiatan Posyandu dilakukan sekali dalam sebulan di Poskesdes yaitu setiap tanggal 12. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas pelayanan kesehatan yang lebih memadai maka dari pihak puskesmas yang berada di ibu kota kecamatan setiap minggunya datang ke Desa Onembute untuk memeriksa kesehatan masyarakat yang sedang sakit. Tenaga kesehatan yang datang melayani masyarakat adalah tenaga dokter. Belum maksimalnya fasilitas kesehatan dan tenaga medis di desa tersebut membuat masyarakat lebih memilih pelayanan kesehatan yang selalu ada dan bersedia menolong 24 jam setiap harinya yaitu tenaga non medis, dalam hal ini menggunakan jasa dukun (sando).

Persepsi Masyarakat Tentang Sando dan Pengobatan

6DQGR berasal dari bahasa Tolaki yang

berarti dukun. Cara pengobatan sando berbeda dengan pengobatan yang dilakukan oleh para dokter karena sando lebih dikenal dengan ramuan-ramuan alaminya yang berasal dari tumbuh-tumbuhan sedangkan dokter lebih kepada pengobatan dengan bahan kimiawi. Oleh karena itu pengobatan yang dilakukan oleh

sando biasa disebut dengan pengobatan non

medis. Pengobatan yang dilakukan oleh sando di dapatkan secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Biasanya sando mendapatkan ilmu yang diturunkan dari orang tua mereka sebagai penerus. Selain pengobatan berupa ramuan tumbuh-tumbuhan, yang menjadikan sando sangat dipercaya dalam melakukan pengobatan yaitu karena adanya mantra-mantra baik yang diberikan pada ramuannya maupun mantra-mantra yang diucapkan langsung kepada pasiennya. Mantra yang diberikan dipercaya sangat mujarab untuk proses penyembuhan suatu penyakit.

Kedudukan sando di masyarakat Onembute sangat penting, walaupun kedudukan yang diberikan bukan secara formal. 6DQGR memiliki

(6)

kemampuan yang berbeda dari masyarakat pada umumnya. Kedudukan sando sebagai pemimpin dalam rangkaian ritual, upacara adat, serta kegiatan-kegiatan manusia yang bersifat mistik. Masyarakat Onembute percaya bahwa alam ini dikuasai oleh makhluk-makhluk gaib yang tidak kelihatan. 6DQGR sebagai orang yang spesial, dapat berkomunikasi kepada penguasa alam gaib, dapat menolong masyarakat untuk meminta izin untuk rangkaian kegiatan yang akan dilakukan oleh masyarakat, seperti meminta izin untuk mendirikan rumah baru dan izin mengolah lahan pertanian. Hanya sando yang memiliki kemampuan untuk mengetahui keinginan penguasa alam gaib tersebut.

Pengobatan penyakit pada masyarakat Onembute dikenal dengan dua cara, yaitu pengobatan secara non medis atau biasa pula disebut pengobatan tradisional dan pengobatan secara medis. Untuk jelasnya dipaparkan sebagai berikut:

1. Pengobatan Secara Non Medis

Pengobatan non medis adalah pengobatan yang dilakukan oleh bantuan seseorang yang pintar mengobati penyakit yang ilmunya didapatkan dari nenek moyang atau lewat mimpi dan bantuan makhluk gaib. Pengobatan non medis ditangani oleh seorang dukun. Pengobatan non medis biasa juga disebut dengan pengobatan tradisional karena bersifat alamiah tanpa bahan kimiawi. Pelaku utama yaitu dukun (sando) membuat aturan dan pantangan pelaksanaan pengobatan yang harus dipatuhi oleh masyarakat pendukungnya.

Keberadaan pengobatan tradisional dalam kehidupan sehari-hari dirasakan sangat membantu masyarakat dalam mengatasi gangguan kesehatan dengan proses yang cepat karena tidak berbelit-belit melalui suatu birokrasi yang panjang. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh masyarakat Onembute dalam memilih jenis pengobatan non medis untuk masalah kesehatan yang mereka hadapi, yaitu:

1. Mereka malas pergi ke Poskesdes karena tenaga medis yang ada kadang tidak berada di tempat.

2. Kunjungan tenaga medis dari Puskesmas hanya datang seminggu sekali.

3. Adanya rasa sungkan kepada bidan desa karena tidak akrab sedangkan kalau

sando sudah dikenal karena merupakan

masyarakat kampung tersebut jadi dianggap orang tua sendiri.

4. Pertolongan pengobatan kepada sando cepat dilakukan karena tidak melewati birokrasi yang berbelit-belit.

5. Kalau berobat kepada sando tidak mengenal batas waktu, 24 jam dapat ditemui.

6. Faktor ekonomi, dimana sando tidak pernah meminta bayaran akan tetapi menurut keikhlasan dan dapat diberikan lain waktu jika sudah ada rejeki.

7. Pengalaman sando dalam hal pengobatan sudah dipercaya oleh masyarakat setempat bahkan masyarakat luas di luar desa sang penyembuh.

 6DQGR memiliki kelebihan yang tidak

dimiliki oleh tenaga medis, yaitu kelebihan bersifat gaib berupa kekuatan mantra-mantra.

Pilihan pengobatan non medis oleh masyarakat tidak terlepas dari pengalaman sando yang secara turun temurun dipercaya masyarakat untuk mengobati penyakit yang diderita. Pada masa lalu sebelum poskesdes masuk di desa, masyarakat menggunakan jasa sando sehingga sudah merasa cocok dengan pengobatan yang diberikan dan ketika poskesdes sudah ada dan tenaga medisnya ada, masyarakat merasa enggan lagi untuk berobat ke poskesdes.

2. Pengobatan Secara Medis

Pengobatan medis yaitu pengobatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih yang didapatkan lewat proses pembelajaran di bangku pendidikan. Pengobatan secara medis merupakan jenis pengobatan modern di mana resep obat yang diberikan tidak didapatkan secara alamiah pada alam akan tetapi di racik secara kimiawi sehingga obat yang dihasilkan berkhasiat menyembuhkan karena sudah melewati proses penelitian oleh tenaga ahli profesional. Peralatan yang digunakan sudah modern. Setiap peralatan dan obat yang dihasilkan berdasarkan hasil riset yang terus diinovasikan berdasarkan perkembangan zaman yang semakin modern.

(7)

Pengobatan secara medis pada masyarakat Onembute belum sepenuhnya terpenuhi dengan baik, karena fasilitas seperti Puskesmas belum ada di desa tersebut. Yang ada hanya poskesdes (Pos Kesehatan Desa) dengan tenaga medis hanya satu orang yaitu bidan desa. Poskesdes memiliki peralatan yang tidak lengkap dan obat-obat yang ada juga terbatas. Karena keterbatasan peralatan dan obat-obatan, terkadang masyarakat enggan memeriksakan kesehatannya di poskesdes. Adanya pengalaman yang kurang menyenangkan ketika pergi berobat ke poskesdes atau ke Puskesmas menjadi hambatan bagi masyarakat untuk datang kembali berobat kepada bidan. Pengalaman tersebut berupa:

1. Tidak adanya petugas medis di tempat ketika akan berobat.

2. Menunggu cukup lama ketika akan berobat. 3. Harus menunjukkan kartu berobat.

4. Persyaratan cukup berbelit-belit dan jika tidak terpenuhi maka tidak akan dilayani. 5. Obat yang diberikan tidak semuanya gratis

karena ada obat yang kadang harus di bayar. 6. Petugas medisnya kadang tidak ramah. 7. Jika ke Puskesmas jaraknya jauh dari desa.

Birokrasi yang berbelit-belit juga diungkapkan oleh Abdul Alim dalam penelitiannya di Desa Laimeo tentang pilihan pengobatan medis dan non medis, yaitu bahwa dalam pengobatan secara medis, mempunyai birokrasi yang berbelit-belit dimana seorang pasien apabila pergi berobat, maka harus mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh dokter yang ada di puskesmas, misalnya apabila yang berobat seorang pegawai negeri, dia harus memperlihatkan kartu askesnya terlebih dahulu sekalipun dia tahu bahwa pasien ini adalah seorang guru atau pegawai negeri. Pelayanan pasien yang menggunakan askes dengan yang tidak menggunakan kartu askes juga berbeda. Jika memakai kartu askes, petugas medis lambat melayaninya sehingga pasien menunggu lama, berbeda dengan pasien yang tidak menggunakan kartu askes, petugas medis cepat melayaninya (Alim, 2010:3).

Peranan Sando

6DQGR dalam kehidupan masyarakat

sangat membantu masyarakat dalam pemilihan pengobatan secara alternatif selain pengobatan secara medis. 6DQGR sangat dibutuhkan dalam masyarakat terutama di daerah yang masih kurangnya fasilitas kesehatan dan adanya pemikiran secara turun-temurun dari masyarakat setempat bahwa jika sakit maka ada sando yang dapat mengobati, tidak perlu ke poskesdes. Karena keahlian yang dimiliki sando sudah diakui sejak dari dahulu kala dan sudah secara turun-temurun membantu masyarakat. Pertimbangan masyarakat terhadap sando juga dipengaruhi oleh pemikiran bahwa tidak enak hati untuk pergi berobat ke tempat lain jika dalam kehidupan sehari-hari ada seseorang yang dekat dalam lingkungan tempat tinggal mereka (sando) yang dapat menolong mereka. Apalagi sando memiliki kekuatan gaib yaitu pengobatan dengan menggunakan mantra-mantra yang dipercaya dapat menyembuhkan. Dalam menjalankan praktik pengobatan tradisional, sando dalam kehidupannya tidak boleh menawarkan diri kepada seseorang untuk datang kepada dirinya agar dapat mendapatkan pengobatan yang ampuh. Oleh karena itu pengobatan yang dilakukan oleh sando dilakukan berdasarkan keinginan dari orang sakit tersebut yang datang kepada dirinya untuk minta diobati dan sando tidak akan mengobati pasien jika tidak diminta oleh pasien atau keluarga pasien. Karena sesungguhnya kesembuhan sepenuhnya berasal dari dalam diri seseorang yang mengalami sakit dengan rasa optimis dan percaya diri akan beroleh kesembuhan lewat sando yang mengobatinya dengan diimani dalam hati.

Kemampuan dukun dalam menyembuhkan penyakit dengan sendirinya menjadi sarana promosi kepada masyarakat yang lain sehingga sang dukun memiliki banyak pasien. Bahkan karena kemampuannya, pilihan pengobatan dari masyarakat langsung terarah kepada sang dukun, tidak lewat pengobatan medis lagi. Seperti sakit akibat kerasukan roh halus, diyakini penyebabkan oleh karena gangguan mahluk halus sehingga bicaranya sembarangan. Dapat juga karena terkena guna-guna oleh seseorang yang sakit Sando: Studi Tentang ... 7LQL6XU\DQLQJVL

(8)

hati. Masyarakat meyakini jika sakit karena guna-guna maka pilihannya adalah dukun untuk dapat menangkal sakit yang di derita sehingga mahluk halus yang merasukinya dapat keluar dan tidak mengganggu sang pasien.

B e r d a s a r k a n c a r a p e n y e m b u h a n penyakit tersebut, maka masyarakat Onembute mengklasifikasikan sando berdasarkan kemampuannya dalam menangani penyakit. Dengan demikian masyarakat mengenal adanya tiga macam sando dan perannya dalam pengobatan penyakit.

0EX¶RZDL

0EX¶RZDL yaitu dukun yang dapat

menyembuhkan segala macam penyakit. Mulai dari sakit secara fisik seperti sakit kepala, sakit perut, luka, sampai kepada sakit secara batiniah seperti sakit karena diganggu roh halus dan karena terkena guna-guna. Penyakit secara fisik diakibatkan oleh berbagai faktor yaitu kondisi iklim/cuaca, makanan, minuman, terjadinya kecelakaan, bakteri maupun kuman yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Sedangkan penyakit batiniah berupa gangguan psikologis dalam diri manusia karena adanya perantara suatu agen yang mengganggu kesehatan mental seseorang seperti gangguan mahluk halus dari roh leluhur maupun roh jahat.

Dalam mengobati pasien, PEX¶RZDL akan menanyakan nama pasien karena menurutnya, jika seseorang datang untuk berobat tetapi tidak disebutkan namanya maka yang mengobati tidak bersungguh-sungguh akan mengobatinya. Saat pasien datang berobat, PEX¶RZDL akan menanyakan apa yang dia rasakan, di bagian mana yang sakit. Hal ini dilakukan agar PEX¶RZDLdapat mendeteksi jenis penyakit apa yang sedang terjadi kepada pasien.

Jika sakit yang diderita pasien sudah dideteksi, maka seorang PEX¶RZDLdapat segera memberikan obat berupa ramuan dari tumbuh-tumbuhan yang didapatkan di sekitar tempat tinggalnya. Ramuan di racik sendiri oleh PEX¶RZDL dan pasien boleh mengetahui juga jenis tumbuh-tumbuhan yang dipakai untuk dijadikan ramuan obatnya. Hal ini dibolehkan oleh PEX¶RZDLagar pasien dapat meracik sendiri ramuan obatnya

ketika sudah pulang ke rumahnya. Seorang

PEX¶RZDL tidak merasa takut berbagi pengetahuan

tentang ramuan untuk penyakit-penyakit yang diderita pasien.

Andalan seorang PEX¶RZDLadalah ramuan obat yang diracik secara alamiah tanpa bahan kimia akan tetapi setelah ramuan yang telah diracik akan diberikan kepada pasien, PEX¶RZDLakan membacakan mantra-mantra pada ramuannya, setelah itu pasien boleh meminumnya atau mengoles pada bagian yang sakit. Mantra-mantra yang diberikan pada ramuannya dianggap sangat berkhasiat oleh pasien. Oleh karena itu, kadang pasien walaupun sudah diberikan pengetahuan tentang cara meracik obat untuk penyakitnya akan tetapi mereka meminta diracikkan kembali ramuannya oleh PEX¶RZDL Hal tersebut dikarenakan jika PEX¶RZDL yang meracik lebih berkhasiat, diberikan mantra-mantra. Karena kepercayaan masyarakat akan khasiat mantra-mantra yang diberikan oleh seorang

PEX¶RZDLmaka PEX¶RZDL tidak perlu takut akan

kehilangan pasiennya walaupun ramuannya telah diketahui oleh pasiennya. Mantra-mantra yang diberikan menjadi kekuatan gaib yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Menurut

PEX¶RZDL jika mengobati pasien harus diimani

karena kesembuhan adalah seizin dari Sang Ilahi, oleh karena itu keyakinan akan sembuh menjadi kunci keberhasilan pengobatan pasien. Di samping itu pasien yang diobati harus selalu optimis akan memeroleh kesembuhan.

Jenis tumbuh-tumbuhan yang dipakai sebagai ramuan oleh PEX¶RZDL diperoleh di sekitar lingkungan kampung tempat tinggalnya seperti jahe, kunyit, merica, daun sirih, daun jarak, sambung nyawa, temulawak dan sebagainya. Beberapa tumbuhan untuk pengobatan ditanam di belakang rumah dan ada juga ramuan yang dicari di hutan berupa tumbuhan liar. Tanaman-tanaman obat yang ditanam di belakang rumah adalah tanaman yang mudah ditanam dan cepat tumbuhnya, tidak susah dalam perawatannya. Ada juga jenis tanaman obat yang harus membutuhkan perawatan yang khusus agar dapat tumbuh dengan subur seperti harus disiram pagi dan sore, tanah harus gembur dan diberi pupuk alami. Terkadang pasien yang datang berobat membawa

(9)

Sando: Studi Tentang ... 7LQL6XU\DQLQJVL pulang tanaman obat dari sando yang kemudian

digunakan untuk meracik sendiri obatnya. Bibit tanaman obat pun diberikan kepada pasien agar pasien dapat menanam sendiri tanaman obat tersebut sebagai persediaan jika suatu waktu tanaman obat tersebut akan dipergunakan.

Pengetahuan seorang PEX¶RZDL tentang jenis-jenis tanaman obat diperoleh dari orangtuanya dahulu yang juga berprofesi sebagai seorang PEX¶RZDL yang kemudian diturunkan kepadanya. Pengetahuan tentang penyembuhan-penyembuhan penyakit didapatkan secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Selain diperoleh secara turun temurun, ramuan juga dipelajari sendiri oleh PEX¶RZDLdengan melakukan eksperimen pada dirinya sendiri. Ramuan untuk dijadikan obat juga diperoleh lewat mimpi-mimpi yang datang di malam hari ketika

PEX¶RZDLsedang tidur.

Tidak selamanya pengetahuan tentang pengobatan yang telah didapatkan dari nenek moyang dahulu bersifat statis atau tidak berubah sama sekali, karena adanya perkembangan zaman dan tingkat pengetahuan yang terus bertambah yang diperoleh dari lingkungan sekitar maupun orang lain. Pengobatan yang dilakukan terkadang terjadi penambahan, perubahan dan alternatif pengobatan yang lain dari hasil pengamatan.

Dalam masyarakat-masyarakat tradisional, para penyembuh tradisional sering mendapatkan keterampilan mereka lewat observasi seperti para ahli ramuan dapat mempelajari berbagai tanaman yang berbeda yang tumbuh dekat rumahnya atau yang dilihat ketika berada di jalan dan di hutan. Pengetahuan tanaman obat juga didapatkan dengan bertukar informasi dengan orang lain yang mengetahui khasiat tanaman yang dapat dijadikan sebagai obat penyembuh atau pencegah penyakit.

0EX¶RZDL dalam hidupnya berprinsip

bahwa apa yang dia lakukan semata-mata untuk menolong sesama. Oleh karena itu PEX¶RZDLtidak mengenal waktu dan tempat dalam memberikan pertolongan kepada si penderita. Jika ada yang memanggil dia di malam hari, maka dia akan segera pergi karena niatnya untuk menolong sesama. Begitupun jika PEX¶RZDL di panggil untuk pergi ke rumah si penderita yang letaknya jauh dari tempat tinggalnya, bagi dia tidak jadi

masalah yang penting dapat segera memberikan pertolongan.

0EX¶RZDL tidak pernah menolak untuk

mengobati pasiennya siapapun yang datang kepadanya karena menurutnya, ilmu yang didapatkan digunakan untuk menolong orang lain, dan jika seorang PEX¶RZDL menolak untuk menyembuhkan maka mereka percaya Sang Ilahi akan marah dan menyebabkan pengobatan yang dia lakukan tidak mujarab lagi. Demikian pula dalam hal mendapatkan imbalan jasa atau upah dari pasien, PEX¶RZDLtidak akan menentukan besaran imbalan yang harus diterimanya karena niatnya hanya menolong sesama. Jika pasien memberikan imbalan harus dengan keikhlasan hati. Apapun yang diberikan dengan ikhlas,

PEX¶RZDL tidak menolaknya. Imbalan yang

diberikan dapat berupa barang ataupun uang.

0EX¶RZDL juga mengobati penyakit yang

disebabkan oleh gangguan mahluk halus dan guna-guna. Menurut PEX¶RZDL jika pasien yang datang sering kerasukan maka PEX¶RZDL akan mencari tahu apa yang menyebabkan dia kerasukan, apakah karena dia bicara sembarangan, pergi ke suatu tempat yang keramat tanpa permisi terlebih dahulu atau karena gangguan dari makhluk halus yang sengaja mengusik dia.

Menurut penuturan PEX¶RZDL pernah ada pasien yang datang dengan keluhan matanya sakit dan kabur. Setelah diperiksa oleh PEX¶RZDL penyebab sakitnya adalah karena diberi peringatan oleh penguasa laut, karena sang pasien telah merusak laut. Oleh karena itu PEX¶RZDL mengadakan ritual untuk meminta ampun kepada penguasa laut kemudian air laut dicucikan pada mata si pasien, dan pasien tersebut akhirnya dapat melihat kembali dengan jelas.

Pengobatan yang dilakukan oleh PEX¶RZDL ada yang cukup sekali saja datang dan ada juga dilakukan pengobatan sampai berkali-kali. Biasanya untuk jenis penyembuhan penyakit tertentu, seperti untuk mendapatkan keturunan di mana harus datang sebayak 4 kali karena harus dimandikan dan dibacakan mantra-mantra. Model pengobatannya yaitu sebagai berikut:

“Pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak harus datang berdua dengan membawa telur ayam putih dan telur ayam hitam. Telur

(10)

ayam putih adalah telur dari ayam yang berwarna putih dan telur ayam hitam adalah telur dari ayam yang berwarna hitam. Telur putih adalah dari laki-laki (suami) sedangkan telur hitam dari perempuan (istri). Kemudian pasangan akan dimandikan di mata air oleh mbu’owai dengan membacakan mantra-mantra. Kemudian telur putih milik laki-laki (suami) akan diberikan kepada perempuan (istri) kemudian telur hitam dari perempuan (istri) akan diberikan kepada laki-laki (suami)”. Pantangan-pantangan untuk pasien juga diberikan oleh PEX¶RZDL agar sakit yang diderita dapat segera sembuh. Seperti untuk sakit maag, pantangannya yaitu tidak boleh makan makanan yang pedas, sedangkan untuk pantangan karena sakit kepala yaitu tidak boleh untuk membelah kelapa. Kepercayaan bahwa jika membelah kelapa, maka sakit kepalanya akan terus datang pada jam-jam tertentu.

Dengan niat (hajat) untuk menyembuhkan pasien membuat sando bertanggung jawab akan kesembuhan pasien, dan PEX¶RZDL akan menepati janjinya untuk berpuasa sesuai hajatnya tersebut. Jika tidak dilakukan maka pasien yang telah sembuh akan jatuh sakit lagi.

6DQGR3H¶DQD

6DQGRSH¶DQD adalah dukun yang berperan

dalam menolong ibu-ibu yang sedang hamil dan yang akan segera melahirkan bahkan pasca melahirkan. 6DQGRSH¶DQD lebih dikenal secara umum sebagai dukun beranak. 6DQGRSH¶DQD ahli dalam menangani masalah persalinan, masalah selama hamil dan masalah yang dihadapi ketika proses persalinan berlangsung. Sejak usia kandungan memasuki bulan pertama sampai pasca melahirkan, 6DQGRSH¶DQDmemberikan perhatian ekstra agar selama proses mengandung, ibu yang sedang hamil dapat mengetahui keadaan bayi yang sedang dikandungnya, dengan memberikan perawatan berupa pijatan dan ramuan serta juga memberikan nasehat berupa pantangan-pantangan yang harus diketahui dan tidak boleh dilanggar oleh sang ibu yang sedang mengandung agar proses melahirkan dapat berjalan dengan lancar dan anak yang dilahirkan dapat sehat sempurna. Pantangan-pantangan yang diberikan seperti:

1. Jangan bicara sembarangan dan kalau kerja harus hati-hati sebab dapat mempengaruhi perkembangan bayi.

2. Pekerjaan sehari-hari tidak boleh yang berat-berat agar tidak terjadi keguguran. 3. Tidak boleh berdiri di depan pintu agar anak

tidak lambat keluarnya.

4. Harus sering berjalan pagi untuk olahraga demi kesehatan ibu dan bayinya dalam kandungan.

5. Tidak boleh membunuh binatang dan menghina orang lain karena dapat membuat anaknya lahir cacat.

6. Menjaga omongan dan berperilaku yang baik karena akan berdampak kepada anak yang ada dalam kandungan.

7. Tidak boleh membersihkan ikan, karena dapat menyebabkan anak yang nantinya lahir kulitnya akan bersisik.

8. Tidak boleh memotong ayam karena dapat menyebabkan kaki anak yang dilahirkan akan cacat.

6DQGRSH¶DQD yang ada di Desa Onembute

sudah sangat terampil dalam membantu persalinan. Hal ini disebabkan karena adanya kerjasama dengan pihak medis. 6DQGRSH¶DQD diberikan pelatihan dan penyuluhan dari Dinas Kesehatan tentang cara penanganan ibu yang akan menghadapi persalinan. Pelatihan berupa penggunaan alat-alat yang digunakan dalam persalinan harus yang bersih dan steril agar tidak terjadi infeksi.

6DQGRSH¶DQD tidak keberatan jika pekerjaan

yang dilakukan selama ini dikombinasikan dengan pengetahuan secara medis. Justru mereka sangat senang dapat mengetahui lebih banyak lagi cara-cara penanganan ibu-ibu yang sedang hamil dengan metode yang lebih modern tanpa meninggalkan metode pengobatan yang telah mereka dapatkan dari nenek moyang mereka.

P e n a n g a n a n p e n g o b a t a n y a n g dikombinasikan antara pengobatan medis dan non medis justru lebih menguntungkan bagi sando pe’ana karena mereka semakin dipercaya oleh masyarakat dalam penanganan pasien. Alat-alat yang mereka gunakan dalam proses persalinan sudah modern sehingga ibu-ibu yang

(11)

Sando: Studi Tentang ... 7LQL6XU\DQLQJVL akan melahirkan tidak khawatir akan kebersihan

peralatan yang digunakan oleh sando pe’ana. Oleh karena itu sando pe’ana telah bertindak profesional dalam penanganan pasien.

6DQGRSH¶DQD juga bekerja sama dengan

bidan desa dalam menangani ibu-ibu yang akan bersalin. Biasanya jika ada pasien yang akan melahirkan di bidan desa sedangkan anak yang akan dilahirkan dalam posisi sungsang, bidan desa memanggil sando pe’ana untuk membantu bidan agar bayi dapat dikeluarkan dengan metode pijatan.

Bidan juga banyak keterbatasan dalam menangani pasien yang akan bersalin, apalagi bidan desa sangat terbatas dalam hal peralatannya sehingga menyulitkan dalam membantu proses persalinan. Biasanya jika bidan tidak dapat membantu proses persalinan maka pasien akan di rujuk ke rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut. Apalagi jika ibu yang akan melahirkan jarang memeriksakan kesehatannya kepada bidan desa sehingga tidak diketahui perkembangan bayi yang ada dalam kandungan.

Kepercayaan tenaga medis, dalam hal ini seorang bidan meminta pertolongan kepada

sando pe’ana untuk membantu ibu yang akan

bersalin, membuktikan bahwa pengobatan secara medis dan non medis dapat dikombinasikan atau saling bekerja sama dalam menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya. Hal ini menunjukkan bahwa pengobatan secara non medis dapat diterima oleh kalangan medis bahkan dipercaya mampu mengatasi masalah yang tidak dapat dilakukan oleh tenaga medis.

Kerjasama dalam pengobatan secara medis dan non medis menjadi kombinasi yang saling menguntungkan di mana di satu sisi dapat menyembuhkan bahkan menyelamatkan pasien dan di sisi lain bagi kalangan non medis mendapatkan keuntungan karena masih bermanfaat dalam kehidupan yang serba modern seperti saat ini sehingga kepercayaan terhadap jasa sando masih tetap ada.

Adapun pantangan-pantangan terhadap ibu yang telah melahirkan dan harus dipatuhi, yaitu:

1. Ibu yang telah melahirkan tidak boleh mengkonsumsi ikan teri, ikan tembang, dan

daging karena dapat membuat badan ibu yang melahirkan akan bengkak-bengkak seperti mata, tangan, kaki, perut.

2. Tidak boleh memakan buah-buahan yang bentuknya bulat panjang seperti nangka dan pepaya agar ibu yang baru melahirkan tidak menjadi gendut.

3. Tidak boleh mengkonsumsi minyak dan santan karena akan berakibat pada persalinan berikutnya yaitu kandungan akan terasa licin sehingga dapat menyebabkan keguguran.

4. Tidak boleh makan makanan yang pedas-pedas (makan lombok), karena dapat menyebabkan perut dapat mulas.

5. Tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat.

6. Tidak boleh melihat darah binatang, karena dapat menyebabkan mual.

Pantangan-pantangan harus dilakukan dan tidak boleh dilanggar karena jika dilanggar maka dapat berakibat fatal. Ibu yang telah melahirkan akan terserang penyakit yang susah disembuhkan bahkan menyebabkan kematian bagi sang ibu. Pemahaman tentang akibat dari tidak mengindahkan pantangan yang diberikan dukun didapatkan dari cerita orang-orang tua dulu di mana ada ibu yang telah melahirkan dan melanggar pantangan dengan memakan santan dan minyak secara terus-menerus, akibatnya ketika melahirkan anak kedua, ibu tersebut mengalami pendarahan yang hebat dan terjadi pembangkakan sehingga sulit untuk diselamatkan lagi.

6DQGRSH¶DQD juga mengatakan bahwa jika

melanggar pantangan makanan yang dianjurkan oleh sando pe’ana, maka sang ibu akan mengalami kesulitan dalam hidupnya, kurangnya rezeki dan bentuk tubuh tidak bagus dan gemuk.

Nilai-nilai yang terkandung dari pantangan mengkonsumsi makanan yang dianjurkan oleh sando pe’ana adalah bahwa ibu yang telah melahirkan dapat memiliki bentuk tubuh yang bagus dan cantik, hal ini menunjukkan bahwa istri tidak lupa akan perannya sebagai istri yang siap melayani suaminya baik lahir maupun batin. Demikian pula kepercayaan yang melekat sejak dahulu akan pantangan-pantangan yang

(12)

tidak boleh dilanggar sudah berakar secara turun temurun sehingga menjadi pengikat yang mengharuskan ibu yang sedang hamil dan pasca melahirkan untuk tidak melanggar pantangan tersebut demi kebaikan. Menahan diri dari keinginan-keinginan yang menjadi pantangan menjadi obat yang mujarab agar ibu yang melahirkan tidak mengalami kesulitan dalam hidupnya.

6DQGRSH¶DQD dapat menangani masalah ibu

hamil yang mengalami keguguran. Pasien yang mengalami keguguran terjadi karena beberapa penyebab yaitu melanggar pantangan yang telah diberikan, contohnya yaitu dengan melakukan pekerjaan yang berat hingga kandungan tidak kuat, maupun memakan makanan yang menjadi pantangan semasa hamil. Untuk kasus aborsi,

sando pe’ana menolong hanya jika memang janin

harus dikeluarkan karena sudah tidak bernyawa dalam kandungan dan demi keselamatan ibu itu sendiri. Jika kasus aborsi ingin mengeluarkannya karena rasa malu atau karena tidak menginginkan janin tersebut maka sando pe’ana tidak mau melakukannya karena perbuatan dosa.

Kepercayaan masyarakat untuk memakai jasa sando pe’ana diperoleh secara turun temurun. Ada kecenderungan dalam satu keluarga menggunakan jasa sando pe’ana untuk proses dari awal kehamilan, saat melahirkan dan pasca melahirkan. Karena adanya pengalaman dari anggota keluarga yang lain yang telah ditolong dalam proses melahirkan dan merasa nyaman dengan penanganan persalinan yang dilakukan

oleh sando pe’ana, maka sando pe’ana dipercaya

oleh anggota keluarga yang lain dapat menolong keluarga mereka yang memerlukan jasanya. Oleh karena itu, pengalaman dan keahlian selama bertahun-tahun yang diperlihatkan oleh seorang sando pe’ana dalam menangani ibu-ibu hamil merupakan suatu kepercayaan yang masih dipegang teguh oleh masyarakat.

0EX¶SXL

Mbu’pui adalah dukun yang khusus

mengobati pasien yang mengalami patah tulang.

Mbu’pui biasanya mengobati pasien yang jatuh

dari pohon, keseleo, bahkan patah tulang karena kecelakaan. Sudah banyak pasien yang datang

kepada mbu’pui karena keahliannya dalam menormalkan kembali bagian tubuh yang patah.

Mbu’pui juga mampu mengurut pasien yang

badannya terasa pegal-pegal karena pekerjaan sehingga otot-otot yang tegang dapat kembali rileks. Jika ada anggota keluarga yang mengalami sakit seperti disebutkan diatas, mereka akan langsung mengantarnya kepada mbu’pui.

Mbu’pui memperoleh ilmunya melalui

proses belajar dengan berguru kepada orang yang pintar mengurut atau yang sudah senior, bahkan tidak jarang seorang mbu’pui mendapatkan ilmunya dari orang tua dia terdahulu. Ilmu yang diperoleh didapatkan secara turun-temurun dari nenek moyang mereka, sehingga ilmunya tidak jatuh kepada orang lain akan tetapi diturunkan kepada keturunan mereka sendiri.

Cara pengobatan pasien juga sangat sederhana karena hanya menggunakan minyak kelapa pada saat pasien akan diurut. Minyak kelapa yang dipakai untuk mengurut terlebih dahulu dimantra-mantrai oleh mbu”pui agar berkhasiat menyembuhkan sakit yang dialami pasiennya.

Mbu’pui mengobati pasien mulai dari anak

bayi sampai para manula dengan sistem pijatan/ urutan yang berbeda pula. Jika anak bayi yang di pijat, tentu tidak seperti mengurut orang dewasa karena tulang bayi masih rawan, begitupun dengan para manula, pijatannya sangat lembut. Terkadang sakit yang dialami terutama pada anak bayi tidak diketahui penyebabnya sehingga mengalami panas dan demam.

Setiap masyarakat yang mengalami sakit patah tulang atau keseleo, pasti langsung membawanya ke mbu’pui tanpa harus pergi ke bidan atau ke puskesmas. Karena menurut pemahaman mereka, sakit tulang tidak dapat disembuhkan secara medis, akan tetapi hanya kepada mbu’pui saja sakit yang di derita akan sembuh. Karena secara medis obatnya tidak ada karena yang paling manjur adalah dengan metode pijat/urut yang hanya didapatkan pada mbu’pui.

Selain peranan sando seperti tersebut di atas, dalam kehidupan sehari-hari, sando juga membantu seseorang yang dalam kesulitan. Kesulitan dalam arti, keadaan seseorang yang merasa putus asa, tidak tahu lagi harus bagaimana

(13)

Sando: Studi Tentang ... 7LQL6XU\DQLQJVL mengatasi persoalan yang dihadapi. Seperti

kehilangan benda yang berharga, kebanyakan masyarakat menggunakan jasa sando untuk mencari tahu keberadaan benda yang hilang. Pemahaman masyarakat yang yakin kalau pergi ke polisi tidak akan menemukannya, maka sando dipercaya dapat mengetahui benda tersebut berada dimana dan siapa yang mengambilnya. Contoh lain yaitu keadaan seseorang yang merasa hidupnya selalu tertimpa sial. Setiap apa yang dikerjakannya selalu gagal, maka untuk mengatasi persoalan tersebut, seseorang menggunakan jasa

sando untuk menghilangkan sial yang dipercaya

ada dalam dirinya. Lewat ritual dan mantra-mantra yang diberikan, seseorang yang tertimpa sial dapat dijauhkan dari segala kegagalan dan dapat menjalani hidup dengan baik, apa yang dikerjakan dapat berhasil, usaha yang dijalankan dapat sukses, dan tidak ada lagi kesialan.

Demikian pula halnya dengan kepercayaan masyarakat akan keberadaan benda-benda keramat didapatkan oleh pengalaman mistis dan kemampuan dari sando dalam mengungkapkan keberadaan makhluk halus pada sebuah benda ataupun pada pohon. Seperti sebuah pohon yang dianggap keramat oleh masyarakat karena dipercaya memiliki kekuatan sakti, dan ada roh-roh halus yang mendiami pohon tersebut.

6DQGR menjadi perantara antara dunia nyata dan

gaib yang tidak dapat di lihat secara kasat mata. Berdasarkan cerita dari sando akan keberadaan pohon keramat tersebut maka masyarakat percaya akan kekuatan sakti yang ada di dalam pohon sehingga masyarakat tidak berani atau takut menebang pohon tersebut. Oleh karena itu

sando berperan untuk dapat menjelaskan kepada

masyarakat tempat, benda ataupun tanaman yang dianggap keramat dan tidak boleh sembarangan terhadap benda-benda tersebut karena akan terjadi malapetaka atau musibah yang menimpa pelaku ataupun masyarakat setempat pada umumnya.

Selain sebagai penyembuh penyakit,

sando juga berperan dalam setiap aktivitas

kemasyarakatan dan ritual upacara yang diadakan oleh masyarakat setempat. Karena sando dipercaya memiliki kemampuan lebih daripada masyarakat yang lain karena dapat berhubungan langsung dengan roh-roh nenek moyang dan kepada ilahi.

6DQGR dianggap sebagai penghulu kampung

atau biasa disebut dengan nama Putobu. Putobu berperan sebagai orang dipercaya dalam melakukan berbagai upacara ritual dan dihormati oleh masyarakat. Setiap ada musyawarah atau pertemuan, maka Putobu akan ikut didalamnya. Seperti dalam rangkaian upacara perkawinan,

putobu akan berperan dalam prosesi perkawinan.

Mulai dari acara lamaran, seorang putobu dipercaya sebagai pabitara yaitu juru bicara (wakil dari pihak laki-laki untuk melakukan pelamaran kepada pihak perempuan) yang biasa disebut sebagai tolea. Demikian pula sebaliknya jika putobu dipercaya untuk menerima kedatangan keluarga dari pihak laki-laki untuk melamar kepada pihak perempuan, maka putobu berperan sebagai tolea yaitu wakil keluarga dari pihak perempuan untuk menanyakan maksud kedatangan keluarga laki-laki. Seorang tolea harus memiliki kemampuan bertutur kata yang baik dan sopan, mampu mengeluarkan kalimat-kalimat yang mengandung kata-kata kiasan (semacam pantun), memiliki kharisma, luwes dan fasih dalam menggunakan bahasa daerah (tolaki). Jika seorang tolea tidak mampu meyakinkan pihak keluarga perempuan maksud kedatangannya, maka dapat saja pelamarannya ditolak oleh pihak perempuan, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu peranan seorang tolea sangat penting dalam prosesi lamaran yang dilaksanakan menurut adat Tolaki. Acara lamaran tentu dengan menggunakan adat dengan serangkaian tata cara adat yang yang berlaku.

6DQGR berperan juga dalam bidang pertanian,

yaitu sebelum melakukan penanaman padi, sando

akan di panggil untuk meminta kepada leluhur

dan kepada ilahi agar padi yang akan di tanam nantinya dapat tumbuh dengan baik, jauh dari hama dan hasilnya berlimpah. Jika padi yang akan ditanam tidak dipanggilkan sando, maka tanaman padi akan rusak dan menyebabkan gagal panen.

Demikin pula untuk membuka lahan baru untuk usaha perkebunan, sando berperan untuk menentukan apakah lahan yang akan dipakai untuk menanam sudah baik adanya. Maksudnya apakah tempat yang akan digarap memiliki tanah yang gembur dan baik untuk di tanam, jauh dari gangguan hama dan hewan liar.

(14)

Untuk pembangunan rumah, sando berperan untuk mendoakan agar rumah yang dibangun dapat aman dari gangguan mahluk halus dan orang yang tinggal didalamnya tidak akan sakit-sakitan.

6DQGR akan meminta petunjuk kepada

dewa-dewa untuk meminta izin membangun rumah. Setelah meminta izin kepada dewa-dewa, sando akan menunjukkan posisi rumah yang baik untuk dibangun, apakah akan menghadap ke barat atau ke timur, selatan atau ke utara.

Dalam kehidupan masyarakat, sando juga dipercaya untuk menjaga kalosara. Karena perannya di masyarakat sangat penting, maka

kalosara akan dibawa dalam setiap aktivitas

kemasyarakatan terutama dalam setiap upacara adat. Jika terjadi pertikaian, sando akan membawa

kalosara kepada pihak yang sedang bertikai maka

pertikaian akan dihentikan seketika. .DORVDUD juga dihormati dalam lingkungan pemerintahan. Jika ingin bertemu dengan gubernur untuk meminta bantuan maka kalosara akan dibawa serta.

Kemampuan sando yang tidak hanya mampu menyembuhkan penyakit akan tetapi juga mampu diberbagai aktivitas sosial kemasyarakatan menjadikan sando memiliki peranan yang sangat besar dalam masyarakat. 6DQGR dianggap memiliki kemampuan yang “lebih” jika dibandingkan oleh masyarakat lainnya meskipun ada sebagian orang di desa tersebut juga memiliki peranan penting dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Kemampuan sando yang dianggap “lebih” tersebut justru bukan karena faktor pendidikan dimana sando tidak harus memiliki pendidikan yang tinggi, malah kebanyakan sando tidak pernah sekolah. Hal ini karena kebanyakan yang menjadi sando adalah orang yang sudah tua, di mana masa kecil mereka belum mengenal sekolah. Keturunan selanjutnya yaitu anaknya yang sudah bersekolah itupun untuk dapat baca tulis sudah cukup.

Pada umumnya sando adalah penduduk asli, menetap di desa tersebut, hidup sudah lama secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Hal tersebut menjadi faktor yang menjadikan

sando sangat dihormati dalam masyarakat karena

merupakan tokoh masyarakat yang mengetahui akan kondisi desa tersebut.

PENUTUP

M a s y a r a k a t d i O n e m b u t e m a s i h mempercayakan kesembuhannya terhadap penyakit yang diderita kepada sando. Kalau masyarakat masih menggunakan jasa sando dalam kehidupannya, tidak terlepas dari budaya dan kepercayaan masyarakat yang masih percaya akan adanya kekuatan gaib yang tidak didapatkan pada tenaga kesehatan secara medis meskipun sudah ada sarana kesehatan medis berupa Poskesdes yang terdapat di desa tersebut.

Ada beberapa faktor yang menjadi kendala masyarakat untuk beralih kepada pengobatan secara medis seperti birokrasi yang berbelit-belit. Oleh karena itu pelayan kesehatan harus lebih ditingkatkan lagi dengan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam mendapatkan pengobatan secara medis. Fasilitas kesehatan harus dapat menyentuh sampai ke pelosok. Seperti puskesmas yang belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat Onembute. Fasilitas poskesdes yang belum lengkap dan tenaga medis yang masih kurang menjadi kendala dalam memberikan pelayanan kesehatan. Pemerintah juga harus melibatkan para sando untuk mendapatkan pemahaman tentang praktik-praktik pengobatan yang baik sehingga pasien yang menggunakan jasanya tidak mengalami masalah yang lain seperti infeksi karena peralatan yang digunakan tidak steril.

Peranan sando dalam kehidupan masyarakat sangatlah penting, oleh karena itu tidak jarang dalam kehidupan masyarakat tradisional, sando sangat dihormati dan disegani bahkan dapat menjadi kepala suku dalam masyarakat karena kemampuan yang ia miliki. Karena seorang pemimpin kadang dibutuhkan keahlian yang lebih dalam melihat setiap persoalan bukan hanya secara nyata akan tetapi dapat dilihat secara alam gaib yang dapat memberikan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Alim, Abdul. 2010. Pilihan Pengobatan Medis

1RQ 0HGLV 3DGD 0DV\DUDNDW 'L 'HVD /DLPHR .HFDPDWDQ 6DZD .DEXSDWHQ .RQDZH 6HODWDQ (Makalah Ilmiah).

(15)

Sando: Studi Tentang ... 7LQL6XU\DQLQJVL

Kendari: Fisip Universitas Haluoleo. Daulay, Zainul. 2011. Pengetahuan Tradisional,

.RQVHS'DVDU+XNXP'DQ3UDNWLNQ\D

Jakarta: Rajawali Pers.

Endraswara, Suwardi. 2012. Metodologi

3HQHOLWLDQ .HEXGD\DDQ Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press.

Foster/Anderson. 1986. $QWURSRORJL.HVHKDWDQ Jakarta: Universitas Indonesia (UI-PRESS). Ghazali, Adeng Muchtar. 2011. Antropologi

Agama. Bandung: Alfabeta.

Goo, Andreas. 2012. .DPXV $QWURSRORJL Jayapura: Lembaga Studi Meeologi Makeewaapa Papua.

Haviland, William. 1993. Antropologi Jilid 2,

Edisi keempat. Jakarta: Erlangga.

Koentjaraningrat. 1992. Beberapa Pokok

$QWURSRORJL6RVLDO. Jakarta: Dian Rakyat.

Koentjaraningrat. 1997. Pengantar Antropologi,

3RNRN3RNRN(WQRJUD¿,,. Jakarta: Rineka

Cipta.

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu

$QWURSRORJL(GLVL5HYLVL Jakarta:

Rineka Cipta.

Koentjaraningrat. 2010. 6HMDUDK7HRUL$QWURSRORJL

I. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press). Liliweri, Alo. 2014. 3HQJDQWDU6WXGL.HEXGD\DDQ.

Bandung: Nusa Media.

Pals, Daniel L. 2001. 6HYHQ7KHRULHVRI5HOLJLRQ Yogyakarta. Qalam.

Pollock, Donald. 2007. “Healing Dilemmas” dalam Robben, Antonius and Sluka, Jeffrey (ed) (WKQRJUDSKLF)LHOGZRUN. UK: Blackwell Publishing.

Qodratilah, Meity Taqdir, dkk. 2011. .DPXV

%DKDVD,QGRQHVLD8QWXN3HODMDU Jakarta:

Badan Pengembangan dan Pembinaan bahasa, Kementerian pendidikan dan Kebudayaan.

Sudarma, Momon. 2014. Antropologi Untuk

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :