• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Ilmu Forensik dan Medikolegal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Ilmu Forensik dan Medikolegal"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

Dalam pelayanan kesehatan, dokter mendapati kenyataan bahwa bantuan mereka diperlukan oleh kalangan penegak hukum dalam memeriksa korban maupun memberi keterangan untuk kepentingan hukum dan peradilan. Dengan kata lain, profesi dokter mempunyai tugas lain yang tidak kalah penting dari sekedar memberikan pelayanan medis klinis kepada masyarakat, yaitu memberikan bantuan terhadap penegakan hukum dan keadilan (medical for law). Seperti juga hak kehidupan, kesehatan, kesembuhan maka keadilan dan perlindungan hukum merupakan hak asasi manusia yang wajib dipenuhi dan dilindungi oleh negara.1

Bantuan dokter diperlukan untuk memastikan sebab, cara dan waktu kematian pada peristiwa kematian tidak wajar karena pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan atau kematian yang mencurigakan. Pada korban yang tidak dikenal diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui identitasnya. Begitu pula pada korban luka penganiayaan, pemerkosaan, pengguguran kandungan dan peracunan diperlukan pemeriksaan oleh dokter untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi secara medis.1

Setiap dokter puskesmas di Indonesia mempunyai kewajiban untuk melakukan pelayanan kesehatan sesuai dengan program kesehatan yang dicanangkan pemerintah. Salah satu tugas itu di antaranya adalah pemeriksaan terhadap jenazah yang meninggal dalam daerah cakupan puskesmas yang bersangkutan. Jika ada kematian warga yang tinggal atau meninggal dalam cakupan wilayah suatu puskesmas tertentu, maka keluarga orang yang meninggal tersebut mungkin melaporkan kematian tersebut ke puskesmas. Dokter puskesmas yang mendapat laporan tentang kematian tersebut wajib melakukan pemeriksaan atas jenazah tersebut dan memberikan bantuan kepada keluarga orang yang meninggal tersebut untuk pengurusan jenazah lebih lanjut.

(2)

Peranan dari kedokteran forensik dalam penyelesaian perkara pidana di pengadilan adalah membantu hakim dalam menemukan dan membuktikan unsur-unsur yang di dakwakan dalam pasal yang diajukan oleh penuntut. Serta memberikan gambaran bagi hakim mengenai hubungan kausalitas antara korban dan pelaku kejahatan dengan mengetahui laporan dalam visum et repertum.2

(3)

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Ilmu Forensik dan Medikolegal

Ada berbagai pengertian yang dikemukakan oleh ahli Kedokteran Forensik, di antaranya Sidney Smith mendefinisikan “forensic medicine may be defined as the body of medical and paramedical scientific knowledge which may services in the administration of the law”, yang maksudnya ilmu Kedokteran Forensik merupakan kumpulan ilmu pengetahuan medis yang menunjang pelaksanaan penegakan hukum.

Simpson K. mendefinisikan “ which deals with the broad field where medical matters come into relation with the law certification of live and dead, the study of sudden or violent or unexplained death, scientific criminal investigation, matters involving the coroners, court procedure, medical ethics and the like”. Terjemahan bebasnya ialah ilmu kedokteran yang berhubungan dengan pengeluaran surat-surat keterangan untuk orang hidup maupun mati demi kepentingan hukum, mempelajari kematian tiba-tiba, karena kekerasan atau kematian yang mencurigakan sebabnya, penyidikan tindakan kriminal secara ilmiah, hal-hal yang berhubungan dengan penyidikan, kesaksian, etika kedokteran dan sebagainya.

Jaising P. Modi dalam bukunya Medical Jurisprudence and Toxicology yang sudah dicetak ulang puluhan kali sesudah penerbitan pertama tahun 1920 menyatakan “Medical Jurisprudence, Forensic Medicine dan Legal Medicine are concidered synonymous term used to denote that branch of medicine which treats the application of principles and knowledge of medicine to purposes of law, both civil and criminal” atau berarti cabang ilmu kedokteran yang menggunakan prinsip-prinsip dan pengetahuan kedokteran untuk membantu proses hukum, baik sipil maupun kriminal.

Tjokronegoro (1952) sesepuh ahli bidang ini di Indonesia mendefinisikan Ilmu Kedokteran Kehakiman adalah ilmu yang mempergunakan ilmu Kedokteran dan yang dipakai dalam menyelesaikan perkara kehakiman.

(4)

Prof.Dr.Amri Amir Sp.F(K), DFM, SH mendefinisikan ilmu Kedokteran Forensik sebagai penggunaan pengetahuan dan keterampilan di bidang kedokteran untuk kepentingan hukum dan peradilan.1

2.2 Standar Kompetensi Dokter dalam Bidang Kedokteran Forensik 2.2.1 Pengertian Standar Kompetensi Dokter

Menurut SK Mendiknas No. 045/U/2002 kompetensi adalah “seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu”.

Elemen-elemen kompetensi terdiri dari : a. Landasan kepribadian

b. Penguasaan ilmu dan keterampilan c. Kemampuan berkarya

d. Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai

e. Pemahaman kaidah berkehidupan masyarakat sesuai dengan keahlian dalam berkarya.

Epstein and Hundert (2002) memberikan definisi sebagai berikut: “Professional

competence” is the habitual and judicious use of communication, knowledge, technical skill sclinical reasoning, emotions, values and relection in daily practice to improve the helath of the individual patient and community”

Carraccio, etal (2002) menyimpulkan bahwa: “competency is a complex set of behaviorsbehaviours built on the components of knowledge, skills, attitude and competence as personal ability”

Dari beberapa pengertian di atas, tampak bahwa pengertian kompetensi dokter lebih luas dari tujuan instruksional yang dibagi menjadi tiga ranah pendidikan, yaitu pengetahuan, psikomotor, dan afektif.Dengan dikuasainya standar kompetensi oleh seorang profesi dokter, maka yang bersangkutan akan mampu:

 Mengerjakan tugas atau pekerjaan profesinya

(5)

 Segera tanggap dan tahu apa yang harus dilakukan bilamana terjadi sesuatu yang berbeda dengan rencana semula

 Menggunakan kemampuan yang dimilki untuk memecahkan masalah dibidang profesinya

 Melaksanakan tugas dnegan kondisi berbeda

Dengan telah ditetapkannya keluaran dari program dokter di indonesia berupa standar kompetensi, maka kurikulum program studi pendidikan dokter perlu di sesuaikan. Model kurikulum yang sesuai adalah kurikulum berbasis kompetensi. Artinya pengembangan kurikulum berangkat dari kompetensi yang harus di capai mahasiswa.

2.2.2 Penjabaran kompetensi dokter di bidang kedokteran forensik 2.2.2.1Area komunikasi efektif

Kompetensi inti :Seorang dokter di tuntut mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal dan non verbal dengan pasien (korban hidup) pada semua usia, anggota keluarga (pada korban meninggal), masyarakat, kolega dan profesi lain.

Komunikasi antara dokter dan korban/ pasien atau dengan keluarganya harus dilakukan seefektif mungkin oleh dokter agar pasien atau keluarga pasien bersedia dilakukan pemeriksaan walaupun secara hukum untuk pemeriksaan forensik dokter tidak perlu izin keluarga melainkan kewajiban penyidik untuk memberitahu korban atau keluarga korban (meninggal). Hal ini sesuai pasal 134 KUHAP.

Pasal 134 KUHAP

(1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahu terlebih dahulu kepada keluarga korban.

(2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menjelaskan dengan jelasnya tentang maksud dan tujuan dilakukan pembedahan tersebut. (3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tangapan apapun dari keluarga

atau pihak yang perlu diberi tahu tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat(3) undang-undang.

(6)

Ditinjau dari area komunikasi efektif dibidang kedokteran forensik, seorang lulusan dokter harus mampu:

1. Berkomunikasi efektif dengan korban atau dengan keluarga korban

 Berkomunikasi dengan korban serta anggota keluarganya, dengan cara memberi penjelasan apa tujuan dilakukan pemeriksaan, cara dan prosedur pemeriksaan, kemungkinan timbulnya rasa tidak nyaman saat dokter melakukan pemeriksaan dan informasi lainnya sesuai etika klinis.

 Bersambung rasa dengan korban dan keluarganya, seorang dokter saat melakukan pemeriksaan forensik harus menunjukan rasa simpati dengan kejadian yang menimpa korban, menunjukkan rasa empati dan dapat dipercaya.

 Memberikan situasi yang nyaman bagi korban dnegan menjaga privasi pasien.

 Aktif dan mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberi waktu yang cukup pada pasien untuk menyampaikan keluhannya dan menggali permasalahan pasien serta kronologis kejadian. 2. Berkomunikasi dengan sejawat

 Memberi informasi yang tepat kepada sejawat tentang kondisi pasien baik secara lisan, tertulis atau elektronik pada saat yang diperlukan demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran.  Menulis surat rujukan dan laporan penanganan pasien dengan

benar, demi kepntingan pasien maupun ilmu kedokteran. Seorang dokter umum harus merujuk korban apabila apa yang dimintakan penyidik bukan kompetensi dokter umum. Misalnya, identifikasi tulang, identifikasi gigi (odontologi), pemeriksaan DNA dan lain-lain.

 Melakukan presentasi laporan kasus secara efektif dan jelas, demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran.

3. Berkomunikasi dengan masyarakat

 Menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat, menggali masalah kronologis kejadian menurut persepsi masyarakat.

(7)

 Menggunakan teknik komunikasi langsung yang efektif agar masyarakat memahami bahwa pemeriksaan forensik demi penegakan keadilan sebagai hak asasi manusia.

 Melibatkan tokoh masyarakat dalam mempromosikan kesehatan secara profesional.

4. Berkomunikasi dengan profesi lain

 Mendengarkan dengan penuh perhatian, dan memberi waktu cukup kepada profesi lain untuk menyampaikan pendapatnya. Memberi informasi yang tepat waktu dan sesuai kondisi yang sebenarnya ke perusahaan jasa asuransi kesehatan untuk pemprosesan klaim demi kepentingan hukum

 Memberikan informasi yang relevan kepada penegak hukum atau sebagai saksi ahli di pengadilan(jika diperlukan), termasuk pembuatan visut et repertum atas permintaan penyidik, pemeriksaan korban mati mendadak, tanda-tanda kematian dan lain sebagainya.

 Melakukan negosiasi dengan pihak terkait dalam rangka pemecahan masalah yang harus dipecahkan secara hukum.

2.2.2.2Area keterampilan klinis a. Kompetensi inti

Seorang dokter umum harus mampu melakukan prosedur pemeriksaan forensik klinis sesuai masalah, kebutuhan korban dan sesuai kewenangannya. Kaitannya dengan kedokteran forensik adalah seorang dokter umum harus mampu:

 Memeriksa dan membuat visum et repertum korban luka karena kecelakaan lalu lintas

 Memeriksa dan membuat visum et repertum luka karena penganiayaan

 Memeriksa dan membuat visum et repertum kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

 Melakukan pemeriksaan luar korban meninggal. Pemeriksaan luar meliputi pemeriksaan label, benda di samping mayat, pakaian, ciri identitas fisik, ciri tanatologis, perlukaan dan patah tulang

(8)

 Dokter berperan dalam memberikan keterangan ahli, sebagai saksi ahli pemeriksa, menjelskan visum et repertum, menjelaskan kaitan temuan ver dengan temuan ilmiah alat bukti sah lainnya. Dokter juga berperan menjelaskan segala sesuatu yang belum jelas dari sisi ilmiah. (pasal 224 KUHP) .

Hukum dengan tegas memberikan wewenang “utama” pemeriksaan forensik kepada dokter forensik. Namun, karena ketidaktersediaan dokter forensik hukum memberi peluang kepada dokter (umum dan spesialis apa saja) sebagai pemeriksa, hal ini merujuk pada pasal 133 KUHAP.

Kurikulum pendidikan dan forensik klinik, maka dokter umum berwenang melakukan pemeriksaan forensik.

b. Keterampilan dokter dibidang forensik

Menurut standar kompetensi dokter keterampilan adalah kegiatan mental dan atau fisik yang terorganisasi serta memiliki bagian-bagian kegiatan yang saling bergantung dari awal hingga akhir. Dalam melaksanakan praktik dokter di bidang forensik, lulusan dokter perlu menguasai keterampilan klinis yang akan digunakan dalam mendiagnosis, menjawab permintaan visum et repertum maupun menjelaskan suatu perkara hukum menurut keahliannya dibidang kedokteran. Keterampilan ini perlu dilatihkan sejak awal pendidikan dokter secara berkesinambungan hingga akhir pendidikan dokter.

Berikut ini pembagian tingkat kemampuan menurut piramid miler:  Tingkat kemampuan 1

Mengetahui dan menjelaskan

Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini, sehingga dapat menjelaskan kepada teman sejawat, pasien maupun klien tentang konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya. Contoh keterampilan ini adalah pemeriksaan DNA untuk identifikasi.

 Tingkat kemampuan 2

Pernah melihat atau pernah di demonstrasikan

Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi dan

(9)

sebagainya). Selain itu, selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini. Contohnya autopsi, exhumasi, identifikasi tulang dan gigi.

 Tingkat kemampuan 3

Pernah melakukan atau pernah mnerapkan di bawah supervisi .

Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini, dan pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi. Contohnya: pemeriksaan luar jenazah, termasuk label mayat, sebab-sebab kematian, tanatologi, menetuka lama kematian dan lain sebagainya.

 Tingkat kemampuan 4

Mampu melakukan secara mandiri

Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini, dan pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali dibawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan ini dalam konteks praktik dokter secara mandiri. Contohnya, dokter harus mampu memeriksa korban hidup dan membuat visum et repertum korban kecelakaan lalu lintas penganiayaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain sebagainya.

2.2.2.3Area landasan ilmiah ilmu kedokteran a. Kompetensi inti

Dokter umum harus mampu mengidentifikasi, menjelaskan dan merancang penyelesaian masalah kesehatan dan hukum secara ilmiah menurut ilmu kedokteran kesehatan mutakhir untuk mendapat hasil yang optimum dan dalam upaya maksimal menghadirkan keadilan seobyektif mungkin.

b. Kemampuan lulusan dokter

1. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomed, klinik, perilaku, dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengaan pelyanan kesehatan tingkat primer. Prinsip-prinsip ilmu kedokteran dasar yang

(10)

berhubungan dengan terjadinya maslaah hukum sesuai pandangan ilmu kesehatan, beserta patogenesis dan patofisiologinya.

2. Menjelaskan kaitan masalah hukum dan temuan pemeriksaan forensik baik secara molecular maupun selular melalui pemahaman mekanisme normal dalam tubuh

3. Menjelaskan faktor-faktor non biologis yang berpengaruh terhadap masalah hukum dan kesehatan

4. Menjelaskan berbagai pilihan yang mungkin dilakukan dalam jenis pemeriksaan forensik .

5. Menjelaskan secara rasional dan ilmiah dalam menentukan kaitan temuan pemeriksaan forensik dengan kasus yang diusut penyidik baik peran dokter sebagai ahli atau melakukan pemeriksaan dan memberi keterangan tertulis.

2.2.2.4Area pengelolaan masalah kedokteran dan hukum a. Kompetensi inti :

Dokter harus mampu mengelola maslah-masalah yang sering ditemukan dalam ilmu kedokteran forensik secara komprehensif, holistik, berkesinambungan, koordinatif dan kolaboratif dalam konteks memberikan pelayanan bantuan hukum terbaik kepada masyarakat.

Dilihat dari segi pengelolaan masalah kedokteran dan hukum maka lulusan dokter diharapkan mampu:

1. Menginterpretasi data klinis dan temuan hasil pemeriksaan forensik untuk merumuskan menjadi bukti sah penegakan hukum

2. Menjalaskan penyebab, patogenesis, patofisiologi dan perubahan-perubahan klinis yang didapatkan dari korban suatu pelanggaran hukum 3. Mengidentifikasi berbagai pilihan pengelolaan korban sesuai kondisi

korban atau penanganan lanjutan terhadap korban

4. Melakukan konsultasi mengenai korban bila diperlukan, contohnya pada pemeriksaan korban pemerkosaan bisa meminta konsultasi dokter ahli kandungan

5. Merujuk ke sejawat lain sesuai dengan standar pelayanan medis yang berlaku, tanpa atau sesudah pemeriksaan

(11)

6. Mengidentifikasi keluarga, lingkungan sosial sebagai faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit serta sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap perubahan kondisi korban

7. Menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran hukum dan memotivasi masyarakat agar tidak keberatan dilakukan pemeriksaan forensik pada diri maupun keluarganya demi penegakan hukum dan keadilan

8. Mengenali keterkaitan yang kompleks antara faktor psikologis, kultur, sosial, ekonomi, kebijakan dan faktor lingkungan yang berpengaruh pada suatu masalah kesehatan yang melibatkan korban dalam masalah hukum 9. Mengelola sumber daya manusia dan sarana prasarana secara efektif dan

efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran forensik

10. Menjalankan fungsi managerial (berperan sebagai pemimpin, pemberi informasi dan pengambil keputusan)dalam upaya memberikan pelayanan terbaik dalam masalah hukum.

2.2.2.5Area pengelolaan informasi

Kompetensi inti : Dokter harus mampu mengakses, mengelola, menilai secara kritis kesahihan dan kemamputerapan informasi untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan di bidang kedokteran forensik ditingkat primer.

Berdasarkan tinjauan pengelolaan informasi maka lulusan dokter harus mampu:

1. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis, sebab perubahan kondisi tubuh korban, sebab-sebab kematian, tindakan pencegahan dan promosi hukum kesehatan serta penjagaan dan pemantauan status korban

2. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (internet)

3. Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menilai relevansi dan validitas data-data forensik dengan masalah hukum

4. Menerapkan metode riset dan statistik untuk menilai kesahlihan informasi ilmiah

5. Menerapkan keterampilan dasar pengelolaan informasi untuk menghimpun data relevan menjadi arsip pribadi

(12)

6. Menerapkan keterampilan dasar dalam menilai data untuk melakukan validasi informasi ilmiah secara sistematik

7. Meningkatkan kemampuan secara terus menerus dalam merangkum dan menyimpan arsip

8. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi

9. Menerapkan prinsip teori tekonologi informasi dan komunikasi untuk membantu penggunaannya, dengan memperhatikan secara khusus potensi untuk berkembang dan keterbatasannya

10. Memanfaatkan informasi kesehatan dan menemukan database dalam praktik kedokteran secara efisien

11. Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktik kedokteran dan perannanya dalam penegakan hukum dengan menganalisis arsipnya dan rekam medis untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di bidang kedokteran forensik.

2.2.2.6Area mawas diri dan pengembangan diri

Kompetensi inti : Dokter harus melakukan praktik kedokteran dengan penuh kesadaran atas kemampuan dan keterbatasannya, mengatasi masalah emosional, personal, kesehatan, dan kesejahteraan yang dapat mempengaruhi kemampuan profesinya. Dokter harus belajar sepanjang hayat dan mampu merencanakan, menerapkan dan memantau perkembangan profesi secara berkesinambungan.

Berdasarkan kompetensi area mawas diri dan pengembangan diri, maka lulusan dokter harus mampu :

1. Menerapkan prinsip mawas diri, menilai kemampuan dan keterbatasan diri berkaitan dengan praktik kedokterannya dan berkonsultasi bila diperlukan. 2. Mengenali dan mengatasi masalah emosional, personal dan masalah yang

berkaitan dengan kesehatannya yang dapat mempengaruhi kemampuan profesinya

3. Menyesuaikan diri dengan tekanan yang di alami selama pendidikan dan praktik kedokteran

4. Menyadari peran hubungan interpersonal dalam lingkungan profesi dan pribadi

(13)

5. Mendengarkan secara akurat dan bereaksi sewajarnya atas kritik yang membangun dari pasien/ korban, keluarga korban, sejawat, instruktur dan masyarakat

6. Mengenali nilai dan keyakinan diri yang sesuai dengan praktik kedokteran 7. Mempraktikan belajar sepanjang hayat

8. Mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan yang baru

9. Berperan aktif dalam program pendidikan dan pelatihan kedokteran berkelanjutan (PPPKB) dan pengalaman belajar lainnya

10. Menunjukkan sikap kritis terhadap praktik kedoktern berbasis bukti (evidence-based medicine)

11. Mengambil keputusan apakah akan memanfaatkan informasi atau evidence untuk penanganan korban dan justifikasi alasan keputusan yang di ambil secara literatur kedokteran

12. Menyadari kinerja professionalitas diri dan mengidentifikasi kebutuhan belajarnya

13. Mengidentifikasi kesenjangan daari ilmu pengetahuan yang sudah ada dan mengembangri ilmu pengetahuan yang sudah ada dan mengembangkannya menjadi pertanyaan penelitian yang tepat

14. Merancang, mengimplementasikan penelitian untuk menemukan jawaban dari pertanyaan penelitian

15. Menuliskan hasil penelitian sesuai dengan kaidah artikel ilmiah 16. Membuat presentasi ilmiah dari hasil penelitiannya

2.2.2.7Area etika, moral, medikolegal, dan profesionalisme serta keselamatan pasien

Kompetensi inti : Di dalam praktik kedokteran seorang dokter mempunyai kewajiban anatar lain:

 Berperilaku profesional dan mendukung kebijakan kesehatan

 Bermoral dan beretika serta memahami isu-isu etik maupun aspek medikolegal dalam praktik kedokteran

 Menerapkan program keselamatan pasien/korban

ditinjau dan segi etika, moral, medikolegal dan professionalisme serta keselamatan pasien/korban seorang lulusan dokter diharapkan mampu: 1. Memiliki sikap profesional

 Menunjukan sikap yang sesuai dengan kode etik dokter indonesia  Menjaga kerahasiaan dan kepercayaan pasien

(14)

 Menunjukkan kepercayaan dan saling menghormati dalam hubungan dokter pasien

 Menunjukkan rasa empati dengan pendekatan yang menyeluruh  Mempertimbangan masalah pembiayaan dan hambatan lain dalam

memberikan pelayanan kesehatan serta dampaknya

 Mempertimbangan aspek etis dalam penanganan pasien sesuai standar profesi

 Mengenal alternatif dalam menghadapi pilihan etik yang sulit  Menganalisis secara sistematis dan mempertahankan pilihan etik

dalam pemeriksaan/ pengobatan setiap individu pasien/ korban. 2. Berperilaku profesional dalam bekerja sama

 Menghormati setiap orang tanpa membedakan status sosial

 Menunjukkan pengakauan bahwa tiap individu mempunyai kontribusi dan peran yang berharga, tanpa memandang status sosial  Berperan serta dalam kegiatan yang memerlukan kerja sama

dengan para petugas kesehatan lainnya

 Mengenali dan berusaha menjadi penegah ketika menjadi konflik  Memberikan tanggapan secara konstruktif terhadap masukan dari

orang lain

 Mempertimbangkan aspek etis dan moral dalam hubungan dengan petugas kesehatan lain, serta bertindak secara profesional

 Mengenali dan bertindak sewajarnya saat kolega melakukan suatu tindakan yang tidak profesional

3. Berperan sebagai anggota tim pelayanan kesehatan yang profesional dalam masalah pasien dan menerapkan nilai-nilai profesionalisme

4. Bekerja dalam berbagai tim pelayanan kesehatan secara efektif  Menghargai peran dan pendapat berbagai profesi kesehatan

 Berperan sebagai manager baik dalam praktik pribadi maupun dalam sistem pelayanan kesehatan

 Menyadari profesi medis yang mempunyai peran di masyarakat dan dapat melakukan suatu perubahan

 Mampu mengatasi perilaku yang tidak profesional dari anggota tim pelayanan kesehatan lain

 Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di indonesia

(15)

 Menghargai perbedaan karakter individu, gaya hidup dan budaya dari pasien dan sejawat

 Memahami heterogenitas persepsi yang berkaitan dengan usia, gender, orientasi seksual , etnis, kecacatan dan status sosial ekonomi.

5. Aspek medikolegal dalam praktik kedokteran forensik

Dokter diwajibkan memahami dan menerima tanggung jawab hukum berkaitan dengan :

 Hak asasi manusia

 Penyalahgunaan tindakan fisik dan seksual  Kode etik kedokteran indonesia

 Pembuatan surat keterangan sehat, sakit, visum et repertum atau surat kematian.

 Proses di pengadilan, dokter berperan memberikan keterangan ahli, sebagai saksi ahli pemeriksa, menjelaskan visum et repertum, menjelaskan kaitan temuan VeR dengan temuan ilmiah alat bukti sah lainnya. Dokter juga berperan menjelaskan segala sesuatu yang belum jelas dari sisi ilmiah

 Memahami UU RI No 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran  Memahami peran konsil kedokteran indonesia sebagai badan yang

mengatur praktik kedokteran

 Menentukan, menyatakan dan menganalisis segi etika dalam kebijakan kesehatan .

2.2.3 Kompetensi dokter spesialis forensik

Sebagai tambahan, seorang dokter umum juga perlu mengetahui kompetensi dokter spesialis forensik. Hal ini dimaksudkan agar sistem rujukan dalam bidang forensik berjalan sesuai standar profesi.

Menurut buku panduan pelaksanaan program P2KB untuk dokter spesialis forensik, seorang dokter spesialis forensik setelah menyelesaikan pendidikan diharapkan memiliki kompetensi sebagai berikut :

Kompetensi I : menerapkan etika profesi dokter spesialis forensik dan mematuhi prosedur medikolegal dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai dokter spesilais forensik.

(16)

Kompetensi II : menegakkan diagnosis kedokteran forensik dan medikolegal pada korban hidup maupun mati, menatalaksana kasus sesuai dengan aspek sosio-yuridis dan medikolegal, serta mengkomunikasikan ekspertise yang dihasilkan kepada pihak yang berwenang, termasuk membuat sertifikasi forensik seusai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Kompetensi III : merancang, mengelola, dan mengawasi kegiatan unit kedokteran forensik dan perawatan jenazah di sebuah institusi pelayanan kesehatan

Kompetensi IV : berperan aktif dalam tim kerja penanganan kasus forensik dan dalam tim etikomedikolegal RS

Kompetensi V : berperan sebagai pengajar dan pembimbing dalam bidang forensik, etik dan medikolegal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku

Kompetensi VI : berperan aktif dalam mengembangkan ilmu kedokteran khususnya dalam bidang forensik, etika dan medikolegal melalui penulisan karya ilmiah yang dipresentasikan atau dipublikasikan dari hasil penelitian

Ditinjau dari standar profesi, seorang dokter spesialis forensik mempunyai kompetensi yaitu sebagai berikut:

Mampu melakukan pemeriksaan jenazah atau bagian dari jenazah dan

menginterpretasikannya untuk kepentingan identifikasi

Mampu melakukan penggalian kuburan tunggal dan melakukan

pemeriksaan jenazah di dalamnya untuk kepentingan peradilan

Mampu melakukan pemeriksaan kasus medikolegal

Mampu melakukan pemeriksaan korban jenazah ditempat kejadian perkara

dan membuat laporannya

Mampu melakukan penilaian tentang perkiraan saat kematian berdasarkan

tanda tanatologis pada jenazah

Mampu melakukan penggalian kuburan korban pelanggaran HAM Mampu melakukan pengawetan jenazah

Mampu melakukan pemeriksaan laboratorium forensik rutin dan trace

evidances

Mampu melakukan pemeriksaan jenazah korban kekerasan secara lengkap

(17)

Mampu melakukan pemeriksaan jenazah mati mendadak secara lengkap

serta menyimpulkan penyebab kematiannya

Mampu melakukan pemeriksaan korban hidup yang mengalami kekerasan

fisik dan kekerasan seksual

Mampu melakukan pemeriksaan laboratorium forensik untuk

membuktikan adanya persetubuhan dan atau kekerasan.

Mampu membuat laporan hasil pemeriksaan jenazah dan korban hidup

dalam bentuk visum et repertum jenazah.

Mampu melakukan pemeriksaan terhadap tersangka pelaku kejahatan

dalam rangka penentuan kelayakannya untuk diperiksa atau ditahan.3 2.3 Pelayanan Kedokteran Forensik di Puskesmas

Upaya pelayanan kedokteran forensik dan medikolegal di Puskesmas ditujukan memberikan pelayanan kedokteran forensik dan medikolegal yang bersifat dasar, seperti pelayanan pemeriksaan mayat, pemeriksaan korban kekerasan fisik dan seksual, tata laksana barang bukti dan pelayanan laboratorium forensik sederhana. Puskesmas juga diharapkan dapat memberikan pembinaan kepada masyarakat dan melaksanakan sistem rujukan sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku. Karena distribusi spesialis kedokteran forensik dan dokter umum terlatih belum merata di seluruh Indonesia, dimungkinkan pelayanan kedokteran forensik extra-mural (keliling) ke tempat kejadian perkara yang memerlukannya.

2.3.1 Pelayanan Pemeriksaan Jenazah

Pemeriksaan jenazah harus dilakukan pada suatu tempat yang penerangannya baik. Sebelum dokter melakukan pemeriksaan, ia sebaiknya melakukan allo-anamnesis terhadap keluarga korban, khususnya untuk mencari data mengenai riwayat kematian, adanya gejala yang dikeluhkan atau diketahui diderita almarhum menjelang kematiannya, adanya penyakit yang diderita baik yang baru maupun yang lama serta adanya riwayat pengobatan atau minum obat sebelumnya. Dengan pengetahuan dan pengalaman klinisnya, berdasarkan keterangan tersebut diatas, dokter dapat meyakini kemungkinan adanya penyakit tertentu sebagai penyebab kematian orang tersebut.Kesimpulan dokter ini

(18)

merupakan titik awal untuk pencarian penyebab kematian yang lebih pasti berdasarkan hasil-hasil temuan pada pemeriksaan jenazah.

Pada setiap kasus kematian, dokter harus melakukan pemeriksaan luar jenazah secara seksama, lengkap dan teliti. Jika pada pemeriksaan tersebut dokter tidak menemukan adanya luka atau tanda kekerasan lainnya, tidak menemukan tanda-tanda keracunan dan anamnesisnya mengarah pada kematian akibat penyakit, maka dokter dapat langsung memberikan surat kematian (Formulir A) dan jenazahnya kepada keluarga korban. Dalam Formulir A, dokter Puskesmas harus mencantumkan nomor penyakit yang diduganya merupakan penyebab kematian, sesuai dengan klasifikasi penyakit dalam International Classification of Diseases (ICD) sebagaimana tercantum pada bagian belakang Formulir A tersebut. Formulir A diperlukan oleh keluarga korban untuk berbagai keperluan administrasi kependudukan, seperti untuk administrasi dalam rangka penyimpanan jenazah, pengangkutan jenazah keluar kota/negeri serta pembuatan Akte Kematian (yang diperlukan untuk pengurusan pembagian warisan, asuransi, izin kawin lagi dsb).

Jika oleh suatu alasan tertentu, keluarga ingin menyimpan jenazah lebih dari 24 jam sebelum dikubur atau dikremasi, maka demi keamanan lingkungan terhadap jenazah selayaknya dilakukan pengawetan. Pada kasus kematian wajar akibat penyakit, pengawetan jenazah dapat langsung dilakukan setelah pemeriksaan luar jenazah selesai dilakukan. Pengawetan jenazah pada kasus ini terutama dilakukan untuk mencegah atau menghambat proses pembusukan, membunuh kuman serta mempertahankan bentuk mayat seperti pada keadaan awalnya.

Pemeriksaan luar jenazah dilakukan secara teliti dan seksama dengan mengikuti format laporan obduksi. Adapun data-data yang perlu dicari dan dicatat dalam laporan obduksi adalah data-data berikut ini:

1. Dokter pemeriksa, nama serta alamat instansinya 2. Tanggal dan jam pemeriksaan

3. Penulis laporan obduksi

4. Identitas jenazah: data ditulis sesuai dengan data pada kartu identitas atau SPV

5. Label: disini dicatat ada tidaknya label, bahan label, ada tidaknya informasi pada label.

(19)

6. Tutup/bungkus mayat: disini dicatat kain atau selimut yang digunakan untuk membungkus atau menutupi mayat, yaitu data mengenai jenis bahan, warna, motif bahan serta keterangan lainnya (lusuh, berlumur lumpur/darah dsb)

7. Perhiasan: disini dicatat mengenai jenis perhiasan, bahan, warna serta keterangan lain mengenai perhiasan yang dikenakan

8. Pakaian: disini dicatat pakaian yang dikenakan, dideskripsikan mulai dari atas ke bawah, dari luar ke dalam, yaitu data mengenai jenis pakaian (baju kemeja lengan panjang, kaos oblong, dan sebagainya), bahan (kaos, katun, dan sebagainya), warna, merek serta nomor dan keterangan lainnya

9. Benda disamping mayat: disini dicatat benda-benda yang ditemukan di samping mayat.

10. Tanatologi: disini dicatat mengenai perubahan-perubahan setelah kematian yang meliputi data (1) lebam mayat (lokasinya, warnanya dan apakah hilang atau tidak dengan penekanan), (2) kaku mayat (lokasinya, mudah atau tidak dilawan) serta (3) perubahan kematian lanjut (jika ada), yaitu tanda tanda pembusukan, adiposera atau mumifikasi (lokasi dan deskripsinya).

11. Identitas: disini dicatat mengenai jenis kelamin, ras (apakah orang Indonesia, negro, kulit putih dsb), warna kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan serta kondisi zakar (untuk pria) apakah disunat atau tidak. 12. Identitas khusus: disini dicatat identifikasi khusus, yaitu adanya jaringan

parut (bekas luka atau operasi), tattoo, tahi lalat, tompel, tanda lahir, pincang, serta ciri khusus lain. Deskripsi dilakukan sedetil mungkin, meliputi lokasi, gambaran tanda identifikasi tersebut serta ukurannya. 13. Bulu-bulu: disini dicatat mengenai rambut, alis mata, bulu mata, kumis,

serta jenggot, yang meliputi deskripsi warna, tumbuhnya (lebat/jarang, lurus/ikal/ keriting) serta panjangnya.

14. Mata: disini dicatat kondisi kedua mata meliputi data tentang selaput bening (kornea) apakah masih jernih atau sudah keruh, teleng mata (pupil) bagaimana bentuknya serta berapa diameternya, warna tirai mata (iris), selaput bola mata (sklera atau konjungtiva bulbi) apakah warnanya pucat, kuning atau kemerahan serta ada tidaknya bintik atau bercak perdarahan, selaput kelopak mata (conjungtiva palpebra) apakah warnanya pucat,

(20)

kuning atau kemerahan dan apakah menunjukkan adanya bintik atau bercak perdarahan.

15. Hidung (dicatat bentuknya, apakah biasa, pesek atau mancung), telinga (dicatat bentuknya apakah biasa, atau ada ciri khusus tertentu) dan lidah (dicatat apakah lidah terjulur atau tergigit).

16. Gigi geligi: disini dicatat gigi geligi pada rahang atas kiri, atas kanan, bawah kiri dan bawah kanan, yaitu data mengenai jumlah gigi, keutuhannya, ada tidaknya bolong/caries, adanya kelainan bentuk, kawat, tambalan dan sebagainya.

17. Lubang-lubang: disini dicatat mengenai apa yang keluar dari lubang-lubang tubuh (mulut, hidung, telinga, kemaluan dan anus), yaitu bentuknya (cairan, muntahan , darah dan sebagainya), warna serta baunya. Khusus untuk mulut dan hidung penilaian dilakukan setelah pemeriksa menekan dinding dada dan melihat adanya benda yang keluar dari lubang mulut dan hidung serta membaui hawa yang keluar dengan cara mengibaskan udara mulut/hidung kearah pemeriksa.

18. Luka luka: disini dicatat luka-luka pada tubuh korban sedetil dan selengkap mungkin sebagai berikut:

a. Luka lecet geser: dicatat lokasi, koordinat, arah serta ukurannya Misal: Pada dada kiri, 3 cm dari garis pertengahan depan (GPD), 10 cm dibawah bahu terdapat luka lecet geser, arah dari kiri ke kanan, ukuran 3 cm x 2 cm.

b. Luka lecet gores: dicatat lokasi, koordinat, arah serta panjangnya. Misal: Pada lengan atas kanan bagian depan, 10 cm dibawah bahu, terdapatluka lecet gores, arah dari atas ke bawah, sepanjang 10 cm. c. Luka lecet tekan: dicatat lokasi, koordinat, bentuk, serta ukurannya.

Misal: Pada perut kanan atas, 2 cm dari GPD, 4 cm diatas pusat terdapat luka lecet tekan, bentuk bulat, diameter 3 cm.

d. Memar: dicatat lokasi, koordinat, warna serta ukurannya.

Misal: Pada punggung kanan, 3 cm dari GPB, 10 cm dibawah puncak bahu terdapat memar, kebiruan dengan ukuran 4 cm x 10 cm.

e. Luka terbuka: dicatat lokasi, koordinat (sumbu X dan Y serta jarak dari tumit), tepi luka (rata/tak rata), sudut luka (tajam/tumpul), dinding luka (kotor/bersih), dasar (jaringan bawah kulit, otot, tulang), adanya jembatan jaringan, sekitar luka (adanya luka lecet/memar serta

(21)

ukurannya), ukuran luka dalam keadaan aslinya dan ukuran setelah luka dirapatkan. Misal: Pada dada kiri, 3 cm GPD, 10 cm dibawah puncak bahu, 140 cm diatas tumit, terdapat luka terbuka, tepi rata, sudut kanan atas tajam sudut kiri bawah tumpul, dinding luka bersih, dasar otot yang robek, tak ada jembatan jaringan, sekitar luka bersih, ukuran 4 cm x 1 cm, bila dirapatkan berupa garis yang berjalan dari kanan atas ke kiri bawah membentuk sudut 45 derajat dengan gais horizontal sepanjang 4,5 cm.

f. Luka tembak: dicatat lokasi, koordinat (sumbu X, Y serta jarak dari tumit), bentuk luka (lubang, bintang atau luka terbuka), ukurannya, adanya lecet di sekitar lubang luka (kelim lecet) serta ukuran lebar lecetnya, adanya jelaga di sekitar luka (kelim jelaga) serta ukurannya, adanya bintik-bintik hitam di sekitar luka (kelim tattoo) serta ukurannya, adanya cekungan di sekitar lubang luka (jejas laras) dan ukurannya.

Misal: Pada dada kiri, 5 cm dari GPD, 15 cm dibawah bahu, 135 cm diatas tumit terdapat luka berbentuk lubang bulat berdiameter 6 mm, disekitar lubang terdapat lecet melingkar, pada sisi kiri, kanan dan atas masing-masing selebar 1 mm dan pada sisi bawah lebar 2 mm, di sekitar luka terdapat kotoran jelaga pada daerah seluas 4 cm x 5 cm dan adanya bintik-bintik hitam pada daerah seluas 2 cm x 3 cm.

g. Jejas jerat atau gantung pada leher: dicatat bentuk luka, lokasi ketinggian luka pada GPD, sisi kanan dan kiri, lokasi hilangnya jejas serta lokasi (perkiraan lokasi) simpul serta lebar luka pada lokasi-lokasi tersebut.

Misal: Pada leher terdapat luka lecet tekan melingkari leher, berupa daerah yang mencekung, berwarna kecoklatan, pada perabaan keras seperti kertas perkamen, dengan beberapa gelembung berisi air pada tepi luka di sekitar GPD, pada GPD setinggi jakun dengan lebar 4 mm, pada sisi kanan 7 cm dibawah lubang telinga selebar 4 mm, pada sisi kiri 8 cm dibawah lubang telinga selebar 4 mm, pada bagian belakang luka menghilang pada 4 cm di kanan dan kiri GPB, 4 cm

(22)

dibawah batas rambut belakang, jejas simpul tidak ditemukan tetapi diperkirakan letaknya tepat GPB 2 cm diatas batas rambut belakang. h. Luka bakar: dicatat lokasi, koordinat, deskripsi luka serta luasnya

(mengikuti rule of nine)

Misal: Pada punggung kanan mulai dari puncak bahu dan GPB terdapat luka berupa daerah kulit ari yang mengelupas dengan dasar berwarna kemerahan, pada bagian tepi terdapat gelembung-gelembung berisi cairan jernih, meliputi daerah seluas 9 %.

Patah tulang: disini dicatat mengenai tulang yang patah, yaitu nama tulangnya, lokasi patahan, jenis patah (terbuka, tertutup).

19. Lain-lain: disini dicatat keterangan tambahan yang ditemukan dan tidak dapat dimasukkan ke dalam kelompok data-data diatas, seperti adanya luka-luka lama, badan yang basah, kulit yang keriput, luka bekas suntikan, golongan darah, hasil pemeriksaan urin dan sebagainya.

Jika pada pemeriksaan luar dokter menemukan adanya luka, adanya bau yang mencurigakan dari mulut atau hidung, adanya tanda bekas suntikan tanpa riwayat berobat ke dokter, serta adanya tanda keracunan lainnya, maka kasusnya kemungkinan merupakan kematian yang tidak wajar. Kematian yang tidak wajar dapat terjadi pada kematian akibat kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan. Pada kasus-kasus ini dokter sebaiknya hanya berpegang pada hasil pemeriksaan fisik dan analisisnya sendiri dan bisa mengabaikan anamnesis yang bertentangan dengan kesimpulannya. Biasanya pada kasus kematian tidak wajar, ada kecenderungan keluarga korban untuk membohongi dokter dengan mengatakan korban meninggal akibat sakit, karena malu (misalnya pada kasus bunuh diri, narkoba) atau karena mereka sendiri pelakunya (pada kasus penganiayaan anak, pembunuhan dalam keluarga) atau takut berurusan dengan polisi (pada kasus kecelakaan karena ceroboh).

Dokter Puskesmas yang menemukan kasus dengan dugaan kematian yang tidak wajar, berdasarkan Pasal 108 KUHAP, sebagai pegawai negeri (dokter PTT dianggap sebagai pegawai negeri) wajib melaporkan kasus tersebut ke polisi resort (polres) setempat. Pada kasus ini dokter Puskesmas tidak boleh memberikan surat Formulir A kepada keluarga korban dan mayat tersebut harus

(23)

ditahan sampai proses polisi selesai dilaksanakan. Dokter Puskesmas sebaiknya tidak memberikan pernyataan mengenai penyebab kematian korban ini sebelum dilakukan pemeriksaan otopsi terhadap jenazah.

Berdasarkan adanya laporan tersebut, penyidik berdasarkan pasal 133(1) KUHAP dapat meminta bantuan dokter untuk melakukan pemeriksaan luar jenazah (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan luar dan dalam jenazah (pemeriksaan bedah jenazah atau otopsi), dengan mengirimkan suatu Surat Permintaan Visum et Repertum (SPV) jenazah kepada dokter tertentu.

Setiap dokter yang diminta untuk melakukan pemeriksaan jenazah oleh penyidik wajib melakukan pemeriksaan sesuai dengan permintaan penyidik dalam SPV. Dokter yang secara sengaja tidak melakukan pemeriksaan jenazah yang diminta oleh penyidik, dapat dikenakan sanksi pidana penjara selama-lamanya 9 bulan (pada kasus pidana) dan 6 bulan (pada kasus lainnya) berdasarkan Pasal 224 KUHP. Dengan demikian, seorang dokter Puskesmas yang mendapatkan SPV dari penyidik untuk melakukan pemeriksaan jenazah wajib melaksanakan kewajibannya tersebut.

Segera setelah menerima SPV dari penyidik, dokter harus segera melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah tersebut. Jika pada SPV yang diminta adalah pemeriksaan bedah jenazah, maka dokter pada kesempatan pertama cuma perlu melakukan pemeriksaan luar jenazah saja. Selanjutnya dokter baru boleh melakukan pemeriksaan dalam (otopsi) setelah keluarga korban datang dan menyatakan kesediaannya untuk dilakukannya otopsi terhadap korban. Penyidik dalam hal ini berkewajiban untuk menghadirkan keluarga korban dalam 2 x 24 jam sejak mayat dibawa ke dokter Selewat tenggang waktu tersebut, jika keluarga tidak ditemukan, maka dokter dapat langsung melaksanakan otopsi tanpa “izin” dari keluarga korban.

Pemeriksaan luar jenazah dalam rangka SPV dari penyidik harus dilakukan secara seksama, selengkap dan seteliti mungkin, dan bila dianggap perlu dilengkapi dengan sketsa atau foto luka-luka yang ditemukan pada tubuh korban. Untuk mencegah kemungkinan adanya data yang terlewatkan, maka dokter yang melakukan pemeriksaan luar hendaknya berpedoman pada formulir

(24)

laporan obduksi. Jika pemeriksaan yang diminta oleh penyidik hanya pemeriksaan luar jenazah (pemeriksaan jenazah) saja, maka setelah pemeriksaan luar selesai dilakukan, mayat dan Formulir A dapat langsung diserahkan kepada keluarga korban. Pada Formulir A tersebut, dokter harus menyatakan bahwa penyebab kematian korban “ tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan bedah jenazah sesuai dengan permintaan penyidik”. Kesimpulannya harus demikian karena pada kematian yang tidak wajar berlaku ketentuan bahwa “penyebab kematian hanya dapat ditentukan berdasarkan pemeriksaan dalam (otopsi atau bedah jenazah)”.

Jika penyidik meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan luar dan dalam (pemeriksaan bedah jenazah atau otopsi), dan keluarga korban tidak menyetujuinya, maka dokter Puskesmas wajib menjelaskan tujuan otopsi kepada keluarga korban. Dokter pada kesempatan tersebut hendaknya memberikan beberapa keterangan sebagai berikut:

 Bahwa kewenangan meminta pemeriksaan dalam atau otopsi ada di tangan penyidik POLRI, berdasarkan Pasal 133(1) KUHAP. Dokter yang diminta melakukan pemeriksaan jenazah hanya melaksanakan kewajiban hukum, sehingga setiap keberatan dari pihak keluarga hendaknya disampaikan sendiri ke penyidik yang mengirim SPV. Keputusan boleh tidaknya dilakukan pemeriksaan luar saja pada kasus ini, ada di tangan penyidik. Jika penyidik mengabulkan permohonan keluarga korban, kepada keluarga korban akan dititipkan surat pencabutan visum et repertum, untuk diserahkan kepada dokter yang akan melakukan pemeriksaan jenazah. Dalam hal ini, dokter hanya perlu melakukan pemeriksaan luar jenazah saja.

 Jika penyidik tidak menyetujui keberatan keluarga korban, maka keluarga korban masih mempunyai dua pilihan, yaitu menyetujui otopsi atau membawa pulang jenazah secara paksa (disebut Pulang Paksa) dengan segala konsekuensinya. Jika keluarga menyetujui otopsi, maka mayat dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi.

 Jika keluarga memilih pulang paksa, maka mereka baru boleh membawa pulang jenazah setelah menandatangani Surat Pulang Paksa. Surat Pulang

(25)

Paksa merupakan surat yang menyatakan bahwa mayat dibawa pulang secara paksa oleh keluarga, sehingga tidak terlaksananya pemeriksaan jenazah merupakan tanggung jawab keluarga korban dan bukan tanggung jawab dokter. Berdasarkan surat ini, maka keluarga korban yang menandatangani surat tersebut dapat dikenakan sanksi pidana penjara selama-lamanya 9 bulan karena menghalang-halangi pemeriksaan jenazah, berdasarkan Pasal 222 KUHP. Bagi dokter surat ini penting, karena merupakan surat yang mengalihkan beban tanggung jawab atas tidak terlaksananya pemeriksaan jenazah dari dokter ke keluarga korban. Atas dasar itulah, maka surat ini harus disimpan baik-baik oleh dokter sebagai bukti pulang paksa, jika di kemudian hari penyidik menanyakan Visum et Repertum kasus ini ke dokter. Untuk amannya, pada kasus semacam ini dokter sebaiknya memberitahukan adanya pulang paksa ini ke penyidik yang mengirim SPV sesegera mungkin.

Dalam hal keluarga korban cenderung untuk memilih pulang paksa, maka dokter hendaknya menerangkan terlebih dahulu konsekuensi pulang paksa kepada keluarga korban, sebagai berikut :

Dokter tidak akan memberikan surat kematian (formulir A). Tanpa adanya

surat formulir A, maka keluarga korban akan mengalami kesulitan saat akan mengangkut jenazah keluar kota/negeri, menyimpan jenazah di rumah duka atau saat akan mengubur atau melakukan kremasi di tempat kremasi/kuburan umum.

Karena tidak diberikan Formulir A, maka keluarga korban tak dapat

mengurus Akte Kematian korban di kantor Catatan Sipil. Akte Kematian merupakan surat yang diperlukan untuk pengurusan berbagai masalah administrasi sipil, seperti pencoretan nama dari Kartu Keluarga, dasar pembagian warisan, pengurusan izin kawin lagi bagi pasangan yang ditinggalkan, pengajuan klaim asuransi dan sebagainya.

Dokter tak akan melayani permintaan keterangan medis dalam rangka

(26)

Dokter tidak akan membuat Visum et Repertum, sehingga kasus tersebut

tidak mungkin bisa dituntut di pengadilan. Di kemudian hari mayat dapat digali kembali jika penyidik menganggap perlu dan jika hal itu dilakukan, maka biaya penggalian menjadi tanggungan pihak keluarga korban.

Keluarga yang membawa pulang mayat secara paksa dapat dikenakan

sanksi pidana menghalang-halangi pemeriksaan jenazah berdasarkan Pasal 222 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.2

2.3.2 Pelayanan Pemeriksaan pada Korban Hidup a. Pada kasus penembakan

Apakah benar luka korban adalah luka tembak; luka tembak masuk atau luka tembak keluar; diameter anak peluru dan caliber serta jenis senjata api yang dipergunaka; jarak penembakan; posisi korban dan posisi penembak; berapa kali korban ditembak dan apakah luka tembak tersebut yang menyebabkan kematian serta luka tembak mana yang menyebabkan kematian bila terdapat lebih dari satu luka tembak masuk.

b. Pada kasus penusukan

Jenis senjata dan pekirakan lebar maksimal senjata tajam yang masuk pada tubuh korban.

c. Pada kasus pembunuhan anak

Apakah dilahirkan hidup atau mati, ada tidaknya tanda-tanda perawatan, maturitas serta viabilitas.

d. Pada kasus pengeroyokan

Jenis kekerasan dan jenis luka, luka mana dan akibat senjata yang bagaimana yang menyebabkan kematian pada korban.

e. Pada kasus kecelakaan lalu lintas

Penyebab terjadinya kecelakaan dilihat dari faktor korban (korban yang mabuk atau dalam pengaruh obat); serta perkiraan jangka waktu antara terjadinya kecelakaan, yang dikaitkan dengan penentuan faktor apa saja yang menyebabkan kecelakaan itu sendiri atau keterlambatan pertolongan yang diberikan karena adanya hambatan dalam transportasi korban , dan sebagainya.

(27)

f. Di dalam kasus kejahatan seksual, maka kejelasan lain yang diperlukan adalah :

Ada tidaknya tanda-tanda persetubuhanAda tidaknya tanda-tanda kekerasanPerkiraan umur

Menentukan pantas tidaknya korban untuk dikawin.

Bila persetubuhan dapat dibuktikan, perlu kejelasan perihal kapan

terjadinya persetubuhan tersebut.Hal ini diperlukan untuk mengetahui alibi dari tersangka pelaku kejahatan.4

2.4 Sistem Rujukan dalam Kedokteran Forensik dan Medikolegal 2.4.1 Pengertian Rujukan

Konsep rujukan adalah suatu upaya pelimpahan tanggung jawab dan wewenang secara timbal balik dalam pelayanan kesehatan untuk mencapai suatu pelayanan forensik dan medikolegal yang bermutu dan tepat sasaran.

Rujukan ini dapat bersifat vertikal maupun horizontal sesuai dengan fungsi koordinasi dan jenis kemampuan yang dimiliki. Rujukan dapat terjadi dari Puskesmas ke Puskesmas lain, Puskesmas ke Rumah Sakit, Rumah Sakit ke Rumah Sakit dengan kelas rujukan yang lebih tinggi.

Kegiatan rujukan ini mencakup :

a. Rujukan korban/klien (internal dan eksternal)

b. Rujukan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk peningkatan kemampuan tenaga Kedokteran Forensik dan Medikolegal serta sumber daya berupa dana, alat dan sarana.

c. Pembinaan manajemen

2.4.2 Sistem Pelayanan Rujukan Pelayanan Kedokteran Forensik dan Medikolegal

1. Koordinasi dan mekanisme kerja internal dalam tim kedokteran forensik dan medikolegal, dan antar instalasi dalam rumah sakit.

a. Koordinasi dan mekanisme kerja internal dalam tim kedokteran forensik dan medikolegal dalam rumah sakit mengikuti peraturan yang berlaku, serta berpedoman pada tata aturan baku pelayanan

(28)

kedokteran forensik dan medikolegal pada rumah sakit (hospital by-laws).

b. Rujukan intern rumah sakit berpedoman pada prosedur rujukan di dalam rumah sakit dan mekanisme kerja di bagian/departemen/instalasi kedokteran forensik dan medikolegal. 2. Koordinasi dan kerja sama pelayanan kedokteran forensik dan

medikolegal antar institusi dan lintas sektoral.

a. Koordinasi dan kerja sama antar institusi dilakukan mengikuti undang-undang dan peraturan lain yang berlaku dan memperhatikan petunjuk pelaksanaan pada masing-masing pihak, dengan diketahui oleh wakil direktur bidang pelayanan.

Pada kasus bencana massal, RS berkoordinasi dan kerja sama dengan Pemerintah Daerah, Kepolisian Daerah, Disaster Victim Indentification (DVI) Team, dan Departemen Kesehatan.

b. Koordinasi dan kerja sama antar bagian/departemen/instalasi kedokteran forensik dan medikolegal pada rumah sakit di bawah departemen kesehatan mengikuti peraturan yang berlaku, serta berpedoman pada tata aturan baku pelayanan kedokteran forensik dan medikolegal pada rumah sakit (hospital by-laws).

Pada kasus korban mati sedangkan tidak ada dokter spesialis forensik di RS wilayah tersebut, dapat dilakukan :

1. Konsultasi oleh dokter umum kepada instalasi forensik di RS terdekat untuk kemudian pelayanan otopsi dilakukan dengan bimbingan atau supervisi langsung dari dokter spesialis forensik dari RS tersebut.Hasil visum et repertum ditandatangani oleh dokter pemeriksa dan diketahui oleh dokter spesialis forensik

2. Bila memungkinkan dalam pembiayaan, jenazah dapat dipindahkan ke instalasi forensik terdekat yang memiliki dokter spesialis forensik.5

Gambar 2.1 Skema sistem rujukan pelayanan kedokteran forensik

(29)

Rumah Sakit Rujukan Tertinggi (Spesialistik dan Sub-spesialistik)

Rumah sakit kelas A/B pendidikan (spesialistik dan non spesialistik)

Rumah sakit kelas A/B non pendidikan (Spesialistik dan non spesialistik)

Rumah sakit kelas C (Ked for dasar atau spesialistik)

PUSKESMAS (forensik dasar)

Kedokteran Forensik bersumber daya masyarakat

Perorangan Kelompok Masyarakat

Gambar 2.1 Skema sistem rujukan dalam kedokteran forensik dan medikolegal

(30)

BAB 3 KESIMPULAN

Sebagai penanggung jawab kesehatan dalam wilayah puskesmas, dokter puskesmas mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan kedokteran forensik dan medikolegal dasar seperti melakukan pemeriksaan terhadap jenazah terutama pemeriksaan luar dan mampu membedakan antara jenazah dengan kematian wajar dan tidak wajar serta visum terhadap korban hidup seperti pada kasus penembakan, penusukan, kecelakaan lalu lintas, kejahatan seksual, dan lain-lain serta melakukan pelayanan rujukan dalam kedokteran forensik dan medikolegal. Dalam menjalankan tugas, selayaknya seorang dokter harus memiliki kompetensi di bidang kedokteran forensik dan medikolegal seperti keterampilan komunikasi efektif antara dokter dengan pasien atau korban hidup atau keluarga korban, keterampilan klinis dalam mengelola informasi, mengembangkan diri dan memiliki etika, moral dan profesionalisme untuk mendiagnosis serta menjawab permintaan visum.

(31)

DAFTAR PUSTAKA

1. Amir, Amri. 2014. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Kedua. Medan : Percetakan Ramadhan. Halaman 17, 19-20, 204-215

2. Atmadja, Djaya Surya. 2004. Prosedur Pemeriksaan Luar Jenazah dan

Aspek Medikolegal. Jakarta : FKUI.

www.pemeriksaanluarjenazah.blogspot.com

3. Singh, Surjit. Standar Profesi Dokter di Bidang Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Medan : Forensik Antrophology. Halaman 13-29

4. Singh, Surjit. Ilmu Kedokteran Forensik. Halaman 25-34

5. Pedoman Pelayanan Kedokteran Forensik di Rumah Sakit.

Gambar

Gambar 2.1 Skema sistem rujukan dalam kedokteran forensik dan medikolegal

Referensi

Dokumen terkait

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan Keluarga Berencana di meja 5 (lima). Sesuai dengan kehadiran wajib petugas Puskesmas, pelayanan kesehatan dan KB oleh petugas Puskesmas

Hubungan antara Karakteristik Ibu, Keluarga, dan Pelayanan Kesehatan dengan Status Keluarga Sadar Gizi pada Keluarga Anak Balita (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Prajekan, Kabupaten

Ilmu kedokteran forensik dalam penegakan hukum pidana yaitu berperan sebagai ilmu bantu yang dapat mengungkapkan fakta-fakta tentang ada atau tidaknya peristiwa pidana, untuk

Status kesehatan mempunyai hubungan erat dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan, pemanfaatan pelayanan kesehatan hanya timbul secara efektif bila terdapat biaya/kemampuan

wilayah yang banyak tersedia sarana pelayanan kesehatan seperti : puskesmas, rumah. sakit pemerintah dan swasta, balai pengobatan serta praktek dokter,

Di samping itu tidak semua pusat pemberi pelayanan kesehatan terutama di daerah yang memiliki fasilitas endoskopi serta adanya keterbatasan kompetensi dari seorang dokter

Persyaratan kompetensi Penanggung jawab Upaya Kesehatan Masyarakat yang bersifat Pengembangan di wilayah kerja UPT Puskesmas Cluwak Kabupaten Pati terdiri

Di samping itu tidak semua pusat pemberi pelayanan kesehatan terutama di daerah yang memiliki fasilitas endoskopi serta adanya keterbatasan kompetensi dari seorang dokter